• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi efektif dalam al-Quran.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Komunikasi efektif dalam al-Quran."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi:

Disusun untuk memenuhi Tugas Akhir Guna mendapat gelar Strata Satu (S-1)

Ilmu Al-Quran dan Tafsir

Disusun oleh :

MIFTACHUR ROFIKO

NIM: E83213160

PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Judul penelitian kualitatif ini berjudul “Komunikasi efektif dalam

Alquran”.

Komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan

manusia karena segala gerak langkah selalu disertai dengan komunikasi.

Komunikasi sangat berpengaruh terhadap kelanjutan hidup manusia, baik manusia

sebagai anggota masyarakat, anggota keluarga dan manusia sebagai satu kesatuan

yang universal. Seluruh kehidupan manusia tidak bisa lepas dari komunikasi. Dan

komunikasi

juga

sangat

berpengaruh

terhadap

kualitas

berhubungan

dengan sesama. Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan bagaimana

komunikasi yang baik. Hal tersebut bisa dilihat dalam Alquran. Dalam Alquran

ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif.

Hal itu dapat diistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi.

Semua orang dapat berkomunikasi, tetapi tidak semua orang dapat menyampaikan

pesan sesuai yang diharapkan. Dalam menyampaikan simbol terpenting adalah

kata-kata atau perkataan. Dengan kata-kata, seseorang akan dapat menyampaikan

gagasan atau pikiran dengan orang lain.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode

telaah pustaka (

library research

) dengan cara menelaah, membaca, menganalisa

sumber data yang ada. Dalam menganalisa data yang sudah dikumpulkan, penulis

menggunakan teknik analisis data dengan cara berusaha mencari ayat Alquran

tentang komunikasi dengan jalan menghimpun seluruh ayat-ayat yang berkenaan

dengan komunikasi. lalu menganalisanya melalui pengetahuan yang relevan

dengan masalah yang dibahas.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bagaimana berkomunikasi yang

mengagumkan. Dari ayat-ayat yang berkaitan dengan komunkasi tersebut, penulis

menelusuri ragam komunikasi, yang terdiri dari komunkasi antara orang tua dan

anak, antar saudara, antara nabi dan penguasa, antara nabi dan kaumnya, dengan

kaum dhu’afa

dan lain-lain. Selanjutnya penulis menelusuri jenis dan tujuan

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

ABSTRAK ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

PEDOMAN TRANSLITASI ... xiii

BAB I: PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah ... 1

B.

Identifikasi Masalah ... 7

C.

Rumusan Masalah ... 8

D.

Tujuan Penelitian ... 8

E.

Manfaat Penelitian ... 8

F.

Telaah Pustaka ... 9

G.

Metodologi Penelitian ... 10

(8)

BAB II: KONSEP KOMUNIKASI EFEKTIF

A.

Pengertian dan Ruang Lingkup Komunikasi ... 14

B.

Pengertian dan Faktor Pemengaruh Komunikasi Efektif... 23

C.

Teknik Penyampaian Pesan Efektif... 27

BAB III: AYAT-AYAT TENTANG KOMUNIKASI DAN PENAFSIRANNYA

A.

Penyajian Ayat-ayat tentang Komunikasi ... 31

B.

Ayat-ayat Komunikasi dengan Term Qaulan dan Terjemahnya ... 32

C.

Penafsiran Ayat-ayat Komunkasi ... 36

BAB IV: CARA KOMUNIKASI EFEKTIF BERDASARKAN TERMINOLOGI

QAULAN

A.

Prinsip Komunikasi Efektif dalam Alquran ... 60

B.

Jenis dan Tujuan Komunikasi ... 72

C.

Langkah-Langkah Komunikasi Efektif ... 83

BAB V: PENUTUP

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Alquran sebagai kitab petunjuk memberikan arahan kepada umat manusia,

bukan pada persoalan ibadah saja, tetapi pada ranah muamalah juga. Salah satu

dari bentuk itu adalah komunikasi. Komunikasi adalah salah satu aspek terpenting

dari kehidupan manusia, secara normal sejak manusia lahir, manusia bersosialisasi

melalui interaksi dengan orang lain dalam lingkungan sekitar mereka, dan pada

setiap interaksi pasti terdapat komunikasi.

Sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, manusia memiliki

dorongan ingin tahu, ingin maju dan berkembang, maka salah satu saranya adalah

komunikasi. Karenanya komunikasi merupakan kebutuhan yang mutlak bagi

kehidupan manusia. Dalam pepatah asing berbunyi: “

Nature gave us two ears and

only one mouth, so that we could listen twice as much as we speak

”.

1

Dalam kata

lain pepatah tersebut mengajak kita lebih banyak mendengar daripada berbicara

(berkomunikasi). Karena berbicara itu mudah tetapi berkomunikasi dengan baik

tidak mungkin demikian halnya. Berbicara saja belum dapat menjamin apa yang

dibicarakan itu dapat sampai kepada yang akan diharapkan memperolehnya.

2

Jika dibuka lembar sejarah peradaban, tokoh-tokoh filsafat barat dapat

memaparkan berbagai teori penemuannya dengan cara beretorika dengan baik dan

efektif. Begitupula dengan para nabi kepada umatnya dalam menyebarkan

kepercayaannya terhadap suatu keyakinan bertuhan. Sebagai contoh yaitu dakwah

(10)

nabi Muhammad. Nabi Muhammad dilahirkan dengan keadaan bangsa Arab yang

gemar akan syair serta sastra sehingga penyampaian ajarannyapun disesuaikan

dengan keadaan. Penyesuaian cara penyampaian dan teori dalam komunikasi

terhadap komunikan menjadi salah satu faktor terciptanya komunikasi efektif.

Komunikasi yang berhasil adalah komunikasi yang efektif. Yaitu

komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap atau attitude pada orang

yang terlibat dalam komunikasi tersebut. Pengukuran efektifitas dari suatu proses

komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan. Semua orang

dapat berkomunikasi dengan caranya masing-masing, tetapi tidak semua orang

mampu berkomunikasi secara efektif. Banyak komunikasi yang terjadi dan

berlangsung tetapi kadang-kadang tidak tercapai kepada sasaran tentang apa yang

dikomunikasikan itu.

Harold Laswell

menyatakan bahwa komunikasi yang

berhasil adalah yang bisa menjawab pertanyaan:

who

,

says what

,

in wich channel,

to whom, with what effect

.

3

Untuk mencapai komunikasi yang efektif komunikan sebaiknya

memperhatikan cara dalam menyajikan sebuah pesan, baik secara verbal maupun

non verbal. Ada beberapa syarat komunikasi dapat menjadi efektif, yaitu ketika

berkomunikasi komunikator harus memperkirakan apakah pesan-pesan yang akan

disampaikannya dapat diterima komunikan dengan tepat, dan juga komunikasi

dapat mencapai sasaran bila komunikator dapat mengekspresikan atau

menuangkan hal yang ingin disampaikan sesuai dengan kerangka berfikir

komunikan. Apabila hal ini tidak sesuai maka terjadi

miscomunication.

(11)

Saat seseorang berhubungan atau berbicara dengan orang lain, sikap

tentunya akan selalu diperhatikan oleh orang lain, misalnya ketika meminta

sesuatu kepada orang lain apakah dengan cara yang lembut, kasar, memaksa dan

lain sebagainya, sikap tersebut tentu akan berpengaruh terhadap efektifitas

komunikasi apakah akan tercapai tujuan komunikasi tersebut. Komunikasi efektif

juga dipengaruhi oleh cara penyampaian dan pengucapan, dengan cara

penyampaian dan pengucapan yang baik serta jelas akan berpengaruh terhadap

pencapaian tujuan komunikasi, karena mempunyai maksud baik saja disini belum

cukup, akan tetapi pesan tersebut harus disampaikan dengan cara-cara tertentu dan

pengucapan yang baik pula, misalnya agar tidak terjadi ketersinggungan,

membuat salah tafsir dan lain-lain. Prinsip dalam berkomunikasi adalah

mempengaruhi orang lain agar mau berfikir, bersikap, dan mau bertindak sesuai

keinginan.

Respon atau dipenuhinya keinginan komunikator oleh sasaran ini dapat

dicapai apabila terjadi kesepahaman antara komunikator dengan komunikan.

sehingga dengan tercapainya keinginan tersebut sudah dapat dikatakan

komunikasi tersebut efektif, karena tindakan komunikator yang membutuhkan

jawaban atas keinginan komunikator tersebut di respon oleh komunikan sesuai

dengan tindakan yang dilakukan oleh komunikator. Misalnya komunikator

bertanya, sudah barang tentu keinginannya adalah agar pertanyaan tersebut

dijawab oleh komunikan, dan apabila pertanyaan tersebut dijawab oleh

komunikan, artinya ada kesepahaman pengertian antara tindakan yang dilakukan

oleh komunikator di pahami oleh komunikan, sehingga komunikan menjawab

(12)

Komunikasi dapat dilakukan dari cara yang sederhana, hingga yang

kompleks. Namun, karena perkembangan zaman yang semakin ekstensif saat ini,

komunikasi menjadi semakin mudah untuk dilakukan. Komunikasi merupakan

proses sosial dimana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk

menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka.

Komunikasi sangat dibutuhkan baik di dalam organisasi, di lingkungan

masyarakat maupun di dalam setiap aktivitas.

Komunikasi yang merupakan kegiatan pokok dalam kehidupan

bermasyarakat atau sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang tokoh komunikasi,

bahwa:

Communication is human existen and social proses

”.

4

Malalui komunikasi

orang dapat mempengaruhi dan mengubah sikap dan tingkah laku orang lain,

membentuk suatu consensus, yang dikenal sebagai pendapat umum. Itulah

sebabnya mengapa komunikasi efektif sangatlah penting dan diperhatikan orang.

Hal ini karena komunikasi merupakan alat pembangunan, alat integrasi, alat

kekuasaan, dan untuk itu komunikasi penting diketahui dipahami serta dihayati

semua orang.

Ketika seseorang dapat berkomunikasi secara efektif maka akan dapat

menyerap dan mencerna perkataan atau hasil komunikasi tersebut. Efektifitas

komunikasi akan terjadi apabila komunikator menyesuaikan pembicaraannya

dengan sifat-sifat khalayak yang dihadapinya.

Terdapat dua cara dalam penyampaian pesan, yaitu verbal dan nonverbal.

Simbol atau lambang dalam komunikasi verbal adalah kata-kata atau perkataan.

sedangkan simbol komunikasi nonverbal adalah pesan nonlinguistic yang

(13)

diisyaratkan oleh anggota tubuh untuk menunjukkan sikap dan penampilan.

Manusia adalah makhluk yang paling gemar mempergunakan lambang. Sebab

lambang adalah ekspresi fikiran dari manusia.

5

Dalam Alquran ditemukan beberapa istilah-istilah yang terkait dengan

komunikasi. Di antara istilah-istilah tersebut ialah:

lafdz}, qaul, kalimat, nuthq,

naba’,

khabar, hiwar, jidal, bayan, tadzkir, tabsyir, indza>r, tahri>dh,

wa’adz,

dakwah,

ta’aruf,

tawa>shi>, tabli>gh, dan irsya>d,

semuanya itu tergolong dalam

metode penyampaian pesan.

Penelitian ini hanya difokuskan pada komunikasi verbal. Dan simbol dari

komunikasi verbal adalah kata-kata. Simbol kata-kata dalam Alquran

menggunakan istilah.

Lafdz},

kalimah,

qaul. Disebut

lafdz} karena bunyi yang

dikeluarkan dari mulut ibarat bunyi atau simbol yang dilemparkan dari mulut,

sedangkan kalimat adalah susunan

lafdz} yang mengandung makna yang

sempurna.

Sedangkan qaul

adalah jenis pesan verbal yang sama dengna

lafdz}

atau

lebih lengkap dan luas penggunaannya dibandingkan

lafdz}

. Dengan kata lain,

lafdz}

adalah bagian dari

qaul

.

Ada beberapa macam term

qaulan yang disebut dalam Alquran, yaitu:

qaulan sadi>dan, qaulan bali>ghan, qaulan ma’ru>fan, qaulan kari>man, qaulan

layyinan, maysu>ran. Term-term

qaulan tersebut mempunyai konteks yang

berbeda-beda dalam Alquran.

Qaulan sadi>dan berbicara tentang perkataaan yang baik dalam

memperlakukan kaum yang lemah seperti anak yatim dan kaum dhu’afa.

Qaulan

bali>ghan berbicara tentang perkataan yang membekas dalam hati atau perkataan

(14)

yang mudah dimengerti ketika berhadapan dengan kaum munafik.

Qaulan

ma’ru

>fan berbicara tentang perkataan yang baik ketika memberi harta kepada

anak yatim.

Qaulan kari>man berbicara tentang perkataan yang mulia ketika

berhadapan dengan kedua orang tua. Qaulan layyinan berbicara tentang perkataan

yang lembut, berkenaan dengan perintah Allah kepada nabi Musa dan Harun

untuk berbicara kepada Fir’aun agar mau bertaubat. Dan

qaulan maysu>ran

berbicara tentang perkataan yang ringan yang diucapkan ketika tidak bisa

membantu kaum dhua’afa atau seseorang yang membutuhkan.

Salah satu ayatnya dalam surat an-

Nisa’ ayat 63, yang berbunyi:

























.



Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam

hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka

pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa

mereka.

6

Qaulan bali>ghan diartikan sebagai ucapan yang fasih, terang dan jelas

maksudnya, tepat penggunaannya untuk maksud yang dikehendakinya.

Al-

Mara>ghi mengartikan yaitu perkataan yang bekasnya hendak kamu tanamkan di

dalam jiwa mereka.

7

Sedangkan Hamka mengartikan qaulan bali>ghan dengan kata

yang sampai ke dalam lubuk hati, yaitu kata yang mengandung

Fashahat dan

Bala>ghat. Dan ibnu katsir memaknai kata ini yaitu menasehati manusia dengan

kata-kata yang menyentuh hati, sehingga mereka berhenti dari perbuatan yang

salah. Dari pengertian-pengertian di atas jika dilihat dari sudut pandang

6

Departemen Agama RI,

Al-

Qur’

an dan Terjemahnya

(Bandung: Lajnah Pentashian

Mushaf Al-Qur’an, 2010), 88

(15)

komunikasi, yakni ucapan jelas, fasih, terang, jelas maknanya, tepat

pengungkapan apa yang dikehendaki.

Berdasarkan 6 prinsip komunikasi yang telah disebutkan di atas, perlu

dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai jawaban Alquran terhadap persoalan

yang berkaitan dengan komunikasi yang efektif sangatlah penting. Penelitian ini

diharapkan dapat menghasilkan deskripsi mengenai cara penyampaian pesan di

dalam Alquran.

B.

Identifikasi Masalah

Masalah pokok yang terdapat dalam kajian ini adalah bagaimana

penjelasan Alquran mengenai komunikasi efektif dalam menjawab

persoalan-persoalan masa kini. Adapun masalah-masalah yang teridentifikasi adalah:

1.

Urgensi komunikasi.

2.

Komunikasi efektif.

3.

Komunikasi verbal dan nonverbal.

4.

Simbol penyampaian pesan.

5.

Istilah-istilah komunikasi dalam Alquran.

6.

Qaulan sebagai alat komunikasi efektif.

Mengingat banyaknya permasalahan yang teridentifikasi maka penulis

hanya membatasi beberapa masalah untuk memberikan arahan yang jelas dan

ketajaman analisa dalam pembahasan. Maka diperlukan batasan masalah yang

akan dibahas dalam penelitian ini. Pembatasan masalah yang dimaksud, yaitu

difokuskan pada cara berkomunikasi dengan efektif, sesuai apa yang diajarkan

Alquran. Yaitu dengan menggunakan term

qaulan sebagai metode penyampaian

(16)

C.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah ini dibuat untuk memberikan batas dan fokus dalam

penelitian ini, sehingga dapat diulas secara terperinci dan mendalam. Setidaknya

ada dua hal yang hendak dibahas secara mendalam pada penelitian ini, yaitu:

1.

Bagaimana konsep komunikasi efektif dalam Alquran?

2.

Bagaiman cara komunikasi efektif dalam Alquran?

D.

Tujuan Penelitian

Setelah masalah dirumuskan, tujuan penelitian disusun untuk

menjawabnya. Hal ini dilakukan agar hasil penelitian menjadi jelas dan mendalam

sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan. Berikut ini adalah tujuan

penelitian yang disusun:

1.

Mengetahui konsep komunikasi efektif dalam Alquran.

2.

Mengetahui cara komunikasi efektif dalam Alquran.

E.

Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuannya yang telah disusun di atas,

maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat bagi semua

pembaca:

1.

Secara teoritis

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dan wawasan

kepada umat Islam tentang penafsiran ayat-ayat komunikasi efektif yang

berusaha diungkap oleh para mufassir, serta dapat memberikan manfaat bagi

(17)

2.

Secara praktis

Implementasi penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi

agar dapat memberi solusi terhadap masyarakat muslim mengenai komunikasi

yang efektif dalam Alquran. Agar dapat mengimplementasikan dalamk

ehidupan sehari-hari sesui dengan ajaran Alquran.

F.

Telaah Pustaka

Perlu untuk menampilkan kajian terdahulu agar penelitian yang dilakukan

dapat teruji orisinilitasnya. Sehingga dapat telihat perbedaan dan kekayaan

pembahasan yang saling melengkapi antara penelitian-penelitian yang ada.

Berikut ini adalah penelitian yang saling berkaitan:

1.

Komunikasi Interpersonal dalam Alquran

, Ulva Nur’aeni, Tahun 2014.

Skripsi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Penelitian ini

menggunakan metode Tematik, dengan mengangkat tema komunikasi

interpersonal. Dan berisikan delapan tema yang terangkum dalam ragam

komunikasi interpersonal. Tema-tema tersebut merupakan komunikasi

interpersonal yang melibatkan individu dengan individu lainnya dan interaksi

yang dilakukan dua arah.

2.

Komunikasi dalam Pembentukan Karakter (Studi Deskriptif Kualitatif pada

Anggota Rohis SMA Negri 1 Yogyakarta),

Ryan Afranata, Tahun 2015,

fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Skripsi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga,

Yogyakarta. Penelitian ini berisi tentang komunikasi persuasi dalam

pembentukan karakter, secara lebih khusus penelitian ini mengkaji bagaimana

anggota rohis SMA 1 Yogyakarta pesan persuasi yang diterima dalam

membentuk karakternya.

Dari beberapa telaah pustaka yang telah dilakukan secara seksama,

penelitian ini memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya

(18)

kesamaan dengan penelitian sebelumnya adalah sama tema pokoknya, yakni

mengangkat tema komunikasi. Sementara, yang membedakan penelitian ini

dengan penelitian sebelumnya, yaitu:

1.

Penelitian ini fokus pada bagaimana komunikasi yang efektif yang dilakukan

dalam komunikasi organisasi seperti dalam dunia keja atau perusahaan.

Sedangkan penelitian Ulva Nur’aini hanya f

okus pada komunikasi

interpersonal antar individu.

2.

Penelitian ini bersifat studi kepustakaan, sedangkan penelitian yang dilakukan

Ryan Afranata adalah studi lapangan, yang di lakukan di SMA Negri 1

Yogyakarta.

G.

Metode Penelitian

Setiap penelitian selalu menggunakan acuan metode penelitian tertentu.

Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah penelitian dan memperjelas arah

penelitian untuk mencapai tujuan penelitian yang dikehendaki. Setidaknya ada

tiga aspek yang menjadi komponen dari metode penelitian tersebut, yaitu:

1.

Model dan Jenis Penelitian

Model penelitian yang digunakan sebagai acuan adalah model

penelitian kualitatif. Model kualitatif merupakan suatu cara untuk menemukan

dan memahami fenomena-fenomena yang ada sehingga menghasilkan data

deskriptif yang menggambarkan pemikiran atau perilaku-perilaku manusia.

8

Dengan menggunakan jenis ini diharapkan hasil penelitian akan memberikan

gambaran yang mengantarkan kepada pemahaman tentang implikasi dan

penafsiran ayat-ayat tentang komunikasi efektif oleh mufasir.

8

Pupu Saeful Rahmat, “Penelitian Kualitatif”,

dalam

Equilibrium

Jurnal Pendidikan

(19)

Jenis penelitian ini adalah kepustakaan atau yang disebut

library

research

. Peneliti mengumpulkan data berupa hasil karya-karya akademisi

terdahulu yang terhimpun dalam buku-buku dan arsip-arsip tulis yang lainnya

yang berkaitan dengan masalah penelitian yang hendak diselesaikan.

Arsip-arsip tulis tersebut seperti skripsi, jurnal, tesis, dan disertasi. Beberapa karya

tulis dapat juga diakses melalui jaringan internet, sehingga dapat menjangkau

sumber-sumber global.

9

2.

Sumber Data

Data

(datum)

adalah sesuatu yang diketahui atau yang biasa disebut

sebagai informasi yang diterima. Wujud informasi tersebut dapat berupa suatu

ukuran yang berupa angka-angka atau ungkapan berupa kata-kata. Informasi

yang langsung dari sumbernya disebut sebagai Sumber Data Primer.

Sedangkan informasi yang menjadi pendukung data primer adalah Sumber

Data Sekunder.

10

Yang perinciannya sebagai berikut:

a.

Sumber Data Primer

Sumber primer adalah sumber yang berasal dari tulisan buku-buku

yang berkaitan langsung dengan buku ini. Sumber utama penelitian ini

adalah Alquran.

b. Sumber Data Skunder

Sumber data sekunder adalah sumber yang berasal dari penelitian

berupa buku, skripsi dan jurnal yang disusun untuk menghadirkan berbagai

9

Syahrin Harahap, Metodologi Studi dan Penelitian Ilmu-Ilmu Ushuluddin, (Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 2000), 90.

(20)

cara pandang dalam melihat masalah yang hendak diteliti serta bebrapa kitab

tafsir seperti:

-

Tafsir al-Mara>ghi> karya Ahmad Mustafa al-Maraghi

-

Tafsir al-Azhar karya Hamka

-

Tafsir al-

Qur’a>n al

-Adhi>m karya Ibnu katsir

-

Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab

-

Tafsir Tafsi>r al-Kabi>r wa Mafa>tihul Ghaib karya M. Fakhruddin ar-Razi

3.

Metode Analisa Data

Metode yang digunakan dalam menganalisa data adalah analisis

deskriptif dengan menggunakan metode tafsir tematik kontekstual. Analisis

adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang guna meneliti suatu

struktur dari data-data yang telah dihimpun. Penelitian deskriptif adalah

penelitian yang berusaha menjelaskan suatu gejala, peristiwa, pemikiran yang

terjadi atau ada sehingga dapat memunculkan suatu teori atau gagasan baru.

11

Dan metode tafsir tematik kontekstual adalah cara memahami Alquran

mengumpulkan ayat-ayat yang setema untuk mendapatkan gambaran yang

dikaji, kemudian mencari makna yang relevan dan aktual untuk konteks yang

kekinian.

12

11

Juliansyah Noor,

Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah,

(Jakarta: Penerbit Kencana, 2011), 34.

12

Abdul Mustaqim,

Metode Penelitian Al-

Qur’an dan Tafsir

(Yogyakarta: Idea Press,

(21)

H.

Sistematika Pembahasan

Untuk lebih memudahkan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulisan

ini disusun atas lima bab sebagai berikut:

Bab I berisikan pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah,

identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan

penelitian, telaah pustaka, metodologi penelitian, lalu kemudian dilanjutkan

dengan sistematika pembahasan.

Bab II berisikan tentang pengertian komunikasi dan ruang lingkupnya,

faktor pemengaruh komunikasi efektif, dan teknik penyampaian pesan efektif.

Bab III berisikan ayat-ayat yang membahas tentang komunikasi efektif

dan penafsirannya.

Bab IV berisikan analisis tentang cara komunikasi efektif.

(22)

BAB II

KONSEP KOMUNIKASI EFEKTIF

A.

Pengertian dan Ruang Lingkup Komunikasi

Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan

manusia lainnya. Ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin

mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia

perlu berkomunikasi. Menurut Dr. Everret Kleinjan dari

East West Center

Hawaii

, komunikasi sudah merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia

seperti halnya bernafas. Sepanjang manusia hidup maka ia perlu berkomunikasi.

1

Dalam kehidupan sehari-hari pasti ditemukan peristiwa komunikasi di

mana-mana. Seorang anak misalnya diminta menyalakan lampu dengan menekan

tombol listrik. Hubungan antara tombol dengan balon lampu juga termasuk

peristiwa komunikasi. Setangkai anggrek yang menghirup makanan lewat

sebatang pohon, atau seekor burung yang hinggap pada setangkai dahan juga

termasuk komunikasi.

Komunikasi yang dimaksud di sini bukan komunikasi seperti yang

dicontohkan di atas. Bukan komunikasi listrik, bukan komunikasi anatomi

tumbuhan, dan bukan komunikasi antar hewan. Melainkan komunikasi insani atau

human communication

atau bisa disebut komunikasi antar manusia. Suatu bentuk

komunikasi yang dilakukan oleh manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

(23)

Istilah komunikasi atau

communication

dalam bahasa Inggris, berasal dari

kata latin

communis

yang artinya sama,

communico

,

communication,

atau

communicare

yang artinya membuat sama (

to make common

).

2

Jadi, kalau dua

orang terlibat komunikasi, maka komunikasi itu dapat dikatakan berhasil apabila

ada kesamaan makna mengenai apa yang dikomunikasikan. Kesamaan bahasa

yang digunakan belum tentu menimbulkan kesamaan makna.

3

Kata lain yang mirip dengan komunikasi adalah komunitas (

community

)

yang juga menekankan kesamaan atau kebersamaan hidup bersama untuk

mencapai tujuan tertentu, dan mereka berbagi makna dan sikap. Tanpa

komunikasi tidak aka nada komunitas. Komunitas bergandung pada pengalaman

dan emosi bersama, dan komunikasi berperan dan menjelaskan kebersamaan itu.

Sebuah definisi singkat dari Harold D. Lasswell dalam karyanya

The

Structure and Function of Communication,

bahwa cara yang tepat untuk

menerangkan suatu tindakan komunikasi adalah menjawab pertanyaan

who says

(siapa yang berbicara),

what

(apa yang dibicarakan),

in what channel

(media apa

yang dipakai),

to whom

(kepada siapa lawan bicara), dan

what effect

(efek yang

ditimbulkan).

4

Jadi berdasarkan paradigm Laswell tersebut, komunikasi adalah

proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media

yang menimbulkan efek tertentu.

Everett M. Rogers seorang pakar sosiologi pedesaan Amerika yang telah

banyak memberi perhatian pada studi riset komunikasi mendifinisikan bahwa,

komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu

2

Deddy Mulyana,

Ilmu Komunikasi

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), 41.

3

Nikmah Hadiati Salisah,

Ilmu Komunikasi

(Pasuruan: LunarMedia, 2012), 25.

4

Onong Uchjana Effendi,

Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek

(Bandung: PT Remaja

(24)

penerima atau lebih, dengan maksuduntuk mengubah tingkah laku mereka.

5

Definisi ini kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D. Lawrence Kincaid

sehingga melahirkan definisi baru yaitu, Komunikasi adalah suatu proses di mana

dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan

satu sma lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang

mendalam.

6

Rogers mencoba mengekspresikan hakikat suatu hubungan dengan adanya

suatu pertukaran informasi atau pesan, di mana ia menginginkan adanya

perubahan sikap dan tingkah laku serta kebersamaan dalam menciptakan saling

pengertian dari orang-orang yang ikut serta dalam suatu proses komunikasi.

Definisi- definisi yang dikemukakan di atas tentunya belum mewakili

semua definisi komunikasi yang telah dibuat oleh banyak pakar, namun bisa

diperoleh gambaran seperti yang diungkapkan Shannon dan Weaver bahwa,

komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh dan

mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada

bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi

muka, lukisan, seni dan teknologi.

7

Dalam kehidupan sehari-hari pastinya seseorang berhubungan dengan

masyarakat. Dalam hal itu tujuannya yaitu untuk menyampaikan informasi dan

mencari informasi kepada meraka, agar apa yang ingin disampaikan atau yang

diminta dapat dimengerti sehingga komunikasi dapat berjalan lancar. Setiap kali

5

Cangara,

Pengantar Ilmu Komunikasi,

18.

6

Ibid., 19.

(25)

berkomunikasi maka seseorang harus menentukan tujuan dari komunikasi

tersebut, tujuan tersebut dapat dikategorikan menjadi beberapa hal, yaitu:

1.

Menjelaskan sesuatu kepada orang lain, yang dimaksudkan yaitu menginkan

supaya orang lain mengerti dan dapat memahami apa yang dimaksudkan.

2.

Bila ingin orang lain menerima dan mendukung gagasan yang dimaksudkan.

Yaitu dengan pendekatan persuasif, bukan dengan cara memaksakan

kehendak.

3.

Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu.

8

Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa komunikasi itu bertujuan

mengharapkan pengertian, dukungan gagasan dan tindakan.

9

Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan, maka jelas bahwa

komunikasi antarmanusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang yang

menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya

komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh adanya sumber, pesan, media,

penerima,dan efek. Unsur-unsur tersebut bisa disebut komponen atau elemen.

Terdapat beberapa macam pandangan tentang banyaknya unsur-unsur atau

komponen yang mendukung terjadinya komunikasi. Ada yang menilai bahwa

terciptanya proses komunikasi, cukup oleh tiga unsur, sementara ada juga yang

menambahkan umpan balik dan lingkungan selain kelima unsur yang telah

disebutkan.

Aristoteles, seorang ahli filsafat Yunani kuno dalam bukunya Rhetorika

menyebutkan bahwa suatu proses komunikasi memerlukan tiga unsur yang

mendukungnya, yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan dan siapa yang

8

Widjaja,

Komunikasi dan Hubungan

..., 11.

(26)

mendengarkan.

10

Pandangan Aristoteles ini oleh sebagian besar pakar komunikasi

dinilai lebih tepat untuk mendukung suatu proses komunikasi public dalam bentuk

pidato atau retorika. Hal ini bisa dimengerti, karena pada zaman Aristoteles

retorika menjadi bentuk komunikasi yang sangat popular bagi masyarakat Yunani.

Beda lagi dengan Claude E. Shannon dan Warren Weaver, dua orang

insinyur listrik ini menyatakan bahwa terjadinya proses komunikasi memerlukan

lima unsur yang mendukungnya, yakni pengirim, transmitter, signal, penerima

dan tujuan. Kesimpulan ini didasarkan atas hasil studi yang mereka lakukan

mengenai pengiriman pesan melalui radio dan telepon.

11

Awal tahun 1960-an David K. Berlo membuat formula komunikasi yang

lebih sederhana. Formula itu dikenal dengan sama SMCR, yakni: Source

(pengirim), Message (pesan), Channel

(saluran-media), dan Receiver

(penerima).

12

Komponen atau unsur-unsur tersebut saling berkaitan antara satu unsur

dengan unsur lainnya. Unsur-unsur tersebut adalah:

1.

Sumber

Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan

untuk berkomunikasi. Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber

sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia,

sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok,

misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengirim,

10

Cangara,

Pengantar Ilmu Komunikasi

, 21.

11

Ibid., 22.

(27)

komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebut

source, sende

r, atau

encoder

.

Di dalam melakukan komunikasi dapat dilihat beberapa gaya

komunikator melakukan aksinya, tergantung pada situasi yang mereka hadapi.

Gaya komunikator dapat dibedakan ke dalam beberapa model, yaitu:

13

a.

Komunikator yang membangun yaitu, komunikator yang mau

mendengarkan orang lain, tidak terlalu mendominir situasi, dia

menganggap buah pikiran banyak orang lebih baik dari seseorang.

b.

Komunikator yang mengendalikan yaitu, ia menginginkan komunkasi satu

arah saja, dan tidak akan menerima yang lain, pendapatnya merupakan hal

yang paling baik, sehingga ia tidak mau mendengarkan pendapat orang

lain.

c.

Komunikator yang melepaskan diri yaitu, ia lebih banyak menerima dari

lawan komunikasinya, lebih suka mendengar pendapat orang lain,

sumbangan pikirannya tidak banyak mengandung arti sehingga ia lebih

suka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.

d.

Komunikator yang menarik diri yaitu, bersifat pesimis, selalu diam tidak

menunjukkan reaksi dan jarang memberikan buah pikirannya.

2.

Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang

disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan

cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu

(28)

pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat, atau propaganda. Dalam bahasa

Inggris,

content

atau

information

.

Pesan seharusnya mempunyai inti pesan (tema) sebagai pengarah di

dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Bentuk

pesan dibagi menjadi tiga, yaitu:

14

a.

Informatif

, yaitu memberikan keterangan-keterangan dan kemudian dapat

mengambil kesimpulan sendiri. Dalam situasi tertentu pesan informative

lebih berhasil daripada pesan persuasif, misalnya pada cendekiawan.

b.

Persuasif

, yaitu membangkitkan pengertian dan kesadaran seseorang

bahwa apa yang kita sampaikan akan memberikan rupa pendapat atau

sikap, sehingga ada perubahan.

c.

Koersif

, yaitu dengan menggunakan sanksi-sanksi. Bentuk yang terkenal

dengan penyampaian secara ini adalah agitasi dengan

penekanan-penekanan yang menimbulkan tekanan batin di antara sesamanya dan

kalangan publik. Initinya koersif ini bersifat memaksa.

3.

Media

Media yang dimaksud di sini adalah alat yang digunakan untuk

memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Terdapat beberapa

pendapat mengenai saluran atau media. Ada yang menilai bahwa media bisa

bermacam-macam bentuknya, misalnya dalam komunikasi antarpribadi panca

indera dianggap sebagai media komunikasi.

Selain indera manusia, ada juga saluran komunikasi seperti telepon,

surat, telegram yang digolongkan sebagai media komunikasi. Dalam

(29)

komunikasi massa, media adalah alat yang dapat dihubungkan antara sumber

dan penerima yang sifatnya terbuka, di mana setiap orang dapat melihat,

membaca dan mendengarnya.

Berkat perkembangan teknologi komunikasi khusunya di bidang

komunikasi massa elektronik yang begitu cepat, maka media massa elektronik

makin banyak bentuknya dan makin mengaburkan batas-batas untuk

membedakan antara media koomunikasi massa dan komunikasi antarpribadi.

Selain media komunikasi seperti di atas, kegiatan dan tempat-tempat

tertentu yang banyak ditemui dalam masyarakat pedesaan, bisa juga

dipandang sebagai media komunikasi sosial, misalnya rumah, tempat ibadah,

balai desa, arisan, panggung kesenian, dan lain-lain.

4.

Penerima

Penerima (

receiver

) atau sering juga disebut sasaran atau tujuan

(

destination

), komunikate (

communicate

), penyandi-balik (

encoder)

, atau

khalayak (audience), pendengar (

listener

), penafsir (

interpreter

), yaitu orang

yang menerima pesan dari sumber.

15

Berdasarkan pengalaman masa lalu,

rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir, dan perasaan, penerima pesan

ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat symbol verbal atau non

verbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat ia pahami.

Penerima ini adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena

dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima

oleh penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang seringkali

menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan atau saluran.

(30)

5.

Pengaruh atau Efek

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan,

dirasakan dan dilakukan oleh penerima sbelum dan sesudah menerima

pesan.

16

Atau bisa diartikan dampak sebagai pengaruh dari pesan. Efek

menunjukkan sebuah perubahan yang dapat diamati dan diukur dari penerima

yang disebabkan oleh elemen-elemen dari proses komunikasi yang bisa

diidentifikasikan. Perubahan satu dari elemen akan mengubah efek.

17

Dampak

yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yaitu:

18

a.

Dampak kognitif

, yaitu dampak yang timbul pada komunikan yang

menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini

pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si

komunikan. Dengan kata lain tujuan komunikator hanyalah pada upaya

mengubah pikiran komunikan.

b.

Dampak afektif,

pada dampak ini tujuan komunikator bukan hanya sekedar

supaya komunikan tahu, tetapi tergerak hatinya dan menimbulkan

perasaan tertentu.

c.

Dampak behavioral,

yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam

bentuk prilaku, tindakan, dan kegiatan.

Sebagai contoh mengenai ketiga jenis dampak di atas dapat dilihat

dari berita surat kabar. Pernah dalam sebuah surat kabar terdapat berita

seorang yang menderita tumor dan mengakibatkan perutnya buncit.

Peristiwa yang diberitakan lengkap dengan fotonya dan menarik perhatian

16

Cangara,

Pengantar Ilmu

…,

26

.

17

John Fiske,

Pengantar Ilmu Komunikasi

, ter. Hapsari Dwiningtyas (Jakarta: Rajawali

Pers, 2012), 50.

18

Onong Uchjana Effendy,

Dinamika Komunikasi

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

(31)

banyak pembaca. Berita tersebut dapat menimbulkan berbagai jenis efek.

Jika seorang pembaca hanya tertarik untuk membacanya saja dan

kemudian ia menjaditahu, maka dampaknya hanya berkadar kognitif saja.

Apabila ia merasa iba atas penderitaan orang dalam berita tersebut, maka

berita itu menimbulkan dampak afektif. Tetapi kalau si pembaca yang

tersentuh hatinya itu kemudian pergi ke redaksi surat kabar yang

memberitakannya dan menyerahkan sejumlah uang untuk membantu si

penderita, maka berita itu telah menimbulkan dampak behavioral.

B.

Pengertian dan Faktor Pemengaruh Komunikasi Efektif

Komunikasi adalah sebuah kegiatan mentransfer sebuah informasi baik

secara lisan maupun tulisan. Namun, tidak semua orang mampu melakukan

komunikasi dengan baik. Terkadang ada orang yang mampu menyampaikan

semua informasi secara lisan tetapi tidak secara tulisan ataupun sebaliknya.

Komunikasi efektif tejadi apabila pesan yang diberitahukan komunikator dapat

diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah

persepsi.

Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan

sama-sama memiliki pengertian yang sama-sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam

bahasa asing orang menyebutnya

the communication is in tune

,yaitu kedua belah

pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan.

Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylavia Moss, komunikasi yang efektif ditandai

(32)

meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu

tindakan.

19

Menurut Wikipedia komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide,

perasaan yang menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan

baik antara pemberi pesan dan penerima pesan. Pengkuran efektifitas dari suatu

proses komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan.

20

Pesan

yang tersampaikan dengan benar dan tepat sesuai keinginan sang komunikator,

menunjukkan bahwa komunikasi dapat berjalan secara efektif.

Dengan demikian dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa

komunikasi efektif adalah saling bertukar informasi, ide, perasaan dan sikap

anatara dua orang atau kelompok yang hasilnya sesuai harapan dan dapat

mengahsilkan perubahan sikap pada orang yang terlibat komunikasi.

Agar komunikasi bisa berlangsung efektif, perlu diperhatikan

faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Scoot M Cultip dan Allen dalam

bukunya

Effective Public Relations

, faktor-faktor tersebut disebut dengan

The

Seven Communication

, yaitu:

21

1.

Credibility

2.

Context

3.

Content

4.

Clarity

5.

Continuity and consistency

19

Jalaluddin Rakhmat,

Psikologi Komunikasi

(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993),

13.

20

https://id.wikipedia.org/wiki/

Komunikasi_efektif

(Senin, 03 Juli 2017, 07.35)

21

http://www.bitebrands.co/2014/06/7-

faktor-yang-mempengaruhi-efektivitas

.html (Rabu,

(33)

6.

Capability of Audience

7.

Channels of Distribution

Wilbur Schramm melihat pesan sebagai tanda esensial yang harus dikenal

komunikan. Semakin tumpang tindih bidang pangalaman (

field of experience

)

komunikator dengan bidang pengalaman komunikan, akan semakin efektif pesan

yang dikomunikasikan.

22

Dalam teori komunikasi dikenal dengan istilah

emapathy

, yang berarti kemampuan memproyeksikan diri kepada peranan orang

lain. jadi meskipun antara komunikator dan komunikan terdapat perbedaan dalam

kedudukan, jenis pekerjaan, agama, suku, bangsa, tingkat pendidikan, ideologi,

dan lain-lain, jika komunikator bersikap empatik, komunikasi tidak akan gagal.

23

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan ada beberapa faktor yang

mempengaruhi keefektifan komunikasi, yaitu:

1.

Credibility

Kredibilitas berkaitan erat dengan kepercayaan. Seorang komunikator

yang baik harus memiliki kredibilitas agar pesan yang disampaikan dapat

tersasar dengan baik. Beberapa hal yang berhubungan dengan kredibilitas

misalnya kualifikasi atau tingkat keahlian seseorang. Contoh, seorang dokter

dianggap mempunyai kredibilitas ketika ia menyampaikan hal-hal tentang

kesehatan.

2.

Context

Konteks berupa kondisi yang mendukung ketika berlangsungnya

komunikasi. Supaya komunikasi berjalan efektif, konteks yang tepat menjadi

hal yang menarik perhatian komunikan.

22

Effendi,

I

lmu Komunikasi…,

19.

(34)

3.

Content

Isi pesan merupakan bahan atau ,materi inti dari apa yang hendak

disampaikan kepada audiens. Komunikasi menjadi efektif apabila isi pesan

mengandung sesuatu yang berarti dan penting untuk diketahui oleh

komunikan.

4.

Clarity

Pesan yang jelas alias tidak menimbulkan penafsiran yang

bermacam-macam adalah kunci keberhasilan komunikasi. Kejelasan informasi adalah hal

penting yang bisa mengurangi dan menghindari risiko kesalahpahaman pada

komunikan.

5.

Continuity dan Consistency

Agar komunikasi berhasil, maka pesan atau informasi perlu

disampaikan secara berkesinambungan atau kontinyu. Misalnya, pesan

pemerintah yang menganjurkan masyarakat untuk menggunakan kendaran

umum dibandingkan kendaraan pribadi harus selalu disampaikan melalui

berbagai media secara terus menerus supaya pesan itu dapat tertanam dalam

benak dan mempengaruhi perilaku masyarakat.

6.

Capability of Audience

Komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila sang penerima pesan

memahami dan melakukan apa yang terdapat pada isi pesan. Dalam hal ini,

tingkat pemahaman seseorang bisa berbeda-beda tergantung beberapa faktor,

(35)

7.

Channels of Distribution

Selain berbicara secara langsung kepada audiens, ada cara lain untuk

berkomunikasi, yaitu menggunakan media. Bentuk-bentuk media komunikasi

yang biasa digunakan saat ini adalah media cetak ataupun elektronik.

Pertimbangkan secara matang pemilihan media yang sesuai dan tepat sasaran

agar tidak terjadi komunikasi yang sia-sia.

C.

Teknik Penyampaian Pesan Efektif

Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.

Pesan merupakan seperangkat simbol verbal atau nonverbal yang mewakili

perasaan, nilai, gagasan, atau maksud sumber tadi.

24

Pesan mempunyai tiga

komponen: makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan

bentuk atau organisasi pesan. Simbol terpenting adalah kata-kata atau bahasa,

yang dapat mempresentasikan objek, gagasan, perasaan, baik ucapan maupun

tulisan. Kata-kata memungkinkan untuk berbagi pikiran dengan orang lain.

Yang terpenting dalam komunikasi ialah bagaimana caranya agar suatu

pesan yang disampaikan komunikator dapat menimbulkan dampak atau efek

tertentu pada komunikan.

Banyak cara untuk menyampaikan pesan yaitu dengan tatap muka atau

melalui media komunikasi. Agar komunikasi dapat efektif, maka cara

penyampaian pesan atau informasi perlu dirancang secara cermat sesuai dengan

karakteristik komunikan maupun keadaan di lingkungan sosial yang

bersangkutan. Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa keberhasilan komunikasi

sebagian ditentukan oleh kekuatan pesan. Dengan pesan, seseorang dapat

(36)

mengendalikan sikap dan perilaku komunikan. Agar proses komunikasi terlaksana

secara efektif.

25

Bagi seorang komunikator, suatu pesan yang akan dikomunikasikan

sudah jelas isinya, tetapi yang perlu dijadikan pemikiran adalah pengelolaan

pesannya. Pesan harus ditata sesuai dengan diri komunikan yang akan dijadikan

sasaran. Dalam hubungan ini komunikator harus terlebih dahulu melakukan

komunikasi dengan diri sendiri, berdialog dengan diri sendiri, bertanya pada diri

sendiri, bertanya pada diri sendiri untuk dijawab oleh diri sendiri. Apabila

komunikan yang akan dijadikan sasaran sudah jelas, dan media yang diperlukan

juga telah ditetapkan, maka barulah menata pesan.

Pesan satu sisi (

one sided)

ataukah dua sisi

(two sided).

Hal ini berkaitan

dengan cara mengorganisasikan pesan. Organisasi pesan satu sisi, ialah suatu cara

berkomunikasi dimana komunikator hanya menyampaikan pesan-pesan yang

mendukung tujuan komunikasi saja. Sedangkan pesan dua sisi, berarti selain

pesan yang bersifat mendukung, disampaikan pula

counter argument,

sehingga

komunikan diharapkan menganalisis sendiri atas pesan tersebut. Apakah dalam

menyampaikan pesan itu diorganisasikan secara satu sisi atau dua sisi, tentulah

harus disesuaikan dengan karakteristik.

Wilbur Schramm dalam karyanya yang berjudul How Communication

Works, pernah mengungkapkan apa yang dinamakan the condition of success in

communication, yang dapat diringkas sebagai berikut:

26

1.

Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat

menarik perhatian sasaran yang dimaksud.

25

Rakhmat,

Psikologi Komunikasi

,

168

.

(37)

2.

Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang

sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama dapat

dimengerti.

3.

Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan, dan

menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan itu.

4.

Pesan harus menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan tadi yang

layak bagi situasi kelompok tempat komunikan berada pada saat ia digerakkan

untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. Jika komunikasi yang

dikomunikasikan tidak sesuai dengan kepentingan komunikan, maka akan

menghadapi kesukaran, lebih-lebih jika efek yang dikehendaki itu perubahan

tingkah laku. Jadi dalam menyampaikan seorang komunikator harus dapat

menyampaikan pesan sesuai dengan kepentingan komunikan.

Dikomunikasikannya pesan seperti itu tidak cukup dengan

timing

dan

placing

saja seperti yang dikemukakan di atas, tetapi bagaimanapun juga dalam

mengidentifikasi pesan juga harus menentukan jenis pesan apa yang akan

disampaikan. ini bisa berupa

informational message, instructional message, dan

motivational message

.

27

Alan H. Monroe pada akhir tahun 1930-an mengemukakan lima

langkah-langkah menyusun pesan, yang kemudian disebut

motivated sequence

, yaitu:

28

1.

Attention

(perhatian) Artinya bahwa pesannya harus dirancang dan disampaikan

sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan perhatian dari komunikan.

2.

Need (

kebutuhan) Artinya bahwa komunikator kemudian berusaha meyakinkan

komunikan bahwa pesan yang disampaikan itu penting bagi komunikan.

27

Ibid., 33.

(38)

3.

Satisfaction (

pemuasan), dalam hal ini komunikator memberikan bukti bahwa

yang disampaikan adalah benar.

4.

Visualization (

visualisasi) komunikator memberikan bukti-bukti lebih konkret

sehingga komunikan bisa turut menyaksikan.

5.

Action (

tindakan), komunikator mendorong agar komunikan bertindak positif

yaitu melak-sanakan pesan dari komunikator tersebut.

Formula tersebut sering dinamakan

A-Aprocedur

sebagai singkatan dari

Attention-Action Procedure

, yang berarti agar komunikan dalam melakukan

kegiatan dimulai dulu dengan menumbuhkan perhatian.

29

Apabila perhatian sudah

berhasil dibangkitkan, kini menyusul upaya menumbuhkan minat. Upaya ini bisa

berhasil dengan mengutarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan komunikan.

Karena itu komunikator harus mengenal siapa komunikan yang dihadapinya.

Tahap berikutnya adalah memunculkan hasrat pada komunikan untuk melakukan

ajakan, bujukan atau rayuan komunikator. Di sini imbauan emosiaonal perlu

ditampilkan oleh komunikator, sehingga pada tahap berikutnya komunikan

mengambil keputusan untuk melakukan suatu kegiatan sebagaimana yang

diharapkan.

Cara penyampaian pesan memang berpengaruh terhadap keefektifan

proses komunikasi. Cara penyampaian yang baik, akan memudahkan komunikan

dalam menerima dan memahaminya.

(39)

BAB III

AYAT-AYAT TENTANG KOMUNIKASI DAN PENAFSIRANNYA

A.

Penyajian Ayat-ayat Tentang Komunikasi

Di dalam Alquran terdapat 6 term komunikasi dengan terminologi qaulan,

yaitu

qaulan sadi>dan (perkataan yang benar dan tepat), qaulan bali>ghan

(perkataan yang sampai pada tujuan)

, qaulan ma’ru>fa

n

(perkataan yang baik)

,

qaulan kari>man (perkataan yang mulia)

,

qaulan layyinan (perkataan yang lembut)

,

dan

qaulan maysu>ran (perkataan yang ringan).

Dilihat dari sisi makki madani dapat digolongkan sebagai berikut:

Ayat-ayat Makkiyah:

1.

Surat

al-

Isra’

ayat 23 (qaulan kari>man)

2.

Surat al-

Isra’

ayat 28 (qaulan maysu>ran)

3.

Surat Tha>ha> ayat 44 (qaulan layyinan)

Ayat-ayat Madaniyah:

(40)

Dilihat dari urutan surat dan ayat dalam Alquran, dapat dibagi sebagai

berikut:

1.

Surat al-Baqarah ayat 235 (

qaulan ma’ru>fan

)

2.

Surat an-

Nisa>’

ayat 5 (

qaulan ma’ru>fan

)

3.

Surat an-

Nisa>’

ayat 8 (

qaulan ma’ru>fan

)

4.

Surat an-

Nisa>’

ayat 9 (qaulan sadi>dan)

5.

Surat an-

Nisa>’

ayat 63 (qaulan bali>ghan)

6.

Surat al-

Isra’

ayat 23 (qaulan kari>man)

7.

Surat al-

Isra’

ayat 28 (qaulan maysu>ran)

8.

Surat Tha>ha> ayat 44 (qaulan layyinan)

9.

Surat al-Ahzab ayat 32 (

qaulan ma’ru>fan

)

10.

Surat al-Ahzab ayat 70 (qaulan sadi>dan)

Dilihat dari sisi terminologi qaulan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.

Qaulan Sadi>dan (surat an-

Nisa>’

ayat 9, surat al-Ahzab ayat 70)

2.

Qaulan Bali>ghan (surat an-

Nisa>’

ayat 63)

3.

Qaulan Ma’ru>fa

n (surat al-Baqarah ayat 235, an-

Nisa>’

ayat 5 dan 8,

al-Ahzab

32)

4.

Qaulan Kari>man (surat al-

Isra>’

ayat 23)

5.

Qaulan layyinan (surat Tha>ha> ayat 44)

6.

Qaulan Maysu>ran (surat al-

Isra’

ayat 28)

B.

Ayat-ayat Komunikasi dan Terjemahnya dengan Term Qaulan

1.

Qulan Sadi>dan (perkataan yang benar, tepat)

a.

Surat

an-

Nisa>’

ayat 9.























(41)

mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan

Perkataan yang benar.

1

b.

Surat al-Ahzab ayat 70.

















Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah

dan Katakanlah Perkataan yang benar.

2

2.

Qaulan Bali>ghan (perkataan yang mudah dimengerti)

a.

Surat

an-

Nisa>’

ayat 63.

Referensi

Dokumen terkait

Komunikator adalah setiap orang atau kelompok yang menyampaikan pesan-.. pesan komunikasi sebagai

Komunikasi satu arah seringkali dilakukan seorang kiai, ustadz, dan santri pada saat acara-acara di media komunikasi (Rasda FM), mereka menyampaikan pesan kepada komunikan sementara

Kesimpulan pesan efektif dalam term qawl : pesan harus benar dan bukan hasil rekayasa; pesan mudah dipahami; pesan berkualitas; pesan yang menghibur; pesan apa

Setiap komunikasi selalu ada komunikan (pihak yang menerima pesan komunikasi), dan komunikator (pihak yang mengirimkan pesan komunikasi). Hubungan antara komunikan

Komunikasi dakwah merupakan komunikasi yang dilakukan antara komunikator (da’i) dan komunikan (mad’u) untuk menyampaikan informasi dan pesan yang bersumber

Bagan 2.1 Efek Komunikasi. Motif komunikasi mendorong untuk melakukan tindak komunikasi dengan menyampaikan pesan. Pesan yang sampai pada komunikan menimbulkan efek,

c Komunikasi sebagai Proses Sosial dengan Unsur Memahami Karakteristik Komunikan Komunikasi adalah kegiatan esensial dalam menyampaikan pesan, informasi, ide, pemikiran, dan aspek

Berdasarkan kutipan- kutipan di atas, jelaslah bahasa proses komunikasi, akan dapat berlangsung secara efektif, apabila komunikator dalam menyampaikan suatu pesan kepada komunikan