• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI TERHADAP KONFLIK PERKAWINAN ORA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERSEPSI TERHADAP KONFLIK PERKAWINAN ORA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

KEPADA PASANGAN (STUDI PADA WANITA DEWASA AWAL)

Santi Rizka Maya

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua memiliki pengaruh dalam memprediksi rasa percaya (trust) kepada pasangan. Penilitian ini dilakukan pada mahasiswi FISIP Universitas Brawijaya Malang yang berada pada usia dewasa awal (20 – 30 tahun) dengan jumlah subjek n=100 orang Data dalam penilitian ini dikumpulkan dengan menggunakan penyebaran skala persepsi terhadap konflik orangtua dan skala rasa percaya kepada pasangan (trust scale). Metode analisa yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, rata-rata mahasiswi FISIP Universitas Brawijaya Malang memiliki persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua pada tingkat sedang, begitu juga pada rasa percaya/trus

kepada pasangan berada pada tingkat sedang. Berdasarkan uji hipotesis didapatkan hasil signifikansi lebih dari 0,05 yaitu 0,127, sehingga dapat dikatakan bahwa persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua tidak dapat memprediksi rasa percaya/trust kepada pasangan secara signifikan. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan nilai persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua yang dimiliki individu sehingga tidak memberikan peranan yang berarti pada rasa percaya/trust individu kepada pasangannya.

Kata kunci: persepsi, konflik perkawinan, rasa percaya, wanita dewasa awal.

Abstract

This study was conducted to determine whether the perception of parental marital conflict have influence as a predictor of trust level to the partner. This study was carried out on FISIP Brawijaya University women students who on early adult age range (20 – 30 years). Women students who used as the subject of this study is n=100 persons by using purposive sampling techniques. The data in this study were collected by using a two-scale deployment of the scale perception of parental marital conflict and the scale of trust to the partner. The methods of analysis used in this study is simple linear regression analysis methods. Based on the results of data processing, the average of FISIP Brawijaya University Malang women students have perceptions of parental marital conflict at a medium level, as well as trust to the partner at a medium level. Based on the hypothesis test showed significance 0.127 which more than 0.05, then it can be said the perceptions of parental marital conflict does not affect trust to the partner significantly. This result caused by the change in the perceptions value of the parental marital conflict, so not give significant influence to predicting trust level to the partner.

(2)

LATAR BELAKANG

Menurut Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 1,

perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami

istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang sangat

penting dalam kehidupan manusia. Dasar-dasar perkawinan dibentuk oleh unsur-unsur alami

dari kehidupan manusia itu sendiri yang meliputi kebutuhan dan fungsi biologis, melahirkan

keturunan, kebutuhan akan kasih sayang dan persaudaraan, memelihara keturunan tersebut

menjadi anggota-anggota masyarakat yang sempurna (Titik & Trianto, 2007).

Pasangan suami istri yang terdiri dari seorang pria dan seorang wanita yang membentuk

rumah tangga atau keluarga dalam suatu ikatan perkawinan pada dasarnya merupakan naluri

manusia sebagai makhluk sosial guna melangsungkan kehidupannya (Lodewik, 2012). Ikatan

perkawinan merupakan unsur pokok dalam pembentukan keluarga yang harmonis dan penuh

rasa cinta kasih. Seorang pria dan wanita yang merupakan pribadi yang berbeda dan dulunya

bebas tanpa ikatan hukum, namun setelah perkawinan menjadi terikat lahir dan batin sebagai

suami isteri. Tidak hanya sebagai sarana membangun ikatan, namun perkawinan juga

merupakan landasan natural bagi berkembangnya konflik (Sadarjoen, 2005).

Coser (Anogara, 1992) menyatakan bahwa konflik selalu ada di tempat kehidupan

bersama, bahkan dalam hubungan yang sempurna sekalipun konflik tidak akan pernah dapat

dihindari dan konflik akan semakin meningkat dalam hubungan yang serius. Demikian pula

halnya dengan kehidupan perkawinan.

Perselisihan, pertentangan, dan konflik dalam suatu rumah tangga merupakan sesuatu

yang terkadang tidak bisa dihindari, tetapi harus dihadapi. Meskipun ada kalanya suami atau

istri telah berusaha untuk menghindari adanya konflik dan lebih memilih untuk mengalah

daripada berkonfrontasi, namun konflik akan tetap hadir dalam perkawinan (Sadarjoen,

2005). Hal ini karena dalam suatu perkawinan terdapat penyatuan dua pribadi yang unik

dengan membawa sistem keyakinan masing-masing berdasar latar belakang budaya serta

pengalaman yang berbeda. Perbedaan tersebut perlu disesuaikan untuk membentuk sistem

keyakinan baru bagi kehidupan perkawinan mereka. Proses inilah yang seringkali

menimbulkan ketegangan, ditambah lagi dengan sejumlah perubahan yang harus mereka

hadapi, misalnya perubahan kondisi hidup, perubahan kebiasaan atau perubahan kegiatan

sosial.

Efek negatif konflik perkawinan berdasarkan penelitian di Amerika (Sadarjoen, 2005),

(3)

pasangan, rentan berpenyakit, dan ketegangan psikis yang mengakibatkan kematian. Apabila

perselisihan atau konflik berkelanjutan, hal itu dapat mengarah pada perceraian. Seperti hasil

penelitian yang diperlihatkan Greer (Rakhmawati, 2004) bahwa dari 27.000 istri terdapat

78% yang merasakan keberhasilan berkeluarga dan 22% yang gagal dalam berumah tangga

dan memilih perceraian sebagai cara penyelesaian konflik yang terjadi dalam perkawinan.

Dengan kata lain pasangan yang memilih bercerai berarti telah gagal melakukan penyesuaian

diri terhadap konflik yang hadir di tengah-tengah bahtera perkawinan mereka.

Konflik dari perkawinan ini tidak hanya memberikan dampak pada pasangan itu sendiri,

tetapi juga pada berbagai aspek perkembangan anak, seperti perkembangan psikologis,

kognitif, serta sosial anak. Dalam perkembangannya, anak cenderung untuk meniru apa yang

dilihat dan didengar daripada nasihat yang diberikan pada mereka. Cara orang tua

berkomunikasi ketika berkonflik juga akan dipraktekkan oleh anak melalui caranya

berkomunikasi dengan orang lain karena bagi mereka orang tua merupakan panutan yang

benar (Satiadarma, 2001).

Orangtua merupakan sumber kepribadian anak, sebab di dalam keluarga dapat ditemukan

berbagai elemen dasar yang membentuk kepribadian seseorang. Konflik orang tua ini dapat

menyebabkan anak menjadi trauma, prestasi akademik menjadi menurun, perubahan sikap,

menjadi tertutup bahkan terhadap orang tua, terjerumus pada hal-hal yang negatif, dan tidak

percaya diri dan takut menjalin kedekatan dengan lawan jenis, bahkan menjadi takut untuk

menikah (Zira, 2011).

Menurut Hurlock (1999) salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi seorang

individu adalah menjalin hubungan dengan lawan jenis dimana individu tersebut harus

mempersiapkan diri untuk mendapatkan pasangan hidup yang harus dipenuhi pada periode

dewasa awal. Masa dewasa awal adalah masa-masa tersulit sepanjang kehidupan. Masa

dewasa awal merupakan tahap dimana seseorang membuat banyak keputusan dalam

kehidupan mereka. Tugas perkembangan dewasa awal lebih khusus berkaitan dengan

keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Menurut Wrosch pada masa ini individu akan

menemukan pasangannya, menikah, belajar hidup dengan pasangannya, memiliki dan

mengasuh anak serta membangun kehidupan berkeluarga (Fauzia & Nu’man, 2008).

Pada masa dewasa awal, individu akan mulai membangun hubungan romantis dengan

lawan jenisnya agar dapat mememenuhi tugas perkembangan individu pada masa ini yaitu

menikah dan membangun keluarga. Dalam hubungannya dengan pasangannya, rasa percaya

(trust) menjadi salah satu faktor yang penting (Walgito, 2000). Seperti yang disebutkan oleh

(4)

romantis (berpacaran), yaitu meningkatkan komitmen (increase commitment), komunikasi

(communicate your self), keintiman (keep the romance alive), serta saling percaya (trust each

other). Robinson (Fauzia & Nu’man, 2008) mendefinisikan kepercayaan sebagai sebuah

harapan, asumsi atau keyakinan seseorang tentang kemungkinan bahwa tindakan seseorang

atau pasangan dimasa mendatang akan bermanfaat, baik, atau tidak merusak. Salah satu

faktor terbentuknya trust adalah reputasi dan stereotype. Reputasi dan stereotype ini

merupakan apa yang individu lihat dan dengar dari pengalaman orang lain, salah satunya

adalah persepsi yang ia miliki tentang perkawinan orangtuanya. Persepsi yang ia miliki ini

akan ia aplikasikan dalam perilakunya terhadap pasangan dan membentuk harapan yang kuat

dan membawa individu untuk trust dan distrust (Rahmadhany, 2010).

Kartono (Meizara & Basti, 2008) menyatakan bahwa dibandingkan laki-laki wanita lebih

banyak menunjukkan tanda-tanda emosional. Hal ini terlihat bahwa wanita lebih cepat

bereaksi dengan hati yang penuh ketegangan, lebih cepat berkecil hati, bingung, takut, cemas,

dan curiga. Selain itu, kesatuan totalitas dari tingkah laku wanita bukan terletak pada

kesadaran objektif, akan tetapi terletak pada perasaannya yang didorong oleh afek dan

sentiment yang kuat, yang pada akhirnya membuat dugaan dan perhitungan mereka menjadi

keliru dan tidak mudah percaya.

Berdasarkan beberapa fakta yang telah dijelaskan di atas, maka penulis bermaksud

mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah persepsi terhadap konflik

perkawinan orangtua mempengaruhi rasa percaya (trust) kepada pasangan pada wanita

dewasa awal.

LANDASAN TEORI

A. Persepsi Terhadap Konflik Perkawina Orangtua

1. Definisi Persepsi Terhadap Konflik Perkawinan Orangtua

Menurut Robbins, persepsi merupakan suatu proses yang digunakan individu untuk

mengelola dan menafsirkan pesan indera dari lingkungan dalam rangka memberikan makna

kepada lingkungan dengan cara mengorganisir dan menginterpretasi sehingga akan

mempengaruhi perilaku individu (Mastari, 2012).

Menurut Johnson (Supratiknya, 1995) konflik adalah situasi dimana tindakan salah satu

pihak berakibat menghalangi, menghambat atau mengganggu tindakan pihak lain endati

unsur konflik selalu terdapat setiap bentuk hubungan antar pribadi, pada umumnya

masyarakat memandang konflik sebagai keadaan yang harus dihindarkan karena konflik

(5)

konflik adalah situasi dimana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat

atau mengganggu tindakan pihak lain endati unsur konflik selalu terdapat setiap bentuk

hubungan antar pribadi, pada umumnya masyarakat memandang konflik sebagai keadaan

yang harus dihindarkan karena konflik dianggap sebagai faktor yang merusak hubungan.

Finchman (Mawaddah, 2012) mendefenisikan konflik perkawinan sebagai keadaan

suami-istri yang sedang menghadapi masalah dalam perkawianannya dan hal tersebut tampak dalam

perilaku mereka yang cenderung kurang harmonis ketika sedang menghadapi konflik.

Menurut Srey, konflik dalam perkawinan terjadi dikarenakan masing-masing individu

membawa kebutuhan, keinginan dan latar belakang yang unik dan berbeda (Mawaddah,

2012).

Orangtua adalah orang yang telah melahirkan kita yaitu ibu dan bapak. Ibu dan bapak

selain telah melahirkan kita ke dunia ini juga yang mengasuh dan yang telah membimbing

anaknya dengan cara memberikan contoh baik dalam menjalani kehidupanya (Djamarah,

2004).

Persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua merupakan suatu proses penerimaan,

pemahaman, dan pengalaman yang telah lalu yang berkaitan erat dengan konflik perkawinan

orangtua, dan merupakan proses input sehingga masuk dalam pola pikir, sehingga apabila

menghadapi suatu masalah maka perilaku yang dimunculkan akan cenderung sama dengan

yang diperbuat oleh orangtuanya (Widyaningsih, 2000). Hal ini merupakan hasil dari proses

modeling, dan juga adanya tuntutan yang berkaitan dengan kemampuan sosialnya.

Menurut Adler (Merrim, 2008) individu belajar tentang kehidupan rumah tangga dan

gambaran ideal tentang pasangan lawan jenis melalui orangtua mereka Berdasarkan teori

yang dikemukakan oleh Wallerstrein (Merrim, 2008) persepsi yang dibentuk oleh anak bisa

saja membuat anak untuk berusaha lebih baik dari pada orangtuanya. Sebaliknya

Wallerstrein juga mengatakan bahwa persepsi terhadap pernikahan tersebut juga dapat

membuat anak jadi skeptis terhadap pernikahan.

2. Aspek Persepsi Terhadap Konflik Perkawinan Orangtua

Berikut ini aspek-aspek persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua, yaitu:

a. Pengetahuan

Pengetahuan yang dimaksud berupa pengetahuan yang dimiliki individu mengenai

pernikahan dan konfli-konfliknya. Pengetahuan ini didapatkan dari masa lalu dan

(6)

b. Harapan

Selain individu mempunyai satu set pandangan terhadap pernikahan, individu juga

memiliki pengharapan terhadap pernikahannya sendiri, seperti apa pernikahan itu

seharusnya dan apa yang harus dilakukan dalam pernikahan.

c. Penilaian

Penilaian adalah kesimpulan individu terhadap pernikahan yang didasarkan pada

bagaimana pernikahan tersebut memenuhi pengharapan individu terhadap pernikahan.

3. Komponen Persepsi Terhadap Konflik Perkawinan Orangtua

Adapun komponen persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua menurut Grych dkk

(1992) adalah sebagai berikut:

a. Dimensi marital konflik

Dimensi marital konflik menjelaskan bagaimana anak menggambarkan konflik yang

terjadi pada orangtua mereka berdasarkan sudut pandang dan panca indera mereka. Dimensi

marital konflik terdiri dari empat indikator, yaitu sebagai berikut:

1) Frekuensi (Frequency)

Indikator frequency ini menjelaskan kuantitas konflik dalam suatu periode yang dilihat

dan didengar oleh anak (Chapman, 1997).

2) Intensitas (Intensity)

Indikator intensitas menjelaskan tingkat emosionalitas dan kehebatan dalam

mengekspresikan konflik. Aspek-aspek dalam indikator intensitas ini adalah aspek-aspek

yang dikemukakan oleh Gottman dan Declaire (Meizera, 2008) yaitu, terjadinya

kekerasan fisik pada pasangan, pelontaran kekerasan secara verbal, adanya sikap

bertahan, dan menarik diri dari interaksi pasangannya.

3) Penyelesaian masalah (Resolution)

Indikator resolution ini menjelaskan tingkatan pengambilan keputusan dan penyelesaian

konflik dan perdebatan dilakukan secara damai dan memuaskan masing-masing pihak

(Chapman, 1997)

4) Isi konflik (Content)

Indikator content menjelaskan topik yang terjadi dalam konflik apakah berhubungan

dengan anak atau merupakan masalah diantara suami dan istri.

b. Child reaction

Child reaction atau reaksi anak menjelaskan bagaimana reaksi dan persepsi anak

terhadap konflik yang terjadi pada orangtua mereka. dimensi child reaction terdiri dari

(7)

1) Menyalahkan diri sendiri (Self Blame)

Indikator self blame ini menjelaskan apakah anak menyalahkan diri mereka sndiri

sebagai penyebab terjadinya konflik yang terjadi dalam perkawinan orangtuanya

(Bickham & Fiese, 1997).

2) Perasaan terancam (Perceived Threat)

Indikator perceived thread ini menjelaskan perasaan takut dan cemas anak akan konflik

yang dapat meluas dan ketakutan anak apabila ia terlibat dalam konflik dan mendapat

dampaknya (Grych dkk, 1992).

3) Kemampuan coping (coping efficacy)

Indikator coping efficacy menjelaskan bagaimana kemampuan anak untuk coping secara

emosional (emotion-focused coping) seperti bagaimana ia dapat mengurangi

kecemasannya dan rasa tidak nyamannya apabila orangtuanya sedang berkonflik, serta

menjelaskan kemampuan anak untuk membuat suasana diantara kedua orangtuanya

menjadi nyaman (problem-focused coping) (Grych dkk, 1992).

4) Stabilitas (Stability)

Indikator stabilitas merupakan indikator yang menjelaskan bagaimana penggambaran

anak mengenai penyebab terjadinya konflik yang terjadi diantara kedua orangtuanya

secara umum.

c. Stressfulness

Dimensi stressfulness ini menjelaskan bagaimana konflik yang terjadi pada perkawinan

orangtua mempengaruhi anak dan hubungannya dengan orangtua. Dimensi ini memiliki satu

indikator, yaitu triangulation atau hubungan segitiga. Indikator triangulation ini

menjelaskan bagaimana anak terlibat dalam konflik tersebut, apakah anak harus memihak

salah satu diantara mereka atau menjadi penengah dalam konflik tersebut (Grych dkk, 1992).

B. Rasa Percaya (Trust)

1. Definisi Rasa Percaya (Trust)

Robinson (Fauzia & Nu’man, 2008) mendefinisikan kepercayaan sebagai sebuah harapan,

asumsi atau keyakinan seseorang tentang kemungkinan bahwa tindakan seseorang/pasangan

dimasa mendatang akan bermanfaat, baik, atau tidak merusak. Kepercayaan yang akan

diperoleh dari pihak lain tergantung beberapa hal antara lain umur, otoritas atau keahlian dan

juga pengalaman (Walgito, 2000).

2. Faktor Terbentuknya Rasa Percaya (Trust)

Menurut Lewicky (Rahmadhany, 2010) bagaimana seseorang mempercayai orang lain

(8)

a. Predisposisi kepribadian

Deutsch (Rahmadhany, 2010) menunjukkan bahwa setiap individu memiliki predisposisi

yang berbeda untuk percaya kepada orang lain. Semakin tinggi tingkat predisposisi individu

terhadap trust, semakin besar pula

b. Reputasi dan stereotype

Harapan individu dapat terbentuk melalui apa yang dipelajari dari teman ataupun dari

apa yang didengar dari sekitarnya, meskipun individu tersebut tidak memiliki pengalaman

langsung. Reputasi orang lain biasanya membentuk harapan yang kuat yang membawa

individu untuk trust dan distrust serta membawa pada pendekatan pada hubungan untuk

saling percaya.

c. Pengalaman aktual

Pada kebanyakan orang, individu membangun faset dari pengalaman untuk berbicara,

bekerja, berkoordinasi dan berkomunikasi. Beberapa dari faset tersebut sangat kuat di dalam

trust, dan sebagian kuat di dalam distrust. Sepanjang berjalannya waktu, baik elemen trust

maupun distrust memulai untuk mendominasi pengalaman, untuk menstabilkan dan secara

mudah mendefenisikan sebuah hubungan. Ketika polanya sudah stabil, individu cenderung

untuk mengeneralisasikan sebuah hubungan dan menggambarkannya dengan tinggi atau

endahnya trust atau distrust.

d. Orientasi psikologis

Deutsch (Rahmadhany, 2010) menyatakan bahwa individu membangun dan

mempertahankan hubungan sosial berdasarkan orientasi psikologisnya. Orientasi ini

dipengaruhi oleh hubungan yang terbentuk dan sebaliknya. Dalam artian, agar orientasinya

tetap konsisten, maka individu akan mencari hubungan yang sesuai dengan jiwa mereka.

3. Komponen Rasa Percaya (Trust)

Menurut Rempel dkk (Fauzia & Nu’man, 2008) komponen rasa percaya adalah sebagai

berikut:

a. Keadaan dapat diramalkan (Predictability)

Seseorang yang dapat diramalkan adalah seseorang yang mempunyai perilaku yang

konsisten walaupun perilaku tersebut terus menerus buruk.

b. Keadaan dapat diandalkan (Dependability)

Keadaan dapat diandalkan (Dependability) berhubungan dengan perasaan yang timbul

(9)

c. Keyakinan (Faith)

Keyakinan berupa kemampuan seseorang dalam pengambilan risk taking, in depth

relationship, percaya pada janji yang diberikan dengan mengorbankan penghargaan

seseorang untuk sebuah keuntungan yang akan datang.

C. Masa Dewasa Awal

1. Definisi Masa Dewasa Awal

Istilah adult atau dewasa awal berasal dari bentuk lampau kata adultus yang berarti telah

tumbuh menjadi kekuatan atau ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Masa

dewasa awal pada umumnya dimulai pada umur 18 sampai 40 tahun saat

perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif

(Hurlock, 2004). Individu dewasa awal dituntut memulai kehidupannya memerankan peran

ganda seperti suami/istri, orangtua dan peran dalam dunia kerja (berkarir), dan

mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan

tugas-tugas baru ini.

2. Ciri-Ciri Masa Dewasa Awal

Menurut Hurlock (2004) ada beberapa ciri-ciri masa dewasa awal, antara lain:

a. Masa Usia Reproduktif

Dinamakan sebagai masa produktif karena pada rentang usia ini adalah masa-masa yang

cocok untuk menentukan pasangan hidup, menikah, dan berproduksi/menghasilkan anak.

b. Masa Bermasalah

Masa dewasa dini dikatakan sebagai masa yang sulit dan bermasalah. Hal ini

dikarenakan seseorang harus mengadakan penyesuaian dengan peran barunya (perkawinan

VS pekerjaan).

c. Masa Keterasingan Sosial

Masa dewasa dini adalah masa dimana seseorang mengalami “krisis isolasi”, ia terisolasi

atau terasingkan dari kelompok sosial. Kegiatan sosial dibatasi karena berbagai tekanan

pekerjaan dan keluarga. Hubungan dengan teman-teman sebaya juga menjadi renggang.

Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat untuk maju dalam

berkarir.

d. Masa Komitmen

Pada masa ini juga setiap individu mulai sadar akan pentingnya sebuah komitmen. Ia

(10)

e. Masa Perubahan Nilai

Nilai yang dimiliki seseorang ketika ia berada pada masa dewasa dini berubah karena

pengalaman dan hubungan sosialnya semakin meluas. Nilai sudah mulai dipandang dengan

kaca mata orang dewasa. Nilai-nilai yang berubah ini dapat meningkatkan kesadaran positif.

Alasan kenapa seseorang berubah nilia-nilainya dalam kehidupan karena agar dapat diterima

oleh kelompoknya yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati. Pada

masa ini juga seseorang akan lebih menerima/berpedoman pada nilai konvensional dalam hal

keyakinan. Egosentrisme akan berubah menjadi sosial ketika ia sudah menikah.

f. Masa Penyesuaian Diri dengan Hidup Baru

Ketika seseorang sudah mencapai masa dewasa berarti ia harus lebih bertanggungjawab

karena pada masa ini ia sudah mempunyai peran ganda (peran sebagai orangtua dan sebagai

pekerja).

METODE

Partisipan dan Desain Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya yang sedang menjalin hubungan percintaan

dengan jumlah tidak diketahui. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini

sebanyak 100 orang mahasiswi FiSIP Universitas Brawijaya berusia 20 – 30 tahun (Sanrock

2002) dan sedang menjalin hubungan percintaan (berpacaran). Teknik pengambilan sampel

yang digunakan adalah teknik purposive sampling dimana orang-orang yang terpilih sebagai

subjek merupakan orang-orang yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan dan dirasa

paling representatif (Santoso & Tjiptono, 2004).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif bersifat koresaional. Penelitian

korelasional merupakan penelitian antara dua variabel atau lebih, guna melihat hubungan

antara kedua variabel, juga dapat melihat pengaruh dari satu variabel terhadap variabel lain

(Sugiyono, 2008). Metode uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji regresi

linier sederhana (simple linier regression) yang dimaksudkan untuk menguji hubungan antara

sebuah variabel terikat dengan satu variabel bebas.

Alat Ukur Dan Prosedur Penelitian

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner, yaitu skala

persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua dan skala rasa percaya kepada pasangan (trust

(11)

skala rating yang dijumlahkan, yaitu skor setiap aitem dijumlahkan menjadi skor total aitem),

dengan bentuk aitem favourable dan unfavourable.

Kedua skala yang telah disusun dan dilakukan pengujian validitas menggunakan metode

Content Validity Ratio yang diukur melalui tiga dosen psikologi sebagai professional

judgment, kemudian diuji cobakan kepada 30 orang mahasiswi jurusan statistika Universitas

Brawijaya yang sedang menjalin hubungan romantis (berpacaran). Skala persepsi terhadap

konflik perkawinan orang tua terdiri dari 53 aitem, setelah proses uji coba menghasilkan 15

nomer aitem valid dengan cronbach alpha 0,758. Sedangkan trust scale terdiri dari 32 aitem,

setelah proses uji coba menghasilkan 16 nomer aitem valid dengan cronbach alpha 0,791.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi data diketahui dengan menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui

persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua dan rasa percaya (trust) kepada pasangan.

Dari pengolahan data yang dilakukan untuk variabel persepsi terhadap konflik perkawinan

orangtua (lihat tabel 1), diketahui rata-rata skor empirik sebesar 40,72 yang berarti bahwa

subjek yang ada memiliki persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua yang cukup baik.

Nilai terendah dari nilai empirik adalah 30 dengan nilai tertinggi sebesar 51, sedangkan

standar deviasinya sebesar 3,48.

Sedangkan Skor hipotetik diperoleh dari perhitungan manual pada variabel persepsi

terhadap konflik perkawinan orangtua dengan aitem sebanyak 15 item. Skor terendah untuk

pilihan jawaban adalah 1, dan skor tertinggi untuk pilihan jawaban adalah 4, diperoleh nilai

terendah 1 x 15 = 15 dan total nilai tertinggi = 4 x 15 = 60. Untuk luas sebarannya adalah 60

– 15 = 45. Dengan demikian setiap satuan deviasi standarnya bernilai SD = 45/6 = 7,5, dan rata-rata (mean) hipotetiknya adalah µ = 45- 7,5 = 37,5.

Tabel 1. Deskripsi Data Skor Persepsi Terhadap Konflik Perkawinan Orangtua

Variabel Statistik Hipotetik Empirik Persepsi terhadap

konflik perkawinan orangtua

Skor Minimum 15 30 Skor Maksimum 60 51 Mean 37,5 40,72 Standar Deviasi 7,5 3,48

Dari pengolahan data yang dilakukan untuk variabel rasa percaya (trust) kepada

pasangan (lihat tabel 2), diketahui rata-rata skor empirik sebesar 47,94 yang berarti bahwa

subjek yang ada memiliki rasa percaya kepada pasangan yang cukup baik. Nilai terendah dari

(12)

Skor hipotetik variabel y diperoleh dari perhitungan manual dengan Total aitem dalam

skala variabel trust kepada pasangan adalah 16 aitem. Skor terendah untuk pilihan jawaban

adalah 1, dan skor tertinggi untuk pilihan jawaban adalah 4, sehingga dapat diperoleh total

nilai terendah/minimum = 1 x 16 = 16 dan total nilai tertinggi/maksimum = 4 x 16 = 64.

Untuk luas sebarannya adalah 64 – 16 = 48, dengan demikian dapat diketahui satuan deviasi

standarnya bernilai SD = 48/6 = 8 dan rata-rata/mean hipotetiknya adalah µ = 48 – 8 = 40.

Tabel 2. Deskripsi Data Skor Rasa Percaya (Trust) Kepada Pasangan

Variabel Statistik Hipotetik Empirik Rasa Percaya

Deskripsi subjek berdasarkan lama berpacaran (lihat tabel 3), dapat dilihat bahwa

mahasiswi FISIP Universitas Brawijaya yang menjalin hubungan romantis kurang dari enam

bulan sebanyak 19%, lebih dari enam bulan dan kurang dari satu tahun sebanyak 14%, lebih

dari satu tahun dan kurang dari dua tahun sebanyak 24%, lebih dari dua tahun dan kurang

dari tiga tahun sebanyak 21%, lebih dari tiga tahun dan kurang dari empat tahun sebanyak

12%, lebih dari empat tahun dan kurang dari lima tahun sebanyak 5%, lebih dari lima tahun

dan kurang dari enam tahun sebanyak 2%, sedangkan 3% sisanya telah menjalin hubungan

romantis selama lebih dari enam tahun dan kurang dari tujuh tahun.

Tabel 3. Deskripsi Subjek Berdasarkan Lama Menjalin Hubungan Romantis Lama Menjalin Hubungan

Hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa variabel persepsi terhadap konflik

perkawinan orangtua dan rasa percaya kepada pasangan dalam penelitian ini menyebar secara

(13)

Kolmogorov-Smirnov untuk variabel persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua dan untuk variabel

rasa percaya kepada pasangan sebesar 1,280 dengan nilai signifikansi kedua variabel sebesar

0,076. Nilai signifikansi kedua variabel tersebut mempunyai nilai lebih besar dari 0,05 yang

berarti keduanya dikatakan menyebar secara normal.

Uji heteroskedastisitas yang dilakukan melalui uji glejser terhadap kedua variabel

mendapatkan nilai signifikan 0,133. Nilai signifikansi ini lebih besar dari α (> 0.05) sehingga

dapat dikatakan bahwa kedua variabel dalam penelitian ini yaitu persepsi terhadap konflik

perkawinan orangtua dan rasa percaya (trust) kepada pasangan tidak heteroskedastisitas atau

dapat dikatakan homogen.

Uji Autokorelasi yang dilakukan dengan metode Durbin-Watson mendapatkan nilai d

hitung sebesar 2,027 dengan dL = 1,6540 dan dU = 1,6901. Karena 2,033 > 1,6901. Model

regresi pada penelitian ini dapat dikatakan tidak memiliki autokorelasi positif maupun

negatif. Hal ini disebabkan karena model regresi ini memiliki nilai durbin watson yang sama

dengan persamaan dU ≤ d≤ (4 –dU), dimana nilai dL (1,6504) lebih kecil dari nilai Durbin

Watson (2,014) yang lebih kecil dari nilai dU (1,690) setelah dikurangi 4 (2,3099).

Uji linieritas yang dilakukan dengan uji F mendapatkan nilai signifikan uji F sebesar

0,328. Nilai signifikansi ini lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditentukan, yaitu

0,05 (0,328 > 0,05) dengan demikian dapat dikatakan bahwa distribusi data penelitian ini

linier atau memiliki hubungan garis lurus dan uji linieritas terpenuhi.

Karena keempat uji asumsi klasik yang dilakukan terpenuhi, maka uji hipotesis yang

dilakukan dapat menggunakan uji regresi linier sederhana. Setelah melakukan uji regresi

linier sederhana didapatkan nilai signifikansi pada model regresi ini sebesar 0,127. Nilai

tersebut lebih besar dari taraf signifikansi yaitu 0,05 maka dapat dikatakan bahwa pengujian

tidak signifikan secara statistik atau Ho diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel X

(persepsi terhadap konflik perkawinan orangtua tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

variabel Y (rasa percaya/trust kepada pasangan).

DISKUSI

Menurut Lewicky (Ramadhany, 2010) pengalaman aktual menjadi faktor yang memiliki

peran paling besar dalam mempengaruhi rasa percaya seseorang. Pengalaman aktual yang

dimiliki individu dapat merubah reputasi dan stereotype yang ia miliki sebelumnya, seperti

persepsinya terhadap konflik perkawinan orang tuanya. Pengalaman aktual ini individu

dapatkan dengan membangun faset berbicara, bekerja, berkoordinasi dan berkomunikasi

(14)

kuat di dalam distrust. Sepanjang berjalannya waktu, baik elemen trust maupun distrust

memulai untuk mendominasi pengalaman, untuk menstabilkan dan secara mudah

mendefenisikan sebuah hubungan. Ketika polanya sudah stabil, individu cenderung untuk

mengeneralisasikan sebuah hubungan dan menggambarkannya dengan tinggi atau rendahnya

trust atau distrust (Ramadhany, 2010).

Rampel, Holmes, dan Zanna (Fianny, 2013) mengemukakan bahwa lama hubungan

berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan kepada pasangan. Semakin lama hubungan yang

terjalin, maka semakin tinggi tingkat kepercayaan kepada pasangannya. Sedangkan hubungan

yang berlangsung selama dibawah enam bulan dianggap tidak memiliki stabilitas dalam

hubungan (Fianny, 2013). Sebagian besar subjek yang telah berpacaran dengan rentang

waktu lebih dari enam bulan menyebabkan subjek lebih memiliki banyak memiliki

pengalaman aktual bersama pasangannya dan memiliki rasa percaya yang tinggi. Faktor

tersebut diyakini peneliti sebagai faktor yang menyebabkan persepsi terhadap konflik

perkawinan orangtua tidak dapat memprediksi rasa percaya kepada pasangan pada wanita

dewasa awal.

Pada penelitian ini terdapat beberapa hal yang perlu didiskusikan lebih lanjut yang

nantinya dapat berguna bagi penelitian selanjutnya. Pertama, jumlah variabel yang sedikit,

peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperbanyak jumlah variabel dalam penelitian

supaya penelitian yang dilaksanakan lebih mendalam. Kemudian tentang daerah penelitian,

diharapkan untuk memperluas daerah penelitian yaitu bisa pada fakultas atau universitas lain

bahkan bisa juga pada karyawan atau orang yang sudah bekerja.

Para wanita usia dewasa awal diharapkan dapat mengambil hal positif dari konflik yang

terjadi pada perkawinan orangtuanya dan mengaplikasikan hal-hal positif tersebut dalam

perilakunya. Selain itu diharapkan pada wanita dewasa awal yang sedang menjalin hubungan

romantis (berpacaran) agar dapat menumbuhkan rasa saling percaya kepada pasangan untuk

mewujudkan hubungan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anogara. (1992). Psikologi Kerja. Jakarta: Rineka Cipta

(15)

Chapman, Benjamin P. (1997). Perception of Parental Conflict as a predictor of Attachment and Caregiving Styles in the Romantic Relationships of Young Adults. Honors Projects (http://digitalcommons.iwa.edu/psych_honproj/99)

Djamarah, Syaiful Bahri. (2004). Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya

Fauzia, Mutia D., & Nu’man, Thobagus M. (2008). Hubungan Kepercayaan Pada Pasangan dengan Kepuasan Pernikahan. Naskah Publikasi Universitas Islam Indonesia. Jurnal Psikologi

(http://repository.uii.ac.id/100/SK/I/0/00/000/000221/uii-skripsi-hubungan%20%20kepercayaa-fauzia-5690265140-abstract.pdf)

Fianny, Teungku V. (2013). Pengaruh Kepercayaan Terhadap Kepuasan Hubungan Pacaran Jarak Jauh Pada Dewasa Muda. Skripsi Jurusan Psikologi Universitas Indonesia. Tidak diterbitkan

Grych, John H., Seid, M. & Finchman, Frank D. (1992). Assessing Marital Conflict from the Child’s Perspective: The Children’s Perception of Interparental Conflict Scale. Society for Research in Child Development, Inc.

Hurlock, Elizabeth B. (1999). Perkembangan Anak Jilid 2 Edisi Keenam. Jakarta: Penerbit Erlangga

Hurlock, Elizabeth B. (2004). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga

Lodewik. (2012). Tinjauan Yuridis Terhadap Penetapan Pengesahan Perkawinan Adat Tionghoa Oleh Hakim. Skripsi Universitas Sumatera Utara: Tidak diterbitkan (http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/30789)

Mastari. (2012). Gambaran Persepsi Masyarakat Kota Medan Terhadap Pendidikan Inklusi Studi Terhadap Beberapa Kecamatan di Kota Medan. Skripsi.

(http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/33613)

Mawaddah, Hasanah. (2012). Gambaran Konflik Pernikahan pada Pasangan Berlatar Belakang Etnis Jawa-Batak. Skripsi

(http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/33612)

Meizara, Eva, & Basti. (2008). Konflik Perkawinan Dan Model Penyelesaian Konflik Pada Pasangan Suami Istri. Jurnal Psikologi Vol. 2, No 1 Universitas Negeri Makassar. (http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/download/243/184)

Merrim, Icchin. (2008). Persepsi Terhadap Pernikahan Pada Wanita Dewasa Dini Yang Berasal Dari Keluarga Bercerai. Skripsi

(http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/23468)

Rahmadhany, Meyla. (2010). Dinamika Trust Terhadap Pasangan Pada Perempuan Setelah Melakukan Aborsi. Skripsi. (http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20864). Universitas Sumatera Utara. Tidak Diterbitkan

(16)

Sadarjoen, S.S. (2005). Konflik marital. Pemahaman konseptual, aktual, dan alternatif solusinya. Bandung: PT Refika Aditama

Santoso, Singgih dan Tjiptono, Fandy. (2004). Riset Pemasaran: Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Santrock, John W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 1 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga

Satiadarma, M. P. (2004). Persepsi Orang tua Membentuk Perilaku Anak. Jakarta: Pustaka Populer Obor

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Supratiknya. (1995). Tinjauan Psikologis; Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius

Titik, Triwulan, & Trianto. (2007). Poligami Perspektif danPerikatan Nikah. Jakarta: Prestasi Pustaka

Walgito, B. (2000). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Widyaningsih, Bernadeta D. (2000). Kecerdasan Emosional Ditinjau Dari Persepsi Mahasiswa Terhadap Konflik Perkawinan Orangtua. Skripsi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Gambar

Tabel 2. Deskripsi Data Skor Rasa Percaya (Trust) Kepada Pasangan Variabel Statistik Hipotetik Empirik

Referensi

Dokumen terkait

Rata-rata tinggi badan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang berada dalam kategori menarche pada usia awal adalah 153,4cm dengan ±2,39 SD

Berdasarkan penelitian ini, didapatkan bahwa sebagian besar wanita dewasa awal yang menjadi subjek penelitian berada pada kategori sangat tinggi dalam hal tingkat

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara religiusitas dan persepsi terhadap kesehatan dengan kebahagiaan pada pria yang menikah di usia dewasa

Memperhatikan betapa pentingnya citra tubuh yang positif bagi wanita usia dewasa awal, maka peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan citra tubuh pada mahasiswi fakultas

Pada penelitian ini ditemukan bahwa dari 50 subjek penelitian, median usia pasien berada pada kelompok usia dewasa, 31 pasien berjenis kelamin laki-laki, 34 pasien

Dalam tahap dewasa awal tersebut, dimana seseorang sedang berada pada tahap peralihan dari remaja menuju dewasa, Salomon dalam Hurlock, 1953 menyatakan bahwa seseorang mulai

13 Ada penelitian yang menyatakan bahwa asupan natrium dan kalium pada subjek usia dewasa awal tanpa hipertensi tidak berhubungan dengan peningkatan tekanan

Kedekatan pada usia dewasa perceraian yang dilakukan oleh pihak perempuan awal tidak hanya dilakukan pada sesama jenis didapatkan sebuah gambaran bahwa bahwa para namun