• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYAMAKAN KULIT BULU DOMBA DENGAN METODE KHROM DALAM UPAYA PEMANFAATAN HASIL SAMPING PEMOTONGAN TERNAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENYAMAKAN KULIT BULU DOMBA DENGAN METODE KHROM DALAM UPAYA PEMANFAATAN HASIL SAMPING PEMOTONGAN TERNAK"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENYAMAKAN KULIT BULU DOMBA DENGAN METODE KHROM DALAM UPAYA PEMANFAATAN HASIL SAMPING

PEMOTONGAN TERNAK

ZULQOYAH LAYLA DAN SITI AMINAH

Balai Penelitian Ternak, PO Box 221 Bogor

RINGKASAN

Kulit mentah diantaranya kulit domba, merupakan hasil samping pada pemotongan ternak. Agar kulit ini dapat dimanfaatkan sehingga memiliki nilai jual, maka kulit mentah tersebut perlu mendapat perlakuan khusus. Penyamakan dengan bahan penyamak khromosol B dapat menghasilkan kulit bulu (fur) yang indah dan menarik, tahan terhadap kelembaban serta panas, tahan lama dan akan mudah diwarnai. Perlakuan pemanfaatan limbah kulit domba telah dikerjakan di Balitnak Bogor. Kulit mentah hasil pengulitan domba mati diawetkan dengan pengawet kering garam. Sebanyak 6 lembar disamak dengan bahan penyamak khrom berdasarkan metode penyamakan kulit bulu kelinci Rex yang telah dimodifikasi, sedang satu lembar kulit sebagai pembanding dikirim ke BBKKP Jogja untuk disamak. Kulit samak hasil pengerjaan di lab Balitnak Bogor, bila dinilai secara organoleptik dengan pembanding produk BBKKP, memang masih dibawah mutu, sehingga masih diperlukan peningkatan ketrampilan dalam memodifikasi formula bahan bahan kimia dan teknik pengerjaan.

Kata kunci : kulit bulu, penyamakan, khromosol B

PENDAHULUAN

Kulit bulu terutama kulit kambing atau domba merupakan hasil samping dari pemotongan hewan yang ada di rumah pemotongan hewan (RPH) maupun pemotongan diluar RPH. Hasil samping ini dapat dimanfaatkan sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pendapatan perkapita, maka kebutuhan barang barang dari kulit bulu juga meningkat, apalagi dengan semakin meningkatnya desain dan teknologi perkulitan dan keinginan kembali ke alam menjadikan barang kulit semakin banyak diminati (Hasyimi dkk, 1996/1997).

Kulit bulu mentah dapat dimanfaatkan setelah melalui proses penyamakan, sehingga diperoleh kulit bulu (fur) yang indah dan menarik (Judoamidjojo, 1984). Khusus untuk penyamakan kulit bulu dikenal beberapa metode penyamakan, yaitu samak chrom/mineral, samak sintetis, samak minyak dan samak nabati. Salah satu metode penyamakan kulit bulu yang dapat menghasilkan kulit bulu yang tahan lama, tahan kelembaban serta tahan panas adalah dengan penyamakan Khrom. Sifat kulit bulu samak khrom sangat menguntungkan, khusus bagi proses pewarnaan, karena dimungkinkan mewarnai segala macam bulu dengan terlebih dahulu dikerjakan dengan khrom (Judoamidjojo, 1984).

Untuk memanfaatkan hasil sampingan domba mati yang ada di kandang percobaan Balitnak Bogor, maka kulit bulu dari ternak yang mati dikuliti dan diawetkan dengan proses kering garam yang selanjutnya disamak.

Kegiatan penyamakan kulit bulu domba ini telah dilakukan di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Bogor berdasarkan metode penyamakan kulit bulu kelinci yang telah dimodifikasi

(2)

(Purnama, 2001). Penilaian organoleptik dilakukan untuk mengamati kepadatan bulu, kerontokan bulu, kilapan bulu dan penampilan bulu domba berdasarkan panduan yang dilakukan Sasanadharma (1992).

MATERI DAN METODE Materi

Digunakan tujuh lembar kulit domda Garut yang diawet garam. Kulit berasal dari ternak dengan umur yang berbeda sesuai dengan umur ternak yang mati pada waktu itu. Sebagai pembanding hasil pengerjaan, satu lembar kulit dikirim ke Balai Besar Kulit Karet dan Plastik (BBKKP) di Jogja untuk disamak. Digunakan bahan penyamak khrom dengan merk dagang Chromosol B. Bahan pembantu yang digunakan ialah teepol, hypoclorit, soda abu, formalin, asam semut, asam sulfat, minyak sulfat, indikator Brom Cresol Green (BCG)..

Alat yang dipergunakan ialah ember bertutup, baskom plastik besar, timbangan halus, timbangan kasar, pH meter, sarung tangan, kompor, termometer, gelas ukur.

Metode

Proses penyamakan kulit bulu domba di lakukan di laboratorium kandang percobaan Balitnak Bogor dari tanggal 1 – 4 September 2003. Metode yang dipakai dalam proses penyamakan kulit bulu adalah dengan penyamak khrom yang bermerk dagang Chromosol B.

Proses pengadukan atau peremasan dilakukan secara manual. Penilaian organoleptik terhadap kulit bulu, dilakukan untuk mengamati kepadatan bulu, kerontokan bulu, kilapan bulu dan penampilan bulu dengan menggunakan metode yang dilakukan Sasanadharma (1992), dengan pembanding kulit bulu domba hasil penyamakan dari BBKKP Jogja. Penelitian kepadatan bulu dilakukan dengan meraba kepadatan bulu dengan kisaran skala 1 – 5. Kepadatan bulu dengan nilai 1 = tidak padat; 2 = kurang padat; 3 = cukup padat; 4 = padat, dan 5 = padat sekali.

Penilaian kerontokan bulu dilakukan dengan cara mencabut bulu dengan tidak terlalu kuat. Bila bulu tersebut tercabut banyak, berarti bulu sangat rontok, sedangkan bila tercabut sangat sedikit atau tidak tercabut sama sekali, maka bulu termasuk tidak rontok. Pada penilaian kilapan bulu, dilakukan dengan mengusap bulu menggunakan tangan dari arah leher ke ekor dan sebaliknya beberapa kali dan diperhatikan kilapannya.

Skor untuk kilapan bulu: 1= tidak mengkilap; 2= kurang mengkilap; 3= cukup mengkilap;

4 = mengkilap; 5 = sangat mengkilap. Penilaian penampilan fur dilakukan dengan memperhatikan penampilan fur secara keseluruhan meliputi kelemasan kulit, kepadatan bulu, kilapan bulu. Skor penampilan fur adalah: 1 = tidak menarik; 2 = kurang menarik; 3 = cukup menarik; 4 = menarik; 5 = sangat menarik.

Teknik Pengerjaan

Perhitungan pemakaian bahan kimia dan air pada setiap tahapan pengerjaan adalah sebagai berikut:

ƒ Bobot kulit domba kering garam (6 lembar) =1080 gram

ƒ Bobot kulit setelah perendaman (bobot bloting /BB) = 2300 gram

(3)

Tabel 1. Perhitungan pemakaian bahan kimia dan air

Perlakuan Material Persentasi material Jumlah material

Soaking air 500 % dari BB 11.5 L

teepol 0.5 ml/l air 5.75 ml

Scouring air 200 % dari BB 4.6 L

teepol 3 ml/ l air 13.8 ml

soda abu 1 gr/ l air 4.6 gr

Furtight air 300 % dari BB 6.9 L

formalin 3 % dari BB 69 ml

soda abu 1 gr/ l air 6.9 gr

Pickling air 100 % dari BB 2.3L

Garam 10 % dari BB 230 gr

Asam semut 0.5 % dari BB 11.5 ml

asam sulfat 0.9 % dari BB 20.7 ml

Tanning cromosol B 10 % dari BB 230 gr

Basyting soda abu 2 % dari BB 46 gr

Netralisasi : kulit lembab di timbang sebagai wetblue 1700 gram

air 150 % dari WB 2550 ml

soda abu 1.5 % dari WB 25.5 gr

Retanning cromosol B 5 % dari WB 85 gr

air 200 % dari WB 3400 ml

Peminyakan air (45º) 80 % dari WB 1360 ml

minyak sulfat 8 % dari WB 136 ml

Kulit yang sudah diawetkan secara awet garam masing masing ditimbang, dicuci dalam ember plastik sampai bersih sebanyak 3-4 kali, air diganti selama ± 3 jam, diperas disampirkan dan ditiriskan, ditimbang sebagai berat bloting (BB).

Tahapan penyamakan kulit bulu domba adalah sebagai berikut:

1. Soaking yaitu merendam kulit dalam larutan teepol selama ± 2 jam sambil membersihkan / membuang sisa daging yang masih menempel pada kulit agar bahan penyamak dapat meresap ke bagian korium. Tujuan proses perendaman adalah mengembalikan kadar air dan melemaskan kulit sehingga kondisinya mendekati kulit segar, dan menyiapkan kulit untuk dapat bereaksi dengan bahan kimia yang akan diberikan kemudian. Bilas dengan air mengalir.

2. Scouring yaitu, merendam kulit sambil diremas-remas didalam larutan teepol dan soda ash.

Proses ini dilakukan selama 1 jam. Buang larutan perendam, bilas dengan air mengalir.

3. Furtight (penguatan bulu) yang bertujuan untuk menguatkan kedudukan bulu pada kulit, dengan merendam kulit dalam larutan yang mengandung formalin dan soda ash selama 1 jam sambil diremas-remas. Larutan perendam dibuang, kulit dibilas dengan air mengalir.

4. Pickling atau pengasaman. Proses ini dimaksudkan untuk membuat kulit dalam keadaan asam, sehingga pH kulit sesuai dengan pH zat penyamak yang digunakan (khrom). Mula- mula kulit direndam dalam larutan garam selama 15 menit sambil diremas-remas, kemudian kedalam wadah tersebut dimasukan asam semut dan asam sulfat sebanyak 1/3 bagian dari resep, kulit diremas selama 15 menit, tambahkan lagi asam semut dan asam sulfat 1/3

(4)

bagian, remas 15 menit, dan tambahkan lagi 1/3 bagian asam semut dan asam sulfat, remas- remas lagi selama 120 menit. Ukur pH larutan menjadi 3,0. Guna mengetahui pH atau keasaman kulit telah tercapai, irisan penampang kulit ditetesi dengan indicator BCG, sampai timbul warna kuning (pH sekitar 3.0 – 3.5). Kulit dibiarkan terendam semalam. Keesokan harinya kulit diangkat, diperas.

5. Tanning (penyamakan). Maksud penyamakan adalah agar kulit menjadi masak, sehingga zat-zat kulit yang mudah rusak menjadi tahan terhadap mikroorganisme.

6. Kulit diperas, diangkat. Kedalam larutan perendam ditambahkan Cromosol B, kulit dikembalikan kedalam larutan perendam untuk direndam selama 2 jam sambil diremas remas. Kematangan kulit diketahui dengan menetesi guntingan kulit yang berukuran 1x1 dengan indikator BCG, kulit harus berwarna kuning, selanjutnya merebus potongan kulit tersebut. Bila kulit hasil rebusan sudah tidak mengkerut, berarti proses pengasaman sudah selesai.

7. Basyting dengan cara menambahkan soda ash kedalam larutan diatas, kulit diremas-remas selama 1 jam, dikeluarkan dari rendaman , dituskan semalam.

8. Netralisasi. Proses ini dimaksudkan untuk menjadikan kulit dalam keadaan netral, karena kemungkinan masih adanya sisa asam yang terdapat pada serat serat kulit atau asam bebas lain yang belum hilang saat pencucian, sedangkan proses selanjutnya harus dikerjakan dalam suasana netral. Kulit yang masih lembab ditimbang (WB), direndam dalam larutan soda ash sambil diremas 1 jam. Proses netralisasi dianggap sempurna bila ketika penampang kulit ditetesi indikator BCG menimbulkan warna biru yang berarti pH kulit mencapai 5.5 – 7.0. Air rendaman dibuang, kulit diperas, dicuci dalam air mengalir selama ± 30 menit.

9. Retanning. Proses ini dimaksudkan agar kulit jadi yang dihasilkan keadaannya lebih padat.

Kulit yang sudah diperas dimasukan kedalam larutan Cromosol B, direndam sambil diremas selama 1jam. Air rendaman dibuang, kulit diperas.

10. Peminyakan dimaksudkan untuk melicinkan serat-serat kulit jadi yang dihasilkan, keadaannya lemas. Caranya yaitu dengan merendam kulit kedalam larutan minyak sulfat yang bersuhu 40ºC sambil diremas-remas selama 1jam. Kulit dituskan semalam dengan posisi dibentangkan pada bentangan bambu (disampirkan).

11. Perentangan, dilakukan pada bingkai ram kawat yang bertujuan untuk mengeringkan kulit.

Ujung ujung kulit ditarik dengan kawat berbentuk S, kemudian dikaitkan pada kisi-kisi kawat sedemikian rupa sehingga kulit terbentang rata dan cukup kencang.

12. Proses terahir ialah peregangan, dengan cara menggosok gosokkan permukaan kulit bagian dalam pada permukaan kayu yang licin, sehingga kulit menjadi lemas. Bulu –bulu dibersihkan dari kotoran dengan sikat kecil dan halus.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan organoleptik terhadap kulit bulu hasil samak dilakukan secara simplo oleh tiga orang. Hasil samak kulit bulu domba dengan penyamak khrom yang dilakukan di Balitnak Bogor, secara organoleptik belum dapat menyamai hasil samak pembanding. Secara keseluruhan hasil yang diperoleh adalah: kepadatan bulu, padat; kerontokan bulu, tidak rontok;

kilapan bulu cukup mengkilap; sedang penampilan bulu termasuk dalam kategori menarik. Pada

(5)

kulit bagian dalam, masih terdapat sisa lemak dan daging, ini disebabkan karena pada proses buang daging alat yang digunakan adalah pisau kecil biasa bukan alat husus untuk pembersih daging/ lemak.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Organoleptik Terhadap Bulu Domba Tersamak

Kepadatan Bulu Kerontokan Bulu Kilapan Bulu Penampilan Fur

Kontrol 5 Tidak Rontok 5 5

1 5 Tidak Rontok 2 4

2 5 Tidak Rontok 2 4

3 4 Tidak Rontok 3 4

4 4 Tidak Rontok 3 4

5 4 Tidak Rontok 3 4

6 4 Tidak Rontok 3 4

KESIMPULAN

Penyamakan kulit bulu domba dengan bahan penyamak chromium B dapat dipakai untuk memanfaatkan limbah pemotongan domba yang dilakukan di Balitnak Bogor dan memiliki nilai ekonomis. Diharapkan penyamakan sederhana ini dapat diterapkan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir. Nurhasanah Hidayati yang telah memfasilitasi kegiatan ini, Bapak R.Deni Purnama yang telah membimbing kami, dan rekan rekan teknisi kandang percobaan Bogor yang membantu kegiatan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hasyimi S, Budi Santoso H .1996/1997. Pengaruh Variasi Pemakaian Garam dan Sellatan P Terhadap Penyerapan Glutaraldehid Didalam Kulit. Majalah Barang Kulit, Karet dan Plastik, Vol.XII No.

24. Hal 30 - 34.

Judoamidjoyo, R.M. 1984. Teknik Penyamakan Kulit untuk pedesaan. PT Angkasa Bandung.

Purnama.R.D.2001.Teknik Penyamakan Kulit Bulu Kelinci Rex Dengan Bahan Penyamak Khrom.

Prosiding Lokakarya Fungsional Non Peneliti. Puslitbang Peternakan Bogor.

Sasanadharma.Y. 1992. Pengaruh Pengawetan Dan Metode Penyamakan Terhadap Sifat-sifat Kulit Samak Bulu Kelinci Rex. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hal 31-40

(6)

Skema Penyamakan Kulit Domba

Kulit Kering Garam

↓ Perendaman

↓ Scouring

↓ Penguatan Bulu

↓ Pengasaman

↓ Penyamakan

↓ Basyting

↓ Penetralan

Penyamakan Ulang

↓ Peminyakan

↓ Perentangan

Peregangan

Gambar

Tabel 1. Perhitungan pemakaian bahan kimia dan air
Tabel 2.  Hasil Pengamatan Organoleptik Terhadap Bulu Domba Tersamak

Referensi

Dokumen terkait

Pengamatan untuk mengetahui konsentrasi terbanyak pada pewarna alami kulit soga tingi dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi pada lama waktu 2 jam dan 3

Telah dilakukan penelitian untuk menurunkan total krom dan zat organik pada limbah industri penyamakan kulit dengan menggunakan nano TiO 2 yang dikompositkan dengan adsorben

Telah dilakukan penelitian untuk menurunkan total krom dan zat organik pada limbah industri penyamakan kulit dengan menggunakan nano TiO 2 yang dikompositkan dengan adsorben

Penelitian ini dilakukan untuk skrining toksisitas daun ketepeng, kulit buah pisang ambon dan kulit rimpang kencur menggunakan metode BSLT terhadap larva udang Artemia

Penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat suplementasi Permen Sapi® pada beberapa metode fermentasi kulit buah kakao

Pada penelitian selanjutnya yaitu Sistem Pakar Mendiagnosa Penyaki kulit wajah menggunakan metode Certainty Factor yang dilakukan oleh Fristi Riandari hasilnya aplikasi

Melalui kajian ini, dilakukan pelatihan sebagai sarana memperkenalkan metode pengelolaan kulit singkong menjadi pakan ternak yang murah dan mudah, yaitu dengan perendaman yang

Sistem pakar untuk mendiagnosis penyakit kulit pada kucing Persia menggunakan metode Fuzzy