ANALISIS LAJU INFLASI DAN MONEY SUPPLY TERHADAP DEFISIT
APBN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI
Alfiah Kusumaningrum
Mahasiswi Diploma IV Akuntansi Kurikulum Khusus STAN Tahun 2014 Kelas 7C / 03
Abstract
Deficit budgeting is one of Indonesia’s budgeting policy since years ago. There are many theories saying about deficit budgeting and its impact to macroeconomic indicators. Three of theories are the pump-priming theory, ricardian equivalence theory, and the clasic economy theory. The study indicate that deficit budgeting has significant impact to economic growt and inflation while the
other study said there are no significant impact between deficit budget, economic growth, and inflation.
This paper made to analyze wheter it has serious impact or not based on macroeconomic indicator such as economic growt, inflation, and money supply.
Keywords: deficit budgeting, money supply, economic growth, deficit to GDP
PENDAHULUAN
Defisit APBN bukanlah hal baru lagi dan kini tidak bisa dihindari lagi kejadiannya. Setiap tahunnya sistem APBN Indonesia disususn dengan konsep anggaran defisit.
Ada tiga macam Kebijakan Anggaran/ Politik Anggaran, yaitu :
1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif. Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.
2. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif.Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.
3. Anggaran Berimbang (Balanced Budget). Anggaran berimbang terjadi ketika
pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.
Defisit anggaran belanja pemerintah pada masa pemerintahan Orde Baru ditutupi dengan utang luar negeri yang dicatat dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai Penerimaan Pembangunan. Namun sejak tahun 2000 defisit anggaran pemerintah ditutupi dengan pinjaman dari dalam negeri dan dari luar negeri.
Berdasar Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2003, defisit anggaran pemerintah adalah selisih kurang antara pendapatan negara dan belanja negara dalam tahun anggaran yang sama. Anggaran pemerintah dapat defisit tidak melebihi 3% dari produksi domestik bruto (PDB).
Teori 1 : Pump-priming theory
Pump-priming theory menyatakan bahwa defisit anggaran pemerintah diperlukan untuk mendorong kegiatan ekonomi nasional agar perekonomian terhindar dari kondisi resesi yang berkepanjangan. Abimanyu (2005) berpendapat defisit anggaran pemerintah merupakan stimulus fiskal yang bersifat ekspansif. Kebijakan fiskal ekspansif diperlukan apabila perekonomian pada kondisi lesu, yang ditandai dengan menurunnya investasi swasta. Pada kondisi inilah peranan pemerintah sangat diperlukan sebagai stimulator ekonomi..
Teori 2 : Richardian Equivalence Ricardian Equivalence Hypothesis (REH) berpendapat bahwa beberapa kebijakan pemerintah tidak akan membawa pengaruh yang penting bagi perekonomian. Penelitian secara empiris dilakukan oleh Adji (1995) yang dikutip dalam Maryatmo (2004) menggunakan data perekonomian Indonesia tahun 1971-1992 menyimpulkan bahwa utang pemerintah tidak berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat. Saleh (2002) melakukan penelitian tentang pengaruh defisit anggaran pemerintah terhadap perekonomian Indonesia menggunakan data tahun 1969-1997 menyimpulkan bahwa defsit anggaran pemerintah yang dibiayai dengan utang luar negeri tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumahtangga.
Teori 3 : Teori Ekonom Klasik
Menurut pandangan ekonom Klasik, dalam perekonomian berada pada kondisi full employment, kebijakan defisit anggaran pemerintah yang bersifat permanen akan mengganggu investasi sektor swasta (crowding out). Kunarjo (2001) menguraikan dampak negatif kebijakan defisit anggaran pemerintah bagi perekonomian. Dampak negatif ini dapat dilihat dari pengaruhnya terhadap indikator ekonomi makro utama, yaitu pertumbuhan ekononi, laju inflasi, dan pengangguran. Defisit yang terjadi pada anggaran pemerintah berarti pemerintah melakukan kebijakan fiskal yang bersifat
ekspansif. Pengeluaran pemerintah yang terjadi saat ini untuk membiayai proyek yang menggunakan daya sangat besar, misalnya permintaan masyarakat kerhadap output meningkat. Kenaikan permintaan output tidak diimbangi dengan kenaikan penawaran akibat adanya “waktu” antara pengeluaran pemerintah untuk proyek dengan output proyek tersebut mengakibatkan harga-harga naik.
Berdasarkan ketiga teori di atas, penulis cenderung untuk menguji teori yang ketga bahwa defisit anggara berdampak negatif terhadap perekonomian ditinjau dari indikator maktor ekonomi yaitu laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kedua indikator ini adalah input data yang akan penulis gunakan untuk menguji teori tersebut.
Teori tentang uang beredar dan Inflasi Jenis uang beredar beragam sesuai didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik yang terdiri dari uang kartal (C) dan uang giral (D).
Dalam penelitian ini, penulis memakai data uang beredar dalam arti luas, yaitu M2.
Logika Berpikir
Untuk membiayai defisit pemerintah, salah satu upaya yang diambil oleh pemerintah salah satunya adalah dengan menciptakan uang, meminjam dari publik atau mengurangi cadangan devisa. Penulis memakai point menciptakan uang sebagai salah satu kebijakan defisit anggaran pemerintah.
Multiplier effect akan muncul seiring dengan kenaikan jumlah uang beredar (M2) di masyarakat, salah satunya adalah inflasi. Secara teori, dengan meningkatnya jumlah uang beredar maka inflasi tentu saja akan naik dari tahun ke tahun.
Pada bahasan kali ini penulis akan menganalisis hubungan antara kebijakan menciptakan uang beredar (M2) dan tingkat inflasi sebagai akibat dari defisit primer atau defisit APBN dan efeknya terhadap pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Berdasarkan tiga teori tersebut, penulis melakukan penelitian dengan mengambil indikator-indikator, yaitu pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, dan jumlah uang beredar.
Model regresi yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan replikasi dari model regresi yang digunakan oleh Eisner (1989) berjudul: Budget Deficit: Rhetoric and Reality, yaitu:
DGNPDEFt=b01X1+b02X2+b1DGNPDEFt-1+b2ut+ b3PAHESt−1+εt
DGNPDEFt adalah pertumbuhan ekonomi tahun t, DGNPDEFt-1 adalah pertumbuhan ekonomi tahun t-1, u adalah tingkat pengangguran tahun t, dan PAHES adalah defisit anggaran pemerintah tahun t sebagai persentase dari Gross National Product (GNP) pada tahun t.
Model untuk menganalisis pengaruh defisit anggaran belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi adalah
grwt=g1D1+g2D2+g3grwt-1+g4def+g5deft−1+εt
PEMBAHASAN
Berikut adalah tabel data input defisit anggaran dan inflasi Indonesia sejak tahun 1986 sampai dengan tahun 2014 :
inflasi % deficit to GDP
Ec. Growth
M2
1986 8.83 5.3 5.8 27661
1987 8.9 4.3 4.9 33885
1988 5.47 6.6 5.7 41998
1989 5.97 4.6 7.4 58705
1990 9.53 2.5 7.2 86430
1991 9.52 3.8 7.2 99059
1992 4.94 4.1 6.2 119053
1993 9.77 3.8 6.4 145599
1994 9.24 2.2 7.5 174512
1995 8.64 1.4 8.2 223200
1996 6.47 1.9 7.8 288632
1997 11.05 3.7 4.6 355643
1998 77.63 12 -13.1 577381
1999 2.01 4 0.8 646205
2000 9.35 1.2 4.9 747028
2001 12.55 2.5 3.8 844053
2002 10.03 1.3 4.3 883908
2003 5.06 1.7 4.8 955692
2004 6.4 1.3 4.7 1033877
2005 17.11 0.4 5.8 1202762
2006 6.6 1.2 5.5 1382493
2007 6.59 1.5 6.3 1649662
2008 11.06 1.2 6.03 1895839
2009 6.2 1.58 4.5 2141384
2010 6.96 0.73 6.1 2471206
2011 3.8 1.14 6.5 2677787
2012 4.3 2.23 6.23 3307508
2013 8.4 2.38 5.78 3730197
Hasil regresi :
Regresi StandardError t Statistic D1
grw(-1) 0.673 0.137 4.897***
Def -3.941 0.590 -6.682**
* def(-1) 3.672 0.711 5.163***
Adj. R2 0.795
D-W 2.645
***Signifikan pada α = 1%
Pembahasan
Defisit anggaran tidak mempengaruhi laju inflasi. Defisit anggaran bersifat netral terhadap inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa defisit anggaran pemerintah akan direspon oleh antisipatif. Pemerintah cenderung menerbitkan surat utang untuk menangani defisit anggaran. Dan meskipun secara tahun ke tahun jumlah uang beredar (M2) meningkat. Hal ini tidak mencerminkan atau tidak memberikan korelasi langsung terhadap laju inflasi ataupun pertumbuhan ekonomi
Pergerakan defisit anggaran
pemerintah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun tidak searah. Ketika defisit turun, pertumbuhan ekonomi naik. Hal ini sesuai dengan Ricardian Equivalence bahwa laju inflasi bukan dipengaruhi oleh money supply (m2) dan defisit anggaran.
Berdasarkan hasil dari perhitungan regresi di atas menunjukkan bahwa defisit anggaran berpegaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun yang bersangkutan. Hasil penelitian ini mendukung
Ricardian Equivalence Hypothesis bahwa defisit anggaran tidak berdampak pada pertumbuhan ekonommi. Hal ini disebabkan adanya aspek asa nalar (rational expectation) dari masyarakat terhadap kebijakan.
Menurut Ricardian, konsumen mendasarkan pengeluarannya tidak hanya berdasarkan pendapat saat ini tetapi juga pada pendapatan seumur hidupnya yang meliputi pendapatan sekarang dan pendapatan yang diiharapkan di masa yang akan datang.
Salah satu efek dari kebijakan defisit anggaran adalah timbulnya inflasi. Dornbusch dan Reynoso dalam Hossain dan Chowdhury (1998) membuktikan bahwa inflasi di negara ekonomi berkembang menunjukkan interaksi dengan empat faktor.
1. Pembiayaan defisit, yang memengaruhi pertumbuhan money supply
2. Institusi keuangan, yang menetapkan permintaan uang
3. Shock pada anggaran pemerintah, dan 4. Kemampuan untuk bertindak terhadap perekonomian Indonesia, yaitu bahwa defisit anggaran tidak berkorelasi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi,
Defisit anggaran juga tidak secara langsung mempengaruhi inflasi serta money suppy dari pemerintah (dalam hal ini Bank Indonesia). Inflasi yang terjadi di Indonesia lebih disebabkan oleh indikator moneter lain yang berhubungan dengan sektor riil seperti harga pangan yang bergejolak terutama untuk volatile foods. Adapun pengaruh inflasi dari defisit anggaran adalah bersifat acak dan tidak signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
Data Uang Primer tahun 1986 s.d. 2014, Bank Indonesia
Data Inflasi, BPS
Data Pertumbuhan Ekonomi, BPS dan Bank Indonesia
Defisit Anggaran, Pertumbuhan Uang Dan Inflasi Di Indonesia; Andrian, Nanang; 2011