• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCARI KATA DAN ISTILAH. Daryuni

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCARI KATA DAN ISTILAH. Daryuni"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCARI KATA DAN ISTILAH DALAM BACAAN MELALUI MODEL JIGSAW

Daryuni 1 Didaktikum : Jurnal Penelitian Tindakan Kelas

Vol. 16, No. 4, Agustus 2015 (Edisi Khusus)

ISSN 2087-3557

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCARI KATA DAN ISTILAH DALAM BACAAN MELALUI MODEL JIGSAW

Daryuni

SMP Negeri 3 Comal, Kab. Pemalang

Abstrak

Model pembelajaran jigsaw merupakan salah satu dari model pem-belajaran kooperatif.

Sementara itu, metode kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong peserta didik aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui keterampilan proses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan mencari kata dan istilah dalam bahasa Indonesia melalui penerapan model pembelajaran Jigsaw. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Comal.

Sampel dari penelitian ini adalah 40 peserta didik kelas VII F terdiri dari 20 putra dan 20 putri.

Apabila dalam pembelajaran bahasa Indonesia materi teks eksposisi melalui model pembelajaran jigsaw berbasis penugasan minimal 75% peserta didik memahami dan menemukan kesalahan dalam menyususun paragraf teks eksposisi tesis maka penelitian ini dapat dikatakan berhasil. Data penelitian diambil melalui pengamatan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dan tes formatif pada akhir pembelajaran. Penelitian dilaksanakan dalam siklus, yaitu pra siklus, siklus 1, dan siklus 2. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

©2015 Didaktikum (Edisi Khusus)

Kata Kunci: Kata; Istilah; Teks Eksposisi; Jigsaw

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003: 11).

Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan garda terdepan sebagai ujung tombak dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional karena tujuan diberikannya mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah untuk membentuk peserta didik memiliki pengetahuan yang luas.

Hasil pra siklus pada pembelajaran Bahasa Indonesia masih kurang menggembirakan.

Pencapaian KKM peserta didik baru 67,50%. Kondisi terjadi karena: (1) metode ceramah terlalu sering digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga peserta didik merasa jenuh dan tidak tertarik mengikuti pembelajaran; (2) partisipasi peserta didik sangat rendah; dan (3) ppeserta didik kurang memahami istilah kata dalam pembelajaran.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Dari sudut pandang linguistik, Bahasa Indonesia

(2)

2 Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Vol. 16. No. 4. Agustus 2015 (Edisi Khusus)

adalah salah satu dari banyak ragam bahasa melayu. Hingga saat ini Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup yang terus menghasilkan kata-kata yang baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Bahasa Indonesia dimaksudkan untuk peningkatan potensi kemam-puan berbahasa dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang mencintai Bahasa Indonesia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Bahasa indonesia. Peningkatan potensi mencakup membaca, menulis, berbicara serta pengenalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi pengetahuan tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan kemampuan dalam berbahasa.

Pelajaran Bahasa Indonesia diharapkan menghasilkan peserta didik yang selalu berupaya menyempurnakan kemampuan dalam berbahasa baik secara tertulis maupun lisan dalam menghadapi hambatan, perubahan yang muncul pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.

Bahasa Indonesia memiliki beberapa karakteristik, yaitu: (1) Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi; (2) prinsip-prinsip dasar pelajaran Bahasa Indonesia tertuang dalam tiga kerangka dasar, yaitu pengetahuan, ketrampilan, dan sikap; (3) Bahasa Indonesia tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai berbagai pengetahuan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat memakai dan menggunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, psikomotor, dan afektifnya; dan (4) pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk membentuk peserta didik menggunakan bahasa yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas tentang pengembangan Bahasa Indonesia.

Beberapa ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang belajar. Oemar Hamalik (1986: 40) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Seseorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil, yakni terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan sebagainya.

Untuk dapat disebut hasil belajar, maka perolehan sesuatu yang baru pada tingkah laku itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1) hasil belajar sebagai pencapaian tujuan belajar; (2) hasil belajar harus sebagai buah dari proses kegiatan yang disadari; (3) hasil belajar harus sebagai produk dari proses latihan; (4) hasil belajar harus merupakan tindak tanduk yang berfungsi efektif dalam kurun waktu tertentu; dan (5) hasil belajar harus berfungsi operasional dan potensial (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1989: 30).

Kegiatan pembelajaran dapat berlangsung baik dan menghasilkan sesuatu yang maksimal apabila terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik. Namun pada kenyataannya peran serta peserta didik belum terlibat secara maksimal dalam pembelajaran. Kondisi ini menyebabkan penguasaan materi pelajaran oleh peserta didik kurang mendalam, sehingga hasil belajar peserta didik dalam pelajaran Bahasa Indonesia masih rendah.

Rendahnya hasil belajar peserta didik juga disebabkan karena pemilihan model, metode dan strategi yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran kurang tepat dan bervariasi. Kerja kelompok dalam cooperative learning merupakan kegiatan yang biasanya berjumlah kecil yang diorganisir untuk kepentingan belajar.

Metode kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong peserta didik aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui keterampilan proses. Agar peserta didik dapat bekerjasama dengan baik di dalam kelompoknya, maka perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif seperti: (1) berada dalam tugas, yaitu tetap berada dalam kerja kelompok dan

(3)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCARI KATA DAN ISTILAH DALAM BACAAN MELALUI MODEL JIGSAW

Daryuni 3 menyelesaikan tugas yang menjadi tanggungjawabnya; (2) mengambil giliran dan mengambil tugas, yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas; (3) mendorong partisipasi, yaitu memotivasi teman sekelompok untuk mem-berikan kontribusi terhadap tugas kelompok; (4) mendengarkan dengan aktif, yaitu mendengar dengan menyerap informasi yang disampaikan oleh teman dan menghargai pendapat teman; dan (5) bertanya, yaitu terampil menanyakan informasi atau penjelasan lebih lan-jut dari teman sekelompok (Didaktikum, 2010: 122).

Model pembelajaran jigsaw merupakan salah satu dari model pem-belajaran kooperatif.

Langkah model pembelajaran jigsaw dalam Panitia Sertifikasi Guru (2008: 6-18) adalah sebagai berikut: (1) peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen (4 – 5 peserta didik).

Setiap kelompok diberi materi/tugas/soal-soal tertentu untuk dipelajari/dikerjakan; (2) ketua kelompok membagi materi/tugas guru agar menjadi topik-topik kecil (sub-sub soal) untuk dipelajari/dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok (misalnya, setiap peserta didik dalam kelompok mendapat 1 soal/tugas yang berbeda); (3) anggota kelompok yang harus mempelajari/mengerjakan tugas atau soal yang sama bertemu untuk mendiskusikan tugas (atau soal) tersebut sampai mengerti benar menyelesaikan tugas/soal tersebut; dan (4) kemudian peserta didik itu kembali ke kelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam satu kelompok.

METODE PENELITIAN

Penelitian tindakan dilaksanakan dalam beberapa siklus, yaitu pra siklus, siklus 1, dan siklus 2. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi (diadaptasi dari Suharsimi Arikunto, 2006). Penelitian dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru mitra/pengamat untuk mendukung kelancaran penelitian dan pengambilan data secara objektif. Penelitian berjalan sesuai dengan kurikulum sekolah. Penelitian dikatakan berhasil apabila dalam pembelajaran bahasa Indonesia materi teks eksposisi melalui model pembelajaran jigsaw berbasis penugasan minimal 75% peserta didik memahami dan menemukan kesalahan dalam menyususun paragraf teks eksposisi tesis.

Pada pra siklus masih bersifat konvensional, dengan kegiatan: (1) pembelajaran dengan metode cermah; (2) mengadakan tes formatif; (3) analisis hasil tes formatif; dan (4) mengamati aktifitas peserta didik selama proses pembelajaran.

Hasil masukan pra siklus dianalisis dan solusinya diterapkan pada siklus 1. Pada siklus 1, perencanaan disusun bersama dengan guru mitra secara cermat. Pada tahap pelaksanaan, guru mitra mengamati secara detail segala sesuatu yang dilakukan guru dan peserta didik. Pengamatan dimaksudkan untuk mengetahui hal-hal yang masih dirasa kurang dan digunakan sebagai bahan perbaikan pada tahap refleksi. Akhir dari pembelajaran dilakukan tes formatif untuk mengetahui hasil belajar peserta didik materi memecahkan masalah yang berkaitan dengan mencari kosa kata dan istilah dalam bacaan melalui model pembelajaran Jigsaw. Semua data yang diperoleh pada siklus 1, dikonfrontasikan dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan. Apabila belum mencapai indikator yang ditetapkan, penelitian dilanjutkan pada siklus 2 dengan beberapa perbaikan yang direkomendasikan pada tahap refleksi siklus 1.

Pada siklus 2, perencanaan disusun dengan memperhatikan beberapa perbaikan yang direkomendasikan dan dilaksanakan secara cermat. Guru mitra melakukan pengawasan secara detail terutama untuk mengetahui apakah perbaikan-perbaikan yang direkomendasikan dilaksanakan. Akhir siklus 2 diberi tes formatif, dan semua data yang diperoleh dikonfrontasikan dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan. Apabila belum mencapai indikator yang ditetapkan, penelitian dilanjutkan pada siklus 3.Apabila indikator keberhasilan yang ditetapkan telah terlampaui, maka penelitian dianggap cukup.

(4)

4 Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Vol. 16. No. 4. Agustus 2015 (Edisi Khusus) HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil pra siklus menunjukkan bahwa peserta didik yang mencapai KKM baru 67,5%. Hal ini terjadi karena kerja sama antara peserta didik kurang sebagai contoh dalam kegiatan pembelajaran peserta didik senang bekerja sendiri terlihat kalau ada tugas-tugas baik dalam mengerjakan soal latihan maupun kegiatan diskusi kelompok ataupun tugas-tugas di rumah.

Pencapaian ini masih jauh dari harapan karena itu perlu dicarikan solusinya dan sebagai salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Pembelajaran siklus 1 menerapkan model jigsaw dengan hasil menunjukkan masih ada 11 peserta didik yang memperoleh nilai dibawah KKM dan dapat dikatakan bahwa masih ada 11 peserta didik yang belum menguasai materi teks eksposisi. Hal ini berarti baru 29 peserta didik (72,5%) yang memahami materi teks eksposisi. Perolehan ini belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu sekurang-kurangnya 75% hasil tes formatif peserta didik mencapai KKM 75.

Silkus 2 dilaksanakan dengan berpedoman pada hasil refleksi yang sudah diperbaiki pada siklus 1. Hasil penelitian siklus 2 menunjukkan dan 80% peserta didik mencapai KKM. Banyak peserta didik yang mencapai KKM bertambah 3 orang (dari 29 menjadi 32), dengan demikian indikator keberhasilan yang ditetapkan sudah terlampaui yaitu sekurang-kurangnya 75% hasil tes formatif peserta didik mencapai KKM.

Pembahasan

Kegiatan pra siklus sebesar 67,50%. Pada siklus 1 rata-rata nilai tes formatif mencapai 76,13 dan baru 29 peserta didik (72,5%) yang mencapai KKM. Perolehan ini belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan. Kondisi ini terjadi karena: (1) Beberapa peserta didik belum memahami langkah-langkah model pembelajaran tipe Jigsaw. Hal ini berdampak terhadap rendahnya minat belajar dan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. (2) Beberapa peserta didik belum memahami langkah-langkah model pembelajaran tipe Jigsaw. Hal ini berdampak terhadap rendahnya minat belajar dan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran.

Setelah pelaksanaan, peneliti dan guru mitra duduk bersama untuk mendiskusikan, menganalisis kelebihan dan kekurangan, dan mencari solusi perbaikan. Dari hasil diskusi disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran yang sudah baik harus dipertahankan bila mungkin ditingkatkan untuk menambah penguatan sedangkan langkah-langkah yang masih kurang agar segera diperbaiki dan diterapkan pada siklus 2. Beberapa hal yang dirasa masih kurang dan perlu perbaikan antara lain adalah: (1) Peserta didik belum memahami langkah-langkah model pembelajaran. Sebelum pembelajaran dimulai, dijelaskan lagi langkah-langkah model pembelajaran tipe Jigsaw dan mengingatkan kembali tentang keterampilan yang harus dimiliki dalam berdiskusi.

(2) Disusun kembali desain pembelajaran perbaikan. Desain pembelajaran perbaikan disusun berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan yang muncul terutama dalam penentuan alokasi waktu mengerjakan soal dalam diskusi kelompok diberi penambahan.

Sedang pada siklus 2 rata-rata nilai tes formatif mencapai 77,38 dan 80% peserta didik mencapai KKM. Pencapian KKM mengalami kenaikan karena adanya perbaikan pada: (1) penjelasan kembali langkah-langkah model pembelajaran tipe Jigsaw sehingga peserta didik tidak ragu dan bingung dalam mengikuti pembelajaran; (2) upaya peningkatan minat belajar sehingga peserta didik semakin antusias dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran; dan (3) desain pembelajaran sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengikuti pembelajaran. Instrumen tes formatif disusun berdasarkan SK dan KD tentang teks eksposisi mencari kosakata dan istilah, maka

(5)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCARI KATA DAN ISTILAH DALAM BACAAN MELALUI MODEL JIGSAW

Daryuni 5 dari peningkatan hasil tes formatif juga dapat disimpulkan adanya peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia teks eksposisi.

Adapun gambaran peningkatan hasil belajar peserta didik dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 1. Peningkatan Hasil Belajar SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Mencari Kata dan Istilah dalam Bacaan Melalui Model Jigsaw”, peneliti menyimpulkan: (1) Model Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan peserta didik kelas VII F SMP Negeri 3 Comal pada pembelajaran mencari kata dan istilah Bahasa Indonesia dalam bacaan. (2) Model Jigsaw dapat meningkatkan sikap dan minat belajar peserta didik kelas

DAFTAR PUSTAKA

Daryuni. 2015. Peningkatan Kemampuan Mencari Kata dan Istilah Bahasa Indonesia Dalam Bacaan Melalui Model Pembelajaran Jigsaw Kelas VII F SMP Negeri 3 Comal. Laporan PTK SMP Negeri 3 Comal:

Pemalang (Tidak Dipublikasikan)

Depdiknas, 2003. Kurikulum 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP dan MTs. Jakarta Balitbang Depdiknas: Jakarta.

Didaktikum. 2010. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas No. 2, Vol. 1. Lembaga Konsultan Penelitian Pendidikan

“Didaktikum”: Semarang.

Oemar Hamalik. 1986. Media Pendidikan. Alumni: Bandung.

Panitia Sertifikasi Guru. 2008. Materi PLPG Serifikasi Guru dalm Jabatan Mapel Matematika. Semarang: UNNES.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1989. Psikologi Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press.

67,50%

72,50%

80,00%

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

Gambar

Gambar 1. Peningkatan Hasil Belajar  SIMPULAN

Referensi

Dokumen terkait

Pada gambar 2 dapat dilihat bahwa aplikasi sistem data klien pada Kantor Notaris & PPAT Muhammad Hanafi, S.H dikembangkan dan dirancang dengan 5 menu utama

Pembelajaran berbasis kearifan lokal sangat penting untuk diterapkan guru dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta

Perbedaan penyesuaian sosial ini disebabkan karena dalam lingkungan sosial pria cenderung lebih berkuasa, lebih bebas dan berani menentang peraturan yang diberikan oleh keluarga

Di samping itu, ketentuan zakat yang berupa perosentase dari ukkan bahwa sistem ini terpengaruh oleh Ditinjau dari tujuan fiscal policy, yang berlaku dewasa ini,

Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Lailatul Azizah memfokuskan pada pengembangan buku gambar yang berbasis pop-up untuk meningkatkan kemampuan berbicara sedangkan yang dilakukan

Hasil penelitian yang didapat adalah pelaksanaan teknologi PTT berjaln dengan baik, dan mengalami perkembangan produksi dari tahun ke tahun, kemudian tingkat keberhasilan

 pecial 0ducation Program o ervices pecial 0ducation Program o ervices = para sa mga = para sa mga mag-aaral na hindi makapasok sa regular na klase dahil mag-aaral na

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah menggunakan sampel tujuan atau purposive sample, yaitu dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas