EKONOMI MEDIA BIOS TV SURABAYA DALAM EVEN JAZZ TRETES 2016
Skripsi
Diajukan kepadaUniversitas Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar
Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom)
Oleh :
RIFDAH NIM. B96213109
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN KOMUNIKASI
ABSTRAK
RIFDAH, B96213109, 2017. Skripsi. Ekonomi Media Bios Tv Surabaya Dalam Even
Jazz Tretes 2016
Kata Kunci : Ekonomi Media, Ekspansi Bisnis Media, Even Jazz Tretes 2016.
Penelitian ini mengenai fenomena televisi lokal yang melakukan ekonomi media, dengan cara berekspansi bisnis dengan mengadakan sebuah even. Even memang dilihat masih sangat efektif dilakukan untuk televisi lokal, sebab even bisa menjadi ladang bisnis untuk memperoleh profit yang besar bagi perusahaan media. Dan BIOS TV adalah televisi lokal yang sedang melakukan ekspans bisnis media yaitu even.
Penelitian ini mengkaji tentang mengapa even Jazz Tretes 2016 sebagai lahan bisnis BIOS TV Surabaya dan bagaimana proses even Jazz Tretes 2016 sebagai lahan bisnis BIOS TV Surabaya. Sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menjelaskan dan memahami even Jazz Tretes 2016 sebagai lahan bisnis BIOS TV Surabayaserta proses even Jazz Tretes 2016 sebagai lahan bisnis BIOS TV Surabaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Integrated Marketing Communication (IMC) jenis penelitiannya adalah kualitatif deskriptif. Kemudian teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teknik analisis data menggunakan tiga alur kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori ekspansi media.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa even Jazz Tretes 2016 sebagai lahan bisnis BIOS TV Surabaya karena keuntungan besar dan target audience yang selalu tercapai. Sedangkan proses even Jazz Tretes 2016 sebagai lahan bisnis BIOS TV Surabaya yaitu adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang bagus serta strategi yang digunakan mampu membuat even berjalan lancar.
DAFTAR ISI
G. Kerangka Pikir Penelitian ... 15
H. Metode Penelitian ... 16
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 17
2. Subyek, Obyek dan Lokasi Penelitian ... 19
3. Jenis dan Sumber Data ... 20
4. Tahap-tahap Penelitian ... 21
5. Teknik Pengumpulan Data ... 23
6. Teknik Analisis Data ... 24
7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 27
I. Sistematika Pembahasan ... 28
BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kajian Pustaka ... 30
1. Industri Media ... 30
a. Pengertian Industri Media ... 30
b. Isu-isu Industri Media ... 32
2. Ekonomi Media ... 35
a. Pengertian Ekonomi Media ... 35
b. Isu-isu Ekonomi Media ... 42
c. Karakteristik Ekonomi pada Media ... 44
B. Kajian Teori ... 49
BAB III PENYAJIAN DATA
A. Deskripsi Subyek, Obyek dan Lokasi Penelitian ... 53
1. Deskripsi Subyek Penelitian ... 53
2. Deskripsi Obyek Penelitian ... 58
3. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 59
a. Sejarah BIOS TV Surabaya ... 59
b. Visi dan Misi ... 61
c. Struktur Organisasi ... 62
d. Profil perusahaan BIOS TV Surabaya ... 63
e. Logo BIOS TV ... 63
B. Deskripsi Hasil ... 64
1. Even Jazz Tretes 2016 Sebagai Ajang Bisnis BIOS TV Surabaya ... 65
a. Latar Belakang Melakukan Ekspansi Bisnis ... 65
b. Implementasi ... 68 A. Hasil Temuan Penelitian ... 85
1. Even Jazz Tretes 2016 Sebagai Ajang Bisnis BIOS TV Surabaya ... 85
a. Keuntungan Besar ... 87
B. Konfirmasi Temuan dan Teori ... 93
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 98
B. Rekomendasi ... 100
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Kerangka Pikir Penelitian ... 15
Gambar 3.1. Struktur Organiasi ... 62
Gambar 3.2. Logo Pertama BBS TV ... 63
Gambar 3.3. Logo Kedua BBS TV ... 63
Gambar 3.4. Logo Terakhir BBS TV ... 64
Gambar 3.5. Logo BIOS TV ... 64
Gambar 3.6. Logo Baru BIOS TV ... 64
Gambar 3.7. Flyer Jazz Tretes 2016... 73
Gambar 3.8. Denah Tempat Duduk Jazz Tretes 2016 ... 74
Gambar 3.9. Loading Crew On Air ... 77
BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Televisi sangat berperan terhadap manusia dan televisi merupakan
media yang paling cepat dalam menyampaikan suatu informasi kepada
khalayak. Hakekatnya televisi mempunyai kekuatan dalam mempengaruhi
atau mengubah pemikiran dan tindakan masyarakat. Gambar yang
dikombinasikan dengan suara alami adalah faktor yang membuat televisi
memberikan pengaruh atau dampak yang sangat kuat pada penonton.2 Pada
tahun 1928, seorang asal Amerika Serikat menemukan tabung kamera atau
iconscope yang dapat menangkap dan mengirim gambar ke kotak yang bernama televisi. Vladimir Zworkyn dengan bantuan Philo Farnsworth
berhasil menciptakan pesawat televisi pertama yang dipertunjukkan kepada
umum.3 Dalam perkembangan televisi, ialah ketatnya peraturan pemberian
izin yang dilakukan pihak penguasa.
Menurut Dennis Mcquail, televisi yang mulanya dipandang sebagai
barang mainan atau suatu penemuan serius atau sesuatu yang memberikan
sumbangan terhadap kehidupan sosial, kemudian berperan sebagai alat
pelayanan. Intinya, televisi lahir dengan memanfaatkan semua media yang
2
Burton, Graeme, Membincangkan TV Sebuah Pengantar Kajian TV, (Yogyakarta: Jalasutra,
2011) hlm 9 3
Morissan, Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio & Televisi (Jakarta:
2
sudah ada sebelumnya.4 Akibat dari perkembangan televisi, akan memberikan
pengaruh banyak terhadap kehidupan manusia, seperti ekonomi, politik,
sosial, budaya, hingga pertahanan dan keamanan.
Perkembangan media televisi saat ini semakin kuat, kehadiran media
televisi juga memberikan informasi, pengetahuan dan hiburan, salah satunya
adalah musik. Perkembangan industri musik di dunia semakin meningkat,
setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam mengembangkan atau
mengapresiasi seni di dalam kehidupan mereka, terutama seni musik. Di dunia
ini tidak terhitung jumlah musik yang ada karena perkembangan musik tidak
mengenal waktu dan tempat. Pada dasarnya keberadaan musik saat ini sulit
dipisahkan dari kehidupan masyarakat, dan seiring berkembangannya musik
saat ini yang berawal dari ragam musik di Indonesia yakni musik tradisional,
musik keroncong, musik dangdut, dan musik perjuangan. Bahkan di Indonesia
memiliki berbagai macam seni musik tradisional dan modern, sehingga setiap
daerah memiliki nuansa seni musik yang berbeda beda dan menjadi ciri khas
kebudayaan masing masing daerah.
Musik adalah sesuatu yang universal dan sangat fleksibel. Tidak ada
batasan tertentu yang bisa dijadikan patokan arti, konsep atau defenisi maupun
dari sisi stuktur dan juga instrumentasinya. Musik universal karena dapat
dinikmati oleh siapa saja, juga dimainkan oleh siapapun. Musik juga bisa
sebagai bahasa dalam kehidupan sehari-hari bagi komunitas tertentu, atau juga
dipakai sebagai simbol tertentu yang hanya dimengerti dalam individu tertentu
pula. Musik sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari hari dalam bentuk
4
3
audio maupun video, yang dimainkan dengan alat-alat musik konvensional
atau modern, bahkan juga dengan alat-alat musik tradisional. Berbagai ragam
atau jenis bentuk musik telah dihasilkan oleh berbagai komunitas yang ada di
dunia. Bentuk musik yang telah dihasilkan oleh komunitas ini lambat laun dan
pasti mereprentasikan identitas komunitas itu dengan sendirinya. Misalnya
saja musik yang berwarna jazz, dengan sendirinya mereprensentasikan bahwa
musik ini berasal dari Amerika.5
Namun seiring berkembangnya teknologi dan media televisi yang
masuk di Indonesia, masuk pula berbagai jenis musik barat, seperti pop, rock,
blues, r&b dan jazz. Kehadiran musik barat di Indonesia, membuat
masyarakat memilih dan mulai menyukai berbagai genre musik barat, salah
satunya adalah jazz.6 Dengan munculnya komunitas penikmat musik genre
tertentu, kini ada beberapa stasiun televisi yang membuat program musik
dengan hanya menyajikan satu jenis genre musik. Selain itu, banyak bermunculan event tahunan yang bertemakan jazz, seperti Java Jazz Festival, Jazz Goes To Campus, dan Jazz Gunung.
Even merupakan salah satu instrumen komunikasi yang banyak
dimanfaatkan oleh stasiun televisi untuk memperkenalkan diri kepada
khalayaknya. Pemanfaatan even yang digunakan sebagai alat promosi,
seringkali dinilai lebih efektif untuk memeperkenalkan kepada penonton
dibandingkan dengan alat komunikasi pemasaran yang lain, event yang
5
John F. Szwed, Memahami Dan Menikmati Jazz, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) hlm.
1 6
4
melibatkan targeted audience merupakan alat publikasi yang ampuh bagi stasiun televisi. Penyelenggaraan even oleh stasiun televisi biasanya dilakukan
dalam bentuk sponsorship.
Terdapat beberapa definisi yang membahas mengenai even. Salah satu
diantaranya adalah bahwa even didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang
diselenggarakan untuk memperingati hal-hal penting sepanjang hidup manusia
baik secara individu atau kelompok yang terikat secara adat, budaya, tradisi
dan agama. even diselenggarakan untuk tujuan dan waktu tertentu serta
melibatkan kelompok masyarakat7.
Salah satu stasiun televisi lokal Surabaya, BIOS TV yang berdiri pada
tahun 2008 yang sebelumnya dengan nama BBS TV ini turut menyajikan even
dengan konsep yang berbeda, evenini diberi nama Jazz Tretes 2016. Even yang
lokasinya di Finna Golf Prigen Pasuruan ini merupakan agenda BIOS TV yang
dapat menambah provit perusahaan. Lewat even jazz BIOS TV sebagai
penyelenggara even dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan sebagai media partner
yang menyediakan lokasi even. BIOS TV ingin menunjukkan bahwa musik jazz
bukan musik yang hanya bisa di nikmati untuk kaum manengah keatas ataupun
hanya orang-orang tua, pada dasarnya musik jazz bisa dinikmati oleh semua
kalangan.
Bedasarkan hal tersebut, penulis menganalisa ekonomi media yang
dilakukan oleh BIOS TV dalam even Jazz Tretes 2016. Oleh karena itu Penulis melakukan penelitian yang berjudul “Ekonomi Media BIOS TV
Surabaya Dalam Even Jazz Tretes 2016”.
7
5
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian diatas yang menjadi fokus penelitian ini adalah :
1. Mengapa even jazz Tretes 2016 sebagai ajang bisnis BIOS TV Surabaya ?
2. Bagaiman proses even jazz Tretes 2016 sebagai ajang bisnis BIOS TV
Surabaya ?
C. Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan fokus penelitian yang dipaparkan diatas, maka
penelitian yang akan dilakukan memiliki tujuan yaitu :
1. Untuk menjelaskan even jazz Tretes 2016 sebagai ajang bisnis BIOS TV
Surabaya.
2. Untuk memahami proses even jazz Tretes 2016 sebagai ajang bisnis BIOS
TV Surabaya.
D. Manfaat Penelitian
a. Teoretis
Secara teoritis penelitian ini memberikan konstribusi terhadap
perkembangan ilmu-ilmu sosial, khususnya ilmu komunikasi dalam bidang
ekonomi media. Serta dapat dipakai sebagai acuan bagi penelitian-penelitian
sejenis untuk tahapan selanjutnya.
b. Praktis
Manfaat secara praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi
6
E. Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian ini, penulis mencari
referensi hasil penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan pada fokus
penelitian yang ingin diteliti. Adapun penelitian terdahulu yang dapat
digunakan sebagai referensi.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmad Harianto, Mahasiswa Pasca
Sarjana Universitas Airlangga Surabaya, tahun 2013, dengan judul Ekonomi Media Televisi Lokal: Eksistensi Di Tengah Dominasi Televisi Nasional (Studi Pada Jawa Pos Televisi). Penelitian ini menggunakan metode survei kualitatif dengan teknik wawancara mendalam yang didukung dengan data
lain untuk memperkuatnya. Hasil penelitian menyebutkan JTV merupakan
ekspansi bisnis media Grup Jawa Pos di pertelevisian untuk memperluas
cakupan dan skala pasar media. Perbedaan penelitian terdahulu dengan
penelitian ini adalah subjek, objek, dan lokasi penelitian. Jika peneliti
terdahulu fokusnya pada pentingnya mengangkat konten dan kearifan lokal
dalam program siarannya untuk menarik audien dalam persaingan yang bisa
dikatakan tidak sehat di wilayah layanan Surabaya dan Jawa timur,
sedangkan yang diteliti oleh penulis yaitu event jazz dijadikan perantara agar
mendapat provit untuk BIOS TV dan sekaligus menarik audience. Hasil
penelitian menyebutkan JTV merupakan ekspansi bisnis media Grup Jawa
Pos di pertelevisian untuk memperluas cakupan dan skala pasar media.
Pendirian JTV dan televisi lokal lain di sejumlah daerah merupakan bentuk
7
Kajian terdahulu oleh Tutwuri Handayani Octavia, mahasiswa UIN
Sunan Ampel Surabaya, pada tahun 2016. Dengan judul skripsi “Strategi Bisnis NET TV Dalam Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Program Acara Indonesia Bagus.” Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan dianalisis
menggunakan teori Ekonomi Media. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa,
obyek yang dipilih peneliti terdahulu yaitu konten kearifan lokal mengikuti
tren media sampai saat ini dan strategi bisnis yang selalu mempertahankan
konten lokal dengan dikemas dalam beberapa segmen yang berkualitas dan
mendidik Indonesia yaitu memanfaatkan sumber daya yang terbatas untuk
memproduksi konten dan mendistribusikannya kepada khalayak untuk
memenuhi beragam permintaan akan kebutuhan informasi. Dalam hal ini
terdapat sebuah persamaan yaitu penggunaan pendekatan ekonomi media
dalam mengkaji suatu subjek. Perbedaannya terletak pada obyek penelitian
yaitu peneliti menggunakan obyek pada event jazz sedangkan pada penelitian
terdahulu menggunakan obyek penelitian stasiun televisi swasta NET TV.
Kajian terdahulu lainnya yaitu “Strategi SBO TV Dalam Mempertahankan Eksistensi Ditengah Persaingan Televisi Lokal Di Surabaya (Pendekatan Ekonomi Media)” yang dilakukan oleh Octarina Andanasari mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya program studi Ilmu
Komunikasi 2014. Fokus kajian penelitian ini diarahkan pada bidang
ekonomi media yang lebih banyak mendeskripsikan bagaimana strategi dan
upaya televisi swasta lokal dalam hal ini mengambil sampel SBO TV dalam
8
dari fenomena yang ada, permasalahan akan diajukan untuk dibahas lebih
dalam guna mengetahui bagaimana SBO TV sebagai salah satu stasiun
televisi swasta lokal berupaya untuk tetap bertahan di tengah kompetisi
stasiun televisi lokal yang kuat di Surabaya. Dalam hal ini terdapat sebuah
persamaan yaitu penggunaan pendekatan ekonomi media dalam mengkaji
suatu subjek. Perbedaannya terletak pada obyek penelitian yaitu peneliti
menggunakan obyek pada event jazz sedangkan pada penelitian terdahulu
menggunakan obyek penelitian stasiun televisi lokal SBO Surabaya.
F. Definisi Konsep
Konsep pada hakikatnya merupakan istilah, yaitu satu kata atau lebih
yang menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan)
tertentu.8 Untuk memperoleh pemahaman mengenai penelitian yang
dilakukan, maka penulis perlu menjelaskan definisi konsep sesuai dengan
judul. Hal itu dikarenakan untuk menghindari kesalah pahaman dalam
penelitian ini. Adanya pencantuman definisi konsep ini adalah untuk lebih
memudahkan pemahaman pembahasan dalam penelitian ini, peneliti akan
menjelaskan beberapa istilah yang erat kaitannya dengan penelitian. Konsep
maupun pengertian, merupakan unsur pokok dari sebuah penelitian. Bila
masalahnya serta kerangka teoritisnya sudah jelas, maka dengan mudah dapat
diketahui pula fakta mengenai gejala-gejala yang merupakan pusat perhatian.
Defenisi konsep itu sendiri secara singkat berarti sekelompak fakta atau
gejala. Seperti yang dikatakan oleh R.Merton bahwa konsep adalah definisi
dari apa yang perlu diamati. Konsep menentukan antara variabel-variabel
8
9
mana kita ingin menentukan adanya hubungan empiris9, diantaranya sebagai
berikut:
1. Ekonomi Media
Secara etimologi ekonomi adalah ilmu mengenai asas-asas produksi,
distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan,
perindustrian, dan perdagangan.10 Sedangkan media adalah alat (sarana)
komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk.
Ekonomi media adalah aktivitas kegiatan ekonomi dibidang media
atau aktivitas media dimasyarakat yang berpengaruh pada berbagai aktivitas
lainnya. Dengan demikian, ekonomi media juga berkaitan dengan berbagai
aspek bisnis, seperti strategi bisnis, kebijakan harga, persaingan dan aspek
yang berpengaruh pada industri dan bisnis media.11
Ekonomi media merupakan kombinasi antara studi ilmu ekonomi
dengan studi media dimana penekanannya terletak pada bagaimana perubahan
tekanan-tekanan ekonomi dapat mempengaruhi pengelola perusahaan media
dalam mengambil keputusan. Robert Picart menyebutkan penekanan ekonomi
media terletak pada bagaimana pelaku media dapat memenuhi penonton,
pemasang iklan serta masyarakat luas akan informasi hiburan berdasarkan
sumber yang ada.12
Ekonomi media mempelajari bagaimana industri media memanfaatkan
sumber daya yang terbatas untuk memproduksi konten dan
9
Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1981) hlm 32
10
Kamus Besar Bahasa Indonesia
11
Noor, Henry Faizal, Ekonomi Media. ( Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm 13
12
10
mendisribusikannya kepada khalayak dengan tujuan memenuhi beragam
permintaan dan kebutuhan akan informasi dan hiburan. Aspek ekonomi media
yang dilakukan BIOS TV adalah, bagaimana BIOS TV mendapatkan revenue
dari perusahaan dengan melakukan even. Dengan adanya even ini, BIOS TV
melakukan ekspansi di bidang bisnis media.
Ekonomi media sebagai kegiatan adalah aktivitas ekonomi di bidang
media, atau aktivitas media di masyarakat yang berpengaruh pada berbagai
aktivitas lainnya, seperti ekonomi, sosial, politik, keamanan dan lainnya.
Pengertian ini lebih dekat kepada pengertian aktivitas ekonomi lainnya, seperti
Ekonomi Pertanian, Ekonomi Industri, Ekonomi Transportasi, Ekonomi
Energi, dan sebagainya. Ekonomi media berkaitan dengan cara atau usaha
manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya (kebutuhan, atau needs,dan keinginan, atau wants).
Dengan demikian, ekonomi media juga berkaitan dengan berbagai
aspek bisnis, seperti strategi bisnis, kebijakan harga, persaingan, dan aspek
yang berpengaruh pada industri dan bisnis media. Dibandingkan dengan
bidang ekonomi lainnya ada suatu hal yang unik dalam ekonomi dan bisnis
media ini. Ekonomi atau bisnis lainnya, yang dihasilkan adalah barang dan
jasa menurut selera konsumen. Ini untuk memuaskan kebutuhan dan
keinginan konsumen yang spesifik (misalnya kebutuhan pakaian, sandang,
kendaraan, dan sebagainnya), sementara pendapatan perusahaan (revenue) berasal dari hasil pembelian barang dan jasa oleh konsumen.
Pada ekonomi atau bisnis media yang dihasilkan adalah informasi
11
selera redaktur media, baik cetak maupun elektronik. Sedangkan pendapatan
(revenue) perusahaan media utamanya berasal dari pemasangan iklan oleh pihak lain, yang notabenya bukan konsumen utama bisnis media. Selain itu,
keunikannya dalam bidang ekonomi lainnya timbul karena adanya kebutuhan
(permintaan) dari konsumen, yang lebih dikenal dengan istilah Demand Creates its own supply. Adapun ekonomi dan bisnis media, khususnya media penyiaran (broadcast media) justru sebaliknya, di mana produksi media justru menciptakan permintaan sendiri. Atau dalam ekonomi dikenal dengan istilah
Supply Creates its Own Demand. Dengan adanya produk media penyiaran, baik elektronik maupun cetak akan menimbulkan permintaan iklan
(Advertising Demand).
Pada ekonomi media atau bisnis pada umumnya, misinya adalah hanya
untuk mendapatkan laba untuk bisa going concern. Pada ekonomi atau bisnis media, selain misi untuk mendapatkan laba, juga punya misi lain (sosial atau
politik), yaitu bagaimana menyalurkan ide, pendapat atau opini tertentu yang
dianggap penting untuk masyarakat. 13
2. Bisnis media
Bisnis media adalah pengelolaan media secara ekonomi, atau usaha
(bisnis) media secara ekonomis dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
(konsumsi), baik individu, organisasi, maupun masyarakat, dan para pemangku
kepentingan (stakeholder) lainnya dalam rangka mencari laba. Bisnis media
13
12
mencakup tiga macam kategori yaitu bisnis media above the line (televisi, radio, majalah, billboard, Koran), bisnis media below the line (poster, event, brosur, merchandise, media alternative), dan bisnis media on line (jejaring sosial seperti facebook, twitter, forum online, media informasi online). Dari
tiga macam tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda yang mempunyai
komunitas yan berbeda pula.
Bisnis media merupakan aktifitas komersial yang dilakukan dengan
menggunakan media massa, sehingga sangat menarik untuk dikaji karena
memadukan tiga unsur, yaitu strategi, pemasaran, dan komunikasi. Kajian
tersebut lebih dikenal sebagai Integrated Marketing Communication. Bisnis media erat kaitannya dengan kegiatan advertising, dimana perkembangan dalam media massa sangat mempengaruhi bisnis media sejalan dengan
perkembangan bisnis iklan.
3. BIOS TV Surabaya
BIOS TV adalah sebuah perusahaan tv lokal Surabaya yang bertempat
studio BIOS TV di Puncak Permai III No.5-7 Tanjungsari Sukomanunggal
Surabaya. Kode Pos 60188. BIOS TV merupakan anak perusahaan dari PT.
BBS Group (Bama Bumi Sentosa) yang bergerak di bidang perminyakan,
sedangkan PT BBS Group mempunyai bagian IT dengan nama BIOS IT.
Latar belakang didirikannya stasiun TV lokal ini dengan nama BBS
TV karena sama dengan induk perusahaannya dan beralih ke BIOS TV karena
13
dengan kemasan baru dan tagline yang berbeda pula.14BIOS TV memperoleh izin mengudara secara lokal di Surabaya pada tanggal 1 September 2008
dengan nama BBS TV. Sejak Oktober 2009, BIOS TV telah mendapat IPP
(Izin Pelenggaraan Penyiaran) berdasarkan keputusan Menteri Komunikasi
dan Informatika R.I Nomor: 371/KEP/M.KOMINFO/10/2009.15
Jam mengudaranya dimulai pukul 04.00-24.00 WIB setiap harinya.
Jangkauan siarannya meliputi Kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan,
Pasuruan, Kamal, Bangkalan dan Kediri.
Televisi lokal yang dimiliki oleh BIOS ini mengambil segmen pemirsa
keluarga. Program yang ditayangkan sebagian besar hiburan dan edukasi.
BIOS TV bisa dinikmati di Channel 46 UHF dengan cakupan wilayah
Surabaya dan sekitarnya untuk dapat mengonsumsi informasi yang bermutu
dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial, agama dan hiburan
yang sifatnya informatif, komunikatif, edukatif dan tetap menjadi sebuah
produk kreatif yang mampu menghibur pemirsa pada media pertelevisian.
4. Even Jazz Tretes 2016
14
Data BIOS TV
15
14
Musik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ilmu atau seni
menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal
untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan
kesinambungan. Dan Jazz menurut Travis Jackson mendefinisikan dengan
lebih luas yang mampu mencakup seluruh era yang berbeda secara radikal: ia
menyatakan "Jazz adalah musik yang mencakup kualitas seperti berayun,
improvisasi, interaksi kelompok, mengembangkan sebuah suara individu dan
menjadi terbuka untuk kemungkinan musik yang berbeda." Krin Gabbard
mengklaim bahwa "Jazz adalah membangun atau kategori yang sementara
buatan, masih berguna untuk menunjuk sejumlah musik dengan cukup umum
harus dipahami sebagai bagian dari sebuah tradisi yang koheren."
Jazz Tretes 2016 adalah even yang lokasinya di Finna Golf Prigen
Pasuruan ini merupakan agenda BIOS TV yang dapat menambah provit
perusahaan. Lewat even jazz BIOS TV sebagai penyelenggara even dan
Pemerintah Kabupaten Pasuruan sebagai media partner yang menyediakan lokasi
even. BIOS TV ingin menunjukkan bahwa musik jazz bukan musik yang hanya
bisa di nikmati untuk kaum manengah keatas ataupun hanya orang-orang tua,
pada dasarnya musik jazz bisa dinikmati oleh semua kalangan. BIOS TV tidak
hanya sebagai penyelenggara even akan tetapi BIOS TV sekaligus menjadi
media penyiarannya juga, selain itu BIOS TV menjadi perencana even dan
15
Event ini dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2016 dimulai pada pukul 18.00 dan dengan gueststar KLA- Project.
Stasiun tv lokal seperti BIOS TV bila hanya bergantung pada
peng-iklan, ditengah eksistensinya yang masih dibilang baru maka untuk menambah
keuntungannya yaitu dengan mengadakan even-even dalam tenggang waktu
yang tidak terlalu jauh. Jazz Tretes 2016 juga sebagai ajang bisnis BIOS TV
karena sistim ticketing yang dilakukan akan menambah keuntungan, sedangkan pihak Pemerintah Kabupaten Pasuruan juga membuat anggaran
untuk even ini. Hal ini juga bisa menarik minat para pecinta musik ber-genre
16
Kerangka diatas menggambarkan proses penelitian yang akan
dilakukan oleh peneliti, dimana media yang menjadi obyek penelitian ini
adalah BIOS TV. Even jazz 2016 yang bekerja sama dengan Pemerintah
Kabupaten Pasuruan. Kegiatan jazz Tretes 2016 ini dilakukan karena melihat
realitas bisnis yang ada maka BIOS TV mengangkat tema Jazz Tretes 2016
sebagai even BIOS TV. Kerangka pikir penelitian dimaksudkan untuk
memberikan gambaran-gambaran tentang teori-teori yang akan digunakan
sebagai landasan penelitian Ekonomi Media BIOS TV Surabaya dalam Even
Jazz Tretes 2016 mengenai variabel-variabel permasalahan yang akan diteliti.
Penelitian ini tidak lepas dari adanya teori yang akan memandu penelitian
agar sesuai dengan apa yang diharapkan. Tujuan diadakannya even jazz ini
yaitu untuk meningkatkan pendapatan bagi perusahaan (revenue) dengan menggunakan Teori Ekonomi Media, Teori Ekspansi Diagonal. Ekonomi atau
bisnis media yang dihasilkan adalah informasi (dalam bentuk berita, hiburan
dan pendidikan) untuk khalayak menurut selera redaktur media, baik cetak
maupun elektronik. Sebab pendapatan perusahann (revenue) bila hanya mengandalkan iklan dari pihak lain akan sangat menguras biaya produksi di
perusahaan.
H. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah seperangkat pengetahuan tentang
langkah-langkah yang bnerkenaan dengan masalah tertentu yang diolah, dianalisis dan
diambil kesimpulan.16
16
17
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
a. Pendekatan Penelitian
Menurut, Nyoman Kutha Ratna mengungkapkan pengertian
mengenai pendekatan penelitian, yakni suatu cara mendekati atau
menjinakkan sehingga hakikat objek dapat diungkap sejelas mungkin.
Pendekatan memegang peranan pokok dalam penelitian kualitatif dengan
pertimbangan bahwa objek adalah abstraksi kenyataan yang
sesungguhnya. Pendekatan perlu ditampilkan dalam metode penelitian
karena setiap penelitian dilakukan dengan menampilkan sudut pandang,
perspektif tertentu yang pada gilirannya menunjukkan ciri-ciri dominasi
tertentu. Ratna menegaskan pula bahwa pendekatan memiliki hubungan
erat dengan model analisis yang akan digunakan.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pendekatan
Integrated Marketing Communication (IMC), yaitu metode komunikasi yang terdiri dari perencanaan, penciptaan, pengintegrasian dan penerapan
berbagai bentuk komunikasi pemasaran (iklan, sales promotion, publikasi,
event dan lain sebagainya)17. Selain itu Tom Duncan dan Sandra Moriarty mencatat bahwa IMC merupakan salah satu genarasi baru pendekatan
pemasaran yang digunakan oleh perusahaan untuk lebih memfokuskan
upaya mereka dalam memperoleh, mempertahankan, dan mengembangkan
hubungan dengan pelanggan dan stakeholder lainnya penulis
menggunakan pendekatan ini untuk mengkaji dan memaparkan secara
17
Shimp, T.A., Advertising, promotion , & other aspects of Integrated Marketing Communication,
18
rinci berdasarkan judul penelitian. disini peneliti hanya mengamati
konteks penelitian berupa ekonomi media BIOS TV Surabaya dengan even
jazz.
b. Jenis penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian
kualitatif, Penelitian kualitatif lebih menekankan pada persoalan
kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data. 18 Penelitian
kualitatif juga dapat diartikan salah satu metode untuk mendapat
kebenaran dan tergolong sebagai penelitian ilmiah yang dibangun atas
dasar teori-teori yang berkembang dari penelitian dan terkontrol atas dasar
empirik.
Jadi dalam penelitian kualitatif ini bukan hanya menyajikan data apa
adanya melainlkan juga berusaha menginterpretasikan korelasi sebagai
faktor yang ada, yang berlaku meliputi sudut pandang atau proses yang
sedang berlangsung. Penelitian kualitatif lebih menitikberatkan pada
observasi dan suasana alamiah (naturalistis setting). Peneliti bertindak
sebagai pengamat. Ia hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala,
dan mencatatnya dalam buku observasinya. Penelitian kualitatif
menggunakan teori sebagai acuan atau pedoman dalam melakukan
penelitiannya, bukan menguji teori seperti pada penelitian kuantitatif.19
18
Rahma Kriyanto, Teknis Praktis Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana, 2006) hlm 19. 19
19
2. Subyek dan Obyek Penelitian
a. Subyek Penelitian
Subyek penelitian disini merupakan sejumlah informan yang
dinilai bisa mendukung hasil penelitian nantinya. Dalam penelitian ini
yang menjadi informan untuk penggalian data yakni:
1. Wahyu Priambodo (General ManagerBIOS TV)
2. Anggun (Accounting Office BIOS TV)
3. Adi Prasetyo ( Marketing CommunicationBIOS TV) 4. Dwi Cahyo ( Eksekutif Produser BIOS TV)
5. Widi ( Dinas Pariwisata Pasuruan )
b. Obyek penelitian
Obyek penelitan ini adalah even jazz Tretes 2016 sebagai lahan
bisnis BIOS TV.
c. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini lokasi penelitian dilakukan di dua lokasi
yaitu:
1) BIOS TV Surabaya.
Penelitian ini dilakukan di BIOS TV karena, BIOS TV merupakan
televisi lokal yang aktif menyelenggarakan even di bidang bisnis media,
BIOS TV juga merupakan televisi lokal yang sedang berekspansi di
bidang bisnis media.
2) Tretes, Prigen Pasuruan.
Lokasi penelitian kedua yaitu di Tretes, Prigen Pasuruan. Tretes
20
dilaksanakan di kawasan wisata kelurga Tretes. Bertempat di lapangan
Finna Golf, even ini dilaksanakan. Tretes juga merupakan kawasan
wisata yang juga banyak menyediakan tempat wisata dan lokasi yang
tidak jauh dari jalan raya sehingga mudah untuk dijangkau. Tretes juga
memiliki keindahan alam serta kebudayaan yang kental, dengan berlatar
sejarah yang kuat. Ketiga hal tersebut dipadukan dengan konsep acara
teatrikal musik jazz.
3. Jenis dan Sumber Data
Berdasarkan sumbernya jenis data dibagi menjadi dua yaitu primer dan
data skunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari
sumber yang diteliti, dan diamati. Sedangkan data skunder adalah data yang
bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti.20
1) Data Primer, dalam hal ini peneliti mengambilda ta pimer dari
informan yaitu orang-orang yang benar-benar mengetahui tentang
event jazz Tretes 2016.
2) Data Skunder, dalam hal ini data yang dihimpun adalah
literatur-literatur yang mendukung data primer, seperti kamus, buku-buku yang
berhubungan dengan penelitian, internet, catatan kuliah, penelitian
terdahulu yang berkaitan dengan penelitian penulis, dan sebagainya.
Dan catatan-catatan saat peneliti melakukan observasi maupun
wawancara.
20
21
4. Tahap-tahap Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti melalui tahapan penelitian
sebagai berikut:
a. Tahap Pra penelitian
Yaitu tahap yang dilakukan sebelum melakukan penelitian. Berikut
adalah langkah-langkan dalam tahap persiapan :
1)Menyusun rancangan penelitian
Dalam tahap ini peneliti membuat proposal penelitian yang di
dalamnya membahas tentang judul penelitian yang akan diambil, rumusan
masalah, fokus penelitian, latar belakang mengapa penelitian ini dilakukan
dan lain sebagainya.
2)Membuat surat perizinan
Setelah membuat proposal penelitian dan disetujui, peneliti mulai
mengurus surat izin penelitian untuk melakukan tahapan-tahapan
berikutnya seperti wawancara atau observasi. Yakni mengurus surat
perizinan ke BIOS TV.
3)Menyiapkan perlengkapan penelitian
Pada tahap ini peneliti menyiapkan perlengkapan yang sekiranya
dibutuhkan dalam penelitian tersebut, seperti kamera, recorder, buku
catatan maupun laptop untuk tahap dokumentasi.
22
Selanjutnya peneliti mulai memilih dan memanfaatkan informan
untuk di mintai informasi tentang hal-hal yang diperlukan peneliti atau
melakukan wawancara dan pengamatan terlibat, dalam hal ini peneliti
mendata nama-nama informan yang harus diwawancara sehingga saat
terjun langsung ke lapangan, peneliti tidak bingung dalam menentukan
informan.
b. Tahap Pekerjaan Lapangan
Peneliti sebelumnya melakukan pendekatan kepada informan,
selanjutnya jika dirasa bahwa informan telah membuka diri sedikit-demi
sedikit, barulah peneliti melakukan wawancara kepada informan dengan
menggunakan perlengkapan yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah itu
peneliti melakukan pengamatan terlibat dengan memanfaatkan perlengkapan
yang telah dipersiapkan.
c. Tahap analisis data
Analisa data merupakan suatu tahap mengorganisasikan dan
mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar agar dapat
memudahkan dalam menentukan tema dan dapat merumuskan hipotesa kerja
yang sesuai dengan data. Pada tahap ini data yang diperoleh dari berbagai
sumber, dikumpulkan, diklasifikasikan, dan analisa dengan komparasi
konstan.
d. Laporan
Setelah tahap pekerjaan lapangan selesai, peneliti membuat laporan
yang berisi hasil dari penelitian yang sudah di lakukan dalam bentuk tulisan
23
5. Teknik Pengumpulan Data
Kegiatan penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang sangat
menjunjung tinggi validitas, realibilitas dan objektivitas serta konsistensi yang
tinggi bagi peneliti. Demikian juga dalam hal teknik pengumpulan data, harus
disesuaikan dengan persoalan, paradigma, teori dan metodologi. Proses
pengumpulan data dilakukan sebelum penelitian, pada saat penelitian, dan
bahkan di akhir penelitian. Creswell menyarankan bahwa peneliti kualitatif
sebaiknya sudah berpikir dan melakukan analisis ketika penelitian kualitatif
baru dimulai.21 Peneliti menggunakan 3 teknik dalam pengumpulan data,
yakni :
1) Wawancara mendalam (Indepth Interview)
Wawancara sebagai cara mendekatkan informasi dengan cara bertanya
langsung kepada informan. Tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan
informasi yang hanya akan dapat diperoleh dengan cara bertanya langsung.
Britha Mikkelsen mengatakan bahwa salah satu kekuatan wawancara informal
adalah membuat pertanyaan jadi relevan, karena selain dibangun atas dasar
pengamatan, pertanyaan juga disesuaikan dengan keadaan orang yang
diwawancarai22.
Teknik ini dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan panduan atau
pedoman wawancara yang telah disiapkan sesuai dengan fokus penelitian.
Teknik ini digunakan dengan wawancara secara mendalam oleh peneliti
21
Deddy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), Hlm.180.
22
24
sehingga mendapatkan informasi yang penting dan dibutuhkan dalam
penelitian ini.
2) Observasi terlibat (Partisipatory Observation)
Teknik ini dilakukan dengan cara terlibat langsung dalam aktivitas
keseharian subyek yang diteliti untuk mendekatkan diri antara peneliti dengan
yang diteliti. Dalam hal ini peneliti melebur secara aktif dengan pihak-pihak
yang akan dimintai informasi.
3) Dokumentasi
Dokumentasi merupakan data historis yang berisi data sosial dan fakta
dokumentasi, peneliti mencari dan mengumpulkan data-data tertulis yang
berhubungan dengan permasalahan yang tengah diteliti.
Dalam teknik yang terakhir ini peneliti melakukannya dengan cara
mencari dan mendokumentasikan segala informasi yang dapat mendukung
fokus penelitian. Dapat berupa gambar-gambar, foto-foto, dan
dokumen-dokumen tertulis. Dalam menggunakan ketiga teknik tersebut, peneliti
menggunakannya dengan cara bersamaan, karena ketiga teknik tersebut saling
menunjang dan saling mendukung.
6. Teknik Analisis Data
Menurut Maleong, analisis data adalah proses mengorganisasikan dan
mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga
dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang
disarankan oleh data.23 Peneliti berusaha menggambarkan dan menjelaskan
ekonomi media BIOS TV Surabaya untuk mendapatkan revenur. Analisis data
23
25
menurut Sugiono24 adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi,
dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam
unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang
penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah
difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Menurut Mattew B. Miles dan A. Michael Huberman,25 sebagaimana
dikutip oleh Basrowi dan suwandi yakni proses-proses analisis data kualitatif
dapat dijelaskan dalam tiga langkah yaitu:
a. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar”
yang muncul dari càtatan-catatan tertulis di lapangan. Sebagaimana kita
ketahui, reduksa data, berlangsung terus-menerus selama proyek yang
berorientasi kualitatif berlangsung. Sebenarnya bahkan sebelum data
benar-benar terkimpul, antisipasi ákan adanya reduksi data sudah tampak
waktu penelitinya memutuskan (acapkali tanpa disadari sepenuhnya)
kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian, dan
pendekátan pengumpulan data yang mana yang dipilihnya. Selama
pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya
(membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, rnembuat gugus-gugus,
24
Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta. 2005), hlm. 89
25
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.
26
membuat partisi, menulis memo). Reduksi data/proses-transformasi ini
berlanjut terusn sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap
tersusun.
b. Penyajian Data
Alur penting yang kedua dan kegiatan analisis adalah penyajian
data. Miles dan Huberman membatasi suatu “penyajian” sebagai
sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya
penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Béraneka penyajian
yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mulai dati alat
pengukur bensin, surat kabar, sampai layar komputer. Dengan melihat
penyajian-penyajian kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi
dan apa yang harus dilakukan lebih jauh mengailalisis ataukah mengambil
tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dan
penyajian-penyajian tersebut.
c. Menarik Kesimpulan/ Verifikasi
Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan
dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis
kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan.
penjelasan, konfigurasi-koritigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan
proposisi. Kesimpulan-kesimpulan “final” mungkin tidak muncul sampai
pengumpulan data berakhir, tergantung pada besarnya
kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode
pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan-tuntutan
27
sebelumnya sejak awal, sekalipun seorang peneliti menyatakan telah
melanjutkannya “secara induktif”. Penarikan kesimpulan, dalam
pandangan Miles dan Huberman, hanyalah sebagian dan satu kegiatan dan
konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama
penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran
kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis selama ia menulis, suatu
tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, atau mungkin menjadi
begitu seksama dan memakan tenaga dengan peninjauan kembali serta
tukar pikiran di antara teman sejawat untuk mengembangkan “kesepakatan
intersubjektif,” atau juga upaya-upaya yang luas untuk menempatkan
salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Singkatnya,
makna-makna yang muncul dan data harus diuji kebenarannya,
kekokohannya, dan kecocokannya, yakni yang merupakañ validitasnya
7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telah
terkumpul, perlu dilakukan pengecekan dan keabsahan data, ketentuan
pengamatan dilakukan dengan teknik pengamatan, rinci dan terus menerus
selama proses penelitian berlangsung yang diikuti dengan kegiatan wawancara
serta intensif kepada subyek agar data yang dihasilkan terhindar dari hal-hal
yang tidak diinginkan.
a. Triangulasi
Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang
28
keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.26
Dalam hal ini, triangulasi antara teori sebagai penjelas akan dibandingkan
dengan data yang ada (rival explanation).
Dalam penelitian ini, ekspansi media yang digunakan akan
dibandingkan dengan data-data yang telah didapat melalui berbagai proses
pengumpulan data.
b. Penggalian data melalui referensi yang memadai.
Peneliti berusaha mengumpulkan literatur sebanyak mungkin
berupa buku-buku komunikasi, buku-buku yang membahas metode
penelitian kualitatif sebagai referensi dan bahan perbandingan dengan
data-data yang terkumpul melalui proses pengumpulan data.
I. Sistematika Laporan Penelitian
BAB I : PENDAHULUAN. Dalam bab ini meliputi konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian hasil penelitian
terdahulu, definisi konsep, kerangka pikir penelitian, dan metode penelitian,
yang di dalamnya membahas tantang pendekatan dan jenis penelitian, teknik
pengumpulan data, serta teknik analisis data dan teknik pemeriksaan keabsahan
data.
BAB II : KAJIAN TEORI. Bab ini berisi mengenai teori dari buku-buku yang ditemukan peneliti guna mendukung judul dari penelitian ini dan model
metodologi penelitian yang diterapkan dalam menganalisis data.
BAB III : HASIL PENELITIAN. Bab ini berisi data yang meliputi Deskripsi Subyek Penelitian dan Deskripsi Data Penelitian.
26
29
BAB IV : PEMBAHASAN. Bab keempat dalam laporan penelitian ini berisi mengenai analisis hasil isi penelitian yang diperoleh peneliti sesuai dengan
ekonomi media BIOS TV melalui even jazz Tretes 2016 yang dikonkritkan
dengan teori Ekonomi Media.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Kajian Pustaka
1. Industri Media
a. Pengertian Industri Media
Istilah „media‟ berasal dari bahasa Latin (tunggal: medium) yang berarti
„sesuatu yang ada di antara‟ atau „muncul secara publik‟ atau „ada bagi publik‟,
sebuah locus publicus, ruang publik. Dengan demikian, hakikat media tidak dapat dipisahkan dari keterhubungan antara ranah publik dan privat. Media
menjadi perantara („mediating‟) dua wilayah ini untuk menciptakan atau
menemukan kemungkinan (atau ketidakmungkinan) terciptanya hidup bersama.
Menurut KBBI, industri27 adalah kegiatan memproses atau mengolah
barang dengan menggunakan sarana dan peralatan. Sedangkan Media28 adalah
alat, sarana, bisa seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan
spanduk. Media memainkan peran penting dalam kehidupan publik saat ini.
Bahkan secara etimologis, kata „media‟ memiliki makna locus publicus, sebuah
ranah publik. Akan tetapi, seperti yang mungkin juga terjadi di negara-negara
lain, media di Indonesia tampak semakin digerakkan oleh motif keuntungan.
Meskipun demikian, pemahaman lebih lanjut melihat bahwa media tetaplah
27
http://kbbi.web.id/industri
28
31
sebuah ranah yang diperebutkan oleh berbagai kelompok kepentingan, mulai
dari politik dan bisnis hingga blok-blok religius-fundamentalis, yang bersaing
untuk meraih kendali dan pengaruh, meskipun terlihat jelas satu pihak memiliki
kekuasaan lebih dibanding lainnya. Media terlihat dikendalikan oleh akumulasi
modal, sehingga industri dapat mengelak dari peraturan-peraturan yang ada,
dan pada gilirannya menyebabkan diperbolehkannya penguatan bisnis media
melalui akuisisi kanal maupun perusahaan media lain, dengan jumlah yang
tidak terbatas.
Pertumbuhan industri media di manapun berkaitan erat dengan sistem
ekonomi politik begitupun yang terjadi di Indonesia. Lanskap industri media di
Indonesia sangatlah dinamis. Media terus menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari kehidupan manusia, oleh karena itu perkembangan industri media selalu
penting bagi masyarakat. Meskipun begitu, ada langkah-langkah yang perlu
diambil untuk memastikan bahwa industri mengutamakan pelayanan pada
kepentingan masyarakat, karena kita tidak bisa menyerahkan hidup bersama
kita semata pada logika bisnis.
Dalam bisnis media29, profit didapat dari konten melalui iklan.
Pertumbuhan iklan di Indonesia disebabkan oleh stabilnya pertumbuhan
ekonomi, serta didorong oleh kuatnya konsumsi dan permintaan domestik.
Semakin banyak konten yang dikonsumsi oleh pemirsa: semakin besar profit
29
KART, Bernard , Komunikasi Bisnis Praktis, (Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1994) Hlm.
32
yang akan diperoleh oleh media. Peraturannya sangat jelas, operator media
harus berusaha sebisa mungkin, untuk dapat menciptakan konten yang menarik
sebanyak mungkin pemirsa. Pemikiran seperti ini sangat logis dan jelas dalam
bisnis media dan sepertinya tidak menimbulkan masalah yang serius. Tetapi hal
ini terus berlanjut, untuk menjaga permintaan konten yang menguntungkan agar
tetap tinggi, share pemirsa harus dijaga sedemikian rupa dengan cara memanipulasi kebutuhan konsumen. Terlebih lagi, untuk meraih keuntungan
lebih, konten harus diproduksi dan didistribusikan dengan cara yang lebih
ekonomis. Turunan dari logika ini sangat merusak, tetapi inilah yang sedang
terjadi pada media di Indonesia.
Bisnis penyedia konten dan bisnis iklan telah berkembang seiring
dengan perkembangan industri media. Dari sisi iklan, bisnis televisi memang
menggiurkan untuk menghasilkan uang yang besar. Iming-iming pendapatan
besar dari iklan inilah yang menjadi daya tarik sebagian besar pemiliki televisi
lokal untuk mendirikan stasiun televisi swasta lokal di awal kemunculannya.
b. Isu utama dalam industri media di Indonesia.30
Pertama, Konten. Sebagaimana telah didiskusikan di bagian awal
laporan ini, konten telah menjadi sebuah isu yang menghubungkan aspek-aspek
dalam media mulai dari hulu (produksi) hingga hilir (distribusi). Meskipun
begitu, inti dari isu konten dapat terkait dengan alasan utama eksistensi media,
30
Dan B. Curtis , James J Dkk, Komunikasi Bisnis dan Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya
33
yaitu menyediakan ruang publik untuk warga negera agar dapat terlibat dalam
sebuah masyarakat yang demokratis dan rasional. Konten media adalah media
itu sendiri di mana dengannya warga dapat terlibat, dan pesan dari media itu,
yang melaluinya warga dapat terlibat.
Di satu sisi, produksi konten harus didasarkan pada, dan cerminan dari,
kebutuhan warga negara. Namun, gagasan tentang „kebutuhan‟ sendiri cukup
problematis karena sangat mudah disalahartikan sebagai „keinginan‟: tidak
semua yang diinginkan adalah yang dibutuhkan. Tetapi, bisnis, termasuk media,
beroperasi tepat di logika „merekayasa keinginan manusia‟ dan mengartikannya
sebagai „kebutuhan manusia‟.
Secara teoritis, satu kebaikan media adalah bahwa media mempunyai
kekuatan untuk mendidik warga mengenai apa yang mereka butuhkan, bukan
sekedar apa yang mereka inginkan. Media harus, dan sudah seharusnya,
mendidik dan „memberadabkan publik‟ melalui kontennya.
Kedua, Perkembangan Tekno-ekonomi. Sementara motif profit sudah
secara jelas menjadi pendorong utama perkembangan industri media saat ini,
inovasi dalam teknologi media juga menjadi faktor yang tidak kalah
pentingnya. Kemajuan teknologi, khususnya internet dan media baru, telah
mengubah struktur dan model bisnis media. Kemajuan teknologi tidak hanya
menyediakan platform baru untuk distribusi konten seperti saat ini, tetapi juga
untuk konvergensi media dan strategi digitalisasi yang akan datang. Tetapi,
34
perkembangan teknologi dan ekonomi. Ketika kebijakan-kebijakan yang ada
saat ini tidak dijalankan untuk membatasi konsentrasi kepemilikan media,
belum ada kebijakan yang disiapkan untuk mengantisipasi dampak dari
model-model bisnis baru yang berkembang, sebagai konsekuensi dari konvergensi dan
digitalisasi media yang akan datang. Sebagian besar peraturan media hanya
terfokus pada konten (terlepas dari ketidakmampuannya untuk menjamin
keberagaman), dan mengabaikan cara-cara di mana praktik-praktik bisnis baru
akan berdampak terhadap hak warga dalam bermedia.
Ketiga, Kebijakan Media. Kebijakan-kebijakan yang ada saat ini amat
tertinggal di belakang perkembangan bisnis media. Beberapa kebijakan
sebenarnya telah dirumuskan dengan baik, namun diimplementasikan secara
buruk. Kebijakan lainnya terlalu ambigu dan secara sengaja diterjemahkan
sebagai hal yang menguntungkan bisnis media. KIDP mengajukan tuntutan
mengenai UU Penyiaran no. 32/2002 Pasal 18 (1) dan Pasal 34 (4). Meskipun
kedua pasal tersebut mengatur kepemilikan dan membatasi jumlah izin yang
diberikan kepada institusi penyiaran tunggal, tidak ada pernyataan yang jelas
bagaimana efek yang diberikan oleh pembatasan ini. Interpretasi yang tidak
jelas dari pasal-pasal ini di interpretasikan oleh KIDP sebagai dukungan legal
atas konglomerasi di bisnis media, yang telah memiliki dampak sangat besar
dalam hal akses media dan konten.
Keempat, Bias Keterwakilan. Sepertinya saat ini lebih jelas terlihat,
35
kepentingan warga atau negara. Hal ini terkadang terlihat sebagai sebuah
standar ganda: sensitif terhadap kegagalan-kegagalan di badan-badan publik
atau komunitas sipil, tetapi tidak sensitif terhadap kegagalan-kegagalan yang
sama pentingnya di sektor pasar, terutama yang berdampak pada dunia
korporasi swasta.
2. Ekonomi Media
a. Pengertian Ekonomi Media
Ekonomi menurut Samuelson dan Nordhaus31, adalah studi tentang
bagaimana manusia menggunakan sumber-sumber yang terbatas untuk
memproduksi komoditas dan mendistribusikannya kepada manusia atau
kelompok manusia lainnya. Dari definisi tersebut, ada tiga konsep pokok dalam
ekonomi: sumber (segala sesuatu yang digunakan untuk memproduksi barang
dan jasa), produksi (penciptaan barang dan jasa untuk konsumsi), serta
konsumsi (penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan).
Media secara umum bisa didefinisikan sebagai sarana atau perantara
atau penyebar dalam suatu proses komunikasi. Melalui media, pesan
terdistribusikan ke khalayak. Dalam konteks ekonomi, media adalah institusi
bisnis atau institusi ekonomi yang memproduksi dan menyebarkan informasi,
pengetahuan, pendidikan, dan hiburan kepada konsumen yang menjadi target.
Termasuk media, antara lain televisi, radio, surat kabar, majalah, tabloid, buku,
31
36
iklan, public relation, film, serta rekaman. Dalam konteks ekonomi media, televisi, radio, surat kabar, dan media lainnya tentu harus dipandang sebagai
industry atau institusi bisnis.
Albarran mendefinisikan ekonomi media sebagai studi tentang
bagaimana industri media menggunakan sumber-sumber yang terbatas untuk
menghasilkan jasa yang didistribusikan kepada konsumen dalam masyarakat
untuk memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan. Dalam konteks ekonomi,
media merupakan institusi bisnis atau institusi ekonomi yang memproduksi dan
menyebarkan informasi, pengetahuan, pendidikan, dan hiburan kepada
konsumen yang menjadi target. McQuail32, melihat teori media ekonomi-politik
sebagai sebuah pendekatan yang berfokus pada hubungan antara struktur
ekonomi dan dinamika industri media dengan muatan (content) ideologi media. Teori ini menjelaskan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan
mengarahkan perhatian penelitian pada analisis empiris terhadap struktur
pemilikan dan mekanisme kerja kekuatan pasar media. Berdasarkan tinjauan
ini, institusi media harus dipandang sebagai bagian dari dari sistem ekonomi,
yang juga berkaitan erat dengan sistem politik.
Ekonomi media adalah aktivitas ekonomi dibidang media, atau aktivitas
media dimasyarakat yang berpengaruh pada berbagai aktivitas lainnya.
32
37
Sedangankan bisnis media adalah pengelolaan media secara ekonomi, atau
usaha (bisnis) media secara ekonomis dalam memenuhi kebutuhan dan
keinginan (konsumsi), baik indivisu, organisasi, maupun masyakarat, dan para
pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya dalam rangka mencari laba. Perkembangan media massa modern menempatkan media tidak lagi dipahami
dalam konteks sebagai institusi sosial dan politik belaka melainkan juga harus dilihat
dalam konteks institusi ekonomi. Fakta menunjukkan bahwa media telah tumbuh
bukan saja sebagai alat sosial, politik dan budaya tapi juga sebagai perusahaan yang
menekankan keuntungan ekonomi. Institusi media harus dinilai sebagai dari sistem
ekonomi yang juga bertalian erat dengan sistem politik. Inilah yang dimaksudkan
bahwa media mempunyai dua karakter yang tak terpisahkan: karakter
sosial-budaya-politik dan karakter ekonomi. Faktor ekonomi rupanya menjadi faktor penentu dalam
mempengaruhi seluruh perilaku media massa modern.
Faktor pasar bebas dalam seluruh proses komunikasi massa memberikan
kontribusi yang tidak sedikit dalam membentuk faktor persaingan dan tuntutan
ekonomi menjadi pertimbangan bagaimana media massa kontemporer dibentuk dan
dikelola. Industry media tanpa memahami kekuatan yang mempengaruhi media
terlebih dahulu. Bagian-bagian dari sebuah institusi media tidak pernah bekerja di luar
konteks social yang luas, termasuk konteks ekonomi.
Ekonomi media mempelajari bagaimana industri media memanfaatkan
sumber daya yang terbatas untuk memproduksi konten dan mendistribusikannya
kepada khalayak dengan tujuan memenuhi beragam permintaan dan kebutuhan akan
38
penuh dengan dinamika sosial, politik dan budaya juga menjadi kekuatan ekonomi
yang mampu menghasilkan surplus. Media menjadi medium iklan utama dan
karenanya menjadi penghubung dan konsumsi, antara produsen barang dan jasa dengan
masyarakat.
Gillian Doyle menyatakan33 untuk memahami apa yang menarik dari
kajian ekonomi media adalah mempertimbangkan karakteristik media secara
menyeluruh yang itu bisa membedakan dari area aktifitas ekonomi lainnya.
Gillian sedikitnya menyebutkan ada tiga karakteristik kunci dari ekonomi
media.
Pertama, perusahaan media acap kali menjual atau melempar produk
mereka ke dalam dua jenis pasar yang terpisah dan berbeda. Hal ini
dikarenakan perusahaan media merupakan perusahaan yang unik. Seperti
diketahui, komoditas utama perusahaan media adalah konten (program televisi,
surat kabar, artikel majalah dsb.) dan penonton. Konten yang dikonsumsi
penenonton dapat membentuk “output yang pertama” yang dapat dijual,
selanjutnya penonton merasa tertarik yang mana ketertarikan tersebut
menupakan “output yang kedua”. Ketertarikan tersebut memudahkan
perusahaan media untuk membentuk mindset penonton yang mana bentukan
mindset itulah yang akan dijual kepada perusahaan periklanan. Penonton merupakan modal bagi perusahaan media untuk menarik perusahaan iklan.
33
39
Kedua, konten media dapat diklasifikasikan sebagai nilai budaya. Film,
siaran televisi, buku dan musik tidak semata-mata produk komersil, namun
mereka juga memberi nilai tambah pada lingkup kebudayaan. Kebanyakan
nilai-nilai budaya lebih mudah ditangkap oleh penonton dibanding dengan
informasi yang sejatinya menjadi muatan sebuah siaran atau berita.
Ketiga, perusahaan media merupakan barang publik. Hal ini bermakna
bahwa ketika program televisi, surat kabar, artikel majalah dan sebagainya
dinikmati seseorang, bukan berarti orang lain tidak dapat menikmatinya karena
sebuah tontonan atau artikel dan sebagainya, tidak akan habis jika ditonton atau
dibaca beberapa orang sekaligus dalam waktu yang sama. Berbeda dengan
barang pribadi seperti roti, jika seseorang telah menikmati roti tersebut, maka
orang lain tidak dapat menikmatinya. Untuk itu barang pribadi yang mana
menggunakan sumber-sumber yang terbatas, perlu dirasionalisasi melalui pasar
dan harga. Dihampir semua negara yang maju ekonominya, televisi adalah
komponen terbesar dari industri media. Di Inggris, televisi menyedot 28 persen
dari total belanja iklan. Di Amerika, tercatat lebih dari 20 persen dari semua
pendapatan media. Jumlah itu bisa lebih besar lagi karena bisa jadi terbagi
dalam komponen penyiaran dan produksi program, meski beberapa televisi
menjalankan kedua aktifitas tersebut.34
Pada awalnya, karakteristik penyiaran terbentuk dari suatu aktifitas
diluar konsep ekonomi. Ketika signal siaran radio berhasil dipancarkan sekitar
34
40
tahun 1920, persoalan yang dihadapi saat itu adalah bagaimana bisa
mendapatkan uang dari mereka yang menerima hasil aktifitas siaran tersebut.
Saat itu belum ada mekanisme yang jelas bagaimana menggambarkan
pendengar dan memungut iuran dari mereka. Belum ditemukannya metode
khusus bagaimana mengetahui keinginan pendengar atau penonton sehingga
bisa dipenuhi inilah, apa yang disebut saat itu sebagai kegagalan pasar dunia
penyiaran. Karena dalam kondisi pasar yang normal kebutuhan bisa dipenuhi
jika diketahui ada permintaan dan penawaran. Dua model pendekatan dilakukan
saat itu untuk mengatasi persoalan apa yang disebut sebagai kegagalan pasar
tersebut. Di Inggris, pemerintah memilih mendanai siaran itu dari iuran yang
diambilkan dari warga yang memiliki televisi. Sementara di Amerika, industri
penyiaran telah mengembangkan model berbasis pendanaan dari sponsor.35
Namun berkat iklan, masalah tersebut dapat diatasi. Seperti diketahui
bahwa siaran televisi dewasa ini menghasilkan dua produk untuk dijual ke
dalam pasar yang sama. Pertama, layanan program televisi itu sendiri. Kedua,
penonton. Siaran televisi menyediakan akses secara langsung kepada penonton.
Akses kepada penonton inilah yang menjadi daya jual bagi televisi kepada
perusahaan periklanan. Ukuran yang digunakan perusahaan televisi untuk
menentukan tarif slot iklan kepada perusahaan iklan biasanya adalah besarnya
jumlah penonton dan durasi waktu iklan. Untuk ukuran yang berdasarkan
35
41
besarnya jumlah penonton dapat dilihat melalui prediksi ataupun perolehan
rating penonton pada sebuah acara. Jika rating tinggi maka tarif iklan juga
tinggi, sebaliknya jika rating rendah, maka tarif iklan juga rendah. Biaya
margin untuk memancarkan siaran televisi adalah nol meskipun hal ini
bergantung pada sebuah sistem distribusi. Pada sebuah siaran televisi dan siaran
radio yang standar maka sekali lagi biaya marginnya adalah nol, berbeda
dengan pemancar yang dibangun khusus untuk mendapat penonton atau
pendengar yang lebih luas. Seperti pada televisi kabel, jaringan menjadi unsur
biaya harus dimasukkan dalam penghitungan. Karakteristik ini memiliki
implikasi keuangan pada saluran televisi yang baru. Ketika sebuah saluran
televisi diluncurkan ke publik, satu-satunya cara untuk menarik penonton
adalah melalui program-program yang menarik yang mana program menarik
identik dengan biaya tinggi. Hal ini menjadi tantangan bagi televisi untuk
memilih. Pertama, apakah berinvestasi melalui program yang menarik
(berakibat pada naiknya rating) dengan konsekuensi biaya yang dibutuhkan
tinggi tanpa memperhatikan apakah pendapatan yang diterima dapat menutup
biaya, ataukah Kedua, dengan berinvestasi melalui program biaya rendah yang
bisa berakibat pada turunnya rating. Masing-masing pilihan memiliki nilai
positif dan negatif. Dalam dunia pertelevisian, biaya untuk memproduksi
sebuah program relatif tetap karena tidak terkait dengan variabel-variabel yang
mempengaruhinya (misal jumlah penonton). Maka untuk mengantisipasi
42
harus menetapkan batas minimal jumlah penonton yang dapat diraih. Jika
jumlah penonton dibawah batas minimal, maka perusahaan televisi tersebut
akan mengalami kerugian. Sedangkan jika jumlah penonton diatas batas
minimal, maka kemungkinan besar perusahaan televisi akan mendapatkan
keuntungan. Untuk itu penting untuk menjadikan sebuah program semenarik
mungkin meskipun biaya yang dibutuhkan tinggi karena akan dapat mencapai
tujuan yakni meningkatkan jumlah penonton yang tentunya berimbas pada
meningkatnya loyalitas penonton dan juga pendapatan. Jika dihitung biaya
produksi dibagi penonton, maka biaya perpenonton akan berkurang seiring
dengan meningkatnya jumlah penonton.
b. Isu-isu ekonomi media.
1. Prinsip-Prinsip Ekonomi Dalam Struktur Media
Ada beberapa prinsip utama ekonomi yang perlu dilihat apabila kita
mau melihat pertimbangan ekonomi dalam struktur media massa. Setidaknya
ada 10 prinsip yang ada.
a) Media berbeda atas dasar apakah media tersebut mempunyai struktur fixed
dan variabel cost.
b) Pasar media mempunyai karakter ganda: dibiayai oleh konsumen dan atau