• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGUASAI PINSIP MANAJEMEN GEJALA YANG B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MENGUASAI PINSIP MANAJEMEN GEJALA YANG B"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MENGUASAI PINSIP MANAJEMEN GEJALA YANG BIASA MUNCUL PADA KLIEN DENGAN LONG TERM CONDITION

DISUSUN OLEH : Kelompok 1

1. Annisa Rahmatiah J210171055 2. Lucia Fadilla Permatasari J210171069 3. Arief Pebrianto J210171099 4. Debby sukma oktaviany J210171103 5. Eka Mutya J210171106 6. Qowiatul Muthmainnah J210171116 7. Irwan Surya Wibisono Kambu J210171169 8. Dewi Aulia Rachmawati J210171173 9. Erika Sitta Nurlaela J210171182 10. Tiara Bhima Murti J210171178 11. Aldahaniastiti Kuncahya J210171186 12. Oktaviana Putri J210171193

(2)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2017

A. Kontrol Gejala

Penderitaan dapat menghubungkan pengalaman dari gejala-gejala yang muncul pada penyakit yang lebih lanjut. Area dalam penelitian ini sebagian besar berhubungan dengan pasien kanker, namun ada beberapa populasi lain yang termasuk didalammnya seperti pasien dengan penyakit gagal jantung berat, peyakit respirasi lanjut dan penyakit yang berhubungan dengan HIV. Tinjauan gejala sangat bervariasi tergantung dengan stadium penyakit, persoalan metode, dan populasi yang diteliti seperti pasien rawat inap atau rawat jalan.

Prevalensi dari gejala yang muncul bervariasi tergantung keadaan penyakit, namun yang menarik adalah gejala distress atau sedih sering terjadi pada penyakit non- malignansi maupun kanker. Hal tersebut memperkuat argumen untuk pelayanan perawatan paliatif ditawarkan ke seluruh pasien atas dasar kebutuhan.

Berikut ini adalah prevalensi dari gejala distressing yang dilaporkan secara retrospektif dengan perawatn selama tahun terakhir masa kehidupan :

No Gejala Populasi kanker (%) Populasi non kanker (%)

1 Nyeri 71 72

2 Dispneu 63 64

3 Batuk menetap 50 42

4 Mulut kering 43 34

5 Anoreksia 33 21

6 Kesulitan menelan 63 53

7 Mual muntah 66 50

8 Konstipasi 65 69

9 Kebingungan 42 44

10 Insomnia 44 45

11 Mood rendah 67 73

B. Prinsip dari manajemen gejala

(3)

dengan tepat dapat sangat membantu. Pasien dan keluarga merasa dihargai dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai terapi simptomatis. Manajemen paliatif atau simptomatis merupakan intervensi yang sangat luas, dari melatih teknik pernapasan hingga manajemen modifikasi penyakit seperti pembedahan. Tujuan dari terapi bukan untuk mengobati, namun agar pasien merasa lebih baik walau hanya sementara.

Keputusan mengenai tata laksana haruslah sesuai dengan keadaan individu. Beberapa pasien dapat sangat tidak sehat untuk menjalani terapi. Pasien akan sering memiliki masalah multipel dan pada situasi ini terapi yang digunakan harus memprioritaskan dan mempertimbangkan kenyamanan pasien. Ada empat prinsip dari manajemen gejala, yaitu :

1. Penilaian gejala

Penilaian Gejala yang akurat esensial untuk mengidentifikasi penyebab dan terapi yang sesuai. Hal tersebut penting untuk mengenali bahwa tidak semua gejala akan menjadi hasil langsung dari proses penyakit. Beberapa akan muncul sebagai hasil dari kelemahan umum, yang lain akan menjadi efek samping dari terapi, tetapi gejala dapat juga muncul secara tiba-tiba dari patologis yang tidak berhubungan. Riwayat gejala terperinci dan pemeriksaan dapat memunculkan pola yang dikenali, merujuk kepada penyebabnya. Hal ini akan memandu terapi dan investigasi yang sesuai. Pada pasien dengan penyakit stadium lanjut, investigasi semestinya hanya dikerjakan apabila gejala tersebut mempengaruhi manajemen terapi. Apabila seorang individu terlalu lemah untuk menerima terapi untuk masalah spesifik, maka kemudian tes invasif untuk mendiagnosis masalah tersebut biasanya tidak dapat dibenarkan.

2. Penjelasan dengan komunikasi yang baik

Inti dari perawatan paliatif adalah kemampuan komunikasi yang

baik. Mendengarkan secara aktif merupakan kemampuan yang

(4)

pasien tidak kita dapatkan. Memberikan informasi membutuhkan

kemampuan dan latihan yang sama, selain itu dibutuhkan untuk

mengalokasikan waktu secukupnya. Masing-masing individu

membutuhkan tingkat informasi yang berbeda-beda. Beberapa mungkin

hanya mendapatkan informasi yang terbatas terkait dengan diagnosis.

Seorang yang profesional perlu memperhatikan hal-hal penting, baik pada

saat pemberian informasi maupun berita yang bersifat rahasia. Perawatan

yang dilakukan oleh keluarga merupakan hal penting dalam menerapkan

terapi holistik pada pasien dan (sesuai dengan persetujuan pasien) jika

dimungkinkan harus dibicarakan secara bersama-sama. Cara tersebut dapat

mencegah terjadinya situasi dimana pasien dan keluarganya tidak

memberikan informasi yang sebenarnya karena mereka melindungi rahasia

masing-masing. Kepekaan khusus dibutuhkan pada tahap tertentu dari

perjalanan hidup pasien. berita buruk mungkin membutuhkan beberapa

waktu untuk disampaikan kepada pasien (misalnya pada saat penyampaian

diagnosis, kegagalan terapi dan komplikasi). Pada penyakit yang bersifat

jangka panjang, tiap individu membutuhkan dukungan untuk menyuarakan

pemikirannya tentang masa depan sehingga mereka mulai dapat membuat

rencana untuk mewujudkannya.

3. Terapi paliatif dengan modifikasi penyakit

Terapi modifikasi penyakit dapat sangat membantu untuk mengatasi

(5)

Pada keganasan stadium lanjut, kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal

dan pembedahan seluruhnya dapat sesuai dibawah beberapa kondisi. Hal

ini penting ketika mempertimbangkan seperti terapi paliatif untuk

menyeimbangkan keuntungan potensial dengan efek samping. Pada pasien

dengan hemoptisis dari kanker paru, radioterapi atau laser brakiterapi dapat

menawarkan keringanan gejala yang terbaik dan mungkin dapat

dipertimbangkan meskipun di individu yang lemah. Pembedahan juga

seharusnya dipertimbangkan. Sebagai contoh pada pasien dengan fraktur

panggul patologis ia mungkin tidak dapat membungkuk untuk dilakukan

blok anestesi regional, fiksasi pembedahan menjadi kesempatan terbaik

untuk mengendalikan nyeri. Pasien dengan gagal ginjal kronis stadium

akhir yang telah menerima bahwa mereka menjelang kematian dapat

memilih untuk memperpanjang kehidupan dengan pergi ke rumah sakit

beberapa kali dalam seminggu untuk hemodialisis dalam rangka mencegah

gejala yang tidak diinginkan.

4. Terapi simptomatis

Dalam banyak kasus, pengobatan penyakit mendasar tidaklah mungkin atau tidak dapat dikontrol sendiri gejalanya. Terapi simptomatis kemudian dibutuhkan. Terapi ini dapat berupa :

a. Farmakologis

(6)

Penyebab Bentuk Lokasi

erosif gaster stasis cairandalam jumlah besar,

, domperidone Muncul padapasien dengan kanker

1) Tehnik relaksasi untuk serangan sesak napas

2) Posisi saat tidur untuk mengurangi sekresi dahak yang tertahan 3) Modifikasi diet pada disfagia

(7)

6) Penggunaan transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS) untuk nyeri

c. Kombinasi dari keduanya

Kontrol gejala akan sering membutuhkan terapi obat, yang mana

semestinya disesuaikan terhadap penyebab dari gejala. Terdapat beberapa

prinsip dasar bahwa seharusnya memandu seluruh pengresepan untuk

gejala-gejala di pasien dengan penyakit stadium lanjut :

1) Beberapa gejala yang menetap membutuhkan terapi secara teratur, lebih

dari yang dibutuhkan agar mencegah munculnya gejala.

2) Tiap obat baru seharusnya memiliki manfaat yang lebih besar

dibandingkan dengan besarnya potensi efek samping yang dimilikinya

(sesuai dengan kondisi pasien)

3) Harus diupayakan untuk membatasi jumlah penggunaan obat-obatan

untuk meningkatkan kepatuhan.

4) Obat-obatan yang sekiranya kurang bermanfaat dalam jangka pendek

(misalnya, statin) sebaiknya dihentikan.

5) Jika pasien mengeluh mual dan muntah, perlu dipikirkan rute

pemberian obat yang lain.

6) Mengidentifikasi penyebab untuk gejala-gejala tertentu sehingga dapat

diberikan terapi simtomatik yang spesifik.

DAFTAR PUSTAKA

Addington-Hall, J., Fakhoury, W. & McCarthy, M. 2008. Specialist Palliative

(8)

British Medical Association. 2009. Withholding And Withdrawing Life

Prolonging Medical Treatment. Br Med J. London.

National Council Of Hospices And Specialist Palliative Care Services. 2005.

Specialist Palliative Care : A Statement Of Definition. 8-21.

The SUPPORT Principle Investigators. 2005. A Controlled Trial To Improve

Care For Seriously ill Hospitalized Patients. J Am Med Assoc., 274:

Referensi

Dokumen terkait

Menurut hasil wawancara dengan salah satu guru Sekolah Dasar yang menerapkan kurikulum 2013, kenyataan di lapangan, meskipun kurikulum yang digunakan di SD sekarang

) mestinya berprinsip pada Gusjigang yakni dengan budipekerti yang baik (masalah moralitas, ahklak), kemudian dengan didasari ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh da‟I yang

Harta kekayaan perusahaan, zakat profesi, dan kepemilikan saham tidak luput menjadi objek harta kena zakat, hal ini didiskusikan dan diputuskan pada Muktamar ke-3 yang

Pada motor tanpa kertas isolasi fasa atau penguatan isolasi lainnya yang sesuai untuk pengoperasian dengan catu tegangan (seperti konverter frekuensi), lebih cocok menggunakan LC

30 Inventarisasi Batubara Bersistem Di Daerah Senyiur Dan Sekitarnya, Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur (Lembar Peta 1816 – 24) 31

Pernyataan dari Dominico (1977), perbandingan kecepatan-tekanan dan kecepatan-kedalaman bergantung pada kenaikan kecepatan gelombang kompres termasuk kedalaman sedimen

Indeks  Dow  Jones  melemah  pada  perdagangan  hari  Kamis  (17/7)  kemarin.  Investor  melakukan  aksi  jual  di  pasar  saham  dan  memilih  instrumen 

– monoterapi lebih baik  mengurangi potensi adverse effect , meningkatkan kepatuhan pasien, tidak terbukti bahwa politerapi lebih baik dari monoterapi dan biasanya kurang