27 ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA KELAS V PADA
PEMBELAJARAN IPA DI SD NEGERI UNGGUL LAMPEUNEURUT ACEH BESAR
Ilsadiati, Mislinawati, Tursinawati. [email protected]
ABSTRAK
Aspek pengetahuan sains, aspek aplikasi sains, aspek proses sains dan aspek sikap ilmiah adalah aspek yang akan dibahas dalam konteks literasi sains pada pembelajaran IPA, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam literasi sains di kelas V padamata pelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar.
Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan penelitiannya deskriptif, datanya diambil dari murid Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar. Yang akan diteliti adalah murid kelas V Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar sebanyak 30 siswa. Data dikumpulkan menggunakan observasi dan dokumentasi. Peneliti mengamati siswa selama proses belajar oleh guru, sedangkan dokumentasinya adalah soal tes yang diberikan guru kepada siswa. Data diolah dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan persentase.
Hasil dari observasi dan dokumentasi mengatakan bahwa siswa belum mampu melaksanakan aspek proses sains dan aspek sikap ilmiah sains dengan baik, adapun indikator aspek proses sains yang mampu dilaksanakan siswa yaitu mampu mengetahui perubahan yang akan terjadi, mampu menerapkan ilmu sains yang diperoleh, ilmu sains yang digunakan pada kondisi tertentu, mengetahui penemuan yang ilmiah untuk menarik suatu kesimpulan, sedangkan pada aspek sikap ilmiah sains, indikator yang mampu dilakukan siswa yaitu siswa mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap sains, siswa menampakkan minat belajar terhadap sains, siswa peduli terhadap lingkungan sekitar dan memperhatikan keberlangsungan kehidupan, siswa memiliki jiwa besar dalam melaksanakan dan mengajak pada tindakan yang menjaga lingkungan. Namun pada aspek pengetahuan sains dan aspek aplikasi sains telah terlaksanakan dengan baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah siswa mampu melaksanakan aspek pengetahuan sains dan aspek aplikasi sains dengan sangat baik (88.6%) dibandingkan aspek proses sains berada pada kategori kurang baik (40.4%) dan aspek sikap ilmiah sains berada pada kategori kurang baik (47.3%). Diharapkan guru lebih meningkatkan literasi sains pada aspek proses sains dan sikap ilmiah sains.
Kata Kunci: Kemampuan, Literasi Sains, Pembelajaran IPA
PENDAHULUAN
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang baik dalam kondisi formal maupun nonformal. Pembelajaran juga merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan pesan tertentu juga merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru dan murid untuk mendapatkan pengetahuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh karena itu dalam suatu proses
28 belajar mengajar guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan supaya dapat menarik minat belajar siswa dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Untuk itu diperlukan seorang guru yang ahli dalam mengajar dan profesional.
Salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan adalah meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran sains. Ilmu pengetahuan sains dapat membuat rasa ingin belajar siswa meningkat dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang ada di alam, serta mampu dalam berpikir tentang alam seisinya baik benda mati maupun tak mati yang penuh dengan rahasia yang tiada habisnya. Pada umumnya sains dapat dibagi atas 3 macam, yaitu (1) sains sebagai sikap ilmiah, (2) sains sebagai proses ilmiah, dan (3) sains sebagai produk ilmiah. Bidang studi sains harus diajarkan secara keseluruhan karna di dalamnya terdapat produk dan fakta, kalau hanya konsep dan teori saja belum tercapai pembelajaran sains, karena baru mengajarkan salah satu dari jenis sains yang bersifat parsial dan setengah-setengah gejala jika hanya bentuk proses pembelajaran sains yang seperti inilah yang sering didapatkan ketika dilapangan. Dari inilah menjadi minimnya ketercapaian literasi sains untuk pembelajaran sains karna terhambat olehnya.
Literasi sains yaitu mampu memanfaatkan ilmu sains, menemukan, mencari, mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tentang alam dan seisinya, menarik kesimpulan sesuai dengan bukti yang ada untuk membantu membuat keputusan berkenaan tentang alam dan isinya serta perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas yang dilakukan manusia. Literasi sains sangat penting dipelajari sejak usia dini karna literasi sains berpengaruh dalam kehidupan siswa sebagai masyarakat, warga negara bahkan warga dunia, sedangkan negara-negara maju saja sudah menyadari pentingnya literasi sains. Seluruh warga negara harus dapat meguasai literasi sains dan memiliki tingkat literasi sains untuk bertahan hidup di dunia yang semakin modern dan dinamis (globalisasi). Literasi sains dapat membantu hidup seseorang jika berada di lingkungan sosial, baik itu di sekolah, di tempat kerja, maupun dilingkungan masyarakat yang dipenuhi dengan berbagai ragam, peraturan, pemahaman dan lain sebagainya.
29 Jika kurang bimbingan dan arahan guru yang terampil dan berpengalaman serta kurangnya waktu belajar, ruangan gerak, sumber belajar, fasilitas belajar serta dukungan dari orang tua, maka siswa tidak akan dapat mencapai pengetahuan dan keterampilan yang memuaskan. Semua ini tidak terlepas dari dukungan sistem pendidikan IPA. Belajar dengan penekanan pada proses sains dipandang lebih memberi bekal kemampuan kepada siswa seperti melakukan pengamatan (observasi), inferensi, bereksperimen, inkuiri merupakan pusat atau inti pembelajaran IPA.
Pada saat ini pembelajaran IPA di sekolah lebih cenderung bersifat teacher centered, dimana guru mengajarkan IPA di sekolah hanya sebagai suatu produk. Siswa hanya menghafalkan konsep, teori, dan hukum. Selain itu pembelajaran pun hanya berorientasi pada tes/ujian dan anak-anak di sekolah jadi kurang aktif dalam belajar, mereka hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru tanpa menguasai materi dan mempraktekkan apa yang disampaikan guru. Sehingga, IPA sebagai proses, sikap dan aplikasi tidak dikuasai oleh siswa. Akibatnya, siswa hanya mempelajari IPA pada domain kognitif terendah.
Dilihat dari observasi pertama yang dilakukan peneliti di kelas V Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar, bahwa kurangnya pemahaman dan penguasaan siswa dalam konteks literasi sains siswa yang termasuk aspek aplikasi sains, aspek pengetahuan sains, aspek proses sains, aspek sikap ilmiah sians.Akibatnya siswa tidak mampu menerapkan keempat aspek literasi sains tersebut. Hal ini terbukti dari observasi yang penulis lakukan ketika dalam proses pembelajaran, dan guru kelas Vjuga mengatakan kurangnya kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan, memberikan pertanyaan dalam bentuk tulis maupun lisan dan dalam mengambil keputusan.
Daripermasalahan di atas peneliti bermaksud melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Kemampuan Literasi Sains Siswa Kelas V Pada Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeneurut Aceh Besar”. Rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah kemampuan literasi sains siswa kelas V pada pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar?”. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan literasi sains siswa kelas V pada pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar.
30 Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan dalam melakukan dan menyelesaikan suatu hal. Kemampuan adalah keterampilan seseorang yang dilakukan untuk mencapai hasil yang diperoleh dan yang diinginkan dengan usaha tertentu.Kemampuan merupakan tolak ukur yang dipakai dalam menilai siswa dalam melakukan beragam tugas yang diberikan oleh guru.Kemampuan yang peneliti maksudkan dalam penelitian ini adalah kemampuan literasi sains siswa pada pembelajaran IPA.
Kalimat Literasi merupakan salah satu kemampuan berbahasa yaitu kemampuan membaca dan kemampuan menulis sering disebut melek aksara. Pada saat sekarang ini, literasi dapat diarti dalam kategori sangat luas yaitu kemampuan menggunakan teknologi, kemampuan berpolitik, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan memahami situasi sosial yang ada dilingkungan.Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang yang di dalamnya mencakup keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis dan dapat dikatakan literasi adalah melek bahasa. Apabila seseorang sudah mampu menguasai literasi maka semua yang dia lakukan akan terarah. Literasi sudah wajib diajarkan dari kelas rendah.
Literasi sains adalah mampu menggunakan ilmu sains, membuat pertanyaan sesuai dengan alam, dan membuat suatu kesimpulan sesuai bukti-bukti yang sesuai dengan alam, memahami dan membuat keputusan sesuai dengan alam serta perubahan yang dilakukan terhadap alam sesuai dengan aktivitas manusia di lingkungan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif biasanya dilakukan dengan penelitian yang alamiah yaitu lawan dari eksperimen, analisis data bersifat induksi, dan hasil dari penelitian lebih terfokus pada makna dari pada generalisasi.
Sumber penelitian ini adalah murid kelas VA SD Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar yang berjumlah 30 siswa. Sumber data diambil berdasarkan teknik reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan,dan persentase. Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Hasil dari dokumentasi dianalisi
31 menggunakan rumus persentase yaitu : P =𝑓
𝑁x 100%, dengan keterangan P = persentase,
f = hasil belajar siswa, dan N = jumlah siswa
Untuk menentukan hasil observasi dan dokumentasi peneliti menggunakan skala Guttman. Skala Guttman adalah skala yang melahirkan jawaban yang dan pasti tegas, misalnya ya - tidak, benar-salah, baik-buruk dan lain sebagainya. Untuk jawaban positif seperti setuju, ya, pernah, dan semacamnya diberi skor 1, sedangkan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah/tidak, tidak pernah, dan semacamnya diberi skor 0.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada BAB IV diuraikan tentang hasil dari penelitian yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar, yaitu mengenai kemampuan literasi sains siswa kelas V di SD Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar pada pembelajaran IPA. Sesuai dengan metode pengolahan data yang telah ditentukan pada BAB III, maka data akan diolah berdasarkan apa yang telah ditetapkan. Berdasarkan soal tes yang diberikan guru kepada murid kelas Va Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar nilai yang dicapai siswa bervariasi.
Hasil observasi yang peneliti lakukan pada aspek proses sains yaitu dari hasil data diatas dapat disimpulkan bahwa lebih sedikit siswa Sekolah Dasar Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar mampu dalam literasi sains siswa pada pembelajaran IPA yaitu pada aspek proses sains. Karena secara keseluruhan dari observasi menunjukkan 40.4% siswa yang mampu melaksanakan aspek proses sains. Sedangkan yang tidak mampu dalam literasi sains siswa adalah 59.6%. Indikator yang mampu dilaksanakan siswa yaitu mengetahui dan menerka perubahan yang akan terjadi, menerapkan ilmu yang didapat dari sains atau pengetahuan tentang sains yang tepat pada kondisi tertentu,mengetahui dan mempelajari temuan ilmiah untuk membuat suatu kesimpulan. Indikator yang tidak mampu dilaksanakan siswa yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan bukti ilmiah, mendapatkan informasi mengenai temuan ilmiah, menceritakan kejadian-kejadian tertentu, menyatakan bukti dan keputusan dengan kata-kata, diagram atau bentuk representasi lainnya, menjelaskan hubungan antara logika dengan bukti untuk suatu kesimpulan dan keputusan, menjelaskan bukti dan kesimpulan, mengetahui kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang tersedia.
32 Kemudian hasil observasi pada aspek sikap ilmiah dapat dilihat pada hasil data diatas dapat disimpulkan bahwa lebih sedikit siswa SD Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar mampu dalam literasi sains siswa pada pembelajaran IPA pada aspek sikap. Karena secara keseluruhan dari observasi menunjukkan 47.32% siswa yang mampu melaksanakan aspek sikap ilmiah. Sedangkan yang tidak mampu dalam literasi sains siswa adalah 52.7%. Indikator yang mampu dilaksanakan siswa yaitu memiliki rasa ingin tahu yang besar, menunjukkan minat belajar sains, peduli terhadap lingkungan dan keberlangsungan hidup sosial, melaksanakan dan mengajak pada tindakan yang menjaga lingkungan. Indikator yang tidak mampu dilaksanakan siswa yaitu mau menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan ilmu sains dengan menggunakan beragam sumber, informasi dan cara, mau menukar pendapat, mencari fakta yang dapat dipercaya, memiliki nilai kritis sehingga jelas dan sahih, menyampaikan pengetahuan sesuai dengan fakta dan yang sebenarnya, menjawab pertanyaan sesuai dengan kemampuan, menunjukkan sikap baik ketika melakukan praktikum, selalu bersikap positif walaupun gagal.
Sedangkan pada aspek konten dan konteks menunjukkan bahwa dari 28 siswa yang mengikuti tes literasi sains siswa pada pembelajaran IPA terdapat 88.6% siswa yang mampu menjawab soal yang diberikan guru sebanyak 20 soal objektif dengan benar. Namun keseluruhan sub indikator berada pada kategori sangat baik yaitu mampu menjaga lingkungan, mampu menerapkan atau mengaplikasikan SDA dalam kehidupan sehari-hari, mampu menjawab pertanyaan berdasarkan materi yang diajarkan, menjelaskan materi berdasarkan pengetahuan yang didapat, dapat menjelaskan kembali meteri yang telah disampikan, siswa mampu menerapkan materi berdasarkan pengetahuan ilmiah.
Ketercapaian kemampuan literasi sains secara keseluruhan diperoleh dengan menghitung rata-rata persentase siswa yang menjawab soal dengan benar pada tiap-tiap butir soal. Hasil perhitungan persentase siswa yang menjawab soal dengan benar pada tiap butir soal disajikan pada Tabel 4.4.
33 Tabel 4.4 Persentase Siswa yang Menjawab Benar Tiap Butir Soal
(Sumber: Dokumentasi Hasil Data Tes, 2017) Keterangan:
N : Jumlah siswa yang menjawab benar % : Persentase siswa yang menjawab benar
Dari Tabel 4.4 diperoleh informasi bahwa rata-rata ketercapaian kemampuan literasi sains pada aspek konten dan konteks secara keseluruhan adalah 88.6% dengan kategori ketercapaian “sangat baik”. Bila nilai ini dijadikan suatu ukuran untuk menyatakan tingkat kemampuan siswa dalam literasi sains siswa pada pembelajaran IPA, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VA SD Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar, rata-rata sangat baik dalam literasi sains siswa pada pembelajaran IPA.
Perolehan data hasil penelitian terkait kemampuan literasi sains pada masing-masing aspek konten dan konteks sains didapatkan dengan menghitung persentase ketercapaian hasil tes dokumentasi per indikator pada aspek konten dan konteks. Persentase ini diperoleh dengan mencari rata-rata keseluruhan nilai persentase per sub indikator, dan pada perolehan data setiap aspek proses/kompetensi dan aspek sikap yang diperoleh pada setiap indikator dan sub indikator pada masing-masing aspek.
Dapat disimpulkan bahwa, siswa lebih mampu dalam aspek konten dan konteks berada pada kategori sangat baik (88.6%) dibandingkan dalam aspek proses/kompetensi berada pada kategori kurang baik (40.4%) dan aspek sikap ilmiah berada pada kategori kurang baik (47.3%). No. Soal N % 1 24 85.7% 2 28 100% 3 19 67.9% 4 28 100% 5 28 100% 6 28 100% 7 19 67.9% 8 22 78.6% 9 26 92.9% 10 25 89.3% 11 15 53.6% 12 27 96.4% 13 26 92.9% 14 27 96.4% 15 25 89.3% 16 23 82.1% 17 28 100% 18 23 82.1% 19 27 96.4% 20 28 100% Rata-rata 88.6%
34 SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian Analisis Kemampuan Literasi Sains Siswa Kelas V Pada Pembelajaran IPA di SD Negeri Unggul Lampeuneurut Aceh Besar adalah 58.76% berada pada kategori cukup baik. Hal ini dilihat dari hasil persentase aspek konten dan konteks berada pada kategori sangat baik yaitu 88.6%, sedangkan pada aspek proses/kompetensi berada pada kategori kurang baik yaitu 40.4% indikator yang mampu dilaksanakan siswa yaitu memprediksi perubahan, mengaplikasikan pengetahuan sains atau pengetahuan tentang sains yang tepat pada situasi tertentu, memaknai temuan ilmiah sebagai bukti untuk suatu kesimpulan dan pada aspek sikap ilmiah berada pada kategori kurang baik yaitu 47.3% indikator yang mampu dilakukan siswa yaitu memiliki rasa ingin tahu yang besar, menunjukkan minat belajar sains, memperhatikan lingkungan dan keberlangsungan kehidupan, melaksanakan dan mengajak pada tindakan yang menjaga lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Aly, Abdullah, dkk. 2004. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Bagiarta, Nyoman, dkk. 2015. Komparasi Literasi Sains Antara Siswa yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe GI (Group Investigation) dan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa SMP, (Online), (http://download.portalgaruda.org., diakses 04 Januari 2017).
Bukhari, dkk. 2016. Literasi di Sekolah Dasar: Teori dan Strategi Pembelajaran di Kelas Awal.Yogyakarta: Parama Publishing.
Departemen Pendidikan Nasional. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Djaali, dkk. 2007. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (PPS-UNJ).
Djojosoediro,Wasih. (tanpa tahun: 27).Pengembangan Pembelajaran IPA SD, (Online), (http://pjjpgsd.unesa.ac.id., diakses pada 20 Mei 2017).
Eka, Betari Mutiara, dkk. Peningkatan Kemampuan Literasi Sains Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pembelajaran IPA di SD, (Online), (http://kd–cibiru.upi.edu., diakses 04 Januari 2017).
Herdiani, Adah. 2013. Kemampuan Literasi Sains dan Sikap Ilmiah Siswa SMA yang Mendapatkan Pembelajaran Inquiry Lesson dengan Pembelajaran Konvensional pada Materi Fotosintesis, (Online), (http://repository.upi.edu., diakses pada 11 Januari 2017).
Herdiani, Adah. 2013. Pengaruh Pembelajaran Inquiry Lesson Tehadap Peningkatan Kemampuan Literasi Sains Dan Sikap Ilmiah Siswa SMP Pada Materi Fotosintesis, (Online), (http://repository.upi.edu., diakses 04 Januari 2017).
35 Holyyah, W. 2013. Penerapan Metode Inquiry Pada Mata Pelajaran IPA Materi Hubungan Sumber Daya Alam dengan Lingkungan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SDN Gubeng III-206 Surabaya, (Online), (http://digilib.uinsby.ac.id., diakses 14 Januari 2017).
Lukman, Astin. 2015. Sains Untuk Semua, (Online), (http://repository.ung.ac.id.,di akses 04 Januari 2017).
Nurulwati. 2012. Ilmu Alamiah Dasar. Banda Aceh: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.
Ribkahwati, dkk. 2012. Ilmu Kealaman Dasar. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sihotang, WS. 2015. Kemampuan Literasi Sains Siswa Kelas X SMA Negeri di Medan dan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Negeri Medan Berdasarkan Kerangka PISA 2006 Dalam Merespon Soal-Soal Literasi Sains PISA Konten Pengetahuan Biologi, (Online), (http://digilib.unimed.ac.id., diakses pada 11 Januari 2017).
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
.2014.MetodePenelitianPendidikan, PendekatanKuantitatif, Kualitatif,dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sukardjo, M., dkk. 2013. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.
Sumaji, dkk. 1998. Pendidikan Sains yang Humanistis.Yogyakarta: Kanisius.
Taqdir Qodratilah, Meity, dkk. 2011. Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tursinawati. 2016. Penguasaan Konsep Hakikat Sains Dalam Pelaksanaan Percobaan Pada Pembelajaran Ipa di SDN Kota Banda Aceh.
Wonorahardjo, Surjani. 2011. Dasar-dasar Sains: Menciptakan Masyarakat Sadar Sains. Jakarta: Indeks.
Zuriyani, Elsy. 2012. Literasi Sains dan Pendidikan, (Online), (https://sumsel.kemen ag.go.id., diakses 04 Januari 2017).
Yani Kusuma Astuti. 2016. Literasi Sains Dalam Pembelajaran Ipa, (Online), (http://ejournal.unwir.ac.id., diaksespada 23 Mei 2017).