88885698-ampul-fix

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

AMPUL CHLORAMPHENICOL

KELOMPOK G-1

Achmad Subakir 1040911001 Anis Budiarti 1040911009 Enik Purwaningsih 1040911039 Etika Lutfi Fitriani 1040911043 Famella Octaviani O.S. 1040911047

PROGRAM S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI” SEMARANG 2012

(2)

Ampul Chloramphenicol

Tujuan :

1. Dapat menyusun formula yang tepat untuk injeksi chloramphenicol

2. Dapat mengetahui dan melaksanakan cara pembuatan serta cara sterilisasi yang tepat pada sediaan injeksi chloramphenicol beserta cara sterilisasi semua alat yang dibutuhkan

3. Dapat mengetahui dan melakukan uji untuk sediaan injeksi chloramphenicol dalam ampul

I. Praformulasi

1. Tinjauan farmakologi bahan obat

Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat ialah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptide pada proses sintesis protein kuman. Umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Dalam dosis terapi, loramfenikol menghambat biotransformasi tolbutamid, fenitoin, dikumarol dan obat lain yang dimetabolisme enzim mikrosom hepar. Dengan demikian toksisitas obat-obat ini lebih tinggi bila diberikan bersama kloramfenikol.

Di dalam hati, kloramfenikol mengalami konjugasi dengan asam glukoronat oleh enzim glukoronil transferase. Oleh karena itu waktu paruh kloramfenikol memanjang pada pasien gangguan faal hati. Sebagian kecil kloramfenikol mengalami reduksi menjadi senyawa aril-amin yang tidak aktif lagi. Dalam waktu 24 jam, 80-90% kloramfenikol yang diberikan telah diekskresi melalui ginjal. Dari seluruh kloramfenikol yang diekskresi melalui urin, hanya 5-10% dalam bentuk aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk glukoronat atau hidosilat lain yang tidak aktif. (Farmakologi dan Terapi edisi 4, hal.657)

Berhubung resiko anemia aplatis fatal yang terjadi, kloramfenikol jarang digunakan lagi peroral untuk terapi manusia. Dewasa inihanya dianjurkan pada beberapa infeksi bila tidak ada kemungkinan lain, yaitu pada infeksi tifus dan

(3)

meningitis juga pada infeksi anaerb yang sukar dicapai obat, khususnya abces otak oleh B.fragilis. Dosis : pada tifus permulaan 1-2 g (palmitat) lalu 4 dd 500-750 mg p.c. Neonati maks 25 mg/kg perhari dalam 4 dosis, anak-anak diatas 2 minggu 25-50 mg/kg perhari dalam 2-3 dosis. Pada infeksi parah (meningitis, abces otak) i.v 4 dd 500-1500 mg. (Tan Hoan Tjay,2007;82-83)

2. Tinjauan sifat fisikakimia bahan obat a. Chloramphenicol

C11H12Cl2N2O5 BM: 323,1

Pemerian : berwarna putih, putih keabuan, berbentuk serbuk, kristal halus atau kristal jarum panjang

Kelarutan : larut dalam 400 bagian air, sangat mudah larut dalam alcohol, aseton, etil asetat dan propilenglikol.

b. Cloramphenicol Na succinate C15H15Cl2N2NaO8 BM : 445,2 Pemerian : Serbuk warna kuning

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan alcohol Stabilitas :

 pH : 6,0 – 7,0 (martindale hal 239-240)

 Sterilitas : penyaringan membrane (filtrasi) karena kloramfenikol Na.suksinate tidak tahan terhadap pemanasan.

 Cahaya : wadah dan penyimpanan dalam wadah tertutup rapat, terlindungi dari cahaya. Jika dimaksudkan untuk sediaan parenteral, wadah harus steril dan ditutup sedemikian rupa untuk menghindari kontaminasi mikroba.

(4)

c. Aqua sterile pro injection

adalah air untuk injeksi yag disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya.

Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau. (Christina Sri Lestari, 2007)

3. Cara sterilisasi masing-masing bahan  Kloramfenikol Na.Suksinate : filtrasi  Buffer : filtrasi

 Aqua Pro Injectio :dengan atau tanpa penambahan bahan pengawet dan bebas dari pirogen dengan suhu tinggi. (Christina Sri Lestari, 2007)

4. OTT

a. Kloramfenikol

Achromycin HCl, Polymyxin B Sulfate, Sulfadiazine Sodium, Ascorbic Acid, Chlorpromazine HCl, Chlortetracycline HCl, Diphenylhydantion Sodium, Erythromycin Glucoheptonate, Erythromycin Lactobionate, Hydrocortisone Sodium Succinate, Hydroxyne HCl, Novobiocin Sodium, Oxytetracycline HCl, Polymyxin B, Procaine HCl, Tetracycline HCl.

b. Kloramfenikol Na.Succinate

Hydroxyne HCl, Novobiocin Sodium, Oxytetracycline HCl, Polymyxin B Sulfate, Tetracycline HCl.

5. Cara Penggunaan

(5)

II. FORMULASI

1. Permasalahan dan Penyelesaian

a. Kloramfenikol

 Kelarutan : tidak larut dalam air  Dipakai Kloramfenikol Na Suksinat (bentuk garam)

 OTT :

OTT Kloramfenikol

Achromycin HCl,Polymyxin B Sulfate, Sulfadiazine Sodium, Ascorbic Acid, Chlorpromazine HCl, Chlortetracycline HCl, Diphenylhydantoin Sodium, ErythromycinGlucoheptonate ,Erythromycin Lactobionate, Hydrocortisone Sodium Succinate, Hydroxyzine HCl, Novobiocin Sodium, Oxytetracycline HCl, Polymyxin B, Procaine HCl, Tetracycline HCl.

OTT kloramfenikol Na Succinate

Hydroxyzine HCl, Novobiocin Sodium, Oxytetracycline HCl, Polymyxin B Sulfate, Tetracycline HCl.

Sehingga sediaan Dibuat dosis tunggal, pelarut aqua pro injeksi  Sediaan : harus bebas partikel Dilakukan penyaringan

 Stabilitas : dosis tunggal Tidak ditambah pengawet

 Perhitungan tonisitas : hipertonis Tidak perlu ditambah NaCl

 Penambahan buffer : pH stabil sediaan 6,4-7,0 (USP 23 vol 1 th 1995, hal 333)

 Kloramfenikol tidak stabil terhadap cahaya sehingga wadah ampul berwarna coklat untuk mencegah terjadinya oksidasi.

2. Formula yang akan dibuat (termasuk perhitungan tonisitas) a. Formula yang akan dibuat

R/ Chloramphenicol 200mg

NaCl q.s.

Aqua p.i. ad 2ml m.f.ampul no.XX

(6)

dari Formula acuan:

R/ Chloramphenicol 1 g ad aqua p i

m.f.vial 10 ml

(AHFS th 2002,hal 273)

Keterangan: 1 g CAF ~ CAF Na Suksinat

ptb CAF Na Suksinat : 0,080

ptb NaCl : 0,576

BM kloramfenikol : 323,13 BM kloramfenikol Na Suksinat : 445,2 Penambahan volume : 0,15 ml Konsentrasi kloramfenikol dalam 1 ampul : 200 mg /1000 mg

C kloramfenikol Na. Suksinat

C = Perhitungan tonisitas C % = 0,52 - (b x c % ) b NaCl = 0,52 - (0,08 x 13,78 % ) 0,576

= - 1,011 % (hipertonis) Tidak perlu ditambah NaCl

Perhitungan Buffer H3BO3 1,9% : Na2B4OH2O 2,6% = 9:1  H3BO3 1,9% = 9/10 x 50ml = 45ml x 1,9 g/100ml = 855mg  Na2B4OH2O 2,6% = 1/10 x 50ml = 5ml x 2,6 g/100ml = 130mg 2 ml x 100% = 10%

(7)

Perhitungan Media Sterilisasi

1. Tryptone Soya Broth ( Soybean Casein Digest Medium) Komposisi serbuk gram per liter:

Pancreatic Digest of Casein 17,0 Papaic Digest of Soybean Meal 3,0 Sodium Chloride 5,0 Dibasic Potassium Phosphate 2,5

Dextrose 2,5

pH 7,3 ± 0,2 ; suhu 25°C

Cara membuat: ad 30 g untuk 1 liter aquadest, dicampur, dipanaskan disterilisasi dengan autoklaf suhu 121°C selama 15 menit

Digunakan untuk kultivasi bakteri aerobic dan fakultatif aerobic, termasuk fungi (jamur). Pengamatan setelah 24-48 jam, suhu inkubasi 55°C. (Anonim,1982, hal : 315)

2. FTM ( Fluid Thioglycolate Medium) Mengandung Sodium Thioglycolate Komposisi serbuk gram per liter:

Pepton from Casein 15,0

Yeast extract 5,0 D(+) glukosa 5,5 L- cystine 0,5 Sodium Chloride 2,5 Sodium Thioglycolate 0,5 Resazurin Sodium 0,001 Agar-agar 0,75 pH 7,1 ± 0,2 ; suhu 25°C

Cara membuat: ad 30 g untuk 1 liter aquadest, dicampur, dipanaskan disterilisasi dengan autoklaf suhu 121°C selama 15 menit

Digunakan dalam bakteriologikal kultur media untuk mikroorganisme yang berpotensial rendah dalam proses oksidasi – reduksi dan menetralisir Merkuri Preservatif. (Anonim,1982, hal : 287)

(8)

Perhitungan Pembuatan Media Sterilisasi

1. Media TSB (Tryptone Soya Broth) 1 tabung reaksi = 10 ml 5 tabung reaksi = 5 x 10ml = 50 ml dilebihkan 20 ml = 50 ml + 20 ml x 30 g 1000 ml = 2,1 g

Keterangan : 5 tabung 1 tabung untuk kontrol positif 1 tabung untuk kontrol negatif 3 tabung untuk uji sampel

Cara membuat : - Ditimbang 2,1 g serbuk media TSB dilarutkan dalam 70 ml aquadest

- Dihomogenkan, dipanaskan

- Disterilkan dengan autoklaf suhu 121°C selama 15 menit 2. Media FTM (Fluid Thioglycolate Medium)

1 tabung reaksi = 10 ml 5 tabung reaksi = 5 x 10ml = 50 ml dilebihkan 20 ml = 50 ml + 20 ml x 30 g 1000 ml = 2,1 g

Keterangan : 3 tabung 1 tabung untuk kontrol positif 1 tabung untuk kontrol negatif 3 tabung untuk uji sampel

Cara membuat : - Ditimbang 2,1g serbuk media FTM dilarutkan dalam 70 ml aquadest

- Dihomogenkan ,dipanaskan

(9)

3. Perhitungan berat dan volume

Volume penambahan : 0,15 ml Jumlah ampul yang dibuat : 20 ampul V= ( 2 + n) . V’

= ( 2 + 20 ) . (2 + 0,15 ml) = 47,3 ml ~ 50 ml

Tabel perhitungan dan penimbangan

No Bahan Obat Perhitungan Penimbangan

1. Kloramfenikol Na Suksinat 13,78 x 50 ml 100

6,890 g

2. NaCl ( hipertonis) -

3. Buffer Ad 50 ml

4. Cara Sterilisasi Sediaan yang Dibuat

a. Cara Kerja

1. Disterilisasi alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum

2. Ditimbang Kloramfenikol Na Suksinat 6,890 g,dilarutkan dengan sedikit buffer 20 ml ad larut dalam beaker glass

3. Dicek sediaan yang dibuat dengan indikator pH universal, hingga pH sediaan 7

4. Diadkan sediaan dengan buffer hingga 50 ml

5. Dihomogenkan sediaan, kemudian disaring dengan kertas saring steril 6. Diambil sediaan dengan spet injeksi sebanyak 2,15 ml ( ad tidak ada

gelembung udara )

7. Disterilisasi sediaan akhir dengan dilewatkan sediaan melalui membran filter, ditampung langsung dalam ampul

8. Diulangi langkah no 6 dan 7 hingga semua ampul terisi sediaan (20 ampul)

9. Ditutup ampul dengan cara dipanaskan pada api, hingga ampul tertutup sempurna

(10)

Diamati setelah 7 hari jika timbul pertumbuhan mikroba berarti sediaan tidak steril 10. Dievaluasi sediaan, meliputi: uji sterilitas, uji kebocoran, uji kejernihan,

uji pH, dan uji keseragaman volume

11. sediaan diberi etiket, brosur, dan dimasukkan dalam kemasan

b. Skema Kerja Uji – Uji ( Evaluasi ) 1. Uji Sterilitas

Dimasukkan larutan injeksi ke dalam media FTM dan TSB secara aseptis ( 0,7 ml larutan dari dalam ampul @ 2 ml)

Dilakukan 3x replikasi sampel, kontrol positif dan kontrol negatif

Untuk kontrol positif dimasukkan Basillus sp ke dalam media FTM dan Candida albicans pada media TSB dan disiapkan pula kontrol negatif

Media TSB ( kontrol ) maupun yang mengandung larutan yang diuji, disimpan pada suhu kamar selama 7 hari

Media FTM ( kontrol) maupun yang mengandung larutan yang diuji, disimpan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 7 hari

(11)

Jika ada partikel yang melayang-layang berarti sediaan tidak steril

Dimasukkan indikator universal, diamati pH sediaan Diautoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit

Direndam seluruh sediaan dalam larutan Metilen Blue 0,0025%b/v (ampul dalam keadaan terbalik)

Ampul yang berwarna biru berarti bocor

2. Uji Kejernihan

Sediaan diterawang dan dilihat di bawah lampu UV 254 nm dengan latar hitam

3. Uji pH

(12)

4. Uji Keseragaman Volume

Diambil isi ampul dengan spet, setelah diuji kebocoran

Syarat volume tertera 2,0 ml kelebihan yang diperbolehkan 0,15 ml

Keterangan :

Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadahnya bila diuji satu per satu atau bila wadah volume 2 ml, tidak kurang dari jumlah volume wadah yang tertera pada etiket bila isi digabung. ( FI ed IV, 1995,Hal 1044)

III. PELAKSANAAN

1. Penyiapan Alat

No Alat Jumlah Ukuran Sterilisasi Waktu (menit)

1 Ampul 20 2 ml Autoklaf, 121°C 15

2 Beakerglass 3 50 ml Oven,180°C 30

2 100 ml Oven,180°C 30

3 Gelas ukur 2 10 ml Autoklaf, 121°C 15

2 50 ml Autoklaf, 121°C 15

4 Erlenmeyer 3 50ml Oven,180°C 30

5 Batang pengaduk 2 Oven,180°C 30

6 Corong kaca kecil 1 kecil Oven,180°C 30

7 Tabung reaksi 10 besar Oven,180°C 30

8 Spuit syringe 3 5ml steril

9 Plat tetes 1

10 Bunsen 1 kecil

11 Sumbat tabung 10 kecil

(13)

13 Alas asbes 1 besar

14 Pipet tetes 5 panjang Autoklaf, 121°C 15

15 Karet pipet 5 kecil Autoklaf,121°C 15

16 Pinset 1 kecil dipijarkan

17 Sudip logam 1 dipijarkan

18 Kertas timbang 10 Autoklaf,121°C 15

19 Kertas whatmann 3 Autoklaf,121°C 15

20 Ose dipijarkan

2. Cara Kerja Pencucian dan Pembungkusan alat Proses Pencucian a. Alat gelas ↓ ↓ ↓ ↓ b. Alat Karet ↓ ↓ ↓

Direndam alat-alat gelas dalam terutan teepol 0,5%, kemudian direbus, disikat hingga bersih

Dibilas air keran yang mengalir sebanyak 3 kali,kemudian dibilas air bebas pirogen sebanyak 3 kali

Dikeringkan dengan hairdryer sampai kering

Dilakukan pengecekan terhadap noda,apabila masih kotor dilakukan pencucian lagi

Dibungkus rangkap 2 dan dilakukan sterilisasi menggunakan metode yang cocok

Direbus alat-alat karet dengan larutan Teepol 1% dan Na2CO3 1% selama 15 menit

Dibilas alat-alat karet dengan airkran dan aqua p.i. sampai bersih

Dikeringkan dengan hairdryer sampai kering

(14)

c. Alat Aluminium

↓ ↓ ↓ ↓

3. Sterilisasi Alat ( Cara Kerja ) a. Sterilisasi dengan oven

↓ ↓ ↓ ↓ b. Sterilisasi dengan otoklaf.

↓ ↓ ↓

Dididihkan alat aluminium dalam larutan teepol selama 10 menit

Dibilas alat-alat dengan airkran

Dibilas dengan aqua p.i.

Dikeringkan dengan hairdryer sampai kering

Dibungkus alat rangkap 2 dan disterilkan dengan oven pada suhu 180°C selama 30 menit

Diletakkan alat ke dalam oven

Dinyalakan oven dan diatur suhu yang diinginkan

Setelah suhu dicapai, dibiarkan selama 1 jam

Diturunkan sampai 45°C

Dikeluarkan alat-alat dari dalam oven

Dibungkus alat dengan kertas rangkap 2

Diisi air pada tempat air sampai dekat angsang

Dimasukkan alat yang akan disterilkan

(15)

↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ Sterilisasi alat Autoklaf 1210C  Waktu pemanasan ( 00 C - 1210C ) 08.28-09.02  Waktu pengeluaran udara 09.02-09.06  Waktu menarik (1210 C ) 09.06-09.09  Waktu kesetimbangan (80 C ) 09.09-09.17  Waktu sterilisasi( 150 C ) 09.17-09.32

 Waktu jaminan sterilisasi (80

C ) 09.32-09.40  Waktu pendinginan ( 600 C ) 09.40-09.46 Oven 180°C  Waktu pemanasan (00C-1900C ) 13.23-13.50  Waktu penurunan ( 1900C-1800C ) 13.50–13.57  Waktu kesetimbangan (150C ) 13.57-14.12  Waktu sterilisasi (300C ) 14.12-14.42  Waktu jaminan sterilisasi (150C ) 14.42–14.57  Waktu pendinginan ( 800C ) 14.57–16.33

Dibiarkan kran pengatur tempat keluarnya uap tetap terbuka sampai uap air banyak yang keluar bersama udara dalam otoklaf sehingga di dalamnya hanya terdapat uap air

Ditutup kran jika semua udara dalam otoklaf sudah keluar semua, sehingga tekanan naik sampai yang dikehendaki

Tekanan dijaga konstan selama 15 menit

Kran pengatur uap dibuka,setelah sterilisasi selesai dimatikan kompor dan dibiarkan tekanan turun sampai 0

Dibuka otoklaf setelah uap air keluar semua

(16)

IV. HASIL / DATA EVALUASI

1. Uji Sterilitas Media FTM

Hari ke Media uji Kontrol positif Kontrol negatif

1 jernih Keruh jernih

2 jernih Keruh jernih

3 jernih Keruh jernih

4 jernih Keruh jernih

5 jernih Keruh jernih

6 jernih Keruh jernih

7 jernih Keruh jernih

Media TSB

Hari ke Media uji Kontrol positif Kontrol negatif

1 jernih Keruh jernih

2 jernih Keruh jernih

3 jernih Keruh jernih

4 jernih Keruh jernih

5 jernih Keruh jernih

6 jernih Keruh jernih

7 jernih Keruh jernih

2. Uji Kebocoran

Ampul Bocor Tidak bocor

1 V - 2 - V 3 - V 4 - V 5 - V 6 - V

(17)

7 - V

8 - V

9 - V

10 - V

3. Uji Kejernihan

Ampul Jernih Tidak jernih

1 V -

2 V -

4. Uji pH

Pengujian pH sediaan ampul dengan menggunakan kertas indikator, didapatkan pH = 7 (sebelum) dan pH= 7 (sesudah / hasil uji sediaan).

5. Uji Keseragaman Volume

KESIMPULAN :

 pH sediaan 7

 sediaan ampul bebas partikel melayang

 volume sediaan ampul seragam, volume rata-rata ampul 2,133 ml ( syarat 2 ml/ampul)  kebocoran sediaan = 1 ampul (dari 10 ampul)

 dari uji sterilitas menggunakan media FTM dan TSB didapatkan hasil sampel yang jernih sampai hari ke 7. Jadi dapat disimpulkan sediaan ampul tersebut steril.

DAFTAR PUSTAKA

Ampul Volume awal Volume pengamatan

1 2,15 ml 2,20 ml

2 2,15 ml 2,10 ml

(18)

 AHFS Drug Information. 2005.

 C. Sweetman, Sean. 2009. Martindale : The Complete Drug Reference edisi 36. London :Royal Pharmaceutical Society.

 Departeman Farmakologi & Terapetik. 2007. Farmakologi dan Terapi ed IV. Jakarta:FK UI Gaya Baru.

 DepKes RI. 1994. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Depkes RI.

 Sri,Christina Lestari. 2007. Seni Menulis Resep Teori & Praktek ed.revisi II. Jakarta:PT.PERCA.

 Tjay Hoan, Tan & Rahardja, Kirana. 2007. OBAT-OBAT PENTING Khasiat,

Penggunaan dan Efek Sampingnya. Jakarta:Gramedia.

 Turco, Salvatore, J. 1979. Sterile Dosage Forms : Their Preparation And Clinical

Application. Michigan : Lea and Febiger.

 Yulinah, Erlin, dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI cetakan Pertama Semarang, 4 Juni 2012

Dosen Pembimbing Praktikan

Eni Masruati, M.Sc., Apt. Achmad Subakir Yanna Sagita, S.Farm., Apt. Anis Budiarti Tris Harni, S.Farm., Apt. Enik Purwaningsih

Etika Lutfi Fitriani Famella Octaviani O.S.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :