LANDASAN TEORI
Grand Theory dari penelitian ini yaitu bauran pemasaran yang terdiri dari Product, Price, Place dan Promotion, namun aspek place tidak menjadi fokus dalam penelitian ini. Menurut Kotler & Keller (2012) bauran pemasaran/marketing mix adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran di pasar sasaran. Substantive Theory dari variabel penelitian ini adalah Kualitas Produk, Harga, dan Promosi.
Kualitas Produk
Menurut Kotler & Armstrong (2014), kualitas produk merupakan kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk dan atribut produk lainnya. Kualitas produk merupakan proses evaluasi secara keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk (Mowen & Minor, 2012). Jadi kualitas produk dapat diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan konsumen pada suatu produk atau jasa yang memiliki harapan terhadap produk atau jasa yang akan di konsumsinya. Indikator kualitas produk menurut Tjiptono (2012):
1. Kinerja merupakan karakteristik operasi dan produk inti yang dibeli 2. Fitur produk yang melengkapi fungsi dasar dari produk
3. Kesesuaian dengan spesifikasi merupakan karakteristik desain dan operasi yang memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya
4. Ketahanan produk yang dapat terus digunakan
5. Keandalan yaitu kemungkinan kecil produk yang mengalami kerusakan 6. Serviceability, pelayanan yang diberikan
7. Estetika yaitu daya tarik produk terhadap panca indera
8. Kualitas yaitu yang dipersepsikan terhadap kualitas atau keunggulan suatu produk
Dari indikator tersebut, peneliti menarik beberapa indikator yang sesuai dengan objek penelitian ini yaitu diantaranya: keandalan, ketahanan, serviceability, estetika, dan kualitas.
Harga adalah suatu unsur dalam bauran pemasaran yang dapat memberikan pendapatan bagi perusahaan (Tjiptono, 2016). Harga merupakan sebuah nilai yang menyatakan sejumlah uang yang dibebankan atas sebuah produk atau jasa (Kotler & Armstrong, 2012). Jadi harga dapat diartikan dengan pendapatan perusahaan dari produk atau jasa yang dijual dengan membebankan sejumlah uang dari konsumen. Terdapat empat indikator harga menurut Kotler & Armstrong (2012), yaitu:
1. Keterjangkauan harga yaitu konsumen menjangkau harga yang telah diputuskan oleh perusahaan dengan berbagai jenis produk dalam satu merek menghasilkan harga yang berbeda dari harga termurah sampai termahal.
2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk mencerminkan harga sebagai indikator kualitas untuk konsumen yang memilih harga yang tinggi diantara barang lain karena terdapat perbedaan kualitas. Konsumen cenderung beranggapan bahwa harga yang tinggi mencerminkan kualitas yang baik.
3. Kesesuaian harga dengan manfaat mencerminkan seseorang yang membeli produk apabila manfaat yang dirasakan lebih besar dengan uang yang dikeluarkan. Apabila manfaat yang dirasakan konsumen lebih kecil dari uang yang dikeluarkan, maka konsumen beranggapan bahwa produk yang dibeli mahal dengan kemungkinan kecil konsumen akan kembali membeli produk tersebut.
4. Daya saing harga yaitu konsumen selalu membandingkan harga satu barang dengan barang lainnya, tinggi atau rendahnya harga barang menjadi pertimbangan bagi konsumen ketika membeli suatu barang tersebut.
Promosi
Menurut Kotler & Armstrong (2012), promosi adalah unsur yang digunakan untuk memberitahukan dan membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan dan publikasi. Menurut Assauri (2015) kegiatan promosi yang dilakukan suatu perusahaan merupakan kombinasi dari bauran promosi yang terdiri dari advertensi, penjualan perorangan, promosi penjualan, publisitas yang mencerminkan kebijakan promosi dari perusahaan tersebut. Jadi promosi dapat diartikan sebagai kegiatan yang menarik bagi konsumen dan bertujuan untuk memperkenalkan produk atau jasa yang dijual kepada konsumen. Indikator promosi menurut, Kotler & Keller (2012) yaitu:
1. Periklanan merupakan suatu bentuk presentasi maupun promosi non personal. Bentuk presentasi ini memerlukan gagasan tentang barang atau jasa yang diperoleh dari sponsor yang jelas.
2. Promosi penjualan merupakan insentif jangka pendek untuk menunjang penjualan atau pembelian suatu produk maupun jasa.
3. Event and Experiences adalah bentuk aktivitas yang di dukung oleh perusahaan untuk menciptakan merek khusus.
4. Public Relations and Publicity yaitu aktivitas untuk menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan masyarakat untuk menciptakan publisitas serta membangun citra perusahaan.
5. Penjualan langsung adalah hubungan secara langsung dengan pelanggan untuk memperoleh tanggapan secara langsung.
6. Interactive marketing suatu kegiatan yang dilakukan untuk menarik perhatian konsumen dan menciptakan kesadaran serta meningkatkan penjualan produk maupun jasa yang langsung dan tidak langsung.
7. Word of mouth yaitu komunikasi dari mulut ke mulut berupa rekomendasi suatu produk atau jasa secara individu maupun kelompok.
8. Penjualan perorangan yaitu presentasi personal dengan tujuan untuk menghasilkan transaksi penjualan dan menjalin hubungan baik dengan pelanggan secara langsung.
Dari indikator tersebut, peneliti menarik beberapa indikator yang sesuai dengan objek penelit ian ini yaitu diantaranya: periklanan, promosi penjualan, word of mouth dan event and experiences karena bentuk-bentuk promosi itulah yang dilakukan oleh Batik Benang Raja.
Minat Beli Ulang
Menurut Thamrin & Francis (2012), minat beli ulang merupakan minat pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang telah dilakukan di masa lalu. Minat beli ulang adalah keinginan dan tindakan konsumen untuk membeli ulang produk karena kepuasan yang di dapatkan sesuai yang diinginkan dari produk tersebut (Nurhayati & Wahyu, 2012). Jadi minat beli ulang dapat diartikan dengan keinginan konsumen untuk kembali lagi mengonsumsi produk atau jasa yang telah dikonsumsi di masa lalu dan dapat menunjukkan rasa puas terhadap produk atau jasa
tersebut. Indikator minat beli ulang menurut Ferdinand (2002) dalam jurnal Saidani & Arifin (2012) yaitu:
1. Minat transaksional adalah minat konsumen untuk membeli produk
2. Minat referensial adalah minat konsumen untuk merekomendasikan produk kepada orang lain
3. Minat preferensial yaitu kemampuan yang mencerminkan perilaku konsumen yang mempunyai pilihan utama pada produk
4. Minat eksploratif adalah kemampuan yang mencerminkan perilaku konsumen yang sering mencari informasi tentang produk yang diinginkan dengan sifat positif produk yang sama.
NALAR KONSEP
Pengaruh antara Kualitas Produk terhadap Minat Beli Ulang
Menurut Kotler & Keller (2012) kualitas produk merupakan keunggulan sebuah produk dalam memenuhi fungsi produk tersebut. Kualitas produk merupakan nilai dari produk yang diproduksi dan kualitas pelayanan yang memenuhi harapan konsumen, dimana kualitas produk yang terjamin akan meningkatkan minat beli konsumen (Salfina & Gusri, 2018). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Denniswara (2018) menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang. Penelitian Nurmatin (2019) juga menghasilkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara kualitas produk terhadap minat beli ulang. Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H1: kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang
Pengaruh antara Harga terhadap Minat Beli Ulang
Menurut Buchari (2011) harga merupakan nilai suatu produk yang dinyatakan dengan uang. Hal ini dapat ditunjukkan dari penelitian Devi (2011) menyatakan bahwa harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang. Penelitian Rosita (2016) menghasilkan adanya pengaruh pengaruh positif dan signifikan antara harga terhadap minat beli ulang, karena variabel harga yang paling dominan terhadap minat beli ulang. Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Pengaruh Promosi terhadap Minat Beli Ulang
Lupiyoadi (2013) mendefinisikan promosi sebagai kegiatan untuk menginformasikan manfaat produk yang dilakukan oleh perusahaan agar konsumen dapat terpengaruh pada saat melakukan pembelian dan penggunaan produk atau jasa sesuai kebutuhan. Penelitian Murwanti & Pratiwi (2017) menunjukkan bahwa promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang. Penelitian Devi (2011) menghasilkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara promosi terhadap minat beli ulang. Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H3: promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang
Gambar 1. Kerangka Berpikir Pengaruh kualitas produk, harga, dan promosi terhadap minat beli ulang konsumen.
Sumber: Ainul & Apriliani 2019, Dimodifikasi oleh Penulis 2020
Berdasarkan kerangka berpikir diatas penulis menggunakan metode parsial yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Variabel Bebas: X1 : Kualitas produk X2 : Harga X3 : Promosi Variabel Terikat :
Y : Minat beli ulang
Kualitas Produk (X1)
Harga (X2) Promosi (X3)
Minat Beli Ulang (Y)