REBUT KESEMPATAN MENJADI PENELITI MUDA DENGAN MAARIF FELLOWSHIP 2015 | INDBeasiswa TOR MAF 2015

12 

Teks penuh

(1)

hlm.

0

2015

(2)

hlm.

1

2015

MAARIF Fellowship (MAF) 2015

Fenomena Sektarianisme di Indonesia

Dasar Pemikiran

Hari-hari ini kita banyak menyaksikan fenomena sektarianisme, baik yang terjadi di level global maupun nasional. Di level global, kita melihat pertentangan antara Sunni-Syiáh di Timur Tengah hampir terjadi setiap hari, terus meningkat eskalasinya, dan memakan korban nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Konflik sektarianisme di Timur Tengah ini, juga banyak berujung pada fenomena takfiri (pengkafiran) yang menyebabkan keresahan dan konflik sosial yang sangat mengkhawatirkan. Sektarianisme di tingkat global ini juga tampak pada pembantaian ribuan Etnis Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh Wirathu dan kelompok Budha di sana. Konflik akibat sektarianisme di Timur Tengah, Pakistan, dan Myanmar ini, menjadikan banyak saudara sekandung dan sesama satu bangsa yang mau melakukan apa saja demi untuk mempertahkan keyakinan dan kelompoknya.

Sektarianisme di tingkat global, semakin mengkhawatirkan terlebih setelah kemunculan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) di Timur Tengah. ISIS yang mengklaim diri sebagai representasi resmi dari bentuk negara Islami ini, menganggap kelompok di luar dirinya salah dan boleh diperangi. Akibatnya, banyak negara, kelompok, dan masyarakat yang tidak setuju dengan dirinya atau dianggap menentang usaha ISIS, akan dibunuh atau diperlakukan secara semena-mena. Anehnya, fenomena kemunculan ISIS dan sektarianismenya yang akut ini menarik minat banyak orang. Terbukti banyak orang yang rela berhijrah atau pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung bersama ISIS, baik dari negara-negara Muslim atau sekuler.

(3)

hlm.

2

2015

yang eskalasi awalnya di Timur Tengah, ternyata sudah menyeruak masuk ke

Indonesia. Dan banyak juga orang Indonesia, sekitar 200-300 orang yang pergi untuk berjihad ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Sektarianisme di Indonesia juga nampak pada penolakan terhadap pemimpin dari kalangan minoritas yang memimpin kelompok minoritas. Dan penolakan yang disertai argumen keagamaan dan kadang juga disertai aksi kekerasan ini, mendapatkan beberapa dukungan dari masyarakat.

Sektarianisme juga terjadi di tingkat lokal, hal itu tampak pada dibiarkannya nasib jamaáh Ahmadiyah di berbagi tempat di Indonesia. Meskipun mereka mempunyai KTP Indonesia mestinya punya hak sepenuhnya sebagai warga negara, banyak diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Fenomena konflik akibat sektarianisme juga terjadi pada konflik antara MTA (Majlis Tafsir Al-Qurán dengan NU Nahdhatul Ulama’ . Sektarianisme kelompok keagamaan di tingkat lokal ini juga tampak pada tetap kuatnya pelaksanaan Perda-perda Syariah yang hingga hari ini tetap terjadi. Tentu saja, banyaknya sektarianisme kelompok keagamaan di tingkat lokal ini sangat menarik untuk didiskusikan dan diteliti lebih mendalam.

Di lingkungan Islam, kemunculan konflik sektarian merupakan dampak dari Islamisasi yang kian mengakar di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di Jawa. Ricklefs memahami Islamisasi sebagai proses pendalaman komitmen untuk hidup sesuai dengan standar kepercayaan normatif Islam, praktik, dan identitas keagamaan. Pada kenyataannya, rumusan standar Islamisasi adalah sesuatu yang diperebutkan, baik di antara individu maupun kelompok. Inilah isu yang sangat krusial dan menyeruak ke ruang publik, siapa dan kelompok mana yang punya otoritas menentukan kebenaran dan kemurnian ajaran agama.

Dalam Islamisation and Its Opponents in Java (2012), M.C. Ricklefs menemukan fakta bahwa telah terjadi pendalaman Islamisasi di kalangan kelompok-kelompok santri seiring kekalahan kelompok abangan. Kebijakan politik Orde Baru salah satu faktor utamanya. Kini, pengaruh kalangan santri kian dominan di birokrasi negara dan masyarakat, menyingkirkan kelompok abangan yang mayoritas pada awal kemerdekaan.

(4)

hlm.

3

2015

otoritas atas tafsir ajaran agama kian terbuka dan keras di antara

kelompok/organisasi Islam pascakelompok abangan kehilangan kekuatannya. Aksi penyerangan kelompok tertentu terhadap kampung pengikut Tarekat At-Tijaniyah salah satu contohnya. Kedua, model pemahaman Salafisme dan Wahabisme dari jalur penyebaran Timur Tengah bereproduksi di institusi-institusi pendidikan keagamaan dalam negeri. Kedua ideologi ini dikenal menolak prinsip-prinsip politik kewargaan yang menjadi fondasi bagi sebuah negara demokrasi. Arus baru inilah yang menggeser corak Islamisasi di level akar rumput yang sebelumnya diarsiteki organisasi moderat seperti NU dan Muhammadiyah.

Sektarian terkait dengan semangat membela suatu sekte, mahdzab, atau aliran. Bila menjadi satu isme, sikap sektarian melahirkan perilaku yang antikomunikasi, reaksioner, amat emosional, tidak kritis, angkuh dan anti dialog yang akan menyebabkan seseorang atau sekelompok masyarakat membabi buta membela kelompoknya atau mahdzabnya. Kekerasan sektarian kian menjadi ancaman bagi kebhinekaan di Indonesia. Orang yang terpengaruh dengan sektarianisme, biasanya akan bersifat fanatik, tidak membuka peluang diskusi, berpikir pendek, dan gampang menyalahkan orang lain. Sektarianisme ini bisa terjadi di banyak tempat, bahkan di lingkungan pendidikan dan masyarakat terdidik juga. Menguatnya sektarianisme itu, jika dibiarkan terus, tentu akan menjadi ancaman bagi kebhinekaan di Indonesia. Karena sektarianisme tidak mengakui keanekaragaman kelompok atau pluralitas dan menganggap kelompoknya yang paling benar.

Dengan pemahaman tersebut, sektarianisme keagamaan tidak eksklusif terjadi di lingkungan Islam saja, namun juga terjadi di berbagai agama seperti di lingkungan Parmalin atau Kajang. Termasuk ketika terjadi berbagai tindak pelarangan membangun tempat ibadah yang memicu ketegangan-ketegangan sosial di Manado, Kupang dan Bali. Peristiwa-peristiwa yang sifatnya lokal ini bisa dikatakan terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

(5)

hlm.

4

2015

ekonomi, kultural, sosial, dan politiknya. Kelompok minoritas menjadi warga

Negara kelas dua yang tidak bisa secara penuh menjadi warga Negara Indonesia. Padahal Konstitusi Indonesia secara jelas-jelas menegaskan kesamaan hak semua warga negaranya dan tidak ada warga Negara kelas pertama maupun kelas kedua. Oleh karenanya, sektarianisme ini jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Indonesia dan sangat potensial mengancam masa depan bangsa tercinta.

Karena itu, pemerintah harus mulai serius merumuskan kebijakan dan strategi komprehensif dalam menangani kasus-kasus kekerasan sektarian sebelum berkembang lebih jauh. Perlu penanganan dari hulu ke hilir. Demikian halnya dengan agama lain, konflik sektarian terjadi karena terjadinya perebutan tafsir ajaran atas agama yang dianutnya. Tak mengherankan apabila menguatnya intoleransi, bahkan kekerasan dalam kehidupan beragama, menjadi sisi lain yang gelap pada saat citra ekonomi-politik Indonesia bersinar di kawasan Asia bahkan global. Ketiadaan terobosan kebijakan politik dalam pengelolaan kebinekaan bangsa akan bermuara pada membesarnya ancaman eskalasi konflik sektarian. Kondisi ini akan semakin buruk jika konflik itu dibiarkan bereskalasi dan dieksploitasi demi kepentingan politik dan keamanan.

Nama Kegiatan

Kegiatan ini bernama

MAARIF Fellowship (MAF) 2015

Tujuan Kegiatan

1. Melakukan kaderisasi intelektual pada kaum muda Indonesia untuk menjadi intelektual yang kritis, mencerahkan, dan memihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial.

(6)

hlm.

5

2015

3. Memperkuat tradisi riset dan penulisan yang berbasiskan pada metode

penelitian yang mumpuni serta pembacaan sumber-sumber yang otoritatif dan diskusi yang intensif serta serius.

Tahapan Kegiatan

Tahapan kegiatan ini berlangsung selama 8 bulan (Mei – November 2015) yang terdiri dari:

1. Tahap Seleksi:

Pengumuman MAARIF Fellowship (MAF) melalui media massa nasional, media elektronik, dan media sosial kepada seluruh mahasiswa dan anak muda di tanah air. Kemudian dilakukan seleksi terhadap para peserta yang telah membuat proposal riset dan mempresentasikannya di depan dewan juri MAARIF Fellowship yang telah ditunjuk oleh MAARIF Institute. Selanjutnya, para peserta yang lolos seleksi diumumkan dan dilanjutkan dengan dimulainya program fellowship.

2. Tahap Orientasi

Tahap ini akan akan berlangsung selama seminggu sebelum tahap riset dan penulisan. Selama satu minggu, peserta yang terpilih akan mendapatkan orientasi mengenai penulisan ilmiah, metode referensi (pengutipan), metode penelitian, public speaking, persiapan bahan untuk presentasi, dan excursion.

3. Tahap Riset dan Penulisan:

Tahap ini akan berlangsung selama 3 bulan. Para peserta yang telah lolos seleksi menjalani program riset dan penggalian data tentang tema yang ditulisnya.

4. Tahap Seminar Hasil Penelitian:

(7)

hlm.

6

2015

bersama dengan naskah orasi ini nantinya akan diterbitkan oleh MAARIF

Institute.

Distingsi dengan Model Fellowship lainnya

1. Para peserta terpilih akan memperoleh dana penelitian sebesar Rp.12.000.000,00.

2. Selama proses orientasi dalam program MAARIF Fellowship (MAF), para peserta diberikan training mengenai metode penelitian, public speaking, presentasi penelitian, serta akses untuk menulis di berbagai media massa nasional. Salah satu dewan juri akan memberikan supervisi pada proses riset dan penulisan fellowship mereka. Sedangkan para penulis senior di MAARIF Institute akan memberikan bimbingan dan konsultasi secara intensif kepada mereka tentang penulisan di media massa nasional.

3. Para peserta MAARIF Fellowship (MAF) akan dikenalkan dan diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi secara langsung dengan para tokoh bangsa dan lintas agama yang selama ini menjadi jaringan MAARIF Institute.

4. Untuk menjaga keberlanjutan ikatan dan jaringan, setelah selesainya program ini, para peserta tetap didorong untuk menulis di media massa atau jurnal dengan mencantumkan nama sebagai penerima MAARIF Fellowship (MAF) tahun 2015.

5. Sebagai salah satu usaha untuk melanjutkan pengkaderan intelektual, MAARIF Institute akan berusaha memberikan rekomendasi jika para peserta terpilih ini berminat melanjutkan sekolah di jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tema Riset

Fenomena Sektarianisme Keagamaan di )ndonesia

(8)

hlm.

7

2015

sektarian yang dijadikan rujukan pada MAF 2015 ini terkait dengan semangat

membela suatu sekte, mahdzab, atau aliran. Bila menjadi satu isme, sikap sektarian melahirkan perilaku yang antikomunikasi, reaksioner, amat emosional, tidak kritis, angkuh dan anti dialog yang akan menyebabkan seseorang atau sekelompok masyarakat membabi buta membela kelompoknya atau mahdzabnya. Akibatnya, bangunan sosial dalam politik kewargaan yang menjadi pilar demokrasi berpotensi mengalami tantangan.

Pertanyaan-pertanyaan yang ingin berusaha dijawab dalam riset ini di antaranya adalah: Kenapa fenomena sektarianisme kelompok keagamaan di Indonesia saat ini semakin menguat? Sejauhmana pengaruh kondisi global terhadap menguatnya fenomena sektarianisme di Indonesia? Bagaimana transmisi sektarianisme di tingkat global dengan sektarianisme di tingkat nasional dan local? Apa dampak sektarianisme terhadap kewargaan bangsa Indonesia? Apa implikasi sektarianisme terhadap terpenuhinya hak-hak social, ekonomi, dan politik warga Negara Indonesia? Bagaimana akar sejarah, perkembangan, dan masa depan sektarianisme di tingkat local? Kenapa fenomena sektarianisme ini juga bisa masuk dan berkembang di dunia pendidikan dan kalangan muda? Dengan cara seperti apa saja kita bisa melakukan advokasi terhadap masyarakat yang terpengaruh sektarianisme? Bagaimana masa depan kebinekaan banga Indonesia dihadapkan dengan kondisi sektarianisme hari ini?

Kriteria Peserta

1. Mahasiswa Strata Satu (S1) atau fresh graduate yang baru saja merampungkan studinya di berbagai perguruan tinggi di tanah air (maksimal 1 tahun).

2. Mempunyai pengalaman di organisasi mahasiswa, di bidang jurnalistik, atau di bidang riset (salah satunya atau semuanya).

3. Mempunyai keinginan kuat untuk belajar penelitian dan menulis serta bersedia untuk dibimbing oleh para pendamping riset.

(9)

hlm.

8

2015

Ketentuan Riset dan Penulisan

1. Proposal riset merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan saduran dan terjemahan.

2. Proposal riset mengacu pada standar ilmiah. Proposal riset mencakup: signifikansi riset, metode yang akan digunakan dalam menggali/menganalisis data, dan pertanyaan-pertanyaan riset.

3. Proposal dan naskah belum pernah dipublikasikan dan diikutsertakan dalam lomba karya tulis apapun.

4. Peserta memilih salah satu yang telah ditentukan dan tidak diperkenankan mengirimkan lebih dari satu proposal riset.

5. Proposal riset yang masuk menjadi hak panitia dan tidak dikembalikan. 6. Segala bentuk plagiat akan menggugurkan riset dan penulisan dengan

sendirinya.

7. Penilaian proposal riset ditekankan pada aspek ketajaman argumentasi dan kedalaman analisis yang disampaikan para peserta di hadapan dewan juri MAARIF Institute.

Persyaratan

1. Proposal riset dikirim rangkap dua, diketik di atas kertas kwarto, spasi 1,5 dengan font Times New Roman ukuran huruf 12, 5-7 halaman.

2. Melampirkan biografi singkat penulis, fotokopi KTM, 1 lembar foto ukuran 3x4, alamat lengkap, nomor telepon dan e-mail.

3. Proposal riset dimasukkan ke dalam amplop tertutup dan di sudut kiri atas amplop ditulis "MAARIF Fellowship (MAF) 2015"

4. Naskah dikirim ke: Panitia MAARIF Fellowship (MAF) 2015 dengan alamat: MAARIF Institute for Culture and Humanity, Jl. Tebet Barat Dalam II No. 6, Tebet Barat, Jakarta Selatan 12810 – Indonesia.

5. Proposal penelitian dapat juga dikirim dalam bentuk file MS.Word melalui e-mail:

 maarif@maarifinstitute.org  mujadid.rais@gmail.com

 fuadfanani27@gmail.com  aidulfitriyana@yahoo.com

(10)

hlm.

9

2015

6. Proposal penelitian dikirim ke panitia paling lambat tanggal 28 Juli 2015

(cap pos).

7. Peserta yang lolos seleksi tahap awal proposal diharuskan mengikuti

seleksi wawancara di hadapan dewan juri untuk

mempertanggungjawabkan proposal yang ditulisnya dan menyampaikan rancangan riset dan penulisannya.

Insentif

Para peserta yang terpilih dalam MAARIF Fellowship (MAF) akan mendapat insentif berupa:

1. Dana riset sebesar Rp.12.000.000,00

2. Living cost selama minggu selama orientasi di MAARIF Institute. 3. Penerbitan karya hasil riset para peserta terpilih MAARIF Fellowship.

Dewan Juri

1. Budiman Tanuredjo 2. Ahmad Najib Burhani, PhD 3. Muhammad Najib Adza PhD 4. Francia Seda, PhD

5. Sandra Hamid

Jadwal Kegiatan

Kegiatan ini direncanakan akan berlangsung selama 8 bulan (Mei-Desember 2015) dengan rincian jadwal kegiatan terlampir.

Kepanitiaan

(11)

2015

hlm.

10

2015

TIME LINE MAARIF FELLOWSHIP 2015

Mei s.d. November 2015

No.

Agenda Bulan

Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

Minggu 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Pertemuan awal dan Finishing Proposal 2. Sosialisasi

3. Seleksi Dewan Juri 4. Pengumuman Seleksi 4. Orientasi

5. Penulisan Hasil Penelitian 6. Seminar Hasil

(12)

hlm.

11

2015

Jl. Tebet Barat Dalam II No.6, Jakarta Selatan 12810

Telp. 021 - 83794554 / 60  Fax. 021 - 83795758

Email: maarif@maarifinstitute.org

MAARIF Institute @maarifinstitute

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :