• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2008

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

2008

(2)

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN NOMOR 1/K/I-XIII.2/2/2008

PANDUAN MANAJEMEN PEMERIKSAAN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

2008

(3)

REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1/K/I-XIII.2/2/2008

TENTANG

PANDUAN MANAJEMEN PEMERIKSAAN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka memenuhi ketentuan Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang penggunaan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), Badan Pemeriksa Keuangan perlu memiliki suatu Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) yang dapat digunakan sebagai acuan bagi para pemeriksa dalam melaksanakan tugas pemeriksaan;

b. bahwa PMP yang telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 37/SK/1/08/2002 dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan organisasi dan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku saat ini, dan oleh sebab itu dipandang perlu menyempurnakan dan menetapkan Panduan Manajemen Pemeriksaan yang sesuai perkembangan saat ini.

Mengingat : 1. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 4707);

2. Surat Keputusan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 15/SK/K/1981 tentang Pengaturan Penandatanganan Surat-Surat Keputusan Dalam Lingkungan Badan Pemeriksa Keuangan;

3. Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 31/SK/I-

VIII.3/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang Tata Cara

Pembentukan Peraturan, Keputusan, dan Naskah Dinas Pada

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia;

(4)

4. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 39/K/I- VIII.3/7/2007 tanggal13 Juli 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN TENTANG PANDUAN MANAJEMEN PEMERIKSAAN.

PERTAMA :

Menetapkan dan memberlakukan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

BAB II : PENYUSUNAN RENCANA KERJA

PEMERIKSAAN

BAB III : PERENCANAAN PEMERIKSAAN

BAB IV : PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

BAB V : PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

BAB VI : PEMANTAUAN TINDAK LANJUT HASIL

PEMERIKSAAN

BAB VII : EVALUASI PEMERIKSAAN

BAB VIII : PENUTUP

KEDUA

: Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP) adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

KETIGA

: Perbaikan dan penjelasan lebih lanjut atas substansi PMP akan diatur oleh Kepala Direktorat Utama Revbang setelah mendapat pertimbangan dari para Auditama Keuangan Negara (AKN).

KEEMPAT

: Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Surat Keputusan Badan

Pemeriksa Keuangan Nomor 37/SK/I/08/2002 tanggal 1 Agustus 2002

tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan, dicabut dan dinyatakan

tidak berlaku.

(5)

KELIMA

: Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 19 Februari 2008

WAKIL KETUA

Abdullah Zainie

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA KETUA,

Anwar Nasution

Tembusan Keputusan ini disampaikan kepada:

1. Para Anggota;

2. Para Pejabat Eselon I sampai dengan IV;

(6)

i

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI... i -iii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR LAMPIRAN... vi BAB I PENDAHULUAN...

A. Latar Belakang...

B. Maksud dan Tujuan...

C. Lingkup PMP...

D. Kedudukan PMP dalam Pedoman Pemeriksaan BPK...

E. Organisasi Pemeriksaan...

F. Siklus Pemeriksaan...

G. Gambaran Umum PMP ……...

H. Sistematika PMP ...

1 2 2 2 2 3 5 5 6

BAB II PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMERIKSAAN (RKP) ……...

A. Lingkup ...

B. Pihak-Pihak Terkait dalam Penyusunan RKP ...

C. Mekanisme Penyusunan RKP ...

D. Jadwal Penyusunan RKP ...

E. Bagan Alur Kegiatan Penyusunan RKP……….

8 8 8 9 14 15

BAB III PERENCANAAN PEMERIKSAAN ...

A. Lingkup ...

B. Pihak-Pihak Terkait dalam Perencanaan Pemeriksaan ...

C. Mekanisme Perencanaan Pemeriksaan ………...

D. Perencanaan Pemeriksaan On Call ……...

E. Jadwal Perencanaan Pemeriksaan ……...

F. Bagan Alur Kegiatan Perencanaan Pemeriksaan ………..

18 18 18 19 27 27 29

(7)

BAB IV PELAKSANAAN PEMERIKSAAN ……...

A. Lingkup ……...

B. Pihak-Pihak Terkait Dalam Pelaksanaan Pemeriksaan ...…...

C. Mekanisme Pelaksanaan Pemeriksaan ……...

D. Jadwal Pelaksanaan Pemeriksaan ...……...

E. Bagan Alur Kegiatan Pelaksanaan Pemeriksaan

...

31 31 31 32 39 40

BAB V PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ……...

A. Lingkup ……...

B. Pihak-Pihak Terkait Dalam Pelaporan Pemeriksaan ...…...

C. Mekanisme Pelaporan Hasil Pemeriksaan ……...

D. Implikasi Hukum Terkait LHP ……...

E. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester ……...

F. Jadwal Pelaporan Pemeriksaan ……...

G. Bagan Alur Kegiatan Pelaporan Pemeriksaan ...

43 43 43 44 48 48 49 50

BAB VI PEMANTAUAN TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN ……..

A. Lingkup ………...

B. Pihak-Pihak Terkait Dalam Pemantauan Tindak Lanjut Hasil

Pemeriksaan …...

C. Mekanisme Pemantauan Tindak Lanjut...

D. Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah …………...

E. Jadwal Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan ……...

F. Bagan Alur Kegiatan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan

………...

52 52

52 53 56 57 58

BAB VII EVALUASI PEMERIKSAAN ...

A. Lingkup...

B. Pihak-Pihak Terkait dalam Evaluasi Pemeriksaan …...

C. Mekanisme Evaluasi Pemeriksaan...

D. Pelaksanaan Evaluasi oleh Lembaga Setingkat BPK

…………...

E. Jadwal Evaluasi Pemeriksaan...

F. Bagan Alur Kegiatan Evaluasi Pemeriksaan

……….

60 60 60 60 62 63 64

(8)

iii

BAB VIII PENUTUP ...

A. Perbedaan Pokok PMP 2002 dengan PMP 2008 ……...

B. PMP sebagai Living Dokumen...

66 66 68 DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM

GLOSARIUM PMP

KETERANGAN GAMBAR LAMPIRAN

(9)

DAFTAR TABEL

2.1 Jadwal Penyusunan RKP ... 14

3.1 Jadwal Perencanaan Pemeriksaan ... 28

4.1 Jadwal Pelaksanaan Pemeriksaan ... 40

5.1 Jadwal Pelaporan Pemeriksaan ... 49

6.1 Jadwal Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan ... 57

8.1

Perbedaan PMP 2002 dan Konsep Penyempurnaan PMP 2007 ……….…...

66

(10)

v

DAFTAR GAMBAR

1.1 Piramida Kedudukan PMP dalam Pedoman Pemeriksaan BPK ... 3

1.2 Siklus Pemeriksaan... 5

1.3 Panduan Manajemen Pemeriksaan PMP ... 6

2.1 Tahap Penyusunan RKP ... 10

2.2 Bagan Alur Penyusunan RKP ... 16

3.1 Tahap Perencanaan Pemeriksaan ... 19

3.2 Bagan Alur Perencanaan Pemeriksaan ... 30

4.1 Tahap Pelaksanaan Pemeriksaan ... 32

4.2 Bagan Alur Pelaksanaan Pemeriksaan ... 41

5.1 Tahap Pelaporan Pemeriksaan ... 44

5.2 Bagan Alur Pelaporan Hasil Pemeriksaan ... 51

6.1 Tahap Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan ... 53

6.2 Bagan Alur Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan ... 59

7.1 Tahap Evaluasi Pemeriksaan ... 61

7.2 Bagan Alur Evaluasi Pemeriksaan ... 65

(11)

Daftar Lampiran

2.1 Usulan dan Kebijakan Strategi Pemeriksaan Auditorat Utama Keuangan Negara 2.2 Rincian Rencana Pemeriksaan

3.1 Surat Perintah Persiapan Pemeriksaan 3.2 Program Pemeriksaan

3.3 Surat Tugas

3.4 Program Kerja Perorangan

3.5 Penyampaian Jadwal Pemeriksaan dan Permintaan Dokumen 3.6 SPPD

4.1 Berita Acara Penolakan Pemeriksaan/Pemberian Keterangan/Dokumen Pemeriksaan 4.2 Surat pernyataan Menandatangani BA Penolakan Pemeriksaan/Pemberian

Keterangan/Dokumen Pemeriksaan 4.3 Surat Penyampaian TP

5.1 Surat Penyampaian Konsep LHP 5.2

5.3

Rencana Aksi Tindak Lanjut Rekomendasi BPK Cover Laporan Hasil Pemeriksaan

6.1 Rekapitulasi Pemantauan Tindak Lanjut 6.2 Lampiran Hasil Pemantauan Tindak Lanjut

6.3 Database Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi BPK 6.4 Surat Pemberitahuan Pembahasan Tindak Lanjut

6.5 Risalah Pemahasan Tindak Lanjut 6.6 Resume Pemantauan Tindak Lanjut 6.7 Hasil Pemantauan Tindak Lanjut

(12)

PMP Pendahuluan

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

01 Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara mengalami perkembangan dan perubahan yang cukup signifikan setelah berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Perubahan tersebut meliputi antara lain jenis pemeriksaan, standar pemeriksaan, pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan, serta pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan.

Perkembangan dan perubahan peraturan perundang- undangan

02 Sebagai salah satu pelaksanaan UU tersebut, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) telah menetapkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007. SPKN tersebut merupakan pengganti Standar Audit Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan BPK tahun 2005. Untuk melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan SPKN tersebut, BPK memerlukan suatu manajemen pemeriksaan.

Perubahan standar pemeriksaan

03 BPK telah menetapkan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) Tahun 2002 yang mengacu pada SAP Tahun 1995 dan peraturan perundang- undangan pada saat itu. Perubahan-perubahan standar dan peraturan yang disebutkan di atas menuntut penyempurnaan PMP Tahun 2002, agar PMP yang disempurnakan dan digunakan untuk melaksanakan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sesuai dengan SPKN dan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.

PMP 2002 perlu disempurnakan

04 Selain perubahan-perubahan di atas, materi PMP Tahun 2002 perlu disempurnakan terkait dengan hal-hal sebagai berikut:

1. Sinergi PMP dengan pedoman-pedoman pemeriksaan BPK, sehingga tidak terjadi duplikasi pengaturan.

2. Sinergi antara perencanaan pemeriksaan dan penganggaran BPK.

3. Integrasi PMP dengan aplikasi sistem informasi manajemen pemeriksaan atau Computerized Audit Management Information System (CAMIS).

Substansi penyempurnaan PMP 2002

05 Berdasarkan kenyataan di atas, PMP Tahun 2002 perlu disempurnakan dengan mempertimbangkan SPKN, perubahan peraturan perundang- undangan, sinergi PMP dengan pedoman pemeriksaan lainnya, sinergi

Simpulan perlunya penyempurnaan PMP 2002

(13)

perencanaan pemeriksaan dengan penganggaran, dan integrasi penggunaan PMP dengan CAMIS.

B. Maksud dan Tujuan

06 PMP ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai panduan oleh BPK dan pelaksananya dalam mengelola (manage) pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang meliputi tahap penyusunan Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP), perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan, pelaporan pemeriksaan, pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan evaluasi pemeriksaan.

PMP sebagai panduan pengelolaan pemeriksaan

07 PMP bertujuan untuk menyeragamkan pengelolaan pemeriksaan BPK yang meliputi penyeragaman tata cara atau prosedur, formulir, catatan, dan laporan yang digunakan dalam penyusunan RKP, perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan, pelaporan pemeriksaan, pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan, evaluasi pemeriksaan, serta hal-hal lain terkait dengan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

PMP menyeragamkan pengelolaan pemeriksaan

C. Lingkup PMP

08 PMP berisi prosedur dan tata cara pengelolaan pemeriksaan disertai dengan formulir, catatan, bentuk laporan yang dihasilkan. Prosedur dan tata cara tersebut dimulai dari penyusunan RKP, perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan, pelaporan pemeriksaan, pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan evaluasi pemeriksaan yang terdapat pada setiap tahap prosedur dan tata cara tersebut di atas.

Lingkup bahasan PMP secara rinci adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan RKP

2. Perencanaan Pemeriksaan 3. Pelaksanaan Pemeriksaan 4. Pelaporan Pemeriksaan

5. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan 6. Evaluasi Pemeriksaan

Lingkup PMP

D. Kedudukan PMP dalam Pedoman Pemeriksaan BPK

09 PMP merupakan prosedur dan tata cara pemeriksaan dalam rangka memenuhi SPKN. Di dalam melakukan pemeriksaan, BPK mendasarkan pada mandat dalam UUD 1945, peraturan perundang- undangan, dan pedoman-pedoman pemeriksaan keuangan negara yang ditetapkan. Untuk melaksanakan mandat dalam UUD 1945, pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara diatur

PMP dan peraturan perundang-

undangan

(14)

PMP Pendahuluan

3

dalam UU Nomor 15 Tahun 2004. Demikian pula, BPK sebagai lembaga negara di bidang pemeriksaan diatur dalam UU Nomor 15 Tahun 2006. Sebagai pelaksanaan UU tersebut, BPK menetapkan peraturan, antara lain Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dan Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Kode Etik dan Majelis Kehormatan Kode Etik. BPK juga menetapkan pedoman pemeriksaan dalam suatu keputusan BPK, antara lain Keputusan BPK Nomor 51/K/I/VII.3/8/2007 Tahun 2007 Tentang Penetapan Petunjuk Teknis Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dan Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga.

10 PMP sebagai salah satu pedoman pemeriksaan yang terkait dengan pengelolaan pemeriksaan keuangan negara disusun dengan memperhatikan mandat, peraturan perundang-undangan, termasuk SPKN. PMP akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemeriksaan seperti petunjuk pelaksanaan pemeriksaan dan petunjuk teknis pemeriksaan. Keterkaitan PMP dengan mandat, peraturan BPK, dan pedoman pemeriksaan lain yang ditetapkan BPK dapat dilihat sebagai berikut:

Kedudukan PMP dalam pedoman pemeriksaan BPK

Piramida kedudukan PMP dalam pedoman pemeriksaan BPK

E. Organisasi Pemeriksaan

11 Dalam penyelenggaraan pemeriksaan, organisasi pemeriksaan merupakan organisasi fungsional yang menjalankan fungsi pemeriksaan

Organisasi pemeriksaan

(15)

secara mandiri. Proses pemeriksaan dari perencanaan pemeriksaan sampai dengan pelaporan pemeriksaan dilakukan oleh tim pemeriksa mulai dari anggota tim sampai dengan penanggung jawab. Organisasi pemeriksaan BPK adalah sebagai berikut:

1. BPK atau disebut sebagai Badan atau pemberi tugas terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota yang memberikan arah dan penugasan pemeriksaan kepada pelaksana BPK. Penugasan pemeriksaan dapat dikuasakan kepada pejabat yang ditunjuk oleh BPK.

Badan selaku pemberi tugas

2. Penanggung jawab berperan sebagai pengendali mutu dan menandatangani Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Penanggung jawab pemeriksaan diharapkan merupakan pejabat tertinggi pada unit organisasi pemeriksaan, dalam hal ini adalah Auditor Utama (Tortama) Keuangan Negara atau pejabat lain yang ditunjuk seperti Kepala Perwakilan (Kalan), Kepala Auditorat atau pemeriksa yang memiliki keahlian tertentu di bidang pemeriksaan yang diperlukan.

Apabila diperlukan, penanggung jawab pemeriksaan dapat dibantu oleh wakil penanggung jawab.

Penanggung jawab

3. Wakil penanggung jawab merupakan pejabat setingkat dengan penanggung jawab atau setingkat lebih rendah dari penanggung jawab yang tugas dan perannya membantu penanggung jawab dalam tim pemeriksaan. Wakil penanggung jawab diperlukan untuk entitas pemeriksaan yang besar atau lingkup pemeriksaan yang luas yang memerlukan empat atau lebih pengendali teknis.

Wakil penanggung jawab

4. Pengendali teknis bertugas mengendalikan tim pemeriksa agar secara teknis pemeriksaan dilakukan sesuai dengan program pemeriksaan. Pengendali teknis bertanggung jawab kepada penanggung jawab pemeriksaan atau kepada wakil penanggung jawab, apabila wakil penanggung jawab ada dalam struktur pemeriksaan. Kebutuhan pengendali teknis di dalam susunan tim pemeriksa ditentukan oleh penanggung jawab pemeriksaan berdasarkan sifat, lingkup, dan risiko pemeriksaan yang dihadapi tim pemeriksa.

Pengendali teknis

5. Ketua tim, merupakan pemimpin pemeriksaan yang mengorganisasi, mengarahkan, dan mengawasi pemeriksaan dan bertanggung jawab kepada pengendali teknis. Apabila diperlukan, ketua tim pemeriksaan dapat dibantu oleh ketua subtim.

Ketua tim

6. Ketua subtim bertugas membantu ketua tim dalam melakukan pemeriksaan, apabila penugasan pemeriksaan terdiri dari delapan orang atau lebih anggota tim pemeriksaan.

Ketua sub tim

7. Anggota tim bertindak sebagai pelaksana pemeriksaan sesuai dengan tugas yang diberikan oleh ketua tim atau ketua subtim.

Anggota tim

(16)

PMP Pendahuluan

5

F. Siklus Pemeriksaan

12 Siklus pemeriksaan merupakan serangkaian kegiatan pemeriksaan dari suatu tahap ke tahap lainnya dalam suatu pemeriksaan. Siklus pemeriksaan adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan RKP;

2. Perencanaan Pemeriksaan;

3. Pelaksanaaan Pemeriksaan;

4. Pelaporan Hasil Pemeriksaan;

5. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan;

6. Evaluasi Pemeriksaan.

Siklus pemeriksaan

13 Siklus pemeriksaan secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1.2 berikut ini:

Siklus Pemeriksaan BPK

G. Gambaran Umum PMP

14 Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) merupakan sistem yang mengatur manajemen pemeriksaan dari tahap penyusunan RKP sampai dengan evaluasi hasil pemeriksaan. Untuk memberikan gambaran secara umum mengenai PMP dapat dilihat pada Gambar 1.3 berikut.

Gambaran umum PMP

(17)

Kerangka PMP

15 Berdasarkan gambaran umum PMP di atas, PMP mengatur pengelolaan pemeriksaan dari penyusunan RKP sampai dengan evaluasi pemeriksaan. Dalam setiap tahap pemeriksaan seperti yang digambarkan dalam PMP ini, diselenggarakan sistem pengendalian mutu (quality assurance systems) dan dokumentasi, termasuk penggunaan CAMIS. Penyelenggaraan sistem pengendalian mutu mengacu pada petunjuk pelaksanaan (juklak) sistem pengendalian mutu, sedangkan penggunaan CAMIS mengacu pada petunjuk teknis terkait.

Penyelenggaraan sistem pengendalian mutu dan CAMIS

H. Sistematika PMP

16 Sistematika PMP adalah sebagai berikut.

1. Bab I Pendahuluan berisi uraian umum mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup PMP, kedudukan PMP dalam Pedoman Pemeriksaan BPK, organisasi pemeriksaan, siklus pemeriksaan, gambaran umum PMP, dan sistematika PMP.

2. Bab II Penyusunan RKP berisi uraian antara lain mengenai penyusunan RKP berdasarkan kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK.

3. Bab III Perencanaan Pemeriksaan berisi uraian antara lain mengenai rencana pemeriksaan yang terkait dengan penyusunan P2, surat tugas, dan SPPD.

4. Bab IV Pelaksanaan Pemeriksaan berisi uraian mengenai pemeriksaan di lapangan yang diuraikan ke dalam pekerjaan pemeriksaan dan pengakhiran pemeriksaan serta penyerahan TP sebagai akhir dari aktivitas pemeriksaan di lapangan.

5. Bab V Pelaporan Pemeriksaan berisi uraian, antara lain mengenai tata cara pelaporan hasil pemeriksaan untuk pemeriksaan keuangan,

Sistematika PMP

(18)

PMP Pendahuluan

7

kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

6. Bab VI Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan berisi uraian mengenai mekanisme dan tata cara tindak lanjut hasil pemeriksaan.

7. Bab VII Evaluasi Pemeriksaan berisi uraian antara lain mengenai evaluasi pemeriksaan atas LHP dan kesesuaiannya dengan standar dan peraturan yang berlaku.

8. Bab VIII Penutup berisi uraian yang memuat perbandingan perbedaan antara PMP Tahun 2002 dengan PMP yang disempurnakan, serta harapan PMP sebagai dokumen yang hidup dan berkembang dan senantiasa diperbaharui sesuai perkembangan yang ada.

(19)

BAB II

PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMERIKSAAN (RKP)

A. Lingkup

01 Sistem perencanaan BPK disusun dalam suatu kerangka sistematis yang terintegrasi untuk menghimpun semua Rencana Strategis (Renstra).

Renstra merupakan pedoman bagi BPK dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara menyeluruh dan berkesinambungan sehingga sasaran dan tujuan akan tercapai secara optimal.

Rencana strategis

02 Renstra tersebut ditetapkan untuk jangka lima tahun dan dijabarkan dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang terdiri dari Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dan Rencana Kegiatan Sekretariat Jenderal dan Penunjang (RKSP).

Penjabaran rencana strategis

03 PMP mengatur penyusunan RKP yang memuat rencana kegiatan pemeriksaan BPK dalam satu tahun. Penyusunan RKP merupakan suatu proses yang sistematis yang dimulai dari kegiatan penetapan kebijakan dan strategi sampai dengan penetapan RKP. Penyusunan RKP tersebut harus diintegrasikan dengan proses penganggaran BPK. RKP menjadi bahan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) BPK.

PMP mengatur penyusunan RKP

B. Pihak-Pihak Terkait Dalam Penyusunan RKP

04 Penyusunan RKP melibatkan Badan, Auditorat Utama Keuangan Negara (AKN), Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara (Ditama Revbang), dan Sekretariat Jenderal (Setjen).

Pihak – pihak terkait

05 Badan memiliki peran, antara lain memberikan dan menetapkan kebijakan dan strategi pemeriksaan yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan dan penetapan RKP. Badan juga berperan untuk menetapkan hasil Rakor dan hasil Raker tahunan.

Peran Badan

06 AKN memiliki peran antara lain:

1. Mengajukan usul tema pemeriksaan dan alasannya sebagai bahan penyusunan kebijakan dan strategi pemeriksaan;

2. Menyusun dan mengajukan proposal pemeriksaan sesuai dengan kebijakan dan strategi pemeriksaan yang telah ditetapkan apabila AKN tersebut sebagai koordinator pemeriksaan;

Peran AKN

(20)

PMP Penyusunan RKP

9

3. Menyusun dan menyampaikan sumbangan RKP AKN unit kerjanya;

4. Mempersiapkan dan mengajukan usul revisi RKP AKN tahun berjalan;

5. Meng-input RKP unit kerja ke dalam CAMIS.

07 Dalam menjalankan peran tersebut, unit kerja di pusat dikoordinasi oleh AKN. Tortama dapat mendelegasikan peran yang dimilikinya kepada Kalan.

Koordinasi oleh AKN

08 Ditama Revbang dhi. Direktorat Perencanaan Strategis dan Manajemen Kinerja (Dit. PSMK) memiliki peran, antara lain:

1. Meminta dan menganalisis usul tema pemeriksaan dan informasi yang dapat dijadikan bahan penyusunan kebijakan dan strategi pemeriksaan;

2. Mengidentifikasi tema pemeriksaan yang akan diusulkan kepada Badan;

3. Meminta dan menganalisis proposal pemeriksaan dari AKN koordinator pemeriksaan serta mengidentifikasi unit kerja yang terkait dengan kebijakan dan strategi pemeriksaan;

4. Menganalisis dan mengompilasi sumbangan RKP unit kerja menjadi sumbangan RKP BPK;

5. Memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) khusus antar AKN untuk membahas sumbangan RKP; dan

6. Menyesuaikan RKP BPK dengan anggaran yang disetujui.

Peran Ditama Revbang

09 Setjen memiliki peran, antara lain:

1. Menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) tahunan; dan 2. Melaksanakan proses penganggaran atas RKP.

Peran Setjen

C. Mekanisme Penyusunan RKP

10 Penyusunan RKP meliputi delapan tahap

1. Penetapan kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK;

2. Penyusunan rencana pemeriksaan;

3. Penetapan rencana pemeriksaan;

4. Penyusunan sumbangan RKP;

5. Pembahasan dan penetapan RKP;

6. Penyusunan rencana kerja dan anggaran (RKA) BPK;

7. Pembahasan dan penetapan anggaran dengan DPR; dan 8. Penyesuaian RKP.

Tahapan penyusunan RKP

(21)

11 Gambar 2.1 berikut menunjukkan tahap penyusunan RKP tersebut. Tahap penyusunan RKP

1. Penetapan Kebijakan dan Strategi Pemeriksaan BPK

12 Kepala Ditama (Kaditama) Revbang menyampaikan permintaan usul kebijakan dan strategi pemeriksaan kepada Tortama serta mengumpulkan dan menganalisis informasi yang terkait dengan penetapan kebijakan dan strategi pemeriksaan. Informasi terkait dengan penyusunan kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK tersebut meliputi:

(a) identifikasi tema pemeriksaan;

(b) dasar pertimbangan;

(c) identifikasi harapan penugasan dari setiap tema pemeriksaan;

(d) identifikasi AKN koordinator pemeriksaan dan unit kerja terkait;

dan

(e) prioritas pemeriksaan.

Permintaan usul kebijakan dan strategi pemeriksaan

13 Kaditama Revbang menyampaikan permintaan informasi tersebut paling lambat pertengahan bulan November dengan menggunakan format dalam Lampiran 2.1.

Usul kebijakan dan strategi pemeriksaan AKN

14 Dalam memberikan usul, AKN mempertimbangkan pengarahan dan kebijakan strategi Badan, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan/atau pengaduan/permintaan pemeriksaan dari pihak luar BPK. AKN menyusun dan menyampaikan usul kebijakan dan strategi

Usul kebijakan dan strategi pemeriksaan AKN

(22)

PMP Penyusunan RKP

11

pemeriksaan kepada Ditama Revbang dhi. Dit. PSMK paling lambat pertengahan Desember .

15 Ditama Revbang dhi. Dit. PSMK mengumpulkan dan menganalisis informasi lain yang terkait dengan penetapan kebijakan dan strategi pemeriksaan yang akan diusulkan. Informasi tersebut dapat berupa, antara lain:

a) Informasi yang menjadi perhatian publik yang dapat diperoleh, antara lain dari Biro Hubungan Masyarakat dan Luar Negeri (Biro Humas);

b) Informasi tentang ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat diperoleh, antara lain dari Direktorat Utama Pembinaan dan Pengembangan Hukum Pemeriksaan Keuangan Negara (Ditama Binbangkum);

c) Informasi tentang hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan penetapan kebijakan dan strategi pemeriksaan yang dapat diperoleh, antara lain dari Direktorat Penelitian dan Pengembangan (Dit. Litbang) BPK;

d) Informasi tentang evaluasi hasil pemeriksaan sebelumnya yang dapat diperoleh, antara lain dari Direktorat Evaluasi dan Pelaporan Pemeriksaan (Dit. EPP);

e) Renstra BPK dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah.

Analisis informasi terkait penetapan kebijakan dan strategi pemeriksaan

16 Berdasarkan usul AKN tentang kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK serta analisis informasi yang telah diperoleh, Ditama Revbang dhi. Dit. PSMK mengusulkan rumusan kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK kepada Badan untuk ditetapkan. Hasil rumusan disampaikan oleh Ditama Revbang kepada Badan paling lambat pertengahan Januari.

Usul rumusan kebijakan dan strategi pemeriksaan

17 Badan menetapkan kebijakan dan strategi pemeriksaan pada akhir Januari. Kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK tersebut ditetapkan setelah disetujui oleh Sidang Badan.

Penetapan kebijakan dan strategi pemeriksaan

2. Penyusunan Rencana Pemeriksaan

18 AKN menyusun dan menyampaikan rencana pemeriksaan yang meliputi rencana pemeriksaan Auditorat/Perwakilan berdasarkan kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK yang telah ditetapkan.

Rencana pemeriksaan AKN meliputi dasar pertimbangan sesuai kebijakan dan strategi BPK yang ditetapkan, AKN Penanggung Jawab, waktu pelaksanaan, nama entitas yang diperiksa, jumlah pemeriksa sesuai perannya, dan infrastruktur yang diperlukan, anggaran yang diperlukan. Rencana pemeriksaan disampaikan kepada

Penyusunan dan penyampaian rencana pemeriksaan

(23)

Ditama Revbang dhi. Dit. PSMK paling lambat pertengahan Februari dengan menggunakan format dalam lampiran 2.2.

19 Ditama Revbang dhi. Dit. PSMK meneliti dan merumuskan rencana pemeriksaan BPK berdasarkan usul AKN dengan memperhatikan kebijakan dan strategi pemeriksaan BPK. Hasil rumusan digunakan sebagai bahan penetapan rencana pemeriksaan dan disampaikan kepada AKN dan Badan paling lambat akhir Februari.

Rumusan rencana pemeriksaan

3. Penetapan Rencana Pemeriksaan

20 Rencana pemeriksaan BPK dibahas dan ditetapkan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) khusus pada pertengahan bulan Maret.

Pembahasan meliputi urutan prioritas sesuai dengan pengelompokan kebijakan dan strategi (tema) pemeriksaan, waktu, kebutuhan pemeriksa, anggaran, dan infrastruktur lainnya.

Pelaksanaan rakor khusus

21 AKN yang menjadi koordinator atas kebijakan dan strategi pemeriksaan tertentu menyampaikan proposal kepada AKN lain yang terkait serta tembusannya kepada Ditama Revbang. Proposal tersebut meliputi tujuan, sasaran, metodologi, tahun yang diperiksa, waktu pemeriksaan, AKN yang terkait, anggaran, kebutuhan pemeriksa, dan sarana penunjang lainnya. Proposal disampaikan paling lambat pertengahan April.

Penyampaian proposal

22 Hasil rakor khusus dibahas dan ditetapkan dalam Sidang Badan pada akhir April.

Sidang Badan atas hasil rakor khusus

4. Penyusunan Sumbangan RKP

23 AKN menyusun sumbangan RKP berdasarkan rencana pemeriksaan yang ditetapkan oleh Badan serta proposal yang disiapkan oleh AKN koordinator. Penyusunan sumbangan RKP mempertimbangkan waktu, personil pemeriksa yang tersedia, ketersediaan data entitas yang diperiksa, infrastruktur yang diperlukan. Sumbangan RKP disampaikan kepada Ditama Revbang setelah dimintakan pertimbangan Anggota Badan terkait, paling lambat pertengahan Mei.

Menyusun sumbangan RKP

5. Pembahasan dan Penetapan RKP

24 Sumbangan RKP yang telah disusun dan di-input ke dalam CAMIS dibahas dalam Rapat Kerja (Raker) tahunan. Raker diikuti oleh Badan bersama para pejabat eselon I dan II dari masing-masing satuan kerja di lingkungan BPK baik dari para pelaksana di bidang pemeriksaan maupun di bidang nonpemeriksaan. Raker ini bertujuan untuk menyamakan persepsi para pelaksana BPK atas kebijakan dan prioritas BPK, memvalidasi kembali sumbangan RKP dan RKSP yang telah disusun oleh masing-masing satuan kerja, alokasi anggaran

Pelaksanaan Raker tahunan

(24)

PMP Penyusunan RKP

13

yang tersedia untuk setiap kegiatan yang diusulkan, serta prognosis pemeriksaan dua tahun ke depan. Hasil Raker berupa Rencana Kerja Tahunan (RKT) BPK yang di dalamnya memuat besaran anggaran yang dibutuhkan dan prognosis dua tahun ke depan sebagai dasar penyusunan RKA BPK. Badan menetapkan RKT (RKP dan RKSP) berdasarkan konsep RKT hasil pelaksanaan Raker tahunan.

Pelaksanaan Raker tahunan dilaksanakan pada awal Juni.

6. Penyusunan RKA BPK

25 Hasil Raker tahunan yang telah mendapatkan penetapan Badan digunakan oleh Ditama Revbang dhi. Dit. PSMK dan Setjen dhi. Biro Keuangan untuk menyusun RKA BPK pada pertengahan Juni.

Penyusunan RKA BPK

7. Pembahasan dan Penetapan Anggaran dengan DPR

26 RKA BPK kemudian dibahas dengan DPR dalam suatu rapat pembahasan anggaran antara BPK dan DPR. Hasil pembahasan dengan DPR merupakan penetapan anggaran tahunan untuk kegiatan pemeriksaan dan kesekretariatan serta penunjang BPK. Pembahasan dengan DPR dilaksanakan dalam kurun waktu pertengahan Juni sampai dengan akhir Oktober.

Pembahasan usulan anggaran dengan DPR

8. Penyesuaian RKP

27 Sesuai dengan hasil pembahasan anggaran dengan DPR sangat mungkin terjadi adanya perubahan/revisi anggaran yang berakibat pada perubahan/revisi kegiatan di bidang pemeriksaan. Apabila hal ini terjadi, perlu dilakukan penyesuaian RKP dengan tetap memperhatikan pengarahan dan prioritas pemeriksaan yang telah ditetapkan oleh Badan. Sekjen dan/atau Kaditama Revbang menyampaikan hasil dari perubahan/revisi dari kegiatan pemeriksaan kepada Tortama untuk di-input kembali dalam CAMIS. Tortama kemudian menyampaikan RKP setelah penyesuaian kepada Kaditama Revbang paling lambat pertengahan November.

Penyesuaian RKP setelah pembahasan dengan DPR

28 Konsep RKP yang telah disesuaikan bersama-sama dengan RKSP kemudian oleh Kaditama Revbang diajukan ke Badan sebagai suatu konsep RKT yang telah disesuaikan untuk mendapatkan persetujuan dan penetapan dari Badan. Penetapan atas RKT yang telah disesuaikan oleh Badan paling lambat akhir November.

Penetapan RKP yang telah disesuaikan

29 Sistem CAMIS hanya dapat mengakomodasi perubahan/revisi pada saat pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) dari tahun anggaran berjalan. Pengajuan revisi kegiatan dan anggaran dalam rangka ABT dapat diajukan dan dimasukkan ke dalam CAMIS.

Prosedur peng-input-an ke dalam CAMIS untuk revisi dalam rangka ABT sesuai dengan langkah empat penyusunan sumbangan RKP

Revisi tahun RKP saat pengajuan ABT

(25)

yang diuraikan sebelumnya.

30 Pengecualian peng-input-an CAMIS di luar pelaksanaan ABT dapat dilakukan pada saat terjadi pemeriksaan atas kepentingan organisasi atau atas permintaan. Dalam tahun pelaksanaan pemeriksaan sangat dimungkinkan untuk mengakomodasi keinginan pihak-pihak lain termasuk pemilik kepentingan untuk menjalankan pemeriksaan yang tidak/belum disampaikan dalam RKP BPK. Penganggaran dan pengelolaan dana awal untuk keperluan jenis pemeriksaan yang tidak termuat dalam RKP yang berdasarkan kebutuhan organisasi atau permintaan, dipersiapkan oleh AKN sebesar 10 % dari anggaran AKN. Prosedur penginputan ke dalam CAMIS yang dilakukan oleh unit pemeriksa terkait dengan pelaksanaan pemeriksaan ini sesuai dengan langkah empat penyusunan sumbangan RKP yang diuraikan sebelumnya.

Revisi RKP terkait pemeriksaan on call

D. Jadwal Penyusunan RKP

31 Proses penyusunan RKP harus selaras dengan proses penyusunan RKA BPK. Oleh karena itu, waktu penyusunan RKP juga harus selaras dengan waktu penyusunan RKA BPK. Jadwal waktu penyusunan RKP dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.

Jadwal

Tabel 2.1

JADWAL PENYUSUNAN RKP

NO KEGIATAN WAKTU UNIT

PELAKSANA KETERANGAN 1. Permintaan usul bahan

kebijakan dan strategi pemeriksaan oleh Ditama Revbang kepada AKN

Pertengahan November

Ditama Revbang dhi. Dit PSMK.

Dit. PSMK memonitor pelaksanaan kegiatan ini

2. Penyampaian usul kebijakan dan strategi pemeriksaan.

Pertengahan Desember

AKN meliputi Auditorat atau Perwakilan

Disampaikan oleh AKN ke Ditama Revbang 3. Usul rumusan kebijakan

dan strategi pemeriksaan

Pertengahan Januari

Dit. PSMK Disampaikan oleh Ditama Revbang sebagai bahan sidang Badan 4. Penetapan kebijakan dan

strategi pemeriksaan dalam sidang Badan.

Akhir Januari Badan Hasil sidang Badan sebagai bahan menyusun rencana pemeriksaan.

5. Penyusunan rencana pemeriksaan

Pertengahan Februari

AKN Disampaikan oleh AKN ke Ditama Revbang

(26)

PMP Penyusunan RKP

15

NO KEGIATAN WAKTU UNIT

PELAKSANA KETERANGAN 6. Penelitian dan perumusan

rencana pemeriksaan

Akhir Februari Dit. PSMK Disampaikan oleh Ditama Revbang sebagai bahan pada Rakor khusus.

7. Pembahasan dan penetapan rencana pemeriksaan dalam Rakor khusus.

Pertengahan Maret

Unit Kerja terkait Hasil Rakor khusus sebagai bahan pembuatan kebijakan dan strategi

pemeriksaan.

8. Penyampaian proposal kebijakan dan strategi pemeriksaan.

Pertengahan April

AKN koordinator Disampaikan kepada AKN terkait, tembusan kepada Ditama

Revbang.

9. Penetapan rencana pemeriksaan dalam Sidang Badan.

Akhir April Badan Penetapan rencana pemeriksaan oleh Badan 10. Penyusunan sumbangan

RKP

Pertengahan Mei

AKN Disampaikan kepada

Ditama Revbang setelah mendapat pertimbangan Badan.

11. Pembahasan dan Penetapan RKP dalam Raker tahunan

Awal Juni Badan dan unit kerja

Menetapkan RKT (RKP dan RKSP)

12. Penyusunan RKA BPK Pertengahan Juni

Ditama Revbang dan Setjen

- 13 Pembahasan dan

penetapan anggaran dengan DPR

Pertengahan Juni s/d akhir Oktober

Setjen dhi. Biro Keuangan

Pembahasan anggaran dengan DPR untuk ditetapkan

14. Penyesuaian RKP Pertengahan November

AKN Disesuaikan oleh AKN

dengan hasil penetapan anggaran oleh DPR dan disampaikan kepada Ditama Revbang dhi. Dit PSMK

15 Penetapan RKP yang telah disesuaikan

Akhir November

Badan Bahan disiapkan oleh Ditama Revbang

berdasarkan penyesuaian RKP oleh AKN

E. Bagan Alur Kegiatan Penyusunan RKP

32 Bagan alur kegiatan penyusunan RKP dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut.

Bagan alur kegiatan penyusunan RKP

(27)
(28)

PMP Penyusunan RKP

17

(29)

BAB III

PERENCANAAN PEMERIKSAAN

A. Lingkup

01 Perencanaan pemeriksaan diperlukan agar pemeriksaan dapat dilaksanakan secara efisien, efektif, dan sesuai dengan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh BPK.

Tujuan Perencanaan Pemeriksaan

02 Perencanaan pemeriksaan meliputi persiapan yang bersifat teknis dan administratif. Persiapan teknis mencakup pembentukan tim persiapan, pemahaman penugasan, pemahaman entitas, penyusunan konsep program pemeriksaan, penentuan tim pemeriksa, persetujuan penugasan, dan penyusunan Program Kerja Perorangan (PKP). Sedangkan persiapan administratif meliputi penerbitan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD), pencairan biaya pemeriksaan, dan pengurusan akomodasi serta transportasi ke lokasi dan selama pemeriksaan.

Perencanaan bersifat teknis dan admninistratif

B. Pihak-Pihak Terkait dalam Perencanaan Pemeriksaan

03 Perencanaan pemeriksaan melibatkan Badan beserta AKN atau perwakilan, tim persiapan pemeriksaan yang selanjutnya disebut tim persiapan, dan Sub Auditorat Manajemen Intern AKN (Subaud MIA) atau Sub Bagian Sekretariat Kepala Perwakilan (Subagset Kalan).

Pihak-pihak terkait

04 Badan memiliki peran, antara lain menandatangani Surat Perintah Persiapan Pemeriksaan (SP3), dan Surat Tugas.

Peran Badan

05 AKN memiliki peran, antara lain mengevaluasi:

(1) Materi Program Pemeriksaan (P2) yang meliputi tujuan, sasaran, metodologi pemeriksaan, petunjuk pemeriksaan, dan waktu penerbitan laporan hasil pemeriksaan;

(2) Susunan tim pemeriksa terkait dengan independensi dan persyaratan kompetensi.

Peran AKN

06 Tim persiapan memiliki peran, antara lain menyusun P2 dengan memperhatikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pemeriksaan yang terkait dan RKP serta akurasi angka dan kebenaran pembahasaan.

Peran tim persiapan

07 Subaud MIA atau Subagset Kalan antara lain memiliki peran:

1. Menyelenggarakan data profil pemeriksa;

2. Memelihara kebenaran administrasi data profil pemeriksa terkait independensi, persyaratan kompetensi serta kebenaran data lainnya terkait dengan tugas-tugas pemeriksaan.

Peran Subaud MIA/Subagset Kalan

(30)

PMP Perencanaan Pemeriksaan

19

C. Mekanisme Perencanaan Pemeriksaan 08 Perencanaan pemeriksaan meliputi lima tahap:

1. Pembentukan tim persiapan;

2. Penyusunan paket program pemeriksaan;

3. Penyusunan program kerja perorangan;

4. Pemberitahuan pemeriksaan; dan 5. Pengurusan administratif pemeriksaan.

Tahapan perencanaan pemeriksaan

09 Gambar 3.1 berikut menunjukkan tahap-tahap perencanaan pemeriksaan. Gambar tahapan perencanaan pemeriksaan

\

1. Pembentukan Tim Persiapan

10 Pembentukan tim persiapan merupakan langkah awal dalam perencanaan pemeriksaan. Sesuai RKP, arahan Badan dan data pemeriksa, AKN yang menjadi koordinator membentuk tim persiapan pemeriksaan yang akan menyusun P2 (diistilahkan kemudian sebagai P2 AKN), sesuai dengan kebijakan dan strategi (tema) pemeriksaan yang akan dilaksanakan.

Pembentukan tim persiapan

11 Komposisi tim persiapan pemeriksaan dapat terdiri dari pejabat fungsional maupun struktural dengan mempertimbangkan pengalaman dan kompetensi yang relevan dengan entitas yang akan diperiksa.

Komposisi tim persiapan pemeriksaan

12 Tortama menyampaikan konsep SP3 kepada Anggota terkait untuk memperoleh persetujuan. Pembentukan tim persiapan pemeriksaan segera setelah penetapan RKP.

Penyampaian konsep SP3

(31)

13 Tim persiapan pemeriksaan pada Perwakilan BPK dibentuk oleh Kalan. Penyusunan P2 oleh tim persiapan pada Perwakilan BPK memperhatikan P2 AKN yang telah disusun.

Tim persiapan pemeriksaan pada perwakilan

14 Bentuk dan isi SP3 dapat dilihat pada Lampiran 3.1. Format SP3

2. Penyusunan Paket Program Pemeriksaan

15 Paket program pemeriksaan terdiri dari P2 dan Surat Tugas. Tahapan penyusunan paket program pemeriksaan adalah sebagai berikut.

Paket program pemeriksaan

16

a. Pemahaman Penugasan

Dalam rangka menyusun P2 agar sesuai dengan harapan dan pengarahan Badan, maka tim persiapan harus memahami latar belakang penugasan yang antara lain meliputi jenis, alasan, dan tujuan pemeriksaan, kompetensi pemeriksa yang diperlukan serta harapan pemberi tugas atas pemeriksaan tersebut. AKN yang membidangi entitas yang akan diperiksa memfasilitasi tim persiapan dalam rangka melakukan pemahaman penugasan baik melalui diskusi maupun rapat pengarahan dari Badan atau pemberi tugas. Hasil pemahaman tersebut didokumentasikan oleh tim persiapan dalam risalah pemahaman penugasan. Kegiatan pemahaman penugasan diatur lebih lanjut pada petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis pemeriksaan terkait.

Pemahaman penugasan

17

b. Pemahaman Entitas

Tim persiapan juga perlu memahami entitas yang akan diperiksa terutama menyangkut sistem pengendalian intern, hasil pemeriksaan sebelumnya, tindak lanjut hasil pemeriksaan dan/atau hasil pengawasan intern sebelumnya, perkembangan entitas yang dapat mempengaruhi pemeriksaan seperti organisasi dan peraturan perundangan yang berlaku bagi pengelolaan keuangan negara di lingkungan entitas yang akan diperiksa. Apabila diperlukan, tim persiapan dapat meminta kepada Ditama Binbangkum informasi terbaru tentang peraturan yang terkait pengelolaan keuangan negara.

Pemahaman entitas

18 Informasi mengenai entitas dapat juga diperoleh dari Database Entitas Pemeriksaan (DEP), Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) sebelumnya, dan komunikasi dengan pemeriksa sebelumnya.

Data sumber pemahaman entitas

19 Apabila diperlukan, tim persiapan dapat mengajukan pemeriksaan pendahuluan untuk pengumpulan data dan informasi secara langsung dari entitas pemeriksaan. Kegiatan pemahaman entitas diatur lebih lanjut dalam petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis pemeriksaan terkait.

(32)

PMP Perencanaan Pemeriksaan

21

20

c. Penyusunan Konsep P2 AKN

Berdasarkan informasi yang diperoleh dalam pemahaman penugasan dan pemahaman entitas, tim persiapan pada AKN menyusun konsep P2 yang merupakan suatu strategi pemeriksaan yang utuh. Sifat, luas, dan waktu perencanaan pemeriksaan berbeda satu dengan lainnya tergantung pada hasil pemahaman atas entitas yang diperiksa dari faktor-faktor, antara lain, kompleksitas, pengendalian intern, dan risiko, pengalaman pemeriksaan atas entitas tersebut, yaitu apakah pengalaman pertama atau lanjutan, dan pertimbangan lain termasuk kebijakan BPK, harapan pemilik kepentingan, dan harapan penugasan.

Penyusunan konsep P2 oleh tim persiapan

21 P2 sekurang-kurangnya meliputi unsur, antara lain, dasar hukum pemeriksaan, standar pemeriksaan, tujuan pemeriksaan, entitas yang diperiksa, lingkup pemeriksaan, hasil pemahaman Sistem Pengendalian Intern (SPI), sasaran pemeriksaan, kriteria yang digunakan, alasan pemeriksaan, metodologi pemeriksaan, petunjuk pemeriksaan, jangka waktu pemeriksaan, susunan dan biaya pemeriksaan, kerangka Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), waktu penyampaian, dan distribusi LHP serta persetujuan P2.

Unsur P2

22 Dasar hukum pemeriksaan merupakan peraturan perundangan sebagai sumber mandat bagi BPK dalam melaksanakan pemeriksaan pada suatu objek pemeriksaan/entitas yang diperiksa.

Dasar hukum

23 Standar pemeriksaan merupakan pedoman yang ditetapkan oleh BPK sebagai acuan bagi pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan untuk dan atas nama BPK.

Standar pemeriksaan

24 Tujuan pemeriksaan merupakan hasil pemeriksaan yang akan dicapai dan ditentukan oleh jenis pemeriksaan yang akan dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan dan standar pemeriksaan yang ditetapkan BPK.

Tujuan pemeriksaan

25 Entitas yang diperiksa, antara lain, meliputi kementerian, lembaga, unit organisasi, atau satuan organisasi lainnya yang berwenang dalam pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang menjadi obyek pemeriksaan BPK.

Entitas yang diperiksa

26 Lingkup pemeriksaan merupakan batasan bagi tim pemeriksa untuk dapat menerapkan prosedur pemeriksaan yang ditentukan berdasarkan sasaran (program atau proyek), lokasi (pusat, wilayah, cabang, atau perwakilan) maupun waktu (tahun anggaran, tahun buku, semester, atau triwulan).

Lingkup Pemeriksaan

27 Hasil pemahaman SPI berisi penilaian atas efektivitas SPI di lingkungan entitas yang diperiksa yang digunakan untuk menentukan sasaran pemeriksaan.

Hasil pemahaman SPI

(33)

28 Sasaran pemeriksaan meliputi akun, kegiatan, tugas pokok, dan fungsi atau satuan kerja yang akan diperiksa. Penentuan sasaran hendaknya berdasarkan pertimbangan signifikansi (nilai uang yang cukup material), risiko (kelemahan pengendalian intern), dampak pemeriksaan (kemungkinan perbaikan dengan dilakukannya pemeriksaan atas entitas yang bersangkutan), dan auditabilitas (tingkat kemudahan pemeriksaan yang ditentukan oleh kemampuan pemeriksa dan ketersediaan data).

Sasaran pemeriksaan

29 Kriteria yang digunakan merupakan tolok ukur untuk menilai kondisi/asersi/obyek yang diperiksa. Kriteria dapat berbentuk formal seperti kebijakan akuntansi, standar akuntansi, peraturan perundang-undangan, kebijakan tertulis, atau berbentuk informal seperti benchmark (standar terbaik dari entitas lain yang sejenis), kesepakatan antara entitas dengan pemeriksa (dalam hal indikator kinerja belum tersedia), atau logika yang dapat diterima umum.

Kriteria yang digunakan

30 Alasan pemeriksaan memuat kondisi atau permasalahan yang telah diidentifikasi dalam tahap pemahaman entitas yang melatarbelakangi pemeriksaan. Alasan ini menjadi prioritas untuk dibuktikan secara lebih rinci lagi dengan menggunakan prosedur pemeriksaan dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Alasan pemeriksaan

31 Metodologi pemeriksaan meliputi pendekatan yang digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan.

Pendekatan metodologi pada perencanaan minimal meliputi materialitas dan metode uji petik, pendekatan metodologi pada pelaksanaan meliputi metode pengumpulan bukti dan pengujian substantif, sedangkan pendekatan metodologi pada pelaporan meliputi teknik dan mekanisme pelaporan.

Metodologi pemeriksaan

32 Petunjuk pemeriksaan meliputi petunjuk umum dan langkah- langkah pemeriksaan. Petunjuk umum memberikan panduan kepada tim pemeriksa mengenai jenis, tujuan, lingkup, dan sasaran pemeriksaan. Langkah pemeriksaan merupakan serangkaian prosedur pemeriksaan yang harus dilakukan oleh tim pemeriksa atas sasaran dan lingkup pemeriksaan tertentu untuk menjawab tujuan pemeriksaan yang lebih rinci. Untuk kemudahan pengendalian, setiap langkah pemeriksaan harus jelas siapa pemeriksa yang bertanggung jawab berdasarkan pembagian tugas yang ditetapkan ketua tim. Di samping itu, juga harus ditetapkan kode indeks kertas kerja pada setiap langkah pemeriksaan yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi yang diperoleh dari pelaksanaan langkah pemeriksaan tersebut.

Petunjuk pemeriksaan

(34)

PMP Perencanaan Pemeriksaan

23

33 Jangka waktu pemeriksaan merupakan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pemeriksaan oleh tim pemeriksa, yang dirinci untuk setiap pemeriksa yang terlibat mulai dari penanggung jawab sampai dengan anggota tim untuk setiap kegiatan utama pemeriksaan.

Jangka waktu Pemeriksaan

34 Susunan tim dan biaya pemeriksaan merupakan suatu informasi yang menerangkan urutan komposisi tim pemeriksa mulai dari penanggung jawab sampai pada anggota tim dalam suatu pemeriksaan dilengkapi dengan jumlah biaya pemeriksaan yang dirinci ke dalam biaya transportasi, biaya akomodasi, dan biaya lain-lain yang relevan dengan tugas pemeriksaan. Untuk kepentingan pengendalian anggaran, maka program pemeriksaan juga memuat informasi mengenai anggaran biaya yang diajukan untuk mendukung pemeriksaan dimaksud sebagaimana dimuat dalam RKP berikut revisinya.

Susunan tim dan biaya pemeriksaan

35 Kerangka LHP memuat pokok-pokok materi, waktu penyampaian, dan distribusi LHP.

Kerangka LHP

36 Tortama atau Kalan menetapkan waktu penyampaian dan distribusi LHP.

Waktu dan distribusi LHP

37 Persetujuan atas P2 dinyatakan dengan tanda tangan beserta tanggal persetujuan setelah terlebih dahulu mereviu konsep P2.

Bentuk dan isi P2 dapat dilihat pada Lampiran 3.2.

Persetujuan P2

38

d. Persetujuan P2 AKN

Tim persiapan menyampaikan konsep P2 AKN kepada Tortama melalui Kepala Auditorat (Kaaud). Apabila diperlukan pemeriksaan pendahuluan, maka penyampaian konsep P2 AKN paling lambat lima hari kerja setelah pemeriksaan pendahuluan tersebut berakhir.

Penyampaian konsep P2 AKN

39 Kaaud mengevaluasi kesesuaian P2 dengan RKP termasuk alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan biaya pemeriksaan serta mengevaluasi materi konsep P2 AKN yang meliputi, antara lain, tujuan, sasaran, metodologi pemeriksaan, petunjuk pemeriksaan, waktu penyampaian, dan distribusi LHP.

Evaluasi konsep P2

40 Tortama menyetujui konsep P2 AKN paling lambat tiga hari kerja setelah penyampaian konsep P2 AKN dari tim persiapan dan menyampaikan P2 AKN kepada Kaaud dan Kalan dengan tembusan kepada Anggota terkait.

Lama persetujuan

(35)

41

e. Penyusunan dan Persetujuan P2 Perwakilan

Berdasarkan P2 AKN, perwakilan segera menyusun P2 (kemudian disebut P2 perwakilan). Kalan membentuk tim persiapan pemeriksaan di tingkat perwakilan untuk menyusun P2 perwakilan sesuai SP3. P2 perwakilan merupakan P2 yang disusun dengan mengacu pada P2 AKN. P2 perwakilan memuat informasi yang lebih rinci sesuai dengan entitas pemeriksaan di wilayahnya dan berdasarkan RKP perwakilan. Konsep P2 perwakilan disampaikan kepada Kalan melalui Kepala Sub Auditorat (Kasubaud). Kalan menyetujui P2 perwakilan paling lambat satu hari kerja setelah diterimanya konsep P2 perwakilan.

Penyusunan dan persetujuan P2 perwakilan

42 Apabila diperlukan, tim persiapan pemeriksaan di perwakilan dapat melakukan pemeriksaan pendahuluan untuk pengumpulan data dan informasi secara langsung dari entitas yang diperiksa.

Dalam hal ini, penyampaian konsep P2 perwakilan paling lambat lima hari kerja setelah pemeriksaan pendahuluan berakhir.

Pembentukan tim pemeriksaan pendahuluan

43 Penyusunan P2 perwakilan dianggap tidak perlu, apabila informasi pada P2 AKN sudah memadai dan mencukupi untuk dijadikan pedoman pemeriksaan pada perwakilan tersebut.

Perlu tidaknya P2 perwakilan

44

f. Penentuan Tim Pemeriksa

Tim pemeriksa harus memiliki kompetensi kolektif terkait dengan entitas yang diperiksa sehingga dalam penetapan personil yang akan ditugaskan harus ditentukan dengan pertimbangan latar belakang pendidikan dan pengalaman, independensi, tujuan, lingkup dan jenis pemeriksaan, harapan penugasan atau harapan hasil pemeriksaan, dan hasil evaluasi kinerja pemeriksa dalam penugasan sebelumnya.

Penentuan tim pemeriksa

45 Subaud MIA/Subagset Kalan pada tiap unit organisasi pemeriksa menyelenggarakan administrasi data profil pemeriksa yang berkenaan dengan independensi, persyaratan kompetensi, dan data lainnya yang dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan pejabat struktural dalam mengusulkan secara berjenjang personil yang akan ditugaskan dalam pemeriksaan. Usul komposisi tim pemeriksa dituangkan dalam bentuk konsep surat tugas. Pemeriksa yang terlibat dalam tim persiapan mendapat prioritas untuk ditugaskan dalam pemeriksaan dimaksud.

Tugas Subaud MIA/

Subagset Kalan terkait data profil

pemeriksa

46 Dalam hal penggunaan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK, maka proses penetapan tim pemeriksa diatur dalam ketentuan mengenai penggunaan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK yang bekerja untuk dan atas nama BPK.

Penggunaan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK

(36)

PMP Perencanaan Pemeriksaan

25

47

g. Persetujuan Penugasan

Proses persetujuan penugasan dilakukan secara berjenjang oleh pejabat struktural hingga tingkat Badan. Pemegang kuasa untuk menyetujui penugasan pemeriksaan adalah Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BPK. Kuasa tersebut dapat didelegasikan dan diberikan kepada Kalan untuk penugasan pemeriksaan di perwakilan. Pendelegasian dan pemberian kuasa tersebut dilakukan oleh Ketua, Wakil Ketua, atau Anggota BPK secara tertulis. Badan atau pejabat yang memberikan persetujuan penugasan kemudian disebut pemberi tugas. Persetujuan penugasan tersebut dilakukan dengan menandatangani surat tugas setelah mempertimbangkan P2.

Persetujuan penugasan

48 P2 dan surat tugas yang telah disetujui merupakan suatu paket program pemeriksaan. Surat tugas yang disetujui memuat nomor, tanggal, bulan, tahun surat tugas, dan cap (stempel) BPK, nama pemeriksa dan jabatan/peran dalam pemeriksaan, uraian penugasan sesuai dengan P2 jangka waktu pemeriksaan lapangan, dan tembusan surat tugas. Surat tugas ditembuskan kepada pimpinan pihak ekstern dan intern BPK yang terkait sesuai dengan kebutuhan. Bentuk surat tugas pemeriksaan seperti dimuat dalam Lampiran 3.3.

Paket program pemeriksaan

49 Penugasan dapat dibatalkan oleh pemberi tugas berdasarkan pertimbangan independensi, perubahan kebijakan Badan, atau keadaan kahar (force majeur) dan pertimbangan lain yang membuat pemeriksaan tidak dapat dilaksanakan secara memadai.

Pembatalan penugasan

50 Persetujuan penugasan oleh pemberi tugas paling lambat lima hari kerja setelah P2 disetujui dan/atau konsep surat dari Tortama diterima.

Lama persetujuan

51 Pemeriksa yang telah tercantum dalam surat tugas yang telah disetujui pemberi tugas tidak dapat melepaskan diri dari penugasan pemeriksaan tersebut. Pemeriksa hanya dapat melepaskan diri dari penugasan disebabkan oleh:

1) Meninggal dunia;

2) Berhenti sebagai pegawai negeri sipil BPK;

3) Sakit yang berdasarkan keterangan dokter, pemeriksa tersebut tidak dapat menjalankan tugas pemeriksaan;

4) Terganggunya independensi pemeriksa terhadap entitas yang diperiksa sehingga pemeriksa tidak dapat menjalankan tugas pemeriksaan secara obyektif. Apabila ada gangguan independensi, pemeriksa menyampaikan alasan secara tertulis kepada atasan langsung. Berdasarkan pertimbangan dari

Pelepasan penugasan

(37)

atasan langsungnya yang disampaikan melalui pimpinan/

pejabat di atasnya, pemberi tugas dapat membatalkan penugasan kepada pemeriksa tersebut. Keputusan pembatalan penugasan disampaikan kepada yang bersangkutan dan Kasubaud MIA atau Kasubagset Kalan. Apabila terdapat konsekuensi keuangan atas pembatalan tersebut, pemeriksa mempertanggungjawabkannya kepada Biro Keuangan atau Subag Keuangan.

3. Penyusunan Program Kerja Perorangan

52 Berdasarkan paket program pemeriksaan yang telah disetujui, ketua tim melakukan pembagian tugas kepada masing-masing anggota tim atas langkah pemeriksaan yang terdapat dalam P2. Para anggota tim pemeriksa kemudian menyusun konsep Program Kerja Perorangan (PKP) yang merupakan penjabaran dari P2 dan mengajukannya kepada ketua tim untuk direviu. Setelah memperhatikan pertimbangan pengendali teknis, ketua tim pemeriksa menyetujui konsep PKP.

Persetujuan PKP oleh ketua tim paling lambat dua hari kerja setelah paket program pemeriksaan disetujui. Bentuk dan isi PKP dimuat pada Lampiran 3.4.

Penyusunan PKP

4. Pemberitahuan Pemeriksaan

53 Berdasarkan paket program pemeriksaan yang telah disetujui, ketua tim menyusun jadwal pemeriksaan yang memuat waktu tentatif yang dialokasikan untuk melakukan pemeriksaan pada entitas yang bersangkutan. Apabila perlu, ketua tim menyusun permintaan data/informasi awal terkait pemeriksaan. Surat tugas, jadwal pemeriksaan dan permintaan data/informasi awal disampaikan kepada pimpinan entitas yang diperiksa. Pemberitahuan pemeriksaan disampaikan paling lambat tiga hari kerja sebelum tim melaksanakan pemeriksaan lapangan. Bentuk dan isi surat pemberitahuan pemeriksaan dan permintaan data/informasi awal dimuat pada Lampiran 3.5.

Pemberitahuan kepada pimpinan entitas yang diperiksa

5. Pengurusan Administratif Pemeriksaan

54 Pelaksanaan teknis pemeriksaan tidak akan berhasil dengan baik tanpa dukungan penyelenggaraan administratif pemeriksaan.

Penyelenggaran administratif pemeriksaan ini, antara lain, meliputi:

Pengurusan administratif pemeriksaan

55

a. Penerbitan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD)

Berdasarkan tembusan surat tugas dan jadwal pemeriksaan, Subaud MIA atau Subagset Kalan menyiapkan konsep Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) untuk masing-masing pemeriksa yang berisi, antara lain, nomor dan tanggal surat tugas

Penerbitan SPPD

(38)

PMP Perencanaan Pemeriksaan

27

dan tanggal keberangkatan tim pemeriksa yang bersangkutan.

SPPD ditandatangani oleh Tortama atau Kalan, dan pejabat lainnya paling lambat dua hari kerja setelah paket program pemeriksaan disetujui. Bentuk dan isi SPPD dimuat pada Lampiran 3.6.

56 b. Pengurusan keuangan, akomodasi, dan transportasi

Berdasarkan tembusan surat tugas dan SPPD, Subaud MIA atau Subagset Kalan mengurus pencairan biaya pemeriksaan dan mendistribusikan ke masing-masing pemeriksa. Untuk kemudahan pelaksanaan tugas, Subaud MIA atau Subagset Kalan merancang terlebih dahulu akomodasi dan transportasi yang dibutuhkan selama pemeriksaan. Dalam hal akomodasi dan transportasi tidak memungkinkan untuk dibantu pengurusannya oleh Subaud MIA atau Subagset Kalan maka tim pemeriksa dapat merancang sendiri teknis perjalanan dan akomodasi sesuai kondisi di lapangan.

Apabila tim pemeriksa merancang sendiri teknis perjalanan dan akomodasi, dua hari kerja setelah tim pemeriksa berada di lapangan, ketua tim pemeriksa menyampaikan kepada Kasubaud MIA atau Kasubagset Kalan mengenai tempat penginapan, termasuk informasi tarifnya.

Pengurusan keuangan, akomodasi dan transportasi

D. Perencanaan Pemeriksaan On Call

57 Perencanaan pemeriksaan on call pada AKN sama dengan mekanisme perencanaan pemeriksaan yang telah diuraikan sebelumnya, tetapi jangka waktu dari masing-masing tahap disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

Perencanaan pemeriksaan on call AKN

58 Untuk perencanaan pemeriksaan on call pada perwakilan, penyusunan P2 disusun oleh perwakilan terkait. P2 yang telah disetujui Kalan disampaikan kepada Anggota terkait dengan tembusan kepada Tortama terkait.

Perencanaan pemeriksaan on call Perwakilan

E. Jadwal Perencanaan Pemeriksaan

59 Jadwal perencanaan pemeriksaan dapat dilihat pada tabel berikut: Jadwal

(39)

Tabel 3.1

JADWAL PERENCANAAN PEMERIKSAAN

NO KEGIATAN WAKTU UNIT/ PERSONIL

PELAKSANA KETERANGAN 1. Pembentukan tim

persiapan pemeriksaan AKN

Segera setelah penetapan RKP

AKN Tim terdiri dari

pejabat struktural dan pemeriksa yang kompeten 2. Penyusunan konsep P2

AKN

- Segera setelah berakhirnya SP3 - Lima hari kerja setelah

pemeriksaan

pendahuluan (jika ada)

Tim persiapan pemeriksaan

Disampaikan oleh tim persiapan kepada Tortama

3. Persetujuan P2 AKN Tiga hari kerja setelah penyampaian P2 dari tim persiapan

Tortama Berdasarkan konsep P2 dari tim

persiapan 4. Persetujuan penugasan Lima hari kerja setelah

P2 disetujui

Badan Disampaikan oleh

pejabat struktural ke Badan

5. Penyusunan dan persetujuan P2 perwakilan

− Segera setelah berakhirnya SP3 di perwakilan

− Lima hari setelah pemeriksaan pendahuluan

− Penyetujuan satu hari kerja setelah konsep P2 perwakilan diterima

− Tim persiapan

− Tim persiapan

− Kalan

Berdasarkan P2 AKN di susun P2 perwakilan

6. Penyusunan PKP Dua hari kerja setelah paket program pemeriksaan disetujui (P2 dan surat tugas)

Ketua tim Anggota tim mengajukan kepada ketua tim

7. Pemberitahuan pemeriksaan kepada pimpinan entitas yang diperiksa

Tiga hari kerja sebelum pelaksanaan

pemeriksaan lapangan

Ketua tim Disampaikan oleh ketua tim kepada pimpinan entitas yang diperiksa 8. Pengurusan administrasi

pemeriksaan (penerbitan SPPD)

Dua hari kerja setelah paket program pemeriksaan disetujui

Subaud MIA/

Subagset Kalan

(40)

PMP Perencanaan Pemeriksaan

29

F. Bagan Alur Kegiatan Perencanaan Pemeriksaan

60 Bagan alur kegiatan perencanaan pemeriksaan dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

Bagan alur kegiatan perencanaan pemeriksaan

(41)
(42)

PMP Pelaksanaan Pemeriksaan

31

BAB IV

PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

A. Lingkup

01 Pelaksanaan pemeriksaan merupakan realisasi atas rencana pemeriksaan.

Pemeriksaan dilaksanakan setelah adanya surat tugas pemeriksaan dan berakhir dengan adanya penyampaian Temuan Pemeriksaan (TP) kepada entitas yang diperiksa. TP bukan laporan hasil pemeriksaan, tetapi merupakan temuan atau indikasi permasalahan yang diperoleh selama pemeriksaan dan berfungsi sebagai sarana komunikasi antara tim pemeriksa dengan pejabat entitas yang diperiksa sebelum penyusunan laporan hasil pemeriksaan.

Lingkup pelaksanaan pemeriksaan

02 Pelaksanaan pemeriksaan dibagi ke dalam dua kegiatan, yaitu pekerjaan pemeriksaan dan pengakhiran pemeriksaan. Kegiatan pekerjaan pemeriksaan adalah kegiatan yang dilaksanakan ketika tim pemeriksa berada di lapangan. Kegiatan pekerjaan pemeriksaan dimulai dari komunikasi awal dan diakhiri dengan komunikasi akhir dengan pejabat entitas yang diperiksa, sedangkan kegiatan pengakhiran pemeriksaan adalah kegiatan setelah tim kembali dari lapangan. Kegiatan pengakhiran pemeriksaan antara lain, melaporkan hasil pemeriksaan di lapangan dan mempertanggungjawabkan administrasi pemeriksaan.

Kegiatan pelaksanaan pemeriksaan

B. Pihak-Pihak Terkait dalam Pelaksanaan Pemeriksaan

03 Pelaksanaan pemeriksaan melibatkan tim pemeriksa, yang terdiri dari penanggung jawab, pengendali teknis, ketua tim, dan anggota tim;

apabila diperlukan tim pemeriksa dapat ditambahkan wakil penanggung jawab dan ketua subtim.

Pihak-pihak terkait

04 Penanggung jawab memiliki peran, antara lain, menjamin kelancaran pelaksanaan pemeriksaan. Apabila terdapat wakil penanggung jawab dalam tim pemeriksaan, maka penanggung jawab membagi tugas dan peran dengan wakil penanggung jawab.

Peran penanggung jawab

05 Pengendali teknis memiliki peran, antara lain:

1. Menjamin terpenuhinya tujuan dan lingkup pemeriksaan;

2. Menjamin terpenuhinya pelaksanaan P2 yang tertuang dalam KKP;

3. Menjamin kebenaran pembahasaan dalam TP.

Peran pengendali teknis

(43)

06

07

Ketua tim memiliki peran, antara lain:

1. Menjamin terpenuhinya unsur-unsur temuan seperti kondisi, kriteria, sebab, dan akibat sesuai dengan SPKN;

2. Menjamin kelengkapan dan kecukupan bukti pendukung;

3. Menjamin kebenaran matematis dan akurasi angka dalam TP.

Apabila terdapat ketua subtim dalam tim pemeriksaan, maka peran ketua subtim sama dengan ketua tim, tetapi terbatas pada subtim yang dibawahkan.

Peran ketua tim

Peran ketua sub tim

08 Anggota tim memiliki peran, antara lain:

1. Melaksanakan P2;

2. Menjamin kebenaran matematis dan akurasi angka dalam KKP.

Peran anggota tim

C. Mekanisme Pelaksanaan Pemeriksaan

09 Pelaksanaan pemeriksaan atas kegiatan pekerjaan pemeriksaan dan pengakhiran pemeriksaan meliputi enam tahap:

1. Komunikasi awal;

2. Pelaksanaan P2;

3. Penyusunan KKP;

4. Penyusunan TP;

5. Komunikasi Akhir (Penyampaian TP); dan 6. Pengakhiran pemeriksaan.

Tahap pelaksanaan pemeriksaan

10 Gambar 4.1 berikut menunjukkan tahap-tahap pelaksanaan pemeriksaan. Gambar tahap pelaksanaan pemeriksaan

Gambar

Gambar tahap  pelaporan hasil  pemeriksaan
Gambar tahap   pemantauan tindak

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja, kualitas, dan produktivitas kerja pegawai pada pelaksana BPK dan melakukan penyesuaian terhadap perkembangan organisasi

Achsanul Qosasi Anggota VII Bidang Tugas : Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang meliputi Badan Usaha Milik Negara, dan Lembaga lain yang dibentuk

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan

Alur pikir pengembangan renstra memperhatikan: (1) landasan berpikir yang mendeskripsikan tujuan negara, mandat BPK, pemangku kepentingan dan layanan publik, pengendalian

Badan Pemeriksa Keuangan yang selanjutnya disingkat BPK adalah lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam

Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan

Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) Tahun 2017 dan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) BPK Tahun 2015 dengan tujuan

Badan Pemeriksa Keuangan, yang selanjutnya disingkat BPK, adalah lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud