Selayang Pandang
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial...”
Tujuan diadakannya pendidikan di Indonesia telah disebutkan dalam Undang-UUD 1945 yang mengatakan bahwa mengamanatkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Melalui Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, negara telah memberika kerangka yang jelas kepada pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan nasional yang sesuai dengan amanat Pasal 31 ayat (3) UUD 1945. Meskipun demikian masih memerlukan pengaturan agar Pendidikan Tinggi dapat berfungsi dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora untuk pemberdayaan dan pembudayaan bangsa.
Pada tataran praktis bangsa Indonesia juga tidak terlepas dari persaingan antar bangsa di satu pihak, dan kemitraan dengan bangsa lain di pihak lain. Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing bangsa dan daya mitra bangsa Indonesia dalam era globalisasi, diperlukan Pendidikan Tinggi yang mampu mewujudkan dharma pendidikan, yaitu menghasilkan intelektual, ilmuwan dan/atau professional yang berbudaya, kreatif, toleran, demokratis, dan berkarakter tangguh, serta berani membela kebenaran demi kepentingan bangsa dan umat manusia. Dalam rangka mewujudkan dharma Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat, diperlukan Pendidikan Tinggi yang mampu menghasilkan karya penelitian dalam cabang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang dapat diabdikan bagi kemaslahatan bangsa, negara, dan umat manusia.
Perguruan Tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengabdian kepada masyarakat harus memiliki otonomi dalam mengelola sendiri lembaganya. Hal itu diperlukan agar dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Perguruan Tinggi berlaku kebebasan akademik dan mimbar akademik, serta otonomi keilmuan. Dengan demikian Perguruan Tinggi dapat mengembangkan budaya akademik bagi sivitas akademika yang berfungsi sebagai
komunitas ilmiah yang berwibawa dan mampu melakukan interaksi yang mengangkat martabat bangsa Indonesia dalam pergulatan internasional. (sumber UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi)
ITS sebagai salah satu perguguan tinggi negeri yang baru saja diangkat menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum memiliki otonomi khusus yang berarti fleksibilitas dan kemandirian dalam menyusun program akademik dan pengaturan sumber daya. Tanggung jawab status ITS sebagai PTNBH adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan masa datang untuk pengembangan sumber daya manusia dalam semangat kemandirian teknologi. Selain menjadi pendorong dan jalan untuk mencapai universitas riset, status tersebut juga menuntut ITS untuk tetap menjadi resource university yang unggul demi menjawab kebutuhan dan ketergantungan masyarakat umum kepada ITS. ITS bertekad menunaikan amanahnya secara bertanggungjawab, mandiri, berintegritas tinggi, dengan memperhatikan aspek transparansi, akuntabilitas, pertumbuhnan, keselarasan, pemerataan, dan keterjangkauan sehingga tumbuh rasa kepemilikan seluruh pemangku kepentingan terhadap ITS.
Sebagai landasan berpijak bagi ITS dalam melaksanakan kewajiban tridharma perguruan tinggi yang melekat padanya sesuai dengan mandate yang diberikan oleh negara kepada ITS, maka disusunlah Statuta ITS yang merupakan pedoman dasar penyelenggaraan ITS sebagai PTNBH yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2015. Peraturan pemerintah tersebut dirancang dan ditetapkan untuk mengatur organisasi dan tata kelola ITS dalam menjalankan pengelolaan perguruan tinggi sebagai perguruan tinggi negeri badan hukum. Statuta ITS secara umum memuat materi pokok yang disusun secara sistematis meliputi; identitas, penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi, sistem pengelolaan, dan sistem penjaminan mutu internal. Statuta ITS mencerminkan komitmen ITS terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan dan mewujudkan bangsa yang kuat, bersatu, berdaulat, bermartabat, adil, dan sejahtera.
(sumber PP No. 54 tahun 2015 tentang Statuta ITS)
Pengelompokan Rumpun Ilmu ITS
Beberapa waktu lalu telah beredar isu melalui social media yang cukup menggemparkan di ITS. Isu tersebut semakin membuat hangat karena berkaitan dengan perubahan-perubahan yang dapat terjadi di ITS, apalagi sekarang ITS sudah menjadi PTNBH dimana memiliki otonomi untuk mengelola internalnya sendiri, maka perubahan-perubahan yang akan dilakukan sudah sepantasnya
melalui pertimbangan yang jelas dan tersosialisasi dengan baik. Dikalangan mahasiswa yang bisa dikatakan tidak tau apa-apa tentang isu tersebut juga banyak mempertanyakan tentang kejelasannya.
Isu yang beredar adalah tentang surat keputusan Senat Akademik ITS No.
029642/IT2.V/HK.00.02/2016 tentang Penetapan Pengelompokan Program Studi Dengan Pendekatan Rumpun Ilmu Pengetahuan. Dalam surat keputusan tersebut terdapat delapan keputusan yang ditetapkan pada tanggal 16 Mei 2016. Yang menjadikan gempar adalah adanya Pengelompokan Program Studi saat ini di ITS dengan pendekatan Rumpun Ilmu Pengetahuan, karena pada poin tersebut dijelaskan bahwa ITS dibagi menjadi 9 rumpun ilmu, dan kabar yang beredar pengelompokan tadi akan menjadi fakultas, otomatis dapat dikatakan bahwa ITS yang saat ini terdiri dari 6 fakultas (termasuk Fakultas Desain dan Industri Kreatif) akan berkembang menjadi 9 fakultas sesuai dengan keputusan SA.
Dengan adanya wakil mahasiswa di tubuh Majelis Wali Amanat (MWA) ITS maka tidak hanya mahasiswa mendapat hak suara tapi diharapkan juga mampu memberikan penjelasan-penjelasan terkait kebijakan-kebijakan yang diambil oleh ITS, karena mahasiswa sebagai objek pelaksanaan pendidikan di ITS merupakan elemen pertama yang akan merasakan dampak-dampak kebijakan yang diterapkan. Dalam hal ini MWA-WM telah memberikan penjelasan melalui official account Line BK MWA-WM ITS terkait isu pengelompokan Rumpun Ilmu, namun masih dirasa kurang karena belum memberikan penjelasan yang lebih detail tentang kebijakan yang telah diputuskan.
Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci maka pada tanggal 18 September 2016, Kementrian Kebijakan Kampus melakukan Audiensi kepada Ketua Senat Akademik ITS yang sekaligus menjabat sebagai anggota MWA ITS yaitu Prof. Ir. Priyo Suprobo, MS., Ph.D. Audiensi berlangsung di Sekretariat Senat Akademik ITS dan berlangsung selama 2 jam. Dalam audiensi tersebut didapatkan penjelasana sebagai berikut:
Alur berfikir masalah Pengelompoka Rumpun Ilmu ini dimulai dari Undang-undang No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dalam pasal 10 tertulis bahwa Rumpun Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kumpulan sejumlah pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis. Rumpun ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah:
1. Rumpun ilmu agama 2. Rumpun ilmu humaniora 3. Rumpun ilmu sosial
4. Rumpun ilmu alam 5. Rumpun ilmu formal 6. Rumpun ilmu terapan
Mengingat bahwa sebuah Undang-undang menjadi pedoman dalam penyelenggaraan suatu kebijakan, maka ITS juga harus melaksanakan apa yang telah ditulisakan di UU No.12 Tahun 2012. Lalu dalam perkembangannya, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 154 Tahun 2014 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi yang dibuat untuk menjelaskan lebih detail mengenai Pasal 10 UU No.12 Tahun 2012. Setiap perguruan tinggi di Indonesia harus mengacu pada kedua hal diatas dalam penyelenggaraannya. Namun dalam hal ini dikarenakan ITS telah menjadi PTNBH maka ITS memiliki otonomi khusus yang dapat mengatur rumah tangganya sendiri, artinya ITS hanya di wajibkan mengikuti UU No. 12 Tahun 2012 dan tidak diwajibkan mengikuti PP No.154 Tahun 2014. Ditambah lagi PP No. 154 Tahun 2014 saat ini sedang dalam tahap evaluasi dan penyempurnaan untuk dialihkan kepada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. ITS minimal dapat mencapai perkembangan seperti yang dituliskan didalamnya, tetapi jika ITS ingin melebihi apa yang dibuat dalam PP No. 154 Tahun 2014 maka tidak masalah karena ITS telah menjadi PTNBH.
Senat Akademik merupakan salah satu sistem pengelolaan di ITS PTNBH, beranggotakan perwakilan dari setiap Jurusan yang ada di ITS, dan memiliki fungsi untuk mengevaluasi dan mengawasi kegiatan akademik di ITS. Salah satu wewenang SA adalah memberikan pertimbangan dan rekomendasi kepada rektor tentang pembukaan dan penutupan fakultas dan/atau sekolah, departemen, dan program studi. Maka selanjutnya sesuai dengan tugas dan wewenang SA didalam PP No. 54 Tahun 2015 tantang Statuta ITS, Komisi Akademik SA ITS, yang diketuai oleh Prof. Ir. Noor Endah Mochtar, MSc., Ph.D membuat rekomendasi yang telah disetujui dalam pleno SA ITS dan tertuang dalam Surat Keputusan Senat Akademik ITS No. 029642/IT2.V/HK.00.02/2016 tentang Penetapan Pengelompokan Program Studi Dengan Pendekatan Rumpun Ilmu Pengetahuan.
Pengelompokan Program Studi di ITS tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ilmu Alam 2. Ilmu Formal
3. Ilmu Terapan Bidang Arsitektur, Desain, dan Perencanaan 4. Ilmu Terapan Bidang Rekayasa dan Keteknikan
5. Jalur Vokasi
6. Bisnis, Manajemen, dan Studi Pembangunan
Salanjutnya Senat Akademik ITS meminta setiap jurusan untuk melakukan evaluasi pelaksanaan selama ini, kira-kira jurusan tersebut termasuk kedalam pengelompokan rumpun ilmu yang mana. Dalam hal ini SA ITS memberikan kebebasan untuk setiap jurusan menentukan berada di rumpun ilmu yang mana, hanya saja ketika satu jurusan sudah menentukan pilihan berada di rumpun ilmu yang mana maka jurusan tersebut harus konsisten untuk melaksanakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam rumpun ilmu tersebut. Contohnya misalkan Jurusan X setelah melakukan evaluasi pelaksanaannya selama ini, akhirnya menentukan akan tergabung ke dalam Rumpun Ilmu Terapan Bidang Rekayasa dan Keteknikan, maka Jurusan X tersebut diharuskan menerapkan persyaratan-persyaratan rumpun ilmu tersebut, mulai dari kurikulum, hingga gelar lulusan sarjana yang sudah diatur didalam PP No. 154 Tahun 2014.
Setelah setiap jurusan menentukan tergabung ke dalam rumpun ilmu yang mana, maka SA kemudian mengelompokkannya lagi kedalam beberapa kelompok yang selanjutnya dijadikan rekomendasi dari SA untuk dijadikan satu fakultas dengan pertimbangan rumpun keilmuan yang serupa dan manajerial kesekretariatan yang memudahkan. Seperti isu yang beredar bahwa terdapat 9 rekomendasi pengelompokan fakultas yang telah dibuat SA ITS, pengembangan dari pengelompokan berdasarkan SK SA ITS No. 029642/IT2.V/HK.00.02/2016. (*dijelaskan dibagian selanjutnya)
Dalam proses ini, kerja SA ITS sebenarnya berhenti sampai memberikan rekomendasi pembentukan fakultas baru seperti yang tertulis diatas. Proses selanjutnya untuk pembentukan fakultas yang baru tetap menjadi wewenang Rektor ITS. Artinya semua kembali ke rencana yang telah dibuat oleh Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc., ES., Ph.D dalam Rancangan Organisasi dan Tata Kerja ITS.
Bisa jadi rekomendasi dari SA ITS yang dituliskan di atas dapat berkembang lagi, bahkan menurut informasi yang didapatkan oleh BEM ITS, Rektor ITS akan menjadikan 10 fakultas, artinya ada yang dipecah menjadi dua dari rekomendasi yang diberikan SA ITS.
Mengingat ITS sudah menjadi PTNBH, maka sekarang permasalahannya adalah OTK ITS yang dibuat oleh Rektor ITS belum disahkan oleh MWA ITS. Artinya perubahan-perubahan yang akan terjadi di ITS sesuai dengan OTK ITS belum mulai dilaksanakan. Sekarang “bola panas” sudah berada di tangan Rektor ITS dan MWA ITS. Kapan OTK ITS akan disahkan sehingga semua perubahan ITS PTNBH dapat
segera dilaksanakan tergantung MWA ITS. Alur berfikir dalam isu ini dapat dilihat dari bagan dibawah ini:
Pengelompokan
Rekomendasi dari SA ITS untuk pembentukan fakultas yang baru berdasarkan Pengelompokan program studi dengan pendekatan rumpun ilmu adalah sebagai berikut:
1. Fakultas Ilmu Alam:
Fisika
Kimia
Biologi
2. Fakultas Teknologi Industri:
Teknik Mesin
Teknik Kimia
Teknik Fisika Here
we are
UU No. 12 Tahun 2012
PP No. 54 Tahun 2015
SK SA ITS No.
029642/IT2.V/HK.
00.02/2016
Evaluasi Jurusan di ITS Jurusan
Menentukan Masuk Rumpun Ilmu yang mana Rekomendasi
Pembentukan Fakultas
Rektor Membuat SOTK
Pengesahan
SOTK oleh MWA Pelaksanaan
Teknik Material *
Teknik Industri
3. Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian:
Teknik Sipil
Teknik Lingkungan
Teknik Geomatika
Teknik Geofisika
4. Fakultas Teknologi Kelautan:
Teknik Perkapalan
Teknik Sistem Perkapalan
Teknik Kelautan
Teknik Transportasi Laut * 5. Fakultas … * (nama menyusul)
Matematika
Statistika
Informatika*
Sistem Informasi 6. Fakultas Teknologi Elektro:
Teknik Elektro
Teknik Komputer*
Teknik Biomedik
7. Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan: *
Arsitektur
PWK
Desain Produk Industri
Desain Interior
8. Fakultas Bisnis, Manajemen, dan Teknologi:
Manajemen Bisnis*
Manajemen Teknologi
Studi Pembangungan 9. Fakultas Vokasi (diploma 3/4) *
Teknik Infrastruktur Sipil
Teknik Mesin
Teknik Kimia Industri
Teknik Komputer Kontrol
Teknik Instrumentasi dan Metrologi
Statistika Industri dan Bisnis
Fakta-fakta
Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa studi kasus yang terjadi dilapangan seperti yang diberikan keterangan tanda *. Berikut adalah penjelasannya:
Pertama untuk nama fakultas, yang tertulis diatas sebenarnya masih dapat berubah, tergantung perencanaan yang dibuat Rektor ITS, seperti yang sudah dijelaskan, bahkan menurut informasi yang didapat BEM ITS didalam OTK yang di buat Rektor ITS terdapat 10 fakultas. Ambil contoh nama Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian, dilihat sekilas namanya terlalu panjang dan langsung menjelaskan nama program studi didalamnya, maka bisa jadi nama fakultas tersebut dicari yang lebih singkat tapi tetap mewakili rumpun keilmuan program studi didalamnya.
Kedua, studi kasus Teknik Material, kondisi dilapangan saat ini namanya adalah Teknik Material dan Metalurgi, rekomendasi dari SA menghilangkan nama “Metalurgi” nya, karena metalurgi merupakan bagian atau salah satu bidang dari Teknik Material, sementara Metalurgi belum memiliki program studi sendiri, sehingga cukup diberikan nama Teknik Material.
Ketiga Transportasi Laut, kalau tetap menggunakan nama Transportasi Laut maka harus bergabung dengan manajemen bisnis karena setelah dievaluasi silabus Transportasi Laut lebih mirip dengan manajemen. Tetapi Transportasi Laut sepakat untuk tetap di FTK, konsekuensinya harus mengganti nama menjadi Teknik Transportasi Laut, karena FTK termasuk kedalam Rumpun Ilmu Terapan, dan pergantian nama itu berkonsekuensi ke kurikulum, silabus keteknikannya harus lebih banyak daripada manajemennya.
Keempat, fakultas yang berisi rumpun ilmu formal, terdiri dari program studi Matematika, Statistika, Informatika, dan Sistem Informasi. Dari informasi terbaru yang beredar bahwa telah dilakukan pertemuan antara Rektorat, FTIf, Statistika, dan Matematika, dari pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan bahwa program studi Informatika dan Sistem Informasi tidak digabung dengan Statistika dan Matematika, melainkan akan menjadi dua fakultas yang berbeda, dan kedua fakultas diminta untuk menambah program studi baru.
Kelima, berkaitan juga dengan poin keempat, Program Studi Informatika, kondisi dilapangan saat ini bernama Teknik Informatika, setelah dilakukan evaluasi juga ternyata silabusnya tidak memuat mata kuliah tentang keteknikan seperti Kalkulus, Fisika Dasar, dan Kimia, ditambah dengan gelar lulusannya adalah S.Kom bukan S.T, namun sesuai dengan pengelompokannya
Informatika termasuk kedalam rumpun ilmu formal, artinya terdapat ke-tidak konsistenan.
Sehingga jika ingin bergabung kedalam rumpun ilmu terapan konsekuensinya menambah silabus keteknikan dan gelar lulusan menjadi S.T, namun jika tetap didalam rumpun ilmu formal maka konsekuensinya adalah menghilangkan nama “Teknik” didepannya. Informasi terbaru juga sudah beredar mengenai keputusan yang diambil adalah tergabung kedalam rumpun ilmu formal, nama Informatika masih boleh menggunakan nama “Teknik” sampai akreditasi habis.
Keenam, kondisi dilapangan saat ini bernama Teknik Multimedia Jaringan, namun setelah melakukan evaluasi, capaian pembelajarannya mirip dengan Teknik Informatika, akhirnya TMJ memutuskan untuk bergabung kedalam rumpun ilmu terapan, denga konsekuensi ada penambahan beberapa silabus keteknikan, dan perubahan nama menjadi Teknik Komputer karena didalam PP No.154 Tahun 2014 tidak ada nama program studi TMJ, yang ada adalah Teknik Komputer.
Ketujuh, Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan kemungkinan akan dirubah namanya menjadi lebih singkat, dan karena keempat program studi di dalamnya tidak termasuk kedalam rumpun ilmu formal, maka akan mengalami perubahan gelar lulusan, contohnya Arsitektur yang semula gelar lulusannya S.T berubah menjadi S.Ars
Kedelapan, Manajemen Bisnis saat ini tergabung kedalam Fakultas Teknologi Industri, namu silabusnya jauh dari rumpun ilmu terapan, sehingga membentuk fakultas sendiri.
Kesembilan, Fakultas Vokasi yang saat ini beberapa program studi didalamnya masih tergabung kedalam program studi sarjana akan memisahkan diri dan berkumpul menjadi satu fakultas sendiri. Sesuai Peraturan Pemerintah pula, program studi diploma harus menggunakan nama yang spesifik dan tidak boleh sama dengan sarjana. Sehingga akan terjadi perubahan, contohnya D3 Statistika menjadi Statistika Industri dan Bisnis. Kedepannya Fakultas Vokasi dapat berkembang sendiri dengan lebih pesat, karena sudah tidak dibawah manajemen program studi sarjana, artinya memiliki wewenang sendiri untuk mengembangkan program studinya, bahkan dapat membuka program magister, dan doctor.
Persiapan
Sesuai dengan penjelasan bada bagian-bagian sebelumnya maka kedepannya akan terjadi banyak perubaha di ITS. Pelaksanaan dari OTK ITS akan mulai dilaksanakan setelah disahkan oleh MWA, sekarang sedang dikebut pengerjaannya. Menurut penuturan dari Ketua SA ITS, untuk transisi pembentukan fakultas akan dimulai tahun 2017. Nantinya juga akan dibuat Peraturan Akademik yang baru setelah dimulainya pelaksanaan OTK ITS. Kemudian untuk kurikulum yang perubahannya dilakukan setiap 5 tahun sesuai dengan peraturan pemerintah, akan dipercepat satu tahun. Jadi yang seharusnya pergantian kurikulum pada tahun 2019 akan dilakukan pada tahun 2018. Hal ini dilakukan berkaitan juga dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), agar lulusan ITS dapat diakui secara internasional.
Dampak Bagi Mahasiswa
Menurut penuturan Ketua SA ITS segala macam perubahan yang akan terjadi tidak akan merugikan mahasiswa, karena perencanaannya sudah didesain demikian, jadi mahasiswa tidak perlu khawatir akan perubaha-perubahan yang terjadi.
Kementerian Kebijakan Kampus BEM ITS telah melakukan kajian tentang dampak-dampak apa saja yang kemungkinan dirasakan oleh mahasiswa akibat dari dilaksanakannya OTK ITS PTNBH, baik dari segi akademik maupun kemahasiswaan. Berikut adalah hasilnya:
Akademik:
1. Perubahan kurikulum yang akan terjadi pada tahun 2018 berarti perkuliahan akan mengalami ekuivalensi, seperti yang terjadi pada tahun 2014. Mahasiswa harus memiliki perencanaan yang baik ketika melakukan ekuivalensi, sehingga sudah harus dipersiapkan sejak sekarang.
2. Peraturan akademik yang akan berubah nantinya bisa jadi memuat hal-hal baru yang berbeda dengan peraturan akademik sekarang, misalkan perubahan peraturan tentang syarat score SKEM untuk lulus dari ITS ditambah menjadi 5000. Maka mahasiswa harus siap dengan perubahan-perubahan semacam itu.
3. Berkembangnya jumlah fakultas berarti juga perubahan sistem administrasi, contohnya jurusan Arsitektur yang sebelumnya di bawah administrasi FTSP, akan berpindah ke administrasi Fakultas baru.
4. Gelar sarjana akan mengalami perubahan sesuai dengan rumpun ilmu pengetahuan yang sudah terdapat didalam PP No.154 Tahun 2014
5. OTK ITS PTNBH kemungkinan juga aka memasukan muatan tentang Internasionalisasi, hal ini dilakukan supaya lulusan ITS diakui secara internasional.
Kemahasiswaan:
1. Pengembangan fakultas yang akan dilakukan berarti juga dibutuhkan BEM Fakultas yang baru, sementara KM ITS belum memiliki Undang-undang tentang pembentukan BEM Fakultas.
Karena itu diharapkan MUBES V yang akan dilakukan juga menyesuaikan perubahan- perubahan yang akan terjadi.
2. Administrasi Himpunan Mahasiswa Jurusan yang mengalami perpindahan fakultas, berarti juga akan berpindah ke fakultas yang baru.
3. Pengembangan fakultas baru juga memerlukan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di tingkat fakultas yang baru, seperti contohnya LKMM Pra-TD.
4. Perubahan yang terjadi dalam OTK ITS juga harus disesuaikan, contoh misalkan ada perubahan nama yang sebelumnya disebut “Jurusan” dirubah menjadi “Departemen”. Maka bisa dikatakan Himpunan Mahasiswa Jurusan harus melakukan penyesuaian nama tersebut, bisa jadi harus melakukan amandemen AD-ART Himpunannya, untuk merubah dari “Jurusan”
menjadi “Departemen”. Begitu juga dengan KDKM ITS yang masih menyebut sebagai Himpunan Mahasiswa “Jurusan” bukan “Departemen”, maka harus dilakukan MUBES untuk mengganti redaksional tersebut. Dan perubahan-perubahan lainnya yang kemungkinan akan terjadi, maka KM ITS harus siap dengan perubahan tersebut.
Kemeterian Kebijakan Kampus BEM ITS Berani