WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE
Volume 3, Nomor2, August 2021, p.
ISSN 2655-9951 (print), ISSN 2656
Hubungan Pengetahuan Da
Pencegahan Gastritis Pada Mahasiswa
Di Universitas Aisyah Pringsewu Tahun 2021
M. Dzikri1*); Tri Adi Nugroho2; Sutrisno
1*),2,3,4 Fakultas Kesehatan Program Studi Ilmu
ARTICLE INFO
Kata Kunci:
Knowledge Stress Level
Gastritis Prevention Behavior
*) corresponding author
M. Dzikri
Fakultas Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Aisyah Pringsewu Email: [email protected]
DOI: 10.30604/well.172322021
PENDAHULUAN
Gastritis merupakan salah satu masalah saluran pencernaan yang paling sering terjadi dan paling sering dijumpai di klinik karena diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan histopatologi. Gastritis dianggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari suatu penyakit yang dapat mengganggu kualitas hidup seseorang(Hirlan, 2014).
WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE
, p. 197 – 207 2656-0062 (online)
Pengetahuan Dan Tingkat Stres Dengan Perilaku Pencegahan Gastritis Pada Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan Reguler
Aisyah Pringsewu Tahun 2021
Sutrisno3; Dian Arif Wahyudi4
Fakultas Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Aisyah Pringsewu
A B S T R A C T
Keperawatan, Universitas Aisyah Pringsewu
According to the World Health Organization (WHO), the genesis of gastritis in the world is around 1.8-2.1 million of the population each year, in the UK (22%), China (31%), Japan (14.5), Canada (35%). %), and France (29.5%). While in Southeast Asia around 586,635 of the population each year. The percentage of gastritis in Indonesia is quite
prevalence of 274,396 cases. Based on a preliminary study conducted at Aisyah University of Pringsewu with interviews with 10 students, 70% suffer signs of gastritis. The research objective was to determine the correlation between knowledge and levels with gastritis prevention behavior on nursing students of regular at Aisyah University of Pringsewu 2021. The research design used was a cross sectional approach. The sampling technique used Simple Random Sampling. The sample were 86 respondents used the Gamma statistical test. The results of the correlation of knowledge with gastritis prevention behavior on students at Aisyah University of Pringsewu can be seen that 78.3% of students with good knowledge are 23 people (26.7%), with p value = 0.409. The correlation between student stress levels and gastritis prevention behavior in students at Aisyah University of Pringsewu can be seen by 5 people (83.3%), with p value = 0.018. So it can be concluded that there is no correlation between knowledge and behavior to prevent gastritis and there is a correlation between stress levels and gastritis prevention behavior. It is expected that the community, especially students, can be better to regulate their diet and avoid excessive thoughts.
This is an open access article under the CC–BY
Gastritis merupakan salah satu masalah saluran pencernaan yang paling sering terjadi dan dijumpai di klinik karena diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan histopatologi. Gastritis dianggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari suatu penyakit yang dapat mengganggu kualitas hidup
WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE
n Tingkat Stres Dengan Perilaku Keperawatan Reguler
According to the World Health Organization (WHO), the genesis 2.1 million of the population each year, in the UK (22%), China (31%), Japan (14.5), Canada (35%). %), and France (29.5%). While in Southeast Asia around 586,635 of the population each year. The percentage of gastritis in Indonesia is quite high with a prevalence of 274,396 cases. Based on a preliminary study conducted at Aisyah University of Pringsewu with interviews with 10 students, 70% suffer signs of gastritis. The research objective was to determine the correlation between knowledge and stress levels with gastritis prevention behavior on nursing students of regular at Aisyah University of Pringsewu 2021. The research design used was a cross sectional approach. The sampling technique used Simple Random Sampling. The sample were 86 dents used the Gamma statistical test. The results of the correlation of knowledge with gastritis prevention behavior on students at Aisyah University of Pringsewu can be seen that 78.3% of students with good knowledge are 23 people (26.7%), 0.409. The correlation between student stress levels and gastritis prevention behavior in students at Aisyah University of Pringsewu can be seen by 5 people (83.3%), with p value = 0.018. So it can be concluded that there is no correlation ge and behavior to prevent gastritis and there is a correlation between stress levels and gastritis prevention behavior. It is expected that the community, especially students, can be better to regulate their diet and avoid excessive thoughts.
BY-SA license.
Gastritis merupakan salah satu masalah saluran pencernaan yang paling sering terjadi dan dijumpai di klinik karena diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan histopatologi. Gastritis dianggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari suatu penyakit yang dapat mengganggu kualitas hidup
Menurut World Health Organization (WHO),insiden gastritis di dunia sekitar 1,8-2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahunnya, di Inggris (22%), China (31%), Jepang (14,5), Kanada (35%), dan Perancis (29,5%). Sedangkandi Asia tenggara sekitar 586.635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Presentase dari angka kejadian gastritis di indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus (Dwi Wahyuni et al., 2017).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyatakan bahwa angka kejadian gastritis di beberapa kota di Indonesia yang tertinggi mencapai 91,6% yaitu di kota Medan, lalu di beberapa kota lainnya seperti Surabaya 31,2%, Denpasar 46%, Jakarta 50%, Bandung 32,5%, Palembang 35,3%, Aceh 31,7% dan Pontianak 31,2%. Hal tersebut disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat. Hasil endoskopi di beberapa center rumah sakit didapatkan 44,7 % kasus kelainan pada gastritis dan duodenitis, 6,5% kasus dengan ulkus gaster, dan normal pada 8,2% kasus. Prevalensi pelayanan kesehatan primer dengan keluhan dyspepsia pada geriatric mencapai 30% dan 50% ditemukan pada praktek dokter spesialis penyakit dalam.
Berdasarkan data dinas kesehatan provinsi lampung menyatakan bahwa Gastritis dan dispepsia merupakan 10 penyakit terbanyak yang dikeluhkan masyarakat Lampung pada rentang usia geriatri dan remaja (Farishal et al., 2018).
Gastritis adalah suatuperadangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik difus, atau lokal. Karakteristik dari peradangan ini antara lain anoreksia, rasa penuh atau tidak nyaman pada epigastrium, mual, dan muntah. Peradangan lokalpada mukosa lambung ini akan berkembangan bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lainnya. Penyakit gastritis atau sering dikenal sebagai penyakit maag merupakan penyakit yang sangat menggangu. Biasanya penyakit gastritis terjadi pada orang-orang yang mempunyai pola makan yang tidak teratur dan memakan makanan yang merangsang produksi asam lambung.
Beberapa infeksi mikroorganisme juga dapat menyebabkan terjadinnya gastritis (Ida, 2017).
Pengetahuan adalah suatu hasil tau dari manusia atas penggabungan atau kerjasama antara suatu subyek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Segenap apa yang diketahui tentang sesuatu objek tertentu (Nurroh, 2017)
Stres akademik merupakan kasus yang paling sering dialami oleh siswa, baik pada tingkat sekolah menengah atas maupun perguruan tinggi yang disebabkan oleh tuntutan akademik yang dihadapi semakin banyak seperti tugas sekolah, ujian dan lain−lain.akademik pada siswa terbagi menjadi empat bagian yaitu interpersonal yang mencakup hubungan dengan teman sebaya, intrapersonal yang mencakup hubungan dengan diri sendiri, akademik yang mencakup prestasi di sekolah, lingkungan yang mencakup kondisi sekolah dan lingkungan belajar (Gaol, 2016).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Universitas Aisyah Pringsewu dengan wawancara pada 10 mahasiswa didapatkan 70% dengan keluhan sakit perut bagian atas, dan dari hasil wawancara didapatkan bahwa sebagian mahasiswa mengatakan stress dikarenakan memiliki beban kuliah seperti pengumpulan tugas dengan waktu yang cepat dari berbagai macam mata kuliah terutama saat pembelajaran melalui daring (online) ini sehingga mahasiswa mengatakan bahwa ia sering mengalami pusing, mudah lelah, mual, tidur tidak teratur, dan emosi meningkat, tidak teraturnya dalam makan yang menyebabkan mahasiswa mengalami gastritis.
Dari hasil observasi terdapat mahasiswa yang jajan di kantin kampus rata rata makan makanan pedas dan goreng-gorengan dan berbumbu, mahasiswa juga mengkonsumsi makanan snack dan minuman yang mengandung soda yang dapat menyebabkan gastritis pada mahasiswa
Universitas Aisyah Pringsewu. Pada kenyataannya di temukan beberapa mahasiswa umumnya memiliki gaya hidup yang kurang sehat seperti kurang memperhatikan makanan yang di konsumsi baik pola makan maupun jenis makanan yang di konsumsi, selain itu tidak jarang dari mereka yang memperhatikan untuk makan tepat waktu di karenakan kesibuan di kampus maupun di luar kampus.
Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik melakukan penelitian pada mahasiswa dengan gangguan pencernaan karena penelitian ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga penulis ingin meneliti apakah ada Hubungan Pengetahuan Dan Tingkat Stres mahasiswa dengan Perilaku Pencegahan Gastritis.
METODELOGI PENELITIAN
Jenis penelitian merupakan penjelasan tentang metode yang akan digunakan oleh peneliti.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi menggunakan pendekatan cross sectional. Dimana seluruh variabel yang diamati, di ukur pada saat penelitian berlangsung.Penelitian ini menggunakan data primer untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku pencegahan gastritis di Universitas Aisyah Pringsewu.
Variabel bebas yaitu hubunganpengetahuan dan variabel terkait yaitu perilaku pencegahan gastritis yang akan dikumpulkan dengan waktu bersamaan (Sugiyono, 2015).
Sujarweni, (2014), menyatakan bahwa cross sectional yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan mengambil waktu tertentu yang relatif pendek dan tempat tertentu, dilakukan di beberapa objek yang berbeda taraf.Penelitian ini dilakukan melalui tahap penyebaran kuisioner di Universitas Aisyah Pringsewu.
Penelitian ini akan dilaksanakan di Universitas Aisyah Pringsewu Fakultas Kesehatan Program Studi SI Keperawatan Reguler. Waktu penelitian pengumpulan data telah dilaksanakan selama 1 bulan dimulai pada bulan Maret 2021 sampai April 2021.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Keperawatan SI Reguler dengan total populasi 111 responden di Universitas Aisyah Pringsewu.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Analisis Univariat
a. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.1
Jenis kelamin Jumlah Persentase (%)
laki-laki 16 18,6
Peremuan 70 81,4
Jumlah 86 100,0
Berdasarkan perhitungan dari table 4.1 karakteristik responden jenis kelamin didapatkan 16 orang (18,6%) yang berjenis kelamin laki-laki dan 70 orang (81,4%) yang berjenis kelamin perempuan.
b. Distribusi Frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia Tabel 4.2
Jenis kelamin Jumlah Persentase (%)
laki-laki 16 18,6
Peremuan 70 81,4
Jumlah 86 100,0
Berdasarkan perhitungan dari tabel 4.2 karakteristik responden usia didapatkan 54 orang (62,8%) yang berusia 18 sampai 20 tahun, dan 32 orang (37,2%) yang berusia 21 sampai 23 tahun.
c. Distribusi frekuensi pengetahuan pencegahan gastritis Tabel 4.3
pengetahuan Jumlah Presentase (%)
baik 23 26,7
cukup 29 33,7
kurang 34 39,5
total 86 100,0
Berdasarkan tabel 4.3 distribusi frekuensi pengetahuan mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan pengetahuan tentang pencegahan gastritis didapatkan bahwa pengetahuan baik yaitu 23 orang (26,7%), dan pengetahuan cukup didapatkan 29 orang (33,7%), dan pengetahuan kurang didapatkan 34 orang (39,5%).
d. Distribusi frekuensi tingkat stress pada pencegahan gastritis Tabel 4.4
Tingkat stress Jumlah Presentase (%)
tinggi 6 7,0
sedang 32 48,8
rendah 48 44,2
total 86 100,0
Berdasarkan tabel 4.4 distribusi frekuensi tingkat stress mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan tingkat stress mahasiswa terhadap pencegahan gastritis didapatkan bahwa 6 orang (7,0%) dengan tingkat stress tinggi, dan 42 orang (48,8%) dengan tingkat stress sedang, 38 orang (44,2%) dengan tingkat stress rendah.
e. Distribusi frekuensi perilaku pada pencegahan gastritis Tabel 4.5
Perilaku Jumlah Presentase(%)
baik 0 0,00
sedang 61 70,9
buruk 25 29,1
total 86 100,0
Berdasarkan tabel 4.5 distribusi frekuensi pengetahuan mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan pengetahuan tentang pencegahan gastritis didapatkan bahwa 61 orang (70,9%) dengan perilaku sedang, dan 25 orang (29,1%) dengan perilaku buruk, dan 0 orang dengan perilaku baik.
f. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa SI Reguler di Universitas Aisyah Pringsewu
Tabel 4.6
Pengetahuan Perilaku Pencegahan Jumlah Koefisien
Korelasi (r)
Nilai p
Sedang Buruk
N % N % N %
Baik 18 78,3 5 21,7 23 100,0 0,158 0,409
Cukup 20 69,0 9 31,0 29 100,0
Kurang 23 67,6 11 32,4 34 100,0
Jumlah 61 70,9 25 29,1 86 100,0
Berdasarkan tabel 4.6 di atas diperoleh nilai p=0,409 yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa, dan nilai korelasi sebesar 0,158 menunjukan bahwa kekuatan korelasi rendah.
g. Hubungan tingkat stress dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa SI Reguler di Universitas Aisyah Pringsewu
Tabel 4.7
Tingkat stress Perilaku Pencegahan Jumlah Koefisien
Korelasi (r)
Nilai p
Sedang Buruk
N % N % N %
Tinggi 5 83,3 1 16,7 6 100,0 0,482 0,018
Sedang 34 81,0 8 19,0 42 100,0
Rendah 22 57,9 16 42,1 38 100,0
Jumlah 61 70,9 25 29,1 86 100,0
Berdasarkan tabel 4.7 di atas diperoleh nilai p=0,018 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress mahasiswa dengan perilaku pencegahan gastritis dan dengan nilai korelasi 0,482 yang menunjukan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang.
PEMBAHASAN 1. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden berdasarkan jenis kelamin
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin yaitu didapatkan 16 orang (18,6%) yang berjenis kelamin laki-laki dan 70 orang (81,4%) yang berjenis kelamin perempuan. Distribusi frekuensi berdasarkan usia yaitu didapatkan 54 orang (62,8%) yang berusia 18 sampai 20 tahun, dan 32 orang (37,2%) yang berusia 21 sampai 23 tahun.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Murjayanah (2010) bahwa faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian gastritis (Studi Di RSU. dr.R Soestrasno Rembang) bahwa terdapat hubungan faktor jenis kelamin (p=0,018, OR=3,059).
Dari pembahasan di atas didapatkan bahwa jumlah responden laki-laki sedikit dibandingkan perempuan.Hal ini dikarenakan pada fakultas kesehatan pada jurusan keperawatan diperkirakan jumlah keseluruhan mahasiswa sekitar 75% perempuan dan hanya 25% laki-laki.
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 70 responden (81,4%). Berdasarkan jenis kelamin, wanita lebih sering terkena penyakit gastritis. Hal ini disebabkan karena wanita kebanyakan menginginkan bentuk badan yang ideal maka dari itu wanita sering diet terlalu ketat, karena takut gemuk, makan tidak beraturan, disamping itu tingkat emosional wanita lebih tinggi dibandingkan pria.
b. Karakteristik Responden berdasarkan usia
Distribusi frekuensi berdasarkan usia yaitu didapatkan 54 orang (62,8%) yang berusia 18 sampai 20 tahun, dan 32 orang (37,2%) yang berusia 21 sampai 23 tahun.
Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh Hartati et, al (2014) bahwa penyakit gastritis dapat menyerang dari semua tingkat usia. Menurut survey menunjukkan bahwa gastritis menyerang usia produktif. Pada usia produktif rentan terserang karena kesibukan serta gaya hidup yang kurang diperhatikan sehingga kesehatan serta stres mudah menjadi faktor kekambuhan.
Faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan gastritis salah satunya usia. Usia responden sebagian besar berusia 18-20 tahun usia tersebut cenderung kurang memperhatikan kesehatan mereka karena kesibukan di kampus, seperti tugas kuliah yang menumpuk dan kegiatan organisasi yang begitu padat, dan kegiatan diluar kampus sehingga responden tidak memikirkan pencegahan gastritis. disisilain gaya hidup sangat mempengaruhi timbulnya gastritis pada usia dewasa awal.
pada karakteristik usia didapatkan usia paling banyak yaitu 18 sampai 20 tahun, hal ini dikarenakan jumlah mahasiswa pada semester 4, dan semester 2 lebih banyak dari pada jumlah mahasiswa pada semester 6 dan semester 8 pada jurusan keperawatan SI regular.
c. Pengetahuan mahasiswa tentang pencegahan gastritis
Distribusi frekuensi pengetahuan mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan pengetahuan tentang pencegahan gastritis didapatkan bahwa pengetahuan baik yaitu 23 orang (26,7%), dan pengetahuan cukup didapatkan 29 orang (33,7%), dan pengetahuan kurang didapatkan 34 orang (39,5%).
Hasil penelitian didukung dengan penelitian Gustin, (2011) dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku kejadian gastritis pada pasien yang berobat jalan di puskesmas gulai bancah bukittinggi. Pada penelitian dengan tingkat pengetahuan yang rendah (37,5%) dibanding tingkat pengetahuan tinggi (28,6%), dari hasil uji Fisher’s Exact Test diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku kejadian gastritis pada responden (p>0,05).
Pengetahuan adalah suatu hasil tau dari manusia atas penggabungan atau kerjasama antara suatu subyek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Segenap apa yang diketahui tentang sesuatu objek tertentu (Nurroh, 2017).
Hasil penelitian didukung dengan penelitian Verawati, (2020) dengan judul profil demografi, pengetahuan dan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa keperawatan advent Indonesia. Pada penelitian ini Berdasarkan hasil olah data dengan cara menghitung persentase, dari 128 partisipan, 64 orang menunjukan tingkat pengetahuan yang kurang (50%), 56 orang (43.8%) menunjukan tingkat pengetahuan yang cukup sedangkan hanya 8 orang (6.3%) menunjukan tingkat pengetahuan yang baik.
Berdasarkan teori di atas menurut peneliti belum tentu semua responden menerapkan atau mengaplikasikan semua informasi yang diketahuinya yang berkaitan dengan gastritis.Peningkatan pengetahuan saja tidak cukup untuk mencegah terjadinya gastritis tanpa diiringi tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari hari. Apabila mahasiswa hanya mengetahui tapi tidak menerapkannya, maka pengetahuan tersebut akan sia-sia.
d. Tingkat stress terhadap pencegahan gastritis
Distribusi frekuensi tingkat stress mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan tingkat stress mahasiswa terhadap pencegahan gastritis didapatkan bahwa 6 orang (7,0%) dengan tingkat stress tinggi, dan 42 orang (48,8%) dengan tingkat stress sedang, 38 orang (44,2%) dengan tingkat stress rendah.
Hasil penelitian didukung oleh penelitian Al-bahmi, (2018) dengan judul hubungan tingkat stress dengan penyakit gastritis pada mahasiswa pre klinik semester 1 di fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makasar, diketahui bahwa tingkat stress pada mahasiswa kedokteran angkatan 2017 Fk Unismuh Makassar menunjukkan sebanyak 97 orang sebanyak 85.1% tidak stress, stress ringan 12 orang sebanyak 10,5%, stress sedang 4 orang sebanyak 3,5 % dan sedangkan stress berat 1 orang sebanyak 0,9%. Secara keseluruhan hanya sedikit yang mengalami stress ringan yaitu sebanyak 12 orang (10,5%).
Dari hasil uji statistic dengan metode uji chi square (X2) memperlihatkan bahwa p Value 0,000 (p<0,005) artinya terdapat hubungan antara tingkat stress terhadap penyakit gastritis mahasiswa angkatan 2017 Fk Unismuh Makassar.
Stres adalah suatu kondisi pada individu yang tidak menyenangkan dimana dari hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada individu (Manurung, 2016).
Hasil penelitian didukung oleh penelitian Wardah, (2013) dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis di puskesmas Lancirang, diketahui bahwa dari 30 responden yang berpengaruh stres dengan kejadian gastritis berjumlah 21 orang (70%) dan yang tidak berpengaruh stres dengan kejadian gastritis berjumlah 9 orang (30,0%) dengn total responden 30 orang (100%). Berdasarkan uji pearson chi square diperoleh nilai p = 0,032 < α (0,05) dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima yaitu ada hubungan antara stres dengan kejadian gastritis.
Berdasarkan teori diatas menurut peneliti stress memiliki hubungan dengan kejadian gastritis maupun kekambuhan pada penderita gastritis. Oleh karena itu pengendalian secara efektif berupa istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan relaksasi yang cukup serta dukungan positif dapat mengurangi tingkat stress pada seseorang sehingga membantu dalam upaya perawatan dan pencegahan kekambuhan gastritis.
e. Perilaku pencegahan gastritis
Distribusi frekuensi perilakumahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan perilaku tentang pencegahan gastritis didapatkan bahwa 61 orang (70,9%) dengan perilaku sedang, dan 25 orang (29,1%) dengan perilaku buruk, dan 0 orang dengan perilaku baik.
Hasil penelitian didukung oleh penelitian Rika, (2016) yang berjudul hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Alauddin Makasar, pada penelitian ini jumlah responden dengan perilaku pencegahan gastritis kebanyakan berperilaku sedang yaitu 23 responden (59,0%) dan 16 responden (41,0%) berperilaku baik .
Gastirits dapat terjadi karena kurangnya perilaku pencegahan yaitu totalitas penghayatan dan aktivitas seseorang hasil dari faktor internal maupun eksternal.Perilaku kesehatan adalah respon seseorang terhadap objek yang berkaitan dengan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan minuman serta lingkungan (Notoatmodjo, 2012).
Hasil penelitian didukung oleh peneliti Verawati, (2020) yang berjudul profil demografi, pengetahuan dan perilaku Pencegahan gastritis pada mahasiswa keperawatan Universitas Advent Indonesia, Dari 128 orang terdapat 113 orang partisipan (88.3%) yang menunjukkan perilaku negatif dan hanya 15 orang (11.7%) yang menunjukan perilaku positif.
Berdasarkan teori diatas menurut peneliti masih banyak mahasiswa yang memiliki pencegahan sedang karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola hidup yang tidak sehat, makan tidak teratur, merokok, stress dan lain-lain. Usia muda dan dewasa termasuk dalam kategori usia produktif, pada usia ini mereka mempunyai berbagai kesibukan karena pekerjaan dan kegiatan lainnya. Sehingga cenderung untuk terpapar faktor yang dapat meningkatkan resiko untuk terkena gastritis.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji gamma didapatkan nilai p=0,409 yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa, dan nilai korelasi sebesar 0,158 menunjukan bahwa kekuatan korelasi rendah, sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa keperawatan SI regular di Universitas Aisyah Pringsewu.
Ada beberapa hasil penelitian yang sejalan dengan penelitian ini yang dikemukakan oleh Verawati, (2020) Pada hasil yang didapat dalam penelitian ini, dijelaskan bahwa Ho diterima dengan sig 0.319 yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan.
Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Mulasari, (2017) menyatakan tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku yang ditunjukkan oleh hasil penelitian dengan nilai p=0,872 (α= 0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang berarti.
Namun bertentangan dengan hasil penelitian Zilmawati, (2007) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kejadian gastritis (p=0,028), pengetahuan juga mempunyai hubungan yang bermakna terhadap gejala gastritis, dengan adanya pengetahuan tentang proses terjadinya gastritis, faktor penyebab, rawatan yang tepat, masalah gejala gastritis yang dihadapi oleh individu dapat diatasi dan pengetahuan
merupakan salah satu pendorong seseorang untuk merubah perilaku atau mengadopsi perilaku baru.
Menurut asumsi peneliti, responden dengan pengetahuan yang kurang dengan perilaku sedang memperlihatkan bahwa pengetahuan kurang belum tentu memiliki perilaku yang buruk dikarenakan pengalaman sangat penting dalam perilaku pencegahan.
Dan belum tentu semua responden menerapkan atau mengaplikasikan semua informasi yang diketahuinya yang berkaitan dengan gastritis.Tingkat pengetahuan saja tidak cukup untuk mencegah terjadinya gastritis tanpa diikuti suatu tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari hari. Apabila mahasiswa hanya mengetahui tapi tidak menerapkannya, maka pengetahuan tersebut akan sia-sia.
b. Hubungan tingkat stress dengan perilaku pencegahan gastritis
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji gamma didapatkan nilai p=0,018 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress mahasiswa dengan perilaku pencegahan gastritis dan dengan nilai korelasi 0,482 yang menunjukan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang. Menunjukan bahwa kekuatan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang, sehingga Ha diterima dan Ho ditolak.Hal ini dapat diketahui bahwa ada hubungan tingkat stress dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa keperawatan SI regular di Universitas Aisyah Pringsewu.
Ada beberapa hasil penelitian yang sejalan dengan penelitian ini yang dikemukakan Tusakinah, (2017) yang menyatakan bahwa hasil pengolahan data dengan uji Kruskall-wallis yang dilakukan dalam penelitian menunjukkan hasil (p=0,000) bahwa antara tingkat stres dengan kekambuhan gastritis memiliki hubungan yang signifikan. hipotesis terdapat hubungan tingkat stres dengan kekambuhan gastritis dapat diterima.
Hal ini sejalan dengan penelitian R.Mappagerang, (2017) yang menyatakan bahwa Dari hasil uji pearson Chi Square antara variabel tingkat stres dengan kejadian gastritis diperoleh nilai p=0,035. Oleh karena p 0,035 ˂ 0,05 (α), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian gastritis.
Namun bertentangan dengan hasil penelitian Puri & Suyanto, (2016) terlihat bahwa p value > 0,05 sehingga Ho : Tidak ada hubungan antara stres dengan kejadian gastritis mahasiswa penghuni asrama keperawatan Tanjungkarang tahun 2011 diterima dan Ha : Ada hubungan antara stres dengan kejadian gastritis mahasiswa penghuni asrama keperawatan Tanjungkarang tahun 2011 ditolak.
Menurut penelitian Gustin, (2011) bahwa dari 30 responden yang mengalami gastritis didapatkan bahwa proporsi kejadian gastritis lebih tinggi pada responden yang mengalami stres dan hal ini juga dapat mempengaruhi terjadinya kekambuhan gastritis.
Menurut asumsi dari peneliti ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu bila responden memiliki beban pikiran akan mempengaruhi perilaku pencegahan gastritis seperti menunda untuk makan dan pola makan yang tidak teratur karena memiliki beban pikiran. Dan terdapat faktor lain yaitu memilih pola hidup yang salah seperti mengkonsumsi minuman beralkohol dan merokok dengan alasan untuk menghilangkan beban pikiran.
KESIMPULAN
1. Pengetahuan mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan pengetahuan tentang pencegahan gastritis didapatkan dengan jumlah terbanyak yaitu pengetahuan kurang didapatkan 34 orang (39,5%).
2. Tingkat stress mahasiswa tentang pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan tingkat stress mahasiswa terhadap pencegahan gastritis didapatkan dengan jumlah terbanyak yaitu 42 orang (48,8%) dengan tingkat stress sedang.
3. Perilaku mahasiswa tentang pencegahan gastritis padamahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu. Berdasarkan perhitungan perilakutentang pencegahan gastritis didapatkan dengan jumlah terbanyak yaitu 61 orang (70,9%) dengan perilaku sedang
4. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu diperoleh nilai p=0,409 yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa, dan nilai korelasi sebesar 0,158 menunjukan bahwa kekuatan korelasi rendah.
5. Hubungan tingkat stress mahasiswa terhadap perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa di Universitas Aisyah Pringsewu diperoleh nilai p=0,018 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress mahasiswa dengan perilaku pencegahan gastritis dan dengan nilai korelasi 0,482 yang menunjukan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang.
SARAN
1. Saran bagi Peneliti dan Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat melakukan melakukan penelitian selanjutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti saat ini untuk meneliti variabel lain dan variabel yang terikat dengan pencegahan gastritis atau variabel lain yang belum diteliti.
Bagi institusi terkait, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi serta tambahan informasi untuk dijadikan dasar atau bahan masukan dalam mengembangkan program keperawatan terutama tentang gastritis.
2. Saran bagi Responden
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan bagi responden yang dapat digunakan sebagai salah satu pengetahuan dan pencegahan bagi responden tentang penyakit gastritis.
3. Saran bagi Masyarakat
Agar masyarakat lebih mengatur pola makan, istirahat yang cukup, hindari beban fikiran, mengingat bahaya hal tersebut bila di sepelekan akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Al-bahmi, U. sari. (2018). hubungan tingkat stress dengan penyakit gastritis pada mahasiswa pre klinik semester 1 di fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makasar.
Dwi Wahyuni, Rista, R., Muji, E., Lestariningsih, & Syamsu. (2017). Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Pada Remaja. Global Health Science, 2(2), 149–154.
http://jurnal.csdforum.com/index.php/ghs
Farishal, A., Vidia, E. R., & Kriswidiastiny, R. (2018). Diagnosis Dan Penatalaksanaan Kasus Gastritis Erosif Kronik Pada Geriatri Dengan Riwayat Konsumsi Nsaid. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia, 6(2), 22–34.
Gaol, N. T. L. (2016). Teori stres: stimulus, respons, dan transaksional. Buletin Psikologi, 24(1), 1–11.
Gustin, R. K. (2011). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kota Bukittinggi Tahun 2011. 1–12.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan (Cetakan VI). Jakarta: Penerbit PT.
Rineka Cipta.
Hirlan. (2014). ilmu penyakit dalam jilid II Edisi ke-4 . jakarta balai penerbit FKUI.
Kemenkes, R. I. (2012). Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Hlm, 1–28.
Manurung, N. (2016). Terapi Reminiscence. Jakarta: CV. Trans Info Media.
Mulasari, S. &. (2017). hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku.
Nurroh, S. (2017). Filsafat ilmu. Assignment Paper of Filosophy of Geography Science.
Puri, A., & Suyanto, S. (2016). Hubungan faktor stres dengan kejadian gastritis pada mahasiswa Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 8(1), 66–71.
RIKA. (2016). hubungan pengetahuan dan perilaku pencegahan gastritis.
Rostini Mappagerang. (2017). hubungan tingkat stress dengan kejadian gastritis.
Sugiyono. (2015a). Metode penelitian dan pengembangan. Res. Dev. D, 2015, 39–41.
Sugiyono, P. (2015b). Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Bandung: Alfabeta.
Sujarweni, V. W. (2014). Metodologi penelitian keperawatan. Yogyakarta: Gava Media.
Tusakinah, W. (2017). hubungan tingkat stres dengan kekambuhan gastritis.
Verawati. (2020). profil demografi, pengetahuan dan perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa keperawatan advent Indonesia.
Verawati, L. (2020). hubungan antara pengetahuan dan perilaku pencegahan gastritis.
Wardah. (2013). faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis di puskesmas Lancirang.
Zilmawati. (2007). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian Gastritis.
Murjayanah, Hanik. (2010). Factor – Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gastritis Studi di RSU dr. R. Soestrasno Rembang. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang.
Hartati, Sri(2014). Hubungan Pola Makan Dengan Resiko Gastritis Pada Mahasiswa Yang Menjalani Sistem KBK.JOM PSIK.Vol.1 No.2.