BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini,

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini, membawa banyak perubahan dalam setiap aspek kehidupan individu. Kemajuan ini secara tidak langsung menuntut setiap individu untuk berusaha semaksimal mungkin mengadaptasikan diri dengan tuntutan tersebut.

Pada dasarnya individu memiliki keinginan kuat untuk sukses dalam berbagai aspek.

Berbagai cara ditempuhnya untuk meraih keinginan tersebut, seperti melalui pendidikan formal, non formal maupun informal atau melalui penelitian secara terus menerus.

Melalui pendidikan formal, non formal, informal maupun penelitian, manusia belajar. Belajar merupakan kebutuhan setiap orang. Kecakapan, pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, sikap dan tingkah laku manusia terbentuk dan berkembang karena belajar.

Di dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 26 ditegaskan bahwa: Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan, berfungsi sebagai pengganti, penambah dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

(2)

Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan kesetaraan yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Satuan pendidikan non formal terdiri dari lembaga khusus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Yayasan Purnama Kasih Kupang sebagai salah satu lembaga pendidikan nonformal, secara khusus menangani anak-anak terlantar, korban kerusuhan sosial, anak pengungsi, anak putus sekolah, anak jalanan, yatim piatu, anak broken home, dan salah asuh. Sebagai bagian dari keprihatinan Yayasan Purnama Kasih Kupang pada anak-anak bermasalah tersebut, pendidikan dan pendampingan dirasakan sangat penting untuk dilakukan guna mengembalikan peserta didik /dampingan kepada harapan akan masa depan dengan membekali anak-anak kecakapan hidup (life skill).

Untuk menyesuaikan dengan kebutuhan mendapatkan legalitas (pengakuan) pendidikan, Yayasan purnama kasih menyelenggarakan program setara lulusan SD (Paket A), lulusan SLTP (Paket B) dan lulusan SMA (Paket C). Dari pelaksanaan program pendidikan dan pendampingan anak, tampak bahwa pendidikan adalah salah satu jawaban yang ditawarkan Yaspurka untuk meringankan beban yang dialami anak, dengan menyediakan fasilitas pendidikan termasuk prasarana dan metode belajar dan juga merekrut para pendidik yang komitmen pada pelayanan sosial, Ludoni Aryanto (2007:55-56).

Menjawabi kenyataan di atas, Yayasan Purnama Kasih Kupang adalah salah satu lembaga yang peduli dan mengabdikan dirinya dalam memperhatikan anak korban kerusuhan sosial, anak pengungsi, anak jalanan dalam satu aktivitas kecakapan hidup demi

(3)

mewujudkan kemandirian anak tersebut, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas kesejahteraannya.

Latar belakang kehidupan anak-anak ini, secara tidak langsung berpengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Ketika proses belajar mengajar berlangsung di lembaga tersebut muncul berbagai perilaku antara lain: kurang berani mengungkapkan pendapat, sulit berbicara di depan teman-teman, takut ditertawakan jika berbicara salah dan tidak berani menyatakan diri karena takut dianggap tidak mampu. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari ada juga yang suka menarik perhatian, suka menyendiri, pemalu, merasa tertekan, suka membandingkan dirinya dengan teman lain (merasa kurang cantik) dan sukar menyesuaikan diri.

Syarat utama agar individu (peserta didik) mandiri dalam segala tindakan adalah percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Tanpa kepercayaan diri, individu akan ragu- ragu dalam segala tindakannya, bahkan kadang-kadang dapat menyebabkan individu (peserta didik) tidak berani berbuat apapun.

Kepercayaan diri adalah suatu keyakinan yang dimiliki individu untuk mengembangkan penilaian positif terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapi serta menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sehingga dapat mengaktualisasikan diri terhadap lingkungan yang dihadapinya, yang meliputi percaya pada kemampuan diri sendiri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki konsep diri yang positif dan berani mengungkapkan pendapat.

Jika seseorang memiliki kepercayaan diri, bukan berarti seseorang harus menjadi pusat perhatian dan kemudian bersikap egosentris. Percaya diri juga tidak berarti

(4)

menyombongkan diri. Justru orang yang sombong sering bersikap demikian untuk menutupi rasa rendah dirinya.

Berdasarkan hasil observasi sementara menunjukkan bahwa hampir 77% anak-anak yang sekolah di lembaga ini tinggal dengan keluarga dan sambil sekolah mereka bekerja.

Hanya sekitar 23% tinggal dengan orang tua mereka.

Situasi dan kondisi kehidupan yang demikian ini, demi memperoleh pendidikan menuntut mereka yang masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan untuk berani melangkah maju mengikuti tuntutan kehidupan sekalipun masih dalam masa remaja.

Masa remaja merupakan suatu periode unik dan menarik untuk dibahas, karena masa ini merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini kepercayaan diri remaja masih labil. Ada beberapa remaja yang tampaknya memiliki kepercayaan diri mantap, sehingga mampu menghadapi dan mengurangi masalah-masalah dalam kehidupan tanpa kecemasan yang berlebihan. Tetapi ada juga remaja yang cemas berlebihan dan kurang percaya diri.

Remaja sebagai makluk sosial membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.

Semakin berkembang dirinya sebagai individu maka interaksi sosialnya pun semakin bertambah luas. Individu pada masa anak-anak sangat tergantung pada kehadiran orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Memasuki masa remaja, individu mulai melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua dan saudara-saudarinya dan memilih untuk menjalin hubungan sosial dengan teman sebaya dan orang lain di luar keluarga, baik di sekolah, lingkungan dan masyarakat luas.

Seorang individu (peserta didik) dikatakan mampu dalam proses penyesuaian sosial dengan lingkungannya, apabila individu tersebut memperlihatkan sifat dan tingkah laku yang

(5)

sesuai misalnya: tidak merasa takut, tampil percaya diri dan merasa yakin dengan keadaan dirinya. Dengan demikian ia akan mampu mengembangkan diri dan tidak mengalami hambatan dalam perkembangannya mencapai sesuatu yang diinginkan. Sebaliknya, individu yang kurang mampu dalam proses penyesuaian sosialnya akan memperlihatkan sikap dan perilaku seperti takut, rendah diri, merasa kurang percaya diri dan merasa tertekan, akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosialnya.

Persoalan serupa ini tentunya dialami pula oleh siswa-siswi Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang, di mana ditemukan siswa-siswi yang mengalami hambatan dalam penyesuaian sosialnya atau dalam proses belajar mengajar di kelas ditemukan mereka yang menunjukkan perilaku seperti kesulitan berbicara, suka menyendiri, kurang percaya diri, merasa takut bila berdiri di depan kelas, suka menarik perhatian, pemalu dan sukar menyesuaikan diri.

Siswa- siswi kelas II paket B yang akan dijadikan sebagai subyek penelitian diambil sesuai dengan pertimbangan bahwa siswa-siswi tersebut sedang dalam masa membangun kepercayaan diri, usia sekitar 13 tahun sampai dengan 18 tahun dan jumlahnya juga cukup banyak yaitu 25 orang.

Peran lingkungan sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan sosial anak, karena lingkungan merupakan tempat mereka belajar banyak hal dan menyatakan dirinya sebagai makluk sosial.

Remaja sebagai makluk individu memiliki sifat yang unik tampak dalam hubungan sosial dengan orang lain. Dalam merealisasikan kecenderungan hidup bersama, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu kesuksesan dan kegagalan. Hal ini dapat terjadi karena ada yang mampu dan ada yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang

(6)

ada dalam lingkungan sosialnya. Wujud nyata dari dua kemungkinan tersebut yakni terjadi penerimaan dan penolakan terhadap diri sendiri dalam lingkungan sosial di mana dia hidup, tumbuh dan berkembang.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka penulis merasa terdorong untuk meneliti tentang: “HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA KELAS II PAKET B YAYASAN PURNAMA KASIH KUPANG TAHUN AJARAN 2009 / 2010 ”

B. Perumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang dikemukakan di depan, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Masalah Umum

Apakah ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dan penyesuaian sosial siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun 2009 / 2010?.

2. Masalah Khusus

a. Bagaimana profil kepercayaan diri siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun ajaran 2009 / 2010?.

b. Bagaimana profil penyesuaian sosial siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun ajaran 2009 / 2010?.

c. Apakah ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dan penyesuaian sosial siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun ajaran 2009 / 2010?.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

(7)

a. Tujuan Umum

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dan penyesuaian sosial siswa kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang Tahun ajaran 2009 / 2010

b. Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui profil kepercayaan diri siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun 2009 / 2010.

2) Untuk mengetahui profil penyesuaian sosial siswa kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun 2009 / 2010.

3) Untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dan penyesuaian sosial siswa kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun 2009 / 2010.

2. Kegunaan

a. Bagi Pimpinan Yayasan Purnama Kasih Kupang

Hasil penelitian ini menjadi masukan dan informasi bagi Pimpinan Yayasan agar mendapat gambaran tentang anak-anak yang mengalami masalah kurangnya kepercayaan diri dan mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial, sehingga dapat dicarikan cara penyelesaian masalah yang tepat.

b. Bagi Siswa Paket

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa-siswi agar mampu menerima diri apa adanya dan meningkatkan rasa percaya pada diri sendiri serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana mereka berada.

c. Bagi Para Pendamping

(8)

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan informasi dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan mengusahakan metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa dan memperhatikan penyesuaian sosial siswa terutama yang mengalami hambatan.

D. Penegasan konsep

Agar tidak terjadi kekeliruan penafsiran terhadap variabel penelitian, maka penulis perlu menjelaskan kembali konsep-konsep yang terdapat dalam judul penelitian ini yaitu:

“Hubungan antara kepercayaan diri dan penyesuaian sosial siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang Tahun 2009/ 2010”

Dari judul ditemukan dua variabel yaitu variabel kepercayaan diri yang merupakan variabel bebas dengan lambang “X” sedangkan penyesuaian sosial merupakan variabel terikat dengan lambang “Y”.

Setelah diuraikan variabel di atas maka dijelaskan konsep-konsep dalam judul sebagai berikut:

1. Hubungan

Michael H.Waliser, dkk (1986:55), menjelaskan bahwa hubungan adalah perubahan saling berpola dua variabel. Sejalan dengan pendapat ini, Poerwadarminta (1961:256) berpendapat bahwa hubungan adalah rangkaian yang menyebabkan berhubung atau yang menyebabkan tempat yang satu dengan yang lain /hal yang satu dengan hal yang lain.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hubungan antara kepercayaan diri dan

(9)

penyesuaian sosial siswa kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun 2009 / 2010.”

2. Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri merupakan keyakinan dalam diri seseorang untuk dapat menangani segala sesuatu dengan tenang. Kepercayaan diri merupakan keyakinan dalam diri yang berupa perasaan dan anggapan bahwa dirinya dalam keadaan baik sehingga memungkinkan individu tampil dan berperilaku dengan penuh keyakinan (Hambly, 1995:

3). Sedangkan Angelis (1997:10), menerangkan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia, untuk menghadapi tantangan hidup apapun dengan berbuat sesuatu. Setiap individu mempunyai hak untuk menikmati kebahagiaan dan kepuasan atas apa yang telah diperolehnya, tetapi itu akan sulit dirasakan apabila individu tersebut memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Mengacu kepada pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah suatu keyakinan yang dimiliki individu untuk mengembangkan penilaian positif terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapi.

3. Penyesuaian Sosial

Hurlock (1990:78) menyatakan bahwa penyesuaian sosial merupakan keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok pada khususnya. Menurut Jourard (Hurlock, 1990:79), salah satu indikasi penyesuaian sosial yang berhasil adalah kemampuan untuk menetapkan hubungan yang dekat dengan seseorang.

Selanjutnya dikatakan oleh Schneirders (Hurlock, 1990:79) penyesuaian sosial merupakan proses mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk

(10)

menyesuaikan diri dengan keinginan yang berasal dari dalam diri sendiri yang dapat diterima oleh lingkungannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyesuaian sosial merupakan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan kelompok, sesuai dengan keinginan dari dalam diri dan tuntutan lingkungan.

E. Anggapan Dasar dan Hipotesis 1. Anggapan Dasar

Menurut Surachman W. (1980:107) anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.

Selanjutnya Arikunto (1989:17), berpendapat bahwa Anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti dalam melaksanakan penelitiannya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa perlunya anggapan dasar adalah sebagai berikut:

a. Agar ada dasar untuk berpijak yang kokoh bagi masalah yang akan diteliti.

b. Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat penelitian dan perhatian.

c. Guna menentukan dan merumuskan hipotesis

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anggapan dasar atau postulat merupakan titik tolak atau pedoman kerja yang kokoh untuk mempertegas variabel guna menentukan dan merumuskan hipotesis dalam penelitian.

Mengacu pada pernyataan di atas dan berdasarkan teoritis yang dijadikan landasan maka anggapan dasar dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

a. Para siswa yang yakin akan kemampuan dan kekuatan dirinya, akan lebih mandiri dalam berperilaku dan bertanggung jawab sebagai peserta didik

(11)

b. Para siswa yang berhasil menjalankan perannya sebagai subyek didik akan lebih percaya diri.

c. Para siswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan mampu melakukan penyesuaian sosial dengan baik

2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian adalah suatu jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji melalui penelitian.

Sebagaimana dikatakan oleh Nasir (1993: 182) dalam buku Metodologi Penelitian

“Hipotesis merupakan pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja dan panduan dalam verifikasi”. Arikunto (1996:70) merumuskan bahwa berdasarkan isi dan rumusannya yang bermacam-macam hipotesis dapat dibedakan atas dua jenis yaitu:

a. Hipotesis Nol (Ho)

Hipotesis nol (Ho) sering juga disebut hipotesis statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Hipotesis nol menyatakan tidak ada hubungan antara variabel X dan Y. Hipotesis nol dalam penelitian ini berbunyi: Tidak ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dan penyesuaian sosial para siswa kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun ajaran 2009 / 2010.

b. Hipotesis Kerja (Ha)

Menyatakan ada hubungan antara variabel X dan Y.

Dalam kaitan dengan hipotesis kerja (Ha) penelitian ini maka rumusan hipotesis dapat diuraikan sebagai berikut: Ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dan

(12)

penyesuaian sosial para siswa Kelas II Paket B Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun ajaran 2009 / 2010.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Koentjaraningrat (1985:17) mengatakan bahwa kalau masalah sudah terpilih perlu ditetapkan ruang lingkupnya. Hal ini sangat penting supaya peneliti tidak terjerumus ke dalam kebingungan menghadapi berbagai data yang diteliti.

Berdasarkan pendapat di atas, pembatasan ruang lingkup diperlukan untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Dengan demikian penulis menjelaskan lokasi penelitian dan variabel penelitian, sebagai berikut:

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Yayasan Purnama Kasih Kupang tahun 2009 / 2010

2. Waktu penelitian

Waktu untuk penelitian ini, diperkirakan akan berlangsung selama lima (5) Bulan.

3. Variabel penelitian

Arikunto (1991:91), mengatakan bahwa:” Variabel penelitian merupakan obyek penelitian”. Sering pula dinyatakan bahwa variabel penelitian itu sebagai faktor-faktor yang berperan didalamnya atau gejala yang akan diteliti. Mengacu pada pendapat di atas maka dapat dirumuskan bahwa variabel adalah segala sesuatu yang menjadi obyek atau titik perhatian di dalam suatu penelitian.

Dari pengertian tersebut maka variabel yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

(13)

a. Variabel Kepercayaan Diri.

Variabel ini merupakan variabel bebas ( independent variable ) dengan berdasarkan teori dari Lauster (Fasikhah, 1994:28), maka aspek-aspek variabel kepercayaan diri sebagai berikut:

 percaya pada kemampuan sendiri

 bertindak mandiri dalam mengambil keputusan

 memiliki konsep diri positif

 berani mengungkapkan pendapat b. Variabel Penyesuaian Sosial.

Variabel penyesuaian sosial merupakan variabel terikat (dependent variable) dengan berdasarkan teori dari Hurlock, terjemahan Montesori Tjandrasa, (1988:287), maka aspek-aspek variabel penyesuaian sosial sebagai berikut:

 penampilan nyata

 penyesuaian diri terhadap berbagai kelompok

 sikap sosial

 kepuasan pribadi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :