• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Racun Dan Bisa dapet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbedaan Racun Dan Bisa dapet "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SENIN, 11 OKTOBER 2010

Perbedaan Istilah Antara Racun Dan Bisa

Kita pasti sudah sering mendengar yang namanya racun atau bisa. Banyak hewan yang kita tahu memiliki bisa tau racun yang dapat melumpuhkan bahkan mampu membunuh manusia. Tapi tahukah anda bahwa yang namanya bisa atau racun itu sebenarnya tidaklah sama, tapi kita sering menganggap kedua istilah tersebut adalah sama.

Bisa adalah racun yang dimiliki oleh hewan-hewan seperti ular, laba-laba, atau lebah yang menyuntikkannya kedalam tubuh hewan lain.

Sedangkan ular atau kalajengking menginjeksikan racun melalui gigitan atau ekor yang disebut berbisa. Sehingga dapat disimpulkan kalau bisa itu harus dialirkan atau disuntikkan melalui alat di tubuh hewan.

(2)

Poison ivy, misalnya, dapat mengiritasi kulit, kodok beracun dapat membunuh pemangsa yang memangsanya. Tanaman dan hewan yang disebutkan ini disebut beracun.

(3)

Poisonous (adjective) describes any substance, natural or manufactured, that is harmful or deadly to living cells, even in small quantities.

Toxic (adjective) refers to poison that is produced naturally by living things, but people often use ‘toxic’ to describe any substance that is harmful or not good for you e.g. ‘toxic fumes’. This is very common, especially in non-technical language.

Beracun (kata sifat) menjelaskan zat, alam atau diproduksi, yang berbahaya atau mematikan sel-sel hidup, bahkan dalam jumlah kecil.

Beracun (kata sifat) mengacu pada racun yang diproduksi secara alami oleh makhluk hidup, tapi orang-orang sering menggunakan 'racun' untuk

(4)

Bisa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Sengatlebah dengan butiran bisa di ujungnya

Bisa, venom, atau zootoksin (secara harfiah "racun hewan") adalah semua jenis toksin yang yang

digunakan oleh beberapa kelompok spesieshewan, untuk keperluan pertahanan

dan berburumangsa. Bisa dibedakan dengan racun dengan definisi bahwa bisa adalah toksin biologis yang disuntikkan untuk menimbulkan efeknya, sedangkan racun adalah toksin biologis yang

diserap melalui lapisan epitel (baik dari usus maupun melaluikulit). Hewan-hewan yang memiliki bisa

antara lain adalah ular, laba-laba, kalajengking, dan lebah.

Bisa ular umumnya mengandung fosfolipase A2, sejenis enzim yang memicu

proses lisis pada senyawafosfolipid, sehingga bersifat toksik terhadapmembran sel.

Burung dari genus Pitohui saat ini merupakan satu-satunya burung yang diketahui memiliki bisa

atau racun di bulu dan kulitnya. Bisa ini hanya menimbulkan rasa geli hingga mati rasa (numbness)

di kulit.[1]

Lihat pula

[

sunting

|

sunting sumber

]

 Bisa ular

 Bisa dalam Bahasa Indonesia

Referensi

[

sunting

|

sunting sumber

]

1. ^ Hooded Pituhoi. Aquarium of the Pacific.

Artikel bertopik biologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Kategori:

 Toksikologi

(5)

Racun

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Simbol bahan beracun

Secara umum, racun merupakan zat padat, cair, atau gas, yang dapat mengganggu proses

kehidupan sel suatu organisme.[1] Zat racun dapat masuk ke dalam tubuh melalui jalur oral (mulut)

maupun topikal (permukaan tubuh).[1] Dalam hubungan dengan biologi, racun adalah zat yang

menyebabkan luka, sakit, dan kematian organisme, biasanya dengan reaksi kimia atau aktivitas

lainnya dalam skala molekul.

Bapak Toksikologi, Paracelsus, menyatakan bahwa: Segala sesuatu adalah racun dan tidak ada

yang tanpa racun. Hanya dosis yang membuat sesuatu menjadi bukan racun (Dosis solum facit

venum).[2]

(6)

Istilah racun bersinonim dengan kata toksin dan bisa, namun memiliki definisi yang berbeda antara

yang satu dengan lainnya.[3] Kata "toksin" didefinisi sebagai racun yang dihasilkan dari

proses biologi, atau sering disebut sebagai biotoksin.[1] Sementara, bisa didefinisikan sebagai cairan

mengandung racun yang disekresikan atau dihasilkan oleh hewan selama proses pertahanan diri

atau menyerang hewan lain dengan gigitan maupun sengatan.[3]

Istilah beracun, toksik, dan berbisa juga merupakan kata yang sebanding apabila digunakan untuk

menyatakan sifat atau efek dari racun.[3] Namun, tetap terdapat sedikit perbedaan pada ketiga kata

tersebut.[3] Beracun digunakan untuk segala sesuatu yang dapat berakibat fatal atau berbahaya

apabila dimasukkan dalam jumlah tertentu ke makhluk hidup.[3] Sedangkantoksik menyatakan sifat

atau efek dari toksin, dan berbisa mengacu kepada hewan penghasil bisa.[3]

Klasifikasi

[

sunting

|

sunting sumber

]

Dalam sebuah buku forensik medis yang ditulis oleh JL Casper, racun diklasifikasikan menjadi 5 golongan, yaitu:

1. Racun iritan, yaitu racun yang menimbulkan iritasi dan radang. Contohnya asam mineral, fungi

beracun, dan preparasi arsenik.[4]

2. Racun penyebab hiperemia, racun narkotik, yang terbukti dapat berakibat fatal pada otak,

paru-paru, dan jantung. Contohnya opium, tembakau, konium, dogitalis, dll.[4]

3. Racun yang melumpuhkan saraf, dengan meracuni darah, organ pusat saraf dapat lumpuh dan menimbulkan akibat yang fatal seperti kematian tiba-tiba. Contohnya asam hidrosianat, sianida

seng, dan kloroform.[4]

4. Racun yang menyebabkan marasmus, biasanya bersifat kronis dan dapat berakibat fatal bagi

kesehatan secara perlahan. Contohnya bismut putih, asap timbal, merkuri, dan arsenik.[4]

5. Racun yang menyebabkan infeksi (racun septik), dapat berupa racun makanan yang pada

keadaan tertentu menimbulkan sakit Pyaemia (atau pyemia) dan tipus pada hewan ternak.[4]

Sejarah

[

sunting

|

sunting sumber

]

Sejarah awal mengenai racun erat dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan.[5] Pada tahun 2500 SM,

bangsa Sumeria diketahui menyembah dewi racun yang disebut Gula.[5] Dalam mitologi Yunani,

terdapat beberapa rujukan tentang racun, di antaranya adalah kosah tentang Medea, cucu

dari Helios (dewa matahari).[5] Medea ingin membunuh anak tirinya, Theseus dengan minuman

anggur beracun.[5] Namun, usaha tersebut digagalkan oleh Aegeus, suami Medea.[5] Tulisan tertua

mengenai racun ditemukan di Mesir dan berangka tahun sekitar 3000 SM dan dokumen tentang

penelitian tanaman beracun yang dilakukan oleh Menes, raja Mesir.[5]

Di dalam sejarah Yunani, racun pernah digunakan sebagai hukuman mati yang disebut Racun

Negara atau State Poison.[5] Salah satu tokoh filsuf yang pernah dihukum mati dengan cara ini

adalah Socrates. Selama masa pemerintahan kekaisaran Romawi, keraunan di saat santap malam,

terutama di kalangan kelas atas menjadi suatu hal yang biasa.[5] Hal tersebut merupakan salah satu

cara untuk menyingkirkan anggota keluarga yang tidak disukai, seperti yang pernah dilakukan

oleh Nero.[5] Sekitar tahun 246 SM, Cina mengembangkan suatu drama yang disebut Ritual Chou,

yang di dalamnya terdapat ritual membakar 5 macam racun.[5]

Memasuki abad pertengahan, pada tahun 8 Sesudah Masehi, racun semakin berkembang karena ahli kimia Arab berhasil mengubah arsenik menjadi bubuk yang tidak berasa dan tidak berbau

sehingga deteksi adanya racun pun sulit diketahui.[5] Di masa itu, racun biasa diperdagangkan di

apotek dan didapatkan oleh publik dengan mudah. Berbagai teks akademis tentang racun juga

(7)

Santes de Ardonis yang berisi racun yang diketahui pada masa itu, mekanisme kerjanya, dan cara

penyembuhannya.[5]

Pada abad ke-14 dan 15, ahli kimia Italia berusaha membuat racun yang lebih kuat dari sebelumnya

dan hal ini menyebar dari Italia ke Paris.[5] Usaha untuk membatasi penjualan racun dilakukan

oleh Louis XIV pada tahun 1662 yang mengeluarkan aturan pelarangan apotek untuk menjual

senyawa beracun, kecuali kepada pembeli yang telah mendaftarkan tujuan mereka. Pada tahun 1836 dan 1841, Marsh dan Riensch secara terpisah berhasil mengembangkan metode untuk mendeteksi arsenik sehingga banyak orang yang melakukan kejahatan, terutama pembunuhan

dengan racun akhirnya dapat ditangkap.[5] Pada abad ke-20, racun mulai diteliti untuk digunakan

sebagai senjata. Pertumbuhan bidang toksikologi juga mendorong berkembangan sistem kontrol

dan penyebaran senyawa beracun.[5]

Penawar racun

[

sunting

|

sunting sumber

]

Penawar racun adalah obat yang dapat melawan efek dari racun.[6] Beberapa penawar racun yang

sering digunakan adalah:

Racun Penawar

Asetominofen NAC(N-asetilsistein).[7]

Antikolinergik Fisostigmin

Antikoagulan

(warfarin/coumadin, heparin) Vitamin K1, protamin.

Benzodiazepina Perawatan pendukung, flumazenil

Botulisme Antitoksin botulinum

Penyekat beta Glukagon

Penyekat saluran kanal

kalsium Kalsium, Glukagon

Kolinergik Atropin, Pralodixime dalam organofosfat dengan

dosis berlebih

Karbon monoksida Oksigen, Oksigen hiperbarat

Sianida Amil Nitrat, Natrium Nitrat, Natrium Thiosulfat,

Hidroksikobalamin

Digitoksin Antibodi Fab digoksin

(8)

Isoniazid Piridoksin

Timbal BAL, EDTA, DMSA

Methemoglobinemia Methelene Biru

Opiod Nalokson

Alkokol beracun Dialisis, Etanol Drip. Kemungkinan juga dapat

menggunakan inhibitor enzim.

antidepresan trisiklik Natrium bikarbonat

Lihat pula

[

sunting

|

sunting sumber

]

 Bisa (racun hewan)

Referensi

[

sunting

|

sunting sumber

]

1. ^abc(Inggris)Gary D. Osweiler (1996). Toxicology. Wiley-Blackwell. ISBN

978-0-683-06664-7.Page.1

2. ^(Inggris)Horst S. H. Seifert (1996). Tropical animal health. Springer. ISBN 978-0-7923-3821-5.Page.442

3. ^abcdef(Inggris)Merriam-Webster, Inc (1984). Merriam Webster's Dictionary of Synonyms: A Dictionary of Discriminated Synonyms With Antonyms and Analogous and Contrasted Words.

Merriam-Webster. ISBN 978-0-87779-341-0.Page.618

4. ^abcde(Inggris)Johann Ludwig Casper (1861). A Handbook of the Practice of Forensic

Medicine: Thanatological division. New Sydenham Society.Page.44-45

5. ^abcdefghijklmno www.bbc.co.uk (28 Juli 2005). "A Brief History of Poisoning".

(9)

7. ^(Inggris) www.uic.edu. "Antidotes to Common Poisons". Kategori:

 Toksikologi

Referensi

Dokumen terkait

Observasi dan Orientasi kelas merupakan tahapan pertama yang dilakukan oleh mahasiswa praktikan dalam melaksanakan kegiatan PPL2. Observasi dan Orientasi tersebut

Analisis yang telah dilakukan pada model integrasi pasar secara vertikal antara pasar produsen gabah dengan pasar ritel beras di Indonesia menunjukkan bahwa dalam jangka panjang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh diazinon (pestisida) terhadap tingkat keberhasilan larva yang terbentuk dan waktu dari setiap tahap perkembangan

Pertimbangan lain agar stasiun ini bisa dipakai untuk jangka waktu yang lama, bila memberikan akses yang baik dan kapasitas parkir yang lebih dari keadaan eksisting, maka yang

Manusia bahwa hak untuk mendapatkan bantuan hukum merupakan hak mutlak dan tanpa pembayaran terdakwa, jika tidak memiliki dana yang cukup untuk membayai 18. Prinsip dasar

Ramelan Mangunsari Sidomukti Ind.. Suroso Pasar Raya 1 Sidorejo Perdag 0. Suyati Pasar REJOSARI Sidomukti Perdag

Penelitian ini menghasilkan sebuah rancangan aplikasi data warehouse yang mengintegrasikan data demografi penduduk, data anggaran, data potensi dan data usulan

#elepas itu, melalui u, melalui emel emel 2 2atimah jug atimah juga a tentang tentang projek p projek perhotelan erhotelan yang d yang d yang telah berjalan