• Tidak ada hasil yang ditemukan

Al-Azhar Journal of Islamic Economics Volume 4 Nomor 1, Januari 2022 ISSN Print:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Al-Azhar Journal of Islamic Economics Volume 4 Nomor 1, Januari 2022 ISSN Print:"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics

Volume 4 Nomor 1, Januari 2022

ISSN Print: 2654-5543 DOI: 10.37146/ajie V4i1.148

Penerbit: Program Studi Ekonomi Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Azhar Gowa

Al-Azhar Journal of Islamic Economics (AJIE) is indexed by Google Scholar and licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Risiko Perkembangan Teknologi Perbankan Syariah Era Millenial

Muhlis Masin*, Asyraf Mustamin, Farid Fajrin, Supriadi, Trisno Wardy Putra, Trimulato

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

*E-mail: [email protected]

Abstract

The risk that have been faced by sharia financial institution is not merely about financial issue but also non-financial. Hence, it is considered as an urgency to be able to implement the risk management in order to conduct the hedging strategy in sharia financial institution, and also to anticipate and ready for further action needed in facing some irrelevant situations which are not according with the expectations and the objectives of the institution. This writing aims to assess the risk management in identifying and in managing of that. However, because of the complexity of the risk encountered both in financial and non-financial issue; such as operational risk of the use of modern technology services which does increasingly pamper the current millennial clients and that prone to cyber-security threat and thus needs protection. Also economic uncertainty with the state of pandemic covid 19.

Keywords: Risk Management, Sharia Financial Institution, Millenia era, and Covid 19 Abstrak:

Risiko yang dihadapi oleh lembaga keuangan syariah tidak hanya menyangkut masalah keuangan tetapi juga non-keuangan. Oleh karena itu, dipandang sebagai urgensi untuk dapat menerapkan manajemen risiko dalam rangka melakukan strategi lindung nilai di lembaga keuangan syariah, serta untuk mengantisipasi dan siap mengambil tindakan lebih lanjut yang diperlukan dalam menghadapi beberapa situasi yang tidak sesuai dengan harapan. dan tujuan lembaga. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji manajemen risiko dalam mengidentifikasi dan mengelolanya. Namun, karena kompleksitas risiko yang dihadapi baik dalam masalah keuangan maupun non-keuangan; seperti risiko operasional penggunaan layanan teknologi modern yang semakin memanjakan klien milenial saat ini dan rentan terhadap ancaman keamanan siber sehingga membutuhkan perlindungan. Juga ketidakpastian ekonomi dengan keadaan pandemi covid 19.

Katan Kunci: Manajemen Risiko, Lembaga Keuangan Syariah, Era Milenia, dan Covid 19 1. Pendahuluan

Dunia lembaga keuangan saat ini menghadapi era yang kompleks, dengan persaingan yang harus dihadapi. Perbankan digital telah menjadi topik hangat diskusi dalam beberapa tahun terakhir. Wacana ini semakin relevan untuk mengkaji masa depan perbankan. Tidak bisa dipungkiri hampir semua bank berambisi dan

(2)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

berlomba-lomba menuju bank digital. Hal ini dipicu oleh perubahan perilaku konsumen yang didominasi oleh generasi millennial yang mengutamakan aspek kenyamanan dan kecepatan.

Milenial lahir antara awal 1980-an dan akhir 1990-an dan memiliki citra dan persepsi sebagai tech-savvy. Mereka adalah penentu perubahan lanskap perbankan saat ini. Saat ini, Indonesia yang mendominasi di sektor pekerjaan strategis adalah kaum milenial di sektor strategis. Perilaku dan preferensi mereka terhadap suatu hal sangat penting, terutama ketika membahas masa depan perbankan dan perbankan digital itu sendiri.

Jumlah generasi milineal telah lebih dari 30% dari total penduduk di tahun 2015, sedangkan pada tahun 2016 akan meningkat menjadi 40% dari total penduduk Indonesia. Artinya dari data tersebut generasi milineal memiliki potensi secara kuantitatif, sehingga dibutuhkan bimbingan untuk mengembangkan potensi yang dimilliki. Hal penting lain yang diperlukan untuk diungkap adalah generasi milineal cenderung mempunyai literasi rendah, dikarenakan generasi ini memiliki karakteristik yang unik, antara lain memiliki daya beli, generasi dalam jumlah banyak, memungkinkan menjadi pelanggan setia.1

Untuk menjawab perubahan karakter nasabah lembaga keuangan, seperti bank, berlomba-lomba mengembangkan banyak platform dan layanan utama, seperti mengembangkan fitur e-banking. Hampir semua bank menjadikan layanan e- banking sebagai fitur utama untuk menarik nasabah. Melalui layanan e-banking, nasabah memiliki keleluasaan untuk mengelola dananya dengan mudah selama di rumah atau di kantor mereka bisa mendapatkan aktivitas layanan perbankan. Tanpa harus berjalan kaki atau mengunjungi kantor perbankan.

Potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar dan penting untuk dikembangkan. Kecepatan laju inovasi mengakibatkan berbagai perubahan dalam segala aspek kehidupan dalam hal ini bidang keuangan termasuk sistem pembayaran dimana perubahan tersebut semakin singkat yang berdampak pada semakin sempit response time otoritas untuk membuat kebijakan. FinTech secara global menggambarkan secara pesat bahwa FinTech berkembang di berbagai sektor, mulai dari startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, riset keuangan, dan lain-lain. Hal ini tentunya akan meningkatkan eksistensi perbankan syariah lebih dapat berkompetitif pada pasar keuangan dan juga membantu proses percepatan pembiayaan di bank syariah dengan aplikasi yang lebih mudah, efisien, dan efektif dengan akses yang lebih luas lagi oleh nasabah dan bank syariah. Proses

1 I I Saputri et al., “Edukasi Perbankan Syariah Dan Pengenalan Profesi Bankir Secara DaringKepada Generasi Milineal,” , 2021, https://journal.inspirasi.or.id/jppm/article/view/19.

(3)

ISSN Print: 2654-5543

pembiayaan lebih cepat dan terukur dengan mitigasi risiko yang dapat dilakukan secara awal dengan sistem FinTech. 2

Tekanan dari situasi dan kebutuhan tersebut membuat dunia perbankan terus berinovasi dalam hal perkembangan teknologi seiring dengan perkembangan layanan dari perusahaan lain di luar sektor perbankan yang mulai menggegerkan industri perbankan. Penyebaran perusahaan e-finansial dengan daya tarik kecepatan, kenyamanan, dan biaya rendah menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Pengembangan organisasi adalah proses yang merencanakan perubahan organisasi budaya melalui pemanfaatan teknologi ilmu perilaku, penelitian, dan teori Pengembangan organisasi dilakukan selaras dengan perubahan budaya yang diakibatkan perkembangan teknologi, perkembangan ilmu perilaku yang semakin cepat tanggap terhadap perubahan lingkungan, dan berdasarkan hasil penelitian yang signifikan menggambarkan perkembangan disemua bidang kehidupan yang menciptakan teori-teori baru dalam mengantisipasi perubahan lingkungan yang cakupannya dapat mencapai lingkungan global. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi tentu tidak pernah lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui riset ilmiah maupun kenyataan yang dihadapi secara tak terstruktur. Di satu sisi, perkembangan teknologi ini tentu menyumbang peranan yang besar dan signifikan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas dalam dunia kerja.3

Sehingga bank tidak hanya bersaing dengan sejumlah kompleksitas layanan dengan sesama bank, tetapi harus menghadapi realitas milenium saat ini dengan berhadapan dengan perusahaan e-financial dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Jika bank dibiarkan dan tidak mau tahu dengan menyikapi perubahan seperti memaksimalkan layanan teknologinya, maka bank siap ditinggalkan nasabahnya dan jelas akan tertinggal. Mengalami keterbelakangan bahkan tertinggal akan mengakibatkan kerugian bahkan dapat menutup bank, karena kemungkinan tidak ada lagi nasabah yang mau melakukan atau menggunakan jasa perbankan tersebut.

Salah satu konsekuensi dari revolusi industri 4.0 adalah lahirnya proses digitalisasi dalam segala bidang. Hal ini juga yang menjadikan paradigma tentang ekonomi dan marketing juga berubah. Produksi, distribusi, hingga pemasaran harus mengikuti gerak digitaliasi ekonomi dunia yang terus berkembang. Tentu perubahan membawa sesuatu baru yang menguntung bagi pelaku ekonomi. Hari ini faktor ekonomi semua bergerak menuju digitaliasi ekonomi dengan menekankan kekuatan teknologi dan informasi. Jangkauan luas dan kecepatan yang signifikan menjadi keunggulan digitalisasi ekonomi tersebut. Revolusi industri ini akan menjadi corak umum pengembangan ekonomi global ke depan. Ibarat dua sisi pada sebuah koin,

2 Rainer Godel et al., “Analisis SWOT Financial Technology (Fintech) Pembiayaan Perbankan Syariah Di Indonesia (Studi Kasus 4 Bank Syariah Di Kota Medan),” Populäre Erscheinungen, 2019, 341–341, https://doi.org/10.30965/9783846751565_020.

3 Manahan P. Tampubolon, Change Management Manajemen Perubahan : Individu, Tim Kerja Organisasi, 2020.

(4)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

era baru yang penuh disrupsi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pemenuhan tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut. Pada satu sisi Implementasi Revolusi Industri 4.0 di satu sisi niscaya mendorong produktivitas dan efisiensi dalam produksi produk dan jasa. Selain itu, era baru ini menyediakan kemudahan dan kenyamanan bagi konsumen. Namun di sisi lain disrupsi berpotensi menghilangkan jenis pekerjaan tertentu atau meningkatkan angka pengangguran. Tanpa penanganan dan persiapan matang dan tepat, ancaman ini tentu akan menganggu upaya pemenuhan tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs), terutama terkait dengan pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi.4

Memasuki era milenial ditambah dengan keadaan bangsa Indonesia menghadapi wabah virus corona covid 19 lebih menekankan fungsi dan manfaat layanan teknologi. Generasi milenial yang tidak disibukkan dengan kesibukan dan harus berdesak-desakan untuk datang ke kantor perbankan, melakukan transaksi atau layanan perbankan lainnya. Kemudian keadaan ini semakin diperparah dengan perlunya mengurangi aktivitas di luar atau istilahnya physical distancing, bahkan masyarakat yang bekerja harus melakukan aktivitas pekerjaannya di rumah atau work from home (WFH).

Oleh karena itu, sangat penting bagi dunia perbankan untuk lebih meningkatkan layanan teknologinya, tidak hanya itu tetapi kualitas lainnya harus lebih ditingkatkan untuk mendukung kondisi persaingan saat ini. Karena perbankan tidak hanya bersaing dengan sesama bank, tetapi lembaga keuangan lain bahkan dari pihak swasta yang menyiapkan layanan e-finansial dengan kemajuan yang sangat pesat 5.

Meski begitu dengan kondisi perkembangan saat ini, perbankan harus melakukan mitigasi terhadap setiap produk layanannya, bahkan yang terkait dengan aktivitas perbankan baik konvensional maupun syariah. Mengingat banyaknya risiko yang dihadapi dalam setiap situasi bisa saja muncul. Bank harus memiliki manajemen yang kuat terhadap segala kemungkinan risiko yang muncul guna meminimalisir kerugian yang akan dihadapinya.

Manajemen menjadi kata yang netral nilai, tergantung pada fungsionalitas dan kegunaan yang diharapkan. Manajemen berarti seni dan ilmu manajemen yang memuat atau berfungsi merencanakan, mengatur, mengarahkan, dan mengawasi6. Manajemen erat kaitannya dengan bagaimana mengelola risiko dalam

4 A. Paige Fischer and Lorien Jasny, “Capacity to Adapt to Environmental Change:

Evidence from a Network of Organizations Concerned with Increasing Wildfire Risk,” Ecology and Society 22, no. 1 (2017), https://doi.org/10.5751/ES-08867-220123.

5 Muhlis, “Strategi Teknologi Pada Lembaga Keuangan Syariah Era,” Ar-Ribh: Jurnal Ekonomi Islam p-ISSN: 3, no. 2 (2020): 144–63.

6 Gita Danupranata, Buku Ajar Manajemen Perbankan Syariah Gita Danupranata, Salemba Empat, 2017, http://www.penerbitsalemba.com.

(5)

ISSN Print: 2654-5543

dunia organisasi atau perusahaan khususnya perbankan. Dalam hal ini tidak mengenal perbankan syariah atau perbankan konvensional.

Kedua aliran lembaga perbankan tersebut terus berinovasi dalam layanan teknologi perbankan memasuki era milenial. Apalagi dalam kondisi pandemi Covid 19. Namun perbankan tetap harus berpegang pada prinsip kehati-hatian, termasuk penggunaan teknologi yang sangat berpotensi memicu risiko sehingga diperlukan pengelolaan yang baik.

Suatu catatan ilmiah pernah mencatat beberapa pengertian risiko secara umum bahwa risiko adalah suatu variasi dari hasil – hasil yang dapat terjadi selama suatu periode tertentu dengan ketidakpastian yang dapat menimbulkan peristiwa kerugian (loss) sehingga hasil yang berbeda dengan yang diharapkan. Secara umum penulis mendefinisikan risiko sebagai suatu keadaan yang kemungkinan akan dihadapi suatu keadaan yang dapat menimbulkan kerugian atau keadaan lain yang tidak terduga.7

Berbagai risiko yang dihadapi dalam dunia perbankan perlu dikelola, seperti pengelolaan risiko pembiayaan, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko reputasi, dan risiko lainnya. Secara umum, klasifikasi risiko dibagi menjadi risiko keuangan dan risiko non-keuangan. Risiko non finansial telah dimasukkan dalam risiko operasi pengadaan jasa teknologi. Bentuk penyalahgunaan, di hacker, di tanggul, atau resiko Cyber C rim lainnya.8

Teknologi informasi selain sebagai teknologi perangkat keras dan perangkat lunak juga digunakan untuk mengolah dan menyimpan informasi, juga berfungsi sebagai teknologi komunikasi untuk penyebaran informasi. Teknologi komunikasi dan teknologi informasi digunakan untuk menghasilkan output yang berguna bagi pengguna, dapat dikomunikasikan dengan pengguna lain di dalam dan di luar organisasi melalui jaringan.9

Teknologi yang saat ini digunakan oleh bank tidak hanya untuk kebutuhan internal untuk mempermudah aktivitas kerja tetapi juga digunakan secara eksternal untuk memberikan pelayanan kepada nasabah dan masyarakat umum. Penggunaan teknologi yang seolah-olah tidak membatasi siapa pun, sehingga bank harus memiliki sistem manajemen yang baik, sulit diintervensi oleh pihak luar seperti dimanipulasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab, namun ingin memanfaatkan keadaan ini.

7 Yuha Nadhirah Qintharah, “Perancangan Penerapan Manajemen Risiko,” JRAK: Jurnal Riset Akuntansi Dan Komputerisasi Akuntansi 10, no. 1 (2019): 67–86, https://doi.org/10.33558/jrak.v10i1.1645.

8 Setiyawan, “SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL DAN SISTEM MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH,” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2017): 1689–99.

9 Muhlis, Menelisik Kinerja Bank Syariah Berbasis Teknologi Informasi, Bank Syariah (TrustMedia Publishing Yogyakarta, 2018),

(6)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

Teori penggunaan tentang motif penggunaan teknologi yang dikembangkan oleh Davis (1989) yang berasumsi bahwa “seseorang yang menggunakan suatu teknologi pada umumnya ditentukan oleh proses kognitif dan bertujuan untuk memaksimalkan kegunaan teknologi informasi oleh penggunanya merupakan evaluasi terhadap kegunaan teknologi. Penelitiannya mengkaji kegunaan yang dirasakan (Perceifed usefulness) dan kemudahan penggunaan yang dirasakan (perceived ease of use) mengenai penggunaan teknologi”

Sehingga penting untuk memperkuat manajemen risiko sebagai bentuk pelaksanaan fungsi manajemen dalam mengelola risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi atau perusahaan. Manajemen yang kuat dan rapi tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan, termasuk menghadapi situasi pandemi virus corona Covid-19.

Coronavirus adalah virus RNA regangan tunggal yang positif, berkapsul dan tidak tersegmentasi. Virus Corona termasuk dalam ordo Nidovirales, famili Corona viridae. Struktur virus corona membentuk struktur seperti kubus dengan protein S yang terletak di permukaan virus. Protein S atau protein spike adalah salah satu protein antigen utama virus dan merupakan struktur utama untuk menulis gen. Protein S ini berperan dalam penempelan dan masuknya virus ke dalam sel inang (interaksi protein S dengan reseptornya di sel inang).10

Menghadapi wabah virus corona dalam situasi pandemi covid 19. Semakin mantapnya layanan teknologi ka rena berkorelasi dengan masyarakat mille nia, yang lebih memilih berdiam diri di rumah daripada melakukan aktivitas di luar, seperti transaksi yang berlangsung di lokasi saat ini saja. Situasi ini memang memaksa dunia perbankan untuk terus memperkuat layanan teknologi digital, namun tak luput melakukan manajemen risiko atas situasi tersebut.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kepustakaan atau ada juga istilah penelitian kepustakaan. Menurut Sugiyona dalam Mirzaqon bahwa jenis penelitian yang berupa studi kepustakaan (library research) berkaitan dengan kajian teoritis dan beberapa referensi yang tidak akan lepas dari literatur-literatur ilmiah. Dalam penelitian ini, sumber data yang diperoleh dari literaturliteratur yang relevan seperti buku, jurnal atau artikel ilmiah yang terkait dengan topik yang dipilih. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kepustakaan ini yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, makalah atau artikel, jurnal dan sebagainya.

Data yang digunakan terkait dengan riset ini menggunakan data dari sumber bacaan buku, jurnal atau artikel ilmiah lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan penulisan yang meliputi manajemen, perbankan, risiko, teknologi termasuk jurnal laporan kasus dari berbagai referensi termasuk jurnal kesehatan yang dielaborasi terkait

10 Yuliana, “Corona Virus Diaseases (Covid-19); Sebuah Tinjauan Literatur,” Parque de Los Afectos. Jóvenes Que Cuentan 2, no. February (2020): 124–37, https://doi.org/10.2307/j.ctvzxxb18.12.

(7)

ISSN Print: 2654-5543

virus corona. menjadi sebuah tulisan.

3. Hasil dan Analisis

3.1 Perkembangan Bank Syariah

Kontribusi bank syariah dalam sistem keuangan negara-negara berkembang khususnya di Indonesia telah meningkat secara signifikan, dan telah menjadi kepentingan sistemik di tingkat lokal, oleh karena itu diharapkan bank-bank ini akan memiliki kontribusi yang signifikan untuk memajukan roda pertumbuhan ekonomi melalui sektor keuangan. produk dan layanan yang mereka sediakan yang memenuhi keinginan dan kebutuhan kategori luas kaitannya dalam peningkatan ekonomi.

Dalam konteks ini, bank syariah berbagi risiko yang sama yang dihadapi bank konvensional, dan mereka meningkatkannya dalam beberapa risiko yang terkait dengan sifat keuangan syariah, seperti risiko tingkat pengembalian dan risiko komersial yang ditransfer, yang membuat proses manajemen risiko di bank syariah untuk menjaga kesehatan keuangan mereka salah satu topik utama Perhatian otoritas pengawas, karena hal ini cukup untuk membuat sistem keuangan lebih stabil dalam lingkungan keuangan global yang ditandai dengan peningkatan jumlah risiko, tingkat keparahan dan kecepatan dari penyebaran mereka.

Risiko tidak dapat dipisahkan dari bisnis perbankan, karena beberapa risiko struktural tidak dapat dipisahkan dari fungsi dan struktur bank. Hal tersebut di atas berarti tidak mungkin untuk sepenuhnya menghilangkan risiko-risiko tersebut, tetapi sekaligus berarti tugas bank untuk mengidentifikasi mereka dalam berbagai tahap dan mengevaluasi mereka menggunakan metode ilmiah dan obyektif, dan kemudian memilih cara yang tepat untuk menghadapinya. Oleh karena itu, bank dan otoritas pengawas dan pengawas telah mengembangkan alat untuk mengidentifikasi risiko. Lalu mengukurnya , dan karena apa yang tidak dapat diukur tidak dapat dikelola, mengukur semua jenis risiko adalah langkah pertama untuk mengelola risiko tersebut.

Bank adalah suatu lembaga keuangan yang berguna sebagai perantara antara pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Hal ini menjadikan bank menghadapi risiko dalam kegiatan operasional bank yang dilakukan. Bank menghimpun dana dari masyarakat dengan berbagai produk simpanan dalam jangka pendek kemudian menyalurkan dalam bentuk pembiayaan (mayoritas dalam jangka panjang). Hal ini tentu akan menimbulkan ketidak cocokan jangka waktu yang menimbulkan risiko pada operasional perbankan. Praktik manajemen risiko menjadi perhatian besar dalam pengelolaan perbankan semenjak krisis ekonomi yang melanda pada pertengahan tahun 1997. Disaat itu, banyak perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas akibat kurangnya kehati-hatian dalam melakukan operasional perbankan. Hal ini yang memunculkan pentingnya

(8)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

pengelolaan risiko di lembaga keuangan, baik diindustri perbankan maupun lembaga keuangan non-bank lainnya. 11

Sifat pekerjaan bank syariah membuatnya rentan terhadap semua jenis risiko perbankan seperti risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas dan risiko operasional.

Hal ini menuntut bank syariah memiliki manajemen risiko perusahaan yang kuat dan sehat sehingga mampu mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko tersebut. Selain mengelola risiko pada tingkat individu, perkembangan besar dalam volume perbankan syariah di negara Indonesia tidak diragukan lagi membutuhkan pemberian keamanan dan kekuatan bank syariah secara keseluruhan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan di ekonomi Naional.

3.2 Risiko Bank Syariah Era Millenial

Perbankan syariah harus mengikuti prosedur manajemen dan pelaporan risiko yang komprehensif, termasuk pengawasan yang tepat oleh dewan direksi dan manajemen senior untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan melaporkan kategori risiko yang relevan, serta memelihara modal yang cukup untuk menjaga dari risiko. Prosedur ini mempertimbangkan langkah-langkah yang tepat untuk mematuhi Syariah, dan untuk memastikan kecukupan laporan yang disampaikan kepada otoritas untuk mengkomunikasikan risiko.

Resiko kepatuhan dapat bersumber antara lain dari perilaku setidaknya aktivitas bank yang menyimpang atau melanggar dari ketentuan atau peraturan perundang- udangan Contoh: Petugas sebuah bank terlambat dalam menyampaikan laporan Sistem Informasi Debitur (SID) kepada Bank Indonesia. Atas keterlambatan pelaporan itu, bank tersebut akan dikenakan denda oleh Bank Indonesia. petugas tersebut telah membawa banknya sendiri menghadapi resiko kepatuhan 12. Manajemen Resiko Kepatuhan Resiko yang disebabkan oleh tidak dipatuhinya ketentuan ketentuan yang ada, baik ketentuan internal maupun eksternal, seperti berikut:

a) Kententuan Giro Wajib Minimum, Net Open Position, Non Performing Financing, dan Batas Maksimum Pemberian Pembiayaan;

b) Ketentuan dalam penyediaan produk;

c) Ketentuan dalam pemberian pembiayaan;

d) Ketentuan dalam pelaporan baik laporan internal, laporan kepada Bank Indonesia maupun laporan kepada pihak ketiga lainnya;

11 Muhammad dan Azizah, “Manajemen Risiko Dalam Perbankan Syariah,” Muhasabatuna:

Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Islam 3, no. 2 (2021): 95–115, https://www.academia.edu/6391477/MANA.

12 Muhammad Iqbal Fasa, “Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Indonesia” 2, no. July (2016): 1–23.

(9)

ISSN Print: 2654-5543

e) Ketentuan perpajakan;

f) Ketentuan dalam akad kontrak;

g) Fatwa Dewan Syariah Nasional

3.3 Teknologi dan Dampaknya Terhadap Bank Syariah

Kemudian kamajuan teknologi digital seperti sekarang ini, seolah tidak lagi memiliki tantangan yang menjadi hambatan, yang jauh dianggap dekat, bahkan dalam dunia industri jasa keuangan transaksi dapat dilakukan tanpa harus tatap muka istilah demikian sebagai transaksi digital, berbagai layanan digital dari lembaga keuangan seperti perbankan yang dapat diakses. Situasi ini sudah menjadi tranding yang harus diupayakan oleh perusahaan. Tidak hanya dunia perbankan konvensional tetapi juga perbankan syariah.

Globalisasi yang terjadi diberbagai belahan dunia, termasuk negara Indonesia bukanlah isu lagi tetapi kenyataan riil yang kini telah terjadi. Globalisasi bukanlah persoalan yang sangat menakutkan yang cenderung meimiliki sisi negatif saja melainnkan juga memilki sisi positif yaitu perluasan jaringan bisnis selama tantanganya dapat diatasi dengan kerja keras dan kesabaran. Dengan adanya globalisasi persaingan ekonomipun antar negara tidak dapat dipungkiri semakin ketat. Otomatis di dunia perbankan pun juga akan mengalami persaingan antara bank - bank. Begitu juga dengan hadirnya sistem syariah di setiap aktivitas ekonomi tentunya akan menimbulkan persaingan antara sistem konvensional dengan sistem syariah. Lebih terperinci artikelini akan membahas mengenai bank syariah di era globalisasi, yang mencakup perkembangan perbankan syariah serta peluang dan kendala yang dihadapi bank syariah di era globalisasi ini. 13

Menanggapi kebutuhan dan perubahan karakter nasabah, bank telah mengembangkan banyak platform dan yang terpenting adalah pengembangan mobile banking. Hampir semua bank menjadikan mobile banking sebagai fitur utama untuk menarik nasabah. Melalui e-banking, nasabah memiliki keleluasaan untuk mengelola dananya dengan mudah.

Kebutuhan mendesak dunia perbankan untuk terus berinovasi dalam hal perkembangan teknologi seiring dengan perkembangan perusahaan penyedia jasa keuangan di luar sektor perbankan yang sudah mulai membuat industri perbankan juga semakin harus meningkatkan kualitas layanannya. Penyebaran perusahaan e- finansial dengan daya tarik kecepatan, kenyamanan, dan biaya rendah menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Bank Indonesia memberikan perhatian yang serius dan bersungguhsungguh dalam mendorong perkembangan perbankan syariah. Semangat ini dilandasi oleh

13 Wening Purbatin Palupi Soenjoto, “Tantangan Bank Syariah Di Era Globalisasi,” El- Barka: Journal of Islamic Economics and Business 1, no. 1 (2018): 79, https://doi.org/10.21154/elbarka.v1i1.1447.

(10)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

keyakinan bahwa perbankan syariah akan membawa ͚ŵaslahat͛ bagi peningkatan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pertama, bank syariah lebih dekat dengan sektor riil karena produk yang ditawarkan, khususnya dalam pembiayaan, senantiasa menggunakan underlying transaksi di sektor riil sehingga dampaknya lebih nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kedua, tidak terdapat produk-produk yang bersifat spekulatif (gharar) sehingga mempunyai daya tahan yang kuat dan teruji ketangguhannya dari direct hit krisis keuangan global. Secara makro, perbankan syariah dapat memberikan daya dukung terhadap terciptanya stabilitas sistem keuangan dan perekonomian nasional. Ketiga, sistem bagi hasil (profit-loss sharing) yang menjadi ruh perbankan syariah akan membawa manfaat yang lebih adil bagi semua pihak, baik bagi pemilik dana selaku deposan, pengusaha selaku debitur maupun pihak bank selaku pengelola dana. Upaya keras dari seluruh stake holders industri keuangan syariah sangat dibutuhkan. Perlu keterpaduan langkah dari para praktisi, akademisi maupun asosiasi agar pengembangan menjadi lebih efektif dan efisien karena dapat menghindari terjadinya redundancy dan suaranya menjadi lebih di dengar. 14

Bahkan lembaga pengawas perbankan seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong setiap lembaga keuangan untuk meningkatkan layanan teknologinya, karena sangat penting untuk lebih meningkatkan layanan teknologinya, tidak hanya itu tetapi juga kualitas lain yang harus lebih ditingkatkan agar dapat mendukung situasi persaingan saat ini. Karena perbankan tidak hanya bersaing dengan sesama bank, tetapi lembaga keuangan lain bahkan dari pihak swasta yang menyiapkan layanan e-finansial dengan kemajuan yang sangat pesat.

Bahkan lembaga keuangan seperti perbankan, jika tidak mampu bersaing dalam pengadaan teknologi, apalagi jika tidak mampu melakukan pengadaan, siap-siap tertinggal, lebih parah lagi akan ditinggalkan nasabahnya. Mengingat saat ini manusia sedang memasuki era milenial. Era dimana masyarakat tidak mau repot melakukan aktivitasnya bahkan untuk transaksi data ke bank.

Dalam keadaan lain, seperti saat ini saat wabah virus corona Covid-19 merebak, aktivitas yang harus dikurangi, termasuk aktivitas pengamanan jika harus keluar rumah. Salah satu contohnya adalah membayar zakat, tampaknya tidak semua lembaga pengelola zakat memiliki layanan pembayaran digital. Perbankan syariah harus mengambil kesempatan ini dan menggunakannya untuk memfasilitasi pembayaran zakat, misalnya. Layanan ini dapat berupa layanan e-banking. Dengan menyediakan platform tersebut, minat menggunakan layanan perbankan akan semakin kuat.

Namun, pengadaan jasa teknologi yang berkualitas, tentunya tidak lepas dari pengawasan. Mengingat sejumlah risiko yang siap mengintai dari segala penjuru ketika berbicara tentang perbankan, khususnya perbankan syariah. Risiko yang umumnya dihadapi bank meliputi risiko finansial dan non-finansial.

14Tantangan Dalam, Menyongsong Mea, and Halim Alamsyah, “Milad_ke- 8_Ikatan_Ahli_Ekonomi_Islam_IAE,” no. April 2012 (2015): 1–8.

(11)

ISSN Print: 2654-5543

Melakukan Manajemen Risiko terkait implementasi layanan, melalui aktivis dengan proses sebagai berikut :

1) Identifikasi risiko dengan melakukan proses review kegiatan, atau secara umum melakukan penelitian terkait permasalahan dalam mencari dan mengumpulkan berbagai jenis informasi mengenai jenis risiko yang akan dihadapi dapat berupa risiko pembiayaan, risiko pasar, risiko penggunaan teknologi. atau risiko keputusan keuangan lainnya.

2) Penilaian risiko setelah mengidentifikasi risiko, proses selanjutnya adalah menentukan langkah-langkah sistematis yang akan digunakan dalam melaksanakan kegiatan proses penilaian risiko, menentukan apakah keputusan dapat diterima, dikelola, dihindari atau keputusan lainnya, salah satu sistem yang digunakan adalah dengan menggunakan sistem auditor, atau sistem formula lainnya.

3) Evaluasi Risiko, Setelah melakukan penilaian risiko dengan sejumlah alat yang digunakan, kemudian melihat dan mengkaji hasil penilaian risiko, kemudian mengambil keputusan berdasarkan identifikasi analisis risiko, terkait dengan pilihan prioritas manuver solusi yang akan dilakukan keluar dan sikap analisis lebih lanjut.

4) Manajemen, melalui analisis dan evaluasi aktivitas risiko, maka dilakukan manajemen risiko. Untuk mengelola risiko diperlukan teknik dan metode, strategi manajemen dalam menghadapi risiko seperti strategi penghindaran, diversifikasi risiko, transfer risiko, atau strategi lainnya.

Berbagai aktivitas dikorbankan oleh syariah dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Bank yang mempunyai kegiatan layanan ebanking wajib melaksanakan dan mengelola manajemen risiko agar kegiatan operasionalnya efektif, sesuai dengan arahan dan ketentuan Bank Indonesia yang meliputi sebuah pengawasan15 aktif Dewan Komisaris dan Direksi;

a. Sistem keamanan (security control);

b. Manajemen risiko, khususnya risiko hukum dan risiko reputasi.

Bersamaan dengan kebutuhan akan layanan perbankan syariah dengan pemanfaatan teknologi, saat ini situasi benar-benar normal akibat merebaknya virus corona covid-19. Aturan protokol kesehatan yang mewajibkan warga untuk menjaga diri bahkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau physical distancing. Sesuai dengan kebiasaan anak-anak usia milenial yang suka melayani serba cepat, bahkan jika bisa kebiasaan pembayaran instan dengan non cas begitu banyak su ka transaksi awal.

15 Otoritas Jasa Keuangan Komisioner, Dewan, “No. 38 /POJK.03/2016: Penerapan Manajemen Risiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi Perbankan,” 2016.

(12)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

Keadaan social distancing akibat wabah Covid 19 dan memasuki era millenial, perbankan khususnya dalam hal ini perbankan syariah harus melakukan manuver- manuver untuk melakukan pelayanan terutama penyediaan layanan digital yang canggih, faktanya sektor perbankan sudah menuju ke arah yang lebih baik. industri 4.0. Risiko yang harus dihadapi bank antara lain semakin tinggi penggunaan dan penyediaan layanan teknologi digital, semakin bank harus mewaspadai kemungkinan-kemungkinan seperti cyber cream, hacking, intrusion dan sebagainya. Tantangan lain dalam menyediakan layanan digital membutuhkan banyak modal.

Hasil pembahasan yang tidak dapat juga dikesampingkan dalam dunia perbankan syariah dalam mengejar persaingan, menghadapi beberapa kenyataan bahwa upaya pemecahan masalah harus dilakukan dalam menghadapi masalah dan tantangan tersebut, antara lain:

a) Masih perlu adanya koordinasi antara pemerintah dan perbankan syariah dalam menjalankan fungsi dan legalitasnya di dunia perbankan.

b) Fungsinya masih belum maksimal dan pemerintah belum sepenuhnya memberikan kepercayaan penuh kepada perbankan syariah. Misalnya banyak kampus yang berada di bawah naungan Kementerian Agama namun dalam pengelolaan keuangannya, tidak melalui lembaga intermediasi perbankan syariah.

c) Kegiatan dana keagamaan yang memiliki linieritas dengan perbankan syariah juga sepenuhnya dipercayakan pengelolaannya seperti dana haji dan umrah.

d) Sumber-sumber keuangan yang dikenal dalam Islam seperti zakat, infaq dan sedekah juga tidak menunjukkan peningkatan signifikansi kerjasama antara lembaga pengelola zakat yang memberikan amanat untuk kebutuhan layanan perbankan syariah.

Ketika berbicara tentang perbankan syariah pada dasarnya bank yang masih dalam situasi berkembang otomatis harus mempertimbangkan keadaan penyediaan alat digital. Manajemen risiko sangat dibutuhkan dalam penerapannya, dengan asumsi jika tidak mempersiapkan segala fasilitas layanan teknologi, maka akan siap tertinggal, mengingat untuk beberapa dekade ke depan bumi sebagian besar dihuni oleh kaum milenial. Jika mampu melakukan manuver ini, Anda harus menyiapkan modal yang banyak sehingga struktur modal harus diperhatikan agar tetap seimbang. Jika perbankan syariah telah mampu mengatur penyediaan layanan digital dengan keadaan permodalan yang tetap proporsional, maka bank tidak lepas dari risiko, karena risikonya semakin kompleks, termasuk penyalahgunaan layanan teknologi tersebut oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. dapatkan, terutama saldo nasabah dan perbankan itu sendiri.

Keberadaan layanan perbankan syariah masih sangat dibutuhkan dan harus diakui. Perannya dalam menyediakan kegiatan jasa keuangan. Meskipun

(13)

ISSN Print: 2654-5543

perkembangannya cukup luar biasa dari lembaga keuangan lain, baik layanan perbankan konvensional maupun perbankan swasta, bukan dari perbankan, mampu memberikan layanan keuangan.

Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan (trust), baik dalam penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan dananya di bank apabila dilandasi adanya unsur kepercayaan. Masyarakat percaya bahwa uangnya tidak akan disalahgunakan oleh bank, uangnya akan dikelola dengan baik, bank tidak akan bangkrut dan pada saat yang telah dijanjikan simpanan tersebut dapat ditarik kembali dari bank. Atas dasar unsur kepercayaan inilah sehingga kualitas layanan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan usaha. Banyak perusahaan selalu ingin dianggap yang terbaik dimata pelanggan atau nasabahnya karena nasabah akan menjadi pelanggan setia terhadap produk yang ditawarkan maka perusahaan perlu melayani pelanggan dengan pelayanan yang baik. Pengertian pelayanan yang baik adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan standar yang telah ditetapkan. Kemampuan tersebut ditunjukkan oleh sumber daya manusia dan sarana serta prasarana yang dimiliki.16 Namun jika kondisi tersebut terabaikan, tidak mau diwaspadai dan respon terhadap perubahan situasi akan sangat sulit ketika berbicara tentang prospek ke depan. Keadaan saat ini dan masa depan beberapa dekade ke depan. Karena saat ini kita memasuki era milenial, maka cukup menciptakan keadaan perubahan di setiap lini, termasuk sifat kebutuhan dan penggunaan jasa keuangan. Mereka yang lebih banyak menggunakan smartphone tidak ingin terlalu ribet dan melakukan lebih banyak transaksi dan aktivitas di dunia digital.

4. Penutup

Perlu sinergi lebih lanjut Perbankan Syariah dengan lembaga pengawas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masukan dari Dewan Pengawas Syariah Nasional (DSN) dan selalu meminta arahan dari Bank Indonesia. Koordinasi dengan pemerintah juga masih sangat perlu ditingkatkan. Perbankan syariah juga harus banyak bekerjasama dengan BUMN dan dalam rangka perbaikan struktur permodalan, maka hubungan antar jajaran lembaga ke depan semakin luas. Saran untuk penulisan selanjutnya terkait dengan judul yang memiliki relevansi dengan tulisan ini, sehingga turun langsung untuk mengambil data dan berinteraksi bahkan mengkaji secara langsung. Terkait Manajemen Risiko penggunaan teknologi digital dalam menghadapi era milenial dan merebaknya virus Covid 19 di lembaga keuangan syariah khususnya perbankan syariah. Karena tulisan di depan Anda lebih mengandalkan riset kepustakaan.

16 Hery Purwanto, “MANAJEMEN PELAYANAN PERBANKAN SYARI’AH” 5 (2019):

106, https://ojs.unsiq.ac.id/index.php/syariati/article/download/1189/679/

(14)

Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Vol. 4 No. 1, Januari 2022

Referensi

Mea, and Halim Alamsyah. “Milad_ke-8_Ikatan_Ahli_Ekonomi_Islam_IAE,” no.

April 2012 (2015): 1–8.

https://www.academia.edu/download/54941656/Perbankan_1.pdf.

Danupranata, Gita. Buku Ajar Manajemen Perbankan Syariah Gita Danupranata.

Salemba Empat, 2017. http://www.penerbitsalemba.com.

Fasa, Muhammad Iqbal. “Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Indonesia” 2, no.

July (2016): 1–23.

Fischer, A. Paige, and Lorien Jasny. “Capacity to Adapt to Environmental Change:

Evidence from a Network of Organizations Concerned with Increasing Wildfire Risk.” Ecology and Society 22, no. 1 (2017).

https://doi.org/10.5751/ES-08867-220123.

Godel, Rainer, Monika Schmitz-Emans, Mario Grizelj, Victor Sage, Matthias Bickenbach, Dirk Sangmeister, Stefan Hoeppner, et al. “Analisis SWOT Financial Technology (Fintech) Pembiayaan Perbankan Syariah Di Indonesia (Studi Kasus 4 Bank Syariah Di Kota Medan).” Populäre Erscheinungen, 2019, 341–341. https://doi.org/10.30965/9783846751565_020.

Komisioner, Dewan, Otoritas Jasa Keuangan. “No. 38 /POJK.03/2016: Penerapan Manajemen Risiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi Perbankan,”

2016.

Mirzaqon, A. T., and B. Purwoko. “Studi Kepustakaan Mengenai Landasan Teori Dan Praktik Konseling Expressive Writing Library.” Jurnal BK UNESA 4, no.

1 (2017): 1–8.

Muhammad dan Azizah. “Manajemen Risiko Dalam Perbankan Syariah.”

Muhasabatuna: Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Islam 3, no. 2 (2021): 95–

115. https://www.academia.edu/6391477/MANA.

Muhlis. Menelisik Kinerja Bank Syariah Berbasis Teknologi Informasi. Bank Syariah.

TrustMedia Publishing Yogyakarta, 2018.

https://www.google.co.id/books/edition/MANAJEMEN_PEMASARAN_

BANK_SYARIAH/W9AeEAAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=pengertian+ma najemen+pemasaran&printsec=frontcover.

———. “Strategi Teknologi Pada Lembaga Keuangan Syariah Era.” Ar-Ribh: Jurnal Ekonomi Islam p-ISSN: 3, no. 2 (2020): 144–63.

Purwanto, Hery. “MANAJEMEN PELAYANAN PERBANKAN SYARI’AH” 5

(2019): 106.

https://ojs.unsiq.ac.id/index.php/syariati/article/download/1189/679/#:

~:text=Pelayanan perbankan syariah yang dimaksud,calon nasabahnya sehingga kepuasan pelanggan.

Qintharah, Yuha Nadhirah. “Perancangan Penerapan Manajemen Risiko.” JRAK:

Jurnal Riset Akuntansi Dan Komputerisasi Akuntansi 10, no. 1 (2019): 67–86.

https://doi.org/10.33558/jrak.v10i1.1645.

Saputri, I I, M N Qomar, R A Maulina, and ... “Edukasi Perbankan Syariah Dan Pengenalan Profesi Bankir Secara Daring Kepada Generasi Milineal.” … Masyarakat, 2021. https://journal.inspirasi.or.id/jppm/article/view/19.

(15)

ISSN Print: 2654-5543

Setiyawan. “SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL DAN SISTEM MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH.” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2017): 1689–99.

Soenjoto, Wening Purbatin Palupi. “Tantangan Bank Syariah Di Era Globalisasi.” El- Barka: Journal of Islamic Economics and Business 1, no. 1 (2018): 79.

https://doi.org/10.21154/elbarka.v1i1.1447.

Tampubolon, Manahan P. Change Management Manajemen Perubahan : Individu, Tim Kerja Organisasi, 2020.

Yuliana. “Corona Virus Diaseases (Covid-19); Sebuah Tinjauan Literatur.” Parque de Los Afectos. Jóvenes Que Cuentan 2, no. February (2020): 124–37.

https://doi.org/10.2307/j.ctvzxxb18.12.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah melihat hasil jawaban angket, pengolahan dan analisis data, maka penulis menyarankan : (1) Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 18 Pontianak Diharapkan siswa

Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi atau dengan kata lain

Jika memperhatikan pengertian-pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa hukum dagang merupakan keseluruhan aturan dalam lalu lintas perdagangan yang dilakukan antara

Walaupun dalam fikih terdapat empat mazhab besar, tetapi dalam penelitian ini penulis membagi mazhab tersebut menjadi dua, dengan alasan adalah ulama Mazhab

Bolabasket adalah permainan olahraga yang dilakukan secara berkelompok, terdiri atas 2 tim yang beranggotakan masing-masing 5 orang yang saling bertanding dengan

Siti juga memaparkan tantangan terbesar yang dihadapi perempuan adalah legitimasi teologis terhadap kondisi yang dirasakan tidak adil, sehingga tindakan perempuan

,FHJBUBO QFOEJEJLBO NFSVQBLBO LFHJBUBO ZBOH NFMJCBULBO NBOVTJB TFDBSB QFOVI EJMBLVLBO PMFI NBOVTJB BOUBS NBOVTJB EBO VOUVL NBOVTJB %FOHBO EFNJLJBO CFSCJDBSB UFOUBOH QFOEJEJLBO