PERSAUDARAAN SEJATI SUSTER MISI FRANSISKANES SANTO ANTONIUS DALAM TERANG SPIRITUALITAS SANTO FRANSISKUS ASISI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama K

186 

Teks penuh

(1)

PERSAUDARAAN SEJATI SUSTER MISI FRANSISKANES SANTO ANTONIUS DALAM TERANG SPIRITUALITAS

SANTO FRANSISKUS ASISI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

OLEH: SUSANA AYU NIM: 021124016

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

PERSAUDARAAN SEJATI SUSTER MISI FRANSISKANES SANTO ANTONIUS DALAM TERANG SPIRITUALITAS

SANTO FRANSISKUS ASISI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh: Susana Ayu NIM: 021124016

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2007

(3)
(4)
(5)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur skripsi ini kupersembahkan kepada:

Kongregasi SMFA

(Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius)

(6)

MOTTO

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”.

( Yohanes 13:34)

Mengasihi orang lain berarti melihat wajah Allah (les Miserables)

(7)
(8)

ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah PERSAUDARAAN SEJATI SUSTER MISI FRANSISKANES SANTO ANTONIUS DALAM TERANG SPIRITUALITAS SANTO FRANSISKUS ASISI. Judul ini dipilih berdasarkan keprihatinan penulis terhadap situasi yang terjadi dalam kehidupan di biara secara khusus dalam kongregasi SMFA di mana para suster hidup, penulis juga kagum terhadap apa yang diupayakan para suster SMFA yang tetap mengusahakan dan memelihara semangat persaudaraan sejati.

Persaudaraan sejati selalu memelihara hubungan antar pribadi yang sejajar. Orang menerima kehadiran sesamanya sebagai bagian dari dirinya. Hubungan itu tertuju demi suatu kepentingan tertentu, tetapi berdasarkan sikap menghargai orang lain sebagai ciptaan Tuhan. Fransiskus mengajak orang bersahabat dan tidak menfitnah orang lain. Nasihat Fransiskus itu memang ditujukan kepada orang-orang yang mengikuti dia, tetapi nilai-nilai positif dari ajakkan itu kiranya berguna bagi kita.

Persaudaraan sejati akan terwujud kalau orang mampu mengasihi, menerima kehadiran orang lain apa adanya dan tidak menjelek-jelekkannya. Mengasihi tidak hanya dengan perkataan, tetapi terutama ditunjukkan dalam perbuatan konkret. Mengasihi orang berarti menerima dan menghormati keberadaan orang itu apa pun sukunya, status sosialnya, dan agamanya. Semua akan terjadi bila manusia mampu menghargai dan menghormati martabat pribadi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Akan tetapi, sayangnya, hal tersebut sekarang ini menjadi suatu yang sulit diterapkan dalam hidup sehari-hari. Orang lebih mementingkan diri sendiri, melihat sesama sebagai saingan, kebiasaan sapa menyapa mulai memudar, dengan demikian lama kelamaan persaudaraan akan memudar, bahkan bisa mati. Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan para kaum religius terutama para Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius, selain mengupayakan agar persaudaraan sejati tetap hidup di dalam biara dengan mengadakan rekoleksi dalam bentuk katekese model SCP.

Persoalan mendasar yang penulis bahas dalam skripsi ini adalah : Bagaimana kita dapat membantu kaum religius dalam upayanya mengembangkan persaudaraan sejati, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menghambat persaudaraan dapat diatasi dengan semestinya. Gagasan yang ingin penulis sumbangkan, dalam skripsi sederhana ini, tidak lain adalah untuk mencapai maksud itu. Bab I adalah pendahuluan. Selanjutnya, bab II adalah berbicara tentang makna persaudaraan menurut ilmu-ilmu, Injil dan ajaran Gereja. Bab III adalah spiritualitas persaudaraan sejati Santo Fransiskus, kemudian bab IV tentang makna ungkapan saudara dina tentang kesempurnaan Injili. Bab V berbicara tentang makna kesaksian persaudaraan sejati untuk zaman sekarang, dan Bab VI adalah meningkatkan persaudaraan sejati melalui program katekese, akhirnya bab VII adalah berisikan kesimpulan dan saran.

Penulis berharap, melalui skripsi ini, agar apa yang telah diupayakan oleh kaum religius secara khusus kongregasi SMFA dapat dimaksimalkan, sehingga damai dan harmoni akan sungguh dapat hidup dalam kehidupan sehari-hari kita.

(9)

ABSTRACT

This Script Entitled “TRUE SISTERHOOD/BROTHERHOOD OF THE FRANSISCANESS MISSION FROM SAINT ANTONIUS IN THE LIGTH OF SAINT FRANCIS ASISI SPIRITUALITY”. The title chosen based on the writer’s concerned toward the monastery-life’s situation especially in the congregation of SMFA where all the sister living, writer also struck toward what had done by the sisters to live and taking care the true sisterhood/brotherhood spirit.

True sisterhood/brotherhood always taking care horizontal relationship berween the personal. People accept the present from the other as a part of him or her.That relationship were directed for certain interest, but based on the behavior to respect another as god’s creatures. Saint Francis invited all people to be a friend and do not slander another. The Francis’ advice directed to his followers, but the positive values suppose meaningfull for all of us.

The true sisterhood/brotherhood will become real if people capable to love, accept another’s present just like they are and do not dishonour them. Love not only by words, but especially how we show by our act. Love another which means accept and respect the human values in each personal as god’s creatures. But, so pity, that thing too hatd to apply into our daily life now days. People are to busy thingking about themselves, look another as a competitor, habbit of “Say Hello” starting fade, even dying. Nothing can Sister of Fransiscaness Mission From Saint Aantonius do, beside striving in order to keep the sisterhood live in monastery. Through the cathecesm recollection with SCP’S model.

The basic matter which is writer discuss in this script are: how we be capable to help the religious to attain the developing the true sisterhood/brotherhood, such as shape until all the obstacles can be solve. This the idea that write want show up to get the mean point. The first chapter is the beginning. Furthermore, the second chapter talk about the meaning of sisterhood/brotherhood according to sciences, gospel, and the church’s teaching. The third chapter is the sisterhood/brotheshood spirituality of Saint Francis, then the fourth chapter is about humble sisters and brothers as a perfect expresion from the gospel. The fifth chapter is about the meaningof our witnesses now days, finally the sixth chapter is about conclusion and suggestion. Chapter I is the introduction. Futhermore, chapter II talk about the meaning of sisterhood/brotherhood according to sciences, Gospel and Church teaching. Chapter III is the spirituality of true sisterhood/brotherhood of the Saint Francis Asisy, afterwards chapter IV is about the meaning of the expression from ignoble sisters/brothers about Evangelical perfection. Chapter V is about the improvement true sisterhood/brotherhood in the present day and chapter VI is about processing to improve the true sisterhood/brotherhood through program of cathecese, finally chapter VII about the conclution and suggestion.

Writer have hope that through this script, in order that, what the religious had done especially congregation of SMFA, can be maximalize, so the peace and harmony really fill on our daily life.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Bapa yang telah melimpahkan kasih karunia dan bimbingan-Nya selama penulisan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan skripsi ini. Skripsi ini di susun dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik. Skripsi ini berjudul: PERSAUDARAAN SEJATI SUSTER MISI FRANSISKANES SANTO ANTONIUS DALAM TERANG SPIRITUALITAS SANTO FRANSISKUS ASISI.

Proses pembuatan dan penyelesaian skripsi ini telah mendorong penulis untuk merefleksikan makna dan pentingnya hidup dalam persaudaraan sejati. Semoga skripsi ini dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran, inspirasi dan bahan renungan bagi mereka yang merindukan persaudaraan sejati dan terdorong untuk mengembangkannya, khususnya bagi kaum biarawan-biarawati dan terlebih bagi kongregasi SMFA yang menekankan hidup dalam persaudaraan sejati.

Dalam membuat skripsi ini, penulis banyak mengalami hambatan dan kesulitan. Namun berkat bimbingan , bantuan, perhatian, dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Maka pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:

1. Dr.J.Darminta, S.J. yang telah membimbing penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dengan penuh perhatian dan kesabaran.

2. Drs. Y.a.c.H. Mardiraharjo selaku penguji II sekaligus dosen wali penulis. 3. P. Banyu Dewa HS, S.Ag.,M.Si. selaku penguji III.

(11)
(12)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... .. i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... .. ii

PENGESAHAN ... .. iii

PERSEMBAHAN ... . . iv

MOTTO ... .. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... .. vi

ABSTRAK ... .. vii

ABSTRACT... .. viii

KATA PENGANTAR ... .. ix

DAFTAR ISI... .. xi

DAFTAR SINGKATAN ... .. xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... .. 1

A. Latar Belakang ... .. 1

B. Rumusan Permasalahan ... .. 8

C. Tujuan Penulisan... .. 8

D. Manfaat Penulisan... .. 9

E. Metode Pemulisan... .. 10

F. Sistematika Penulisan ... .. 10

BAB II MAKNA PERSAUDARAAN MENURUT ILMU-ILMU, INJIL DAN AJARAN GEREJA ... .. 13

A. Menurut Ilmu-ilmu... .. 13

1 Ilmu Etimologi Bahasa... .. 13

2 Ilmu Filsafat ... .. 14

3 Ilmu Sosiologi ... .. 18

4 Ilmu Psikologi ... .. 20

5 Ilmu Theologi... .. 23

B. Menurut Injil dan Ajaran Gereja ... .. 25

1 Perjanjian Lama dan Baru... .. 25

(13)

a) Peranjian Lama ... .. 25

b) Perjanjian Baru ... .. 26

2 Ajaran Gereja ... .. 28

C. Rangkuman ... .. 29

BAB III SPRITUALITAS PERSAUDARAAN SEJATI SANTO FRANSISKUS ... .. 32

A. Biografi Santo Fransiskus Asisi ... .. 32

1. Riwayat Hidup Santo Fransiskus ... .. 32

2. Situasi SMFA ... .. 36

3. Situasi Gereja ... .. 38

B. Ajaran dan Pesan Fransiskus Asisi Tentang Persaudaraan... .. 41

1 Persaudaraan dengan Alam Semesta dan Ciptaan Lainnya ... .. 41

2 Persaudaraan dengan Saudara Seiman ... .. 45

3 Persaudaraan dengan Saudara yang Berbeda Iman... .. 48

4 Undangan SMFA ... .. 53

C. Rangkuman ... .. 56

BAB IV MAKNA UNGKAPAN SAUDARA DINA TENTANG KESEMPURNAAN INJILI ... .. 60

A. Spiritualitas Kongregasi SMFA ... .. 60

B. Kenabian ... .. 62

C. Sikap Dasar Saudara Dina... .. 65

D. Saudara Dina Dalam Injil... .. 68

E. Hidup Injil dan Perutusan Para SMFA Dalam Persaudaraan ... .. 72

F. Rangkuman ... .. 76

BAB V MAKNA KESAKSIAN PERSAUDARAAN SEJATI UNTUK ZAMAN SEKARANG ... .. 81

A. Nilai-Nilai Persaudaraan ... .. 81

B. Pergulatan Nilai Zaman Sekarang... .. 82

C. Peluang Kesaksian SMFA ... .. 84

(14)

D. Perlunya Pembinaan Semangat Persaudaraan... .. 86

1 Latar Belakang Pembinaan Sebagai Penghayatan Persaudaraan .. 87

2 Tujuan Pembinaan ... .. 88

G. Kebutuhan untuk Membangun Persaudaraan yang Universal ... .. 100

1 Memupuk Hidup Rohani... .. 101

2 Membangun Persaudaraan ... .. 101

H. Rangkuman ... .. 103

BABVI. MENINGKATKAN PERSAUDARAAN SEJATI MELALUI PROGRAM KATEKESE ... .. 104

A. Rekoleksi... .. 104

1 Pengertian Rekoleksi... .. 104

2 Tujuan Rekoleksi ... .. 105

3 Relevansi Rekoleksi dalam Upaya Mengembangkan Semangat Persaudaraan Sejati melalui Katekese... .. 105

B. Katekese pada umumnya ... .. 106

1 Pengertian Katekese ... .. 106

2 Tujuan Katekese... .. 107

(15)

3 Ciri-Ciri Katekese ... .. 108

4 Isi Katekese ... .. 109

C. Katekese Umat Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Menggereja ... 111

1 Pengertian Katekese Umat ... .. 111

2 Tujuan Katekese Umat... .. 113

3 Ciri-Ciri Katekese ... .. 114

4 Model-Model Katekese... .. 115

a Katekese Umat Dengan Model Pengalaman Hidup... .. 115

b Katekese Umat Dengan Model Biblis... .. 116

c Katekese Umat Dengan Model Campur ... .. 116

5 Shared Christian Praxis sebagai Model Katekese Umat ... .. 116

a Pengertian SCP ... .. 117

1) Praxis ... .. 117

2) Kristiani ... .. 118

3) Sharing ... .. 119

b Langkah-Langkah SCP ... .. 119

1) Langkah Nol : Pemusatan Aktivitas ... .. 120

2) Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta... .. 121

3) Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta ... .. 122

4) Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani ... .. 123

5) Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani Dalam Situasi Konkrit Peserta... .. 124

6) Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit ... .. 125

D. Program Rekoleksi... .. 126

E. Contoh Persiapan Rekoleksi ... .. 133

BAB VII. PENUTUP ... .. 153

A. Kesimpulan ... .. 153

B. Saran ... .. 157

DAFTAR PUSTAKA ... .. 161

(16)

LAMPIRAN... .. 162

Lampiran 1: ... .. (1)

Lampiran 2: ... .. (2)

Lampiran 3: ... .. (3)

Lampiran 4: ... .. (4)

Lampiran 5: ... .. (5)

Lampiran 6: ... .. (6)

Lampiran 7: ... ... (7)

(17)

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Dalam singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti singkatan dari Kitab Suci Perjanjian Baru: Dengan Pengantar dan Catatan Singkatan. (1996-1997). (dipersembahkan kepada umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka REPELITA Proyek Sarana Keagamaan Katolik). Ende : Arnoldus, Hal 8.

B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965

KHK : Kitab Hukum Kanonik

C. Singkatan Dokumen Para Pengikut Fransiskus

Angbul : Anggaran Dasar yang diteguhkan dengan Bulla AngTbul : Anggaran Dasar tanpa Bulla

2 Cel : Buku Thomas dari Celano, Riwayat Hidup Santo Fransiskus I OFM : Ordo Fratrum Minorum (Ordo Saudara Dina)

Pth : Petuah-petuah Santo Fransiskus Asisi 2 SurBerim : Surat kedua kepada kaum beriman.

SMFA : Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius D. Singkatan Lain

Konst : Konstitusi Art : Artikel

(18)

BAB I PENDAHULUAN

Judul skripsi yang penulis ambil adalah “Persaudaraan Sejati Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius Dalam Terang Spiritualitas Santo Fransiskus Asisi” dalam bagian pendahuluan ini, penulis akan menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan judul skripsi tersebut, hal-hal yang akan diuraikan adalah: latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu.

A. Latar Belakang

Semangat dan cara hidup Fransiskus Asisi dan para Saudara awal telah mewarnai hidup banyak orang, baik rohaniwan-rohaniwati maupun kaum awam, baik pengikut resmi maupun sekedar pengagum, baik terpelajar maupun tidak terpelajar, baik orang terpandang maupun orang biasa. Mereka tertarik akan kehangatan cara hidup bersaudara, sukacita sejati, dan kesahajaan hidup miskin yang dihayati oleh persaudaraan awal tersebut. Semuanya ini sudah berlangsung selama delapan abad yang lalu. “Membangun Persaudaraan Sejati” merupakan sebuah obsesi yang bernuansa idealistis. Dikatakan obsesi, karena sebagai manusia biasa yang terdiri dari daging dan roh seringkali manusia mendambakan, bahkan mengusahakan terwujudnya “Persaudaraan Sejati” sebagaimana dilukiskan secara amat indah oleh Nabi Yesaya :

“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan mengiringinya. Lembu dan beruang akan

(19)

2

sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak akan ada yang berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus” (Yes 11: 6-9).

Sabda Nabi Yesaya ini senada dengan Kisah Para Rasul yang melukiskan cara hidup jemaat yang pertama :

“... semua orang yang menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, ... Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah” (Kis 2 : 44 ; 46).

Dikatakan sebagai obsesi – idealistis karena apa yang disaksikan, apa yang dialami, dan apa yang dilakukan tidak jarang bertentangan dengan kalimat-kalimat indah tadi. Kharisma persaudaraan awal ini pun tetap memikat sampai sekarang. Keberadaannya bahkan sangat dibutuhkan dunia, Gereja dan Persaudaraan Fransiskan baik saat ini maupun di waktu yang akan datang.

Fransiskus adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan nilai persaudaraan. Pada zaman ini ia dikenal sebagai tokoh pembawa damai. Fransiskus Asisi tidak hanya menyerukan perdamaian tetapi juga mewujudkannya dalam seluruh sikap dan tingkah lakunya. Dia menyebut dirinya sebagai saudara dina karena semangat persaudaraan yang begitu kuat yang dimilikinya. Dia mampu memandang semua ciptaan yang ada di alam semesta ini sebagai saudara, baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan dan semua manusia. Lewat dan dalam ciptaan, Fransiskus mampu menemukan gambaran Allah di dalamnya. (2 Cel: 172).

(20)

3

ini, karena Bapamu hanya satu, yang ada di surga…di mana pun dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, Aku hadir di tengah-tengah mereka” (AngBul XXII: 28-38).

Persaudaraan sejati menurut Fransiskus Asisi adalah persaudaraan yang melampaui batas-batas bangsa, agama, suku, kelas, kebudayaan, gender, kekuasaan dsb. Persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang mengamalkan kasih secara tulus ikhlas dengan segenap hati karena itu di dalam persaudaraan ada kasih dan kebijaksanaan yang mengeyahkan amarah dan kegelisahan, ada belas kasih dan timbang menimbang yang mengenyahkan kelebihan dan ketegaran (Pth 27 :182). Persaudaraan sejati berarti saling mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah tetapi dengan perbuatan dengan kebenaran (AngTBul IX: 102).

Persaudaraan sejati merupakan wujud Kerajaan Allah (Angbul 3: 33), karena itu dibutuhkan sikap kemiskinan dan kerendahan hati dalam membangun persaudaraan. Persaudaraan hanya akan terwujud bila roh daging yaitu egoisme, kesombongan, kebanggaan sia-sia, iri hati, kerakusan, hati batu, kepala batu dicabut dengan Roh Tuhan (Angbul 5: 33). Sudah barang tentu pandangan Santo Fransiskus Asisi tersebut sangat berharga untuk hidup manusia pada zaman ini.

(21)

4

Membicarakan persaudaraan sejati itu mudah, tetapi melaksanakannya itu sulit. Kondisi persaudaraan dunia sekarang ini sedang terpecah belah. Namun, toh penulis juga melihat ada orang yang berusaha mengembalikan semangat persaudaraan sejati di dunia ini dengan mengembangkan semangat solidaritas, membela hak asasi manusia, membangun kepedulian pada perempuan yang tertindas. Meskipun demikian persaudaraan sejati tetap sulit terwujud secara maksimal, karena seringkali mereka yang berjuang ini masih dikuasai oleh semangat mementingkan diri sendiri atau kelompok tertentu dan tidak mau ambil resiko. Perjuangan mereka tidak pernah selesai secara tuntas.

Dalam situasi ini perlu dicari jalan keluar untuk mengungkapkan kembali persaudaraan yang terpendam dalam hati setiap orang. Orang Kristen harus berani berperan sebagai pelita yang memberi teladan persaudaraan sejati di tengah masyarakat. Teladan persaudaraan sejati pernah ditampilkan oleh Gereja purba. Mereka hidup sehati sejiwa, saling membagi apa yang mereka miliki, yang kepunyaan memberikan kepada mereka yang tidak punya, karena mereka yakin bahwa apa yang mereka miliki bukan miliknya sendiri, melainkan milik bersama sehingga tak seorang pun kekurangan. Kekuatan persaudaraan mereka adalah kesetiaan untuk berdoa bersama.

(22)

5

Untuk menghidupi persaudaran secara terus-menerus dalam hidup sehari-hari, berbagai upaya diusahakan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh kongregasi SMFA yaitu hidup dalam komunitas; kita ingin hidup sebagai saudari satu sama lain dengan cara, mengembangkan ciri khas masing-masing, saling melayani, saling mendengarkan, saling memberikan tempat yang aman, saling memberi keleluasaan untuk pembedaan pendapat dan visi, saling memaafkan, tidak melarikan diri dari tanggungjawab pribadi, demi membentuk suatu komunitas yang baik, kita ingin mewujudkan suatu keanekaragaman (pluriformitas) dalam mengindahkan hidup religius sebagai fransiskan missioner: dalam cara hidup dan karya, iman dan doa, cara berpikir dan penghayatan, dalam cara berdiam, berpakaian dan berekreasi. Dalam semangat persaudaraaan kita mau saling mendukung dan meneguhkan terutama dalam menghayati inti panggilan kita. Dalam semangat yang sama pula, kita mau saling memberi keleluasaan untuk menerima diri sendiri seperti apa adanya, dengan menghormati serta menghargai kekhasaan dan keunikan masing-masing. Kita berjuang untuk tidak meremehkan sesama saudari hanya berdasarkan keunikan dan keanekaragaman lahiriah saja. Sebab itu, dalam membentuk suatu komunitas hendaknya memperhatikan setiap pribadi, memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk terbentuknya suatu komunitas yang baik. (Konst SMFA, Bab II Art. 2.3)

(23)

6

Kita hendaknya hidup bersama dengan pribadi lain lewat : semagat keterbukaan dan keramahan Fransiskan, melibatkan diri dalam kesukaran dan masalah-masalah yang dialami sesama kita, baik yang dekat maupun yang jauh. (Konst SMFA, Bab II art. 2.8). Sebagai perwujudan hidup komunitas, kita ingin untuk semakin bersatu sebagai saudara, maka secara teratur pula kita berkumpul guna: doa bersama, mendengarkan Sabda Allah, merayakan kesatuan kita dalam iman. (Konst SMFA, Bab II art. 2.9). Dalam pertemuan komunitas secara teratur, kita mau melihat kembali kebersamaan kita dalam hidup konkrit, agar hidup kita semakin sesuai dengan cita-cita persaudaraan Fransiskan. (Konst SMFA, Bab II art. 2.10). Agar hidup berkomunitas kita tetap bersemangat segar dan bergairah, maka hendaklah kita terbuka untuk: terbuka akan segala bentuk kritikan yang membangun, terbuka akan informasi-informasi, terbuka akan ide-ide atau gagasan baru, yaitu tentang kejadian yang dialami oleh Gereja dan masyarakat. Kita hendak saling menukar informasi lewat pembicaraan, studi, bacaan dan alat komunikasi yang lain, serta ikut prihatin dengan situasi dewasa ini. (Konst SMFA, Bab II art. 2.11).

Semua anggota kongregasi SMFA baik secara pribadi maupun komunitas mencoba menanggapi dan menghidupi isi Konstitusi dengan ikut terlibat aktif dalam berbagai komunitas antar regio, baik sebagai anggota regio, dewan regio maupun sebagai pemrakarsa. Tidak sedikit tantangan yang dihadapi oleh para suster SMFA dalam hidup komunitas maupun antar pribadi dalam upaya untuk mewujudkan persaudaraan sejati antar anggota.

(24)

7

kepada satu sama lain dalam keluarga kongregasi SMFA yang disatukan oleh Tuhan. Wujud persaudaraan yang mendalam adalah saling mengakui dan menerima, memberikan kesaksian hidup persaudaraan manusiawi, kristiani, religius dan Fransiskan.

Komunitas-komunitas menjadi medan pengkonkretan cita-cita hidup dalam persaudaraan. Kriteria hidup dalam persaudaraan SMFA antara lain: cinta kasih dengan saling mengasihi, pelayanan dengan semangat pengorbanan diri, keterbukaan dengan saling memberi dan menerima dengan tulus dan jujur, saling percaya dan menggantungkan diri pada persaudaraan kristiani, saling memaafkan dan mengampuni tanpa menunggu dan menunda.

(25)

8

dan inspirasi tarekat-tarekat yang mula-mula dan penyesuaiannya dengan kenyataan zaman yang sudah berubah”.

Skripsi ini selain sebagai salah satu syarat untuk kelulusan studi di IPPAK, juga merupakan usaha kecil dan sederhana untuk menghadirkan kembali kenangan akan kharisma Fransiskus dan Persaudaraan sejati. Guna mewujudkan harapan penulis terhadap persaudaraan yang mulai memudar dalam zaman modern ini maka penulis menyampaikan gambaran tersebut dalam bentuk karya tulis yang berjudul: PERSAUDARAAN SEJATI SUSTER MISI FRANSISKANES SANTO ANTONIUS DALAM TERANG SPIRITUALITAS SANTO FRANSISKUS ASISI.

B. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah ditulis di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara lain:

1. Apa dan bagaimana persaudaraan menurut Fransiskus Asisi ? 2. Apa yang dimaksud dengan Injil menurut Fransiskus Asisis 3. Bagaimana peranan persaudaraan sebagai dasar hidup? 4. Bagaimana tanggapan SMFA tentang persaudaraan sejati?

C. Tujuan Penulisan

Skripsi ini ditulis dengan tujuan:

1. Menggali dan memaparkan arti dan makna persaudaraan sejati menurut Fransiskus Asisi.

(26)

9

4. Memberi sumbangan pemikiran bagi Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius dalam meningkatkan hubungan antar anggota dalam pelayanan.

5. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Sarjana Strata I (SI) pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Penulis

a. Memberikan wawasan yang luas kepada penulis untuk berpikir secara kritis dan sistematis serta mampu menuangkan gagasan secara jelas dan baik.

b. Di samping itu penulis dapat belajar untuk mengembangkan kreativitas dan penghayatan dalam membangun persaudaraan, baik dengan sesama anggota tarekat, dengan orang-orang yang bekerja sama dalam karya yang dipercayakan tarekat kepada penulis.

2. Bagi Kelompok

Penulisan ini dapat menjadi masukan dalam memahami arti persaudaraan, sehingga kelompok dapat meningkatkan persaudaraan dengan siapa saja. 3. Bagi Kongregasi

(27)

10

E. Metode Penulisan

Metode penulisan skripsi ini adalah deskriptif analistis dan argumentatif atas sebuah studi pustaka dari buku-buku, karangan ilmiah, dan hasil-hasil penelitian ilmiah yang berkaitan langsung dengan tema yang diangkat penulis. Deskripsi dan analisis sangat diperlukan untuk memaparkan relevansi dan peranan Persaudaraan Sejati Suster Misi Fransiskanes St. Antonius Dalam Terang Spiritualitas Fransiskus Asisi.

F. Sistematika Penulisan Bab I :PENDAHULUAN

Pendahuluan ini berisikan pendahuluan yang meliputi: latar belakang penulisan, rumusan malah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan

Bab II : MAKNA PERSAUDARAAN MENURUT ILMU-ILMU, INJIL DAN AJARAN GEREJA

Dalam bab II ini penulis menguraikan makna persaudaraan menurut Ilmu: etimologi bahasa, filsafat, sosiologi, psikologi, teologi, menurut Injil yang mencangkup Perjanjian Lama dan Baru serta menurut Ajaran Gereja dan ditutup dengan rangkuman.

(28)

11

yang kedua yaitu; ajaran dan pesan Santo Fransiskus Asisi yang meliputi ; persaudaraan dengan alam semesta dan ciptaan lainnya, persaudaraan dengan saudara seiman dan ditutup dengan rangkuman.

Bab IV:MAKNA UNGKAPAN SAUDARA DINA TENTENG KESEMPURNAAN INJILI.

Para Saudara berusaha menjalankan “hidup Injili” dan “mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus”. Kedua nilai yang dijalankan para saudara ini mempengaruhi cara mereka memandang dirinya dan perutusan yang mereka kembangkan bagi Gereja dan dunia. bagaimana kesempurnaan Injil ini terjadi dalam hidup para saudara dibahas dalam bab IV.

Bab V :MAKNA KESAKSIAN PERSAUDARAAN SEJATI UNTUK ZAMAN SEKARANG.

(29)

12

BAB VI:

MENINGKATKAN PERSAUDARAAN SEJATI MELALUI PROGRAM KATEKESE

Dalam bab VI ini penulis menguraikan bagaimana meningkatkan persaudaraan sejati melalui katekese dalam bentuk rekoleksi guna meningkatkan semangat persaudaraan dalam kongregasi komunitas maupun dalam setiap pribadi pribadi. Pertama tentang rekoleksi, apa itu rekoleksi dan tujuan dari rekoleksi itu sendiri. Kedua tentang katekese pada umumnya, itu dilihat dari segi pengertian, tujuan, ciri, dan isi katekese itu sendiri. Ketiga membicarakan tentang program katekese dalam bentuk rekoleksi dengan model SCP guna mendukung meningkatkan persaudaraan sejati Para Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius.

BAB VII: PENUTUP

(30)

BAB II

MAKNA PERSAUDARAAN

MENURUT ILMU-ILMU, INJIL DAN AJARAN GEREJA

Manusia tidak hanya makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia memiliki hubungan dengan orang lain. Ia tumbuh dan berkembang dalam kebersamaan dengan orang lain. Komunitas, keluarga, kelompok dan paguyuban merupakan wadah untuk membangun kebersamaan. Kebersamaan akan bisa terwujud dalam wadah-wadah tersebut bila di dalamnya ada relasi interpersonal yang didasarkan pada semangat persaudaraan sejati.

Lalu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan persaudaraan sejati itu? Untuk dapat memahami arti dan makna persaudaraan sejati, kiranya kita perlu melihat beberapa pandangan tentang relasi, hubungan atau interaksi manusia dengan sesamanya dari sudut ilmu-ilmu, Injil dan Ajaran Gereja.

A. Menurut Ilmu-ilmu 1. Ilmu Etimologi Bahasa

Ditinjau dari sudut etimologi bahasa Indonesia akar kata dari ‘persudaraan’ adalah saudara. Kata saudara berasal dari bahasa Sansekerta yaitu ‘sodara’. Akar kata dari ‘sodara’ adalah ‘udara’ yang berarti perut atau isi perut, yang menunjuk pada hubungan sekandung. (Zootmulder, 2002: 112, 1217, Wilkonson, 1961 : 243).

Yang dimaksud dengan saudara dalam bahasa Indonesia adalah ‘orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau hanya seayah saja) adik atau kakak, orang yang bertalian keluarga, sanak baik dari pihak ibu maupun dari ayahnya, orang yang

(31)

14

segolongan (sepaham, seagama, sesuku, sederajat, dan sebagainya) kawan, teman’ (dengan kata lain segala sesuatu yang hampir serupa atau sejenis).

Dengan demikian yang dimaksud dengan persaudaraan menurut etimologi bahasa adalah persahabatan yang sekarib saudara, pertalian persahabatan yang serupa dengan pertalian keluarga (Tim penyusun kamus, 1990 : 788). Mengacu pada definisi di atas maka dapat dikatakan pada akhirnya kata saudara dapat ditujukan pada semua orang.

2. Ilmu Filsafat

Hidup manusia merupakan proses menjadi manusia. Melalui kesadaran dirinya, manusia menemukan bahwa hidupnya ‘belum sempurna’. Hal ini juga nampak dalam fakta antropologis yang berkaitan erat dengan konstitusi biologis manusia, yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang ‘belum selesai’ pada saat lahirnya. Ini berbeda dengan binatang-binatang menyusui lainya, yang dilahirkan dengan organisme yang pada hakekatnya telah lengkap. Contohnya anak gajah yang baru dilahirkan dalam waktu beberapa jam sudah bisa berjalan sedangkan anak manusia yang baru lahir membutuhkan waktu beberapa bulan untuk bisa berjalan (Sastrapratedja, 1994: 2).

Sifat yang ‘belum selesai’ ini menjadikan manusia memiliki relasi yang rangkap dengan dunianya. Oleh karena itu, manusia sebagai individu yang disebut dengan ‘aku’ memiliki keterbukaan pada dunia, sesama dan Allah. Keterbukaan pada sesama menduduki tempat yang paling besar dalam tiap-tiap orang. Bahkan dalam pikiran pun manusia tidak bisa memisahkan diri dari orang lain.

(32)

15

Dengan kata lain ‘Aku’ dikaitkan dengan orang lain atas cara yang tak terpisahkan, sehingga ‘Aku’ tidak dapat mengenal dan menerangkan diriku sendiri kalau orang lain tidak serentak diikutsertakan ke dalam hidupku dan diterima sebagaimana ‘ yang langsung’ dan ‘yang seketika menampakan diri’. (Sastrapratedja, 1994: 3).

Heidegger mengatakan bahwa hidup adalah ‘Gowerfen Sein’ (terlempar). Artinya, hidup saja sudah berarti terjalin dengan orang lain. Hidupnya tiap-tiap ‘Aku’ menunjuk kepada suatu kenyataan bahwa, disatu pihak ada jaringan relasi yang erat memikat antara satu orang dengan yang lainnya, tetapi dilain pihak, perbedaan juga tetap ada di antara mereka. (Sastrapratedja, 1994: 4).

Dengan demikian saling ketergantungan manusia merupakan hal yang fundamental. Dalam hal ini dikenal 2 bentuk saling ketergantungan. Yang pertama: bentuk saling ketergantungan yang hampir tidak melibatkan diri orang seluruhnya. Yang kedua bentuk saling ketergantungan yang hampir tidak melibatkan diri orang sama sekali. Hal ini tergantung pada bentuk perjumpaan yang berlangsung terus-menerus, ada yang sementara dan ada juga yang sebentar saja. Juga ada bentuk kontak yang terjadi karena pertalian darah, kebersatuaan emosional, kerjasama demi tercapainya tujuan tertentu, karena saling membutuhkan dan karena ada kebutuhan akan orang lain demi kepentingan pribadi, dan sebagainya. (Sastrapratedja, 1994: 5).

(33)

16

Menurut para filsuf ada beberapa bentuk, cara orang dalam memandang orang lain. Hal ini sesuai dengan cara pandangnya terhadap keberadaan dirinya sendiri.

o Soran Kierkegaard (1813-1855) memandang ‘Aku’ sebagai individu yang memiliki ‘otentitas’. Oleh karena itu kebersamaan merupakan suatu hal yang negatif karena menumpas orisinalitas individu. Maka manusia harus melepaskan diri dari keterjalinan sosial. Semakin manusia berhasil mengatur hidupnya sendiri , semakin dia sempurna. Sebab kedalaman dan makna hidup tiap-tiap orang terletak dalam kontak pribadi ‘Aku’ dengan Allah (Leenhouwers, 1988: 201).

o Martin Heidegger (1889-1976), memandang keterjalinan dengan sesama manusia sebagai kenyataan yang menandai hidup manusia. Heidegger mengatakan bahwa pribadi manusia dalam hidup sehari-hari terseret dalam arus mayoritas. Hidup pribadi orang ditentukan oleh suasana ‘umum’, sehingga orang bertindak, berpikir, bereaksi seperti orang lain pada umumnya. Ini sangat mencemaskan karena akan membuat orang tidak bisa menemukan dirinya sendiri, tidak berani untuk bertindak dan berpikir sendiri. Orang hidup dibawah aturan norma bersama. Menjauhkan diri sama sekali dari pola kehidupan masyarakat adalah hal yang tidak mungkin. Hanya dengan memilih ‘Aku’ ia lambat laun akan mencapai tahap keaslian dan keunikan hidupnya dan tidak lagi mengikuti arus umum saja. Dengan kata lain, orang perlu berani bersikap kritis, berpikir dan bertindak sendiri, tidak ikut-ikut arus, berani memakai norma aturan sendiri (Leenhouwers, 1988: 201-202)

(34)

17

berpangkal pada dirinya sehingga memandang orang lain sebagai ancaman bagi kebebasannya. Oleh karena itu sikap yang ditunjukkan adalah mempertahankan otonomi diri dengan menolak setiap pendekatan orang lain yang mengancam kemandirian dan kebebasannya (Leenhouwers, 1988: 201-203)

o Gabriel Marcel (1889-1973), memandang bahwa ‘Aku’ hanya mungkin mencapai kesempurnaan kalau aku mengarahkan diri kepada orang lain. Pandangan ini memunculkan sikap keterbukaan diri kepada orang lain, saling menghidupi, saling menerima. Ia memandang orang lain sebagai anugerah yang sama dan setinggi panggilannya, dan karena itu ia memberikan diri sebagai cinta bagi saudaranya (Leenhouwers, 1988: 203).

o Emmanuel Levinas (1950) mengatakan bahwa tiap-tiap orang mempunyai hak atas kesendiriannya dan orisinalitasnya yang tak terambilkan daripadanya. Oleh karena itu kontak dengan orang lain tak pernah mengakibatkan seseorang di lucuti kekhasannya yang tak tergantikan itu. Hal ini membuat orang memiliki sikap ketebukaan terhadap orang lain, keturunan lain. Manusia perlu untuk menciptakan peluang satu dengan yang lain agar dapat menjadi diri sendiri. Dalam hal ini setiap kontak dengan orang lain harus dimetraikan dengan sikap hormat terhadap misteri manusia yaitu rahasia yang tidak terucapkan (Leenhouwers, 1988: 203-204).

(35)

18

Levinas, memiliki pandangan yang positif tentang keberadaan orang lain. Menurut mereka relasi interpersonal merupakan suatu kesempatan untuk mencapai ‘kepenuhan diri’ atau kesempatan untuk menemukan jati diri.

Maka jelas kiranya bahwa tidak setiap bentuk relasi cocok untuk membantu menusia menemukan ‘eksistensi, jati dirinya’, yang membantu manusia dalam mengembangkan solidaritas yang mendalam, akrab dan bersaudara.

3. Ilmu Sosiologi

Manusia tidak hanya merupakan pribadi tersendiri dengan pendapat dan kehendaknya sendiri. Manusia merupakan makhluk sosial. Ia mempunyai bakat sosial. Dan ini nampak dari sifat-sifat manusia yang dibawanya sejak lahir, untuk hidup bersama dengan orang lain (Sastrapradja, 1994:5).

Menurut Parson (sosiolog yang menekankan teori fungsional) individu adalah primer dan masyarakat (atau struktur sosial apa saja) dilihat sebagai sesuatu yang muncul dari pertukaran yang bersifat interpersonal. Pertukaran tersebut mencerminkan kepentingan-kepentingan pribadi individu dan perilaku altruistik atau cinta akan kebutuhan individu untuk memperoleh dukungan sosial, kebutuhan untuk dapat diterima orang lain serta dukungan yang bersifat emosional.

Menurut Parson dalam buku teori sosiologi klasik dan modern (Lawang, 1986 : 116-118), ada 5 pola pilihan dikotomi (pembagian dalam dua kelompok yang saling bertentangan) yang diambil seseorang secara eksplisit maupun implisit dalam menghadapi orang lain dalam situasi sosial apa saja. Kelima pola tersebut adalah: a. Afektivitas versus netralitas afektif. Ini merupakan dilema apakah hubungan

(36)

19

yang terjadi adalah untuk mencari atau mengharapkan kepuasan emosional (senang satu sama yang lain) secara langsung. Contohnya adalah hubungan antar pasangan kekasih, anggota keluarga. Sedangkan bila memilih netralitas afektif berarti bahwa hubungan interpersonal yang terjadi menghindari keterlibatan emosional atau pemuasan secara langsung. Contohnya adalah hubungan antar dokter dan pasien (Lawang, 1986 :116).

b. Orentasi diri versus orientsai kolektif. Dilema yang muncul adalah yang berhubungan dengan kepentingan yang harus diutamakan. Bila memilih orientasi diri berarti kepentingan pribadi yang mendapat prioritas, sedangkan bila memilih orientasi kolektif berarti kepentingan kolektiflah yang diutamakan (Lawang, 1986:116).

c. Universalisme versus partikularisme. Dilema yang muncul berhubungan dengan ruang lingkup dari standar normatif yang mengatur suatu hubungan sosial. Memilih pola universalisme berarti mencakup standart yang ditetapkan untuk semua orang yang dapat diklasifikasikan bersama menurut kategori-kategori yang sudah dibatasi secara impersonal. Pola partikular mencakup standart-standart yang didasarkan pada suatu hubungan tertentu diantara mereka yang berinteraksi atau didasarkan pada sifat-sifat tertentu yang terdapat pada kedua pihak (Lawang, 1986 :117)

(37)

20

hubungan keluarga, sedangkan pola prestasi berarti dalam hubungan interpersonal yang ditekankan adalah penampilan atau kemampuan nyata (Lawang, 1986 : 117).

e. Spesifikasi versus kekaburan. Dalam pola ini dilema berhubungan seseorang dengan persepsi orang lain tentang ruang lingkup keterlibatan seseorang dengan orang lain. Memilih spesifik berarti kewajiban untuk membuktikan ada pada orang yang memberi tuntutan kepada orang lain untuk membenarkan tuntutan itu. Sedangkan kekaburan berarti kewajiban untuk membuktikan ada apa orang yang diberikan tuntutan untuk memperjelaskan mengapa tuntutan itu tidak dipenuhi (Lawang, 1986 : 118).

4. Ilmu Psikologi

(38)

21

dengan individu A, yang terjadi adalah penolakan, sementara dengan individu B, penerimaan.

Menurut Abraham Maslow pada umumnya orang memiliki kemampuan untuk bersikap kreatif, spontan, penuh perhatian pada orang lain, penuh rasa ingin tahu, kemampuan untuk berkembang secara terus menerus, kemampuan untuk mencintai dan dicintai (Goble, 1987: 96). Hal-hal yang membuat orang berperilaku buruk, agresif adalah karena ia bereaksi terhadap perampasan akan kebutuhan dasarnya.

Menurut Coleman dan Hammen ada 4 model dalam hubungan interpersonal yaitu:

a. Model Pertukaran Sosial

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Dalam model ini orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya (Goble, 1987 :110). b. Model Peranan

(39)

22

c. Model permainan

Model ini berasal dari psikiater Eric Berne yang mengatakan bahwa orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Dasar dari permainan ini adalah 3 bagian kepribadian manusia yaitu: orang tua, dewasa dan anak (parent, adult, child ). Dalam hubungan interpersonal kita menampilkan salah satu

kepribadian kita dan orang lain membalasnya dengan salah satu aspek tersebut juga. Contohnya ketika seorang suami sakit ia meminta perhatian dari istrinya (kepribadian anak), istri menyadari sakit suami dan ia mau merawatnya seperti seorang ibu (kepribadian orang tua). Selama hubungan interpersonal sejalan maka hubungan ini akan berlangsung baik tetapi bila tidak hubungan akan terpecah (Goble, 1987: 111). d. Model Interaksional

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Sistem memiliki sifat-sifat struktural, integratif dan medan (lingkungan). Semua sistem terdiri dari sub sistem-sub sistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peran serta permainan yang dilakukan. Atau dengan kata lain model interaksional adalah penggabungan pertukaran, peranan dan permainan (Goble, 1987: 112).

(40)

23

dari semua ini adalah bahwa hubungan manusia semakin mendalam dan semakin bersaudara satu sama lain.

5. Ilmu Theologi

Teologi merupakan sebuah refleksi, dan refleksi adalah suatu usaha atau suatu proses untuk mewujudkan iman dalam sikap dan tindakan hidup sehari-hari. Secara teologis manusia dicitrakan setara dengan Allah. Hal ini bisa kita jumpai dalam kitab Kejadian 1: 27, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Dengan demikian pada hakekatnya menurut kehendak Allah mausia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia terkait antara satu dengan lainnya. Maka manusia berelasi, beriteraksi dengan sesamanya. Salah satu bentuk interaksi manusia dengan sesamanya adalah dengan ikut terlibat dalam hidup bersama dimasyarakat.

(41)

24

kemajuan-kemajuan tehnologi melainkan di dalam kesatuan antara pribadi yang melahirkan dialog persaudaraan ( Kieser, 1992: 79-82).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun hidup bersama di masyarakat yaitu:

a. Menjadikan pribadi manusia sebagi pusat hidup bersama.

Manusia seharusnya diberi kelonggaran untuk hidup dalam pertemuan dengan orang lain bukan dalam kolektivisme yang menyangkal kebebasan dan martabat pribadi ( hak-hak asasi manusia). Oleh karena manusia adalah pribadi individu pada dasarnya mampu mengkomunikasikan diri kepada orang lain, tanpa dalam melebur dalam kebersamaan.

b. Mengakui bahwa semua orang bernilai sama dan sederajat. Maka harus ditolak semua bentuk yang mengurbankan martabat manusia, yang mengurbankan hak asasi manusia.

c. Prinsip solidaritas. Sadar bahwa hidup hanya mungkin dalam kebersamaan dengan seluruh umat manusia, maka setiap orang menurut kemampuannya dan kebutuhan sesamanya menyumbangkan pada kepentingan bersama ( kesejahteraan umum). Masing-masing pribadi bertanggungjawab atas kehidupan bersama sebagaimana ia bertanggungjawab atas hidupnya.

(42)

25

B. Menurut Injil dan Ajaran Gereja 1. Perjanjian Lama dan Baru

a) Perjanjian Lama

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kata persaudaraan hanya ditemukan dalam Kitab Zak 11 : 4 ”…..untuk meniadakan persaudaran antara Yehuda dan Israel”. Kata saudara merupakan istilah yang biasa digunakan oleh bangsa Israel untuk menyebut sesamanya sebagai saudara (‘ah,’ahim). Ah’ahim berasal dari bahasa Ibrani yang mempunyai arti kekerabatan yang luas sama seperti kata saudara dalam bahasa Indonesia (Harun, 2000: 211-214). Istilah ini kemudian diambil alih oleh umat Kristen. Kata saudara dalam Perjanjian Lama mengandung arti sebagai orang sekandung (Kej 4:2), atau untuk anggota keluarga besar (Kej 13: 8, Im 10: 4) atau anggota suku yang sama (2 Sam 19: 12-13) atau kelompok, masyarakat yang sama (Ul 25: 3, Hak 1: 3) atau rakyat keturunan nenek moyang yang sama Abraham, Ishak, Yakub (Ul 2: 4, Am 1: 11) “Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita?” (Mal 2:10).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persaudaraan yang dihayati dalam Perjanjian Lama adalah persaudaraan atas dasar hubungan darah, keturunan Abraham, atas dasar kesatuan iman akan Allah yang sama dan juga atas perjanjian yang sama dari Allah.

(43)

26

“….Aku terjadi pada hari-hari yang terakhir gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak …segala bangsa akan berduyun-duyun kesana….bangsa tidak akan lagi mengakat pedang terhadp bangsa lain, dan mereka tidak akan lagi belajar perang….” (Widyahadi (a), 2000: 27-29)

Namun demikian persaudaraan yang terbentuk karena pertalian darah, tidak menjamin bahwa relasi akan berjalan dengan baik, akrab dan mendalam. Persaudaraan ini juga kerap mengalami kegoncangan, retak bahkan putus. Hal ini nampak dalam kisah Kain yang membunuh Habel saudaranya (Kej 4: 1-6), Esau dan Yakub (Kej 27: 41), saudara-saudara Yusup (Kej 37: 10) dan seterusnya. Hubungan persaudaraan goncang, retak bahkan putus disebabkan oleh iri hati, acuh tak acuh, berselisih paham, melanggar hak satu sama lain, dan seterusnya.

Tetapi Allah tetap menghendaki persaudaraan karena itu, Allah berfirman “…Janganlah engkau membenci saudaramu…, melainkan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Im 19: 17-18). Abraham dan Lot sebagai saudara kiranya sangat mengetahui pentingnya nilai persaudaraan oleh karena itu mereka menghindari pertengkaran (Kej 13: 8) begitu juga dengan Yakub yang berdamai dengan Esau saudaranya (Kej 45: 1-8) dan seterusnya.

b) Perjanjian Baru

(44)

27

Dalam arti kiasan atau rohani, kata ‘adelpos’ dalam Perjanjian Baru menunjuk pada sesama Kristen. Sebutan saudara dalam jemaat perdana sudah menjadi sebutan diri yang sering digunakan dalam berbagai kesempatan seperti khotbah Petrus di Yerusalem pada hari Pentekosta pertama. ‘Hai saudara-saudara….”(Kis 1: 15-16).

Sebutan saudara yang semula hanya ditunjukkan bagi orang-orang yang sebangsa, sedarah, seiman, lama kelamaan mengalami perkembangan. Sebutan saudara menjadi lebih universal menembus benteng-benteng pemisah. Paulus (menyebut kata saudara sebanyak 133 kali, dan kata ini merupakan kata kesukaannya) banyak berjasa dalam meluaskan hal tersebut. Salah satu contoh yang paling mengejutkan adalah memanggil Onesimus sebagai saudara (Fil 9: 20). Onesimus adalah seorang budak dari Felemon. Pada saat itu dalam kamus bangsa Yunani tidak mungkin memanggil saudara bagi orang yang berbeda status sosial, golongan atau lapisan.

Makna persaudaraan sejati mendapat kepenuhannya dalam diri Yesus seperti yang dicita-citakan dan idam-idamkan dalam Perjanjian Lama. “Siapapun yang melalukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan dialah ibuKu” (Mat 12: 50, Mrk 3: 35; Luk 8: 21).

(45)

28

perempuan. Karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus” (Gal 3: 28) (Harun, 2000: 220).

2. Ajaran Gereja

Salah satu ensiklik yang membicarakan tentang persaudaraan adalah Gaudium et Spes sebagai kostitusi pastoral yang berbicara tentang Gereja di dalam dunia. Dalam GS art. 24 dikatakan bahwa Allah yang sebagai Bapa memelihara semua orang, menghendaki agar mereka semua menjadi satu keluarga dan saling menghadapi dengan sikap persaudraan. Sebab mereka semua diciptakan menurut gambar Allah, yang menghendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami seluruh muka bumi (Kis 17: 26). Oleh karena itu persaudraan perlu dikembangkan dengan semua orang tanpa terkecuali dikarenakan satu dasar yang sama dan tujuan yang sama yaitu Allah sendiri.

Gereja mengajak umat manusia untuk membangun persaudaraan yang didasarkan pada cinta kasih terhadap Tuhan dan sesama. Manusia perlu membangun persaudaraan dengan memberi diri secara tulus, saling mengembangkan sifat-sifat pribadi manusia dan membela hak-hak asasi manusia (GS art. 25), karena Allah menciptakan manusia bukan untuk hidup sendiri melainkan untuk membentuk persatuan sosial.

(46)

29

Seruan untuk membangun persaudaraan sejati juga dikumandangkan oleh para uskup dengan mengeluarkan surat gembala KWI tahun 1997 yang antara lain disebutkan

“….Bersama semua lembaga keagamaan dan umat beragama dan kepercayaan lain, gerakan spiritualitas dan moral perlu kita kembangkan…. Sebagai bagian dari bangsa yang mejemuk, amat penting bahwa kita membangun persaudaraan sejati, yang tidak membedakan suku, agama atau daerah asal. Ini tugas yang sulit dan berat untuk diwujudkan tetapi kita tidak boleh bosan dan berhenti untuk mengusahakannya. Persaudaraan sejati adalah kehendak Tuhan dan dan merupakan suatu kekuatan serta kesejahteraan besar bagi bangsa kita” (Haryanto, 2004:46)

Paus Yohanes Paulus II dalam pesannya pada hari perdamaian sedunia tanggal 1 Januari 2002 juga menghimbau seluruh umat manusia untuk menumbuhkan kembali kasih persaudaraan dengan Allah dan sesama dengan mengembangkan sikap keadilan dan pengampunan (Haryanto, 2004: 63-64).

C. Rangkuman

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, oleh karena itu manusia berelasi dengan sesamanya. Ilmu-ilmu dan Kitab Suci termasuk Ajaran Gereja memberi kepada kita berbagai gagasan dan cara pandang untuk memandang arti, pola, dan alasan yang berkaitan dengan relasi manusia dan sesamanya.

(47)

30

positif seperti yang dikatakan oleh Levinas dan Gabriel tetapi bisa juga bersifat negative seperti yang diungkapkan oleh Kierkegaard, Jean Paul Sartre dan Heidegger, semua tergantung pada pribadi masing-masing. Dalam membangun relasi dengan sesamanya, manusia sering dihadapkan pada dilema pilihan yang berbeda. Oleh karena itu dituntut keberanian dalam mengambil sikap. Relasi yang dibangun diharapkan relasi yang berorientasi pada kepentingan kolektif dan universal untuk kepentingan semua pihak, bukan untuk kepentingan pribadi sebagai pemuasan kebutuhan afeksi atau terbatas hanya pada lingkup sempit.

Relasi manusia dengan sesamanya dan keterlibatannya dalam hidup bersama dihayati dalam kerangka iman, yaitu sebagai relasi manusia dengan Allah yang transenden. Maka relasi dengan sesama diharapkan berlandaskan pada cinta kasih. Untuk itu dituntut sikap yang mampu menjadikan pribadi manusia sebagai pusat hidup bersama, mengakui bahwa semua orang bernilai sama dan sederajat, berpegang pada prinsip sikap solidaritas dan memandang pihak lain sebagai subjek. Hubungan persaudaraan yang dihayati dalam Perjanjian Lama adalah hubungan yang didasarkan pada hubungan darah, keturunan Abraham, kesatuan iman serta dasar perjanjian dengan Allah. Relasi yang bersifat universal, yang terbuka pada semua orang kiranya masih merupakan cita-cita yang belum terpenuhi.

(48)

31

(49)

BAB III

SPIRITUALITAS PERSAUDARAAN SEJATI SANTO FRANSISKUS

Spiritualitas berasal dari kata ‘spirit’ yang berarti semangat, jiwa, sukma atau roh (Tim penyusun kamus 1990: 856). Spiritualitas merupakan suatu daya kekuatan yang menggerakkan seseorang untuk memperkembangkan baik diri maupun rohaninya. Spirit atau daya, kekuatan yang menggerakkan itu dibutuhkan orang untuk bertindak atau melakukan sesuatu agar hasilnya sungguh-sungguh maksimal. Hal ini juga berlaku dalam membangun sebuah relasi, baik relasi antar pribadi, kelompok, maupun masyarakat luas. Relasi dapat terjalin dengan penuh kasih dan persaudaraan, saling mengembangkan dan memanusiawikan bila di dalam relasi itu ada spiritualitas persaudaraan. Fransiskus Asisi adalah salah satu tokoh persaudaraan. Ia dikenal sebagai tokoh persaudaraan karena semangat persaudaraanya yang tinggi. Hal inilah yang mendorong Fransiskus menyebut dirinya sebagai saudara dina. Bagi Fransiskus semua makhluk ciptaan adalah saudara, baik itu hewan, tumbuhan, alam semesta maupun manusia. Bagaimana spiritualitas persaudaraan Fransiskus Asisi itu? Kita akan mendalaminya bersama dalam bab ini.

A. Biografi Santo Fransiskus Asisi 1. Riwayat Hidup Santo Fransiskus

Fransiskus lahir tahun 1181 di Umbria yang terletak di kota Asisi. Umbria merupakan tanah dataran indah permai yang terbentang pada kaki Gunung Subasio. Umbria adalah lembah subur yang banyak ditanami zaitun dan gandum dengan jumlah penduduk sekitar 20.000 jiwa. Mata pencarian penduduk pada umumnya

(50)

33

adalah berdagang. Pada masa Fransiskus situasi politik di Asisi, sedang terjadi permusuhan dan persaingan antara kota Asisi dengan Perugia yang juga merupakan kota perdagangan. Asisi di bawah kekuasaan Paus di Roma (pada zaman itu Paus sekaligus menjadi raja), sedangkan Perugia mendukung kaisar Jerman dan melawan Paus (Groenen, 1997: 11-12).

Fransiskus adalah putra seorang saudagar kaya. Ayahnya bernama Pietro Bernardone dan ibunya bernama Dona Pica. Dalam usia 12 tahun Fransiskus menyelisaikan pendidikan dasarnya. Ia belajar menulis, membaca, menghitung dan sedikit bahasa latin dibawah bimbingan para imam. Pengetahuan bahasa Prancis ia dapatkan dari ibunya Pica yang kemungkinan warga Negara Prancis.

Kekayaan menjadikan masa remaja Fransiskus di isi dengan pesta-pesta dan berfoya-foya menghamburkan uang bersama teman-temannya, ia hidup dalam kemewahan dan berpakaian parlente. Fransiskus memiliki jiwa seni, karena itu ia bersama teman-temannya sering berkeliaran di kota dan bernyanyi. Gaya hidup Fransiskus mungkin mirip dengan ‘cross-boy’, pemuda ‘gondrong’ dewasa ini, yang menarik perhatian orang. Oleh karena itu wajar saja kalau ia diangkat oleh teman-temannya menjadi ‘Podesta’, pemimpin kelompok pemuda berandal di kotanya. Di tengah-tengah sikap Fransiskus yang berandalan itu, ia memiliki sikap murah hati lebih-lebih terhadap orang-orang miskin di Asisi. Ia sering memberi derma dan sedekah yang berlimpah kepada mereka. Sifat ini kiranya mempunyai peran andil dalam mengubah hidup Fransiskus selanjutnya.

(51)

34

(52)

35

orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Surga, kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku”.

Cara hidup Fransiskus melawan arus pada jamannya, menyentuh dan menarik hati banyak orang. Sejak tahun 1208, satu persatu orang datang untuk menggabungkan diri bersama Fransiskus. Dimulai dari golongan bangsawan, Imam dan akhirnya dari kelompok awam yang telah berkeluarga maupun yang belum. Hingga saat ini pengikut Fransiskus banyak tersebar di seluruh dunia dan dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu; Ordo I (OFM, Konventual dan Kapusin), Ordo II (Klaris, untuk para suster kontemplatif) dan Ordo III sekulir maupun Regulir. Salah satu Ordo ke III Regulir yang mengikuti semangat Santo Fransiskus Asisi adalah Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius (SMFA), yang merupakan tempat dimana penulis ikut mengambungkan diri.

(53)

36

pemimpin walikota Asisi, peristiwa permusuhan antara penduduk Gubbio dengan serigala dan sebagainya.

Fransiskus meninggal pada tanggal 3 Oktober 1226, dan tanggal 6 Juli 1228, Fransiskus diangkat menjadi Santo oleh Paus Gregorius IX, dengan demikian ia dimasukkan dalam golongan para kudus di surga.

2. Situasi SMFA

Gerardus Van Schijndel lahir di Boxtel, suatu desa kira-kira 40 km dari Asten, dalam wilayah propinsi Noord-Brabant di Belanda. Ayahnya bernama Gerardje, beliau adalah seorang tukang besi. Keluarga mereka hidup pas-pasan. Gerardus adalah anak yang cerdas, dengan mudah dia dapat mengikuti pelajaran di sekolah, gurunya berpendapat bahwa Gerardus dapat meneruskan pendidikannya. Namun dia sendiri berkeinginan untuk menjadi Pastor.

Pada tanggal 24 Juni 1876 Gerardus Van Schijndel ditahbiskan menjadi imam di kota Den Bosch. Gerardus Van Schijndel hanya bermaksud untuk menjadi pemimpin umatnya di Brabant. Ia merasa bahwa masih banyak orang di dunia ini yang belum mengenal injil, semangat misi dari Gerardus terkenal di paroki-paroki di mana beliau berkarya. Ia menulis surat kepada Uskup Den Bosch untuk minta ijin meninggalkan keuskupannya dan pergi jauh sebagai misonaris namun Uskup tidak mengijinkannya. Tujuh tahun kemudian keinginan berkarya di daerah misi timbul lagi, akhirnya Uskup mengijinkannya. Beliau berangkat ke Algiers di Afrika masuk menjadi novis pastor-pastor putih (Witte Paters), waktu itu Beliau berumur 41 tahun. Namun ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi

(54)

37

gagal menjadi seorang misionaris, namun Gerardus Van Schijndel tak pernah melepaskan cita-citanya untuk mendirikan suatu kongregasi misi Belanda untuk menjadi imam dan suster misi. Sedangkan untuk mencari finansial untuk mendirikan sebuah kongregasi harus ada dasar finansial yang cukup. Untuk itu ia berjuang mencari finansial untuk mendirikan sebuah kongregasi dengan menerbitkan majalah Antonius Padua karena pada permulaan abad tersebut Antonius Padua dianggap amat suci dan dikasihi rakyat Belanda.

Sejak terbit pertama mulai tahun1905 majalah utusan St. Antonius telah banyak menghasilkan uang sehingga dapat menjadi sumber finansial bagi pendirian kongregasi. Oleh karena itulah St. Antonius Padua dijadikan pelindung kongregasi SMFA. Pastor pendiri menerima surat resmi mendapat izin dari Roma pada tanggal 17 Februari 1913.

Berdirinya kongregasi SMFA ini dilatarbelakangi oleh semangat membara untuk menjadi misionaris dalam diri Pastor Pendiri (Gerardus Van Schijndel) untuk mewartakan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum mengenal Allah, agar mereka itu menerima kabar sukacita dan keselamatan abadi. Sasaran misi pendiri kongregasi pada waktu itu negara di dunia ketiga, termasuk Hindia Belanda (Indonesia).

(55)

38

Para suster memulai misinya dengan membuka asrama putri, rumah sakit dan kursus keterampilan putri serta kunjungan keluarga untuk memberi pengajaran agama dan kesehatan bagi penduduk setempat.

Dalam perkembangan kongregasi SMFA selanjutnya, para putri di Belanda yang masuk kongregasi SMFA berarti siap menjadi misionaris, berangkat ke tanah misi untuk seumur hidup meninggalkan tanah kelahirannya sampai mati mengabdi di tanah misi. Pada awalnya kongregasi SMFA berada di enam Negara yaitu di Belanda, Norwergia, Aruba, Congo, Indonesia dan Brasilia.

Misi pertama ke Norwegia pada tahun 1924, kemudian misi kedua Congo 1926, misi ketiga ke Indonesia 1931, ke Aruba 1957 dan misi terakhir ke Brasil 1961. sampai sekarang anggota berkembang di dua Negara yakni Indonesia dan Brasilia. Di Indonesia SMFA hadir di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Sintang dan Keuskupan Sanggau.

Perkembangan anggota SMFA di Indonesia terasa lamban, faktor penyebabnya antara lain awalnya para suster asal Belanda melayani sebagai misionaris dan kurang mencari panggilan putri pribumi, dan daerah misi awal yang dipilih jauh ke pedalaman, di mana masyarakat belum mengenal pendidikan (sekolah). Sehingga membuat anggota kongregasi SMFA lambat bertambah, hingga sampai sekarang anggota SMFA di Indonesia saat ini terdiri dari 31 suster kaul kekal, 25 suster yunior dan 10 yang masih berada pada formasi awal.

3. Situasi Gereja

(56)

39

Perdebatan demi perdebatan berlangsung, tentang siapa yang paling berkuasa, raja, kaisai atau paus. Sementara itu dalam masyarakat muncul suatu sikap protes terhadap gaya hidup metralisme yang semakin merajalela. Buah dari reaksi tersebut adalah munculnya berbagai macam bidaah. Bidaah-bidaah ini bertujuan untuk memurnikan ajaran Gereja, tetapi sayang mereka jatuh pada sikap ekstrim yang justru makin memperparah keadaan. Untuk mengatasi keberadaan bidaah-bidaah ini tidak jarang Gereja melakukan pengejaran, penindasan, bahkan pembunuhan, yang mengakibatkan terjadi perang saudara. Hal inilah yang menimbulkan pepercahan di dalam tubuh Gereja (Laarhoven, 1979: 61).

Di tempat lain, orang-orang Turki Seldjuk yang beragama Islam mulai menguasai tempat-tempat suci Kristen di Palestina. Bangsa ini bersikap intoleran terhadap kaum Kristiani, serta menutup tempat-tempat perziarahan umat Kristen. Umat Kristen yang ada di sana di tekan dan ditindas, begitu pula para peziarah yang datang ke Yerusalem diperlakukan kurang baik. Tak jarang mereka di rampok, ditindas dan dianiaya bahkan ada yang dibunuh. Bangsa Turki Seldjuk ini juga berhasil menduduki dan menerobos Anatolia di Asia minor serta mencaplok negeri-negeri dari Kerajaan Byzantium Kristen. Hal ini membuat Kaisar Byzantium meminta perlindungan dari Paus Urbanus II mengumumkan ‘perang suci’ (yang kemudian di kenal dengan nama Perang Salib) untuk melawan kaum muslim dan sekaligus merebut kembali tempat-tempat suci Kristen di Palestina dari penguasa dan kedudukan lascar Islam (Kristiayanto, 2002: 174).

(57)

40

mulai dari paus, raja-raja, kaum bangsawan, para imam, tantara dan petani. Orang berteriak dalam satu suara, “Deus hoc vult” (Tuhan menghendaki ini). Akan tertapi kebulatan suara yang tampak ini amatlah menipu, karena banyak orang memiliki pandangan yang berbeda tentang ‘perang suci’ dan sekaligus bercampur aduk dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Ada yang memandang Perang Salib sebagai ziarah apokaliptik menuju dunia yang lebih baik. Yang lain memandang Perang Salib sebagai suatu kewajiban untuk membela rekan Kristen mereka yang telah ditaklukkan oleh tentara Turki sekaligus kesempatan untuk membalas dendam. Yang lain lagi memandang Perang Salib sebagai sarana untuk meraih keuntungan material dan popularistas (Armstrong, 2001: 122-127).

Bangkitnya kegairahan umat akan hidup keagamaan serta pandangan tentang Perang Salib yang dilontarkan oleh Paus Urbanus II sebagai tindakkan suci yang memerangi musuh-musuh Tuhan, membuat orang-orang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi tentara salib (Armstrong, 2001 : 27). Hal ini juga didukung dengan pemberian indulgensi penuh bagi mereka yang membela hak milik Gereja serta pembebasan denda dosa yang dijatuhkan Gereja kepada mereka yang telah melakukan kejahatan tertentu.

(58)

41

berperang, sehingga menjadikan Perang Salib sebagai sejarah yang memilukan, melukai hati banyak orang. Para tentara Perang Salib membantai siapa saja yang dianggap kafir secara membabi buta, sikap mereka liar dan buas. Tentara Salib tidak hanya membantai kaum Muslim tetapi juga masyarakat Yahudi yang dipandang sebagai masyarakat licik yang telah menyalibkan Yesus Kristus (Armstrong, 2001: 122-127).

Perang Salib berlangsung selama dua abad, dari abad 11 sampai abad ke-13, dengan beberapa kali peperangan. Pada Perang Salib yang ke-5, perumusan antara Kristen dan Islam semakin memuncak. Di tangah-tangah Perang Salib itulah, hadir Fransiskus sebagai juru damai. Fransiskus menyadari bahwa perang bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan pertikaiaan. Oleh karena itu ia menawarkan perdamaian kepada ke dua belah pihak.

Memang benar apapun tujuan dan alasannya yang pasti Perang Salib telah melukai hati umat beriman seluruhnya, lebih-lebih umat Kristen, Islam dan Yahudi, dampak perang Salib masih terasa hingga saat kini. Perang Salib memang telah berlalu tetapi luka yang ditimbulkan masih belum tetutup sehingga sewaktu-waktu siap untuk meledak kembali. Perang Salib sungguh telah mengoyakkan sikap saling percaya, saling toleransi dan saling menghargai antara umat beriman.

B. Ajaran dan Pesan Fransiskus Asisi Tentang Persaudaraan 1 Persaudaraan dengan Alam Semesta, dan Ciptaan Lainnya

(59)

42

mengingatkan kita pada tingginya frekuensi bencana alam yang terjadi pada akhir-akhir ini. Tingginya frekuensi bencana alam merupakan indekasi kurangnya sikap bersahabat manusia terhadap alam. Bersahabat atau bersaudara dengan alam, akan menumbuhkan dalam diri manusia sikap hormat terhadap martabat ciptaan lainnya. Penghormatan terhadap martabat makhluk ciptaan lain akan nampak dalam sikap tidak bernafsu untuk memiliki dan menguasai alam, tetapi sebaliknya memiliki sikap merawat dan memelihara.

Membina persaudaraan dengan alam, berarti membantu terciptanya keseimbangan ekosistem dan kelestaraian lingkungan; dan dengan demikian kelangsungan hidup manusia pun terjamin. Fransiskus adalah salah satu tokoh yang dikenal sebagai orang yang memiliki jiwa kosmis. Ia mampu bersaudara dengan makhluk ciptaan lain, dengan alam semesta berserta isinya. Maka tidak heran kalau pada tanggal 29 November 1979, ia diangkat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup oleh Sri Paus Yohanes Paulus II, atas permintaan perkumpulan ‘Internasional planning environmental and ecological institute for quality life (Chang, 1989: 5).

(60)

43

juga membantunya mengikis kecendrungan diri untuk memiliki dan menguasai makhluk ciptaan lainnya. Oleh karena itu Fransiskus mampu menjadikan makhluk ciptaan lainnya sebagai titik kontemplasinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persaudaraan Fransiskus dengan alam, dengan makhluk ciptaan lainnya tidak terlepas dari situasi hidup religiusnya.

Bagi Fransiskus alam bukanlah sekedar benda duniawi saja, tetapi selalu terkait erat dengan Sang Pencipta, karena semua makhluk adalah karya Sang Pencipta. Oleh karena itu alam merupakan tempat kehadiran Allah. Melalui dan di dalam alam, Allah menyatakan diri-Nya dan berbicara kepada manusia. Fransiskus menemukan bahwa makhluk ciptaan memantulkan ‘essentia’ Allah yang terselubung, kekuasaan dan keilahianNya yang kekal (Rom 1: 19).

(61)

44

Persaudaraan kiranya menjadi nyata ketika ia dapat mewujudkan di dalam tindakan. Begitu juga dengan Fransiskus, Ia mewujudkan persaudaraannya melalui tindakan nyata. Salah satu bentuk tindakan yang dilakukan oleh Fransiskus sebagai wujud dari persaudaraan dengan alam, adalah solider dengan alam. Hal ini ditampakkannya dengan setiap kali bertemu para penebang pohon, Fransiskus selalu mengingatkan mereka untuk tidak menebang pohon secara sembarangan, tetapi supaya memikirkan perkembangan pohon di kemudian hari. Bila ingin menebang pohon, ia menghimbau untuk meninggalkan pangkalnya dan memberikan kemungkinan untuk bertunas lagi, dengan demikian kelestarian hidup tetap terjaga.

Begitu pula sikapnya terhadap hewan-hewan, ia bersikap solider. Salah satu contoh sikap solider Fransiskus terhadap hewan ialah ketika ia mencoba menyelamatkan nyawa beberapa ekor burung perkutut yang ditangkap seorang anak laki-laki yang ingin menjualnya. Fransiskus meminta pada anak tersebut untuk memberikan burung perkutut itu agar dipelihara dan dibuatkan sarang sampai burung perkutut tersebut sembuh, setelah itu Fransiskus memberkati burung tersebut dan membiarkannya pergi ke alam bebas (Sherley, 1997: 97). Selain dengan burung-burung Fransiskus juga bersahabat dengan hewan lainnya seperti ; cacing, kelinci, anak domba, ikan bahkan serigala yang ganas. Sikap Fransiskus yang bersahabat dan hangat kiranya mampu ditangkap oleh hewan-hewan lainnya sekalipun mereka tidak bisa berbicara. Sikap yang hangat dan bersahabat yang ditawarkan Fransiskus membuat hewan-hewan tidak takut untuk mendekat padanya.

(62)

45

maupun sesama manusia. Akhirnya relasi Fransiskus dengan alam beserta isinya flora dan fauna, menjadi inspirasi bagi kita manusia jaman sekarang dalam memandang dan memperlakukan alam beserta isinya. Kita juga disadarkan bahwa membina persaudaraan dengan alam akan menghantar kita pada kedekatan dengan Yang Ilahi.

2 Persaudaraan dengan Saudara Seiman

Semangat persaudaraan merupakan salah satu ciri khas dari hidup Fransiskus. Oleh karena itu Fransiskus senantiasa menyebut dirinya dan menamai para pengikutnya sebagai ‘saudara dina’. Tentu pemberian nama tersebut memiliki arti dan tujuan tersendiri. Sebutan ‘saudara dina’ mau mengungkapkan panggilan serta nilai-nilai semangat rohani yang dihidupi oleh Fransiskus dan para pengikutnya dalam mengikuti jejak Yesus Kristus.

Sebutan ‘saudara’, didasarkan pada kutipan Injil yang menyatakan : “…Kamu semua adalah saudara. Jangan kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias” (Mat 23 : 8-10). Maka tidak mengherankan bila Fransiskus menyapa semua orang sebagai saudara, bahkan kepada para perampok dan penyamun pun ia menyapa mereka sebagai saudara (Sherley, 1997: 106-115). Sebutan ‘dina’ mau menunjukkan gaya hidup Fransiskus dan para pengikutnya yaitu hidup dalam kemiskinan Injili dan perendahan diri. Kemiskinan yang terwujud dalam hidup tanpa jaminan materi sehingga mampu bersikap lepas bebas dan memberikan diri dituntun oleh Allah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...