1. KOMODITAS SUMBER KARBOHIDRAT
Definisi
Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik yang tersusun hanya dari atom karbon , hidrogen, dan oksigen . Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana. Banyak karbohidrat yang merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta bercabangcabang.
Fungsi
Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan . Selain itu, karbohidrat juga menjadi komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam bentuk serat ( fiber ), seperti selulosa, pektin, serta lignin.
Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh. Selain sebagai sumber energi, karbohidrat juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh, berperan penting dalam proses metabolisme dalam tubuh, serta pembentuk struktur sel dengan mengikat protein dan lemak.
Sumber Karbohidrat a. Beras
Kata "beras" mengacu pada bagian bulir padi ( gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam secara anatomi disebut ' palea ' (bagian yang ditutupi) dan ' lemma ' (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Gambar 1. Struktur beras
Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari :
● aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit, ● endospermia, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan
● embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan ). Dalam bahasa seharihari, embrio disebut sebagai mata beras.
Gambar 2. Skema beras
perbedaan pola budidayanya.
Komposisi sekam terdiri dari 25% selulosa, 30% lignin, 25% pentosa dan 21% abu (95% silika). Sekam padi merupakan lapisan keras yang membungkus kariopsis butir gabah, terdiri atas dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan gabah, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak, dan energi.
Ditinjau dari komposisi kimiawinya, sekam mengandung beberapa unsur penting seperti terlihat pada Tabel 1. Dengan komposisi kandungan kimia tersebut, sekam antara lain dapat dimanfaatkan untuk (1) bahan baku industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural; (2) bahan baku industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO 2)
yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, huskboard dan campuran pada industri bata merah; (3) sumber energi panas karena kadar selulosanya cukup tinggi sehingga dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil. Sekam memiliki kerapatan jenis (bulk density) 125 kg/m3, dengan nilai kalori 3.300 kkal/kg sekam.
Tabel 1 Komposisi kimiawi sekam
Menurut definisinya, dedak (bran) adalah hasil samping proses penggilingan padi, terdiri atas lapisan sebelah luar butiran padi dengan sejumlah lembaga biji. Sementara bekatul (polish) adalah lapisan sebelah dalam dari butiran padi, termasuk sebagian kecil endosperm berpati. Namun, karena alat penggilingan padi tidak memisahkan antara dedak dan bekatul maka umumnya dedak dan bekatul bercampur menjadi satu dan disebut dengan dedak atau bekatul saja.
Bekatul diketahui mengandung komponen bioaktif oryzanol, tokoferol, dan asam felurat yang membuatnya berpotensi menjadi bahan makanan fungsional. Oryzanol berfungsi menurunkan kolesterol yang merugikan didalam darah. Tokoferol adalah vitamin E yang bersifat antioksidan, sedangkan asam felurat diketahui menurunkan kadar gula dan tekanan darah.
Minyak dedak ( rice bran oil ) merupakan minyak hasil ekstraksi dedak padi. Minyak dedak dapat dikonsumsi dan mengandung vitamin, antioksidan serta nutrisi yang diperlukan tubuh manusia. Minyak dedak mengandung beberapa jenis lemak, yaitu 47% lemak monounsaturated, 33% polyunsaturated, dan 20% saturated, serta asam lemak yaitu asam oleat 38,4%, linoleat 34,4%, linolenat 2,2%, palmitat 21,5%, dan stearat 2,9%. Minyak dedak juga mengandung antioksidan alami tokoferol, tokotrienol, dan oryzanol (Tabel 2), yang bermanfaat melawan radikal bebas dalam tubuh terutama sel kanker, serta membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Oleh karena itu, minyak dedak dapat dimanfaatkan sebagai suplemen pangan untuk meningkatkan kualitas kesehatan manusia.
Tabel 2 Perbandingan antioksidan alami pada beberapa jenis minyak makan
maupun stir frying . Deep frying digunakan pada penggorengan keripik atau produk yang harus terendam dalam minyak, sedangkan stir frying untuk jenis makanan seperti makanan laut, daging, dan sayuran karena memiliki daya tahan alami terhadap timbulnya asap walaupun pada suhu tinggi.
Minyak dedak juga dapat dimanfaatkan sebagai snack dan margarin karena secara alami dapat membentuk β kristal yang stabil dikombinasikan dengan asam palmitat
sehingga bersifat plastis dan berbentuk krim. Fraksi yang tidak tersabunkan dari minyak dedak mengandung 1,52,0% gamaoryzanol yang merupakan ester ferulat dari triterpen alkohol dan fitosterol. Gamaoryzanol dan komponen minyak dedak padi lainnya dapat menurunkan kolesterol dan mencegah arteriosklerosis. Oryzanol juga dapat menghambat waktu menopause. Minyak dedak juga mengandung sekitar 350 ppm tokotrienol yang termasuk ke dalam golongan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan alami yang kuat. Tokotrienol dipercaya dapat mencegah penyakit kardiovaskuler dan kanker.
Gambar 3. Alur pengolahan dedak padi menjadi minyak dedak (Mulyana, 2007)
Varietas beras sangat beragam dan dapat dilihat dari masingmasing daerah, misalnya beras varietas cianjur, beras solok, dan beras banyuwangi. Berdasarkan varietasnya dikenal adanya beras Rojolele, beras bulu, beras IR, beras Cisadane dan lainlain.
dipengaruhi oleh kondisi tanah pertanian, pemupukan, lingkungan tempat tumbuhnya dan iklim.
Secara umum varietas beras dapat digolongkan ke dalam tiga golongan yang berdasarkan pada kandungan amilosanya yaitu: golongan amilosa rendah, sedang dan tinggi. Beras dengan golongan amilosa rendah mempunyai kandungan amilosa 1020 persen, misalnya beras cisadane dengan kandungan amilosa 20 persen. Apabila kandungan beras tersebut antara 2025 persen maka dapat digolongkan ke dalam amilosa sedang, contohnya adalah beras IR 64 dengan kandungan amilosa 24 persen, dan golongan amilosa tinggi dengan kandungan amilosa 2532 persen, contohnya adalah beras IR 36 dengan kandungan amilosa 25 persen.
Sifat tekstur nasi dapat dilihat dari perbandingan antara kadar amilosa dan amilopektin (Somantri, 1983; Allidawati dan Bambang, 1989; Damardjati, 1995). Kadar amilosa lebih banyak menentukan sifat tekstur nasi daripada sifatsifat fisik lainnya, seperti suhu gelatinisasi dan gel konsistensi (Soewarno et al, 1982; Damardjati, 1995). Kadar amilosa dalam beras sekitar 137% (Somantri, 1983).
Beras yang berkadar amilosa rendah, bila dimasak menghasilkan nasi yang lengket, mengkilap, tidak mengembang dan tetap menggumpal setelah dingin. Beras yang berkadar amilosa tinggi, bila dimasak nasinya tidak lengket, dapat mengembang dan menjadi keras, jika sudah dingin. Sedangkan beras beramilosa sedang umumnya mempunyai tekstur nasi yang pulen (Suwarno, et al, 1982; Damardjati, 1995).
● Kandungan beras
Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 8085%). Beras juga mengandung protein , vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras dapat digolongkan menjadi dua kelompok :
● amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang ● amilopektin, pati dengan struktur bercabang.
Komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera).
vitamin, mineral dan komponen lainnya. Besar masingmasing komponen di pengaruhi oleh varietas, lingkungan budidaya dan metoda analisa yang dilakukan. Kandungan karbohidrat 74,977,8 persen, protein 7,183 persen, dan lemak 0,50,9persen.
Karbohidrat merupakan penyusun utama beras dan sebagian besar dari karbohidrat ini adalah pati. Sedang karbohidat lain seperti pentosa dan selulosa, hemiselulosa dan gula hanya terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit. Oleh karena itu pati merupakan fraksi terbesar dalam beras, maka sifat fisikokimia pati mempunyai peranan penting dalam penentuan sifat fisikokimia beras.
Komponen penyusun kedua setelah karbohidrat adalah protein. Walaupun jumlah protein dalam beras tergolong kecil atau relatif rendah yaitu kurang lebih 8% pada beras pecah kulit dan 7% pada beras giling, mutu dari protein ini tergolong tinggi, karena kandungan lisin yang relatif tinggi yaitu kurang lebih 4% dan protein dapat menghasilkan kalori sebesar 4080 kalori. Nilai cerna protein beras sekitar 96,5% untuk biji gabah dan 98% untuk beras giling. Kandungan protein dalam beras terdiri atas 5% albumin (protein yang larut dalam air), 10% globulin (protein yang larut dalam garam), dan lebih dari 10% glutelin (protein larut dalam alkohol).
Kandungan lipid atau lemak merupakan penyusun ketiga setelah karbohidat dan protein. Pada beras pecah kulit adalah 2,43,9% sedang pada beras giling adalah 0,30,6%. Lipida tersebut dalam bentuk trigliserida atau lipid netral dan dalam asam lemak bebas atau lipid polar. Asamasam lemak utama dalam lipida beras adalah asam palmitat, oleat dan linoleat. Dalam endosperm terutama pati mengandung lipida fungsional. Fraksi utama dari lipid beras adalah asam oleat dan palmitat.
Penyusun berikutnya adalah vitamin, pada beras adalah dalam bentuk tiamin, riboflavin, niasin dan piridoksin, masingmasing berturutturut 4ug/g, 0,6ug/g dan 50ug/g. Kandungan vitamin ini biasanya lebih tinggi pada beras pecah kulit daripada beras sosoh, kadar riboflavin dalam beras rendah dan vitamin C tidak ada.
● Macam dan warna beras
● Beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.
● Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu,
● Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam,
● Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin,
● Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.
Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.
Diantara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang bewarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Meski dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru diatas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg 0,31 mg).
● Kegunaan beras
Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi dan snack breakfast cereal. Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron ), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung rice bran . Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen dengan sebutan tepung mata beras. Untuk kepentingan diet , beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.
bahan baku fermentasi, beras digunakan untuk substrat pembuatan minuman beralkohol seperti sake, sonti, tape ketan, dan produkproduk lainnya. Beras juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam proses fermentasi pembuatan tauco dan kecap.
Jerami dapat dimanfaatkan selain sebagai pakan ternak, juga dapat digunakan sebagai substrat pada pembuatan jamur merang. Selain itu, jerami juga dapat digunakan dalam pembuatan partikel board serta pulp & paper.
Dalam bidang pertanian, sekam dapat digunakan sebagai pakan ternak, bahan bangunan, bahan bakar dan pupuk. Sedangkan dalam industri, dapat digunakan sebagai adsorbent, pemanas tanur listrik, campuran semen serta sebagai bahan baku furfural.
b. Jagung
Jagung ( Zea mays ) merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga merupakan sumber protein yang penting dalam menu masyarakat Indonesia. Kandungan gizi utama jagung adalah pati (7273%), dengan perbandingan amilosa dan amilopektin 2530% : 7075%, namun pada jagung pulut (waxy maize) 07% : 93100%.
Kadar gula sederhana jagung (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) berkisar antara 13%. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin . Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.
berkembangnya ilmu genetika dan pemuliaan telah dihasilkan beberapa varietas jagung yang mengandung triptofan cukup tinggi.
Gluten jagung dapat digunakan sebagai bahan pembuatan asam glutamat, meskipun gluten terigu lebih disukai karena kandungan asam glutamatnya lebih tinggi. Kekurangan gluten jagung biasa adalah protein yang tidak seimbang, karena kekurangan lisin dan triptofan (Winarno 1986).
Secara struktural, biji jagung yang telah matang terdiri atas empat bagian utama, yaitu perikarp, lembaga, endosperm, dan tip kap (Gambar 4). Perikarp merupakan lapisan pembungkus biji yang berubah cepat selama proses pembentukan biji. Pada waktu kariopsis masih muda, selselnya kecil dan tipis, tetapi selsel itu berkembang seiring dengan bertambahnya umur biji. Pada taraf tertentu lapisan ini membentuk membran yang dikenal sebagai kulit biji atau testa/aleuron yang secara morfologi adalah bagian endosperm. Bobot lapisan aleuron sekitar 3% dari keseluruhan biji (Inglett 1987).
Lembaga merupakan bagian yang cukup besar. Pada biji jagung tipe gigi kuda, lembaga meliputi 11,5% dari bobot keseluruhan biji. Lembaga ini sendiri sebenarnya tersusun atas dua bagian yaitu skutelum dan poros embrio ( embryonic axis ). Endosperm merupakan bagian terbesar dari biji jagung, yaitu sekitar 85%, hampir seluruhnya terdiri atas karbohidrat dari bagian yang lunak (floury endosperm) dan bagian yang keras (horny endosperm) (Wilson 1981). Lembaga terdiri atas plumula, radikel, dan skutelum, yaitu sekitar 10% dan perikarp 5%. Perikarp merupakan lapisan luar biji yang dilapisi oleh testa dan lapisan aleuron. Lapisan aleuron mengandung 10% protein (Mertz 1972).
Setiap tip cap adalah bagian yang menghubungkan biji dengan janggel. Lapisan aleuron, perikarp, dan lembaga mengandung protein dengan kadar yang berbeda. Lembaga juga mengandung lemak dan mineral (Inglett 1987).
Gambar 4. Struktur biji jagung (Damardjati 1988).
Tabel 3. Komposisi kimia jagung berdasarkan bobot kering.
● Manfaat Jagung
Hampir seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Batang dan daun tanaman yang masih muda dapat digunakan untuk pakan ternak, yang tua (setelah dipanen) dapat digunakan untuk pupuk hijau atau kompos. Saat ini cukup banyak yang memanfaatkan batang jagung untuk kertas. Harganya cukup menarik seiring dengan kenaikan harga bahan baku kertas berupa pulp. Buah jagung yang masih muda banyak digunakan sebagai sayuran, perkedel, bakwan, dan sebagainya. Kegunaan lain dari jagung adalah sebagai pakan ternak, bahan baku farmasi, dextrin, perekat, tekstil, minyak goreng, dan etanol.
Berdasarkan komposisi kimia dan kandungan nutrisi, jagung mempunyai prospek sebagai pangan dan bahan baku industri. Pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri akan memberi nilai tambah bagi usahatani komoditas tersebut (Suarni 2003, Suarni dan Sarasutha 2002, Suarni et al. 2005).
masih mengandung bahan terlarut, yaitu fosfatida, asam lemak bebas, pigmen, waxes, dan sejumlah kecil bahan flavor dan odor (Tabel 2.4).
Komponen utama jagung adalah pati, yaitu sekitar 70% dari bobot biji. Komponen karbohidrat lain adalah gula sederhana, yaitu glukosa, sukrosa dan fruktosa, 13% dari bobot biji. Pati terdiri atas dua jenis polimer glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan rantai unitunit Dglukosa yang panjang dan tidak bercabang, digabungkan oleh ikatan a(1 →4), sedangkan amilopektin strukturnya bercabang. Ikatan
glikosidik yang menggabungkan residu glukosa yang berdekatan dalam rantai amilopektin adalah ikatan a(1 →4), tetapi titik percabangan amilopektin merupakan ikatan a(1 →6).
Bahan yang mengandung amilosa tinggi, jika direbus amilosanya terekstrak oleh air panas, sehingga terlihat warna putih seperti susu (Lehninger 1982).
Tabel 4. Komposisi minyak jagung murni
Bobot
molekul amilosa
dan
amilopektin bergantung pada sumber botaninya. Amilosa merupakan komponen dengan rantai lurus, sedangkan amilopektin adalah komponen dengan rantai bercabang. Amilosa merupakan polisakarida berantai lurus berbentuk heliks dengan ikatan glikosidik α1,4.
Jumlah molekul glukosa pada rantai amilosa berkisar antara 250350 unit.
Amilopektin merupakan polisakarida bercabang, dengan ikatan glikosidik α1,4 pada
rantai lurusnya dan ikatan α1,6 pada percabangannya. Titik percabangan amilopektin
mengandung amilosa 2530% dan amilopektin 7075%. Namun jagung pulut ( waxy maize ) dapat mengandung 100% amilopektin. Suatu mutan endosperma yang disebut amyloseextender (ae) dapat menginduksi peningkatan nisbah amilosa sampai 50% atau lebih. Gen lain, baik sendiri maupun kombinasi, juga dapat memodifikasi nisbah amilosa dan amilopektin dalam pati jagung.
Sebagai bahan pangan, jagung dikonsumsi dalam bentuk segar, kering, dan dalam bentuk tepung. Alternatif produk yang dapat dikembangkan dari jagung mencakup produk olahan segar, produk primer, produk siap santap, dan produk instan. Jagung dapat disiapkan menjadi bahan setengah jadi (primer) sebagai bahan baku industri. Bentuk produk ini umumnya bersifat kering, awet, dan tahan disimpan lama, antara lain adalah beras jagung, tepung, dan pati.
Produk jagung yang paling banyak dikonsumsi rumah tangga di perkotaan adalah dalam bentuk basah dengan kulit, sedang di pedesaan dalam bentuk pipilan. Jagung pipilan kering dapat diolah menjadi bahan setengah jadi (jagung sosoh, beras jagung, dan tepung). Pembuatan beras jagung dengan menggunakan alat proses disajikan pada Gambar 2.5. Jagung sosoh dapat diolah menjadi bassang, yaitu makanan tradisional Sulawesi Selatan, sedangkan beras jagung dapat ditanak seperti layaknya beras biasa. Tepung jagung dapat diolah menjadi berbagai makanan atau mensubstitusi terigu pada proporsi tertentu, sesuai dengan bentuk produk olahan yang diinginkan (Suarni dan Firmansyah 2005).
Gambar 5. Proses pembuatan beras dan tepung jagung
berbagai produk pangan dan relatif mudah diterima masyarakat, karena telah terbiasa menggunakan bahan tepung, seperti halnya tepung beras dan terigu.
Kandungan nutrisi biji jagung mengalami penurunan setelah diolah menjadi bahan setengah jadi (Tabel 5). Pemanfaatan tepung jagung komposit pada berbagai bahan dasar pangan antara lain untuk kue basah, kue kering, mie kering, dan rotirotian.
Tepung jagung komposit dapat mensubstitusi 3040% terigu untuk kue basah, 6070% untuk kue kering, dan 1015% untuk roti dan mie (Antarlina dan Utomo 1993, Munarso dan Mudjisihono 1993, Azman 2000, Suarni 2005a). Pada proses pembuatan beras jagung terdapat hasil sampingan berupa bekatul yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat kasar yang sangat berguna bagi tubuh (dietary fiber). Bekatul dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain dalam pembuatan kue kering berserat tinggi (Suarni 2005b).
Modifikasi tepung jagung secara enzimatik menunjukkan perubahan sifat fisikokimia dan fungsional, kadar amilosa, dan derajat polimerisasi (DP) mengalami penurunan, gula reduksi dan dekstrosa eqivalent (DE) mengalami kenaikan. Tekstur tepung termodifikasi lebih halus dibanding tepung aslinya (Suarni 2006).
Tabel 5. Kandungan nutrisi biji, beras dan tepung jagung
c. Gandum
Gandum ( Triticum spp. ) adalah sejenis tanaman yang kaya akan karbohidrat . Gandum biasanya digunakan untuk memproduksi tepung terigu , pakan ternak , ataupun difermentasi untuk menghasilkan alkohol. Biji gandum terdiri atas: 83% endosperma, 14.5% bran & aleurone layer, 2.5% germ. Tepung terigu adalah tepung/bubuk halus yang berasal dari biji gandum, dan digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mi dan roti . Tepung terigu mengandung banyak zat pati , yaitu karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air. Tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk gluten , yang berperan dalam menentukan kekenyalan makanan yang terbuat dari bahan terigu.
Tepung terigu mengandung banyak zat pati , yaitu karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air. Tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk gluten , yang berperan dalam menentukan kekenyalan makanan yang terbuat dari bahan terigu.
Gambar 7. Potongan melintang biji gandum
d. Singkong
Singkong, yang juga dikenal sebagai ketela
pohon atau ubi kayu, dalam bahasa Inggris
bernama cassava, adalah pohon tahunan tropika
dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae . Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.
Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida . Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka.
e. Ubi Jalar
Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubijalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar menyebar ke seluruh dunia terutama negaranegara beriklim tropika, diperkirakan pada abad ke16. Orangorang Spanyol dianggap berjasa menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia terutama Filipina, Jepang dan Indonesia (Direktorat Kacangkacangan dan Umbiumbian, 2002).
Ubi jalar adalah tanaman yang tumbuh baik di daerah beriklim panas dan lembab, dengan suhu optimum 27°C dan lama penyinaran 1112 jam per hari. Tanaman ini dapat tumbuh sampai ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Ubi jalar tidak membutuhkan tanah subur untuk media tumbuhnya. Di Jepang, ubi jalar adalah salah satu sumber karbohidrat yang cukup populer.
Beberapa varietas ubi Jepang cukup dikenal hingga ke Indonesia. Selanjutnya beberapa varietas yang diusahakan tersebar secara luas di Indonesia, diantaranya varietas ibaraki, beniazuma, dan naruto (Hartoyo, 2004).
● Jenisjenis Ubi Jalar
daging umbi, warna kulit, daya simpan, komposisi kimia, sifat pengolahan dan umur panen (Antarlina dan Utomo, 1999).
Bentuk ubi biasanya bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata. Kulit ubi berwarna putih, kuning, ungu atau ungu kemerahmerahan, tergantung jenis (varietas) nya. Daging ubi berwarna putih, kuning atau jingga sedikit ungu (Rukmana, 1997). Menurut Woolfe (1992), kulit ubi maupun dagingnya mengandung pigmen karotenoid dan antosianin yang menentukan warnanya. Kombinasi dan intesitas yang berbedabeda dari keduanya menghasilkan warna putih, kuning, oranye, atau ungu pada kulit dan daging ubi.
Gambar 2.8. Ubi jalar Oranye dan Ubi jalar Ungu (Anonymous, 2006a)
Suhartina (2005), melaporkan varietasvarietas ubi jalar yang pernah dilepas oleh pemerintah Indonesia antara lain: Daya (1977), Borobudur (1982), Prambanan (1982), Mendut (1989), Kalasan (1991), Muara Takus (1995), Cangkuang (1998), Sewu (1998). Sedangkan varietasvarietas yang baru dilepas tahun 2001 antara lain: Cilembu yang berasal dari Sumedang Jawa Barat dengan warna daging umbinya krem kemerahan/kuning, Sari yang berasal dari Persilangan Genjah Rante dan Lapis dengan warna daging umbi kuning, Boko yang merupakan hasil persilangan antara no.14 dan Malang 1258 dengan warna daging umbinya krem, Sukuh yang berasal dari persilangan klon induk betina AB 940 dengan warna daging umbi putih, Jago yang berasal dari famili klon B 00593 dengan warna daging umbi kuning muda, Kidal yang berasal dari persilangan bebas induk Inaswang dengan warna daging umbi kuning tua.
● Komposisi kimia ubi jalar segar
juga merupakan sumber vitamin dan mineral. Vitamin yang terkandung dalam ubi jalar antara lain vitamin A, vitamin C, thiamin (vitamin B1), dan riboflavin. Sedangkan mineral dalam ubi jalar diantaranya adalah zat besi (Fe), fosfor (P), dan kalsium (Ca). Kandungan lainnya adalah protein lemak, serat kasar dan abu (Kumalaningsih, 2006). Adapun komposisi kimia beberapa jenis ubi jalar dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Komposisi kimia ubi jalar sedang
Tabel 7. Komponen Gizi Ubi Jalar
f. Aren
Enau atau aren ( Arenga pinnata , suku Arecaceae ) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau , peluluk, biluluk, kabung , juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya ); kawung, taren (Sd. ); akol , akel , akere ,
inru, indu (bahasabahasa di Sulawesi ); moka, moke, tuwa , tuwak (diNusa Tenggara ), dan lainlain.
Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 m . Berdiameter hingga 65 cm , batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk , injuk, juk atau duk . Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang. Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputihputihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya. Berumah satu, bungabunga jantan terpisah dari bungabunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.
Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil gula . Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mulamula dimemarkan dengan memukulmukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan diujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes.
nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu) atau ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa , agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut.
Nira mentah (segar) bersifat pencahar ( laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urusurus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti . Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lainlain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji ( endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian intiinti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 1020 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolangkaling.
g. Sagu
Sagu merupakan jenis tanaman basah yang dapat tumbuh pad adaerah rawa. Sagu dapat digolongkan menjadi beberapa genus, yaitu metroxylon, arenga, corypha, euqeissona, dan caryota. Genus yang banyak dikenal adalah metroxylon dan arenga karena kandungan acinya cukup tinggi. Sagu dari genus metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu yangberbunga/berbuah dua kali (pleonanthic) dan berbunga/berbuah sekali (hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting karena kandungan karbohidratnya lebih banyak. Golongan ini terdiri dari lima varietas penting, yaitu :
a. Metroxylon sagus, Rottbol atau sagu Molat
b. Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni
c. Metroxylon rumphii, Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu Ihur
Sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton per hectare (ha), hasil ini jauh melebihi beras atau jagung. Kandungan pati beras hanya 6 ton per ha sedangkan pati kering jagung hanya 5,5 ton per ha. Panen dapat dilakukan mulai umur 67 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 1015 m, diameter 6070 cm tebal kulit luar 10 cm dan tebal batang yang mengandung sagu 5060 cm.
Tepung sagu memiliki ciri khas yang mirip dengan tepung tapioka. Dalam resep masakan, tepung sagu yang relatif sulit diperoleh sering diganti dengan tepung tapioka, meskipun keduanya sebenarnya berbeda. Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Maluku dan Papua yang tinggal di pesisir. Tepung sagu kaya dengan karbohidrat ( pati) namun sangat miskin gizi lainnya. Ini terjadi akibat kandungan tinggi pati di dalam teras batang maupun proses pemanenannya. Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di dalamnya ratarata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat , 10 mg kalsium, 1,2 mg besi, dan lemak, karoten , tiamin , dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil. Selain itu, tanaman sagu mengandung pati tidak tercerna yang penting bagi kesehatan pencernaan.
h. PATI
Pati (C 6H10O5)n telah dikenal di Mesir sejak 4000 tahun sebelum masehi. Ekstraksi dan penggunaan pati merupakan sumber karbohidrat utama yang disediakan alam, dimana jumlahnya sama dengan selulosa. Pati disintesis pada kloroplas tumbuhtumbuhan yang berperan sebagai pusat fotosintesa, tempat karbohidrat dihasilkan yaitu reaksi dari CO 2 dan air. Pati dapat ditemukan pada semua bagian tumbuhtumbuhan, yang dihasilkan gula yang selanjutnya dibawa dan disimpan sebagai cadangan energi pada bagianbagian tanaman seperti biji, akar, umbi dan batang.
Menurut Tjokroadikoesoemo (1986) pati adalah salah satu jenis polisakarida yang amat luas tersebar di alam. Bahan ini tersimpan sebagai cadangan makanan bagi tumbuhtumbuhan di dalam bijibijian/serealia (jagung, gandum, juwawut, sorghum dan lainlain), di dalam umbi (ubi kayu, ubi jalar, huwi, talas, kentang dan lainlain) dan pada batang (aren, sagu dan lainlain).
bahan makanan. Pati merupakan butiran atau granula yang berwarna putih mengkilat, tidak berbau serta tidak mempunyai rasa. Pati pada dasarnya merupakan polimer glukosa dengan ikatan 1,4 αglikosidik. Sifat dari berbagai macam pati tidak sama, tergantung dari
panjang rantai karbonnya (Winarno, 1989). Dilihat dari susunan kimianya, pati adalah polimer dari glukosa atau maltosa. Unit terkecil di dalam rantai pati adalah glukosa yang merupakan hasil proses fotosintesa di dalam bagian tubuh tumbuhtumbuhan yang mengandung klorofil (Tjokroadikoesoemo, 1986).
● Granula Pati
Dalam bentuk aslinya, pati merupakan butirbutir kecil yang disebut granula pati. Granula pati mempunyai ukuran, bentuk, keseragaman dan bentuk hilum yang khas dan berbedabeda tergantung dari jenis patinya, sehingga dapat digunakan untuk identifikasi jenis pati. Dalam granula, campuran dari molekul struktur linear dan bercabang, tersusun secara radial dalam sel yang konsentrik dan membentuk cincin dan lamella. Terbentuknya lamella dalam pati, diduga sebagai akibat dari adanya pelapisan molekul pada granula, sedangkan hilum merupakan titik dari mulai berkembangnya granula. Sifat fisik dan komposisi kimia berbagai jenis granula pati disajikan pada Tabel 8.
Pati Jagung Tepung Jagung Pati Beras
Pati Gandum Pati Sagu Pati Ganyong
Gambar 9. Bentuk granula dari beberapa jenis pati dan tepung Sumber : Martin (1976) di dalam Winarno (1997)
Tabel 8. Sifat fisik dan komposisi kimia berbagai jenis granula pati
Sifat Granula Pati Jenis Pati
Jagung Kentang Gandum Ubi Kayu Sagu Ubi Jalar
Sifat Fisik :
Tipe Serealia Umbi Serealia Akar Batang Umbi
Kisaran ukuran diameter(µm) 326 5100 235 435 565 525
Ukuran diameter rata2 (µm) 15 33 15 20 30 15
Bentuk
polygonal Bulat, spherical oval, lenticular Bulat, truncated Oval, truncated Oval, Polygonal
Komposisi Kimia :
Kadar air pada RHa 65 % dan 20 oC 13 19 14 13 14 13
Lemak (% bkb) 0,6 0,05 0,8 0,1 0,1
Protein Ncx6,25 (% bkb) 0,35 0,06 0,4 0,1 0,1
Kadar Abu (% bkb) 0,1 0,4 0,15 0,2 0,2 0,1
bkb = Basis kering
Nc = Kandungan nitrogen Sumber : Swinkels (1985)
● Ekstraksi Pati
Sumber pati dapat diperoleh dari umbiumbian, bijibijian serta bagian batang tanaman. Umbi merupakan bagian tanaman yang berupa akar atau batang sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan. Akar dan batang yang berfungsi khusus untuk menyimpan cadangan makanan akan membengkak, memiliki sejumlah besar parenkim yang selselnya penuh dengan cadangan makanan. Akibat hal tersebut maka terjadi dominasi selsel parenkim pada xylem dan floem sekundernya. Selama terjadi proses pembengkakan umbi, diikuti pula dengan peningkatan konsentrasi pati dan terjadi penurunan kadar air dalam pati. Bijibijian sumber pati menyimpan cadangan makanan pada endosperm. Penggilingan bijibijian secara kering akan menghasilkan tepung, sedangkan pati merupakan produk bijibijian yang diekstrak dengan cara penggilingan basah.
Pati dan tepung secara visual terlihat sama yaitu berupa serbuk dan berwarna putih akan tetapi sebenarnya berbeda, baik secara fisik, kimia dan proses pembuatannya. Perbedaan proses pembuatannya terletak pada proses ekstraksi, dimana untuk menghasilkan pati perlu proses ekstraksi.
yaitu batang tanaman penghasil pati dibersihkan. Hal ini untuk memudahkan penebangan dan pemotongan. Tahap selanjutnya penebangan dengan menggunakan kampak, setelah pohon tumbang, pelepahnya dibersihkan dan sebagian ujung batang dibuang karena kandungan patinya rendah. Batang lalu dipotongpotong kemudian dibelah dua untuk memudahkan ekstraksi. Empulur pada batang dihancurkan dengan alat yang disebut nanni. Proses ini disebut penokokan atau pemarutan. Tahapan dilanjutkan dengan pemerasan untuk memisahkan ampas dan kotorankotoran. Tahap ini menghasilkan bubur pati, setelah itu dilakukan penyaringan dan dilanjutkan dengan sehingga dihasilkan endapan pati. Endapan ini lalu dikeringkan menghasilkan pati kering. Diagram alir ekstraksi pati dengan sumber dari batang ditampilkan pada Gambar 12.
● SifatSifat Pati
Sorgum
Gambar 12. Tahapan Ekstraksi Pati dari Sumber Batang
● Komponen Penyusun Pati
Granula pati tidak terdapat dalam keadaan murni, tetapi bercampur dengan bahanbahan kimia lain seperti asam lemak dan senyawa fosfor. Greenwood (1975) mengemukakan bahwa granula pati tersusun oleh tiga komponen utama yaitu amilosa, amilopektin dan bahan antara yang merupakan komponen minor berupa lemak dan protein. Secara umum granula pati bijibijian mengandung bahan antara yang lebih banyak bila dibandingkan dengan granula pati umbiumbian dan umbi batang.
komponen pati dengan jumlah yang besar yaitu kandungan amilosa dan amilopektin. Komponen minor yaitu komponen yang terkandung pada pati dengan jumlah kecil. Komponen minor akan mempengaruhi sifatsifat pati walaupun jumlahnya sedikit.
● Amilosa dan Amilopektin
Menurut Winarno (1997) Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi yang larut dalam air disebut amilosa sedangkan yang tidak larut disebut amilopektin. Amilosa merupakan rantai lurus dari Dglukosa yang dihubungkan dengan ikatan (1,4) glikosidik dengan struktur cincin puranosa, oleh karena itu
heksosa yang mengalami pengulangan adalah unit glukosa. Menurut Hizukuri (1996) amilosa merupakan rantai lurus Dglukosa yang dihubungkan dengan ikatan
1,4Dglukosidik. Panjang rantai lurus tersebut adalah antara 2502000 unit
glukosa dengan bobot molekul antara 40.000340.000.
Amilopektin mempunyai struktur dengan ikatan bercabang yang lebih banyak, terdiri dari amilosa rantai pendek dengan derajat polimerisasi antara 10 sampai 60 unit glukosa. Setiap unit dihubungkan dengan ikatan α(16) glikosidik. Glukosa dengan
ikatan α(16) merupakan titik percabangan molekul amilopektin dan jumlahnya
sekitar 5% unit glukosa dalam amilopektin (Swinkels, 1985). Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) glukosa yang berada dalam amilopektin mencapai jumlah yang besar yaitu 500040.000 unit sebanding dengan berat molekulnya antara 800.000 sampai jutaan
(retakretak). Dibandingkan dengan pati biasa, stabilitas amilopektin pada suhu amat rendah juga lebih tinggi. (5) suhu gelatinisasi lebih rendah.
Amilopektin juga memiliki sifat yang kurang disukai yaitu sifat yang sangat kohesif, viskositas tinggi serta mudah rusak jika mendapat perlakuan panas dan asam. Untuk menghilangkan sifat yang kurang menyenangkan maka pati diberi perlakuan kimia tertentu sehingga mengalami modifikasi. Perbedaan struktur amilosa dan amilopektin terdapat pada Gambar 13.
Amilosa
Amilopektin
Sumber: http://class.fst.ohiostate.edu/fst605/lectures/lect19.html
Gambar 13. Struktur amilosa dan amilopektin
Di bawah ini beberapa komponen minor dalam pati yaitu : 1. Lipid (Internal Lipid)
Komponen ini berikatan dengan molekul lain misalnya fosfolipid, sehingga lipid dari pati sangat sulit diekstrak berbentuk polar lipid.
Klasifikasi protein yang terdapat pada pati berdasarkan kelarutannya yaitu
Serealia Nama Protein Jumlah (%)
Gandum
Polisakarida non pati yang terdapat pada pati yaitu selulosa, hemiselulosa, pentosan, gula dan oligosakarida Naiknya suhu pemanasan akan meningkatkan pembengkakan granula pati. Pembengkakan granula pati menyebabkan terjadinya penekanan antara granula satu dengan yang lainnya. Pada awal pemanasan, pembengkakan granula bersifat
reversible yaitu sifat dari granula yang dapat kembali ke bentuk semula. Pembengkakan granula akan bersifat irreversible (tidak dapat balik) ketika telah melewati suhu tertentu. Gelatinisasi yaitu proses dimana pembengkakan granula pati tidak dapat kembali ke bentuk semula, sedangkan suhu yang terlewati sehingga granula pati tidak dapat kembali disebut suhu gelatinisasi.
proses gelatinisasi terjadi pengrusakan ikatan hidrogen yang berfungsi untuk mempertahankan struktur dan integritas granula pati. Kerusakan integritas dan granula pati menyebabkan granula menyerap air, sehingga sebagian fraksi terpisah dan masuk ke dalam medium. Sesudah pengrusakan granula selesai maka viskositas pati akan menurun.
Proses gelatinisasi juga akan berpengaruh terhadap struktur heliks dari polimer glukosa, sehingga terjadi perubahan dimana air yang diserap akan berikatan. Akibat dari hal tersebut maka granula pati akan kehilangan struktur heliksnya. Perubahanperubahan yang terjadi selama proses gelatinisasi, granula pati akan mengalami hidrasi dan mengembang, molekul amilosa larut, kekuatan ikatan di dalam granula pati berkurang yang diikuti dengan semakin kuatnya antar granula, peningkatan viskositas, kejernihan pasta semakin meningkat dan granula pati akan kehilangan sifat birefringence yaitu sifat dimana pati akan menghantarkan cahaya terpolarisasi. Suhu gelatiniasi dari beberapa jenis pati ditunjukkan pada Tabel 11.
● Sumbersumber Pati Potensial di Indonesia
Indonesia.
● Sumber Pati dari Serealia Jagung
Jagung ( Zea mays ) adalah tanaman semusim yang mempunyai batang berbentuk bulat, beruasruas dan tingginya antara 60 – 300 cm. Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi (ketinggian 0 1.300 m dpl). Curah hujan yang optimal adalah antara 85 – 100 mm/bulan merata sepanjang tahun. Jagung dapat ditanam secara monokultur atau tumpangsari dengan tanaman lain, misalnya ubi kayu. Jenis jagung yang ditanam oleh petani dapat berupa jagung komposit atau jagung hibrida.
Jagung merupakan bahan makanan pokok utama di Indonesia, yang memiliki kedudukan sangat penting setelah beras. Dalam perkembangan ekonomi dewasa ini, disamping sebagai bahan makanan pokok, jagung telah menjadi lebih sangat penting karena merupakan bahan pokok bagi industri pakan ternak. Saat sekarang ini impor jagung sangat besar.
Pemanfaatan jagung yang banyak dilakukan di Indonesia mayoritas untuk industri pakan ternak. Padahal selain untuk industri pakan ternak, jagung juga mengandung pati yang didapatkan dengan cara diekstrak yang pemanfaatannya untuk industri pati. Pati jagung dapat dimodifikasi guna menghasilkan produkproduk yang memiliki sifatsifat yang diinginkan.
● Sumber Pati dari Akar/Umbi 1. Ubi Kayu
Ubi Kayu ( Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber karbohidrat yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan pengganti beras baik dalam industri pangan ataupun non pangan. Tanaman ubi kayu mudah dan banyak ditanam petani, terutama di lahan kering yang memiliki kesuburan rendah. Hal ini terbukti bahwa luas panen ubikayu tahun 1999 mencapai 1,34 juta hektar dan produksi ubi kayu Indonesia sebesar 16,3 juta ton (BPS, 1999).
Pengolahan yang dilakukan sebagian masyarakat terhadap ubi kayu masih terbatas dengan direbus/dikukus atau digoreng. Pengetahuan yang lebih lanjut mengenai karakteristik bahan baku dan teknologi pasca panen diperlukan untuk mengatasi pemanfaatan ubi kayu yang masih terbatas. Teknologi tersebut antara lain untuk memperpanjang masa umur simpan umbi segar, pengolahan produk setengah jadi misalnya gaplek chip, sawut kering, tepung dan pati. Richana dan Damardjanti (1990) telah melakukan pengembangan produk ubi kayu atau disebut tepung cassava untuk produk rerotian sebagai bahan substitusi terigu.
Ubi kayu sangat berpotensi, hal ini dikarenakan dari ubi kayu dapat diturunkan menjadi produkproduk yang memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga ubi kayu memiliki pohon industri yang besar. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung atau produk turunannya telah dilakukan di Amerika latin, Afrika, Asian SelatanTenggara termasuk di Indonesia. Di Brazilia ubi kayu diolah menjadi
farinha grossa dan farinha de mandioca . Farinha grossa dibuat dengan cara ubi kayu yang telah dikupas kulitnya dicacah menjadi chips kemudian dijemur untuk dikeringkan. Chips yang telah kering lalu ditumbuk menjadi tepung farinha grossa.
dinamai almidon agrio . Di Indonesia daerah penghasil tepung ubi kayu terdapat di Kediri, Madiun, Pati, Banyumas, Kuningan, Garut dan Ciamis.
Karakteristik umbi ubi kayu segar dipengaruhi oleh komponen kimia ubi kayu. Komponen kimia yang terkandung yaitu sianida (HCN), kadar air dan kadar pati. Adanya komponen kimia akan mempengaruhi produk yang dihasilkan, sehingga harus dapat dipastikan produksi umbi yang dihasilkan mengandung bahan kimia dengan nilai masih dalam batas kewajaran. Selain mengandung bahan kimia, ubi kayu pun mudah terserang penyakit. Di Afrika dua penyakit virus menyebabkan kerugian besar. Penyakit tersebut adalah mosaik dan garis coklat, yang keduanya ditularkan oleh lalat putih. Penyakit yang diakibatkan oleh labalaba hijau merupakan hama yang sangat menyusahkan dan sampai sekarang meluas cepat. Tanaman ubi kayu jangan ditanam di lahan hutan atau kebun karet tua yang baru dibuka, agar terhindar dari penyakit akar yang mematikan seperti Rigidoporus linosus dan Rosellinia necatrix (Peregrine, dkk 1993).
2. Ubi Jalar
Ubi Jalar ( Ipomea batatas L) mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan sebagai sumber pati. Beragamnya lingkungan dan selera pengguna memerlukan banyak varietas yang masingmasing bersifat spesifik. Varietas ubi jalar yang telah dilepas oleh badan Litbang Pertanian adalah Daya, Borobudur, Mendut, Prambanan dan Kalasan. Varietas tersebut produktivitasnya mencapai 30 ton/ha. Umbi ubi jalar sangat beraneka ragam tergantung varietasnya, dengan warna kulit berkisar dari ungu kemerahan sampai kuning dan putih, dan daging umbi dari putih keabuan sampai kuning tercampur jingga. Dagingnya sangat berpati atau padat.
lainnya, baru dikembangkan di negaranegara sentra produksi tertentu seperti Jepang, Cina dan Filipina. Di Indonesia pemanfaatan ubi jalar masih sebatas digoreng, direbus dan dikukus, sehingga sangat berpeluang untuk dibuat produk turunan. Di Afrika Timur dan Barat, tanaman ini diusahakan untuk produksi daunnya, yang merupakan salah satu sayuran daun yang paling banyak dimakan dan merupakan sumber utama protein makanan.
di daerah beriklim tropis, subtropis dan sedang bahkan beberapa kultivarnya dapat beradaptasi pada tanah yang kering sampai basah. Suhu pertumbuhannya berkisar antara 2127 oC dengan curah hujan optimal adalah 250 mm per tahun.
Di Indonesia, talas terdapat hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari pantai sampai ketinggian diatas 1000 m dpl, baik yang liar maupun yang dibudidayakan. Bogor dan Malang terkenal sebagai penghasil beberapa kultivar yang enak rasa umbinya. Berdasarkan data Dinas Pertanian (1999), jumlah total produksi talas di Bogor per tahun mencapai 17.699 ton. Kultivar talas yang lazim dibudidayakan antara lain talas paris, talas loma, talas bentul, talas lampung, talas sutra, talas mentega, talas ketan dan talas beliutng. Di Bogor terdapat lima varietas talas yaitu talas pandan, sutra, ketan, lampung dan bentul
Rukmana (1998) menyebutkan bahwa di Bogor dapat ditemukan beberapa
varietas talas, yaitu :
a. Talas pandan
Talas pandan memiliki ciri berupa pohon pendek, bertangkai, daun berwarna keunguan, pangkal batang merah atau kemerahan, umbi berbentuk lonjong dan berkulit coklat. Daging umbi berwarna keunguan dan setelah direbus berbau pandan.
b. Talas ketan
Talas ketan memiliki ciriciri berupa batang di atas umbi yang mengecil, dengan pelepah daun berwarna hijau, umbi pudar dan daging umbi berwarna kuning.
c. Talas lampung
Talas lampung dapat dicirikan dari daun dan pelepahnya yang berwarna hijau keunguan, dengan umbi besar berbentuk bulat. Daging umbi berwarna kuning dan bisa dimakan mentah tanpa rasa gatal.
d. Talas bentul
dengan daging umbi berwarna putih. Umbi dapat dipanen setelah tujuh bulan.
e. Talas mentega
Talas mentega memiliki batang yang berwarna hitam, umbinya berwarna kuning seperti mentega. Umbi talas ini rasanya enak, cocok untuk direbus ataupun digoreng. Umbi dipanen setelah delapan bulan.
f. Talas loma
Talas loma disebut pula sebagai talas indung, memiliki batang yang berwarna hitam, dengan rasa umbi yang enak walaupun sedikit menyebabkan rasa gatal. Tanaman ini dicirikan pula dengan anakannya yang banyak.
g. Talas belitung (Xanthosoma spp.)
Talas belitung memiliki satu umbi utama yang tidak terlalu besar. Dari umbi ini kemudian keluarlah umbiumbi cabang yang ukurannya cukup besar (lebih besar dari pada umbi utama). Umbi–umbi dari cabang ini yang dimanfaatkan sedangkan umbi utamanya tidak (Prana dan Tatang, 2002).
Kandungan karbohidrat talas sangat tinggi sehingga sangat berpeluang untuk memanfaatkan produk turunannya, seperti pati. Kandungan pati pada bagian ujung umbi talas lebih rendah dari bagian pangkalnya. Kelemahan umbi talas yaitu mengandung senyawa yang menyebabkan gatal, yaitu kalsium oksalat, sehingga untuk menghasilkan turunan produk umbi talas yang berkualitas harus dihilangkan terlebih dahulu senyawa tersebut. Kandungan zat gizi pada umbi talas dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Kandungan zat gizi pada umbi talas dalam 100 gram
Kandungan gizi Jumlah
Kalori (kkal) 98
Air (g) 73
Karbohidrat (g) 23.7
Protein (g) 1.9
Abu (g)
Dari Tabel diatas dapat terlihat bahwa umbi garut mengandung pati yaitu sebesar 22.7%. Berdasarkan data ini dapat diketahui bahwa potensi pengaplikasian pati garut sangat besar. Kendala pada tanaman garut sampai saat ini yaitu pemanfaatannya belum optimal. Tanaman garut sama dengan tanaman lain mudah terserang penyakit yaitu penyakit hangus. Penyakit ini disebabkan oleh suatu komplek jamur tanah yang berinteraksi dengan nematoda yang menyebabkan busuknya akarakar serabut. Penyakit ini masih dapat dikendalikan yaitu dengan pergiliran dengan tanamantanaman yang tidak rentan terhadap nematoda, selain itu pengendalian dapat juga dilakukan dengan penyiraman menggunakan nematisida yang dikombinasikan dengan fungisida spektrum lebar (Pregrine, dkk (1993).
5. Ganyong
Tanaman ganyong ( Canna edulis . Kerr) yang berasal dari Amerika tropis termasuk famili Cannaceae dan genus Canna. Ganyong adalah tanaman semak menahun, dengan tinggi tanaman 11,5 m dengan daun lebar, meruncing berwarna perunggu. Bunganya merah jingga dan dihasilkan pada pucuk, tanaman ini merupakan tanaman hias yang menarik. Di Indonesia terdapat dua jenis ganyong yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong dapat tumbuh pada semua tipe tanah dan optimum pada tanah liat berpasir yang kaya humus. Umbi ganyong memberikan hasil kurang lebih 30 ton/ha dengan umur panen 810 bulan. Pemanfatan ganyong dapat dijadikan tepung atau pati yang mudah dicerna sehingga baik sekali untuk makanan bayi maupun orang sakit.
produksi yang sangat tinggi. Kandungan zat gizi pada umbi suweg dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Kandungan zat gizi pada umbi suweg (per 100 g) Kandungan gizi Jumlah
Kalori 69
Air (g) 82
Karbohidrat (g) 15.7
Protein (g) 1
Lemak (g) 0.1
Fosfor (mg) 41
Kalsium (mg) 62
Besi (mg) 14.2
Vitamin A (mg)
Vitamin B1 (mg) 00.07
Vitamin C (mg)
Sumber : Direktorat gizi Departemen Kesehatan RI (1979)
7. Dioscorea
Dioscorea berasal dari Asia. Diketahui ada tiga jenis spesies yaitu Dioscorea alata atau ubi kelapa , Dioscorea esculenta atau gembili dan Dioscorea hispida
Dioscorea, terutama di daerah Afrika Barat umumnya lebih penting sebagai tanaman usaha tani subsistem daripada sebagai sayuran pasar. Penyebaran
Dioscorea terdapat di Asia Tropika, Afrika Barat dan Karibia, Cina, Asia Pasifik. Di Indonesia umbi ini jarang digunakan karena masyarakat masih merasa asing dan tidak mengetahui manfaat dan penggunaannya. Kendala yang akan dihadapi yaitu tanaman ini mudah terserang penyakit seperti penyakit karat, terserang virus mosaic dan kumbang penggerek.
8. Kimpul
Kimpul adalah sejenis umbiumbian yang dikenal dengan nama Xanthosoma sp. Pada umbi ini yang biasa dimakan adalah umbi anaknya. Umbi ini jarang dikonsumsi karena umbinya berlendir dan rasanya tidak seenak talas. Jenis belum terlalu dikenal dan budidaya jenis talas tersebut masih sedikit. Padahal umbi dari talas belitung ini sangat cocok apabila digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai produk pangan seperti keripik talas. Kimpul ( Xanthosoma
spp.) mempunyai potensi untuk dikembangkan secara komersial karena talas jenis ini memiliki potensi hasil umbi yang tinggi, perawatannya mudah dan cocok bila digoreng ataupun dibuat keripik.
Upaya pengembangan produk olahan dari umbi kimpul ( Xanthosoma spp.) selama ini belum dilakukan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari penjualan talas pada umumnya yang hingga saat ini lebih cenderung dijual dalam keadaan mentah (berupa umbi segar). Kelebihan umbi talas belitung ini dibandingkan dengan jenis umbi yang lain adalah jumlah dan berat umbi yang lebih banyak dibandingkan dengan umbi talas varitas lain.
1. Kentang
kentang terdiri dari tiga golongan yaitu : (1) kentang kuning, mempunyai ciri daging dan kulitnya berwarna kuning, varietasnya yaitu yi thing 151 c, patrones,
rapan 106, eigenheimer dan granaloa. Granaloa mempunyai peluang pasar yang baik karena banyak digunakan oleh industriindustri makanan, restauran atau rumah tangga. Kentang jenis ini diolah menjadi French Fries maupun kripik kentang. Kendala penggunaan kentang jenis ini yaitu bibitnya harus impor, karena di Indonesia belum terdapat bibit kentang ini, yang mampu menghasilkan sifat dan karakteristik yang sama. (2) kentang putih, yang mempunyai ciri daging dan kulitnya berwarna putih. Varietas kentang ini yaitu radosa, sebago dandonate. (3) kentang merah, dengan ciriciri kulit kentang berwarna merah dan daging umbinya berwarna kuning. Varietas kentang jenis ini yaitu desire, arha dan red pontiac.
sering menyerang yaitu : aphids atau kutu daun, wereng kentang, thrips, kumbang kentang, penggerak umbi kentang serta penyakit bercak kering dan busuk daun. Apabila tanaman kentang terserang hamahama yang telah disebutkan di atas maka produksi kentang akan menurun. Hal ini selain akan menyulitkan petani kentang, juga akan berdampak pada konsumen kentang.
● Sumber Pati dari Batang Sagu
Sagu sebagai bahan makanan telah lama dikenal di Indonesia. Menurut Harsanto (1986) sagu merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang dapat dipergunakan sebagai sumber karbohidrat yang cukup potensial di Indonesia. Diperkirakan potensi sagu di Indonesia tidak kurang dari 5.180.0008.510.000 ton tepung sagu kering per tahun. Penduduk Maluku, terutama yang berada di desadesa telah lama mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sagu merupakan palma penting penghasil tepung dan pati.
Menurut Sunarti (1999) pati sagu memiliki sifat fisiko kimia yang unik yaitu antara
cassava, kentang dan jagung. Rantai amilopektin yang panjang dan viskositas maksimum seperti cassava, tetapi ukuran granula, suhu gelatinisasi dan kelarutan yang sama dengan kentang. Proses retrogradasi dan amilosa yang sama dengan pati jagung.
Tanaman sagu pada umumnya tumbuh secara liar, tetapi terdapat pula petani yang sengaja menanam pohon sagu. Sagu di Indonesia pada umumnya tumbuh dan berkembang biak secara alamiah, belum di budidayakan secara intensif seperti tanaman penghasil karbohidrat lainnya. Batang sagu merupakan bagian yang terpenting, karena merupakan tempat penyimpanan pati atau karbohidrat. Kandungan pati dalam batang sagu, tergantung dari faktor lingkungan, umur dan jenis sagu. Makin tua umur tanaman sagu, kandungan pati dalam empulur makin besar dan pada umur tertentu kandungan pati tersebut akan menurun (Haryanto dan Pangloli, 1992).
makanan ternak, dan bahan industri lain. Sagu mempunyai keunggulan komprehensif terhadap bahan pangan lainnya, antara lain dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, dapat dipanen dan diolah tanpa mengenal musim, serta memiliki resiko yang kecil terkena hama penyakit tanaman (Bintoro, 1999).
Tanaman sagu tersebar luas di seluruh daerah di Indonesia terutama di daerahdaerah yang menjadikan sagu sebagai makanan pokok yaitu Irian Jaya dan Maluku. Areal dan produksi sagu di Indonesia disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Areal dan Produksi Sagu di Indonesia
Propinsi Areal (ha) Produksi Sagu Basah
(ton per tahun)
Tabel 19 di bawah ini akan menjelaskan penyebaran lokasilokasi penghasil sagu di beberapa daerah di Indonesia. Lokasi terbesar penghasil sagu di Indonesia yaitu di
Sulawesi Mamuju, Luwu, Sulawesi Tengah, Minahasa
Timur, Kolaka, Kendari dan Buton
Kalimantan Barat dan
Lainnya Sambas, Pontianak, Lembah mahakam, Baritodan Kapuas dan Kalimantan Tengah
Sumatera tanpa Riau Aceh, Sumareta Utara dan Bengkulu
Riau Indragiri Hilir, Bengkalis, Kampar dan Kepulauan
Riau
Pati dapat dihasilkan dari semua jenis umbiumbian, bijibijian, empulur batang dan sebagainya, akan tetapi pemanfaatannya belum optimal. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya pengetahuan akan umbi tersebut, apalagi umbiumbi minor, dimana tidak semua orang mengenalnya. Untuk menemukan sumber pati yang optimal perlu pengetahuan yang lebih jauh mengenai karakteristik umbiumbi, bijibijian, empulur batang penghasil pati. Dalam perdagangan dikenal dua macam pati yaitu pati yang belum dimodifikasi ( native starch ) dan pati yang telah dimodifikasi ( modified starch ). Pati dapat dimodifikasi untuk menghasilkan sifatsifat pati yang diinginkan yang berkaitan dengan produk yang akan dihasilkan. Pati yang telah mengalami modifikasi disebut pati termodifikasi (modified starch).
sol pati yang kurang jernih.
Meningkatnya keperluan manusia akan produk yang berasal dari pati, meningkatkan pendirian industri pati di dunia. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka harus dilakukan pembaharuanpembaharuan dalam teknologi yang dapat memperkecil atau mengurangi kelemahankelemahan dari pati. Salah satu cara yaitu melakukan modifikasi pati sehingga terjadinya perubahan sifat fisik dan kimia yang dapat meningkatkan kualitas pati.
A. Pengertian
Menurut Fleche (1985) pati termodifikasi adalah pati yang gugus hidroksilnya telah diubah melalui suatu reaksi (esterifikasi, eterifikasi atau oksidasi) atau dengan mengganggu struktur asalnya. Glicksman (1969) mengatakan bahwa pati termodifikasi yaitu pati yang diberi perlakuan tertentu dengan tujuan untuk menghasilkan sifat yang lebih baik untuk memperbaiki sifat sebelumnya atau untuk merubah beberapa sifat lainnya. Perlakuan ini dapat mencakup panggunaan panas, asam, alkali, zat pengoksidasi atau bahan kimia lainnya yang akan menghasilkan gugus kimia baru dan atau perubahan bentuk, ukuran serta struktur molekul pati.
Proses modifikasi pati memiliki dua keuntungan yang dilihat dari manfaatnya Keuntungan pertama yaitu menghasilkan sifat fisik dan kimia pati sesuai dengan keinginan dan keuntungan yang kedua yaitu menghasilkan sifat fisik dan kimia pati yang sama dengan pati asli tetapi pemakaiannya yang lebih sedikit sehingga dapat menekan biaya.
B. Produkproduk Modifikasi Pati