Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
ANA BI’AUNIKA
NIM: 11113048
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
ii
Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
ANA BI’AUNIKA
NIM: 11113048
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
iii
SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI
Hal : Naskah Skripsi Saudari Ana Bi’aunika Lamp : 4 Eksemplar
Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga
Di Salatiga
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan hormat, setelah dilaksanakan bimbingan, arahan dan koreksi, maka
naskah skripsi mahasiswi:
Nama : Ana Bi’aunika NIM : 11113048
Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Judul skripsi : Konsep Pendidikan Islam Perspekif H.M. Arifin
Dapat diajukan kepada fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga
untuk diajukan dalam sidang munaqasyah.
Demikian nota pembimbing ini dibuat, untuk menjadi perhatian dan digunakan
sebagaiman mestinya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Salatiga, 23 Agustus 2017 Pembimbing
vi MOTTO
ٍ
م ْ
و َ
ق ِ
ب ا َ
م ُ
رِّ
ي َ
غ ُ
ي لا
للَّا َّ
َّ
َ
ن ِ
إ
ى َّ
ت َ
ح
ْ
م ِ
ه ِ
س ُ
ف ْ
ن َ
أ ِ
ب ا َ
م او ُ
رِّ
ي َ
غ ُ
ي
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri”
vii
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, skripsi ini dapat terselenggara dengan
baik. Skripsi ini saya persembahkan kepada orang-orang yang telah membantu
mewujudkan mimpiku:
1. Ayahanda Sudarsono dan ibunda Mutiah yang telah memberikan mahkota
kasih sayangnya kepadaku sejak diriku kecil tidak mengerti apa-apa hingga
kini aku mengerti makna hidup. Semoga kalian selalu diberi kesehatan,
keberkahan rizqi dan keberkahan usia untuk bekal ibadah, amin.
2. Bapak Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag., dan Bapak Sutrisno, M.Pd., selaku
pembimbing dan sekaligus sebagai motivator serta pengarah sampai selesainya
penulisan skripsi ini.
3. Kakak dan adik-adikku tercinta Ifa Da’waty, M. Bariq Firizqina, Tuba Nazlul
Huda, yang senantiasa mendukung dan memberi semangat, semoga apa yang
kalian cita-citakan dalam kehidupan ini segera terwujud, amin.
4. Guru-guruku yang telah memberikan dan membagikan ilmunya kepadaku
sehingga aku menjadi manusia pembelajar dan semakin mengerti banyak hal.
5. Sahabat-sahabat PAI Angkatan 2013, terima kasih untuk semua kisah yang
telah kita bagi bersama selama 4 tahun ini. Semoga di manapun kalian berada,
selalu mengamalkan ilmu yang kalian punya dengan hati yang tulus dan ikhlas.
6. Teman-teman PPL SMA N 1 Suruh, teman-teman KKN Desa Papringan Dusun
Kadirojo, terimakasih atas berbagai pengalaman lapangan yang telah kalian
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin peneliti ucapkan sebagai rasa syukur kehadirat
Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhitung dan rahmat-Nya yang tiada
henti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada jujungan kita Nabi
Muhammad SAW, beliaulah suri tauladan bagi seluruh umat manusia,
penyempurna akhlak mulia, dan pemimpin yang bijaksana bagi seluruh alam
semesta.
Penulisan skripsi ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa ada
bantuan, dorongan, serta bimbingan dari pihak-pihak tertentu yang terkait, yang
telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi-informasi yang
dibutuhkan.
Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Bapak Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
IAIN Salatiga
3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga
4. Bapak Prof. H. Dr. Mansur, M.Ag., selaku dosen pembimbing skripsi yang
senantiasa memberikan arahan, bimbingan dan motivasi selama pengerjaan
penyesesaian skripsi.
5. Bapak Dr. H. Muh. Saerozi, M.Ag., selaku dosen pembimbing akademik yang
ix
6. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen IAIN Salatiga yang tidak bisa saya sebutkan
satu-satu yang telah memberikan ilmunya kepada peneliti selama menjadi
mahasiswanya.
7. Keluarga tercinta yang telah membesarkan peneliti dengan penuh kasih sayang
dan memberikan bantuan moril dan materil maupun spiritual.
8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan, semoga segala bantuan yang
diberikan mendapat balasan dan Ridho Allah SWT, serta tercatat dalam bentuk
amalan ibadah, amin.
Semoga semua jasa baik yang diberikan kepada peneliti mendapatkan balasan
yang lebih berarti dari Allah SWT, peneliti menyadari masih banyak terdapat
kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, karenanya kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua
kalangan terutama bagi peneliti sendiri. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Salatiga, 23 Agustus 2017
x ABSTRAK
Ana Bi’aunika. 2017. Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga.
Dosen Pembimbing: Prof. Dr. H. Mansur, M. Ag. Kata Kunci: Pendidikan Islam, H. M. Arifin.
Saat ini dikalangan dunia Islam berkembang kesadaran urgensi rekonstruksi peradaban Islam melalui penguasaan sains dan teknologi, maka perlu dirumuskan lagi pendidikan Islam yang sesuai tuntutan di masa sekarang.Peneliti tertarik mengkaji tentang konsep pendidikan Islam perspektif H. M. Arifn sebagai alternatif pemikiran intelektual untuk menjawab permasalahan pendidikan Islam. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana konsep pendidikan Islam perspektif H. M. Arifin (2) Bagaimana konsep pendidikan Islam kontemporer (3) Sejauh mana relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H. M. Arifin terhadap pendidikan Islam kontemporer.
Metode penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer dari buku-buku karangan H. M. Arifin yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Sumber data sekundernya, dari buku lain yang berhubungan dengan penelitian. Analisis data yang digunakan adalah metode analisis deduktif, analisis induktif, analisis deskriptif dan analisis interpretasi.
xi DAFTAR ISI
HALAMAN BERLOGO ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v
HALAMAN MOTTO ... vi
KATA PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I Pendahuluan A.Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C.Tujuan Penelitian ... 4
D.Manfaat Penelitian ... 5
E. Penegasan Istilah ... 5
F. Metode Penelitian ... 8
G.Sistematika Penulisan ... 13
BAB II Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayin Arifin A.Biografi H. M. Arifin ... 15
xii
BAB III Konsep Pendidikan Islam Kontemporer
A.Pengertian Pendidikan Islam Kontemporer ... 38
B. Konsep Pendidikan Islam Kontemporer ... 39
C.Kelebihan Pendidikan Islam Kontemporer ... 56
BAB IV Relevansi Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer
A.Analisis ... 60
B. Relevansi Konsep Pendidikan Islam Perspektif
H. M. Arifin Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer ... 63
BAB V Penutup
A.Kesimpulan ... 75
B. Saran ... 77
DAFTAR PUSTAKA DAFTARLAMPIRAN
Daftar Riwayat Hidup Peneliti
Nota Pembimbing Skirpsi
Lembar Konsultasi
1 BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Di era sekarang dunia telah dilanda perubahan nilai yang cenderung untuk
meninggalkan sistem tradisional. Apakah hal ini disebabkan oleh naluri manusia
yang cenderung untuk meninggalkan sistem nilai tradisional ataukah memang naluri
manusia yang cenderung untuk menyukai hal-hal yang baru dan ada pressure power
dari luar (Arifin, 2016: 44).
Arifin (1991: 139) berpendapat bahwa semakin meningkatnya rising demands suatu masyarakat atau seseorang, semakin kompleks pula kehidupan jiwanya. Dan semakin kompleks jiwa seseorang, semakin rigid terhadap penerimaan ajaran agama yang dibawakan oleh juru dakwah/ penerang agama/ penyuluh agama. Asumsi demikian berlaku bagi semua orang dewasa yang hidup dalam masyarakat modern yang disebut masyarakat beradab.
Berangkat dari firman Allah SWT:
ْمِهِسُفْ نَأِب اَم اوُرِّ يَغُ ي ىَّتَح ٍمْوَقِب اَم ُرِّ يَغُ ي لا َهَّللا َّنِإ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’du ayat 11). Ayat ini mengingatkan bahwa manusia sebagai anggota masyarakat janganlah statis dan jumud dalam hidupnya, melainkan harus dinamis dan konstruktif dalam
2
Menurut Arifin (1994: 36), Masyarakat Indonesia yang berfalsafah Pancasila
mengambil sikap dan pendirian “tetap mempertahankan sistem nilai lama yang
terbukti baik dan mengambil sistem nilai baru yang paling baik”. Dengan sikap
keterbukaan inilah, peserta didik akan memperoleh kesempatan luas untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam upaya memilih alternatif-alternatif kehidupan dalam bidang yang dianggap sesuai dengan bakat dan kemampuannya dan menuntut kepada kemandirian tanggung jawab pribadi dan ketergantungan kepada diri sendiri (self dependancy).
Tantangan masyarakat muslim di berbagai belahan dunia mengembangkan sains dan teknologi dimasa mendatang akan semakin berat. Pada dasawarsa terakhir dikalangan dunia Islam mucul dan berkembang kesadaran tentang urgensi
rekonstruksi peradaban Islam melalui penguasaan sains dan teknologi, masyarakat muslim tidak hanya berhadapan dengan hambatan internal, tetapi juga eksternal yang saling berkaitan (Azra, 2012: 11).
Pendidikan Islam khususnya di Indonesia, dewasa ini dihadapkan pada problematika
yang tak kunjung usai. Berbagai wacana dan tawaran yang muncul, baik dari
kalangan pendidik maupun pemerhati dan peneliti pendidikan Islam, dimaksudkan
untuk menyelesaikan masalah krusial ini. Berbagai tawaran tentang proses, prosedur,
metodologi dan pendekatan diajukan dan diwacanakan oleh para pakar guna
membangun suatu kerangka pendidikan Islam yang kokoh, dari yang normatif hingga
yang historis ( Idi dan Suharto,2006: xv). Untuk itulah perlu dirumuskan lagi
3
Pandangan dasar tentang keberhasilan suatu pendidikan Islam merupakan prasyarat
yang perlu dipenuhi melalui berbagai daya dan upaya ilmiah. Prasyarat demikian
perlu diwujudkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran teoritis dan praktis yang harus
ditindak lanjuti dengan pembentukan sistem keilmuan kependidikan Islam yang bulat
(Arifin, 2014: 7). Pendidikan Islam sendiri perlu memiliki pandangan yang sesuai
dalam praktik dan kelenturan dalam teori-teori kependidikan, ia juga merupakan
eksperimentasi teori pendidikan Islam yang bertugas memfungsionalkan ide-ide
kependidikan dalam proses pelaksanaan baik dalam bentuk formal maupun non
formal.
Inilah yang menjadikan peneliti tertarik untuk mengkaji dan menelaah tentang konsep
pendidikan Islam perspektif H. M. Arifn baik secara teoritis maupun secara praktis,
untuk dijadikan alternatif pemikiran intelektual dan nilai-nilai yang berbeda untuk
menjawab permasalahan pendidikan Islam, mengkritisi dan memahami ulang serta
mengimplementasikan ajaran Islam yang menyejarah di dalam pendidikan agama
Islam.
Sasaran pendidikan Islam secara teori maupun praktik harus mampu memberikan
pandangan yang tepat dan terarah tentang kemungkinan yang objektif dari proses
pertumbuhan dan perkembangan manusia. Diharapkan pendidikan Islam perspektif
H.M. Arifin baik teoritis maupun praktis dapat menetapkan kaidah atau pedoman
konsepsional dan operasional yang dapat menunjukan alternatif-alternatif dalam
proses mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan manusia menuju ke arah
pendewasaan individualitas,sosialitas, dan moralitas (Arifin, 2014: 13-14).
Aspek inilah yang ingin ditonjolkan peneliti dalam skripsi yang berkaitan dengan
pendidikan Islam. Dengan kata lain, sejauh mana posisi, sikap, dan peran pemikiran
4
pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap pendidikan Islam kontemporer.
Oleh karena itu skripsi ini peneliti beri judulKONSEP PENDIDIKAN ISLAM
PERSPEKTIF H. M. ARIFIN.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian
sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin?
2. Bagaimana konsep pendidikan Islam kontemporer?
3. Sejauh mana relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap
pendidikan Islam kontemporer?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui:
1. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin.
2. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam kontemporer.
3. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin dan relevansi
5 D. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah teori tentang konsep pemikiran H. M. Arifin untuk dijadikan
referensi dan acuan bagi para peneliti atau pembaca.
b. Menambah perbendaharaan yang menggunakan metode penelitian libary
researchmengenai pemikiran tokoh pendidikan H.M. Arifin yang dapat
dijadikan solusi bagi permasalahan pendidikan saat ini.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi
fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan (FTIK) IAIN Salatiga pada
khususnya dan kepada fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan (FTIK)
kampus lain pada umunya mengenai konsep pendidikan Islam perspektif
H.M. Arifin.
b. Memberikan pembahasan yang mendalam bagi peneliti untuk
diimplementasikan dalam dunia pendidikan secara riil.
E. Penegasan Istilah
Penegasan dimaksudkan untuk menghindari kekurang jelasan atau pemahaman
yang berbeda antara pembaca dengan peneliti mengenai istilah-istilah yang terdapat
dalam judul penelitian. Istilah yang perlu diberi penegasan adalah istilah-istilah yang
berhubungan dengan kosep-konsep pokok yang terdapat di dalam skripsi.
Kriteria bahwa suatu istilah mengandung konsep pokok adalah jika istilah
6
istilah disampaikan secara langsung, dalam arti tidak diuraikan asal-usulnya.
Beberapa istilah yang perlu ditegaskan adalah sebagai berikut:
1. Konsep
Konsep adalah ide umum, pengertian, pemikiran, renungan, dan rencana dasar
(Jumali, 2004: 132). Konsep adalah ide abstrak dari peristiwa konkret yang
dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada
umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata (KBBI, 2007:
588).
Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa konsep merupakan
abstraksi dari realita yang menggambarkan tentang intisari atau kesimpulan
suatu hal dan memiliki fungsi sebagai penyederhana tentang suatu hal sehingga
timbul keteraturan dan kemudahan komunikasi.
2. Pendidikan Islam
Menurut UU no. 20 th. 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal
balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian diri dengan alam, dengan
teman dan keluarga (Jumali, 2004: 18).
Menurut Uyoh Sadulloh (2014: 5), prinsip dasar pendidikan dari arti luas yaitu:
pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Kedua, bahwa tanggung
jawab pendidikan merupakan tanggung jawab semua manusia; tanggung jawab
7
Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan
kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita
dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya
(Arifin, 2014: 7).
Menurut Tafsir (2014: 32) pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan
oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai
dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam ialah bimbingan belajar
terhadap seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin.
Dr. Mohd. Fadli Al-Djamaly mengungkapkan pendidikan Islam adalah proses
yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat
derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan
kemampuan ajarnya (pengauh dari luar) (Arifin, 1987 : 16).
Jadi pendidikan Islam adalah, proses memberikan, mengarahkan dan
membimbing kemampuan manusia berdasarkan syariat Islam untuk menjadi
muslim semaksimal mungkin sesuai dengan fitrahnya.
3. Kontemporer
Kontemporer artinya pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini;
dewasa ini (KBBI, 2007:591).
Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa kontemporer adalah masa
8 F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research). Studi
pustaka di sini adalah studi teks yang seluruh substansinya diolah secara
filosofis dan teoritis (Muhadjir, 1992: 158-159).
Data-data yang digunakan peneliti dalam skripsi ini adalah berbagai
tulisan yang temanya sama dengan judul yang diangkat. Dengan
mengumpulkan data-data yang diperlukan, baik sumber buku primer maupun
sumber buku sekunder, dicari dari sumber-sumber kepustakaan (Kuswaya,
2011: 11).
2. Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka (library
research) Mengumpulkan berbagai sumber data dengan mencari data mengenai
hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan
sebagainya (Arikunto, 2010: 274) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan buku-buku yang ada relevansinya dengan kajian
permasalahan. Dalam hal ini penulis mengumpulkan buku-buku maupun
data mengenai H. M. Arifin dan konsep pendidikan Islam perspektif H.M.
Arifin.
b. Mengidentifikasi semua permasalahan yang berkaitan dengan penelitian.
Setelah diperoleh data mengenai pendidikan kontemporer dan konsep
pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin kemudian diidentifikasi berasarkan
rumusan masalah yang ingin dijawab oleh peneliti.
c. Menarik suatu kesimpulan sebagai hasil suatu penelitian tentang pokok
9
maka peneliti dapat menarik kesimpulan mengenai konsep pendidikan
Islam perspektif H.M. Arifin dan relevansi terhadap pendidikan Islam
kontemporer.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh
(Arikunto, 2006: 129). Dalam penulisan skripsi ini sumber data yang
digunakan adalah sumber yang relevan dengan pembahasan skripsi. Adapun
sumber data terbagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Sumber Data Primer
Buku-buku karya H.M. Arifin:
1. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis
Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner) (Bumi Aksara; 2016).
2. Filsafat Pendidikan Islam (Bumi Aksara; 2010)
3. Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)(Bumi Aksara; 2014).
4. Ilmu Perbandingan Pendidikan (Golden Terayon Press; 2003).
5. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah
Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi) (Bulan
Bintang; 1977).
6. Teori-Teori Counseling Umum Agama Dan (Golden Terayon Press;
1994).
7. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi (Bumi Aksara; 1991).
8. Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat (Golden Terayon
Press;1991).
10
10. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama(Golden
Terayo Press; 1994).
11. Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia
12. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama
(Bulan Bintang; 1979).
Dari semua buku karya-karya H. M. Arifin, peneliti memfokuskan pada
lima sumber buku saja yang dijadikan sebagai sumber data primer, karena
dianggap paling banyak membahas materi-materi sesuai dengan penelitian.
Maka yang dijadikan sebagai sumber data primer dalam penelitian skripsi
ini adalah:
1. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis
Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner) (Bumi Aksara; 2016).
2. Filsafat Pendidikan Islam (Bumi Aksara; 2010).
3. Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)(Bumi Aksara; 2014).
4. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah
Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi) (Bulan
Bintang; 1977).
5. Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat (Golden Terayon
Press;1991).
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder yaitu berbagai literatur yang berhubungan dan
relevan dengan objek penelitian, baik berupa buku maupun website.
Beberapa diantaranya yaitu:
1. Revitalisasi Pendidikan Islam: buku karya Abdullah Idi Dan Toto
11
2. Pendidikan Islam Tradisi Dan Modernisasi Di Tengah Tantangan
Milenium III: buku karya Azyumardi Azra (Kencana; 2012).
3. Pendidikan Islam Menghadapi Abad Ke 21: buku karya Hasan
Langgung (Pustaka Al Husna; 1988).
4. Pendidikan Islam Dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern: buku
karya Umiarso dan Haris Fathoni Makmur (IRCiSoD; 2010).
4. Metode Analisis Data
Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan beberapa metode yaitu:
a. Metode Analisis Deduktif
Metode analisis deduktif adalah metode berfikir yang didasarkan pada
pengetahuan umum dimana kita hendak menilai suatu kejadian yang khusus
(Hadi, 1990: 42). Dalam penelitian ini metode analisis deduktif digunakan
untuk menjelaskan pengertian dan konsep pendidikan Islam kontemporer.
b. Metode Analisis Induktif
Metode analisis induktif adalah metode berfikir yang berangat dari fakta-fakta
peristiwa khusus dan konkret, kemudian ditarik generalisasi-generalisasi yang
bersifat umum (Hadi, 1990: 42). Metode ini digunakan untuk mengkaji data
yang telah didapat dan terkait dengan konsep pendidikan Islam yang telah
dipaparkan oleh H.M. Arifin dan dikaitkan dengan relevansi kekinian, atau
pendidikan Islam kontemporer.
c. Metode Analisis Deskriptif
Metode Analisis Deskriptif, yaitu suatu metode yang menguraikan secara
teratur seluruh konsepsi dari tokoh yang dibahas dengan lengkap tetapi ketat
12
mendeskripsikan pemikiran pendidikan H.M. Arifin dalam konteks pendidikan
Islam dan relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer.
d. Metode Analisis Interpretasi
Metode Analisis Interpretasi, yaitu cara berfikir dengan menggunakan cara
menyelami karya tokoh, agar dapat menangkap arti dan nuansa yang dimaksud
tokoh secara khas (Bakker dan Zubair, 1990: 64). Metode ini digunakan untuk
menganalisis pemikiran tokoh yaitu H.M. Arifin tentang konsep pendidikan
Islam.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi yang disusun terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian
isi dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari sampul, lembar berlogo, halaman judul,
halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan kelulusan, halaman
pernyataan orisinalitas, halaman moto, halamankata persembahan, halaman kata
pengantar, halaman abstrak, halaman daftar isi.
Bagian inti atau isi dalam penelitian ini, penulis menyusun ke dalam lima bab
yang rinciannya sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, pada bab ini akan dibahas mengenai: latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah,
metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayyin Arifin, Pada bab ini akan
diuraikan biografi H.M. Arifin, dan konsep pendidikan Islam perspekif H. M. Arifin
BAB III Konsep Pendidikan Islam Konemporer, Pada bab ini akan diuraikan
tentang pengertian pendidikan Islam kontemporer, konsep pendidikan Islam
13
BAB IV relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap
pendidikan Islam kontemporer, pada bab ini akan dibahas tentang analsis dan
relevansi konsep pendidikan Islam perspektif H.M. Arifin terhadap pendidikan Islam
kontemporer.
BAB V Penutup, pada bab ini akan dibahas kesimpulan peneliti dari pembahasan
skripsi, saran-saran, kalimat penutup yang sekiranya dianggap penting dan daftar
pustaka.
Bagian akhir yaitu daftar lampiran yang terdiri dari daftar riwayat hidup peneliti,
14 BAB II
Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayyin Arifin
A. Biografi H.M. Arifin
Prof. Dr. H. M. Arifin, M.ed., lahir di Bogor pada tanggal 2 Agustus 1954.
Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Wajib Belajar di Nagrog, Ciampea Bogor
tahun 1968. Kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah Pendidikan
Guru Agama (PGA) 4 tahun. Sambil bersekolah beliau tinggal dan menginap
(mondok) di Pondok Pesantren Nurul Ummah dan lulus tahun 1972.
H. M. Arifin melanjutkan pendidikannya pada sekolah Pendidikan Guru
Agama tingkat Atas (PGA A) 6 tahun. Sambil mondok di Pesantren
Jauharatun Naqiyah Cibeber Cilegon Serang Jawa Barat, dan tamat tahun
1974. Setelah itu beliau memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) pada tahun
1979, dan Sarjana Lengkap (baca: Drs) pada Jurusan Pendidikan Agama
Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta (sekarang bernama Universitas Islam Negeri Jakarta),
dan tamat tahun 1981. Gelar Magister bidang Studi Islam diperolehnya tahun
1991, sedangkan gelar Doktor bidang Studi Islam diperoleh pada tahun 1993
masing-masing dari Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Karir H.M. Arifin dimulai sebagai tenaga peneliti lepas pada Lembaga Studi
Pembangunan (LSP) di Jakarta 1981-1982; pada tahun yang sama menjadi
15
pada Himpunan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (HP2M). Kemudian menjadi instruktur pada Lembaga Bahasa dan Ilmu Al Qur’an (LBIQ) Daerah
Khusus Ibukota Jakarta pada tahun 1982-1985.
Setelah itu akhirnya bertugas sebagai dosen Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mulai tahun
1985. Tahun 1990 bertugas pula sebagai dosen Fakultas Pascasarjana UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta pada bidang mata kuliah Sejarah Sosial dan
Filsafat Pendidikan Islam. Namun, H.M. Arifin wafat pada tahun 2003.
Meski beliau sudah wafat, pemikiran serta peran dan perjuangan beliau bisa
kita ambil hikmah dan nilai-nilainya(http:// ejournal. kopertais4. or. id/
pantura/ index. php/ qura/ article/ view/ 2047. Di akses pada 05 Juni 2017).
H. M. Arifin, di kalangan civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dikenal sebagai salah seorang yang concern dengan persoalan pendidikan, terutama pendidikan Islam. Hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk kemajuan
lembaga yang menjadi pilar utama kemajuan peradaban umat manusia. Hal
ini bukan hanya terlihat dari berbagai karya tulis di bidang pendidikan,
melainkan juga keterlibatannya secara langsung dalam mengelola berbagai
lembaga pendidikan.
Adapun karya-karya beliau yaitu:
13.Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner)
16
15.Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)
16.Ilmu Perbandingan Pendidikan
17.Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat
18.Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi)
19.Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar
20.Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama
21.Teori-Teori Counseling Agama Dan Umum
22.Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia
23.Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Filsafat Pendidikan Islam
24.Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama
B. Konsep Pendidikan Islam Perspektif H.M. Arifin 1. Pengertian Pendidikan Islam
Lapangan pendidikan merupakan wilayah yang sangat luas. Ruang
lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia
tentang pendidikan. Setiap orang pernah mendengar tentang perkataan
pendidikan, dan setiap orang waktu kecilnya pernah mengalami
pendidikan. Namun tidak setiap orang mengerti dalam arti yang
sebenarnya apa pendidikan itu, dan tidak setiap orang mengalami
pendidikan ataupun menjalankan pendidikan sebagaimana mestinya
(Sadulloh, 2014: 1).
Tujuan dan sasaran pendidikan berbeda-beda menurut pandangan hidup
17
dirumuskan pandangan hidup Islam yang mengarahkan tujuan dan
sasaran pendidikan Islam (Arifin, 2016: 7).
Jika Islam disebut agama yang benar di sisi Allah, maka bila manusia
berpredikat muslim, dia harus menjadi penganut agama yang baik,
menaati ajaran Islam, menjaga agar rahmat Allah tetap berada pada
dirinya. Ia harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan
ajarannya sesuai iman dan akidah islamiah (Arifin, 2016: 7).
Untuk tujuan itulah, manusia harus dididik melalui proses pendidikan
Islam. Berdasarkan pandangan tersebut, pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk
memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam
yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya (Arifin, 2016:
7).
Dengan kata lain, manusia yang mendapatkan pedidikan Islam harus
mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana
diharapkan oleh cita-cita Islam. Maka pengertian pendidikan Islam adalah
suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang
dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman
bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi
(Arifin, 2016: 8).
Mengingat luasnya jangkauan yang harus digarap oleh pendidikan Islam,
maka pendidikan Islam tetap terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan
18
maupun tuntunan pemenuhan kebutuhan hidup rohaniah. Kebutuhan itu
semakin meluas sejalan dengan melauasnya tuntutan hidup manusia itu
sendiri. Oleh karena itu, dilihat dari pengalamannya, pendidikan Islam
berwatak akomodatif terhadap tuntutan kemajuan zaman sesuai acuan
norma-norma kehidupan Islam (Arifin, 2016: 8).
2. Tujuan Pendidikan Islam
Meskipun seorang manusia telah diberi fitrah, bila tanpa memperoleh
kesempatan pendidikan, atau bimbingan/penyuluhan yang cukup
memadai maka ia tidak akan mampu mencapai titik optimal
perkembangan hidupnya yang positif dan konstruktif (Arifin, 1994: 39).
Tatkala orang mendesain pendidikan, maka ia harus memulai dengan
merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Berdasarkan dasar pendidikan
yang menjadi pandangan hidup pendesain itu ia merumuskan tujuan
pendidikan. Jadi tujuan pendidikan pada dasarnya ditentukan oleh
pandangan hidup (way of life) orang yang mendesain pendidikan itu. Pikiran inilah yang menyebabkan berbeda-bedanya desain pendidikan
(Tafsir, 2010: 75).
Demikian pula yang terjadi dalam proses kependidikan Islam, bahwa
penetapan tujuan akhir itu mutlak diperlukan dalam rangka mengarahkan
segala proses, sejak dari perencanaan program sampai dengan
pelaksanaanya, agar tetap konsisten dan tidak menngalami deviasi-deviasi
(penyimpangan). Adapun tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya
19
bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin, di
dunia dan akhirat (Arifin, 1994: 39-40).
Pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian
manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran,
perasaan dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia
dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi,
jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya. Dan pendidikan itu mendorong
semua aspek tersebut kearah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan
hidup (Arifin, 1994: 40-41).
Tujuan memiliki peran strategis dalam menentukan kebijakan
kurikulum. Tujuan dalam pendidikan berfungsi sebagai penentu arah,
standar yang hendak dicapai, serta pedoman yang harus dipakai tatkala
pendidik akan melakukan evaluasi tentang keberhasilan proses
pendidikan yang dilakukan. Dengan demikian tujuan menjadi sentra
pengembangan kurikulum (Roqib, 2009: 78-79).
Arifin (1994: 115) berpendapat bahwa manusia baru Indonesia yang
dikehendaki adalah manusia yang serba utuh lahir dan batin. Hidup
duniawi dan uhkrowi, yang mampu membangun diri, masyarakat, dan
negara dengan berbekal ilmu dan ketrampilan yang dijiwai oleh nilai-nilai
agama. Tujuan terakhir dari pendidikan Islam itu terletak dalam realisasi
sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan,
masyarakat, maupun sebagai umat manusia keseluruannya (Arifin, 1994:
20
Sifat yang demikian membuat pendidikan Islam benar-benar berbeda dari
pendidikan lainnya, baik dari segi tujuan, watak, isi, karakteristik maupun
pengaruh praktisnya. Sifat itu pula yang membuat proses pendidikan
Islam berjalan di atas jalur yang telah digariskan agama Islam dalam arti
luas seperti yang dijelaskan di atas yaitu sebagai agama bagi kehidupan di
dunia dan di akhirat yang meliputi segala persoalan hidup, berbagai hajat
individu, masyarakat, dan seluruh umat manusia (Aly, 2003: 141).
3. Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam
Kurikulum pada mulanya diartikan sebagai bahan-bahan pelajaran apa
saja yang harus disajikan dalam proses pembelajaran di dalam suatu
sistem instruksional pendidikan (Arifin, 1994: 183). Dalam ilmu
pendidikan Islam, ia juga menjadi salah satu bahan masukan yang
mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan pendidikan Islam.
Menurut sifatnya, kurikulum pendidikan Islam dipandang sebagai cermin
idealitas Islam yang tersusun dalam bentuk serangkaian program dan
konsep dalam mencapai tujuan pendidikan. dengan memperhatikan
program-program yang berbentuk kurikulum, kita dapat mengetahui
cita-cita apakah yang hendak diwujudkan oleh proses kependidikan itu
(Arifin, 2016: 136).
Dalam perspektif Islam, keharusan mengitegrasikan unsur religius yang
transendental dengan setiap cabang ilmu menjadi hal yang tak terelakkan.
21
menimbulkan bias pemikiran yang pada gilirannya akan mengakibatkan
rasa kebingungan pada peserta didik (Roqib, 2009: 78).
Dengan demikian, kurikulum yang dapat dipandang baik untuk mencapai
tujuan pendidikan Islam menurut H.M. Arifin (2010: 86) adalah yang
besifat integrated dan komprehensif, mencakup ilmu agama, dan umum. Oleh karena itu, kurikulum harus besifat dinamis dan konstruktif dalam
arus proses perkembangan masyarakat manusia yang arahnya tidak sama.
Yang dimaksud integratif di sini adalah keterpaduan kebenaran wahyu
dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta. Dikatakan struktur
keilmuan integratif di sini bukanlah berarti antara berbagai ilmu tersebut
dilebur menjadi satu bentuk ilmu yang identik, melainkan karakter, corak
dan hakikat antara ilmu tersebut terpadu dalam kesatuan dimensi material
spiritual, akal wahyu, ilmu umum dan ilmu agama, jasmani rohani, dan
dunia akhirat (Muliawan, 2005: xii).
Apalagi bila dilihat bahwa bersamaan dengan pesatnya kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini yang membawa dampak negatif dan
positif itu, peserta didik yang berupa generasi muda kita tergolong
kelompok usia yang rawan dan peka terhadap pengaruh tersebut, semakin
memerlukan ketahanan dan ketangguhan mental spiritual berdasarkan
nilai-nilai keimanan dan takwanya yang berfungsi sebagai benteng
mental, sekaligus filter dalam menghadapi tantangan atau kesulitan yang
mungkin terjadi, justru mereka termasuk generasi muda yang harus
22
jelas menduduki tempat strategis dalam perjuangan tersebut (Arifin,
1994: 116).
Unsur-unsur pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimasukkan ke
dalam content (isi) kurikulum yang didasarkan atas tabiat manusia
sebagai makluk berpikir, merasa, dan menghendaki (unsur kemampuan
kognitif, afektif, dan konatif), diwujudkan dalam bentuk-bentuk: ilmu
pengetahuan akademis, seni budaya, dan ketrampilan bekerja (practical arts). Dengan ilmu pengetahuan, peserta didik dapat mengetahui sesuatu dan dengan seni budaya itulah mereka dididik untuk berbuat sesuatu
untuk dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungan hidupnya (Arifin,
2010: 79).
Dari kurikulum pendidikan Islam harus tercermin idealitas Al-Qur’an
yang tidak memilih-milih jenis disiplin ilmu secara taksonomis dikotomik (Arifin, 2016: 137). Materi yang diuraikan dalam Al Qur’an
menjadi bahan pokok pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan
Islam, formal maupun nonformal. Oleh karena itu, materi pendidikan yang bersumber dari Al Qur’an harus dipahami, dihayati, diyakini, dan
diamalkan dalam kehidupan umat Islam.
Prinsip penyusunan kurikulum menurut H.M. Arifin (2016: 141):
a. Kurikulum mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang
mampu berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup islami.
b. Kurikulum mengandung tata nilai islami yang intrinsik dan ekstrinsik
23
c. Kurikulum diproses melalui metode yang sesuai tujuan pendidikan.
d. Kurikulum, metode, dan tujuan pendidikan Islam harus saling
menjiwai dalam proses mencapai produk yang dicita-citakan menurut
agama Islam.
Kategori kurikulum menurut H. M. Arifin (2016: 141):
a. Ilmu pengetahuan dasar yang esensial adalah ilmu-ilmu yang membahas Al Qur’an dan Hadis.
b. Ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia sebagai individu dan
sebagai anggota masyarakat antara lain: antropologi, pedagogik,
psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
c. Ilmu pengetahuan tentang alam atau disebut al-ulum al-kauniah antara lain ilmu biologi, botani, fisika, dan astonomi.
Kandungan dalam Al-Qur’an tidak terdapat kontradiksi atau
pemisahan ilmu-ilmu karena semuanya merupakan refleksi dari
kekuasaan Allah atas nama semesta (Arifin, 2016: 142).
4. Metode Dalam Proses Pendidikan Islam
Dalam pengertian letterjik, kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang
terdiri dari metayang berarti “melalui” dan hodos yang berarti jalan, jadi, metode berarti “jalan yang dilalui”. Dengan demikian, metode dapat
berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan
(Arifin, 1994: 43).
Dalam sejarah pendidikan Islam dapat diketahui bahwa para pendidik
24
menerapkan berbagai metode pendidikan atau pengajaran.
Metode-metode yang dipergunakan tidak hanya Metode-metode mendidik atau mengajar
dari para pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus digunakan
oleh anak didik (Arifin, 2010: 89-90).
Metode pendidikan yang disampaikan Arifin (2010: 91) lebih
mengarahkan tugasnya kepada pembinaan atau pembentukan sikap dan
kepribadian manusia yang beruang lingkup pada proses mempengaruhi
dan membentuk kemampuan kognitif, kognatif, afektif serta psikomotor
dalam diri manusia.
Metode merupakan cara-cara untuk menyampaikan materi pembelajaran
secara efektif dan efisien, juga untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
Dengan metode ini diharapkan akan muncul berbagai kegiatan belajar
peserta didik, sehubungan dengan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh
guru. Dengan kata lain, terciptanya suatu hubungan atau interaksi
edukatif (Gunawan, 2014: 257).
Metode pendidikan yang digunakan H.M. Arifin yang dikutip oleh
Rosyadi, (2004: 214) lebih menekankan pada penelusuran analitis dari
dalam kandungan Al-Qur’an pada hubungan antara pendidik dan peserta
didik dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Pendidikan Islam mengakui adanya fitrah dalam diri manusia yang
dapat dikembangkan melalui proses kependidikan dengan metode
25
b. Keyakinan potensi fitrah itu mendorong guru berikhtiar sebaik
mungkin dengan pemilihan metode kependidikan yang efektif dan
efisien.
c. Guru berikhtiar terhadap perkembangan fitrah malalui program
kegiatan kependidikan yang terarah kepada cita-cita Islam.
d. Pendidikan Islam mengupayakan harmonisasi dalam proses mencapai
tujuan, sehingga produk pendidikan sesuai dengan cita-cita Islam.
e. Terciptanya model-model proses belajar mengajar yang fleksibel
terhadap tuntutan kebutuhan kehidupan anak didik sebagai hamba
Allah dan anggota masyarakat.
f. Pendidikan Islam dengan segala ikhtiarnya senantiasa berpegang pada
pengembangan hidup manusia yang berorientasi kepada potensi
keimanan dan ilmu pengetahuan pribadi manusia Muslim.
Adapun prinsip metodologis yang dijadikan landasan psikologis menurut
H. M. Arifin (Rosyadi, 2004: 215) adalah sebagai berikut:
a. Prinsip memberikan suasana kegembiraan.
b. Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut.
c. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik.
d. Prinsip pra-syarat.
e. Prinsip komunikasi terbuka.
f. Prinsip pemberian pengetahuan yang baru.
g. Prinsip memberikan perilaku yang baik.
26
i. Prinsip kasih sayang dan pembinaan kepada anak didik dan lain
sebagainya.
5. Lembaga Pendidikan Islam
Salah satu sistem yang memungkinkan proses kependidikan Islam
berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan dalam rangka
mencapai tujuannya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan Islam
(Arifin, 2016: 80). Tujuan akan lebih mudah dicapai melalui proses
kependidikan jika ditransformasikan melalui institusi kependidikan,
karena institusi menjadi wadah pengorganisasian dan pelaksanaan
program untuk mencapai tujuan pendidikan (Arifin, 2016: 120).
Dalam sejarah pendidikan Islam, sejak Nabi melaksanakan tugas dakwah
agama secara aktif, di kota Mekah telah didirikan lembaga di mana Nabi
memberikan pelajaran tentang agama Islam secara menyeluruh di
rumah-rumah dan di masjid-masjid, di dalam masjid inilah berlangsung proses
belajar mengajar berkelompok dalam halaqah dengan masing-masing gurunya yang terdiri dari para sahabat Nabi (Arifin, 2016: 80). Kemudian
berdiri lembaga pendidikan yang bernama kuttab, satu lembaga pendidikan dasar yang di dalamnya diajarkan cara membaca dan menulis
huruf Al-Qur’an serta pengajaran ilmu agama dan ilmu Al-Qur’an (Arifin,
2016: 80).
Sistem pengelolaan pendidikan dalam bentuk formal adalah yang disebut
sekolah atau madrasah, sedangkan yang bersifat informal ialah berupa
27
keluarga, di mana pendidikan berproses lebih banyak melalui sistem
penerangan atau mass educative dari pada individual educative dalam kelas-kelas sekolah (Arifin, 1977: 24).
Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjadi cermin
sebagai umat Islam. Fungsi dan tugasnya adalah merealisasikan cita-cita
umat Islam yang menginginkan agar anak-anaknya dididik menjadi
manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam rangka upaya
meraih hidup sejahtera duniawi dan kkebahagiaan hidup di akhirat
(Arifin, 2014: 159).
Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah sudah ada sejak Islam
berkembang di Indonesia. Madrasah itu tumbuh dan berkembang dari
bawah dalam arti masyarakat (umat) yang didasari rasa tanggung jawab
untuk menyampaikan ajaran Islam kepada generasi penerus. Sehingga
madrasah pada waktu itu lebih menekankan pada pendalaman ilmu-ilmu
Islam (Arifin, 2016: 160).
Madrasah dalam bentuk tersebut tercatat dalam sejarah bahwa
keberadaanya telah berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah
mengambil langkah-langkah untuk mengadakan penyempurnaan dan
peningkatan mutu masyarakat yang sejalan dengan laju perkembangan
dan aspirasi madrasah itu meliputi: penataan kelembagaan, peningkatan
28
Arifin (1987: 41-45) memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi
lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini meliputi:
a. Politik
Lembaga pendidikan yang berada dalam suatu wilayah negara
merupakan sektor kehidupan budaya bangsa yang terikat dengan
tujuan perjuangan nasional yang berlandaskan falsafah negaranya.
Maka suatu lembaga pendidikan yang tidak bersedia mengikuti politik
negaranya (khususnya dalam bidang pendidikan) akan merasakan
bahwa politik tersebut menjadi tekanan terhadap cita kelembagaan
tersebut.
b. Kebudayaan
Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad modern saat ini tidak
dapat terhindar dari pengaruh akulturasi, di mana faktor nilai yang
mendasari kebudayaannya sendiri sangat menentukan survivenya, bila nilai-nilai kultural suatu bangsa itu melemah, maka bangsa tersebut
akan mudah terperangkap oleh kebudayaan lain sehingga identitas
kebudayaannya sendiri lenyap. Sikap selektif dalam menerima atau
menolak kebudayaan asing perlu dilandasi dengan menganalisa secara
mendalam bersumber pandangan hidup sendiri baik sebagai institusi
ataupun sebagai bangsa. Sikap selektif pada hakikatnya bukanlah
sikap menyerah ataupun netral. Melainkan sikap kreatif selektif. Oleh
karena itu perlu pengetahuan dan wawasan mendalam yang mampu
29 c. IPTEK
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu bagian dari peradaban
dan kebudayaan manusia, sebagai suatu ciri khas dari zaman modern
saat ini di mana perkembangannya lebih cepat menjalar ke jantung
masyarakat. Teknologi sebagai ilmu pengetahuan terapan adalah hasil
kemajuan budaya manusia yang banyak bergantung kepada manusia
yang menggunakannya. Dengan kata lain, teknologi dapat dijadikan
kekuatan kebudayaan yang bersifat netral dalam tugas dan fungsinya
dan tergantung oleh pribadi manusia dalam pengelolaan dan
pemanfaatannya. Inilah tantangan mutakhir manusia abad ini yang
perlu diberi jawaban oleh lembaga pendidikan Islam di mana
norma-norma agama senantiasa dijadikan sumber pegangan.
d. Ekonomi
Pengaruh kehidupan ekonomi banyak mewarnai corak perkembangan
sistem kependidikan dalam masyarakat bangsa. Oleh karena itu
kehidupan ekonomi suatu bangsa banyak mempengaruhi pertumbuhan
lembaga kependidikan. Bahkan juga mempengaruhi sistem
kependidikan yang diberlakukan serta kelembagaan kependidikan
yang dapat menunjang atau mengembangkan sistem ekonomi yang
diinginkan. Maka dari itu timbullah suatu perencanaan kependidikan dilihat dari aspek kehidupan ekonomi yang dikenal dengan “ekonomi
30
masyarakat selalu diukur sejauh mana dapat menunjang kehidupan
dan pembangunan di bidang ekonomi tersebut.
Bila dilihat dari sektor ini, maka problem-problem kehidupan
ekonomi perlu dijawab oleh lembaga-lembaga pendidikan, apalagi
bila diingat bahwa hasil pendidikan adalah sama prosesnya dengan
hasil produksi, karena pendidikan bagaikan suatu perusahaan yang
memproduksi tenaga ahli. Ukuran ekonomi bagi suatu lembaga
pendidikan yang demikian itu adalah suatu hal yang terlalu realistis
dan pragmatis. Namun dalam bidang inilah saat ini banyak
memberikan tantangan kepada lembaga pendidikan kita. Jawaban
yang diberikan oleh lembaga pendidikan antara lain tercermin dalam
sistem pendidikan serta kurikulum atau program pendidikan yang
ditetapkan.
e. Kemasyarakatan
Kemasyarakatan adalah suatu lapangan hidup manusia yang
mengandung ide-ide yang sangat laten terhadap pengaruh kebudayaan,
ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai suatu sistem kehidupan,
kemasyarakatan tidak statis dan beku, melainkan berkecenderungan ke
arah perkembangan dinamis yang mengandung implikasi
perubahan-perubahan yang biasa kita kenal sebagai social change. Problem-problem sosial yang menuntut pemecahan kepada lembaga pendidikan
justru menghidupkan tugas dan fungsi lembaga kependidikan itu
31
yang berfungsi sebagai agent of social change. Maka tantangan dalam kaitannya dengan social change menuntut jawaban dari lembaga kependidikan.
f. Sistem nilai
Di era sekarang dunia telah dilanda perubahan nilai yang cenderung
untuk meninggalkan sistem tradisional. Apakah hal ini disebabkan
oleh naluri manusia yang cenderung untuk meninggalkan sistem nilai
tradisional ataukah memang naluri manusia yang cenderung untuk
menyukai hal-hal yang baru dan ada pressure power dari luar. Hal inilah yang menjadi titik sentral problem yang melahirkan tantangan
terhadap lembaga pendidikan yang salah satu fungsinya adalah
mengawetkan sitem nilai yang telah berkembang di masyarakat.
Dengan demikian peranan lembaga pendidikan dalam perubahan sosial
itu seharusnya semakin diperkokoh dengan sistem dan metode
pengelolaan berdasarkan nilai-nilai yang dapat mempertahankan corak
dan identitas kebudayaannya (Arifin, 2003: 57).
Dari berbagai permasalahan lembaga pendidikan yang disampaikan di
atas, maka H.M. Arifin (2014: 154-155) menyimpulkan pola pemecahan
problema pendidikan Islam yang diharapkan mampu menjawab
permasalahan pendidikan yaitu:
a. Faktor idiil yang melandasi pelaksanaan pendidikan Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis memerlukan interpretasi baru dari para pakar
32
interpretasi baru yang berfokus kepada tiga kemampuan dasar
manusia yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik atau Arifin
menyebut ketiganya kemampuan yang bermukim di kepala (head), di dada (heart), dan di tangan (hand).
b. Faktor struktural kelembagaan pendidikan Islam yang telah eksis
dalam masyarakat, perlu dilakukan inovasi yang benar-benar dapat
mendukung tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan, metode
dan content diperbaiki sedemikian rupa, sehingga mampu menarik minat peserta didik tanpa mengurangi prinsip-prinsip ajaran dari
sumber pokok Islam. Seperti pesantren atau madrasah sebagai ciri
khas Indonesia, memiliki orientasi ke arah faktor idiil tersebut di atas.
Bukan hanya pesantren plus sekolah umum atau madrasah plus
pengetahuan umum seperti yang telah dianut oleh umat Islam di
beberapa lingkungan masyarakat. Suatu model pesantren yang
berfungsi ganda. Ia merupakan lembaga sosial keagamaan Islam yang
berfungsi sebagai pusat pembinaan mental agama masyarakat sekitar
yang berorientasi kepada modernisasi umat, dan di sisi lain sebagai
lembaga pendidikan agama Islam di lingkungannya yang dinamis dan
aspiratif terhadap tuntutan kemajuan lahiriyah dan batiniyah.
c. Faktor teknis operasional agama di semua jenjang pendidikan umum
perlu lebih diaktualisasikan ke dalam proses yang integralistik dengan
pendidikan intelektual dan ketrampilan sehingga terwujud keserasian
33
Untuk itu kerja sama antara pelaksana pendidikan di sekolah perlu
ditingkatkan lagi, terutama dalam kegiatan belajar mengajar. Strategi
pendidikan di sekolah-sekolah teknologi yang programnya lebih
teknologis dan eksak perlu lebih intensif diimbangi dengan program
pendidikan yang lebih moralis dan sosialistis-agamis tanpa menghilangkan
ciri-ciri kejuruannya.
Lembaga pendidikan di masa sekarang harus lebih kritis dan dinamis,
berorientasi kekinian sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi
modern selaras dengan kebutuhan atau tuntutan masyarakat masa kini
tanpa meninggalkan nilai fitah yang ada dalam diri setiap manusia.
Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh H. M. Arifin mengenai
lembaga pendidikan Islam perspektif beliau, diharapkan mampu
menjawab problema dan menjadi rujukan dalam mengembangkan
lembaga pendidikan Islam ke depan.
6. Evaluasi Dalam Pendidikan Islam
Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian
terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang
bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan
mental-psikologis dan spiritual-religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi
yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan
berketrampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan
34
Menurut Arifin (2016: 162) sasaran evaluasi pendidikan Islam secara
garis besar meliputi empat kemampuan dasar anak didik, yaitu:
a. Sikap dan pengalaman pribadi, hubungan dengan Tuhan.
b. Sikap dan pengalaman dirinya, hubungan dengan masyarakat.
c. Sikap dan pengalaman kehidupannya, hubungannya dengan alam
sekitar.
d. Sikap dan pandangannya terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah
dan selaku anggota masyarakatnya, serta selaku khalifah di muka bumi.
Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam klasifikasi
kemampuan teknis masing-masing sebagai berikut (Arifin, 2016: 162):
a. Sejauh mana loyalitas dan kesungguhan untuk mengabdikan dirinya
kepada Tuhan dengan indikasi-indikasi lahiriyah berupa tingkah laku
yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.
Aspek ini berwujud dalam bentuk tingkah laku yang merujuk kepada
keimanan, ketekunan ibadah, kemampuan praktis dalam mengerjakan
syariat Islam dan cara menanggapi atau melakukan responsi terhadap
permasalahan hidup seperti tawakal, sabar, dan ketenangan batin serta menahan amarah.
b. Sejauh mana menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup
bermasyarakat, seperti berakhlak mulia dalam pergaulan, disiplin
35
orang lain, misalnya ketepatan memenuhi janji, menunaikan amanat,
tidak berdusta, egoisme, anti sosial dan lain-lain.
c. Bagaimana ia berusaha mengelola dan memelihara serta
menyesuaikan dirinya dengan alam sekitar, apakah ia merusak
lingkungan hidup, apakah ia mampu mengubah lingkungan sekitar
menjadi lebih bermakna bagi kehidupan diri dan masyarakat.
d. Bagaimana dan sejauh mana ia sebagai seorang muslim memandang
dirinya sendiri (self-concept) dalam berperan sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan bermasyarakat yang beraneka macam
budaya dan suku serta agama. Bagaimana seharusnya ia mengelola
dan memanfaatkan serta memelihara kelangsungan hidup dalam
lingkungan sekitar sebagai anugerah Allah. Apakah ia memiliki self-concept negatif atau positif, memandang dirinya memiliki kesanggupan untuk berperan posistif dan partisipatif dalam
pembangunan masyarakat; apakah ia mempunyai pendirian dan
pandangan yang tetap, tak berubah-ubah, ataukah ia hanya berperan
sebagai pengikut, bersikap lemah dan tak peduli terhadap
permasalahan hidup lingkungannya.
Al-Qur’an menginspirasi bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia
didik merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan
yang telah dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari
sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan manusia yaitu (Arifin, 2016:
36
a. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai
macam problema kehidupan yang dialaminya.
b. Untuk mengetahui sampaimana dan sejauhmana hasil pendidikan
wahyu yang telah diterapkan Rasulullah terhadap umatnya.
c. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman
atau keimanan manusia, sehingga diketahui manusia yang paling
mulia di sisi Allah yaitu paling bertakwa kepada-Nya, manusia yang
sedang dalam iman dan ketakwaanya, manusia yang ingkar kepada
ajaran Islam.
Dengan menggunakan sistem evaluasi yang tepat sasaran maka seorang
pendidik akan dapat mengetahui dengan pasti tentang kemajuan,
kelemahan, dan hambatan peserta didik dalam pelaksanaan tugasnya, yang
pada gilirannya akan dijadikan bahan perbaikan program atau secara
langsung dilakukan remedial teaching, atau bila dipandang perlu peseta didik diberi bimbingan belajar secara lebih intensif (Arifin, 2016: 167).
BAB III
37
A. Pengertian Pendidikan Islam Kontemporer
Menurut UU no. 20 th. 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan diartikan juga sebagai
proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian diri dengan
alam, dengan teman dan keluarga (Jumali, 2004: 18).
Menurut Uyoh Sadulloh (2014: 5), prinsip dasar pendidikan dari arti luas
yaitu: pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Kedua, bahwa
tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab semua manusia;
tanggung jawab orang tua, tanggung jawab masyarakat dan tanggung jawab
pemerintah.
Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan
kemampuan seseoarang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan
cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak
kepribadiannya (Arifin, 2014: 7).
Menurut Tafsir (2014: 32) pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan
oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai
dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam ialah bimbingan belajar
terhadap seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin.
Dr. Mohd. Fadli Al-Djamaly mengungkapkan pendidikan Islam adalah proses
38
derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan
kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar) (Arifin, 1987 : 16).
Jadi pendidikan Islam adalah, proses memberikan, mengarahkan dan
membimbing kemampuan manusia berdasarkan syariat Islam untuk menjadi
muslim semaksimal mungkin sesuai dengan fitrahnya.
Sedangkan kontemporer artinya pada waktu yang sama; semasa; sewaktu;
pada masa kini; dewasa ini (KBBI, 2007:591).
Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa kontemporer adalah
masa kini atau masa sekarang.
Jadi dapat di simpulkan bahwa pendidikan Islam kontemporer adalah
proses memberikan, mengarahkan dan membimbing kemampuan manusia
berdasarkan syariat Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis untuk menjadi muslim
semaksimal mungkin sesuai dengan fitrahnya yang berorientasi kekinian
sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern selaras dengan
kebutuhan atau tuntutan masyarakat masa kini.
B. Konsep Pendidikan Islam Kontemporer 1. Tujuan
Pembaharuan dan moderinsasi pendidikan Islam adalah suatu upaya
melakukan proses perubahan kurikulum, cara, metodologi, situasi dan
kondisi pendidikan Islam dari yang tradisional (ortodox) ke arah yang
lebih rasional, dan profesional sejalan dengan perkembangan ilmu
39
Tujuan pendidikan Islam perlu dirumuskan secara tepat karena
menentukan arah, isi, langkah, motivasi, dan tolok ukur keberhasilannya.
Tujuan dirumuskan berdasarkan prinsip menyeluruh, serasi, jelas,
efisisensi, dan efektivitas, bersifat moral dan agama, dinamis dan
mencakup perkembangan sesuai dengan sifat dasar hakikat kemanusiaan
dan tugas kehidupannya. Dalam kerangka ini pendidikan Islam pada
intinya berupaya membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan
menyeluruh dalam semua aspek kehidupan yang membawanya kepada
kehidupan yang memiliki budaya dan peradaban tercermin dalam
kehidupan berilmu, beriman, berkepribadian, beretos kerja, profesional,
beramal saleh dan bermoral dalam rangka memperoleh keselamatan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Di sini
tujuan meliputi aspek fisik, intelektual, mental, moral, profesional,
beramal saleh dan sosial dan seluruh kehidupannya dalam mewujudkan
manusia dan masyarakat yang berkualitas, dinamis, kreatif, dan sempurna
dalam kehidupannya (Abdullah, 2001: 258).
Tujuan pendidikan Islam merupakan kelanjutan misi besar yang
terkandung dalam Ilahi dan Sunnah nabi Muhammad SAW. Merujuk
pada dua sumber itulah pendidikan harus bersentuhan dengan segala
dimensi kehidupan. Tidak hanya seputar pendidikan agama, melainkan
juga menyentuh persoalan-persoalan sosial, kultural, ekonomi, politik dan
sebagainya. Pendidikan tidak ingin melahirkan generasi yang berat
40
Untuk menghindari model formulasi dikotomik tersebut, pendidikan
Islam harus kontekstual sesuai dengan persoalan hidup seperti yang
diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kontekstualisasi pendidikan
Islam dengan persoalan zaman adalah pilihan strategis dan rasional yang
relevan dengan semangat dan spirit doktrin Islam. Pendidikan Islam harus
mengambil pola-pola modern, tetapi tidak mengesampingkan nilai-nilai
spiritual dan akhlakul karimah (Mujtahid, 2011: 26).
Tujuan pendidikan Islam adalah untuk menjadikan manusia. Sejalan
dengan misi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Pendidikan Islam
bertujuan untuk menerjemahkan misi besar kitab suci ke dalam realita
kehidupan manusia yang tidak tebatas oleh ruang dan waktu. Pendidikan
Islam juga melahirkan serta mengembangkan semua jenis ilmu
pengetahuan yang senantiasa senafas dengan misi ajaran Al-Qur’an.
Bahkan sesungguhnya ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an harus paralel
sebanding lurus dengan tujuan utama hidup manusia (Mujtahid, 2011:
26-27).
Maka dapat disimpulkan bahwa dasar tujuan dari pendidikan Islam
kontemporer adalah upaya untuk menumbuh-kembangkan kepribadian
wahiyah, yaitu kepribadian yang berstruktur pada sudut pandang bahwa Allah adalah Tuhan, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, dan Sunnah
Rasul sebagai uswah. Manusia yang berkepribadian Qur’ani adalah insan
yang hidupnya memerankan ajaran Allah dengan pola mencontoh
41
fungsionalisasi niai-nilai ilahiyah dalam kehidupan manusia. Adapun
tujuannya adalah terbinanya manusia yang berkesadaran hidup menurut
Allah sehingga sikap dan perilakunya di alam berpedoman dengan
ajaran-Nya yakni Al-Qur’an sebagaimana yang di contohkan Rasulullah (https: //
fahdamjad. files. wordpress. com/ 2007/ 09/ pendidikan- islam-.
kontemporer. pdf. diunduh pada 27 Juni 2017).
2. Kurikulum
Menurut Darajat (2011: 122) kurikulum adalah suatu program pendidikan
yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan
pendidikan tertentu.
Menurut padangan modern, kurikulum lebih dari sekadar rencana
pelajaran atau bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern ialah
semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.
Pandangan ini bertolak dari sesuatu yang aktual dan nyata yaitu di
sekolah dalam proses belajar. Di dalam pendidikan, kegiatan yang
dilakukan siswa dapat memberikan pengalaman belajar atau dapat
dianggap sebagai pengalaman belajar seperti berkebun, olah raga,
pramuka dan pergaulan selain mempelajari bidang studi. Semuanya itu
merupakan pengalaman belajar yang bermanfaat dan pandangan modern
beranggapan bahwa semua pengalaman belajar itulah kurikulum yang
banyak pengaruhnya dalam pendewasaan anak (Tafsir, 2014: 53).
Menurut darajat (2011: 122) ada dua jenis tujuan yang terkandug di dalam