HUKUM TENTANG LEMBAGA NEGARA
“LEMBAGA NEGARA DALAM UNDANG – UNDANG DASAR 1950”
Tugas ini dibuat untuk memenuhi prasyarat tugas mata kuliah “Hukum Tentang Lembaga Negara”
Disusun Oleh :
2014 200 083 Dendy Ari Galuh Pasiwi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak proklamasi Kemerdekaan bangsa, Indonesia menginginkan negara Kesatuan bukan negara federal. Pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat merupakan politik Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Negara federal tidak dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat sehingga rakyat terus melakukan perlawanan. Keinginan rakyat untuk menggabungkan diri dalam Republik Indonesia dan membentuk Negara Kesatuan terus diperjuangkan. Negara-negara bagian menggabungkan diri dengan Republik Indonesia, 2 negara bagian yang menggabungkan diri yaitu Negara Sumatera Timur (NST) dan Negara Indonesia Timur (NIT).
Perundingan-perundingan dilakukan antara pemerintah Republik Indonesia Serikat (NST dan NIT) dengan pemerintah Republik Indonesia dengan tujuan membentuk negara Kesatuan. Maka pada tanggal 19 Mei 1950 ditanda tanganilah piagam persetujuan antara Pemerintah RIS dan Pemerintah RI yang ditandatangani oleh masing-masing Perdana Menteri. Selanjutnya dibentuk sebuah Panitia Bersama yang tugas utama merancang UUDS Negara Kesatuan, pada saat itu diketuai oleh Soepomo (RIS) dan Mr. Abdul Hakim (RI). Pada tanggal 30 Juni hasil dari Panitia Bersama disampaikan kepada Pemerintah RIS dan Pemerintah RI. Dengan merubah sedikit karya Panitia Bersama oleh kedua Pemerintah dijadikan Rancangan UUDS RI dan diajukan kepada DPR, Senat dan Banda kerja KNIP yang tanpa mengamandemen menjadikannya menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS RI).
Pekerja KNP oleh Pemerintah RI untuk memperoleh pengesahan. Presiden Soekarno menyatakan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1950 dihadapan Sidang Istimewa BP KNP Yogyakarta. UU Federal yang memuat naskah UUDS RI adalah UU No. 7/1950 (LN 1950/56) dan mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1950 (pasal II ayat 1). Dengan begitu 17 Agustus 1950 kembalilah bangsa Indonesia ke Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 1945 yakni membentuk negara Kesatuan. Oleh karena Bangsa Indonesia kembali kepada NKRI berdasarkan Proklamasi 1945, tentunya harus ada Lembaga Negara untuk menjalankan Fungsi daripada Negara itu sendiri dan menjalankan berbagai macam Tugas dari negara. Oleh karena itu makalah ini akan membahasa bagaimana Lembaga Negara didalam UUDS 1950.
Rumusan Masalah:
1. Bagaimana Kedudukan, Tugas, Fungsi, Wewenang dan Pengisian Jabatanya serta Hubungan Antar Lembaga di dalam UUDS 1950?
BAB II PEMBAHASAN
1. Kedudukan, Tugas, Fungsi, Wewenang dan Pengisian Jabatanya serta Hubungan Antar Lembaga di dalam UUDS 1950
1.1 Lembaga Kepresidenan dalam UUDS 1950
Seperti halnya kontitusi RIS, UUDS tahun 1950 juga menempatkan presiden hanya sebagai Kepala Negara. Sementara Kepala Pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri. Pasal 45 (1) UUDS 1950 berbunyi sebagai berikut:
”Presiden Ialah Kepala Negara”
Jika menurut Pasal tersebut presiden merupakan Kepala Negara saja dan bukan
merupakan Penyelenggara Pemerintahan, secara otomatis secara kontitusi, kewenangan yang diberikan oleh konstitusi pun berubah, dimana sebagai contoh daripada kepala pemerintahan pada konteks Proklamasi 1945/UUD 1945 dimana pada pasal 4 (1) UUD 19451, Presiden secara Atributif diberikan wewenang sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara, yang berarti Presiden adalah penyelenggara pemerintahan tertinggi dibawah majelis dan juga kepala Negara sebagai symbol2.
Di sisi lain Presiden bukan sebagai Penyelenggara Pemerintahan, karena kewenangan penyelenggara Pemerintahan diberikan kepada Perdana Menteri Ir. H. Djuanda. Oleh karena itu pada konstitusi negara Indonesia pada tahun 1950 ini Presiden negara Indonesia hanya ditempatkan sebagai Kepala Negara saja.
Wewenang Lembaga Kepresidenan dalam UUDS 1950
Kompetensi Lembaga Kepresidenan didalam UUDS 1950 ternyata hanya memuat beberapa kaidah saja yang berkaitan dengan kewenangan Presiden itu sendiri, menurut Pasal 50 UUDS 1950 Presiden diberi kewenangan untuk membentuk Kementrian – Kementrian, dengan kata lain presiden tidak berkoordinasi dengan wakilnya perihal pembentukan Kementrian – Kementrian ini, dikarenakan hanya ada Frasa “Presiden” saja yang ada di dalam pasal tersebut, dan tidak menyebutkan Wakil Presiden ataupun Beserta Wakil Presiden. Dengan kata lain yang ingin saya sampaikan disini, Wakil Presiden tidak
diberikan wewenang untuk membentuk Kementrian – kementrian jika berdasarkan pasal 50 UUDS.
Kewenangan presiden selain daripada pasal 51UUDS adalah sebagai berikut :
Pasal 51
(1) Presiden menundjuk seorang atau beberapa orang pembentuk Kabinet. (2) Sesuai dengan andjuran pembentuk Kabinet itu, Presiden mengangkat seorang dari padanja mendjadi Perdana Menteri dan mengangkat Menteri-menteri
jang lain.
(3) Sesuai dengan andjuran pembentuk itu djuga, Presiden menetapkan siapa-siapa dari Menteri- menterii tu diwadjibkan memimpin Kementerian masing-masing. Presiden boleh mengangkat Menteri-menteri jang tidak memangku sesuatu
Kementerian.
(4) Keputusan-keputusan Presiden jang memuat pengangkatan jang diterangkan dalam ajat (2) dan (3) pasal ini ditanda-tangani serta oleh pembentuk Kabinet.
(5) Pengangkatan atau penghentian antar-waktu Menteri-menteri begitu pula penghentian Kabinet dilakukan dengan keputusan Presiden.
kementrian masing masing. Pasal 51 ayat 1,2,3 ini ingin menunjukan bawasanya PRESIDEN memiliki KUASA lebih untuk memilih alat kelengkapan Negara lain yakni perdana Mentri beserta jajaranya.
CARA PENGISIAN JABATAN
Cara pengisian jabatan untuk mengisi Jabatan sebagai President dan Wakil President antara lain :
Pasal 45:
(3) Presiden dan Wakil-Presiden dipilih menurut aturan jang ditetapkan dengan undang-undang.
(4) Untuk pertama kali Wakil-Presiden diangkat oleh Presiden dari andjuran jang dimadjukan
oleh Dewan Perwakilan Rakjat.
(5) Presiden dan Wakil-Presiden harus warga-negara Indonesia jang telah berusia 30 tahun dan
tidak boleh orang jang tidak diperkenankan serta dalam atau mendjalankan hak-pilih ataupun
orang jang telah ditjabut haknja untuk dipilih.
Pasal 48
Djika Presiden mangkat, berhenti atau tidak dapat melakukan kewadjibannja dalam masa djabatannja, ia diganti oleh Wakil-Presiden sampai habis waktunja.
1.2 Lembaga Negara DEWAN KEMENTRIAN dalam UUDS 1950
Sesuai dengan andjuran pembentuk Kabinet itu, Presiden mengangkat seorang dari
padanja mendjadi Perdana Menteri dan mengangkat Menteri-menteri jang lain.
Pasal tersebut menjadi dasar daripada adanya Perdana Mentri dalam system Pemerintahan NKRI ini, hal ini menjadi kontradiktif dengan Bentuk Negara yang ada didalam Pasal 1 UUDS 1950 ini, dengan adanya Perdana Menteri dalam UUDS 1950 ini menandakan bahwa Pemerintah indonesia masih mencampur adukan konstitusi RIS dengan UUD 1945, yang berarti Bentuk Negara yang Republik dengan system pemerintahan Parlementer. Memang tidak dijelaskan secara Implisit mengenai system pemerintahan pada Era UUDS 1950, tetapi dengan adanya Perdana Mentri menunjukan bawasanya system yang dipakai ialah Parlementer.
Dari pasal 51 ayat (3) menunjukan pula bagaimana cara pengisian jabatan dari Perdana Mentri sendiri, Perdana mentri diangkat oleh Presiden, dan merupakan Hak Perogratif daripada Presiden untuk mengangkat Perdana Mentri dengan semula mulanya Presiden mengangkat seorang atau Beberapa orang untuk membentuk Kabinet, setelah itu Presiden memilih salah seorang dari orang orang yang dipilih menjadi Pembentuk Kabinet untuk selanjutnya mengisi jabatan sebagai Perdana Mentri. Tugas daripada Perdana Mentri ini sendiri ialah sebagai Penyelenggara Pemerintahan, seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa presiden hanya sebagai kepala Negara bukan Kepala Pemerintahan.
Tugas daripada Mentri – Mentri ini sendiri antara lain tertera dalam pasal 52 yaitu:
Pasal 52
(1)Untuk merundingkan bersama-sama kepentingan-kepentingan Republik Indonesia, Menteri – menteri bersidang dalam Dewan Menteri jang diketuai oleh Perdana Menteri atau
dalam hal Perdana Menteri berhalangan, oleh salah seorang Menteri jang ditundjuk oleh Dewan
Menteri.
(2) Dewan Menteri senantiasa memberitahukan segala urusan jang penting kepada Presiden dan Wakil-Presiden. Masing-masing Menteri berkewadjiban demikian djuga berhubung
dengan urusan-urusan jang chusus masuk tugasnja.
Perdana Menteri beserta Jajaranya bertugas sebagai Penyelenggara Pemerintahan, Menteri – Menteri bersidang demi kepentingan – kepentingan Negara Republik Indonesia, dan Menteri – menteri masing masing melakukan urusan yang Khusus yakni mengenai Tugasnya masing masing didalam bidang kementrianya masing masing.
1.4 LEMBAGA NEGARA (BADAN PERADILAN) MAHKAMAH AGUNG.
Berbeda dengan Lembaga Negara yang lainya didalam UUDS 1950 ini, Susunan dan Kekuasaan MA dalam konstitusi UUDS 1950 diatur lebih lanjut dengan Undang – Undang, hal ini selaras dengan bunyi Pasal 78 yang menyatakan bahwa Susunan dan Kekuasaan MA diatur dengan Undang – Undang. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai Susunan dan Kekuasaan daripada MA itu sendiri.
Dalam hal pengisian jabatan untuk MA, dijelaskan didalam pasal 79 UUDS 1950 yang berbunyi :
(1) Ketua, Wakil-Ketua dan Anggauta-anggauta Mahkamah Agung diangkat menurut aturan - aturan jang ditetapkan dengan undang-undang. Pengangkatan itu adalah untuk seumur hidup; ketentuan ini tidak mengurangi jang ditetapkan dalam ajat-ajat
jang berikut.
(2) Undang-undang dapat menetapkan, bahwa Ketua, Wakil-Ketua dan Anggauta-anggauta Mahkamah Agung diberhentikan, apabila mentjapai usia jang tertentu.
(3) Mereka dapat dipetjat atau diberhentikan menurut tjara dan dalam hal jang ditentukan oleh undang-undang.
(4) Mereka dapat diberhentikan oleh Presiden atas permintaan sendiri
Ayat (1) menjelaskan perihal pengangkatan ketua, wakil ketua dan Anggota dari Mahkamah Agung di angkat melalui aturan yang ditetapkan dengan Undang – Undang, dengan kata lain pengangkatan pejabat struktural Mahkamah Agung ditetapkan lain oleh Undang – Undang tidak diangkat dan/atau di mandatkan oleh Presiden, berbeda hal nya dengan UUD 1945 pasal 24A ayat (3) yang menjelaskan bahwa calon hakim agung di usulkan KY kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan ditetapkan sebagai Hakim Agung Oleh Presiden4. Mahkamah agung terdiri dari Hakim hakim Agung, Ketua dan Wakul Ketua Mahkamah Agung dipilih oleh Hakim Agung itu sendiri5.
4 UUD 1945
Kedudukan Mahkamah Agung ialah Pengadilan Negara Tertinggi, hal ini termaktub didalam Pasal 105 (1) UUDS 1950, oleh karena itu seluruh perkara yang ada di INDONESIA, bermuara di Mahkamah Agung. Dalam hal wewenang yang diberikan oleh UUDS 1950 kepada MA ialah hal didalam mengadili para Pejabat – Pejabat tinggi negara, misalkan, Presiden, Wakil Presiden, Ketua, Wakil Ketua DPR, dll6 . Dalam hal ini Para Pejabat Tinggi Negara yang melakukan
pelanggaran dan kejahatan, di adili dalam tingkat Pertama dan Terakhir Oleh Mahkamah Agung.
Lembaga Negara Dewan Pengawas Keuangan Dalam UUDS 1950
Sama hal-nya dengan Lembaga Mahkamah Agung dalam UUDS 1950, Susunan dan Kekuasan Dewan Pengawas Keuangan diatur lebih lanjut didalam Undang – Undang. Tetapi beberapa wewenang dan tugas daripada Lembaga ini diatur di dalam UUDS 1950, contohnya ialah masalah Pengawasan Dan Pemeriksaan, diberikan kuasa sepenuhnya kepada DPK, hal ini termaktub didalam pasal 112 (1) UUDS 19507 , dan selanjutnya hasil daripada pengawasan dan
pemeriksaan itu diberitahukan kepada DPR8. Mengesahkan pengeluaran dan penerimaan keuangan RI yang di pertanggung jawabkan sepenuhnya oleh DPR
6 Lihat UUDS 1950 Pasal 106 (1) Presiden, Presiden, Menteri-menteri, Ketua, Wakil-Ketua dan Anggauta Dewan Perwakilan Rakjat, Wakil-Ketua, Wakil-Wakil-Ketua dan Anggauta
Mahkamah Agung, Djaksa Agung pada Mahkamah Agung, Ketua, Wakil-Ketua, dan Anggauta Dewan Pengawas Keuangan, Presiden Bank-Sirkulasi dan djuga pegawai-pegawai, anggauta-anggauta, madjelis-madjelis tinggi dan pedjabat-pedjabat lain jang ditundjuk dengan undang-undang, diadili dalam tingkat pertama dan tertinggi djuga oleh Mahkamah Agung, pun sesudah mereka berhenti, berhubung dengan kedjahatan dan pelanggaran-djabatan serta kedjahatan dan pelanggaran lain jang ditentukan dengan undang-undang dan jang dilakukannja dalam masa pekerdjaannja, ketjuali djika ditetapkan lain dengan undang-undang.
7 Lihat UUDS 1950
adalah wewenang daripada DPK dengan aturan yang diberikan oleh Undang -Undang9
LEMBAGA KONSTITUANTE
Tugas daripada Lembaga Negara Konstituante ini sendiri ialah Bersama Pemerintah menetapkan Undang – Undang Dasar Republik Indonesia yang akan menggantikan UUDS 1950, hal ini termaktub dalam Pasal 134 UUDS, selain ini pengisian jabatan dari Lembaga ini ialah sebagai berikut:
1. Konstituante terdiri dari sejumlah anggota yang besarnya ditetapkan berdasarkan atas perhitungan setiap 150.000 jiwa penduduk warga negara Indonesia mempunya seorang wakil (Pasal 135 (1))
2. Dilakukan Pemilu berdasarkan undang undang ( Pasal 135(2))
3. Jumlah nya dua kali lipat dari jumlah anggota DPR yang berasalah dari Golongan golongan kecil (pasal 58) Pasal 135(3)
Selain itu Permasalahan Syarat teknis daripada Pengisian jabatan dari Konstituante itu sendiri sama halnya dengan Anggota DPR, hal ini termaktub dalam pasal 136 UUDS 1950. Kontituante sendiri berwenang bersidang untuk membentuk Undang – Undang dasar RI hal ini sama hal nya dengan tugas daripada Lembaga ini sendiri.
HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA NEGARA
PRESIDEN DAN WAKIL
PRESIDEN KONSTITUAN
TE
Jelaslah didalam Bagan diatas hubungan antar Lembaga Negara di Indonesia pada era UUDS 1950 ialah pembagian kekuasaan, didalam pasal – pasal yang ada pada UUDS1950, Presiden diberi kewenangan yang cukup banyak sehingga Presiden disini seakan – akan
Super Power, sama hal nya dengan KONSTITUSI RIS, sebagai contoh Pasal 50 menyatakan bahwa Lembaga Kementrian diangkat oleh Presiden, Pasal 51 (1) Presiden Menunjuk seorang beberapa orang pembentuk Kabinet, Penghentian Mentri – Mentri Pun dilakukan oleh dengan Keputusan Presiden10, contoh contoh pasal diatas menunjukan bahwa Presiden cukup berperan banyak didalam pembentukan Lembaga Kabinet, lalu menunjukan pula hubungan antara Presiden dan Wakil Presiden dengan Kabinet.. Mentri – Mentri di lantik oleh Presiden dengan menyatakan sumpah dihadapan presiden menurut cara agamanya11, hal tersebut juga menegaskan hubungan yang konkret dan diatur oleh konstitusi. Selain itu hal –
10 Lihat Pasal 51(5) UUDS 1950 11 Lihat pasal 53 UUDS 1950
hal yang mengatur tentang hubungan antara presiden dan Kabinet termaktub pula didalam pasal 52,53,54.
Hal hal lain tentang hubungan antar Lembaga yakni Antara DPR dengan Lembaga Lembaga lain,
1. Pasal 63 (1)
“Anggauta-anggauta Dewan Perwakilan Rakjat sebelum memangku djabatannja
mengangkat sumpah (menjatakan keterangan) dihadapan Presiden atau Ketua
Dewan Perwakilan Rakjat jang dikuasakan untuk itu oleh Presiden, menurut tjara
agamanja”
Anggota – Anggota DPR diangkat sumpah dihadapan Presiden atau Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang dikuasakan oleh Presiden, dengan kata lain.
2. Pasal 84
Presiden berhak membubarkan DPR, Keputusan Presiden jang menjatakan
pembubaran itu, memerintahkan pula untuk mengadakan pemilihan Dewan
Perwakilan Rakjat baru dalam 30 hari.
Pasal ini menegaskan hubungan yang krusial antara DPR dengan presiden, dengan keputusan presiden, Presiden berhak membubatkan DPR
a. Pasal 89 : Ketjuali apa jang ditentukan dalam pasal 140 maka kekuasaan perundang-undangan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini, dilakukan
oleh Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakjat
b. Pasal 90 : (1) Usul Pemerintah tentang undang-undang disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakjat dengan amanat Presiden. (2) Dewan Perwakilan
Rakjat berhak memadjukan usul undang-undang kepada Pemerintah.
c. Pasal 91 : Dewan Perwakilan Rakjat berhak mengadakan perubahan-perubahan dalam usul undang-undang jang dimadjukan oleh Pemerintah kepadanja.
d. Hingga pasal 100 UUDS 1950
Hal hal yang di atur didalam pasal 89 s/d 100 UUDS 1950 menyatakan hubungan dengan Pemerintah.
Hal lain pula yang mengatur tentang hubungan MA dengan Presiden ialah:
1. Pasal 107 : (1) Presiden mempunjai hak memberi grasi dari hukuman-hukuman jang didjatuhkan oleh keputusan pengadilan. Hak itu dilakukannja sesudah meminta
nasehat dari Mahkamah Agung, sekadar dengan undang-undang tidak ditundjuk
pengadilan jang lain untuk memberi nasehat.
Hubungan BPK dengan Lembaga lain, Pasal 112 pengawasn dan pemeriksaan tentang keuangan negara dilakukan dengan Pengawan Keuangan, dan ayat (2) menyebutkan bahwas hasil pengawasan dan pemeriksaan di beritahunkan kepada DPR12. Pasal 116 “Pengeluaran
dan penerimaan Republik Indonesia dipertanggung-djawabkan kepada Dewan Perwakilan
Rakjat, sambil memadjukan perhitungan jang disahkan oleh Dewan Pengawas Keuangan,
menurut aturan-aturan jang diberikan dengan undang-undang”.
Badan lain juga yang saling berhubungan ialah Lembaga Konstituante, didalam Pasal 137 ayat (2) dan (3) menjelaskan hubungan ataran Lembaga Konstituante dengan Pemerintah, bunyi pasalnya adalah sebagai berikut:
“(2) Undang-undang Dasar baru berlaku, djika rantjangannja telah diterima dengan sekurangkurangnja dua-pertiga dari djumlah suara Anggauta jang hadlir dan kemudian disahkan oleh Pemerintah. (3) Apabila Konstituante sudah menerima rantjangan
Undang-undang Dasar, maka dikirimkannja rantjangan itu kepada Presiden untuk disahkan oleh Pemerintah. Pemerintah harus mengesahkan rantjangan itu dengan segera. Pemerintah
mengumumkan Undang-undang Dasar itu dengan keluhuran.
Maksudnya, rancangan Undang – Undang Dasar yang di buat oleh Lembaga Konstituante sudah rampung, maka rancangan itu diberikan kepada Presiden untuk disangkan oleh Pemerintah, berarti pemerintah disini adalah Badan Eksekutif, Badan Eksekutif berwenang untuk mengumumkan UUD yang rampung dan disahkan itu kepada masyarakat dengan keluhuran.
Selain itu hubungan Lembaga Konstituante dengan Lembaga Legislatif yakni DPR iaah disebutkan dalam Pasal 138 ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut:
(1) Apabila pada waktu Konstituante terbentuk belum diadakan pemilihan Anggauta-anggauta Dewan Perwakilan Rakjat menurut aturan-aturan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam pasal 57, maka Konstituante merangkap mendjadi
Dewan Perwakilan Rakjat jang tersusun menurut aturan-aturan jang dimaksud dalam pasal tersebut. (2) Pekerdjaan sehari-hari Dewan Perwakilan Rakjat, jang karena ketentuan dalam ajat (1) pasal ini mendjadi tugas Konstituante, dilakukan
oleh sebuah Badan Pekerdja jang dipilih oleh Konstituante diantara Anggauta-anggautanja dan jang bertanggung-djawab kepada Konstituante.
Dalam pasal ini selain menjelaskan hubungan DPR dengan badan konstituante,
menjelaskan pula tentang pengisian jabatan DPR yang isinya adalah Anggota Lembaga Konstituante itu sendiri, apabila badan Konstituante sudah terbentuk lalu anggota – anggota DPR belum ada, makan Konstituante merangkap menjadi DPR.
Negara Republik Indonesia Serikat yang berdiri tanggal 27 Desember 1949 berkat Konperensi Meja Bundar, ternyata umurnya tidak lama. Bentuk susunan “Federasi”(serikat) bukan bentuk yang memang merukapan suatu kehendak rakyat, akibatnya muncul protes – protes berupa tuntutan – tuntutan untuk kembali kepada bentuk negara kesatuan13.
Protes – protes ini semakin lama semakin menjadi, dengan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya negara/daerah – daerah bagian menggabungkan diri kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia. Seperti yang sudah di bahas sebelumnya, tinggal beberapa Negara yang tersisa , yakni Negara Bagian Indonesia Timur, Negara Republik Indonesia dan Negara Sumatera Timur, keadaan semakin tidak tentu dikarenakan kewibaan Pemerintah Negara Federal menjadi semakin berkurang di daerah14.
Untuk mengatasi hal tersebut pada akhirnya diadaakan permusyawaratan yang diadakan oleh ketiga Pemerintahan Negara Bagian. Dalam permusyawaratan ini Pemerintah republik Indonesia Serikat dan Pemerintah Republik Indonesia, pemerintah Republik Indonesia Serikat bertindak pula untuk mewakili Pemerintah Negara Indonesia Timur dan Pemerintah Negara Sumatera Timur15
Pada tanggal 19 Mei 1950 yang pada pokonya disetujui dalam waktu sesingkat – singkatnya untuk melaksanakan Negara Kesatuan sebagai Jekmaan daripada Negara Republik ndonesia berdasarkan proklamasi 17 Agustus 1945, dan untuk itu akan diberlakukan sebuag undang – undang Dasar Sementara dari Kesatuan ini. Dengan merubah kontitusi Republik Indonesia Serikat sedemikian rupa sehingga essensi dari UUD 1945 yaitu antara lain 27, 29, dan pasal 33 ditambah dengan Konstitusi Republik Indonesia Serikat.
13 Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2001, hlm 70
Dengan kata lain Bangunan negara yang dinginkan oleh para pendiri bangsa dan para panitia permusyawaratan ini ialah merubah bentuk negara R.I.S menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia, dengan seluruh daerah bersatu, dan tidak ada lagi Pemerintahan Negara Daerah berbentuk Negara. Bentuk susunan negara kesatuan ini dalam UUDS 1950 ada dikemukakan dalam mukaddimahnya, yaitu dalam alinea IV antara lain dinyatakan sebagai berikut:
“Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu di dalam suatu Piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan dan sabagainya …..”16
Lebih menegaskan agi tentang bentuk susunan kesatuan di dalam UUDS pasal 135 ayat (1):
“Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan ketjil jang berhak mengurus rumah
tangganja sendiri (autonoom), dengan bentuk susunan pemerintahannja ditetapkan dengan
undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusjawaratan dan dasar
perwakilan dalam sistim pemerintahan negara”
Dari uraian tersebut negara berbentuk susunan kesatuan akan berasaskan desentralisasi, ini berarti bahwa daerah negara akan dibagi bagi menjadi daerah besar dan kecil yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri, didalam pasal 131 (1) ini lazim ditemukan di dalam bentuk negara kesatuan, dan tidak akan dijumpai di dalam susunan Federal17
3. Berlakunya kembali UUD 1945
Dimulai dengan adanya pemilihan umum pada bulan Desember 1955 dengan dasar UUDS 1950, dan berbagai macam kejadian yang secara historis sangat berdampak bagi kembalinya lagi UUD 1945 sebagai konstitusi negara ini, Presiden RI sekaligus PANGLMA
TERTINGGI ANGKATAN PERANG membuat DEKRIT PRESIDEN RI tentang “KEMBALI KEPADA UNDANG – UNDANG DASAR 1945” yang dimana pada kesimpulanya dan intinya ialah membubarkan konstituante dan menetapkan UUD 1945 berlaku lagi bagi segenang bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Keadaan keaadan tertentu yang demikian terjadi, menjadikan presiden pada tanggal 5 July 1959 mengeluarkan sebuah Dekrit yang menurut hemat saya, terjadi secara sepihak, karena keadaan – keadaan yang tidak stabil pada waktu itu, yang dimulai dari tidak tecapainya quorum dalam siding Konstituante dalam pemungutan suara Kembali pada UUD 1945, sampai pula pada Sebagian besar para anggota konstituante tidak mau lagi menghadiri sidang18, untuk itu presiden untuk menjaga stabilitas kenegaraan, mengeluarkan dekrit itu.
PENUTUP
Dengan adanya tuntutan dari masyarakat perihal penggantian UUD R.I,S menjadikan Pemerintah Indonesia pada saat itu menjadi tidak karuan, dengan adanya Musyawarah dengan 3 Negara bagian, yakni NRI, NSB, NIT, menjadikan keseluruhan dari Negara – Negara Bagian tersebut bersatu untuk selanjutnya kembali menjadi negara Kesatuan Republik Indonesia, oleh karena itu, muncul UUDS 1950 sebagai penyempurnaan daripada Persatuan Negara – Negara Bagian itu sendiri, dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa menurut Hemat saya pembentukan UUDS 1950 tidak lain untuk mmbuat Negara ini jauh lebih baik lagi. Dibuatnya konstituante sebagai Lembaga untuk membuat suatu Undang – Undang dasar ternyata tidak berhasil, oleh karena itu sesuai dengan persetujuan Pemerintah dengan mandat
UUDS 1950. Pemerintah menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi NKRI, melalui Dekrit Presiden.
DAFTAR PUSTAKA
Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia, 2001, Jakarta, PT Bumi Aksara.
Undang – Undang Dasar Sementara 1950
Penjelasan Undang – Undang Dasar Sementara 1950
Penjelasan Undang – Undang Dasar 1945 (sebelum Amandemen)