• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi VI Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Agustus 2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi VI Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Agustus 2007"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

KAYU BERDASARKAN EMPAT FAKTOR INTERNAL UNTUK

EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI BIAYA PEMBANGUNAN RUMAH

MENENGAH DI MALANG

Tjaturono*, Indrasurya B. Mochtar**

*Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Merdeka Malang

**Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Email : [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan salah satu cara untuk dapat menekan biaya produksi lebih efektif dan efisien. Usaha ini merupakan salah satu cara untuk menahan kecenderungan biaya pembangunan rumah menengah untuk terus meningkat seperti di Indonesia saat ini.

Dalam tulisan ini dibahas upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang dititik beratkan pada empat variabel internal tenaga kerja yang berpengaruh kuat terhadap produktivitas tenaga kerja tukang kayu. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara, kuisioner, dan observasi. Data yang diperoleh diolah dengan statistik diskriptif, linear berganda, uji model simultan dan parsial.

Dari hasilnya dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan produktivitas terhadap produktivitas SNI 2001 yang berkisar antara terkecil 69% pada pekerjaan kayu buat kosen sampai dengan peningkatan terbesar 600% pada pekerjaan kayu buat pintu dan jendela. Sedangkan terhadap produktivitas aktual tahun 2005, didapatkan peningkatan antara terkecil 18% pada pekerjaan kayu buat kosen, dan terbesar 52% pada pekerjaan pasang atap.

Kata kunci: Efisiensi biaya, pembangunan rumah menengah, produktivitas tenaga kerja, tukang kayu.

PENDAHULUAN

Dalam Suatu proyek konstruksi terdapat tiga hal penting yang harus diperhatikan yaitu waktu, biaya dan mutu (Kerzner, 2006). Pada umumnya, mutu konstruksi merupakan elemen dasar yang harus dijaga untuk senantiasa sesuai dengan perencanaan. Namun demikian, pada kenyataannya sering terjadi pembengkakan biaya sekaligus keterlambatan waktu pelaksanaan (Proboyo, 1999; Tjaturono, 2004). Dengan demikian, seringkali efisiensi dan efektivitas kerja yang diharapkan tidak tercapai. Hal itu mengakibatkan pengembang akan kehilangan nilai kompetitif dan peluang pasar (Mora dan Li, 2001).

Disamping itu, ketatnya persaingan dunia pengembang perumahan di Indonesia dipicu oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM) per 1 Oktober 2005 yang lalu, berdampak langsung secara signifikan terhadap kenaikan biaya produksi. Dengan demikian, setiap pengembang semakin dituntut untuk memiliki keunggulan dalam bersaing (Sutoto, 2005). Salah satu keunggulan dalam bersaing dapat ditempuh melalui kemampuan dalam menekan biaya (Keegan, 1995). Dengan kata lain, pengembang

(2)

harus mampu melakukan efisiensi dan efektivitas pada biaya produksi, agar mereka tetap mampu bertahan dalam persaingan di masa kini. Nilai biaya produksi yang dipengaruhi oleh biaya tenaga kerja memiliki porsi yang signifikan (Smith, et al, 1990). Besarnya biaya tenaga kerja konstruksi mencapai 35% - 40% dari biaya total pembangunan (Tjaturono, 1999; Budi Priyanto, 2000) berdasarkan produktivitas Burgelijke Openbare Werken (BOW) 1921, mencapai 24-29 % (Tjaturono, 2004) berdasarkan produktivitas SNI 2001, dan mencapai 18-21% berdasarkan produktivitas aktual 2005 (Tjaturono, 2005).

Pengukuran produktivitas tenaga kerja merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas (Hafid, 1995). Pengukuran produktivitas pada penelitian Tjaturono (2005), menyatakan bahwa produktivitas tenaga kerja aktual dipengaruhi oleh lima faktor eksternal dan empat faktor internal. Faktor-faktor internal tenaga kerja tersebut meliputi: (1) motivasi (MTS), (2) keterampilan (KTRP), (3) disiplin (DSP), dan (4) pendidikan (PDDK) yang memiliki persentase pengaruh sebesar 40%.

Peningkatan produktivitas tenaga kerja dapat dilakukan dengan mengupayakan perbaikan pada empat faktor internal di atas. Upaya ini akan mengurangi biaya dan waktu, khususnya biaya tenaga kerja, sehingga diperoleh biaya tenaga kerja minimum (minimum labour cost) dalam rangka mencapai biaya yang kompetitif (Ratnayanti, 2003). Oleh karena itu peningkatan produktivitas tenaga kerja sangatlah diperlukan untuk mempertahankan eksistensi pengembang dalam menentukan daya saing (NAHB Research Centre, 1998; Gaszper, 2000; Ratnayanti, 2003; Tjaturono, 2005).

Tinjauan pada tulisan ini dibatasi pada variabel internal yang dominan terhadap produktivitas tenaga kerja untuk delapan jenis pekerjaan kayu saja. Lokasi studi yang dipilih adalah Malang dengan tipe rumah menengah layak huni (Jurnal REI, 2002; Simanungkalit, 2004). Sedangkan metode pelaksanaan pembangunannya adalah metode standar yang lazim digunakan oleh pengembang di Malang.

Permasalahan

Permasalahan yang akan dipecahkan dalam tulisan ini adalah:

1. Setelah dilakukan perbaikan faktor manakah yang lebih dominan dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja kayu.

2. Berapa besar kemungkinan peningkatan produktivitas tenaga kerja kayu setelah dilakukan upaya perbaikan.

3. Berapa besarnya peningkatan produktivitas tenaga kerja kayu yang diteliti setelah upaya perbaikan dibandingkan dengan produktivitas yang didasarkan pada SNI 2001 dan produktivitas aktual hasil penelitian oleh Tjaturono (2005).

METODOLOGI

Upaya-upaya Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja

Hasil penelitian Tjaturono (2005), menyatakan bahwa faktor utama internal yang memengaruhi produktivitas tenaga kerja adalah motivasi, keterampilan, disiplin, dan pendidikan sehingga perlu dilakukan perbaikan pada keempat faktor tersebut. Supaya produktivitas tenaga kerja untuk 8 jenis pekerjaan kayu meningkat, langkah yang diambil sebagai berikut:

a. Motivasi (MTS)

Bentuk motivasi yang biasa dilakukan oleh perusahaan meliputi empat unsur utama (Antonius Johannes, 2002) yakni: (1) kompensasi bentuk uang, (2) pengarahan dan pengendalian, (3) persiapan pola kerja yang efektif, dan (4) kebijakan.

(3)

Berdasarkan pada keempat bentuk motivasi di atas serta teori hirarki kebutuhan Maslow (Handoko dkk., 2003) yang terdiri dari lima tingkatan meliputi: kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Yang dipilih untuk memotivasi tenaga kerja pembangunan rumah menengah adalah kompensasi dalam bentuk uang. Hal ini dilakukan karena tenaga kerja/tukang akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu bila ada imbalan dalam bentuk uang, dimana uang berperan penting dalam kehidupan manusia/tenaga kerja. dan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar sesuai dengan tingkatan pertama dari teori Maslow yakni kebutuhan fisiologis. Hal ini sejalan dengan penelitian Budiyanto (1990) yang menyatakan bahwa kelompok pekerja operasional bagian terrendah mempunyai kebutuhan fisiologis sebesar 82,3% dari pendapatan.

b. Keterampilan / Skill (KTRP)

Keterampilan yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas diberikan dalam bentuk pelatihan. Adapun teknik-teknik pelatihan menurut Dessler (1997) ada tujuh yakni: (1) pelatihan di tempat kerja – on the job training, (2) pelatihan instruksi jabatan, (3) pelajaran, (4) teknik audiovisual, (5) pembelajaran terprogram, (6) pelatihan simulasi, (7) pelatihan berdasarkan komputer. Dari ketujuh teknik pelatihan yang paling sering digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah pelatihan di tempat kerja dan pelajaran. Hal ini disebabkan kedua teknik tersebut merupakan teknik yang paling efisien, cepat dan sederhana.

c. Disiplin (DSP)

Disiplin yang tepat untuk diterapkan pada pembangunan rumah menengah adalah mematuhi aturan kerja meliputi ketaatan waktu dan melakukan perintah dari atasan dengan baik. Penelitian Budi Priyanto (2000) menunjukkan bahwa pengukuran produktivitas tenaga kerja pada pekerja konstruksi maksimum hanya 60% dari jam kerja produktif sehingga untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja diperlukan pengukuran jam efektif terhadap jam kerja perlu ditingkatkan melalui disiplin waktu kerja dan mematuhi perintah atasan.

d. Pendidikan (PDDK)

Pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah pendidikan yang dapat mengembangkan terutama kepribadian, kecerdasan, serta keterampilan pada tenaga kerja. Pendidikan ini dapat melalui pendidikan formal, non formal, dan pendidikan informal.

Sejalan dengan penelitian Indrawati (1998) disimpulkan bahwa variable pendidikan mempunyai pengaruh yang bermakna dan positif terhadap produktivitas. Dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja, pada penelitian ini faktor pendidikan diutamakan pada pendidikan khusus teknik, misalnya: SD, ST, STM.

Lokasi, Populasi, Pengumpulan Data, dan Proses Analisis

Lokasi penelitian tentang peningkatan produktivitas tenaga kerja ini dilaksanakan adalah di Malang. Penelitian dilakukan mulai 5 Januari 2006 sampai dengan 15 Mei 2006.

Populasi penelitian adalah pengembang rumah menengah di Malang yang minimal membangun 200 unit pada satu lokasi. Selanjutnya sampel pengembang diambil secara acak sederhana sebanyak 2 pengembang dari enam pengembang yang memenuhi syarat, sedangkan sampel tenaga kerja (unit analisisnya) diambil sejumlah 32 (N) secara acak sederhana dari 100 unit rumah yang dibangun, masing-masing pengembang diambil 16 kelompok tukang.

(4)

Perolehan data menggunakan kuesioner, wawancara, dan observasi langsung di lapangan yang meliputi: motivasi, keterampilan, disiplin, pendidikan tenaga kerja serta produktivitas tenaga kerja yang dilakukan pada pagi, siang dan sore hari pada setiap hari kerja mulai jam 07.30 – 15.30 WIB (6 jam kerja efektif). Untuk tiap-tiap tenaga pekerja dilakukan observasi lapangan selama lima kali.

Pengukuran data menggunakan skala Likert dengan rentang 1 sampai dengan 3 yang dibuat dalam check list yang telah diuji. Untuk keperluan analisis kuantitatif diberi skor 1 sampai dengan 3 (Sugiono, 2002).

Analisis data menggunakan metode statistik dengan bantuan software SPSS 11 yang meliputi: statistik diskriptif, persamaan regresi linear berganda, uji model secara simultan dan parsial, uji asumsi regresi linear berganda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengolahan untuk delapan jenis pekerjaan tenaga kerja kayu diolah dengan cara yang sama dan yang diambil sebagai contoh adalah pekerjaan tukang kayu membuat pintu dan jendela. Untuk data klasifikasi tukang kayu yang meliputi komposisi dan profil dari variabel bebas seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi dan Profil dari Variabel Bebas

Variabel N

Baik (B) Cukup ( C ) Kurang (K) Baik (B) Cukup ( C ) Kurang (K)

MTS (x1) 18 11 3 56,25 24,4 9,38 32 KTRP (x2) 13 15 4 40,62 46,88 12,5 32 DSP (x3) 14 15 3 43,75 46,88 9,38 32 PDDK (x4) 6 10 16 18,75 31,25 50 32

Profil Respondent (%) Komposisi Respondent (tukang)

Perhitungan regresi dilakukan dengan metode stepwise yaitu gabungan antara metode backward dan forward, variabel yang pertama kali masuk adalah variabel yang korelasinya tinggi dan signifikan dengan variabel dependen. Setelah variabel tertentu masuk dalam model maka variabel lain yang ada didalam model dievaluasi. Jika ada variabel yang tidak signifikan maka variabel tersebut dikeluarkan.

Model persamaan regresi antara tingkat produktivitas tukang kayu buat pintu dan jendela dengan motivasi, keterampilan, disiplin, dan pendidikan yang diperoleh berdasarkan Tabel 2 (Tabel Koefisien) dibawah ini.

Tabel 2. Koefisien (a) Unstandardized Standardized

Model Coefficients Coefficients t Sig. Collinearity Statistics Std.

B Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 6.371 .062 102,318 .000 x2 .347 .025 .747 14,139 .000 1.000 1.000 2 (Constant) 6.004 .070 85,463 .000 x2 .322 .021 .693 15,283 .000 .977 1,023 x3 .183 .023 .359 7,914 .000 .977 1,023 3 (Constant) 5.955 .067 89,097 .000 x2 .231 .028 .497 8,33 .000 .498 2,01 x3 .144 .023 .283 6,211 .000 .854 1,171 x1 .146 .031 .296 4,678 .000 .444 2,25 4 (Constant) 5.954 .066 90,861 .000 x2 .225 .027 .485 8,254 .000 .494 2,023 x3 .135 .023 .265 5,87 .000 .835 1,197 x1 .124 .032 .250 3,897 .000 .414 2,416 x4 .055 .020 .128 2,701 .001 .757 1,322

Pemilihan model tersebut berdasarkan nilai koefisien determinasi dari model yang mungkin. Model yang digunakan adalah model yang mempunyai koefisien determinasi ( R2 adjusted) terbesar sehingga berdasarkan Tabel Summary dibawah ini model yang digunakan adalah model ke-4 yakni: Y = 5,954 + 0,225 x2 + 0,135 x3 + 0,124 x1+ 0,055 x4

(5)

Tabel 3. Model Summary (e)

Adjusted R Std. Error of

Durbin-Model R R Square Square the Estimate Watson

1 ,747(a) .559 .556 .218639

2 ,827(b) .684 .680 .185444

3 ,850 c .723 .716 .174218

4 ,858(d) .736 .729 .170806 1.279

Untuk pengujian selanjutnya hanya berfokus pada model keempat. Model ini mempunyai nilai R2 adjusted sebesar 0,729 dan R2 sebesar 0,736. Besarnya nilai R2 mempunyai arti variabel independen (motivasi, keterampilan, disiplin, pendidikan) dapat menerangkan variabilitas sebesar 73,6% dari variabel produktivitas, sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain atau dengan kata lain produktivitas tukang kayu dalam membuat pintu dan jendela 73,6% dijelaskan oleh faktor keterampilan, disiplin, motivasi dan pendidikan, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain yang tak termasuk dalam model tersebut.

Untuk membuktikan bahwa model dapat digunakan, maka diperlukan pengujian yang meliputi:

a. Uji secara simultan, yakni menguji signifikansi linearitas antara variabel independen dengan variabel dependen.

Dari hasil ANOVA yang dilakukan diperoleh hasil perbandingan nilai signifikasi

(sig) dengan taraf signifikasi (α)1: sig (0,000) < α (0,05). Dapat disimpulkan bahwa antara produktivitas tukang kayu buat pintu dan jendela dengan motivasi, keterampilan, disiplin, dan pendidikan terdapat hubungan linear.

b. Uji parsial yang harus dilakukan yakni:

Signifikansi konstanta (a) pada model linear dari tabel koefisien diperoleh nilai signifikansi (sig) untuk konstanta (a) sebesar 0,00 (< 0,05), dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi a adalah signifikan.

Signifikansi koefisien variabel independen (b1) pada model linear

Dari Tabel 2 diperoleh nilai signifikansi (sig) untuk tiap variabel independen terbesar adalah (0,001) < 0,05, dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi bi (keterampilan, disiplin, motivasi dan pendidikan) signifikan atau mempunyai pengaruh pada produktivitas tukang kayu dalam membuat pintu dan jendela.

c. Uji asumsi regresi linear berganda

Untuk mendapatkan model yang BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) maka model harus memenuhi uji asumsi sebagai berikut:

 Uji Linearitas

Gambar 1. Scatterplot

Dari gambar scatterplot terlihat bahwa grafik harga-harga prediksi dengan harga-harga residual tidak membentuk pola tertentu (misal: parabola, kubik, dsb.) berarti asumsi kelinearan terpenuhi.

(6)

 Uji homoskedasitas

Dari gambar scatterplot terlihat bahwa penyebaran nilai-nilai residual terhadap prediksi tidak membentuk pola tertentu (meningkat atau menurun) sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi homogenitas terpenuhi.

 Uji multikolinearitas

Dalam penelitian ini multikolinearitas ternyata tak terbukti dengan ditunjukkannya pada Tabel Koefisien (Tabel 2) dengan tidak ada variabel independen yang mempunyai nilai VIF yang lebih dari 10.

 Uji Auto Korelasi

Dalam penelitian ini auto korelasi tidak terjadi pada model regresi. Hal ini dapat dilihat pada Model Summary (Tabel 3), terbaca nilai Durbin Watson = 1,279. Angka DW ini terletak diantara -2 sampai +2.

 Uji Normalitas

Gambar 2. Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Asumsi kenormalan terpenuhi, hal ini terlihat pada titik-titik data tersebar disekitar garis lurus dan mengikuti arah garis diagonal.

Dengan demikian model regresi yang BLUE dan diajukan adalah: Y = 5,954 + 0,225 x2+ 0,135 x3+ 0,124 x1+ 0,055 x4 , atau

Produktivitas tukang kayu buat pintu dan jendela = 5,954 + 0,225 keterampilan + 0,135 disiplin + 0,135 motivasi + 0,055 pendidikan

Hasil pengolahan yang sama dilakukan juga pada 7 pekerjaan kayu yang lain dan secara keseluruhan disimpulkan seperti pada Tabel 4 dibawah ini.

Tabel 4. Koefisien Regresi 8 Jenis Tukang Kayu

No. Jenis Pekerjaan Tk. Kayu Konstant Ktrp Disiplin Motivasi Pddk R² R Adj

1 Buat kosen 0,111 0,005 0,002 0,003 0,002 0,713 0,706

2 Buat pintu dan jendela 0,595 0,225 0,135 0,135 0,055 0,736 0,729

3 Buat bekisting beton 39,4 3,53 2,989 1,036 0,768 0,87 0,867

4 Pasang kosen & jendela 0,31 0,038 0,038 0,016 0,012 0,837 0,833

5 Buat kap 0,207 0,018 0,008 0,016 0,008 0,826 0,821

6 Pasang kap 0,172 0,018 0,014 0,019 0 0,792 0,788

7 Pasang plafon 9,766 0,635 0,264 0,392 0,242 0,774 0,768

8 Pasang pintu & jendela 2,635 0,202 0,131 0,106 0,064 0,79 0,785

Koefisien regresi linear berganda dari keempat variabel bebas bertanda positif untuk seluruh jenis pekerjaan tukang kayu hal ini berarti apabila respon terhadap keterampilan, disiplin, motivasi dan pendidikan bertambah besar maka produktivitas kerja tukang kayu akan bertambah besar pula dan sebaliknya apabila respon terhadap keterampilan, disiplin, motivasi dan pendidikan negatif maka produktivitas tenaga kerja tukang kayu akan berkurang

(7)

Dari Tabel 4 dapat diartikan bahwa kontribusi variabel keterampilan paling besar kontribusinya diikuti variabel disiplin dan motivasi yang memiliki kontribusi menengah, sedangkan variabel pendidikan memberikan kontribusi yang paling kecil. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya koefisien regresi dari masing-masing jenis tukang kayu.

Dengan memasukkan data dari masing-masing tukang kayu ke persamaan produktivitas masing-masing seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 4, maka akan diperoleh nilai prediksi dari produktivitas masing-masing jenis tukang kayu seperti pada Tabel 5 dibawah ini.

Tabel 5. Produktivitas tukang kayu setelah adanya upaya peningkatan

No. Jenis Pekerjaan Tk.Kayu Satuan Rata2 Prod Rata2 Prod %Peningkatn Rata2 Prod %Peningkatn Peneltn '06 SNI 2001 Thd SNI 2001 Aktual 2005 Thd Aktual'05

1 Buat kosen m3 0,142 0,084 69 0,12 18,3

1 tk 1 tk+1/3 pek 1 tk

2 Buat pintu & jendela m2 7,22 1,2 601,6 6,09 18,5

1 tk 1 tk+1/3 pek 1 tk

3 Buat bekisting beton m2 59 12 491,7 48,4 21,9

1 tk+1pek 1 tk+1,2 pek 1 tk + 1 pek

4 Pasang kosen & jendela m3 0,56 0,33 69,6 0,41 36,6

1 tk +1pek 1 tk +1/3 pek 1 tk + 1 pek

5 Buat kap m3 0,34 0,1 340 0,27 25,92 1 tk 1 tk +1/3 pek 1 tk 6 Pasang kap m3 0,32 0,12 266 0,21 52,38 1 tk 1 tk +1/3 pek 1 tk 7 Pasang plafon m2 13,85 3,75 369 11,6 19,4 1 tk 1 tk+0,6 pek 1 tk

8 Pasang pintu & jendela m2 3,8 1,2 316,6 3,1 22,58

1 tk 1 tk +1/3 pek 1 tk

Tabel 5 menunjukkan bahwa dibandingkan dengan rata-rata produktivitas aktual 2005, rata-rata produktivitas mengalami peningkatan setelah dilakukan upaya pada variabel keterampilan, disiplin, motivasi dan pendidikan, yang paling besar pada tukang kayu pasang kap yakni sebesar 52,38%, sedangkan peningkatan terkecil pada tukang kayu buat kosen yakni sebesar 18,30%. Peningkatan produktivitas ini memberikan dampak pada efisiensi biaya tenaga kerja dan efektifitas waktu pembangunan yang pada akhirnya pengembang akan memiliki nilai kompetitif.

KESIMPULAN

Pengaruh paling kuat adalah variabel keterampilan. Variabel disiplin, dan motivasi pengaruhnya sedang. Variabel pendidikan memiliki pengaruh paling lemah terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja kayu.

Dari delapan model regresi peningkatan produktivitas tenaga kerja kayu diperoleh besarnya produktivitas tenaga kerja kayu hasil penelitian dengan memasukkan data dari masing-masing tukang kedalam persamaan model tersebut (Tabel 4) dan prediksi hasilnya seperti yang terlihat pada Tabel 5.

Besarnya peningkatan produktivitas hasil penelitian ini terhadap produktivitas aktual 2005 terrendah 18,30% pada pekerjaan tukang kayu buat kosen dan terbesar pada pekerjaan tukang kayu pasang kap sebesar 52,4%. Sedangkan peningkatan hasil penelitian ini terhadap SNI 2001 adalah terkecil 69% pada pekerjaan tukang kayu buat kosen dan terbesar 600% pada pekerjaan tukang kayu buat pintu dan jendela.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Antonius J., (2002), “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Motivasi dan Pelatihan Terhadap Produktivitas Kerja Salesman Kanvas”, Jurnal Widya Manajemen &

Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Volume Nomor 3, Desember 2002.

Dessler, Gary, (1997), Human Resource Management, 11th Edition, New York, Prentice Hall.

Gaspers, Z., (2000), Manajemen Produktivitas Total, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hafid, (1995), “Studi Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja dengan Menggunakan Pendekatan Analisa Rasio”, Usahawan, No. 04 Tahun XXIV April.

Handoko, T.H., (2003), Manajemen, BPFE, Yogyakarta.

Indrawati, (1998), Pengendalian Mutu dan Produktivitas Tenaga Kerja di Industri Kecil

“Segala Lancar” di Semarang, Jurnal Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen

Petra, Surabaya.

Keegan, Worren J., (1995), Global Marketing Management, 5th Edition, New Jersey, Prentice Hall Inc.

Kerzner, Harold, (2006), Project Management; A System Approach to Planning, Scheduling and Control, Van Nastrand Reinhald.

Maslow, A.H., (1994), Motivasi dan Kepribadian: Teori Motivasi dengan Pendekatan Hirarki Kebutuhan Manusia, Terjemahan, LPPM, Jakarta.

Mora, Feniosky Pena, dan Michael Li, (2001), Dynamic Planning and Control Methodology for Design/Build Fast Track Construction Project. Journal of Construction Engineering and Management, ASCE,Volume127; no.1:1-17.

Praboyo, Budiman. (1999), “Keterlambatan Waktu Pelaksanaan Proyek: Klasifikasi dan

Perangkat dari Penyebab-Penyebabnya”, Volume 1 no. 1: 49-58, Dimensi Teknik Sipil, Universitas Petra Surabaya.

Priyanto, B., (2000), “Modifikasi Design Kuisioner Tenaga Kerja untuk Pengukuran

Produktivitas Tenaga Kerja pada Pekerjaan Konstruksi”, Jurnal Teknik Sipil

Universitas Tarumanegara, no. 3/VI/2000, Jakarta.

Ratnayanti, R., (2003), “Produktivitas Tenaga Konstruksi pada Setiap Jenjang Keahlian di Lapangan”, Jurnal Teknik Sipil ITB Volume 1 No. 1, April 2003.

Simanungkalit, Panangian., (2004), Bisnis Properti Manuju Crash Lagi?, Penerbit Pusat Studi Properti Indonesia.

Sutoto, (2005), Bulan Madu Properti Kini Sudah Berakhir, Jawa Pos, 19 November, hal. 7.

Tjaturono, (1999), “Pengembangan Alternatif Rancangan Rumah Menengah Bawah Tipe 70 yang Efisien”, Tesis Program Pasca Sarjana Institut Teknologi

(9)

Tjaturono, Nadjadji A. dan Indrasurya B.M., (2003), “Evaluasi Produktifitas Tenaga Kerja Berdasarkan Delapan Faktor Internal Dibandingkan Dengan Standart BOW 1921 dan SNI 2001 Pada Pembangunan Rumah Menengah di Jawa

Timur”, Jurnal Teknik Sipil Universitas Tarumanagara Jakarta, Maret

2004.

Tjaturono, (2004), “Penerapan Produktivitas Tenaga Kerja Aktual dan Modifikasi Penjadwalan dengan Metode Fast Track untuk Mereduksi Biaya dan Waktu

Pembangunan Perumahan”, Makalah Seminar REI Jatim, 16 Desember 2004,

Hotel Shangri-La, Surabaya.

Tjaturono, Nadjadji A., Indrasurya, B.M., Maziah Ismail, (2005), The Development of Actual Labour Productivity Measurement Model for Medium Cost Housing in Malang, East Java, Indonesia, Jurnal Sains & Teknologi Kejuruteraan, KUITTHO, 2005.

---, (1998), “Labor Shortages and Productivity in The Home Building Industry”, US Research Center, Journal of Building Industry Technology Round Table. ---, (2001), Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan

(10)
(11)

Gambar

Tabel 2. Koefisien (a)
Tabel 3. Model Summary (e)
Tabel 4. Koefisien Regresi 8 Jenis Tukang Kayu
Tabel 5. Produktivitas tukang kayu setelah adanya upaya peningkatan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari karakteristik eksterior baik secara kualitatif (distribusi warna) maupun secara kuantitatif (berat badan, panjang badan,

Gambar 6 Rata-rata jumlah kepiting bakau pada bubu non-escape vent dan bubu dengan bentuk escape vent berbeda Berdasarkan uji Kruskal-Wallis terhadap total hasil

Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Sebelum diberikan treatment dengan pendekatan antisipasi didaktis

Pada awal beroperasinya, banyak sekali timbul permasalahan yang cukup mengganggu pelayanan bus seperti adanya penentangan oleh awak bus kota yang biasa melayani rute ke kampus

memiliki kelebihan untuk mempermudah membuat rekapitulasi pengajuan klaim setiap bulan sehingga pembuatan laporan menjadi lebih cepat serta tersedianya fitur

(2009) IICG (The Indonesian Institute for Corporate Governance), pengertian Good Corporate Governance (GCG) dapat didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses

Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan gelombang mikro (microwave), pertama daun nilam sebanyak 100 gram ditambahkan pelarut atau steam untuk variabel daun

Penerapan metode extreme programming membuat pihak Putra Surya Rent Car memahami benar konteks dan proses bisnis yang digelutinya, sehingga peneliti sebagai