KARAKTERISTIK VERBA DALAM BUKU TEKS BAHASA INDONESIA SMP KELAS VII KURIKULUM 2013 REVISI 2016

12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

(The Characteristics of Verbs in 7th Grade Junior High School Indonesian Language Textbook

of 2013 Curriculum 2016 Revision)

Oleh/by Evi Arifi ani* Wagiran dan Haryadi**

Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang pos-el: mbak.legonersdua@gmail.com

*) Diterima: 22 September 2017 , Disetujui: 23 Oktober 2017

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengkaji dan mendeskripsikan ketransitifan verba pada buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 revisi 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik verba pada buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 revisi 2016 dari segi ketransitifan verba mencakupi lima jenis ketransitifan, yaitu verba ekatransitif, verba dwitransitif, verba taktransitif, verba taktransitif berpelengkap wajib, dan verba taktransitif berpelengkap manasuka.

Kata Kunci: buku teks, ketransitifan bahasa Indonesia.

ABSTRACT

The aim of this research is to study and describe the transitivity of verbs in 7th Grade Junior High

School Indonesian language textbook of 2013 curriculum 2016 revision. Method of this research is descriptive-qualitative. Result of this study shows that there are fi ve types of transitivity of verbs found in the book. There are monotransitive, ditransitive, intransitive, obligatory complemented intransitive verbs, and arbitrary complemented intransitive verbs.

Keywords: text book, transitivity of Indonesian verbs.

* (mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

** (dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

PENDAHULUAN

Pelaksanaan sistem pendidikan Kurikulum 2013 pada kelas VII SMP dalam pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks bercirikan pada pemahaman peserta didik terhadap struktur dan unsur kebahasaan pada masing-masing jenis teks. Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan, ide, dan

keinginan seseorang kepada orang lain. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifi kasi diri (Kridalaksana, 1983).

Berkaitan dengan teori tersebut, penggunaan bahasa pada setiap jenis teks akan berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat

(2)

dari contoh bahasa pada teks deskripsi dan teks prosedur. Berikut ini cuplikan kalimat dari teks deskripsi dan prosedur dalam buku Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 Revisi 2016.

a) Pantai ini terletak sekitar 27 km arah selatan Yogyakarta. (cuplikan kalimat dari teks deskripsi “Parangtritis nan Indah”; hlm. 3)

b) Gosoklah telapak tangan secara perlahan dengan gerakan memutar empat ruas jari tangan yang lain hingga sabun berbusa dan lakukan secara bergantian. (cuplikan kalimat dari teks prosedur “Cara Mencuci Tangan dengan Baik dan Benar”; hlm. 95)

Cuplikan kalimat dari teks deskripsi dan teks prosedur tersebut sudah menunjukkan perbedaan bahwa cuplikan kalimat teks deskripsi merupakan kalimat pernyataan, sedangkan teks prosedur menggunakan kalimat perintah untuk menyatakan gagasan kepada pembaca berkaitan dengan objek pada teks tersebut. Menurut Titik Harsiati (2014:107— 108), berdasarkan telaah penggunaan bahasa pada teks prosedur salah satunya menggunakan kalimat perintah. Kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung makna memerintah atau meminta seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penutur atau penulisnya.

Kalimat diproduksi oleh manusia dengan jumlah yang tidak terbatas dalam proses kehidupan sosial dalam interaksi antara individu dengan individu yang lain. Akan tetapi, proses produksi kalimat tersebut dibatasi dengan kaidah-kaidah yang telah dibakukan dalam suatu bahasa. Misalnya, bahasa Indonesia memiliki Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia untuk memerikan bahasa Indonesia. Pemerian

bahasa itu bertujuan agar masyarakat bahasa Indonesia dapat menggunakan bahasa secara benar. Kalimat sebagai salah satu satuan bahasa menjadi kajian ilmu linguistik pada tataran subsistem sintaksis.

Pada subsistem ini unsur pusat analisis dalam kalimat adalah kelas kata verba. Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena sebagian besar verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat. Perilaku sintaksis berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba (Alwi, 2003:90). Verba adalah unsur pusat di dalam kalimat. Verba adalah unsur utama yang menentukan hubungan sintaktik dengan satuan-satuan lain di dalam kalimat (Cook, 1989:122).

Berikut ini peneliti memaparkan beberapa kalimat dari masing-masing teks yang ada pada buku paket Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 revisi 2016 untuk kelas VII SMP sebagai data awal penelitian.

a) Analisis ketransitifan verba

Teks deskripsi “Ibu, Inspirasiku” hlm 5:

Rambutnya hitam/bergelombang.

S P

Teks Prosedur “Cara Membuat Obat Tradisional Insomnia hlm. 85:

.... air/ tersisa/ 300cc. S P Keterangan

Berdasarkan analisis di atas, sifat ketransitifan verba pada cuplikan kalimat dari masing-masing teks merupakan verba tak transitif takberpelengkap. Menurut Alwi (2003:93), verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya.

(3)

Hasil analisis ketransitifan verba menunjukkan bahwa semua jenis teks memiliki karakteristik ketransitifan verba taktransitif tak berpelengkap. Hasil analisis ini merupakan hasil penelitian sementara sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat mendeskripsikan ketransitifan verba dari masing-masing jenis teks dalam buku mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 revisi 2016 untuk dapat menambah pengetahuan mengenai ciri kebahasaan pada masing-masing teks.

Penelitian ini mengkaji ketransitifan verba pada teks deskriptif, fantasi, prosedur, laporan hasil observasi, fabel, dan surat dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 revisi 2016. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan ketransitifan verba pada teks deskriptif, fantasi, prosedur, laporan hasil observasi, fabel, dan surat dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 revisi 2016.

METODE PENELITIAN

Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan sintaksis. Data penelitian ini adalah kalimat yang verbanya menduduki fungsi predikat pada teks deskriptif, fantasi, prosedur, laporan hasil observasi, fabel, dan teks surat dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 revisi 2016. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 revisi 2016. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak dengan teknik catat. Metode dan teknik analisis menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung (BUL) dan teknik perluas dengan menggunakan teknik

perluas, teknik ubah wujud, teknik lesap. Kemudian, metode penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode formal dan informal.

KERANGKA TEORI

Pada penelitian ini digunakan seperangkat teori yang berkaitan dengan ketransitifan verba. Ramlan (2005:18— 19 ) menyatakan bahwa sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur itu dalam suatu satuan, baik hubungan fungsional maupun maknawi. Verhaar (1987:70) menyatakan bahwa kata “sintaksis” berasal dari Yunani sun ‘dengan’ dan tattein ‘menempatkan’. Istilah tersebut secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat. Bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antarkata dan antara kelompok kata (atau antarfrasa) dalam satuan dasar itu: kalimat. Sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata, tetapi di dalam satuan yang disebut kalimat.

Chaer (2007:206) menyatakan bahwa sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, unsur-unsur lain sebagai suatu sistem ujaran. Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah (1) struktur sintaksis, mencakupi fungsi, kategori, dan peran sintaksis; serta alat-alat yang digunakan dalam membangun itu; (2) satuan-satuan sintaksis yang berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana; dan (3) hal-hal lain yang berkenaan dengan sintaksis seperti masalah modus, aspek, dan sebagainya.

(4)

Menurut Alwi (2003:90) verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena dalam kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut. Dari segi sintaksis, verba dilihat dari segi ketransitifan. Ketransitifan verba ditentukan oleh dua faktor: (1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan (2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.

(1) Verba transitif

Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.

a. Verba ekatransitif

Verba ekatransiitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu kasus objek.

b. Verba dwitransitif

Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.

c. Verba semitransitif

Verba semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak.

(2) Verba Taktransitif

Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya.

a. Verba Taktransitif berpelengkap b. Verba Taktransitif takberpelengkap c. Ve rba Berpreposisi

Verba preposisi adalah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai ketransitifan verba pada buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 revisi 2016 sebagai berikut: pertama, pada teks deskriptif terdapat 127 verba yang berwujud 64 verba ekatransitif, 9 verba dwitransitif, 31 verba taktransitif takberpelengkap, 15 verba taktransitif berpelengkap wajib, 8 verba taktransitif berpelengkap manasuka. Berikut ini adalah bagan persentase ketransitifan verba pada gambar Tabel 1.

Tabel 1 Ketransitifan Verba

Keterangan:

1. Verba Ekatransitif; 2. Verba Dwitransitif; 3. Verba Taktransitif Takberpelengkap; 4. Verba Taktransitif Berpelengkap wajib; 5. Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka.

Kedua, pada teks fantasi terdapat 157 verba yang berwujud 76 verba ekatransitif, 12 verba dwitransitif, 49 verba taktransitif takberpelengkap, 8 verba taktransitif berpelengkap wajib, 12 verba taktransitif berpelengkap manasuka. Berikut ini adalah bagan persentase ketransitifan verba pada gambar Tabel 2.

(5)

Tabel 2 Ketransitifan Verba

Keterangan:

1. Verba Ekatransitif; 2. Verba Dwitransitif; 3. Verba Taktransitif Takberpelengkap; 4. Verba Taktransitif Berpelengkap wajib; 5. Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka.

Ketiga pada teks prosedur terdapat 111 verba yang berwujud 81 verba ekatransitif, 3 verba dwitransitif, 21 verba taktransitif takberpelengkap, 3 verba taktransitif berpelengkap wajib, 4 verba taktransitif berpelengkap manasuka. Berikut ini adalah bagan persentase ketransitifan verba pada gambar Tabel 3.

Tabel 3 Ketransitifan Verba

Keterangan:

1. Verba Ekatransitif; 2. Verba Dwitransitif; 3. Verba Taktransitif Takberpelengkap; 4. Verba Taktransitif Berpelengkap wajib; 5. Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka.

Keempat, pada teks laporan hasil observasi terdapat 123 verba yang berwujud 68 verba ekatransitif, 9

verba dwitransitif, 20 verba taktransitif takberpelengkap, 22 verba taktransitif berpelengkap wajib, 5 verba taktransitif berpelengkap manasuka. Berikut ini adalah bagan persentase ketransitifan verba pada gambar Tabel 4.

Tabel 4 Ketransitifan Verba

Keterangan:

1. Verba Ekatransitif; 2. Verba Dwitransitif; 3. Verba Taktransitif Takberpelengkap; 4. Verba Taktransitif Berpelengkap wajib; 5. Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka.

Kelima, pada teks fabel terdapat 161 verba yang berwujud 86 verba ekatransitif, 7 verba dwitransitif, 44 verba taktransitif tak berpelengkap, 10 verba taktransitif berpelengkap wajib, 14 verba taktransitif berpelengkap manasuka. Berikut ini adalah bagan persentase ketransitifan verba pada gambar Tabel 5.

Tabel 5 Ketransitifan Verba

(6)

Keterangan:

1. Verba Ekatransitif; 2. Verba Dwitransitif; 3. Verba Taktransitif Takberpelengkap; 4. Verba Taktransitif Berpelengkap wajib; 5. Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka.

Keenam, pada teks surat terdapat 68 verba yang berwujud 40 verba ekatransitif, 8 verba dwitransitif, 14 verba taktransitif takberpelengkap, 3 verba taktransitif berpelengkap wajib, 3 verba taktransitif berpelengkap manasuka. Berikut ini adalah bagan persentase ketransitifan verba pada gambar Tabel 6.

Tabel 6 Ketransitifan Verba

Keterangan:

1. Verba Ekatransitif; 2. Verba Dwitransitif; 3. Verba Taktransitif Takberpelengkap; 4. Verba Taktransitif Berpelengkap wajib; 5. Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka. 1. Ketransitifan Verba dalam Buku

Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016

Berdasarkan penelitian ditemukan lima jenis ketransitifan verba pada buku teks pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016, yaitu verba ekatransitif, verba dwitransitif, verba taktransitif takberpelengkap, verba taktransitif berpelengkap wajib, verba taktransitif berpelengkap manasuka.

1.1 Verba Ekatransitif dalam Buku Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016

Pada analisis penelitian ini data verba ekatransitif terdapat pada masing-masing teks. Perhatikan data (1)—(6).

(1) Kita/ bisa melihat/ batu karang

S P O

besar yang seolah-olah siap menjaga gempuran ombak yang datang setiap saat. (A1.D1.3) (2) (mereka)/ membela/ tanah air

S P O

tercinta. (A1. F1.45) (3) .. agar angklung/ dapat S

digetarkan/ (pemain)/ dengan

P O

baik dan maksimal.(A1. P1.83) Ket.suasana

(4) Habitat hutan bakau/ memiliki/

S P

wilayah tanah yang tergenang-O

secara berkala. (A1. LHO1.126) (5) Para Semut/ itu segera mencari/

S P

berbagai macam makanan.

O

FB1.195)

(6) ...Bapak/ mengizinkan/ anak

(7)

kami tidak masuk sekolah pada 25 November 2015. (A1. SD1.253)

Hasil analisis bagi langsung, yaitu dengan membagi kalimat menjadi beberapa bagian sesuai dengan kedudukan fungsi menunjukkan, data (1)—(6) memiliki verba ekatransitif, yaitu kata melihat, membela, digetarkan, memiliki, mencari, dan mengizinkan yang menduduki fungsi predikat pada kalimat tersebut. Data (1)—(6) ini memiliki ciri verba ekatransitif yang menurut Alwi (2003:91) bahwa verba ekatransitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Berikut ini pemasifan kalimat atau pengaktifan kalimat pada data (1)—(6).

(1) Batu karang besar yang seolah-olah siap menjaga gempuran ombak yang datang setiap saat/

S bisa dilihat/ kita.

P O

(2) Tanah air tercinta/ dibela/

S P

mereka. O

(3) . ..agar (pemain)/ dapat S

menggetarkan/ angklung/

P O

dengan baik dan

Ket.suasana

P1.83)

(4) Wilayah tanah yang tergenang secara berkala/ dimiliki/ habitat hutan

S P O

bakau.

(5) Berbagai macam makanan/ itu

S

segera dicari/ para semut.

P O

(6) Anak kami tidak masuk sekolah/ S

pada 25 November 2015/ Ket.waktu

diizinkan/ Bapak.

P O

1.2 Verba Dwitransitif dalam Buku Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016

Pada analisis penelitian ini terdapat data verba dwitransitif pada masing-masing teks. Perhatikan data (7)—(12).

(7) ... (Profesinya sebagai guru)/ S

selalu mengajarkan/ kebaikan/

P O

kepada sesama.(A2. D3. 5) Pel

(8) Levo, Goros, Lamia, Sikka, dan-S

Mora/ mengisyaratkan/ hormat

P O

dan bahagia/(kepada Nagata) Pel

(8)

(9) (Anda)/ pasangkan/

S P O

tangan/ dengan posisi tangan kanan/ Pel di atas.(A1. P6.96) Ket.cara (10) Keahlian (kunang-kunang-S dewasa)/ mempertontonkan/ P

cahaya/ (kepada pemangsa dan

O Pel

pasangannya) (A2. LHO4.136) (11) Ia/ meminta/ makanan/ kepada

S P O

Semut. (A2. B1. FB1. 196) Pel

(12) Kerinduan kami/ hanya bisa S

diungkapkan/ oleh kami/ lewat

P O

doa/ untuk Bu Guru luar

Ket.cara Pel

asa seperti Ibu. (A2. SP2.247) 1.3 Verba Taktransitif Berpelengkap

dalam Buku Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016

Pada analisis penelitian ini terdapat data verba taktransitif pada masing-masing teks. Perhatikan data (13)—(18).

(13) Tepatnya Pantai Parangtritis/ S

berada/ di Kecamatan Kretek,

P K. Temp

Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (B1. D1.3)

(14) Seluruh pasukan Nagata/ sudah

S P

siap/ hari itu. (B1. F1.45)

Ket.waktu

(15) ..... dan telapak tangan/

S P

hadap/ ke atas ataupun ke Ket.tempat bawah. (B1P1.83) (16) Pantai curam/ biasanya

S

bergunung-gunung. (A2.

P

LHO5.139)

(17) Musim gugur/ akan segera S

berlalu. (B1. FB1. 195) P

(18) Beberapa teman lain/tidak S

bersekolah. (B1. SP1.245) P

Analisis kalimat melalui teknik bagi unsur langsung, yaitu dengan membagi kalimat menjadi beberapa bagian sesuai dengan kedudukan fungsi kata dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa data (13)—

(9)

(18) memiliki ciri sesuai dengan ciri verba taktransitif takberpelengkap yang menurut Alwi (2003:93) bahwa verba taktransitif takberpelengkap adalah verba yang tidak dapat diikuti nomina.

1.4 Verba Taktransitif Takberpelengkap Wajib dalam Buku Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016

Pada analisis penelitian ini terdapat data verba taktransitif pada masing-masing teks. Perhatikan data (19)—(24).

(19) Kemilau air pantai yang tertimpa matahari sore/ menjadi/

S P

pemandangan yang memukau. Pel

(B2. D1.3)

(20) ..., (Mbok Romi)/ berkawan/

S P

dengan kelompok Semut

Pel

Hitam yang ternyata adalah segerombolan pencuri. (B2. F1.48)

(21) Hal ini/ bertujuan/ untuk

S P

menghemat daya .... (B2. P4.89)

Pel

(22) .. , luas hutan bakau Indonesia/ S

mencapai/ 4,3 juta ha. P Pel

LHO1.125)

(23) Semut/ menghela/ napas.

S P Pel

FB3.205)

(24) Edo/ berteman/ dengan mereka.

S P Pel

(B2.SP1.246)

Dari analisis kalimat melalui teknik bagi unsur langsung, yaitu dengan membagi kalimat menjadi beberapa bagian sesuai dengan kedudukan fungsi kata dalam kalimat tersebut menunjukkan bahwa data (19)— (24) memiliki ciri sesuai dengan ciri verba taktransitif berpelengkap wajib yang menurut Alwi (2003:93) bahwa verba taktransitif wajib berpelengkap adalah verba yang tidak membutuhkan nomina, tetapi mengharuskan hadirnya pelengkap. Selanjutnya, untuk membuktikan kebenaran unsur yang menduduki fungsi pelengkap harus hadir atau tidak, hal ini dibuktikan dengan menghilangkan unsur nomina yang menduduki fungsi pelengkap setelah verba. Peneliti menggunakan teknik pelesapan dengan menghilangkan nomina setelah verba yang dimungkinkan menduduki fungsi pelengkap atau keterangan. Jika setelah pelesapan kalimat itu tidak gramatikal, verba tersebut merupakan verba taktransitif berpelengkap wajib. Perhatikan analisis kedudukan fungsi kata dalam kalimat di bawah ini. Perhatikan data (19)—(24).

Setelah unsur nomina yang menduduki fungsi pelengkap dilesapkan dari kalimat tersebut, kalimat itu menjadi tidak gramatikal makna. Hal ini membuktikan bahwa

(10)

nomina yang berada di belakang verba menduduki fungsi pelengkap bukan keterangan. Nomina tersebut harus hadir setelah verba agar membentuk satuan lingual yang gramatikal.

1.5 Verba Taktransitif Berpelengkap Manasuka dalam Buku Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Revisi 2016

Pada analisis penelitian ini ter-dapat data verba taktransitif pada masing-masing teks. Hal ini dapat dibuktikan dengan menganalisis kalimat melalui teknik bagi unsur langsung, yaitu dengan membagi kalimat menjadi beberapa bagian sesuai kedudukan fungsi kata dalam kalimat tersebut. Perhatikan analisis kedudukan fungsi kata dalam kalimat di bawah ini. Perhatikan data (25a)— (30a).

(25a) ...., terlihat/ tebing yang

P S

sangat tinggi (A1. D1.3) (26a) ....Levo, Goros, Lamia,

S

Sikka, dan Mora/ tersenyum. P (B3. F1.46)

(27a) (Kita)/ berkreasi/ untuk

S P

melestarikan tradisi. (B3. P5.94)

Pel

(28a) .., hutan bakau/ berfungsi/

S P

sebagai penahan badai.

Pel

LHO1.126)

(29a) Namun sang Belalang/ lupa.

S P

(B3. FB1. 195)

(30a) Kami/ tidak bisa S

sungguh belajar. (B3.-P

SP1.245)

Hasil analisis bagi langsung, yaitu dengan membagi kalimat menjadi beberapa bagian sesuai dengan kedudukan fungsi, menunjukkan bahwa data (1)—(6) memiliki verba taktransitif berpelengkap manasuka, yaitu kata terlihat, tersenyum, berkreasi, berfungsi, lupa, dan belajar yang menduduki fungsi predikat pada kalimat tersebut. Data tersebut memiliki ciri sesuai dengan ciri verba taktransitif berpelengkap manasuka yang menurut Alwi (2003:91) bahwa verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif dan memiliki nomina di belakang yang berfungsi sebagai pelengkap yang bersifat manasuka.

Selanjutnya, untuk membuktikan kehadiran pelengkap yang bersifat manasuka atau tidak dengan teknik pelesapan, yaitu menghilangkan unsur dalam hal ini adalah pelengkap, dapat dilihat kebenarannya. Jika setelah pelesapan unsur pelengkap

(11)

kalimat menjadi tetap gramatikal, verba tersebut merupakan verba taktransitif berpelengkap manasuka dan jika tidak, verba tersebut tidak termasuk pada verba kategori ini. Berikut ini analisisnya yang dapat dilihat pada data (25b)–(30b).

(25b) terlihat/ tebing yang sangat

P S

tinggi/ oleh para wisatawan.

Pel

(26b) ....Levo, Goros, Lamia, S

Sikka, dan Mora/ tersenyum. P (27b) anak-anak/ berkreasi.

S P

(28b) hutan bakau/ berfungsi.

S P

(29b) Namun sang Belalang/ lupa.

S P

(30b) Kami/ tidak bisa sungguh-S

sungguh belajar.

P

Hasil analisis pada (25b)— (30b) menunjukkan kalimat yang berterima atau gramatikal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa verba pada data (25a)—(30a) merupakan verba taktransitif berpelengkap manasuka.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, Soejono Darjdowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ke-3. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Harsiati, Titik. 2014. Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTS. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Kridalaksana, Harimurti. 1987. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia. Jakarta: Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Jakarta.

Parera, J.D. 2009. Dasar-dasar Analisis Sintaksis. Jakarta: Erlangga.

Ramlan. 2005. Ilmu Bahasa Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.

Sudaryanto. 2015. Metode Penelitian dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

(12)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :