Sejarah Peradaban Islam pada Masa Dinast

18 

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM MASA DINASTI

MURABITHUN DAN MUWAHHIDUN1

Oleh: Sukron Ma’mun2

A. Pendahuluan

Sejarah peradaban Islam hampir selalu ditandai oleh adanya penaklukkan dan penguasaan satu kekuasaan oleh kekuasaan yang lainnya, tidak hanya antara Islam dengan non-Islam namun juga oleh dinasti-dinasti dalam umat Islam sendiri.3 Demikian halnya dengan sejarah peradaban Islam di Afrika Utara. Dalam catatan sejarah Peradaban Islam, Afrika Utara memegang peran penting dalam proses penyebaran Islam di kawasan tersebut dan juga daratan Eropa. Pada kawasan ini pula Islam mengalami masa kejayaan dalam banyak bidang. Dua dinasti yang sangat terkenal yakni Murabithun dan Muwahhidun merupakan dinasti yang pernah berkuasa dalam kurun waktu cukup lama.

Dinasti Murabithun berkuasa antara tahun 1056-1147 M, sementara Dinasti Muwahhidun berkuasa setelahnya yakni antara tahun 1130-1269 M. Paling tidak empat negara dikuasai oleh dua dinasti tersebut, yakni Tunisia, Aljazair, Maroko, dan Andalusia atau kini dikenal dengan nama Spanyol. Dinasti Murabithun menguasai Maroko dan Spanyol, sementara dinasti Muwahhidun tidak hanya Maroko dan Spanyol, namun juga Tunisia dan Aljazair.4

Dinasti Murabithun dan Muwahhidun bukanlah yang pertama kali menaklukkan kawasan Afrika Utara dan Spanyol, namun penaklukan kawasan Afrika Utara dan Spanyol sudah berlangsung pada tahun 600-an oleh bangsa Arab.5 Mengecualikan Islam di Mesir, Libya takluk dalam kekuasaan Islam pada tahun 634 M, kemudian berlanjut penaklukan Spanyol oleh Dinasti Umayyah (756M). Di berbagai wilayah lain seperti Aljazair oleh dinasti Rustamiyah tahun

1

Disampaikan pada forum diskusi bulanan Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam STAIN Salatiga. 16 Oktober 2013.

2

Ketua Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam STAIN Salatiga. 3

Catatan sejarah dalam lintas sejarah Islam khususnya pasca wafatnya Rasulullah menurut Farag Fouda memang banyak diwarnai oleh pertikaian, bahakn tidak jarang pertikaian tersebut melibatkan sesama umat Islam sendiri. Lebih lanjut Fouda menjelaskan bahwa kebencian tersebut telah tertanam lama semenjak masa khalifat Usman. Lihat Farag Fouda, Kebenaran yang Hilang, (Jakarta: Paramadia dan Dian Rakyat, 2003).

4

Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam; Bagian ke Satu dan Dua, cet I. Terj. oleh Gufron A Mas’adi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 564-565.

5

(2)

761 M, Maroko oleh dinasti Idrisiyah (Fez) tahun 789 M, Tunisia dan Aljazair Timur oleh dinasti Aghlabiyah berlanjut ke dinasti Qayrawan (800 M), Dinasti Fatimiyah (909 M), dan Zirids (972 M). Dinasti Fatimiyah berkuasa hingga ke daratan Maroko pada tahun 921 M.6

Dinasti Hammadiyah juga pernah menguasai Aljazair pada tahun 1015 hingga 1152 M. Pada umumnya berbagai dinasti tersebut tidak lagi menguasai kawasan Afrika Utara setelah kehancuran mereka. Penguasaan terus beralih ke berbagai dinasti, termasuk Murabithun dan Muwahhidun. Bahkan Dinasti Muwahhidun dapat dikategorikan satu dinasti yang cukup sukses menguasai kawasan Afrika Utara karena berkuasa di tiga wilayah, yakni Tunisia, Aljazair, dan Maroko.

Dinasti Murabithun menjadi catatan menarik dalam pandangan sejarawan Islam, karena dinasti ini berawal dari gerakan keagamaan dan berkembang menjadi gerakan politik. Demikian halnya dengan dinasti Muwahhidun yang juga berkembang dari gerakan keagamaan. Kedua dinasti berkuasa pada masa yang berbeda dalam kurun waktu yang cukup lama, berbagai kemajuan dicapai dan dicatat dalam sejarah peradaban umat Islam khususnya di Afrika Utara, bahkan hingga Spanyol.

Kajian dalam penelitian sederhana ini ingin mengetengahkan perkembangan dalam sejarah pemikiran dan peradaban yang berlangsung pada dua dinasti tersebut, yakni Murabithun dan Muwahhidun. Dua peradaban yang tidak banyak atau kurang mendapatkan perhatian khusus dalam ranah penelitian sejarah Islam klasik. Tentu sangat menarik membahas persoalan tersebut, karena kajian ini lebih menfokuskan pada dua aspek utama yakni pemikiran Islam dan peradaban yang berlangsung. Di sinilah letak urgensi kajian ini.

B. Dinasti Murabithun dan Muwahidun

Kekuasaan Dinasti Murabitun dan Muwahhidun menguasai daerah yang sama, yakni daratan Afrika Utara dan daratan Andalusia atau lebih dikenal dengan Spanyol. Keduanya berkuasa dalam kurun waktu yang berbeda secara beruntun. Berikut peta kekuasaan Dinasti Murabithun dan Muwahhidun.

Menurut Ira M Lapidus dua dinasti ini menguasai kawasan Afrika Utara pada tahun 1056 hingga 1226 M. Sebelum dua dinasti tersebut berjaya pada masanya, dinasti yang lainnya pernah mengusai kawasan Afrika Utara dan Andalusia. Di antaranya adalah dinasti Umayyah 756-1031 M berkuasa di Andalusia (Spanyol), Dinasti Rustamiyah pada tahun 761-909 M di AlJazair, Dinasti Idrisiyah di kawasan Fez, Maroko tahun789-926 M, Dinasti Aghlabiyah yang menguasai Tunisia dan Aljazair Timur tahun 800-909 M, Dinasti Fatimiyah yang menguasai Tunisia, Aljazair, dan Maroko pada tahun 909-921 M, Zirids

6

(3)

yang menguasai Tunisia tahun 972-1148 M, dan Hammadiyah yang menguasai AlJazair tahun 1015-1152 M.7

Sketsa Kronologi Islam di Afrika Utara8

Libya Tunisia Aljazair Maroko Spanyol

Penaklukan

Ira M Lapidus, Sejarah Sosial, hlm. 562. Lihat juga C.E Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, hlm. 42-29.

8

(4)

Peta 1:

Negara-negara Afrika Utara yang pernah dikuasai oleh Dinasti Murabithun dan Muwahhidun. Peta Afrika Utara dan Andalusia, daerah kekuasaan Dinasti

Murabithun dan Muwahhidun ini diambil dari: www.picturehosting.com

C. Gerakan Awal Dinasti Murabithun dan Muwahiddun

1. Dinasti Murabithun

Dinasti Murabithun berawal dari gerakan keagamaan yang dipelopori oleh suku Lamtunah, kelompok suku nomade9 barbar yang mendiami Gurun Sahara antara Maroko bagian selatan, tepi sungai Sinegal hingga Sungai Niger. Suku Lamtunah merupakan cabang dari suku Shanhajah merupakan suku Arab Himyar yang pindah dari Yaman ke Syam. Orang-orang suku Lamtunah ini juga disebut Al-Mulatsimun atau orang-orang bercadar. Hasan Ibrahim Hasan menyebut dinasti Murabithun dengan istilah dinasti Mulatsimun.10

Dalam Ensiklopedi Islam Karya Cyril Glasse dinyatakan bahwa kelompok Murabithun merujuk pada praktik lembaga masyarakat Islam yang berkembang pada masa Khalifah Umar. Murabithun berarti orang-orang yang sedang dalam keadaan berhenti atau antri. Orang-orang yang memasuki organisasi mileter keagamaan untuk mempertahankan perbatasan Islam (dar al-Islam), mereka biasanya mengasingkan diri di ribath (rubuth). Khalifah Umar pernah mengeluarkan kebijakan mileter perbatasan ini, saat bangsa Arab tidak diizinkan memiliki tanah-tanah di negeri yang ditaklukkan. Kebijakan ini pernah di modifikasi oleh Khalifah Usman. Orang-orang Spanyol menyebut gerakan ini dengan istilah Almoravids.11

Gerakan Murabithun berawal dari kegelisahan atas kondisi keagamaan di Maroko bagian selatan. Yahya bin Ibrahim al-Jaddali, pimpinan suku Lamtunah, merasa bahwa kondisi keagamaan pada masyarakatnya perlu diperbaiki. Hal ini disadarinya setelah ia melakukan ibadah haji di Makkah. Sepulang dari ibadah

9

Masyarakat yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah tempat, sesuai dengan musim dan ketersediaan makanan.

10

Sebagaimana dikutip oleh Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban, hlm. 95. 11

(5)

haji ia mengundang seorang Alim ulama, Abdullah Yasin Al-Jazuli untuk bersedia mengajarkan pengetahuan agama pada umatnya. Penunjukan Abdullah Yasin Al-Jazuli ini atas masukkan Abu Imran yang beraliran madzhab Maliki.12 Yahya bin Ibrahim mengajak orang-orang suku Lamtunah untuk belajar agama pada Abdullah Yasin. Dua di antaranya yang termasuk petinggi suku Lamtunah kakak beradik yakni Yahya bin Umar dan Abu Bakar bin Umar.

Ketiga orang yakni Yahya bin Ibrahim Al-Jaddali,Yahya bin Umar, dan Abu Bakar bin Umar inilah yang kemudian dikenal sebagai pimpinan pertama dalam Dinasti Murabithun. Abdullah Yasin yang menjadi guru agama pada suku Lamtunah kenyataannya tidak banyak mampu menarik simpati masyarakat. Namun ketiga orang tersebut setia dan mengakui otoritas spiritual Abdullah Yasin.13

Abdullah Yasin menyadari bahwa tidak banyak orang-orang suku Lamtunah yang tertarik pada ajarannya. Oleh karena itu ia mengajak orang-orang yang setia padanya pindah menuju daerah perbatasan Sinegal. Ketiga pimpinan suku Lamtunah, Yahya bin Ibrahim, Yahya bin Umar dan Abu Bakar bin Umar juga mengikutinya. Pada daerah baru ini mereka mendirikan ribath atau semacam rumah ibadah yang juga berfungsi menjadi benteng pertahanan, sehingga gerakan ini disebut dengan Murabithun. Kata Murabithun berakar pada kata yang sama dengan ribat, yakni r-b-th. Kata ini berasal dari akar kata dalam Al-Qur’an yang menunjuk pada “teknik pertempuaran jarak dekat dengan infantry di barisan depan serta pasukan unta dan kuda pada barisa belakang”. Model seperti ini berlaku umum pada masyarakat barbar. Dengan demikian pengertian Murabithun menunjuk pada orang-orang yang terjun pada medan perang suci sebagaimana disampaikan dalam Al-Qur’an.14

Pada daerah baru inilah gerakan Murabithun mulai berkembang pesat. Abdullah Yasin memerintahkan pengikutnya untuk berdakwah di luar kelompok ribath. Tidak mengherankan dalam kurun waktu sepuluh tahun komunitas gerakan Murabithun meningkat pesat dan kemudian berubah menjadi gerakan politik. Yahya bin Ibrahim menjadi pimpinan politik pertama dan mengangkat Yahya bin Umar sebagai panglima militer. Gerakan Murabithun kemudian mulai melakukan ekpansi kekuasaan dan menaklukkan beberapa kawasan serta penguasanya. Suku bangsa di Sahara ditaklukan pada tahun 1055 M. Kota-kota yang ada di Sahara di rebut oleh kelompok Murabithun. Penguasa Sijilmasah yang bernama Mas’ud bin Wanuddin Al-Maghrawi pernah melakukan perlawanan sengit sebelum akhirnya gugur.

12

Departemen Agama, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Proyek PPSPPTA, 1992), hlm. 806.

13

C.E Bosworth, Dinasti-Dinasti, hlm. 49. 14

(6)

Setelah melakukan beberapa ekspansi kekuasaan gerakan Murabithun resmi mendirikan daulah yang wilayah kekuasaannya meliputi Maroko dan beberapa kawasan disekitarnya. Yahya Ibramim meninggal pada tahun 1056 M, kekuasaan Murabithun beralih guru priritualnya yakni Abdullah Yasin (Ibnu Yasin). Tidak berselang lama Abdullah Yasin sendiri meninggal dalam upaya penaklukan penduduk suku barbar disekitar pantai samudera Atlantik.15 Kekuasaan Murabitun beralih pada Abu Bakar bin Umar dibantu Yusuf bin Tasyfin, saudara seperjuangan Yahya bin Ibramin Al-Jadalli.

Dinasti Murabithun pernah menjadikan kota Aghmat, kota kecil di Sahara, sebagai pusat pemerintahan. Tahun 1070 M 9462 H) dinasti Murabithun menaklukkan Marakesy (Maroko) dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan setelah dari Aghmat. Abu Bakar dan Yusuf bin Tasyfin pernah berpisah dan melakukan perluasan kekuasaan. Abu Bakar melakukan perluasan kekuasaan di daerah utara, sementara Yusuf bin Tasyfin mengusai tanah Maghribi (barat). Namun kekuasaan kemudian berpindah ke tangan Yusuf bin Tasyfin, sementara Abu Bakar tidak memperoleh apapun kecuali hanya hadiah dari Yusuf bin Tasyfin. Abu Bakar sendiri kemudian kembali ke gurun Sahara dan meninggal tahun 1087 M dalam perjalanannya ke Sudan.16

Kepemimpinan Yusuf bin Tasyfin terbilang paling sukses di antara para pemimpin dinasti Murabithun. Pasca kepemimpinan Yusuf bin Tasyfin, ia digantikan anaknya Ali bin Yusuf. Yusuf bin Tasyfin pernah melakukan hingga Algeria tahun 1080-1082 M dan Spanyol tahun 1086-1106 M.

Bagan 1:

Para pemimpin Dinasti Murabithun17

448-541 H/1056-1147 M Afrika Utara dan Spanyol

Tahun (M) Nama Pemimpin Keterangan

? Yahya bin Ibrahim

Pemimpin-pemimpin barbar Shanhaja yang mengakui otoritas spiritual Abdullah bin Yasin

? Yahya bin Umar 1056-1059 Abdullah bin Yasin 1059-1061 Abu Bakar al-Lamtuni 1061-1107 Yusuf bin Tasyfin 1107-1143 Ali bin Yusuf 1143-1145 Ibrahim bin Tasyfin 1145-1147 Ishaq bin Tasyfin

15

A. Nicholson Reinold, ‘A Literary of the Arabs’ (London: Cambridge University Press, 1979), hlm. 223.

16

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban, hlm. 96-97. 17

(7)

1147 Penaklukkan Muwahhidun

2. Dinasti Muwahhidun

Gerakan Muwahhidun muncul semasa dinasti Murabithun mulai melemah, secara politis dan keagamaan. Pemerintahan yang dipegang oleh Ishaq bin Tasyfin mulai kurang mendapatkan tempat di kalangan masyarakat. Penolakan terhadap pemerintahan Murabithun nampak saat mulai munculnya pemberontakan-pemberontakan dari bawah. Pemberontakan juga disinyalir akibat ketidakpuasaan pada sistem pemerintahan yang dibangun dan dominannya madzhab yang dianut oleh pemerintahan. Gerakan keagamaan menjadi faktor yang cukup dominan dalam melatarbelakangi munculnya gerakan Muwahhidun ini. Gerakan ini dipelopori oleh Muhammad bin Tumart, yang menekankan ajaran ketauhidan.18

Gerakan Muwahhidun muncul sebagai protes atas dominasi madzhab resmi Negara, yakni madzhab Maliki yang dianggap kaku. Muhammad bin Tumart (Ibn Tumart) sendiri merupakan orang barbar yang berlaku zuhud serta menerima kesetiaan dari suku Masmudah dan beribu kota di Marakesy yang didirikan oleh Dinasti Murabithun. Para pengikut Ibn Tumart memanggilnya dengan sebutan al-Mahdi karena ia dianggap sebagai imam yang ditunggu-tunggu, menurut tradisi Syi’ah dan menisbahkan keturunan Nabi Muhammad Saw. melalui dinasti Idrisiyah yang telah berkuasa di wilayah itu sebelumnya.19 Dinamakan al-Muwahhidun karena mereka menganggap yang paling mengesakan Allah di antara umat Islam yang lain dan ajaran tauhid atau ke-esa-an Allah yang diutamakan dan diajarkan kepada para pengikut Ibn Tumart.20

Stagnasi pemikiran keagamaan yang dialami dinasti Murabithun melatarbelakangi kelahiran gerakan Muwahidun. Para pengikut Imam Malik, dari Dinasti Murabithun, menganggap bahwa belajar tafsir Al-Qur’an dan Hadist sudah tidak diperlukan lagi bagi setiap muslim karena hal tersebut telah dilakukan oleh Imam Malik sendiri. Ibnu Tumart menyatakan bahwa umat Islam hendaknya kembali pada Al-Qur’an, Hadis, dan Ijma sahabat, serta menolak ra’yu sebagai dasar ajaran dan humum agama. Sebagai konsekuaensinya qiyas pun ditolak.21

18

Istilah Muwahhidun telah dipakai lama oleh kelompok wahabi untuk menamkan dirinya sendiri. Demikian halnya kelompok Deuze. Nama lain dari Muwahhidun adalah Almohads. Lihat Cyril Glasse, Ibid., hlm. 294.

19

Dinasti Idrisiyah menguasai daerah Afrika Utara, khususnya Maroko pada tahun 789 hingga 926 M. penguasa pertama dinasti ini adalah Idris, cicit putra khalifah Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan. Dinasti Idrisyah beraliran Syi’ah yang memiliki hubungan dengan imam-imam Syi’ah diatasnya. C.E Bosworth, Dinasti-Dinasti, hlm. 42.

20

Dr Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997), hlm. 112-113.

21

(8)

Menghadapi kondisi ini, Ibnu Tumart pergi ke Cordova, Alexandria, Makkah bahkan hingga Bagdad untuk mendalami Agama. Bahkan Watt dalam bukunya “A History of Islamic Spain” sebagaimana di kutip Ajid Thohir dalam menyatakan bahwa Ibnu Tumart belajar langsung kepada Imam Ghazali. Ibnu Tumart juga dimungkinkan mengenal baik aliran Asy’ariyah, Ibnu Hazm, penganut paham Ad-Dhahiri dari Spanyol. Ensiklopedi Islam Indonesia menyebutkan bahwa Ibnu Tumart termasuk pengikut fanatik aliran Asy’ariyah. Bagi Ibnu Tumart memahami Al-Qur’an secara literer akan menjurus kepada antromorfisme dan menjadikannya kafir.22

Ibnu Tumart selain berpaham Asy’ariyah, ia dikenal sebagai orang yang sangat zuhud dan reformis. Ibnu Tumart menyangkal tradisi barbar Pagan yang masuk dalam praktik-praktik Islam. Ia juga menentang keras memimun khamr

(anggur), musik, dan kesenangan berpakaian mewah. Ia memandang dirinya pewaris Nabi Muhammad Saw., karirnya sebagai duplikasi dari karir Nabi, ajarannya sebagai upaya mengamankan komunitas Islam sebagaimana pernah berlaku pada masa Rasulullah.

Ibnu Tumart berhasil menarik simpati dan kepercayaan kepala-kepala suku di Maroko. Tidak kurang dari lima puluh perwakilan kepala suku ada dibawah kendalinya dan ia organisir melalui dewan perwakilan suku. Di Tinmal, sebuah daerah di bagian selatan Maroko, ia mendapatkan dukungan dari kepala suku setempat yakni Abu Hafs Umar dan memprokramirkan diri sebagai Imam Mahdi23

dan ma’sum atau pemimpin tak ternoda yang dikirim Allah. Para pengikutnya

menyatukan gerakan mereka sebagai sebuah kolektivitas di bawah pimpinan mereka. Dengan demikian sebuah hirarki keagamaan telah dipaksakan terhadap sebuah masyarakat kesukuan.24

Ibnu Tumart membangun gerakan politiknya melalui gerakan dakwah, ia mengirimkan tenaga dainya ke berbagai suku dan mengajak umat Islam ke jalan yang ‘benar’ dan menyelamatkan diri dari ajaran kaum Murabithun yang telah mengikuti ajaran antromorfisme dan menyekutukan Allah. Ia memerintahkan kepada pengikutnya untuk berakhlaq terpuji, taat undang-undang, shalat tepat waktu, membaca wirid yang dibuatnya dan mendalami kitab-kitab al-Muwahhidah.25

Dalam upaya menggalang para pengikutnya, Al-Muwahhidun memilik garis-garis politik sebagai berikut:

22

Ibid, hlm. 105. 23

Istilah Imam Al-Mahdi adalah ungkapan untuk menyebut orang yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia dan dianggap sebagai ‘juru selamat’ pasca kerasulan Muhammmad SAW. Hal ini sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur’an. Namun sebutan Al-Mahdi sendiri menjadi sangat interpretatif dan akibatnya banyak orang yang mengaku sebagai Al-Mahdi.

24

Ira M Lapidus, Sejarah Sosial, hlm. 575. 25

(9)

Rakyat Al-Muwahhidun merupakan satu kesatuan sosial yang beriman secara benar. Sedangkan orang-orang di luar kelompoknya adalah kafir yang harus diperangi. Kesatuan dalam al-Muwahhidun dipimpin oleh imam. Imam pertama adalah Al-Mahdi dan selanjutnya disebut khalifah.

Al-Mahdi dibantu oleh dewan sepuluh yang anggotanya dipilih secara selektif dan berfungsi sebagai cabinet pemerintahannya. Dewan sepuluh ini memiliki hak suara dalam pemerintahan dan dapat menjadi komandan militer serta dapat mewakili Al-Mahdi sebagai imam shalat.

Dewan sepuluh yang anggotanya terdiri dari perwakilan cabang-cabang suku barbar merupakan bagian dari masyarakat Al-Muwahhidun, yang salah satu fungsinya sebagai penasihat. Di samping Dewan Sepuluh, ada juga Dewan Tujuh Pulau sebagai anggota majelis rakyat.26

Al-Muwahhidun mulai melakukan konfrontasi dengan Dinasti Murabithun di saat suku Masmudah membangkang kepada pemerintahan resmi yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Sus. Dalam kontak sejata dimenangkan oleh kelompok Muwahhidun. Lambat laun gerakan Muwahhidun berkembang pesat dan menggerogoti kekuasaan Murabithun.

Kepemimpinan Ibnu Tumart sendiri hanya sampai tahun 1130 M, di saat kekuasaan Murabithun masih dikuasai oleh Ali bin Yusuf. Ibnu Tumart meninggal dan digantikan oleh Abdul Mu’min, sebagaimana kesepakatan Dewan Sepuluh. Abdul Mu’min diangkat menjadi pengganti Al-Mahdi dengan sebutan

Amirul Mukminin. Abdul Mu’min merupakan orang yang pernah menyelamatkan

Ibnu Tumart saat ia lari setelah diusir oleh dinasti Murabithun saat berdakwah di Bijaya tahun 1117 M. Abdul Mu’min menjadi murid sekaligus orang kepercayaan Ibnu Tumart.

Abdul Mu’min tergolong pemimpin Al-Muwahhidun yang sukses, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah yang semula menjadi kekuasaan Murabithun. Spanyol yang semula dikuasai oleh Dinasti Murabithun direbutnya pada tahun 1145 M. Tahun 1147 M, seluruh dinasti Murabithun dikuasai. Tahun 1159 M, Abdul Mu’min menguasai kota Almeria dan menjadikan Gibaltar sebagai pusat pemerintahannya. Pada tahun ini pulalah Dinasti Murabithun resmi runtuh setelah berkuasa hampir seratus tahun. Tahun 1160 M Dinasti Muwahhidun menguasai Al-jazair, Tunisia, dan Tripoli. Abdul Mu’min kembali ke Maroko dan menguatkan pangkalan Militer di Maroko. Abdul Mu’min wafat tahun 1163 M, di saat ia merancang untuk beberapa kota di Spanyol yang masih dalam kekuasaan orang-orang Kristen.

Abu Yakub Yusuf, putra Abdul Mu’min, menggantikan kepemimpin mendiang ayahnya. Ia melanjutkan kebijakan ayahnya untuk menaklukan beberapa kota di Spanyol. Rencana tersebut cukup berhasil. Kota Seville

26

(10)

ditaklukan tahun 1172 M, kemudian berlanjut ke Spanyol utara hingga Toledo, Santarem dekat Lisabon. Abu Yakub meninggal tahun 1181 M di saat peperangan yang cukup sengit dengan orang-orang Kristen di dekat Lisabon.

Abu Yakub digantikan oleh putranya Abu Yusuf Yakub Al-Manshur. Sebagai upaya memperkuat pemerintahannya Abu Yusuf mengangkat Abu Hafs sebagai wazir dan Yahya bin Yusuf sebagai panglima militer di Spanyol. Yahya bin Yusuf memperoleh tugas membersihkan sisa-sisa orang-orang Murabithun yang dipelopori oleh Yahya, wali kota Valencia dan Muhammad, wali kota Cordova. Sisa-sisa orang-orang Murabithun yang masih memiliki kekuasaan ini menjadi penghalang bagi dinasti Muwahhidun. Mereka terus melakukan pemberontakan-pemberontakan meskipun dalam bentuk yang kecil.

Semua pemberontkan dapat diatasi, bahkan Abu Yusuf dapat menguasai kota Bijaya (Bogie). Ia juga dapat meruntuhkan kekuasaan Alfonso Vii di Alarcos. Abu Yusuf meninggal pad tahun 1198 M dan digantikan oleh Muhammad Nashir. Kekuasaan Nashir bertahan hingga tahun 1214 dan dihantikan oleh Abu Yakub Yusuf II. Namun kekuasaan Muwahhidun mulai pasang surut, namun demikian dapat bertahan hingga tahun 1269 M.

1. Para Pemimpin Dinasti Muwahhidun27 524-667 H/1130-1269 M di Afrika

Utara dan Spanyol

Muhammad Ibnu Tumart (w. 1130)

1130 Abdul Mu’min

1163 Abu Yakub Yusuf I

1184 Abu Yusuf Yakub Al-Manshur

1199 Muhammad An-Nashir

1214 Abu Yakub Yusuf II Al-Mustanshir 1224 Abdul Wahid I Al-Makhluk

1227 Yahya Al-Mu’tashim 1229 Abdul Ala Idris al-Ma’mun

1232 Abu Muhammad Abdul Wahid II Ar-Rasyid 1242 Abul Hasan Ali As-Said Al-Mu’tadhid 1248 Abu Hafs Umar Al-Murtadha

1266-1269 Abdul Ula Al-Watsiq

(Penaklukkan seluruh Spanyol oleh orang-orang Kristen, kecuali Granada; daerah Afrika Utara terbagi di antara Abdul Wadiyyah, Hafshiyyah, dan

Mariniyyah).

D. Dua Dinasti dan Masa Kejayaaannya

27

(11)

1. Dinasti Murabithun

Masa kejayaan Dinasti Murabithun berlangsung hanya pada dua kepemimpinan, yakni Yusuf bin Tasyfin dan Ali bin Yusuf. Keduanya merupakan pemimpin dinasti Murabithun yang cukup lama, Yusuf bin Tasyfin berkuasa pada tahun 1061-1107 M atau selama 46 tahun. Sementara Ali bin Yusuf, putra Yusuf bin Tasyfin juga berkuasa cukup lama yakni antara tahun 1107-1143 M atau sekitar 36 tahun. Yusuf Bin Tasyfin tergolong pemimpin yang konsisten dalam perjuangan politiknya, kebijakan-kebijakannya banyak diterima oleh masyarakat dinasti Murabithun saat itu. Yusuf bin Tasyfin merupakan satu-satunya pemimpin Dinasti Murabithun yang mampu menguasai sebagian besar daratan Afika Utara bagian barat. Tetapi pada yang sama, di Spanyol juga sedang terjadi reconguista28 Kristen.

Yusuf bin Tasyfin pernah diminta oleh Al-Mutamid Ibnu Abbad, raja Sevilla saat itu untuk membantunya menghadapi serangan Alfonso VI yang telah menguasai Toledo dan hendak merebut kembali wilayah kekuasaan yang ada ditangan umat Islam di Spanyol.29 Tahun 1086, Yusuf bin Tasyfin berangkat ke Spanyol untuk memerangi Alfonso VI, setelah ia berunding dengan para ulama dan pembesar dinasti Murabithun. Ia berangkat bersama pasukannya menelu-suri Spanyol bagian selatan dan bertempur dengan Alfonso VI di Zallaga. Dalam pertempuran tersebut Yusuf bin Tasyfin memenanginya dan Alfonso VI tewas. Namun demikian, Yusuf bin Tasyfin tetap belum mampu menguasai Badajoz dan Toledo karean masih dikuasai oleh orang-orang Kristen.

Hal terpenting dalam catatan kemenangan perang ini adalah titik awal penaklukan Spanyol oleh Dinasti Murabithun pada masa kekuasaan Yusuf bin Tasyfin. Meskipun Spanyol masih dalam kekuasaan Daulah Abassiyah, Yusuf bin Tasyfin berani memakai gelar amirul mukminin. Yusuf bin Tasfyin kembali ke Afrika Utara dan menempatkan tidak kurang dari 300 tentaranya untuk mengawasi dan menjaga kawasan tersebut.

Tetapi 300 tentara yang ditinggalkan oleh Yusuf, pada akhirnya tidak dapat berkutik saat tentara-tentara Kristen menyerbunya. Kekuatan Kristen ternyata masih berjumlah sangat besar, mulai dari Valensia sampai Lorca dan Murcia serta Aledo. Al-Mutamid kembali mengundang Yusuf bin Tasyfin kembali ke Spanyol untuk membantu menahan serangkan kelompok Kristen. Yusuf bin Tasyfin kembali ke Spanyol pada tahun 1090 M dan berhasil menaklukkan tentara

28

Reconguista adalah penaklukkan kembali. Spanyol dan Portugal pada abad pertengahan dilakukan serangkaian kampanye oleh Negara-negara Kristen untuk mendapatkan kembali wilayah-wilayah mereka dari kaum muslimin yang telah mendudukinya hampir di semua jazirah pada awal abad VIII M. lihat, Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban, hal. 97. baca juga Ira M Lapidus, Sejarah Sosial, hlm. 590-591.

(12)

Kristen. Aledo menjadi daerah yang ditaklukkan pertama semenjak kembali ke Spanyol.

Undangan Al-Mutamid untuk meminta kembali bantuan Yusuf bin Tasyfin menunjukkan kelemahan politik dan melunturkan kepercayaan rakyat al-Mutamid. Yusuf bin Tasyfin menganggap Al-Mutamid tidak lagi cakap memimpin negara. Yusuf kemudian meminta kepada ulama-ulama Granada untuk mengeluarkan fatwa bahwa pemimpin para pemimpin di Spanyol (Andalusia) termasuk Mutamid tidak lagi cakap memimpin dan telah menyimpang Al-Qur’an. Fatwa ini ternyata mendapat dukungan ulama Timur, termasuk di antaranya adalah Al-Ghazali. Fatwa tersebut dijadikan dasar oleh Yusuf bin Tasyfin menguasai Spanyol dan menaklukkan tentara-tentara Kristen yang masih tersisa. Yusuf bin Tasyfin kemudian menghapuskan raja-raja kecil muslim di Spanyol dan menggabungkannya dalam kekuasaan Dinasti Murabithun di Afrika Utara.

Semenjak keberhasilan menguasai beberapa daerah Spanyol, kota-kota penting di Spanyol di kuasai oleh Murabithun di bawah pimpinan Yusuf bin Tasyfin. Kota Granada takluk tanpa peperangan pada tahun 1090 M, berlanjut Cordova. Kota Badajoz Spanyol bagian utara dikuasai tahun 1094 M, Sevilla dikuasai pada tahun 1095 M. Saragosa juga takluk pada tahun 1102 M, dan Saragosa pada tahun 1107 M.30

2. Dinasti Muwahhidun

Berbeda dengan pemerintahan Dinasti Murabithun di mana Yusuf bin Tasyfin dan putranya Ali bin Yusuf sangat dominan dan menonjol keberhasilan-nya dibandingkan dengan pemimpin yang lain, kepemimpinan Dinasti Muwahhidun cukup merata. Kepemimpana Ibnu Tumart menjadi catatan sejaran yang paling penting dalam perkembangan Dinasti Muwahhidun. Keberhasilan-nya menggulingkan Dinasti Murabithun dan membangun imperium kekuasaan Al-Muwahhidun dikenang sepanjang masa. Hal ini dapat dimaklumi karena Ibnu Tumart lah sang al-Mahdi.

Kejayaan Dinasti Muwahhidun lebih kentara dalam segi jajahan geografisnya. Jika Dinasti Murabithun hanya menguasai Maroko dan Spanyol, Dinasti Muwahhidun merambah ke Aljazair, Tunisia, dan Spanyol. Secara de

facto kekuasaan Murabithun dan Muwahhidun berimbang. Dinasti Murabthun

bertahan tidak kurang dari 134 tahun, sementara Dinasti Muwahhidun selama 139 tahun dan secara de jure selama 122 tahun.31

Bahkan dalam catatan sejarah, dinasti Muwahhidun tergolong cukup sukses dalam ekspansinya di Andalusia (Spanyol). Beberapa catatan penting dalam

30

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban.., hlm. 99-100. 31

(13)

peradaban Islam dicapai oleh dinasti Muwahhidun selama di Andalusia. Ira M Lapidus mencatat banyak peradaban Islam yang dibangun oleh dinasti Muwahhidun selama di Andalusia.32

Peta 2:

Wilayah kekuasaan Al-Muwahhidun di Andalusia (sekarang Spanyol) pada masa

kejayaan Al-Manshur33

E. Sejaran Pemikiran dan Peradaban Dua Dinasti

Dua dinasti yang berkuasa di Afrika Utara dan Spanyol pada abad sembilan hingga sebelas ini memiliki karakteristik yang berberda. Dinasti Murabithun lebih cenderung pada pengembangan model kepemerintahan. Namun demikian bukan berarti tidak ada perkembangan peradaban lain yang menarik untuk disimak.

Di bawah kepemimpinan Yusuf bin Tasyfin selain perluasan wilayah, perkembangan di bidang ekonomi, budaya, dan sastra mengalami kemajuan yang laur biasa. Perekonomian berkembang pesat searah dengan perkembangan kesusastraan di Maroko. Kota Marakesy menjadi kota yang sangat menarik bagi kaum sastrawan dan pujangga. Demikian halnya para pedangan dari berbagai penjuru banyak berdatangan di Marakesy.

Kegemilangan perekonomian dan sastra berlanjut hingga Spanyol, berapa arsitektur bangunan di Spanyol berdiri kokoh hingga kini. Bangsa Barbar tergolong bangsa yang memiliki kemampuan alamiah membangun peradaban tinggi.34 Di ibu kota Marakesy dibangun masjid agung yang menjadi kebanggaan bangsa Maroko pada masa Murabithun.

Di bidang ilmu pengetahuan muncullah Imam Al-Ghazali35 seorang ulama besar dengan berbagai karya di bidang fiqh hingga tasawuf. Beberapa karya

32

Lihat Ira M Lapidus, Sejarah Sosial, pada Bab 16, hlm. 562-581. 33

“Al-Andalus” diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Al_Andalus-c.1000-id.gif. Diakses pada 26 Oktober 2009.

34

Lihat Thohir Ajid, Perkembangan Peradaban.., hlm. 100-101. 35

(14)

Ghazali bahkan hingga kini manjdi rujukan utama para ulama modern hingga di Indonesia. Pemikiran filsafat pada masa Murabithun juga berkembang cukup pesat. Al-Ghazali sebelum menjadi seorang fuqaha, juga di kenal sebagai seorang filosof. Dua karya Al-Ghazali yang terkenal adalah Tahafut al-Falasifah dan

Munqidz min al-Adhlalal, atau kitab Fash al-Maqal yang membahas tentang

kesesuaian akal dan wahyu atau filsafat dan agama.

Dalam bidang Fiqh dan Kalam,di antara karya-karya Al-Ghazali adalah

Al-Wajiz, Al-Wasith, Al-Basith, dan AlMusthafa, keempat tersebut dalam bidang Fiqh

dan Ushul Fiqh. Dalam bidang kalam terdapat Al-Iqtisad fi al-I’tidal, dalam bidang mantiq (logika) Mi’yarul Ilm. Dalam masa akhir hidupnya Al-Ghazali masih sempat menulis beberapa karya yang cenderung sufistik, di antaranya Ihya’

Ulumuddin, Kimiya’ al-Sa’adah, misykat al-Anwar, dan Al-Munqidz min

al-Dhalal.36

Sementara kemajuan Dinasti Muwahhidun meliputi berbagai bidang di antaranya adalah:

1. Bidang politik

Dinasti Muwahhidun tidak hanya menguasai Maroko namun juga mampu menguasai wilayah kepualauan Atlantik sampai ke daerah teluk Gebes di Mesir dan Andalusia (Spanyol). Kekuasaan Muwahhidun di Spanyol bahkan boleh jadi cukup sukses. Pada masa dinasti Muwahhidun model kepemerintahan dan tata hukum berjalan cukup baik. Persinggungan dengan peradaban Eropa membuat sistem pemeritahan, hukum, dan berbagai kemajuan politik menjadi cukup berarti. Dinasti Muwahhidun cukup di segani oleh masyarakat Eropa yang sebagian besar Kristen.

2. Bidang ekonomi

Kesuksesan di bidang politik juga diikuti kesuksesan dalam bidang ekonomi. Dinasti Muwahhidun berhasil menjalin hubungan perdagangan dengan beberapa daerah di Itali, seperti perjanjian dengan Pisa pada tahun 1154 M, Marseie, Voince, dan Sycilia pada tahun 1157 M yang berisi ketentuan tentang perdagangan, izin mendirikan gedung, kantor, loji dan bentuk-bentuk pungutan pajak.

3. Bidang Arsitektur

Karya-karya dalam bentuk monument juga banyak dihasilkan, seperti Granada, menara pada masjid jami’ Sevilla, Bab Aguwnaou dan Al-Kutubiyah, menara yang sangat megah di Marakiyah serta Hasan di Rabbath.

Islam dan banyak melalang buana dan pemikirannya banyak mempengaruhi dunia Islam saat itu. Lihat Pradana Boy ZTF, Filsafat Islam; Sejarah, Aliran dan Tokoh, (Malang: UMM Press, 2003), hlm. 166-173.

36

(15)

Semasa Dinasti Murabithun, penguasa banyak membangun masjid-masjid bergaya arsitektur Andalusia di Afrika Utara, seperti Masjid Agung di Tlemsem yang dibangun pada tahun 1136 dan masjid Qarrawiyin di Fez, yang dipugar dan dibangun ala arsitektur Andalusia.37

4. Bidang ilmu pengetahuan dan filsafat

Pengembangan di bidang ilmu pengetahuan dan Filsafat banyak terjadi pada saat kekuasaan Muwahiddun mulai menguasai daratan Andalusia (Spanyol). Persinggungan dengan budaya kosmopolit (urban) yang ada di Spanyol membuat para ilmuwan Maroko mulai mempelajari filsafat. Buku Filsafat Yunani, khususnya karangan Ariestoteles, banyak diterjemahkan ulang dan di ringkas sehingga mudah dipahami oleh umat Islam.

Abu Yusuf Al-Manshur mencabut larangan mempelajari Filsafat yang pernah diberlakukan pada masa pemerirahan Al-Murabithun. Al-Manshur bahkan meminta Abu Al Walid Ibnu Rusyd atau lebih dikelan dengan Ibnu Rusdy untuk meringkas buku-buku filsafat Ariestoteles dan memberinya komentar.38 Tidak mengherankan jika Ibnu Rusyd terkenal sebagai filosof. Ciri pemikiran filsafat Ibnu Rusyd adalah perhatiannya terhadap keserasian antara filsafat dan agama. Ibnu Rusyd Juga terkenal sebagai faqih (ahli hukum Islam), salah satu karyanya yang di baca umat Islam hingga kini adalah Bidayatul Mujahid wa Nihayatul

Muqtasid. Ibnu Rusyd pernah di angkat sebagai qadhi (hakim).

Selian Ibnu Rusyd banyak para ilmuan yang muncul pada masa Dinasti Muwahhidun, seperti Ibrahim bin Malik bin Mulkun, seorang pakar Al-Qur’an dan ilmu Nahwu. Hafidz Abu Bakar bin Jad, seorang ahli Fiqh. Ibnu Al-Zuhr, seorang ahli kedokteran. Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, dua orang faqih dan filosof yang sangat terkenal.39

Dinasti Murabithun juga pernah memerintahkan para pakar Ilmuan Andalusia untuk menerjemah beberapa karya Filsafat ke dalam bahasa Arab. Bahkan para elit politik Dinasti Murabithun kemudian banyak yang menjadi ahli dalam bahasa Spanyol serta banyak menguasai Filsafat dan Arsitektur.40

5. Pemikiran Islam yang Berkembang

Pada masa dinasti Murabithun pemikiran Islam yang berkembang cenderung bersorak Islam sufi. Selain itu pemerintah juga berusaha keras untuk mengembalikan nilai-nilai Islam yang selama ini dianggap luntur dalam kehidupan masyarakat. Penerapan hukum syariat diberlakukan dengan faham utama Negara Sunni dengan Madzab utama Maliki.41

37

Ira M Lapidus, Sejarah Sosial, hlm. 574-575. 38

Baca Jurnal Religiusta, ‘Kronika Budaya Dalam Perjalanan Ideologi Politik Di Andalusia’ http://religiusta.multiply.com/journal/item/73. di akses 26 Oktober 2009.

39

Ibid, hlm. 110. 40

Ira M Lapidus, Sejarah Sosial, hlm. 574. 41

(16)

Beberapa ulama Maliki menduduki posisi penting dalam pemerintahan Dinasti Murabithun. Tugas ulama-ulama ini adalah memberikan fatwa dan nasihat-nasihat hukum baik pada pemerintah maupun masyarakat. pemerintahan juga cenderung keras dalam menerapakan Syari’at Islam. Abdullah Ibn Yasin, penguasa Dinasi Murabithun di Andalusia, menutup kedai-kedai muniman keras, menghancurkan berbagai instrument musik menghapuskan pajak yang illegal, dan menerapkan hukum muslim dalam distribusi harta rampasan.42

Demikian halnya dengan Dinasti Muwahhidun juga memiliki pandangan yang serupa dalam pemikiran Islam. Bedanya Dinasti Muwahhidun menolak secara tegas praktik-praktik Sufiesme sebagaimana diterapkan oleh Dinasti Murabithun. Semasa kekuasaan Ibn Tumart, ia membentuk struktur pemerintahan yang memiliki tugas khusus menjaga moralitas Islam, diantaranya seorang mizwar

atau penjaga moral, mu’azzin, dan instruktur Al-Qur’an. Tugas mizwar adalah penghancuran instrumen musik dan pelarangan alkohol.43

Meskipun bertentangan dengan faham keagamaan dengan dinasti sebelumnya, Dinasti Murabithun, beberapa ekspresi Islam yang berkembang saat itu masih ditolelir. Penganut madzhab Malikiyah juga masih banyak, pemuja makam-makam wali dan tempat keramat masih banyak, serta filsafat ala Ibnu Rusyd masih tetap berkembang.44

F. Keruntuhan Dua Dinasti

Kemunduran Murabithun mulai tampak pada akhir kepeminpian Ali bin Yusuf. Kecenderungan Ali pada keagamaan melupakan ia pada berbagai macam persoalan kenegaraan. Ulama begitu di agungkan hingga mampu mempengaruhi kebijakan Negara yang sangat penting dan semestinya bukan kewenangan ulama. Kelompok-kelompok non Islam terutama yang di Spanyol merasa banyak di rugikan akibat berbagai kebijakan dan fatwa ulama. Orang-orang non Islam harus membayar pajak yang sangat tinggi atau memiliki keluar dari Negara Spanyol.

Ulama-ulama kemudian seolah memanfaatkan situasi ini untuk menumpuk harta kekayaannya. Dalam hal kafir mengkafirkan, mereka bahkan berani mengkafirkan Al-Ghazali. Para ulama pemerintahan mengeluarkan fatwa agar kitab-kitab karangan Al-Ghazali, khususnya Ihya Ulumuddin di bakar karena mengandung kalam.

Kejumudan dalam berfikir para ulama-ulama saat itu menjadi pendorong keruntuhan Dinasti Murabithun. Pemberontakan kemudian terjadi pada masa

42 Ibid. 43

Ibid, hlm. 576. 44

(17)

pemerintahan Ibrahim pada tahun 1144 dan 1145 M hingga akhirnya Dinasti Murabithun berakhir pada tahun 1147 M.45

Sementara keruntuhan Dinasti Muwahhidun saat dinasti ini dipegang oleh Muhammad Al-Nashir. Al-Nashir tidak memiliki pandangan dan wawasan politik sebagaimana pendahulunya. Kelompok Kristen yang memamahi kelemahan tersebut mulai menyusun kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan Muwahhidun. Alfonso VIII yang semakin aktif mengadakan penetrasi ke daerah-daerah kekuasaan Muslim khususnya di kawasan Andalusia mulai menggoyang kekuatan Muwahhidun.

Pada tahun 1212 M kelompok Kristen yang merupakan gabungan dari Leon, Castile, Navarre, dan Aragea melakukan kontak senjata dengan tentara Muwahhidun. Kelompok Muwahhidun terpukul, dan memaksa Nashir meninggalkan Spanyol. Spanyol ditinggalkan dan diserahkan putranya ynag baru berusia 15 tahun, yakni Abu Yakub Yusuf II al-Muntashir.

Dinasti Muwahhidun semakin suram hingga tahun 1221 M Al-Muntashir meninggal. Sepeninggal Al-Muntashir terjadi perebutan kekuasaan pada kekhalifahan karena Al-Muntashir tidak memiliki putra. Perebutan ini menimbulkan perpecahan dikalangan pembesar, hingga memunculkan daulah-daulah baru. Seperti Bani Nafs (1228 M) di Tunisia, Daulah Bani Ziyan (1235 M) di Tlesman. Di Spanyol juga terbelah-belah, Abu Yakub di Sevilla, Tripoli menjadi kekuasaan Bani Ayubiyyah pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Perpecahan ini dimanfaatkan oleh kelompok Kristen untuk mengakhiri kekuasaan Muwahhidun di Spanyol khususnya. Tahun 1269 M Dinasti Muwahhidun di Maroko benar-benar habis dan keluar dari pentas sejarah.

G. Penutup

Berdasarkan penelitian sederhana ini, penulis dapat memberikan catatan kesimpulan, sebagai berikut:

Dinasti Murabithun dan Muwahhidun memiliki catatan penting dalam peradaban Islam di Afrika Utara, khusunya Maroko, Aljazair, Tunisia, dan sekitarnya. Keunikan dari dua dinasti tersebut muncul bersadarkan gerakan keagamaan dan menjelma menjadi gerakan politik yang cukup tangguh.

Dinasti Murabithun dibentuk oleh Abdullah Ibn Yasin yang beraliran sufistik. Sementara dinasti Muwahhidun dibentuk oleh Muhammad Ibn Tumart.

Kedua dinasti tersebut hidup pada masa yang berbeda, Murabithun muncul lebih awal dan disusul kemudian oleh kelompok Muwahhidun yang akhirnya menjadi Dinasti Muwahhidun. Kedua Dinasti pernah memiliki masa kejayaannya dengan berbagai perkembangan ekonomi, sosial, pilitik, arsitektur, dan sastra.

45

(18)

Dinasti Murabithun mengalami kejayaan pada masa Yusuf bin Tasyfin dan Ali bin Yusuf. Keduanya merupakan pemimpin dinasti Murabithun yang cukup lama, Yusuf bin Tasyfin berkuasa pada tahun 1061-1107 M atau selama 46 tahun. Sementara Ali bin Yusuf, putra Yusuf bin Tasyfin juga berkuasa cukup lama yakni antara tahun 1107-1143 M atau sekitar 36 tahun. Sementara kejayaan Dinasti Muwahhidun cukup merata, artinya tidak banyak yang menonjol dari dari masing-masing penguasa pada dinasti tersebut. Ibn Tumart lah yang mewarnai dalam sejarah dinasti tersebut.

Berbagai kemajuan peradaban juga terjadi pada dua dinasti tersebut. Peradaban politik, ekonomi, sosial, arsitektur, ilmu pengetahuan dan sastra cukup mewarnai pada dua dinasti baik, Murabthun atau Muwahhidun. Dari dua peradaban tersebut lahirlah pula tokoh-tokoh dunia baik dibidang agama; Filsafat, Fiqh, dan Falaq, di bidang kesehatan seperti; kedokteran, dll.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...