• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh Katijah (2016) yang bertujuan untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh Katijah (2016) yang bertujuan untuk"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi volume impor beras sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh Katijah (2016) yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras di Indonesia dengan menggunakan produksi beras dan jumlah penduduk dalam negeri sebagai faktor yang diteliti. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda, koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (R Adjusted), uji t dan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa impor beras di Indonesia dipengaruhi oleh produksi beras dan jumlah penduduk dalam negeri sebesar 43,2 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel yang diteliti. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia.

Manurung (2014) melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya impor beras di Indonesia pada tahun 1991-2011 dengan menggunakan metode Error Correction Model (ECM). Adapun faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini antara lain produksi beras, konsumsi beras, harga beras lokal, serta harga beras internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi beras di Indonesia berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia, harga beras lokal dan harga beras internasional berpengaruh secara positif

(2)

dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia, sedangkan konsumsi beras di Indonesia tidak berpengaruh terhadap besarnya impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah menggunakan variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia serta menggunakan analisis trend dan analisis regresi linier berganda.

Namira et al. (2017) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras di Indonesia serta menganalisis pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Adapun faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini antara lain produksi beras, konsumsi beras, stok beras, harga beras dalam negeri, harga beras internasional, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel konsumsi beras, stok beras, harga beras domestik dan harga beras internasional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia, sedangkan variabel produksi beras dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika memiliki pengaruh negative dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia.

Darwanto & Rahayu (2008) melakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras di Indonesia serta mengetahui elastisitas dari variabel impor beras dengan menggunakan metode ekonometrika Ordinary Least Square (OLS) serta menggunakan uji stationeritas data.

(3)

Adapun faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini antara lain harga beras internasional, harga beras domestik, produksi padi domestik, pendapatan per kapita, nilai tukar rupiah, jumlah impor sebelumnya, insentif harga, serta permintaan beras domestik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras adalah faktor impor di tahun sebelumnya dan dalam jangka panjang pendapatan mempengaruhi impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan analisis trend dan analisis regresi linier berganda.

Prinadi et al. (2016) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh nilai tukar rupiah, harga beras internasional dan produksi beras dalam negeri terhadap volume impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel nilai tukar rupiah, harga beras internasional, dan produksi beras dalam negeri berpengaruh secara signifikan terhadap volume impor beras di Indonesia. Secara parsial, ditemukan hasil bahwa produksi beras dalam negeri tidak berpengaruh secara signifikan terhadap volume impor beras, sedangan nilai tukar rupiah dan harga beras internasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap volume impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia.

Mukhdar (2014) melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis

(4)

regresi linier berganda. Adapun faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini antara lain harga beras lokal, produksi beras, dan jumlah penduduk di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel harga beras lokal, produksi beras, dan jumlah penduduk berpengaruh secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Secara parsial, variabel harga beras dan produksi beras tidak berpengaruh secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Sedangkan variabel jumlah penduduk berpengaruh secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia.

Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia.

Nizar & Abbas (2019) melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras di Indonesia dengan metode analisis regresi linier berganda dan Autorgressive Distributed Lag (ARDL). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga eceran terhadap impor beras di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga melihat hubungan jangka pendek dan jangka panjang dari inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga eceran terhadap impor beras di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, variabel inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga eceran berpengaruh positif terhadap impor beras di Indonesia. Secara parsial, variabel inflasi dan harga eceran masing-masing berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia, sedangkan variabel nilai tukar tidak berpengaruh dan negatif terhadap impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga

(5)

beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis trend dan analisis regresi linier berganda.

Kurniyawan (2013) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jangka panjang dan jangka pendek variabel produksi beras, jumlah penduduk, dan produk domestik bruto terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode Error Correction Model (ECM) dan uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, variabel produksi beras berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia.

Sedangkan dalam jangka panjang, variabel produksi dan produk domestik bruto berpengaruh secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel jumlah penduduk tidak memiliki pengaruh terhadap impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis trend dan analisis regresi linier berganda.

Sari (2014) melakukan penelitian mengenai analisis impor beras di Indonesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda dan Error Correction Model (ECM). Faktor-faktor yang digunakan dalam penelitian ini antara lain produksi beras, konsumsi beras, harga beras dalam negeri, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan maupun parsial variabel produksi beras,

(6)

konsumsi beras, harga beras dalam negeri, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpengaruh secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis trend dan analisis regresi linier berganda.

Zaeroni & Rustariyuni (2016) melakukan penelitian mengenai pengaruh produksi beras, konsumsi beras, dan cadangan devisa terhadap impor beras di Indonesia dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh produksi beras, konsumsi beras, dan cadangan devisa terhadap impor beras di Indonesia baik secara simultan maupun secara parsial. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui variabel yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap impor beras di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel produksi beras, konsumsi beras, dan cadangan devisa berpengaruh secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Sedangkan secara parsial, variabel produksi dan konsumsi beras tidak berpengaruh terhadap impor beras, dan variabel cadangan devisa berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor beras. Perbedaan penelitian ini adalah berfokus pada variabel produksi dan harga beras domestik untuk mengetahui pengaruhnya terhadap impor beras di Indonesia.

(7)

Tabel 1. Penelitian Terdahulu Peneliti Tahun Variabel Metode

Analisis

Hasil

Katijah M. 2016 Variabel independen:

Produksi Beras dan Jumlah Penduduk.

Variabel dependen:

Volume Impor Beras.

Regresi Linier Berganda, Koefisien Korelasi (r), Koefisien Determinasi (R Adjusted), Uji t dan Uji F.

Impor beras di

Indonesia berkontibusi oleh produksi beras dan jumlah penduduk dalam negeri sebesar 43,2 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel yang diteliti.

Erikson Manurung dan Nurcahyaningtyas

2014 Variabel independen:

Produksi Beras, Konsumsi Beras, Harga Beras Lokal, serta Harga Beras Internasional.

Error Correction Model (ECM).

Produksi beras di Indonesia berkontribusi secara negatif dan signifikan terhadap impor beras di

Indonesia, harga beras lokal dan harga beras internasional

(8)

Variabel

dependen: Impor Beras.

berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia, sedangkan konsumsi beras di Indonesia tidak

berkontribusi terhadap besarnya impor beras di Indonesia.

Yona Namira, Iskandar Andi Nuhung, dan Mudatsir Najamuddin.

2017 Variabel independen:

Produksi Beras, Konsumsi Beras, Stok Beras, Harga Beras dalam Negeri, Harga Beras Internasional, dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Regresi Linier

Berganda, Uji Asumsi Klasik, dan Uji Hipotesis.

Variabel konsumsi beras, stok beras, harga beras domestik,dan harga beras

internasional memiliki berkontribusi positif dan signifikan terhadap impor beras di

Indonesia. Sedangkan variabel produksi beras dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika

(9)

Variabel

dependen: Impor Beras.

memiliki berkontribusi negative dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia.

Dwidjono Hadi Darwanto dan Endang Siti Rahayu

2008 Variabel independen:

Harga Beras Internasional, Harga Beras Domestik, Produksi Padi Domestik, Pendapatan Per Kapita, Nilai Tukar Rupiah, Jumlah Impor Sebelumnya, Insentif Harga, serta Permintaan Beras Domestik.

Variabel

Ekonometrika dengan Ordinary Least Square (OLS) dan Uji

Stationeritas Data.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berkontribusi impor beras adalah faktor impor di tahun

sebelumnya. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam jangka panjang pendapatan

berkontribusi impor beras di Indonesia.

(10)

dependen: Impor Beras.

Riska Prinadi, Edy Yulianto, dan M. Kholid Mawardi

2016 Variabel

independen: Nilai Tukar Rupiah, Harga Beras Internasional, dan Produksi Beras dalam Negeri.

Variabel dependen:

Volume Impor Beras.

Regresi Linear Berganda.

Variabel nilai tukar rupiah, harga beras internasional, dan produksi beras dalam negeri berkontribusi secara signifikan terhadap volume impor beras di Indonesia.

Secara parsial,

ditemukan hasil bahwa produksi beras dalam negeri tidak

berkontribusi secara signifikan terhadap volume impor beras, sedangan nilai tukar rupiah dan harga beras internasional memiliki berkontribusi yang

(11)

signifikan terhadap volume impor beras di Indonesia.

Musdalifah Mukhdar

2014 Variabel independen:

Harga Beras Lokal, Produksi Beras, dan Jumlah Penduduk.

Variabel

dependen: Impor Beras.

Regresi Linier Berganda.

Secara simultan variabel harga beras lokal, produksi beras, dan jumlah penduduk berkontribusi secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Secara parsial, variabel harga beras dan produksi beras tidak

berkontribusi secara signifikan terhadap impor beras di

Indonesia. Sedangkan variabel jumlah

penduduk berkontribusi secara signifikan

(12)

terhadap impor beras di Indonesia.

Jumai Nizar dan Tarmizi Abbas

2019 Variabel independen:

Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, dan Harga Eceran.

Variabel

dependen: Impor Beras.

Regresi Linier

Berganda dan Autorgressive Distributed Lag (ARDL).

Secara simultan, variabel inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga eceran berkontribusi positif terhadap impor beras di Indonesia.

Secara parsial, variabel inflasi dan harga eceran masing-masing

berkontribusi positif dan signifikan terhadap impor beras di

Indonesia, sedangkan variabel nilai tukar tidak berkontribusi dan negatif terhadap impor beras di Indonesia.

Hengki Kurniyawan

2013 Variabel independen:

Error Correction

Dalam jangka pendek, variabel produksi beras

(13)

Produksi Beras, Jumlah

Penduduk, dan Produk Domestik Bruto (PDB).

Variabel

dependen: Impor Beras.

Model (ECM) dan Uji Asumsi Klasik.

berkontribusi secara negatif dan signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Sedangkan dalam jangka panjang, variabel produksi dan produk domestik bruto berkontribusi secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel jumlah penduduk tidak

memiliki berkontribusi terhadap impor beras di Indonesia.

Ratih Kumala Sari

2014 Variabel independen:

Produksi Beras,

Regresi Linier

Berganda dan

Secara simultan maupun parsial variabel produksi

(14)

Konsumsi Beras, Harga Beras dalam Negeri, dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS.

Variabel

dependen: Impor Beras.

Error Correction Model (ECM).

beras, konsumsi beras, harga beras dalam negeri, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berkontribusi secara signifikan terhadap impor beras di Indonesia.

Rikho Zaeroni dan Surya Dewi Rustariyuni

2016 Variabel independen:

Produksi Beras, Konsumsi Beras, dan Cadangan Devisa.

Variabel

dependen: Impor Beras.

Regresi Linier Berganda.

Secara simultan variabel produksi beras, konsumsi beras, dan cadangan devisa berkontribusi secara signifikan terhadap impor beras di

Indonesia. Sedangkan secara parsial, variabel produksi dan konsumsi beras tidak

berkontribusi terhadap

(15)

impor beras, dan variabel cadangan devisa berkontribusi positif dan signifikan terhadap impor beras.

2.2 Kajian Pustaka 2.2.1 Volume Impor Beras 2.2.1.1 Pengertian Impor

Landasan impor mengacu pada kemandirian suatu negara dalam memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Setiap negara tentu memiliki perbedaan sumber daya alam, iklim, geografi, demografi, struktur ekonomi, maupun struktur sosial.

Perbedaan-perbedaan tersebut yang membuat adanya perbedaan komoditas yang dihasilkan, komposisi biaya yang diperlukan, serta kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Maka perlu diadakannya jual beli produk antar negara berguna sebagai pengisi kekosongan dalam negeri dan menambah devisa negara eksportir. Khususnya dalam mengisi kekosongan kebutuhan suatu negara, impor berperan sebagai pengisi kekosongan kebutuhan suatu negara. Impor juga memiliki pengertian sebagai suatu kegiatan memasukkan barang dari luar negeri ke dalam negeri menggunakan alat pembayaraan devisa dan disebut sebagai importir (Hariyati & Hendrati, 2010).

Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dijelaskan bahwa impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean

(16)

dan importir sebagai perseorangan atau lembaga atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang melakukan impor. Daerah pabean yang dimaksud adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landasan kontinen. Adapun kegiatan impor dilakukan dengan mencermati teori perdagangan internasional yang berbeda-beda sumber dan pengertian dalam memaknainya.

2.2.1.2 Tujuan Kegiatan Impor

Perdagangan internasional adalah perdagangan antar negara yang dilakukan guna memenuhi kebutuhan manusia disuatu negara karena keterbatasan sumberdaya alam yang dilandasi letak geografis suatu daerah dan banyak faktor-faktor dalam memperoleh maupun memproduksi sumberdaya tersebut. Adanya perdagangan internasional dapat membuka peluang bagi produk pasar dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga akan membuka peluang masuknya produk-produk global ke pasar domestik. impor yang dilakukan pemerintah tidak terlepas dari besarnya kebutuhan khususnya terhadap beras di Indonesia dan juga dipengaruhi oleh harga beras dalam negeri.

Beras dalam negeri yang pada dasarnya belum mampu berdaya saing tinggi harus menghadapi beras impor yang harganya lebih murah. Hal ini menyebabkan hasil produksi beras dalam negeri menjadi kurang diminati. Semakin rendah harga beras impor maka semakin besar pula pemerintah melakukan impor. Hal ini

(17)

dikarenakan pendapatan masyarakat yang meningkat sehingga kecenderungan untuk mengkonsumsi barang dan jasa juga akan meningkat. Apabila harga beras dalam negeri mengalami kenaikan, maka konsumen akan mengganti barang tersebut dengan barang impor yang harganya relatif murah. Semakin besar impor yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan konsumen juga akan berdampak pada pendapatan nasional. Dimana biaya yang dikeluarkan untuk mengimpor barang dari negara lain berasal dari pendapatan nasional. Semakin tinggi tingkat pendapatan menyebabkan pola konsumsi juga akan meningkat. Namun apabila tidak diiringi dengan tingkat produksi yang meningkat, maka semakin besar kemungkinan untuk melakukan impor dan semakin banyak terdapat “kebocoran” dalam pendapatan nasional (Armaini & Gunawan, 2016).

2.2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Impor

Perdagangan internasional yang salah satu kegiatannya tertuang dalam kegiatan impor timbul karena adanya perbedaan harga barang di berbagai negara.

Harga sangat dipengaruhi oleh biaya produksi yang terdiri dari berbagai unsur yaitu upah, biaya modal, sewa tanah, biaya bahan mentah dan efisiensi dalam proses produksi. Ongkos produksi yang berbeda-beda dari berbagai negara menjadi faktor penentu terciptanya harga dari hasil produksi. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan jumlah, jenis, kualitas dan cara-cara mengkombinasikan faktor-faktor produksi tersebut dalam proses produksi. Perbedaan harga dan faktor produksi yang

(18)

saling berkaitan inilah yang menjadi pangkal timbulnya perdagangan antar negara dan memicu terjadinya kegiatan impor salah satunya (Nopirin, 1996).

Negara-negara memiliki 2 alasan utama dalam pengadaan perdagangan internasional. Pertama, negara-negara berdagang karena mereka memiliki perbedaan satu sama lain. Negara-negara mampu menghasilkan keuntungan melalui perbedaan- perbedaan yang mereka miliki melalui suatu pengaturan dimana setiap pihak melakukan sesuatu yang relatif lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Kedua, negara-negara berdagang untuk mencapai skala ekonomis dalam produksi. Artinya dalam proses produksi suatu barang tertentu yang menjadi kelebihan suatu negara, negara mampu memperbesar skala produksi yang menjadi kelebihan suatu negara guna mencapai keuntungan maksimum dan lebih efisien dibandingkan harus memproduksi segala jenis barang (Sasono, 2012).

2.2.1.4 Dampak Kegiatan Impor

Kegiatan impor memiliki dampak positif dan negatif bagi perekonomian negara maupun bagi masyarakat. Suatu negara melakukan impor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri yang belum mampu diproduksi seefisien atau semurah negara pengekspor. Selain itu, negara juga melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan komoditas yang tidak tersedia di dalamnya. Adapun dampak positif dari kegiatan impor antara lain:

1. Alih teknologi. Dengan adanya kegiatan impor, memungkinkan terjadinya alih teknologi pada negara yang mengadakan impor. Suatu negara akan

(19)

berusaha mengembangkan teknologi yang dimilikinya agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain yang sudah maju.

2. Meningkatkan kesejahteraan konsumen. Suatu negara melakukan kegiatan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang belum mampu diproduksi seefisien atau semurah negara pengekspor. Dengan demikian, kebutuhan konsumen yang tidak dapat dipenuhi oleh negara akan terpenuhi melalui kegiatan impor.

3. Meningkatkan industri dalam negeri. Dengan melakukan kegiatan impor, negara akan mendapatkan barang-barang modal baik berupa bahan baku maupun mesin industri yang dapat membantu kita untuk mengembangkan industri dalam negeri.

Selain dampak positif, impor juga mampu membawa dampak negatif kepada suatu negara importir yaitu terjadinya defisit neraca perdagangan karena defisit akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Dengan demikian pembatasan dan pemantauan kegiatan impor sangat diperhatikan oleh suatu negara dengan penetapan kebijakan yang berbeda-beda yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang pengesahan persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia yang memuat rambu-rambu yang wajib dipatuhi oleh setiap negara anggota WTO dalam merumuskan kebijakan perdagangan internasional, termasuk kebijakan impor (Sasono, 2012).

(20)

2.2.1.5 Kebijakan Impor Beras di Indonesia

Beras menjadi komoditas dengan permintaan yang inelastis. Artinya perubahan harga hampir tidak menyebabkan perubahan jumlah permintaan konsumen. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan mayoritas masyarakat yang selalu mengkonsumsi beras setiap hari sehingga merubah beras sebagai sumber makanan pokok utama bagi seluruh masyarakat indonesia. Beras sebagai hasil komoditas pertanian juga mampu memberikan kontribusi terbesar pada garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan (Kementerian Pertanian, 2015). Sebagian besar pengeluaran penduduk miskin digunakan untuk membeli makanan, khususnya komoditas beras.

Pada kenaikan harga beras, berpengaruh terhadap peningkatan pengeluaran masyarakat dan berpotensi menambah jumlah penduduk miskin. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa setiap kenaikan harga beras sebesar 10 persen akan menyebabkan pertambahan penduduk miskin sebesar satu persen (Malian et al., 2016). Dalam konsepnya, apabila ketersediaan kurang, harga cenderung naik sehingga tidak terjangkau oleh konsumen, khususnya masyarakat berpendapatan rendah/miskin (Hariyati & Hendrati, 2010). Alasan-alasan inilah yang menyebabkan munculnya inisiatif pemerintah dalam mengambil kebijakan impor beras yang bertujuan untuk menstabilkan harga beras dalam waktu relatif singkat. Namun dalam konteks lain, pemerintah juga perlu memperhatikan kepentingan petani padi dalam rangka peningkatan produksi padi guna menjaga stabilitas harga bahan makanan dalam jangka panjang (Widiarsih, 2012).

(21)

Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial, Pemerintah bersama DPR menerbitkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 dan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2013 menyebutkan peran negara untuk melindungi petani dan meningkatkan produksi pangan melalui pengaturan impor pangan, termasuk penetapan Bea Masuk. Pada pelaksanaannya, tarif impor atau bea masuk beras diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Namun, kebijakan impor beras di Indonesia menciptakan sebuah rasa dilematik yang cukup tinggi. Artikel jurnal yang ditulis oleh Dawe (2008) yang berjudul Can Indonesia Trust the World Rice Market mengatakan bahwa Indonesia lebih menguntungkan untuk melakukan impor beras dari pada melakukan swasembada beras. Hal ini dikarenakan secara geografis Indonesia sangat sulit untuk mencapai titik swasembada pangan, sehingga menerapkan kebijakan pembatasan impor beras justru akan meningkatkan kemiskinan masyarakat karena harga beras lokal meningkat dan produksi tidak mampu mengimbangi konsumsinya. Pasar beras dunia saat ini juga dapat diandalkan tidak seperti era sekitar tahun 1970 yang masih belum ada teknologi untuk menjamin produksi beras dunia sehingga tidak perlu khawatir harga beras dunia anjlok karena kurangnya pasokan. Selain itu, negara eksportir beras dinilai tidak akan menciptakan kartel. Kartel di pasar beras dinilai tidak mungkin terjadi karena antar negara eksportir memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Seperti contoh negara Thailand yang ingin menaikkan harga beras

(22)

dunia dengan mengurangi ekspor mereka, maka Vietnam bisa langsung melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan ekspor beras mereka (Kusumah, 2019).

2.2.2 Produksi Beras 2.2.2.1 Pengertian Produksi

Produksi bisa mempunyai pengertian teknis dan ekonomis. Secara teknis produksi berarti proses mengkombinasikan barang-barang dan tenaga yang ada.

Secara ekonomis produksi berarti suatu proses yang menciptakan atau menambah nilai, guna atau manfaat baru (Soeratno dkk, 2000). Secara garis besar, produksi merupakan kegiatan merubah input menjadi output. Kegiatan tersebut menunjukkan jumlah output maksimum yang dapat dihasilkan dari sejumlah input tertentu dengan menggunakan teknologi (Sugiarto dkk, 2002). Produksi merupakan serangkaian kegiatan untuk menghasilkan nilai dalam bentuk barang atau jasa dengan mengubah input menjadi output (Heizer & Render, 2005). Input yang digunakan dalam kegiatan produksi antara lain kapital (modal), tenaga kerja, tanah dan sumber alam, serta keahlian. Berikut merupakan gambaran dari proses produksi.

Gambar 1. Proses Produksi Input (Kapital,

tenaga kerja, tanah dan sumber alam,

serta keahlian

Fungsi produksi (menggunakan teknologi tertentu)

Output (barang atau jasa)

(23)

Pada tahap awal, diperlukan adanya penentuan input yang diperlukan untuk menambah nilai guna dari suatu produk atau jasa. Secara umum, input tersebut terdiri dari modal, tenaga kerja, tanah dan sumber alam, serta keahlian. Kombinasi dari input tersebut selanjutnya diproses dengan menggunakan teknologi tertentu sehingga menghasilkan barang atau jasa yang memiliki nilai guna lebih daripada sebelumnya.

Kegiatan produksi ini menghasilkan barang atau jasa yang disebut output, dimana hal tersebut dapat mendatangkan keuntungan untuk mencapai tingkat kemakmuran yang diinginkan.

2.2.2.2 Teori Fungsi Produksi

Dalam melaksanakan kegiatan produksi, diperlukan adanya sebuah landasan teknik yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi merupakan kaitan antara faktor- faktor produksi dan capaian tingkat produksi yang dihasilkan (Sukimo, 2000). Dalam hal ini, faktor-faktor produksi dikenal dengan input, dan tingkat produksi yang dihasilkan dikenal dengan output. Fungsi produksi menunjukkan maksimum output yang dapat dihasilkan dengan menggunakan kombinasi alternatif dari modal, tenaga kerja, bahan baku, dan keahlian. Menurut Sukimo (2000), fungsi produksi dapat dituliskan sebagai berikut:

Dimana:

Q = Output (Jumlah produksi yang dihasilkan) Q = f (K, L, R, T)

(24)

f = konstanta K = Modal

L = Jumlah tenaga kerja R = Biaya sewa lahan

T = Tingkat teknologi yang digunakan

Fungsi produksi menetapkan bahwa suatu perusahaan tidak bisa mencapai suatu output yang lebih tinggi tanpa menggunakan input yang lebih banyak dan suatu perusahaan tidak bisa menggunakan input lebih sedikit tanpa mengurangi tingkat outputnya. Maka fungsi produksi adalah hubungan teknis antara input dengan output (Joesron & Fathorrozi, 2003).

Menurut Joesron & Fathorrozi (2003), fungsi hubungan antara jumlah output (Q) dengan sejumlah input yang digunakan dalam proses produksi (X1 X2 X3 X4…..Xn) dapat ditulis sebagai

berikut:

Dimana:

Q = Output X = Input

Menurut Sudarman (2004), faktor produksi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yakni sebagai berikut:

Q = f (X1 X2 X3 X4….Xn)

(25)

1. Faktor Produksi Tetap (Fixed Input)

Faktor produksi tetap merupakan faktor produksi dimana jumlah yang digunakan dalam proses produksi tidak dapat diubah secara cepat apabila menghendaki perubahan pada jumlah output (V. D. Sari & Sukojo, 2015).

Dalam hal ini, faktor produksi tidak dapat diubah dalam waktu yang singkat.

Input tetap selalu ada walaupun output turun sampai dengan nol, contohnya mesin untuk proses produksi.

2. Fakror Produksi Variabel (Variable Output)

Faktor produksi variabel adalah faktor produksi dimana jumlah input dapat berubah dalam waktu yang relative singkat sesuai dengan jumlah output yang ingin dihasilkan, contohnya bahan baku dan tenaga kerja. Untuk menghasilkan sejumlah output tertentu, dapat menambah bahan baku atau tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi.

Fungsi produksi pada hakikatnya terletak antara kelangkaan dan tindakan ekonomi. Kelangkaan yang menimbulkan masalah ekonomi dan tindakan sebagai upaya untuk memecahkannya. Masalah ekonomi timbul karena kebutuhan manusia tidak terbatas sementara alat pemuas kebutuhan manusia relatif sangat terbatas.

Karena adanya masalah ini kemudian timbul suatu tindakan, yakni tindakan memilih berbagai alternatif yang mungkin dapat memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas.

Karena adanya kelangkaan tersebut, maka manusia berpikir bagaimana menggunakan

(26)

input yang terbatas adanya agar dapat menghasilkan output yang optimal (Joesron &

Fathorrozi, 2003).

2.2.2.3 Produksi Beras di Indonesia

Beras merupakan komoditi yang penting di Indonesia mengingat beras merupakan komoditas pangan yang dijadikan sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam mengatur kebijakan perberasan menjadi sangat penting sebagai penentu kebijakan pangan nasional dalam pemenuhan hak pangan dan kesejahteraan rakyat. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan manusia yang berkualitas (Amalia et al., 2019).

Dalam proses produksinya, produksi beras diawali dengan penanaman benih padi. Penggunaan input seperti tanah, pupuk, modal, iklim, dan tenaga kerja mempengaruhi tingkat produksi beras yang diperoleh. Penentuan input yang dianalisis ditentukan dari tingkat pengaruh input tersebut terhadap produksi. Apabila pola fungsi produksi diketahui, maka dapat ditentukan kombinasi yang baik sehingga hasil produksi gabah yang diperoleh petani pun akan maksimal atau biasa disebut Gabah Kering Panen (GKP) yang selanjutnya dikonversi menjadi Gabah Kering Giling (GKG) sebelum menjadi beras yang siap dikonsumsi.

(27)

Perhitungan produksi beras dilakukan dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras. Berikut merupakan alur perhitungan gabah ke beras berdasarkan hasil survey tahun 2005-2007.

Sumber: Data Sekunder Diolah, 2020

Gambar 2. Alur Perhitungan Gabah ke Beras

Gabah Kering Panen (GKP) yang diperoleh melalui proses penanaman benih padi selanjutnya dikonversi menjadi Gabah Kering Giling (GKG) dengan menggunakan angka konversi sebesar 86,02% (diperoleh melalui Survei Susut Panen dan Pasca Panen 2005-2007). Selanjutnya, Gabah Kering Giling (GKG) hasil konversi dari Gabah Kering Panen (GKP) tidak seluruhnya diolah menjadi beras. Hal ini disebabkan oleh adanya penggunaan atau pemanfaatan Gabah Kering Giling (GKG) sebagai bahan industri, bibit/benih, pakan ternak, dan terjadinya susut karena tercecer. Sisa dari Gabah Kering Giling (GKG) yang telah dimanfaatkan tersebut (sebesar 92,70%) kemudian diolah menjadi beras. Tingkat konversi GKG untuk

(28)

diolah ke beras sebesar 62,74% (diperoleh dari Intregasi Survei Susut Panen dan Pasca Panen tahun 2005-2007, BPS dan Departemen Pertanian). Setelah dikonversi menjadi beras, selanjutnya terjadi pemanfaatan beras untuk pakan ternak, bahan industry, dan susut karena tercecer. Sisa dari beras yang telah dimanfaatkan tersebut (sebesar 96,67%) kemudian dialokasikan untuk beras yang digunakan sebagai bahan pangan penduduk.

Tingkat produksi beras di Indonesia setiap tahun cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat pada grafik produksi beras dari tahun 2010-2019 berikut.

Sumber: Data Sekunder Diolah, 2020

Gambar 3. Produksi Beras Tahun 2010-2019

Pertumbuhan produksi beras dari tahun 2010-2017 cenderung mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan konsistensi pemerintah dalam upaya meningkatkan produksi beras melalui pembangunan embung, pendampingan petani

(29)

di lapangan, pemberian bantuan benih dan alat pertanian, serta pemberian jaminan harga bagi petani produsen. Kenaikan rata-rata produksi beras dari tahun 2010-2019 sebesar 3,7%. Namun pada tahun 2018, produksi beras mengalami penurunan yang cukup tajam yakni sebesar 33,3% dari 50,9 juta ton beras di tahun 2017 menjadi 33,9 juta ton beras di tahun 2018. Penurunan tingkat produksi beras juga terjadi pada tahun 2019 yakni sebesar 7,7% dari 33,9 juta ton beras menjadi 31,3 juta ton beras pada tahun 2019. Menurut Suhariyanto dalam Rilis Data Beras 2019 di Kementerian Pertanian, tahun 2019 terjadi penurunan produksi beras karena adanya cuaca ekstrem (kemarau) serta banjir sawah di berbagai daerah. Selain itu, luas lahan panen pada tahun 2019 juga mengalami penurunan sebesar 6,15% dari luas lahan panen tahun 2018.

2.2.3 Harga Beras Domestik 2.2.3.1 Pengertian Harga

Harga adalah nilai suatu barang. Dalam penjelasannya, barang yang memiliki nilai akan mampu ditukar dengan barang lain. Memahami nilai suatu barang tertentu hanya jika barang tersebut memiliki manfaat pada kegunaannya. Pada era terdahulu, proses penukaran suatu barang dilakukan dengan cara barter dengan tetap melihat nilai guna suatu barang. Namun di era sekarang, segala jenis barang melihat nilai guna dan jumlahnya, sudah dapat ditukarkan dengan uang sebagai alat penukarannya.

Dengan demikian, secara sederhana, harga dapat didefinisikan sebagai nilai tukar suatu barang yang dinyatakan dengan uang. Harga terbentuk ketika ada pertemuan

(30)

antara permintaan dan penawaran. Ada kesepakatan antara harga yang diminta pembeli dengan harga yang ditawarkan penjual (Sjaroni et al., 2019).

Harga mampu menjadi indikator kualitas. Bagi konsumen, harga dapat menjadi kriteria penentu nilai barang. Barang dengan harga tinggi disebut dengan superior, sedangkan barang dengan harga rendah disebut inferior. Hal ini disebabkan karena adanya ketimpangan antara permintaan dan penawaran. Namun berbeda hal dengan kondisi harga beras. Beras dalam kondisinya memiliki sifat inelastis yang dimana perubahan harga beras sedikit mepengaruhi atau hampir tidak ada pengaruh terhadap permintaan terhadap beras. Ini disebabkan karena rutinitas masyarakat yang mengkonsumsi beras sulit tergantikan yang pada akhirnya membuat beras secara umum menjadi makanan pokok utama bagi masyarakat Indonesia (Khusaini, 2013).

2.2.3.2 Kebijakan Harga

Pemerintah sebagai wadah dan penyokong semua elemen masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan kesejahteraan pada segala macam aspek internal negara terutama pada urusan pangan. Banyak langkah-langkah yang diambil pemerintahh dalam merentas permasalahan pangan dalam negeri terutama pada beras.

Intervensi kebijakan merupakan salah satu langkah yang diambil pemerintah dengan menetapkan kebijakan harga dasar dan harga atap terhadap beras guna terciptanya stabilisasi harga dan kondisi keseimbangan pasar. Harga dasar merupakan harga terendah yang ditetapkan terhadap suatu produk, sedangkan harga atap merupakan harga tertinggi yang ditetapkan terhadap suatu produk (Nurrochmat et al., 2016).

(31)

Kebijakan harga secara umum diterapkan untuk mengendalikan harga barang- barang kebutuhan pokok dan secara tidak langsung membatasi aktor yang memiliki kekuatan dominan untuk mengendalikan pasar serta keberpihakan pasar. Harga dasar beras berfungsi sebagai pelindung bagi produsen atau petani ditengah kemerosotan harga beras akibat melimpahnya kuantitas produk beras di pasar. Sebagai contoh sewaktu panen raya, petani mengalami penurunan harga jual. Sebaliknya, harga atap berfungsi untuk melindungi masyarakat atau konsumen dari melambungnya harga karena kelangkaan penawaran, misalnya pada saat terjadinya kenaikan harga beras pada musim paceklik atau gagal panen. Namun, fluktuasi harga hanya terjadi pada negara dengan kondisi perekonomian yang tidak stabil seperti Indonesia (Nurrochmat et al., 2016).

2.2.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dinamika Harga

Harga hanya akan berubah jika terdapat ketimpangan antara permintaan dan penawaran. Pada kasus beras, perubahan harga yang paling mendasar disebabkan oleh produksi beras yang tak mampu mengimbangi jumlah konsumsi masyarakat terhadap beras. Pada akhirnya, terjadinya lonjakan harga beras. Namun, pemerintah mengambil kebijakan impor yang salah satunya berguna sebagai stabilisasi harga karena kuantitas akan beras dalam negeri mampu terpenuhi. Meskipun demikian, harga beras masih memiliki banyak sekali pontensi untuk naik yang dimana dapat terjadi karena perubahan nilai kurs dan perubahan harga beras internasional (Al Arif

& Amalia, 2010).

(32)

Permbetukan organisasi perdagangan dunia yang diatur dalam perjanjian General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) juga membawa dampak terhadap harga beras domestik. Penerapan kebijakan tarif dan akses pasar membuat potensi pengadaan impor semakin besar dan penurunan produksi beras karena tingkat kesejahteraan petani yang ikut menurun juga membuat harga beras domestik tidak stabil dalam jangka panjang. Bertumpunya kebijakan ketahanan pangan pada impor juga akan membuat pengaruh harga beras dunia semakin signifikan dirasakan oleh perubahan harga domestik. Tercatat bahwa kuatnya pengaruh harga dunia terhadap harga domestik untuk komoditas pertanian, khususnya beras sebesar (0,70), dimana keadaan ini digambarkan relatif tinggi. Namun, kuat dan cepatnya transmisi harga dunia tersebut membuat harga di pasar domestik menjadi tidak proporsional (Rachman & Dermoredjo, 2004).

2.2.4 Analisis Trend

Analisis trend merupakan suatu metode analisis yang ditujukan untuk untuk mengetahui kecenderungan data tersebut naik atau turun. Peramalan yang baik membutuhkan berbagai macam informasi atau data yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu relatif cukup panjang, sehingga hasil analisis dapat diketahui fluktuasi yang terjadi dan faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan tersebut.

Penentuan nilai trend dapat menggunakan cara, yaitu metode tangan bebas, metode setengah rata-rata bergerak, dan metode kuadrat terkecil (Harvey et al., 2009).

(33)

Perubahan yang terjadi dalam interval waktu periodik terhadap variabel tertentu dan perencanaan pembuatan keputusan membutuhkan dugaan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Analisis trend yang digunakan adalah model time series. Model time series didasari oleh pola masa lalu yang akan berlangsung pada masa depan, serta fluktuasi data masa lalu yang dapat diukur berulang secara teratur dan dapat diramalkan (Harvey et al., 2009). Berdasarkan analisa time series dapat diperoleh ukuran yang akan digunakan untuk membuat keputusan pada saat ini, serta peramalan untuk masa depan.

Metode kuadrat terkecil menganut prinsip bahwa garis yang paling sesuai untuk menggambarkan suatu data adalah garis yang jumlah kuadrat dari selisih antara data tersebut dan garis trendnya terkecil atau minimum (Harvey et al., 2009). Metode kuadrat terkecil membagi kasus ke dalam data ganjil dan genap. Secara umum persamaan garis linier dari analisis time series yaitu :

Keterangan:

Y = nilai trend periode tertentu X = periode waktu (tahun) a = konstanta

b = koefisien X, kemiringan garis trend n = jumlah periode waktu.

Y = a + bX

(34)

2.2.6 Analisis Korelasi Berganda

Korelasi berganda (multiple correlation) merupakan alat ukur untuk mencari hubungan dan kontribusi dua variabel independent (X) atau lebih secara simultan (bersama-sama) dengan variabel depenent (Y) (Haris, 2011).

Pengambilan Keputusan dalam uji korelasi berganda dapat dilihat dengan membandingkan antara nilai probabilitas Sig dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut :

1. Uji F (Secara Simultan) :

• [0,05 < Sig. Fchange] H0 Diterima dan H1 Ditolak, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y.

• [0,05 > Sig. Fchange] H0 Ditolak dan H1 Diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y.

2. Uji t (Secara Parsial) : a. Berdasarkan Probabilitas

Syarat :

- [0,05 < Probabilitas] H0 Diterima dan H1 Ditolak, artinya tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y.

- [0,05 > Probabilitas] H0 Ditolak dan H1 Diterima, artinya ada hubungan antara variabel X dan variabel Y.

b. Berdasarkan Angka Korelasi Syarat :

(35)

- Arah korelasi positif dan angka korelasi > 0,5 maka memiliki hubungan kuat

- Arah korelasi negatif dan angka korelasi < 0,05 maka memiliki hubungan lemah

Adapun formula untuk korelasi berganda sebagai berikut:

Rumus R Hitung :

RYX1X2 = 𝑟

2𝑦𝑥1+𝑟2𝑦𝑥2−2𝑟𝑦𝑥1.𝑟𝑦𝑥2.𝑟𝑥1𝑥2 1−𝑟2𝑥1𝑥2

Dimana:

RYX1X2 : Korelasi antara variabel X1 dengan X2 secara bersama-sama dengan variabel Y

RYX1 : Korelasi product moment antara X1 dengan Y RYX2 : Korelasi product moment antara X2 dengan Y RX1X2 : Korelasi product moment antara X1 dengan X2

Rumus F Hitung : Fh = 𝑅

2/𝑘

(1−𝑅2)/(𝑛−𝑘−1)

Dimana :

R : Koefisien korelasi ganda k : Jumlah variabel independent n : Jumlah anggota sampel

(36)

2.3 Kerangka Berpikir

Beras merupakan salah satu produk pertanian yang memiliki peranan penting dalam urusan pemenuhan kebutuhan konsumsi di Indonesia. Hal ini dikarenakan beras menjadi makanan pokok yang dikonsumsi oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Kecenderungan yang tinggi dalam mengkonsumsi beras menimbulkan berbagai macam permasalahan seperti kurangannya ketersediaan akan beras yang mengakibatkan lonjakan harga hingga pertambahan penduduk miskin karena peningkatan pengeluran untuk membeli beras. Maka ketersediaan beras harus tetap dalam stabilitas yang tetap terjaga, sehingga dapat meminimalisir dampak negatif dari kekurangan ketersediaan.

Intervensi pemerintah dan penerapan kebijakan pada bidang pertanian dalam negeri khususnya pada produk pertanian seperti beras dilakukan dengan harapan dapat mencapai swasembada beras dan mencapai kesejahteraan bagi petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Namun pada kenyataannya, hasil mununjukkan pergerakan yang berlawanan dengan harapan yang ingin diciptakan oleh pemerintah. Berbagai macam fenomena telah terjadi yang mengakibatkan penurunan tingkat produksi beras di Indonesia. Penyebab penurunan produksi beras yang paling berkaitan dengan kondisi saat ini yaitu maraknya alih fungsi lahan pertanian. Akibatnya, hasil panen mengalami penurunan karena luas lahan pertanian yang berkurang. Kondisi ini membuat pemerintah mengadakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri dan upaya stabilisasi harga beras domestik.

(37)

Melalui dasar teori dan tinjauan pustaka yang telah dipelajari, peneliti menduga ada keterkaitan dan kontribusi antara produksi dan harga beras domestik terhadap perubahan volume impor beras. Maka dari itu, peneliti ingin melihat perkembang dari ketiga variabel yang ingin diamati serta menguji pengaruh produksi dan harga beras domestik terhadap perubahan volume impor beras.

F Hitung

Gambar 1. Kerangka Berpikir PRODUKSI

BERAS DOMESTIK

HARGA BERAS DOMESTIK

VOLUME IMPORT BERAS

(38)

2.4 Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dijelaskan, dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Diduga produksi dan harga beras domestik berhubungan secara simultan dan signifikan terhadap volume impor beras.

2. Diduga produksi dan harga beras domestik memiliki hubungan yang kuat secara parsial terhadap volume impor beras.

Gambar

Tabel 1. Penelitian Terdahulu  Peneliti  Tahun  Variabel  Metode
Gambar 1. Proses Produksi Input (Kapital,
Gambar 2. Alur Perhitungan Gabah ke Beras
Gambar 3. Produksi Beras Tahun 2010-2019
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk penyiapan limbah reflektor sebelum pengiriman dilakukan pengelolaan limbah reflektor yang meliputi tahapan kegiatan pemetaan radiasi pada boks penyimpan

Dari proses QFD menyatakan bahwa untuk Pasar Pandaan yang menjadi prioritas pihak pengelola dan pedagang dalam peningkatan kualitas atribut pelayanan adalah R1(Kebersihan),

Brown Gibson adalah metode yang digunakan untuk menganalisis alternatif-alternatif lokasi yang dikembangkan berdasarkan konsep “Preferences Of Measurement”,

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan pengertian dari judul penelitian “Penerapan Model pembelajaran Quantum Learning untuk Meningkatkan Keterampilan

1) JNE melakukan penagihan berdasarkan tarif yang telah diberitahukan kepada para pengirim dari waktu kewaktu untuk menyampaikan kiriman dokumen atau barang milik pengirim,

Setyaningsih, Titik dan Antin Okfitasari, Desember 2016, “Mengapa Wajib Pajak Mengikuti Tax Amnesty (Studi Kasus di Solo)” Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan, Vol..

Pejabat Lelang yang melelang obyek hak tanggungan tanpa dilengkapi persyaratan yang wajib, dalam hal ini Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) maka pejabat

Etika je nauka o moralu, odnosno disciplina koja pokušava odrediti što je ispravno. Važna je za struku odnosa s javnostima i za izvještavanje medija. Ako stručnjaci