• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KOMPARASI USAHATANI PADI SAWAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KOMPARASI USAHATANI PADI SAWAH"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KOMPARASI USAHATANI PADI SAWAH MELALUI SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO DENGAN SISTEM TANAM NON JAJAR LEGOWO (Studi Kasus: Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun)

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Sains

Pada Program Studi Agribisnis Program Pasca Sarjana

Universitas Jambi

HERMAN FIRDAUS

NIM P2D116007

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

PROGRAM PASCA SARJANA

(2)
(3)

DAFTAR ISI

2.1 Pengaruh tehnologi Tanam Jajar Legowo Terhadap Produksi ... 6

2.2 Usaha Tani ... 8

2.4 Pengertian Produktivitas ... 14

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia.

Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi sekitar 21

juta rumah tangga pertanian. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat

strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi

Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika campur tangan pemerintah Indonesia

(5)

(terutama beras) dengan harga yang terjangkau telah menjadi tujuan utama kebijakan

pembangunan pertanian.

Untuk mencapai target atau sasaran tesebut maka diluncurkan Program Peningkatan

Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan mengimplementasikan 4 (empat) strategi program

yaitu: 1. Peningkatan produktivitas; antara lain dengan menggunakan bibit varietas yang

bermutu, 2. Perluasan areal tanam diutamakan pada wilayah yang pernah menjadi sentra

produksi padi, 3. Pengamanan produksi; dengan memberikan bantuan sarana pascapanen, dan 4. Kelembagaan dan pembiayaan serta peningkatan koordinasi; dengan menguatkan peran

gabungan kelompok yani dan kemitraan (Badan Litbang Pertanian, 2007; Purwanto, 2008).

Kekurangan pangan bisa menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang

dapat menggoyahkan stabilitas nasional. Dilain pihak terjadi penurunan lahan sawah akibat alih

fungsi untuk kepentingan non pertanian, dan produksi sawah irigasi cenderung menurun. Dalam

upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah

dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak

mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi ini adalah

penerapan sistem tanam jajar yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal

dengan “Sistem Tanam Jajar Legowo”.

Melihat berbagai masalah yang mempengaruhi laju pertumbuhan produksi padi maka

Kementrian Pertanian melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan laju pertumbuhan

produksi padi. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan meningkatkan teknologi pada

sistem pertanian yang ada saat ini. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu teknologi

penanaman padi berupa rekayasa teknik tanam dengan menempatkan semua baris tanaman

berada di pinggir barisan, sehingga tanaman memperoleh cahaya matahari dan sirkulasi udara

(6)

penerapan teknologi ini yaitu untuk meningkatkan jumlah populasi padi yang ditanam sehingga

produksi padi meningkat.

Penanaman padi dengan system jajar legowo ternyata dapat meningkatkan produktifitas

padi. Cara tanam padi jajar legowo merupakan salah satu teknik penanaman padi yang dapat

menghasilkan produksi yang cukup tinggi serta memberikan kemudahan dalam aplikasi pupuk

dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Sistem tanam jajar legowo juga merupakan

suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah

tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Selain itu sistem tanam jajar

legowo juga meningkatkan jumlah populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam.

Penerapan sistem tanam jajar legowo akan memberikan hasil maksimal dengan

memperhatikan arah barisan tanaman dan arah datangnya sinar matahari. Lajur barisan tanaman

dibuat menghadap arah matahari terbit agar seluruh barisan tanaman pinggir dapat memperoleh

intensitas sinar matahari yang optimum dengan demikian tidak ada barisan tanaman terutama

tanaman pinggir yang terhalangi oleh tanaman lain dalam mendapatkan sinar matahari.

Untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena masih banyak petani yang

belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya. Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih

banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan

jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo

akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya,

dengan penggunaan sistem tanam jajar legowo terbukti dapat meningkatkan nilai produksi

dikarenakan rumpun padi yang berada pada barisan pinggir hasilnya lebih besar dibandingkan

produksi rumpun padi yang berada di bagian dalam dikarenakan tujuan dari cara tanam jajar

legowo adalah memanfaatkan radiasi surya bagi tanaman pinggir, tanaman relatif aman dari

serangan tikus karena lahan lebih terbuka, menekan serangan penyakit karena rendahnya

(7)

30%, pemupukan lebih efisien, pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah dilakukan

dari pada cara tanam non jajar legowo.

Berdasarkan penjelasan – penjelasan diatas maka penulis tertarik untuk mengambil judul

“ Analisis komparasi usaha tani padi sawah melalaui sistem tanam jajar legowo dengan sistem

tanam non jajar legowo di Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun

Provinsi Jambi.

1.2 Rumusan Masalah

Kabupaten Sarolangun merupakan salah satu Kabupaten yang melakukan upaya-upaya

untuk meningkatkan laju pertumbuhan produksi padi. Hal tersebut dikarenakan produksi padi di

Kabupaten Sarolangun memiliki laju pertumbuhan yang menurun, Salah satu upaya yang

dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Sarolangun yaitu dengan melakukan program penerapan

teknologi sistem tanam jajar legowo disetiap desa salah satu desa yang berpotensi lahan sawah

adalah Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun dengan dilakukannya

program ini maka diharapkan produktivitas padi di Kabupaten Sarolangun akan meningkat.

Menurut Diratmaja,et al(2001), penggunaan teknologi cara tanam jajar legowo

memberikan dampak besar terhadap kenaikan hasil padi persatuan hektar yang cukup besar yaitu

1,01 ton/ha GKP (17,56 persen) dibandingankan dengan cara tanam non jajar legowo. Hal

tersebut menunjukan bahwa cara tanam jajar legowo lebih menguntungkan dibandingkan dengan

cara tanam non jajar legowo.

Daerah Desa Pasar Pelawan merupakan salah satu daerah dengan lahan subur, pada saat

ini pemerintah Kabupaten Sarolangun mulai mengembangkan program penerapan sistem tanam

jajar legowo di daerah ini. Petani di daerah ini mulanya menolak sistem penanaman ini karena

ragu dan belum berpengalaman dalam melakukan usahatani padi sistem tanam jajar legowo.

(8)

mulai melakukan penanaman dengan menggunakan sistem penanaman jajar legowo, namun

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang hendak dibahas dalam penelitian ini

dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah sistem tanam jajar legowo ini mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani dibandingkan dengan sistem tanam non jajar legowo?

2. Apakah ada perbedaan produktivitas dan pendapatan petani yang menggunakan sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo?

3. Apakah ada perbedaan pendapatan luas lahan strata I (< 1Ha) dengan strata II ( ≥ 1Ha) pada sistem tanam jajar legowo, luas lahan strata I (< 1Ha) dengan strata II ( ≥ 1Ha) pada sistem tanam non jajar legowo; strata I (< 1Ha) pada sistem tanam jajar legowo dengan strata I (< 1Ha) pada sistem tanam non jajar legowo dan strata II ( ≥ 1Ha) pada sistem tanam jajar legowo dengan strata II ( ≥ 1Ha) pada sistem tanam non jajar legowo?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis apakah sistem tanam jajar legowo mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani di daerah penelitian.

2. Menganalisis perbedaan produktivitas dan pendapatan di daerah penelitian.

3. Menganalisis perbedaan pendapatan petani berdasarkan strata luas lahan pada sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo di daerah penelitian.

1.4 Manfaat Penelitian

(9)

1. Petani di Desa Pasar Pelawan, sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan dalam

meningkatkan produksi padi menggunakan sistem tanam jajar legowo.

2. Pemerintah daerah setempat, digunakan sebagai bahan masukan dalam menetapkan kebijakan

dalam mengembangkan produksi padi menggunkan sistem jajar legowo.

3. Penulis, digunakan sebagai sarana latihan penerapan ilmu dan teori yang telah didapat selama

masa perkuliahan serta menambah pengalaman agar dapat diterapkan di tengah masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengaruh Teknologi Sistem Tanam Jajar Legowo Terhadap Produksi

Legowo menurut bahasa Jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo”

yang berarti panjang. Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi

dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem ini juga memanipulasi lokasi tanaman

sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak.

Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi

dan kualitas gabah yang lebih baik, hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan

(10)

Pada sistem jajar legowo dua baris semua rumpun padi berada di barisan pinggir dari

pertanaman. Akibatnya semua rumpun padi tersebut memperoleh manfaat dari pengaruh pinggir

(border effect). Pada rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih

tinggi dari produksi pada yang berada di bagian dalam. Disamping itu sistem Legowo yang

memberikan ruang yang luas (lorong) sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan

atau minapadi legowo (Permana, 1995).

Ada beberapa tipe cara tanam sistem jajar legowo yang secara umum dapat dilakukan

yaitu ; tipe legowo (2 : 1), (3 : 1), (4 : 1), (5 : 1), (6 : 1) dan tipe lainnya yang sudah ada serta

telah diaplikasikan oleh sebagian masyarakat petani di Indonesia. Tipe sistem tanam jajar legowo

terbaik dalam memberikan hasil produksi gabah tinggi adalah tipe jajar legowo (4:1) sedangkan

dari tipe jajar legowo (2 : 1) dapat diterapkan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih

(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2010).

Selain faktor luas lahan, faktor produk-tivitas lahan merupakan hal yang urgen untuk saat

ini, saat ini sangat jarang dijumpai lahan dengan produktivitas tinggi, yang ada hanya lahan

dengan produk-tivitas rendah. Rendahnya produktivas lahan saat ini disebabkan oleh beberapa

hal, seperti penggunaan pupuk urea yang kontinu yang berdampak pada rusaknya struktur tanah

dan kurangnya input bahan organik. Produktivitas lahan atau tanah merupakan gambaran

kemampuan tanah berdasakan pada pertimbangan ekonomis dan bukan hanya pada sifat tanah

semata. Tanah produktif harus mempunyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan

tanaman, walaupun tanah subur tidak selalu berarti produktif.

Tanah yang subur akan produktif jika dikelola dengan tepat, menggunakan teknik

pengelolaan dan jenis tanaman yang sesuai Secara umum, jarak tanam yang dipakai adalah 20

cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 cm atau 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang

(11)

Menurut Soeharsono (1989), menyatakan bahwa usaha tani yang bagus sebagai usahatani

yang produktif dan efisien yang sudah sering dibicarakan sehari-hari. Usahatani yang produktif

berarti usahatani yang produktivitasnya tinggi. Maksud dari produktivitas ini sebenarnya

merupakan penggabungan antara konsepsi efisiensi usaha (fisik) dengan kapasitas tanah.

Efisiensi fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh dari satu

kesatuan (input).

Sedangkan kapasitas dari sebidang tanah tertentu menggambarkan kemampuan tanah itu

untuk menyerap tenaga dan modal sehingga memberikan hasil produksi bruto yang

sebesar-besarnya pada tingkatan teknologi tertentu. Oleh karena itu, secara teknis produktivitas

merupakan perkalian antara efisiensi (usaha) dan kapasitas (tanah).

Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu teknologi dalam meningkatkan

produktivitas padi yang dihasilkan. Menurut Lalla et al.(2012) menyatakan bahwa peningkatan

produktivitas dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo disebabkan oleh adanya ruang

antar tanaman, sehingga semua tanaman memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan

sinar matahari.

2.2 Usahatani

Menurut Muhammad Firdaus (2009), Usahatani merupakan organisasi dari alam (lahan), tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi tersebut ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai pengelolanya.

Menurut Rahim dan Hastuti (2007), usahatani adalah ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, teknologi, pupuk, benih, pestisida) dengan efektif, efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatan usahataninya meningkat.

(12)

maksimal tentu saja bukan hanya dilihat dari segi jumlah produk yang di produksi namun juga dari harga jual dari produk tersebut. Dan tentu saja dengan menekan total biaya maka keuntungan yang diharapkan bisa tercapai.

Usahatani (farm) adalah organisasi dari alam (lahan), tenaga kerja, dan modal yang

ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian, organisasi tersebut ketatalaksanaanya berdiri sendiri dan sengaja diusahankan oleh seseorang atau sesekumpulan orang sebgai pengelolahanya

Dalam setiap usahatani tentu saja memerlukan faktor-faktor produksi karena tanpa adanya faktor produksi tentu saja kegiatan usahatani tidak dapat berjalan. Faktor-faktor produksi tersebut berupa:

Dengan istilah usahatani diatas telah mencakup pengertian yang luas, dari bentuk yang paling sederhana sampai yang paling moderen.

2.2.1 Lahan

Lahan merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung suatu proses produksi dalam usaha pertanian. Dari luas lahan, tingkat kesuburan tanah merupakan salah satu unsur pokok yang dibutuhkan dalam suatu lahan pertanian.

Semakin luas suatu lahan yang dimiliki oleh seorang petani maka akan semakin banyak Q yang akan dihasilkan oleh petani tersebut. Namun, semakin kecil suatu lahan maka akan semakin sedikit Q yang akan dihasilkan oleh petani tersebut. Menurut Suratiyah (2006), sifat, letak dan tingkat kesuburan tanah merupakan faktor-faktor tanah yang juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses produksi suatu usahatani.

(13)

Dalam hal ini yang dimaksud adalah tenaga kerja. Menurut Tohir dalam Gracia (2008) tenaga kerja dalam usahatani memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan tenaga kerja dalam usaha di bidang lain yang bukan pertanian. Karakteristik itu berupa:

1. Keperluan terhadap tenaga kerja dalam usahatani tidak kontinyu dan tidak merata.

2. Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani sangat terbatas.

3. Tidak mudah distandarkan, dirasionalkan dan dispesialisasikan.

4. Beraneka ragam coraknya dan kadangkala tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Tenaga kerja dalam suatu usahatani kebanyakan berasal dari keluarga petani itu sendiri. Namun, sering juga mereka menggunakan tenaga kerja luar dimana untuk menggaji mereka menggunakan istilah HOK. Dalam hal tenaga kerja keluarga sering dinyatakan bahwa orang yang bekerja itu tidak perlu dihitung biayanya padahal seharusnya meskipun menggunakan tenaga mereka sendiri ataupun menggunakan tenaga anggota keluarga mereka sendiri namun itu harus tetap dihitung.

2.2.3 Modal

1. Modal Abstrak – Konkrit

Modal abstrak atau capital value suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu adalah relatif

permanen, sedangkan modal konkrit atau capital goods mengalami perubahan atau pergantian.

2. Modal Aktif – Pasif

Modal aktif adalah modal yang tertera disebelah debet dari neraca yang menggambarkan bentuk– bentuk dimana seluruh dana yang diperoleh perusahaan diutamakan. Sedangkan modal pasif adalah modal yang tertera disebelah kredit dari neraca yang menggambarkan sumber-sumber dimana dana yang diperoleh.

(http://www.sarjanaku.com/2012/12/pengertian-modal-menurut-para-ahli.html)

2.2.4 Manajemen

(14)

Menurut George R. Terry dalam Firdaus M. (2009), dikatakan bahwa manajemen adalah sebuah proses yang khas, yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, dan pengawasan yang dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan dengan bantuan manusia dan sumber-sumber daya lainnya.

Menurut James A.F Stoner mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengorganisasian dan pengawasan anggota organisasi dan proses penggunaan semua sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Data 2 (dua) pengemuka diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa manajemen merupakan sebuah proses yang didalamnya terdapat beberapa faktor penting yaitu berupa; perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pengawasan dimana hal ini dilakukan untuk dapat mencapi tujuan dari organisasi tersebut.

Menurut Suratiyah dalam Gracia (2008), petani sebagai pengelola dan sekaligus manajer dalam usahatani melakukan beberapa aktivitas manajerial seperti:

1. Aktivitas teknis

Aktivitas ini meliputi keputusan petani sebagai pengelola usahatani tersebut mengenai jenis tanaman apa yang akan diproduksi, jumlah skala usaha, teknologi yang digunakan dan tingkat penggunaan lahan.

2. Aktivitas komersial

Aktivitas ini meliputi perhitungan-perhitungan penggunaan faktor produksi yang dibutuhkan, sumber input yang akan digunakan, tempat pemasaran hasil produksi, keputusan-keputusan yang diambil baik dari segi penggunaan kombinasi input-input pertanian maupun kombinasi cabang usahatani.

Aktivitas ini merupakan aktivitas pembuatan catatan atau laporan keuangan yang telah dilakukan dalam usahataninya, yang bermanfaat sebagai alat kontrol dan kebutuhan peramalan untuk bisnisnya dimasa mendatang.

(15)

Setiap usaha baik dari segi apakah usaha itu kecil, menengah maupun besar tujuan utamanya adalah menekan total biaya serendah mungkin dan menaikkan biaya penerimaan semaksimal mungkin.

2.3.1 Biaya produksi

1. Biaya tetap (fix cost)

Biaya tetap (FC) adalah biaya yang dikeluarkan dan tetap sama dari waktu ke waktu. Namu, dalam jangka panjang biaya tetap bisa saja menjadi biaya variabel. Contoh; biaya tenaga kerja (jangka pendek), benih (jangka pendek), pupuk (jangka pendek), (Jangka panjang).

2. Biaya variabel (variable cost)

Biaya variabel (VC) adalah biaya yang dikeluarkan dan tidak sama dari waktu ke waktu. Contoh; (search another reference)

2.3.2 Penerimaan

Penerimaan adalah jumlah produk yang diproduksi dikali dengan harga. TR = P × Q

Keterangan: TR = Total Revenue (Total Penerimaan)

P = Price (Harga)

Q = Quantity (Jumlah yang diproduksi)

2.3.3 Pendapatan

Menurut Kay and Edwards dalam Olviani. T (2008), net farm income is the amount by

which revenue exceeds expenses, plus any gain or loss the sale of capital assets.

Π = TR – TC

Keterangan: Π = Profit

TR = Total Revenue

TC = Total Cost

2.3.4 Analisis Usaha

(16)

1. Break Even Point (BEP)Produksi

Merupakan titik impas tingkat produksi dari hasil perhitungan untuk dapat mengembalikan biaya yang dikeluarkan atau total pendapatan sama dengan (=) total biaya.

BEP produksi 2. Break Even Point (BEP) Harga Produksi

Merupakan titik pulang pokok harga produksi artinya dengan harga produk tertentu sudah dapat mengembalikan biaya yang dikeluarkan.

BEP harga

3. Net Benefit Cost Ratio (B/C)

Merupakan perbandingan antara laba bersih dan total biaya produksi. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu berarti gagasan usaha tersebut layak untuk dikerjakan dan semakin besar nilai B/C maka semakin layak usaha tersebut untuk dilaksanakan (x > 1).

B/C Ratio

2.4 Pengertian Produktivitas

Pengertian Produktivitas dalam pertanian adalah hasil persatuan atau satu lahan yang

panen dari seluruh luas lahan yang dipanen. Produktivitas merupakan istilah dalam kegiatan

produksi sebagai perbandingan luaran (output) dengan masukan (input). Dimana produktivitas

merupakan ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan

untuk mencapai hasil optimal. Produktivitas dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan

suatu industri dalam menghasilkan barang atau jasa. Sehingga semakin tinggi perbandingannya,

berarti semakin tinggi produk yang dihasilkan. Ukuran-ukuran produktivitas bisa bervariasi,

(17)

aspek-aspek output atau input yang digunakan sebagai agregat dasar, misalnya: indeks

produktivitas buruh, produktivitas biaya langsung, produktivitas biaya total, produktivitas energi,

dan produktivitas bahan mentah (Samuelson dan William, 1992:133).

Dalam ilmu ekonomi pertanian produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang

diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan) dengan biaya (pengorbanan) yang

harus dikeluarkan. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi, dan biaya yang

dikeluarkan disebut biaya produksi. Usahatani yang bagus merupakan usahatani yang produktif

atau efisien.

Usahatani yang produktif berarti usahatani yang memiliki produktivitas yang tinggi.

Pengertian produktivitas ini merupakan penggabungan antara konsepsi efisiensi usaha (fisik)

dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik mengukur. banyaknya hasil produksi (output) yang

diperoleh dari satu kesatuan faktor produksi (input). Jika efisiensi fisik kemudian di nilai dengan

uang maka akan dibahas efisiensi ekonomi. Sedangkan kapasitas dari sebidang tanah tertentu

menggambarkan kemampuan sebidang tanah untuk menyerap tenaga dan modal sehingga

memberikan hasil produksi bruto yang sebesar-besarnya pada tingkatan teknologi tertentu. Jadi

secara teknis produktivitas merupakan perkalian antara efisiensi (usaha) dan kapasitas tanah

(Mubyarto, 1989:68). Dalam setiap panen padi, petani akan menghitung berapa hasil bruto

produksinya, yaitu luas tanah dikalikan hasil pekesatuan luas. Hasil bruto yang didapat kemudian

dikurangi dengan biaya-biaya yang harus dikeluarkan petani, yaitu biaya pupuk, bibit, biaya

pengolahan tanah upah menanam, upah membersihkan rumput dan biaya panen yang biasanya

berupa bagi hasil. Setelah semua biaya-biaya tersebut dikurangi maka petani akan memperoleh

hasil bersih atau hasil netto. Apabila hasil bersih usahatani besar maka akan menunjukkan rasio

yang baik dari nilai hasil dan biaya. Makin tinggi rasio berarti usahatani makin efisien

(Mubyarto, 1989:70).

(18)

Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Ada dua tujuan

utama dari analisis pendapatan yaitu menggambarkan keadaan yang akan datang dari sebuah

perencanaan atau tindakan. Bagi seorang petani pendapatan memberikan bantuan untuk

mengukur apakah kegiatan usaha pada saat ini berhasil atau tidak. Pendapatan cabang usaha

adalah selisish antara penerimaan cabang usaha yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan.

Pendapatan usahatani akan berbeda untuk setiap petani, dimana perbedaan ini disebabkan oleh

perbedaan faktor produksi, tingkat produksi yang dihasilkan dan harga jual yang tidak sama

hasilnya.

Prinsip penting yang perlu diketahui dalam menganalisis mengenai pendapatan pada

usahatani adalah mengenai keadaan penerimaan dan keadaan pengeluaran. Penerimaan didapat

dari hasil perkalian antara berapa besar produksi yang dicapai dan dapat dijual dengan harga

satuan komoditi tersebut di pasar. Pengeluaran uasahatani dapat diperoleh dari perolehan nilai

penggunaan faktor produksi serta besar penggunaannya pada suatu proses produksi yang

bersangkutan (Soekartawi,dkk,1984).

Pendapatan usaha tani dalam teori ekonomi pertanian tingkat pendapatan pertanian

menjadi fokus dari setiap tujuan aktivitas usahatani,tinggi rendahnya modal usaha akan

berpengaruh terhadap pruduksi yang akhirnya kembali berdampak pada pandapatan petani.

Menurut Tjakrawiralaksana (1983) Pendapatan usahatani adalah sisa beda dari pada penggunaan

nilai penerimaan usahatani dengan biaya-biaya yang dikeluarkan.Ada beberapa ukuran untuk

menghitung pendapatan usahatani yaitu : • Pendapatan usahatni diperoleh dengan menghitung

semua penerimaan dikurangi dengan semua pengeluaran • Pendapatan keluarga tani diperoleh

dari menambah pendapatan tenag kerja keluarga dengan bungan modal milik sendiri dan nilai

sewa • Pendapatan petani diperoleh dari menambah pendapatan tenaga kerja biaya modal sendiri.

Soekarawi (1995) Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dan semua biaya

(19)

keseluruhan pendapatan petani,tidak saja dari usaha bidang pertanian dari usaha non pertanian

juga.secara matematis pendapatan usahatani diformulasikan sebagai berikut : Pd = TR – TC

Dimana : Pd = Pendapatan usahatani TR = Total Penerimaan TC = Total biaya.

Soeriatmadja (1983) menyatakan bahwa analisis R/C ratio adalah imbangan antara

penerimaan dan biaya.Analisis ini dipakai untuk melihat keuntungan relative dari suatu kegiatan

usahatani.Secara matematis R/C ratio dapat diformulasikan sebagai berikut : RC = total

penerimaan Total biaya Kriteria penilaian R/C ratio adalah : • JIka R/C ratio < 1,berarti secara

ekonomi usaha yang dilakukan tidak menguntungkan • Jika R/C ratio = 1,berarti secara ekonomi

usaha yang dilakaukan tidak menguntungkan dan tidak merugikan • Jika R/C ratio > 1,berarti

secara ekonomi usaha yang dilakukan menguntungkan sehingga usahatani tersebut layak untuk

diusahakan.

2.6 Konsep Efisiensi

Efisiensi menurut Mubyarto (1989) adalah banyaknya hasil produksi fisik yang dapat

diperoleh dari satu kesatuan faktor produksi (input). Menurut Agustina (2011), efisiensi

digunakan untuk mengukur tingkat produksi yang dicapai pada tingkat penggunaan input

tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa efisiensi merupakan jumlah produksi yang

dihasilkan pada satu satuan input tertentu.

Salah satu cara untuk mengukur efisiensi dalam usahatani yaitu dengan menggunakan

rasio imbangan penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Rasio ini mengukur seberapa besar

penerimaan yang diterima untuk setiap satu satuan biaya yang dikeluarkan. Semakin besar nilai

dari rasio tersebut maka semakin efisien usahatani tersebut. Menurut Soekartawi (2002) nilai

R/C lebih dari satu maka dapat dikatakan usahatani tersebut efisien.

(20)

Dari hasil penelitian sebelumnya dengan judul penelitian “Analisis Perbandingan

Produksi dan Pendapatan Petani Padi Pengguna Paket Teknologi Pupuk Berimbang dan Pupuk

Tidak Berimbang di Kabupaten Takalar”, didapatkan hasil bahwa paket teknologi pupuk

berimbang meningkatkan produksi dan produktivitas sampai 6.525,00 kg/ha padi dibandingkan

dengan tanpa pengguna pupuk berimbang hanya mencapai 4.125,90 kg/ha. produksi dan

pendapatan petani yang menggunakan paket pemupukkan berimbang mengalami peningkatan

dibandingkan dengan yang tidak menggunakan paket pemupukkan berimbang ( Mukhtar dan

Kaharuddin, 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Azwir yaitu terhadap sistem tanam jajar legowo 6:1.

Menurut Azwir adanya perbedaan hasil tanam tersebut dikarenakan sistem tanam biasa belum

mampu memenuhi persyaratan pertumbuhan tanaman padi untuk berproduksi secara maksimal.

Sistem tanam jajar legowo memiliki beberapa tipe tanam, yaitu tipe 2:1, tipe 4: 1, tipe 5:1 dan

tipe 6:1. Diantara tipe-tipe tanam tersebut sistem tanam dengan menggunakan tipe 2:1

menghasilkan gabah kering tertinggi yaitu sebesar 8,84 ton GKP/ha. Hal itu karena, sistem tanam

legowo 2:1 memiliki malai yang lebih panjang. Umumnya panjang malai berkolerasi positif

dengan jumlah gabah per malai. Semakin panjang malai terbentuk, maka akan semakin banyak

peluang jumlah gabah yang dapat ditampung oleh malai yang bersangkutan (Aribawa,2012).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2013) menyatakan bahwa

sistem tanam jajar legowo mampu meningkatkan produksi padi sawah 6,47 ton atau sebesar

12,36 persen bila dibandingkan dengan menggunakan sistem tanam konvensional, serta mampu

meningkatkan jumlah malai per rumpun sebesar 39,53 persen. Sementara itu berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Diratmaja (2001) menyatakan bahwa sistem tanam jajar legowo

dapat meningkatkan produksi padi sebesar 17,56 persen. Selain itu menurut Jumakir (2012)

(21)

Barat jumlah produktivitas gabah yang dihasilkan pada usahatani padi sistem jajar legowo lebih

besar yaitu sebesar 7,68 toh per Ha dan pada sistem tanam konvensional sebesar 6,56 ton per Ha.

Selain itu, dengan menggunakan sistem tanam ini terjadi pengurangan hama tikus karena

kondisi lahan yang relatif terbuka. Tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Lalla, penelitian

yang dilakukan oleh Azwir et al. (2009) menyatakan bahwa sistem tanam jajar legowo dapat

meningkatkan produktivitas padi, meskipun memiliki jumlah malai atau rumpun pada saat

penanaman tidak banyak, namun populasi tanaman yang dihasilkan lebih banyak, karena

memiliki jarak tanam yang rapat yaitu 20x20 cm.

2.8 KERANGKA PEMIKIRAN

Peningkatan kesejahteraan masyarakat dilakukan melalui pembangunan di berbagai

bidang, salah satunya pembangunan dibidang pertanian. Hal ini terlihat semakin digalakkannya

pembangunan dibidang pertanian utamanya sub sektor pangan. Salah satu sub sektor pangan

adalah usahatani padi sawah (Republika, 2012)

Salah satu masalah yang dihadapi negara indonesia sekarang ini adalah bagaimana

meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang dilakukan melalui pembangunan diberbagai

bidang. Hal ini nampak semakin digalakkannya pembangunan di bidang pertanian utamanya sub

sektor pangan.

Salah satu sub sektor pangan adalah usaha tani padi. Petani padi dalam melakukan proses

produksi untuk menghasilkan output, diperlukan biaya pengeluaran-pengeluaran yang digunakan

(22)

Dalam usaha tani padi diharapkan adanya peningkatan produktivitas dan pendapatan

sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan petani padi pada khususnya,

karena salah satu ukuran kesejahteraan masyarakat adalah dengan peningkatan pendapatannya.

Dengan demikian maka akan lebih meningkatkan produktivitas padi dibandingkan

dengan sistem tanam non jajar legowo. Sehingga dengan penggunaan input yang sama akan

menghasilkan jumlah produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu salah satu dari tujuan sistem

tanam jajar legowo ini yaitu input yang digunakan akan lebih efisien dibandingkan dengan

sistem tanam non jajar legowo. Sehingga pendapatan yang diterima petani diharapkan akan lebih

besar dibandingkan dengan usahatani padi dengan menggunakan sistem tanam non jajar legowo.

Adapun alur dari kerangka pemikiran dapat disajikan sebagai berikut :

Kabupaten Sarolangun Menggalakkan Program Peningkatan Produksi Padi Dengan Sistem Tanam Jajar Legowo

Sebagian petani tidak mau menggunakan sistem tanam jajar legowo karena takut pendapatan yang diterima akan berkurang

Usahatani padi sistem tanam jajar legowo

(23)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

2.9 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah :

1. diduga sistem tanam jajar legowo mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan

petani di daerah penelitian.

2. Diduga adanya perbedaan produktivitas dan pendapatan di daerah penelitian.

3. Di duga adanya perbedaan pendapatan petani berdasarkan strata luas lahan pada sistem

tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo di daerah penelitian

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Pasar Pelawan, Kecamatan Pelawan, Kabupaten

Sarolangun. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja), karena desa

tersebut merupakan salah satu sentra produksi padi yang cukup besar dalam sektor pertanian

sehingga memberikan konstribusi yang tinggi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi

daerah. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal... sampai tanggal...

Penerimaan Biaya Penerimaan Biaya

Pendapatan Usahatani Pendapatan Usahatani

Perbandingan pendapatan usaha tani

(24)

Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :

1. Luas lahan dan produksi usaha tani padi (Ha)

2. Identitas petani yang menerapkan program tanam jajar legowo dan non jajar legowo

3. Jumlah petani yang menerapkan program tanam jajar legowo dan non jajar legowo

4. Produktivitas dan Pendapatan petani yang menerapkan program tanam jajar legowo dan

tanam non jajar legowo

5. Data-data lain yang dianggap penting yang berhubungan dengan penelitian

3.2 Metode Penentuan Sampel

Penentuan sampel dilakukan secara berstrata (Stratified Random Sampling). Jumlah

sampel yang diambil sebanyak 30 petani dari 53 petani sampel di Desa Pasar Pelawan.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

Data primer diperoleh dari wawancara langsung kepada petani dengan bantuan kuesioner yang

telah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan data sekunder diperoleh dari Biro Pusat Statistik

(BPS), Dinas Pertanian, Kantor Camat Kecamatan Pelawan, instansi terkait lainnya, buku serta

literaturliteratur yang mendukung penelitian ini.

3.4 Metode Analisis Data

Untuk menganalisis apakah sistem tanam jajar legowo mampu meningkatkan

produktivitas dan pendapatan petani menggunakan metode perhitungan pendapatan :

I = TR – TC

Dimana : I : Income (pendapatan bersih usaha tani) TR : Total Reveneu (penerimaan usaha

(25)

TC : Total Cost (total biaya) Untuk menganalisis perbedaan produktivitas dan

pendapatan serta perbedaan pendapatan petani berdasarkan strata luas lahan

menggunakan metode Independent sample t-test :

th = (�� − �� ) �� − �

Dimana :

th = nilai t hitung

�1 = rata-rata kelompok 1

�2 = rata-rata kelompok 2

��− � = standar error kedua kelompok

3.5 Defenisi Operasional

1. Petani adalah orang yang melaksanakan dan mengelola usahatani padi pada sebidang tanah

atau lahan.

2. Luas lahan sawah adalah luas lahan yang dipakai untuk komoditi padi dimana yang dihitung

dalam satuan ha.

(26)

4. Produktivitas adalah perbandingan antara produksi (ton) terhadap luas lahan (ha).

5. Sistem tanam jajar legowo adalah rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar

rumpun dan antar baris.

6. Sistem tanam non jajar legowo adalah sistem tanam padi yang biasa dilakukan petani dengan

jarak 20 x 20 cm atau lebih rapat lagi.

7. Pendapatan petani adalah pendapatan bersih petani padi diukur dengan satuan rupiah (Rp)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2011b. Upaya Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi Dengan Sistem

Tanam Jajar Legowo. Gerbang Pertanian http://

www.gerbangpertanian.com/2011/02/upayameningkatkan-produksitanamanpadi.html (Diakses

(27)

Badan Litbang Pertanian, 2007. Pengelolaan Tanaman terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi.

Petunjuk Teknis Lapangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2010. Tanam Padi Cara Jajar Legowo di Lahan Sawah.

http:// www.bptpbanten.com/2010/02/tanampadilegowolahansawah (Diakses pada 1

Januari 2012).

Permana, S.,1995. Teknologi Usahatani Mina Padi Azolla Dengan Cara Tanam Jajar Legowo.

Mimbar Saresehan Sistem Usahatani Berbasis Padi di Jawa Tengah. BPTP Ungaran.

Mukhtar dan Kaharuddin., 2012. Analisis Perbandingan Produksi dan Pendapatan Petani Padi

Pengguna Paket Teknologi Pupuk Berimbang dan Pupuk Tidak Berimbang di

Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP)

Gowa

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Dalam tataran ini, mereka memiliki hegemoni atas negara Indonesia bahwa kelapa sawit menjadi bagian integral dari industri perkebunan maupun kehutanan di

Dukungan kelompok dalam meningkatkan kapasitas pengolah enbal melalui fasilitasi usaha dilakukan dengan mengembangkan kerjasama antar sesama anggota kelompok, berbagi informasi,

(peran domestik), sebagai perempuan yang bekerja (peran publik). Faktor – faktor yang menimbulkan konflik peran

4.2 Menyusun teks cerita oral/fabel, ulasan, diskusi, cerita prosedur, dan cerita biografi sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan maupun

Selanjutnya dapat dibuktikan bahwa λ relasi biner fuzzy adalah subhimpunan fuzzy pada grup hasil bagi G H atau yang disebut dengan subgrup hasil bagi fuzzy.. pada

Pengujian dilakukan pada ciri data uji yang dihasilkan dari proses ekstraksi ciri MFCC dengan menggunakan model codebook dari data latih.. Output yang dihasilkan berupa jumlah orang

Dalam proses penapisan dari sinyal suara tangis bayi digunakan Transformasi Wavelet Kontinyu sedangkan untuk pengenalan sinyal suara tangis bayi digunakan Neural

Adapun jenis-jenis warna yang sering diaplikasikan pada kain tenun upcycle adalah warna primer yaitu merah biru, dan kuning, warna sekunder yaitu warna hijau, warna