• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Pasar merupakan salah satu pusat perekonomian yang memiliki peranan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Pasar merupakan salah satu pusat perekonomian yang memiliki peranan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

1.1. Latar Belakang

Pasar merupakan salah satu pusat perekonomian yang memiliki peranan yang penting, karena mempertemukan penjual dan pembeli. Pembeli membutuhkan komoditas untuk memenuhi kebutuhannya dan penjual membutuhkan pembeli agar mereka juga mendapatkan keuntungan dari komoditas yang dijual (Batu, 1990: 4).

Definisi pasar secara umum sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk berjual beli terutama yang berhubungan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Pasar dapat diartikan juga sebagai suatu ruang terbuka yang berisi barang-barang pajangan untuk dijual atau dapat juga disebut sebagai kompleks tempat barang-barang kebutuhan yang mudah didapatkan atau dijual (Jatmiko, 1999: 14). Dalam skala kecil pasar berfungsi sebagai tempat bertemunya antara penjual dengan pembeli untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing baik untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif maupun dalam bidang jasa (Batu, 1990: 4).

Ditinjau dari sistem perdagangannya, pasar sebagai wadah perdagangan terbagi menjadi dua, pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional merupakan suatu wadah perdagangan yang aktivitas perdagangannya masih menyertakan komponen perdagangan secara langsung, yaitu adanya barang, pembeli dan penjual di suatu tempat (Sutiyani, 2003: 4). Adapun pasar modern merupakan wadah atau tempat suatu aktivitas perdagangan yang tidak

(2)

mengharuskan adanya elemen-elemen aktivitas perdagangan tersebut (Sutiyani, 2003: 4).

Dalam suatu kota, pasar merupakan tanda pengenal kota yang juga berperan sebagai daya tarik terhadap orang-orang untuk datang berkunjung (Sumintarsih, 2011: 20). Dalam pelaksanaan pemerintahan masa lalu, keberadaan pasar sangat penting karena dapat menjadi identitas sebuah wilayah dan juga sebagai sumber pemasukan bagi penguasa setempat (Poesponegoro, 1990: 30).

Peranan pasar juga dapat dilihat sebagai pusat kebudayaan. Di dalam pasar, proses sosial budaya terjadi akibat kontak nilai-nilai dan barang. Oleh karena itu pasar pada masyarakat di samping berperan sebagai pusat ekonomi sekaligus sebagai pusat kebudayaan. Sebagai pusat ekonomi, pasar melancarkan kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomi, sedangkan sebagai pusat kebudayaan, pasar menjadi sumber informasi bagi masyarakat sekitarnya (Batu, 1990: 4). Pasar selain sebagai tempat bertemu pembeli dan penjual, atau antar pembeli, atau antar penjual, pasar juga sebagai tempat untuk melakukan interaksi sosial. Di pasar mereka saling memberitahu aktivitas sosial, misalnya perkawinan, upacara adat, maupun aktivitas lainnya termasuk mencari jodoh (Nayati, 2005).

Peranan pasar yang dilihat dari pusat kegiatan ekonomi yaitu perubahan-perubahan yang terjadi di bidang produksi, konsumsi maupun distribusi (Batu, 1990: 5). Perubahan bukan hanya dalam waktu yang pendek, namun juga dapat membantu menengarai perubahan konsumsi masyarakat dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini juga karena pasar dapat disebut sebagai suatu sistem (Nastiti, 2003: 53). Sistem pasar disini adalah segala sesuatu yang berkaitan dan

(3)

berhubungan satu sama lain yang berada di dalam pasar dalam wilayah yang kecil, sedang maupun luas; serta dalam jangka waktu yang pendek, menengah maupun panjang.

Pasar sebagai suatu sistem merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi untuk mendukung komponen-komponennya secara keseluruhan. Dengan demikian maka sistem pasar tampak sebagai suatu kesatuan yang koheren, sehingga terjadi saling ketergantungan atau interdependensi diantara masing-masing komponen pasar tersebut (Nastiti,2003: 53).

Pasar merupakan pranata penting dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat sejak dulu. Timbulnya pasar tidak lepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat. Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dari hasil produksinya sendiri, atau sebaliknya kelebihan dari hasil produksinya perlu tempat atau sarana untuk menyalurkannya. Pemenuhan kebutuhan untuk mendapatkan barang dengan cara menukar atau membeli, kemudian mendorong timbulnya sebuah arena perdagangan yang disebut dengan pasar (Sumintarsih, 2011: 18).

Salah satu pasar tradisional yang terdapat di Pulau Nusa Tenggara Timur, terdapat di wilayah Kerajaan Amarasi di Baun. Pasar tersebut dijadikan sebagai sarana pemenuh kebutuhan hidup bagi masyarakat Kerajaan Amarasi, yang saat ini secara administratif telah berubah menjadi Kecamatan Amarasi. Pasar ini dahulu merupakan wilayah Kerajaan Amarasi. Kerajaan Amarasi merupakan salah satu kerajaan di Nusa Tenggara Timur, dari banyaknya kerajaan seperti Kerajaan Biboki, Insana, Amanatun, Amanuban dan Wehali (Parera, 1994: 176). Menurut sejarah, Kerajaan Amarasi ada sejak tahun 1643 dan beribu kota di Buraen, dan

(4)

menjadi tempat persembunyian Kerajaan Taebenu dan selama 18 tahun Kerajaan Taebenu menetap di Amarasi (Hagerdal, 2012: 102). Kerajaan Amarasi diperintah oleh raja yang pertama yakni Raja Ishak Koroh (Parera, 1994: 176). Namun mulai tahun 1960-an Kerajaan Amarasi beribu kota di Baun, raja yang memerintah adalah Viktor Koroh. Saat ini Kerajaan Amarasi secara de jure sudah tidak ada, namun secara de facto, kerajaan ini masih kuat keberadaannya. Saat ini Kerajaan Amarasi secara administratif telah menjadi sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Amarasi. Kecamatan tersebut menjadi salah satu kecamatan dari bagian Kabupaten Kupang dengan Ibukota di Baun.

Namun secara adat, di Kecamatan Amarasi ini, Raja Amarasi atau yang disebut dengan Usif masih memiliki pengaruh yang kuat. Dengan kata lain camat yang memimpin Kecamatan Amarasi pun patuh terhadap Usif Amarasi, terutama dalam urusan adat. Usif saat ini adalah Usif ke-21 yang memimpin Kerajaan Amarasi yaitu Usif Robbert Koroh.

Setiap kerajaan memiliki pola tertentu. Dilihat dari Kerajaan Amarasi yang sudah lama ada sejak tahun 1643 dengan Ibu Kota di Buraen (Hagerdal, 2012: 102). Kerajaan Amarasi memiliki istana, pasar, pemukiman masyarakat, fasilitas keagamaan, dan kuburan/makam.

Pasar merupakan aspek yang selalu ada dalam tata letak suatu wilayah/kerajaan. Demikian halnya dengan pasar yang berada di Kecamatan Amarasi saat ini, yaitu pasar (bekas) Kerajaan Amarasi yang ada di Baun. Pasar Amarasi ini merupakan pasar kerajaan yang menjadi sarana pemenuh kebutuhan hidup bagi masyarakat Amarasi. Pasar Kerajaan Amarasi ini hingga sekarang

(5)

masih digunakan. Pasar ini merupakan jenis pasar tradisional, sehingga pasar ini tidak buka setiap hari, tetapi hanya buka seminggu satu kali pada hari Sabtu. Menurut informasi yang didapatkan, dari dahulu hingga sekarang hari pasaran dan lokasi pasar tidak berubah. (Sumber : Wawancara Usif Kerajaan Amarasi, Robbert Koroh tanggal 18 Mei 2013, 15.00 WITA)

Walaupun lokasinya tetap, tetapi pasar ini sudah diperluas dan ada tambahan bangunan permanen. Jenis komoditas yang dijual beragam seperti pasar-pasar yang ada di Nusa Tenggara Timur. Keberagaman komoditas tersebut juga mendapat pengaruh dari kebutuhan masyarakat atau pembeli yang mulai beragam, menyesuaikan dengan kebutuhan uang saat ini.

Saat ini data sejarah Amarasi hanya berupa pemerintahan raja-rajanya saja (Parera, 1994: 175). Kehidupan masyarakat Amarasi jarang diungkapkan. Untuk itu penelitian tentang pasar di Amarasi penting untuk merekonstruksi aktivitas perdagangan masa lalu di Pasar Amarasi yang terletak di Baun.

1.2. Permasalahan

Berhubungan dengan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana pasar Kerajaan Amarasi di Baun pada tahun 1960?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini untuk mengetahui pasar sebagai pusat perekonomian dalam suatu wilayah Kerajaan Amarasi. Selanjutnya dari penelitian ini peneliti ingin

(6)

mengetahui Pasar Tradisional Baun Amarasi, serta merekonstruksi aktivitas perdagangan masa lalu di Pasar Baun, bekas pasar kerajaan Amarasi.

Penelitian terhadap Pasar di Baun, penting dilakukan untuk merekonstruksi aktivitas perdagangan Pasar Baun Amarasi pada tahun 1960 dengan melihat aktivitas Pasar Amarasi pada masa kini (tahun 2013). Rekonstruksi Pasar Amarasi ini penting untuk dilakukan karena melihat bahwa pasar ini sudah ada sejak lama. Selain itu pada Pasar Amarasi ini tidak banyak yang berubah, terutama hari pasaran yang masih sama sejak dahulu dan lokasi yang tidak berubah dari dulu hingga saat ini.

Penelitian Pasar Amarasi penting dilakukan bagi Ilmu Arkeologi, karena dengan melihat aktivitas pasar ini maka dapat digunakan dan membantu dalam menjawab paradigma arkeologi dengan merekonstruksi aktivitas perdagangan pada tahun 1960 di Pasar Baun Amarasi. Upaya yang dilakukan untuk merekonstruksi tersebut dapat dilihat melalui studi etnoarkeologi, yakni dengan menggunakan data etnografi mengenai pasar Baun Amarasi yang digunakan untuk merekonstruksi aktivitas pasar Baun pada tahun 1960.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini dibedakan atas ruang lingkup kajian dan ruang lingkup wilayah. Ruang lingkup kajian meliputi aktivitas perdagangan di Pasar Baun Amarasi. Ruang lingkup wilayah penelitian meliputi wilayah Baun, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

(7)

1.5. Metode Penelitian

Metode merupakan cara kerja untuk memperoleh dan mengelola objek pada suatu penelitian. Sifat penelitian ini adalah eksploratif dengan penalaran induktif, yaitu dengan mencari data tentang aktivitas pasar Baun di Kerajaan Amarasi. Metode penalaran ini diawali dengan pengumpulan data atau deskripsi data. Data tersebut kemudian dianalisis dan akhirnya ditarik kesimpulan. Selain itu, dalam penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan etnoarkeologi yaitu merekonstruksi aktivitas pasar Baun Amarasi pada tahun 1960. Pengertian Etnoarkeologi dalam studi ini menjelaskan peristiwa masa lampau, yaitu mengenai aktivitas perdagangan yang ada di Pasar Baun Amarasi dengan menggunakan data etnografi, yaitu pengamatan terhadap perilaku yang masih berlangsung sehingga tidak ada lagi kesenjangan antara data arkeologi yang ditemukan dengan pola tingkah laku yang menyebabkannya (Tanudirjo, 1989: 34).

Ada beberapa pengertian untuk etnoarkeologi menurut beberapa ahli, Etnoarkeologi adalah Ilmu yang mempelajari aspek-aspek tingkah laku sosio kultural masa kini dari perspektif arkeologi (Kramer, 1979: 1). Kemudian dijabarkan dalam penggunaan analogi secara teoritis yang dihasilkan dari observasi masa kini untuk membantu dalam interpretasi tentang proses dan kejadian masa lalu (Kramer, 1979: 2). Pendekatan yang mencoba untuk menentukan bagaimana tingkah laku yang nampak dapat dipantulkan di dalam peninggalan yang dapat ditemukan oleh arkeolog (Kramer, 1979: 2). Seperti halnya seorang arkeolog berbalik untuk mempelajari evolusi budaya dan

(8)

rekonstruksi perilaku manusia dan lingkungan masa lalu, mereka menyadari bahwa refleksi yang masuk akal pada pengalaman mereka sendiri dan pada kekayaan informasi sejarah dan etnografi pada masyarakat (Kramer, 1979: 1).

Kemudian pendapat ahli lainnya menurut Colin dan Paul Bahn (1991), Etnoarkeologi adalah studi yang mencakup penggunaan maupun makna artefak, bangunan, dan struktur-struktur masa kini dalam suatu masyarakat yang masih hidup, dan bagaimana barang-barang itu tergabung dalam catatan arkeologi. Terdapat pula pengertian Etnoarkeologi menurut Mundardjito (1981), adalah cabang disiplin arkeologi yang berusaha mempelajari dan menggunakan etnografi untuk menangani masalah-masalah arkeologi.

Hakekat dari etnoarkeologi sendiri adalah studi masa kini untuk melihat masa lalu. Dari data etnografi Pasar Baun Amarasi yang didapatkan, maka etnoarkeologi digunakan sebagai cara untuk menjawab semua persoalan yang berkaitan dengan pemikiran arkeologi dan perspektif arkeologi. Data etnografi mengenai pasar Amarasi yakni mengenai aktivitas masa lalu apa saja yang ada di pasar Baun Amarasi pada tahun 1960, dimana aktivitas tersebut berupa aktivitas ekonomi, sosial dan budaya.

Untuk itu, pendekatan etnoarkeologi ini juga akan digunakan untuk dapat merekonstruksi aktivitas pasar Baun Amarasi pada masa lalu (1960). Data-data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan itu adalah data-data observasi lapangan serta wawancara terhadap sasaran penelitian dan studi literatur. Untuk membahas permasalahan yang diajukan dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

(9)

1.5.1. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan melalui Observasi / Pengamatan langsung di lapangan dan Studi Pustaka.

a. Observasi

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Penelitian ini menggunakan Observasi langsung yang dilakukan terhadap objek di lapangan yang bertujuan untuk merekam sebanyak mungkin data di pasar dan lingkungan yang ada di sekitar Pasar Baun Amarasi.

Dari observasi yang dilakukan didapatkan, berupa barang-barang komoditas apa saja yang dijual saat hari pasaran berlangsung, adanya transaksi penjualan gelang-gelang atau barang adat yang dilakukan sesuai permintaan dan kesepakatan, adanya pembeli dan penjual yang masih mengenakan pakaian tradisional atau adat dan ada pula yang sudah mengenakan pakaian modern, serta bahasa yang digunakan terdapat Bahasa Indonesia maupun Bahasa Lokal.

Observasi yang dilakukan juga dengan melihat, mencatat dan mendokumentasikan artefak yang dimiliki oleh Usif Amarasi seperti ikat pinggang, wadah sirih pinang, dan manik-manik serta adapula perlengkapan acara adat. Artefak atau barang tersebut didapat dari adanya pertukaran barang lokal yang ditukarkan dengan komoditas non lokal, sehingga muncul adanya barang-barang Kerajaan Amarasi tersebut.

Observasi dilakukan saat hari pasaran berlangsung yakni pada Hari Sabtu dan Hari Minggu ketika kondisi pasar sedang tidak ada aktivitas perdagangan di

(10)

dalamnya. Observasi terhadap Pasar Baun Amarasi ini dibantu oleh 7 orang peneliti1 termasuk penulis yang terjun langsung mengamati kondisi dan aktivitas perdagangan di Pasar Baun Amarasi.

b. Studi Pustaka

Studi Pustaka dilakukan dengan melihat sumber-sumber tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen, buku-buku, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan tema penelitian yang akan dikaji. Sumber tentang Kerajaan Amarasi serta pasar di Amarasi diperlukan untuk dapat memberikan informasi tentang aktivitas kehidupan masa lalu Amarasi, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan analisis untuk menjawab mengenai permasalahan penelitian.

c. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk melengkapi data yang ada dan mendapatkan keterangan yang tidak terdapat dalam pustaka atau tidak tampak pada data lapangan. Wawancara dilakukan dengan narasumber yang mengetahui permasalahan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan.

Wawancara akan dilakukan dengan metode snowball, yaitu peneliti akan mengajukan pertanyaan kepada narasumber secara tanya-jawab dan tidak

1

Merupakan penelitian payung dengan Tema Karakteristik Perdagangan Kayu Cendana Timor Sebelum Abad 19 : Upaya Untuk Menjadikan Kembali Kayu Cendana Sebagai Komoditas Dunia. Peneliti tersebut yakni Dr. Widya Nayati, M.A., Jujun Kurniawan, S.S. M.A., Wachid Azis, Sekar Mirah Satriani, Sinta Akhirian,S.S. dan Cipta Giyanto, S.S. Penelitian ini merupakan penelitian Hibah FIB UGM Tahun 2013.

(11)

menggunakan kuesioner, sehingga narasumber akan menjawab pertanyaan tersebut dengan uraian, dan pertanyaan akan bergulir sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh narasumber. Narasumber yang diwawancarai adalah narasumber yang paham dengan pasar, komoditas, sejarah Kerajaan Amarasi, sejarah pasar, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas.

Wawancara diajukan terhadap narasumber yang mengetahui tentang sejarah dari Kerajaan Amarasi dan sejarah Pasar Amarasi, maupun aktivitas perdagangan yang ada di Pasar ini. Narasumber yang diwawancarai adalah orang-orang tua, pejabat kerajaan, pejabat kecamatan yang mengerti dan paham terhadap Sejarah Kerajaan Amarasi dan pasar Baun Amarasi yang menjadi bagian penting bagi kerajaan tersebut. Narasumber yang diwawancarai diantaranya adalah Usif dari Kerajaan Amarasi saat ini, yaitu Usif Robbert Koroh. Kemudian istri dari Usif Amarasi, tetua adat di Amarasi serta beberapa pedagang yang berjualan di Pasar Amarasi. Wawancara dilakukan secara langsung saat observasi di lapangan, serta wawancara juga dilakukan melalui via telepon.

1.5.2. Analisis Data

Analisis data dilakukan untuk menjawab pertanyaan dari permasalahan yang diajukan. Data yang diperoleh berupa data etnografi pada aktivitas Pasar Baun Amarasi di masa kini (2013) digunakan untuk merekonstruksi aktivitas perdagangan pada masa lalu (1960) di pasar yang sama, yaitu Pasar Baun Amarasi. Untuk mengetahuinya akan dilakukan dengan cara membandingkan bagaimana aktivitas pasar Baun Amarasi pada tahun 1960 dengan aktivitas pasar Baun Amarasi pada saat ini, tahun 2013.

(12)

Data yang diperoleh tersebut dibandingkan, baik data etnografi tentang pasar maupun data arkeologi seperti artefak milik Usif berdasarkan pada teori-teori yang ada dengan melihat serta mempelajari aspek-aspek tingkah laku sosio kultural masa kini dari perspektif arkeologi (Kramer, 1979: 1).

Data etnografi yang didapat tersebut dibandingkan antara data aktivitas perdagangan Pasar Baun Amarasi yang ada pada masa kini tahun 2013, untuk melacak dan mengetahui bagaimana aktivitas perdagangan di Pasar Baun Amarasi pada tahun 1960. Data-data yang diperoleh dari hasil observasi tersebut dibandingkan, seperti dilihat dari segi komoditas yang diperjualbelikan di Pasar Baun Amarasi masa kini, dapat dilihat dan dikelompokkan dari komoditas yang sudah ada sejak dahulu dengan komoditas baru yang masuk ke pasar Amarasi. Selain itu dapat dilihat dari sistem perdagangan yang digunakan dan aturan-aturan yang ada di pasar. Bahasa yang digunakan serta pakaian yang dikenakan oleh penjual dan pembeli.

1.5.3. Kesimpulan

Penarikan kesimpulan terhadap objek penelitian dilakukan setelah pertanyaan yang diajukan terjawab dan mencapai tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran Pasar Tradisional Baun Amarasi, serta merekonstruksi aktivitas perdagangan masa lalu di Pasar Baun, bekas pasar kerajaan Amarasi pada tahun 1960.

(13)

1.6.Tinjauan Pustaka

Beberapa penelitian yang membahas mengenai pasar sudah pernah dilakukan. Penelitian yang membahas tentang pasar antara lain, penelitian yang dilakukan oleh Titi Surti Nastiti pada tahun 2003 mengenai pasar di Jawa pada Masa Mataram Kuno. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Sam Kalli Batu, dkk pada tahun 1990 yang membahas Peranan Pasar Pada Masyarakat Pedesaan daerah Nusa Tenggara Timur. Sam Kalli Batu menjelaskan tentang fungsi ekonomi, sosial dan budaya di dalam pasar. Selanjutnya skripsi sarjana oleh Sutiyani (2003) yang membahas tentang Pasar Johar di Semarang sebagai sentral ekonomi di kota Semarang dan aktivitas perdagangan di dalam Pasar Johar Semarang.

Skripsi sarjana oleh Uji F. Kusmawarti (1996) yang membahas Pola Hari Pasar di Gunung Kidul. Menurutnya pasar-pasar yang ada di kawasan gunung kidul sebagian besar masih melaksanakan aktivitas jual beli dalam satu hari di lima hari pasaran, seperti Pon, Wage, Kliwon, Manis, dan Pahing.

Kemudian, F.A. Soetjipto dalam tulisannya yang membahas tentang “Beberapa Catatan tentang Pasar-pasar di Jawa Tengah abad 17-18”, dalam tulisannya Soetjipto membahas mengenai keberadaan pasar-pasar di Jawa Tengah dimulai dari awal terbentuknya pasar , tipe-tipe dari pasar, alat transportasi hingga sistem pembayarannya.

Sumintarsih, dkk (2011) membahas tentang Eksistensi Pasar Tradisional di Kota Surabaya, yang membahas mengenai eksistensi pasar di era modern, dimana telah banyak tempat perbelanjaan yang modern yang muncul di wilayah

(14)

perkotaan seperti carrefour, alfa, indo grosir, dan lain sebagainya. Kehadiran pasar modern memang sangat dibutuhkan untuk mengakses kebutuhan masyarakat kota yang semakin kompleks, akan tetapi tidak berarti kemudian menggeser pasar tradisional. Pasar tradisional diperlukan untuk pemberdayaan dan pembangunan ekonomi yang berbasis ekonomi rakyat.

Penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yakni membahas Pasar Kerajaan Amarasi di Baun, Nusa Tenggara Timur yang bertujuan untuk merekonstruksi aktivitas perdagangan pada tahun 1960 di Pasar Baun Amarasi.

(15)

1.7. Bagan Penelitian

Bagaimana Pasar Kerajaan Amarasi di Baun pada tahun 1960 ?

Observasi Wawancara Studi

Pustaka Etnografi Pasar Baun Amarasi 2013 Sejarah Pasar Baun Amarasi 1960 -Sejarah Kerajaan Amarasi -Etnoarkeologi Analisis Etnoarkeologi - Komoditas masa lalu

- Aktivitas perdagangan masa lalu

- Transportasi masa lalu

Rekonstruksi aktivitas perdagangan masa lalu di Pasar Baun Amarasi tahun

Referensi

Dokumen terkait

sosialisasi kepada masyarakat berkaitan dengan program KB. Berdasarkan hasil penelitian, sejauh ini dalam pelaksanaan sosialisasi yang dilakukan oleh Penyuluh KB mengenai

Analisis Pengaruh Return on Asset (ROA), Current Ratio (CR), Total Asset Turnover (TATO), Price Earning Ratio (PER), dan Volume Perdagangan Terhadap Harga Saham Pada Sektor

(2005) menjelaskan bahwa biosorpsi dan akumulasi zat polutan oleh tumbuhan dapat terjadi melalui tiga proses yaitu biosorpsi logam oleh akar, translokasi zat

Kandungan amilopektin yang tinggi (75–80%) pada pati garut menyebabkan garut bersifat lengket atau memiliki kemampuan merekat yang sangat baik, sedangkan kandungan amilosa

Grafik pada Gambar 9 adalah grafik nilai albedo dari citra satelit visible MTSAT, yang menunjukkan nilai indeks albedo maksimum terjadi pada pukul 05.00 UTC yaitu sebesar 0,49, hal

Maka dalam hal ini, orang tua harus dan mampu bertanggung jawab untuk menemukan bakat dan minat anak, sehingga anak diasuh dan dididik, baik langsung oleh

Data kuantitatif yang dicari pada penelitian ini adalah jumlah produksi pengolahan ikan pelagis beku, jumlah kerusakan pengolahan ikan pelagis beku, harga jual ikan

(2017) menyatakan bahwa penambahan ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) pada level 2, 4, dan 6% dari 100 cc air minum dapat meningkatkan berat telur, jumlah produksi telur,