• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK, JENIS DAN SATUAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARAKTERISTIK, JENIS DAN SATUAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

5

KARAKTERISTIK, JENIS DAN SATUAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Rian Rifki Eliandy1, Rafida Adila2, Etti Aini Hasibuan3, Reno Ababiel4

1,2,3,4Mahasiswa UIN SU Medan

Email: 1[email protected], 2[email protected],

3[email protected], 4[email protected]

ABSTRAK: Tujuan penulisan ini adalah untuk dapat memperluas cakrawala bagi pembaca tentang mengenai pendidikan luar sekolah ini terutama dalam bentuk karakteristik, jenis dan satuan yang ada di dalam pendidikan luar sekolah yang sebagai pemberdaya dalam proses pengembangan yang terjadi didalam masyarakat. Juga memiliki manfaat yaitu agar pembaca serta masyarakat dapat mengetahui dan memahami bahwa pendidikan luar sekolah ini sebagai salah satu institusi yang ikut serta dalam proses pengembangan masyarakat. Penulisan ini juga dilatarbelakangi oleh adanya sebuah realitas dalam kehidupan yang dimana di kalangan masyarakat ini lebih dominan ke pendidikan formal ketimbang pendidikan nonformal yaitu pendidikan luar sekolah. Padahal selain pendidikan formal saja, pendidikan norformal ini juga sangat penting bagi proses pengembangan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh adanya sebuah paragdima masyarakat yang lebih mengutamakan ijazah dari pada memiliki kualitas dalam keilmuannya. Seakan-akan pendidikan ini hanya untuk menghasilkan sebuah lulusan saja atau masyarakat yang dapat menyelesaikan suatu program dengan memperoleh sebuah ijazah sehingga seseorang tersebut sudah dianggap berhasil. Sehingga hal ini lebih mementingkang ijazah ketimbang kompetensi. Padahal kompetensi itu juga sangat penting dalam proses pengembangan diri. Makanya adanya pendidikan norformal atau pendidikan luar sekolah ini. Dengan adanya hal ini pendidikan sekolah atau formal menjadi sesuatu yang populer dikalangan masyarakat sementara pendidikan luar sekolah menjadi pendidikan yang nonformal yang juga menjadi residu di masyarakat.

Kata Kunci: Karakteristik, Jenis, Pendidikan Luar Sekolah

PENDAHULUAN

Untuk bisa mewujudkan Indonesia yang maju, maka di buatkan sebuah kebijakan, yaitu program wajib belajar 12 tahun, yaitu SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA/MAK merupakan satuan pendidikan formal yang merupakan program wajib belajar 12 tahun.

Program wajib belajar 12 tahun ini bertujuan untuk bisa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua rakyat Indonesia untuk belajar.

Program pembelajaran wajib belajar 12 tahun ini merupakan kelanjutan dari peraturan sebelumnya, yaitu wajib belajar 9 tahun.

Program wajib belajar 12 tahun ini dilindungi atau berpayungkan hukum, yaitu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan, No.80 Tahun 2013 tentang Program Menengah Universal (PMU).

Dengan adanya kebijakan atau program wajib belajar 12 tahun diharapkan rakyat Indonesia menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan juga dengan adanya ini, diharapkan semua peserta didik tersebut bisa dan mampu untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi baik yang di Indonesia maupun Perguruan Tinggi yang ada di luar negeri.

Dengan demikian diharapkan peserta didik, rakyat Indonesia bisa menjadi generasi- generasi penerus bangsa yang hebat, berkualitas dan cerdas.

Pendidikan formal ini memang merupakan hal atau satuan pendidikan yang penting dalam dunia pendidikan di Indonesia khususnya. Tetapi, selain pendidikan formal

(2)

6 | Karakteristik, Jenis dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah ada lagi satuan pendidikan yang tidak kalah

penting, yaitu pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah.

Satuan Pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah ini, yaitu Bimbingan Belajar (Bimbel), pengajian, les atau kursus komputer, les atau kursus bahasa Inggris dan lain sebagainya.Pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah ini bertujuan untuk menambah dan mempertajam pengetahuan yang sudah didapatkan oleh peserta didik di sekolah.

Jadi, pendidikan formal atau pendidikan luar sekolah ini berfungsi sebagai pembantu ataupun pendorong dari pelajaran yang ada di sekolah.Pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah ini juga memiliki karakteristik dan jenis yang akan kami jelaskan pada jurnal ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah Menurut Mustofa Kamil, karakteristik dari pendidikan luar sekolah yaitu:

1. Karakteristik menurut segi tujuannya a. Untuk memenuhi kebutuhan belajar

tertentu yang fungsional bagi kehidupan kini dan masa depan.

b. Untuk langsung menerapkan hasil belajar dalam kehidupan di lingkungan pekerjaan atau masyarakat.

c. Untuk memberikan ganjaran berupa keterampilan, barang atau jasa yang di produksikan dan pendapatan.

2. Karakteristik menurut segi waktu dari penyelenggaraannya

a. Relatif singkat dan bergantung pada kebutuhan belajar peserta didik.

b. Menggunakan waktu tidak penuh dan tidak secara terus menerus.

3. Karakteristik menurut segi programnya a. Kurikulum berpusat pada

kepentingan peserta didik.

b. Menekankan pada kebutuhan masa sekarang dan masa depan terutama untuk memenuhi kebutuhan terasa peserta didik guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya.

c. Mengutamakan aplikasi dengan penekanan kurikulum yang lebih mengarah kepada keterampilan yang bernilai guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya.

d. Persyaratan masuk ditetapkan bersama peserta didik.

e. Program diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk pengembangan peserta didik

4. Karakteristik menurut segi proses belajar dan pembelajaran

a. Dipusatkan di lingkungan masyarakat dan lembaga.

b. Berkaitan dengan kehidupan peserta didik dan masyarakat.

c. Struktur program pembelajaran lebih fleksibel dan beraneka ragam dalam jenis dan urutannya, sehingga pengembangan program dapat dilaksanakan pada waktu program sedang berjalan.

d. Berpusat pada peserta didik dengan menggunakan sumber belajar dari berbagai keahlian.

e. Penghematan sumber-sumber dengan memanfaatkan tenaga dan sarana yang tersedia di masyarakat dan lingkungan kerja

5. Karakteristik menurut pengendalian programnya

a. Dilakukan oleh pelaksanaan program dan peserta didik.

b. Menggunakan pendekatan yang lebih bersifat demokrasi.

Menurut Djuju Sudjana, karakteristik dari pendidikan luar sekolah ini meliputi sebagai berikut :

a) Bertujuan untuk memperoleh keterampilan yang segera akan dipergunakan.

b) Berpusat pada peserta didik.

c) Waktu penyelenggaraan relatif singkat dan pada umumnya tidak berkesinambungan.

d) Menggunakan kurikulum kafetaria.

e) Menggunakan metode

pembelajaran yang pastisipasif, dengan menggunakan penekanan pada belajar mandiri.

(3)

7 | Karakteristik, Jenis dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah f) Hubungan pendidik dengan

peserta didik bersifat mendatar.

g) Penggunaan sumber-sumber lokal Jenis Dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah 1. Kursus

Istilah kursus merupakan terjemahan dari “Course” dalam bahasa inggris, yang secara harfiah berarti “mata pelajaran atau rangkaian mata pelajaran”. Dalam PP No. 73 tahun 1991 dijelaskan bahwa kursus adalah satuan pendidikan luar sekolah yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang memberikan pengetahuan keterampilan dan sikap mental tertentu bagi warga belajar.

Menurut Artasasmita (1985), kursus adalah sebagai mata kegiatan pendidikan yang berlangsung di dalam masyarakat yang dilakukan secara sengaja, terorganisir, dan sistematik untuk memberikan materi pelajaran tertentu kepada orang dewasa atau remaja dalam waktu yang relative singkat agar mereka memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri dan masyarakat. Contoh: kursus menjahit, kursus computer, kursus kecantikan, dan lain-lain.

Berikut Pengelolaan Pembelajaran Kursus :

1) Kemitraan

Jaringan kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan membesarkan.

Keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Menurut Kartasasmita dalam Banowati, kemitraan terutama dalam dunia usaha adalah hubungan antar pelakunya yang didasarkan pada ikatan usaha yang saling menguntungkan dalam hubungan kerja strategis, yang hasilnya bukanlah suatu zero sum game, tetapi positive-sumgame atau win- win situation.

Menurut Kartasasmita dalam Banowati, dalam upaya mengembangkan dunia usaha, terdapat beberapa bentuk kemitraan yang dapat dikembangkan antara lain, yaitu :

a. Kemitraan antar skala usaha.

b. Kemitraan usaha antar daerah atau antar kawasan.

c. Kemitraan usaha antar sektor.

d. Kemitraan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan iptek.

2) Kelengkapan Sarana dan Prasarana Sejalan dengan hal tersebut Gunawan menjelaskan administrasi sarana dan prasarana pendidikan merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan sungguh sungguh serta pembinaan secara kontinu terhadap benda-benda pendidikan, agar senantiasa siap pakai (ready for use) dalam proses belajar mengajar sehingga proses belajar mengajar semakin efektif dan efisien guna membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

3) Modal dan Strategi Kewirausahaan

Dalam kewirausahaan, modal tidak selalu identik dengan modal yang berwujud (tangible) seperti uang dan barang, tetapi juga modal yang tidak berwujud (intangible) seperti modal intelektual, modal sosial, modal moral, dan modal mental yang dilandasi agama. Secara garis besar, modal kewirausahaan dapat dibagi ke dalam empat jenis, yaitu:

a) Modal Intelektual.

b) Modal Sosial dan Moral.

c) Modal Mental.

d) Modal Material.

e) Pelatihan

Pelatihan adalah kegiatan atau pekerjaan melatih untuk memperoleh kemahiran atau kecakapan, pelatihan berkaitan dengan pekerjaan. Adanya program pelatihan yang terencana dengan baik dan sistematis merupakan cara utama untuk membiasakan atau memberikan kecakapan kepada individu agar dia terampil mengerjakan pekerjaannya. Menurut Artasasmita (1985), pelatihan adalah

“kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dengan sengaja, terorganisir dan sistematis di luar sistem persekolahan untuk memberikan dan meningkatkan suatu pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada kelompok tenaga kerja tertentu dalam waktu yang relative singkat dengan mengutamakan praktek daripada teori, agar mereka

(4)

8 | Karakteristik, Jenis dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah memperoleh pengetahuan, sikap dan

keterampilan dalam memahami dan melaksanakan suatu pekerjaan tertentu dengan cara yang efisien dan efektif. Contoh:

pelatihan kepemimpinan, pelatihan tutor, pelatihan metode pembelajaran dan lain-lain.

b. Kelompok Belajar

Kelompok belajar yaitu salah satu wadah dalam rangka membelajarkan masyarakat. Menurut Zaenudin (1985), kelompok belajar adalah upaya yang dilakukan secara sadar dan berencana melalui bekerja dan belajar dalam kelompok belajar untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Contoh: Kelompok Belajar Paket A, Kelompok Belajar Paket B, Kelompok Belajar Paket C, Kelompok Belajar Usaha.

c. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Dengan mengacu kepada pendapat Sihombing, PKBM merupakan tempat belajar yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat dalam rangka usaha untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hobi, dan bakat warga masyarakat.

PKBM bertitik tolak dari kebermaknaan dan kebermanfaatan program bagi warga belajar dengan menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada di lingkungannya. Melalui PKBM diharapkan terjadi kegiatan pembelajaran dalam masyarakat dengan memanfaatkan sarana, prasarana, dan potensi yang ada di sekitar lingkungan masyarakat, agar masyarakat memiliki kemampuan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tarap hidupnya. Program pembelajaran yang dapat dilaksanakan di PKBM, diantaranya Kejar Paket A, Kejar Paket B, Kejar Paket C, KBU, PAUD, Kelompok Pemuda Produktif.

PKBM memiliki beberapa fungsi, yaitu : 1) Tempat pusaran bermacam potensi yang ada dan berkembang di masyarakat.

2) Untuk sumber informasi yang handal bagi masyarakat yang memerlukan keterampilan fungsional.

3) Untuk tempat tukar menukar berbagai macam pengetahuan dan juga

keterampilan fugsional diantara masyarakat.

d. Majelis Taklim

Majelis taklim adalah suatu lembaga pendidikan yang dibentuk atas dasar pendekatan dari kebutuhan masyarakat (bottom up approach), dengan kegiatannya lebih berorientasi pada keagamaan, khususnya agama Islam. Melalui majelis taklim dibahas berbagai aspek yang ditinjau dari sudut pandang agama Islam.

e. Satuan Pendidikan Yang Sejenis

Satuan pendidikan yang sejenis adalah satuan yang tidak termasuk pada luar satuan yang sudah dijelaskan di atas. Satuan lainnya di antaranya pesantren, sanggar seni, TKA/TPA. Pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan. Pondok pesantren adalah suatu lembaga keagamaan yang mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam. Sanggar seni lebih ditujukan pada tempat kegiatan khusus dalam beraneka seni yang diikuti anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

Sementara itu, TKA/TPA yaitu lembaga pendidikan khusus diperuntukkan bagi anak usia dini dalam bidang keagamaan, khususnya agama Islam.

f. Pendidikan Kecakapan Hidup

Pendidikan kecakapan hidup adalah kemampuan yang mencakup penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang saling berinteraksi diyakini sebagai unsur penting untuk lebih mandiri. Pendidikan kecakapan hidup berpegang pada prinsip belajar untuk memperoleh pengetahuan (learning to know), belajar untuk berbuat/bekerja (learning to do), belajar untuk menjadi orang yang berguna (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama dengan orang lain (learning to live together).

Berdasarkan prinsip di atas, pada dasarnya pendidikan kecakapan hidup bermaksud memberi kepada seseorang bekal pengetahuan, keterampilan dan kemampuan fungsional praktis serta perubahan, keterampilan dan kemampuan fungsional praktis serta perubahan sikap untuk bekerja dan memanfaatkan peluang yang dimiliki

(5)

9 | Karakteristik, Jenis dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah sehingga dapat meningkatkan kualitas

kesejahteraannya.

g. Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak usia dini (0-6 tahun) yang dilakukan pemberian berbagai rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Secara umum dari program PAUD adalah memberikan dukungan bagi kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya anak usia dini serta meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran orang tua dan masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini.

h. Pendidikan Kepemudaan

Pendidikan kepemudaan adalah program pendidikan yang sasarannya khusus pemuda. Program kepemudaan yang dikembangkan di Indonesia ini contohnya adalah dengan dibentuknya Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP). Melalui program KUPP diharapkan para pemuda melalui kemampuan tertentu dalam bidang usaha sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya.

i. Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pendidikan pemberdayaan perempuan diperuntukkan khusus untuk perempuan. Hal ini didasarkan bahwa masih banyak perempuan yang belum berdaya, padahal mereka memiliki potensi yang perlu dikembangkan.

j. Pendidikan Keaksaraan

Pendidikan keaksaraan yang dikembangkan saat ini adalah program keaksaraan fungsional yang pada dasarnya merupakan suatu pengembangan dari program keaksaraan sebelumnya. Program keaksaraan fungsional pada dasarnya memiliki tujuan, yaitu :

a. Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, berhitung dan juga keterampilan berbicara, berpikir, mendengar dan berbuat.

b. Memecahkan masalah kehidupan warga belajar melalui kebiasaannya dalam , menulis, berhitung dan berbuat.

c. Menemukan jalan untuk mendapatkan sumber-sumber kehidupan sehari-hari warga belajar.

d. Meningkatkan keberanian warga masyarakat untuk berhubungan dengan lembaga yang berkaitan dengan kebutuhan belajarnya.

e. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pembaharuan agar dapat berpartisipasi dalam perubahan sosial, ekonomi dan kebudayaan di masyarakat.

f. Meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui keterampilan dan kebudayaan di masyarakat.

k. Pendidikan Keterampilan

Program pendidikan keterampilan ditujukan untuk membekali warga belajar dalam bidang keterampilan yang dapat dijadikan bekal usaha. Dengan keterampilan yang dimiliki diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kemampuan dirinya untuk peningkatan kesejahteraan hidupnya.

Program pendidikan keterampilan yang dapat dikembangkan dalam masyarakat yaitu :

a) Keterampilan dalam bidang kemampuan bahasa.

b) Keterampilan dalam bidang berumah tangga.

c) Keterampilan dalam bidang penampilan diri.

d) Keterampilan dalam bidang usaha.

e) Keterampilan dalam bidang pekerjaan jasa.

l. Pendidikan Kesetaraan

Dalam menyukseskan program wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun, pendidikan kesetaraan melalui pendidikan nonformal mendapat perhatian cukup tinggi. Hal ini terjadi karena program wajar dikdas 9 tahun tidak hanya bisa ditangani melalui pendidikan formal saja.

Banyak anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan karena berbagai alasan, di antaranya tidak ada biaya, harus bekerja membantu orang tua. Mereka

(6)

10 | Karakteristik, Jenis dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah terpaksa putus sekolah baik pada tingkat SD,

SLTP maupun SLTA.

Program kesetaraan yang ada di masyarakat yaitu mencakup: kelompok Belajar (Kejar) Paket A, Kejar Paket B, dan Kejar Paket C. menurut Zaenudin (2005), Kejar Paket A yaitu suatu upaya belajar dan bekerja secara sadar dan berencana dalam organisasi kelompok untuk meningkatkan pendidikan warga belajar, sehingga setara dengan Sekolah Dasar melalui Paket A sebagai media/bahan belajarnya. Menurut PP No. 73 Tahun 1991, Kelompok Belajar Paket B diselenggarakan bagi sekumpulan warga belajar untuk memperoleh pendidikan setara SLTP. Program Kejar Paket B, yaitu suatu kegiatan membelajarkan warga masyarakat melalui proses belajar dengan menggunakan buku Paket B sebagai sarana belajar utama, yang isinya terdiri atas pendidikan dasar umum dan pendidikan keterampilan untuk mengusahakan mata pencaharian, yang setara dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Sementara itu, Kejar Paket C, yaitu suatu kegiatan membelajarkan warga masyarakat melalui proses belajar yang setara dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Jenis – jenis dari pendidikan yang ada pada pendidikan luar sekolah menurut D.Sudjana ialah:

1. Pendidikan Massa ( Mass Education ) Pendidikan masa ini ialah suatu kesempatan

dari pendidikan yang diberikan kepada masyarakat luas dengan tujuan yaitu untuk membantu masyarakat agar mereka memiliki kecakapan dalam hal menulis, membaca dan berhitung serta berpengetahuan umum yang diperlukan dalam upaya peningkatan taraf hidup dan kehidupannya sebagai warga negara

2. Pendidikan Orang Dewasa ( Adult Education )

Pendidikan orang dewasa ini ialah suatu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa. Dalam salah satu bukunya tentang pendidikan luar sekolah, Sudjana menerangkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi orang-orang dewasa dalam

lingkungan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan

kemampuan, memperkaya

pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya

3. Pendidikan Peluasan ( Extension Education )

Kegiatan ini diselenggarakan pendidikan luar sekolah ialah meliputi seluruh kegiatan pendidikan baik yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun yang tidak dilembagakan.

Pendidikan luar sekolah dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar dan pendidikan keluarga yang merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan di dalam lembaga.

KESIMPULAN

Pendidikan luar sekolah hadir atau timbul dari sebuah konsep pendidikan seumur hidup, yang dimana kebutuhan akan pendidikan ini tidak hanya ada pada pendidikan persekolahan atau pendidikan formal saja. Pendidikan luar sekolah ini mempunyai karakteristik, jenis dan satuan yang berbeda dari pendidikan pada umumnya seperti disekolah atau pendidikan formal. Karakteristik dari pendidikan luar sekolah ini dapat dilihat dari proses belajar mengajarnya. Dimana pendidikan luar sekolah ini dapat menimbulkan berbagai persepsi terhadap berbagai program yang ada di masyarakat.

Hal ini untuk dapat memperjelas sebuah satuan dan jenis dari pendidikan luar sekolah tersebut. Makanya karakteristik pendidikan luar sekolah ini dikatakan sebagai sebuah tanda atau sifat yang khas pada pendidikan luar sekolah yang juga dapat menjadi pembeda dengan yang lainnya.

Pendidikan luar sekolah ini memiliki karakteristik, jenis dan satuan tersendiri.

Hal inilah yang membedakannya dengan pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah ini timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada pendidikan

(7)

11 | Karakteristik, Jenis dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah persekolahan atau pendidikan formal saja.

Pendidikan luar sekolah ini pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahliandan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pembinaan

dan pengembangan dari pendidikan luar sekolah ini dipandang relevan untuk bisa saling mengisi atau topang menopang dengan sitem persekolahan.

DAFTAR BACAAN

Banowati, Ria, "Upaya Pengelola Lembaga Kursus Menjahit Dalam Mempersiapkan Lulusannya Memasuki Lapangan Kerja" (Skripsi). (Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2014).

Gunawan, Ary H, "Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro)". (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002).

Indrawan, Irjus dan Hadion Wijoyo, “Pendidikan Luar Sekolah”, (Purwokerto Selatan: CV. Pena Persada, 2020).

Josoef, Soelaiman, “Konsep Pendidikan Luar Sekolah”, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008).

Kamil, Mustofa, "Model Pendidikan Dan Pelatihan (Konsep Dan Aplikasi)". (Bandung: Alfabeta, 2010).

Saleh, Syarbaini dkk, “Pendidikan Luar Sekolah”, (Yogyakarta: Penerbit K-Media, 2020).

Sulfemi, Wahyu Bagja, “Manajemen Pendidikan Non Formal”, (Bogor: STKIP Muhammadiyah, 2018).

Trenggana, Imbang J, “ Jenis-Jenis dan Satuan PLS “, ( Published, 2012 ).

Wardani, Welly Kusuma, "ImplementasiProgram Wajib Belajar 12 Tahun Di Provinsi Dki Jakarta (Studi Kota Administrasi Jakarta Timur)”, (Media Neliti.Com).

Yapandi, “ Pendidikan Luar Sekolah ( PLS ) Mendidik Untuk Membangun Karakter Bangsa “, ( Pontianak: IAIAN Pontianak Press, 2015 ).

Referensi

Dokumen terkait

Gagal jantung didapatkan lebih banyak pada laki-laki dibanding dengan wanita serta mengalami peningkatan pada usia 35 dan paling tinggi pada usia di atas 70 tahun memiliki

dapat ditarik kesimpulan bahwa laki- laki yang sekarang dan pernah merokok mempunyai faktor protektif terhadap hormon testosteron yang rendah dibanding dengan

[r]

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sistem berbasis aturan yang dapat mendiagnosa penyakit flu burung secara online , sehingga dapat membantu masyarakat luas dalam

dictation means that the teacher dictates something to the students, they listen carefully, and they draw something on their paper based on teachers‟ instruction. In my

Menurut Larsen dan Buss motivasi berprestasi adalah kebutuhan untuk melakukan hal-hal yang lebih baik untuk mengatasi hambatan dalam upaya mencapai tujuan. Sedangkan

Tahun tersebut menjadi titik awal dari fase ketiga karena di tahun tersebut untuk pertama kalinya dibuat struktur institusi yang jelas terkait kerjasama

Tabel 4.2c: Tabel Program dan Kegiatan Pengembangan Air Limbah Domestik Sumber Pendanaan APBD Provinsi STRATEGI SANITASI KABUPATEN/KOTA RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN SEKTOR