BAB II KAJIAN PUSTAKA. memperoleh informasi. Bahan ajar dapat berupa bahan ajar cetak, multimedia, audio,

35 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

13 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Bahan Ajar

2.1.1 Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan salah satu sumber belajar yang dapat membantu siswa memperoleh informasi. Bahan ajar dapat berupa bahan ajar cetak, multimedia, audio, dan lain sebagainya. Prastowo (2011) menjelaskan bahwa,

Bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan kompetensi yang akan dikuasai siswa dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran,. Misalnya, buku pelajaran, modul, handout, LKS, model, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif, dan sebagainya.

Bahan ajar meliputi semua bahan baik itu berupa penjelasan, menjawab, dan gambaran tentang tujuan pembelajaran dan disusun secara sistematis.

2.1.2 Pentingnya Bahan Ajar

Bahan ajar sebagai media dan metode pembelajaran sangat besar artinya didalam pembelajaran. Pembuatan bahan ajar yang menarik dan inovatif adalah hal yang sangat penting dan merupakan tuntutan bagi setiap guru. Hal ini mengingat pekerjaan membuat bahan ajar memiliki konribusi yang besar bagi keberhasilan proses pembelajaran yang dilaksanakan. Menurut Prastowo (2011) menjelaskan bahwa “Keberadaan sumber belajar memiliki setidak-tidaknya tiga tujuan utama,

yaitu memperkaya informasi yang diperlukan dalam menyusun bahan ajar, dan memudahkan siswa untuk mempelajari suatu kompetensi tertentu”.

(2)

Adapun kegunaan sumber belajar sebenarnya tidak terlepas dari tujuan agar sumber belajar itu menjadi bermakna, maka sebagai seorang guru dituntut untuk secara kreatif mendesain suatu bahan ajar yang memungkinkan siswa dapat langsung memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Salah satu contohnya, membuat lembar kegiatan siswa. Lembar kegiatan siswa harus dapat memandu siswa untuk melakukan kegiatan tertentu berkaitan dengan sumber belajar yang tersedia, sehingga pada akhir kegiatan, siswa dapat menguasai satu atau lebih kompetensi dasar.

2.2 Lembar Kegiatan Siswa

Lembar kegiatan siswa atau biasa disingkat LKS pada umumnya dibeli dan bukan dibuat sendiri oleh guru. Padahal, lembar kegiatan siswa sebenarnya bisa dibuat sendiri oleh guru yang bersangkutan. Sehingga lembar kegiatan siswa dapat lebih menarik serta lebih kontekstual dengan situasi dan kondisi sekolah ataupun lingkungan sosial budaya peserta didik. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang pembuatan lembar kegiatan siswa, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu lembar kegiatan siswa. Trianto (2010) menjelaskan bahwa “Lembar kegiatan siswa merupakan alat belajar siswa yang memuat berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa secara aktif”.

Adapun kegiatan tersebut dapat berupa pengamatan, eksperimen, dan pengajuan pertanyaan. Oleh karena itu, lembar kegiatan siswa berkaitan dengan pilihan strategi pembelajaran yang menyatu didalam keseluruhan proses pembelajara. Menurut Belawati, dkk (2007) “Lembar kegiatan siswa merupakan materi ajar yang

(3)

ajar tersebut secara materi”. Dari beberapa pengertian ini dapat dipahami bahwa

lembar kegiatan siswa merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang tersusun secara sistematis yang berisi materi, ringkasan, tugas (teoritis maupun praktis) serta petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas yang harus dikerjakan siswa. Prastowo (2011) mengemukakan beberapa fungsi penggunaan lembar kegiatan siswa yaitu:

a. Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lebih mengaktifkan peserta didik.

b. Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan.

c. Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih.

d. Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik

Selain itu Prastowo (2007) menjelaskan, Dalam hal ini, paling tidak ada empat poin yang menjadi tujuan penyusunan lembar kegiatan siswa, yaitu:

a. Menyajikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan.

b. Menyajikan tugas–tugas yang meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap materi yang diberikan.

c. Melatih kemandirian belajar peserta didik.

d. Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada peserta didik.

Prastowo (2011) menyatakan “Setiap lembar kegiatan siswa disusun dengan

materi-materi dan tugas-tugas tertentu yang dikemas sedemikian rupa untuk tujuan tertentu”. Karena adanya perbedaan maksud dan tujuan pengemasan materi pada

masing-masing lembar kegiatan siswa tersebut, hal ini berakibat lembar kegiatan siswa memiliki berbagai macam bentuk. Menurut Amri (2013), ada beberapa bentuk lembar kegiatan siswa antara lain:

1. LKS membantu siswa menemukan suatu konsep, LKS jenis ini memuat apa yang (harus) dilakukan siswa, meliputi melakukan, mengamati, dan menganalisis.

2. LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang di temukan.

3. LKS yang berfungsi sebagai penutup belajar, LKS ini berisi pertanyaan atau isian yang jawabannya ada didalam buku.

(4)

4. LKS yang berfungsi sebagai penguatan, LKS ini diberikan setelah siswa selesai mempelajari topik tertentu. Materi pembelajaran yang dikemas didalam LKS ini lebih mengarah pada pendalaman dan penerapan materi pembelajaran yang terdapat didalam buku pelajaran.

5. LKS berfungsi sebagai petunjuk praktikum, ahlih-ahlih memisahkan petunjuk praktikum kedalam buku tersendiri, kita dapat menggabungkan petunjuk praktikum kedalam kumpulan LKS.

Bahan ajarlembar kegiatan siswa terdiri atas enam unsur utama, meliputi judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar atau materi pokok, impormasi pendukung, tugas atau langkah kerja dan penilaian (Prastowo, 2011). DEPDIKNAS (2008) menyatakan struktur lembar kegiatan siswa memuat judul, petunjuk, kompetensi dasar (dapat dibuat lebih rinci dalam indikator pencapaian), informasi pendukung, tugas atau langkah kerja, dan peniaian.

2.3 IPA Terpadu

2.3.1 Pembelajaran IPA Terpadu

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahunn 2006 secara tegas menyatakan bahwa subtansi mata pelajaran IPA di SMP/MTS merupakan IPA Terpadu, bukan IPA yang terpisah-pisah sebagai mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Kimia. Pembelajaran terpadu diajarkan secara lebih menyeluruh dan saling berkaitan satu sama lain. DEPDIKNAS (2006) menyatakan pembelajaran IPA Terpadu adalah pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan dari berbagi bidang kajian (fisika, biologi, kimia, bumi dan alam semesta) pada mata pelajaran IPA dalam satu bahasan.

Pembelajaran IPA dilaksanakan secara terpadu dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena diawali dengan suatu tema atau pokok bahasan

(5)

tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain yang dilakukan secara spontan dan direncanakan dengan beragam pengalaman belajar siswa. Menurut Puskur (2007) menyatakan bahwa pada dasarnya tujuan pembelajaran IPA Terpadu sebagai suatu kerangka model dalam proses pembelajaran, tidak jauh berbeda dengan tujuan pokok pembelajaran terpadu itu sendiri, yaitu: 1) meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran; 2) meningkatkan minat dan motivasi; 3) beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus.

2.3.2 Model IPA Terpadu

Pembelajaran terpadu dibedakan berdasarkan pola pengintegrasian materi atau tema. Berdasarkan pola tersebut Trianto (2007) menyatakan ada sepuluh model pembelajaran terpadu, yaitu:

The fragmented model (model tergambarkan), 2) the connected model (model terhubung), 3) the nested model (model tersarang), 4) the squenced model (model terjaring), 5) the shared model (model terbagi), 6) the webbed model (model terjaring), 7) the threaded model (model tertali), 8) the integrated model (model terpadu), 9) the immersed model (model terbenam), 10) the networked model (model jaringan).

Secara umum dari kesepuluh model pembelajaran terpadu diatas dapat dikelompokkan menjadi tiga klasifikasi pengintegrasian kurikulum, yaitu:

a. Pengintegrasian didalam satu disiplin ilmu

Model pembelajaran terpadu yang mentautkan dua atau lebih bidang ilmu yang serumpun. Misalnya di bidang Ilmu Alam, mentautkan antara dua tema dalam kimia dan biologi yang memiliki relevansi.

(6)

b. Pengintegrasian beberapa disiplin ilmu

Model pembelajaran terpadu yang entautkan antar disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya antar tema yang ada dalam bidang ilmu sosial dengan ilmu alam. Jadi, dalam model ini suatu tema tersebut dapat dikaji dari dua sisi bidang ilmu yang berbeda.

c. Pengintegrasian di dalam satu dan beberapa disiplin ilmu

Model pembelajaran terpadu yang paling kompleks karena mentautkan antar disiplin ilmu yang serumpun sekaligus bidang ilmu yang berbeda. Misalnya antar tema yang ada dalam bidang ilmu sosial, ilmu alam, teknologi, maupun ilmu agama.

Menurut Forgarty (1991) dari beberapa model pembelajaran terpadu ada tiga model yang dipandang layak untuk dikembangkan dan mudah dilaksanakan pada pendidikan formal yaitu: model keterhubungan (connected), model jaringan laba-laba (webbed), dan model keterpaduan (integrated).

Tabel 2.1. Model Pembeljaran IPA Terpadu

Nama Model Karakteristik Kelebihan Keterbatasan Keterhubungan

(connected)

Mengubungkan antar konsep, topik, keterampilan, ide yang satu dengan yang lain tetapi masih dalam lingkup satu bidang studi

Siswa akan lebih mudah menemukan keterkaitan karena masih dalam lingkup satu bidang studi

Model ini kurang menampakkan keterkaitan interdisiplin Terpadu (integreted) Dimulai dengan identifikasi konsep, keterampilan, sikap overlap pada beberapa disiplin ilmu atau beberapa bidang studi. Tema berfungsi sebagai konteks

Hubungan antar bidang studi jelas terlihat melalui kegiatan belajar 1. fokus kegiatan belajar, mengabaikan target penguasaan konsep 2. menuntut wawasan luas

(7)

pembelajaran Jejaring (webbed) Dimulai dengan menentukan tema yang keudian dikembangkan subtemanya dengan memperhatikan kaitannya dengan disiplin ilmu atau bidang studi lain

Tema yang familiar membuat motivasi belajar meningkat; memberikan pengalaman berpikir serta bekerja interdisiplin Sulit menemukan tema 2.4 Mind Mapping

2.4.1 Pengertian Mind Mapping

Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti mampu mengoptimalkan hasil belajar adalah metode peta pikiran atau disebut mind mapping. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Bunzan pada awal 1970-an yaitu, seorang ahli dan penulis produktif di bidang psikologi, kreativitas dan pengembangan diri. Buzan (2008) menyatakan bahwa mind mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara hafiah yang akan memetakan pikiran.

Mind mapping atau peta pikiran adalah sebuah diagram yang digunakan untuk mempersentasikan kata-kata, ide-ide (pikiran), tugas-tugas atau hal-hal lain yang dihubungkan dari ide pokok otak. Peta pikiran juga digunakan untuk menggeneralisasikan, menvisualisasikan serta mengklasifikasikan ide-ide dan sebagai bantuan dalam belajar, berorganisasi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan serta dalam menulis. Menurut DePorter (2010) menyatakan bahwa peta pikiran

(8)

adalah teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan grafis lainnya untuk terlibat sehingga mempermudah memasukkan informasi ke dalam otak, peta pikiran ini juga digunakan untuk menata dan menghubungkan apa yang ingin kita tuliskan.

Edward (2009) menyatakan mind mapping mempunyai banyak keunggulan, diantaranya: proses pembuatannya menyenangkan, karena semata-mata tidak mengandalkan otak kiri saja, sifatnya unik, sehingga mudah diingat serta menarik perhatian, dan topik utama materi pelajaran ditentukan secara jelas, begitu juga hubungan antara yang satu dengan yang lain. Mind mapping dapat digambarkan seperti kerangka berpikir yang membentuk pohon dengan batangnya pusat yang memiliki dahan dan ranting sebagai anak percabangan dari topik utama.

2.4.2 Tujuan dan Manfaat Mind Mapping

Mind mapping juga sudah sesuai dengan cara kerja alami otak. Mind mapping dapat menghasilkan catatan yang memberikan banyak informasi dalam satu halaman dan memperlihatkan hubungan antar berbagai konsep dan ide. Maka dengan mind mapping, daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi peta yang berwarna-warni, sangat teratur dan mudah diingat yang selaras dengan cara kerja alami otak.

Manfaat mind mapping (peta pikiran) tanpa disadari dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya dalam pembelajaran. Menurut (Buzan, 2008) menjelaskan bahwa mind maping dapat membantu kita antara lain:

a. Merencana b. Berkomunikasi c. Menjadi lebih kreatif d. Menghemat waktu

(9)

e. Menyelesaikan masalah f. Memusatkan perhatian

g. Menyusun dan menjelaskan pikiran h. Mengingat dengan lebih baik i. Belajar lebih cepat dan efisien j. Melihat gambar keseluruhan

Mind mapping adalah bentuk istimewa pencatatan yang bekerja selama dengan otak siswa untuk memudahkan mengingat. Mind mapping menggunakan warna dan gambar-gambar untuk membantu membangun imajinasimu dan caramu menggambarkan mind mapping dengan kata-kata atau gambar-gambar yang bertengger digaris-gari melengkung atau cabang-cabang akan membantu ingatanmu membuat asosiasi.

2.4.3 Keunggulan Mind Mapping

Anita (2011) menyatakan bahwa mind mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat didalam diri seseorang. Adanya keterlibatan dua belah otak maka akan memudahkan seseorang untuk menghasilkan suatu bentuk sebagai hasil mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tulis maupun verbal. Kombinasi warna, simbol, dan bentuk memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

Perbedaan penggunaan teknik mencatat mind mapping dengan teknik mencatat biasa dalam pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Berikut ini perbedaannya dikemukakan pada Tabel 2.2 berikut ini:

(10)

Tabel 2.2 Perbedaan Catatan Biasa dan Mind Mapping

Catatan Biasa Mind Mapping

Hanya berupa tulisan saja Hanya dalam satu warna

Untuk review dibutuhkan waktu yang lama

Waktu yang dibutuhkan untuk belajar Lebih lama

Statis

Berupa tulisan, simbol, dan gambar Berwarna-warni

Untuk review dibutuhkan untuk yang pendek

Waktu yang dibutuhkan untuk belajar Lebih cepat dan efektif

Membuat individu lebih kreatif

(sumber: Apriyanti, 2010)

2.4.4 Aplikasi Mind Mapping dalam Pendidikan

Dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, kegunaan dan aplikasi mind mapping sangat banyak, antara lain untuk; meringkas, mengkaji ulang (review), mencatatat, mengajar, bedah buku (in-depth book analysis), presentasi, penelitian, dan manajemen waktu (tame management).

2.4.5 Langkah Penyusunan Mind Mapping

Cara kerja mind mapping sama dengan cara kerja otak. Otak dapat melakukan hal-hal luar biasa yang paling kompleks sekalipun, pada dasarnya prinsip kerjanya sangat sederhana. Itulah kenapa metode ini mudah dan menyenangkan untuk dibuat. Karena cara kerjanya sejalan dengan kebutuhan dan kekuatan alami otak, bukan melawan cara kerja otak.

Deporter (2010) menjelaskan bahwa ada beberapa kiat dalam membuat peta pikiran. Kiat-kiat tersebut yaitu:

1. Membuat lingkaran ditengah kertas untuk menuliskan gagasan utama.

2. Menambahkan cabang-cabang dari pusatnya untuk tiap poin kunci, menggunakan pensil warna.

3. Menuliskan kata kunci/frase pada tiap-tiap cabang, lalu kembangkan untuk menambah detail-detail.

4. Tambahkan simbol dan ilustrasi. 5. Menggnakan huruf capital.

(11)

6. Menuliskan gagasan penting dengan huruf yang lebih besar. 7. Membuat kreasi pada peta pikiran yang dibuat.

8. Memberikan garis bawah pada kata-kata yang dianggap penting dan menggunakan huruf tebal.

9. Bersikap kreatif dan berani dalam membuat peta pikiran.

10. Menggunakan bentuk-bentuk acak untuk menunjukkan hal penting. 11. Membuat peta pikiran secara hirizontal.

Kiat-kiat dalam membuat sangat dipengaruhi oleh asosiasi masing-masing siswa. Perbedaan setiap asosiasi siswa akan menyebabkan peta pikiran yang dibuat berbeda-beda. Meskipun berbeda, tehnik ini mungkin terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Efektifitas peta pikiran sebagai suatu tehnik pencatatan dapat dilihat dari kemudahan siswa dalam mengingat dan mengulang kembali suatu materi pembelajaran IPA yang telah ditetapkan. Kemudahan dalam mengingat dan mengulang kembali materi ini sebagai hasil dari kombinasi fungsi otak kanan dan otak kiri siswa.

Peta pikiran mengombinasikan fungsi otak kiri dan otak kanan, terlihat dalam pola penggunaan kata-kata, angka-angka, logika, analisis, dan bahasa (kerja otak kiri) dengan irama, mimpi, imajinasi, musik, perasaan, emosi, kreativitas, dan bentuk atau simbol (kerja otak kanan). Menurut Windura (2009) menjelaskan bahwa peta pikiran melibatkan unsur otak kanan dan kiri secara bersama-sama, sebagaimana dijelaskan seperti pada tabel 2.3 berikut ini:

Tabel 2.3. Unsur-unsur otak kanan dan otak kiri yang terlibat dalam pembuatan peta pikiran

Otak Kiri Otak Kanan

Tulisan Urutan penulisan Hubungan antar kata

Warna Gambar Dimensi (tata ruang)

(12)

Teknik peta pikiran dalam pembelajaran IPA dengan karakteristik materi yang khas akan lebih efektif jika digunakan untuk materi-materi yang bersifat teoritis. Karakteristik materi IPA yang didalamnya terdapat rumusan matematis memerlukan kehati-hatian dalam membuat catatan dengan peta pikiran.

Sebagai contoh mind mapping dalam pembelajaran IPA dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Hasil mind mapping

(13)

Teknik peta pikiran dalam pembelajaran IPA dengan karakteristik materi yang khas akan lebih efektif jika digunakan untuk materi-materi yang bersifat teoritis. Karakteristik materi IPA yang didalamnya terdapat rumusan matematis memerlukan kehati-hatian dalam membuat catatan dengan peta pikiran.

Bunzan (2010) menjelaskan bahwa langkah-langkah untuk menyusun mind mapping antara lain yaitu: 1) pastikan tema utama terletak ditengah-tengah, 2) dari tema utama akan muncul tema-tema turunan, 3) cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol, 4) gunakan huruf besar, 5) gunakan peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit, 5) sisakan ruangan untuk penambahan tema.

2.4.6 Kelebihan dan Kekuangan Mind Mapping

Mind mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangakn gaya belajar visual yang memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbar. Adanya kombinasi warna, simbol, dan sebagainya memudahkan otak menyerap informasi yang diterima.

Adapun kelebihan dan kelemahan dari mind mapping adalah sebagai berikut (Shoimin, 2014):

a. Kelebihan mind maping:

1. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas 2. Dapat bekerja sama dengan teman lainnya 3. Catatan lebih padat dan jelas

4. Catatan lebih terfokus pada inti materi

(14)

6. Meningkatkan daya kreatif siswa b. Kelemahan mind mapping:

1. Hanya siswa yang aktif yang terlibat 2. Tidak sepenuhnya murid yang belajar

3. Hasil mind mapping yang bervariasi membuat guru kewalahan memeriksanya.

2.4.7 Perbedaan Mind Mapping dan Peta Konsep

Peta konsep mirip dengan mind mapping. Peta konsep menyediakan bantuan visual konkrit untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari. Peta konsep adalah ilustrasi grafik konrit yang mengidikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama. Peta konsep secara hirarki, artinya konsep yang lebih umum diletakkan pada puncak peta, makin kebawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep khusus.

Peta konsep ada empat macam, yaitu pohon jaringan (netork tree), rantai kejadian (even chain), peta konsep siklus (cycle concept map) dan peta konsep laba-laba (spider concept map).. Pada peta konsep, siswa hanya fokus pada definisi konsep, belajar menghubungkan konsep satu dengan konsep yang lain, perbedaan peta konsep dan mind mapping dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut ini:

Tabel 2.4 Perbedaan peta konsep dan mind mapping

Peta Konsep Mind Mapping

Berupa kata atau konsep, tetapi terdapat kata penghubung konsep

Berupa kata/konsep, tetapi tidak terdapat kata penghubung antar konsep Konsep yang lebih umum diletakkan

pada puncak peta, makin kebawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep yang khusus. Sehingga peta konsep disusun secara hirarki

konsep yang lebih umum diletakkan pada tengah peta, konsep yang kurang khusus diletakkan dicabang-cabang peta

Ada empat macam peta konsep yaitu pohon jaringan (netork tree), rantai kejadian (even chain), peta konsep siklus (cycle concept map) dan peta konsep laba-laba (spider concept map).

Bentuk mind mapping disesuaikan dengan pembuatannya. Sehingga pembuat dapat membuat mind mapping

sesuai dengan kreatifitasnya

(15)

2.4.8 Penilaian Mind Mapping

Penilaian mind mapping tidak seperti penilaian hasil pekerjaan siswa yang mengacu pada yang salah dan benar, mind mapping itu tidak ada yang benar dan salah karena merupakan hasil pemikiran individu. Mind mapping yang dibuat oleh siswa akan dinilai berdasarkan banyaknya kata kunci yang di tentukan serta kesesuaian dengan aturan mind mapping. Siswa dapat dikatakan mampu menghasilkan mind mapping apabila hasil mind mapping siswa terdapat pada kategori baik. Hal ini dilihat pada tabel 2.5 berikut ini:

Tabel 2.5 Perjenjangan Hasil Mind Mapping

Kategori Karakteristik Tingkat

Sangat Baik Kelancaran, Keluwesan, dan Orisinalitas Sangat Kreatif Baik Kelancaran, Orisinalitas, atau Kelancaran

dan Keluwesan

Kreatif Cukup Baik Orisinalitas atau Keluwesan Cukup Kreatif Kurang Baik Kelancran Kurang Kreatif

Tidak Baik Tidak ada komponen berpikir kreatif Tidak Kreatif (Sumber: Journal of Chemical Education, 2015)

2.5 Persepsi

Walgito (2010) menjelaskan bahwa, “Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau juga disebut proses sensoris”. Selain itu, Moskowitz dan Orgel (Walgito, 2010) menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses yang integrated dalam diri individu terhadap stimulus yang diterima.

Menurut Walgito (2010), adapun faktor-faktor yang berperan dalam persepsi sebagai berikut:

1. Objek yang dipersepsi

Objek yang menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar orang yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari individu

(16)

yang bersangkutan yang mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun sebagian besar stimulus datang dari luar individu.

2. Alat indera, syaraf dan pusat susunan syaraf

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran, sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan saraf motoris.

3. Perhatian

Untuk menyadari atau mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukkan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.

Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa ada beberapa faktor yang berperan agar terjadinya proses persepsi yaitu, objek atau stimulus yang dipersepsi, alat indera dan syaraf-syaraf serta pusat susunan syaraf dan perhatian.

Selanjutnya, adapun proses terjadi persepsi menurut Walgito ( 2010), sebagai berikut :

1. Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.

2. Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat-alat indera) melalui saraf-saraf sensoris.

3. Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologi, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.

4. Tahap keempat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.

2.6 Materi Tekanan Zat Cair

Air merupakan contoh fluida. Fluida adalah zat cair yang dapat mengalir. Kita ingat bahwa wujud zat cair ada tiga macam, yaitu padat, cair, dan gas. Zat yang tergolong fluida adalah zat cair dan gas. Zat cair dan gas memiliki massa sehingga memiiki berat, dan pada saat berada disuatu tempat yang memiliki luas tertentu dapat menghasilkan tekanan.

(17)

Tekanan didefinisikan sebagai gaya yang bekerja tegak lurus pada suatu bidang dibagi dengan luas bidang itu:

Rumus:

(2.1)

Keterangan: P = Tekanan (N/m2 atau Pa) F = Gaya (N)

A = Luas Bidang (m2) Satuan dan dimensi tekanan

Satuan SI untuk gaya adalah N dan luas adalah m2, sehingga sesuai dengan persamaan (2.1), maka:

(2.2)

Dan untuk menghormati Blaise Pascal, seorang ilmuan berkebangsaan prancis yang menemukan prinsip Pascal, maka satuan tekanan dalam SI dinamakan juga dalam pascal (disingkat Pa), 1 Pa = 1 Nm-2. Untuk keperluan lain dalam pengukuran, besaran tekanan juga biasa dinyatakan dengan: atmosphere (atm), cm-raksa ( cmHg), dan milibar (mb). 1 Pa = 1 N/m2 1 atm = 76 cm Hg 1 mb = 0,001 bar 1 bar = 105 Pa 1atm = 1,01 x 105 Pa = 1,01 bar 1. Tekanan hidrostatis

Tekanan hidrostatis adalah tekanan dalam zat cair yang disebabkan oleh berat zat cair itu sendiri. Pada tekanan hidrostatis dipengaruhi oleh gaya gravitasi yang

(18)

menyebabkan zat cair dalam suatu wadah selalu tertarik kebawah. Semakin tinggi zat cair dalam wadah, maka semakin berat zat cair itu, sehingga semakin besar tekanan yang dikerjakan zat cair pada dasar wadah. Dengan kata lain pada posisi yang semakin dalam dari dasar wadah, maka tekanan hidrostatis semakin besar.

Pada fluida diam tekanan zat zair seperti yang ditunjukkan gambar 2.1 besarnya tekanan disuatu titik sebanding dengan kedalaman titik tersebut, jenis zat dan massa jenis zat cair.

h g

A

Permukaan dasar wadah Gambar 2.2 Tekanan hidrostatis terhadap permukaan dasar wadah

Untuk menentukan persamaan tekanan hidrostatis ditinjau kembali persamaan 2.3 menganggap wadah yang digunakan wadah silinder.

Secara umun dituliskan.

Dimana W = m g, dengan dan V = A h sehingga didapat persamaan:

2.3

Dengan : Tekanan hidrostatis (Nm-2) Massa jenis zat (kg/m3)

(19)

Gaya gravitasi (m/s2) Ketinggian zat cair (m) Luas penampang wadah (m2)

Berdasarkan persamaan tekanan diatas tekanan hidrosatatis didalam titik fluida ditentukan oleh kedalaman fluida yang diukur dari permukaan dan tidak bergantung pada luas penampang tempat fluida serta tidak bergantung kepada bentuk penampang.

Dengan demikian tekana pada titik seperti gambar 2.3 tersebut tekanan hidrostatis di titik A , B, dan C berbeda, semakin dalam tekanan dalam letak suatu titik dalam air maka semakin besar tekanan dititik tersebut.

Gambar 2.3 Tekanan hirostatis pada berbagai titik (Sumber: http://informasiana.com)

Hukum Pokok Hidrostatika

“Semua titik yang terletak pada suatu bidang datar dalam zat cair yang sejenis

memiliki tekanan (mutlak) yang sama”. (Kanginan, 2007). Tekanan mutlak pada fluida:

Jika udara luar diperhitungkan seperti pada gambar 2.2 maka besar tekanan pada titik dalam fluida merupakan tekanan total. Secara matematis persamaan tekanan total dituliskan:

(20)

2.4

Dengan : Tekanan total (Nm-2) Tekanan udara luar (Nm-2)

Massa jenis zat (kg/m3)

Percepatan gravitasi bumi (m/s2) Ketinggian zat cair (m)

2. Bejana Berhubungan

Zat cair selalu mengikuti bentuk wadah yang ditempatnya. Contohnya saat kamu meuangkan air minum didalam gelas, maka bentuk air seperti gelas. Begitu juga zat cair yang lain. Zat cair dalam keadaan tenang tanpa adanya goyangan selalu menunjukkan permukaan yang mendatar. Keadaan permukaan zat cair yang mendatar juga dapat kita lihat dalam bejana berhubungan. Hukum bejana berhubungan berbunyi “jika bejana berhubungan diisi zat cair yang sama, dalam keadaan setimbang permukaan zat cair dalam bejana-bejana itu terletak pada satu bidang datar”.

Gambar 2.4 Bejana Berhubungan (Sumber: http://informasiana.com)

Hukum bejana berhubungan membahas mengenai zat cair sejenis dalam bejana berhubungan. Lalu, apa yang terjadi jika bejana berhubungan tersebut diisi dengan beberapa zat cair tidak sejenis? Untuk kasus seperti ini digunakan prinsip tekanan hidrostatis, yaitu tekanan zat cair akan sama pada kedalaman yang sama

(21)

Perhatikan gambar 2.5 dibawah ini! Tekanan hidostatis pada titik A akan sama dengan tekanan hidrostatis pada titik B.

Minyak air

Gambar 2.5 Bejana berhubungan yang diisi dengan zat cair yang massa jenisnya berbeda

Sehingga diperoleh persamaan:

2.5 Dengan: = massa jenis zat cair 1 (kg/m3)

= massa jenis zat cair 2 (kg/m3) = ketinggian zat cair 1 (m)

= ketinggian zat cair 2 (m)

Berdasrkan peristiwa diatas, tampak bahwa tinggi permukaan zat cair tidak sejenis tidak sama. Dengan demikian, prinsip bejana berhubungan tidak berlaku. Beberapa hal yang menyebabkan prinsip bejana berhubungan tidak berlaku antara lain sebagai berikut:

a. Tekanan diatas bejana tidak sama (misalnya salah satu bejana tertutup) b. Diisi dua atau lebih macam zat cair

c. Digoyang-goyangkan

(22)

Peristiwa bejana berhubungan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari diantaranya:

a. Air dalam teko

b. Alat pengukur kedataran suatu permukaan (water pass), dan

c. Penyaluran air melalui selang pada tempat dan ketinggian yang sama

Kapilaritas adalah gejalah turun naiknya zat cair dalam pembuluh darah yang sempit, jika pembuluh yang kedua ujungnya terbuka itu dimasukkan tegak lurus kedalam bak yang berisi zat cair, pembuluh yang sempit disebut pipa rambut atau pipa kapiler. Misalnya pembuluh kayu pada batang pohon. Dalam pipa kapiler air akan naik karena adhesi antara air dan pipa kapiler lebih besar dari pada kohesi air. Adapun untuk raksa berlaku sebaliknya, yaitu raksa akan turun dalam pipa kapiler.

3. Hukum Pascal

Kamu sudah mengetahui bahwa zat cair yang diam memiliki tekanan hidrostatis yang dipengaruhi oleh massa jenis zat cair, konstanta gravitasi, dan kedalaman zat cair. Namun bagaimanakah jika suatu zat cair dalam ruang tertutup kamu berikan tekanan, dan kearah manakah tekanan itu diteruskan? Pertanyaan tersebut terjadi pada diri seorang bernama pascal. Isilah sebuah kantong dengan air lihat gambar 2.6. kemudian gunakan sebuah jarum untuk membuat beberapa lubang pada plastik sementara kamu memeras bagian atasnya. Apakah yang terjadi?

Pada gambar 2.6 tampak bahwa tekananmu menyebabkan air memancar keluar. Hal ini berarti bahwa tekanan yang kamu lakukan diteruskan melalui zat cair

(23)

tersebut. Air memancarkan ke segala arah dalam arti bahwa tekanan bekerja ke segala arah.

Gambar 2.6 Tekanan bekerja ke segala arah (Sumber: Trianto, 2010)

Blaise Pascal (1623-1662), seorang ilmuan Prancis, yang menemukan pengaruh tekanan yang diberikan pada zat cair. Pascal mengemukakan bahwa tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup akan diteruskan kesegala arah sama besar. Pernyataan ini selanjutnya disebut “Hukum Pascal”.

Kaitannya dengan Biologi:

Tahukah kamu cara kerja jantung memompa darah keseluruh bagian tubuh? Gaya otot pada setiap denyut jantung disebut tekanan darah (blood pressure). Karena darah merupakan zat cair, maka prinsip kerja hukum Pascal juga berlaku pada sistem transportasi darah. Gambar 2.7

Gambar 2.7 Jantung memompa darah (Sumber: Trianto, 2010)

(24)

Sebuah penerapan sederhana dari hukum pascal adalah mesin Hidrolik, dimana mesin Hidrolik terdiri atas dua tabung yang berbeda luas penampangya seperti gambar 2.8.

Gambar 2.8 Prinsip mesin hidrolik (Sumber: Trianto, 2010)

Tabung 1 memiliki penampang yang lebih kecil dari pada tabung 2. Kedua tabung itu dihubungkan dengan sebuah tabung mendatar. Mesin hidrolik diisi dengan minyak atau zat cair yang lain, kemudian ditutup dengan pengisap kecil (piston) yang luas penampang A1 dan pengisap besar (piston) yang luas penampangnya A2. Jika pengisap kecil ditekan dengan gaya F1, zat cair mendapat tekanan sebesar:

2.6

Tekanan itu akan diteruskan oleh zat cair kesegala arah dengan sama besar. Oleh karena itu, permukaan bawah pengisap besar mendapat tekanan keatas sbesar:

2.7

Gaya yang mendorong pengisap ke atas sebesar:

2.8

Karena,

⃗⃗⃗⃗

(25)

Maka,

F2 = F1 2.9

Dengan:

F1 = gaya yang bekerja pada pengisap 1 (N)

F2 = gaya yang bekerja pada pengisap II (N)

A1 = luas penampang pengisap 1 (m2)

A2 = luas penampang pengisap II (m2)

Persamaan diatas menunjukkan bahwa jika perbandingan luas penampang A2 terhadap A1 besar, perbandingan gaya F2 terhadap gaya F1 juga besar. Hal itu berarti bahwa dengan gaya yang kecil diberikan pada pengisap kecil akan menghasilkan gaya yang besar pada pengisap besar. Adapun peralatan–peralatan yang memanfaatkan prisip pascal antara lain: Dongkrak Hidrolik, Pompa hidrolik ban sepeda, mesin hidrolik pengangkut mobil.

Keterkaitan dengan sistem transportasi darah pada jantung(biologi)

Gambar 2.9 Sirkurasi darah dalam jantung (Sumber: Trianto, 2010)

Jantung terletak dirongga dada sebelah kiri dan berfungsi sebagai alat pemompa darah. Oleh karenanya jantung mempunyai otot yang kuat. Jantung juga merupakan pusat sistem peredaran darah pada tubuh kita, karena dari jantunglah

(26)

darah dialirkan keseluruh bagian tubuh, prinsip ini mirip dengan sistem kerja pada hukum Pascal sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Perhatikan gambar 2.10.

Gambar 2.10 Sphygmomanometer

(Sumber: Trianto, 2010)

Jantung terdiri atas empat ruang, yaitu: a. Serambi kiri

b. Serambi kanan c. Bilik kanan bilik kiri d. Bilik kanan

Denyut jantung terjadi jika otot jantung berkontraksi. Denyut jantung dapat kita rasakan pada pembuluh nadi (arteri) di dekat permukaan kulit, seperti dipergelangan tangan atau leher. Denyut jantung pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada kondisinya.

4. Hukum Archimedes

“Gaya apung yang bekerja pada suatu benda yang dicelupkan sebagian atau

seluruhnya ke dalam suatu fluida sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut”. Secara matematis hukum Archimedes dituliskan berikut ini:

(27)

FA= g V (2.10)

Dengan:

FA = gaya keatas (N)

= massa jenis zat cai (kg/m3)

V = volume zat cair yang dipindahkan = volume benda yang tercelup (m3) g = konstanta gravitasi (m/s2)

a. Tenggelam, Terapung, Melayang 1) Tenggelam

Jika kamu melemparkan batu kealam kolam, batu itu akan terus jatuh sampai kedasar kolam. Peristiwa itu terjadi karena massa jenis batu lebih besar dari pada massa jenis air kolam sehingga berat batu lebih besar dari pada gaya angkat air terhadap batu. Suatu benda akan tenggelam dalam zat cair jika massa jenis benda itu lebih besar dari pada massa jenis zat cair.

Gambar 2.11 Benda tenggelam ( ⃗⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗ ) (Sumber. http://garda-pengetahuan.co.id)

2) Terapung

Dikolam renang sering kita jumpai pelampung. Pelampung terapung karena berisi udara yang tentu saja bermassa jenis lebih kecil dari pada massa jenis air. Sebuah benda akan terapung dalam zat cair, jika massa jenis benda itu lebih kecil dari pada massa jenis zat cair.

(28)

Gambar 2.12 Benda terapung ( ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗⃗ )

(Sumber. http://garda-pengetahuan.co.id)

3) Melayang

Mengapa ikan dapat melayang dalam air? Tentu saja karena massa jenis zat ikan (yang hidup) sama dengan massa jenis zat cair. Suatu benda akan melayang dalam zat cair jika massa jenis benda itu sama dengan massa jenis zat cair.

Gambar 2.13 Benda melayang ( ⃗⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗ ) (Sumber. http://garda-pengetahuan.co.id)

b. Contoh Penggunaan Prinsip Archimedes 1) Kapal laut

Kapal yang terbuat dari baja tentu sangat berat. Namun, kapal itu dapat terapung dilaut. Agar dapat terapung, kapal dibuat berongga dan berisi udara. Massa jenis udara jauh lebih kecil dari pada massa jenis air, sehingga massa jenis kapal beserta muatannya dan udara tetap leih kecil dari pada massa jenis air. Semakin besar zat cair yang dipindahkan. Akibatnya, semakin besar gaya angkt yang dialami kapal itu.

(29)

2) Galangan kapal

Galangan kapal diunakan digunakan untuk mengangkat kapal ke atas permukaan air ketika kapal itu diperbaiki. Setelah kapal masuk dalam alangan, air dalam galangan dipompa keluar sehingga galangan kapal yang telah berisi kapal dapat terangkat.

3) Hidrometer

Hidrometer adalah alat untuk mengukur massa jenis zat cair. Jik hidrometer dimasukkan kedalam zat cair, hidrometer akan terapung dan menunjukkan angka pada skala sesuai dengan massa jenis cairan tersebut.

4) Jembatan Ponton

Jembatan ponton dibangun dari drum-drum kosong yang diikat, dan diatasnya dipasang papan-papan sehingg jembatan ini bisa terapung diatas air.

5. Tekanan Zat Cair dalam Tubuh Manusia

Pada bagia sebelumnya telah dijelaskan bahwa besar tekanan dalam zat cair yang diam (tekanan hidrostatis) bergantung pada massa jenis dan ketinggian zat cair. Pada tubuh manusia, tekanan zat cair berhubungan dengan tekanan osmosis, tekanan darah dan difusi pada pernapasan.

1) Osmosis dan Tekanan Osmotik

Osmosis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan difusi suatu pelarut (solven) melalui membran semipermiabel. Pada proses osmosis, zat terlarut (solut) tidak terbawa. Berikut ini peristiwa osmosis:

(30)

Gambar 2.14 Pristiwa osmosis a dan b (Sumber: www.edubio.info)

Membran semipermiabel digunakan untuk memisahkan suatu bejana berisi air menjadi dua bagian molekul-molekul air dapat dengan bebas melewati pori-ori membran. Namun molek-molekul zat terlarut tidak dapat melewati pori-pori membran dari satu bagian ke bagian yang lain. Gambar 2.14(a) menunjukkan molekul gula (bintik-bintik) berada dalam air tetapi tdak dapat melewati membran karena molekul gula lebih besar dibandingkan molekul air. Gambar 2.14(b) menunjukkan molekul-molekul air menyebar melalui membran semipermiabel dengan cara berosmosis dari bejana bagian B yang memiliki konsentrasi lebih encer menuju bejana bagian A yang memiliki konsentrasi lebih pekat.

2) Osmosis dalam Tubuh Manusia

Pelarut akan mengalir dari konsentrasi rendah menuju kekonsentrasi yang lebih tinggi. Konsentrasi normal natrium klorida dalam darah adalah 0,9% (0,9 gram natrium klorida tiap 100 mililiter air), dan ternyata konsntrasi natrium klorida pada sebuahsel darah merah (eristrosit) juga 0,9%. Hal ini berarti terbentuk kondisi kesetimangan dinamis laju gerakan masuk molekul air ke dalam sel tepat sama dengan laju gerak keluar molekul air dari dalam sel. Volume air yang bergerak masuk

(31)

dan keluar dari sel darah merah setiap detik sekitar 100 kali volume sel yang bersangkutan.

Dengan demikian, laju gerak molekul air yang keluar dan masuk sel harus tetap sama, jika tidak maka sel akan mengerut dan akhirnya hilang atau pecah. Hal tersebut merupakan gambaran ketika sl berada dalam kondisi isotonik dengan darah. Pada saat itu sel memiliki tonisita (tekanan) yang sama, yaitu konsentrasi zat terlarut dalam sel sebanding konsentrasi zat tersebut dalam darah. Untuk menjelaskan tentang osmosis dalam sel hidup pada tubuh manusia, perhatikan gambar-gambar berikut ini:

Gambar 2.15 a, b, dan c (Sumber: www.edubio.info)

Gambar 2.15(a) menunjukkan sebuah sel ditempatkan dalam larutan isotonik. Konsentrasi air yang masuk dan keluar sebanding, sehingga tercapai kesetimbangan dinamis. Pada kondisi ini, laju gerak air yang masuk sel sebanding dengan laju air yang keluar dari sel tersebut. Akibatnya pada sistem tersebut tidak mengalami apapun.

(32)

Gambar 2.15(b) menunjukkan sebuah sel ditempatkan dalam larutan hipertonik. Larutan hipertonik dapat menyebabkan se mengerut. Larutan yang mengandung natrium klorida lebih dari 0,9% merupakan larutan hipertonik bagi tubuh. Larutan tersebut memliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dari pada konsentrasi zat terlarut dalam sel. Akibatnya, air (pelarut) dari dalam sel bergerak keluar menuju kelarutan yang lebih pekat melalui proses osmosis.

Gambar 2.15(c) menunjukkan sebuah sel ditempatkan dalam larutan hipotonik. Larutan hipotonik dapat menyebabkan sel membengkak. Larutan ini mengandung natrium klorida kurang dari 0,9%. Larutan tersebut memiliki konsentrasi zat terlarut dalam sel. Akibatnya, air (pelarut) dalam larutan akan bergerak masuk kedalam sel melalui proses osmosis.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa perpindahan air ke dalam atau keluar dari sel akan mempengaruhi keadaan tekanan sel. Osmosis merupakan suatu mekanisme dasar untuk mempertahankan kesetimbangan zat cair dalam tubuh.

6. Kerja Jantung

Pada tubuh orang dewasa normal, setiap kontraksi otot jantung memompa sekitar 80 ml. Darah melaluli paru-paru vertikel kanan dengan volume sebanding ke sirkulasi sistemik dan ventikel kiri. Pada setiap ventikel tersebut memompa darah dengan jumlah yang sama banyak. Tekanan dikedua pompa dalam jantung tidak sama. Pada sistem pulmonal, tekanannya lebih rendah yang disebabkan oleh resistensi pembuluh darah diparu-paru.

(33)

Tekanan maksimum (sistole) pada umumnya sekitar 25 mmHg atau sekitar 3 kPa, sekitar seperlima (1/5) dari sirkulasi sistemik. Agar darah menalir ke seluruh tubuh, maka sisi kiri jantung harus menghasilkan tekanan sebesar 120 mmHg atau sekitar 16 kPa pada sistole dari setiap siklus jantung. Pada fase istirahat (diastole) dari siklus jantung, tekanannya sekitar 80 mmHg atau sekitar 10,5 kPa.

Pada saat kita bekerja berat atau berolahraga, tekanan darah dapat meningkat sebesar 50%. Volume darah dipompa dapat meningkat lima kali lipat, sehingga terjadi peningkatan energi yang dkeluarkan oleh jantung sebesar 7,5 kali lipat setiap menitnya.

7. Transportasi Air dan Garam Mineral pada Tumbuhan

Tumbuhan menyerap air dan garam mineral dari dalam tanah. Aiar dan garam mineral masuk ke akar melalui epidermis akar secara difusi dan osmosis. Kemudian, dibawa kedaun oleh xilem.

Air dari dalam tanah dapat masuk kebatang tumbuhan melalui akar karena adanya daya tekan air. Tekanan air tanah lebih besar dibanding tekanan air dalam batang sehingga air dapat masuk ke dalam sel-sel tumbuhan melalui akar. Air yang telah masuk ke dalam sel-sel tumbuhan dapat mencapai daun-daun pada tumbuhan tersebut karena adanya daya isap daun, dan adanya daya kapilaritas pada batang tumbuhan, yaitu naiknya zat cair (air) melalui pembuluh kapiler (xilem) pada tumbuhan.

(34)

Gambar 2.16 proses terjadinya pengangkutan air dari akar ke daun (Sumber: www.edubio.info)

2.7 Penelitian Terdahulu

Rujukan penelitian pertama yaitu jurnal yang ditulis oleh Defiari Putri dan Mitarlis dari Universitas Negeri Surabaya dengan judul Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa Berbasis Mind Mapping Pada Materi Laju Reaksi untuk Melatihkan Keterampilan Berpikir Keatif Siswa Kelas XI SMA 15 Kesamben. Dalam Penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah 4D namun dibatasi pada tahap develop. Instrumen yang digunakan adalah lembar telaah, lembar validasi, lembar angket respon siswa, dan soal keterampilan berpikir kreatif.

(35)

Rujukan penelitian yang kedua yaitu jurnal yang ditulis oleh Lina Herlina dari Universitas UHAMKA dengan judul Penggunaan Metode Mind Mapping (Peta Pikiran) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Materi Sistem Organ Di SMP Negeri 281 Jakarta.. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas, di mana penelitian dilakukan dalam dua siklus. Data diperoleh melalui instrumen penelitian, yaitu: 1) tes obyektif yang dibuat oleh guru berdaarkan indikator yang ingin dicapai dalam RPP. Tes diberikan setelah proses pembelajaran, hasilnya berupa nilai ulangan harian, 2) penguasaan, berupa lembar mind mapping yang dibuat siswa, 3) melalui observasi/pengamatan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :