• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Manajemen Laba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Proposal Manajemen Laba"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

1.

1. JUDUL : PENGARUH ASIMETRI INFORMASI, KEPEMILIKAN MANAJERIAL DANJUDUL : PENGARUH ASIMETRI INFORMASI, KEPEMILIKAN MANAJERIAL DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA PRAKTTIK MANAJEMEN LABA DI PERUSAHAAN UKURAN PERUSAHAAN PADA PRAKTTIK MANAJEMEN LABA DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EF

PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIAEK INDONESIA 2.

2. LATAR BELAKANGLATAR BELAKANG

Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan kepada Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan kepada  pihak-piha

 pihak-pihak di luar korporak di luar korporasi. Laporan kesi. Laporan keuangan tersuangan tersebutdiharaebutdiharapkan dapat mpkan dapat memberikan iemberikan informasinformasi kepada para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan investasi kepada para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan investasi dana mereka. Dalampenyusunan laporan keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan dana mereka. Dalampenyusunan laporan keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil. Akuntansi berbasis akrual adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil. Akuntansi berbasis akrual mempunyai keunggulan bahwa informasi laba perusahaan dan pengukuran komponennya mempunyai keunggulan bahwa informasi laba perusahaan dan pengukuran komponennya  berdasark

 berdasarkan an akuntansi akuntansi akrual akrual secara secara umum umum memberikmemberikan an indikasi indikasi lebih lebih baik baik tentang tentang kinerjakinerja ekonomi perusahaan daripada informasi yang dihasilkan dari aspek penerimaan dan pengeluaran ekonomi perusahaan daripada informasi yang dihasilkan dari aspek penerimaan dan pengeluaran kas terkini (FASB, 1978). Namun, akuntansi akrual juga memiliki kelemahan. Penggunaan dasar kas terkini (FASB, 1978). Namun, akuntansi akrual juga memiliki kelemahan. Penggunaan dasar akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metoda akuntansi akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metoda akuntansi selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Pilihan metoda selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Pilihan metoda akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dikenal dengan akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba atau

sebutan manajemen laba atau earnings management.earnings management.

Aktifitas manajemen banyak sekali dipraktekan pada perusahaan besar, dengan tujuan Aktifitas manajemen banyak sekali dipraktekan pada perusahaan besar, dengan tujuan menarik para pelaku pasar untuk berinvestasi dalam perusahaan. Pada dasarnya aktifitas tersebut menarik para pelaku pasar untuk berinvestasi dalam perusahaan. Pada dasarnya aktifitas tersebut sangat merugikan bagi perusahaan maupun bagi emiten yang ada dalam perusahaan, karena sangat merugikan bagi perusahaan maupun bagi emiten yang ada dalam perusahaan, karena informasi yang dipublikasikan hanya bersifat semu yang justru akan mempengaruhi eksistensi informasi yang dipublikasikan hanya bersifat semu yang justru akan mempengaruhi eksistensi  perusahaa

 perusahaan di man di masa depan.sa depan.

Deteksi atas kemungkinan di lakukannya manajemen laba dalam laporan keuangan Deteksi atas kemungkinan di lakukannya manajemen laba dalam laporan keuangan diteliti melalui penggunaan akrual. Jumlah akrual yang tercermin dalam perhitungan laba terdiri diteliti melalui penggunaan akrual. Jumlah akrual yang tercermin dalam perhitungan laba terdiri dari

dari discretionary accrualdiscretionary accrual dandan non discretionary accrual non discretionary accrual ..  Descretion Descretionary ary accrualaccrual merupakanmerupakan komponen akrual dari manajemen laba yang di lakukan manajer, misalnya dngan cara menaikkan komponen akrual dari manajemen laba yang di lakukan manajer, misalnya dngan cara menaikkan  biaya amortisa

 biaya amortisasi dan depresiasi, mencasi dan depresiasi, mencatat persedian yang sudah usangtat persedian yang sudah usang. Nondiscretionary accrual. Nondiscretionary accrual merupakan

merupakan acrualacrual yang diharapkan terjadi seiring dengan berubahnya aktivitas operasionalyang diharapkan terjadi seiring dengan berubahnya aktivitas operasional  perusahaa

(2)

3.

3. PERUMUSAN MASALAHPERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam  penelitia

 penelitian ini adan ini adalah:lah: 1)

1) Apakah asimetri informasi memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba ?Apakah asimetri informasi memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba ? 2)

2) Apakah ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba ?Apakah ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba ? 3)

3) Apakah kepemilikan manajerial memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba ?Apakah kepemilikan manajerial memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba ? 4.

4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIANTUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 4.1.

4.1. Tujuan Tujuan penelitianpenelitian::

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

adalah : 1.

1. Untuk menguji pengaruh aasimetri informasi terhadap praktik manajemen laba.Untuk menguji pengaruh aasimetri informasi terhadap praktik manajemen laba. 2.

2. Untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan terhadap praktik manajemen laba.Untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan terhadap praktik manajemen laba. 3.

3. Untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial perusahaan terhadap praktikUntuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial perusahaan terhadap praktik manajemen laba.

manajemen laba. 4.2.

4.2. Manfaat PenelitianManfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian, penelitian ini Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian, penelitian ini diharapkan memiliki manfaat dalam hal:

diharapkan memiliki manfaat dalam hal: 1.

1. Bagi pengembangan teoretisBagi pengembangan teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan teoritis yang Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan teoritis yang  berhubungan dengan

 berhubungan dengan penelitiapenelitian n ini ini serta sebagai serta sebagai informasi bagi informasi bagi peneliti lain peneliti lain yang inginyang ingin mengadakan penelitian yang lebih dalam tentang masalah yang sama.

mengadakan penelitian yang lebih dalam tentang masalah yang sama. 2.

2. Bagi pengembangan praktikBagi pengembangan praktik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi penelitian selanjutnya terutama Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi penelitian selanjutnya terutama mengenai pengaruh asimetri informasi, ukuran perusahaan dan kepemilikan manajerial mengenai pengaruh asimetri informasi, ukuran perusahaan dan kepemilikan manajerial terhadap praktik manajemen laba di perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek terhadap praktik manajemen laba di perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Serta bagi akademis dan mahasiswa dapat digunakan sebagai informasi dan Jakarta. Serta bagi akademis dan mahasiswa dapat digunakan sebagai informasi dan sebagai penambah bacaan atau referensi.

(3)

5. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 5.1. Penelitian Terdahulu

Telah banyak peneliti yang melakukan penelitian tentang pengaruh asimetri informasi, ukuran perusahaan dan kepemilikan manajerial terhadap praktik manajemen laba di  perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Ada beberapa peneliti terdahulu antara lain Nurul Hasni (2013) yang melakukan penelitian tentang pengaruh aktiva pajak tangguhan dan ukuran perusahaan dan probabilitas perusahaan melakukan manajemen laba  pada perusahaan manufaktur di BEI. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa: (1) Aktiva

Pajak Tangguhan mempunyai pengaruh signifikan terhadap probabilitas perusahaan melakukan manajemen laba, (2) Ukuran Perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap probabilitas perusahaan melakukan manajemen laba, (3) Aktiva Pajak Tangguhan dan Ukuran Perusahaan secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap  probabilitas perusahaan melakukan manajemen laba, (4) modal sendiri dan hutang jangka  panjang mempunyai pengaruh sebesar 37% terhadap profitabilitas sedangkan 63%

dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

RR. Sri Handayani dan Agustono Dwi Rachadi (2009) melakukan penelitian tentang  pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Hasil dari penelitian ini: (1) adalah  perusahaan sedang dan besar, tidak terbukti lebih agresif dalam melakukan manajemen laba melalui mekanisme pelaporan laba positif, baik untuk menghindari earnings losses maupun earnings decreases. Seperti halnya Size Hypothesis ,bahwa semakin besar perusahaan akan cenderung untuk menurunkan praktik manajemen laba, karena perusahaan besar secara politis lebih mendapat perhatian dari institusi pemerintahan dibandingkan dengan perusahaan kecil. (2) varaiabel kontrol pertumbuhan penjualan, kinerja laba periode sebelumnya, capital intencity ratio, status KAP dan Komisaris Independen, tidak terbukti berpengaruh terhadap  probabilitas terjadinya manajemen laba untuk menghindari earnings losses. (3) varaiabel

kontrol pertumbuhan penjualan, kinerja laba periode sebelumnya, capital intencity ratio  berpengaruh sangat signifikan terhadap perilaku pelaporan laba positif untuk bisa menghindari earnings decreases. Status KAP dan Komisaris Independen tidak berpengaruh  pada perilaku tersebut.

 Ni Ketut Muliati (2011) melakukan penelitian tentang pengaruh asimetri informasi dan ukuran perusahaan pada praktik manajemen laba di perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil dari penelitian ini yaitu: (1) Asimetri informasi berpengaruh  positif pada praktik manajemen laba. Semakin tinggi asimetri informasi semakin tinggi  peluang yang dimiliki manajer untuk melakukan praktik manajemen laba. Dengan demikian

(4)

hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima. (2) Ukuran perusahaan terbukti berpengaruh negatif pada praktik manajemen laba. Terdapat dua pandangan tentang bentuk hubungan ukuran perusahaan pada praktik manajemen laba yaitu pandangan pertama yang menyatakan  bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dengan praktik manajemen laba seperti

yang dilakukan oleh Halim, dkk. (2005) dan Moses (1997). Pandangan kedua yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba seperti yang dilakukan oleh Marrakchi (2001) serta Veronica dan Siddharta (2005). J adi, hasil  pengujian dalam penelitian ini mendukung pandangan yang menyatakan bahwa ukuran  perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba, karena perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan  perusahaan-perusahaan kecil dan perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang

saham dan pihak luar.

Restu Gusti dan Tyas Pramesti malakukan penelitian tentang pengaruh asimetri informasi, ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba. Hasil dari  penelitian ini adalah (1) semakin besar asimetri informasi yang terjadi maka semakin tinggi tingkat manajemen laba, (2) semakin besar ukuran perusahan, maka akan semakin rendah kemungkinan terjadinya manajemen laba, (3) semakin besar jumlah saham yang dimiliki oleh manajer maka semakin tinggi tingkat manajemen laba, (4) Secara bersamaan setiap  perubahan yang terjadi pada asimetri informasi, ukuran perusahaan dan kepemilikan

manajerial mempengaruhi manajemen laba, (5) Berdasarkan nilai Adjust R Square menunjukkan bahwa 53% manajemen laba dijelaskan oleh variabel-veriabel asimetri informasi, ukuran perusahaan dan kepemilikan manajerial, sedangkan 47% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.

Prima Santi, Tawakkal, Grace T. Pontoh melakukan penelitian tentang pengaruh adopsi IFRS terhadap manajemen laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini yang khusus meneliti pada sector perbankan, diperoleh hasil bahwa adopsi IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Dengan adanya pemberlakuan IFRS tidak menunjukkan terdapat penurunan manajemen laba. Hasil analisis uji beda yang dilakukan juga menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat  perbedaan tingkat manajemen laba yang signifikan antara sebelum dan sesudah adopsi IFRS.

Debby Natalia (2013) melakukan penelitian tentang pengaruh mekanisme good corporate governance terhadap praktik earning management badan usaha sector perbankan di BEI tahun 2008-2011. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini yang khusus meneliti pada sector  perbankan, diperoleh hasil bahwa adopsi IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap

(5)

manajemen laba. Dengan adanya pemberlakuan IFRS tidak menunjukkan terdapat penurunan manajemen laba. Hasil analisis uji beda yang dilakukan juga menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan tingkat manajemen laba yang signifikan antara sebelum dan sesudah adopsi IFRS.

Eka Sefiiana melakukan penelitian tentang pengaruh penerapan good corporate governance terhadap manajemen laba pada perusahaan perbankan yang telah go public di BEI. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan, diperoleh simpulan bahwa Variabel independen dalam peneli tian ini yang diukur menggunakan proporsi komisaris independen, ukuran dewan komisaris dan keberadaan komite audit dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel pengukuran tersebut tidak berpengaruh terhadap praktik manajemen laba, hal ini dikarenakan penerapan corporate governance yang dilakukan oleh perusahan-perusahaan sampel disebabkan karena untuk pemenuhan regulasi saja. Selain itu, penerapan corporate  governance masih merupakan hal yang baru di Indonesia dan efek dari penerapan corporate  governance tersebut baru dapat dirasakan dalam jangka waktu panjang.

Ringkasan penelitian terdahulu dapat dilihat dalam table berikut ini.

 No. PENELITI VARIABEL HASIL PENELITIAN 1 Eka Sefiana Variable dependen:

manajaemen laba

Variable independen:  penerapan good

corporate governance

Variabel independen dalam  peneli tian ini yang diukur menggunakan proporsi komisaris independen, ukuran dewan komisaris dan keberadaan komite audit dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel pengukuran tersebut tidak berpengaruh terhadap  praktik manajemen laba, hal ini dikarenakan penerapan corporate governance yang dilakukan oleh perusahan- perusahaan sampel disebabkan karena untuk pemenuhan regulasi saja. Selain itu,  penerapan corporate  governance masih merupakan

(6)

hal yang baru di Indonesia dan efek dari penerapan corporate  governance tersebut baru dapat dirasakan dalam jangka waktu  panjang.

2 Deby Natalia Variable dependen:  praktik earning

management

Variable independen: mekanisme good corporate governance

adopsi IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Dengan adanya  pemberlakuan IFRS tidak menunjukkan terdapat  penurunan manajemen laba. Hasil analisis uji beda yang dilakukan juga menunjukkan  bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan tingkat manajemen laba yang signifikan antara sebelum dan sesudah adopsi IFRS.

3 Prima Santi, Tawakkal, Grace T. Pontoh

Variable dependen: manajemen laba

variable independen: adopsi IFRS

adopsi IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Dengan adanya  pemberlakuan IFRS tidak menunjukkan terdapat  penurunan manajemen laba. Hasil analisis uji beda yang dilakukan juga menunjukkan  bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan tingkat manajemen laba yang signifikan antara sebelum dan sesudah adopsi IFRS.

4 Restu Gusti dan Tyas Pramesti

Variabel dependen: manajemen laba

(1) semakin besar asimetri informasi yang terjadi maka

(7)

Variable independen: asimetri informasi, ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial

semakin tinggi tingkat manajemen laba,

(2) semakin besar ukuran  perusahan, maka akan semakin rendah kemungkinan terjadinya manajemen laba, (3) semakin besar jumlah saham yang dimiliki oleh manajer maka semakin tinggi tingkat manajemen laba,

(4) Secara bersamaan setiap  perubahan yang terjadi pada asimetri informasi, ukuran  perusahaan dan kepemilikan manajerial mempengaruhi manajemen laba,

(5) Berdasarkan nilai Adjust R Square menunjukkan bahwa 53% manajemen laba dijelaskan oleh variabel-veriabel asimetri informasi, ukuran perusahaan dan kepemilikan manajerial, sedangkan 47% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam  penelitian ini.

5 Ni Ketut Muliati Variabel dependen: manajemen laba

Variabel independen: asimetri informasi dan ukuran perusahaan

(1) Asimetri informasi  berpengaruh positif pada  praktik manajemen laba. Semakin tinggi asimetri informasi semakin tinggi  peluang yang dimiliki manajer untuk melakukan praktik

(8)

manajemen laba. Dengan demikian hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima. (2) Ukuran perusahaan terbukti berpengaruh negatif  pada praktik manajemen laba. Terdapat dua pandangan tentang bentuk hubungan ukuran perusahaan pada  praktik manajemen laba yaitu  pandangan pertama yang menyatakan bahwa ukuran  perusahaan memiliki hubungan  positif dengan praktik manajemen laba seperti yang dilakukan oleh Halim, dkk. (2005) dan Moses (1997). Pandangan kedua yang menyatakan bahwa ukuran  perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba seperti yang dilakukan oleh Marrakchi (2001) serta Veronica dan Siddharta (2005). Jadi, hasil pengujian dalam penelitian ini mendukung pandangan yang menyatakan bahwa ukuran  perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba, karena perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan

(9)

 perusahaan-perusahaan kecil dan perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh  pemegang saham dan pihak

luar. 6 RR. Sri Handayani dan

Agustono Dwi Rachadi

Variabel dependen: manajemen laba

Variabel independen: ukuran perusahaan

(1) adalah perusahaan sedang dan besar, tidak terbukti lebih agresif dalam melakukan manajemen laba melalui mekanisme pelaporan laba  positif, baik untuk menghindari earnings losses maupun earnings decreases. Seperti halnya Size Hypothesis ,bahwa semakin besar  perusahaan akan cenderung untuk menurunkan praktik manajemen laba, karena  perusahaan besar secara politis lebih mendapat perhatian dari institusi pemerintahan dibandingkan dengan  perusahaan kecil.

(2) varaiabel kontrol  pertumbuhan penjualan, kinerja laba periode sebelumnya, capital intencity ratio, status KAP dan Komisaris Independen, tidak terbukti berpengaruh terhadap  probabilitas terjadinya manajemen laba untuk menghindari earnings losses. (3) varaiabel kontrol

(10)

 pertumbuhan penjualan, kinerja laba periode sebelumnya, capital intencity ratio  berpengaruh sangat signifikan terhadap perilaku  pelaporan laba positif untuk  bisa menghindari earnings decreases. Status KAP dan Komisaris Independen tidak  berpengaruh pada perilaku

tersebut. 7 Nurul Hasni Variabel dependen:

manajemen laba Variabel independen: aktiva pajak tangguhan dan ukuran perusahaan dan probabilitas  perusahaan

(1) Aktiva Pajak Tangguhan mempunyai pengaruh signifikan terhadap  probabilitas perusahaan

melakukan manajemen laba, (2) Ukuran Perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap  probabilitas perusahaan

melakukan manajemen laba, (3) Aktiva Pajak Tangguhan dan Ukuran Perusahaan secara  bersama-sama mempunyai  pengaruh signifikan terhadap  probabilitas perusahaan

melakukan manajemen laba, (4) modal sendiri dan hutang  jangka panjang mempunyai  pengaruh sebesar 37% terhadap profitabilitas sedangkan 63% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

(11)

5.2. Tinjauan teoretis

5.2.1. Teori Keagenan (agency theory)

Teori keagenan dapat dipandang sebagai suatu model kontraktual antara dua atau lebih orang (pihak), dimana salah satu pihak disebut agent dan pihak yang lain disebut  principal .  Principal mendelegasikan pertanggungjawaban atas decision making kepada agent , hal ini dapat pula dikatakan bahwa  principal memberikan suatu amanah kepada agent untuk melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Wewenang dan tanggungjawab agent maupun principal diatur dalam kontrak kerja atas persetujuan bersama.

Scott (2000) dalam Ni Ketut Muliati (2011) menyatakan bahwa perusahaan mempunyai banyak kontrak, misalnya kontrak kerja antara perusahaan dengan para manajernya dan kontrak pinjaman antara perusahaan dengan krediturnya. Dimana antara agent dan  principal ingin memaksimumkan utility masing-masing dengan informasi yang dimiliki. Tetapi di satu sisi, agent memiliki informasi yang lebih  banyak ( full information) dibanding dengan  principal di sisi lain, sehingga menimbulkan adanya asimetry information. Informasi yang lebih banyak dimiliki oleh manajer dapat memicu untuk melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan keinginan dan kepentingan untuk memaksimumkan utilitasnya. Sedangkan bagi  pemilik modal dalam hal ini investor, akan sulit untuk mengontrol secara efektif tindakan yang dilakukan oleh manajemen karena hanya memiliki sedikit informasi yang ada. Oleh karena itu, terkadang kebijakan-kebijakan tertentu yang dilakukan oleh manajemen perusahaan tanpa sepengetahuan pihak pemilik modal atau investor.

 Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara  principal dan agent . Pemegang saham sebagai pihak  principal mengadakan kontrak untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Manajer sebagai agent termotivasi untuk memaksimalkan  pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Masalah keagenan muncul karena adanya perilaku oportunistik dari agent , yaitu perilaku manajemen untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang berlawanan dengan kepentingan  principal . Manajer memiliki dorongan untuk memilih dan menerapkan metoda

(12)

akuntansi yang dapat memperlihatkan kinerjanya yang baik untuk tujuan mendapatkan bonus dari principal .

Jensen dan Meckling (1976) dalam Ni Ketut Muliati (2011), menyatakan bahwa  jika kedua kelompok (agent dan  principal ) tersebut adalah orang-orang yang  berupaya memaksimalkan utilitasnya, maka alasan yang kuat untuk meyakini bahwa agen tidak akan selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan prinsipal. Jensen dan Meckling (1976) mengidentifikasi kos keagenan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) the monitoring expenditure by the principal adalah kos pengawasan yang harus dikeluarkan oleh pemilik; 2) the bonding cost adalah kos yang harus dikeluarkan akibat pemonitoran yang harus dikeluarkan prinsipal kepada agen; 3) the residual loss adalah pengorbanan akibat berkurangnya kemakmuran prinsipal karena  perbedaan keputusan antara prinsipal dan agen.

5.2.2. Manajemen Laba

Di kutip dari tesis Ni Ketut Muliati (2011), Scott (2000) membagi cara  pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan  political costs (oportunistic Earnings Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham  perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba

(income smoothing ) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

Healy dan Wahlen (1999) dalam tesis Ni Ketut Muliati (2011) menyatakan  bahwa definisi manajemen laba mengandung beberapa aspek. Pertama intervensi manajemen laba terhadap pelaporan keuangan dapat dilakukan dengan penggunaan  judgment , misalnya  judgment yang dibutuhkan dalam mengestimasi sejumlah  peristiwa ekonomi di masa depan untuk ditunjukan dalam laporan keuangan, seperti  perkiraan umur ekonomis dan nilai residu aktiva tetap, tanggungjawab untuk pensiun,  pajak yang ditangguhkan, kerugian piutang dan penurunan nilai asset . Disamping itu manajer memiliki pilihan untuk metode akuntansi, seperti metode penyusutan dan metode biaya. Kedua, tujuan manajemen laba untuk menyesatkan  stakeholders

(13)

mengenai kinerja ekonomi perusahaan. Hal ini muncul ketika manajemen memiliki akses terhadap informasi yang tidak dapat diakses oleh pihak luar.

Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu  pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000).   Berdasarkan  penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah intervensi

manajemn terhadap laporan keuangan, yang berupa pilihan yang dilakukan oleh manajemen terhadap kebijakan-kebijakan akuntansi, yang diperkenankan dalam  proses pelaporan keuangan eksternal untuk mencapai tujuan/maksud tertentu,

sehinggga dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan.

Menurut Scott (2003: 377) yang dikutip dari Nurul Hasni (2013) terdapat  berbagai motivasi dalam perusahaa dalam hal ini manajer melakukan manajemen

laba yaitu:

a.  Bonus Plan,

 b. Contructive incentive c. Stock price Effect . d. Motivasi politik. e. Taxtion Motivation.

f. Change of Chief Executive Officer (CEO) .

Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Na’im (2000)  dalam Ni Ketut Muliati dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu:

1) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui  judgment (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain.

2) Mengubah metoda akuntansi

Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh : merubah metoda depresiasi aktiva tetap, dari metoda depresiasi angka tahun ke metoda depresiasi garis lurus.

(14)

Contoh rekayasa perioda biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai pada perioda akuntansi berikutnya, mempercepat/menunda  pengeluaran promosi sampai periode berikutnya, mempercepat/menunda  pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang

sudah tak dipakai.

Dikutip dari Ni Ketut Muliati (2011), bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa earnings atau laba telah dijadikan sebagai suatu target dalam proses penilaian pretasi usaha suatu departemen secara khusus (manajer) atau perusahaan (organisasi) secara umum (Gumanti, 2000). Laba dan tingkat keuntungan juga merupakan alat untuk mengurangi biaya keagenan (agency costs), dari sisi teori keagenan. Misalnya, pada saat keuntungan dijadikan sebagai patokan dalam pemberian bonus, hal ini akan menciptakan dorongan kepada manajer untuk memanipulasi data keuangan agar dapat menerima bonus seperti yang diinginkannya. Selain itu, mengingat akan  pentingnya keuntungan atau perolehan secara akuntansi ( accounting income) untuk  pembuatan keputusan oleh banyak pihak, misalnya investor.

Richardson (1998) dalam Ni Ketut Muliati (2011) menunjukkan bukti hubungan antara ketidakseimbangan informasi dengan manajemen laba. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat ketidakseimbangan informasi akan mempengaruhi tingkat manajemen laba yang dilakukan oleh manajer perusahaan. Hasil penelitian Richardson menunjukkan adanya hubungan yang positif signifikan antara ukuran ketidakseimbangan informasi (bid-ask spreads dan analyst’ forecast dispersion) dan manajemen laba setelah mengendalikan faktor lain yang dapat mempengaruhi manajemen laba, seperti variabilitas aliran kas, ukuran, risiko, dan pengungkapan keuangan perusahaan.

Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dalam Ni Ketut Muliati (2011) dapat dilakukan dengan cara:

1. Taking a Bath

Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang.

(15)

Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

3.  Income Maximization

Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization  bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan  pelanggaran perjanjian hutang.

4.  Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

5.2.3. Asimetri Informasi

Dikutip dari tesis Ni Ketut Muliati (2011) asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menambahkan  bahwa jika kedua kelompok (agen dan prinsipal) tersebut adalah orang-orang yang  berupaya memaksimalkan utilitasnya, maka terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa agen tidak akan selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan  prinsipal. Prinsipal dapat membatasinya dengan menetapkan insentif yang tepat bagi agen dan melakukan monitor yang didesain untuk membatasi aktivitas agen yang menyimpang. Ada dua tipe asimetri informasi : adverse selection dan moral hazard.

1) adverse selection

 Adverse selection adalah jenis asimetri informasi dalam mana satu pihak atau lebih yang melangsungkan/akan melangsungkan suatu transaksi usaha, atau transaksi usaha potensial memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain.  Adverse selection terjadi karena beberapa orang seperti manajer perusahaan dan para pihak dalam (insiders) lainnya lebih mengetahui kondisi kini dan  prospek ke depan suatu perusahaan daripada para investor luar.

2) moral hazard

 Moral hazard adalah jenis asimetri informasi dalam mana satu pihak atau lebih yang melangsungkan atau akan melangsungkan suatu transaksi usaha atau transaksi usaha potensial dapat mengamati tindakan-tindakan mereka dalam penyelesaian transaksi-transaksi mereka sedangkan pihak-pihak

(16)

lainnya tidak.  Moral hazard dapat terjadi karena adanya pemisahan  pemilikan dengan pengendalian yang merupakan karakteristik kebanyakan  perusahaan besar.

 Agency theory mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer (agent) dengan pemegang saham ( principal ). Asimetri informasi ini timbul ketika manajer mengetahui lebih banyak informasi internal dan prospek perusahaan dimasa depan dibanding dengan pemegang saham dan stakeholder lainnya. Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas  prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Hal ini memberikan kesempatan bagi manajer untuk melakukan manajemen laba (Jensen dan Meckling 1976).

Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab manajemen laba. Richardson (1998) meneliti hubungan asimetri informasi dan manajemen laba pada semua perusahaan yang terdaftar di NYSE periode akhir Juni selama 1988-1992. Hasil penelitiannya bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dan tingkat manajemen laba. Fleksibilitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih  berkualitas bagi pihak luar. Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat

manajemen laba.

5.2.4. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer merupakan salah satu cara untuk mengurangi kos keagenan dimana kepemilikan manajerial ini dapat mensejajarkan kepentingan manajer dengan kepentingan pemilik.Kepemilikan manajerial merupakan besarnya kepemilikan saham yang di miliki oleh manajer. Hasil penelitian diatas mendukung bukti bahwa kepemilikan manajerial mengurangi dorongan oportunistik manajer sehingga akan mengurangi manajemen laba. Kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh  pihak manajemen cenderung akan mempengaruhi tindakan manajemen laba (Gideon,

(17)

5.2.5. Ukuran Perusahaan

Dari tesis Ni Ketut Muliati ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: log total aktiva (Marihot dan Doddy, 2007), log total penjualan (Nuryaman, 2008), kapitalisasi pasar (Halim, dkk. 2005). Machfoedz (1994) dalam Mardiyah (2001) menejelaskan bahwa pada dasarnya ukuran perusahan hanya terbagi dalam 3 katagori yaitu perusahaan besar (large firms), perusahaan sedang (medium firms), perusahaan kecil ( small firms). Penentuan ukuran perusahaan ini adalah bedasarkan kepada total aktiva perusahaan.

Perusahaan yang berukuran besar memiliki basis pemegang kepentingan yang lebih luas, sehingga berbagai kebijakan perusahaan besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Bagi investor, kebijakan perusahaan akan berimplikasi terhadap prospek cash flow dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi regulator (pemerintah) akan berdampak terhadap  besarnya pajak yang akan diterima, serta efektifitas peran pemberian perlindungan

terhadap masyarakat secara umum.

Sudharmadji (2007:54)ukuran perusahaan ( size) adalah indikasi ukuran sebuah  perusahaan yan g memperlihatkan pencapaian skala produksi sebuah perusahaan. Size yang dimiliki perusahaan jika mengalami peningkatan mengidentifikasikan meningkatkan kinerja perusahaan dari sudut penjualan dan laba.

Husnan (2001: 20)mengungkapkan nilai total assets yang besar tidak selamanya menunjukkan peningkatan kinerja, adakalanya nilai total assets yang besar terjadi karena adanya sejumlah assets yang tidak dimanfaatkan secara baik di dalam  perusahaan

Menurut Sujoko dan Ugy Soebiantoro (2007:45) Kebijakan utang perusahaan dipengaruhi oleh ukuran perusahaan dan terhadap hubungan yang positif antara ukuran perusahaan dan rasio utang. Ukuran perusahaan juga merupakan faktor yang mempunyai pengaruh dalam struktur modal suatu perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan yang nampak dalam total aktiva  perusahaan pada neraca akhir tahun. Semakin besar ukuran suatu perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untuk memperoleh utang sehingga struktur modal meningkat.

Menurut Phalipu (2005) ukuran perusahaan sangat identik dengan besarnya skala produksi yang dihasilkan sebuah perusahaan dalam satu periode tertentu.

(18)

Bentuk-bentuk ukuran perusahaan terdiri total nilai penjualan, besarnya nilai kapitalisasi pasar dan struktur assets yang dimiliki perusahaan. Secara umum bentuk- bentuk ukuran perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Total Penjualan, 2. Kapitalisasi Pasar, 3. Total assets,

Jadi dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan dapat dibai kedalam tiga  bentuk yaitu total nilai penjualan, total niali kapitalisasi pasar dan total assets yang

dimiliki perusahaan dalam suatu periode. Semakin besar nilai tiga komponen tersebut memperlihatkan semakin besarnya ukuran sebuah perusahaan.

Dikutip dari Restu Agusti dan Tyas Pramesti, Mpaata dan Sartono (1970 dalam Santi (2008) mengatakan bahwa besaran perusahaan / skala perusahaan adalah ukuran perusahaan yang di tentukan dari jumlah total asset yang dimiliki perusahaan. Penelitian Defond (1993) dalam Veronica dan Bachtiar (2003) menemukan bahwa ukuran perusahaan berkorelasi secara positif dengan manajemen laba. Perusahan  besar mempunyai insentif yang cukup besar untuk melakukan manajemen laba, karena salah satu alasan utamanya adalah perusahaan besar harus mampu memenuhi ekspektasi dari investor atau pemegang sahamnya. Selain itu, semakin besar  perusahaan, semakin banyak estimasi dan penilaian yang perlu diterapkan untuk tiap  jenis aktivitas perusahaan yang semakin banyak Santi (2008).

Dalam RR. Sri Handayani dan Agustono Dwi Rachadi (2011), sebagian besar  peneliti menggunakan ukuran perusahaan sebagai proksi sensitifitas pilotis dan  perilaku manajer dalam melaporkan kinerja keuangannya (Pacecca:1995). Zimmerman (1983) menyarankan untuk menggunakan proksi ukuran perusahaan dalam kerangka  political cost . Berdasarkan  size hypothesis  yang dipaparkan oleh Watt dan Zimmerman (1986), berasumsi bahwa perusahaan besar secara politis, lebih  besar melakukan transfer political cost dalam kerangka politic process, dibandingkan

dengan perusahaan kecil. Lebih lanjut beberapa peneliti berhasil membuktikan bahwa  political process memiliki dampak pada pemilihan prosedur akuntansi oleh  perusahaan yang berukuran besar (Watt dan Zimmerman: 1986).

5.3. Perumusan hipotesis dan kerangka konseptual 5.3.1. Perumusan Hipotesis

Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab manajemen laba. Richardson (1998) dalam Ni Ketut Muliati (2011) berpendapat bahwa terdapat

(19)

hubungan yang sistematis antara asimetri informasi dengan tingkat manajemen laba. Adanya asimetri informasi akan mendorong manajer untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja manajer. Fleksibelitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak luar. Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat manajemen laba.

Beberapa peneliti telah menemukan bahwa asimetri informasi dapat mempengaruhi manajemen laba. Teori keagenan ( Agency Theory) mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini adalah pemegang saham) sebagai prinsipal. Asimetri informasi muncul ketika manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan  stakeholder lainnya. Jika dikaitkan dengan peningkatan nilai perusahaan, ketika terdapat asimetri informasi, manajer dapat memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna memaksimisasi nilai saham perusahaan. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan (disclosure) informasi akuntansi.

Cristie & Zimmerman (1994) dalam Ni Ketut Muliati (2011) membuktikan  bahwa perusahaan yang melakukan takeover cenderung memilih metoda depresiasi dan metode pencatatan persediaan, yang dapat meningkatkan laba akuntansi. Berdasarkan penelitian tersebut juga disimpulkan bahwa terdapat sikap opportunistic manajemen dalam kasus ambil alih perusahaan, sekalipun alasan utama pemilihan metode akuntansi didasarkan pada pertimbangan efisiensi atau pertimbangan memaksimalkan nilai perusahaan.

 Agency theory mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer (agent) dengan pemegang saham ( principal ). Asimetri informasi ini timbul ketika manajer mengetahui lebih banyak informasi internal dan prospek perusahaan dimasa depan dibanding dengan pemegang saham dan stakeholder lainnya. Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas  prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Hal ini memberikan kesempatan bagi manajer untuk melakukan manajemen laba (Jensen dan Meckling 1976).

Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab manajemen laba. Richardson (1998) meneliti hubungan asimetri informasi dan manajemen laba pada semua perusahaan yang terdaftar di NYSE periode akhir Juni selama 1988-1992.

(20)

Hasil penelitiannya bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dan tingkat manajemen laba. Fleksibilitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih  berkualitas bagi pihak luar. Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat

manajemen laba.

H1: asimetri informasi memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba

Kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer merupakan salah satu cara untuk mengurangi kos keagenan dimana kepemilikan manajerial ini dapat mensejajarkan kepentingan manajer dengan kepentingan pemilik.Kepemilikan manajerial merupakan besarnya kepemilikan saham yang di miliki oleh manajer. Hasil penelitian diatas mendukung bukti bahwa kepemilikan manajerial mengurangi dorongan oportunistik manajer sehingga akan mengurangi manajemen laba. Kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh  pihak manajemen cenderung akan mempengaruhi tindakan manajemen laba (Gideon,

2005).

H2: kepemilikan manajerial memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba Perusahaan yang berukuran besar memiliki basis pemegang kepentingan yang lebih luas, sehingga berbagai kebijakan perusahaan besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Bagi investor, kebijakan perusahaan akan berimplikasi terhadap prospek cash flow dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi regulator (pemerintah) akan berdampak terhadap  besarnya pajak yang akan diterima, serta efektifitas peran pemberian perlindungan

terhadap masyarakat secara umum.

Dikutip dari Ni Ketut Muliati (2011), terdapat dua pandangan tentang bentuk hubungan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Pandangan pertama menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dengan manajemen laba, karena perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks dibandingkan perusahaan kecil, sehingga lebih memungkinkan untuk melakukan manajemen laba. Moses (1997) mengemukakan bahwa perusahaan  –   perusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar untuk melakukan perataan laba (salah satu bentuk manajemen laba) dibandingkan dengan perusahaan kecil, karena

(21)

memiliki biaya politik lebih besar. Biaya politik muncul dikarenakan profitabilitas  perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen.

Pandangan kedua menyatakan ukuran perusahaan memiliki hubungan negative dengan manajemen laba. Marrakchi (2001) dalam Ni Ketut Muliati (2011) di Amerika Serikat dengan menggunakan data sampel perusahaan industri tahun 1996 menemukan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba. Perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil, karena  perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak luar. Perusahaan besar memiliki basis investor yang lebih besar, sehingga mendapat tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan pelaporan keuangan yang kredibel.

Veronica dan Siddharta (2005) dalam Ni Ketut Muliati (2011) meneliti di BEJ (BEI) pada periode pengamatan 1995-1996 dan 1999-2002, menemukan ukuran  perusahaan berhubungan negatif signifikan dengan manajemen laba. Namun, Halim, dkk. (2005) dengan data LQ 45 di BEJ (BEI) menemukan ukuran perusahaan  berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Penelitian Halim memiliki kelemahan  pada jumlah sampel, yang hanya menggunakan 27 emiten sector manufaktur.

Dikutip dari Restu Agusti dan Tyas Pramesti, Mpaata dan Sartono (19970 dalam Santi (2008) mengatakan bahwa besaran perusahaan / skala perusahaan adalah ukuran perusahaan yang di tentukan dari jumlah total asset yang dimiliki perusahaan. Penelitian Defond (1993) dalam Veronica dan Bachtiar (2003) menemukan bahwa ukuran perusahaan berkorelasi secara positif dengan manajemen laba. Perusahan  besar mempunyai insentif yang cukup besar untuk melakukan manajemen laba, karena salah satu alasan utamanya adalah perusahaan besar harus mampu memenuhi ekspektasi dari investor atau pemegang sahamnya. Selain itu, semakin besar  perusahaan, semakin banyak estimasi dan penilaian yang perlu diterapkan untuk tiap  jenis aktivitas perusahaan yang semakin banyak Santi (2008).

(22)

5.3.2. Kerangka Konseptual ASIMETRI INFORMASI UKURAN PERUSAHAAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL MANAJEMEN LABA

(23)

6. METODE PENELITIAN 6.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Asosiatif. Penelitian Asosiatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan anara dua variabel atau lebih. Hubungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hubungan kausal yaitu hubungan yag bersifat sebab-akibat dimana terdapat variabel yang dipengaruhi (variabel dependen) dan variabel-variabel yang mempengaruhi (variabel independen), Sugiyono (2006).

6.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni perusahaan perbankan pada tahun 2005 sampai tahu 2009. Periode pengamatan dalam penelitian ini adalah selama 5 tahun, yakni sejak tahun 2005 hingga tahun 2009. Pemilihan rentang waktu tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa selama tahun 2005 sampai tahun 2009 kondisi  perekonomian relative stabil.

6.3. Metode Penentuan Sampel

Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan perbankan publik yang ada di Indonesia  pada tahun 2001 sampai tahun 2008. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan

metoda purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut:

1. Data laporan keuangan (kecuali laporan perubahan modal) perusahaan tersedia  berturut-turut untuk tahun pelaporan dari 2005 sampai dengan 2009. Laporan

keuangan harus tersedia berturut-turut adalah untuk menghitung manajemen laba.

2. Perusahaan sampel tersebut mempublikasikan laporan keuangan auditan dengan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember.

3. Data harga saham tersedia selama perioda estimasi dan pengamatan. 6.4. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI untuk tahun 2005 hingga tahun 2009. Data terbaru menunjukkan jumlah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI berjumlah 36 perusahaan.

6.5. Analisis Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini terdiri dari uji signifikansi simultan (uji F statistic) dan uji koefisien determinasi.

a. Uji Regresi Simultan

Digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen (Ghozali:2005).

(24)

Langkah-langkah pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut: a. memformulasikan hipotesis

 b. menentukan level of significance (α) yaitu 5% c. menentukan nilai koefisien determinasi (R 2) d. menentukan F hitung

e. criteria pengujian hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai Ftabel dengan Fhitung

 b. Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali: 2005). Uji koefisien determinasi dilihat dari nilai adjusted R2 (koefisien determinasi) yang nilainya terletak antara 0 dan 1 (0 < adjusted R2 < 1)

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Agusti, Restu dan Pramesti, Tyas. Pengaruh Asimetri Informasi, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial terhadap Manajaemen Laba.  Fakultas Ekonommi Universitas  Riau.

Boediono, Gideon SB. 2005. Kualitas Laba : Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba Dengan Menggunakan Analisis Jalur. Simposium  Nasional Akuntansi 8 (Solo).

Ghozali, Imam. 2005.  Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Halim, J, Meiden, C dan Tobing. 2005. Pengaruh Manajemen Laba pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Termasuk dalam Indeks LQ  –  45. Simposium Nasional Akuntansi VIII.

Handayani, Sri dan Dwi Rachadi, Agustono. 2011. Pengarauh Ukuran perusahaan terhadap Manajemen Laba. Universitas Diponegoro.

Husnan Suad. 2001. Dasar-Dasar Management Keuangan dan Analisis. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Jensen, Michael C and Meckling William H. 1976. Theory of The Firm: Managerial Behavior,  Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics. October, Vol. 3,  No. 4

Marrakchi S.,Chtourou. Corporate Governance and Earning Management . 2001. http://paper.ssrn.com.

Moses, Douglas O, 1997, Income Smooting and Incentives: Empirical Using Accounting Changes, The Accounting Review, Vol.LXII,No.2, April,pp. 259-377).

(26)

Muliati, N. K. 2011. Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan pada Praktik Manajemen Laba di Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. UNIVERSITAS UDAYANA.

 Nurul Hasni, Yosi Mulia, Dessy Haryani. 2013.  Pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan dan Ukuran  Perusahaan dan Probabilitas Perusahaan Melakukan Manajemen Laba pada  Perusahaan Manufaktur di BEI.

Phalipu, healy. 2005.Cooper ate F in ancial Statement . Grow Hill, Florida.

Richardson, V. J. 1998.  Information Asymmetry and Earnings Management : Some Evidence. http/www.ssrn.com.

Sudharmadi, Aris Murdoko. 2007. Pengaruh Likuiditas, Size dan Profitabilitas Terhadap Voluntary Disclosure. Study Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen Keuangan Universitas Ghunadarma, Jakarta.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: ALFABETA.

Sujoko dan Soebiantoro Ugy. 2007. Pengaruh Kepemilikan Saham, Leverage, factor intern dan faktor ekstern terhadap nilai perusahaan. Jurnal Ekonomi Manajemen dan Kewirausahaan Petra, vol 9,no1,maret, hal 41-48.

Sulistyanto, Sri. 2008.  Manajemen Laba : Teori dan Model Empiris. Edisi pertama.Grasindo; Jakarta

Veronica, Sylvia dan Bachtiar, Yanivi S. 2004. Good Corporate Governance, Information Asymmetry, and Earnings Management. Simposium Nasional Akuntansi VII: 60-72.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:“Apakah hasil belajar matematika siswa MTsN 6 Aceh Besar yang

Pada tahap plan telah disajikan materi tentang media pembelajaran dan praktik LS oleh Tim, penentuan media pembelajaran IPA yang akan dibuat, dan penentuan guru model yang akan

Another major problem of our cities today and its urban culture is that social life has been separated from locality, and the experience of living and working as a social

Hal ini sesuai dengan penelitian Hidayati, (2005) yang menyatakan bahwa syarat karakteristik tumbuhan hiperakumulator adalah : tahan terhadap unsur logam dalam

bahwa kalau ada orang yang lebih sesuai untuk menjadi kepala negara pemerintahan,. maka beliau selalu siap

Pengaruh Pemberian Jus Mentimun terhadap Tekanan Darah pada Lansia Dengan Hipertensi di Posyandu di Kabupaten Demak.. Prosiding Konferensi Nasional II PPNI Jawa

Sistem jaringan prasarana transportasi merupakan aspek penting dalam pengembangan wilayah, prasarana transportasi berfungsi sebagai fasilitas penghubung (aksesibilitas)

1) Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat bangun ruang. Upaya Meningkatkan Hasil..., Anggitiyo Wijanarko, FKIP UMP, 2014.. 2) Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian dari bangun..