Manajemen
LEMBAGA PENDIDIKAN
MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN
© Dra. Hj. Siti Farikhah, M.Pd; Temanggung, 2015
xii + 384 Halaman; 14,5 X 21 cm ISBN: 978-602-14834-0-4
Cetakan I: 2015
Penata Isi: lu_cy Desain Cover: Agung
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk fotokopi, rekaman dan lain-lain tanpa izin dari penerbit
Penerbit:
Aswaja Pressindo
Anggota IKAPI No. 071/DIY/2011 Jl. Plosokuning V No. 73 Minomartani, Ngaglik, Sleman Yogyakarta
Telp.: (0274) 4462377
e-mail: [email protected] [email protected]
Prof. Dr. H. Mansur, MA
Assalamu’alaikum wr.wb.
buku tentang manajemen lembaga pendidikan yang memaparkan manajemen pendidikan pada umumnya maupun pendidikan khusus yang bernuansa Islam.
Mudah-mudahan buku ini menjadi sebuah sumbangsih yang bermanfaat bagi para mahasiswa, guru, dan masyarakat pada umumnya yang peduli terhadap pendidikan anak bangsa. Semoga kehadiran buku ini akan memberi manfaat ganda. Pertama, akan diterima Allah SWT sebagai ilmu yang bermanfaat bagi penulis, akan tetap mendapatkan pahala walaupun sudah meninggal dunia. Kedua, diharapkan akan dapat diterima sebagai sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan . Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya yang masih ditemui dalam buku ini, tidak akan mengurangi maksud dan tujuan awal dari penulis, dan sekali lagi semoga bermanfaat dan mendapatkan ridla Allah SWT. Amin.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salatiga, Januri 2015
Prof.Dr.H. Mansur, M.A.
PENGANTAR PENULIS
S
yukur kehadirat Allah SWT yang telah memercikkan setetes dari keluasan lautan ilmu-Nya, sehingga penulisan buku Manajemen Lembaga Pendidikan ini dapat diselesaikan.Buku ini merupakan salah satu sarana ikhtiar membantu para mahasiswa dalam menempuh mata kuliah Manajemen Lembaga Pendidikan yang disusun berdasarkan silabi yang ada dan pengembangannya yang disesuaikan dengan pendidikan kekinian.
Pengembangan lembaga pendidikan memerlukan seni dan ilmu tersendiri. Sehingga objek kajian manajemen pendidikan sangat penting dipelajari secara sistematis dan mendalam untuk selanjutnya diimplementasikan dalam aktivitas dan proses pendidikan, baik dalam lembaga pendidikan secara umum maupun lembaga-lembaga pendidikan yang lainnya.
pendidikan dan bidang garapan manajemen pendidikan yang merupakan dapur intinya yang terdiri dari 8 (delapan) bidang garapan manajemen pendidikan di sekolah. Bagian ketiga membahas fungsi-fungsi manajemen dimana didalam pengelolaan lembaga pendidikan terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. Pada bagian keempat mengupas kewenangan lembaga pendidikan untuk mengembangkan aktivitas pendidikan yang lebih akuntabel melalui Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu suatu program pengembangan lembaga pendidikan dan peningkatan mutu sekolah dengan merumuskan sistem pendidikan yang berbasis pada kultur masyarakat dan muatan lokal diwilayah tertentu. Bagian kelima mengkaji peran dan pentingnya keberadaan pemimpin atau manajer dalam suatu lembaga pendidikan. Bagian keenam, memaparkan suatu terobosan untuk memaksimalkan daya saing organisasi melalui TQM, yaitu manajemen mutu terpadu, merupakan salah satu pilihan yang tepat dalam pengelolaan lembaga pendidikaan saat ini. Dalam teori ini menawarkan manajemen perbaikan terus-menerus meliputi produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan.
Pada bagian ketujuh, delapan dan sembilan, memfokuskan pada kajian lembaga pendidikan bernuansa Islam meliputi pendidikan Islam diera globalisasi dan pengelolaan pendidikan di madrasah maupun pesantren.
Sedangkan pada bagian kesepuluh dan sebelas, menguraikan pengelolaan perpustakaan sekolah. Dalam hal ini bertujuan memberikan bekal kepada calon guru maupun guru agar terampil mengelola perpustakaan sekolah.
Wiji Suwarno, S.PdI,MSi yang telah memberikan sumbangan pemikiran dalam manajemen pengelolaan perpustakaan dan semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu persatu, tidak lain penulis ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya dan doa, semoga Allah SWT memberi berkah atas amal usahanya. Amin.
Karya ini penulis persembahkan sepenuhnya untuk keluarga tercinta, khususnya Drs.H.Ibnu Maksum Jaiz,MPd (suami) sebagai mitra diskusi yang kritis dan tajam serta anak-anakku Ikhma Novia Ummi Hana dan M.Irfan N.Fajar Albana yang menjadi sumber inspirasi dan tumpuan harapan penulis. Akhirnya, ada secercah harapan yang senantiasa digantungkan, yaitu mudah-mudahan buku ini dapat memberikan sedikit sumbangan berharga bagi pengembangan pendidikan, terutama sebagai bekal mengelola pendidikan bagi calon guru maupun guru yang sudah bertugas. Apresiasi dalam bentuk kritik dan saran sangat penulis harapkan demi penyempurnaan buku ini.
Halaman
Pengantar Prof. Dr. H. Mansur, MA... iii
Pengantar Penulis...vi
Daftar Isi... ix
BAB I KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN... 1
A. Pengertian Manajemen Pendidikan ... 1
B. Urgensi Manajemen Pendidikan ... 5
C. Model Manajemen Dalam Pendidikan ... 8
D. Prinsip-prinsip Manajemen ... 18
E. Perkembangan Teori Manajemen ... 22
F. Isu-isu Manajemen Pendidikan ... 30
BAB II RUANG LINGKUP MANAJEMEN PENDIDIKAN.. 34
A. Obyek Kajian Manajemen Lembaga Pendidikan .... 34
B. Bidang Garapan Manajemen Pendidikan ... 36
1. Manajemen Peserta Didik ... 37
2. Manajemen Kurikulum ... 55
5. Manajemen Pembiayaan Pendidikan ... 91
6. Manajemen Tata Usaha (Tata Laksana) Pendidikan ... 100
7. Manajemen Humas ... 107
BAB III PELAKSANAAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN... 119
A. Perencanaan ... 120
B. Struktur Organisasi dan Job Description ... 125
C. Komunikasi dan Koordinasi ... 131
D. Pengawasan dan Pengendalian ... 132
E. Pengambilan Keputusan dan Pemecahan Masalah 137 BAB IV MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) ... 145
A. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ... 145
B. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) .. 149
C. Sasaran dan Strategi Peningkatan Kualitas Melalui MBS ... 153
D. Kendala-kendala Penerapan MBS ... 158
E. Indikator Keberhasilan Penerapan MBS ... 160
BAB V KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ... 161
A. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan ... 161
B. Pendekatan Kepemimpinan... 165
C. Fungsi Kepemimpinan ... 169
D. Gaya Kepemimpinan ... 177
BAB VI
TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)
DALAM PENDIDIKAN... 208
A. Konsep Total Quality Management ... 208
B. Prinsip Total Quality Management ... 222
C. Penerapan TQM Dalam Pendidikan ... 226
D. Pemimpin Pendidikan Dalam Manajemen Mutu . 233 BAB VII PENDIDIKAN ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI... 237
A. Arti Pentingnya Pendidikan Islam ... 237
B. Globalisasi dan Tantangan Pendidikan Islam ... 241
C. Peran Pendidikan Islam di Era Globalisasi ... 246
D. Pentingnya Peningkatan Kualitas Pendidikan Islam ... 249
E. Perlunya manajemen dalam Lembaga Pendidikan Islam ... 252
F. Kepemimpinan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Era Globalisasi ... 257
BAB VIII MANAJEMEN DI LEMBAGA PENDIDIKAN MADRASAH... 261
A. Keberadaan Madrasah dari Berbagai Pandangan .. 261
BAB IX
MANAJEMEN DI LEMBAGA PENDIDIKAN
PESANTREN... 275
A. Makna Pesantren ... 275
B. Perencanaan dalam Pendidikan Pesantren ... 281
C. Pengorganisasian dalam Pendidikan Pesantren .... 303
D. Kepemimpinan dalam Pendidikan Pesantren ... 305
E. Pengendalian dalam Pendidikan Pesantren ... 306
F. Lembaga Pendidikan Pesantren Sub Sistem Pendidikan Islam ... 307
BAB X MANAJEMEN PERPUSTAKAAN... 322
A. Konsep Dasar Perpustakaan ... 322
B. Perpustakaan Sebagai Sumber Daya Informasi .... 324
C. Antara Perpustakaan, Lembaga Pendidikan dan Informasi ... 325
D. Pengertian Perpustakaan ... 326
E. Fungsi Perpustakaan ... 330
BAB XI PENGELOLAAN BAHAN PUSTAKA JENIS BUKU... 332
A. Pengadaan Bahan Pustaka ... 332
B. Pengolahan Bahan Pustaka ... 334
DAFTAR PUSTAKA... 377
KONSEP DASAR MANAJEMEN
PENDIDIKAN
A. Pengertian Manajemen Pendidikan
Istilah manajemen mempunyai konotasi dengan kata pengelolaan maupun administrasi. Kata pengelolaan merupakan terjemahan dari management dalam bahasa Inggris,tetapi secara substansif belum mewakili, sehingga kata management dibakukan dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen. Sedangkan kata administrasi apabila ditinjau dari penggunaannya lebih condong pada konteks ketatalaksanaan pendidikan; istilah manajemen lebih sering digunakan dalam konteks pengelolaan pendidikan, seolah-olah menggantikan istilah administrasi setelah munculnya gerakan manajemen berbasis sekolah.
kepustakaan secara umum ada kecenderungan manajemen merupakan bagian dari administrasi.Manajemen mengacu pada hal-hal yang bersifat tehnis, sehingga ada istilah manajerial tehnis.Keterampilan-keterampilan manajerial tehnis merupakan hal-hal mendasar yang memperkuat kegiatan administrasi yang dilakukan oleh administrator, meliputi perencanaan,pengorganisasian,pelaksanaan dan pengendalian.
Pada kenyataannya penerapan kedua istilah tersebut tidak konsisten, buktinya lembaga pemerintah seperti BUMN dan BUMD menggunakan istilah manajer untuk pemimpinnya (Husaini, 2008). Sebenarnya para pakar pendidikan sekaligus penggagas manajemen pendidikan sudah menetapkan bahwa istilah manajemen pendidikan merupakan pengganti administrasi pendidikan karena dianggap mempunyai nilai komersial dan lebih bergengsi. Oleh karenanya istilah manajemen pendidikan lebih banyak digunakan dari pada istilah administrasi pendidikan.
Robbins (1996: 8) mengemukakan bahwa manajemen adalah proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan kegiatan kerja agar diselesaikan secara efektif dan efisien melalui orang lain. Sedangkan Jonshon dalam Made Pidarta (1998: 15) memberikan definisi manajemen hampir sama dengan pendapat Robbins,yaitu proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total mencapai tujuan.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen mempunyai makna sebagai suatu proses kegiatan yang melibatkan sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Dalam manajemen terkandung unsur (1) proses kegiatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan kontrol, (2) sekelompok orang yang bekerja sama di dalam maupun di luar organisasi, (3) tujuan, bermaksud pencapaian sasaran yang ditargetkan, dan (4) efektif dan efisien mempunyai maksud bahwa efektif yaitu kuantitas pencapaian hasil yang diharapkan, sedangkan efisien memiliki arti sesuatu yang dikeluarkan dalam rangka pencapaian tujuan, bisa berupa biaya,barang maupun waktu,sehingga semakin sedikit biaya yang dikeluarkan berarti semakin efisien.
Mengacu pada pesan Undang-undang Sisdiknas tentang pendidikan tersebut, maka dalam operasionalisasinya diperlukan manajemen yang solid dalam rangka mencapai tujuannya, yaitu manajemen pendidikan.
Tilaar (2004: 4) mengartikan manajemen pendidikan sebagai suatu kegiatan yang mengimplikasikan adanya perencanaan atau rencana pendidikan serta kegiatan implementasinya. Manajemen pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. (Hartani, 2011: 8). Selanjutnya dikemukakan bahwa sumber daya pendidikan yang dimaksud adalah sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk sumber daya manusia, sumber daya finansial maupun sumber daya material, termasuk didalamnya informasi dan teknologinya. Sedangkan Mulyasa (2003: 20) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan adalah proses untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Suryosubroto memberikan definisi hampir senada dengan pendapat sebelumnya bahwa manajemen pendidikan adalah sebagai proses untuk mencapai tujuan pendidikan dimana proses tersebut meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,pemantauan dan penilaian. (2004: 16).
Merujuk dari beberapa pendapat tentang manajemen pendidikan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa makna manajemen pendidikanadalah suatu proses pengelolaan sumberdaya pendidikan baik personal maupun material secara sistematis dan kontinuitas sebagai upaya pencapaian tujuan pendidikan dengan cara efektif dan efisien.
pendidikan, karena tidak semua kegiatan pencapaian tujuan pendidikan adalah manajemen pendidikan.Manajemen pendidikan lebih menyangkut kemampuan mengendalikan kegiatan operasionalisasi pendidikan.Sedangkan pendidikan itu sendiri suatu program dalam lembaga pendidikan yang didalamnya terjadi proses mempengaruhi, memotivasi kreatifitas peserta didik dengan menggunakan alat-alat pendidikan, metode, media, sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam melaksanakannya. Sehingga manajemen pendidikan dapat dipahami sebagai pelayanan atau pengabdian terhadap pendidikan, karena pada dasarnya manajemen pendidikan berhubungan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian dalam tugas penyelenggaraan pendidikan.
B. Urgensi Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan pada hakekatnya merupakan proses kerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, sehingga keberadaannya menjadi sangat penting dalam mengelola program pendidikan. Dengan adanya kerja sama diantara personal lembaga pendidikan, maka akan memudahkan pelaksanaan kegiatannya. Demikian pula dalam menempatkan seseorang disesuaikan dengan profesi dan keahliannya (the right man in the right place). Sebagai contoh, pada jenjang pendidikan tinggi dosen mengampu mata kuliah yang bukan keahliannya. Hal itu berarti manajemen pendidikan pada lembaga pendidikan itu kinerjanya buruk, sehingga tujuan pendidikan tidak tercapai dengan baik.
sehingga tujuan pendidikan akan tercapai secara optimal. Dan tujuan pendidikan akan mudah diraih apabila diterapkan manajemen pendidikan yang baik, sehingga perlu dilaksanakan fungsi manajemen dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menempatkan personalia pendidikan sesuai keahliannya. 2. Mempersiapkan biaya pendidikan yang memadai.
3. Menerapkan metode pendidikan yang tepat. 4. Menyediakan alat-alat pendidikan yang memadai. 5. Mempersiapkan sarana dan prasarana yang efektif. 6. Mengintegrasikan proses pendidikan antara teori dan
praktek.
7. Menerapkan desain pembelajaran sesuai dengan lingkungan obyek pendidikan.
8. Sistem kontrol yang melekat terhadap tugas dan fungsi kelembagaan secara internal maupun eksternal.
9. Mempersiapkan daya serap pasar yang baik bagi lulusan lembaga pendidikan. (Hikmat, 2009: 26).
rendahnya kualitas pendidikan. Manajemen menyangkut efisiensi dalam pemanfaatan sumber yang ada, sehingga masih lemahnya manajemen pendidikan menunjukkan sistem pendidikan masih belum efisien. (2004: xii).
Berdasarkan pada pemikiran tersebut dapat ditarik benang merah bahwa sistem pendidikan tidak hanya membutuhkan konsep-konsep manajemen pendidikan yang mantap, tetapi juga memerlukan manajer-manajer pendidikan yang handal, mempunyai pengetahuan dan pengalaman luas yang secara sistematis bisa dikembangkan dan diterapkan dalam situasi dan kondisi sosial ekonomi negara yang beraneka ragam. Oleh karenanya, studi tentang manajemen pendidikan menjadi sangat penting dengan alasan sebagai berikut:
1. Manajemen lembaga pendidikan merupakan bagian dari usaha mencapai tujuan pendidikan.
2. Pelaksanaan kepemimpinan dalam kependidikan merupakan upaya mengintegrasikan aktifitas pendidikan agar semua kegiatan dapat dikendalikan dengan baik. 3. Pengembangan profesionalitas merupakan bagian dari
proses pengembangan sumberdaya manusia yang akan mendorong laju perkembangan dan pertumbuhan pendidikan yang lebih optimal dan efektif bagi seluruh aktivitas akademik.
4. Kerjasama secara internal maupun eksternal merupakan proses mempermudah tercapainya tujuan pendidikan. 5. Fokus kinerja dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan
strategi untuk meraih target pendidikan bagi semua peserta didik.
dapat dirumuskan perencanaan yang lebih baik di masa depan (Hikmat, 2009: 25).
7. Kebutuhan masyarakat sudah semakin tinggi taraf pendidikannya,maka sudah saatnya diperlukan pendidikan para manajer pendidikan dan pelatihan yang professional serta terbuka kemungkinan direkrutnya pimpinan lembaga pendidikan dari para manajer perusahaan. Karena pendidikan dalam dunia industry modern merupakan suatu industri tersendiri,sehingga perlu dikelola para manajer (perusahaan) yang professional yang tentu saja mempunyai kompetensi bidang pendidikan (Tilaar, 2004: 182).
C. Model Manajemen Dalam Pendidikan
Dalam prakteknya, melakukan manajerial dapat menggunakan kemampuan atau keahlian dengan mengikuti alur atau prosedur keilmuan secara ilmiah danada pula karena berdasarkan pengalaman dengan lebih menonjolkan kekhasan dalam mendayagunakan kemampuan orang lain. Pada hakekatnya model-model manajemen dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi termasuk lembaga pendidikan; akan tetapi setiap lembaga atau organisasinya. Made Pidarta (2004: 26) mengemukakan kajian model manajemen berdasarkan perspektif tujuan dan tinjauannya, sebagai berikut:
1. Management By Objective,manajemen berdasarkan sasaran atau tujuan yang akan dicapai, ciri-cirinya adalah:
a. Semua aktivitas manajerial diarahkan pada tujuan yang telah ditetapkan
c. Pengembangan sumber daya manusia sebagai upaya meningkatkan kualitas personal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sehingga tujuan dapat dicapai dengan lebih baik dan optimal.
d. Sasaran yang dituju telah disepakati oleh seluruh anggota organisasi
e. Kerjasama diciptakan untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan agar tujuan tercapai dengan sebaik mungkin f. Hasil yang dicapai dievaluasi dengan ukuran utama
tujuan yang telah ditentukan.
g. Hasil evaluasi dijadikan sandaran perencanaan berikutnya.
h. Mengutamakan kontinuitas kerja organisasi
i. Dilakukan penjabaran terhadap tujuan agar memudah-kan pencapaiannya
j. Fungsi-fungsi utama manajemen dianalisis secara rasionaldan kondisional guna tercapainya tujuan. k. Organisasi dikelola secara sinergis.
l. Seluruh anggota meningkatkan profesionalitas kerja. m. Pelaksanaan kegiatan didasarkan pada jenis-jenis
tujuan dan lama waktu yang dibutuhkan.
n. Manajer bertindak sebagai pengarah dan pembina seluruh pelaksana kegiatan organisasi.
o. Konsep tentang tujuan organisasi dirumuskan secara strategis dan berkesinambungan.
tujuan terdiri atas: (1) tujuan strategis (strategic goals); (2) tujuan taktis (tactical goals) dan (3) tujuan operasional (operational goals).
q. Seluruh manajemen secara terus – menerus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja yang diterapkannya.
r. Diharapkan tidak ada kegiatan yang menyimpang dari sasaran .
s. Memperbaiki sesegera mungkin terhadap pelaksanaan kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan.
t. Dalam melaksanakan kegiatan bersifat fleksibel terhadap perubahan situasi dan kondisi agar sasaran tetap dapat dicapai dengan baik.
u. Mementingkan adaptabilitas terhadap jenis-jenis tugas yang diemban serta mengutamakan pendekatan yang rasional, kondisional, dan akomodatif.
v. Pembuatan jadwal yang teratur dan sistematis. w. Penganggaran biaya yang terukur dan memerhatikan
kemampuan finansial organisasi.
x. Kritis terhadap perkembangan situasi dan kondisi. y. Menyiasati keadaan yang kadangkala bersifat tidak
menentu.
yang menerapkan manajemen sasaran juga harus selalu membuat persamaan program organisasi sesuai dengan struktur unit kerja yang ada.Program kerja perlu dirumuskan oleh bidang – bidang yang menangani urusan tertentu dengan skala prioritas.
Selanjutnya tahap-tahap yang harus dilaksanakan dalam manajemen berdasarkan sasaran adalah sebagai berikut : a. Menentukan strategi pelaksanaan kegiatan secara target. b. Menentukan sasaran dengan pertimbangan prioritas yang
bebeda-beda.
c. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
d. Menentukan rencana tindakan dalam bentuk kalender kegiatan yang sistematis.
e. Menentukan standar operasional kerja yang efektif dan efisien didasarkan pada kemampuan dana organisasi. f. Menentukan standar evaluasi kinerja personalia sesuai
dengan tugas dan kewajibannya.
g. Melaksanakan pembahasan dan diskusi tentang program kerja dan berbagai strategi pelaksanaan kegiatan.
h. Menentukan penempatan para pegawai secara hierarkis sesuai dengan kedudukan, tugas dan kewajibannya, serta wewenannya masing-masing.
i. Melakukan evaluasi terhadap seluruh strategi pelaksanaan kegiatan dan strategi pencapaian sasaran program. j. Melaksanakan review secara berkala guna meningkatkan
relevansi antara strategi dengan tujuan yang hendak dicapai.
l. Merencanakan sasaran lanjutan berdasarkan hasil evaluasi yang kemudian dibentuk program kerja berikutnya. m. Menentukan tahapan pelaksanaan lanjutan.
2. Manajemen Berdasarkan Struktur
Struktur adalah organisasi, jadi strukturalisasi adalah mengorganisasikan personalia dalam kedudukan, wewenang, jabatan, pangkat, tanggung jawab, dan semua hal yang melekat pada personal yang duduk dalam struktur tertentu, sehingga ada perbedaan (misalnya insentif) antara struktur yang satu dengan lainnya.
Jadi manajemen berdasarkan struktur menekankan pada pandangan bahwa organisasi adalah struktur personalia. Oleh karena itu, dalam lembaga pendidikan, pelaksanaan manajerialnya disesuaikan dengan struktur yang ada mulai dari struktur yang paling atas (pejabat) sampai pada bawahan-bawahannya. Sehingga tugas dan fungsi pejabat struktural sudah diatur secara organisatoris dan hierarkis. Dalam penempatan struktur secara hierarkis, mempunyai maksud bahwa setiap struktural memiliki tingkatan-tingkatan mulai dari pangkat, jabatan yang akhirnya berpengaruh pada besar kecilnya wewenang dan tanggungjawab masing-masing jabatan struktural (Johnson et.al, 1973: 32). Penempatan struktur juga selalu berkaitan erat dengan keahlian, pengalaman, pendidikan, dan karier yang dicapai oleh para personalia organisasi.
Adapun karakteristik model manajemen dengan pendekatan struktural adalah sebagai berikut:
a. Tugas individu jelas b. Jabatan jelas
d. Deskripsi tugas dan kegiatan yang jelas sesuai dengan spesifikasinya yang terperinci bagi masing – masing petugas.
e. Hubungan antar unit dan antar tugas yang jelas (David Evans, 1981: 241)
3. Manajemen Berdasarkan Teknik
Model manajemen berdasarkan teknik yaitu mengelola organisasi atau lembaga yang mengacu pada teknik operasional. Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam manajemen teknik kinerja organisasi ialah penguasaan teknik-teknik yang akan diterapkan dan semua fasilitas untuk menerapkan teknik juga telah disediakan. Tahap-tahap pelaksanaan manajemen berdasarkan teknik adalah sebagai berikut:
a. Membahas semua rancangan kegiatan
b. Menempatkan dan menugaskan personal yang akan melakukan kegiatan.
c. Mempersiapkan sarana dan prasarana serta alat-alat yang membantu pelaksanaan kegiatan.
d. Melatih personal untuk meningkatkan keterampilan teknisnya.
e. Mengembangkan kerjasama di seluruh pelaksana teknis kegiatan.
4. Manajemen Berdasarkan Personal Organisasis
besar kepada bawahannya atau personalia yang ada. Hal ini beralasan bahwa setiap pemimpin berusaha agar mereka yang menjadi bawahannya mau bekerja dengan baik dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya.Pada kenyataannya menunjukkan bahwa pemimpin itu mem-peroleh hasil-hasilnya melalui bawahan-bawahannya sehingga pemimpin semakin memberikan perhatian yang besar kepada bawahannya, bagaimana usaha agar para bawahan itu memberikan prestasi- prestasinya yang besar dalam merealisasi tujuan organisasi.
Adanya perhatian yang besar yang dicurahkan pada bawahannya tersebut, membuktikan bahwa nyata-nyata masalah kepegawaian dalam setiap lembaga atau organisasi merupakan fungsi pemimpin yang tidak dapat dielakkan. Tay-lor sendiri, dikenal sebagai bapak “scientific management” berpendapat bahwa salah satu “duties of management” ialah memilih pekerja yang terbaik untuk setiap tugas tertentu dan selanjutnya melatih dan mendidiknya (1961: 2-3).
Dengan uraian tersebut, jelaslah bahwa masalah personalia merupakan fungsi setiap manajer atau pemimpin dalam setiap lembaga tanpa menjadi masalah tingkat pimpinannya. Ciri–ciri manajemen dengan pendekatan personalia adalah sebagai berikut :
a. Membangun hubungan horizontal dengan seluruh personil organisasi.
b. Merencanakan tenaga kerja
c. Membangum komunikasi dan memotivasi kerja seluruh personal organisasi
e. Menciptakan iklim kepegawaian yang dinamis dan kepemimpinan yang ideal.
f. Mengurus pangkat dan peningkatan tunjangan, insentif, dan gaji pegawai.
g. Menilai prestasi kinerja personal organisasi.
h. Mengumumkan seluruh berita yang berhubungan dengan kepegawaian tepat waktu.
i. Memberikan pengarahan, saran, dan petunjuk yang benar tentang tata cara pengurusan jabatan dan pangkat pegawai j. Menunjukkan sikap adil dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya yang menyangkut masa depan para pegawai. (Hikmat, 2009: 37)
5. Manajemen Berdasarkan Informasi
Informasi memberikan wacana yang baik bagi masa depan organisasi (Johnson,1993: 109). Demikian pula dikatakan oleh Shrode (1974 : 448) bahwa informasi merupakan agen yang menopang kehidupan organisasi.
didukung oleh kemajuan teknologi menjadikan lembaga (pendidikan) semakin tak terbatas. Informasi ilmu pengetahuan yang diperoleh peserta-peserta didik di sekolah menjadi tidak bermakna apabila tidak diiringi oleh kemampuan untuk menyerap dan menerapkan teknologi pendidikan.
6. Manajemen Berdasarkan Lingkungan
1. Model Manajemen Formal, yaitu model manajemen yang dalam struktur organisasi menekankan pentingnya struktur hierarkis. Pengambilan keputusan diatur pemimpin, dan tertutup terhadap lingkungan luar. Sistem terbuka diterapkan hanya untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk merespon kebutuhan komunitas, untuk menarik klien baru, sehingga menciptakan image yang positif.
2. Model Manajemen Kebersamaan (Collegial), adalah model manajemen yang cenderung fokus pada hubungan lateral antar orang-orang profesional yang memiliki otoritas keahlian. Pengambilan keputusan ataupun penetapan tujuan ditentukan dalam sebuah kerangka kerja partisipa-toris berdasarkan kesepakatan.
3. Model Manajemen Politis, yaitu model manajemen yang memandang bahwa struktur organisasi bisa dijadikan dasar untuk melawan dan modal bersaing dengan lawan politiknya. Pengambilan keputusan dengan cara konflik dan hubungan lingkungan tidak stabil.
4. Model manajemen subjektif, adalah model manajemen yang lebih menekankan aspek kualitas personal individu daripada posisinya dalam struktur organisasi. Penentuan tujuan ditetapkan secara subjektif, sehingga sering timbul permasalahan dari pimpinan, karena disebabkan oleh pemaknaan oleh individu tersebut.
5. Model Manajemen Ambigu, ialah model manajemen dengan tujuan tidak jelas, status struktur organisasi bermasalah dan hubungan dengan lingkungan juga kabur, sehingga selalu terjadi pergolakan dalam organisasi.
seorang pimpinan menerapkan tipe-tipe atau gaya kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi kondisi ; demikian pula dalam mengaplikasikan model manajemennya. Namun tentunya lebih mengutamakan sistem manajerial yang bersifat manusiawi.Karena dalam lembaga pendidikan, manusia adalah objek kajian utama.Eksistensi manusia bukan hanya ikut serta membangun sistem pendidikan yang baik, tetapi lebih dari itu, manusia menciptakan dan menentukan sistem pendidikan yang terpadu.
D. Prinsip – prinsip Manajemen
Prinsip – prinsip pengelolaan dalam manajemen menurut Hikmat (2009:41) ada 5 (lima) yaitu:
1. Prinsip Efisiensi dan Efektifitas
Efisiensi merupakan teknik atau cara membuat sesuatu dengan benar (doing things right) yang menekankan pada perbandingan antara input atau sumber daya dengan output. Jadi kegiatan dikatakan efisien apabila tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan sumber daya yang minimal.Sumber daya yang dimaksud berkaitan dengan tenaga, biaya dan waktu.
Sedangkanefektifitas berkaitan dengan keberhasilan tujuan organisasi, dimana kenyataan hasil yang diperoleh sesuai dengan hasil yang diharapkan. Kajian efektifitas meliputi: (1) masukan yang merata; (2) kuantitas dan kualitas keluaran yang tinggi; (3) ilmu dan keluaran yang relevan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun (4) pendapatan tamatan yang memadai (Engkoswara, 2011: 90) 2. Prinsip Pengelolaan
dan kontrol. Apabila seorang manajer melakukan tahap-tahap tersebut dalam kegiatannya, maka akan mudah meraih tujuan dengan baik.
Tahap perencanaan mengacu pada visi dan misi organisasi, kemudian disusun program yang sistematis, berdasarkan pada skala prioritas untuk program jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Pelaksanaan program tersebut sering berkaitan dan menunjang dalam mencapai tujuan. Dengan demikian program jangka pendek dilakukan sebagai bagian awal dari program jangka menengah, sedangkan pelaksanaan program jangka menengah dilaksanakan sebagai awal menujuprogram jangka panjang.
Tahap pengorganisasian merupakan bagian tugas manajer, dimana program kerja yang ada diorganisir sesuai dengan perencanaan, sehingga akan nampak hubungan antar program tersebut. Dengan demikian, pada tahap-tahap pelaksanaan, efisiensi dan efektifitas dapat diterapkan dan diarahkan pada tujuan yang diterapkan. Selanjutnya pada tahap pengawasan dan evaluasinya akan mudah terlaksana, sehingga dapat meminimalisir faktor resiko kegagalan pelaksanaan program.
3. Prinsip Pengutamaan Tugas Pengelolaan
4. Prinsip Kepemimpinan Efektif
Seorang pemimpin harus bisa mengembangkan hubungan yang baik dengan semua anggotanya dan pandai merealisasikanhuman relationship.Sehingga kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan yang dipegang oleh seorang pemimpin yang memiliki kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, tegas, lugas, hemat waktu dan berkualitas.
Dengan demikian, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengingatkan dan menyarankan, bukan menyalahkan anggota ; dan anggota yang baik tidak pernah protes dan gusar kepada pimpinan, tetapi meluruskan dan menyadarkan dalam konteks profesionalitas dan hubungan fungsional yang terkait dalam upaya mencapai tujuan.
5. Prinsip Kerjasama
Prinsip Kerjasama merupakan pemberian struktur dalam penyusunan atau penempatan personal, kegiatan-kegiatan, materiil dan ide-ide di dalam struktur organisasi tersebut. Dalam operasionalisasinya ada pemberian tugas, wewenang dan tanggungjawab berdasarkan profesionalitas, sehingga kerjasama di antara karyawan berjalan sinergis dan mempermudah tugas organisasi.
Selanjutnya, ditegaskan bahwa secara umum organisasi memiliki prinsip-prinsip dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Memiliki tujuan yang jelas.
b. Tiap anggota bisa memahami dan menerima tujuan. c. Adanya kesatuan arah, termasuk kesatuan tindakan dan
pikiran.
d. Adanya kesatuan perintah.
f. Pembagian tugas sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan bakat masing-masing, sehingga kerjasama menjadi harmonis dan kooperatif.
g. Pola organisasi relatif permanen dan struktur organisasi sederhana sesuai kebutuhan, koordinasi, pengawasan dan pengendalian.
h. Adanya jaminan keamanan dalam bekerja.
i. Gaji atau insentif sesuai dengan jasa atau pekerjaannya. j. Garis kekuasaan dan tanggung jawab serta hierarki tata
kerjanya jelas tergambar dalam struktur organisasi. (Ngalim Purwanto dalam Hikmat: 21)
Dalam praktiknya, lembaga pendidikan sebagai bentuk institusi yang memadukan berbagai kepentingan yang diarahkan pada tujuan tertentu, sering terjadi konflik kepentingan dan kinerja organisasi. Hal ini ditemui misalnya pada faktor perbedaan keahlian, tugas dan kewajiban. Sehingga dalam suatu organisasi diperlukan suatu prinsip yang memiliki esensi bahwa manajemen dalam ilmu dan praktiknya harus memperhatikan tujuan, orang- orang, tugas-tugas dan nilai-nilai. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Douglass (1963 : 13) yang merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan sebagai berikut: a. Mengutamakan tujuan organisasi daripada kepentingan
pribadi dan mekanisme kerja.
b. Mengkoordinasikan wewenang dan tanggungjawab. c. Memberikan tanggung jawab pada personal sekolah
hendaknya sesuai dengan sifat–sifat dan kemampuannya. d. Memahami dengan baik faktor-faktor psikologis manusia. e. Relatifitas nilai-nilai.
lembaga pendidikan mengelola sistem pendidikan yang terpadu. Dalam hal ini manajemen lembaga pendidikan berkaitan dengan psikologi pendidikan karena membicarakan potensi motivasi kerja dan kepribadian seluruh pelaku pendidikan, termasuk guru, peserta didik dan sebagainya. Demikian pula berkaitan dengan sosiologi pendidikan, karena berbicara tentang sistem kerjasama secara terpadu dalam satu sistem kependidikan yang berhubungan dengan masyarakat. Misalnya peserta didik berhubungan dengan orang tuanya, orang tua berhubungan dengan sekolah, dengan lingkungan-nya, dengan orientasi pendidikannya dalam mewujudkan harapan anak- anaknya yang berhubungan dengan pendidikan, dan sebagainya.
E. Perkembangan Teori Manajemen
Sejarah perkembangan teori manajemen terdiri dari 3 (tiga) fase, yaitu:
1. Fase Pra Sejarah (sebelum tahun 1 Masehi)
Cicero menciptakan buku berjudul”De Offici” (The Office) dan De Legibus (The Law).Yunani Kuno dengan konsep demokrasinya, bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat. 2. Fase Sejarah (Tahun 1 Masehi sampai dengan 1886)
Berawal dari sumbangan gereja Katholik Roma yang telah memiliki ajaran suci dan kerapian organisasi. Zaman ini telah muncul tokoh-tokoh pengembangan manajemen, diantaranya adalah George Van Zincke yang menulis karya ilmiah di antaranya tentang manajemen pertanian. Revolusi Industri di Inggris juga mempengaruhi sistem manajemen secara luas.James Watt yang menemukan mesin uap, ikut andil dalam percepatan resolusi tersebut.
3. Fase Modern
Fase ini diawali tahun 1886, dimana manajemen dipandang sebagai ilmu pengetahuan, sedangkan pada fase pra sejarah dan fase sejarah, manajemen dikenal sebagai seni. Sejarah perkembangan manajemen sebagai ilmu, semakin melejit setelah munculnya aliran-aliran teori manajemen. Engkoswara (2010 : 96-99) memberikan gambaran pemikiran manajemen sebagai praktik yang berlandaskan konsep teori sesuai dengan aliran-aliran ilmu manajemen pada kurun waktu tertentu.
1. Teori Manajemen Ilmiah (Scientific Management Theory)
Frederick W. Taylor menulis buku berjudul “Scientific Management” sehingga dikenal sebagai “Bapak Manajemen Ilmiah”.Sebagai penggagas prinsip dasar manajemen, menjelaskan secara ilmiah bahwa perlu ada metode untuk melaksanakan tugas, menyeleksi, melatih dan memotivasi pekerja dengan teknik tertentu untuk mencapai efisiensi. Teknik yang digunakan untuk melaksanakannya adalah dengan studi gerak dan waktu(time and motion studi), maksudnya menganalisis dan mengukur waktu dari gerakan-gerakan pekerja dalam melakukan serangkaian pekerjaan. Taylor juga menerapkan sistem tarif berbeda, yaitu karyawan yang lebih produktif dan efisien mendapat upah lebih besar dari lainnya dengan tujuan memperbaiki metode kerja karyawan.
Prinsip dasar yang dirumuskan Taylor ada (empat), yaitu:
a. Pengembangan teori manajemen ilmiah dapat disam-paikan untuk menentukan metode dalam mencapai tujuan.
b. Seleksi karyawan dilakukan secara ilmiah, sehingga tugas dan tanggung jawabnya sesuai keahlian.
c. Pendidikan dan pengembangan karyawan.
d. Hubungan yang harmonis antara manajemen dan karyawan.
Kadariman dkk dalam Hikmat (2009:85) menambah-kan, bahwa masih ada tokoh-tokoh manajemen ilmiah lain menyumbangkan pemikiran-pemikirannya, antara lain:
• Robert Owen, mengemukakan bahwa peningkatan
kondisi kerja dapat meningkatkan produksi dan keuntungan. Oleh karenanya dasar terpenting adalah pekerja sebagai mesin utama dalam proses produksi.
• Charles Babbage, menjelaskan bahwa penerapan
prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja akan meningkatkan produktivitas dan hemat biaya. Pekerja bisa dilatih keterampilan tertentu dengan pembagian kerja dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya sesuai dengan keterampilannya.
• Frank B. Gilbert dan Lilian Gilbert, mengemukakan
konsep kelelahan dan gerak (fatique and motion). Ditegaskan bahwa sasaran akhir manajemen adalah menolong pekerja untuk mencapai kemampuannya yang optimal sebagai manusia. Sehingga ia mengembangkan rencana tiga kedudukan untuk keperluan promosi dan motivasi, yaitu pada saat yang sama pekerja melaksanakan tugas saat ini, juga bersiap diri untuk jabatan lebih tinggi dan sekaligus mempersiapkan generasi pengganti (be a does, a leader and a teacher).
• Manajemen Organisasi Klasik (Clasisical Organiation
Theory) atau Manajemen Operasional Modern
teknikal, komersial, keamanan, finansial, akuntansi dan manajerial.
Ia juga terkenal dengan empat belas prinsip manajemen, yaitu:
a. Pembagian kerja b. Wewenang c. Disiplin
d. Kesatuan perintah e. Kesatuan pengarahan
f. Mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi
g. Imbalan h. Sentralisasi i. Hierarki
j. Order (susunan) k. Keadilan
l. Stabilitas staf organisasi m. Inisiatif
n. Esprit de Corps (semangat corps)
Untuk menjadi manajer yang baik menurut Fayol harus menguasai keterampilan dan prinsip dasar manajemen.
2. Aliran perilaku (Behavioral Sciences) Tokoh aliran perilaku adalah sebagai berikut:
• Elton Mayo dan FJ. Roesthlisberger, menemukan teori
milik perusahaan Western Electric, sehingga dikenal dengan eksperimen Hawthorne.
• Mc Gregor, dikenal dengan teori X dan teori Y. ia
beranggapan perlu adanya perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi diri karyawan dengan menun-jukkan dua kategori manusia yaitu manusia yang harus selalu dalam pengawasan dalam pekerjaannya dan sebaliknya manusia tipe Y adalah manusia pekerja yang mempunyai motivasi tinggi sebagai kesempatan mengaktualisasi diri tanpa pengawasan sekalipun.
• Abraham Maslow, Frederick Herzberg dan Edgar
Schein. Ketiga tokoh tersebut mengembangkan aliran perilaku organisasi. Mereka berasumsi bahwa hubungan manusia dalam manajemen berada pada lingkup organisasi, yaitu interaksi antara pimpinan dan bawahannya dengan suasana kerja dalam organisasi yang kondusif. Prinsip yang dicanangkan aliran perilakuorganisasi adalah:
a. Organisasi merupakan satu kesatuan, bukan bagian per bagian.
b. Motivasi karyawan penting untuk komitmen pencapaian sasaran organisasi
c. Manajemen adalah suatu proses yang fleksibel, tetapi tidak lepas dari peranan, prosedur dan prinsip.
3. Pendekatan sistem (System Approach)
Tokoh pendekatan sistem, Chester I. Barnard dalam karyanya “The Function of The Executive”, mengemukakan bahwa tugas manajer adalah mengupayakan kerjasama organisasi dengan menggunakan pendekatan sistem sosial komprehensif dalam kegiatan “managing”.
Hubungan dalam pendekatan atau manajemen sistem adalah hubungan antar komponen atau bagian-bagian, yaitu:
a. Hubungan fungsional,berkaitan dengan gerak dari fungsi aktivitas organisasi.
b. Hubungan timbal balik, yaitu hubungan saling menguatkan dan memberi masukan untuk kepentingan organisasi.
c. Hubungan sinergitas, ialah hubungan kerjasama antar bagian walaupun beda tugas dan kewajiban.
d. Hubungan umpan balik, berkaitan dengan hubungan yang saling melengkapi untuk penyempurnaan kinerja organisasi.
e. Hubungan sebab akibat, berkaitan dengan kegiatan organisasi dengan hasil yang dicapai dan dampaknya terhadap pekerja.
f. Hubungan normatif, adalah hubungan yang berkaitan dengan peraturan organisasi yang harus ditaati oleh personal organisasi (Hikmat, 2009: 93)
Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berhubungan dan mampu mengatur diri serta menyesuai-kan diri lingkungan organisasi. Adapun ciri-ciri pokok sistem menurut William A. Schode dan Dan Voich Jr. (Hikmat, 94) adalah sebagai berikut:
c. Terbuka, dalam arti hubungan dengan lingkungan. d. Terdiri dari berbagai komponen yang saling
mem-pengaruhi dan berhubungan.
e. Melakukan proses transformasi dari masukan (input) menjadi keluaran (output).
f. Melakukan kontrol berdasarkan umpan balik.
Mengacu pada ciri-ciri pokok sistem tersebut, maka sesuatu dapat disebut sistem apabila memiliki keterbukaan terhadap lingkungan, mampu melakukan transformasi dan evaluasi dari semua komponen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama.
4. Pendekatan Kontingensi atau Pendekatan Situasional
Yaitu teori manajemen yang menitikberatkan pada situasi dan kondisi tertentu, dalam mengembangkan berbagai pendekatan dan menerapkannya. Namun tidak mengharuskan untuk pendekatan yang sekiranya tidak sesuai untuk situasi dan kondisi yang ada. Oleh karenanya, dalam situasi dan kondisi tertentu bisa digunakan pendekatan yang cocok secaramanajerial.
5. Manajemen Birokrasi
Birokrasi mempunyai makna kekuasaan ada pada orang-orang yang berada dibelakang meja. Bintoro Tjokroamidjojo (Hikmat :98) berpendapat bahwa birokrasi adalah tipe organisasi yang digunakan di pemerintahan modern untuk pelaksanaan tugas-tugas yang bersifat khusus, dalam sistem administrasi aparatur negara.
kepentingan umum, (3) berkaitan langsung secara birokrasi, (4) organisasi maju dengan pesat, (5) disiplin tinggi.
F. Isu – isu Manajemen Pendidikan
Suatu masyarakat industri dalam era informasi merupakan masyarakat pembelajar (life long learning society), karena jika tidak terus- menerus belajar maka akan tertinggal dari laju ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat perkembangannya. Oleh sebab itu pendidikan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat industri modern, yaitu pendidikan berkualitas.
Untuk mewujudkan pendidikan berkualitas tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun membutuhkan pemikiran–pemikiran yang cerdas dan bijaksana dalam menyikapinya. Karena semakin canggih sistem pendidikan, maka semakin dibutuhkan pengelola pendidikan yang professional.Sehingga pendidikan dan pelatihan yang profesional untuk para manajer pendidikan merupakan suatu keharusan dalam dunia industri modern ini.
Berpijak pada permasalahan-permasalahan tersebut, maka isu-isu utama manajemen pendidikan yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut:
• Isu terbaru yang menjadi perhatian dalam manajemen
kultur, motivasi kerja, selera dan gaya hidup, serta karakter (Hartani, 2011: 34). Seorang manajer pendidikan harus responsif dalam menyikapi konteks perubahan tersebut.
• Lahirnya undang-undang sisdiknas nomor 20 tahun 2003
menandai terjadinya reformasi pendidikan. Terutama yang berkaitan denganmanajemen pendidikan dengan berharap pendidikan mampu memberikan nilai lebih pada peningkatan kesejahteraaan masyarakat melalui proses pendidikan. Disamping itu pendidikan diharapkan mampu bersaing ditingkat global. Oleh karena itu manajemen pendidikan di tingkat pusat maupun daerah adalah merupakan pembantu yang melayani semua keperluan lembaga pendidikan, sedangkan manajemen pada lembaga pendidikan (sekolah) sebagai pembantu belajar yang mempunyai tanggung jawab terhadap kualitas manajemen dan lulusan pendidikan yang relevan dan kompetitif serta unsur lain yang berkaitan dengan pendidikan.
• Munculnya manajemen berbasis sekolah (MBS)
merupakan gagasan perubahan manajemen sekolah yang bertujuan meningkatkan mutu manajemen yng kompetitif, yaitu suatu pola manajemen sekolah yang memberdayakan potensi semua unsur sekolah mulai dari pimpinan hingga pelaksana pendidikan tingkat bawah yang dilakukan secara optimal dan proporsional. Sehingga semua komponen di sekolah adalah sebagai manajer terhadap tugas dan tanggung jawabnya masing – masing.
• Manajemen pendidikan luar biasa perlu upaya peningkatan
sehingga anak-anak tersebut tidak merasa sempit ruang geraknya.
• Pembelajaran sistem klasikal masih sangat mendominasi
kegiatan belajar di sekolah. Padahal dalam lembaga pendidikan (sekolah) perbedaan individual peserta didik sangat membutuhkan perhatian guru kaitannya dengan manajemen pengajaran, agar proses pembelajaran lancar dan sukses. Perbedaan individu peserta didik meliputi (1) perbedaan biologis, yaitu berkaitan dengan fisik dan kesehatan serta mental anak; (2) perbedaan inteligensi, ialah kemampuan dalam memahami dan menyesuaikan dengan situasi baru dengan cepat dan efektf, kemampuan untuk menggunakan konsep yang abstrak secara efektif dan kemampuan memahami hubungan dan mempela-jarinya dengan cepat; (3) perbedaan psikologis, terutama berkaitan dengan minat dan perhatian peserta didik terhadap materi pelajaran yang berdampak pada motivasi belajarnya (Syaiful Sagala: 55).
Dengan adanya fenomena tersebut, guru perlu mem-perbaiki manajemen pembelajarannya dengan lebih memahami jiwa dan watak peserta didik beserta keberadaan-nya dengan arif bijaksana, agar proses pembelajaran menjadi kondusif. Sehingga berhasil membentuk dan membangun kepribadian peserta didik yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
BAB II
RUANG LINGKUP MANAJEMEN
PENDIDIKAN
M
empelajari ruang lingkup manajemen pendidikan akan dilihat dari dua sudut pandang, yaitu pertama ditinjau dari objek kajian manajemen lembaga pendidikan, kedua berdasarkan bidang garapan manajemen pendidikan.A. Objek Kajian Manajemen Lembaga Pendidikan
Objek kajian manajemen lembaga pendidikan dilihat dari beberapa aspek penting yang diperlukan dalam kelembagaan pendidikan:
Manajemen lembaga pendidikan pada aspek struktur, menjelaskan struktur organisasi pendidikan, analisis unit kerja,deskripsi tugas, spesifikasi pelaku pendidikan, otoritas, hierarkhis jabatan, dinamika lingkungan struktural organisasi dan perbedaan profesionalitas pelaku pendidikan serta semua aktifitasnya.
Manajemen lembaga pendidikan dilihat dari unsur personalia, menekankan pada penempatan personalia, studi kelayakan guru dan lembaga pengelolanya,sumber daya personal, hubungan antar personal, peevaluasi dan promosi serta kesejahteraan personalia.
Manajemen lembaga pendidikan ditinjau dari aspek informasi, meliputi sistem informasi lembaga pendidikan, sistem kontrol internal dan eksternal lembaga, pengawasan pegawai dan respons manajerial terkait masalah di dalam maupun diluar lembaga.
Manajemen lembaga pendidikan dilihat pada aspek lingkungan masyarakat,meliputi peran masyarakat dalam pengembangan lembaga, hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat, peran pelaku pendidikan dalam masyarakat, kerja sama lembaga dan masyarakat,sosialisasi lembaga dan kegiatan lembaga pendidikan yang mengikut-sertakan komponen masyarakat dan aparatur pemerintah.
Manajemen lembaga pendidikan pada aspek keterampilan manajerial, berhubungan dengan profesionalitas kerja pelaku pendidikan, keterampilan pemimpin dalam rancangan konsep, keterampilan manusiawi, keterampilan tehnik,dan keterampilan proyeksi masa depan lembaga dan out put lembaga.
Telaah manajemen lembaga pendidikan berdasarkan tinjauan beberapa aspek tersebut memberikan gambaran bahwa manajemen lembaga pendidikan merupakan manajemen pada suatu institusi pendidikan sebagai kegiatan utama yang membedakan satu institusi dengan institusi lain dalam memenuhi pelayanan kepada manusia dalam bidang pendidikan.Dan pada hakekatnya objek kajian manajemen lembaga pendidikan merupakan sistem organisasi pendidikan, yaitu satu kesatuan utuh yang terdiri dari bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, mempunyai hubungan antara satu dengan lainnya sesuai konteksnya.
B. Bidang Garapan Manajemen Pendidikan
Tinjauan manajemen pendidikan dilihat dari bidang garapannya bertitik tolak pada aktifitas “dapur inti” yaitu program pembelajaran di kelas, setidaknya ada 8 (delapan) bidang garapan manajemen, meliputi manajemen peserta didik, manajemen kurikulum, manajemen personalia, manajemen pembiayaan pendidikan, manajemen sarana dan prasarana, manajemen ketatalaksanaan,manajemen organisasi dan manajemen humas. Di samping kedelapan bidang garapan tersebut,ada unsur lain yang mempunyai fungsi membina dan mengendalikan masing-masing atau pun keseluruhan bidang garapan manajemen tersebut yaitu supervisi pendidikan. Pada pembahasan berikutnya yang menjadi sentral adalah ruang lingkup menurut bidang garapan, sedangkan urutan kegiatan dan pelaksana secara implisit diintegrasikan pada setiap bidang garapan tersebut.
manajemen yang secara umum diklasifikasikan menjadi tiga kegiatan, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing) dan pengontrolan (controlling).
Sedangkan apabila manajemen dipandang dari pelaksa-nanya, maka ada anggapan bahwa yang bertanggung jawab melaksanakan manajemen pendidikan hanyalah kepala sekolah dan staf tata usaha. Anggapan tersebut keliru, semua unsur pendidikan terlibat dalam pengelolaan sekolah, melaksanakan manajemen pendidikan di sekolah. Di kelas misalnya, guru harus melaksanakan kegiatan manajemen untuk mengatur proses pembelajaran, mengatur kelas, mengatur peserta didik yang sedang belajar, mengatur perangkat-perangkat manajemen yang diperlukan, dan sebagainya. Di sekolah, kepala sekolah adalah manajer,yang bertanggung jawab mengelola adalah semua unsur yang ada di sekolah.Misalnya mengatur guru, staf tata usaha, pem-bagian tugas mengajar termasuk penjadwalan menjadi tanggung jawabnya dalam memegang manajemen sekolah, namun secara tehnis biasanya dibantu para wakilnya dan staf tata usaha.
Jadi rangkaian kegiatan manajemen yang tidak lain adalah fungsi manajemen itu sendiri dan pelaksana manajemen akan melekat pada masing-masing bidang garapan, artinya tidak diadakan pembahasan secara khusus.
1. Manajemen Peserta Didik
jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Mengacu pada pernyataan tersebut, dalam mencermati upaya pengembangan potensi diri, maka pendidikan yang dilakukan juga hendaknya memperhatikan adanya ketidaksamaan potensi yang dimilikinya. Pemahaman berbagai karakteristik subyek didik secara menyeluruh akan mengantarkan para guru atau pendidik kepada pemahaman dan penghayatan secara mendalam tentang keperbedaan individual subyek didik. Dengan demikian guru akan mampu menyelenggarakan proses pembelajaran secara arif dan bijaksana tanpa mengenyampingkan keunikan dan potensi masing-masing peserta didik .
Untuk mendukung paradigma tersebut, tidak semata memberikan ruang yang setara dalam belajar, tapi mampu menjunjung tinggi kebebasan berpikir sesuai dengan kapasitas potensi peserta didik.Apabila hal ini dapat digelar secara kongkrit dan praktis, maka sesungguhnya merupakan sebuah prestasi yang dinamis dan luar biasa dalam dunia pendidikan. Akhirnya dengan mengalirnya nilai-nilai pembaharuan berimbas pada kegiatan manajemen peserta didik, dimana peserta didik adalah manusia dinamis yang bisa dilibatkan bersama dalam menetapkan corak proses pendidikan masing-masing.
pendidikannya dalam arti tamat belajar atau karena sebab lain. Namun tidak semua kegiatan peserta didik masuk dalam manajemen peserta didik. Seperti proses pembelajaran di kelas adalah kegiatan peserta didik tetapi bukan manajemen peserta didik, melainkan manajemen pembelajaran yang menjadi ruang lingkup manajemen kurikulum.
Cakupan manajemen peserta didik meliputi pengelolaan penerimaan peserta didik baru, pengelolaan bimbingan dan penyuluhan, pengelolaan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan pengelolaan data peserta didik.
a. Pengelolaan Penerimaan Peserta Didik
Penerimaan peserta didik baru merupakan momen-tum penting bagi sekolah, karena merupakantitik awal yang menentukan kelancaran aktifitas sekolah, mewarnai sukses tidaknya usaha pendidikan di sekolah tersebut.Disamping itu kegiatan penerimaan peserta didik baru di Indonesia ini sudah menjadi fenomena sosial yang menarik perhatian masyarakat maupun pemerintah. Asumsi masyarakat, pendidikan dipercaya sebagai alat strategis untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Sehingga melalui pendidikan manusia menjadi cerdas, memiliki keteram-pilan, perilaku hidup yang baik dan akhirnya dapat hidup bermasyarakat, membantu dirinya sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Demikian pula, pendidikan menjadi investasi yang memberi keuntungan sosial dan pribadi yang menjadikan bangsa yang bermartabat dengan individu yang memiliki derajat.
pendidikan yang dipandang berkualitas, favorite dan bergengsi. Disamping alasan lain misalnya terjangkau pendanaannya maupun transportasinya. Bahkan sering terjadi pemaksaan kehendak orang tua yang berambisi menyekolahkan anaknya di sekolah yang menjadi pilihannya, maka dengan jalur persaingan yang tidak sehat pun ditempuh.
Inilah perlunya faktor kehati-hatian seorang manajer atau kepala sekolah dalam memprakarsai pembentukan panitya penerimaan peserta didik baru (biasa disingkat PPDB), sehingga tidak merusak citra sekolah dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Hal-hal yang perlu diperhatikandalam pengelolaan penerimaan peserta didik baru adalah pembentukan panitya PPDB, persyaratan calon peserta didik baru, pendaftaran, testing, seleksi, dan pengumuman hasil seleksi.
1) Kepanitiaan
Kegiatan panitia ini meliputi urusan pendaftaran, penyelenggaraan tes masuk, seleksi dan pengumuman hasil seleksi.Unsur-unsur personalia yang ada dalam kepanityaan harus memiliki kompetensi untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut. Selanjutnya panitya merumuskan program kerja yang terdiri dari:macam kegiatan, jadwal waktu kegiatan, pembagian tugas, beberapa aspek yang berkaitan dengan seleksi, jumlah calon yang akan diterima, sarana dan prasarana yang diperlukan, dan rencana anggaran.
2) Persyaratan calon peserta didik
ragam,masing-masing lembaga pendidikan mempunyai kepentingan tertentu, sehingga persyaratan yang ditetapkan menjadi berbeda-beda. Namun secara umum berkaitan dengan indikator-indikator berikut: usia, kesehatan, prestasi akademik dan persyaratan admin-istratif lainnya.
Bagi calon peserta didik SD/MI menurut ketentuan UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 sekurang-kurangnya berusia 6 tahun. Artinya di bawah usia 6 tahun termasuk dalamprogram pendidikan pra sekolah yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pengelompokan program pendidikannya berdasarkan faktor usia, yaitu usia 4-6 tahun untuk Taman Kanak-Kanak dengan pembagian TK A usia 4-5 tahun dan TK B usia 5-6 tahun. Sedangkan anak berusia di bawah 4 tahun masuk dalam kelompok bermain (play group).
sekolah tidak sesuai dengan usia matang pada jenjang pendidikan tertentu maka si anak akan mengalami “kejenuhan sekolah” pada level-level tertentu. Misalnya anak usia 4,5 tahun duduk di kelas satu SD, maka di kelas-kelas di atasnya dia akan menunjukkan gejala bosan sekolah bahkan tidak mau sekolah.
Kemudian persyaratan untuk masuk kelas satu SD tidak ada keharusan untuk memiliki sertifikat TK. Demikian pula tidak diperkenankan adanya tes calistung atau dalam bentuk lain dalam persyaratan masuk jenjang pendidikan sekolah dasar. Karena hal ini sudah tentu bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional.
Sedangkan persyaratan untuk memasuki jenjang pendidikan SMP/MTs, SMA/SMK/MA pada umumnya adalah Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), salinan raport kelas tertinggi, akte kelahiran, surat keterangan kesehatan, pas photo ukuran 3x4 atau 4x6 , sejumlah yang dibutuhkan, mengisi blangko pendaftarandan membayar biaya pendaftaran. Persyaratan apapun yang ditetapkan oleh sekolah hendaknya sebelum waktu pendaftaran sudah disosialisasikan kepada masyarakat untuk ketertiban dan kelancaran proses pendaftaran calon peserta didik.
3) Pendaftaran
menghindari terjadinya ketimpangan animo pendaftar, sehingga pembagian calon siswa secara merata ada pada semua lembaga pendidikan, tidak ada lembaga pendi-dikan yang kelebihan animo, demikian pula tidak ada lembaga pendidikan yang kekurangan animo.
Manajemen pendaftaran yang kerap diterapkan pada jenjang pendidikan menengah adalah pengelolaan mandiri, dimana tidak ada ketentuan bersama antar lembaga pendidikan menengah. Sehingga kesan terjadinya ajang kompetitif nampak lebih menonjol.
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi yang sudah membumi sangat membantu lembaga pendidikan dalam melakukan manajemen pendaftaran peserta didik baru. Via jalur internet dengan tehnik online calon peserta didik bisa mengisi data yang dipersyaratkan tanpa harus antri datang di sekolah. Fitur yang tersedia biasanya meliputi persyaratan dan prosedur; schedule pelaksanaan pendaftaran, tes dan pengumuman;alur pendaftaran; data pendaftar; daya tampung; sistem orderisasi rangking nilai UN, prestasi raport dan nilai tambahan di luar akademik; info sekolah; arsip hasil PPDB tahun lalu; dan sebagainya.
4) Testing
Salah satu kegiatan penerimaan peserta didik baru adalah menyelenggarakan tes sebagai upaya untuk mendapatkan skala nilai bagi calon peserta didik sehingga dapat ditetapkan diterima atau tidak dalam lembaga yang dipilihnya.
Untuk jenjang pendidikan SD/MI diharapkan semua pendaftar yang memenuhi persyaratan usia bisa diterima dengan memperhatikan daya tampung sekolah. Sedangkan untuk jenjang pendidikan dasar SMP/MTs dan jenjang pendidikan menengah SMA/MA/SMK/ MAK dan pendidikan yang sederajat pada tahun-tahun terakhir ini pada umumnya tidak menerapkan tes tertulis yang mengukur prestasi akademik.Untuk melihat kemampuan hasil belajarnya dari Nilai Ujian Nasional/NUN (istilah dahulu NEM) yang dilampirkan. Namun untuk melengkapi pertimbangan diterima tidaknya calon peserta didik, diadakan tes kepribadian, tes bakat dan minat serta wawancara. Hal ini penting dilakukan untuk mengukur sikap dan perilaku juga potensi yang dimiliki calon peserta didik, sehingga sekolah benar-benar mendapatkan input yang baik, tidak semata-mata mempunyai intelegensi tinggi.
5) Seleksi
Seleksi calon peserta didik baru untuk jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK dan yang sederajat dilakukan secara transparan, yaitu berdasarkan Jumlah NUN ditambah nilai tes kepribadian, tes bakat dan wawancara ditambah lagi dengan nilai prestasi di luar akademik (jika ada), misalnya juara olimpiade,mengikuti jambore pramuka, pelajar teladan, dan sebagainya. Nilai tersebut dikemas dalam jurnal harian yang dapat dipantau setiap saat sampai dengan hari terakhir seleksi, sebelum pengumuman. Dalam masa seleksi tersebut setiap hari dapat dilihat calon peserta didik yang tereliminasi dan calon peserta didik yang masih bertahan. Calon peserta didik yang memiliki jumlah nilai rendah, berada pada urutan dibawah kuota, maka dengan sendirinya gugur dan tidak diterima atau mungkin dapat masuk lagi sebagai cadangan. Sedangkan bagi calon peserta didik yang mempunyai jumlah nilai yang bisa masuk dalam jumlah kuota sampai akhir masa seleksi dengan sendirinya lolos atau bisa diterima, namun ada kemungkinan tidak lolos apabila pada saat tertentu posisinya tergeser oleh calon peserta didik yang lain yang memiliki jumlah nilai lebih baik.
Selain ditetapkan sejumlah calon peserta didik yang diterima sesuai kuota, ditentukan pula sejumlah calon peserta didik (biasanya berkisar 5 orang) diterima sebagai cadangan. Calon peserta didik cadangan inilah yang nantinya akan menggantikan posisi calon peserta didik yang diterima tetapi mengundurkan diri.
6) Pengumuman hasil seleksi
yang telah diinformasikan.Sehingga tidak meresahkan calon peserta didik, terutama yang tidak diterima. Sebab mereka yang gagal masih ada kemungkinan untuk menindaklanjuti berbagai peluang mendaftar di lembaga pendidikan yang lain. Bagi calon peserta didik yang diterima pun ingin segera berbenah, mempersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan peserta didik baru. Ada dua macam sistem pengumuman yang bisa dilakukan yaitu dengan sistem terbuka dan sistem tertutup. Pengumuman dengan sistem terbuka biasanya ditempel di papan pengumuman yang ditempatkan pada posisi yang strategis, bisa ditaruh di dalam maupun di luar sekolah, sekiranya bisa dijamin keamanannya. Disamping itu juga bisa memanfaatkan media cetak untuk menyebarluaskan pengumuman tersebut.Tetapi untuk jenjang pendidikan di bawah jenjang pendidikan tinggi lebih memilih pengumuman yang dipajang di papan pengumuman sekolah.
Adapun pengumuman dengan sistem tertutup, biasanya menggunakan amplop tertutup kemudian diserahkan pada peserta tes masuk calon peserta didik baru yang datang ke sekolah, atau bisa dilakukan dengan cara dikirimkan melalui Pos. Ada satu cara lain yang lebih efektif dan efisien yaitu melalui internet.
b. Pengelolaan Bimbingan dan Konseling
1) Pedoman pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Program bimbingan dan konseling hendaknya dilaksanakan berdasarkan pada pedoman sebagai berikut:
a) Penanggungjawab utama dalam perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling adalah kepala sekolah.
b) Program bimbingan konseling meliputi bimbingan pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial dan bimbingan karir.
c) Pelaksanaan bimbingan dan konseling hendaknya dilakukan secara kontinu untuk program yang membutuhkan penanganan secara terus-menerus dan berkelanjutan, sedangkan bimbingan yang munculnya sewaktu-waktu bisa dilakukan secara insidental.
d) Perencanaan program bimbingan dan konseling dirumuskan secara cermat sepadan dengan keperluan sekolah.
e) Pelaksanaan bimbingan dan konseling berdasarkan pada pendekatan perseorangan maupun kelompok tergantung permasalahan dan pemecahannya. f) Diperlukan adanya kerjasama dengan konselor atau
psikolog maupun lembaga-lembaga terkait lainnya untuk memperlancar proses bimbingan dan konseling.
pro-gram bimbingan konseling yang selama ini sekolah lebih mementingkan waktu untuk proses pembelajaran, semakin banyak materi yang disampaikan kepada peserta didik semakin baiklah peserta didik tersebut. Oleh karena itu sekolah perlu memperhatikan jadwal tertentu, misalnya seminggu sekali masuk kelas,hingga memungkin-kan bimbingan dan konseling bisa berjalan kontinu. h) Deskripsi tugas masing-masing pelaksana bimbingan konseling (guru-guru BK) harus jelas dan teratur.
i) Data pendukung proses bimbingan konseling harus selalu menyertai dan memadai.
j) Supervisi terhadap pelaksanaan program bim-bingan dan konseling perlu dilakukan untuk koreksi dan penyempurnaan program yang akan datang. 2) Petugas Bimbingan dan Konseling
Pengelolaan program bimbingan dan konseling di sekolah ditangani oleh guru yang memiliki kompetensi dalam bidang bimbingan konseling, disebut guru BK. Namun dari segi kuantitas keberadaan guru BK di sekolah biasanya kurang memadai. Dalam kenyataannya dari jumlah petugas berkisar 2-3 orang mustahil bisa menangani sekian peserta didik dalam satu sekolah.
peserta didik. Dalam mengevalusi hasil belajar peserta didik pun akhirnya tidak melulu menilai kemampuan otak saja tetapi juga bagaimana sikap dan perilakunya. Dengan demikian, semua guru yang ada di sekolah meliputi guru bidang studi,guru wali kelas, kepala sekolah, ditambah karyawan tata usaha dan termasuk guru bimbingan dan konseling itu sendiri mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah sesuai dengan obyek garapan dan kapasitas masing-masing. Pembagian tugas dan tanggung jawab hendaknya diatur dengan jelas dan tertib untuk menghindari terjadinya tumpang tindih (over Lapping) dan kesemrawutan dalam pelaksanaannya. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab utama dalam pengelolaan program bimbingan dan konseling kaitannya dengan perencanaan program, penyatuan program bimbingan dalam program pembelajaran, supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling, merekomendasikan pemberian alokasi waktu, dana dan sarana lain.
masalah yang sulit dipecahkan, misalnya minta bantuan tenaga psikologi.
Adapun guru wali bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling peserta didik khusus di kelas yang diampunya.Masalah yang ditangani seputar persoalan akademis maupun diluar akademis yang nantinya data yang diperoleh dilaporkan kepada guru bimbingan dan konseling. Apabila masalah yang dialami peserta didik cukup pelik hingga tidak bisa diselesaikan secara tuntas, maka diteruskan pada ahlinya yaitu guru bimbingan dan konseling.
Guru bidang studi bertugas memberikan bimbingan dalam pembelajaran khususnya di bidang studi yang diampunya. Data spesifikasi peserta didik yang mem-butuhkan penanganan lebih lanjut diserahkan kepada guru bimbingan dan konseling.
Sedangkan tenaga tata usaha secara tehnis mem-bantu program bimbingan dan konseling dalam hal penyediaan fasilitas, pendataan peserta didik maupun pemberian informasi terkait permasalahan peserta didik di dalam mapun di luar sekolah.
3) Data Pribadi Peserta Didik
Sebagai landasan pelaksanaan program bimbingan dan konseling dibutuhkan data pribadi peserta didik. Data tersebut harus tersimpan rapi dan tertutup untuk umum, sehingga terjaga kerahasiaannya. Tentu saja data pendukung yang lengkap dan detail sangat membantu kelancaran proses bimbingan dan konseling. Berikut beberapa hal yang berkaitan dengan data pribadi peserta didik:
studi yang disenangi, bidang studi yang tidak disukai, partisipasi dalam pembelajaran di sekolah, waktu belajar di rumah, keikutsertaan dalam ekstrakurikuler,dan hobby.
b). Latar belakang orang tua,mencakup identitas or-ang tua, pekerjaan, kepedulian terhadap pendidikan anaknya, perhatiannya terhadap belajar anaknya di rumah, pengamatan orang tua terhadap sikap anak dan kegiatan sehari-harinya.
c). Keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas.
d). Kelainan-kelainan sikap peserta didik di dalam kelas.
e). Kebiasaan dan tingkah laku peserta didik di luar kelas.
f). Keakraban dengan teman sekolah dan di rumah. g). Ragam masalah yang berkaitan dengan agama,
moral, sosial, kesehatan, kesukaan, hubungan lawan jenis, kehidupan keluarga, adaptasi dengan kondisi sekolah, cita-cita, dan sebagainya.
h). Frekwensi kunjungan rumah (home visit) dan temuan yang diperoleh.
c. Pengelolaan Organisasi Siswa Intra Sekolah Selama peserta didik mengenyam pendidikan di suatu sekolah, maka dengan sendirinya menjadi anggota OSIS di lembaga pendidikan tersebut. Dengan OSIS maka peserta didik diharapkan mampu melatih diri untuk berorganisasi dibawah bimbingan dan pengawasan 2 (dua) aspek, yaitu pertama aspek keorganisasiannya, dan kedua aspek kegiatannya. Dilihat dari segi keorganisasiannya, maka di dalam OSIS harus ada hal-hal berikut ini:
1). Bagan Struktur kelembagaan OSIS.
2). Pengurus OSIS terpilih berdasarkan seleksi.
3). Fungsi, wewenang dan deskripsi tugas masing-masing divisi.
4). Susunan rencana kerja OSIS.
Untuk melatih dan membina peserta didik tentang keorganisasian biasanya melalui kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diperuntukkan bagi pengurus OSIS.
Ditinjau dari aspek kegiatannya, diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:
1). Kelompok pengembangan pengetahuan dan kemam-puan penalaran peserta didik, meliputi kegiatan diskusi, seminar, penelitian, karyawisata, menulis karya ilmiah.
2). Kelompok kegiatan pengembangan keterampilan sesuai minat dan hobby peserta didik, seperti: kepramukaan, PMR, UKS, Dokter kecil,seni music, teatre, tata boga, tata busana, olah raga, pencinta alam, keterampilan tehnik elektro, mesin dan sebagainya. 3). Kelompok pengembangan sikap dan perilaku meliputi:
amal jum’at, memperingati hari besar nasional dan keagamaan, majelis taklim, kerja bakti bersama masyarakat, jum’at bersih,dan sebagainya.
Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dipersiapkan dengan perencanaan di awal tahun ajaran, agar tidak terjadi over lapping atau tumpang tindih dengan kegiatan pembelajaran. Beberapa aspek yang harus ditentukan dalam perencanaan di antaranya schedule program kegiatan, jenis kegiatan, kegiatan wajib bagi seluruh peserta didik, kegiatan pilihan, koordinator, guru Pembina, tenaga ahli dari luar, dan anggaran program kegiatan.
Kegiatan OSIS pada sebagian besar sekolah masih di bawah bimbingan dan arahan tim guru Pembina OSIS maupun Waka Kesiswaan. Sehingga nampak keterlibatan peserta didik dalam kegiatan tersebut masih kurang, karena sangat bergantung pada instruksi Pembina sesuai dengan kapasitasnya sebagai motor penggerak. Berbeda dengan beberapa sekolah yang sudah mulai menyerahkan kegiatan OSIS sepenuhnya kepada peserta didik yang terpilih dalam seleksi pengurus OSIS, maka peserta didik lebih aktif dan bertanggungjawab. Namun tentu saja masih dalam pengawasan sekolah, artinya apabila ada kegiatan tertentu harus sepengetahuan Pembina sebatas sebagai konsultan. d. Pengelolaan Data Peserta Didik
mem-punyai arti penting terutama bagi sekolah untuk dipergunakan dalam berbagai ragam kepentingan.
Pada dasarnya data yang perlu dikelola dapat diklasifikasikan menjadi 4(empat), yaitu:
1). Data Identitas peserta didik,memuat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan diri pribadi peserta didik.
2). Data Hasil Belajar peserta didik, berisi tentang daftar bidang studi yang ditempuh peserta didik dan perolehan nilai serta keterangan penting lainnya dari awal sampai akhir pendidikan.
3). Data Presensi pesrta didik, yaitu data kehadiran peserta didik dan beberapa catatan penting yang menyertainya yang bisa dibuat per bulan berdasarkan data presensi harian.
4). Data Tata tertib dan Skoring Pelanggaran, berisi data tentang tata tertib sekolah dan skor pelanggaran yang dimiliki peserta didik beserta beberapa ketentuan sangsi akibat pelanggaran tata tertib tersebut.
Data identitas siswa biasanya dicatat dalam buku Induk dibantu dengan buku Klapper, sebagai catatan pelengkap. Namun dewasa ini melalui komputerisasi pencatatan maupun penyimpanannya menjadi lebih mudah, rapi dan aman.Tetapi tidak ada salahnya untuk mengantisipasi sesuatu hal yang tidak diinginkan, alangkah baiknya apabila pencatatan data disamping di dalam file computer, juga dicatat secara manual.