PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL PADA SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1 BRINGIN TAHUN PELAJARAN 20172018 SKRIPSI DiajukanUntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan (S.Pd.)

95 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

DALAM MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL

PADA SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1 BRINGIN

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

SKRIPSI

DiajukanUntukMemperolehGelar

SarjanaPendidikan (S.Pd.)

Oleh:

INGGI PUTRI PRADANA

NIM 111-13-028

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO

“Waktu itu bagikan pedang, jika kamu tidak

memanfaatkannya atau menggunakan untuk memotong, ia

akanmemotongmu (menggilasmu)”

(7)

PERSEMBAHAN

1. Untuk kedua orangtuaku tercinta, Bapak Sutikno dan Ibu Siti Rohmah. Yang rela banting tulang demi membiayai kuliah saya. Yang selalu memberikan doa, dukungan dan semangat selama saya masuk kuliah sampai sekarang.

2. Untuk adikku tersayang, Azahrilla Syifaania Bintang. Yang selalu menghibur dan mendoakan saya.

3. Untuk sahabat-sahabat tersayang (Dian Vera Rahmawati, Alifatul Latifah, Siti Zuliyanah, Siti Nafsatul Rohmah, Rina Anggraini, dan Sri Lestari), yang tidak pernah berhenti memberikan support dan dorongan kepada saya sampai pada titik ini.

4. Untuk dosen pembimbing skripsiku Drs. Bahroni, M.Pd., terimakasih untuk bimbingan dan saran-sarannya hingga terselesaikannya skripsi ini. 5. Untuk keluarga besar SMA N 1 Bringin yang telah berpartisipasi dalam

penyelesaian skripsi ini.

(8)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada khotamul anbiya Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

Skripsi yang berjudul “PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL PADA SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1 BRINGIN TAHUN

PELAJARAN 2017/2018” ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Stara Satu (S.1) pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam.

Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan juga arahan serta saran dari berbagai pihak, sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karna itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd. Selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. 3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan PAI

4. Bapak Drs. Bahroni, M.Pd. selaku dosen pempimbing skripsi yang dengan tulus, ikhlas membimbing penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.

(9)
(10)

ABSTRAK

Inggi Putri Pradana. 2017. Peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Membina Kecerdasan Spiritual Siswa Kelas XI IPS Di SMA Negeri 1 Bringin Tahun Pelajaran 2017/2018. Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Drs. Bahroni, M.Pd.

Kata Kunci : Kecerdasan Spiritual, peran guru PAI.

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pengaruh guru PAI terhadap kecerdasan spiritual siswa. Pertanyaan yang ingin di jawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimana peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin? (2) Apa faktor pendukung dan penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin?. Dengan demikian, tujuan yang hendak di capai dalam penenlitian ini adalah untuk mengetahui peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin, serta untuk mengetahui faktor

pendukung dan penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin.

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research) dan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data dan penelitian ini meliputi sumber primer dan sumber sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara display data, reduksi data dan

verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) peran guru PAI sebagai

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN BERLOGO ... ii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN... vii

KATA PENGANTAR………... viii

ABSTRAK………... x

DAFTAR ISI………... xi

DAFTAR LAMPIRAN ………...………. xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 6

E. Telaah Pustaka ………. 7

F. Penegasan Istilah ... 8

G. Metode Penelitian ……… 15

(12)

A. Guru Pendidikan Agama Islam... 17

B. Kecerdasan Spiritual... 24

C. Meningkatkan Kecerdasan Spiritual... 30

BAB III Paparan Data dan Hasil Temuan A. Paparan Data ………... 36

1. Letak Geografis…... 36

2. Profil SMA N 1 Bringin...………. 36

3. Visi dan Misi ... 38

4. Data Siswa dan Guru... 40

B. Temuan Penelitian... 41

1. Profil Responden ...………... 41

2. Hasil Wawancara dengan Guru PAI dan Siswa ... 41

BAB IV PEMBAHASAN A. Peran Guru PAI dalam Membina Kecerdasan Spiritual... 49

B. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Membina Kecerdasan Spiritual ... 52

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 57

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara Lampiran 2 Dokumentasi Kegiatan Lampiran 3 Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 4 Surat Tugas Pembimbing Skripsi Lampiran 5 Surat Permohonan Izin Penelitian

Lampiran 6 Surat Rekomendasi Penelitian dari KESBANGPOL Lampiran 7 Surat Keterangan Melakukan Penelitian

Lampiran 8 Surat Keterangan Lulus Ujian Komprehensif Lampiran 9 Daftar Satuan Kredit Kegiatan (SKK)

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses pendewasaan dan mengembangkan aspek-aspek manusia baik fisik, biologis maupun psikologis. Aspek fisik biologis manusia dengan sendirinya akan mengalami proses perkembangan, pertumbuhan dan penuaan. Sedangkan aspek psikologis manusia melalui pendidikan yang didewasakan, dikembangkan dan disadarkan. Proses penyadaran dan pendewasaan dalam konteks pendidikan ini mengandung makna yang mendasar karena bersentuhan dengan aspek yang paling dalam dari diri manusia, yaitu kejiwaan dan kerohanian. Dua elemen ini sangat penting dalam membina moralitas pada pendidikan sehingga menghasilkan lulusan pendidikan yang berwawasan luas dalam bidang ilmu pengetahuan dan memiliki kecerdasan spiritual yang mencakup aspek kehormatan.

(15)

Anak perlu diajarkan pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai agama sebagai alat pengontrol dan pengendali hidup anak, yakni agama yang menjadi pedoman dan petunjuk mengenai apa yang harus dilaksanakan didalam menciptakan sikap dan perilaku yang baik sesuai ajaran agama islam serta membimbing anak mempunyai akhlak yang mulia.

Sesuai dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional menyebutkan:“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara” (Undang-Undang System Pendidikan, 2008: 3). Oleh karena itu orang tua tidak seharusnya hanya mengutamakan kecerdasan intelektual saja, tetapi kecerdasan spiritual juga sangat penting ditananamkan pada anak sejak dini, agar anak-anak dapat menjadi penerus bangsa yang memiliki moral tinggi.

(16)

didik, karena guru merupakan orang tua kedua bagi peserta didik di sekolahyang mendidik, membimbing, mengajar dan melatih peserta didik.

Guru harus menjadi tauladan, membentuk kepribadian anak harus dilakukan secara terus-menerus karena secara tidak langsung anak-anak akan meniru apa yang dilakukan oleh guru melalui pembiasaan, pada diri anak itu harus ditanamkan bukan diajarkan, karena akan berbeda ketika anak hanya diajarkan dengan anak-anak harus ditanamkan moral dan nilai-nilai yang berlandaskan pada pendidikan agama (kecerdasan spiritual).

Setelah anak mendapatkan pendidikan yang berlandaskan pada nilai agama diharapkan tingkat kecerdasan spiritual yang ada dalam diri anak meningkat.

(17)

spiritual selalu didasarkan pada nurani dan ketuhanan (agama) sebagai orientasi segala tindakan.

Kecerdasan spiritual diperlukan bagi seorang siswa sebagai jalan memahami kegiatan belajar yang dilakukan. Tugas belajar bukanlah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan, tetapi tugas mulia Tuhan yang dipercayakan. Dalam lingkup Islam, belajar merupakan aktivitas wajib yang harus dilakukan sepanjang hayat. Seperti yang dijelaskan dalam hadits nabi, tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.

Siswa yang cerdas secara spiritual memahami bahwa belajar merupakan salah satu cara menjalin hubungan dengan Allah SWT. Melalui aktivitas belajar, siswa memahami bahwa belajar merupakan sebuah kewajiban yang ditempuh sebagai langkah menjalankan perintahnya. Bukan semata-mata hanya ingin mendapatkan nilai tinggi melainkan mampu mendekatkan diri menjadi manusia bertaqwa dihadapan Allah.

(18)

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan karena semakin menurunnya nilai moral masyarakat saat ini yang disebabkan kurangnya menanamkan nilai-nilai yang berhubungan dengan agama yang sering disebut kecerdasan spiritual maka penulis memandang perlu untuk mengadakan suatu penelitian mengenai “PERAN GURU PAI DALAM MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL SISWA KELAS XI IPS DI SMA N 1 BRINGIN TAHUN PELAJARAN 2017/2018”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas X IPS di SMA N 1 Bringin?

2. Apa faktor pendukung dan penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin?

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penulis mengacu pada permasalahan diatas adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin.

(19)

D. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat dari hasil penelitian ini sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis

a. Sekolah: hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif bagi lembaga pendidikan terutama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas siswa secara spiritual, juga sebagai referensi bagi kepala sekolah maupun guru dalam mengevaluasi proses pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan spiritual siswa.

b. Penulis: menambah dan memperkaya pengetahuan penulis dalam bidang pendidikan, serta memberikan wawasan baru mengenai pentingnya pengembangan kecerdasan spiritual bagi siswa.

c. Mahasiswa: diharapkan bermanfaat sebagai referensi baru dalam memperkaya wawasan dan pengetahuan mengenai kecerdasan spiritual siswa.

2. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan di dunia pendidikan dan disiplin ilmu lain khususnya dalam pengembangan kecerdasan spiritual.

(20)

E. Telaah Pustaka

Dasar atau acuan berupa teori-teori atau temuan-temuan daeri berbagai hasil penelitian sebelumnya merupakan hal yang kiranya perlu untuk dijadikan sebagai data acuan atau pendukung bagi penelitian ini. Hasil penelitian terdahulu yang hampir memiliki kesamaan topic dengan penelitian yang dilakukan peneliti di antaranya yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan Ahmad Jamhari (2011) yang berjudul

“Peran Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional dan

Spiritual (ESQ) Siswa Di MA Al Hidayah Candi Kecamatan

Bandungan”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran guru PAI dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa di MA Al Bidayah Bandungan. Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam penelitian ini adalah bagaimana mengatur tiga komponen yaitu iman, Islam dan ihsan dalam keselarasan dan kesatuan tauhid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru PAI dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual sangat tinggi.

(21)

2. Penelitian yang dilakukan oleh Dita Indi Nur Otapiyani (2012) yang berjudul “Nilai-Nilai Spiritual dalam Novel Syahadat Cinta Karya Taufiqurrahman Al-Azizy”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai spiritual apa saja dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman al-Azizy. Nilai-nilai spiritual dalam penelitian ini adalah nilai yang terdapat dalam kejiwaan manusia yang mencakup nilai estetika, nilai moral, nilai religious dan nilai kebenaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman al-Azizy ini memiliki nilai-nilai spiritual yang sangat berpengaruh pada kejiwaan manusia.

Penelitian Dita Indi Nur Otapiyani memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu sama-sama meneliti tentang nilai spiritual. Untuk perbedaannya yaitu peneliti menggunakan penelitian kualitatif sedangkan peneliti Dita Indi Nur Otapiyani menggunakan penelitian literature.

F. Penegasan Istilah 1. Peran Guru

(22)

Peran guru dalam penelitian ini yaitu peran guru dalam membina atau membimbing kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin.

2. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna kehidupan, nilai-nilai, dan keutuhan diri yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Seseorang dapat menemukan makna hidup dari bekerja, belajar dan bertanya, bahkan saat menghadapi masalah atau penderitaan. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan jiwa yang membantu menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Kecerdasan spiritual adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan, SQ merupakan kecerdasan tertinggi (Zohar dan Marshall, 2001: 12-13) menyatakan bahwa kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang untuk mengenali nilai sifat-sifat pada orang lain serta dalam dirinya sendiri.

(23)

dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah” (Agustian, 2001: 57).

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian skripsi ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) yakni metode yang digunakan untuk memperoleh data-data melalui penyelidikan berdasarkan objek lapangan, daerah atau lokasi guna memperoleh data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan (Sukmadinata, 2013: 60).

Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah

(natural setting), disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiyono, 2011: 8).

2. Kehadiran Peneliti

(24)

3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMA N 1 Bringin, tepatnya di Jalan Wibisono Gg. II, Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

4. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung (Arikunto, 2006: 145). Digunakan untuk mendapatkan data tentang peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Adapun untuk memperoleh data dengan melakukan wawancara dengan para informan yang telah ditentukan meliputi berbagai hal yang kaitannya dengan kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Adapun sumber data dalam penelitian ini yaitu guru PAI kelas XI dan siswa kelas XI IPS..

b. Data Sekunder

(25)

5. Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu meliputi: a. Metode Wawancara/Interview

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui dialog dan tatap muka langsung dengan orang yang dapat memberikan informasi kepada peneliti (Moleong, 2008: 153). b. Metode Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik atau cara menampilkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (J.R. Raco, 2010: 115). Dalam observasi ini peneliti melakukan pengamatan langsung kepada guru PAI yang berada di lokasi penelitian kegiatan tersebut berlangsung serta mencari data-data yang mendukung dalam penelitian.

c. Metode Dokumentasi

(26)

6. Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi (Sugiyono, 2006: 244).

Adapun yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif, dengan langkah-langkah berikut:

a. Display data, peneliti menyajikan semua data yang diperolehnya dalam bentuk uraian atau laporan terperinci.

b. Reduksi data, yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya (Sugiyono, 2006: 247). Dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian, maka akan memberikan gambaran yang lebih tajam.

c. Verivikasi data, peneliti berusaha untuk mencari data yang dikumpulkannya untuk menjawab tujuan penelitian.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Dalam hal ini peneliti berusaha memperoleh keabsahan data temuan. Teknik yang dipakai untuk menguji keabsahan temuan tersebut yaitu teknik triangulasi.

(27)

a. Triangulasi Sumber Data

Triagulasi sumber data berarti untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Sugiyono, 2006: 274).

Triagulasi sumber data berarti membandingkan data-data yang diperoleh dari informasi satu dengan yang lainnya dan mengejek kebenaran dan kepercayaan suatu informasi.

b. Triangulasi Metode

Triagulasi metode dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda (Sugiyono, 2006: 247). Dalam metode ini pengecekan keabsahan data untuk mengetahui hasil temuan ini benar-benar hasil temuan sendiri, tidak hasil penelitian orang lain ataupun tidak plagiat dari penelitian sebelumnya.

8. Tahap-tahap Penelitian

Adapun tahapan penelitian bertajuk peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin sebagai berikut:

(28)

b. Kegiatan lapangan yang meliputi:

1) Survei awal untuk mengetahui gambaran umum tentang pembinaan kecerdasan spiritual di SMA N 1 Bringin dan menemui pihak penanggung kegiatan tersebut yang akan dijadikan subyek penelitian serta meminta ijin untuk melakukan penelitian.

2) Memasukkan sejumlah orang yang terkait sebagai informan yang akan dilakukan dengan respondensi penelitian.

3) Melakukan penelitian secara langsung ke SMA N 1 Bringin untuk memperoleh data dengan cara melakukan interview atau wawancara kepada responden sebagai langkah awal pengumpulan data.

4) Menyajikan data dengan susunan dan urutan yang memungkinkan dan memudahkan untuk melakukan pemaknaan.

5) Melakukan verifikasi untuk membuat kumpulan-kumpulan temuan penelitian.

6) Penyusunan laporan untuk dijilid dan dilaporkan.

H. Sistematika Penulisan

(29)

Bab I : Dalam bab pendahuluan terdiri dari latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, telaah pustaka, penegasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : Kajian pustaka yang berkenaan dengan peran guru PAI dan teori-teori kecerdasan spiritual.

Bab III : Paparan data dan temuan penelitian tentang peran guru PAI dalam membina kecerdasan spiritual, serta faktor pendukung dan penghambat dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin.

Bab IV : Analisis data penelitian tentang peran guru agama dalam membina kecerdasan spiritual pada siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin.

(30)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Guru Pendidikan Agama Islam

Umat Islam dianjurkan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan agama kepada orang lain atau siswa, mendidiknya dengan akhlaq Islam dan membentuknya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, seperti yang diisyaratkat Al-Qur’an mengenai peran para nabi dan pengikutnya dalam pendidikan serta fungsi fundamental mereka untuk mengkaji ilmu-ilmu Illahi serta aplikasinya yaitu dalam QS. Al-Baqarah ayat 129 yang berbunyi :

ُمُهُمّلَعُي َو َكِت اَء ِه َل َع ْاوُل َي ُه ّم َلو ُس َر ِهيِف َع ٱ َو اَنّب َر

َٰي ۡم ۡي

ۡت ۡم ۡن

ۡم

ۡث ۡب

ُميِك َح ٱ ُزي ِزَع ٱ َتنَأ َكّنِإ ِهيّك َزُي َو َةَم ِح ٱ َو َب ِك ٱ

ۡل

ۡل

ۖۡم

ۡك ۡل

َٰت ۡل

١٢٩

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana

(31)

sosial, dan sebagai makhluk individu yang sanggup berdiri sendiri (Syaebani, 2010: 93)

Istilah lain yang biasa digunakan untuk pendidik adalah guru. Menurut Surayin (2011: 168) guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Sedangkan guru agama adalah guru yang mengajarkan agama.

Guru adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang dapat memudahkan dalam melaksanakan perannya dalam membimbing siswanya, ia harus sanggup menilai diri sendiri tanpa berlebih-lebihan, sanggup berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain, selain itu perlu diperhatikan pula bahwa ia memiliki kemampuan dan kelemahan (Daradjat, 2006: 266).

Adapun menurut Akhyak (2007: 2), guru adalah orang dewasa yang menjadi tenaga kependidikan untuk membimbing dan mendidik peserta didik menuju kedewasaan, agar memiliki kemandirian dan kemampuan dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.

Guru juga didefinisikan sebagai orang yang membimbing, mengarahkan, dan membina anak didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya, sehingga tergambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai Agama Islam (Arifin, 2009: 98).

(32)

tergambarlah dalam tingkah lakunya sehari-hari memiliki kemampuan dalam menghadapai kehidupan dunia dan memiliki bekal untuk akhiratnya kelak. Guru dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotoriknya. Guru juga berarti orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaan, serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi tugasnya sebagai makhluk Allah. Disamping itu, ia mampu sebagai makhluk sosial dan makhluk individu yang mandiri.

Dalam konsep pendidikan tradisional Islam, posisi guru begitu terhormat. Guru diposisikan sebagai orang yang ‘alim, wara’, shalih, dan sebagai uswah sehingga guru dituntut juga sebagai aktualisasi dari keilmuan yang dimilikinya. Sebagai guru, ia juga dianggap bertanggung jawab kepada para siswanya, tidak saja ketika dalam proses pembelajaran berlangsung, tetapi juga ketika proses pembelajaran berakhir, bahkan sampai di akhirat. Oleh karena itu, wajar jika mereka diposisikan sebagai orang-orang penting dan mempunyai pengaruh besar pada masanya, dan seolah-olah memegang kunci keselamatan rohani dalam masyarakat.

(33)

rohani dan akhlak dengan materi pengajarannya. Dari berbagai pendapat diatas penulis menyimpulkan guru agama adalah orang dewasa yang bekerja dalam bidang pendidikan, yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak didiknya menuju kedewasaan dalam perkembangan jasmani dan rohaninya sehingga tergambarlah dalam tingkah lakunya sehari-hari nilai agama dan memiliki kemampuan dalam menghadapai kehidupan dunia dan memiliki bekal untuk akhiratnya kelak.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potesi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Ati, 2008: 54).

Adapun pendidikan agama Islam menurut Nazarudin (2009: 48), pendidikan Islam adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.

(34)

atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang dilakukan dengan sadar dan terencana yang diberikan untuk peserta didik dalam menumbuhkan jasmani dan rohaninya secara optimal demi menjadi manusia yang berkualitas menurut agama Islam, yaitu menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

Pendidikan Agama Islam pada hakikatnya adalah sebuah proses dalam pengembangannya juga dimaksud sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Pendidikan Islam bila diterapkan dalam lembaga pendidikan dan masuk pada kurikulum menjadi sebuah bidang studi.

Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam secara keseluruhan mencakup bidang studi Al-Qur’an Hadits, keimanan, akhlaq, fiqih dan sejarah. Hal tersebut membuktikan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam sangat luas dan mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia yang lain serta hubungan manusia dengan makhluk lainnya maupun lingkungannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran.

(35)

dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.

Guru sangat berperan dalam membantu peserta didik dalam mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi lain yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan pendidik atau guru. Seperti yang kita ketahui dari paparan beberapa ahli seorang guru memiliki banyak peran yang harus dilaksanakan.

Peran guru dalam proses belajar mengajar mencakup banyak hal. Yang akan dibahas disini adalah peran guru sebagai motivator, khususnya untuk guru Pendidikan Agama Islam. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu dengan cara:

1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai 2. Membangkitkan minat siswa

3. Menciptakan suasananya yang menyenangkan dalam belajar 4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa 5. Berikan penilaian

6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa 7. Ciptakan persaingan dan kerjasama. (Wina, 2010: 14)

(36)

inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Dalam proses pembelajaran motivasi sangat penting, siswa yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun dan berhasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin berhasil pelajaran itu. Sering terjadi siswa yang berprestasi rendah bukan berarti disebabkan oleh kemampuannya yang rendah, tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya.

Sebagai motivator guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang dapat merangsang siswa untuk tetap bersemangat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan sekolah dan dapat meningkatkan kecerdasan siswa. Guru sebagai motivator hendaknya guru bertanggung jawab mengarahkan pada yang baik, harus menjadi contoh, sabar, dan penuh pengertian. Guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri (self dicipline). Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu melakukan tiga hal sebagai berikut:

1. Membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya 2. Membantu peserta didik meningkatkan standarprilakunya

3. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan

disiplin.” (Mulyasa, 2012: 56)

(37)

kecerdasan, serta selalu memberi dorongan dalam meningkatkan pribadi siswanya menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

B. Kecerdasan Spiritual 1. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan dalam bahasa Inggris adalah intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka. Menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu dalam arti, kemampuan ( al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara tepat dan sempurna. Kecedasan berasal dari kata cerdas yang secara harfiah berarti sempurna perkembangan akal budinya, pandai dan tajam pikirannya. Selain itu cerdas dapat pula berarti sempurna pertumbuhan tubuhnya seperti sehat dan kuat fisiknya. Jadi kecerdasan merupakan kemampuan tertinggi dari jiwa yang ada pada makhluk hidup yang hanya dimiliki oleh manusia yang diperolehnya sejak lahir dan dalam perkembangannya mempengaruhi kualitas hidup manusia (Syaebani, 2009: 78).

(38)

a. Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.

b. Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol dan mengkritik.

c. Kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan

cepat sekali.

Pada mulanya, para ahli beranggapan bahwa kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal alma’rifi). Namun pada perkembangan selanjutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif ( al-majal al-infi’ali) seperti kehidupan emosional, moral, spiritual dan agama. Karena itu, jenis-jenis kecerdasan pada diri seseorang sangat baragam yang kesemuanya dapat dikembangkan seiring dengan kemampuan atau potensi yang ada pada dirinya.

Howard Gardner, Profesor dari Harvard University yang dikutip oleh Prawira (2003: 74) memperkenalkan delapan kecerdasan, yaitu:

a.Logical-Mathematical Intelligence, kemampuan menghitung aritmatika dan berfikir logis, analitis sampai pada system berfikir yangrumit.

b.Linguistic Intelligence, kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan menangkap kata-kata dan kemampuan menyusun kalimat.

c.Musical Intelligence,kemampuan memahami nada music, komposisi.

(39)

g.Intrapersonal Intelligence, kemampuan memahami emosinya sendiri.

h. Naturalist Intelligence, kemampuan mengenal benda disekitar.

Kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner ini dikenal juga sebagai keragaman kecerdasan (multiple intelligence) yang ia gunakan juga pada judul bukunya. Pembagian kecerdasan oleh Gardner ini telah membuka paradigma baru dari sebuah kata kecerdasan. Karena berdasarkan pembagian-pembagian kecerdasan menurutnya, ternyata cerdas bukan semata dapat memiliki skor tinggi sewaktu ujian namun cerdas itu beranekaragam.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat dirumuskan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan dan melakukan tindakan yang dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai guna bagi masyarakat.

2. Pengertian Spiritual

Dimensi spiritual adalah dimensi yang paling penting dan agung bagi manusia. Bagi seorang anak, perkembangan dimensi ini sangatlah penting. Dimensi ini akan menentukan, apakah kelak dia menjadi pribadi yang bahagia atau menderita.

(40)

3. Pengertian Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagia perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang aad di blaik sebuah kenyataan atau kejadian tertentu.Secara teknis, kecerdasan ini pertama kali digagas dan ditemukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall.

Adapun pernyataan Danah Zohar yang dikutip oleh Muallifah (2008: 42) bahwa kecerdasan spiritual anak ditunjukkan dengan kemampuan menyadari diri sendiri, kemampuan untuk bisa menghadapi penderitaan, tidak melakukan kerusakan/menyakiti orang lain, kemampuan untuk menghadapi kesulitan yang dihadapi, dan yang paling ditekankan adalah kemampuan individu untuk bisa memaknai setiap tindakan dan tujuan hidupnya.

Adapun menurut Rahmad (2006: 45), individu yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

a. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material b. Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak c. Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari

d. Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual sebagai bahan untuk menyelesaikan masalah

e. Kemampuan untuk bisa berbuat

(41)

Ia mencapai kesadaran kosmos yang menggabungkan dia dengan alam semesta. Ia merasa bahwa alam semestanya tidak terbatas pada apa yang disaksiakan dengan alat-alat indrawinya.

Dijelaskan oleh Muallifah (2008: 46) ciri yang ketiga, ketika kita mampu meletakkan perbuatan kita menjadi sesuatu yang agung dan bermakna. Misalnya ketika kita melakukan hal sekecil apapun yang kita tujukan untuk ibadah dan kita selalu optimis bahwa apa yang kita lakukan dan kita harapkan pastinya diiringi dengan senyum bahagia tanpa adanya beban sedikit pun, maka segala yang kita lakukan akan menjadi ringan dan penuh dengan suasana yang bahagia pula.

Menurut Rahmat (2006: 52), orang yang cerdas secara spiritual adalah mereka yang bisa memecahkan permasalahan tidak hanya dengan menggunakan rasio dan emosi saja, namun mereka menghubungkan dengan makna kehidupan secara spiritual. Sedangkan pada ciri yang kelima, konsep kecerdasan spiritual lebih memandang pada kemampuan individu untuk bisa berbuat baik, tolong menolong, dan saling mengasihi terhadap sesama.

(42)

(2010: 84), setidaknya ada sembilan tanda orang yang mempunyai

e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai f. Enggan menyebabkan kerugian yang tidak perlu g. Cenderung melihat keterkaitan berbagai hal

h. Cenderung bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika”

i. Pemimpin yang penuh pengabdian dan bertanggung jawab. Menurut Indragiri (2010: 64) dalam bukunya yang berjudul “Kecerdasan Optimal”menyatakan ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan spiritual, yakni sebagai berikut:

a. Anak mengetahui dan menyadari keberadaan Sang Pencipta b. Anak rajin beribadah tanpa harus disuruh-suruh atau dipaksa c. Anak menyukai kegiatan menambah ilmu yang bermanfaat

g. Anak mau berziarah ke makam dengan tujuan yang positif, yaitu merawat makam dan mendo’akan orang-orang yang sudah meninggal tersebut

h. Anak bersifat jujur

i. Anak dapat mengambil hikmah dari suatu kejadian j. Anak mudah memaafkan orang lain

k. Anak memiliki selera humor yang baik dan mampu menikmati humor dalam berbagai situasi

l. Anak pandai bersabar dan bersyukur, batinnya tetap bahagia dalam keadaan apapun

m. Anak dapat menjadi teladan yang baik bagi orang lain

n. Anak biasanya memahami makna hidup sehingga ia selalu

(43)

C. Meningkatkan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual membantu seseorang untuk menemukan makna hidup dan kebahagiaan. Oleh karena itu kecerdasan spiritual dianggap sebagai kecerdasan yang paling penting dalam kehidupan. Sebab kebahagiaan dan menemukan makna kehidupan merupakan tujuan utama setiap orang. Bahagia di dunia maupun bahagia di akhirat kelak serta menjadi manusia yang bermakna dan berguna untuk manusia serta makhluk lain dapat dicapai jika seseorang dapat mengoptimalkan kecerdasannya dan melaraskan antara IQ, EQ, SQ yang dimiliki.

Azzet (2010: 61) menyampaikan langkah-langkah dalam mengembangkan kecerdasan spiritual, yaitu sebagai berikut:

1. Membimbing Anak Menemukan Makna Hidup a. Membiasakan diri berpikirpositif

(44)

cara terus-menerus membangun semangat dan rasa optimis dalam menghadapi segala sesuatu.

b. Memberikan sesuatu yang terbaik

Menanamkan kepada anak bahwa apa yang dilakukan atau apa yang dikerjakan diketahui oleh Tuhan perlu kita latihkan kepada mereka. Agar anak-anak kita akan tetap berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya karena ia berbuat untuk Tuhannya. Maka anak tersebut tidak akan mudah untuk menyerah sebelumapa yang telah direncakannya berhasil. Apabila seseorang berbuat sesuatu atau bekerja dengan misi untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk Tuhan secara otomatis hasil kerjanya pun berbanding lurus dengan keberhasilan. Apa yang diupayakannya pun bernilai baik dihadapan orang lain kerena ia telah bekerja dengan memberikan yang terbaik kepada Tuhannya.

c. Menggali hikmah di setiap kejadian

(45)

ditemukan nilai manisnya.

2. Mengembangkan Lima Latihan Penting

a. Senang berbuat baik, hal yang dapat dilakukan dalam melatih anak-anaknya agar senang berbuat baik adalah memberikan pengertian tentang pentingnya berbuat baik. Berbuat baik dengan senang hati tanpa mengharap imbalan dari orang lain, baik berupa pujian atau harapan agar orang tersebut berbuat serupa kepadanya. Dan meyakinkan bahwa perbuatan baik yang telah dilakukan tidaklah sia-sia. Ada hukum yang pasti berlaku barangsiapa yang melakukan kebaikan, pasti akan menerima anugerah kebaikanpula.

b. Senang menolong orang lain, setidaknya ada tiga cara dalam menolong orang lain yang dapat dilakukan yakni, menolong dengan kata-kata atau nasihat, menolong dengan tenaga, dan menolong dengan barang (baik itu berupa makanan, obat-obatan,uang, atau harta benda yang lain). Kecenderungan orang pada umumnya yang bersifat pelit, senang menolong kepada orang lain menjadi sangat penting untuk dilatihkan kepada anak dan merupakan sumber kebahagiaan. c. Menemukan tujuan hidup, merupakan hal yang mendasar dalam

(46)

senang hati dalam keyakinannya.

d. Turut merasa memikul sebuah misi mulia. Hidup seseorang akan terasa jauh lebih bermakna apabila ia turut merasa memikul sebuah misi mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan. Sebagai orang beriman, sumber kekuatan yang diyakini sudah barang tentu adalah Tuhan. Misi mulia itu bermacam-macam, misalnya perdamaian, ilmu, pengetahuan, kesehatan, atau harapan hidup.

e. Mempunyai selera humor yang baik, tanpa adanya humor, kehidupan akan berjalan kaku. Maka, ketika terjadi ketegangan, humor diperlukan agar suasana kembali cair dan menyenangkan. Selera humor yang baik ini bisa dilatihkan kepada anak-anak. Sebab, pada dasarnya, rasa humor adalah sesuatu yang manusiawi.

Hal penting yang harus disampaikan kepada anak-anak, bahwa humor yang baik adalah humor yang efektif. Setidaknya, ada dua hal yang harus diperhatikan agar humor yang kita sampaikan dapat berfungsi secara efektif, yakni kapan dan kepada siapa.

3. Melibatkan Anak dalam Beribadah, kecerdasan spiritual

(47)

berpuasa sejak dini.

4. Menikmati pemandangan alam yang indah, hal ini dapat membangkitkan

kekaguman jiwa terhadap Sang Pelukis alam, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Setidaknya hal tersebut dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama, anak diajak untuk memperhatikan alam yang sudah biasa dilihat, yang kedua, anak diajak ketempat yang jarang atau bahkan belum pernah dikunjungi.

5. Mengunjungi saudara yang berduka. Ada senang dan ada susah, begitulah proses kehidupan yang sudah dipahami oleh setiap manusia. Namun, ketika menghadapi proses tidak senang atau duka itu seorang diri, hanya orang–orang yang mempunyai kecerdasan spiritualyangbisa menghadapi. Agar anak-anak dapat menemukan makna hidupnya dan dapat mempunyai kecerdasan spiritual yang baik meski saat duka menjelang, perlu bagi kita selaku guru atau orang tua untuk mengajak mengunjungi saudara yang sedang berduka.

a. Mengunjungi saudara yang sedang bersedih b. Mengunjungi saudara di panti asuhan c. Mengunjungi saudara yang sedang sakit d. Mengunjungi saudara yang ditinggal mati

e. Mengunjungi saudara dimakam

6. Mencerdaskan Spiritual Melalui Kisah. Kecerdasan spiritual anak dapat

(48)

tokoh yang tercatat dalm sejarah kerena mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi.

7. Melejitkan Kecerdasan Spiritual dengan Sabar dan Syukur, sifat sabar akan menghindarkan anak dari sifat tergesa-gesa, mudah menyerah, memberikan rasa tenang dalam hal apapun. Sedangkan rasa syukur dapat memberikan sifat tidak mudah cemas, sanggup menghadapi kenyataan di luar dugaan, dan anak akan lebih semangat. Kedua hal ini penting dilatihkan kepada anak sejak dini

(49)

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data

1. Letak Geografis SMA N 1 Bringin

SMA N 1 Bringin berada di Jalan Wibisono II/3, Kelurahan Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Lebih rincinya lokasi SMA N 1 Bringin di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pakis, sebelah timur berbatasan dengan Dusun Brojojito, sebelah barat berbatasan dengan Desa Bringin, dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

SMA N 1 Bringin menempati luas tanah 20.000 m². Ditinjau dari letak geografisnya SMA N 1 Bringin sangat strategis karena berada di jalur Kabupaten yang mudah diakses dengan jalan kaki maupun kendaraan, dan dapat dilihat dan diketahui keberadaannya oleh masyarakat umum.

Lokasi dan letak sangat mempengaruhi perkembangan dan perubahan kemajuan suatu sekolah. Bila lingkungan sekolah dan masyarakat mendukung maka perkembangannya akan mengalami kemajuan pesat.

2. Profil SMA N 1 Bringin

Table 3.1

1. Identitas Sekolah

1 Nama Sekolah : SMA NEGERI 1 BRINGIN

(50)

4 Status Sekolah : Negeri

5 Alamat Sekolah : JL. WIBISONO II/3

RT / RW : 1 / 1

11 Tgl SK Izin Operasional : 1992-05-05 12 Kebutuhan Khusus Dilayani : Tidak ada

13 Nomor Rekening : 3-033-19905-7

14 Nama Bank : Bank Jateng

15 Cabang KCP/Unit : Salatiga

16 Rekening Atas Nama : SMA NEGERI 1 BRINGIN

17 MBS : Ya

18 Luas Tanah Milik (m2) : 0

19 Luas Tanah Bukan Milik (m2) : 20000

20 Nama Wajib Pajak : Bendahara SMUN 1 Bringin

(51)

3. Kontak Sekolah

25 Bersedia Menerima Bos? : Bersedia Menerima

26 Sertifikasi ISO : Belum Bersertifikat

3. Visi dan Misi SMA N 1 Bringin a. Visi

(52)

b. Misi

1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui pendalaman dan pengamalan ajaran agama 2) Meningkatkan kesadaran dan mengembangkan nilai-nilai

luhur bangsa serta budi pekerti melalui berbagai strategi implementasi pendidikan karakter dengan melibatkan seluruh stakeholder sekolah

3) Membiasakan warga sekolah untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

4) Membiasakan warga sekolah untuk bisa mengelola sampah dengan cara memilah dan menaruh sampah pada tempat sampah terpilah.

5) Melatih peserta didik untuk bisa mengolah sampah menjadi barang yang bermanfaat.

6) Mencegah tindakan yang dapat menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

7) Menumbuh kembangkan semangat berkompetisi dan berprestasi secara sehat

8) Meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan serta etos kerja yang tinggi

(53)

10) Meningkatkan prestasi non-akademik peserta didik dengan mengoptimalkan kegiatan pembinaan bakat minat peserta didik serta potensi yang ada

11) Meningkatkan pengetahuan serta kecintaan terhadap budaya dan seni daerah serta kemampuan mengembangkan potensi lokal sehingga berdaya saing nasional maupun internasional 12) Menumbuhkan wawasan global warga sekolah melalui

penguasaan teknologi informasi dan kompetensi bahasa asing.

4. Data Siswa dan Guru di SMA N 1 Bringin a. Data Siswa

Table 3.2

No. Program

Tingkat X Tingkat XI Tingkat XII Jumlah Kelas Siswa Kelas Siswa Kelas Siswa Kelas Siswa Jmlh

L P L P L P L P

1. Bahasa 1 6 27 1 - 33 1 - 27 3 6 87 93 2. IPA 4 44 94 4 26 96 3 20 90 11 90 280 370 3. IPS 3 54 53 3 41 43 3 44 60 9 149 156 295 Jumlah 8 64 278 8 67 172 7 54 177 23 245 523 768

b. Data Guru

(54)

Tetap Tidak

Sumber: dokumentasi di SMA N 1 Bringin

B. Temuan Penelitian 1. Profil Responden

a. Jumhadi (JH)

JH merupakan seorang guru PAI. Beliau lahir di Kabupaten Semarang, 10 Juli 1978. Beliau lulusan dari IAIN Salatiga tahun 2005. Beliau menjadi guru PAI di SMA N 1 Bringin sejak bulan Juli tahun 2005.

b. Ahmad Nadhir (AN)

AN merupakan seorang guru PAI di SMA N 1 Bringin yang mulai mengajar sejak akhir tahun 2014. Beliau lahir di Kabupaten Semarang, 8 Desember 1990. Beliau lulusan dari IAIN Salatiga tahun 2015.

c. Indana Mashlahatur Rifqoh (IMR)

(55)

Walisongo tahun 2011. Selain menjadi guru PAI, beliau juga merangkap sebagai guru Bahasa Arab.

d. Siswa kelas XI IPS, yang diambil samplenya sebanyak 10 siswa.

2. Hasil Wawancara dengan Guru PAI dan Siswa Kelas XI IPS

Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian di SMA N 1 Bringin oleh penulis. Ditemukan peran guru PAI dalam membina kecerdasan siswa kelas XI IPS, serta ditemukan juga faktor pendukung dan penghambat dalam membina kecerdasan siswa kelas XI IPS. Yang diungkapkan oleh beberapa responden sebagai berikut:

a. Guru PAI

1) Sejak kapan Bapak/Ibu mulai mengajar di SMA Negeri 1 Bringin?

“Kata (JH), beliau mulai mengajar sejak tahun 2005. Kata (AN), beliau mulai mengajar sejak akhir tahun 2014. Dan kata (IMR), beliau mulai mengajar sejak tahun ajaran baru 2017/2018 yang berarti baru 2 (dua) bulan menjadi guru PAI”.

(56)

(IMR), kesan pertama di SMA N 1 Bringin ini anak-anaknya sangat antusias. Minat belajar agamanya juga sangat tinggi. Dan untuk aplikasi ibadahnya mereka masih bertahap”.

3. Terkait dengan profesi Bapak/Ibu sebagai guru Pendidikan Agama Islam yang dituntut tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga memberikan dorongan/motivasi di dalam maupun di luar pembelajaran, bagaimana cara Bapak/Ibu untuk memotivasi siswa agar peserta didik mampu meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan juga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?

“Kata (JH), untuk memotivasi siswa lewat pembelajaran akademik dan non akademik. Yang akademik dengan mengajak siswa melaksanakan ibadah sholat agar siswa terbiasa melakukannya dan terbawa dalam kehidupan sehari-harinya. Yang non akademik dilakukan di rumah lewat motivasi dari orang tua masing-masing. Kata (AN), untuk memotivasi siswa dengan mengenali karakter anak, jika belum tertata maka guru harus mendekati dengan pendekatan hati dan mengenali siswa. Setelah guru mengenal karakter anak, maka motivasi bisa diberikan dan akan mudah ditangkap siswa. Dan kata (IMR), untuk memotivasi siswa bisa dengan memberikan quote yang berisi motivasi untuk belajar. Biasanya IMR membacakan quote

dari Gus Mus, beliau beranggapan jika yang disampaikan Gus Mus merupakan quote yang memiliki berbobot dan sangat memotivasi bagi orang-orang yang membaca dan mengetahuinya”.

4. Bagaimana dengan kecerdasan spiritual siswa di SMA N 1 Bringin?

(57)

ada juga yang lambat dalam kesadarannya terhadap Tuhan. Dan rata-rata kecerdasan spiritualnya menengah. Kata (IMR), kecerdasan spiritual siswa di SMA N 1 Bringin ini beraneka macam karakter. Tapi menurut pengamatan beliau, sudah ada banyak perubahan setelah siswa diberikan nasehat-nasehat”. 5. Seperti apa bentuk-bentuk pemberian motivasi kepada siswa?

“Kata (JH), dengan memberikan gambaran masa depan atau dengan memberikan contoh orang-orang yang sukses. Kata (AN), dengan memberikan gambaran bahwa disekolah ini adalah wujud nyata anda di masyarakat. Jika di sekolah anda bisa menghormati satu sama lain, maka di masyarakat pun anda juga akan di hargai. Kata (IMR), lagi-lagi dengan memberikan

quote, dan dengan memberikan contoh-contoh yang dapat memotivasi siswa”.

6. Dalam kegiatan pembelajaran, apa saja yang Bapak/Ibu persiapkan sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

“Kata (JH), yang harus disiapkan yaitu perangkat pembelajaran, alat peraga, cara/metode dan media sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Kata (AN), sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran biasanya anak-anak diajak berdoa setelah itu bersama-sama menyanyikan lagu-lagu yang mengandung unsur motivasi, contohnya lagu Yaa Wallaton. Kata (IMR), sebelum memulai pelajaran biasanya anak-anak diajak berdoa setelah itu membaca Asmaul Husna”.

7. Media dan metode apa yang Bapak/Ibu gunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

“Kata (JH), biasanya menggunakan media seperti laptop, foto/gambar, majalah sesuai dengan materi, al Qur’an dan kitab-kitab. Dan metodenya yaitu membacakan kemudian anak-anak menirukan, untuk ceramah biasanya khusus untuk materi yang membutuhkan banyak peran guru tapi diselingin dengan

(58)

menggunakan buku, Al Qur’an dan lingkungan (tergantung materi). Kata (IMR), biasanya menggunakan metode ceramah, diskusi dan metode every one is teacher. Untuk medianya biasanya buku, Al Qur’an, laptop, LCD, dan lingkungan sekitar”.

8. Apakah Bapak/Ibu pernah melaksanakan pembelajaran di luar kelas atau di luar lingkungan sekolah? Jika pernah dimana? Mengapa?

“Kata (JH), beliau pernah melaksanakan pembelajaran di luar kelas yaitu di mushola. Karena bertepatan dengan materi tentang sholat dan baca Al Qur’an. Meskipun materinya bukan itu, beliau juga sering melaksanakan pembelajaran di mushola. Kata (AN), beliau sering melaksanakan pembelajaran di taman sekolah, mushola dan lapangan tergantung BAB dan kondisi anak. Akan tetapi untuk pembelajaran di luar sekolah, beliau belum pernah melaksanakannya karena di anggap akan membutuhkan waktu lama. Kata (IMR), beliau juga sering melaksanakan pembelajaran di mushola. Beliau beranggapan jika mushola tempat yang paling nyaman dan tenang untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar”.

9. Apakah Bapak/Ibu bersikap terbuka kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar Pendidikan Agama Islam?

“Kata (JH), beliau sangat terbuka dengan siswa yang mengalami kesulitan belajar. Biasanya beliau menyediakan waktu bagi siswa yang ingin curhat tentang kesulitannya dalam mengikuti pembelajaran. Dengan cara itu siswa akan lebih terbuka dan guru juga mudah untuk memberikan jalan keluar. Kata (AN) dan (IMR), beliau juga bersikap terbuka terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar. Biasanya beliau melakukan pendekatan dengan hati, karena tidak semua siswa mau mengungkapkan kesulitannya dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Maka, guru harus lebih jeli lagi melihat siswa yang mengalami kesulitan belajar”.

(59)

siswa diberikan motivasi sangat beragam dan lumayan berhasil. Hasil tersebut tergantung pada masing-masing siswa”.

11. Bagaimana tanggapan atau respon pada siswa setelah mendapatkan pembinaan spiritual dari Bapak/Ibu?

“Menurut (JH), (AN), dan (IMR), tanggapan siswa setelah di berikan pembinaan spiritual sangat bagus. Siswa juga menjadi lebih akrab dengan guru, lebih berkesan, lebih bisa menerima dan siswa juga memiliki kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Contohnya seperti datang ke sekolah tepat waktu”. 12. Dalam proses tersebut pasti terdapat hambatan dan hal-hal yang

mendukung. Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat Bapak/Ibu sebagai guru PAI dan motivator untuk meningkatkan kecerdasan spiritual siswa?

“Menurut (JH), (AN), dan (IMR), mereka sepakat menjawab jika faktor yang mendukung adalah semua guru di SMA N 1 Bringin dan lingkungan sekolah. Akan tetapi untuk hambatannya, mereka memiliki jawaban yang berbeda. Menurut (JH), faktor yang menghambat dalam meningkatkan kecerdasan spiritual anak yaitu kurangnya sarana prasarana,

(60)

mendoakan dan mengavaluasi diri sendiri. Dengan cara saling mendoakan, maka hubungan guru dengan siswa ataupun guru dengan guru akan lebih baik”.

b. Siswa Kelas XI IPS (Sample 10 Siswa)

1. Apakah Anda semangat mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam ?

“Semua responden menjawab jika mereka sangat bersemangat dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dengan alasan beraneka ragam, ada yang beralasan karena gurunya asyik, ada yang beralasan karena dengan mempelajari PAI bisa semakin memperdalam ilmu agama, ada yang beralasan karena dengan mempelajari agama Islam membuat pandangan dan hatinya terbuka, dan ada juga yang beralasan karena guru sering memberikan pencerahan sehingga siswa merasa hidupnya menjadi lebih baik”.

2. Apakah guru PAI sering memberi motivasi ketika pelajaran berlangsung maupun di luar jam pelajaran?

“Semua responden menjawab sering. Guru PAI sering memberikan motivasi ataupun nasehat-nasehat dengan mengingatkan siswa agar tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu, sering membaca Al Qur’an dan nasehat untuk selalu patuh dengan kedua orang tua”.

3. Bagaimana guru menyampaikan motivasinya?

“Semua responden menjawab jika dalam menyampaikan motivasinya, guru PAI lebih sering memberikan renungan. Renungan tersebut dianggap lebih mengena di hati siswa”. 4. Media apa saja yang sering dipakai guru PAI dalam mengajar di

kelas?

(61)

dikelas ?

“Semua responden menjawab dalam kegiatan pembelajaran di kelas, guru PAI sering menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi kelompok kemudian di presentasikan”. 6. Apakah proses pembelajaran pernah dilakukan di luar kelas atau

di luar lingkungan sekolah?

“Semua responden menjawab jika guru PAI jarang melakukan pembelajaran di luar kelas atau di luar lingkungan sekolah. Tetapi pernah sekali melakukan kegiatan pembelajaran di taman dan di mushola sekolah”.

7. Bagaimana sikap Anda terhadap guru?

“Semua responden menjawab jika mereka sangat menghormati dan patuh terhadap gurunya. Mereka beralasan karena guru merupakan orang tua pengganti selama di sekolah”.

8. Apakah Anda mampu menerima perubahan menjadi lebih baik? “Semua responden menjawab jika mereka bisa merasakan perubahan menjadi lebih baik lagi setelah mendengarkan ceramah dari guru PAI”.

9. Apakah Anda mampu beradaptasi di setiap lingkungan yang baru?

“Semua responden menjawab jika mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan baru”.

10. Apakah Anda mampu menyelesaikan setiap masalah? Bagaimana caranya?

(62)

BAB IV PEMBAHASAN

A. Peran Guru PAI dalam Membina Kecerdasan Spiritual pada Siswa Kelas XI IPS Di SMA N 1 Bringin

(63)

Kecerdasan spiritual itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan ruh, semangat dan jiwa religius serta memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.

Di SMA N 1 Bringin ini, peran guru PAI sangat berpengaruh dalam kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS. Meskipun media dan metode yang diberikan setiap guru berbeda-beda tetapi tujuannya tetap sama. Di SMA N 1 Bringin peran guru dalam membina kecerdasan spiritual dengan memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa. Untuk meningkatkan kecerdasan spiritual siswa, guru PAI (JH), (AN), dan (IMR) juga mengajak siswa untuk bersama-sama membaca al Qur’an dan mengkaji kitab, khusus untuk perempuan mengkaji kitab tentang wanita bersama Ibu (IMR).

(64)

Biasanya guru PAI di SMA N 1 Bringin memberikan motivasi kepada siswa kelas XI IPS lewat gambaran masa depan, memberikan contoh lewat orang-orang sukses, dan memberikan gambaran bahwa disekolah ini adalah wujud nyata di masyarakat. Berdasarkan jawaban responden siswa kelas XI IPS, guru PAI memberikan banyak pengajaran mengenai hidup, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan lingkungan sekitar. Dengan diberikan motivasi seperti itu, siswa lebih bisa menerimanya. Hasil atau peningkatan setelah siswa kelas XI IPS diberikan motivasi sangat beragam dan lumayan berhasil, tetapi hasil tersebut tergantung pada masing-masing siswa.

Agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan maka (JH), (AN), dan (IMR) sesekali mengajak siswa kelas XI IPS untuk melaksanakan pembelajaran di luar kelas. Biasanya (JH), (AN), dan (IMR) mengajak siswa untuk belajar di taman, lapangan dan mushola sekolah. Akan tetapi, lebih sering melaksanakan pembelajaran di mushola, karena mushola tempat yang paling tenang jika digunakan untuk melaksanakan pembelajaran dan di mushola juga dirasa tempat yang cocok untuk memberikan pembinaan kecerdasan spiritual kepada siswa kelas XI IPS.

(65)

Contohnya kesadaran untuk melaksanakan sholat tepat waktu dan datang ke sekolah tepat waktu.

Dari pernyataan guru PAI dan siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin diketahui bahwa peran guru PAI sangat berpengaruh dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS. Secara perlahan-lahan siswa kelas XI IPS menjadi lebih terarah setelah mendapatkan motivasi/dorongan dari guru PAI lewat pendekatan hati dan bimbingan. Siswa kelas XI IPS juga lebih terbuka dengan guru PAI jika menemukan kesulitan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dan yang tepenting siswa kelas XI IPS lebih memiliki kesadaran dalam melaksanakan ibadah shalat wajib tepat waktu.

B. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Membina Kecerdasan Spiritual Siswa Kelas XI IPS Di SMA N 1 Bringin

Pada bagian ini penulis akan memberikan analisis tentang data hasil lapangan yang sudah di sampaikan pada bab sebelumnya kemudian mensingkronkan dengan teori-teori yang ada. Untuk memudahkan analisis, maka akan disusun sesuai dengan pokok masalah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMA N 1 Bringin, sebagai berikut:

(66)

Dalam proses pembinaan kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin pastinya tidak selalu berjalan mulus. Guru PAI sering menemui hambatan dalam membina kecerdasan spiritual siswa. Biasanya hambatan itu muncul dari lingkungan sekolah di SMA N 1 Bringin. Meskipun demikian, tetap ada faktor pendukung dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin ini. Adapun faktor penghambat dan pendukung dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS sebagai berikut:

(67)

spiritual siswa kelas XI IPS. (JH), (AN), dan (IMR) juga memberikan ekstra kulikuler rebana, BTQ dan Qiro’, dengan melibatkan siswa-siswinya yang berada di pondok pesantren untuk lebih mendalami ilmu keagamaannya. Akan tetapi ekstra kulikuler ini juga diperuntukkan bagi siswa-siswi yang berada di rumah. Dengan diadakannya ekstra kulikuler ini maka kecerdasan spiritual siswa juga akan bertambah. Untuk ekstra rebana ini sudah berjalan selama 3 (tiga) tahun dan setiap tahunnya siswa yang ikut serta dalam ekstra rebana juga bertambah.

Adapun faktor penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin ini bermacam-macam. Menurut (JH), selama beliau mengajar di SMA N 1 Bringin kurang lebih 12 tahun masih banyak hambatan yang ditemui dalam membina kecerdasan spiritual siswa. Hambatan tersebut antara lain:

1. Kurangnya sarana prasarana di sekolah. Misalnya di SMA N 1 Bringin sebelum memulai pelajaran PAI, siswa kelas XI IPS diajak untuk membaca 1 juz Al Qur’an dengan menyiapkan potongan juz dalam Al Qur’an. Akan tetapi, potongan juz yang disediakan oleh sekolah jumlahnya terbatas sehingga tidak semua siswa mendapatkan bagiannya dan siswa harus berkelompok agar bisa membaca bersama-sama.

(68)

anaknya. Ada orang tua yang bersikap cuek dengan sekolah dan kondisi anak. Sikap cuek orang tua inilah yang akhirnya mempersulit guru dalam memberikan pembinaan kecerdasan spiritual kepada siswa. Meskipun guru berusaha untuk mengarahkan siswa melaksanakan sholat tepat waktu dan membaca Al Qur’an, tetapi ketika sampai rumah orang tua tidak memberikan dukungan/motivasi tentang keagamaan maka semua itu tidak akan berhasil.

3. Kurang mampu mengatur waktu. Banyak siswa yang masih asyik dengan dunianya sendiri. Mereka masih senang menghabiskan waktunya untuk bermain daripada mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga waktu mereka terbuang dengan percuma.

(69)

Meskipun dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelaas XI IPS para guru PAI sering menemukan hambatan, akan tetapi mereka memiliki solusi untuk mengatasinya. Menurut (JH), solusi untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan melakukan pertemuan dengan sesama guru PAI. Dalam pertemuan tersebut akan membahas solusi yang tepat untuk membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Setelah menemukan solusi, maka proses pembinaan kecerdasan spiritual akan dilanjutkan.

Sedangkan menurut (AN), solusi untuk menghadapi hambatan tersebut dengan ikhlas, sabar, ntrimo, dan evaluasi terhadap diri sendiri. Evaluasi ini dimaksudkan untuk menemukan kesalahan guru dalam memberikan pembelajaran PAI terhadap siswa kelas XI IPS. Setelah melakukan evaluasi diri dan menemukan kesalahan, maka guru harus mengganti cara dalam menyampaikan materi PAI supaya siswa dapat menerima pembelajaran dengan baik.

(70)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pada bab sebelumnya, serta dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

(71)

2. Ada faktor pendukung dan faktor penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Faktor pendukung berasal dari sesama guru dan lingkungan sekolah. Dukungan dari sesama guru yaitu dengan mendukung kegiatan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah meskipun tidak semua guru di SMA N 1 Bringin ini beragama Islam, dan dengan menyediakan sarana prasarana yang mendukung proses pembinaan kecerdasan spiritual. Selain itu, dukungan dari lingkungan sekolah yaitu adanya pondok pesantren, dan adanya mushola sekolah yang dapat mendukung kegiatan pembinaan kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kurangnya sarana prasarana yang mendukung, kurangnya dorongan/motivasi dari orang tua tentang keagamaan, kurangnya kesadaran diri, dan kurangnya kemampuan siswa dalam membagi waktu.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa guru PAI sangat berperan dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Meskipun ada faktor penghambatnya akan tetapi guru PAI dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi siswa yang masih kesulitan dalam meningkatkan kecerdasan spiritualnya.

B. Saran-Saran

Dengan beberapa kesimpulan yang diperoleh dari analisis data, maka dapat diajukan beberapa harapan dan saran-saran sebagai berikut: 1. Kepada Guru PAI

(72)

Sebagai siswa harus selalu patuh dan taat, baik kepada orang tua maupun kepada gurunya serta selalu menghormati dan berbuat baik antar sesama siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar, 2001, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), Bandung: Arga.

Akhyak, M., 2007, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya. Arifin, M., 2009, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press.

Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,

Jakarta: Rineka Cipta.

Ati, Ayuning Mustika, 2008, Manajemen Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia. Azzet, Ahmad Muhaimin, 2010, Ilmu Akhlak, Bandung: Pustaka Setia.

Figur

Table 3.11. Identitas Sekolah
Table 3 11 Identitas Sekolah. View in document p.49

Referensi

Memperbarui...