BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Budaya dan kehidupan manusia merupakan satu kesatuan. Budaya dan manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk memahami hakikat kehidupan sebagai cermin kehidupan yang nyata. Kebudayaan meliputi aspek pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain, yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan, perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, yang berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, organisasi sosial, religi, dan seni, yang ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Menurut E. B Taylor (dalam Setiadi, dkk. 2009:28) budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Soemardjan dan Soemardi (dalam Setiadi, dkk. 2009:28) kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun non-material. Kebudayaan akan berkembang dari tahapan yang sederhana menuju tahap yang lebih kompleks dalam masyarakat.

(2)

Masyarakat adalah kumpulan individu yang berbeda satu dengan yang lain, dalam satu wilayah tertentu, kondisi dan situasi tertentu, sehingga menjadi masyarakat tertentu, seperti masyarakat pesisir (nelayan), dengan mata pencaharian yang sebagian besar di laut. Lingkungan dalam suatu masyarakat merupakan tempat utama individu untuk dapat belajar sesuatu, baik lingkungan fisik maupun non fisik. Lautan sebagai lingkungan fisik merupakan suatu simbol ciri khas dari masyarakat pesisir (nelayan), pada masyarakat pesisir lingkungan non fisik adalah sosial budaya.

Kebudayaan merupakan suatu adat kebiasaan, kepercayaan dan nilai turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat pada waktu tertentu untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan segala situasi yang tumbuh, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan kelompok, kebudayaan mepunyai makna dan arti tersendiri di setiap tradisi dalam budaya. Tradisi yang diselenggarakan dalam bentuk atau wujud dari budaya yang masih melekat dan tidak bisa diubah bentuk tradisi tersebut, serta mengembangkan kebudayaan.

Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmani sedangkan Rasa meliputi jiwa manusia yang mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai kemasyarakatan yang perlu untuk mengatur masalah-masalah masyarakat. Hal ini diperkuat oleh Sobur (2006:177), bahwa pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain.

(3)

Barthes (dalam Sobur, 2006: 15) menjelaskan semiotika sebagai ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Bagaimana manusia memaknai hal-hal yang berarti bahwa objek-objek tidak membawa informasi, melainkan objek- objek itu hendak berkomunikasi terhadap masyarakat melalui bentuk yang ditampilkan, seperti halnya terdapat berbagai makna dalam tradisi tutup pelayang dari setiap wujud yang ditampilkan dalam lingkungan masyarakat, yang terdapat simbol makna dari tradisi itu sendiri, dan terdapat tanda yang berada dalam simbol tradisi itu sendiri. Diperkuat oleh Paul Cobley dan Litza Janz (dalam Ratna, 2009:97) bahwa semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjannya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia. Kehidupan manusia dipenuhi dengan tanda, dengan perantaraan tanda- tanda proses kehidupan menjadi lebih efisien, dan manusia dapat berkomunikasi dengan sesamannya.

Dalam tradisi Tutup Pelayang terdapat simbol-simbol yang terkandung di dalamnya antara lain wujud dari tradisi ini memberikan makna syukur akan pemberian rejeki dan keselamatan yang diberikannya, makna akan syukur masyarakat kepada Sang Pencipta melalui tradisi Tutup Pelayang. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan ideal yang mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Dalam hubungan masyarakat dan budaya sangat erat kaitanya, salah satunya yang ada di lingkungan wilayah pesisir Lamongan yang masih mempercayai adanya budaya-budaya peninggalan nenek

(4)

moyang yang membawa masyarakat di jaman modern masih menerapkan sebagian dari tradisi tersebut.

Kepercayaan dalam tradisi tutup pelayang di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan yang diselenggarakan satu tahun sekali sekitar antara bulan februari atau maret dalam tradisi masyarakat pesisir, tradisi tutup pelayang merupakan tradisi pembersihan laut yang untuk kesejahteraan dalam lingkungan pesisir serta memohon diberikan rejeki yang lancar dalam mencari ikan di laut. Penyelenggara tutup pelayan, dilakukan sebagai apresiasi para nelayan atas rezeki yang mereka peroleh selama setahun mencari nafkah di laut.

Berkaitan dalam tanda ataupun simbol, tradisi tutup pelayang yang merupakan tradisi yang masih kental dipercayai oleh masyarakat pesisir Lamongan, yang merupakan tradisi dilakukan dengan proses ritual sesaji untuk menghilangkan kejelekan dan meminta keselamatan saat pelaksanaan Tutup Pelayang serta dikehidupan sehari-hari. Tutup Pelayang dilakukan saat musim paceklik yang berhentinya para nelayan untuk melaut mencari rejeki (mencari ikan) karena musim atau cuaca yang lagi buruk. Dengan adanya cuaca yang tidak mendukung para masyarakat pesisir masih melaksanakan acara yang menyambut musim paceklik yang terdapat beberapa acara dalam tradisi Tutup Pelayang, seperti halnya terdapat ritual sesaji, syukuran, pengajian serta hiburan (wayang, sinden, orkes) dan bakti sosial.

Dari acara tersebut fungsi dari Tutup Pelayang adalah mensyukuri atas nikmatnya rejeki dari laut selama satu tahun. Berdasarkan latar belakang sosial masyarakat nelayan, bagaimana kultur Jawa mampu memberikan tuntunan dan

(5)

nilai-nilai hidup melalui simbol-simbol yang tergambar dalam tradisi Tutup Pelayang tersebut. Selain itu dalam tradisi ini juga digambarkan bagaimana budaya Jawa mampu dijadikan kepercayaan (keyakinan) dan pegangan hidup oleh masyarakat setempat.

Tradisi merupakan wujud dari budaya yang masih melekat dan tidak bisa diubah bentuk tradisi tersebut. Sobur (2006: 177) menyatakan bahwa pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Dalam pengertian lain tradisi adalah adat-istiadat atau kebiasaan yang turun temurun yang masih dijalankan di masyarakat. Dalam suatu masyarakat muncul semacam penilaian bahwa cara-cara yang sudah ada merupakan cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan.

Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Manusia dalam berbuat akan melihat realitas yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai upaya dari sebuah adaptasi, walaupun sebenarnya orang tersebut telah mempunyai motivasi berperilaku yang sesuai dengan tradisi yang ada pada dirinya. Di samping itu, manusia dalam berperilaku selalu mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain.

Dalam proses ini, keluarga dan lingkungan tempat tinggal merupakan hal yang terdekat. Oleh karena itu, gambaran kehidupan yang berlangsung lama secara turun-temurun dari nenek moyangnya yang telah menjadi tradisi diidentifikasikan sebagai perilaku dirinya.

(6)

Dengan berjalannya waktu, di zaman yang modern ini tradisi tersebut telah mengalami perubahan karena adanya perkembangan manusia itu sendiri. Oleh karenannya tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Kebudayaan akan mengalami perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan suatu kelompok lain. Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas (Setiadi, dkk.

2009: 44).

Di dalam tradisi Tutup pelayang yang menjadi persoalan adalah nama tradisi Tutup Pelayang sekarang tidak ada, namun tradisi tersebut masih dilestarikan dengan bentuk nama baru yang disebut “Petik Laut”. Tradisi Petik Laut masih sama menggunakan wujud tanda dan simbol-simbol yang digunakan dalam tradisi yang dahulu, namun adanya perubahan dalam prosesi ritual sesaji saat menjelang Tutup Pelayang dengan melakukan doa-doa ritual di tempat pelabuhan, dan sekarang ritual sesaji tidak dilakukan tetapi telah diganti dengan doa-doa Islam dan tanpa prosesi ritual sesaji. Sehingga, perubahan dalam tradisi Tutup Pelayang terdapat nilai-nilai yang masih dapat ditelusuri, dalam proses transformasi budaya ini masih menarik untuk dikaji atau diteliti karena prinsip nilai-nilainya yang menggambarkan budaya masih ada dan masih dilaksanakan walupun ada sebagian tradisi tersebut ditinggalkan karena adanya jaman yang modern.

(7)

Terkait dengan penelitian analisis semiotika sepanjang pengetahuan peneliti terbilang cukup banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya diantaranya judul penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dari Muhairin (2010) dengan judul “Analisis Semiotika pada Syair Lagu Daerah Bima dalam Album “Mori Kese” Karya Aan’s Sapoetra” dengan mengkaji pengguna lagu khususnya dalam bentuk tanda dan simbol yang digunakan dalam lagu Bima, sedangkan dalam penelitian lanjutan ini peneliti lebih mengkhususkan pembahasan analisis semiotika dalam peristiwa tradisi budaya, yang bersinggungan dengan tanda dan simbol dalam peristiwa tradisi tutup pelayang yang terjadi di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Untuk penelitian yang terkait dengan analisis semiotika yang sudah pernah dilakukan sebelumnya adalah penelitian dari Indah Kurniawati (2009) dengan judul

““Tradisi Karapan Sapi sebagai Indeks, Ikon, dan Simbol Kebudayaan Madura (Sebuah Analisis Semiotika)” dengan mendiskripsikan pembahasan mengenai tradisi budaya. Dalam kajiannya peneliti mengkaji pemakaian tanda dan simbol dari setiap bentuk tradisi.

Terkait dengan penelitian tentang analisis semiotika pada tradisi tutup pelayang, serta adanya proses ritual yang merupakan simbol dalam tradisi, yang sepengetahuan peneliti belumlah banyak dilakukan, sehingga perlu adanya pengembangan lebih lanjut. Dalam penelitian lanjutan ini, peneliti mengambil judul “Analisis Semiotika pada Tradisi Tutup Pelayang di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan” dengan mengedapankan pembahasan mengenai peristiwa tradisi budaya di lingkungan Desa Brondong sehingga

(8)

memunculkan adanya interaksi masyarakat terhadap tradisi melalui tanda dan simbol dalam tradisi budaya, sehingga nantinya memunculkan adanya situasi keadaan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat nelayan dalam satu tahun sekali ke dalam bentuk budaya Jawa.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini berfokus pada analisis semiotika dalam tradisi tutup pelayang. Dalam kajian semiotika yang diambil peniliti untuk mengetahui makna, simbol, tanda dalam budaya di lingkungan pesisir yang masih mempunyai suatu tradisi yang diterapkan masyarakat untuk lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

1) Bagaimana wujud transformasi budaya yang meliputi tanda dan simbol pada tradisi “Tutup Pelayang” di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan secara visual?

2) Bagaimana wujud transformasi budaya yang meliputi tanda dan simbol pada tradisi “Tutup Pelayang” di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan secara verbal?

1.3 Tujuan

1) Mendeskripsikan wujud transformasi budaya yang meliputi tanda dan simbol pada tradisi “Tutup Pelayang” di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan secara visual yang dilihat dari sisi luar tradisi.

(9)

2) Mendeskipsikan wujud transformasi budaya yang meliputi tanda dan simbol pada tradisi “Tutup Pelayang” di Desa Brondong Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan secara verbal yang dilihat dari sisi dalam tradisi.

1.4 Manfaat Penelitian

Memperkaya penyelaras teori tentang semiotika, selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberi wawasan dan sumbangan bagi kajian budaya sehingga uraian dan telaah tentang semiotika dapat dijadikan pemikiran dan pengembangan peneliti selanjutnya, khususnya yang mengkaji tentang semiotika, dan ragam penggunaannya dalam tanda dan simbol.

1.4.1 Penegasan Istilah

Dalam penelitian ini, agar tidak menimbulkan suatu kesalahan penafsiran, dengan ini peneliti memberikan penegasaan istilah yang berhubungan dengan objek penelitian yang terdapat di lingkungan yang dituju..

a. Tutup Pelayang

Salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Blimbing Kabupaten Lamongan yang berisi gambaran rasa syukur terhadap rejeki yang diperoleh saat berlayar (melaut). Rasa syukur diwujudkan pada tradisi Tutup pelayang yang dilaksanakan pada musim cuaca yang buruk atau yang disebut dengan musim paceklik. Di dalam musim paceklik terdapat wujud transformasi dalam tradisi.

Yang dahulu meliputi ritual laut yang terdapat ritual sesaji, serta hiburan

(10)

masyarakat, dan tradisi yang sekarang meliputi bakti sosial, pertunjukan (hiburan), dan pengajian di kalangan masyarakat pesisir.

b. Kebudayaan Lamongan

Budaya dalam masyarakat pesisir merupakan salah satu budaya yang memiliki suatu kultur Jawa yang dilakukan masyarakat dengan melakukan prosesi ritual yang mencakup berbagai tujuan yang digunakan untuk kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupan manusia. Misalkan ritual sesaji yang dilakukan masyarakat untuk memohon keselamatan serta rejeki dalam kehidupan.

c. Tanda

Tanda adalah sesuatu yang mewakili bentuk budaya dan mewakili sesuatu yang lain. Hubungan itu dapat diartikan bahwa tanda memberikan makna yang sama bagi semua orang yang menggunakannya, tanda berhubungan langsung dengan objeknya, apabila semua orang memberikan makna yang sama atas tanda tersebut sebagai hasil konvensi (Liliweri, 2007: 178).

Tanda dalam bentuk tradisi Tutup Pelayang merupakan suatu tanda yang menunjukan adanya masyarakat mensyukuri akan hasil rejeki yang diperoleh selama satu tahun dengan melakukan berbagai ritual serta syukuran atau selametan untuk menandakan adanya musim paceklik atau musim sepi ikan.

d. Simbol

Simbol adalah suatu unsur bahasa yang bersifat arbiter dan konvensional yang mewakili hubungan objek atau peristiwa dan signifikasinya. Simbol itu meliputi apa pun yang dapat kita rasakan atau kita alami (Liliweri. 2007:179).

(11)

Simbol dalam bentuk tradisi Tutup Pelayang merupakan suatu simbol ritual yang ditampilkan untuk disembahkan kepada laut dengan menggunakan berbagai sesaji agar diberikan kemudahan, kelancaran serta keselamatan saat mencari ikan di laut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :