Bahasa Suroboyoaan Dalam Analisis
Sosiolinguistik
(
Karakteristik Bahasa Suroboyoan Dalam Perpektif Sosiolinguistik)
Di susun oleh:
Tayev Dedayev
(Mahasiswa Prodi Sosiologi 2015)
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah yang berjudul “Bahasa Suroboyoaan Dalam Analisis Sosiolinguistik”
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiolinguistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya.
Pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada pihak yang membantu terselesaikannya makalah ini. Saran dan kritik pembaca dapat membangun makalah ini agar menjadi lebih baik.
Surabaya ,7 November 2017
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar belakang
1.2Rumusan Masalah
1. Mengapa bahasa suroboyoan sebagai bahasa paling dominan di kota Surabaya dengan keberagaman budaya dan bahasa?
2. Bagaimana bahasa suroboyoan berlaku diberbagai kalangan masyarakat kota Surabaya dengan analisis Sosiolinguistik?
1.3Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bahasa suroboyoan dengan sudut pandang dan analisis Sosiolinguistik serta 4irri khas sosiolek suroboyoan yang terjadi pada masyarakat kota Surabaya dengan beragam budaya dan bahasa didalamnya sebagai sarana komunikasi berbagai lapisan masyarakat yang ada.
1.4Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN
1. Bahasa Suroboyoan
Bahasa adalah sarana komunikasi berupa simbol suara ritme dan konotasi sebagai penyampai pesan isi hati untuk menunjukan maksud tertentu saat melakukan interaksi sosial pada masyarakat baik antar individu maupun dengan kelompok sosial yang ada,bahasa juga memiliki unsure budaya didalamnya yang menjadi 5irri khas akan kebahasaan yang dimiliki pada wilayah yang kental akan budaya bahasa dan keragaman pola perilaku masyarakat yang dipengaruhi oleh budaya yang telah diwariskan oleh para generasi budaya sebelumnya,sama halnya seperti pada bahasa suroboyoan di kota Surabaya yang dikenal sebagai salah satu bahasa yang fenomenal di Indonesia dan menjadikan bahasa suroboyoan menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat kota Surabaya.Ciri khas paling menonjol dari bahasa suroboyoan adalah konotasi kata dan kalimat yang digunakan lebih pada penekanan makna yang erat seperti kata “…Cukk…” pada setiap bentuk interaksi antar individu diberbagai tempat di kota
Surabaya,bahasa yang digunakan ini menjadi makna tersendiri saat kata “..cukk…”digunakan diberbagai kalangan dan status sosial yang ada yaitu menjadi tanda akan sangat eratnya
hubungan yang terjalin antara dua aktor sosial yang terlibat dan tak mengenal bagaimana status sosial yang dimiliki atau batasan usia yang menjadi lawan jenis komunikasi.Terjadinya
keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak 5irri55y, tetapi juga kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam (Chaer dan Agustina, 2004: 61).
2. Sejarah Bahasa Suroboyoan
Bahasa arekan atau bahasa suroboyoan memiliki status bahasa yang berbeda dengan bahasa yang disekitar wilayah matraman di jawa timur maupun diluar jawa timur,dalam sejarahnya ini juga dorong oleh adanya perilaku masyarakat yang dekat dengan daerah pantai yang menjadi jalur perdagangan dari jaman dahulu hingga sekarang terlebih lagi faktor budaya dan perilaku masyarakat kota Surabaya yang terkenal dengan keras dan tegas terbukti saat masyarakat kota Surabaya melakukan perlawanan dengan para penjajah membuat kultur di kota Surabaya terkenal akan keras,ditambah asal usul nama kota Surabaya yang berasal dari pertarungan antara buaya dan hiu yang merebutkan wilayah dan dimenangkan oleh buaya dalam sebuah pertarungan sengit menjadi faktor pendukung kultur yang hadir di kota Surabaya.Budaya yang terus berkembang melahirkan kosa kata yang menjadi khas bagi masyarakat Surabaya dalam berinteraksi sesamanya sebagai wujud identitas ketegasan dan kepribadian seseorang saat menunjukan status sosial lewat bahasa pada lingkungan masyarakat.
Pada dasarnya jika dilihat secara sejarah dari bahasa arekan atau suroboyoan ini menjadi semakin populer di kalangan masyarakat saat Indonesia dijajah oleh Belanda maupun Jepang terutama di kota Surabaya karena bahasa yang digunakan sebagai sumber semangat juang yang tinggi oleh masyarakat Surabaya dengan bahasa yang tegas dan kasar,serta berlaku secara umum pada semua lapisan masyarakat baik muda maupun tua sebagai media pengantar pesan maksud hati perjuangan dalam melakukan pergerakan.
3. Sistem Kosa Kata Suroboyoan
Dalam kesehariaan bahasa suroboyoan menjadi media komunikasi yang paling sering digunakan oleh banyak kalangan,dalam penggunaan bahasanya bahasa suroboyoan menjadi indikator penting dalam melihat keeratan hubungan sosial didalam masyarakat dan dianggap sebagai memiliki fasilitas akses bahasa ke berbagai kalangan dan strata pada masyarakat terutama di kota Surabaya.Ekspresi dari bahasa suroboyan sendiri memiliki sistem yang cukup beragam dalam penggunaanya,dalam bentuk interaksi dalam sebuah instansi bahasa suroboyan dianggap sebagai simbol kehormatan tersendiri artinya bahasa suroboyan menjadi legal bagi orang yang sudah lama dikenal dan dapat mengikuti perubahan interaksi sosial dalam sebuah organisasi atau instansi didalamnya beda halnya bentuk ekprese kosa kata suroboyoan dalam masyarakat kompleks perumahan pinggiran,sistem kosa katanya hanya berlaku pada usia tertentu dan untuk golongan tertentu saja,hal ini terjadi karena adanya nilai-nilai yang tertanam yaitu menghormati golongan yang sudah tua atau lanjut usia,penggunaan bahasa suroboyoan dalam lingkup masyarakat kompleks masih dikatakan terbatas dan kurang leluasa namun berbeda dengan lingkup anak muda atau kalangan mahasiswa di sekitaran kampus yang secara leluasa menggunakan bahasa suroboyoan.
Beberapa kosa kata khas Suroboyoan:
• “Pongor, Gibeng, Santap, Jotos, Tempeleng, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);
• “kathuken” berarti “kedinginan” (bahasa Jawa standar: kademen);
• “gurung” berarti “belum” (bahasa Jawa standar: 7irri7);
• “gudhuk” berarti “bukan” (bahasa Jawa standar: dudu);
• “deleh” berarti “taruh/letak” (delehen=letakkan) (bahasa Jawa standar: dekek);
• “opo’o” berarti “mengapa” (bahasa Jawa standar: kenopo);
• “soale” berarti “karena” (bahasa Jawa standar: kerono);
• “atik” (diucapkan “atek”) berarti “pakai” atau “boleh” (khusus dalam kalimat”gak atik!” yang artinya “tidak boleh”);
• “longor/peleh” berarti “tolol” (bahasa Jawa standar: goblok/ndhableg);
• “cek” (“e” diucapkan seperti kata “sore”) berarti “agar/supaya” (bahasa Jawa standar: ben/supados);
• “gocik” berarti “takut/pengecut” (bahasa Jawa standar: jireh);
• “mbadog” berarti “makan” (sangat kasar) (bahasa Jawa standar: mangan);
• “manteb soro/mantab jaya” berarti “enak luar biasa” (bahasa Jawa standar: enak pol/enak banget/enak tenan);
• “rusuh” berarti “kotor” (bahasa Jawa standar: reged);
• “gae” berarti “pakai/untuk/buat” (bahasa Jawa standar: pakai/untuk=kanggo, buat=gawe);
• “andhok” berarti “makan di tempat selain rumah” (8irri8 warung);
• “cangkruk” berarti “nongkrong”;
• “babah” berarti “biar/masa bodoh”;
• “matek” berarti “mati” (bahasa Jawa standar: mati);
• “sampek/sampik” berarti “sampai/hingga” (bahasa Jawa standar: nganti);
• “barekan” berarti “lagipula”;
• “masiyo” berarti “walaupun”;
• “nang/nak” berarti “ke” atau terkadang juga “di” (bahasa Jawa standar: menyang);
mangan ta?” (Kamu sudah makan kah?”) Dalam bahasa Jawa standar, awakmu berarti
• “sembarang” berarti “terserah” (bahasa jawa standar: sekarep);
• “iwak” berarti “lauk” (bahasa Jawa standar: lawuh, “iwak” yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, “mangan karo iwak tempe”, artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);
• “engkuk” (u diucapkan o) berarti “nanti” (bahasa Jawa standar: mengko); bahasa Jawa standar berarti “seperti apa”)
• “peno”/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu
• “jancuk” ialah kata makian yang sering dipakai seperti “fuck” dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif “diancuk”; variasi yang lebih kasar ialah “mbokmu goblok, makmu 9irri9, dengkulmu sempal, matamu suwek”; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah
• “waras” ialah sembuh dari sakit (dalam Bahasa Jawa Tengah sembuh dari penyakit jiwa)
• “embong” ialah jalan besar / jalan raya (bahasa Jawa standar : “9irri9/dalan gedhe”)
• “parek/carek” artinya dekat
• “ndingkik” artinya mengintip
• “semlohe” artinya sexy (khusus untuk perempuan)
“jancuk” dari kata ‘dancuk’ dan turunan dari ‘diancuk’ dan turunan dari ‘diencuk’ yg artinya ‘disetubuhi’ (‘dientot’ bahasa betawinya). Orang Jawa (golongan Mataraman) pada umumnya menganggap dialek Suroboyoan adalah yang terkasar, namun sebenarnya itu menujukkan sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan Wong Jawa, tidak berlaku dalam kehidupan Arek Suroboyo. Misalnya dalam berbicara, Wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin, karena dianggap tidak sopan. Tapi dalam budaya Arek Suroboyo, hal tersebut menandakan bahwa orang tersebut sejatinya pengecut, karena tidak berani memandang mata lawan bicara. Tapi kata jancuk juga dapat diartikan sebagai tanda persahabatan. Arek-arek Suroboyo apabila telah lama tidak bertemu dengan sahabatnya jika bertemu kembali pasti ada kata jancuk yang terucap, contoh: “Jancuk! Yok opo khabare, rek. Suwi gak ketemu!” Jancuk juga merupakan tanda seberapa dekatnya Arek Suroboyo dengan temannya yang ditandai apabila ketika kata jancuk diucapkan obrolan akan semakin hangat. Contoh: “Yo gak ngunu, cuk, critane, matamu, mosok mbalon gak mbayar”.Selain itu, sering pula ada kebiasaan di kalangan penutur dialek Surabaya, dalam mengekspresikan kata ‘sangat’, mereka menggunakan penekanan pada kata dasarnya tanpa menambahkan kata sangat (banget atau temen) dengan menambahkan 10irri “u”, misalnya “sangat panas” sering diucapkan “puanas”, “sangat pedas” diucapkan “puedhes”, “sangat enak” diucapkan “suedhep”. Apabila ingin diberikan penekanan yang lebih lagi, 10irri “u” dapat ditambah.
• Hawane puanas (udaranya panas sekali)
Selain itu. Salah satu ciri lain dari bahasa Jawa dialek Surabaya, dalam memberikan perintah menggunakan kata kerja, kata yang bersangkutan direkatkan dengan akhiran –no. Dalam bahasa Jawa standar, biasanya direkatkan akhiran –ke
• “Uripno (Jawa standar: urip-ke) lampune!” (Hidupkan lampunya!)
• “Tukokno (Jawa standar: tukok-ke) kopi sakbungkus!” (Belikan kopi sebungkus!)
(dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arekan)
Beragamnya makna pada bahasa suroboyoan menjadikan penggunaanya tergantung bagaimana arti makna pada interaksi sosial sebenarnya pada masyarakat di daerah Surabaya.Pola komunikasi yang terjadi di masyarakat Surabaya mengalami titik lebur budaya yang berlaku pada masyarakat pendatang dan masyarakat yang memiliki orientasi budaya yang cukup kuat di lingkungannya,dan menciptakan dimensi budaya tersendiri yang saling terhubung dengan bahasa suroboyoan sebagai bahasa pengantar antar budaya di kota Surabaya.
BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
http://colinawati.blog.uns.ac.id/2012/02/09/dialek-sosiolek-fungsiolek-dan-kronolek/
eprints.uny.ac.id/8429/3/BAB%202-07205244130.pdf