• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Karakteristik DAS Menggunakan citra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Karakteristik DAS Menggunakan citra "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Karakteristik DAS Menggunakan Perangkat Lunak

Sistem Informasi Geografis

Kelompok 5

Mawardah Nur Hanifiyani E14100039

Marni Sumarningtyas E14100112

Halim Amran Mutasodirin E14100075

Dito Septiadi Maroni Sitepu E14100115

Chika Annisa Yonanda K. E14100048

Mentari Purwakasiwi E14100120

Asisten

Diah Rany P. S., S. Hut

Endrawati E14080018

Sandy Lesmana E14080103

M. Nizar Zulkarnaen E14080115

Agung Kriswiyanto E14090027

Laboratorium Hidrologi Hutan dan Pengelolaan DAS

Departemen Manajemen Hutan

Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

(2)

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

DAS (Daerah Aliran Sungai) merupakan satu kesatuan ekosistem yang

unsur –unsur utamanya terdiri atas sumber daya alam tanah, dan air. Hampir

semua wilayah Indonesia terbagi habis dalam DAS. Oleh karena itu, perlu lah

dilakukan suatu upaya pengelolaan DAS – DAS yang terdapat di Indonesia.

Untuk melakukan pengelolaan DAS berdasarkan Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah

Aliran Sungai perlu dilakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring

dan evaluasi (monev), serta pembinaan dan pengawasan.

Tahapan pertama yang dilakukan dalam pengelolaan DAS adalah

tahap perencanaan. Pada tahapan ini pelaksanaan pernacanaan dapat

dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SIG (Geographic Information System) Geographic Information System. (SIG) merupakan teknik berbasis computer untuk memasukan, mengolah, dan menganalisis

data objek permukaan bumi dalam bentuk grafis, koordinat, dan data base,

dimana hasilnya bias menggambarkan sebuah fenomena spasial. Sesuai

dengan fungsinya SIG dapat menggambarkan bentuk DAS sesuai dengan data

yang di Input.

Salah satu DAS terbesar di Indonesia adalah Bengawan Solo dengan

luas 1.594.716,22 Ha. DAS ini termasuk ke dalam SWP DAS Bengawan Solo

dengan 102 sub DAS. Salah satu sub DAS terbesar yang masih memiliki 20

sub – sub DAS adalah sub DAS Kali Madiun. Pada praktikum ini, akan

dibahas mengenai tahapan awal pengelolaan DAS yaitu tahap perencanaan

pada sub DAS Kali Madiun. Salah satu kegiatan awal dari perencanaan

pengelolaan DAS adalah penyiapan batas. Penyiapan batas dapat dilakukan

dengan menggunakan perangkat lunak SIG.

Penggunakan Aplikasi SIG ini bertujuan untuk mengenali

karakteristik DAS dengan menampilkan penampang DAS, membatasi DAS,

(3)

perntingnya pemahaman mengenai pengaplikasian perangkat lunak SIG bagi

mahasiswa kehutanan untuk melakukan analisa guna pengelolaan DAS, perlu

adanya praktikum untuk mengetahui bagaimana cara membatasi DAS,

menghitung luas DAS, dan karakteristik lainnya dari DAS.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum Analisis Karakteristik DAS

Menggunakan Perangkat Lunak Sistem Informasi Geografis yaitu,

1. Mengetahui cara penggunaan SIG dalam aplikasi pengelolaan DAS.

2. Mengetahui karakteristik biofisik DAS, yaitu jaringan alur sungai, batas,

(4)

Bab II Tinjauan Pustaka

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang

unsur-unsur utamanya terdiri atas sumber daya alam tanah, air dan vegetasi serta

sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam tersebut. DAS

di beberapa tempat di Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan

tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya

alamnya yang intensif sehingga terdapat indikasi belakangan ini bahwa kondisi

DAS semakin menurun dengan indikasi meningkatnya kejadian tanah longsor,

erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan (Caesari, 2006).

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu wilayah yang dibatasi oleh

pemisah topografi yang menerima hujan, menampung, meyimpan dan

mengalirkan ke sungai dan seterusnya ke danau atau ke laut. Selain itu DAS juga

merupakan suatu ekosistem dimana di dalamnya terjadi suatu proses interaksi

antara faktor-faktor biotik, nonabiotik, dan manusia. Sebagai suatu ekosistem,

maka setiap ada masukan ke dalamnya, proses yang terjadi dapat dievaluasi

berdasarkan keluaran dari sistem tersebut (Suripin, 2002).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun

2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai alat yang digunakan dalam

proses penetapan DAS terutama poin penyiapan bahan, baham minimal yang

digunakan adalah piranti keras, piranti lunak, citra satelit, citra radar, peta dasar,

dan peta tematik. Sesuai dengan judul praktikum ini, Analisis Karakteristik DAS

Menggunakan Perangkat Lunak Sistem Informasi Geografis maka pembatasan

DAS dilakukan dengan melakukan piranti lunak SIG.

Pengertian Sistem Informasi Geografis (SIG) sangat bervariasi dan

berbeda-beda mengikuti perkembangan teknologi. Salah satu definisi yang

dikemukakan adalah suatu sistem informasi yang dapat menyusun, menyimpan,

mendapatkan kembali, meneliti/menganalisa, dan memetakan data (Falbo et al.

2002 dalam Segel dan Putuhena, 2005). Selain itu, Nuarsa (2005) juga

(5)

(masukan, manajemen, proses, dan keluaran) data spasial atau data yang

bereferensi geografis.

Perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografik) merupakan program

pengelola data berformat vektor. Bila fasilitas untuk data raster tersedia, biasanya

digunakan hanya untuk menampilkan data tersebut bukan untuk keperluan analisis

data. Oleh karena itu, diperlukan metode tambahan bila akan menggunakan SIG

untuk analisis geo-spasial yang melibatkan banyak variabel. Penggunaan metode

grid sederhana dengan perhitungan informasi bersifat numerik dapat diterapkan

untuk berbagai tujuan analisa geo-spasial. Metode tersebut dilakukan dengan

pembuatan grid pada peta daerah yang akan dianalisa, pembuatan struktur data

sesuai dengan jumlah dan karakteristik variabel yang ditetapkan, pemasukan data,

dan perhitungan data menggunakan pendekatan statistik dan matematika (Simon

1987). Beberapa variabel yang digunakan dalam penerapan metode SIG,

diantaranya adalah tipe batuan, struktur geologi, kemiringan lereng, tingkat

pelapukan, penggunaan lahan, dan intensitas curah hujan serta deliniasi kawasan

hutan. (Sagala 2004)

Setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut sebagai

data spasial bereferensi geografis. Misalnya data kepadatan penduduk suatu

daerah, data jaringan jalan suatu kota, data distribusi lokasi pengambilan sampel,

dan sebagainya. Data GIS dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu data grafis dan

data atribut atau tabular. Data grafis adalah data yang menggambarkan bentuk

atau kenampakan objek di permukaan bumi. Sedangkan data tabular adalah data

deskriptif yang menyatakan nilai dari data grafis tersebut (Nuarsa, 2005).

Kelebihan dari Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah mampu mengolah

informasi spasial secara bersamaan dengan cepat dan tepat, walaupun input peta

analog yang digunakan mempunyai timgkat ketelitian/skala yang berbeda (Miller

et al. 2003). Hal ini dimungkinkan karena SIG mampu memproyeksikan data

spasial tersebut menjadi satu sistem proyeksi yang sama. Selain itu SIG dapat

menggabungkan data dengan format yang berbeda, misalnya format raster dari

klasifikasi data satelit dengan vektor dari proses digitasi.

Deliniasi hutan atau kawasan lindung merupakan salah satu usaha untuk

(6)

kawasan hutan ini sehingga didapatakan luas yang efektif untuk digunakan dan

memanajemenkan pengelolaan hutan yang dimiliki fungsi pengaturan tata air,

pencegahan erosi dan perlindungan dan daerah aliran sungai . Dan pengelolaan

hutannya untuk kebutuhan menjadi lebih efisien dan produktif (Arief 2001).

Tahapan yang serupa dapat digunakan untuk deliniasi zona banjir. Pada

umumnya, kawasan rawan banjir menempati bentangalam berupa depresi. Di

daerah tersebut air permukaan terkonsentrasi lebih dalam dibandingkan daerah

sekitarnya. Penerapan SIG tidak terbatas hanya pada deliniasi zona banjir

namur,buffer zone,kawasan rawan dan lainnya(Jaya 2002)

Menurut Jaya (2002), pada bidang kehutanan SIG sangat diperlukan guna

mendukung pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah keruangan

(spatial) mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan sampai dengan pengawasan.

(7)

Bab III Metode Praktikum

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Pengelolaan Ekosistem dan DAS ini, dilaksanakan pada

hari Senin, tanggal 25 Februari 2013 pukul 13.00-16.00 WIB yang bertempat

di RK. Audit-1 (Auditorium 1), Departemen Manajemen Hutan, Fakultas

Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah software ArcGIS-ArcMap, Laptop dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah data dasar Digital

Elevation Model (DEM) yang dituangkan dalam Shuttle Radar Topography

Modelling (SRTM), batas Sub-DAS Kali Madiun, DAS Solo, dan BPDAS

Solo.

3.3 Langkah Kerja

Adapun langkah kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut,

1. Buka dokumen hasil praktikum minggu kedua tentang Pengukuran

Morfometri DAS;

2. Langkah selanjutnya menentukan “Flow Accumulation” pada menu

arctoolbox spatial analyst tool, lalu input flow direction Kali Madiun. 3. Kemudian menentukan jaringan sungai (Stream Network), ordo sungai,

dan link sungai menggunakan arctoolbar spatial analyst tool;

4. Konversi data raster ke dalam vektor (Stream to Feature) dengan

arctoolbox spatial analyst tool, hydology lalu stream to feature. 5. Menghitung jumlah sungai ordo 1,2,...dst.

6. Mengukur panjang sungai ordo 1,2,...dst.

7. Menentukan “Stream Link”

(8)

Bab IV

Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil

Gambar1. Ordo sungai berdasarkan strahler yang sudah dikonversi ke feature

Gambar3. Ordo sungaiutama Gambar2. Ordo sungai dengan

(9)

Tabel2. Luas, kelililing, kerapatan sungai, bentuk DAS, dan tingkat percabangan sungai

Tabel1. Jumlah ordo, panjang ordo, dan tingkat percabangan Ordo

Sungai

Jumlah

Ordo Panjang ordo

Tingkat percabangan Sungai

1 1075 1854268,83 0,50

2 549 1059538,97 0,67

3 289 510128,65 0,75

4 147 239737,17 0,80

5 35 36603,79 0,83

6 25 41434,74 0,86

7 13 12215,71 0,87

Total 2133 3.753.927,86

Luas DAS 3699,19 km2

Keliling DAS 14494,30 km Kerapatan Sungai 1,01 km/km2

Bentuk DAS 0,00022

Gambar4. Watershed sub DAS kali Madiun

(10)

4.2 Pembahasan

Sub DAS Kali Madiun termasuk ke dalam DAS Bengawan Solo. DAS

ini terbagi ke dalam dua povinsi yaitu provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Aliran air mengalir dari Sub DAS Bengawan Solo Hulu dan dari Sub DAS

Kali Madiun yang kemudian keduanya bertemu di Ngawi dan mengalir ke

hilir hingga Lamongan. Strategi pengembangan Sub-DAS Kali Madiun yang

merupakan bagian wilayah Sungai Bengawan Solo diatur dalam beberapa

peraturan daerah, diantaranya dalam Peraturan Daerah Kabupaten Madiun

Nomor 9 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Madiun Tahun 2009-2029 dan Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo Nomor

1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Ponorogo

Tahun 2012-2032.

Dalam rangka mewujudkan pelaksanaan DAS terpadu antara kota –

kota yang dilalui oleh sub DAS kali madiun perlu dilakukan upaya untuk

mengkoordinasikan, mengintegrasikan, mensinkronisasikan, dan

mensinergikan Pengelolaan DAS dalam rangka meningkatkan Daya Dukung

DAS sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

Pengelolaan DAS sendiri adalah upaya manusia dalam mengatur

hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia di dalam

DAS dan segala aktivitasnya, agar terwujud kelestarian dan keserasian

ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia

secara berkelanjutan. Dalam perencanaannya pengelolaan DAS dilakukan

dalam satu unit kelola DAS. Salah satu dari upaya pengelolaan DAS terpadu

adalah dengan menetapkan batas dari DAS tersebut. Pentapan batas ini dapat

dilakukan dengan menggunakan aplikasi SIG. Dengan membatasi DAS dapat

dianalisa jaringan alur sungai secara kuantitatif, misalnya luas, panjang dan

(11)

Untuk luas dan keliling dari sungai dapat dihitung dengan

menggunakan tools yang terdapat pada perangkat lunak Arc Map. Untuk

dapat mengetahui luas dan keliling dari DAS maka data sub DAS kali madiun

yang masih berbentuk data raster dirubah ke data feature. Setelah itu, data

feature yang masih menggunakan koordinat derajat dirubah pula ke dalam

data UTM. Data ini dirubah melalui tools projection and transformation, sehingga koordinat dinyatakan dalam meter dengan zona 49 S WGS 1984.

Hasil analisa data mengenai panjang sungai (Length) ditampilkan dalam tabel 1 dengan panjang sebesar 3.753.927,86 m (tabel 2). Panjang ordo

terpanjang adalah ordo 1 sebesar 1.854.268,83 m. Ordo terbanyak juga masih

dimiliki oleh ordo 1 dengan jumlah ordo 1.075. Luas sub DAS Kali Madiun

berdasarkan hasil perangkat lunak SIG adalah 369.919,36 Ha. Sementara itu,

berdasarkan Instruksi Menhut No : INS.3/Menhut-II/2009 dengan Lampiran

Surat Edaran No : SE.02/V-SET/2009, Tentang Penetapan Wilayah Kerja

BPDAS luas sub DAS kali madiun adalah 371.591,58 Ha. Luasan ini berbeda

dengan hasil yang telah didapatkan berdasarkan hasil perhitungan perangkat

lunak Arc GIS. Perbedaan ini mungkin diakibatkan perbedaan waktu ataupun

pengolahan data yang dilakukan. Pengukuran luas secara manual dapat

dilakukan dengan menggunakan metode dot grid ataupun pengukuran di

lapangan.

(12)

Selanjutnya karakteristik yang diamati adalah keliling/ perimeter dari

sub DAS kali madiun. Berdasarkan perhitungan perangkat lunak Arc GIS

didapatkan hasil 14.494.303,57 m (tabel 2). Hasil perhitungan secara manual

dapat dilakukan dengan menetukan batas DAS atau sub DAS pada peta

kemudian mengukurnya dengan menggunakan curvimeter. Terdapat

karakteristik lain yang dapat diamati dari data yang telah didapatkan

berdasarkan pengolahan data oleh perangkat lunak Arc GIS, misalnya tingkat

percabangan sungai (Rb), kerapatan sungai (D), dan bentuk DAS (Rc).

Tingkat percabangan sungai atau bifurcation ratioberdasarkan hukum horton adalah rasion geometri antara jumlah aliran dalam suatu ordo ke ordo

berikutnya. Percabangan sungai dianalisa menggunakan metode Strahler.

Berdasarkan teori nya dengan tingkat percabangan seperti ini maka air

sungai sulit meluap dan jarang terjadi banjir, karena air terkumpul secara

pelan-pelan. Nilai Rb yang tinggi mengindikasikan bahwa daerah tersebut

memiliki pelapisan batuan dengan lereng yang terjal dan jarak antara lembah

yang sempit dibatasi oleh dinding yang terjal pula. Di lain pihak, nilai Rb

yang kecil mengindikasikan bahwa kontrol geologi yang tidak dominan.

Selain itu, pada Rb < 3, maka alur sungai mempunyai kenaikan muka air

banjir dengan cepat dan penurunannya lambat. Dari data yang di dapat pada

tabel 1, dapat dilihat bahwa nilai tingkat percabangan sungai sangat rendah

dan berada dibawah satu. Hal ini menunjukkan bahwa pada sub DAS kali

madiun pengaruh kontrol geologi termasuk kecil.

Kerapatan sungai adalah suatu angka indeks yang menunjukkan

banyaknya anak sungai di dalam suatu DAS. Dari hasil perhitungan di

dapatkan bahwa nilai dari kerapatan sub DAS kali madiun adalah 1,01

km/km2. Artinya adalah pada setiap luasan 1 km2 terdapat sungai dengan

panjang sungai 1,01 km. Kerapatan sungai ini dipengaruhi oleh formasi

geologi dan mencirikan karakteristik sungai,yang meliputi profil, pola aliran,

dan genetis sungainya.

Bentuk DAS atau basin circularity mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet. Semakin bulat bentuk DAS berarti

(13)

Gambar7. Bentuk – bentuk DAS

fluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya semakin lonjong bentuk DAS, waktu

konsentrasi yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir semakin

rendah. Bentuk – bentuk dari DAS pada umumnnya adalah bulu burung,

radial, dan paralel. Semakin mendekati satu maka bentuk DAS akan semakin

menyerupai lingkaran. Salah satu cara untuk menentukan bentuk DAS dapat

diketahui dngan terlebih dahulu menentukan nilai Rc nya. Pada sub DAS kali

madiun nilai dari bentuk DAS adalah 0,00022. Hal ini menunjukkan bahwa

nilai bentuk DAS yang dimiliki oleh kali madiun mendekati nilai satu,

sehingga dapat disimpulkan bahwa bentuk dari kali madiun adalah

memanjang. Bentuk memanjang ini menyebabkan air dari sungai atau hulu

butuh waktu yang lama untuk sampai ke hilir, sehingga potensi banjir

(14)

Bab V Kesimpulan

Pengelolaan DAS dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak

SIG. Penggunaan perangkat lunak SIG, yaitu Arc map dapat mempermudah

dalam melakukan analisis DAS guna mendukung pengelolaan DAS terpadu

seperti yang dimaksudkan ke dalam PP No 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan

Daerah Aliran Sungai. Salah satu data yang dapat dianalisa melalui perangkat

lunak SIG adalah data karakteristik biofisik DAS. Karakteristik biofisik DAS ini

meliputi yaitu jaringan alur sungai, batas, dan luas DAS. Dari aplikasi ini dapat

diketahui luas dan keliling sub DAS kali madiun, yaitu 369.919,36 Ha dan

14.494.303,57 m. Selain itu, di dapatpula informasi mengenai Rb dimana nilai Rb

berada di bawah 3 sehingga sub DAS kali madiun memiliki karakteristik

mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat dengan penurunan yang

lambat. Berdasarkan SIG ini pula dapat diketahui nilai kerapatan sungai sebesar

(15)

Daftar Pustaka

Anonim. 2011. Basin Networks [terhubung berkala].

http://www.pupilvision.com/uppersixth/rivers1.htm. (27 Februari 2013)

Caesari, A. 2006. Survai Tutupan Lahan di DAS Deli Kabupaten Karo dan Deli

Serdang, Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara. Environmental Services

Program USAID [terhubung berkala].

http://www.esp.or.id/category/pengelolaan-das/r-0189.pdf. (28 Februari

2013).

Elias. 1997. Buku Saku Pembukaan Wilayah Hutan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Instruksi Menhut No : INS.3/Menhut-II/2009 dengan Lampiran Surat Edaran No :

SE.02/V-SET/2009, Tentang Penetapan Wilayah Kerja BPDAS.

Nuarsa, I Wayan. 2005. Belajar sendiri: menganalisis data spasial dengan arcview

GIS 3.3 untuk pemula. Jakarta: Elex Media Computindo.

Peraturan Daerah Kabupaten Madiun Nomor 9 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Kabupaten Madiun Tahun 2009-2029.

Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Rencana

Tata Ruang Wilayah Kabupaten Ponorogo Tahun 2012-2032.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 Tentang

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Purwowidodo. 1999. Konservasi Tanah di Kawasan Hutan. Bogor: IPB Press.

Sagala, P. 1994. Mengelola Lahan Kehutanan Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia.

Segel, H. G. dan Putuhena, W.M. 2005. Estimasi Erosi Lahan di Daerah Aliran

Danau Tondano Menggunakan Geographic Information System (GIS).

Jurnal Sumber Daya Alam Vol. 1, No. 1: hal. 65-69.

Simon, H. 1987. Manual Inventore Forest. Jakarta: UI Press.

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu kriteria yang digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah dapat dicapainya suatu kelembagaan pengelolaan DAS yang

Penelitian ini mempunyai tujuan umum memelajari pengelolaan dan upaya unluk mengurangi erosi Daerah Aliran Sungai di DAS Cimandiri Hulu n tujuan khusus untuk

Kegiatan : Perencanaan Teknis Kegiatan Pemeliharaan DAS (Daerah Aliran Sungai) (DED TA. 2012) Lokasi Kegiatan : Kota Depok.. HPS

Model persamaan perubahan debit aliran sungai DAS Ciliwung hulu yang dihasilkan dari analisis regresi berganda menghasilkan multikolinearitas tinggi antar peubah bebas

Pengukuran kecepatan aliran sungai di DAS Lepan bagian hilir.. Persiapan pengukuran kecepatan aliran sungai dan tingkat

2012, Kinerja Daerah Aliran Sungai Berdasarkan Indikator Penggunaan Lahan Pada DAS Padang Guci Bengkulu, Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan,

Variabel pengamatan meliputi : pola drainase, bentuk das, kerapatan drainase, profil melintang sungai, orde dan tingkat percabangan sungai, debit aliran, kualitas

Pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antar sumber daya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di Daerah Aliran Sungai dan segala