Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa,

91 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)
(90)
(91)

Figur

Gambar 2.1. Fotograf dari metode krktal berputar
Gambar 2 1 Fotograf dari metode krktal berputar . View in document p.10
Gambar 2.4. Hubungan trigonometri antara vektor-vektor posisi balik
Gambar 2 4 Hubungan trigonometri antara vektor vektor posisi balik . View in document p.13
Gambar 2.5. Chard Be:nal untuk film silinder I~rjari-jari 28,65 mm (Buerger, 1942)
Gambar 2 5 Chard Be nal untuk film silinder I rjari jari 28 65 mm Buerger 1942 . View in document p.16
Gambar 2.6. (a) Kristal berotasi sekitar sum bu-c, (b) pengindeban kisi
Gambar 2 6 a Kristal berotasi sekitar sum bu c b pengindeban kisi . View in document p.17
Gambar 3;3. Proyeksi galis sentral OQ pada lapisan ke-no1
Gambar 3 3 Proyeksi galis sentral OQ pada lapisan ke no1 . View in document p.25
Gambar 3.4. potensial refleksi, berdasarkan (a)(Buerger, Sketsa lapisan ke-no1 kisi balilc
Gambar 3 4 potensial refleksi berdasarkan a Buerger Sketsa lapisan ke no1 kisi balilc . View in document p.26
Gambar 3.5. potensial refleksi, berdasarkan (a) (Buerger, Sketsa lapisan ke-n kisi balik ', (a) deret kontinu (b) plot sudut refleksi terhadap sudut rotasi 1942)
Gambar 3 5 potensial refleksi berdasarkan a Buerger Sketsa lapisan ke n kisi balik a deret kontinu b plot sudut refleksi terhadap sudut rotasi 1942 . View in document p.28
Gambar 3.6. Sketsa sebuah lapisan potensial refleksi dirotasikan sebesar sudut rotasi berdasarkan (a) (Buerger, kisi balik 4 (a) deret kontinu 91, jb) plot sudut refleksi terhadap 1942)
Gambar 3 6 Sketsa sebuah lapisan potensial refleksi dirotasikan sebesar sudut rotasi berdasarkan a Buerger kisi balik 4 a deret kontinu 91 jb plot sudut refleksi terhadap 1942 . View in document p.32
Gambar 3.7. Sketsa lapisan hi balik pada jarak d dari dari sumbu rotasi
Gambar 3 7 Sketsa lapisan hi balik pada jarak d dari dari sumbu rotasi . View in document p.33
Gambar 3.9. metode Weiisenberg sinar-normal (Buerger, Chart untuk mengukur koordinat (5, cp) pada 1942)
Gambar 3 9 metode Weiisenberg sinar normal Buerger Chart untuk mengukur koordinat 5 cp pada 1942 . View in document p.38
Gambar 3.11. Konstruksi kisi balik 2 pada Metode Weissenberg ekui-
Gambar 3 11 Konstruksi kisi balik 2 pada Metode Weissenberg ekui . View in document p.40
Gambar 3.12. Sketsa sebuah lapisan kisi
Gambar 3 12 Sketsa sebuah lapisan kisi . View in document p.42
Gambar 3.13. refleksi terletak pada jarak Sketsa sehuah lapisan kisi baU ; (a) deret kontinu p~tensial d Gari tit& asal (b) plot sudut refleksi terhadap sudut rotasi berdasarkan (a)(Bueger, 1942)
Gambar 3 13 refleksi terletak pada jarak Sketsa sehuah lapisan kisi baU a deret kontinu p tensial d Gari tit asal b plot sudut refleksi terhadap sudut rotasi berdasarkan a Bueger 1942 . View in document p.44
Gambar 3-14. pusat (Buerger, ekui-i.asi dimana garis tersebut terletak pada jarak dkosv dari Kurva garis kisi balik .; pada fot~graf Weissenberg titlk 1942)
Gambar 3 14 pusat Buerger ekui i asi dimana garis tersebut terletak pada jarak dkosv dari Kurva garis kisi balik pada fot graf Weissenberg titlk 1942 . View in document p.46
Gambar 3.15. Chart untuk men-ukur koordinat (5, p) pada
Gambar 3 15 Chart untuk men ukur koordinat 5 p pada . View in document p.47
Gambar 3.16. Contoh rekonstuksi dari lapisan kisi
Gambar 3 16 Contoh rekonstuksi dari lapisan kisi . View in document p.48
Tabel 3.2. Ciri indeks simetri s h p  ("screw") yaitu suatu operasi simetri yang
Tabel 3 2 Ciri indeks simetri s h p screw yaitu suatu operasi simetri yang . View in document p.49
Tabel 3.1. indeks tipe sel-satuan
Tabel 3 1 indeks tipe sel satuan . View in document p.49
Tabel 3.3. Ciri indeks simetri luncur ('glide") yaitu suatu operasi sirnehi jyang
Tabel 3 3 Ciri indeks simetri luncur glide yaitu suatu operasi sirnehi jyang . View in document p.50
Tabel 3.4. Syarat batas untuk grup ruang monoklidk
Tabel 3 4 Syarat batas untuk grup ruang monoklidk . View in document p.50
Gambar 4.3. Film silinder dari kamera Debye-Scherrer (Nuffield, 1966)
Gambar 4 3 Film silinder dari kamera Debye Scherrer Nuffield 1966 . View in document p.55
Gambar 4.4. Diagram yang mengilustrasikan konversi dari jarak linier pada film kedalam sudud B r a s  (Vema-& Srivastava, 1982)
Gambar 4 4 Diagram yang mengilustrasikan konversi dari jarak linier pada film kedalam sudud B r a s Vema Srivastava 1982 . View in document p.56
Tabel 4.1. Konversi dari jarak linier S ke sudut hamburan 0
Tabel 4 1 Konversi dari jarak linier S ke sudut hamburan 0 . View in document p.60
Gambar 4.6.
Gambar 4 6 . View in document p.62
Tabel 4.4. Pengindeksan refleksi dan penentuan parameter kisi
Tabel 4 4 Pengindeksan refleksi dan penentuan parameter kisi . View in document p.62
Tabel 4.5. Parameter kisi a
Tabel 4 5 Parameter kisi a . View in document p.62
Tabel 4.6. Kemungkinan nilai N(= h2 + k2 + l2 untuk kisi kubik
Tabel 4 6 Kemungkinan nilai N h2 k2 l2 untuk kisi kubik . View in document p.68
tabel dibuat yang berisi dengan kolom nilai yang mungkin dari A dan kolom nilai
A dan kolom nilai . View in document p.69
Gambar 4.9. Chart Hull-Davey untuk sistem tetragonal (Verrna & Srivastava, 1982)
Gambar 4 9 Chart Hull Davey untuk sistem tetragonal Verrna Srivastava 1982 . View in document p.74
Tabel 1. Kombinasi Precipitan yang terbaik
Tabel 1 Kombinasi Precipitan yang terbaik . View in document p.81

Referensi

Memperbarui...