BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah A. Letak Geografis
Kabupaten Aceh Utara merupakan bagian dari Provinsi Aceh yang berada di sebelah utara. Berdasarkan Peta Bakosurtanal skala 1 : 50.000, maka secara geografis Kabupaten Aceh Utara terletak pada posisi 960 47’ – 970 31’ Bujur Timur dan 040 43’ – 050 16’ Lintang Utara. Batas wilayah Kabupaten Aceh Utara dengan wilayah lainnya sebagaimana pada Gambar 2.1 adalah:
Sebelah utara : Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka.
Sebelah timur : Kabupaten Aceh Timur.
Sebelah selatan : Kabupaten Bener Meriah.
Sebelah barat : Kabupaten Bireuen.
Gambar 2.1
Peta Administrasi Kabupaten Aceh Utara
(Sumber : Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
Luas wilayah Kabupaten Aceh Utara yang tercatat adalah 3.296,86 km2, atau 329.686 Ha. Dengan panjang garis pantai 51 km, dan kewenangan
kabupaten adalah sampai 4 mil laut, maka luas wilayah laut kewenangan ini adalah 37.744 Ha atau 3.774,4 km2. Lebih jelas dapat dilihat Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Luas Wilayah Kabupaten Aceh Utara menurut Kecamatan
No. Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Persentase
1. Sawang 384,65 11,67 2. Nisam 114,74 3,48 3. Nisam Antara 84,38 2,56 4. Bandar Baro 42,35 1,28 5. Kuta Makmur 151,32 4,59 6. Simpang Kramat 79,78 2,42 7. Syamtalira Bayu 77,53 2,35 8.. Geureudong Pase 269,28 8,17 9. Meurah Mulia 202,57 6,14 10. Matang Kuli 56,94 1,73 11. Paya Bakong 418,32 12,69 12. Pirak Timu 67,70 2,05 13. Cot Girek 189,00 5,73
14. Tanah Jambo Aye 162,98 4,94
15. Langkahan 150,52 4,57 16. Seunuddon 100,63 3,05 17. Baktiya 158,67 4,81 18. Baktiya Barat 83,08 2,52 19. Lhoksukon 243,00 7,37 20. Tanah Luas 30,64 0,93 21. Nibong 44,91 1,36 22. Samudera 43,28 1,31 23. Syamtalira Aron 28,13 0,85 24. Tanah Pasir 20,38 0,62 25. Lapang 19,27 0,58 26. Muara Batu 33,34 1,01 27. Dewantara 39,47 1,20 Kabupaten 3.296,86 100,00
(Sumber : Aceh Utara Dalam Angka 2012)
B. Topografi dan Morfologi Wilayah
Dengan batas di sebelah utara merupakan laut, yaitu Selat Malaka, dan di sebelah selatan adalah kaki atau lereng pegunungan, maka secara umum bentuk permukaan bumi atau geomorfologi Kabupaten Aceh Utara dari arah pantai ke arah pegunungan adalah :
Dataran pantai, yang terletak sepanjang tepi pantai.
Dataran aluvial, yang terletak relatif memanjang di belakang dataran pantai.
Zona lipatan, yang terletak relatif memanjang di belakang dataran aluvial.
Zona volkanik, yang merupakan kaki/lereng sampai punggungan pegunungan.
Selaras dengan geomorfologi tersebut, pada Gambar 2.2 diperlihatkan profil wilayah menurut arah utara – selatan, masing-masing pada garis 960 55’, 970 04’, 970 12’, dan 970 22’ BT. Berdasarkan Peta Rupa Bumi skala 1 : 50.000 (BAKOSURTANAL), yang menggambarkan topografi menurut garis ketinggian (kontur) Aceh Utara sebaran utamanya menurut selang ketinggian (Gambar 2.3) yaitu :
0 – 25 m dpl : 146.096 Ha, atau 44,31 %;
25 – 100 m dpl : 63.781 Ha, atau 19,35 %;
100 – 500 m dpl : 88.526 Ha, atau 26,85 %;
500 – 1000 m dpl : 20.932 Ha, atau 6,35 %;
Di atas 1000 m dpl : 10.351 Ha, atau 3,14 %.
Gambar 2.2
Profil Morfologi Wilayah Kabupaten Aceh Utara
Gambar 2.3
Peta Ketinggian Lahan Kabupaten Aceh Utara
(Sumber : Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
Berdasarkan Peta Kemiringan Lereng Kabupaten Aceh Utara dari Yayasan Leuser Internasional (YLI), dapat dikemukakan sebaran kemiringan lahan di Aceh Utara (Gambar 2.4) yaitu :
0 – 2 % : 50,38 %, atau sekitar 166.063 Ha;
2 – 8 % : 18,85 %, atau sekitar 62.146 Ha;
8 – 15 % : 10,54 %, atau sekitar 34.749 Ha;
15 – 25 % : 9,59 %, atau sekitar 31.617 Ha;
25 – 40 % : 7,26 %, atau sekitar 23.935 Ha;
> 40 % : 3,39 %, atau sekitar 11.176 Ha.
Gambar 2.4
Peta Kemiringan Lahan Kabupaten Aceh Utara (Sumber: Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
C. Iklim
Wilayah Kabupaten Aceh Utara sebagai bagian dari wilayah Provinsi Aceh, termasuk tipe iklim muson; dan klasifikasi menurut Mohr, Schmid & Ferguson, termasuk iklim tipe C. Wilayah Kabupaten Aceh Utara relatif lebih kering dibandingkan dengan dengan wilayah lainnya di Provinsi Aceh, karena pengaruh Pegunungan Bukit Barisan, di mana wilayah sebelah utara dan timur Pegunungan Bukit Barisan cenderung lebih kering dibandingkan wilayah sebelah barat dan selatannya.
Curah hujan tahunan di wilayah Kabupaten Aceh Utara berkisar antara 1000 – 2500 mm, dengan hari hujan 92 hari. Musim hujan terjadi pada bulan Agustus sampai Januari, dengan curah hujan maksimal terjadi di bulan Oktober-November, yang mencapai di atas 350 mm per bulan dengan hari hujan lebih dari 14 hari. Sementara musim dengan curah hujan lebih rendah (cenderung kemarau) terjadi pada bulan Februari sampai Juli, dan yang cenderung terendah adalah sekitar bulan Maret-April.
Rata-rata suhu udara adalah 300 C, dengan kisaran antara 260 C sampai 360 C. Suhu rata-rata pada musim penghujan adala 280 C, dan pada musim kemarau suhu rata-rata adalah 32,80 C. Kelembaban udara berkisar antara 84 – 89 %, dengan rata-rata 86,6 %. Lebih jelasnya sebagaimana tercantum Gambar 2.5.
G
Gambar 2.5
Peta Curah Hujan Kabupaten Aceh Utara (Sumber : Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
D. Jenis Tanah dan Kedalaman Efektif Tanah
Jenis tanah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesesuaian lahan untuk budidaya pertanian maupun non-pertanian yang akan dikembangkan. Pengenalan terhadap karakteristik dan sebaran jenis tanah sangat penting terkait dengan upaya pemanfaatan sumber daya tanah/lahan di Kabupaten Aceh Utara.
Secara umum sebaran jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dapat dibedakan atas 2 kelompok besar, yaitu dominan kelompok hidromorf di pesisir, sementara kelompok podsolik dominan di pedalaman. Karakter ini
selaras pula dengan kedalaman efektif tanah, di mana sejak dari yang terdalam (>90 cm) sampai yang terdangkal (<30 cm) adalah mengikuti pola dari pesisir ke
pedalaman. Jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.6.
S u m b e r : Gambar 2.6
Peta Jenis Tanah Kabupaten Aceh Utara
(Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
E. Geologi
Struktur geologi yang ada di wilayah Kabupaten Aceh Utara secara garis besar terdiri atas batuan Quarter yang cenderung di bagian pesisir (bagian utara), dan batuan Tersier yang cenderung di bagian pedalaman (bagian selatan). Sebaran ini selaras dengan topografi yang menaik dari utara ke selatan,
dan selaras pula dengan pola hilir ke hulu dalam DAS. Jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 2.7.
Peta Geologi Kabupaten Aceh Utara
(Sumber : Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah
Pembangunan Kabupaten Aceh Utara diprioritaskan pada pembangunan yang memperhatikan potensi wilayah yaitu melalui pengembangan kawasan perkebunan, pertanian tanaman pangan, dan perikanan yang merupakan mata pencaharian utama sehingga dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan RTRW Kabupaten Aceh Utara 2012 – 2032 dan sesuai karakteristik wilayah maka pengembangan kawasan budidaya dalam rencana pola ruang Kabupaten Aceh Utara yaitu :
1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi
Kawasan hutan produksi ini relatif terletak antara kawasan hutan lindung dan batas dengan Kabupaten Bener Meriah dengan kawasan perkebunan dan kawasan budidaya lainnya. Selain pemantapan kawasan hutan produksi yang telah ada sebelumnya, juga direncanakan pemanfaatan belukar di bagian lebih hulu lagi dari yang direncanakan untuk kawasan perkebunan. Total luas kawasan hutan produksi ini adalah 30.687 Ha.
Sebaran kawasan hutan produksi di Kabupaten Aceh Utara meliputi : Kecamatan Langkahan 1.341 hektar; Kecamatan Cot Girek 9.502 hektar; Kecamatan Meurah Mulia 4.278 hektar; Kecamatan Geureudong Pase 2.710 hektar; Kecamatan Nisam Antar 2.930 hektar; Kecamatan Sawang 4.952 hektar; dan Kecamatan Paya Bakong 5.000 hektar.
Pemanfaatan kawasan hutan produksi yaitu berupa :
a. Eksploitasi hutan, dalam bentuk pengambilan kayu dengan pola tebang pilih dan tanam kembali.
b. Pengambilan hasil hutan non-kayu seperti : rotan, getah, madu lebah, buah-buahan, dan lain-lainnya
2. Kawasan Peruntukan Pertanian a. Kawasan Pertanian Lahan Basah
Kawasan sawah (pertanian lahan basah) merupakan pemantapan dari kawasan sawah yang ada dewasa ini dan direkomendasikan penambahan/ perluasannya pada lahan-lahan yang potensial di sekitarnya dan berpeluang untuk dapat dilayani oleh jaringan irigasi/pengairan. Kendati dengan luas yang bervariasi, kawasan sawah terdapat di semua kecamatan. Total luas kawasan sawah ini adalah 46.901 Ha.
Kegiatan-kegiatan budidaya atau ekonomi produksi lainnya yang potensial tergabung sebagai kegiatan sampingan/diversifikasi antara lain adalah :
- Perikanan air tawar, dengan pola mina-padi, kolam/tebat, kerambah pada saluran irigasi, dan penangkapan pada perairan tersebut;
- Peternakan, yang dapat terdiri atas ternak besar, ternak kecil, dan unggas (terutama itik atau bebek);
- Pertanian palawija/hortikultura, terutama sebagai tanaman selingan dalam kalender tanam, ataupun sebagai tanaman sela.
b. Kawasan Pertanian Lahan Kering (Kebun Campuran)
Kawasan kebun campuran tersebar di semua kecamatan dengan luas mencapai 44.493 Ha. Fungsi kawasan ini adalah sebagai kebun campuran, yang dicirikan oleh variasi tanaman yang beragam dan kegiatan budidaya lainnya meliputi : perumahan perdesaan yang terselip, industri kecil, peternakan, dan lain-lain.
c. Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Dengan prinsip bahwa hasil kegiatan sawah yaitu padi merupakan bahan pokok strategis bagi kebutuhan masyarakat, maka keberadaan kawasan sawah ini menjadi sangat penting dan sejauh mungkin dipertahankan luasnya.
Apabila masih memungkinkan bagi pencetakan sawah baru pada daerah yang ada dukungan prasarana irigasi. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga keberlanjutan lahan pangan di Kabupaten Aceh Utara. Luasan lahan pangan berkelanjutan mencapai 39.777 ha dari total luas kawasan untuk sawah.
d. Kawasan Perkebunan
Kawasan perkebunan sebarannya terletak di bagian pedalaman wilayah dengan luasan mencapai 162.672 Ha.
Pemanfaatan utama kawasan perkebunan adalah kegiatan budidaya perkebunan, baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar.
e. Kawasan Peternakan
Kawasan peternakan letaknya tersebar di Kabupaten Aceh Utara khususnya di bagian pedalaman wilayah dan tidak terdelineasi serta tersebar di seluruh kecamatan. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan lahan pengembalaan untuk sumber pakan ternak. Kawasan peternakan ini terselip pada kawasan pertanian, kawasan perkebunan dan sebagian kawasan permukiman yang memiliki lahan terbuka hijau.
Jenis ternak yang potensial untuk dikembangkan terdiri atas ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Ternak besar yang dapat dibudidayakan seperti lembu dan kerbau akan terpusat di Bukit Sentang Kecamatan Lhoksukon, sedangkan ternak kecil adalah kambing dan kelinci. Ternak unggas yang potensial dibudidayakan adalah itik atau bebek.
3. Kawasan Peruntukan Perikanan
Kawasan tambak merupakan pemantapan dari kawasan tambak yang ada dewasa ini, yang sebarannya adalah di bagian wilayah pesisir, dengan kecenderungan sebaran yang lebih besar di bagian timur. Total luas kawasan tambak adalah 16.712 Ha sedangkan Perikanan tangkap kurang lebih seluas 37.744 Ha.
Rencana pengelolaan kawasan tambak adalah pemanfaatan utama untuk kegiatan tambak yang didukung oleh sistem saluran untuk kebutuhan airnya.
Pengembangan potensi serta kawasan peruntukan perikanan didukung dengan pengembangan prasarana perikanan berupa Pelabuhan Perikanan Nusantara Kuala Cangkoy.
4. Kawasan Peruntukkan Pertambangan
Potensi tambang yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dapat dibedakan atas : a. Potensi pertambangan mineral logam terdiri dari:
- Kromium/Emas Putih, meliputi : Kecamatan Geureudong Paseh, Murah Mulia, Paya Bakong, Perak Timur, Cot Gireh; dan
- Besi, meliputi Kecamatan Paya Bakong.
b. Potensi pertambangan mineral non logam terdiri dari :
- Andesit meliputi : Kecamatan Sawang
- Bentonit, meliputi : Kecamatan Sawang
- Stronsium, meliputi : Kecamatan Sawang dan Tanah Luas c. Potensi pertambangan batuan terdiri dari :
- Batu gunung meliputi : Kecamatan Nisam Antara, Nisam, Sawang, Simpang Keuramat, Geureudong Pase.
- Pasir meliputi : Kecamatan Nisam Antara, Sawang, Geureudong Pase, Paya Bakong, Langkahan.
- Pasir urug meliputi : Kecamatan Nisam Antara, Sawang, Geureudong Pase, Paya Bakong, Langkahan.
- Batu Kapur meliputi : Kecamatan Muara Batu.
- Tanah liat meliputi : Kecamatan Cot Girek, dan Muara Batu
d. Potensi pertambangan batubara, meliputi : Kecamatan Sawang, Nisam Antara, Kuta Makmur, Simpang Keramat, Geureudong Pase, Syamtalira Bayu, Murah Mulia, Nibong, Tanah Luas, Paya Bakong, Pirak Timur, Lhok Sukon, Baktia, Cot Girek, Langkahan, Jambo Aye; dan
e. Potensi panas bumi potensi energi panas bumi berada di Kecamatan Nisam Antara.
f. Bahan tambang dari dalam perut bumi, yang dalam hal ini berupa gas alam, seperti yang telah dieksploitasi oleh Perusahaan EMOI (Exxon Mobil Oil Indonesia) yang dikenal dengan LNG Arun, instalasi tambang gas melewati beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah dengan luas area kurang lebih 498 (empat ratus sembilan puluh delapan) hektar; meliputi :
- Kecamatan Syamtalira Aron,
- Kecamatan Tanah Luas, Kecamatan Nibong,
- Kecamatan Matangkuli,
- Kecamatan Paya Bakong,
- Kecamatan Cot Girek; dan
- Kecamatan Langkahan.
Bahan tambang dari dalam perut bumi berupa gas alam ini potensi depositnya bersifat antar wilayah, yaitu Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur.
Bahan tambang Galian C dieksplotasi baik di daratan (berupa tanah urug, tanah liat, dan batu kapur), maupun di perairan sungai, dan terutama di tepi sungai (pasir, sirtu, batu, kerikil).
5. Kawasan Peruntukan Industri a. Kawasan Industri Sedang
Kawasan peruntukan industri sedang berada di Kecamatan Cot Girek, Kecamatan Lhoksukon, Kecamatan Geureudong Pase, Kecamatan Simpang Keuramat. Kawasan peruntukan industri sedang yang ada di Kabupaten Aceh Utara merupakan kegiatan industri pengolahan hasil pertanian.
b. Kawasan Industri Kecil
Kawasan industri kecil tersebar pada beberapa kecamatan, dan banyak terselip kawasan permukiman. Kawasan industri kecil terdiri dari sentra-sentra industri rumahan (home industry). Kegiatan industri kecil ini merupakan salah satu penggerak perekonomian masyarakat kecil khususnya yang berada di pedesaan.
Terdapat variasi hasil industri kecil yang potensial untuk dikembangkan. Hasil industri kecil di Kecamatan Tanah Jambo Aye yang dapat dikembangkan adalah industri produk pisang sale, di Kecamatan Dewantara (Ulee Pulo dan Ulee Reuleung) adalah industri pembuatan batu bata, di Kecamatan Muara Batu (Bungkah) dan Kecamatan Baktiya adalah industri produk kerajinan souvenir khas Aceh.
6. Kawasan Peruntukan Pariwisata
Kawasan pariwisata yang dikembangkan di Kabupaten Aceh Utara diklasifikasikan menurut lokasi dan bentuk objeknya, yaitu :
a. Pariwisata Budaya
Pariwisata budaya yang dikembangkan adalah objek wisata budaya,yaitu :
- Makam Malikussaleh & Malikul Dhahir, di Kec. Samudera;
- Makam Tgk 44, di Kec. Samudera;
- Makam Naina Husam Al-Din, di Kec. Samudera;
- Makam Sidi Abdullah Tajul Nilah, di Kec. Samudera;
- Makam Tgk Syarif, di Kec. Samudera;
- Makam Sultanah Nahrisyah, di Kec. Samudera;
- Makam Tgk Batee Bale A, di Kec. Samudera;
- Makam Tgk Batee Bale B, di Kec. Samudera;
- Makam Tgk Saleh Salihin, di Kec. Samudera;
- Makam Said Syarif, di Kec. Samudera;
- Makam Perdana Menteri M.Yacob, di Kec. Samudera;
- Makam Raja Muhammad Mns Nibong, di Kec. Syamtalira Bayu;
- Makam Putra Raja Syuhada Cot Plieng, di Kec. Syamtalira Bayu;
- Makam Ratu Al'Ala Binti Malikul Dahir, di Kec. Pirak Timu;
- Makam Tgk Mursalah Ibnu Talabuddin, di Kec. Syamtalira Aron;
- Makam Tgk Meunasah Reulob, di Kec. Syamtalira Aron;
- Makam Raja Purupi, di Kec. Syamtalira Aron;
- Makam Tgk Jrat Manyang, di Kec. Baktiya Barat;
- Makam Tgk Di Glumpang, di Kec. Baktiya Barat;
- Makam Tgk Di Padang, di Kec. Baktiya;
- Makam Tgk Batee Badan, di Kec. Tanah Jambo Aye;
- Makam Glewang Anval, di Kec. Tanah Jambo Aye;
- Makam Tgk Pantee Keurajen, di Kec. Sawang;
- Rumah Adat Cut Meutia, di Kec. Matangkuli;
- Makam Cut Meutia, di Kec. Cot Girek. b. Pariwisata Alam
- Objek wisata di pesisir pantai, berupa : Pantai Ulee Rubek di Ulee Rubek Timur dan Ulee Rubek Barat Kec. Seunuddon, Pantai Sawang di Sawang Kec. Samudera, Pantai Pusong di Bangka Jaya Kec. Dewantara; Pantai Dakuta Bungkah di Bungkah Kec. Muara Batu.
- Objek wisata di pedalaman, berupa : Air Terjun Blang Kulam di Sidomulyo Kec. Kuta Makmur, Air Terjun Seumirah di Kd. Seumirah Kec. Nisam Antara, Pemandian Krueng Sawang di Sawang Kec. Sawang, Pusat Konservasi Gajah (PKG) di Kec. Cot Girek,
7. Kawasan Budidaya Lainnya
a. Kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara
Kawasan pelabuhan adalah Pelabuhan Lhokseumawe di Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, dengan luas 166 Ha. Pelabuhan ini dapat melayani kegiatan bongkar muat umum (pelabuhan umum) maupun bongkar muat khusus industri besar (pelabuhan khusus) untuk tujuan luar negeri dan dalam negeri (antar provinsi). Melayani angkutan penyeberangan luar negeri antara Lhokseumawe - Penang/Langkawi (Malaysia). Pelabuhan ini ditetapkan sebagai Pelabuhan Laut Internasional, terkait dengan dukungannya terhadap fungsi PKN Lhokseumawe.
b. Kawasan Bandar Udara adalah kompleks Bandar Udara Malikussaleh di Kecamatan Muara Batu, dengan luas 83 Ha. Bandara udara ini merupakan bagian dari dukungannya terhadap fungsi PKN Lhokseumawe sehingga diusulkan sebagai bandar udara pengumpan. Bandara ini dikelola oleh pihak Pemda Kabupaten Aceh Utara. Rute penerbangan yang dilayani saat ini yaitu Muara Batu-Medan dan Muara Batu-Banda Aceh.
c. Kawasan Pertanian Terpadu
Kawasan pengembangan pertanian terpadu terletak di tengah kawasan hutan produksi di Kecamatan Sawang dengan luasan 430 Ha. Berdasarkan karakter lokasinya, maka kegiatan pertanian yang dikembangkan adalah merupakan pertanian pada lahan kering, baik berupa perkebunan atau pertanian lahan kering maupun pertanian ikutan lainnya seperti peternakan, industri pengolahan hasil pertanian, dan lainnya.
d. Wilayah Laut Kewenangan
Panjang garis pantai mencapai 51 km sehingga berdasarkan kewenangan kabupaten sampai dengan 4 mil laut, maka luas wilayah laut kewenangan mencapai 37.744 Ha.
Pemanfaatan wilayah laut kewenangan saat ini masih terbatas pada bentuk pemanfaatan penangkapan ikan oleh para nelayan di pesisir, dan sebagai alur pelayaran menuju dan dari pelabuhan laut Lhokseumawe di Krueng Geukueh. Peluang pengembangan pemanfaatan selain untuk perikanan tangkap dapat juga untuk kegiatan wisata bahari, potensi tambang di bawah laut, jalur pelayaran tepi pantai, dan lainnya.
e. Kawasan Waduk Krueng Jambo Aye dan Krueng Keureuto
Kawasan Waduk Krueng Jambo Aye terletak di Kecamatan Langkahan yang memanfaatkan aliran Sungai Krueng Jambo Aye. Waduk yang dibangun dengan kapasitas 1,5 milyar m3 direncanakan digunakan selain sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk memenuhi kebutuhan listrik wilayah I Aceh dengan kapasitas 235 MW, juga dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi untuk mengairi 55.700 Ha lahan persawahan, sebagai sumber air baku dengan debit 11,6 m3/det dan pengendalian banjir (daerah Langkahan, Tanah Jambo Aye, Baktiya dan Seunuddon), serta tempat rekreasi dan olah raga. Luas daerah genangan waduk ini direncanakan kurang lebih 2.745 Ha yang meliputi wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur.
f. Kawasan Waduk Krueng Keureuto terletak di Kecamatan Paya Bakong dan Kecamatan Tanah Luas yang memanfaatkan aliran Sungai Krueng Keureuto. Fungsi waduk ini adalah selain sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 3,27 MW juga dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi untuk mengairi 4.568 Ha lahan persawahan, untuk pengendalian banjir dengan besar kendali 29,94 juta m2 (banjir Paya Bakong, Pirak Timu, Matangkuli, Lhoksukon, Tanah Luas, Syamtalira Aron, Tanah Pasir, Lapang) serta tempat rekreasi dan olah raga. Luas daerah genangan waduk ini direncanakan kurang lebih 710 Ha.
2.1.3. Wilayah Rawan Bencana
Wilayah rawan bencana di Kabupaten Aceh Utara dapat dibedakan berdasarkan jenis bencana yang terjadi, yaitu :
1. Bencana longsor, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Gunci dan Gampong Riseh Teungoh (Kecamatan Sawang), Gampong Pase Sentosa (Kecamatan Geureudong Pase), Meunasah Leubok Kliet (Kecamatan Meurah Mulia), Gampong Meuria Matangkuli (Kecamatan Matangkuli), Gampong Alue Semambu (Kecamatan Cot Girek);
Gambar 2.8.
Peta Pola Ruang Kabupaten Aceh Utara
2. Bencana gelombang pasang, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Krueng Mate (Kecamatan Syamtalira Bayu), Gampong Beuringen, Gampong Matang Ulim, dan Gampong Keude Blang Mee (Kecamatan Samudera), Gampong Matang Janeng (Kecamatan Tanah Pasir), Gampong Keude Lapang (Kecamatan Lapang), Gampong Meunasah Hagu (Kecamatan Baktiya Barat), Gampong Cot Trueng dan Gampong Ulee Titi (Kecamatan Seunuddon), dan Gampong Glumpang Umpung Uno (Kecamatan Tanah Jambo Aye);
3. Bencana banjir, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Binjee dan Gampong Blang Crok (Kecamatan Nisam), Gampong Ulee Nyeu (Kecamatan Bandar Baro), Gampong Meunasah Glong dan Gampong Keude Bayu (Kecamatan Syamtalira Bayu), Gampong Matang IX dan Gampong Punti (Kecamatan Matangkuli), Gampong Blang Gunci dan Gampong Teungoh Siron (Kecamatan Paya Bakong), Gampong Tanjong Putoh dan Gampong Paya Terbang (Kecamatan Tanah Luas), Gampong Blang Peuria (Kecamatan Samudera), Gampong Meucat (Kecamatan Syamtalira Aron), dan Gampong Tambon Baroh (Kecamatan Dewantara);
4. Bencana gempa bumi ; dan
5. Bencana gempa bumi ; dan Bencana tsunami, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Pante Gurah dan Gampong Pulo Makmur dan Gampong Pulo Makmur (Kecamatan Muara Batu), Gampong Uteun Geulinggang, Gampong Kd. Krueng Geukeuh, Gampong Paloh Igeuh, dan Gampong Tambon Baroh (Kecamatan Dewantara), Gampong Krueng Mate (Kecamatan Syamtalira Bayu), Gampong Beuringen, Gampong Matang Ulim, dan Gampong Keude Blang Mee (Kecamatan Samudera), Gampong Matang Janeng (Kecamatan Tanah Pasir), Gampong Keude Lapang (Kecamatan Lapang), Gampong Meunasah Hagu (Kecamatan Baktiya Barat), Gampong Cot Trueng dan Gampong Ulee Titi (Kecamatan Seunuddon), dan Gampong Glumpang Umpung Uno (Kecamatan Tanah Jambo Aye).
No. Kecamatan 2007 2008 2009 2010 2011 1 Sawang 31.678 32.080 32.508 33.748 34.521 2 Nisam 15.998 16.158 16.328 17.115 17.235 3 Nisam Antara 11.773 11.891 12.017 12.096 12.277 4 Banda Baro 7.402 7.476 7.555 7.377 7.415 5 Kuta Makmur 21.250 22.181 23.266 22.028 22.339 6 Simpang Kramat 6.691 6.793 8.429 8.710 8.824 7 Syamtalira Bayu 17.903 18.734 18.579 18.955 19.046 8 Geureudong Pase 4.322 3.705 4.291 4.448 4.550 9 Meurah Mulia 16.766 16.938 17.121 17.612 17.881 10 Matang Kuli 15.735 15.942 16.163 16.424 16.803 11 Paya bakong 11.804 12.213 12.675 12.690 12.875 12 Pirak timu 6.806 6.896 6.992 7.413 7.520 13 Cot Girek 18.225 18.669 19.006 18.342 18.762 14 Tanah Jambo Aye 40.128 41.133 40.368 39.141 40.472 15 Langkahan 18.574 18.908 19.268 20.938 21.221 16 Seununddon 23.352 24.240 25.254 23.267 23.476 17 Baktiya 31.285 31.652 32.043 32.465 33.514 18 Baktiaya Barat 16.902 17.344 17.829 16.943 17.334 19 Lhosukon 44.212 45.257 46.217 43.998 45.472 20 Tanah Luas 21.074 21.409 21.768 22.037 22.601 21 Nibong 9.346 9.474 9.610 9.047 9.247 22 Samudera 22.508 23.011 23.558 24.389 25.099 23 Syamtalira Aron 15.789 15.961 15.616 16.456 16.833 24 Tanah Pasir 7.956 8.404 8.639 8.376 8.431 25 Lapang 8.414 8.368 8.352 7.909 8.075 26 Muara Batu 24.818 25.592 24.480 24.385 25.179 27 Dewantara 45.263 46.277 44.605 43.442 44.876 Jumlah 515.974 526.706 532.537 529.751 541.878 2.1.4. Demografi
Penduduk Kabupaten Aceh Utara tahun 2011 berjumlah 541.878 jiwa yang terdiri dari 268.357 penduduk laki-laki dan 273.521 penduduk perempuan dengan laju pertumbuhan penduduk 2,48 % per tahun. Berdasarkan luas wilayah sebesar 3.296,86 km2, maka kepadatan penduduk mencapai 164 jiwa/km2.
Tabel 2.2.
Perkembangan Distribusi Penduduk Kabupaten Aceh Utara menurut Kecamatan Tahun 2007 - 2011
(Sumber: Naskah Teknis RTRW Kabupaten Aceh Utara)
Distribusi penduduk terbesar di Kecamatan Lhoksukon mencapai 45.472 jiwa dan kepadatan penduduk terbesar di Kecamatan Dewantara mencapai 1.137 jiwa/km2, sedangkan jumlah dan kepadatan penduduk terkecil di Kecamatan Geureudong Pase mencapai 4.550 jiwa dan 17 jiwa/km2. Bila dilihat dari letaknya, maka dapat diindikasikan bahwa kecamatan-kecamatan di sekitar sumbu wilayah atau di sekitar Jalan Nasional cenderung mempunyai jumlah dan kepadatan penduduk lebih besar.
Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) untuk masing-masing kecamatan sangat bervariasi. Kecamatan Tanah Jambo Aye memiliki LPP terbesar mencapai 3,68 % dan LPP terkecil berada pada Kecamatan Syamtalira Bayu mencapai 0,52 %.
Penduduk menurut kelompok umur dengan komposisi yaitu 33 % berada pada usia 0 – 14 tahun, 63 % pada usia 15 – 64 tahun dan 4 % pada usia 65 tahun ke atas. Berdasarkan komposisi tersebut, maka piramida penduduk Kabupaten Aceh Utara tergolong ke dalam kelompok ekspansif karena sebagian besar penduduknya berada dalam kelompok usia muda.
2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
a. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Utara periode tahun 2007-2011 ditunjukkan oleh PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000. Jika dengan memasukkan sub sektor migas, nilai PDRB Kabupaten Aceh Utara mengalami penurunan dari 5,76 triliun menjadi 4,23 triliun rupiah. Namun pada tahun 2011 mengalami sedikit peningkatan menjadi 4,34 triliun rupiah. Sedangkan laju pertumbuhannya, yaitu sebesar minus 10,68 % pada periode 2008-2009. Kemudian pada periode 2009 – 2010 melambat menjadi minus 5,45 % dan sebaliknya meningkat menjadi 2,46 % pada periode 2010-2011.
Jika dirinci secara sektoral, pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Utara pada tahun 2011 masih sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan dan penggalian, terutama pertambangan migas. Pertumbuhan tertinggi pada tahun 2011 terjadi pada sektor jasa-jasa yang mencapai 9,16 %. Tingginya pertumbuhan sektor ini, didukung oleh pertumbuhan yang tinggi dari sub sektor pemerintahan umum yaitu sebesar 9,83 %.
Sektor selanjutnya yang menduduki urutan kedua yaitu sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan pertumbuhan sebesar 7,49 % yang didukung oleh pertumbuhan sub sektor bank sebesar 9,26 %. Sektor pengangkutan dan komunikasi, berada di urutan selanjutnya dengan pertumbuhan sebesar 5,63 % yang didukung oleh sub sektor angkutan jalan raya yang tumbuh sebesar 5,95 %.
Pertumbuhan terbesar keempat terjadi pada sektor bangunan/kontruksi yang mampu tumbuh sebesar 4,65 %. Sektor berikutnya yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 4,52 %. Pertumbuhan sektor ini salah satunya di pengaruhi oleh pertumbuhan sub sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 4,54 %.
Tabel 2.3.
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 - 2011 dengan Migas atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Aceh Utara (dalam Milyar Rupiah)
Sumber : PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Aceh Utara 2008 - 2011 *) Angka Diperbaiki
**) Angka Sementara
Sektor-sektor selanjutnya adalah sektor listrik dan air minum sebesar 4,06 %, kemudian sektor industri pengolahan tanpa migas sebesar 3,04 %, dan sektor pertanian sebesar 0,95 persen. Pertumbuhan sektor ini, didukung oleh sub sektor tanaman bahan makanan sebesar 1,30 %. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 - 2011 dengan Migas atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Aceh Utara sebagaimana tercantum pada Tabel 2.3.
Pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Utara tanpa migas untuk tahun 2011 mencapai 3,91 %. Jika kita perbandingkan pertumbuhan PDRB sektoral terdapat tujuh sektor dengan pertumbuhan di atas pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Utara. Sedangkan dua sektor lainnya, yaitu sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, berada dibawah pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Utara.
Apabila memperbandingkan antara pertumbuhan terhadap kontribusi setiap sektor, maka dapat diketahui beberapa sektor dengan pertumbuhan
N
o Sektor
2007 2008 2009 2010*) 2011**)
Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. %
1 Pertanian 1.123,34 19,49 1.125,85 22,47 1.130,81 25,27 1.139,39 26,92 1.150,23 26,53 2 Pertambangan & penggalian 3.248,96 56,38 2.404,64 47,99 1.782,02 39,82 1.440,83 34,05 1.435,94 33,12 3 Industri pengolahan 209,20 3,63 214,21 4,27 219,68 4,91 225,91 5,34 232,77 5,37 4 Listrik, gas, & air bersih 5,96 0,10 6,87 0,14 7,19 0,16 7,50 0,18 7,80 0,18
5 Konstruksi 133,74 2,32 144,90 2,89 151,24 3,38 157,90 3,73 165,25 3,81
6 Perdagangan, hotel, & restoran 371,12 6,44 396,57 7,91 414,37 9,26 432,02 10,21 451,55 10,41 7 Pengangkutan & komunikasi 260,17 4,51 272,67 5,44 286,36 6,40 301,54 7,13 318,51 7,35 8 Keuangan, sewa, & jasa
Perusahaan
67,94 1,11 67,45 1,35 72,23 1,61 77,55 1,83 83,36 1,92
9 Jasa-jasa 346,54 6,01 377,65 7,54 411,75 9,20 449,14 10,61 490,27 11,31
tinggi namun masih memberikan kontribusi yang masih sangat kecil terhadap total PDRB Tahun 2011. Sektor listrik dan air minum mampu tumbuh sebesar 4,06 % tetapi hanya memberikan kontribusi sebesar 0,17 %. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian tanpa migas yang tumbuh mencapai 4,64 %, namun kontribusi hanya sebesar 0,86 %.
Sebaliknya, sektor pertanian dengan pertumbuhan yang hanya sebesar 0,95 % ternyata menjadi sektor yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap total PDRB tahun 2011 mencapai 22,95 %. Begitu juga dengan sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan pertumbuhan sebesar 4,52 % juga mampu memberikan kontribusi hingga 8,26 %.
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 - 2011 tanpa Migas atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Aceh Utara sebagaimana tercantum pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4.
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 - 2011 Tanpa Migas atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Aceh Utara
(dalam Milyar Rupiah)
N o Sektor 2007 2008 2009 2010*) 2011**) Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % 1 Pertanian 1.123,34 44,16 1.125,85 42,69 1.130,81 41,48 1.139,39 40,33 1.150,23 39,19 2 Pertambangan & penggalian 30,05 1,18 31,25 1,18 32,60 1,20 34,04 1,20 35,61 1,21 3 Industri pengolahan 209,20 8,22 214,21 8,12 219,68 8,06 225,91 8,00 232,77 7,93
4 Listrik, gas, & air bersih 5,96 0,23 6,87 0,26 7,19 0,26 7,50 0,27 7,80 0,27
5 Konstruksi 133,74 5,26 144,90 5,49 151,24 5,55 157,90 5,59 165,25 5,63
6 Perdagangan, hotel, & restoran
371,12 14,59 396,57 15,04 414,37 15,20 432,02 15,29 451,55 15,38
7 Pengangkutan & komunikasi
260,17 10,23 272,67 10,34 286,36 10,50 301,54 10,67 318,51 10,85
8 Keuangan, sewa, & jasa Perusahaan
67,94 2,51 67,45 2,56 72,23 2,65 77,55 2,75 83,36 2,84
9 Jasa-jasa 346,54 13,62 377,65 14,32 411,75 15,10 449,14 15,90 490,27 16,70
PDRB 2.544,06 100,00 2.637,42 100,00 2.726,21 100,00 2.824,99 100,00 2.935,36 100,00 Sumber : PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Aceh Utara 2008 - 2011
*) Angka Diperbaiki **) Angka Sementara
Secara sektoral, struktur ekonomi Kabupaten Aceh Utara selama periode 2007 -2011 didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian, terutama sub sektor pertambangan minyak dan gas (migas). Namun selama periode tersebut, sumbangan sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Utara
menunjukkan kecendrungan penurunan seiring menurunnya kontribusi sub sektor pertambangan migas. Pada tahun 2007 peranan sektor pertambangan dan penggalian terhadap pembentukan PDRB mencapai 63,91 % dan terus mengalami penurunan hingga mencapai 44,94 % pada tahun 2011.
Sektor yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap perekonomian Kabupaten Aceh Utara yaitu sektor pertanian yang menunjukkan meningkat setiap tahunnya. Selama periode tersebut, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 17,17 % hingga mencapai 22,95 %. Peranan sektor perdagangan, hotel dan restoran berada di urutan ketiga dan tiap tahunnya menunjukkan kecenderungan peningkatan. Kontribusi sektor ini selama periode 2007 – 2011 mencapai 5,06 sampai dengan 8,26 %. Nilai dan kontribusi sektor-sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Utara sebagaimana tercantum pada Tabel 2.5. dan Tabel 2.7.
Tabel 2.5.
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 - 2011 dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Aceh Utara
(dalam Milyar Rupiah)
No Sektor 2007 2008 2009 2010
*) 2011**)
Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. %
1 Pertanian 1.996,28 17,17 2.146,18 15,78 2.295,27 20,60 2.502,96 22,30 2.718,68 22,95 2 Pertambangan & penggalian 7.432,37 63,91 8.770,35 64,48 5.837,70 52,38 5.344,79 47,62 5.323,80 44,94
3 Industri pengolahan 270,73 2,33 299,69 2,20 332,33 2,98 370,69 3,30 411,44 3,47
4 Listrik, gas, & air bersih 12,93 0,11 16,32 0,12 17,59 0,16 18,91 0,17 20,30 0,17
5 Konstruksi 247,76 2,13 340,90 2,51 374,99 3,36 422,08 3,76 468,2 3,95
6 Perdagangan, hotel, & restoran
587,93 5,06 732,43 5,39 802,59 7,20 881,47 7,85 978,9 8,26
7 Pengangkutan & komunikasi 421,35 3,62 521,46 3,83 599,71 5,38 666,71 5,94 748,72 6,32 8 Keuangan, sewa, & jasa
Perusahaan
133,51 1,15 177,58 1,31 207,12 1,86 242,96 2,16 283,37 2,39
9 Jasa-jasa 526,35 4,53 595,74 4,38 677,33 6,08 772,93 6,89 894,32 7,55
PDRB 11.629,21 100,00 13.600,65 100,00 11.144,63 100,00 11.223,50 100,00 11.847,73 100,00
(Sumber : PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Aceh Utara 2008 – 20119) *) Angka Diperbaiki
**) Angka Sementara
Apabila sub sektor migas tidak dimasukkan dalam penghitungan, maka terlihat terjadinya pergeseran kontribusi masing-masing sektor. Kontribusi terbesar pada tahun 2011 yaitu dari sektor pertanian yang mencapai 41,31 %, diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan kontribusi sebesar 14,88 % serta sektor jasa-jasa sebesar 13,59 %.
Selanjutnya adalah sektor pengangkutan dan komunikasi dengan kontribusi sebesar 11,38 %, sektor bangunan/kontruksi dengan kontribusi
sebesar 7,12 %, dan sektor industri pengolahan sebesar 6,25 %. Sedangkan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan berkontribusi 4,31 %. Sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik dan air minum dengan kontribusi masing-masing berada di bawah 1 %. Nilai dan kontribusi sektor-sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Utara tanpa migas sebagaimana tercantum pada Tabel 2.6. dan Tabel 2.8.
Tabel 2.6.
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 - 2011 Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Aceh Utara
(dalam Milyar Rupiah)
No Sektor 2007 2008 2009 2010 *) 2011**) Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % 1 Pertanian 1.996,28 47,07 2.146,18 44,00 2.295,27 42,85 2.502,96 42,19 2.718,68 41,31 2 Pertambangan & penggalian 44,22 1,04 46,95 0,96 50,04 0,93 53,22 0,90 56,57 0,86 3 Industri pengolahan 270,73 6,38 299,69 6,14 332,33 6,20 370,69 6,25 411,44 6,25
4 Listrik, gas, & air bersih 12,93 0,30 16,32 0,33 17,59 0,33 18,91 0,32 20,30 0,31
5 Konstruksi 247,76 5,84 340,90 6,99 374,99 7,00 422,08 7,12 468,2 7,11
6 Perdagangan, hotel, & restoran
587,93 13,86 732,43 15,02 802,59 14,98 881,47 14,86 978,9 14,88
7 Pengangkutan & komunikasi
421,35 9,94 521,46 10,69 599,71 11,19 666,71 11,24 748,72 11,38
8 Keuangan, sewa, & jasa Perusahaan
133,51 3,15 177,58 3,64 207,12 3,87 242,96 4,10 283,37 4,31
9 Jasa-jasa 526,35 12,41 595,74 12,21 677,33 12,64 772,93 13,03 894,32 13,59
PDRB 4.241,06 100,00 4.877,25 100,00 5.356,97 100,00 5.931,93 100,00 6.580,50 100,00 Sumber : PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Aceh Utara 2008 - 2011
*) Angka Diperbaiki **) Angka Sementara
Tabel 2.7.
Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007-2011 dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk)
Kabupaten Aceh Utara
Sektor Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) 1 Pertanian 17,17 19,49 15,78 22,47 20,60 25,27 22,30 26,92 22,95 26,53 2 Pertambangan & penggalian 63,91 56,38 64,48 47,99 52,38 39,82 47,62 34,05 44,94 33,12 3 Industri pengolahan 2,33 3,63 2,20 4,27 2,98 4,91 3,30 5,34 3,47 5,37
4 Listrik, gas, & air bersih
0,11 0,10 0,12 0,14 0,16 0,16 0,17 0,18 0,17 0,18
5 Konstruksi 2,13 2,32 2,51 2,89 3,36 3,38 3,76 3,73 3,95 3,81
6 Perdagangan, hotel, & restoran
5,06 6,44 5,39 7,91 7,20 9,26 7,85 10,21 8,26 10,41 7 Pengangkutan & komunikasi 3,62 4,51 3,83 5,44 5,38 6,40 5,94 7,13 6,32 7,35 8 Keuangan, sewa, & jasa Perusahaan 1,15 1,11 1,31 1,35 1,86 1,61 2,16 1,83 2,39 1,92 9 Jasa-jasa 4,53 6,01 4,38 7,54 6,08 9,20 6,89 10,61 7,55 11,31 PDRB 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Tabel 2.8.
Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007-2011 Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk)
Kabupaten Aceh Utara
Sektor Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) Hb (%) Hk (%) 1 Pertanian 47,07 44,16 44,00 42,69 42,85 41,48 42,19 40,33 41,31 39,19 2 Pertambangan & penggalian 1,04 1,18 0,96 1,18 0,93 1,20 0,90 1,20 0,86 1,21 3 Industri pengolahan 6,38 8,22 6,14 8,12 6,20 8,06 6,25 8,00 6,25 7,93
4 Listrik, gas, & air
bersih 0,30 0,23 0,33 0,26 0,33 0,26 0,32 0,27 0,31 0,27 5 Konstruksi 5,84 5,26 6,99 5,49 7,00 5,55 7,12 5,59 7,11 5,63 6 Perdagangan, hotel, & restoran 13,86 14,59 15,02 15,04 14,98 15,20 14,86 15,29 14,88 15,38 7 Pengangkutan & komunikasi 9,94 10,23 10,69 10,34 11,19 10,50 11,24 10,67 11,38 10,85
8 Keuangan, sewa, &
jasa Perusahaan 3,15 2,51 3,64 2,56 3,87 2,65 4,10 2,75 4,31 2,84
9 Jasa-jasa 12,41 13,62 12,21 14,32 12,64 15,10 13,03 15,90 13,59 16,70
PDRB 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
b. Laju Inflasi
Laju inflasi Kabupaten Aceh Utara selama periode tahun 2007-2011 menunjukkan penurunan dari 4,18 % menjadi 3,55 % dengan berpedoman pada perhitungan inflasi di Kota Lhokseumawe. Angka inflasi selama periode berfluktuatif terutama pada tahun 2008 dan 2010 terjadi peningkatan yang sangat signifikan mencapai 13,78 % dan 7,19 %. Peningkatan inflasi yang cukup tinggi pada tahun-tahun tersebut dipengaruhi oleh inflasi volatile food. Inflasi ini dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik.
Perkembangan tingkat inflasi di Kabupaten Aceh Utara, pola kecenderungannya mempunyai kesamaan dengan kecenderungan inflasi Aceh dan Nasional. Nilai rata-rata inflasi Kabupaten Aceh Utara periode 2007-2011 sebagaimana tercantum pada Tabel 2.9.
Tabel 2.9.
Nilai Inflasi Rata-Rata Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
Uraian Tahun Rata-rata
Pertumbuhan
2007 2008 2009 2010 2011
Aceh Utara 4,18 13,78 3,96 7,19 3,55 47,33 Aceh 9,41 11,92 3,72 5,86 3,43 -6,51 Nasional 6,59 11,06 2,78 6,96 3,79 24,44 Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh
c. Pendapatan Regional Perkapita
Produk Domestik Regional Bruto Perkapita merupakan hasil bagi antara PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, sedangkan Pendapatan Regional per kapita diperoleh dari hasil bagi antara Produk Domestik Regional Neto (PDRN) atas biaya faktor produksi (PDRB yang telah dikurangi penyusutan dan pajak tak langsung) dengan penduduk pertengahan tahun. Peningkatan jumlah penduduk dan besarnya PDRB sangat menentukan besarnya PDRB perkapita.
Berdasarkan Gambar 2.9. menunjukkan bahwa untuk tahun 2011, pendapatan regional perkapita Kabupaten Aceh Utara atas dasar harga berlaku mencapai 19,43 juta rupiah atau mampu tumbuh 1,03 persen dari tahun 2010 yang hanya mencapai angka 18,85 juta rupiah. Peningkatan ini salah satunya dipengaruhi oleh peningatan total nilai PDRB dengan migas atas dasar harga berlaku sebesar 5,56 persen untuk tahun 2011. Sedangkan pada tahun yang sama, pertumbuhan penduduk hanya sebesar 1,02 persen. Namun angka pendapatan regional perkapita Aceh Utara pada tahun 2011 masih dibawah pencapaian tahun 2008 sebesar 23,45 juta rupiah.
Untuk pencapaian regional perkapita tahun 2011 berdasarkan harga konstan, menunjukkan kecenderungan menurun setiap tahunnya. Pada tahun 2007, nilai pendapatan regional perkapita Aceh Utara sebesar 10,12 juta rupiah dan terus menurun hingga mencapai 7,14 juta rupiah pada tahun 2010. Namun, untuk tahun 2011 terjadi peningkatan menjadi 7,15 juta rupiah. Peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan sebesar 2,46 persen yang lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk.
0 5 10 15 20 25
Harga Berlaku Harga Konstan
2007 2008 2009 2010 2011 Gambar 2.9.
Pendapatan Regional Perkapita dengan Migas Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 – 2011 (Juta Rupiah)
Sementara itu, untuk pendapatan regional perkapita Aceh Utara tanpa migas sebagaimana tercantum pada Gambar 2.10., baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan, tiap tahunnya menunjukkan kecenderungan terus meningkat. Pada tahun 2007 pendapatan regional perkapita atas dasar harga berlaku tercatat sebesar 7,57 juta rupiah dan terus meningkat menjadi 11,02 juta rupiah pada tahun 2011. Peningkatan pada tahun 2011 dipengaruhi oleh pertumbuhan total nilai PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku sebesar 10,73 persen yang lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk yang hanya sebesar 1,02 persen.
Untuk pendapatan regional perkapita tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2007, nilai pendapatan regional perkapita atas dasar harga konstan mencapai 4,56 juta rupiah dan terus menunjukkan peningkatan menjadi 4,94 juta rupiah pada tahun 2011.
Gambar 2.10.
Pendapatan Regional Perkapita Tanpa Migas Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 – 2011 (Juta Rupiah)
d. Indeks Gini (Ketimpangan Pendapatan)/untuk provinsi
Untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat dapat dilakukan dengan mengevaluasi Rasio Gini yang memiliki kisaran nilai 0 - 1. Jika bernilai nol artinya pemerataan sempurna dan sebaliknya jika bernilai satu berarti ketimpangan sempurna. Rasio Gini lebih kecil dari 0,4 menunjukkan tingkat ketimpangan rendah, nilai 0,4-0,5 menunjukkan tingkat ketimpangan sedang dan nilai lebih besar dari 0,5 menunjukkan tingkat ketimpangan tinggi.
0 2 4 6 8 10 12
Harga Berlaku Harga Konstan
2007 2008 2009 2010 2011
Rasio gini Provinsi Aceh pada tahun 2007-2008 sebesar 0,27, dan tahun 2009 sebesar 0,29 masih tergolong dalam kelompok ketimpangan rendah. Indeks gini yang rendah ini tidak bermakna positif karena rendahnya indeks gini tersebut dipengaruhi oleh dominasi kolompok masyarakat miskin. Hal ini tergambar dari pendapatan perkapita penduduk Aceh (non migas) pada tahun 2011 berdasarkan harga konstan hanya sebesar Rp. 6.718.952/tahun
(Rp.559.913/bulan) atau berdasarkan harga berlaku sebesar Rp. 15.943.742/tahun (1.328.645/bulan).
e. Pemerataan Pendapatan/untuk proinsi
Berdasarkan kriteria World Bank, menyebutkan bahwa proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan rendah. Sementara itu, distribusi pendapatan penduduk Aceh untuk tahun 2007 pada kelas 40 persen terendah sebesar 22,63 persen, kelas 40 persen menengah sebesar 39,38 persen dan kelas 20 persen tinggi sebesar 37,99 persen. Sedangkan pada tahun 2008 distribusi
pendapatan penduduk pada kelas 40 persen terendah sebesar 22,64 persen, kelas 40 persen menengah sebesar 38,68 persen dan kelas 20 persen tinggi sebesar 38,68 persen (BPS, 2009). Upaya untuk menurunkan persentase distribusi pendapatan penduduk kelas 40 persen terendah sebesar 22,64 persen yang didominasi oleh penduduk miskin perlu dilakukan. Hal ini dapat ditempuh melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan SDM, perbaikan infrastruktur, akses pasar, modal, pengembangan ekonomi lokal dan promosi potensi sumberdaya alam.
f. Ketimpangan Regional/untuk provinsi
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi dalam pemerataan antar daerah maka dapat digunakan indikator pemerataan yaitu Indeks Williamson (IW). Nilai IW lebih besar dari nol menunjukkan adanya kesenjangan ekonomi antar wilayah, semakin besar indeks yang dihasilkan semakin besar tingkat kesenjangan antar wilayah.
Hasil evaluasi nilai PDRB perkapita kabupaten/kota di Provinsi Aceh menunjukkan bahwa nilai IW Provinsi Aceh yang dievaluasi dengan PDRB perkapita migas pada tahun 2007 sebesar 2,27 yang menurun menjadi 2,20 pada
tahun 2008. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan indeks disparitas antar wilayah masih relatif kecil. Selanjutnya IW provinsi Aceh yang dievaluasi dengan PDRB perkapita non-migas pada tahun 2007 sebesar 1,29 menurun menjadi 1,20 pada tahun 2008. Indeks Williamson yang dihitung dengan PDRB perkapita migas menunjukkan nilai yang lebih tinggi dari nilai IW PDRB perkapita non migas. Hal ini menggambarkan bahwa beberapa kabupaten/kota (seperti Lhokseumawe, Aceh Utara dan Aceh Timur) memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan nilai IW.
Sementara itu, Depkeu (2010) melaporkan bahwa IW Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0,49 dan sebesar 0,48 pada tahun 2008. Data di atas menunjukkan bahwa nilai IW Provinsi Aceh masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan nilai IW Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat ketimpangan antar kabupaten/kota di Aceh menurut ukuran PDRB perkapita penduduk. Oleh karena itu, beberapa kabupaten/kota yang memiliki PDRB perkapita penduduk rendah menjadi sasaran utama pembangunan lima tahun ke depan.
g. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan persoalan makro yang harus diatasi secara berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk menanggulangi kemiskinan sesuai prioritas pembangunan yang tercantum dalam RPJM Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2012. Berbagai program pembangunan jangka menengah telah diimplimentasikan, baik di bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Kerja keras dan upaya yang telah dilakukan tersebut telah mampu menurunkan tingkat kemiskinan rata-rata 13,58 persen setiap tahunnya sepanjang tahun 2007-2011. Akhir tahun 2011, tercatat penduduk miskin di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 124.660 jiwa, atau 22,89 persen dari jumlah penduduk sebagaimana tercantum pada Gambar 2.11.
Tiga tahun sebelumnya (Tahun 2007), penduduk miskin yang mendiami di Kabupaten Aceh Utara mencapai 33,16 persen, jauh lebih tinggi dibanding Nasional (16,60 persen) dan Aceh (26,65 persen). Memasuki 4 tahun pelaksanaan RPJM Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2012, atau di akhir tahun 2011 tercatat penduduk miskin sebesar 22,89 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat Aceh Utara semakin meningkat dan terus mengalami perbaikan sepanjang tahun 2007-2011.
Pengurangan angka kemiskinan yang dicapai Kabupaten Aceh Utara sepanjang tahun 2007-2011 masih tergolong tinggi di banding Nasional dan hampir menyamai Aceh. Tahun 2010, penduduk miskin Nasional sebesar 13,30 persen dan Aceh sebesar 20,98 persen. Penanggulangan kemiskinan harus menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Aceh Utara ke depan, termasuk memberikan perhatian yang lebih besar, tepat sasaran, dan terfokus melalui implimentasi pembangunan pada wilayah-wilayah yang menjadi kantong kemiskinan, terutama di wilayah pesisir.
Gambar 2.11.
Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
(Sumber : BPS, 2011)
h. Angka Kriminalitas
Berdasarkan Data BPS Aceh Utara tahun 2009 tindak kriminalitas di wilayah tugas Polres Aceh utara terdapat 31 jenis tindak kriminalitas. Jenis-jenis kasus yang paling menonjol terjadi dalam masyarakat adalah seperti kasus
pencurian biasa dari 30 kasus yang terjadi tahun 2007 meningkat menjadi 38 kasus tahun 2008 dan mengalami penurunan pada tahun 2009 sebanyak 22 kasus saja. Selanjutnya tindak kriminal penganiayaan ringan sebanyak 31 kasus pada tahun 2007, 18 kasus pada tahun 2008 dan kembali mengalami
penurunan 15 kasus pada tahun 2009. Sementara itu tindak kriminal curanmor dimana pada tahun 2007 tingkat kriminalitas kasus ini sebanyak 31 kasus, tahun
2008 sebanyak 18 kasus dan kembali mengalami penurunan pada tahun 2009 sebanyak 14 kasus.
Tabel 2.10.
Indeks Tindak Kriminalitas Menonjol di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2009
No Jenis Kriminalitas Tahun
2007 2008 2009 1 Pencurian Biasa 30 38 22 2 Aniaya Ringan 31 18 15 3 Curanmor 31 18 14 4 Penggelapan 38 1 8 5 Penipuan 40 - 5 6 Narkotika 46 5 5 7 Pengrusakan 10 2 4 Jumlah 226 82 73
(Sumber : Aceh Utara Dalam Angka 2011)
Selain dari ketiga jenis tindak kriminalitas yang mendominasi kasus di tahun 2007-2009 juga terdapat beberapa kasus lainnya dalam masyarakat seperti kasus-kasus penggelapan yang terjadi sebanyak 8 kasus pada tahun 2009, penipuan sebanyak 5 kasus, kejahatan norkotika, KDRT, illegal logging, pengrusakan dan beberapa jenis tindak kriminal lainnya. Jika diamati perkembangan kasus-kasus yang terjadi dari tahun ke tahun dapat kita ketahui bahwa terjadinya penurunan tindak kriminalitas di daerah hukum Kabupaten Aceh Utara. Hal ini disebabkan semakin kondusif kondisi keamanan pasca penandatangan MoU-Helsinki antara pemerintah RI dengan GAM pada bulan Agustus tahun 2005.
2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial 2.2.2.1. Pendidikan
a. Angka Melek Huruf
Angka melek huruf penduduk berumur 10 tahun keatas di Kabupaten Aceh Utara juga terlihat mengalami kemajuan sepanjang tahun 2007-2010. Angka melek huruf telah mencapai 98,12 persen tahun 2010, jauh lebih tinggi dari tahun 2007 yang masih sebesar 94,72 persen. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga telah mengupayakan untuk mengurangi kesenjangan yang melebar antara laki-laki dan perempuan dalam hal kemampuan membaca dan menulis. Sepanjang tahun 2007-2009, angka melek huruf laki-laki jauh lebih tinggi dari kaum perempuan. Memasuki tahun 2010, angka melek huruf laki-laki tidak berbeda jauh dengan perempuan. Sampai tahun 2010, tercatat angka melek huruf laki-laki mencapai 98,17 persen, atau sekitar 1,83 persen masih buta
huruf. Angka melek huruf perempuan sebanyak 98,07 persen dan sekitar 1,93 persen masih buta huruf. Tahun 2007, angka melek huruf laki-laki sebanyak 94,21 persen dan perempuan sebanyak 93,29 persen.
Gambar 2.12
Penduduk berumur 10 tahun keatas Menurut Kemampuan Membaca dan Menulis di Kabupaten Aceh Utara
Tahun 2007-2010 (Persen) (Sumber : BPS Aceh)
b. Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Terdapat kecenderungan yang terus membaik angka rata-rata lama sekolah di Aceh Utara, dan jauh lebih tinggi dari Provinsi Aceh. Tahun 2007, tercatat angka lama sekolah di Aceh Utara 9,10 tahun dan Provinsi Aceh 8,50 tahun. Angka tersebut telah meningkat pada tahun 2009 menjadi 9,12 tahun dan hingga mencapai 9,15 tahun pada akhir tahun 2010, atau telah mencapai wajib pendidikan dasar 9 tahun, sementara rata-rata lama sekolah di Aceh masih 8,81 tahun pada tahun 2010.
Sumber : BPS Aceh
Gambar 2.13
Angka rata-rata Lama Sekolah Kabupaten Aceh Utara dan Aceh, Tahun 2007-2010
c. Angka Partisipasi Kasar (APK)
Salah satu indikator ketersediaan akses layanan pendidikan ditunjukkan dengan capaian Angka Partisipasi Kasar (APK). Kondisi APK di Kabupaten Aceh Utara terus menggambarkan trend yang positif dari tahun ke tahun sejak 2007 hingga 2011. Jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah bahkan capaian APK telah melampaui angka 100 persen tahun 2007, 2008 dan tahun 2011. Hal ini terjadi karena jumlah anak yang bersekolah di tingkat SD/MI melebihi jumlah penduduk usia 6-12 tahun terutama di kecamatan perbatasan dengan kabupaten lain. Sementara tingkat partisipasi jenjang SMP/MTs masih berada dibawah angka 100 persen meskipun terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2007 s.d tahun 2011 rata-rata sebesar 3-5 persen. Untuk jenjang pendidikan menengah yaitu SMA/SMK dan MA posisinya masih berada dibawah capaian SMP/MTs, sepanjang tahun 2007 -2011 bila dirata-ratakan dari ketiga jenjang pendidikan, maka tingkat Angka Partisipasi Kasar (APK) tertinggi adalah tahun 2011 yaitu 90,17 persen dan Angka Partisipasi Kasar (APK) terendah pada tahun 2008 yaitu sebesar 78,40, hal ini disebabkan karena belum setiap kecamatan memiliki minimal 1 (satu) sekolah menengah sejak tahun 2008. Akan tetapi upaya terus dilakukan dengan pendekatan sosialisasi dan pengadaan unit sekolah baru dikecamatan-kecamatan yang belum memiliki sekolah sehingga dapat menaikkan Angka Partisipasi Kasar (APK).
Tabel 2.11
Angka Partisipasi Kasar Kabupaten Aceh Utara dan Aceh, Tahun 2007-2011
JENJANG PENDIDIKAN TAHUN 2007 2008 2009 2010 2011 SD/MI 109,92 100,17 97,87 97,67 110,72 SMP/MTs 85,92 77,45 84,87 81,44 89,88 SMA/SMK/MA 57,58 57,73 60,87 61,93 69,90
d. Angka Pendidikan yang Ditamatkan
Trend angka siswa menamatkan sekolah pada setiap jenjang pendidikan menunjukkan perkembangan yang terus meningkat dalam 5 (lima) tahun terakhir sejak 2009 s.d 2013, yaitu dari 19.951 orang menjadi 25,995 orang atau mencapai 30,1 persen, pada tabel berikut menunjukkan jumlah siswa yang menamatkan pendidikan pada setiap jenjang sekolah sejak tahun 2008 hingga 2012. Bila dilihat perbandingan siswa laki-laki dan perempuan maka dapat disimpulkan bahwa lebih besar siswa perempuan yang menamatkan sekolah pada masing-masing jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/SMK dan MA. Meningkatnya angka siswa yang menamatkan sekolah pada setiap jenjang pendidikan dipengaruhi beberapa faktor antara lain adanya
upaya-upaya yang dilakukan untuk membantu siswa seperti remedial teaching, try out Ujian Nasional dan pengadaan buku-buku paket untuk memenuhi kebutuhan siswa.
Tabel 2.12
Angka Pendidikan yang Ditamatkan Kabupaten Aceh Utara
Tahun 2009-2013 Jenis Kelamin Jenjang Tahun Pendidikan 2009 2010 2011 2012 2013 LK SD/MI 5.815 5.542 5.345 5.202 SMP/MTs 3.442 3.365 3.474 3.724 SMA/SMK/MA 2.682 2.724 2.832 2.773 Pr SD/MI 5.656 5.466 5.580 6.358 SMP/MTs 4.069 3.743 4.314 4.550 SMA/SMK/MA 3.105 3.573 3.460 3.388
e. Angka Partisipasi Murni (APM)
Angka Partisipasi Murni (APM) cenderung lebih baik dan mengalami peningkatan pada tingkat pendidikan SD/MI. Tercatat APM SD/MI tahun 2007
sebesar 89,84 persen dan tahun 2011 telah meningkat hingga menjadi 93,95 persen.Sementara APM SMP/MTs dan SLTA/MA masih berada dibawah
100 persen, meskipun tren menunjukkan peningkatan hingga pada akhir tahun 2011.
Pada tahun 2011 tercatat APM SLTP sebesar 66,85 persen dan APM SLTA sebesar 51,14 persen. Rendahnya APM pada jenjang pendidikan SLTP dan SLTA dapat dimaknai pula masih banyak anak usia sekolah yang tidak melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan SLTP dan SLTA. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus berupaya keras untuk meningkatkan akses pendidikan dan memberikan perhatian khusus untuk anak usia sekolah dari keluarga miskin, di samping juga menggugah kesadaran masyarakat turut berperan signifikan dalam mendorong percepatan pembangunan pendidikan di Aceh Utara.
Tabel 2.13
Angka Partisipasi Murni Kabupaten Aceh Utara dan Aceh, Tahun 2007-2011
JENJANG PENDIDIKAN TAHUN 2007 2008 2009 2010 2011 SD/MI 89,84 85,08 82,13 82,06 93,95 SMP/MTs 64,96 59,25 63,79 59,27 66,85 SMA/SMK/MA 38,96 38,93 47,47 44,73 51,14
2.2.2.2. Kesehatan
a. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi
Meskipun angka harapan hidup masyarakat bergerak naik secara signifikan, namun Angka Kematian Ibu (AKI) masih cenderung lebih tinggi di Aceh Utara. Pada tahun 2007 AKI Kabupaten Aceh Utara yaitu 137 per 100.000 kelahiran hidup (KH). Dari tahun 2007 sampai dengan 2011, AKI tertinggi terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 203 per 100.000 KH. Pada tahun 2010, AKI di Aceh Utara sebanyak 140 per 100.000 KH. Sedangka tahun 2011 AKI Kabupaten Aceh Utara turun menjadi 151 per 100.000 KH. Namun Angka tersebut tergolong tinggi dan belum mencapai target MDGs (102 per 100.000 kelahiran hidup) hingga tahun 2015. Masih tingginya AKI di Kabupaten Aceh Utara disebabkan perdarahan, pre eklamsi, hamil dengan penyakit kronis lain. Upaya tindak lanjut untuk menurunkan angka kematian ibu dengan cara meningkatkan pelayanan antenatal Care, pertolongan persalinan dan perawatan nifas.
Angka Kematian Bayi (AKB) juga masih memerlukan perhatian yang serius dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Pada tahun 2007 AKB Kabupaten Aceh Utara sebesar 7,3 per 1000 kelahiran, mengalami penurunan pada tahun 2008 sebesar 4,3 per 1000 kelahiran. Namun pada tahun 2009 dan 2010 mengalami peningkatan yaitu 8,7 dan 8,2 per 1000 kelahiran. Tahun 2011 AKB mengalami penurunan yaitu 5,9 per 1000 kelahiran atau sudah mencapai target MDGs (23 kematian setiap 1.000 kelahiran), kondisi tersebut bukan tidak mungkin AKB akan meningkat pada tahun-tahun mendatang. Kematian bayi di
0 50 100 150 200 250 2007 2008 2009 2010 2011 A K I P e r 1 0 0 .0 0 0 K H Tahun Kematian Ibu Gambar 2.14
Angka Kematian Ibu Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
Kabupaten Aceh Utara disebabkan berat bayi lahir rendah (BBLR), apeksia, kelainan bawaan, infeksi, pnemonia.
Upaya pencegahan sangat dibutuhkan untuk menurunkan angka kematian bayi dan ibu. Upaya yang ditempuh guna percepatan penurunan jumlah kematian bayi yaitu melalui peningkatan cakupan Imunisasi, peningkatan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan penempatan bidan desa. Upaya lain yang masih perlu ditingkatkan termasuk memperkuat sistem surveilans kesehatan ibu, bayi dan balita. Peningkatan keterampilan bidan sebagai pemberi asuhan kepada ibu, bayi dan keluarga perlu didukung dengan perbaikan sistem dan strategi pelatihan yang komprehensif. Upaya memberdayakan masyarakat melalui promosi desa siaga perlu didukung oleh tenaga kesehatan yang mampu memberikan motivasi, menggerakkan masyarakat untuk siap antar jaga ibu hamil dan melahirkan, sehingga kasus kematian pada kehamilan, persalinan dan nifas dapat ditekan dan pada akhirnya berdampak pada penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Kabupaten Aceh Utara. Perbaikan sistem rujukan dan pelayanan rumah sakit yang mempunyai standar keterjaminan, pelayanan yang cepat dan terukur. Kebijakan lanjutan dan inovasi-inovasi di sektor kesehatan guna meningkatkan derajat hidup kesehatan ibu dan balita, tetap sangat dibutuhkan. Disamping mempertahankan kebijakan Askeskin atau Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang telah gulirkan selama ini, kebijakan kesehatan lainnya yang pro-miskin patut juga diupayakan dilaksanakan secara berkelanjutan, seperti peningkatan bantuan makanan bergizi bagi bayi/balita, pelayanan gratis dan cepat bagi ibu hamil/ibu melahirkan, jaminan persalinan, dan lainnya.
0 2 4 6 8 10 2007 2008 2009 2010 2011 A K B P e r 1 .0 0 0 K H
Kematian Bayi
Kematian Bayi Gambar 2.15Angka Kematian Bayi Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
b. Angka Harapan Hidup
Perkembangan usia harapan hidup Kabupaten Aceh Utara dari tahun 2007 sampai dengan 2011 menunjukkan kondisi positif terhadap peningkatan angka usia harapan hidup, meskipun belum mencapai angka ideal. Tahun 2007, angka harapan hidup masyarakat Aceh Utara sebesar 69,41 tahun, lebih tinggi dari Provinsi Aceh yang mencapai 68,40 tahun. Selanjutnya, angka tersebut meningkat menjadi 69,52 tahun pada tahun 2008 (Aceh 68,50 tahun). Memasuki tahun 2010, angka harapan hidup masyarakat Aceh Utara terus bergerak naik menjadi 69,74 tahun, dari sebelumnya 69,63 tahun (tahun 2009). Bahkan juga cenderung lebih tinggi dari Aceh yang masih 68,70 tahun (kondisi tahun 2010). Angka harapan hidup masyarakat Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011 yaitu 69,80 tahun, angka ini lebih tinggi dari provinsi Aceh yaitu 68,80 tahun. Peningkatan umur harapan hidup Kabupaten Aceh Utara disebabkan meningkatnya ekonomi masyarakat, peningkatan pengetahuan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan turunnya angka kematian anak. 67,5 68 68,5 69 69,5 70 2007 2008 2009 2010 2011 Aceh Utara 69,41 69,52 69,63 69,74 69,8 Aceh 68,4 68,5 68,6 68,7 68,8 U M U R Gambar 2.16
Tren Angka Harapan Hidup Kabupaten Aceh Utara dan Aceh, Tahun 2007-2011
( Sumber : BPS Aceh)
c. Persentase Balita Gizi Buruk
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilaksanakan melalui peningkatan promosi Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi), pemantauan status gizi balita, pemberian makanan tambahan balita gizi kurang dan buruk, pemberian makanan tambahan ibu hamil kurang energi kronis serta perawatan balita gizi buruk. Berdasarkan data pemantauan status gizi Kabupaten Aceh Utara dari tahun 2008 sampai
dengan 2011, jumlah Balita gizi buruk menurun dari 486 orang pada tahun 2008 menjadi 266 orang pada tahun 2011. Demikian juga dengan balita gizi kurang juga cenderung menurun dari 836 orang pada tahun 2008 menjadi 322 orang pada tahun 2011. Penurunan ini disebabkan peningkatan promosi kesehatan, pemantauan status gizi, pemberian makanan tambahan dan perawatan balita gizi buruk. Masih ditemukan Balita BGM dan Gizi buruk sangat berhubungan dengan pengetahuan, sosial ekonomi dan perilaku ibu sejuak awal kehamilan dan mnenyusui. Masih rendahnya pemberian ASI selama 6 bulan tanpa pemberian makanan pendamping atau tambahan ( ASI Ekslusif) menunjukkan masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi.
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 2009 2010 2011 486 314 266 836 306 322 Ju m la h Tahun
Balita Gizi Buruk Balita Gizi Kurang
Gambar 2.17
Jumlah Balita Gizi Buruk Dan Kurang Kabupaten Aceh Utara Tahun 2009-2011
(Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara 2011)
Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi.
d. Persentase Balita Pendek dan Kurus
Kejadian Balita pendek di Kabupaten Aceh Utara dari tahun 2009 sampai dengan 2011 mengalami peningkatan dari 20,9% pada tahun 2008 menjadi 40,7% pada tahun 2011. Demikian juga dengan kejadian balita kurus juga mengalami peningkatan dari 9,7% pada tahun 2008 menjadi 14,9 pada tahun
2011. Peningkatan ini disebabkan peningkatan pemantauan status gizi oleh petugas kesehatan. Penyebab banyaknya balita pendek dan kurus yaitu gangguan konsumsi makanan yang menyebabkan keterlambatan pertumbuhan, kurangnya konsumsi zat gizi tertentu misalnya yodium dan zing. Penyakit infeksi dan Kurangnya kebutuhan nutrisi pada saat kehamilan.
0 10 20 30 40 50 2009 2010 2011 20,9 40,2 40,7 9,7 13,3 14,9 P e rs en ta se Tahun
Balita Pendek dan Kurus
Balita Pendek Balita kurus
Gambar 2.18
Jumlah Balita Pendek Dan Kurus Kabupaten Aceh Utara Tahun 2009-2011
(Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara 2011 )
2.2.2.3. Ketenagakerjaan
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara masih menghadapi tantangan yang di bidang ketenagakerjaan, berupa terbatasnya lapangan kerja dan kualitas tenaga kerja yang relatif rendah. Sepanjang tahun 2009-2013, angkatan kerja di Aceh Utara telah meningkat mencapai 58.418 orang, atau naik rata-rata sebesar 7,1 persen setiap tahunnya.
Tabel 2.14
Rasio Penduduk Kabupaten Aceh Utara yang Bekerja SelamaPeriode Tahun 2009 – 2011
Rasio Penduduk yang Bekerja
Karakteristik 2009 2010 2011
Angkatan kerja 218.964 214.541 231.818
Penduduk yang bekerja 194.884 187.124 211.686
Rasio Penduduk yang Bekerja 0,89 0,87 0,91
Sumber : BPS Kabupaten Aceh Utara Tahun 2012 : Angka Perkiraan
Dari keseluruhan angkatan kerja pada tahun 2011, yang tidak terserap pada lapangan kerja atau tergolong sebagai pengangguran sebanyak 16.508 orang atau mencapai 6,65 persen. Dibandingkan tahun 2009, terjadi penurunan pengangguran di Kabupaten Aceh Utara rata-rata 1,84 persen setiap tahunnya.