• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUDUL : Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "JUDUL : Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin - Test Repository"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

ANA BI’AUNIKA

NIM: 11113048

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(2)
(3)

ii

Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

ANA BI’AUNIKA

NIM: 11113048

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(4)

iii

SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI

Hal : Naskah Skripsi Saudari Ana Bi’aunika Lamp : 4 Eksemplar

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga

Di Salatiga

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan hormat, setelah dilaksanakan bimbingan, arahan dan koreksi, maka

naskah skripsi mahasiswi:

Nama : Ana Bi’aunika NIM : 11113048

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Judul skripsi : Konsep Pendidikan Islam Perspekif H.M. Arifin

Dapat diajukan kepada fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga

untuk diajukan dalam sidang munaqasyah.

Demikian nota pembimbing ini dibuat, untuk menjadi perhatian dan digunakan

sebagaiman mestinya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salatiga, 23 Agustus 2017 Pembimbing

(5)
(6)
(7)

vi MOTTO

ٍ

م ْ

و َ

ق ِ

ب ا َ

م ُ

رِّ

ي َ

غ ُ

ي لا

للَّا َّ

َّ

َ

ن ِ

إ

ى َّ

ت َ

ح

ْ

م ِ

ه ِ

س ُ

ف ْ

ن َ

أ ِ

ب ا َ

م او ُ

رِّ

ي َ

غ ُ

ي

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan

sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan

yang ada pada diri mereka sendiri”

(8)

vii

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, skripsi ini dapat terselenggara dengan

baik. Skripsi ini saya persembahkan kepada orang-orang yang telah membantu

mewujudkan mimpiku:

1. Ayahanda Sudarsono dan ibunda Mutiah yang telah memberikan mahkota

kasih sayangnya kepadaku sejak diriku kecil tidak mengerti apa-apa hingga

kini aku mengerti makna hidup. Semoga kalian selalu diberi kesehatan,

keberkahan rizqi dan keberkahan usia untuk bekal ibadah, amin.

2. Bapak Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag., dan Bapak Sutrisno, M.Pd., selaku

pembimbing dan sekaligus sebagai motivator serta pengarah sampai selesainya

penulisan skripsi ini.

3. Kakak dan adik-adikku tercinta Ifa Da’waty, M. Bariq Firizqina, Tuba Nazlul

Huda, yang senantiasa mendukung dan memberi semangat, semoga apa yang

kalian cita-citakan dalam kehidupan ini segera terwujud, amin.

4. Guru-guruku yang telah memberikan dan membagikan ilmunya kepadaku

sehingga aku menjadi manusia pembelajar dan semakin mengerti banyak hal.

5. Sahabat-sahabat PAI Angkatan 2013, terima kasih untuk semua kisah yang

telah kita bagi bersama selama 4 tahun ini. Semoga di manapun kalian berada,

selalu mengamalkan ilmu yang kalian punya dengan hati yang tulus dan ikhlas.

6. Teman-teman PPL SMA N 1 Suruh, teman-teman KKN Desa Papringan Dusun

Kadirojo, terimakasih atas berbagai pengalaman lapangan yang telah kalian

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin peneliti ucapkan sebagai rasa syukur kehadirat

Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhitung dan rahmat-Nya yang tiada

henti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada jujungan kita Nabi

Muhammad SAW, beliaulah suri tauladan bagi seluruh umat manusia,

penyempurna akhlak mulia, dan pemimpin yang bijaksana bagi seluruh alam

semesta.

Penulisan skripsi ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa ada

bantuan, dorongan, serta bimbingan dari pihak-pihak tertentu yang terkait, yang

telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi-informasi yang

dibutuhkan.

Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

IAIN Salatiga

3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga

4. Bapak Prof. H. Dr. Mansur, M.Ag., selaku dosen pembimbing skripsi yang

senantiasa memberikan arahan, bimbingan dan motivasi selama pengerjaan

penyesesaian skripsi.

5. Bapak Dr. H. Muh. Saerozi, M.Ag., selaku dosen pembimbing akademik yang

(10)

ix

6. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen IAIN Salatiga yang tidak bisa saya sebutkan

satu-satu yang telah memberikan ilmunya kepada peneliti selama menjadi

mahasiswanya.

7. Keluarga tercinta yang telah membesarkan peneliti dengan penuh kasih sayang

dan memberikan bantuan moril dan materil maupun spiritual.

8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan, semoga segala bantuan yang

diberikan mendapat balasan dan Ridho Allah SWT, serta tercatat dalam bentuk

amalan ibadah, amin.

Semoga semua jasa baik yang diberikan kepada peneliti mendapatkan balasan

yang lebih berarti dari Allah SWT, peneliti menyadari masih banyak terdapat

kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, karenanya kritik dan saran yang

membangun sangat diharapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua

kalangan terutama bagi peneliti sendiri. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Salatiga, 23 Agustus 2017

(11)

x ABSTRAK

Ana Bi’aunika. 2017. Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

Dosen Pembimbing: Prof. Dr. H. Mansur, M. Ag. Kata Kunci: Pendidikan Islam, H. M. Arifin.

Saat ini dikalangan dunia Islam berkembang kesadaran urgensi rekonstruksi peradaban Islam melalui penguasaan sains dan teknologi, maka perlu dirumuskan lagi pendidikan Islam yang sesuai tuntutan di masa sekarang.Peneliti tertarik mengkaji tentang konsep pendidikan Islam perspektif H. M. Arifn sebagai alternatif pemikiran intelektual untuk menjawab permasalahan pendidikan Islam. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana konsep pendidikan Islam perspektif H. M. Arifin (2) Bagaimana konsep pendidikan Islam kontemporer (3) Sejauh mana relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H. M. Arifin terhadap pendidikan Islam kontemporer.

Metode penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer dari buku-buku karangan H. M. Arifin yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Sumber data sekundernya, dari buku lain yang berhubungan dengan penelitian. Analisis data yang digunakan adalah metode analisis deduktif, analisis induktif, analisis deskriptif dan analisis interpretasi.

(12)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN BERLOGO ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

KATA PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xi

BAB I Pendahuluan A.Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C.Tujuan Penelitian ... 4

D.Manfaat Penelitian ... 5

E. Penegasan Istilah ... 5

F. Metode Penelitian ... 8

G.Sistematika Penulisan ... 13

BAB II Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayin Arifin A.Biografi H. M. Arifin ... 15

(13)

xii

BAB III Konsep Pendidikan Islam Kontemporer

A.Pengertian Pendidikan Islam Kontemporer ... 38

B. Konsep Pendidikan Islam Kontemporer ... 39

C.Kelebihan Pendidikan Islam Kontemporer ... 56

BAB IV Relevansi Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer

A.Analisis ... 60

B. Relevansi Konsep Pendidikan Islam Perspektif

H. M. Arifin Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer ... 63

BAB V Penutup

A.Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA DAFTARLAMPIRAN

Daftar Riwayat Hidup Peneliti

Nota Pembimbing Skirpsi

Lembar Konsultasi

(14)

1 BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Di era sekarang dunia telah dilanda perubahan nilai yang cenderung untuk

meninggalkan sistem tradisional. Apakah hal ini disebabkan oleh naluri manusia

yang cenderung untuk meninggalkan sistem nilai tradisional ataukah memang naluri

manusia yang cenderung untuk menyukai hal-hal yang baru dan ada pressure power

dari luar (Arifin, 2016: 44).

Arifin (1991: 139) berpendapat bahwa semakin meningkatnya rising demands suatu masyarakat atau seseorang, semakin kompleks pula kehidupan jiwanya. Dan semakin kompleks jiwa seseorang, semakin rigid terhadap penerimaan ajaran agama yang dibawakan oleh juru dakwah/ penerang agama/ penyuluh agama. Asumsi demikian berlaku bagi semua orang dewasa yang hidup dalam masyarakat modern yang disebut masyarakat beradab.

Berangkat dari firman Allah SWT:

ْمِهِسُفْ نَأِب اَم اوُرِّ يَغُ ي ىَّتَح ٍمْوَقِب اَم ُرِّ يَغُ ي لا َهَّللا َّنِإ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’du ayat 11). Ayat ini mengingatkan bahwa manusia sebagai anggota masyarakat janganlah statis dan jumud dalam hidupnya, melainkan harus dinamis dan konstruktif dalam

(15)

2

Menurut Arifin (1994: 36), Masyarakat Indonesia yang berfalsafah Pancasila

mengambil sikap dan pendirian “tetap mempertahankan sistem nilai lama yang

terbukti baik dan mengambil sistem nilai baru yang paling baik”. Dengan sikap

keterbukaan inilah, peserta didik akan memperoleh kesempatan luas untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam upaya memilih alternatif-alternatif kehidupan dalam bidang yang dianggap sesuai dengan bakat dan kemampuannya dan menuntut kepada kemandirian tanggung jawab pribadi dan ketergantungan kepada diri sendiri (self dependancy).

Tantangan masyarakat muslim di berbagai belahan dunia mengembangkan sains dan teknologi dimasa mendatang akan semakin berat. Pada dasawarsa terakhir dikalangan dunia Islam mucul dan berkembang kesadaran tentang urgensi

rekonstruksi peradaban Islam melalui penguasaan sains dan teknologi, masyarakat muslim tidak hanya berhadapan dengan hambatan internal, tetapi juga eksternal yang saling berkaitan (Azra, 2012: 11).

Pendidikan Islam khususnya di Indonesia, dewasa ini dihadapkan pada problematika

yang tak kunjung usai. Berbagai wacana dan tawaran yang muncul, baik dari

kalangan pendidik maupun pemerhati dan peneliti pendidikan Islam, dimaksudkan

untuk menyelesaikan masalah krusial ini. Berbagai tawaran tentang proses, prosedur,

metodologi dan pendekatan diajukan dan diwacanakan oleh para pakar guna

membangun suatu kerangka pendidikan Islam yang kokoh, dari yang normatif hingga

yang historis ( Idi dan Suharto,2006: xv). Untuk itulah perlu dirumuskan lagi

(16)

3

Pandangan dasar tentang keberhasilan suatu pendidikan Islam merupakan prasyarat

yang perlu dipenuhi melalui berbagai daya dan upaya ilmiah. Prasyarat demikian

perlu diwujudkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran teoritis dan praktis yang harus

ditindak lanjuti dengan pembentukan sistem keilmuan kependidikan Islam yang bulat

(Arifin, 2014: 7). Pendidikan Islam sendiri perlu memiliki pandangan yang sesuai

dalam praktik dan kelenturan dalam teori-teori kependidikan, ia juga merupakan

eksperimentasi teori pendidikan Islam yang bertugas memfungsionalkan ide-ide

kependidikan dalam proses pelaksanaan baik dalam bentuk formal maupun non

formal.

Inilah yang menjadikan peneliti tertarik untuk mengkaji dan menelaah tentang konsep

pendidikan Islam perspektif H. M. Arifn baik secara teoritis maupun secara praktis,

untuk dijadikan alternatif pemikiran intelektual dan nilai-nilai yang berbeda untuk

menjawab permasalahan pendidikan Islam, mengkritisi dan memahami ulang serta

mengimplementasikan ajaran Islam yang menyejarah di dalam pendidikan agama

Islam.

Sasaran pendidikan Islam secara teori maupun praktik harus mampu memberikan

pandangan yang tepat dan terarah tentang kemungkinan yang objektif dari proses

pertumbuhan dan perkembangan manusia. Diharapkan pendidikan Islam perspektif

H.M. Arifin baik teoritis maupun praktis dapat menetapkan kaidah atau pedoman

konsepsional dan operasional yang dapat menunjukan alternatif-alternatif dalam

proses mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan manusia menuju ke arah

pendewasaan individualitas,sosialitas, dan moralitas (Arifin, 2014: 13-14).

Aspek inilah yang ingin ditonjolkan peneliti dalam skripsi yang berkaitan dengan

pendidikan Islam. Dengan kata lain, sejauh mana posisi, sikap, dan peran pemikiran

(17)

4

pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap pendidikan Islam kontemporer.

Oleh karena itu skripsi ini peneliti beri judulKONSEP PENDIDIKAN ISLAM

PERSPEKTIF H. M. ARIFIN.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian

sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin?

2. Bagaimana konsep pendidikan Islam kontemporer?

3. Sejauh mana relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap

pendidikan Islam kontemporer?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui:

1. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin.

2. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam kontemporer.

3. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin dan relevansi

(18)

5 D. Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

a. Menambah teori tentang konsep pemikiran H. M. Arifin untuk dijadikan

referensi dan acuan bagi para peneliti atau pembaca.

b. Menambah perbendaharaan yang menggunakan metode penelitian libary

researchmengenai pemikiran tokoh pendidikan H.M. Arifin yang dapat

dijadikan solusi bagi permasalahan pendidikan saat ini.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi

fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan (FTIK) IAIN Salatiga pada

khususnya dan kepada fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan (FTIK)

kampus lain pada umunya mengenai konsep pendidikan Islam perspektif

H.M. Arifin.

b. Memberikan pembahasan yang mendalam bagi peneliti untuk

diimplementasikan dalam dunia pendidikan secara riil.

E. Penegasan Istilah

Penegasan dimaksudkan untuk menghindari kekurang jelasan atau pemahaman

yang berbeda antara pembaca dengan peneliti mengenai istilah-istilah yang terdapat

dalam judul penelitian. Istilah yang perlu diberi penegasan adalah istilah-istilah yang

berhubungan dengan kosep-konsep pokok yang terdapat di dalam skripsi.

Kriteria bahwa suatu istilah mengandung konsep pokok adalah jika istilah

(19)

6

istilah disampaikan secara langsung, dalam arti tidak diuraikan asal-usulnya.

Beberapa istilah yang perlu ditegaskan adalah sebagai berikut:

1. Konsep

Konsep adalah ide umum, pengertian, pemikiran, renungan, dan rencana dasar

(Jumali, 2004: 132). Konsep adalah ide abstrak dari peristiwa konkret yang

dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada

umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata (KBBI, 2007:

588).

Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa konsep merupakan

abstraksi dari realita yang menggambarkan tentang intisari atau kesimpulan

suatu hal dan memiliki fungsi sebagai penyederhana tentang suatu hal sehingga

timbul keteraturan dan kemudahan komunikasi.

2. Pendidikan Islam

Menurut UU no. 20 th. 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal

balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian diri dengan alam, dengan

teman dan keluarga (Jumali, 2004: 18).

Menurut Uyoh Sadulloh (2014: 5), prinsip dasar pendidikan dari arti luas yaitu:

pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Kedua, bahwa tanggung

jawab pendidikan merupakan tanggung jawab semua manusia; tanggung jawab

(20)

7

Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan

kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita

dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya

(Arifin, 2014: 7).

Menurut Tafsir (2014: 32) pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan

oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai

dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam ialah bimbingan belajar

terhadap seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin.

Dr. Mohd. Fadli Al-Djamaly mengungkapkan pendidikan Islam adalah proses

yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat

derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan

kemampuan ajarnya (pengauh dari luar) (Arifin, 1987 : 16).

Jadi pendidikan Islam adalah, proses memberikan, mengarahkan dan

membimbing kemampuan manusia berdasarkan syariat Islam untuk menjadi

muslim semaksimal mungkin sesuai dengan fitrahnya.

3. Kontemporer

Kontemporer artinya pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini;

dewasa ini (KBBI, 2007:591).

Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa kontemporer adalah masa

(21)

8 F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research). Studi

pustaka di sini adalah studi teks yang seluruh substansinya diolah secara

filosofis dan teoritis (Muhadjir, 1992: 158-159).

Data-data yang digunakan peneliti dalam skripsi ini adalah berbagai

tulisan yang temanya sama dengan judul yang diangkat. Dengan

mengumpulkan data-data yang diperlukan, baik sumber buku primer maupun

sumber buku sekunder, dicari dari sumber-sumber kepustakaan (Kuswaya,

2011: 11).

2. Metode Pengumpulan data

Metode pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka (library

research) Mengumpulkan berbagai sumber data dengan mencari data mengenai

hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan

sebagainya (Arikunto, 2010: 274) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengumpulkan buku-buku yang ada relevansinya dengan kajian

permasalahan. Dalam hal ini penulis mengumpulkan buku-buku maupun

data mengenai H. M. Arifin dan konsep pendidikan Islam perspektif H.M.

Arifin.

b. Mengidentifikasi semua permasalahan yang berkaitan dengan penelitian.

Setelah diperoleh data mengenai pendidikan kontemporer dan konsep

pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin kemudian diidentifikasi berasarkan

rumusan masalah yang ingin dijawab oleh peneliti.

c. Menarik suatu kesimpulan sebagai hasil suatu penelitian tentang pokok

(22)

9

maka peneliti dapat menarik kesimpulan mengenai konsep pendidikan

Islam perspektif H.M. Arifin dan relevansi terhadap pendidikan Islam

kontemporer.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh

(Arikunto, 2006: 129). Dalam penulisan skripsi ini sumber data yang

digunakan adalah sumber yang relevan dengan pembahasan skripsi. Adapun

sumber data terbagi menjadi dua macam, yaitu:

a. Sumber Data Primer

Buku-buku karya H.M. Arifin:

1. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis

Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner) (Bumi Aksara; 2016).

2. Filsafat Pendidikan Islam (Bumi Aksara; 2010)

3. Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)(Bumi Aksara; 2014).

4. Ilmu Perbandingan Pendidikan (Golden Terayon Press; 2003).

5. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah

Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi) (Bulan

Bintang; 1977).

6. Teori-Teori Counseling Umum Agama Dan (Golden Terayon Press;

1994).

7. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi (Bumi Aksara; 1991).

8. Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat (Golden Terayon

Press;1991).

(23)

10

10. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama(Golden

Terayo Press; 1994).

11. Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia

12. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama

(Bulan Bintang; 1979).

Dari semua buku karya-karya H. M. Arifin, peneliti memfokuskan pada

lima sumber buku saja yang dijadikan sebagai sumber data primer, karena

dianggap paling banyak membahas materi-materi sesuai dengan penelitian.

Maka yang dijadikan sebagai sumber data primer dalam penelitian skripsi

ini adalah:

1. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis

Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner) (Bumi Aksara; 2016).

2. Filsafat Pendidikan Islam (Bumi Aksara; 2010).

3. Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)(Bumi Aksara; 2014).

4. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah

Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi) (Bulan

Bintang; 1977).

5. Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat (Golden Terayon

Press;1991).

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yaitu berbagai literatur yang berhubungan dan

relevan dengan objek penelitian, baik berupa buku maupun website.

Beberapa diantaranya yaitu:

1. Revitalisasi Pendidikan Islam: buku karya Abdullah Idi Dan Toto

(24)

11

2. Pendidikan Islam Tradisi Dan Modernisasi Di Tengah Tantangan

Milenium III: buku karya Azyumardi Azra (Kencana; 2012).

3. Pendidikan Islam Menghadapi Abad Ke 21: buku karya Hasan

Langgung (Pustaka Al Husna; 1988).

4. Pendidikan Islam Dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern: buku

karya Umiarso dan Haris Fathoni Makmur (IRCiSoD; 2010).

4. Metode Analisis Data

Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan beberapa metode yaitu:

a. Metode Analisis Deduktif

Metode analisis deduktif adalah metode berfikir yang didasarkan pada

pengetahuan umum dimana kita hendak menilai suatu kejadian yang khusus

(Hadi, 1990: 42). Dalam penelitian ini metode analisis deduktif digunakan

untuk menjelaskan pengertian dan konsep pendidikan Islam kontemporer.

b. Metode Analisis Induktif

Metode analisis induktif adalah metode berfikir yang berangat dari fakta-fakta

peristiwa khusus dan konkret, kemudian ditarik generalisasi-generalisasi yang

bersifat umum (Hadi, 1990: 42). Metode ini digunakan untuk mengkaji data

yang telah didapat dan terkait dengan konsep pendidikan Islam yang telah

dipaparkan oleh H.M. Arifin dan dikaitkan dengan relevansi kekinian, atau

pendidikan Islam kontemporer.

c. Metode Analisis Deskriptif

Metode Analisis Deskriptif, yaitu suatu metode yang menguraikan secara

teratur seluruh konsepsi dari tokoh yang dibahas dengan lengkap tetapi ketat

(25)

12

mendeskripsikan pemikiran pendidikan H.M. Arifin dalam konteks pendidikan

Islam dan relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer.

d. Metode Analisis Interpretasi

Metode Analisis Interpretasi, yaitu cara berfikir dengan menggunakan cara

menyelami karya tokoh, agar dapat menangkap arti dan nuansa yang dimaksud

tokoh secara khas (Bakker dan Zubair, 1990: 64). Metode ini digunakan untuk

menganalisis pemikiran tokoh yaitu H.M. Arifin tentang konsep pendidikan

Islam.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi yang disusun terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian

isi dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari sampul, lembar berlogo, halaman judul,

halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan kelulusan, halaman

pernyataan orisinalitas, halaman moto, halamankata persembahan, halaman kata

pengantar, halaman abstrak, halaman daftar isi.

Bagian inti atau isi dalam penelitian ini, penulis menyusun ke dalam lima bab

yang rinciannya sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, pada bab ini akan dibahas mengenai: latar belakang

masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah,

metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayyin Arifin, Pada bab ini akan

diuraikan biografi H.M. Arifin, dan konsep pendidikan Islam perspekif H. M. Arifin

BAB III Konsep Pendidikan Islam Konemporer, Pada bab ini akan diuraikan

tentang pengertian pendidikan Islam kontemporer, konsep pendidikan Islam

(26)

13

BAB IV relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap

pendidikan Islam kontemporer, pada bab ini akan dibahas tentang analsis dan

relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap pendidikan Islam

kontemporer.

BAB V Penutup, pada bab ini akan dibahas kesimpulan peneliti dari pembahasan

skripsi, saran-saran, kalimat penutup yang sekiranya dianggap penting dan daftar

pustaka.

Bagian akhir yaitu daftar lampiran yang terdiri dari daftar riwayat hidup peneliti,

(27)

14 BAB II

Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayyin Arifin

A. Biografi H.M. Arifin

Prof. Dr. H. M. Arifin, M.ed., lahir di Bogor pada tanggal 2 Agustus 1954.

Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Wajib Belajar di Nagrog, Ciampea Bogor

tahun 1968. Kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah Pendidikan

Guru Agama (PGA) 4 tahun. Sambil bersekolah beliau tinggal dan menginap

(mondok) di Pondok Pesantren Nurul Ummah dan lulus tahun 1972.

H. M. Arifin melanjutkan pendidikannya pada sekolah Pendidikan Guru

Agama tingkat Atas (PGA A) 6 tahun. Sambil mondok di Pesantren

Jauharatun Naqiyah Cibeber Cilegon Serang Jawa Barat, dan tamat tahun

1974. Setelah itu beliau memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) pada tahun

1979, dan Sarjana Lengkap (baca: Drs) pada Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta (sekarang bernama Universitas Islam Negeri Jakarta),

dan tamat tahun 1981. Gelar Magister bidang Studi Islam diperolehnya tahun

1991, sedangkan gelar Doktor bidang Studi Islam diperoleh pada tahun 1993

masing-masing dari Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karir H.M. Arifin dimulai sebagai tenaga peneliti lepas pada Lembaga Studi

Pembangunan (LSP) di Jakarta 1981-1982; pada tahun yang sama menjadi

(28)

15

pada Himpunan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (HP2M). Kemudian menjadi instruktur pada Lembaga Bahasa dan Ilmu Al Qur’an (LBIQ) Daerah

Khusus Ibukota Jakarta pada tahun 1982-1985.

Setelah itu akhirnya bertugas sebagai dosen Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mulai tahun

1985. Tahun 1990 bertugas pula sebagai dosen Fakultas Pascasarjana UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta pada bidang mata kuliah Sejarah Sosial dan

Filsafat Pendidikan Islam. Namun, H.M. Arifin wafat pada tahun 2003.

Meski beliau sudah wafat, pemikiran serta peran dan perjuangan beliau bisa

kita ambil hikmah dan nilai-nilainya(http:// ejournal. kopertais4. or. id/

pantura/ index. php/ qura/ article/ view/ 2047. Di akses pada 05 Juni 2017).

H. M. Arifin, di kalangan civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dikenal sebagai salah seorang yang concern dengan persoalan pendidikan, terutama pendidikan Islam. Hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk kemajuan

lembaga yang menjadi pilar utama kemajuan peradaban umat manusia. Hal

ini bukan hanya terlihat dari berbagai karya tulis di bidang pendidikan,

melainkan juga keterlibatannya secara langsung dalam mengelola berbagai

lembaga pendidikan.

Adapun karya-karya beliau yaitu:

13.Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner)

(29)

16

15.Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)

16.Ilmu Perbandingan Pendidikan

17.Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat

18.Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi)

19.Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar

20.Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama

21.Teori-Teori Counseling Agama Dan Umum

22.Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia

23.Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Filsafat Pendidikan Islam

24.Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama

B. Konsep Pendidikan Islam Perspektif H.M. Arifin 1. Pengertian Pendidikan Islam

Lapangan pendidikan merupakan wilayah yang sangat luas. Ruang

lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia

tentang pendidikan. Setiap orang pernah mendengar tentang perkataan

pendidikan, dan setiap orang waktu kecilnya pernah mengalami

pendidikan. Namun tidak setiap orang mengerti dalam arti yang

sebenarnya apa pendidikan itu, dan tidak setiap orang mengalami

pendidikan ataupun menjalankan pendidikan sebagaimana mestinya

(Sadulloh, 2014: 1).

Tujuan dan sasaran pendidikan berbeda-beda menurut pandangan hidup

(30)

17

dirumuskan pandangan hidup Islam yang mengarahkan tujuan dan

sasaran pendidikan Islam (Arifin, 2016: 7).

Jika Islam disebut agama yang benar di sisi Allah, maka bila manusia

berpredikat muslim, dia harus menjadi penganut agama yang baik,

menaati ajaran Islam, menjaga agar rahmat Allah tetap berada pada

dirinya. Ia harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan

ajarannya sesuai iman dan akidah islamiah (Arifin, 2016: 7).

Untuk tujuan itulah, manusia harus dididik melalui proses pendidikan

Islam. Berdasarkan pandangan tersebut, pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk

memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam

yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya (Arifin, 2016:

7).

Dengan kata lain, manusia yang mendapatkan pedidikan Islam harus

mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana

diharapkan oleh cita-cita Islam. Maka pengertian pendidikan Islam adalah

suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang

dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman

bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi

(Arifin, 2016: 8).

Mengingat luasnya jangkauan yang harus digarap oleh pendidikan Islam,

maka pendidikan Islam tetap terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan

(31)

18

maupun tuntunan pemenuhan kebutuhan hidup rohaniah. Kebutuhan itu

semakin meluas sejalan dengan melauasnya tuntutan hidup manusia itu

sendiri. Oleh karena itu, dilihat dari pengalamannya, pendidikan Islam

berwatak akomodatif terhadap tuntutan kemajuan zaman sesuai acuan

norma-norma kehidupan Islam (Arifin, 2016: 8).

2. Tujuan Pendidikan Islam

Meskipun seorang manusia telah diberi fitrah, bila tanpa memperoleh

kesempatan pendidikan, atau bimbingan/penyuluhan yang cukup

memadai maka ia tidak akan mampu mencapai titik optimal

perkembangan hidupnya yang positif dan konstruktif (Arifin, 1994: 39).

Tatkala orang mendesain pendidikan, maka ia harus memulai dengan

merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Berdasarkan dasar pendidikan

yang menjadi pandangan hidup pendesain itu ia merumuskan tujuan

pendidikan. Jadi tujuan pendidikan pada dasarnya ditentukan oleh

pandangan hidup (way of life) orang yang mendesain pendidikan itu. Pikiran inilah yang menyebabkan berbeda-bedanya desain pendidikan

(Tafsir, 2010: 75).

Demikian pula yang terjadi dalam proses kependidikan Islam, bahwa

penetapan tujuan akhir itu mutlak diperlukan dalam rangka mengarahkan

segala proses, sejak dari perencanaan program sampai dengan

pelaksanaanya, agar tetap konsisten dan tidak menngalami deviasi-deviasi

(penyimpangan). Adapun tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya

(32)

19

bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin, di

dunia dan akhirat (Arifin, 1994: 39-40).

Pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian

manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran,

perasaan dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia

dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi,

jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya. Dan pendidikan itu mendorong

semua aspek tersebut kearah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan

hidup (Arifin, 1994: 40-41).

Tujuan memiliki peran strategis dalam menentukan kebijakan

kurikulum. Tujuan dalam pendidikan berfungsi sebagai penentu arah,

standar yang hendak dicapai, serta pedoman yang harus dipakai tatkala

pendidik akan melakukan evaluasi tentang keberhasilan proses

pendidikan yang dilakukan. Dengan demikian tujuan menjadi sentra

pengembangan kurikulum (Roqib, 2009: 78-79).

Arifin (1994: 115) berpendapat bahwa manusia baru Indonesia yang

dikehendaki adalah manusia yang serba utuh lahir dan batin. Hidup

duniawi dan uhkrowi, yang mampu membangun diri, masyarakat, dan

negara dengan berbekal ilmu dan ketrampilan yang dijiwai oleh nilai-nilai

agama. Tujuan terakhir dari pendidikan Islam itu terletak dalam realisasi

sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan,

masyarakat, maupun sebagai umat manusia keseluruannya (Arifin, 1994:

(33)

20

Sifat yang demikian membuat pendidikan Islam benar-benar berbeda dari

pendidikan lainnya, baik dari segi tujuan, watak, isi, karakteristik maupun

pengaruh praktisnya. Sifat itu pula yang membuat proses pendidikan

Islam berjalan di atas jalur yang telah digariskan agama Islam dalam arti

luas seperti yang dijelaskan di atas yaitu sebagai agama bagi kehidupan di

dunia dan di akhirat yang meliputi segala persoalan hidup, berbagai hajat

individu, masyarakat, dan seluruh umat manusia (Aly, 2003: 141).

3. Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam

Kurikulum pada mulanya diartikan sebagai bahan-bahan pelajaran apa

saja yang harus disajikan dalam proses pembelajaran di dalam suatu

sistem instruksional pendidikan (Arifin, 1994: 183). Dalam ilmu

pendidikan Islam, ia juga menjadi salah satu bahan masukan yang

mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan pendidikan Islam.

Menurut sifatnya, kurikulum pendidikan Islam dipandang sebagai cermin

idealitas Islam yang tersusun dalam bentuk serangkaian program dan

konsep dalam mencapai tujuan pendidikan. dengan memperhatikan

program-program yang berbentuk kurikulum, kita dapat mengetahui

cita-cita apakah yang hendak diwujudkan oleh proses kependidikan itu

(Arifin, 2016: 136).

Dalam perspektif Islam, keharusan mengitegrasikan unsur religius yang

transendental dengan setiap cabang ilmu menjadi hal yang tak terelakkan.

(34)

21

menimbulkan bias pemikiran yang pada gilirannya akan mengakibatkan

rasa kebingungan pada peserta didik (Roqib, 2009: 78).

Dengan demikian, kurikulum yang dapat dipandang baik untuk mencapai

tujuan pendidikan Islam menurut H.M. Arifin (2010: 86) adalah yang

besifat integrated dan komprehensif, mencakup ilmu agama, dan umum. Oleh karena itu, kurikulum harus besifat dinamis dan konstruktif dalam

arus proses perkembangan masyarakat manusia yang arahnya tidak sama.

Yang dimaksud integratif di sini adalah keterpaduan kebenaran wahyu

dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta. Dikatakan struktur

keilmuan integratif di sini bukanlah berarti antara berbagai ilmu tersebut

dilebur menjadi satu bentuk ilmu yang identik, melainkan karakter, corak

dan hakikat antara ilmu tersebut terpadu dalam kesatuan dimensi material

spiritual, akal wahyu, ilmu umum dan ilmu agama, jasmani rohani, dan

dunia akhirat (Muliawan, 2005: xii).

Apalagi bila dilihat bahwa bersamaan dengan pesatnya kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi saat ini yang membawa dampak negatif dan

positif itu, peserta didik yang berupa generasi muda kita tergolong

kelompok usia yang rawan dan peka terhadap pengaruh tersebut, semakin

memerlukan ketahanan dan ketangguhan mental spiritual berdasarkan

nilai-nilai keimanan dan takwanya yang berfungsi sebagai benteng

mental, sekaligus filter dalam menghadapi tantangan atau kesulitan yang

mungkin terjadi, justru mereka termasuk generasi muda yang harus

(35)

22

jelas menduduki tempat strategis dalam perjuangan tersebut (Arifin,

1994: 116).

Unsur-unsur pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimasukkan ke

dalam content (isi) kurikulum yang didasarkan atas tabiat manusia

sebagai makluk berpikir, merasa, dan menghendaki (unsur kemampuan

kognitif, afektif, dan konatif), diwujudkan dalam bentuk-bentuk: ilmu

pengetahuan akademis, seni budaya, dan ketrampilan bekerja (practical arts). Dengan ilmu pengetahuan, peserta didik dapat mengetahui sesuatu dan dengan seni budaya itulah mereka dididik untuk berbuat sesuatu

untuk dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungan hidupnya (Arifin,

2010: 79).

Dari kurikulum pendidikan Islam harus tercermin idealitas Al-Qur’an

yang tidak memilih-milih jenis disiplin ilmu secara taksonomis dikotomik (Arifin, 2016: 137). Materi yang diuraikan dalam Al Qur’an

menjadi bahan pokok pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan

Islam, formal maupun nonformal. Oleh karena itu, materi pendidikan yang bersumber dari Al Qur’an harus dipahami, dihayati, diyakini, dan

diamalkan dalam kehidupan umat Islam.

Prinsip penyusunan kurikulum menurut H.M. Arifin (2016: 141):

a. Kurikulum mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang

mampu berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup islami.

b. Kurikulum mengandung tata nilai islami yang intrinsik dan ekstrinsik

(36)

23

c. Kurikulum diproses melalui metode yang sesuai tujuan pendidikan.

d. Kurikulum, metode, dan tujuan pendidikan Islam harus saling

menjiwai dalam proses mencapai produk yang dicita-citakan menurut

agama Islam.

Kategori kurikulum menurut H. M. Arifin (2016: 141):

a. Ilmu pengetahuan dasar yang esensial adalah ilmu-ilmu yang membahas Al Qur’an dan Hadis.

b. Ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia sebagai individu dan

sebagai anggota masyarakat antara lain: antropologi, pedagogik,

psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.

c. Ilmu pengetahuan tentang alam atau disebut al-ulum al-kauniah antara lain ilmu biologi, botani, fisika, dan astonomi.

Kandungan dalam Al-Qur’an tidak terdapat kontradiksi atau

pemisahan ilmu-ilmu karena semuanya merupakan refleksi dari

kekuasaan Allah atas nama semesta (Arifin, 2016: 142).

4. Metode Dalam Proses Pendidikan Islam

Dalam pengertian letterjik, kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang

terdiri dari metayang berarti “melalui” dan hodos yang berarti jalan, jadi, metode berarti “jalan yang dilalui”. Dengan demikian, metode dapat

berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan

(Arifin, 1994: 43).

Dalam sejarah pendidikan Islam dapat diketahui bahwa para pendidik

(37)

24

menerapkan berbagai metode pendidikan atau pengajaran.

Metode-metode yang dipergunakan tidak hanya Metode-metode mendidik atau mengajar

dari para pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus digunakan

oleh anak didik (Arifin, 2010: 89-90).

Metode pendidikan yang disampaikan Arifin (2010: 91) lebih

mengarahkan tugasnya kepada pembinaan atau pembentukan sikap dan

kepribadian manusia yang beruang lingkup pada proses mempengaruhi

dan membentuk kemampuan kognitif, kognatif, afektif serta psikomotor

dalam diri manusia.

Metode merupakan cara-cara untuk menyampaikan materi pembelajaran

secara efektif dan efisien, juga untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

Dengan metode ini diharapkan akan muncul berbagai kegiatan belajar

peserta didik, sehubungan dengan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh

guru. Dengan kata lain, terciptanya suatu hubungan atau interaksi

edukatif (Gunawan, 2014: 257).

Metode pendidikan yang digunakan H.M. Arifin yang dikutip oleh

Rosyadi, (2004: 214) lebih menekankan pada penelusuran analitis dari

dalam kandungan Al-Qur’an pada hubungan antara pendidik dan peserta

didik dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Pendidikan Islam mengakui adanya fitrah dalam diri manusia yang

dapat dikembangkan melalui proses kependidikan dengan metode

(38)

25

b. Keyakinan potensi fitrah itu mendorong guru berikhtiar sebaik

mungkin dengan pemilihan metode kependidikan yang efektif dan

efisien.

c. Guru berikhtiar terhadap perkembangan fitrah malalui program

kegiatan kependidikan yang terarah kepada cita-cita Islam.

d. Pendidikan Islam mengupayakan harmonisasi dalam proses mencapai

tujuan, sehingga produk pendidikan sesuai dengan cita-cita Islam.

e. Terciptanya model-model proses belajar mengajar yang fleksibel

terhadap tuntutan kebutuhan kehidupan anak didik sebagai hamba

Allah dan anggota masyarakat.

f. Pendidikan Islam dengan segala ikhtiarnya senantiasa berpegang pada

pengembangan hidup manusia yang berorientasi kepada potensi

keimanan dan ilmu pengetahuan pribadi manusia Muslim.

Adapun prinsip metodologis yang dijadikan landasan psikologis menurut

H. M. Arifin (Rosyadi, 2004: 215) adalah sebagai berikut:

a. Prinsip memberikan suasana kegembiraan.

b. Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut.

c. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik.

d. Prinsip pra-syarat.

e. Prinsip komunikasi terbuka.

f. Prinsip pemberian pengetahuan yang baru.

g. Prinsip memberikan perilaku yang baik.

(39)

26

i. Prinsip kasih sayang dan pembinaan kepada anak didik dan lain

sebagainya.

5. Lembaga Pendidikan Islam

Salah satu sistem yang memungkinkan proses kependidikan Islam

berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan dalam rangka

mencapai tujuannya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan Islam

(Arifin, 2016: 80). Tujuan akan lebih mudah dicapai melalui proses

kependidikan jika ditransformasikan melalui institusi kependidikan,

karena institusi menjadi wadah pengorganisasian dan pelaksanaan

program untuk mencapai tujuan pendidikan (Arifin, 2016: 120).

Dalam sejarah pendidikan Islam, sejak Nabi melaksanakan tugas dakwah

agama secara aktif, di kota Mekah telah didirikan lembaga di mana Nabi

memberikan pelajaran tentang agama Islam secara menyeluruh di

rumah-rumah dan di masjid-masjid, di dalam masjid inilah berlangsung proses

belajar mengajar berkelompok dalam halaqah dengan masing-masing gurunya yang terdiri dari para sahabat Nabi (Arifin, 2016: 80). Kemudian

berdiri lembaga pendidikan yang bernama kuttab, satu lembaga pendidikan dasar yang di dalamnya diajarkan cara membaca dan menulis

huruf Al-Qur’an serta pengajaran ilmu agama dan ilmu Al-Qur’an (Arifin,

2016: 80).

Sistem pengelolaan pendidikan dalam bentuk formal adalah yang disebut

sekolah atau madrasah, sedangkan yang bersifat informal ialah berupa

(40)

27

keluarga, di mana pendidikan berproses lebih banyak melalui sistem

penerangan atau mass educative dari pada individual educative dalam kelas-kelas sekolah (Arifin, 1977: 24).

Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjadi cermin

sebagai umat Islam. Fungsi dan tugasnya adalah merealisasikan cita-cita

umat Islam yang menginginkan agar anak-anaknya dididik menjadi

manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam rangka upaya

meraih hidup sejahtera duniawi dan kkebahagiaan hidup di akhirat

(Arifin, 2014: 159).

Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah sudah ada sejak Islam

berkembang di Indonesia. Madrasah itu tumbuh dan berkembang dari

bawah dalam arti masyarakat (umat) yang didasari rasa tanggung jawab

untuk menyampaikan ajaran Islam kepada generasi penerus. Sehingga

madrasah pada waktu itu lebih menekankan pada pendalaman ilmu-ilmu

Islam (Arifin, 2016: 160).

Madrasah dalam bentuk tersebut tercatat dalam sejarah bahwa

keberadaanya telah berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan

bangsa. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah

mengambil langkah-langkah untuk mengadakan penyempurnaan dan

peningkatan mutu masyarakat yang sejalan dengan laju perkembangan

dan aspirasi madrasah itu meliputi: penataan kelembagaan, peningkatan

(41)

28

Arifin (1987: 41-45) memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi

lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini meliputi:

a. Politik

Lembaga pendidikan yang berada dalam suatu wilayah negara

merupakan sektor kehidupan budaya bangsa yang terikat dengan

tujuan perjuangan nasional yang berlandaskan falsafah negaranya.

Maka suatu lembaga pendidikan yang tidak bersedia mengikuti politik

negaranya (khususnya dalam bidang pendidikan) akan merasakan

bahwa politik tersebut menjadi tekanan terhadap cita kelembagaan

tersebut.

b. Kebudayaan

Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad modern saat ini tidak

dapat terhindar dari pengaruh akulturasi, di mana faktor nilai yang

mendasari kebudayaannya sendiri sangat menentukan survivenya, bila nilai-nilai kultural suatu bangsa itu melemah, maka bangsa tersebut

akan mudah terperangkap oleh kebudayaan lain sehingga identitas

kebudayaannya sendiri lenyap. Sikap selektif dalam menerima atau

menolak kebudayaan asing perlu dilandasi dengan menganalisa secara

mendalam bersumber pandangan hidup sendiri baik sebagai institusi

ataupun sebagai bangsa. Sikap selektif pada hakikatnya bukanlah

sikap menyerah ataupun netral. Melainkan sikap kreatif selektif. Oleh

karena itu perlu pengetahuan dan wawasan mendalam yang mampu

(42)

29 c. IPTEK

Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu bagian dari peradaban

dan kebudayaan manusia, sebagai suatu ciri khas dari zaman modern

saat ini di mana perkembangannya lebih cepat menjalar ke jantung

masyarakat. Teknologi sebagai ilmu pengetahuan terapan adalah hasil

kemajuan budaya manusia yang banyak bergantung kepada manusia

yang menggunakannya. Dengan kata lain, teknologi dapat dijadikan

kekuatan kebudayaan yang bersifat netral dalam tugas dan fungsinya

dan tergantung oleh pribadi manusia dalam pengelolaan dan

pemanfaatannya. Inilah tantangan mutakhir manusia abad ini yang

perlu diberi jawaban oleh lembaga pendidikan Islam di mana

norma-norma agama senantiasa dijadikan sumber pegangan.

d. Ekonomi

Pengaruh kehidupan ekonomi banyak mewarnai corak perkembangan

sistem kependidikan dalam masyarakat bangsa. Oleh karena itu

kehidupan ekonomi suatu bangsa banyak mempengaruhi pertumbuhan

lembaga kependidikan. Bahkan juga mempengaruhi sistem

kependidikan yang diberlakukan serta kelembagaan kependidikan

yang dapat menunjang atau mengembangkan sistem ekonomi yang

diinginkan. Maka dari itu timbullah suatu perencanaan kependidikan dilihat dari aspek kehidupan ekonomi yang dikenal dengan “ekonomi

(43)

30

masyarakat selalu diukur sejauh mana dapat menunjang kehidupan

dan pembangunan di bidang ekonomi tersebut.

Bila dilihat dari sektor ini, maka problem-problem kehidupan

ekonomi perlu dijawab oleh lembaga-lembaga pendidikan, apalagi

bila diingat bahwa hasil pendidikan adalah sama prosesnya dengan

hasil produksi, karena pendidikan bagaikan suatu perusahaan yang

memproduksi tenaga ahli. Ukuran ekonomi bagi suatu lembaga

pendidikan yang demikian itu adalah suatu hal yang terlalu realistis

dan pragmatis. Namun dalam bidang inilah saat ini banyak

memberikan tantangan kepada lembaga pendidikan kita. Jawaban

yang diberikan oleh lembaga pendidikan antara lain tercermin dalam

sistem pendidikan serta kurikulum atau program pendidikan yang

ditetapkan.

e. Kemasyarakatan

Kemasyarakatan adalah suatu lapangan hidup manusia yang

mengandung ide-ide yang sangat laten terhadap pengaruh kebudayaan,

ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai suatu sistem kehidupan,

kemasyarakatan tidak statis dan beku, melainkan berkecenderungan ke

arah perkembangan dinamis yang mengandung implikasi

perubahan-perubahan yang biasa kita kenal sebagai social change. Problem-problem sosial yang menuntut pemecahan kepada lembaga pendidikan

justru menghidupkan tugas dan fungsi lembaga kependidikan itu

(44)

31

yang berfungsi sebagai agent of social change. Maka tantangan dalam kaitannya dengan social change menuntut jawaban dari lembaga kependidikan.

f. Sistem nilai

Di era sekarang dunia telah dilanda perubahan nilai yang cenderung

untuk meninggalkan sistem tradisional. Apakah hal ini disebabkan

oleh naluri manusia yang cenderung untuk meninggalkan sistem nilai

tradisional ataukah memang naluri manusia yang cenderung untuk

menyukai hal-hal yang baru dan ada pressure power dari luar. Hal inilah yang menjadi titik sentral problem yang melahirkan tantangan

terhadap lembaga pendidikan yang salah satu fungsinya adalah

mengawetkan sitem nilai yang telah berkembang di masyarakat.

Dengan demikian peranan lembaga pendidikan dalam perubahan sosial

itu seharusnya semakin diperkokoh dengan sistem dan metode

pengelolaan berdasarkan nilai-nilai yang dapat mempertahankan corak

dan identitas kebudayaannya (Arifin, 2003: 57).

Dari berbagai permasalahan lembaga pendidikan yang disampaikan di

atas, maka H.M. Arifin (2014: 154-155) menyimpulkan pola pemecahan

problema pendidikan Islam yang diharapkan mampu menjawab

permasalahan pendidikan yaitu:

a. Faktor idiil yang melandasi pelaksanaan pendidikan Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis memerlukan interpretasi baru dari para pakar

(45)

32

interpretasi baru yang berfokus kepada tiga kemampuan dasar

manusia yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik atau Arifin

menyebut ketiganya kemampuan yang bermukim di kepala (head), di dada (heart), dan di tangan (hand).

b. Faktor struktural kelembagaan pendidikan Islam yang telah eksis

dalam masyarakat, perlu dilakukan inovasi yang benar-benar dapat

mendukung tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan, metode

dan content diperbaiki sedemikian rupa, sehingga mampu menarik minat peserta didik tanpa mengurangi prinsip-prinsip ajaran dari

sumber pokok Islam. Seperti pesantren atau madrasah sebagai ciri

khas Indonesia, memiliki orientasi ke arah faktor idiil tersebut di atas.

Bukan hanya pesantren plus sekolah umum atau madrasah plus

pengetahuan umum seperti yang telah dianut oleh umat Islam di

beberapa lingkungan masyarakat. Suatu model pesantren yang

berfungsi ganda. Ia merupakan lembaga sosial keagamaan Islam yang

berfungsi sebagai pusat pembinaan mental agama masyarakat sekitar

yang berorientasi kepada modernisasi umat, dan di sisi lain sebagai

lembaga pendidikan agama Islam di lingkungannya yang dinamis dan

aspiratif terhadap tuntutan kemajuan lahiriyah dan batiniyah.

c. Faktor teknis operasional agama di semua jenjang pendidikan umum

perlu lebih diaktualisasikan ke dalam proses yang integralistik dengan

pendidikan intelektual dan ketrampilan sehingga terwujud keserasian

(46)

33

Untuk itu kerja sama antara pelaksana pendidikan di sekolah perlu

ditingkatkan lagi, terutama dalam kegiatan belajar mengajar. Strategi

pendidikan di sekolah-sekolah teknologi yang programnya lebih

teknologis dan eksak perlu lebih intensif diimbangi dengan program

pendidikan yang lebih moralis dan sosialistis-agamis tanpa menghilangkan

ciri-ciri kejuruannya.

Lembaga pendidikan di masa sekarang harus lebih kritis dan dinamis,

berorientasi kekinian sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi

modern selaras dengan kebutuhan atau tuntutan masyarakat masa kini

tanpa meninggalkan nilai fitah yang ada dalam diri setiap manusia.

Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh H. M. Arifin mengenai

lembaga pendidikan Islam perspektif beliau, diharapkan mampu

menjawab problema dan menjadi rujukan dalam mengembangkan

lembaga pendidikan Islam ke depan.

6. Evaluasi Dalam Pendidikan Islam

Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian

terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang

bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan

mental-psikologis dan spiritual-religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi

yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan

berketrampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan

(47)

34

Menurut Arifin (2016: 162) sasaran evaluasi pendidikan Islam secara

garis besar meliputi empat kemampuan dasar anak didik, yaitu:

a. Sikap dan pengalaman pribadi, hubungan dengan Tuhan.

b. Sikap dan pengalaman dirinya, hubungan dengan masyarakat.

c. Sikap dan pengalaman kehidupannya, hubungannya dengan alam

sekitar.

d. Sikap dan pandangannya terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah

dan selaku anggota masyarakatnya, serta selaku khalifah di muka bumi.

Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam klasifikasi

kemampuan teknis masing-masing sebagai berikut (Arifin, 2016: 162):

a. Sejauh mana loyalitas dan kesungguhan untuk mengabdikan dirinya

kepada Tuhan dengan indikasi-indikasi lahiriyah berupa tingkah laku

yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Aspek ini berwujud dalam bentuk tingkah laku yang merujuk kepada

keimanan, ketekunan ibadah, kemampuan praktis dalam mengerjakan

syariat Islam dan cara menanggapi atau melakukan responsi terhadap

permasalahan hidup seperti tawakal, sabar, dan ketenangan batin serta menahan amarah.

b. Sejauh mana menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup

bermasyarakat, seperti berakhlak mulia dalam pergaulan, disiplin

(48)

35

orang lain, misalnya ketepatan memenuhi janji, menunaikan amanat,

tidak berdusta, egoisme, anti sosial dan lain-lain.

c. Bagaimana ia berusaha mengelola dan memelihara serta

menyesuaikan dirinya dengan alam sekitar, apakah ia merusak

lingkungan hidup, apakah ia mampu mengubah lingkungan sekitar

menjadi lebih bermakna bagi kehidupan diri dan masyarakat.

d. Bagaimana dan sejauh mana ia sebagai seorang muslim memandang

dirinya sendiri (self-concept) dalam berperan sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan bermasyarakat yang beraneka macam

budaya dan suku serta agama. Bagaimana seharusnya ia mengelola

dan memanfaatkan serta memelihara kelangsungan hidup dalam

lingkungan sekitar sebagai anugerah Allah. Apakah ia memiliki self-concept negatif atau positif, memandang dirinya memiliki kesanggupan untuk berperan posistif dan partisipatif dalam

pembangunan masyarakat; apakah ia mempunyai pendirian dan

pandangan yang tetap, tak berubah-ubah, ataukah ia hanya berperan

sebagai pengikut, bersikap lemah dan tak peduli terhadap

permasalahan hidup lingkungannya.

Al-Qur’an menginspirasi bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia

didik merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan

yang telah dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari

sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan manusia yaitu (Arifin, 2016:

(49)

36

a. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai

macam problema kehidupan yang dialaminya.

b. Untuk mengetahui sampaimana dan sejauhmana hasil pendidikan

wahyu yang telah diterapkan Rasulullah terhadap umatnya.

c. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman

atau keimanan manusia, sehingga diketahui manusia yang paling

mulia di sisi Allah yaitu paling bertakwa kepada-Nya, manusia yang

sedang dalam iman dan ketakwaanya, manusia yang ingkar kepada

ajaran Islam.

Dengan menggunakan sistem evaluasi yang tepat sasaran maka seorang

pendidik akan dapat mengetahui dengan pasti tentang kemajuan,

kelemahan, dan hambatan peserta didik dalam pelaksanaan tugasnya, yang

pada gilirannya akan dijadikan bahan perbaikan program atau secara

langsung dilakukan remedial teaching, atau bila dipandang perlu peseta didik diberi bimbingan belajar secara lebih intensif (Arifin, 2016: 167).

BAB III

(50)

37

A. Pengertian Pendidikan Islam Kontemporer

Menurut UU no. 20 th. 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta ketrampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan diartikan juga sebagai

proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian diri dengan

alam, dengan teman dan keluarga (Jumali, 2004: 18).

Menurut Uyoh Sadulloh (2014: 5), prinsip dasar pendidikan dari arti luas

yaitu: pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Kedua, bahwa

tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab semua manusia;

tanggung jawab orang tua, tanggung jawab masyarakat dan tanggung jawab

pemerintah.

Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan

kemampuan seseoarang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan

cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak

kepribadiannya (Arifin, 2014: 7).

Menurut Tafsir (2014: 32) pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan

oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai

dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam ialah bimbingan belajar

terhadap seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin.

Dr. Mohd. Fadli Al-Djamaly mengungkapkan pendidikan Islam adalah proses

(51)

38

derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan

kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar) (Arifin, 1987 : 16).

Jadi pendidikan Islam adalah, proses memberikan, mengarahkan dan

membimbing kemampuan manusia berdasarkan syariat Islam untuk menjadi

muslim semaksimal mungkin sesuai dengan fitrahnya.

Sedangkan kontemporer artinya pada waktu yang sama; semasa; sewaktu;

pada masa kini; dewasa ini (KBBI, 2007:591).

Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa kontemporer adalah

masa kini atau masa sekarang.

Jadi dapat di simpulkan bahwa pendidikan Islam kontemporer adalah

proses memberikan, mengarahkan dan membimbing kemampuan manusia

berdasarkan syariat Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis untuk menjadi muslim

semaksimal mungkin sesuai dengan fitrahnya yang berorientasi kekinian

sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern selaras dengan

kebutuhan atau tuntutan masyarakat masa kini.

B. Konsep Pendidikan Islam Kontemporer 1. Tujuan

Pembaharuan dan moderinsasi pendidikan Islam adalah suatu upaya

melakukan proses perubahan kurikulum, cara, metodologi, situasi dan

kondisi pendidikan Islam dari yang tradisional (ortodox) ke arah yang

lebih rasional, dan profesional sejalan dengan perkembangan ilmu

(52)

39

Tujuan pendidikan Islam perlu dirumuskan secara tepat karena

menentukan arah, isi, langkah, motivasi, dan tolok ukur keberhasilannya.

Tujuan dirumuskan berdasarkan prinsip menyeluruh, serasi, jelas,

efisisensi, dan efektivitas, bersifat moral dan agama, dinamis dan

mencakup perkembangan sesuai dengan sifat dasar hakikat kemanusiaan

dan tugas kehidupannya. Dalam kerangka ini pendidikan Islam pada

intinya berupaya membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan

menyeluruh dalam semua aspek kehidupan yang membawanya kepada

kehidupan yang memiliki budaya dan peradaban tercermin dalam

kehidupan berilmu, beriman, berkepribadian, beretos kerja, profesional,

beramal saleh dan bermoral dalam rangka memperoleh keselamatan,

kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Di sini

tujuan meliputi aspek fisik, intelektual, mental, moral, profesional,

beramal saleh dan sosial dan seluruh kehidupannya dalam mewujudkan

manusia dan masyarakat yang berkualitas, dinamis, kreatif, dan sempurna

dalam kehidupannya (Abdullah, 2001: 258).

Tujuan pendidikan Islam merupakan kelanjutan misi besar yang

terkandung dalam Ilahi dan Sunnah nabi Muhammad SAW. Merujuk

pada dua sumber itulah pendidikan harus bersentuhan dengan segala

dimensi kehidupan. Tidak hanya seputar pendidikan agama, melainkan

juga menyentuh persoalan-persoalan sosial, kultural, ekonomi, politik dan

sebagainya. Pendidikan tidak ingin melahirkan generasi yang berat

(53)

40

Untuk menghindari model formulasi dikotomik tersebut, pendidikan

Islam harus kontekstual sesuai dengan persoalan hidup seperti yang

diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kontekstualisasi pendidikan

Islam dengan persoalan zaman adalah pilihan strategis dan rasional yang

relevan dengan semangat dan spirit doktrin Islam. Pendidikan Islam harus

mengambil pola-pola modern, tetapi tidak mengesampingkan nilai-nilai

spiritual dan akhlakul karimah (Mujtahid, 2011: 26).

Tujuan pendidikan Islam adalah untuk menjadikan manusia. Sejalan

dengan misi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Pendidikan Islam

bertujuan untuk menerjemahkan misi besar kitab suci ke dalam realita

kehidupan manusia yang tidak tebatas oleh ruang dan waktu. Pendidikan

Islam juga melahirkan serta mengembangkan semua jenis ilmu

pengetahuan yang senantiasa senafas dengan misi ajaran Al-Qur’an.

Bahkan sesungguhnya ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an harus paralel

sebanding lurus dengan tujuan utama hidup manusia (Mujtahid, 2011:

26-27).

Maka dapat disimpulkan bahwa dasar tujuan dari pendidikan Islam

kontemporer adalah upaya untuk menumbuh-kembangkan kepribadian

wahiyah, yaitu kepribadian yang berstruktur pada sudut pandang bahwa Allah adalah Tuhan, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, dan Sunnah

Rasul sebagai uswah. Manusia yang berkepribadian Qur’ani adalah insan

yang hidupnya memerankan ajaran Allah dengan pola mencontoh

(54)

41

fungsionalisasi niai-nilai ilahiyah dalam kehidupan manusia. Adapun

tujuannya adalah terbinanya manusia yang berkesadaran hidup menurut

Allah sehingga sikap dan perilakunya di alam berpedoman dengan

ajaran-Nya yakni Al-Qur’an sebagaimana yang di contohkan Rasulullah (https: //

fahdamjad. files. wordpress. com/ 2007/ 09/ pendidikan- islam-.

kontemporer. pdf. diunduh pada 27 Juni 2017).

2. Kurikulum

Menurut Darajat (2011: 122) kurikulum adalah suatu program pendidikan

yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan

pendidikan tertentu.

Menurut padangan modern, kurikulum lebih dari sekadar rencana

pelajaran atau bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern ialah

semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.

Pandangan ini bertolak dari sesuatu yang aktual dan nyata yaitu di

sekolah dalam proses belajar. Di dalam pendidikan, kegiatan yang

dilakukan siswa dapat memberikan pengalaman belajar atau dapat

dianggap sebagai pengalaman belajar seperti berkebun, olah raga,

pramuka dan pergaulan selain mempelajari bidang studi. Semuanya itu

merupakan pengalaman belajar yang bermanfaat dan pandangan modern

beranggapan bahwa semua pengalaman belajar itulah kurikulum yang

banyak pengaruhnya dalam pendewasaan anak (Tafsir, 2014: 53).

Menurut darajat (2011: 122) ada dua jenis tujuan yang terkandug di dalam

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa pendidikan Islam sangat penting bagi anak untuk memberikan pengarahan dan bimbingan agar kehidupannya diliputi oleh keimanan dan

Ahmad Dahlan yang memiliki keterkaitan dalam pendidikan Islam abad 21 adalah aspek tujuan pendidikan Islam dan kurikulum pendidikan Islam Hanya saja, tidak

Adapun konsep Pendidikan Islam perspektif Muhaimin yang tidak relevan dengan era kontemporer adalah mengenai evaluasi Pendidikan Islam yang mana evaluasi Pendidikan

Sedangkan menurut Muhammad Fadhil Al-Jamaly, menyatakan bahwa perbedaan antara sistem pendidikan Islam dengan teori konvergensi, yang mengawinkan faktor endogen

Bahwa upaya pendidikan Islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang mengabdi dan merealisasikan “kehendak” Tuhan sesuai dengan syari’at Islam, serta mengisi tugas kehidupannya

Dari semua pengertian mengenai pendidikan Islam, maka pemakalah menyimpulkan bahwa pendidikan Islam usaha sadar yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk

Pendidikan dalam Islam harus dipahami sebagai upaya mengubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku yang sesuai dengan ideologi/nilai Islam.. Saat ini dikalangan

Sedangkan menurut Muhammad Fadhil Al-Jamaly, menyatakan bahwa perbedaan antara sistem pendidikan Islam dengan teori konvergensi, yang mengawinkan faktor endogen