• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN RISBINKES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN RISBINKES"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

i

LAPORAN AKHIR PENELITIAN RISBINKES

DETEKSI RICKETTSIA PADA PINJAL KUCING SEBAGAI KEWASPADAAN DINI PENYAKIT TULAR PINJAL

DI KABUPATEN BANJARNEGARA

Tim Pelaksana : Eva Lestari, SKM Nova Pramestuti, SKM, M.Sc Ulfah Farida Trisnawati, A.Md

BALAI LITBANG KESEHATAN BANJARNEGARA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2019

(2)
(3)

iii

SUSUNAN TIM PENELITI

No Nama Keahlian Kedudukan dalam Tim

Uraian Tugas

1. Eva Lestari, SKM Epidemiologi dan Biostatistik

Ketua pelaksana

Mengkooordinir pelaksanaan kegiatan penelitian

2. Nova Pramestuti, SKM, M.Sc

Epidemiologi dan Biostatistik

Peneliti Mengkoordinir

pemeriksaan rickettsia dan survei kucing 3. Ulfah Farida

Trisnawati, A.Md

Entomologi Kesehatan

Teknisi Membuat awetan pinjal, identifikasi pinjal, administrasi penelitian

(4)

iv

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii

(9)

ix

(10)

x

(11)

xi

(12)

xii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala anugerah dan karunia kemudahan yang telah diberikan sehingga penelitian Riset Pembinaan Kesehatan (Risbinkes) 2019 dengan judul “Deteksi Rickettsia pada Pinjal Kucing sebagai Kewaspadaan Dini Penyakit Tular Pinjal di Kabupaten Banjarnegara” dapat diselesaikan.

Pinjal merupakan salah satu vektor penyakit yang dapat ditemukan pada hewan yang tidak dirawat dengan baik, misalnya kucing. Kucing mempunyai hubungan yang erat dengan manusia. Oleh karena itu manusia dapat berisiko tertular penyakit yang ditularkan oleh pinjal yang berasal dari kucing.

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat terhadap penyakit tular pinjal mengingat kucing merupakan hewan yang dekat dengan manusia.

Peneliti menyadari penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan bimbingan dari pihak lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada:

1. Jastal, SKM, M.Si selaku Kepala Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara;

2. Dewi Marbawati, S.Si, M.Sc selaku Kepala Seksi Layanan dan Sarana Penelitian Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara;

3. Anorital, SKM, M.Kes selaku Pembina;

4. Pihak Laboratorium Entomologi dan Laboratorium Mikrobiologi, Biomolekler dan Immunologi Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara;

5. Dan seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Banjarnegara, Desember 2019

Tim Peneliti

(13)

xiii

RINGKASAN EKSEKUTIF

Peranan pinjal dalam kesehatan diantaranya sebagai ektoparasit, vektor penyakit, dan hospes perantara. Pinjal sebagai serangga ektoparasit hidup pada permukaan tubuh inangnya. Inang dapat berupa kucing, anjing, tikus, kelinci, unggas/ayam, kelelawar dan hewan berkantung (marsupialia). Kucing yang tidak terawat dan hidup secara bebas berpotensi menularkan berbagai penyakit, misalnya flea allergic dermatitis (FAD) dan Dipylidiasis. Pinjal pada kucing juga dapat menularkan penyakit Rickettsia. Rickettsiosis dapat ditularkan melalui feses/kotoran pinjal yang mengenai luka pada kulit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya Rickettsia pada pinjal kucing. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Metode pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Sampel penelitian adalah kucing rumah (Felis catus) di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Sebanyak 100 ekor kucing yang terdiri atas kucing liar dan peliharaan ditangkap kemudian dicari pinjalnya dan dihitung indeks pinjalnya.

Kemudian dilakukan pemeriksaan PCR untuk mendeteksi adanya Rickettsia pada pinjal. Sebagian pinjal yaitu 5% dari jumlah pinjal yang didapat dibuat awetan selanjutnya dilakukan identifikasi pinjal. Wawancara mengenai cara perawatan kucing dilakukan terhadap pemilik kucing yang dijadikan sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan pada kucing dirawat terdapat 82% kucing positif Rickettsia. Sedangkan pada kucing tidak dirawat terdapat 68% kucing positif Rickettsia. Jenis Rickettsia yang teridentifikasi adalah R. felis dan R. typhi. Indeks pinjal pada kucing dirawat sebesar 4,9, sedangkan indeks pinjal pada kucing tidak dirawat hanya sebesar 4,58. Spesies pinjal yang ditemukan pada kucing yaitu C.

felis dan X. cheopis. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa tidak ada perbedaan jumlah pinjal antara kucing yang dirawat dan tidak dirawat (p = 0,072).

Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi kucing dimandikan dengan keberadaan pinjal pada kucing (p = 0,025). Sedangkan variabel kebiasaan kucing dikandangkan (p = 0,331), pemakaian shampoo khusus kucing (p = 0,216), pemberian obat kutu/pinjal (p = 0,177), dan jumlah kucing yang dipelihara (p =

(14)

xiv

0,884) tidak ada hubungan yang signifikan dengan keberadaan pinjal pada kucing.

Saran bagi masyarakat agar menjaga kebersihan kucing peliharaan dengan menggunakan shampoo khusus kucing, memandikan kucing maksimal dua minggu sekali, serta mengurangi kontak langsung dengan kucing.

(15)

xv ABSTRAK

Pinjal sering dijumpai pada kucing dan dapat menularkan penyakit Rickettsia.

Rickettsiosis merupakan salah satu penyakit tular pinjal yang dapat ditularkan melalui feses/kotoran pinjal yang mengenai luka pada kulit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya Rickettsia pada pinjal kucing. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Metode pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Sampel penelitian adalah kucing rumah (Felis catus) di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Sebanyak 100 ekor kucing yang terdiri atas kucing liar dan peliharaan ditangkap kemudian dicari pinjalnya dan dihitung indeks pinjalnya. Pemeriksaan PCR dilakukan untuk mendeteksi adanya Rickettsia pada pinjal. Sebagian pinjal yaitu 5% dari jumlah pinjal yang didapat dibuat awetan selanjutnya dilakukan identifikasi pinjal. Wawancara mengenai cara perawatan kucing dilakukan terhadap pemilik kucing yang dijadikan sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan pada kucing dirawat terdapat 82% kucing positif Rickettsia. Sedangkan pada kucing tidak dirawat terdapat 68% kucing positif Rickettsia. Jenis Rickettsia yang teridentifikasi adalah R. felis dan R. typhi. Indeks pinjal pada kucing dirawat sebesar 4,9, sedangkan indeks pinjal pada kucing tidak dirawat hanya sebesar 4,58. Spesies pinjal yang ditemukan pada kucing yaitu C.

felis dan X. cheopis. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa tidak ada perbedaan jumlah pinjal antara kucing yang dirawat dan tidak dirawat (p = 0,072).

Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi kucing dimandikan dengan keberadaan pinjal pada kucing (p = 0,025). Sedangkan variabel kebiasaan kucing dikandangkan (p = 0,331), pemakaian shampoo khusus kucing (p = 0,216), pemberian obat kutu/pinjal (p = 0,177), dan jumlah kucing yang dipelihara (p = 0,884) tidak ada hubungan yang signifikan dengan keberadaan pinjal pada kucing.

Kata kunci : Rickettsia, pinjal kucing, penyakit tular pinjal

(16)

xvi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………... i

PERSETUJUAN ATASAN YANG BERWENANG……….. ii

SUSUNAN TIM PENELITI………. iii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN………. iv

KATA PENGANTAR……….. xii

RINGKASAN EKSEKUTIF………. xiii

ABSTRAK………. xv

DAFTAR ISI………. xvi

DAFTAR TABEL……….. xvii

DAFTAR GAMBAR………. xviii

DAFTAR LAMPIRAN………. xix

I. PENDAHULUAN……… 1

1.1 Latar Belakang………. 1

1.2 Perumusan Masalah Penelitian………... 2

II. TUJUAN PENELITIAN……….. 3

2.1 Tujuan Umum………... 3

2.2 Tujuan Khusus………... 3

III. MANFAAT PENELITIAN……….. 4

IV. HIPOTESIS……….. 4

V. METODE PENELITIAN………. 5

5.1 Kerangka Teori………... 5

5.2 Kerangka Konsep ………... 5

5.3 Desain dan Jenis Penelitian………... 5

5.4 Tempat dan Waktu………... 6

5.5 Populasi dan Sampel………... 6

5.6 Besar Sampel dan Cara Penarikan Sampel………... 6

5.7 Kriteria Inklusi dan Eksklusi………... 7

5.8 Variabel………... 7

5.9 Definisi Operasional………... 7

5.10 Instrumen dan Cara Pengumpulan Data………... 8

5.11 Bahan dan Prosedur Kerja………... 9

5.12 Manajemen dan Analisis Data………... 12

VI. HASIL……….. 13

VII. PEMBAHASAN………... 21

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN……… 25

IX. UCAPAN TERIMA KASIH………. 26

X. DAFTAR KEPUSTAKAAN……… 26

LAMPIRAN……… 29

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Definisi Operasional dan Skala Data Variabel Penelitian……….. 7 Tabel 2. Persentase Kucing Positif Pinjal pada Kucing Dirawat dan Tidak

Dirawat ………... 15 Tabel 3. Indeks Pinjal pada Kucing Dirawat dan Tidak Dirawat ………… 16 Tabel 4. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Jumlah Kucing

Dipelihara………. 16

Tabel 5. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Kebiasaan Kucing

Dikandangkan ……….. 17

Tabel 6. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Pemakaian Shampoo

Khusus Kucing……….. 18

Tabel 7. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Frekuensi Kucing

Dimandikan……… 18

Tabel 8. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Pemberian Obat

Kutu/Pinjal………. 19

Tabel 9. Persentase sampel pinjal yang positif Rickettsia………. 21

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Teori………... 5

Gambar 2. Kerangka Konsep……… 5

Gambar 3. Peta Wilayah Kabupaten Banjarnegara……….. 14

Gambar 4. Slide Awetan Pinjal Kucing ……… 20

Gambar 5. Pengamatan Mikroskopis Pinjal Kucing ……… 20

Gambar 6. Hasil Elektroforesis Pemeriksaan Rickettsia ……….. 21

(19)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1………... 30

LAMPIRAN 2……….. 35

LAMPIRAN 3……….. 37

LAMPIRAN 4……….. 40

(20)

1 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pinjal merupakan ektoparasit pada kelompok mamalia dan aves, hidup tidak permanen pada binatang dan manusia. Peranan pinjal dalam kesehatan diantaranya sebagai ektoparasit, vektor penyakit, dan hospes perantara.1 Pinjal sebagai serangga ektoparasit hidup pada permukaan tubuh inangnya. Inang dapat berupa kucing, anjing, tikus, kelinci, unggas/ayam, kelelawar dan hewan berkantung (marsupialia). Jenis pinjal yang sering dijumpai sebagai ektoparasit dan menimbulkan masalah kesehatan di Indonesia yaitu Xenopsylla cheopis, Pulex irritans, Ctenochepalides felis dan C. canis.2 Ctenochepalides felis merupakan jenis pinjal yang sering dijumpai pada kucing. Pinjal dapat menimbulkan gangguan akibat gigitannya sehingga menyebabkan iritasi kulit dan dermatitis pada manusia dan hewan.1 Gangguan pinjal pada manusia dan hewan dapat berupa reaksi kegatalan pada kulit. Infestasi pinjal menyebabkan kelainan kulit/dermatitis yang khas atau biasa disebut flea allergic dermatitis.2 Selain itu pinjal juga dapat berperan sebagai penular beberapa penyakit bagi manusia dan hewan. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan pinjal yaitu pes, murine typhus, tularemia, listeriosis.1 Murine typhus merupakan penyakit Rickettsia atau Rickettsiosis yang ditularkan melalui feses/kotoran pinjal yang mengenai luka pada kulit, atau masuk melalui membran okular, mulut, dan hidung. Dapat juga ditularkan melalui gigitan pinjal yang menyebabkan seseorang menggaruk bagian tubuh yang digigit sehingga timbul luka yang dapat memudahkan terjadinya infeksi Rickettsia. Selain itu infeksi dapat terjadi saat kotoran pinjal kering dan berubah menjadi debu kemudian masuk melalui saluran pernapasan.3 Gejala yang ditimbulkan yaitu demam yang berangsur meningkat, sakit kepala berat, nyeri otot, batuk kering, rash atau ruam makular. Penyakit ini dapat menyebabkan mortalitas rata-rata sekitar 3,5%.3

(21)

2

Pinjal selain ditemukan pada tikus, dapat juga dijumpai pada kucing. Kucing yang tidak terawat dan hidup secara bebas berpotensi berbagai penyakit yang ditularkan pinjal, misalnya flea allergic dermatitis (FAD) dan Dipylidiasis.4 Pinjal pada kucing juga dapat menularkan penyakit Rickettsia. Beberapa penelitian telah melaporkan adanya Rickettsia pada kucing. Penelitian Capelli, et al tahun 2009 di Italia melaporkan sebanyak 11,9% Ctenochepalides felis yang terdiri atas 13 ekor pinjal dari kucing (17,6%) dan 25 ekor pinjal dari anjing (10,2%) menunjukkan hasil positif R. felis.5 Hasil penelitian Maina, et al menunjukkan dari 597 spesimen pinjal yang dikoleksi dari opossum dan kucing, 37,2% dinyatakan positif Rickettsia.6

Hasil penelitian tentang Rickettsia di Kabupaten Banjarnegara yang dilakukan oleh Pramestuti tahun 2017 menunjukkan adanya Rickettsia spp. pada X. cheopis (45/88) dan Stivalius cognatus (3/11) dari hasil penangkapan tikus di wilayah Kutabanjarnegara, Kabupaten Banjarnegara.7 Hal ini menunjukkan adanya potensi terjangkitnya penyakit Rickettsiosis di masyarakat di Kabupaten Banjarnegara.

Kucing merupakan salah satu inang bagi pinjal yang hubungannya sangat erat dengan manusia karena sering dijadikan hewan peliharaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai deteksi Rickettsia pada pinjal kucing sebagai kewaspadaan dini potensi penyakit tular pinjal di Kabupaten Banjarnegara.

1.2 Perumusan Masalah Penelitian

Dengan adanya temuan pinjal tikus yang tertangkap di wilayah Kabupaten Banjarnegara mengandung Rickettsia, masyarakat mempunyai potensi terjangkit penyakit Rickettsiosis yang ditularkan pinjal. Pinjal merupakan salah satu vektor penyakit yang dapat ditemukan pada hewan yang tidak dirawat dengan baik, misalnya kucing. Kucing mempunyai hubungan yang erat dengan manusia. Oleh karena itu manusia dapat

(22)

3

berisiko tertular penyakit yang ditularkan oleh pinjal yang berasal dari kucing.

Berdasarkan masalah tersebut muncul pertanyaan penelitian : 1. Apakah ditemukan Rickettsia pada pinjal kucing di Kabupaten

Banjarnegara?

2. Berapa indeks pinjal pada kucing yang dirawat dan kucing yang tidak dirawat?

3. Apa saja jenis pinjal yang terdapat pada kucing?

4. Apakah terdapat perbedaan jumlah pinjal pada kucing yang dirawat dan kucing yang tidak dirawat?

5. Apakah ada hubungan jumlah kucing yang dipelihara dan cara perawatan kucing dengan keberadan pinjal pada kucing?

II. TUJUAN PENELITIAN 2.1 Tujuan Umum

Mengetahui adanya Rickettsia pada pinjal kucing.

2.2 Tujuan Khusus

2.2.1 Mendeteksi Rickettsia pada pinjal kucing dengan metode PCR.

2.2.2 Menghitung indeks pinjal pada kucing.

2.2.3 Membuat awetan pinjal pada kucing.

2.2.4 Mengidentifikasi spesies pinjal pada kucing.

2.2.5 Mengetahui perbedaan jumlah pinjal antara kucing yang dirawat dan tidak dirawat.

2.2.6 Mengetahui hubungan jumlah kucing yang dipelihara dan cara perawatan kucing (kebiasaan kucing dikandangkan, pemakaian shampoo khusus kucing, frekuensi kucing dimandikan, pemberian obat kutu/pinjal) dengan keberadan pinjal pada kucing.

(23)

4 III. MANFAAT PENELITIAN

3.1 Bahan pertimbangan program dalam upaya pengendalian penyakit tular vektor.

3.2 Meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit tular pinjal.

IV. HIPOTESIS

4.1 Rickettsia ditemukan pada pinjal kucing.

4.2 Ada perbedaan jumlah pinjal antara kucing yang dirawat dan tidak dirawat.

4.3 Ada hubungan antara jumlah kucing yang dipelihara dengan keberadaan pinjal pada kucing.

4.4 Ada hubungan antara kebiasaan kucing dikandangkan dengan keberadaan pinjal pada kucing.

4.5 Ada hubungan antara pemakaian shampoo khusus kucing dengan keberadaan pinjal pada kucing.

4.6 Ada hubungan antara frekuensi kucing dimandikan dengan keberadaan pinjal pada kucing.

4.7 Ada hubungan antara pemberian obat kutu/pinjal dengan keberadaan pinjal pada kucing.

(24)

5 V. METODE PENELITIAN

5.1 Kerangka Teori

Gambar 1. Kerangka Teori 5.2 Kerangka Konsep

Gambar 2. Kerangka Konsep 5.3 Desain dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif.

Keberadaan pinjal - Kucing dirawat

- Kucing tidak dirawat

Keberadaan Rickettsia

- Jumlah kucing dipelihara - Cara perawatan kucing

Peranan pinjal dalam kesehatan

Ektoparasit Vektor penyakit Hospes perantara

Inang: kucing, anjing, tikus, kelinci, unggas, kelelawar, hewan berkantung

Pinjal dapat menimbulkan gangguan iritasi kulit, dermatitis

Pinjal pada kucing dapat menularkan penyakit: murine typhus

Hospes perantara dari cacing pita Dipylidium caninum, menyebabkan Dipylidiasis

(25)

6 5.4 Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Untuk deteksi Rickettsia dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Biomolekuler, dan Imunologi Balai Litbangkes Banjarnegara. Sedangkan untuk identifikasi spesies dan pembuatan awetan pinjal dilakukan di Laboratorium Entomologi Balai Litbangkes Banjarnegara.

Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan bulan Juni-November 2019.

5.5 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua kucing di wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Sampel penelitian adalah kucing rumah/domestik di wilayah Kabupaten Banjarnegara.

5.6 Besar Sampel dan Cara Pemilihan Sampel

Jumlah sampel kucing yang dibutuhkan dihitung menggunakan rumus Lemeshow untuk populasi yang tidak diketahui.

n = z21-α/2 P(1-p) d2

= (1,960)2(0,25) (0,10)2

= 96,04

Keterangan :

n : jumlah sampel

z21-α/2 : nilai standar normal (jika α = 0,05, maka Z = 1,960)

P(1-p) : estimasi proporsi populasi (jika P = 0,5, maka P(1-p) = 0,25) d : penyimpangan yang ditolerir (10%)

Besar sampel minimal yang diambil dalam penelitian ini adalah 100 ekor dengan jumlah sampel kucing yang dirawat 50 ekor dan jumlah sampel kucing tidak dirawat 50 ekor. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling.

(26)

7 5.7 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

5.7.1 Kriteria Inklusi : kucing rumah (Felis catus) yang dipelihara dan dirawat secara rutin atau pun tidak dirawat rutin, kucing rumah yang hidup bebas/liar, usia dewasa (> 6 bulan).

5.7.2 Kriteria Eksklusi : jenis kucing selain kucing rumah (Felis catus).

5.8 Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah keberadaan Rickettsia, keberadaan pinjal, indeks pinjal, kucing dirawat, kucing tidak dirawat, jumlah kucing yang dipelihara, kebiasaan kucing dikandangkan, pemakaian shampoo khusus kucing, frekuensi kucing dimandikan, pemberian obat kutu/pinjal.

5.9 Definisi Operasional

Tabel 1. Definisi Operasional dan Skala Data Variabel Penelitian

No. Variabel Definisi Operasional Skala

1. Keberadaan Rickettsia

Ada tidaknya Rickettsia pada pinjal kucing yang dideteksi dengan metode PCR

Nominal

2. Keberadaan pinjal

Ada tidaknya pinjal pada kucing yang diteliti

Nominal

3. Indeks pinjal Banyaknya pinjal yang ditemukan dibagi jumlah kucing yang ditangkap

Rasio

4. Kucing dirawat Kucing yang memiliki minimal dua kriteria dari ketentuan sebagai berikut: mempunyai pemilik, diberi perawatan (dimandikan dua minggu sekali, diberi obat/bedak kutu, dikeramas menggunakan shampoo khusus kucing, diberi makan secara teratur, ada tempat untuk BAB, jika sakit dibawa ke dokter hewan)

Nominal

(27)

8 5. Kucing tidak

dirawat

Kucing yang hidup bebas/liar dan/atau kucing yang mempunyai pemilik tetapi tidak dirawat (dibiarkan hidup bebas, tetap diberi makan dari sisa-sisa makanan, jika sakit atau cedera tidak dibawa ke dokter hewan/tidak diberi penanganan khusus)

Nominal

6. Jumlah kucing dipelihara

Jumlah total kucing yang dipelihara di dalam satu rumah

Nominal

7. Kebiasaan kucing

dikandangkan

Kucing selalu berada di kandang atau dibiarkan berkeliaran di lingkungan rumah saja

Nominal

8. Pemakaian shampoo khusus kucing

Kucing dimandikan menggunakan shampoo khusus kucing, bukan shampoo biasa

Nominal

9. Frekuensi kucing dimandikan

Berapa kali kucing dimandikan, dikategorikan ≤ 1 minggu, 2 minggu, 4 minggu, > 4 minggu

Nominal

10. Pemberian obat kutu/pinjal

Kucing diberi obat kutu/pinjal berupa bedak, kalung, obat tetes

Nominal

5.10 Instrumen dan Cara Pengumpulan Data

Instrumen yang dibutuhkan dalam pengumpulan data adalah form pengamatan dan kuesioner.

Pengumpulan data diawali dengan survei kucing untuk pengambilan pinjal. Wawancara juga dilakukan pada pemilik kucing yang telah disurvei. Pinjal yang didapat dilakukan pemeriksaan PCR untuk mendeteksi adanya Rickettsia spp. 5% dari jumlah pinjal yang didapat dibuat awetan untuk selanjutnya dilakukan identifikasi pinjal.

(28)

9 5.11 Bahan dan Prosedur Kerja

5.11.1 Penangkapan kucing

Kucing sebanyak 100 ekor yang terdiri atas kucing liar dan peliharaan ditangkap dan dicari pinjalnya. Cara menangkap kucing liar dengan memberi umpan dan memasukkannya ke dalam kandang. Untuk cara penangkapan kucing yang dipelihara dengan meminta bantuan pemilik kucing untuk memudahkan pencarian pinjal. Semua kucing yang telah disurvei ditandai menggunakan spidol tahan air pada kuping kucing agar tidak terjadi pengambilan sampel berulang.

5.11.2 Pencarian pinjal dan menghitung indeks pinjal

Bagian tubuh kucing yang dicari pinjalnya adalah kepala, leher, perut, punggung, paha. Pinjal yang ditemukan dengan cara disisir kemudian dihitung dan dimasukkan dalam microtube yang berisi alkohol 70%. Data jumlah pinjal digunakan untuk menghitung indeks pinjal.

Rumus indeks pinjal = banyaknya pinjal yang ditemukan jumlah kucing yang ditangkap 5.11.3 Wawancara terhadap pemilik kucing

Wawancara dilakukan untuk mencari informasi tentang perawatan kucing.

5.11.4 Pemeriksaan Rickettsia dengan PCR 5.11.4.1 Isolasi DNA pinjal

Pinjal dicuci dengan akuades steril sebanyak 3 kali selama 5 menit, kemudian dilakukan isolasi DNA menggunakan kit Genomic DNA Mini Kit (tissue) dari Geneaid. Vial berisi ektoparasit digerus dengan larutan GT buffer (200 µl), ditambahkan 20 µl proteinase K, dihomogenkan dengan vortex selama 5 detik, dan diinkubasi pada waterbath dengan suhu 60°C selama 30 menit (tabung dibalik setiap 5 menit selama

(29)

10

inkubasi). Tahap lisis dilakukan dengan penambahan 200 µl GBT buffer, dihomogenkan dengan vortex selama 5 detik, diinkubasi pada suhu 60°C selama 20 menit (tabung dibalik setiap 5 menit selama inkubasi).

Pada saat ini, dipanaskan Elution Buffer (200 μl per sampel) sampai 60ºC (untuk langkah elusi DNA).

Tahap pengikatan DNA dilakukan dengan penambahan etanol absolut 200 µl, dihomogenkan dengan vortex selama 10 detik. Tabung GS column ditempatkan di atas tabung, campuran dituang ke GS column kemudian disentrifuse 14.000 x g selama 2 menit. Tabung yang bawah dibuang dan diganti dengan tabung yang baru. Tahap pencucian dilakukan dengan penambahan 400 μl W1 buffer ke GS column, disentrifuse 14.000 x g selama 30 detik, tabung yang bawah dibuang kemudian ditempatkan pada tabung baru. Dicuci kembali dengan 600 μl wash buffer (ditambahkan etanol), disentrifuse 14.000 x g selama 30 detik, tabung yang bawah dibuang kemudian ditempatkan pada tabung baru, disentrifuse kembali 14.000 x g selama 3 menit. Tahap elusi DNA dilakukan dengan pemindahan dried GS column ke tabung mikrosentrifuse baru. Ditambahkan 100 μl elution buffer yang sudah dipanaskan sebelumnya, didiamkan selama 5 menit untuk memastikan elution buffer sudah terserap. Disentrifuse 14.000 x g selama 30 detik, tabung yang bawah berisi DNA murni.8

5.11.4.2 Identifikasi Rickettsia spp. pada sampel pinjal

Pemeriksaan PCR dilakukan untuk mendeteksi adanya rickettsia pada pinjal kucing. Amplifikasi gen gltA menggunakan sepasang primer forward

(30)

11

RpCS.877p dan primer reserve RpCS.1258n dengan target DNA band 381-bp.3 Komposisi formula PCR terdiri dari 12,5 µl master mix, buffer nuclease-free water 5,5 µl, primer forward dan reverse masing- masing 1 µl dan cetakan DNA pinjal atau tungau sebanyak 5 µl. Kontrol positif adalah gene block dari primer RpCS877p dan RpCS1258n, sedangkan kontrol negatif adalah akuades.

Thermal cycler dijalankan pada suhu pre- denaturasi 95°C selama 5 menit, dilanjutkan dengan amplifikasi DNA sebanyak 35 siklus sebagai berikut:

denaturasi pada suhu 95°C selama 15 detik, annealing pada suhu 54°C selama 15 detik, ekstensi pada suhu 72°C selama 30 detik, post-ekstensi pada suhu 72°C selama 3 menit.9 Produk PCR diidentifikasi secara elektroforesis menggunakan gel agarose 2% dengan pewarna florosafe DNA. Hasil elektroforesis dinyatakan positif Rickettsia spp. jika sampel menunjukkan band diagnostik 381 bp sebagaimana kontrol positif.8,9

Sampel positif Rickettsia sp. disekuensing dengan salah satu primer kemudian sekuen dianalisis dengan software Mega. Sekuen kemudian diluruskan dan dibandingkan dengan referensi sekuen GenBank menggunakan program nukleotida BLASTn.

5.11.5 Pembuatan awetan pinjal

Sebanyak 5% dari jumlah pinjal yang ditemukan dibuat awetan untuk kemudian diidentifikasi. Langkah-langkah pembuatan awetan pinjal adalah sebagai berikut.

1. Pinjal direndam dalam akuades selama 30 menit kemudian dipindahkan ke dalam KOH 30% selama 24 jam.

(31)

12

2. Pinjal dipindahkan ke dalam akuades dan direndam selama 30 menit kemudian direndam dalam asam asetat selama 48 jam, lalu direndam dalam akuades selama 15 menit.

3. Pinjal diletakkan di atas kaca preparat dengan kaki diatur hingga semua kaki mengarah ke bawah. Pinjal ditekan dengan menggunakan kaca preparat lainnya dan ditetesi beberapa tetes alkohol 95% selama 30 menit, jika alkoholnya mengering perlu ditetesi lagi.

4. Pinjal dipindahkan ke dalam xylol selama 30 menit dan dipindahkan lagi ke minyak cengkeh selama 15 menit.

5. Pinjal diambil dan diletakkan di atas kaca preparat, posisi tubuh diatur agar kepala mengarah ke kanan dan kaki ke atas kemudian ditetesi entellan dan xylol.

6. Preparat ditutup dengan kaca penutup, ditunggu sampai kering dan diidentifikasi.3

5.11.6 Identifikasi pinjal

Identifikasi pinjal dilakukan di bawah mikroskop dengan kunci identifikasi “Pictorial Keys by Centers for Disease Control and Prevention (CDC)”

5.12 Manajemen dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari kuesioner dan formulir pengamatan dientry ke dalam SPSS untuk dianalisis.

Pengolahan data menggunakan analisis deskriptif dan uji statistik. Uji t test digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan jumlah pinjal antara kelompok kucing yang dirawat dan tidak dirawat. Sedangkan untuk melihat hubungan jumlah kucing dipelihara dan cara perawatan kucing dengan keberadaan pinjal menggunakan uji chi-square.

(32)

13 VI. HASIL

6.1 Gambaran Umum Kabupaten Banjarnegara

Kabupaten Banjarnegara mempunyai luas wilayah 1.064,52 km2. Terdiri atas 20 kecamatan, 12 kelurahan dan 253 desa. Terletak antara 712' - 731' Lintang Selatan dan 231' - 308' Bujur Timur.10

Batas wilayah Kabupaten Banjarnegara yaitu : Sebelah Utara : Kab. Pekalongan dan Kab. Batang Sebelah Timur : Kab. Wonosobo

Sebelah Selatan : Kab. Kebumen

Sebelah Barat : Kab. Purbalingga dan Kab. Banyumas11

Gambaran umum wilayah Kabupaten Banjarnegara terdiri dari 3 Zona yaitu :

1. Zona Utara

Merupakan wilayah pegunungan yang lebih dikenal dengan pegunungan Kendeng Utara, rona alamnya bergunung, berbukit, bergelombang dan curam. Potensi utamanya adalah sayur mayur, kentang, kobis, jamur, teh, jagung, kayu, getah pinus, sapi kereman, kambing dan domba. Selain itu juga pariwisata dan tenaga listrik panas bumi di dataran tinggi Dieng.11

2. Zona Tengah

Merupakan dataran lembah sungai Serayu. Rona alamnya relatif datar dan subur. Potensi utamanya adalah padi, palawija, buah- buahan, ikan, home industri, PLTA Mrica, keramik dan anyam- anyaman bambu.11

3. Zona Selatan

Merupakan pegunungan kapur dengan nama pegunungan Serayu Selatan. Rona alamnya bergunung, bergelombang dan curam.

Potensi utamanya adalah ketela pohon, gula kelapa, bamboo, getah pinus, damar dan bahan mineral meliputi : marmer, pasir kwarsa, feld spart, asbes, andesit, pasir dan kerikil. Serta buah-buahan yaitu : duku, manggis, durian, rambutan, pisang dan jambu.11

(33)

14

Gambar 3. Peta Wilayah Kabupaten Banjarnegara12

Ketinggian tempat pada masing-masing wilayah umumnya tidak sama yaitu antara 40-2.300 meter dpl dengan perincian kurang dari 100 meter (9,82%), antara 100-500 meter (28,74%) dan lebih dari 1000 (24,40%). Menurut kemiringan tanahnya 24,61% dari luas wilayah mempunyai kemiringan 0-15% dan 45,04% mempunyai kemiringan antara 15-40%. Sedangkan 30,35% mempunyai kemiringan lebih dari 40%.10

Sebagai daerah yang sebagian besar (lebih kurang 60%) berbentuk pegunungan dan perbukitan, terdapat sungai yang besar yaitu Sungai Serayu dengan anak-anak sungainya : Kali Tulis, Kali Merawu, Kali Pekacangan, Kali Gintung dan Kali Sapi. Sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber pengairan yang dapat mengairi areal sawah seluas 9.813,88 hektar. Rata-rata bulan basah pada umumnya lebih banyak dari bulan kering dengan curah hujan rata-rata 3.000 milimeter/tahun, sedangkan temperatur daerah rata-rata 20-26 0C.10

(34)

15 6.2 Survei Kucing

Survei kucing dilaksanakan di tempat-tempat umum (TTU) dan permukiman penduduk. Tempat-tempat umum yang dijadikan lokasi survei berupa pasar, rumah makan, dan kebun binatang. Lokasi TTU tersebut untuk menjaring kucing liar. Sedangkan di permukiman penduduk untuk menjaring kucing liar maupun peliharaan. Terdapat 10 desa/kelurahan di lima kecamatan di Kabupaten Banjarnegara yang dijadikan sebagai lokasi survei, antara lain : Kecamatan Banjarnegara (Kelurahan Kutabanjarnegara, Semampir, Krandegan, Parakancanggah, Sokanandi, Desa Ampelsari); Kecamatan Bawang (Desa Gemuruh);

Kecamatan Purwonegoro (Desa Kalipelus); Kecamatan Banjarmangu (Desa Jenggawur); dan Kecamatan Rakit (Desa Adipasir).

Kucing peliharaan dikategorikan sebagai kucing dirawat, sedangkan kucing liar dan kucing peliharaan yang tidak dirawat dengan baik dikategorikan sebagai kucing tidak dirawat.

Dari survei kucing diperoleh data jumlah kucing yang positif pinjal pada kucing dirawat dan tidak dirawat. Hasil survei menunjukkan persentase kucing positif pinjal lebih besar pada kucing dirawat (82%) daripada kucing yang tidak dirawat (68%), seperti disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Persentase Kucing Positif Pinjal pada Kucing Dirawat dan Tidak Dirawat

Kategori Kucing

Kucing Positif Pinjal

Total

Ya Tidak

Dirawat 41 (82%) 9 (18%) 50 (100%)

Tidak dirawat 34 (68%) 16 (32%) 50 (100%)

Total 75 (75%) 25 (25%) 100 (100%)

Indeks pinjal dapat dihitung dengan cara membagi jumlah pinjal yang ditemukan dengan jumlah kucing yang ditangkap. Data jumlah pinjal yang ditemukan dan indeks pinjal dapat dilihat pada Tabel 3.

(35)

16

Tabel 3. Indeks Pinjal pada Kucing Dirawat dan Tidak Dirawat Kategori

Kucing

Jumlah Kucing

Jumlah Pinjal

Indeks Pinjal

Dirawat 50 245 4,9

Tidak dirawat 50 229 4,58

Total 100 474 4,74

Tabel 3 menunjukkan jumlah pinjal pada kucing dirawat lebih banyak dibandingkan dengan kucing yang tidak dirawat. Indeks pinjal pada kucing dirawat sebesar 4,9, sedangkan indeks pinjal pada kucing tidak dirawat hanya sebesar 4,58.

6.3 Perbedaan Jumlah Pinjal antara Kelompok Kucing Dirawat dan Tidak Dirawat

Untuk melihat perbedaan jumlah pinjal antara kelompok kucing dirawat dan tidak dirawat, analisis data menggunakan uji t test. Akan tetapi setelah dilakukan uji normalitas data, hasil analisis menyatakan bahwa data berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu digunakan uji statistik nonparametrik yaitu dengan uji Mann-Whitney. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh nilai p = 0,072 yang artinya tidak ada perbedaan jumlah pinjal antara kucing dirawat dan tidak dirawat.

6.4 Hubungan Jumlah Kucing Dipelihara dengan Keberadaan Pinjal

Persentase keberadaan pinjal pada kucing berdasarkan jumlah kucing yang dipelihara dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Jumlah Kucing Dipelihara

Jumlah Kucing Dipelihara

Keberadaan Pinjal

Total

Ada Tidak

1 ekor 3 (75%) 1 (25%) 4 (100%)

2-10 ekor 26 (83,9%) 5 (16,1%) 31 (100%)

> 10 ekor 12 (80%) 3 (20%) 15 (100%)

Total 41 (82%) 9 (18%) 50 (100%)

(36)

17

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa kucing yang dipelihara dalam satu rumah yang jumlahnya lebih dari satu ekor mempunyai persentase keberadaan pinjal yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah kucing yang hanya 1 ekor dalam satu rumah.

Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara jumlah kucing dipelihara dengan keberadaan pinjal. Berdasarkan uji Chi- Square dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah kucing dipelihara dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,884).

6.5 Hubungan Cara Perawatan Kucing dengan Keberadaan Pinjal

Persentase keberadaan pinjal pada kucing berdasarkan cara perawatan kucing yang meliputi kebiasaan kucing dikandangkan, pemakaian shampoo khusus kucing, frekuensi kucing dimandikan, dan pemberian obat kutu dapat dilihat pada Tabel 5-8.

Tabel 5. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Kebiasaan Kucing Dikandangkan

Kebiasaan Kucing Dikandangkan

Keberadaan Pinjal

Total

Ada Tidak

Ya 21 (87,5%) 3 (12,5%) 24 (100%)

Tidak 20 (76,9%) 6 (23,1%) 26 (100%)

Total 41 (82%) 9 (18%) 50 (100%)

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa keberadaan pinjal pada kucing yang biasa dikandang dan tidak dikandang memiliki angka yang tidak jauh berbeda. Persentase keberadaan pinjal pada kucing yang biasa dikandang menunjukkan angka yang lebih besar yaitu 87,5%

dibandingkan dengan kucing yang tidak dikandang yaitu hanya 76,9%.

Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan kucing dikandangkan dengan keberadaan pinjal. Berdasarkan uji Chi-Square dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan kucing dikandangkan dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,331).

(37)

18

Tabel 6. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Pemakaian Shampoo Khusus Kucing

Pemakaian Shampoo Khusus

Kucing

Keberadaan Pinjal

Total

Ada Tidak

Ya 18 (75%) 6 (25%) 24 (100%)

Tidak 23 (88,5%) 3 (11,5%) 26 (100%)

Total 41 (82%) 9 (18%) 50 (100%)

Tabel 6 menunjukkan keberadaan pinjal pada kucing yang dimandikan menggunakan shampoo khusus kucing maupun tidak memiliki angka yang tidak jauh berbeda. Kucing yang dimandikan menggunakan shampoo biasa memiliki persentase keberadaan pinjal yang lebih besar dari pada kucing yang dimandikan menggunakan shampoo khusus kucing.

Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pemakaian shampoo khusus kucing dengan keberadaan pinjal.

Berdasarkan uji Chi-Square dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pemakaian shampoo khusus kucing dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,216).

Tabel 7. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Frekuensi Kucing Dimandikan

Frekuensi Kucing Dimandikan

Keberadaan Pinjal

Total

Ada Tidak

≤ 1 minggu 17 (94,4%) 1 (5,6%) 18 (100%)

2 minggu 2 (40%) 3 (60%) 5 (100%)

4 minggu 15 (75%) 5 (25%) 20 (100%)

> 4 minggu 5 (100%) 0 (0%) 5 (100%)

Total 39 (81,25%) 9 (18,75%) 48 (100%)

Tabel 7 menunjukkan kucing yang dimandikan rutin baik frekuensi pemandian kurang dari 1 minggu, 2 minggu maupun 4 minggu sekali masih ditemukan adanya pinjal. Persentase keberadaan pinjal yang

(38)

19

paling besar ditunjukkan oleh kucing yang frekuensi pemandiannya lebih dari 4 minggu.

Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi kucing dimandikan dengan keberadaan pinjal. Berdasarkan uji Chi-Square dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara frekuensi kucing dimandikan dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,025).

Tabel 8. Persentase Keberadaan Pinjal Menurut Pemberian Obat Kutu/Pinjal

Pemberian Obat Kutu/Pinjal

Keberadaan Pinjal

Total

Ada Tidak

Ya 13 (72,2%) 5 (27,8%) 18 (100%)

Tidak 28 (87,5%) 4 (12,5%) 32 (100%)

Total 41 (82%) 9 (18%) 50 (100%)

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa kucing yang diberi obat kutu/pinjal masih ditemukan adanya pinjal yaitu sebesar 72,2 %. Akan tetapi persentase keberadaan pinjal pada kucing yang tidak diberi obat kutu/pinjal lebih besar daripada kucing yang diberi obat kutu/pinjal.

Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pemberian obat kutu/pinjal dengan keberadaan pinjal. Berdasarkan uji Chi-Square dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian obat kutu/pinjal dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,177).

6.6 Pengawetan Pinjal

Pengawetan pinjal dilakukan di Laboratorium Entomologi Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara. Pinjal yang diawetkan adalah 5% dari jumlah pinjal yang diperoleh dari kegiatan survei, yaitu sebanyak 13 ekor pinjal dari kucing dirawat dan 12 ekor pinjal dari kucing tidak dirawat.

Pinjal diambil dari vial dan dipilih secara acak. Proses pembuatan awetan pinjal membutuhkan waktu selama kurang lebih 4 hari.

(39)

20

Gambar 4. Slide Awetan Pinjal Kucing 6.7 Identifikasi Pinjal

Pinjal yang telah dibuat awetan diidentifikasi menggunakan mikroskop dengan perbesaran 4x dan 10x. Hasil identifikasi dari 25 awetan pinjal kucing yang diperiksa, semuanya adalah spesies Ctenochepalides felis. Namun, hasil identifikasi terhadap 449 ekor pinjal lainnya yang akan dilakukan pemeriksaan PCR menunjukkan adanya spesies lain yaitu Xenopsylla cheopis sebanyak satu ekor. Xenopsylla cheopis tersebut berasal dari jenis kucing liar.

Gambar 5. Pengamatan Mikroskopis Pinjal Kucing 6.8 Pemeriksaan PCR

Pemeriksaan PCR dilakukan pada 83 sampel pinjal yang sudah dipooling. Terdiri atas 42 sampel pinjal yang berasal dari kucing dirawat dan 41 sampel pinjal dari kucing tidak dirawat. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 24 sampel pinjal dari kucing dirawat yang positif Rickettsia. Sedangkan pada sampel pinjal kucing tidak dirawat hanya 6 yang positif Rickettsia.

(40)

21

Gambar 6. Hasil Elektroforesis Pemeriksaan Rickettsia

Persentase sampel pinjal yang positif Rickettsia dapat dilihat pada Tabel 9. Pinjal pada kucing dirawat yang positif Rickettsia memiliki persentase yang lebih besar daripada pinjal pada kucing tidak dirawat.

Tabel 9. Persentase sampel pinjal yang positif Rickettsia Kategori

Kucing

Jumlah Sampel

Sampel

positif Persentase

Dirawat 42 24 57,1%

Tidak dirawat 41 6 14,6%

Total 83 30 36,15%

6.9 Sequencing DNA

Sequencing DNA Rickettsia pada sampel pinjal kucing dilakukan pada 30 sampel pinjal positif Rickettsia. Hasil sequencing menyatakan bahwa jenis Rickettsia pada 26 sampel merupakan Rickettsia felis, 2 sampel merupakan R. typhi, dan 2 sampel lainnya dinyatakan negatif.

VII. PEMBAHASAN

7.1 Spesies Pinjal pada Kucing

Survei terhadap kucing peliharaan maupun liar di wilayah Kabupaten Banjarnegara diperoleh data jumlah pinjal pada kucing dirawat dan tidak dirawat. Berdasarkan hasil identifikasi dari 474 pinjal yang diperoleh, diantaranya 473 pinjal (99,8%) merupakan Ctenochepalides felis dan 1 pinjal (0,2%) merupakan Xenopsylla cheopis. Ctenochepalides felis merupakan jenis pinjal yang paling banyak dijumpai pada kucing domestik.13 Penelitian Cruz-Vazquez, et al di Cuernavaca, Mexico mengemukakan bahwa sebanyak 517 kucing

(41)

22

yang telah ditangkap terdapat 92,3% kucing yang hanya terinfestasi C.

felis dan 7,7% terinfestasi C. felis dan C. canis.14 Penelitian Chandra, et al di New Zealand menunjukkan 98,7% (228/231) pinjal yang dikumpulkan dari 25 kucing dan 22 anjing adalah C. felis.15 Sedangkan penelitian Xhaxiu, et al di Albania menyatakan bahwa ektoparasit yang diidentifikasi pada 26 kucing semuanya merupakan C.felis (100%).16

Selain C. felis terdapat jenis pinjal lain yaitu X. cheopis yang biasa dijumpai pada tikus. Xenopsylla cheopis merupakan vektor utama murine typhus dan pes.3 Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kucing yang membawa pinjal X. cheopis juga dapat berpotensi menularkan penyakit pes ke manusia.

7.2 Keberadaan Pinjal pada Kucing Dirawat dan Tidak Dirawat

Hasil survei menunjukkan persentase kucing positif pinjal lebih banyak ditemukan pada kucing dirawat (82%) daripada kucing yang tidak dirawat (68%). Kucing peliharaan yang positif pinjal sebagian besar merupakan kucing yang dirawat dengan baik oleh pemiliknya.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan jumlah pinjal antara kelompok kucing dirawat dan tidak dirawat. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok kucing yang dirawat dengan baik mempunyai jumlah pinjal sama banyaknya dengan kelompok kucing tidak dirawat. Kucing yang dirawat dengan baik secara rutin belum tentu bersih dari pinjal. Cara perawatan kucing yang meliputi kebiasaan kucing dikandangkan, pemakaian shampoo khusus kucing, frekuensi kucing dimandikan, dan pemberian obat kutu dapat dikaitkan dengan keberadaan pinjal pada kucing. Alternatif perawatan kucing yang banyak dilakukan untuk menghilangkan pinjal pada kucing yaitu dengan membawa kucing peliharaan ke pet shop untuk dilakukan grooming. Namun secara alamiah kucing memiliki kebiasaan melakukan oral grooming. Kucing kampung menghabiskan waktu untuk melakukan oral grooming sekitar 8% dari waktu istirahatnya.

Oral grooming terbukti efektif dapat menghilangkan pinjal pada

(42)

23

kucing.17 Oleh karena itu kucing liar maupun kucing peliharaan yang tidak dirawat pemiliknya tidak selalu terinfestasi pinjal. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan indeks pinjal pada kucing tidak dirawat mempunyai nilai lebih rendah dibandingkan dengan kucing yang dirawat.

7.3 Keberadaan Pinjal Dikaitkan dengan Cara Perawatan Kucing

Uji statistik untuk mengetahui adanya hubungan kebiasaan kucing dikandangkan dengan keberadaan pinjal menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (nilai p = 0,331). Berdasarkan data hasil penelitian diketahui kucing peliharaan yang biasa dikandang masih dijumpai adanya pinjal. Walaupun kucing dikandangkan, tapi jika dalam satu rumah terdapat kucing dalam jumlah banyak akan meningkatkan risiko kucing terinfestasi pinjal dari kucing lainnya.

Menurut penelitian Beugnet, et al tahun 2012-2013 dengan judul

“Parasites of domestic owned cats in Europe: co-infestations and risk factors” menyatakan bahwa infestasi pinjal antara kucing yang dipelihara secara tunggal dan kucing yang dipelihara dengan jumlah lebih dari satu ekor tidak berbeda secara signifikan (OR = 1,25; CI = 0,64-2,36). Namun, kucing yang dipelihara secara tunggal mempunyai risiko rendah terinfestasi pinjal (OR = 0,40; CI = 0,17-0,92).18 Hal ini sesuai dengan data hasil penelitian yang menyebutkan bahwa kucing peliharaan yang jumlahnya lebih dari satu ekor memiliki persentase keberadaan pinjal lebih besar. Akan tetapi hasil uji statistik menyebutkan bahwa tidak ada hubungan jumlah kucing dipelihara dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,884).

Rata-rata pinjal dapat hidup pada tubuh inang sekitar 8 hari dan pinjal betina meletakkan telurnya 38 telur per hari.13 Telur pinjal akan jatuh di atas karpet atau jenis alas lantai lainnya. Setelah menetas dan berubah menjadi dewasa pinjal akan mencari inang. Kucing yang berada di lingkungan rumah tersebut berisiko terinfestasi pinjal.

Terlebih jika kucing dimandikan tidak menggunakan shampoo khusus

(43)

24

kucing. Terdapat sekitar 52% kucing yang perawatannya hanya menggunakan shampoo biasa, bukan shampoo khusus kucing.

Penggunaan shampoo biasa kurang efektif dalam menghilangkan pinjal pada kucing. Seringkali pinjal akan kembali lagi ke tubuh kucing setelah kucing selesai dimandikan. Pemakaian shampoo khusus kucing dapat mengurangi adanya pinjal pada kucing karena mengandung bahan aktif sebagai racun yang dapat membunuh pinjal setelah penggunaan selama seminggu sampai dua minggu.19 Akan tetapi hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pemakaian shampoo khusus kucing dengan keberadaan pinjal (nilai p = 0,216).

Kucing peliharaan yang tidak dikandang dan dibiarkan bermain di luar rumah memiliki peluang yang besar terinfestasi pinjal dari lingkungan. Kucing kampung liar yang hidup bersama-sama dengan kucing peliharaan dapat menularkan ektoparasit pada kucing peliharaan.20 Jadi walaupun kucing peliharaan sudah dirawat dengan baik dengan dimandikan rutin dan diberi obat penghilang kutu atau pinjal, masih ada kemungkinan untuk tertular pinjal dari lingkungan.

7.4 Jenis Rickettsia pada Pinjal Kucing

Berdasarkan hasil pemeriksaan sequencing DNA pada sampel pinjal yang positif Rickettsia sp., jenis Rickettsia pada pinjal kucing yang paling dominan adalah R. felis. Dari 28 sampel pinjal positif Rickettsia sp. sebanyak 92,86% teridentifikasi R. felis dan 7,14%

merupakan R. typhi. Selain R. felis, juga ditemukan R. typhi pada pinjal kucing. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nogueras, et al di Spanyol tentang deteksi molekuler R. typhi pada kucing dan pinjal yang mengemukakan bahwa pinjal yang ditemukan pada kucing adalah C. felis dan 55% diantaranya positif R. typhi.21 7.5 Infeksi Rickettsia pada Manusia

Rickettsia felis merupakan agen penyebab flea-borne spotted fever atau cat flea typhus. Flea-borne spotted fever adalah penyakit zoonosis yang ditularkan oleh pinjal, dengan gejala klinis mirip dengan

(44)

25

murine typhus. Ctenochepalides felis diidentifikasi sebagai vektor utama dari R. felis.22 R. felis dikaitkan dengan febrile infection, dimana terdapat gejala demam dengan penyebab yang tidak diketahui. Infeksi R. felis kadang dijumpai sebagai koinfeksi malaria.23

Sedangkan R. typhi menyebabkan murine typhus dengan gejala demam yang berangsur meningkat, sakit kepala berat, nyeri otot, batuk kering, rash atau ruam macular. Sebuah survei yang dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera didapatkan hasil bahwa prevalensi antibodi terhadap murine typhus mencapai 10-20%.3

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan

8.1.1 Pada kucing dirawat terdapat 57,1% kucing positif Rickettsia.

Sedangkan pada kucing tidak dirawat terdapat 14,6% kucing positif Rickettsia. Jenis Rickettsia yang teridentifikasi adalah R.

felis dan R. typhi.

8.1.2 Indeks pinjal pada kucing dirawat sebesar 4,9, sedangkan indeks pinjal pada kucing tidak dirawat hanya sebesar 4,58.

8.1.3 Spesies pinjal yang ditemukan pada kucing yaitu C. felis dan X.

cheopis

8.1.4 Tidak ada perbedaan jumlah pinjal antara kucing yang dirawat dan tidak dirawat.

8.1.5 Ada hubungan antara frekuensi kucing dimandikan dengan keberadaan pinjal pada kucing.

8.1.6 Kebiasaan kucing dikandangkan, pemakaian shampoo khusus kucing, pemberian obat kutu/pinjal, jumlah kucing yang dipelihara tidak ada hubungan yang signifikan dengan keberadaan pinjal pada kucing.

(45)

26 8.2 Saran

8.2.1 Menjaga kebersihan kucing peliharaan dengan menggunakan shampoo khusus kucing, serta memandikan kucing maksimal dua minggu sekali.

8.2.2 Mengurangi kontak langsung dengan kucing.

8.2.3 Terdapat sistem pelaporan kasus Rickettsiosis di instansi kesehatan (Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit) sebagai dasar pengambilan kebijakan bagi program.

IX. UCAPAN TERIMA KASIH

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Kepala Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Bapak Anorital, SKM, M.Kes selaku Pembina yang memberikan masukan dalam penyusunan protokol penelitian dan penyelesaian laporan penelitian, peneliti dan teknisi Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara yang telah membantu pelaksanaan pengumpulan data penelitian, Lurah/Kepala Desa di wilayah penelitian, serta responden yang bersedia berpartisipasi dalam kegiatan penelitian.

X. DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Santoso L. Pengantar Entomologi Kesehatan Masyarakat. Jilid II.

Semarang: Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik FKM UNDIP; 1997.

2. Singgih H. Sigit D. Hama Pemukiman Indonesia. Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman. Bogor; 2006. 116 p.

3. Ristiyanto, Handayani FD, Boewono DT, Heriyanto B. Penyakit tular Rodensia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2014.

4. Bashofi A, Soviana S, Ridwan Y. Infestasi pinjal dan infeksi Dipylidium caninum (Linnaeus) pada kucing liar di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor, Kecamatan Dramaga. J Entomol Indones [Internet].

2015;12(2):108–14. Available from: http://pei- pusat.org/jurnal/index.php/jei/article/view/151

(46)

27

5. Capelli G, Montarsi F, Porcellato E, Maioli G, Furnari C, Rinaldi L, et al.

Occurence of Rickettsia felis in dog and cat fleas (Ctenochepalides felis) from Italy. Parasit Vectors. 2009;2(Suppl 1):S8.

6. Maina AN, Fogarty C, Krueger L, Macaluso KR, Odhiambo A, Nguyen K, et al. Rickettsial Infections among Ctenocephalides felis and Host Animals during a Flea-Borne Rickettsioses Outbreak in Orange County, California. PLoS One. 2016;11(8):1–13.

7. Pramestuti N, Umniyati SR, Mulyaningsih B, Widiastuti D, Raharjo J.

Evidence of Rickettsia typhi in rat fleas of various habitat and the potential transmission of Murine Typhus in Banjarnegara, Central Java, Indonesia.

Indian J Public Heal Res Dev. 2018;9(8):1548–53.

8. Regnery RL, Spruill CL, Plikaytis BD. Genotypic identification of Rickettsiae and estimation of intraspecies sequence divergence for portions of two Rickettsial genes. J Bacteriol. 1991;173(5):1576–89.

9. Joharina AS, Mulyono A, Sari TF, Rahardianingtyas E, Bagus D, Putro W, et al. Rickettsia pada Pinjal Tikus (Xenopsylla Cheopis) di Daerah Pelabuhan Semarang, Kupang dan Maumere. Bul Penelit Kesehat.

2016;44(4):237–44.

10. Anonim. Letak Geografis - Kabupaten Banjarnegara [Internet].

Banjarnegara; 2017. Available from: http://banjarnegarakab.go.id

11. Anonim. Gambaran Umum - Kabupaten Banjarnegara [Internet]. 2017.

Available from: http://banjarnegarakab.go.id

12. Anonim. Peta Kabupaten Banjarnegara [Internet]. 2019. Available from:

https://www.peta-hd.com/2019/01/peta-kabupaten-banjarnegara.html 13. Rust MK. The biology and ecology of cat fleas and advancements in their

pest management : a review. Insects. 2017;8(118):1–49.

14. Cruz-vazquez C, Gamez EC, Fernandez MP, Parra MR. Seasonal occurrence of Ctenocephalides felis felis and Ctenocephalides canis (Siphonaptera : Pulicidae) infesting dogs and cats in an urban area in Cuernavaca, Mexico. J Med Entomol. 2001;38(1):111–3.

(47)

28

15. Chandra S, Forsyth M, Lawrence AL, Emery D, Slapeta J. Cat fleas (Ctenocephalides felis) from cats and dogs in New Zealand: Molecular characterisation, presence of Rickettsia felis and Bartonella clarridgeiae and comparison with Australia. Vet Parasitol. 2017;234:25–30.

16. Xhaxhiu D, Kusi I, Rapti D, Visser M, Knaus M, Lindner T, et al.

Ectoparasites of dogs and cats in Albania. Patasitol Res. 2009;105:1577–

87.

17. Eckstein RA, Hart BL. Grooming and control of fleas in cats. Appl Anim Behav Sci. 2000;68(January):141–50.

18. Beugnet F, Bourdeau P, Chalvet-monfray K, Cozma V, Farkas R, Guillot J, et al. Parasites of domestic owned cats in Europe : co-infestations and risk factors. Parasit Vectors. 2014;7(291):1–13.

19. Anonim. Flea & Tick Cat Shampo [Internet]. 2014. Available from:

https://www.imorganic-indonesia.com/index.php/2-uncategorised/6-flea- tick-cat-shampo

20. Thomas JE, Staubus L, Goolsby JL, Reichard M V. Ectoparasites of free- roaming domestic cats in the central United States. Vet Parasitol [Internet].

2016;228:17–22. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.vetpar.2016.07.034

21. Nogueras MM, Pons I, Ortuño A, Miret J, Pla J, Castellà J, et al. Molecular Detection of Rickettsia typhi in Cats and Fleas. PLoS One. 2013;8(8):1–8.

22. Jiang J, Soeatmadji DW, Henry KM, Ratiwayanto S, Bangs MJ, Richards AL. Rickettsia felis in Xenopsylla cheopis, Java, Indonesia. Emerg Infect Dis [Internet]. 2006;12(8):1281–3. Available from: www.cdc.gov/eid 23. Sothmann P, Keller C, Krumkamp R, Kreuels B, Aldrich C, Sarpong N, et

al. Rickettsia felis Infection in Febrile Children , Ghana. Am J Trop Med Hyg [Internet]. 2017;96(4):783–5. Available from: www.cdc.gov/eid

(48)

29 LAMPIRAN 1

FORMULIR SURVEI PINJAL PADA KUCING LIAR

NO. TGL

SURVEI

LOKASI SURVEI

KODE SAMPEL

JMLH PINJAL

KET IDENTITAS KUCING JENIS SEX USIA CIRI KHUSUS

Ket : Jenis (kampung/ras/liar/peliharaan) Usia (< 6 bulan / > 6 bulan)

(49)

30

FORMULIR SURVEI PINJAL PADA KUCING PELIHARAAN

NO. TGL

SURVEI NAMA PEMILK ALAMAT KODE

SAMPEL

JMLH PINJAL

KET IDENTITAS KUCING

JENIS SEX USIA CIRI KHUSUS

Ket : Jenis (kampung/ras/liar/peliharaan) Usia (< 6 bulan / > 6 bulan)

(50)

31

KUESIONER PENELITIAN

“Deteksi Rickettsia pada Pinjal Kucing sebagai Kewaspadaan Dini Penyakit Tular Pinjal di Kabupaten Banjarnegara”

No. Responden : Tanggal wawancara :

Enumerator :

I. IDENTITAS PEMILIK KUCING 1. Nama :

2. Alamat : 3. Pekerjaan : 4. Pendidikan :

II. PERAWATAN KUCING 1. Jumlah kucing :

2. Berapa lama memelihara kucing : (sejak tahun: ...) 3. Umur kucing :

4. Darimana anda mendapatkan kucing?

1. Teman/kerabat 2. Petshop

3. Memungut

5. Apakah kucing anda selalu dikandangkan?

1. Ya 2. Tidak

6. Apakah kucing anda rutin dimandikan?

1. Ya

2. Tidak (lanjut ke pertanyaan no. 9) Jika ya, dimana?

1. Petshop

2. Rumah /sendiri

7. Berapa kali kucing anda dimandikan?

1. 1 minggu sekali 2. 2 minggu sekali 3. 3 minggu sekali 4. 4 minggu sekali 5. Tidak tentu

6. Lainnya, sebutkan……..

(51)

32

8. Berapa kali kucing anda dikeramas dengan shampoo khusus kucing?

1. 1 bulan sekali 2. 2 bulan sekali 3. Tidak tentu

4. Lainnya, sebutkan ………

9. Apakah kucing anda diberi obat/bedak kutu?

1. Ya, sebutkan……..

2. Tidak

10. Frekuensi/kapan pemberian bedak kutu?

11. Apakah kucing diberi makan secara teratur?

1. Ya 2. Tidak

12. Jenis makanan yang diberikan?

13. Apakah disediakan tempat khusus untuk kucing BAB?

1. Ya 2. Tidak

14. Jika kucing sakit atau cedera, apakah dibawa ke dokter hewan?

1. Ya 2. Tidak

15. Apakah kucing anda suka menggaruk badannya sendiri?

1. Ya 2. Tidak

16. Apakah anda pernah menyisir/mencari kutu pada kucing?

1. Ya 2. Tidak

17. Apakah anda memakai sarung tangan ketika bersentuhan dengan kucing?

1. Ya 2. Tidak

18. Apakah anda pernah digigit kutu kucing?

1. Ya 2. Tidak

Jika ya, apa yang di rasakan? bekas gigitannya seperti apa?

(52)

33

III. PENGETAHUAN TENTANG KUTU KUCING/PINJAL 1. Apakah anda mengetahui tentang kutu kucing/pinjal?

1. Ya 2. Tidak

2. Dari mana anda mengetahui informasi mengenai kutu kucing?

1. Teman/tetangga/saudara 2. Tenaga kesehatan 3. Media (TV, radio, dll)

4. Lainnya, sebutkan………..

3. Apakah anda mengetahui penyakit yang disebabkan/ditularkan kutu kucing?

1. Ya, sebutkan …….

2. Tidak

4. Bagaimana cara penularan penyakit yang disebabkan kutu kucing?

1. Digigit

2. Melalui kotoran kutu kucing 3. Lainnya, sebutkan………

5. Bagaimana upaya pencegahan penyakit yang disebabkan kutu kucing?

1. Menjaga kebersihan kucing peliharaan

2. Memakai alat pelindung diri ketika bersentuhan dengan kucing 3. Memberikan bedak kutu pada kucing peliharaan

4. Melakukan perawatan kucing 5. Lainnya, sebutkan………

(53)

34 LAMPIRAN 2

1. Naskah Penjelasan

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN

BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN BANJARNEGARA

Jl. Selamanik No. 16 A Banjarnegara 53415 Telepon/Faksimile (0286) 594972

Surat Elektronik : [email protected] Laman (Website) : www.bp4b2banjarnegara.litbang.kemkes.go.id

Kami Tim Peneliti dari Balai Litbangkes Banjarnegara sedang melakukan penelitian dengan judul “Deteksi Rickettsia pada Pinjal Kucing sebagai Kewaspadaan Dini Penyakit Tular Pinjal di Kabupaten Banjarnegara”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya Rickettsia pada pinjal kucing.

Manfaat penelitian ini adalah meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit tular pinjal. Kegiatan yang akan kami lakukan yaitu penangkapan kucing, pencarian pinjal dengan cara memetani kucing, wawancara terhadap pemilik kucing, dan pemeriksaan Rickettsia pada pinjal kucing. Pinjal yang didapat dimasukkan dalam microtube yang berisi alkohol 70% untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan Rickettsia pada pinjal kucing dengan metode PCR.

Kami mengharapkan peran serta Bapak / Ibu / Saudara / Saudari dalam penelitian ini secara sukarela, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Kami akan menjamin kerahasiaan data responden penelitian. Apabila sewaktu-waktu Anda merasakan dirugikan dan Anda memutuskan untuk mengundurkan diri maka Anda dapat mengundurkan diri tanpa sanksi apapun. Atas partisipasi Bapak / Ibu / Saudara / Saudari, kami akan memberikan kompensasi sebesar Rp 50.000,00.

Apabila ada hal-hal yang sekiranya membutuhkan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi Tim Peneliti a.n Eva Lestari di Kantor Balai Litbangkes Banjarnegara Jl. Selamanik No. 16 A, Banjarnegara Jawa Tengah No. Telp.

085727293127. Atas partisipasi Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Tim Peneliti

(54)

35 2. Persetujuan Setelah Penjelasan

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN

“Deteksi Rickettsia pada Pinjal Kucing sebagai Kewaspadaan Dini Penyakit Tular Pinjal di Kabupaten Banjarnegara”

Saya telah mendapatkan penjelasan dan memahami maksud, tujuan dan manfaat dari penelitian “Deteksi Rickettsia pada Pinjal Kucing sebagai Kewaspadaan Dini Penyakit Tular Pinjal di Kabupaten Banjarnegara”, dengan ini,

Nama :……….

Alamat : ……….

menyatakan SETUJU untuk ikut serta sebagai responden pada penelitian tersebut.

Apabila suatu waktu saya merasa dirugikan dengan penelitian ini saya berhak untuk membatalkan persetujuan ini dan tidak akan mengajukan tuntutan.

Surat persetujuan ini saya buat dalam keadaan sehat jasmani rohani serta tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak lain, demikian surat ini untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Saksi,

………

Banjarnegara, ... 2019 Yang membuat pernyataan,

……….

Mengetahui, Ketua Pelaksana

Eva Lestari, SKM

(55)

36 LAMPIRAN 3

Penyisiran pinjal pada kucing

Wawancara terhadap pemilik kucing

(56)

37

Pengamatan pinjal di bawah mikroskop

(57)

38

Pemeriksaan sampel pinjal di laboratorium

(58)

39

Hasil elektroforesis sampel pinjal kucing

(59)

40 LAMPIRAN 4

(60)

41

Gambar

Gambar 1. Kerangka Teori  5.2  Kerangka Konsep
Tabel 1. Definisi Operasional dan Skala Data Variabel Penelitian
Gambar 3. Peta Wilayah Kabupaten Banjarnegara 12
Gambar 5. Pengamatan Mikroskopis Pinjal Kucing   6.8 Pemeriksaan PCR
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pneumonia ini adalah suatu penyakit peradangan akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus atau parasit (Standar Profesi Ilmu Kesehatan Anak FK,

Berdasarkan beberapa uraian yang telah dijelaskan di atas, masih terdapat reseach gap pada penelitian yang mengindikasikan bahwa perlu melakukan penelitian lebih lanjut, maka

Pada unit slow sand filter, zat organik dalam air baku cenderung menurun. Gradik hasil penelitian dapat dilihat pada Gambar 5., Gambar 6., dan Gambar 7. Titik klimaks

Curah hujan merupa- kan salah satu faktor iklim yang paling dominan dalam penyebaran penyakit malaria karena dapat mempengaruhi jumlah habitat maupun kepadatan nyamuk anopheles

Penerapan asas itikad baik sebagai salah satu alasan pembatalan merek berdasarkan Undang-Undang No.15 Tahun 2001 dapat dilaksanakan apabila pelaku usaha yang telah

Oleh karena itulah dari analogi Sauvy tersebut, kita bisa melihat bahwa konstruksi miskin dan masih berkembang melekat pada kondisi negara dunia ketiga dalam

Standar persyaratan kebutuhan operasi pencarian dan pertolongan ini sebagai bahan masukan bagi pimpinan Badan SAR Nasional dalam menetapkan kebijakan penyelenggaraan