Sosiologi Pedesaan Sosiologi Pedesaan Sosiologi Pedesaan

Teks penuh

(1)

MAKALAH SOSIOLOGI PEDESAAN

Dosen Pengampu: Dr. Siti Azizah S.Pt, M.Sos, M.Commun

Disusun oleh: kelompok IV

1. Ilham Rizky Hidayatulloh ( 145050100111158/2014 )

2. Renaldi Pitono ( 145050100111133/2014 )

3. Salnan Irba Novaela Samur ( 145050100111140/2014 )

4. Dewi Wulandari ( 145050100111143/2014 )

5. Samsul Hidayat ( 145050100111145/2014 )

6. Ritdatama Nur Muhammad ( 145050100111146/2014 )

7. Karllie Mangundap ( 145050100111147/2014 )

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

1.1 Bentuk Kontak Sosial

Antar orang-perorangan, kontak sosial ini terjadi melalui sosialisasi (socialization), yaitu suatu proses, di mana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota. Dari wawancara yang kami lakukan di perumahan Graha Cendana pada salah satu warga dapat disimpulkan bahwa tidak adanya interaksi sosial antar orang perorangngan dikarenakan warga setempat yang memiliki status bukan warga tetap dan kebanyakan penghuninya adalah Mahasiswa yang kos.

Antar orang-perorangan dengan suatu kelompok, kontak sosial ini terjadi apabila seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat. Dari wawancara yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa di perumahan Graha Dinana interaksi sosial antar orang perorangan dengan kelompok sering terjadi apabila suatu individu atau salah satu warga melakukan kesalahan atas peraturan yang telah di sepakati warga perumahan seperti jam malam, apabila seseorang mahasiswa pulang terlalu larut akan mendapat teguran dari warga setempat.

Antar kelompok dengan kelompok lainnya dapat terjadi apabila dua partai politik mengadakan suatu kerja sama. Pada perumaha Graha Cendana tidak adanya suatu komunitas atau kelompok yang terbentuk karena alasan warga setempat yang kebanyakan berstatus bukan warga tetap dan kebanyakan mahasiswa yang bertempat tinggal di perumahan Graha Cendana.

1.2 Media dan Metode Komunikasi

Kontak Sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu, antar individu dengan kelompok, antar kelompok. Dari hasil wawancara pada warga perumahan Graha Cendana dapat disimpulkan sering terjadinya kontak sosial secara langsung antar warga perumahan dengan warga lain tapi dilakukan tidak terlalu sering dikarenakan warga setempat bukan warga tetap dan kebanyakan orang luar kota, serta kebanyakan warga perumahan tersebut merupakan Mahasiswa yang tidak sering berada di tempat.

1.3 Jenis-jenis Proses Asosiatif

(3)

1.4 Jenis-jenis proses Disosiatif

Proses Disosiatif sama halnya kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan system sosial masyarakat bersangkutan. Pada perumahan Graha Cendana tidak pernah terjadi Persaingan dan Kontravensi karena warga yang tinggal di perumahan tersebut berstatus bukan warga tetap dan kebanyakan warga luar kota.

BAB II Kolompok-kelompok Sosial dan Kehidupan Masyarakat 2.1 Jenis-jenis Kelompok Sosial

Kelompok sosial menurut Sherif adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosoal yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesatua sosial tersebut.

Kelompok sosial memiliki tipe-tipe yang diklasifikiasikan dari beberapa sudut atau dasar berbagai kriteria ukuran. Seperti diukur dari kepentingan dan wilayah, kerumunan, atau derajat seseorang. Namun ada sistematika kelompok-kelompok terpenting dalam struktur sosial.

Minggu (7/12) kelompok kami melakukan obeservasi di daerah Perumaha Graha Cendana yang terletak di Jalan Simpang Sunan Kalijaga. Kami menemukan bahwa warga yang tinggal di daerah tersebut memiliki banyak kelompok sosial yang memiliki fungsi yang hampir serupa. Menurut Wiwib (29) warga Jalan Simpang Sunan Kalijaga A7 menyebutkan kelompok sosial yang terbentuk di daerah perumahan tersebut diantaranya adalah PKK, Karang Taruna dan Pengajian Mingguan.

Hal ini kami kelompokan lagi dan kelompok sosial tersebut masuk tipe umum, kesatuaan atas dasar kepentingan yang serupa, dengan organisasi tetap, kepentingan khusus, kesatuan atas dasar kepentingan yang serupa, tanpa organisasi. Di daerah tersebut juga terdapat kelompok primer yaitu kelompok sosial yang sederhana seperti keluarga, adapun kelompok sekunder yaitu kelompok sosial yang berdasarkan pengenalan pribadi seperti hubungan dalam organisasi.

2.2 Proses Terbentuknya Kelompok

(4)

tempat itu. Kemudian mereka menyadari untuk membentuk kelompok sosial untuk menjalin suatu hubungan persaudaraan antar tetangga.

Mulanya kelompok sosial tersebut hanya memiliki sedikit anggota. Karena banyaknya pendatang baru, Kelompok sosial tersebut mulai memiliki banyak anggota dan terus berjalan hingga saat ini.

2.3 Tujuan, Fungsi, dan Anggota Kelompok

Kelompok sosial itu terbentuk untuk memperat tali persaudaraan antar warganya atau menyambung tali silahturahmi antar tetangga setempat. Ada pun fungsinya yaitu untuk saling berbagi Informasi yang penting, mempercepat adaptasi bagi sasama warga pendatang, dan untuk menghindari konflik yang mungkin akan terjadi di daerah tersebut.

Menurut Wiwib (29) Kelompok tersebut hanya

Pertemuan kelompok-kelompok yang ada di daerah tersebut frekuensinya lebih sedikit dari pada daerah pedesaan. Hal ini dikarenakan penduduk kebanyakan warga pendatang atau migrasi dari daerah lain. Bahkan dari mereka yang adalah warga tetap masih ada yang tak datang dalam pertemuan kelompok sosial tersebut.

Kesadaran untuk menciptakan kebersamaan yang erat masih belum terlaksana. Hal ini diduga karena kebanyakan warganya adalah pendatang baru, sehingga masih dalam masa adaptasi di lingkungan tersebut. Apalagi dari begitu banyak masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut adalah mahasiswa yang menyewa kos di rumah-rumah sekitar sana sehingga tiap tahun akan berganti seiring berjalannya ajaran baru universitas.

2.5 Proses Migrasi dalam Masyarakat

(5)

digunakan untuk menjual belikan tanah membangun rumah atau tempat lainnya.

Hal ini juga dikuatkan oleh pendapat Erna bila tempat yang beliau tinggali masih tergolong daerah baru yang masih memiliki banyak lahan kosong, dan orang-orang yang tinggal di daerah tersebut adalah orang-orang luar Malang.

BAB III Kebudayaan dan Masyarakat

3.1 Pola Perilaku yang Memengaruhi Kepribadian Individu

Perilaku masyarakat secara tidak langsung dapat mempengaruhi kepribadian individu anggota masyarakat. Masyarakat pedesaan dengan perkotaan berbeda dalam hal kehidupan sosialnya. Dalam komplek perumahan biasanya kebanyakan masyarakatnya tidak saling mengenal satu sama lain dengan berbagai alasan. Hal ini menyebabkan mereka cenderung tidak peduli terhadap sekitarnya dan cenderung bersifat individualisme. Narasumber juga mengatakan “saya tidak mengenal semua yang tinggal disini, paling saya Cuma kenal sama orang yang disamping dan didepan rumah saya itupun jarang ngobrol. Biasanya saya sering ngobrol sama ibu pemilik kos-an di depan ini. Di kos depan ini mungkin tidak diberlakukan jam malam atau ada namun dilanggar saya juga tidak tahu. Karena ibu kosnya tidak pernah menitipkan anak kosnya kepada saya. Jadi meskipun mereka pulang malam ya saya biarkan saja. Urusan mereka sendiri dan ibu kosnya”. Antara warga satu dengan warga yang lain cenderung tidak mau ikut campur dan tidak peduli terhadap sekitarnya. Dan anggapan bahwa orang yang tinggal perumahan itu memang cenderung individualis itu memang benar adanya. Karena perilaku satu orang akan berpengaruh terhadap kepribadian orang disekitarnya.

3.2 Pola Perilaku yang Memengaruhi Kebudayaan Umum

(6)

merasa risih dan kesal akan hal tersebut. Namun, karena terlalu sering terjadi seperti itu maka warga menjadi terbiasa dan menganggapnya wajar. Karena kebanyakan yang tinggal disini adalah anak kost. Maka hal seperti itu seperti sudah menjadi kebiasaan di lingkungan ini”. Menurut kami hal itu termasuk perilaku masyarakat yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat umum meskipun sebenarnya hanya kalangan mahasiswa kos yang melakukannya. Karena perumahan tersebut kebanyakan yang tinggal adalah mahasiswa maka kebiasaan tersebut dianggap kebudayaan umum karena banyak yang melakukannya.

3.3 Keunikan Kebudayaan/Norma setempat

Norma merupakan suatu aturan atau kaidah yang diterapkan dalam suaru masyarakat. Berdasarkan kekuatan pengikatnya, norma juga dapat dikenal dengan cara, kebiasaan, tata kelakuan, adat-istiadat. Untuk cara dan adat istiadat tidak ditemukan dalam masyarakat ini. Kebiasaan menghormati yang lebih tua meamang berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat. Misalnya saling menyapa atau mengucapkan permisi meskipun mereka tidak saling mengenal. Sedangkan aturan yang berlaku ditempat ini ialah tidak diizinkan masuk atau keluar perumahan apabila lebih dari pukul 9 malam. Dan apabila lebih dari jam yang telah ditentukan tetap diperbolehkan masuk atau keluar namun melewati gerbang belakang. Meskipun rata rata yang tinggal adalah mahasiswa yang terkadang pulang malam namun mereka masih mematuhi aturan yang ada. Dan hanya segelintir orang yang melanggar karena alasan tertentu.

3.4 Gerak Kebudayaan yang Comformity dan Deviation

(7)

ngerjakan tugas gitu. Pernah sampek disamperin satpam ya dibilangi kalo ini sudah malam kok belum pulang. Karena status mereka sebagai tamu disini”. Meskipun begitu, lebih banyak yang mematuhi dibandingkan dengan yang melanggar. Confirmity lebih menonjol dibandingkan dengan deviation.

BAB IV Lembaga Kemasyarakatan

“Lembaga Kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam masyarakat.” (Soekantao. 2012:172).

Dalam hubungan antar manusia di masyarakat, diperlukan norma-norma yang mengatur agar tercipta suasana sekitar sesuai dengan yang diharapkan. Pada mulanya norma-norma yang timbul berasal dari ketidak sadaran. Namun lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan, dan akan dianggap tidak sesuai jika seseorang melanggarnya. Norma-norma yang timbul di dalam masyarakat memiliki kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut digolongkan menjadi 4, yaitu berdasarkan cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom).

4.1 Usage, folkways, mores, dan custom yang ada di dalam masyarakat setempat

4.1.1 Cara (Usage)

(8)

dengan keadaan seperti ini tidak menimbulkan berbagai macam celaan, hampir seluruh warga dapat memaklumi dan memahami seutuhnya.

Selain itu, kekuatan mengikat berdasarkan cara (usage) juga dijumpai pada antar sesama penduduk tetap. “Kalau sesama penduduk lama kita ya saling sapa kalo ketemu, malah udah jadi kebiasaan.” (Ulya. 2014). Pada konteks ini jika seseorang tidak menyapa saat bertemu akan timbul prasangka-prasangka buruk, walaupun tidak sampai menimbulkan celaan.

4.1.2 Kebiasaan (folkways)

Kekuatan mengikat yang selanjutnya yaitu kebiasaan (folkways). Folkways memiliki kekuatan mengikat yang lebih besar dibandingkan cara (usage). Kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama dan dapat diterima oleh masyarakat. (Soekanto. 2012:175). “Dulu sempat ada suara rame-rame pas malam sekitar jam 12an. Saya kaget kok ada rame-rame sih jam segini, apalagi saya juga punya anak kecil. Setelah itu, pagi hari saya tanya pak satpam, ternyata ada teman yang dateng buat ngerayain ulang tahun. Saya yang awalnya risih menjadi toleran. Ya kita maklumin saja namanya anak muda, asal jangan sampai teralu larut malam. Dan kejadian itu berulang-ulang sampai sekarang (Ulya. 2014). Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perayaan ulang tahun pada jam 12 malam yang awalnya membuat gaduh, kemudian dapat diterima oleh warga sekitar.

4.1.3 Tata Kelakuan (Mores)

Tata kelakuan memberikan batas-batas pada perilaku individu. Tata kelakuan juga merupakan alat yang memerintah sekaligus melarang seseorang. (Soekanto. 2012:175).

Tata kelakuan ini dapat dijumpai pada sistem keamanan di Perumahan Graha Cendana. Perumahan Graha Cendana menerapkan sistem tutup portal saat pukul 9 malam.

Kalau malam hari portalnya ditutup. Ya sekitar jam 9an. Tapi ada satu gerbang lagi, lewat belakang. Ditutup ini tujuanya biar aman, jadi satpam lebih bisa focus menjaga 1 gerbang saja. Kalaupun ada yang ingin lewat gerbang utama saat malam hari, bisa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada pak satpam jika ada keperluan. Nanti itu pasti akan dibukakan. (Ulya. 2014).

(9)

Kebanyakan penghuni perumahan ini yaitu anak-anak kos. Untuk peratran-peraturanya sendiri biasanya sudah dibuat atau ditentukan oelh pemilik tempat kos.

4.1.4 Adat Istiadat (Custom)

“Anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan dikenakan sanksi yang berat.” (Soekanto. 2012:176). Hal ini menunjukkan kekuatan mengikat adat istiadat sangatlah kuat.

Dapat dijumpai sesuatu yang menjadi adat istiadat di kawasan perumahan graha cendana yaitu menghadiri syukuran anak. Bagi masyarakat yang tidak menghadiri dianggap sangat tidak menghargai kebahagiaan sesamanya. “Kalau ada rumah yang baru lahiran biasanya kita sebagai tetangga hadir menjenguk dan memberi selamat. (Agung. 2014).

Saat perayaan hari raya umat Islam juga timbul adat istiadat berupa acara berkumpul di masjid yang wajib dihadiri oleh seluruh anggota masyarakat setempat.

Pas perayaan Idul Fitri pasti ada selebaran undangan buat warga, itu biasanya semua anggota masyarakatnya ikut hadir di masjid untuk berkumpul dan silaturahmi. Acara ini rutin diadakan setiap tahunya. Ada juga peringatan mauled Nabi. (Ratih. 2014).

Dapat ditarik kesimpulan sesuatu yang telah menjadi adat akan tetap dilaksanakan walaupun sela waktunya hingga berbulan-bulan (setahun sekali), tidak serutin sesuatu yang telah menjadi kebiasan.

4.2 Perwujudan pengendalian yang preventif dan represif di masyarakat setempat

Setiap sesuatu yang dilakukan tentu memerlukan suatu yang dapat mengendalikanPengendalian social terutam bertujuan untuk terciptanya suatu keserasian. Dalam hal ini perwujudan suatu pengendalian dibagi menjadi 2, yaitu preventif dan represif.

4.2.1 Preventif

(10)

4.2.2 Represif

Upaya Represif yaitu upaya yang dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai yang terlanjur melenceng atau tidak sesuai.

Yang biasanya bertugas memberikan teguran biasanya sih satpam. Biasanya satpam mendapat laporan dari warga jika ada sesuatu yang tidak sesuai. Trus satpamnya yang memberikan teguran. Pokoknya yang banyak bertugas untuk keamanan setempat itu satpam. Warga Cuma sebagai pengawas. Apalagi disini penghuni tetapnya hanya berjumlah 3 rumah saja. (Ulya. 2014).

Seluruh warga memberikan wewenang kepada satpam sebagai pengawas. Namun warga tidak semerta merta melepas tanggung jawab begitu saja, sering juga seluruh warga berperan aktif dalam penyelesaian masalah. Sebagian besar penduduk di daerah tersebut sudah memiliki solidsritas yang tinggi, seperti dicontohkan “Pernah terjadi tindak pencurian sekitar setahun lalu, saya kaget saat melihat hampir seluruh yang bermukim disini ikut mengejar sang pencuri yan akhirnya ketangkep.” (Ulya. 2014). Ilustrasi tersebut cukup menggambarkan betapa tigginya sikap solidaritas antar sesamanya.

4.3 Berbagai macam lembaga kemasyarakatan dalam masyarakat setempat

“Lembaga Kemasyarakatan adalah organisasi pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang memiliki tujuan yang sama.” (Soekanto. 2012). Beberapa lembaga kemasyarakatan yang dijumpai di perumahan Graha Cendana, yaitu ta’mir masjid, pengajian akhir pekan, belajar mengaji untuk anak-anak, kepanitiaan 17 agustus, satpam, kepanitiaan RT, penjahat.

Dari beberpa lembaga yang ada pada masyarakat setempat dapat dibedakan beberap lembaga melalui beberapa aspek. Lembaga yang sengaja dibentuk yaitu ta’mir masjid, pengajian akhir pekan, kepanitiaan 17 Agustus, satpam dan Kepanitiaan RT.

Ta’mir sengaja dibentuk untuk merawat dan menjaga masjid. Pengajian akhir pekan dibentuk untuk memenuhi kebutuhan rohani warga setempat. Kepanitiaan 17 Agustus bertujuan untuk mengawasi jalanya acara yang akan diselenggarakan dalam memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Satpam bertujuan menjaga kestabilan dan keamanan. Kepanitiaan RT bertugas mengayomi warga setempat.

(11)

Yang terakhir termasuk dalam lembaga yang ditolak masyarakat, yaitu hadirnya kemlompok penjahat (pencuri). Untuk kronologisnya sesuai dengan yang telah kita sampaikan dimuka. Lembaga ini ditolak karena dianggap merugikan warga setempat.

BAB V Lapisan Masyarakat

5.1 Hal yang Mendasari Terjadinya Pelapisan Masyarakat

Lapisan masyarakat (social stratification) merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Di dalam masyarakat pasti ada suatu lapisan yang penerapannya disengaja maupun tidak sengaja bahkan yang nampak maupun tidak nampak. Berdasarkan pernyataan narasumber laki laki yang mengatakan bahwa di daerah yang kami datangi tidak ada lapisan yang khusus karena penghuninya kebanyakan memiliki derajat yang sama dari segi pendidikan mereka tergolong orang orang yang pendidikannya sudah tinggi dan memiliki pekerjaan yang mapan pula. Meskipun jenis pekerjaan mereka tidak sama satu dengan yang lain. Akan tetapi, saat ditanyakan kepada responden perempuan mereka mengatakan bahwa didaerah tersebut ada perbedaan yaitu berdasarkan kekayaan. Karena sekalipun pada acara acara besar, mereka yang tingkat kekayaannya lebih akan berkumpul dalam satu tempat. Mayoritas warga disana bekerja sebagai PNS, Pengusaha serta Pejabat pemerintahan serta Mahasiswa. Jadi pada saat mereka berkumpul maka mereka berkumpul berdasarkan tingkat kekayaan maupun jabatan mereka. Salah satu narasumber mengatakan “pada saat ada acara besar maupun perkumpulan ibu ibu PKK, saya biasanya menolak untuk ikut karena yang datang pasti orang orang yang kaya kaya. Dan pada saat berkumpul juga yang dibicarakan tentang kekayaan mereka atau tentang trend busana dan barang barang branded. Terkadang kami merasa minder bila berkumpul dengan mereka”.

5.2 Sistem Pelapisan Masyarakat

(12)

berdasarkan kekayaan seseorang. Sehingga memungkinkan adanya perpindahan dari satu lapisan ke lapisan yang lain. karena sewaktu waktu yang kelas menangah akan ada diposisi yang tinggi dan yang posisi tinggi bisa saja turun lapisannya. Karena lapisan masyarakatnya berdasarkan materi, yang bisa berubah sewaktu waktu.

5.3 Berbagai Jenis dan Kasus Gerak Social

Kasus gerak sosial ada dua macam yaitu gerak horizontal dan vertikal. Gerak sosial horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial satu ke lainnya yang sederajat. Sedangkan gerak sosial vertikal merupakan perpindahan individu atau objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainnya, yang tidak sederajat. Sesuai arahnya maka terdapat dua jenis gerak sosial vertikal, yaitu naik (social climbing) dan turun (social sinking). Gerak sosial horizontal banyak terjadi dalam masyarakat yang kami kunjungi karena bedasarkan pernyataan narasumber yang menyatakan bahwa “di perumahan ini, kebanyakan orang pendatang. Saya juga tidak terlalu kenal dengan tetangga disini karena mereka yang jarang dirumah. Saya hanya kenal dengan beberapa orang saja disini, dan kalaupun kenal ya dapet setahun aja mereka sudah pindah. Jadi disini jarang ada yang menetap. Kebanyakan hanya tinggal setahun disini kemudian mereka pindah dan biasanya rumah mereka di kontrakkan”. Jadi gerak sosial horizontal yang ditandai dengan peralihan individu dari suatu kelompok sosial satu ke lainnya yang sederajat. Sedangkan gerak sosial vertikal yang terjadi adalah gerak vertikal naik karena ada golongan masyarakat yang ada dilapisan menengah kemudian berada di lapisan atas karena jumlah kekayaan mereka. Sedangkan gerak vertikal turun jarang terjadi, kalaupun terjadi tidak banyak orang yang mengetahuinya.

BAB VI Kekuasaan Wewenang dan Kepemimpinan

6.1 Jenis Kekuasaan dan Wewenang dalam Masyarakat

(13)

kelompok yang terisolasi tidak dapat melakukan kekuasaan, karena kekuasaan harus mempunyai potensi untuk dilaksanakan oleh individu atau kelompok lainnya. Kekuasaan melibatkan kekuatan dan paksaan, Wewenang adalah kekuasaan formal yang dimiliki oleh seseorang karena posisi yang dipegang dalam organisasi.

Unsur yang ada di dalam wewenang

1. Seseorang mempunyai wewenang karena posisi yang diduduki, bukan karena karakteristik pribadinya.

2. Wewenang tersebut diterima oleh bawahan karena memiliki hak yang sesungguhnya.

3. Wewenang berlaku dari atas ke bawah sesuai dengan struktur hierarki organisasi.

6.2 Upaya dalam Mencapai Kepemimpinan dan Cara Mempertahankannya

(14)

kinerjanya sebagai pemimpin kepada warganya. Jika warga yang dipimpinnya melihat pemimpin mereka kejanya bagus maka pemimpin tersebut tidak akan diganti tetapi akan dipertahankan.

6.3 Bentuk Lapisan Kekuasaan dalam Masyarakat

Tipe yang digunakan di perumahan Graha Dinana tipe Demokratis, menunjukkan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang bersifat mobil sekali. Di perumahan ini kelahiran tidak menentukan seseorang mendapatkan kedudukan sebagai peminpin. Yang terpenting adalah kemampuan dan kadang-kandang juga faktor keberuntungan. Disini bentuk lapisannya terdiri dari RW dan RT.

BAB VII Perubahan Sosial dan Kebudayaan

7.1 Perubahan Besar dan Kecil dalam Masyarakat 7.1.1 Perubahan Sosial Kecil

Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau besar bagi masyarakat. Perubahan mode pakaian, misalnya, tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat dalam keseluruhannya, karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Perubahan social kecil yang terdapat dalam masyarakat tersebut menurut narasumber yang telah diwawancarai adalah adanya perubahan mode pakaian yang lebih modern atau biasa yang disebut gaya pakaian yang modis. Pada lingkungan yang dikunjungi mayoritas penduduknya adalah mahasiswa yang memiliki ketertarikan lebih tinggi dengan gaya pakaian masa kini atau modis.

7.1.2 Perubahan Sosial Besar

Perubahan sosial besar adalah suatu proses industrialisai yang berlangsung pada masyarakat agraris, misalnya, merupakan perubahan yang membawa pengaruh besar pada masyarakat. Pelbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan ikut terpengaruh misalnya hubungan kerja, sistem milik tanah, hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat dan seterusnya.

(15)

wilayah persawahan sudah dijual untuk area perumahan. Banyaknya universitas-universitas yang ada di sekitarnya menjadi penyebab membludaknya jumlah penduduk yang ada. Jumlah pemukiman tidak sebanding dengan penduduk-penduduk pendatang dari luar kota dan memaksa untuk membangun area pemukiman yang awalnya menjadi area persawahan. Hal ini dapat berdampak pada jumlah pemukiman dan penduduknya menjadi sangat padat. Dampak lainnya adalah dapat merubah system mata pencaharian masyarakat sekitarnya yang semula bekerja menjadi petani. Karena sedikitnya lahan sawah atau tidak tersedianya lahan cukup luas, maka banyak petani yang mencari pekerjaan lain. Perubahan system mata pencaharian ini juga didukung oleh penduduk di perumahan tersebut yang mayoritas adalah pegawai dan juga mahasiswa yang memiliki status sosial lebih tinggi.

7.2 Perubahan Terencana dan Tidak Terencana dalam Masyarakat 7.2.1 Perubahan Sosial Terencana

Perubahan yang dikehendaki atau rencanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan didalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of changememimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. dalam melaksanakan,agent of change langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin meyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan selalu berada dibawah pengendalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-cara mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau seringpula dinamakan perencanaan sosial (social planning).

Perubahan terencana yang terjadi di masyarakat menurut narasumber adalah terjadinya perubahan system gotong royong atau kerjabakti untuk membersihkan lingkungan. Karena kesibukan masyarakatnya, kegiatan kerjabakti yang seharusnya dikerjakan oleh semua masyarakat sekitarnya menjadi pekerjaan pihak keamanan atau satpam. Semua warga mengadakan perjanjian dan mengumpulkan dana kebersihan atau kerjabakti untuk membayar satpam yang membersihkan lingkungan tersebut.

7.2.2 Perubahan Sosial Tidak Terencana

(16)

demikian besarnya terhadap perubahan-perubahan yang dikehendaki. Dengan demikian keadaan tersebut tidak mungkin diubah tanpa mendapat halangan-halangan masyarakat itu sendiri. Atau dengan perkataan lain, perubahan yang dikehendaki diterima oleh masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada. Atau, dengan cara membentukyang baru. seringkali terjadi bahwa perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling pengaruh-mempengaruhi.

Perubahan tidak terencana yang terjadi di masyarakat menurut narasumber adalah karena kesibukan warganya dapat mengakibatkan suatu acara yang awalnya direncanakan menjadi tidak terlaksana atau sepi dikarenakan warganya banyak yang tidak hadir. Hal ini disebabkan karena kepenting mendadak atau kepentingan pekerjaan yang mengharuskan warganya untuk tetap bekerja sehingga tidak dapat menghadiri acara tersebut. Tentunya hal ini tidak direncanakan sebelumnya akan tetapi hal ini akan memberikan dampak yang besar di dalam masyarakat tersebut dan juga bisa menimbulkan perselisihan antara masyarakatnya karena dianggap tidak menghargai pihak yang yang mengadakan acara tersebut.

7.3 Efek Perubahan Tersebut dalam Masyarakat

Menurut pendapat dari J.L Gillin dan J.P Gillin, perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang diterima, akibat adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, kompoisisi penduduk, ideologi, maupun karena difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.(J.L Gillin dan J.P Gillin).

(17)

7.4 Faktor Pendorong dan Penghambat yang Terjadi dalam Masyarakat

Perubahan social yang terjadi di masyarakat dapat disebabkan oleh faktor-faktor pendorong maupun penghambat.

7.4.1 Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Faktor pendorong adalah keadaan atau peristiwa yang ikut memicu terjadinya sesuatu hal dan bertujuan untuk menjadikannya menjadi lebih maju atau lebih banyak dari sebelumnya.

Factor pendorong yang dapat ditemukan di masyarakat adalah :

 Modernisasi dan globalisasi :

Pengaruh modernisasi dan globalisasi memang sulit untuk dihindarkan dari masyarakat. Pengaruh ini semakin besar dan mulai membudaya di dalam masyarakat. Sebagai contoh adalah menurut warga sekitar yang telah diwawancarai, sudah jarang lagi ditemui anak-anak kecil bermain di luar rumah yang bermain dengan teman sebayanya untuk bermain permainan tradisional. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain di dalam rumah dengan bermain gadget canggih yang diberikan dari orangtuanya. Hal ini tentunya akan berdampak buruk bagi perkembangan anak-anak tersebut. Dari segi sosial mereka akan mejadi manusia yang individualism karena sejak kecil kurang berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, dan masih banyak lagi dampak lainnya.

7.4.2 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Faktor penghambat adalah keadaan atau peristiwa yang dapat menghambat berkembangnya suatu hal dan akan berakibat terjadinya

 Kesibukan

Di zaman yang semakin modern ini banyak masyarakat yang memiliki segudang kesibuan atau pekerjaan. Kebutuhan yang semakin banyak menjadi penyebab utama. Menurut salah satu warga yang telah diwawancarai, mayoritas warga adalah pegawai dan mahasiswa yang cukup sibuk. Mayoritas mereka berangkat pagi, pulang sore, lalu istirahat dan menghabiskan waktu dengan keluarganya. Akibatnya sangat sedikit sekali interaksi sosial yang terjadi di masyarakat tersebut. Interaksi sosial banyak terjadi saat liburan atau hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, dan hari besar lainnya. Kurangnnya interaksi dengan warga sekitar dapat mengakibatkan perubahan sosial sulit terjadi.

(18)

Menurut Mohammad Ali, pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan secara terencana dalam melakukan perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas manusia.

Pembangunan yang terjadi di dalam masyarakat menurut narasumber adalah pembangunan sarana keamanan. Pos-pos keamanan atau pos satpam dibangun di di depan pintu masuk depan dan belakang lingkungan perumahan tersebut. Karena lingkungan perumahan biasanya dijaga satpam atau pihak keamanan yang bertugas menjaga pintu masuk perumahan. Selain pembangunan bidang keamanan, ada juga pembangunan pada bidang agama. Pembangunan masjid untuk sarana peribatan warga muslim yang tinggal di lingkungan tersebut. Semua pembangunan ditujukan oleh masyarakat sekitar untuk mencapai kenyamanan.

BAB VIII Masalah Sosial dan Manfaat Sosiologi

Dalam suatu kelompok masyarakat yang kami datangi di Daerah sigura-gura, Perumahan Graha Cendana, Malang, kami telah menerima beberapa informasi tentang masalah-masalah yang terjadi dalam lingkup kehidupan mereka. Kami melakukan observasi tersebut dengan menanyakan beberapa pertanyaan yang kemungkinan akan menimbulkan suatu pengetahuan dan wawasan tersendiri bagi kami. Dengan senang hati narasumber yang kami datangi sangat antusias dalam membantu kami untuk menjawab beberapa pertanyaan yang ingin kami ketahui mengenai masalah sosial yang terjadi. Inilah beberapa pertanyaan yang kami berikan dan jawaban yang sudah kami terima.

8.1 Masalah Sosial Latent dan Manifest dalam Masyarakat Setempat

Masalah merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hokum dan bersifat merusak. (Soekanto. 2012)

Dalam kehidupan di Desa saya juga banyak sekali memiliki permasalahan-permasalahan dalam lingkup Desa maupun dalam lingkup per RT. Seperti halnya didalam kompleks Sigura-gura yang kami datangipun juga memiliki permasalahan-permasalahan yang timbul.

(19)

8.2 Tindakan Preventif dan Kuratif Menghadapi Masalah Sosial Tindakan Preventif adalah merupakan suatu pengendalian sosial yang dilakukan untuk mencegah kejadian yang belum terjadi. Sedangkan untuk tindakan Kuratif adalah pengendalian sosial yang dilakukan pada saat terjadi penyimpangan sosial. (Soekanto. 2012).

Untuk menanganinya ataupun untuk mencegahnya saat ini satpam sudah melakukan keliling-keliling kompleks untuk setiap jamnya. Dan dari masing-masing rumah juga menjaga dan mengontrol baik-baik kondisi rumah, karena kalau hanya satpam saja yang berkeliling dan menjaga kurang efektif untuk kenyamanan. Jadi setiap rumah tangga dan anak-anak kos yang ada di kompleks juga mawas diri dalam menjaga rumahnya. Karena dalam perumahan ini memiliki pintu masuk lebih dari 2. Jadi sangat banyak kemungkinan orang asing yang berniat jahat untuk melakukan tindakan pencurian. Tapi sebisa mungkin kita berusaha untuk menjaga supaya tidak akan terjadi pencurian lagi untuk yang keduakalinya. Hingga saat ini pun puji syukur kompleks ini masih terjaga keamanannya. (Ulya. 2014)

8.3 Kasus Sisorganisasi, Reorganisasi, dan Transformasi dalam Masyarakat Setempat

Disorganisasi adalah suatu keadaan dimana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kelompok. Untuk Reorganisasi adalah proses pembentukan norma/nilai baru agar terbentuk keserasian dalam tubuh organisasi yang telah mengalami perubahan. Sedangkan untuk Transformasi adalah Perubahan-perubahan dan proses perkembangan yang terjadi dalam suatu masyarakat. (Soekanto. 2012)

(20)

yang akan menyewa satpam untuk menjaga kompleks mereka, banyak yang setuju dengan ide tersebut jadi akhirnya mereka menyewa satpam. Perubahan-perubahan yang terjadi mugkin saat ini masih belum ada, karena sekarang dalam kontak sosial mereka jarang bertemu untuk satu rumah dengan rumah yang lain. Masih ada yang berkontak sosial tetapi hanya satu,dua orang saja yang melakukan kontak sosial. Karena kebanyakan warga di kompleks ini memiliki pekerjaan yang cukup menyita waktu dan tak kalah sibuknya, disana juga banyak anak-anak kos yang keluar pagi dan pulangnya malam. Jadi sangat kurang sekali dalam kontak sosial di lingkup kompleks Sigura-gura saat ini. Dan untuk perkembangannya masih belum terjadi perkembangan apa-apa, hanya saja terjadi sebuah perkembangan banyak rumah yang berdiri dan disewakan untuk tempat kos. Jadi untuk kompleks Sigura-gura ini kurang penduduk tetapnya, karena mereka hanya membangyun rumah dan disewakan untuk kos-kosan. Dalam satu kompleks perumahan tersebut hanya 2 atau 3 orang saja yang memiliki KTP tetap, atau menjadi penduduk tetap. (Wiwib. 2014) .

Saran

Dari beberapa informasi yang kami dapat terdapat beberapa kesamaan informasi yang disampaikan secara tersirat. Informasi tersebut yaitu jika tidak ada yang memulai untuk berkomunikasi, maka tidak akan tercipta suatu hubungan social. Kita menyadari memang hanya tersedia sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan sekitar. Namun, sebagai penduduk lama di kawasan perumahan, hendaknya lebih bisa merangkul para pendatang baru. Apalagi para pendatang berusia sekitar belasan tahun, yang masih merasa malu untuk memulai sesuatu, khususnya memulai pembicaraan.Dari terciptanya komunikasi antar penghuni perumahan, diharapkan mampu mempererat silaturahmi dan penghuni sekitar rumah pun akan senantiasa membantu jika terdapat kesulitan-kesulitan.

Daftar Pustaka

(21)

Lampiran Foto

(22)

(Ratih, Dewi dan Ilham)

(23)

(Agung dan Samsul)

(24)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...