PENGARUH FORMULA BIONEMATISIDA BAKTERI ENDOFIT Bacillus sp.
TERHADAP INFEKSI NEMATODA Meloidogyne sp. PADA TANAMAN KOPI
EFFECT OF ENDOPYTIC BIONEMATICIDE Bacillus sp. ON THE INFECTION OF Meloidogyne sp.
OF COFFEE PLANT
*Rita Harni dan Samsudin
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar
Jalan Raya Pakuwon Km 2 Parungkuda, Sukabumi 43357 Indonesia
*[email protected]
(Tanggal diterima: 3 Agustus 2015, direvisi: 25 Agustus 2015, disetujui terbit: 3 November 2015)
ABSTRAKNematoda puru akar (Meloidogyne sp.) merupakan salah satu pembatas produksi pada tanaman kopi. Pengendalian nematoda yang banyak dilakukan saat ini adalah menggunakan agens hayati seperti bakteri Bacillus sp. karena ramah lingkungan dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh bakteri endofit Bacillus sp. PG76 dalam bentuk formula molase, kompos, dan talc terhadap infeksi nematoda puru akar (Meloidogyne sp.) dan pertumbuhan tanaman kopi. Percobaan dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi mulai Desember 2013 sampai Mei 2014. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap 6 perlakuan dengan 10 ulangan. Perlakuannya adalah tiga formula bionematisida berupa molase, kompos, dan talc; nematisida kimia sebagai pembanding (karbofuran), kontrol positif (tanaman diinokulasi nematoda, tanpa formula), dan kontrol negatif (tanaman tanpa formula dan nematoda). Formula berisi bakteri endofit Bacillus sp. PG76 dengan kerapatan 109 cfu/ml. Pengujian formula dilakukan pada tanaman kopi berumur 6 bulan dengan
konsentrasi 100 ml/pohon untuk molase, dan 100 g/pohon untuk kompos dan talc. Satu minggu setelah perlakuan formula, tanaman kopi diinokulasi dengan 500 ekor larva 2 Meloidogyne sp. Tiga bulan setelah perlakuan dilakukan pengamatan terhadap jumlah puru, populasi nematoda di dalam akar dan tanah serta pertumbuhan tanaman kopi. Hasil penelitian menunjukkan ketiga formula bionematisida Bacillus sp. PG76 (molase, kompos, dan talc) dapat menekan populasi nematoda Meloidogyne sp. pada tanaman kopi. Formula bionematisida terbaik adalah molase dan kompos dengan penekanan 74,0% dan 73,2%, sama efektifnya dengan nematisida kimia karbofuran (73,3%). Formula molase dan kompos juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kopi. Bionematisida mengandung Bacillus PG76 prospektif mengendalikan nematoda.
Kata kunci: Bacillus sp., Meloidogyne sp., molase, kompos, talc
ABSTRACT
Meloidogyne sp. is an important pathogen of coffee plant. Bacillus sp. is commonly used to control the nematode as it is environmentally friendly.
The study aimed to determine the effect of endophytic bacteria Bacillus sp. PG76 formulated in the molasses, talc or compost on the infection of
Meloidogyne sp. The experiments were conducted in the laboratory and greenhouse of the Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute, Sukabumi from December 2013 to May 2014. The experimental design was a completely randomized, 6 treatments and 10 replications of
six months-old coffee plants. Six treatments were tested (Bacillus sp. PG76 formulated in molasses, compost, or talc; carbofuran; plant inoculated
with the nematode only, and plant neither treated with the formula nor the nematode). Population of Bacillus sp. PG76 in each formula was 109
cfu/ml. Number of formulas applied per plant was 100 ml of molasses, 100 g of talc, or 100 g of compost. One week after the treatments, the plants
were inoculated with 500 larvae-2 Meloidogyne sp. Parameters observed were the number of gall, nematode population in the roots and soil, and
the coffee plant growth. The results showed that all the treatments (molasses, compost, and talc) suppressed the population of Meloidogyne sp. The
best formulas were molasses and compost that reduced the nematode infection up to 74.0% and 73.2%, respectively, similar to that of carbofuran
(i.e. 73.3%). Furthermore, application of the formulas increased coffee plant growth. The study suggests that Bacillus sp. PG76 formulation is
prospective to control the nematode.
PENDAHULUAN
Nematoda puru akar (Meloidogyne sp.)
merupakan nematoda utama pada tanaman kopi di Indonesia dan negara-negara penghasil kopi lainnya di dunia (Sauza, 2008). Nematoda menyerang jaringan korteks akar, terutama akar-akar serabut yang aktif menyerap unsur hara dan air, akibatnya pertumbuhan akar terganggu dan penyerapan air maupun unsur hara
tidak optimal. Gejala serangan Meloidogyne sp. pada
bagian atas tanaman umumnya tidak spesifik, tanaman tampak kerdil, pertumbuhan terhambat, ukuran daun dan cabang primer mengecil, daun tua berwarna kuning yang secara perlahan akhirnya rontok dan tanaman mati (Harni, 2014). Kerugian akibat serangan nematoda
Meloidogyne sp. pada tanaman kopi dapat mencapai 25% dari potensi produksi (Sauza, 2008), dan bila menyerang pada saat tanaman masih muda dapat menyebabkan kematian tanaman.
Pengendalian nematoda parasit tanaman yang banyak dilakukan saat ini adalah melalui pemanfaatan mikroorganisme yang berasosiasi dengan tanaman, salah satunya agens hayati bakteri endofit (Hallmann & Berg, 2006). Harni & Khaerati (2013) telah memperoleh isolat bakteri endofit dari akar tanaman kopi yang
potensial untuk mengendalikan nematoda Pratylenchus
coffeae. Bakteri tersebut juga telah diuji pada nematoda
puru akar (Meloidogyne sp.) pada bibit kopi di rumah
kaca (Harni, 2014). Hasil penelitian menunjukkan
bakteri endofit dapat menekan populasi P. coffeae dan
Meloidogyne sp. serta dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kopi, dan setelah diidentifikasi bakteri endofit
tersebut adalah Bacillus sp.
Penggunaan bakteri Bacillus sp. untuk
mengendalikan nematoda Meloidogyne sp. juga telah
dilaporkan oleh beberapa peneliti (Mekete, Hallmann, Sebastian, & Sikora, 2009; Vetrivelkalai, Sivakumar, & Jonathan, 2010; Harni & Munif, 2012; Lamovsek, Urek, & Trdan, 2013; Munif, Hallmann, & Sikora, 2013). Mekete, Hallman, Sebastian, & Sikora (2009),
melaporkan bakteri endofit Bacillus pumilus dan B.
mycoides dapat menekan populasi dan jumlah puru
Meloidogyne incognita pada tanaman kopi sebesar 33% dan 39%. Harni & Munif (2012) menggunakan bakteri
endofit Bacillus sp. untuk mengendalikan Meloidogyne
incognita pada tanaman lada, sedangkan Aisyah, Wiryadiputra, Fauzi, & Harni (2015) melaporkan
bakteri Bacillus subtilis dengan kepadatan 108 cfu/ml
dapat menekan populasi nematoda P. coffeae sebesar
71,3% dan meningkatkan pertumbuhan bibit kopi Arabika sebesar 35,4%.
Agar dapat diaplikasikan dengan mudah di lapangan, suatu agens hayati perlu diformulasi menjadi suatu produk. Pembuatan suatu formula umumnya
membutuhkan bahan pembawa yang memiliki beberapa persyaratan, antara lain ringan, tidak mempunyai efek negatif terhadap agens hayati, tidak memberikan pengaruh buruk terhadap lingkungan, mudah diaplikasikan dan diperoleh, serta tidak fitotoksik terhadap tanaman (Jeyarajan & Nakkeeran, 2000;
Nakkeeran, Fernando, & Siddiqui, 2005). Bacillus sp.
sebagai biopestisida telah banyak diformulasi dengan berbagai bahan pembawa seperti dilaporkan oleh
Nakkeeran et al. (2005) yang menggunakan bahan
organik talc, kaolin, vermikulit, ditambah dengan
bahan-bahan non organik pada formulasi B. subtilis.
Hanudin, Nuryani, Silvia Yusuf, & Marwoto (2011)
memformulasi B. subtilis sebagai biopestisida organik
cair menggunakan molase dan ekstrak kascing, sedangkan Nawangsih, Wijayanti, & Kartika (2014)
menggunakan talc powder. Penelitian bertujuan
mengetahui pengaruh bakteri endofit formula Bacillus
sp. PG76 dalam bentuk formula molase, kompos, dan
talc terhadap infeksi nematoda puru akar (Meloidogyne
sp.) dan pertumbuhan tanaman kopi. BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi, mulai Desember 2013 sampai Mei 2014.
Perbanyakan Materi Tanaman dan Nematoda Materi tanaman yang digunakan adalah bibit kopi Arabika varietas Kartika 2 umur 6 bulan yang ditanam dalam polybag berisi tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 (2 tanah : 1 pupuk kandang).
Perbanyakan nematoda Meloidogyne sp. dilakukan pada
tanaman tomat (Mekete et al., 2009). Nematoda
Meloidogyne sp. yang digunakan berasal dari tanaman kopi yang terserang nematoda dari lapangan kemudian diperbanyak pada tanaman tomat selama 3 bulan. Setelah 3 bulan tanaman tomat dibongkar dan nematoda yang ada pada akar diisolasi untuk digunakan sebagai sumber inokulum.
Perbanyakan Masal Bakteri Endofit Bacillus sp.
Bakteri endofit yang digunakan adalah Bacillus
sp. PG76 yang diisolasi dari perakaran tanaman kopi dan telah diketahui potensinya sebagai agens hayati (Harni & Khaerati, 2012; Harni, 2014). Bakteri endofit
diperbanyak pada media tryptic soy agar (TSA) selama 48
jam pada suhu kamar. Hasil biakan tersebut diambil 3
loop penuh (ose) dan disuspensi dalam 10 ml air steril,
serta diaduk agar suspensi homogen sehingga diperoleh
kerapatan 109 cfu/ml. Suspensi sebanyak 1 ml dituang
media tryptic soy broth (TSB). Selanjutnya, suspensi
bakteri digoyang di atas shaker pada kecepatan 150 rpm
selama 48 jam. Setelah 48 jam sel bakteri dipanen dengan cara mengambil biakan, lalu disuspensi dengan
air steril pada konsentrasi 10% (Hanudin et al., 2012).
Formulasi Bakteri Endofit
Formula dibuat dalam bentuk cair, bubuk, dan kompos. Formula dalam bentuk cair menggunakan tetes tebu (molase) ditambah pepton sebagai sumber protein. Molase dengan konsentrasi 5% disterilkan dalam
autoclave pada suhu 121 °C selama 15 menit, kemudian didinginkan dan siap digunakan sebagai media pembuatan formula cair. Formula cair dibuat menggunakan metode fermentasi, yaitu 1000 ml media molase diinokulasi dengan 10 ml suspensi bakteri, kemudian digoyang dengan kecepatan 150 rpm pada
suhu 30 °C (Harni, 2010). Setelah satu minggu,
sebelum formula molase digunakan, pertumbuhan bakteri di dalam formula diamati dengan cara menumbuhkannya dalam media TSA.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan formula kompos adalah kascing (diperoleh dari Laboratorium Biologi Institut Pertanian Bogor) yang ditambah rumput dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:1:3 (3 kascing : 1 rumput : 3 pupuk
kandang sapi). Bakteri endofit Bacillus sp. PG76 yang
sudah diperbanyak, diinokulasikan pada campuran bahan
dengan kerapatan 109 cfu/ml. Kemudian bahan
campuran kompos tersebut ditutup dengan kantong plastik hitam selama 2–4 minggu. Setelah satu bulan, populasi bakteri dapat diamati dengan cara menumbuhkannya pada media TSA.
Formula bubuk (powder) dibuat dengan bahan
pembawa talc, yaitu dengan menambahkan 500 ml
suspensi bakteri Bacillus sp. PG76 dengan kerapatan 109
cfu/ml ke dalam 1 kg talc, kemudian diaduk sampai
membentuk adonan. Selanjutnya, bahan tersebut dikeringanginkan hingga tercapai kadar air 5%, kemudian diayak dan siap digunakan.
Pengujian Formula Bakteri Endofit Bacillus sp. terhadap Nematoda Meloidogyne sp. Pada Tanaman Kopi
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 6 perlakuan dengan 10 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah (1) formula molase, (2)
formula kompos, (3) formula talc, (4) karbofuran
(nematisida kimia sebagai pembanding), (5) kontrol positif (tanaman diinokulasi dengan nematoda, tanpa formula), (6) kontrol negatif (tanaman tanpa formula dan nematoda). Bibit kopi berumur 6 bulan yang ditanam dalam polybag berdiameter 15 cm diperlakukan dengan formula yang diuji. Formula
molase (dosis 100 ml/tanaman) diaplikasikan dengan cara menyiramkannya di sekitar akar tanaman. Formula
kompos dan talc (dosis masing-masing 100 g/tanaman)
diaplikasikan pada tanah yang telah digali sedalam 10 cm di sekeliling batang tanaman kopi, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Perlakuan nematisida kimia karbofuran (dosis 3 g/tanaman) diberikan dengan cara
yang sama dengan formula talc dan kompos. Satu
minggu setelah perlakuan formula bakteri endofit, tanaman diinokulasi dengan 500 ekor larva 2
Meloidogyne sp dengan cara menuangkan suspensi nematoda di sekeliling tanaman pada kedalaman 1 cm. Tiga bulan setelah inokulasi, tanaman dibongkar dan akar dicuci, kemudian dikeringanginkan.
Pengamatan dilakukan terhadap jumlah puru
(gall), populasi nematoda, dan pertumbuhan tanaman.
Nematoda pada akar diekstraksi dengan metode funnel
spray method, sedangkan tanah diekstraksi dengan metode corong Baerman. Pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, bobot tajuk, diameter batang, bobot basah, dan kering (tajuk dan akar).
Analisis Data
Untuk menguji pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati, dilakukan analisis ragam dan bila
terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey
pada taraf 5 %.
HASIL DAN PEMBAHASAN Populasi Nematoda dan Kerusakan Bibit
Hasil penelitian menunjukkan semua formula
berbahan aktif Bacillus sp. PG76 (molase, kompos, dan
talc) dapat menekan populasi nematoda Meloidogyne sp.
pada akar tanaman kopi dibandingkan dengan kontrol (Tabel 1). Formula molase memberikan pengaruh terbaik dalam menekan populasi nematoda baik di
dalam akar maupun dalam tanah. Populasi Meloidogyne
sp. di dalam akar sebesar 233,0 ekor dan tanah 58,2 ekor tidak berbeda nyata dengan perlakuan formula kompos, yaitu masing-masing 260,1 dan 39,7 ekor dan hanya berbeda sangat nyata dengan perlakuan kontrol
positif. Hal ini menunjukkan bakteri Bacillus sp. PG76
yang diformulasi dengan molase atau kompos dapat
menekan populasi Meloidogyne sp. sebesar 74,0% dan
73,3%. Tingkat penekanan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan nematisida kimia karbofuran dengan konsentrasi 3 g per tanaman, yaitu 73,4%. Populasi
nematoda Meloidogyne sp. pada perlakuan nematisida
kimia karbofuran pada akar dan tanah adalah 240,1 dan 58,6 ekor.
Tanaman bagian atas (tajuk) belum memperlihatkan gejala kerusakan akibat terinfeksi
nematoda, seperti tanaman kerdil, daun menguning, dan akhirnya rontok, baik pada tanaman kontrol positif
maupun pada perlakuan formula talc, molase, atau
kompos tiga bulan setelah aplikasi. Gejala serangan hanya terlihat pada bagian akar, yaitu berupa puru, baik pada cabang akar sekunder maupun pada bulu-bulu akar. Jumlah puru terbanyak terdapat pada perlakuan kontrol positif, yaitu 41,2 buah berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya. Jumlah puru pada akar tanaman yang diperlakukan dengan formula bionematisida (15,8–20,3) tidak berbeda nyata dengan yang diperlakukan nematisida karbofuran (20,6) (Tabel 1).
Penekanan populasi nematoda dan jumlah puru
Meloidogyne sp. oleh bakteri endofit Bacillus sp PG76. yang diformulasi dengan molase dan kompos disebabkan oleh kemampuannya menghasilkan antibiotik dan menginduksi ketahanan tanaman dengan peningkatan kadar asam salisilat (Harni, 2012). Rahanandeh, Khodakaramian, Seraji, Asghari, & Tarang (2012) melaporkan antibiotik yang dihasilkan oleh bakteri
Pseudomonas dapat menekan populasi Pratylenchus loosi
dengan tingkat penekanan 63,10% sampai 95,24%. Selain itu, Harni, Supramana, Sinaga, Giyanto, &
Supriadi (2012) melaporkan filtrat bakteri endofit B.
subtilis, Pseudomonas putida dan Achromobacter xylosoxidans
menghasilkan senyawa bersifat nematisida yang efektif
membunuh nematoda Pratylenchus brachyurus. Daya
bunuh filtrat diduga berhubungan dengan senyawa
2,3-diacetylphorologlucinol dan protease yang bersifat menghambat penetasan telur dan mematikan nematoda.
Pengendalian nematoda dengan peningkatan aktivitas asam salisilat telah dilaporkan oleh Siddiqui & Shaukat (2004) dan Kloepper, Ryu, & Zhang (2004). Aktivitas asam salisilat merupakan salah satu indikator bahwa terjadi induksi ketahanan sistemik pada tanaman. Hasky-Gunther, Hoffmann-Hergarten, & Sikora. (1998) juga melaporkan peran biosintesis asam salisilat dalam meningkatkan mekanisme pertahanan terhadap
nematoda parasit tanaman dengan menggunakan Bacillus
sphaericus B43 yang diaplikasikan pada tanaman kentang.
Hasil penelitian menunjukkan B. sphaericus B43 dapat
mendorong induksi ketahanan sistemik, demikian juga
dengan Bacillus spp. yang dilaporkan oleh Kloepper et
al. (2004). Harni et al. (2012) melaporkan bakteri
endofit dapat menekan populasi nematoda P. brachyurus
dengan mekanisme peningkatan asam salisilat terutama
oleh isolat Achromobacter xylosoxidans.
Penggunaan molase dan kompos sebagai bahan
pembawa pada formula bakteri Bacillus sp. PG76
meningkatkan keefektifannya dalam menekan populasi
nematoda Meloidogyne sp. dibandingkan dengan formula
talc. Hal ini mungkin disebabkan oleh bahan-bahan
organik yang terdapat dalam formula molase dan kompos. Bahan organik tersebut menghasilkan asam-asam organik seperti asam-asam butirat, propionat, asetat dan senyawa fenol yang bersifat toksik terhadap nematoda
(Mankau, 1981). Menurut Baker (1990) cited in Harni
(2010) kandungan molase yang utama adalah sukrosa selain itu juga ada biotin, asam folat, inositol, piridoksin, riboflavin, tiamin, asam nikotinat dan colin. Di samping sebagai pembawa senyawa-senyawa yang
dibutuhkan oleh bakteri Bacillus sp. PG76, molase juga
dapat berperan sebagai pelindung dari sinar matahari,
pengental, fagosstimulant, dan penutup faktor
perlawanan daun serta sebagai pengawet selama
penyimpanan (Burges & Jones, 1998 cit. Hanudin et al.,
2011). Kompos kascing adalah pupuk organik yang dihasilkan dari hasil sekresi cacing tanah dengan kandungan utamanya adalah unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, dan unsur lainnya seperti hormon pengatur tumbuh giberallin, sitokinin, dan auksin (Nusantara, Mansyur, Kuswana, Darusman, & Soedarmadi, 2007). Menurut Cook & Baker (1983), asam amino, asam organik, vitamin, alkaloid, subtansi fenolat, serta unsur anorganik, seperti kalium, kalsium, magnesium dan mangan yang terdapat dalam tanaman dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Akibatnya, kesempatan patogen (nematoda) untuk memanfaatkannya menjadi berkurang dan pada akhirnya serangan nematoda juga menurun.
Tabel 1. Pengaruh formula bakteri endofit Bacillus sp. PG76 terhadap populasi nematoda Meloidogyne sp. dalam akar dan tanah tanaman kopi
Table 1. The effect of endophytic bacteria Bacillus sp. PG76 formulas on the population of Meloidogyne sp. in the roots and soils of coffee plant
Perlakuan Jumlah puru Akar Populasi nematoda (ekor) Tanah Total Penekanan populasi nematoda (%)
Molase 15,8 b 233,0 c 58,2 b 291,2 c 74,0
Kompos 16,2 b 260,1 c 39,7 b 299,1 c 73,3
Talc 20,3 b 468,2 b 53,7 b 521,9 b 53,4
Karbofuran 20,6 b 240,1 c 58,6 b 298,7 c 73,4
Kontrol (+) 41,2 a 102,0 a 101,0 a 112,1 a -
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf sama pada kolom sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey taraf 5%
Tabel 2. Pengaruh formula bakteri endofit Bacillus sp. PG76 terhadap pertumbuhan dan bobot tanaman kopi
Table 2. The effect of endophytic bacteria Bacillus sp. PG76 formulas on the growth and weight of coffee plant
Perlakuan Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun Tajuk Bobot segar (g) Akar Tajuk Akar Bobot kering (g)
Molase 35,5 a 18,3 a 21,80 a 9,18 a 7,49 ab 3,09 a Kompos 37,6 a 17,3 a 18,13 ab 7,03 ab 7,39 ab 2,60 ab Talc 34,4 a 15,7 b 16,67 b 5,24 bc 6,58 b 2,06 b Karbofuran 35,0 a 16,8 a 16,07 b 4,56 c 5,93 c 1,85 c Kontrol (+) 33,8 b 15,1 b 15,42 c 5,01 bc 6,07 c 1,65 c Kontrol (-) 38,5 a 17,9 a 20,72 a 6,35 b 8,12 a 2,71 ab
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf sama pada kolom sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey taraf 5%
Notes : Numbers followed by the same letters in the same column are not significantly different according to Tukey test at 5% levels
Pertumbuhan Tanaman Kopi
Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman kopi, yaitu bobot segar tajuk dan akar serta bobot kering tanaman menunjukkan pemberian formula molase dan kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kopi dibandingkan dengan kontrol positif. Peningkatan bobot segar dan bobot kering (tajuk dan akar) tertinggi pada formula molase tidak berbeda nyata dengan formula kompos dan kontrol negatif, tetapi
berbeda nyata dengan formula talc, karbofuran
(nematisida kimia) dan kontrol positif .
Hal ini terjadi karena bakteri Bacillus sp PG76.
selain sebagai agens biokontrol juga bersifat sebagai pemicu pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan
hormon tumbuh, yaitu indol acetic acid (IAA) (Harni,
2012). Banyak laporan menyatakan penggunaan bakteri rizosfir atau bakteri endofit dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena menghasilkan hormon pertumbuhan seperti etilen, auxin, dan sitokinin (Bacon
& Hinton, 2007). Penelitian Aisyah et al. (2015)
mendapatkan hal yang sama, yaitu perlakuan B. subtilis
dengan dosis 108 cfu/ml dapat meningkatkan
pertumbuhan bibit kopi Arabika sebesar 35,4%. Harni
et al. (2014) juga melaporkan penggunaan bakteri endofit dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
nilam sebesar 23,6%–57,5%. Selanjutnya,
Hrynkiewiezc & Baum (2012) menjelaskan bakteri
Bacillus sp. merupakan bakteri pemacu pertumbuhan (PGPR) yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan berbagai cara di antaranya adalah meningkatkan nutrisi, menghasilkan fitohormon, dan menekan perkembangan patogen.
Penggunaan molase dan kompos pada formula
Bacillus sp. PG76 juga menambah unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Seperti telah dijelaskan sebelumnya molase dan kascing mengandung mineral dan fitohormon, yaitu senyawa yang telah banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian di Amerika Serikat pada tanah bekas tambang menunjukkan penggunaan kascing dapat
meningkatkan kadar P dan K sebesar 16,5 dan 19%. Di samping itu, kascing juga mengandung hormon auksin, sitokinin dan giberelin serta memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi (Aira, Monroy, & Dominguez, 2006). Dengan adanya unsur-unsur tersebut, kebutuhan tanaman terhadap nutrisi terpenuhi sehingga tanaman menjadi sehat dan dapat mencegah infeksi dari nematoda.
Formula Bacillus sp. PG76 juga memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif. Formula molase dan kompos memperlihatkan pengaruh nyata terhadap jumlah daun dibandingkan
dengan formula talc. Pengaruh dari kedua formula
tersebut sama dengan perlakuan nematisida dan kontrol negatif. Dari data ini dapat dijelaskan, peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar, dan bobot kering pada perlakuan formula molase dan kompos disebabkan oleh pengaruh pengendalian nematoda oleh
Bacillus sp. PG76 dan juga oleh bahan pembawa formula seperti molase dan kascing yang berfungsi sebagai pupuk.
KESIMPULAN
Bionematisida dengan bahan aktif bakteri
endofit Bacillus sp. PG76 yang diformulasi dalam
molase, kompos atau talc dapat menekan populasi
nematoda Meloidogyne sp. pada tanaman kopi. Formula
Bacillus sp. PG76 dalam bentuk molase dan kompos paling efektif menekan populasi nematoda dengan penekanan 74,0% dan 73,3% sebanding dengan nematisida kimia karbofuran (73,4%). Formula bionematisida molase dan kompos juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kopi (tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan kering).
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Sumantri yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini di laboratorium dan rumah kaca.
DAFTAR PUSTAKA
Aira, M., Monroy, F., & Dominguez, J. (2006). Changes in microbial biomass and microbial activity of pig slurry after the transit through the gut of the earthworm Eudrilus eugeniae. Biol. Fertil Soil, 42, 371–376.
Aisyah, I.N., Wiryadiputra, S., Fauzi, I., & Harni, R. (2015). Populasi Pratylenchus coffeae (Z) dan pertumbuhan bibit kopi Arabika akibat inokulasi Pseudomonas diminuta L. dan Bacillus subtilis (C.). Pelita Perkebunan, 31(1), 30–40.
Bacon, C.W., & Hinton, S. S. (2007). Bacterial endophytes: The endophytic nische, its occupants, and its utility. In Gnanamanickam, S.S. (Ed.), Plant-associated bacteria (pp. 155–194). Berlin: Springer.
Cook, R.J., & Baker, K.F. (1983). The nature and practice of biological control of plant pathogens. USA: The American Phytopathol. Soc.
Hallmann, J., & Berg, G. (2006). Spectrum and population dynamics of bacterial root endophytes. In Schulz, B., Boyle, C., & Sieber, T. (Eds), Soil biology microbial root endophytes
Vol. 9 (pp. 15–31). Berlin, Heidelberg: Springer. Hanudin, W., Nuryani, E., Silvia Yusuf, & Marwoto, B. (2011).
Biopestisida organik berbahan aktif Bacillus substilis dan
Pseudomonas fluorescens untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada anyelir. J. Hort.,21(2), 152–163.
Harni R. (2010). Pengaruh bakteri endofit untuk menginduksi ketahanan tanaman nilam terhadap infeksi nematoda peluka akar
(Pratylenchus brachyurus). Laporan Hasil Penelitian Riset Unggulan Terpadu. Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi.
Harni, R. (2012). Pemanfaatan bakteri endofit untuk mengendalikan nematoda Pratylenchus coffeae dan Radhopolus similis pada tanaman kopi. Laporan Hasil Penelitian. Sukabumi: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar.
Harni R., & Munif, A. (2012). Pemanfaatan agens hayati endofit untuk mengendalikan penyakit kuning pada tanaman lada.
Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri,
3(3), 201–206.
Harni R, Supramana, M.S., Sinaga, Giyanto, & Supriadi. (2012). Mekanisme bakteri endofit mengendalikan nematoda
Pratylenchus brachyurus pada tanaman nilam. Bulletin Spices and Medicinal Crops, 23(1), 102–114.
Harni, R., & Khaerati. (2013). Evaluasi bakteri endofit untuk mengendalikan nematoda Pratylenchus coffeae pada tanaman kopi. Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri, 4(2), 109–116.
Harni, R. (2014). Pengaruh beberapa isolat bakteri endofit terhadap nematoda puru akar (Meloydogyne spp.) pada tanaman kopi.
In Prosiding Perlindungan Tanaman II, Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Harni, R., Supraman, & Supriadi. (2014). Eficacy of endophytic bacteria in reducing plant parasitic nematode Pratylenchus brachyurus. Indonesian Journal of Agricultural Science, 15(1), 29–34.
Hasky-Gunther, K., Hoffmann-Hergarten, S., & Sikora, R.A. (1998). Resistance against the potato cyst nematode
Globodera pallida systemically induced by the rhizobacteria
Agrobacterium radiobacter (G12) and Bacillussphaericus (B43).
Fundam. Appl. Nematol., 21(5), 511–517.
Hrynkiewiezc, K., & Baum, C. (2012). The potential of rhizosphere microorgamisms to promote the plant growth in disturbed soils. In Malik A., & Grohmann (Eds). Environmental protection strategies for sustainable development. USA.
Jayarajan, R., & Nakkeeran, S. (2000). Exploitation of microorganisms and viruses as biocontrol agents for crop disease management. In Biocontrol Potential and Their Exploitation in Sustainable Agriculture (pp. 95-116). USA: Kluwer Academic Publishers.
Kloepper, J.W., Ryu, C.M., & Zhang, S. (2004). Induced systemic resistance and promotion of plant growth by Bacillus spp.
Phytopathological, 94(11), 1259–1266.
Lamovsek, J., Urek, G., & Trdan, S., (2013). Biological control of root-knot nematodes (Meloidogyne spp.): Microbes against the pests. Acta agriculturae Slovenica, 101, 263–275. Mankau, R. (1981). Microbial control nematodes. In Plant parasitic
nematodes. Vol. 3 (pp. 475–494).
Mekete, T., Hallmann, J., Sebastian, K., & Sikora, R. (2009). Endophytic bacteria from Ethiopian coffee plants and their potential to antagonisme Meloidogyne incognita. Nematology,
11(1), 117–127.
Munif, A., Hallmann, J., & Sikora, R.A. (2013). The influence of endophytic bacterie on Meloidogyne incognita infection and tomato plant growth. J. ISSAAS, 19(2),68–74.
Nakkeeran, S., Fernando, W.G.D., & Siddiqui, Z.A. (2005). Plant growth promoting rhizobacteria formulations and its scope in commercialization for the management of pests and diseases. In Siddiqui, Z.A. (Ed.), PGPR: Biocontrol and biofertilization (pp. 257–296). Dordrect, The Netherland: Springer.
Nawangsih, A.A., Wijayanti, E., & Kartika, J.G. (2014). Pengembangan formulasi biopestisida berbahan aktif bakteri endofit dan PGPR untuk mengendalikan penyakit layu bakteri. In Strategi Perlindungan Tanaman dalam Memperkuat Sistem Pertanian Menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Prosiding Seminar Nasional Perlindungan Tanaman II (pp. 97-103). Bogor, 13 November 2014. Nusantara, A.D., Mansyur, I., Kuswana, C., Darusman, L.K., &
Soedarmadi. (2007). Peran subtrat alami, kadar air, dan sterilisasi dalam produksi spora melalui simbiosis Pueraria javanica dan Glomus etunicatum. J. Akta Agrosia., 2, 204–212.
Rahanandeh, H., Khodakaramian, G., Seraji, A., Asghari, S.M., & Tarang, A.R. (2012). Inhibition of tea root lesion nematode Pratylenchus loosi.
Siddiqui, I.A., & Shaukat, S. S. (2004). Systemic resistance in tomato induced by biocontrol bacteria against the root-knot nematode, Meloidogyne javanica is independent of salicylic acid production. J. Phytopathology,152, 48–54.
Souza, R.M. (2008). Plant-parasitic nematodes of coffee (pp. 225–248). Springer.
Vetrivelkalai, P., Sivakumar, M., & Jonathan, E. I. (2010). Biocontrol potential of endophytic bacteria on Meloidogyne incognita and its effect on plant growth in bhendi. Journal of Biopesticides, 3(2), 452–457.