1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Aset dalam perusahaan komersial terdiri dari dua jenis yaitu aktiva tetap

(fixed assets) dan aktiva lancar (current assets). Aktiva tetap terdiri dari tetap

terdiri dari bangunan, pabrik, alat-alat produksi, mesin, kendaraan bermotor,

furnitur, perlengkapan kantor, dan komputer. Sebaliknya aktiva lancar terdiri dari

raw materials, work in progress, finished goods, bills receivables, cash, bank

balance, dan yang lainnya. Aset tersebut dibeli untuk tujuan produksi dan

penjualan, seperti bahan mentah menjadi produk setengah jadi (raw material into

semi finished products), produk setengah jadi menjadi produk jadi (semi finished

products into finished products), produk menjadi debitur (finished products into

debtors) dan debitur diserahkan tunai (debtor turnover cash) atau piutang tagihan

(bills receivables).

Aset tetap digunakan dalam peningkatan produksi dari suatu organisasi dan

aktiva lancar digunakan dalam penggunaan aset tetap untuk hari ke hari kerja (day

working). Oleh karena itu, aktiva lancar yang disebut modal kerja dapat dianggap

sangat penting bagi sebuah perusahaan bisnis. Hal ini mengacu pada bagian dari

perusahaan yang diperlukan untuk membiayai jangka pendek (short-term).

(2)

Ada banyak alasan mengenai pentingnya manajemen modal kerja. Untuk

sebuah perusahaan manufaktur, tingkat aktiva lancar yang tinggi dengan mudah

dapat mengakibatkan perusahaan mewujudkan pengembalian atas investasi

lancar. Namun Horne dan Wachowicz (2005) menunjukkan bahwa tingkat aktiva

lancar yang tinggi memiliki efek negatif dari sebuah perusahaan terhadap

profitabilitas, sedangkan tingkat aktiva lancar yang rendah dapat menyebabkan

menurunkan likuiditas sehingga kesulitan dalam menjaga kelancaran operasional.

Pengelolaan modal kerja melibatkan perencanaan, pengendalian aktiva

lancar dan kewajiban lancar dengan cara menghilangkan resiko ketidakmampuan

untuk memenuhi kewajiban jangka pendek karena di satu sisi dan menghindari

investasi yang berlebihan pada aset-aset di sisi lain (Eljelly, 2004). Horne dan

Wachowicz (2005) menunjukkan bahwa manajemen modal kerja telah menjadi

salah satu isu yang paling penting dalam organisasi, dimana manajer keuangan

banyak menemukan kesulitan untuk mengidentifikasi modal kerja dan tingkat

optimal dari modal kerja. Akibatnya perusahaan dapat meminimalkan risiko

dan meningkatkan kinerja mereka secara keseluruhan jika mereka dapat

memahami peran dan penentu dari modal kerja. Sebuah perusahaan dapat memilih

modal kerja dari kebijakan manajemen yang agresif dengan tingkat yang rendah

dari aktiva lancar sebagai presentase dari total aset, atau juga dapat digunakan

untuk keputusan pembiayaan perusahaan dalam bentuk tingginya kewajiban

lancar sebagai presentase dari jumlah kewajiban (Afza dan Nazir, 2009).

Menjaga keseimbangan optimal masing-masing komponen modal kerja adalah

(3)

pada kemampuan manajer keuangan untuk secara efektif mengelola piutang,

hutang dan persediaan (Filbeck dan Krueger, 2005).

Perusahaan dapat menurunkan biaya pendanaan dan meningkatkan dana

yang tersedia untuk proyek-proyek ekspansi dalam meminimakan jumlah investasi

terikat dalam aktiva lancar. Morawakage (2010) menunjukkan bahwa sebagian

besar manajer keuangan dalam mengidentifikasi tidak optimalnya tingkat aktiva

lancar dan kewajiban dapat membawa modal kerja ke tingkat optimal. Tingkat

optimal modal kerja yaitu keseimbangan antara risiko dan efisiensi. Hal ini

ditunjukkan untuk mempertahankan tingkat optimal dari berbagai komponen kerja

seperti uang tunai, persediaan piutang dan hutang (Afza dan Nazir, 2009).

Pada perusahaan manufaktur adanya manajemen modal kerja yang efisien

diharapkan mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan, Hal ini dapat

dilihat dari siklus operasi perusahaan yang melibatkan penagihan piutang (number

of daysaccount receivable) melakukan pelunasan atas hutang perusahaan (number

of days account payable), perputaran pada persediaan (number of days inventory)

dan siklus konversi kas (cash conversion cycle). Sehingga kebijakan yang

diterapkan perusahaan atas pengelolaan modal kerja akan berpengaruh pada

tingkat profitabilitas perusahaan. Efisiensi modal kerja adalah berdasarkan pada

prinsip mempercepat penagihan piutang sebisa mungkin dan menunda

pembayaran hutang perusahaan selambat mungkin (Nobanee, 2009).

Manajemen modal kerja yang efisien melibatkan perencanaan dan

pengawasan harta lancar dan kewajiban lancar untuk mengurangi resiko

(4)

menghindari investasi yang berlebihan pada aset-aset tersebut (Raheman, 2007).

Pada suatu perusahaan dengan tingkat harta lancar yang tinggi maka dengan

mudah perusahaan dapat melakukan investasi. Sebaliknya, ketika perusahaan

memiliki harta lancar yang terlalu rendah maka mereka akan mengalami kesulitan

dalam proses operasional. Perusahaan memiliki kewajiban yang harus

diselesaikan dalam jangka pendek yaitu terhadap hutang lancar, karena itu

ketersediaan kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek mereka sangat

diperlukan untuk menjaga perusahaan dari segala resiko yang mungkin terjadi.

Modal kerja juga merupakan ukuran tersedianya aktiva lancar yang lebih besar

dari hutang lancar dan menunjukan tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek

serta menjamin kelangsungan operasi dimasa mendatang dan kemampuan

perusahaan untuk memperoleh tambahan jangka pendek dengan jaminan aktiva

lancar.

Morawakage (2010) menemukan bahwa manajemen modal kerja memiliki

pengaruh negatif yang signifikan terhadap profitabilitas perusahaan-perusahaan

manufaktur di Srilanka. Penelitian di Pakistan juga menjelaskan terdapat pengaruh

negatif yang kuat antara komponen dari working capital terhadap profitabilitas

perusahaan (Raheman et al, 2010). Dalam penilaian profitabilitas dan likuiditas

perusahaan, peneliti menggunakan pengumpulan piutang (number of daysaccount

receivable), pembayaran hutang perusahaan (number of days account payable)

dan perputaran persediaan (number of days inventory), (Raheman & Nasr 2007).

Rasio dari modal kerja adalah number of days account receivable. Menurut

Khan et al (2012) rasio ini mengukur seberapa cepat perusahaan mendapatkan kas

(5)

hal tersebut mengindikasikan perusahaan tidak perlu waktu lama dalam

mendapatkan kas dan apabila number of days account receivable tinggi, berarti

perusahaan membutuhkan waktu yang lama dalam menagih piutang usahanya

sehingga perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi

lainya yang mengakibatkan perusahaan kehilangan kesempatan untuk

meningkatkan profitabilitas. Dalam aktivitas operasional perusahaan

membutuhkan kas untuk membiayai beban operasional. Oleh karena itu Hayajneh

(2011) sebaiknya perusahaan menagih piutang usahanya secepat mungkin. Jika

perusahaan berhasil memotong waktu yang dibutuhkan dalam menagih piutang

usahanya, maka hal tersebut meningkatkan peluang perusahaan untuk

menggunakan kas tersebut dalam aktifitas operasional yang lainya sehingga dapat

meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Memperpanjang jangka waktu pembayaran hutang perusahaan (number of

days account payable) yang seharusnya dibayarkan oleh perusahaan juga

merupakan cara untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dengan

melakukan penundaan pembayaran hutang maka perusahaan mempunyai

kesempatan untuk menggunakan dana yang seharusnya dibayarkan tersebut untuk

di investasikan kembali kedalam operasional perusahaan yang dapat

meningkatkan profitabilitas perusahaan (Nobanee, 2009).

Perputaran persediaan (number of days inventory) merupakan salah satu

indikator dalam penilaian kinerja perusahaan.Rasio ini mengukur berapa lama

waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk merubah persediaan (termasuk barang

dalam proses) menjadi penjualan yang berdampak pada profitabilitas perusahaan.

(6)

yang effisien. (Raheman et al, 2010). Sedangkan tingkat persediaan yang tinggi,

mengindikasikan bahwa perusahaan melakukan investasi yang cukup beresiko

apabila persediaan tersebut tidak dengan cepat dikonversikan menjadi

penjualan. Sehingga persediaan yang menumpuk menyebabkan perusahaan harus

mengeluarkan banyak biaya untuk perawatan persediaan tersebut yang

menimbulkan perusahaan kehilangan profitabilitasnya. Pada studi yang dilakukan

oleh Deloof (2003) mengenai hubungan dan pengaruh modal kerja terhadap

profitabilitas perusahaan manufaktur di Belgia menemukan bahwa para manajer

dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dengan mengurangi number of days

account receivable dan number of days inventory.

Sebuah ukuran populer manajemen modal kerja adalah siklus konversi kas

(cash convertion cycle) yang didefinisikan sebagai jumlah hari penjualan beredar

atau periode penagihan rata-rata (average collection period) dan hari penjualan

dalam persediaan kurang dari saldo hutang (Keown et al, 2008). Semakin lama

jeda waktu ini, maka semakin besar investasi dalam modal kerja. Sebuah siklus

konversi kas (cash convertion cycle) dapat meningkatkan profitabilitas karena

mengarah kepada penjualan yang lebih tinggi. Namun, profitabilitas perusahaan

mungkin juga dapat menurun dengan siklus konversi kas, jika biaya investasi

yang lebih tinggi dalam modal kerja lebih tinggi dan meningkat lebih cepat

daripada manfaat dari memegang persediaan lebih dan pemberian persediaan lebih

dan kredit perdagangan kepada pelanggan (Deloof, 2003).

Ukuran perusahaan dan hutang digunakan sebagai variabel kontrol dalam

penelitian ini. Beberapa penelitian telah menggunakan ukuran perusahaan dan

(7)

mempengaruhi nilai bagi profitabilitas perusahaan. Karena semakin besar ukuran

atau skala perusahaan maka akan semakin mudah pula perusahaan memperoleh

sumber pendanaan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Ukuran

perusahaan dinyatakan berhubungan positif dan signifikan terhadap profitabilitas

perusahaan (Rachmawati dan Hanung, 2007).

Variabel kontrol lainnya yaitu hutang. Dalam kondisi tertentu perusahaan

dapat memenuhi kebutuhan dananya dengan mengutamakan sumber dana yang

berasal dari dalam, namun karena adanya pertumbuhan perusahaan, maka

mengakibatkan kebutuhan dana semakin besar, sehingga dalam memenuhi sumber

dana tersebut, perusahaan dapat menggunakan sumber dana dari luar perusahaan

yaitu hutang. Akan tetapi dalam penggunaan hutang ini, perlu adanya

kehati-hatian atas resiko yang diakibatkan dari penggunaan hutang tersebut. Hal ini

disebabkan penggunaan hutang mempunyai resiko yang tinggi yaitu biaya modal.

Oleh sebab itu dalam mengambil keputusan untuk menggunakan hutang,

perusahaan harus memperhatikan keseimbangan antara modal sendiri dan

modal luar yang akan digunakan. Jika penggunaan sumber dana dari luar lebih

kecil dari modal sendiri, maka penggunaan modal luar tersebut layak

digunakan, namun jika penggunaan modal luar lebih besar dari pada modal

sendiri, maka penggunaan modal luar tersebut tidak layak digunakan (Rudianto,

2008: 23). Hartono (2008 : 254), menyebutkan bahwa hutang itu mengandung

resiko. Semakin tinggi risiko suatu perusahaan, semakin tinggi tingkat

profitabilitas yang diharapkan sebagai imbalan terhadap tingginya risiko dan

sebaliknya semakin rendah risiko perusahaan, semakin rendah tingkat

(8)

Peningkatan hutang akan mempengaruhi besar kecilnya laba bagi

perusahaan, yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua

kewajibannya, yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang

digunakan untuk membayar seluruh kewajibannya, karena semakin besar

penggunaan hutang maka akan semakin besar kewajibannya. (Sofiati, 2001:5)

Salah satu sektor perusahaan manufaktur yang terdapat di Bursa Efek

Indonesia adalah sektor perusahaan wholesale and retai trade. Rata-rata

perusahaan wholesaleand retail trade adalah perusahaan yang memiliki

days-to-days operation yang tinggi. Perusahaan wholesale adalah perusahaan yang

penjualannya dengan partai besar yaitu kepada pengecer, pengguna bisnis industri,

komersial, institusi, profesional, atau kepada penggrosir lainnya dan tidak menjual

langsung kepada konsumen. Sedangkan retail trade adalah salah satu cara

pemasaran produk meliputi semua aktivitas yang melibatkan penjualan barang

secara langsung ke konsumen akhir untuk penggunaan pribadi. Fungsi utamanya

yaitu menjual produk kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi dan

rumah tangga. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya toko retailer modern

yang membuka cabang di berbagai wilayah di indonesia.

Penelitian ini mempunyai perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu

dimana dalam penelitian ini menggunakan perusahaan wholesale and retail trade

yang terdaftar di BEI dengan menggunakan periode terbaru yaitu pada periode

2009-2011, sedangkan dalam penelitian terdahulu di Indonesia belum ada yang

(9)

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini mengambil judul “Pengaruh

Number of Days Account Receivable, Number of Days Account Payable,

Number of Days Inventory dan Cash Conversion Cycle Terhadap Profitabilitas Perusahaan Wholesale and Retail Trade yang Terdaftar di BEI Periode 2009-2011”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis memfokuskan

permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh number of days account receivable terhadap

profitabilitas perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di BEI

periode 2009-2011?

2. Apakah terdapat pengaruh number of days account payable terhadap

profitabilitas perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di BEI

periode 2009-2011?

3. Apakah terdapat pengaruh number of days inventory terhadap profitabilitas

perusahaan wholesaleand retail trade yang Listing di BEI periode 2009-2011?

4. Apakah terdapat pengaruh cash conversion cycle terhadap profitabilitas

perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di BEI periode 2009-2011?

5. Apakah terdapat pengaruh number of daysaccount receivable, number of days

account payable, number of days inventory, dan cash conversion cycle secara

simultan terhadap profitabilitas perusahaan wholesale and retail trade yang

(10)

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini,

maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui apakah terdapat pengaruh number of days account receivable

terhadap profitabilitas perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di

BEI selama periode 2009-2011.

2. Mengetahui apakah terdapat pengaruh number of days account payable

terhadap profitabilitas perusahaan wholesaleand retail trade yang Listing di

BEI selama periode 2009-2011.

3. Mengetahui apakah terdapat pengaruh number of days inventory terhadap

profitabilitas perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di BEI

selama periode 2009-2011.

4. Mengetahui apakah terdapat pengaruh cash conversion cycle terhadap

profitabilitas perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di BEI

selama periode 2009-2011.

5. Mengetahui apakah terdapat pengaruh number of days account receivable,

number of days account payable, number of days inventory, dan cash

conversion cycle terhadap profitabilitas perusahaan wholesale and retail

(11)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Investor, peneliti berharap dengan hasil yang diperoleh dari penelitian ini

maka investor dapat mengetahui lebih lanjut tentang efisiensi operasional

perusahaan yang akan berdampak pada profitabilitas dan kinerja perusahaan.

2. Perusahaan wholesale and retail trade yang Listing di BEI, dengan adanya

penelitian ini maka diharapkan dapat memberi masukan kepada perusahaan

untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas yang berhubungan dengan

aktifitas operasional perusahaan.

3. Ilmu pengetahuan, penulis berharap dengan adanya penelitian ini dapat

memberikan masukan dan bahan referensi serta pembanding dalam

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...