LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
KERTAS KARYA ACUAN (KKA)
BS: SOSIAL BUDAYA
MENINGKATKAN TOLERANSI KEAGAMAAN UNTUK MENANGGULANGI TERORISME DALAM RANGKA KETAHANAN NASIONAL
Oleh :
ANANG SUTONO
Nomor Peserta 09 /Kelompok A
PROGRAM PENDIDIKAN SINGKAT ANGKATAN (PPSA-XXI) LEMHANNAS RI
1. LATAR BELAKANG a. Analisis Judul
Merujuk pada judul “Meningkatkan Toleransi Keagamaan Untuk Menanggulangi Terorisme Dalam Rangka Ketahanan Nasional ” maka dapat diketahui bahwa terdapat tiga variable mendasar yaitu sebagai berikut: 1) Toleransi keagamaan 2) Terorisme 3) Ketahanan Nasional. Ketiga variabel tersebut memiliki interkoneksi yang sangat erat antara satu dengan yang lain.
b. Pokok Masalah
Dinamika perubahan nilai-nilai sosial yang menjadi salah satu landasan hidup toleransi dalam agama telah terdegradasi. Powel dan Clarke (2010) menyampaikan intoleransi agama dapat memprovokasi kerusuhan sipil dan menyebabkan kekerasan bahkan perang antara kelompok agama yang bersaing.
berkembang dan disusupi oleh aksi terorisme. SIM dapat difungsikan untuk mengembalikan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai yang berakar pada budaya keanekaragaman yang ditanamkan oleh pendiri bangsa.
2. FAKTA-FAKTA
Persolan intoleransi yang berkembang dan disusupi oleh terorisme merupakan persoalan yang melibatkan sistem pendidikan dan struktur. Hal ini dapat dilihat dari lemahnya kemampuan sistem pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan yang kontekstual yang terkait dengan masalah-masalah intoleransi agama yang telah menyebabkan kerusakan dan mengancam ketahanan. Intoleransi keagamaan disusupi oleh terorisme berkedok agama. Dobbernack et al (2013) menyampaikan bahwa Toleransi dan toleransi mengandung banyak aspek.
Pada saat yang sama SIM belum optimal guna menghalau informasi yang menyebabkan terjadinya intoleransi keagamaan. Sumber-sumber informasi tidak terdeteksi dan sulit dijangkau oleh hukum. Informasi yang menyebabkan intoleransi dan pada akhirnya disusupi terosrisme tidak diantisipasi dengan sistem hukum yang tegas. Faktanya penegakan hukum untuk mengantisipasi terjadinya intoleransi keagamaan dan berkembangnya bibit terorisme akibat derasnya informasi masih lemah. Aparat keamanan tidak mampu bergerak guna penegakan hukum akibat lemahnya sistem hukum, SDM maupun anggaran untuk menegakan hukum.
Belum optimalnya kerjasama Regional dan International menambah rumitnye persoalan penyebaran informasi yang menyebabkan intoleransi keagamanaan. Akar budaya yang ditanamkan oleh para pendidi bangsa seperti terabut dari akarnya. Masyarakat seperti tidak mengenal identitas keanekaragaman dalkam beragama. Negara telah menetapkan agama yang diakui. Pemimpin seperti kehilangan identitas sebagai salah satu penjaga nilai budaya toleransi yang ditanamkan oleh para pendiri bangsa. Ancaman terhadap ketahanan nasional akibat intoleransi yang disusupi terorisme semakin nyata.
Menanggulangi Terorisme Dalam Rangka Ketahanan Nasional
Intoleransi berkembang akibat lemahnya sistem pendidikan. Carson (2012) menyampaikan tampaknya berbicara intioleransi dalam toleransi bagi sebagian oprang tidak masuk akal. Penyelenggaraan pendidikan belum memperhatikan dinamika lingkungan serta perubahan sosial yang ada di masyarakat. Perancangan sistem pendidikan belum memiliki relevansi dengan perubahan sosial termasuk intoleransi keagamaan yang berkembang saat ini. Pendidikan sebagai sistem belum sepenuhnya mampu memperkuat toleransi dalam dimensi yang menyeluruh yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Perancangan sistem pendidikan kontekstual dengan intolernasi masih terbatas.
b. LAW enforcement.
c. Kemitraan Regional dan Internasional
Kemitraan yang lemah baik secara regional maupun internasional yang terbatas menyebabkan berkembangnya informasi yang menimbulkan intoleransi. Kemitraan belum mampu memperkuat penyediaan sumber daya dalam rangka integrasi SIM ke dalam kehidupan masyarakat. Kemitraan masih bersifat simbolik dan belum mampu mentransformasikan struktur masyarakat guna mengantisipasi berkembangnya intoleransi keagamaan dan terorisme.
4. POKOK-POKOK PEMECAHAN MASALAH
Pemecahan masalah bersumber dari hasil identifikasi masalah pokok yang dihadapi. Pemecahan masalah yaitu:
a. Tata Kelola Sistem Pendidikan Kontekstual .
Pendidikan sebagai sistem untuk mengarahkan masyarakat pada kesadaran informasi dan melek TIK harus disusun berdasarkan dinamika perubahan masyarakat tanpa meninggalkan akar budaya toleransi. Sistem pendidikan merespon perubahan yang menyebabkan intoleransi dan terorisme dengan cara menyediakan pendidikan kontekstual. Tugas pendidikan adalah menciptakan ruang dan kesempatan agar masyarakat terlibat dalam upaya meningkatkan toleransi dan menghambat berkembangnya sel-sel terorisme
b. Law enforcement yang mendorong pada literacy TIK
Struktur mempengaruhi bagaimana arah perubahan. memperkuat dan mendorong agar sistem dan struktur penegakan hukum merupakan pilihan guna mengoptimalkan fungsi SIM guna meminimalisisr intoleransi dan menghambat berkembangnya sel-sel terorisme dengan struktur dan sistem hukum yang secara fundamental lebih baik. Penegakan hukum mempengaruhi toleransi di masyarakat.
c. Kemitraan regional dan Internasional .
masyarakat, Kemitraan difungsikan untuk meningkatkan kekuatan informasi guna mendukung toleransi dan nilai plural dalam masyarakat. Linda (2001) kemitraan karena adanya nilai, manfaat, cara yang digunakan untuk menguasai hak-hak atas sumber daya yang dapat mendorong meningkatnya pemenuhan kebutuhan. Yanhan (2012) kemitraan melibatkan pertukaran, sumber daya, struktur dan proses
LAMPIRAN Daftar pustaka
Anderson.,J (2010) ICT Transforming Education A Regional Guide UNESCO Bangkok. Bangkok.Unesco
Carson.,D.,A (2013) Tolerance in tolerance. Cambridge: William B.Eerdmans Publishing Company
Dobbernack et al (2013). Tolerance, intolerance and respect: hard to accept?Ethnic and Racial Studies (Vol. 38)
Linda, M. D., Peterson, G., dan Takahashi, N. (2001). The value of exchange. Scholarly Journals, 80 (1), hlm. 159-184.
Powell, R., & Clarke, S. (2013). Religion, Tolerance, and Intolerance: Views from Across the Disciplines. Religion, Intolerance, and Conflict: A …, 1–36.
REVITALISASI EKONOMI BERBASIS KONSTITUSI UUD NRI 1945 GUNA MENGATASI KETIMPANGAN DALAM RANGKA PERTAHANAN NASIONAL