Para Suster yang terkasih di Amerika, Belanda, Belgia, Brazil, Filipina, Indonesia, Indonesia Timur, Kenya, Norwegia, Tanzania dan Timor Leste.

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Maastricht, November 2013

Para Suster yang terkasih di Amerika, Belanda, Belgia, Brazil, Filipina, Indonesia, Indonesia Timur, Kenya, Norwegia, Tanzania dan Timor Leste.

Pada saat kita merayakan Pesta Santo Pelindung kita ini, marilah merenungkan beberapa aspek penting kehidupan religius kita.

Para Suster yang terkasih, dalam kesempatan yang berharga ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda pesan dari Bapa Paus Franciscus. Selama pertemuan para Pemimpin Religius Perempuan di seluruh dunia (UISG), beliau menekankan poin penting dalam menghayati panggilan religius.

Salah satu pesan inspirasionalnya yang beliau tekankan yang dapat kita dalami bersama adalah tentang peran kita sebagai 'ibu'. Beliau menghimbau agar kita mewujudkan keibuan kita yang sejati. Sebagai biarawati yang mengikrarkan kaul kemurnian, penting bagi kita untuk mengembangkan keibuan kita. Dengan ini beliau mengacu pada kesuburan panggilan kita yakni kesuburan spiritual. Sebagai religius kita harus berbuah, kesuburan spiritual harus menjadi perhatian kita. Sebagai contoh beliau menunjuk keibuan spiritual Maria sebagai Bunda Gereja.

Para Suster yang terkasih, dengan pesan Bapa Paus yang meng-inpirasi dalam pikiran kita, mari kita melihat secara mendalam kehidupan kita sendiri. Bagaimana kita berbuah dalam kehidupan kita sebagai suster CB dan pelayanan kita dalam Kongregasi? Berapa banyak buah-buah roh yang kita hasilkan? Kita bisa merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini dan terus menerus menantang diri sendiri dalam perjalanan kehidupan Kongregasi.

Marilah kita menelusuri kemungkinan untuk mengembangkan keibuan kita. Pertama-tama kita bisa belajar dari pendiri kita, Elisabeth Gruyters. Kita menyebutnya Bunda Elisabeth. Ketika kita menyebutnya 'ibu/bunda' apa yang sebenarnya kita maksudkan dengan kata 'ibu/bunda'? Apakah kita menyebutnya dengan semua

(2)

2

kualitas sebagai seorang ibu? Apakah kita menyadari bahwa ketika kita menyebutnya 'ibu/bunda', kita menyebutnya dengan penuh hormat dan pengargaan?

Kita mewarisi Kharisma "Cinta belarasa Yesus Kristus yang Tersalib dan tanpa syarat". Pengalaman cinta tanpa syarat dan belas kasih telah membentuk pribadi Bunda Elisabeth menjadi seorang yang sangat religius yang sungguh-sungguh menghayati cinta yang sama. Hal ini tidak sulit bagi kita untuk mengenal kualitas keibuannya bila kita melihat riwayat hidupnya. Cintanya yang penuh kasih sangat jelas dalam perjalanan hidupnya yang panjang. Bahkan jauh sebelum ia mendirikan Kongregasi ini.

Seorang ibu mengungkapkan kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya yang tercinta. Ia memiliki intuisi yang kuat untuk melindungi anak-anaknya yang masih polos dan tidak menyadari bahaya di sekitar mereka. Ia akan membela anaknya yang tak berdaya. Dengan hatinya yang penuh kasih seorang ibu mampu melindungi anak-anaknya sejak saat mereka dilahirkan. Dia bersedia untuk berbagi cintanya bahkan hidupnya sendiri untuk kesejahteraan anak-anak tercintanya. Seorang ibu bahkan bersedia untuk menumpahkan darahnya sampai tetes terakhir bagi kehidupan anak-anaknya. Hatinya yang penuh kasih memungkinkan seorang ibu untuk mengorbankan segalanya demi anaknya.

Kita dapat melihat hati yang berbelas kasih dan berbela rasa yang sama, dalam kehidupan Bunda Elisabeth. Menjadi orang yang dicintai tanpa syarat oleh Yesus Sang Kekasih, hal itu mengubah hidupnya menjadi hidup untuk melayani orang lain. Keibuannya yang penuh kasih nampak jelas dari keinginannya berkorban demi keselamatan orang lain.

Dia tidak pernah menumpahkan darah sebagai seorang ibu untuk melahirkan bayi. Tetapi dia bersedia memberikan 'darahnya' sendiri selama orang lain bisa hidup. Dia berkata: '... aku bersedia menderita ini hanya demi cinta Allah dan demi cinta Yesus aku rela diomong-omongkan dan dikritik, dikoyak-koyak digiling laksana gandum, asal aku bisa menghibur orang miskin sakit dan memberi mereka bantuan'. (EG. 117)

(3)

3

Kita bisa bertanya pada diri sendiri, sebagai suster CB seberapakah kita berbuah. Bahkan kita dapat menantang diri kita sendiri dengan mempertanyakan apakah hidup kita berbuah cukup atau tidak berbuah sama sekali, bahkan sampai menjadi 'perawan tua' (kata ini dikatakan oleh Paus Francis selama audiensi dengan Pemimpin Umum). Ada cara untuk mengukur apakah sebagai suster CB hidup kita berbuah atau sia-sia. Apakah kita akan mengukur kesuksesan kita dengan melihat keberhasilan atau kegagalan kita dalam pelayanan kita? Apakah kita akan mengukurnya dengan melihat bahwa hidup kita menghasilkan buah-buah rohani? Kita dapat mengukur keberhasilan keibuan kita dengan menunjuk pada keberhasilan dan banyak produk atau penghargaan besar dalam pelayanan kita. Kita juga dapat mengukur dengan menghitung berapa banyak bangunan sekolah, rumah sakit, klinik, panti asuhan, yang kita bangun selama pelayanan kita dalam Kongregasi. Namun prestasi materi ini tidak menjamin kesuburan kita sebagai suster CB. Sebaliknya buah-buah rohani yang kita hasilkan dalam pelayanan kita dan kehidupan berkomunitas kita dapat diukur dengan seberapa banyak kita berbagi cinta dan kehidupan dalam pelayanan kita. Karena itu, marilah kita mengukur keibuan kita dalam berbagi kepada orang lain, belas kasih dan cinta kita tanpa syarat seperti yang dilakukan Bunda Elisabeth dan Santo Pelindung kita, St. Carolus Borromeus

Dalam pribadi dua orang besar ini kita melihat pengorbanan mereka yang terus menerus dan tak terukur. Kita dapat melihat perjuangan Bunda Elisabeth yang tanpa akhir demi kesejahteraan dan keselamatan orang lain. Dia tidak memikirkan keuntungan diri sendiri. Dia akan memberikan segalanya agar orang lain memperoleh kehidupan kekal. Dia rela menderita bagi orang miskin dan mereka yang tersisihkan. Cinta dan perbuatan ini juga menandai kehidupan Santo Pelindung kita, St. Carolus Borromeus.

Para suster yang terkasih, pada hari raya ini marilah kita bersyukur atas dua orang ini dalam Kongregasi kita. Bunda Elisabeth dan St. Carolus Borromeus menginspirasi kita dengan cinta mereka yang penuh belas kasih. Dengan inspirasi mereka ini kita berharap agar

(4)

4

kita juga terus menerus dapat mengembangkan hati penuh belas kasih yang tanpa henti bersedia berkorban agar orang lain memiliki kehidupan. Marilah kita menjamin bahwa hidup kita menghasilkan buah-buah rohani yang berlimpah.

“Selamat Pesta”

ANEKA BERITA DARI DPU

1. Sr. Gloria dari Regio Filipina, pada tanggal 18 September 2013, tiba di Indonesia. Dia akan berada di Indonesia selama beberapa tahun dan ambil bagian dalam kehidupan dan karya perutusan Provinsi Indonesia. Kami berharap semoga ia akan dapat cepat menyesuaikan diri dengan situasi baru dan budaya Indonesia serta diperkaya oleh pengalaman ini.

2. Sr. Rita Thomas dari Provinsi Indonesia setelah 4 bulan mengambil kursus Bahasa Inggris di Filipina, ia telah kembali ke Indonesia pada tgl. 25 Oktober 2013. Kepada Sr. Rita, kami mengucapkan Profisiat! Dan semoga kesempatan ini akan memperkaya dia dalam tugas pelayanannya.

3. Sr. Yesina, Sr. Lidwiana, dan Sr. Yetty, dari Provinsi Indonesia, pada tanggal 16 September, tiba di Filipina. Di sana mereka akan mengambil beberapa kursus sebagai persiapan pelayanan mereka dimasa depan. Sr. Yesina mengambil kursus Bahasa Inggris selama beberapa bulan. Sr. Lidwiana mengambil kursus “Clinical Pastoral Education” untuk persiapan tugas perutusannya ke Brasil. Sr. Yetty mengambil kursus Bahasa Inggris sebagai persiapan untuk studi lebih lanjut.

(5)

5 REGIO INDONESIA TIMUR

Dari tanggal 28 September s/d 5 Oktober, para suster Regio Indonesia Timur, menyelenggarakan pertemuan. Dalam pertemuan itu Dewan Pimpinan Regio masa jabatan periode 2010-2013, menyampaikan laporan kepada para suster mengenai apa yang telah mereka lakukan dalam pelayanan mereka. Selanjutnya, Dewan Pimpinan Regio baru ditunjuk oleh Dewan Pimpinan Umum. Setelah mendengarkan aspirasi dari para Suster di Regio dan berdasarkan dari observasi selama kunjungan, Dewan Pemimpin Umum memutuskan untuk menambah satu suster sebagai anggota Dewan Pemimpin Regio. Sehingga pada periode tahun 2013 – 2016, akan ada empat (4) anggota dewan, yaitu Pemimpin Regio dibantu oleh 3 orang suster. Mereka ialah:

Sr. Taviana : Pemimpin Regio

Sr. Veni Muda Geroe : Anggota pertama dan yang akan meng- gantikan Pemimpin ketika terjadi kekosongan.

Sr. Ancilla Setyorini : Anggota Sr. Assisia Wadan : Anggota

Terima kasih kami sampaikan kepada anggota Dewan Pimpinan Regio (Sr. Goretti, Sr. Ignatine, Sr. Patromana) yang baru saja menyelesaikan tugas pelayanan mereka sebagai Dewan Pimpinan Regio. Kita mendampingi Anggota Dewan baru dengan doa dan harapan semoga mereka dianugerahi berkat berlimpah dalam pelayanan mereka untuk Regio Indonesia Timur.

PROVINSI INDONESIA

Pemberkatan Novisiat di Manleuana, Timor Leste.

Salah satu dari persiapan-persiapan yang dilakukan Provinsi Indonesia untuk mempersiapkan Timor Leste sebagai unit mandiri di masa depan, yakni membangun sebuah rumah pembinaan awal di Manleuana, Timor Leste. Hingga saat ini, pembinaan calon di tingkat postulat dilakukan di Dili. Setelah postulan siap untuk melanjutkan

(6)

6

pembinaan tahap berikutnya yakni tingkat novisiat, mereka dikirim ke Kupang, Regio Indonesia Timur.

Setelah beberapa tahun melakukan kebijakan tersebut, kini telah tiba saatnya bagi para suster di Timor Leste untuk mengurus kedua tahap pembinaan postulat dan novisiat di negara mereka sendiri. Sebuah rumah pembinaan telah dibangun disamping persiapan-persiapan lainnya. Setelah proses yang panjang, kini rumah telah siap dan pada tanggal 4 November 2013, di hari pesta St. Carolos Borromeus, Santo Pelindung kita, Rumah Novisiat akan dibuka dan diberkati. Setelah dibuka secara resmi, rumah tersebut siap untuk memulai pembinaan awal bagi para calon mereka di sana. Marilah kita doakan agar benih panggilan dapat bertumbuh dan berkembang serta berbuah melimpah.

REGIO FILIPINA

Dari tanggal 3 s/d 7 Desember 2013, para suster Regio Filipina menyelenggarakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut anggota Dewan Regio menyampaikan laporan kepada para suster mengenai tugas pelayanan mereka selama masa jabatan mereka. Anggota Dewan baru akan diangkat oleh Dewan Pimpinan Umum. Kita doakan agar prosesnya berjalan lancar dan Dewan baru akan mampu melaksanakan pelayanan yang terbaik kepada para suster, Kongregasi, Gereja dan masyarakat.

Dewan Pimpinan Regio yang baru akan diangkat pada tanggal 8 Desember 2013. Mereka akan mengemban tugas pelayanan sebagai Dewan Pimpinan Regio dengan masa jabatan selama tiga (3) tahun, sampai dengan tanggal 7 Desember 2016.

Terima kasih kami sampaikan kepada semua anggota Dewan Pimpinan Regio (Sr. Heddy Salvador, Sr. Nerisa Jaime, dan Sr. Rachel Real) yang telah menyelesaikan pelayanan mereka sebagai Dewan Pimpinan Regio.

(7)

7 BERITA DARI MISIONARIS KITA

Setelah menikmati masa liburannya di tanah air, Indonesia, pada tanggal 29 Agustus 2013, Sr. Hanna Henny Rustiyati kembali ke Tanzania. Semoga pengalaman cuti ditanah air memberinya inspirasi untuk melanjutkan tugas perutusannya di Tanzania.

KEANGGOTAAN

REGIO INDONESIA TIMUR * Memulai masa novisiat

Pada tanggal 4 November 2013, empat orang postulan akan memulai masa novisiat mereka.

1. Fransiska Farida Yumiarni, dari Paroki St. Franciskus Xaverius, Sorong, Papua,

2. Sofia Nogo Manuk, dari Paroki St. Francis Xaverius, Menanga, Flores Timur,

3. Skolastika Polas Jawa, dari Paroki St. Petrus, Sorong, Papua, 4. Rebeka Paulina Werang, dari Paroki St. Petrus, Sorong,

Papua.

* Mengikrarkan Kaul Sementara

Pada tanggal yang sama tiga orang novis akan mengikrarkan kaul sementara mereka.

1. Sr. Maria Vidensia Benga Kia Raring, dari Paroki Kristus Raja, Kupang,

2. Sr. Fabiana Sakerebau, dari Paroki Maria Diangkat ke Surga, Mentawai,

3. Sr. Benedikta da Conceicao, dari Paroki Maria Imaculata, Timor Leste.

(8)

8 PROVINSI INDONESIA

Timor Leste

Memasuki masa novisiat/menerima busana biara

Pada tanggal 4 November 2013, delapan postulan akan memasuki masa novisiat di novisiat Timor Leste.

- Alianca A Dos Santos dari Paroki Ermera

- Angelina Da Graca Pereira Baros dari Paroki Same - Celestina De Deus dari Paroki Letefoho

- Diamentina Salsinha dari Paroki Ermera - Elisa Fernandes Dos Santo dari Paroki Ermera - Gabriela Fatima Martinus dari Paroki Ermera - Isabel De Jesus Madeira dari Paroki Ermera - Isabela Albes Dos Santos dari Paroki Ainaro

Marilah kita berdoa bagi para novis baru dan suster yunior ini agar mereka tetap melangkah maju dalam panggilan mereka. Profisiat dan selamat memasuki kehidupan baru.

IN MEMORIAM

“Engkau menenun aku dalam kandungan ibuku Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat

dan ajaib; ajaiblah apa yang Kaubuat.” (Ps.139)

Provinsi Nederland

- Sr. Redemptrix Kuijpers lahir di Oosterhout pada tanggal 18 Februari 1923, mengucapkan profesi dalam Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus pada tanggal 18 November 1956, dan meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 2013 di Nijmegen.

- Sr. Theophile Giesbertz lahir pada tanggal 15 Oktober 1918 di Nijmegen, mengucapkan profesi dalam Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus pada

(9)

9

tanggal 14 Mei 1944, dan meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2013, di Maastricht.

- Sr. Felicie Steverink lahir pada tanggal 24 Juli 1926 di Amsterdam, mengucapkan profesi dalam Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus pada tanggal 16 November 1954, dan meninggal dunia pada tanggal 21 Agustus 2013, di ‘Klevarie’, Maastricht.

- Sr. Woutera Bouma lahir pada tanggal 18 Juni 1917, di Witmarsum, mengucapkan profesi dalam Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus pada tanggal 22 November 1936, dan meninggal dunia pada tanggal 22 September 2013, di Maastricht .

- Sr. Ernestie Wetering lahir pada tanggal 21 September 1912 di Wijk aan Zee en Duin, mengucapkan profesi dalam Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus pada tanggal 21 November 1937, dan meninggal dunia pada tanggal 29 September 2013, di Maastricht.

Provinsi Indonesia

- Sr. Stefina Sri Mustikarini lahir di Yogyakarta tanggal 28 Agustus 1947, mengucapkan profesi dalam Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus pada tanggal, 2 October 1988, dan meninggal dunia pada tanggal 28 Augustus 2013, di Biara Santa Anna, Yogyakarta.

Teriring salam hangat atas nama Dewan Pimpinan Umum

Sr. Rosaria Nur Hardiningsih Pemimpin Umum

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :