• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

i HIBRIDITAS PEZIARAHAN

PURI BRATA

Tesis

Untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum.)

di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

Oleh: CB. Ismulyadi

116322011

Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2016

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi MOTTO

“Orang-orang tersibuk yang pernah aku kenal dalam hidupku selalu memiliki cukup waktu untuk semua hal.

Mereka yang tak pernah melakukan apapun selalu merasa letih dan tak memperhatikan pekerjaan mereka yang berbeban sedikit.

Mereka sering mengeluh hari terlampau singkat.

Sebenarnya mereka hanya takut berjuang dengan sekuat tenaga.” (Pilgrimage, Paulo Coelho)

(7)

vii PERSEMBAHAN

Ziarah karya ini saya persembahkan kepada:  Para leluhur yang telah berziarah menuju keabadian,

terutama Bapak FB. Sarbini, Ibu C. Sihmiyati, dan Bapak Agustinus Sukarno

 Ibu MM. Ponirah yang pertama kali memunculkan ide awal penulisan karya ini.

 Josephine Titik Wahyu yang selalu bertanya kapan studi di IRB akan berakhir.

 Duo Gracia yang selalu menyegarkan dengan senyum dan tangisnya.  Para sanak, saudara, sahabat,

kenalan dan siapa saja yang terus memaknai ziarah bagi hidupnya.

(8)

viii KATA PENGANTAR

Kuliah di Ilmu Religi Budaya Sanata Dharma merupakan bagian peziarahan bagi penulis. Penulis mendapat kesempatan untuk beranjak dari rumah, kantor, rumah tahanan, rumah sakit Panti Rapih atau tempat lain dan menunju ke ruang kampus Ilmu Religi Budaya Sanata Dharma.

Dalam menjalani masa studi di IRB, layaknya seorang peziarah, penulis diajak untuk menyusur rute perjalanan yang sangat dinamis. Penulis pernah merasa berjalan pada padang rumput yang hijau dengan gemericik air yang menyejukkan. Pada kesempatan lain, penulis pun kerap merasa tertatih-tatih menyusur padang pasir yang panas dan gersang. Suatu peziarahan yang menuntut daya tahan tersendiri.

Dinamika menjalani masa studi di IRB kian lengkap ketika penulis bertemu dengan para dosen yang penuh dedikasi dan total membagikan pengetahuan: Pak Pratik yang ketika bertemu selalu bertanya, “kapan studi di IRB akan diselesaikan”; Pak Nardi melalui semiotika negativa yang enak untuk dibaca tapi susah dipahami; Bu Katrin yang dengan sabar dan ceria menerima penulis untuk bimbingan tesis dan mengikuti programnya pada seminar tesis; Romo Budi Susanto, SJ yang memperkenalkan pembacaan awal tentang postkolonial melalui film Robinson Crusoe; Romo Bagus Laksana, SJ yang memperkenalkan penulis dengan kajian religi dan memberi bahan bacaan seabreg dan membuat mblenger; Bu Devi yang ketika bertemu dengan penulis selalu menanyakan perkembangan tesis ini; dan Romo Banar SJ, yang dengan tulus, tegas dan kadang keras melecut dan membuat penulis “merasa harus” menyelesaikan tesis ini serta mengatakan “Tak Kancani”, Romo Baskara, SJ yang memperkenalkan Marx muda kepada penulis, Romo Beny, SJ yang sangat cermat dan runtut mengajar maupun membaca tulisan penulis, Romo Moko, SJ yang memperkenalkan penulis dengan istilah logika biner, Mas Tri, yang menyajikan bacaan awal kajian etnografi dalam karya kematian, dan mbak Ita, yang menjadi moderator masa ujian akhir. Tak lupa, dalam menjalani bagian dari peziarahan ini, penulis bertemu dengan Mbak Desy, sekretaris IRB yang sabar dan kerap direcoki penulis melalui SMS, telpon atau Whatsapp; mas Mul, yang menjadi rekan ngobrol penulis ketika menunggu dan manyun di sekitar kampus IRB.

Penulis menemukan teman sesama peziarah di IRB, terutama angkatan 2011. Mereka sebagian besar lebih muda dalam hal usia, tetapi bersama dan berada di tengah-tengah mereka, penulis dapat belajar untuk lebih mendalami pengetahuan dan kehidupan. Dalam komunitas IRB pula, penulis mendapat kesempatan untuk membangun paseduluran. Grup 3 Menguak Tabir yang terdiri dari penulis, Emmanuel Satyo Yuwono dan Nicolas Gogor Seta, menjadi media berbagi inspirasi dan pengetahuan ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi,

(9)

ix pertahanan keamanaan, keluarga, pendidikan, atau gosip remeh temeh lain yang menyegarkan.

Jika peziarahan penulis selama di IRB menjadi suatu kebahagiaan dan kebanggaan, berziarah bersama Anda membuat kebahagiaan dan kebanggaan itu terasa semakin sempurna. Terima kasih atas kebersamaan para Bapak, Ibu, Romo dan para sahabat. Jika masa peziarahan penulis di IRB akan berakhir, semoga semuanya menjadi bekal untuk menapaki peziarahan berikutnya. Penulis bersyukur boleh mencecap pengetahuan dan kehidupan bersama Anda.

(10)

x ABSTRAK

Ziarah merupakan salah satu kajian penting dalam kehidupan keagamaan manusia di dunia dewasa ini. Ziarah yang terjadi pada semua agama dapat dibuktikan dengan melihat setiap agama mempunyai tempat-tempat ziarah terkenal di dunia.

Tesis ini merupakan usaha untuk menelusuri dan mengkaji Puri Brata sebagai peziarahan. Proses pembentukan dan penguat identitas tempat ziarah juga dipengaruhi oleh pemaknaan simbol yang digunakan. Dalam konteks ziarah Puri Brata, adanya perjumpaan budaya meliputi tiga wilayah utama, yakni ruang, ritus dan pelaku.

Melalui ketiga aspek dalam ziarah tersebut, Puri Brata menegosiasikan identitasnya sebagai tempat ziarah Katolik yang hibrid. Untuk melihat mekanisme hibriditas, kajian ini menggunakan pendekatan Bhabha. Dari hasil kajian yang telah dilakukan ternyata teori hibriditas tidak hanya terjadi pada wilayah antar budaya, melainkan mampu memasuki pada wilayah yang bersendikan agama. Seperti telah manjadi sebuah keniscayaan bahwa agama dan tradisi saling beradaptasi untuk membentuk kultur baru dalam masyarakat, meskipun keasliannya tidak tercerabut. Termasuk dalam hal ini adalah hibriditas Puri Brata, sebagai tempat ziarah Katolik, ketika berhadapan dengan kearifan lokal Jawa, Islam, dan Hindu.

(11)

xi ABSTRACT

Pilgrimage is one of the key studies in the religious life in the world today. Every religion has famous pilgrimage places in the world, which means that it is important in all religions.

This thesis is an attempt to explore and study Puri Brata as a pilgrimage site. The process of forming and reinforcing the identity of a place of pilgrimage is also influenced by the signification of the symbols used. In the context of Puri Brata, there is cultural encounter that covers three main areas, namely space, rites, and pilgrims.

Through those three aspects of pilgrimage, Puri Brata negotiates its identity as a hybrid Catholic pilgrimage place. To see the hybridity mechanism, this research uses Bhabha's approach on hybridity. The result shows that hybridity theory does not occur only in the realm between cultures, but also able to enter a religion-based territory. It has even become a necessity that religions and traditions adapt to each other to form a new culture in the community, although its authenticity is still very much rooted. The hybridity of Puri Brata is an example of this concept, as a place of Catholic pilgrimage place which deals with local knowledge of Java, Islam and Hindu.

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……….………... i

HALAMAN PERSETUJUAN………... ii

HALAMAN PENGESAHAN………... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN...………...…... iv

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... v

MOTTO... vi

PERSEMBAHAN………...………... vii

KATA PENGANTAR………... viii

ABSTRAK………..……... xii

ABSTRACT………...………... xiii

DAFTAR ISI………..………... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Tema Penelitian... 13 C. Rumusan Masalah... 14 D. Tujuan Penelitian... 14 E. Pentingnya Penelitian... 15 F. Tinjauan Pustaka... 16 G. Kerangka Teoritis... 20

H. Metode Penelitian (Sumber Data dan Pengumpulan)... 25

(13)

xiii BAB II ZIARAH DALAM TRADISI AGAMA-AGAMA

A. Pengantar ... 30

B. Ziarah: Praktek yang Tak Pernah Selesai... 31

C. Ziarah: Praktek Semua Agama... 33

D. Praktek Ziarah dalam Tradisi Agama-Agama ... 34

1. Ruang, Ritus dan Pelaku ... ... 35

1.1. Ruang... 35

1.2. Ritus... 41

1.3. Pelaku/Peziarah... 50

BAB III PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN ZIARAH PURI BRATA A. Pengantar... 56

B. Kondisi Geografis Puri Brata... 57

C. Identifikasi Puri Brata... 57

1. Sistem Bahasa... 59

2. Sistem Religi... 61

3. Sistem Kemasyarakatan... 64

4. Sistem Matapencaharian ... 65

5. Sistem Keselamatan... 66

D. Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi dan Menjadi Tonggak Awal dan Perkembangan Ziarah Puri Brata... 73

E. Puri Brata sebagai Tempat Peziarahan... 79

F. Ruang, Ritus Dan Pelaku Sebagai Unsur Pembentuk Dan Pengembang Ziarah Puri Brata... 80 1. Ruang sebagai Unsur Pembentuk dan Pengembang

(14)

xiv

Ziarah Puri Brata... ... 81

1.1. Konsep “Ndalem”... 81

1.2. Puri Brata... ... 82

1.3. Pendopo... 82

1.4. Tata Ruang “Tri Hita Karana”... 83

2. Ritus sebagai Unsur Pembentuk dan Pengembang Ziarah Puri Brata ... 84

3. Pelaku sebagai Unsur Pembentuk dan Pengembang Ziarah Puri Brata... 87

BAB IV HIBRIDITAS PURI BRATA A. Pengantar... 91

B. Hibriditas Ruang, Ritus, dan Pelaku dalam Puri Brata... 92

1. Ruang... 92

1.1. Ndalem dan Puri Brata ... 92

1.2. Pendopo sebagai Ruang Meditasi... 94

1.3. Konsep Ruang Tri Hita Karana... 95

C. Ritus... ... 98

1.1. Perayaan Ekaristi... 99

1.2. Waktu... ... 100

1.3. Air... ... 101

D. Pelaku... ... 104

E. Hibriditas Puri Brata: Proses Pembentukan Identitas (Baru)... 111

BAB V PENUTUP A. Ringkasan... 113

(15)

xv B. Politik Hibriditas dalam Kajian Religi: Jalan Panjang... 117 C. Kesimpulan... 119

(16)

1 BAB I

Latar Belakang

Saat kau menempuh perjalanan untuk mencapai sesuatu, kau harus senantiasa memperhatikan jalanmu. Jalanmulah yang akan menjadi petunjuk terbaik dan memperkayamu saat kau menempuhnya1

Kegelisahan Akademik

Akhir tahun 2012, penulis berkunjung ke rumah orangtua. Saat itu, penulis bertemu dengan ibu. Ibu memberikan kepada penulis sebuah botol berisi 1 liter air, “air kebahagiaan”. Ibu mendapat air tersebut dari Puri Brata.

Sebagai seorang yang dididik sejak kecil sampai dewasa dalam lingkungan Katolik, penulis merasa ketinggalan informasi ketika mendengar cerita tentang Puri Brata sebagai tempat ziarah. Puri Brata memberikan daya tarik bagi penulis.

Melalui kisah perjumpaan dengan ibu, dan berangkat dari kegusaran, penulis tertarik untuk meneliti simbol air peziarahan Puri Brata dalam konteks ruang, ritus dan pelaku.

A. Pendahuluan

Kajian ziarah merupakan salah satu kajian penting dalam kehidupan keagamaan manusia di dunia dewasa ini. Kemunculannya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh religious studies, sebagai sebuah kajian yang membahas fenomena keberagamaan sebagai hal yang bersifat multi-interpretatif, lintas budaya dan

(17)

2 masuk sangat jauh kedalam kehidupan sehari-hari para pemeluk agama. Tidak bisa disangkal lagi, agama memang masih menjadi nafas penting, entah dalam aspek ritual maupun proyeksi dan praktik dari nilai-nilai dan ajaran agama dalam kehidupan para penganut agama itu sendiri.

Khasanah ziarah menarik untuk diselidiki. Kajian tentang ziarah kian mengemuka, terutama juga melalui beberapa konsep. Selanjutnya akan lebih mudah untuk mengetahui ide atau pengertian penting apa saja yang terkait dalam kajian ziarah. Setidaknya, ada 5 (lima) konsep penting yang akan selalu ada dan mewarnai, yakni filosofis, sejarah, geografi, ekonomi, politik dan religius.

Secara filosofis, Gabriel Marcel2 merefleksikan ziarah sebagai tindakan

manusia yang berada dalam suatu perjalanan menuju kesempurnaan. Dalam refleksinya, manusia dilihat sebagai seorang pengembara atau peziarah (homo viator) yang sedang menuju tujuan hidupnya. Marcel menyadari bahwa tujuan manusia tidak pernah tercapai selama ia masih berada di dunia. Manusia memiliki keterbatasannya. Namun dalam keterbatasan itu, manusia memiliki harapan.3

Dalam melihat perjalanan manusia, Marcel tidak hanya berbicara mengenai perkembangan hidup serta harapannya. Hasrat dan perjalanan dalam peziarahan menunjukkan kondisi pergumulan hidup manusia. Situasi tersebut menuntut manusia untuk terus menerus mencari makna, memperoleh peneguhan atau bahkan jawaban atas yang dialaminya. Menurut Sudiarja, tinjauan reflektif ini sangat perlu dalam dunia yang ambigu. Kalau mereka salah melangkah bisa

2 Gabriel Marcel (1889-1973) adalah seorang filsuf dari Perancis, dan merupakan salah

satu filsuf fenomenologi dan eksistensialis yang berpengaruh besar di Perancis.

3 Gabriel Marcel, Homo Viator, Sketch of Phenomenology and a Metaphysic of Hope,

(18)

3 terpeleset jatuh dan terseret arus sekuler, tetapi kalau berhenti dan tidak memberi makna, maka sia-sialah seluruh arti kehidupan mereka.4

Konsep sejarah adalah aspek yang selalu terkait dengan fenomena ziarah. Hal ini ditandai dengan ada peristiwa penting yang terjadi di tempat ziarah. Tempat suci yang dikunjungi tidak lain adalah kota atau daerah di mana tonggak-tonggak kesucian itu terjadi, dalam tradisi Katolik, misalnya Yerusalem selalu menjadi pusat ziarah karena berbagai situs disebutkan dalam Perjanjian Lama dan Baru. Yesus mengajar kepada para pengikutnya dan melakukan mukjizat di kota ini. Yesus berjalan sambil memanggul salib melintasi Via Dolorosa (Jalan Penderitaan) menuju Kalvari. Kalvari adalah situs di mana tubuh Yesus dipaku disalib. Yerusalem juga menjadi tempat di mana Yesus wafat, dimakamkan dan dibangkitkan. Di lokasi ini, terdapat pula Gereja Makam Kudus.5 Tempat-tempat

ziarah lain, misalnya penampakan Maria di Lourdes, Perancis atau peristiwa pembaptisan umat Katolik pertama di Sendangsono di Kulon Progo. Hampir tidak bisa dilepaskan antara kaitan historis di masa lalu dengan praktik-praktik ziarah di masyarakat selama ini.

Konsep geografi atau lokasi peziarahan juga menjadi sisi yang tidak bisa dilepaskan dalam kajian ziarah. Setidaknya, dalam tiap tempat ziarah ada perbedaan karakteristik, baik waktu, denah lokasi maupun rute yang harus ditempuh. Ada tempat ziarah yang bisa ditempuh secara mudah karena terletak di tengah kota besar tetapi ada juga tempat ziarah yang terletak jauh tinggi di atas. Berdasarkan gagasan ini, tempat ziarah bisa disebutkan dalam 2 (dua) kategori

4 Sudiarja, 2006. Agama di Zaman Yang Berubah, Yogyakarta, Kanisius. hlm. 1

5 Cunningham, Lawrence. 1985. The Catholic Experience. Hertford, NC: Crossroad,

(19)

4 besar, pertama tempat ziarah terkenal di dunia, umat Islam melakukan ziarah ke Mekkah; umat Hindu melaksanakan ziarah di negara bagian Maharashtra, India barat; Pandharpur dan Aṣtavināyaka; umat Buddha mengadakan ziarah ke Lumbini, dekat Mumbai; umat Katolik mengadakan ziarah ke Lourdes, Prancis, mengunjungi makam Padre Pio di San Giovanni Rotondo, Provinsi Foggia, wilayah Puglia, Italia Selatan. Kedua, tempat ziarah bersifat lokal, terutama di Jawa, misalnya umat Buddha berziarah di Candi Borobudur, Magelang atau umat Katolik berziarah di Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, tempat di mana tonggak baru awal misi Gereja Katolik di tengah-tengah orang Jawa. Selain itu, tentu saja ada ziarah lokal lain bagi umat Katolik, yakni Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul atau Gua Maria Lourdes Pohsarang, Semen, sekitar 10 km arah barat daya kota Kediri.

Konsep ekonomi menjadi penanda lain dari fenomena ziarah. Artinya, aspek ekonomi akan cenderung mengikuti fenomena peziarahan, semakin ramai suatu objek ziarah, maka akan semakin meningkat pula aktivitas ekonomi yang terjadi. Kondisi demikian tampak di tempat ziarah San Giovanni Rotondo. Tempat ziarah Padre Pio di San Giovanni Rotondo, Italia adalah ziarah suci Katolik yang sangat populer. Di tempat ini, karya-karya karitatif kian dikembangkan, sehingga desa yang ditinggali bersama masyarakat menjadi semakin maju. San Giovanni menjadi kota kecil yang menawan. Seorang informan pernah mangatakan tidak bisa membayangkan bila Padre Pio tidak berperan dalam mengubah desa itu. San Giovanni Rotondo, tempat ziarah kepada Padre Pio menerima 7 juta peziarah setiap tahun. Rangking jumlah peziarah kedua setelah Our Lady of Guadalupe di Meksiko. Pada tahun 2000, ada lebih dari 50 hotel baru di San Giovanni Rotondo

(20)

5 untuk mengakomodasi peningkatan rombongan peziarah.6 Ziarah bagi umat Hindu pun menjadi penanda aspek ekonomi. Ziarah Astavināyaka dan Pandharpur baru-baru ini menarik semakin banyak orang dari Maharashtra. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk berpartisipasi dalam ziarah. Melalui kedua ziarah tersebut, mereka mendapat kesempatan untuk menegaskan dan memaknai identitas sebagai Maharashtrian di tengah-tengah pergeseran ekonomi yang sangat pesat. Perubahan ekononi di Maharashtra ditandai dengan menjamurnya pusat perbelanjaan yang menghasilkan apa yang disebut sanskṛti mal (budaya mall). Rasa frustrasi mulai meningkat di antara antara masyarakat perkotaan yang terlalu sibuk mencari uang penghasilan dan merefleksikan kehidupan mereka sendiri. Mereka berupaya mengurangi rasa stres dengan mengunjungi pusat perbelanjaan. Apa yang dilakukan itu tidak mengurangi tingkat ketegangan tetapi menyebabkan kecemasan lanjut, kekosongan, kelaparan mental dan ketidakpuasan lain Pada tingkat individu, materialisme melanggengkan rasa tidak aman, ketidakbahagiaan, dan krisis identitas, yang menyumbang keinginan berlebihan untuk memiliki.7

Ekses ziarah terkait dengan kepentingan ekonomis ini kemudian ikut memainkan peranan penting dalam perkembangan praktik ziarah di suatu tempat. Semakin ramainya jumlah peziarah yang datang, semakin banyak pula orang yang berusaha mencari atau mendapatkan keuntungan finansial dari sana. Quinn

6 McKevitt, Christopher., 2000, San Giovanni Rotondo and the Shrine of Padre Pio.,

dalam Contesting The Sacred-The Anthropology of Christian Pilgrimage., Edited by John Eade and Michael J. Sallnow, 2000, University of Iiinois Press, Urbana and Chicago, hlm. 79-84.

7 Eleanor Zelliot, 1987, “A Historical Introduction to the Wārkāri Movement,” in D.B.

Mokashi, Palkhi: An Indian Pilgrimage, Albany: State University of New York Press, hlm. 33.

(21)

6 memberi ulasan yang sangat meyakinkan betapa ziarah berkait erat dengan munculnya kepentingan dan motif ekonomis dibalik fenomena spiritual ini.8

Konsep politik menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam fenomena ziarah. Menariknya, fenomena politik ini tidak hanya menjadi dominasi atau para penguasa, baik nasional tetapi juga para penguasa lokal dan bahkan para pengelola tempat ziarah. Masduki dalam penelitiannya terhadap tempat ziarah makam Gus Dur menyebutkan bahwa membludaknya peziarah di makam Gus Dur telah mengundang inisiatif Pemerintah kabupaten Jombang untuk mengambil inisiatif membantu dan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran dan kenyamanan peziarah. Dengan kepedulian ini, tentu saja pemerintah Jombang berharap bahwa masyarakat Jombang akan merasa dihargai dan sebagai umpan baliknya, masyarakat akan lebih mendukung program pemerintah di sana.9

Konsep religius merupakan aspek yang paling kuat dan menjadi poros dari praktik dan kajian ziarah. Ritual dalam ziarah itu sendiri menjadi penanda yang paling kentara dari aspek keagamaannya. Ritual itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari niat atau motif yang mendasari para peziarah melakukan ritual ataupun ziarah itu sendiri. Ada kesepakatan umum bahwa para peziarah ini melakukan ziarah untuk memperoleh penebusan dosa, syukur, dan penyembuhan, keperluan perjalanan dan petualangan. Setidaknya beberapa tujuan ini memberikan daya fisis atau pemulihan atau penyegaran batin. Tindakan fisik bergerak dari dunia

8 George Quinn, “Throwing Money at The Holy Door; Commercial Aspects of Popular

Pilgrimage in Indonesia,” dalam Greg Fealy and Sally White (eds.), Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2007), 63-79

9 Masduki, Anwar, 2014, “The Tenth Saint”: The Construction of Gus Dur’s Sainthood,

(22)

7 fana ke tempat suci, seringkali dengan beberapa penderitaan dan risiko, baik mewujudkan dan mewakili perubahan spiritual dan pertumbuhan. Dengan kondisi seperti itu, tidak mengherankan bahwa pada abad kedua puluh, belum pernah terjadi sebelumnya, faktor psikologis yang menyertai para peziarah tersebut menjadi penanda maraknya peziarahan. Gagasan yang diungkit oleh Weiss Ozorak, Profesor ilmu psikologi di Universitas Harvard, tersebut mendapatkan penegasan dari Morinis. Bahkan, Morinis menyatakan, “Pengharapan memperoleh kesembuhan yang ditemukan dalam peziarahan ke tempat suci terjadi dalam semua tradisi keagamaan.”10

Brenda Shoshanna, seorang psikolog dan spiritualis, menyatakan bahwa ketika seseorang melakukan ziarah, ia melepaskankan dirinya dari kegiatan rutin harian dan sekaligus mengadakan perjalanan untuk mencari Tuhan, Sang Khalik yang Kekal.11 Ungkapan Brenda tersebut seolah menegaskan kebutuhan manusia untuk berdialog dengan dirinya sendiri dan Tuhan ditengah-tengah pergumulan hidup yang ditandai perubahan terus-menerus dan membuat manusia mengalami kemandegan, keletihan dan kenestapaan. Dengan demikian, ziarah menjadi cara bagi manusia untuk jeda sejenak supaya dapat memaknai kembali dinamika kehidupannya.

Pengetahuan dan pemahaman terhadap beberapa konsep yang muncul dalam ziarah tersebut melengkapi bagian integral untuk mendalami fenonema ziarah.

10 Weiss Ozorak, The View From The Edge: Pilgrim and Transformation, dalam On the

Road to Being There Studies in Pilgrimage and Tourism in Late Modernity, Edited by William H. Swatos, Jr., 2006 by Koninklijke Brill NV, Leiden, The Netherlands. Koninklijke Brill NV incorporates the imprints Brill Academic, 2006, hlm. 60.

11 Brenda Shoshanna, Phd., Zen Wisdom., 2007, Jakarta, Bhuana Ilmu Populer, hlm.

(23)

8 Dengan demikian, saya menemukan bahwa konsep tentang ziarah menjadi kajian multi-disipliner yang melibatkan berbagai pendekatan.

Fenomena ziarah dengan tinjauan filosofis, sejarah, geografi, ekonomi, politik dan religius menjadi daya tarik untuk selalu diulas. Ketertarikan tersebut memunculkan tempat-tempat ziarah baru dan membuat ziarah juga menjadi praktik keagamaan yang sangat diminati. Bagus Laksana menyebutkan, hal ini menandakan bahwa ziarah merupakan praktik religius yang dekat dengan kehidupan masyarakat, terbuka untuk semua orang termasuk orang-orang sederhana.12

Kekhasan dan keunikan tersebut tidak muncul begitu saja, tetapi melewati proses tarik ulur atau bahkan peniruan dengan tempat ziarah yang sudah ada sebelumnya, ruang dan waktu, para pelaku (peziarah dan para pengelola), ritual dan simbol, maupun perjumpaan dengan sosio-kultural.13 Dengan menampilkan sebagai tempat ziarah yang khas dan unik, maka tempat ziarah tersebut semakin dapat menarik perhatian para peziarah dari semua kalangan.

Sebagai tempat ziarah, Puri Brata merupakan tempat berziarah yang relatif baru. Puri Brata terletak di desa Kalimundu, Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai tempat tetirah, Puri Brata kerapkali dijadikan sebagai rute perjalanan bagi para peziarah setelah mereka mengunjungi Gua Maria Sendangsono dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.14 Menurut Romo

12

Bagus Laksana, Ziarah Kasiyo Sarkub, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, 2007, hlm 16.

13 Simon Coleman dan John Elsner melihat 3 aspek yang mempengaruhi pemaknaan

terhadap ziarah, yaitu ritual, obyek kudus/simbol, arsitektur suci, dalam Simon Coleman & John Elsner, Pilgrimage-Past and Present in The World Religions, Cambridge: Harvard University Press, 1995, hlm. 6.

14 Gua Maria Sendangsono terkait erat dengan peristiwa penting dalam sejarah

(24)

9 Utomo, Pr., kedua tempat ziarah tersebut merupakan kesatuan atau “kembaran”. Gua Maria Sendangsono merupakan monumen kelahiran bagi umat Katolik di Jawa Tengah, sementara Candi Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran merupakan monumen perutusan bagi umat Katolik.

Awalnya, Puri Brata merupakan ndalem, bangunan rumah tinggal tradisional Jawa lengkap milik keluarga Raden Sebastianus Brotosudibyo, seorang lurah dusun Kalimundu, Sanden. Dalam budaya Jawa tentu Ndalem ini tentu bukan hanya bangunan fisik, tetapi merupakan kumpulan berbagai variasi kelompok sosial. Ndalem merupakan kategori budaya dari kepentingan dasar, ketika keluarga Jawa memiliki kapasitas untuk menumbuhkan kontinuitas kehidupan sosial.

Sebagai lurah, Raden Sebastianus Brotosudibyo memegang jabatan strategis. Jabatan lurah Jawa menuntut kebijaksanaan karena seorang lurah berhadapan dengan warga miskin yang hidup dalam kesengsaraan dan warga kaya yang hidup dalam kemewahan.15 Namun di sisi lain, seorang lurah juga mengelola kekayaan alam desa, sebagai sumber penghidupan warga.16

Atas gagasan Romo Thomas Aquinas M. Rochadi W, Pr., seorang rohaniwan Katolik yang juga merupakan putra bungsu Pak Lurah Brata, ndalem

Pastor Josephus Van Lith membaptis 173 orang menjadi Katolik. Candi Hati Kudus Tuhan Yesus merupakan ungkapan rasa syukur atas segala kelancaran dan kesuksesan usaha keluarga Schmutzer. Pada Candi yang dibangun tahun 1927 ini, keluarga Schmutzer menempatkan sebuah arca berwujud Tuhan Yesus sebagai Raja dengan berpakaian kebesaran layaknya raja Jawa yang duduk di atas singgasana tangan kirinya menyibak pakaian depannya dan tangan kanannya menunjukkan ke arah hatinya yang bersinar. Pembangunan candi Hindu Jawa Hati Kudus Tuhan Yesus ini memberikan pengaruh yang luas atas inkulturasi Gereja Katolik di Ganjuran.

15 Hardjosoediro, Soedjono, 1951. Lurah Desa dalam Negara Demokrasi, Djakarta/

Amsterdam, Penerbit Djambatan, hlm. 18.

(25)

10 yang ada dikembangkan menjadi sebuah ‘area meditatif’ untuk menampung kegiatan rohani yang terbuka untuk semua agama dan budaya.

Ndalem Puri Brata menempatkan penataan ruang yang diadopsi dari hinduisme. Melalui konsep back to nature dengan memasukkan tata ruang tri hita karana17, Puri Brata menampilkan tempat ziarah dengantiga hierarki ruang yang

mengatur tingkat privasi. Pertama, ruang dengan tema hubungan manusia dengan manusia. Di tempat ini interaksi antar penghuni atau penghuni dengan pengguna lainnya mempunyai persentase yang lebih besar dibanding dua ruang setelahnya. Kedua, ruang dengan tema hubungan manusia dengan alam; dan ketiga, manusia dengan Tuhan. Pesona seperti itulah yang ditunjukkan dalam konsep ruang di Puri Brata. Sebagai tempat ziarah, Puri Brata pun dilengkapi ruang modern, dengan hunian yang dirancang berbentuk bungalow dengan tipe standar dan famili. Dengan sarana untuk menginap seperti ini, Puri Brata memang menawarkan yang nyaman bagi para peziarah.

Daya tarik lain dari tempat ini adalah diadakannya ritus berupa Perayaan Ekaristi, berkat khusus penyembuhan, dari Romo Thomas Aquinas M. Rochadi, W, Pr., kepada para peziarah. Ritual tersebut dilakukan setiap hari Kamis Kliwon sesuai dengan hitungan kalender jawa.

Dalam budaya Jawa, konsep waktu merupakan tatanan yang berada diluar semua hal, termasuk manusia dan peristiwa-peristiwa. Terdapat suatu waktu yang asali dan primordial, dan semua peristiwa berakar dalam waktu asali. Semua peristiwa alami dikuasai oleh takdir, dan semua peristiwa manusiawi harus

17

Istilah Tri Hita Karana dimunculkan berdasarkan wawancara dengan RM.Cahyo Bandono, pengelola Puri Brata, tanggal 5 September 2014.

(26)

11 menyesuaikan diri dengan keteraturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, arti waktu bagi seseorang dapat berbeda dengan arti waktu bagi yang lain. Setiap orang memperoleh ketentuan waktunya sendiri-sendiri, bagi seseorang merupakan waktu yang baik, bagi yang lain tidak baik.Waktu itu bukan linear, tetapi siklis, teratur dalam periodisitas-periodisitas.18

Sebagai tempat ziarah, layaknya tempat ziarah lain, Puri Brata menyediakan air sebagai salah satu rangkaian dalam ritus tradisi Katolik dan Jawa. Seperti yang dikemukakan Ahimsa, air memuat makna adanya kehidupan Artinya dari airlah kehidupan dimulai, sehingga air juga merupakan tanda-tanda kehidupan. Di mana ada air di situ ada kehidupan.19 Demikian pula sebaliknya, di mana ada kehidupan

di situ tentu ada air. Dikatakan, air identik dengan kehidupan, sebab air merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup. Manusia menggunakan air tidak hanya untuk minum dan makan, akan tetapi juga untuk menyucikan, menyembuhkan, dan membersihkan.

Tentang air, Mircea Eliade merujuk pada berbagai kebudayaan di berbagai tempat dan masa, bagaimana air dan simbolismenya telah berkaitan erat dengan kosmogoni, penciptaan, kelahiran kembali dan pembaruan yang sangat mengagumkan. Air dipandang sebagai unsur yang menunjukkan simbol alami yang universal.20 Keberadaan air yang ada di Puri Brata dikemas dalam beberapa

botol dengan berbagai ukuran dan diklasifikasikan menurut “khasiat”nya. Selama perayaan Ekaristi, air itu diletakkan di tempat di dekat altar dan kemudian pada akhir ibadat, Romo Rochadi melakukan prosesi berkeliling untuk memberkati air

18 Jacob Sumardjo,2002, Arkeologi Budaya Indonesia, Jakarta, Qalam, hlm. 81.

19 Heddy Shri Ahimsa-Putra. “Sistem Air Kehidupan”, dalam Kedaulatan Rakyat. Sabtu

Pon 17 Maret 2007, hlm. 14.

(27)

12 yang dibawa oleh peziarah. Ritual seperti ini telah mengubah nilai air sebagai unsur yang awalnya bersifat alami dan kemudian diubah bersifat rohani.

Berdasarkan uraian tersebut dan pendapat Paula Saukko, bahwa penelitian dalam kajian budaya meliputi pengalaman hidup, wacana, dan juga konteks sosial,21 maka saya ingin memotret perjumpaan simbol antar budaya dalam ziarah

Puri Brata. Di satu sisi, tempat ziarah dibentuk dalam wilayah sakral, tetapi di sisi lain munculnya tempat ziarah juga dipengaruhi oleh proses sejarah maupun konstruk budaya. Dengan kata lain, munculnya tempat ziarah merupakan gejala yang sangat dinamis, lentur dan tidak kaku. Fenomena seperti ini menjadikan tempat ziarah dengan berbagai simbol di dalamnya sebagai pembentuk identitas bagi para peziarah atau masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini ingin lebih melihat peziarahan Puri Brata menjadi ruang ketiga bagi terbentuknya budaya baru yang meliputi tiga wilayah utama, yakni ruang, pelaku, dan ritus.

B. Tema Penelitian

Hibriditas Peziarahan Puri Brata C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana simbol ditempatkan dalam ritus ziarah?

2. Bagaimana simbol air di Puri Brata dipersepsi dan dimaknai peziarah di dalamnya?

3. Bagaimana hibriditas muncul di Puri Brata ?

D. Tujuan Penelitian

21 Saukko, Paula. 2003. Doing Research in Culturas Studies: An Introduction to

(28)

13 Setiap tempat ziarah memang memiliki kisahnya tersendiri. Namun demikian, selalu ada simbol utama yang menunjukkan bahwa tempat tersebut dinyatakan sebagai tempat yang dituju seseorang atau kelompok untuk melakukan perjalanan, meninggalkan kehidupan sehari-hari, pekerjaan, keluarga, teman-teman, rasa aman dan untuk mendapatkan kekuatan rohani atau peneguhan. Dalam konteks itu, penelitian ini bertujuan;

1) Mengetahui bahwa dalam ritus ziarah membutuhkan simbol untuk menjaga kelestarian dan keberadaan.

2) Mengetahui sejarah Puri Brata dan menjadikan air sebagai simbol yang kuat di dalamnya.

3) Mengetahui bentuk-bentuk hibriditas yang muncul di Puri Brata sebagai usaha mempertahankan keberadaannya.

E. Pentingnya Penelitian

Penelitian ini hendak memaparkan perjumpaan budaya dalam ritus peziarahan. Hasrat dan perjalanan dalam peziarahan menunjukkan pada kondisi manusia yang di satu sisi menghadapi pergulatan hidup yang dialami. Sisi yang lain, manusia mengalami keterarahan kepada Yang Kudus yang diekspresikan melalui tindakan. Tarik menarik antara dua sisi tersebut menuntut manusia untuk terus menerus mencari makna, memperoleh peneguhan atau bahkan pencerahan atas yang dialaminya. Jawaban atas pengalaman hidup manusia itu dapat ditemukan ketika mereka melakukan perjalanan dan menuju pada tempat-tempat

(29)

14 ziarah. Dengan demikian perlu dipahami bahwa keberadaan dan kemunculan tempat ziarah memiliki keterkaitan erat dengan ideologi, kapital simbol, identitas maupun ingatan-ingatan kolektif yang menyertainya. Paparan ini diharapkan menjadi perspektif awal dan menjadi pemahaman mendalam munculnya tempat-tempat ziarah seperti Puri Brata.

Pengetahuan ini diharapkan memberikan pemahaman yang mendalam tentang awal mula Puri Brata yang tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan dinamika para tokoh pengagas dan cita-cita yang ada di baliknya. Dengan mengetahui hal itu, selanjutnya akan memberikan gagasan kritis bagaimana menempatkan praktek ziarah sehingga peziarahan yang tidak hanya menjadi gerakan formal keagamaan, tetapi juga memunculkan situasi baru. Di tengah-tengah situasi ritualistik, para peziarah mendapat kesempatan untuk menjumpai orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Orang-orang yang tergerak oleh pencarian yang sama bertemu dan dapat saling meneguhkan dalam ziarah imannya.

Yang mempersatukan para peziarah adalah kerinduan akan tujuan dan keyakinan akan pentingnya sebuah perjalanan demi mencapai tujuan itu. Berada di jalan, memahami diri sebagai peziarah, dapat membantu seseorang untuk menanggalkan berbagai konsep diri yang memisahkannya secara radikal dengan orang lain. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada studi-studi yang mengulas dan membahas tentang tempat ziarah dengan ritus dan para para pelaku yang ada di dalamnya.

Selain itu, penelitian ini ingin menunjukkan bahwa ziarah Puri Brata sebagai wilayah perjumpaan budaya tidak lagi menjadi lambang satu bentuk identitas

(30)

15 tersendiri, namun lebih menjadi proses pembentukan budaya. Dengan kata lain, sulit untuk mengatakan bahwa ziarah Puri Brata hanya merupakan tradisi Katolik. Puri Brata menjadi ruang ketiga bagi terbentuknya budaya baru yang meliputi tiga wilayah utama, yakni ruang, ritus, dan pelaku.

F. Tinjauan Pustaka

Kajian mengenai tempat ziarah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta telah banyak dilakukan. Terlebih setelah tema ziarah menjadi kian marak dan dipersoalkan dengan wisata religi. Beberapa kajian mengenai hal ini cenderung terfokus pada masalah-masalah seputar sejarah awal mula tempat ziarah. Sejumlah pustaka yang tersedia yang memiliki kedekatan dengan penelitian ini berupa tema-tema tentang seputar motivasi peziarah ketika mereka melakukan peziarahan dan ritual yang dilakukan selama melakukan peziarahan.

Beberapa penelitian tentang tempat ziarah, antara lain, pertama adalah penelitian yang dilakukan David H. Singarimbun pada tahun 2009. Melalui penelitian berjudul Motivasi Umat Katolik Dalam Melakukan Doa Novena Maria (Studi terhadap Doa Novena di Gua Maria Sendang Jatiningsih di Jitar Sumberarum Moyudan Sleman Yogyakarta), David melihat bagaimana pandangan umat Katolik tentang doa novena Maria. Dalam penelitian ini, David menemukan bahwa doa novena Maria merupakan salah satu bagian dari permohonan, permintaan tolong dan puji syukur kepada Bunda Maria. David menemukan, bagi peziarah di Gua Maria Sendang Jatiningsih di Jitar Sumberarum Moyudan Sleman Yogyakarta, doa Novena menjadi ungkapan keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis dengan arah dan tujuan yang hendak dicapai

(31)

16 (ideologi). Penelitian ini juga mengungkapkan berbagai motivasi bagi umat Katolik. Menurut David, motivasi umat Katolik melakukan ziarah ke Gua Maria Sendang Jatiningsih di Jitar Sumberarum Moyudan Sleman Yogyakarta berbanding lurus dengan pemahaman mereka tentang doa Novena Maria, yakni dilatarbelakangi oleh motif ekonomi, motif kesehatan, motif pendidikan, motif mencari kebahagiaan dan motif wisata religi. Temuan David tentang motivasi yang beragam di antara para peziarah ini menjadi relevan dan fenomena umum yang terjadi dan dialami oleh para peziarah seperti yang saya singgung dalam penelitian ini.

Berbeda dengan penelitian David, Didit Meilena (2009) melakukan penelitian tentang tentang ritual ziarah di Gua Maria Marganingsih Dusun Ngaren Paseban Bayat Klaten. Penelitian ini lebih melihat pelaksanaan ritual ziarah yang dilakukan di Gua Maria Marganingsih Dusun Ngaren Paseban Bayat Klaten dan perbedaan ritual yang terjadi dengan tempat ziarah lain. Secara berturut-turut penelitian ini juga menyinggung waktu ritual, yakni adanya pembukaan dan penutupan Bulan Maria Upacara maupun prosesi perarakan. Meskipun lebih banyak mengulas tentang urutan ritual ziarah yang dilakukan di Gua Maria Marganingsih Dusun Ngaren Paseban Bayat Klaten, penelitian ini memberi keyakinan kepada saya tentang adanya ritual yang terjadi dalam setiap proses peziarahan meski di tempat yang berbeda dan dengan segala variasinya.

Rita Dwi Lestari (2009) meneliti Pemaknaan Umat Terhadap Ziarah Di Gua Maria Kerep Ambarawa. Dalam penelitian ini, Rita Dwi Lestari menganalisis sejauhmana para peziarah memaknai perjalanan ziarah mereka di gua Maria. Upaya pemaknaan ziarah umat tersebut berdasarkan pada pengalaman

(32)

17 para peziarah terhadap berbagai sarana bakti yang terdapat di Gua Maria Kerep, antara lain jalan salib, kapel Adorasi, salib milenium, Gua Maria, ruang doa, taman doa. Gua Maria Kerep Ambarawa, menjadi pilihan penelitian penulis karena tempat ini merupakan tempat ziarah yang cukup populer dan ramai dikunjungi para peziarah, meskipun Gua Maria Kerep sebenarnya tidak mempunyai sejarah yang menonjol seperti Sendangsono. Melalui penelitian ini, saya mendapatkan informasi bahwa peziarah dapat menemukan makna dari simbol-simbol yang ada di Gua Maria Kerep Ambarawa.

Kajian lain yang menurut saya penting adalah penelitian Y. Bintang Nusantara, tentang Tempat Ziarah sebagai Pengudusan Ruang bagi Yang Kudus: Studi tentang Proses Pembentukan Peziarahan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Dalam penelitan yang dilakukan tahun 2009, Y. Bintang Nusantara mengkaji proses pembentukan dan tradisi peziarahan, yakni Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, secara khusus menyasar pada pengudusan ruang bagi yang kudus. Melalui tesis ini pula, Y. Bintang Nusantara menyorot pembentukan tempat ziarah, peristiwa-peristiwa penting yang dianggap sebagai tonggak-tonggak yang menentukan keberadaan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dan “legenda” yang tercipta di dalamnya.

Beberapa penelitian di atas menjadi pertimbangan penting dalam memperkuat dan memperkaya penelitian ini. Dan, diantara kajian-kajian yang telah dibahas, dalam penelitian ini, secara khas, penulis akan menunjukkan bahwa tidak ada lagi tempat ziarah yang biner, tetapi merupakan proses budaya baru. Selain itu, proses pembentukan dan penguat identitas tempat ziarah juga dipengaruhi oleh pemaknaan simbol yang digunakan. Dalam konteks ziarah Puri

(33)

18 Brata, perjumpaan budaya muncul dalam tiga wilayah utama, yakni ruang, ritus dan pelaku.

G. Kerangka Teoretis

Munculnya tempat ziarah tidak terjadi secara otomatis. Tempat ziarah bukan serta merta ada begitu saja. Keberadaan tempat ziarah terbangun dan berubah melalui proses pembentukan, yang dipengaruhi oleh berbagai peristiwa maupun unsur-unsur lainnya. Identitas tempat ziarah bukanlah sesuatu yang baku. Ia adalah sebuah proses konstruksi, sebuah gambaran yang diciptakan dan dibangun oleh berbagai bentuk narasi, teks, dan dikuatkan oleh lembaga, tradisi dan praksis. Bahkan mungkin hampir tidak pernah disadari bahwa sesungguhnya, tempat ziarah pun merupakan campur aduk dari berbagai pengaruh, termasuk kolonialis.

Sebagai tempat ziarah, Puri Brata merupakan wilayah perjumpaan budaya dan tidak lagi menjadi lambang satu bentuk identitas tersendiri. Puri Brata lebih menjadi proses pembentukan budaya. Sulit untuk mengatakan bahwa Puri Brata adalah salah satu bentuk budaya yang murni ajaran Katolik maupun Jawa. Muncul proses pembentukan budaya baru yang meliputi tiga wilayah utama, yakni ruang, ritus dan peziarah. Proses budaya baru inilah yang menjadi ruang ketiga atau ruang ambang.

Di ruang ambang inilah Puri Brata menemukan strategi untuk mempertahankan keberadaannya. Bukan melawan dengan melakukan perombakan secara menyeluruh, melainkan justru dengan “perselingkuhan” budaya, yaitu

(34)

19 dengan mengambil alih tanda-tanda budaya dari berbagai ranah, tapi diberi isi dan digugat sehingga menghasilkan identitas dan ritus yang baru.

Demi mencapai pemahaman tersebut, saya menggunakan menggunakan kajian Postkolonial.22 Menurut Martono, postkolonial merupakan teori yang dapat digunakan sebagai alat analisis untuk menggugat praktek-praktek kolonialisme yang masih berlanjut atau kolonialisme bentuk baru yang telah melahirkan kehidupan yang penuh dengan rasisme, hubungan kekuasaan yang tidak seimbang, budaya subaltern, hibriditas dan kreolisasi bukan dengan propaganda peperangan dan kekerasan fisik, tetapi didialektikakan melalui kesadaran atau gagasan.23 Dengan kata lain, postkolonial adalah alat atau perangkat kritik yang

melihat bagaimana sendi-sendi budaya, sosial dan ekonomi yang didalamnya terdapat subjek postkolonial. Haryanto Cahyadi menggagas bahwa kajian Postkolonial memperlihatkan perspektif yang lebih luas dan kompleks, yang tidak pernah mampu dijelaskan oleh teori-teori kolonial yang selalu berciri monistis, struktural dan positivis serta mengabaikan kemajemukan dimensi sejarah dan politik. Teori kolonial tidak mampu mengungkap hal-hal yang bersifat metanarasi, yaitu pelbagai narasi yang tidak terlihat secara empiris namun sangat dominan mempengaruhi sebuah keberadaan dan membentuk kompleksitas persoalan.24

Perlu dipahami, konsep kolonial sebagai hubungan penjajah-terjajah bukan hanya dimaknai adanya penguasaan dan pendudukan terhadap fisik maupun wilayah, tetapi juga meliputi pemikiran dan peradaban. Dalam konteks itu pula,

22 Wacana-wacana postkolonial sebagian besar mengacu pada persoalan identitas,

misalnya saja gender, seksualitas, ras, kelas, hibriditas identitas, serta subaltern.

23 Martono, Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Postmodern, dan

Poskolonial, 2011, Jakarta: Rajawali Press, hlm. 101-132.

24 Haryanto Cahyadi., 2004, (Ed) Sutrisno, Mudji., Hermenetika Pascakolonial, dalam

(35)

20 sahihlah pendapat Ashis Nandy, salah seorang tokoh kajian budaya, yang menyatakan bahwa kolonialisme menjajah pikiran selain tubuh dan melepaskan kekuatan dalam masyarakat terjajah untuk mengubah prioritas budaya mereka sekali untuk selamanya. Pada proses tersebut ada upaya membantu menggeneralisasi konsep Barat modern dari entitas geografis dan temporal untuk kategori psikologis. Barat saat ini ada di mana-mana, di dalam dan di luar Barat, dalam beragam struktur dan dalam seluruh pikiran.25

Dalam tesis ini, saya mencoba mengulik persoalan hibriditas26 tempat ziarah Puri Brata menurut analisis Homi Bhabha. Konsep ini menjelaskan cara yang dilakukan bangsa terjajah menolak kekuatan penjajah. Alih-alih melihat kolonialisme sebagai sesuatu terkunci di masa lalu, Bhabha menunjukkan bagaimana sejarah dan budaya terus mengambil peran pada saat ini, menuntut adanya perubahan dalam memahami tentang hubungan lintas budaya.

Bhabha menjelaskan konsep hibriditas sebagai “sebuah struktur keterbelahan dari wacana kolonial”. Kondisi terbelah/terpecah ini menjadikan subjek selalu berada pada the liminal space between cultures, di mana garis pemisah tidak pernah tetap dan tidak dapat diketahui batas dan ujungnya. Secara indah, Bhabha melukiskan situasi tersebut merunut dari karakter arsitektur tangga hubung karya Renee Green. Menurut Bhabha, tangga hubung itu memiliki roda

25

Nandy, Ashis, 1983. The Intimate Enemy - Loss And Recovery Of Self Under Colonialism, Oxford New York Toronto,Oxford University Press, hlm. xi.

26

Hibriditas merupakan perspektif baru jika dibandingkan dengan ilmu sosial humaniora seperti sosiologi, antropologi, sejarah, linguistik, ilmu politik dan sebagainya, yang sudah mapan dan bahkan sudah menjadi suatu ortodoksi. Meskipun masih dianggap baru dalam kajian postkolonial, hibriditas ditafsirkan dengan berbagai istilah; sinkretisme, akomodasi, dan pencampuran. Dengan berbagai istilah yang disandangkan pada hibriditas tersebut, maka seseorang yang mengkaji topik tertentu dengan menggunakan hibriditas seolah berada dalam “jungle of the concepts competing for survival” (hutan konsep-konsep yang saling berkompetisi untuk bertahan).

(36)

21 yang mengalir dari ruang atas ke ruang bawah atau sebaliknya. Tangga hubung yang ulang alik itulah ruang ketiga. Ruang atas dan ruang bawah merupakan perwujudan oposisi biner seperti halnya hitam dengan putih, terjajah dengan penjajah.27

Melalui perspektif tangga hubung itu, Bhabha menawarkan ruang ambang yang mampu berperan sebagai ruang interaksi simbolik. Bhabha menekankan kemampuan hibriditas untuk menumbangkan dan mencocokkan kembali wacana kekuasaan. Bhabha mengarahkan untuk memperhatikan apa yang terjadi pada garis batas budaya, untuk melihat apa yang terjadi di antara budaya. Bhabha mendeskripsikan suatu “ruang antara” di mana perubahan budaya dapat berlangsung, yaitu ruang antarbudaya di mana strategi-strategi kedirian personal maupun komunal dapat dikembangkan. Dapat dilihat pula sebagai suatu wilayah di mana terdapat proses gerak dan pertukaran antara status yang berbeda-beda yang terus menerus.28

Menurut Bhabha, inilah di antara ruang-ruang yang "memberikan medan untuk strategi kedirian ... yang memulai tanda-tanda baru dari identitas, dan situs inovatif kolaborasi, dan kontestasi menguraikan, dalam tindakan mendefinisikan gagasan masyarakat itu sendiri"29

Karena itu, benarlah yang disebutkan Selva Raj, sejarawan agama yang mengkhususkan diri dalam agama Hindu, Kristen populer di India, dan agama Asia lainnya, seperti yang terjadi dalam tradisi ziarah di Oriyur.30 Peziarahan

27 Homi Bhabha, 1994. The Location of Culture, New York, Routlegde, hlm. 4. 28 Ibid., hlm. 3.

29 Homi Bhabha, Opcit., hlm. 74.

30 Oriyuri adalah ziarah makam bagi Yohanes De Britto, seorang misionaris Jesuit yang

diutus ke daerah misi di Madurai, India Selatan (Tamil Nadu), pada tahun 1673. Misi ini biasa disebut dengan The Madurai Misision (Misi Madurai).

(37)

22 memberikan konteks ruang; di mana ziarah diadakan, ritual; mengorbankan binatang, mempersembahkan batang mida pohon kelapa, mencukur, rambut, mandi, mengoleskan getah cendana ke kepala dan mengadakan perayaan Ekaristi, yang di dalamnya ada liminalitas antara peziarah, orang kudus, dan pemimpin Gereja. Bagi orang asing, hal itu berperan sebagai jendela berbagai karakter, identitas yang tidak tetap, cair (fluid), relasi dan negosiasi yang kompleks serta menunjukkan kualitas kekatolikan Tamil.31

Dalam konteks tesis ini, menurut saya, hibriditas Puri Brata sebagai bagian dari tempat yang digunakan oleh umat Katolik dan umat beragama lain telah mengalami perjumpaan dengan budaya lokal, termasuk dengan umat Katolik yang datang ke sana dan dengan masyarakat Jawa Islam yang ada di sekitarnya. Namun hal itu tidak menandakan bahwa ketika sudah pernah pergi atau melakukan peribadatan ke Puri Brata sertamerta menjadikan umat Katolik sebagai Katolik yang tulen. Puri Brata mengajarkan tentang bagaimana menjadi umat Katolik ketika berhadapan dan memaknai tempat ziarah dan peziarahan.

H. Metode Penelitian (Sumber Data dan Pengumpulan)

Dalam menjawab rumusan pertanyaan penelitian ini, saya menggunakan metode kualitatif. Saya berusaha menemukan dan menggali data yang didorong rasa ingin tahu seperti diungkapkan pada bagian sebelumnya. Secara konkret, saya Misi Madurai adalah upaya yang cukup berani dari para Jesuit untuk mendirikan sebuah Gereja Katolik India yang bebas dari kultur budaya Eropa. Karena itu de Brito belajar bahasa setempat, sedapat mungkin hidup sebagai Brahmana dan menyesuaikan penginjilannya dengan cara berpikir orang India.

31

Corinne Dempsey and Selva Raj (eds.), 2002, “Transgressing Boundaries, Transcending Turner: The Pilgrimage Tradition at the Shrine of St John de Britto, dalam Popular Christianity in India: Riting Between the Lines, SUNY Press, hlm. 85-111.

(38)

23 melakukan observasi partisipatif, wawancara dengan perwakilan pihak keluarga atau pengelola, para peziarah maupun beberapa pinisepuh dan pemuka masyarakat yang ada di sekitar Puri Brata. Selain itu, saya menggunakan sumber tertulis yang berisi kesaksian-kesaksian dari para penulis tentang konteks berikut situasi awal tentang Puri Brata.

Melalui observasi partisipatif, saya melakukan pertemuan dengan pengelola Puri Brata, menggabungkan diri untuk mengikuti perjalanan bersama serombongan peziarah, mengikuti ritual yang ada di Puri Brata; misalnya pemijatan, Perayaan Ekaristi, prosesi penyembuhan dan makan bersama (kembul bojana) yang dilangsungkan setelah upacara ibadat serta kunjungan ke beberapa penduduk yang ada di sekitar Puri Brata.

Dengan memosisikan diri seperti ini, saya mencoba memahami seting tempat, peristiwa dan situasi empirik untuk mengumpulkan permasalahan secara tuntas. Saya merekam dan mencatat secara maksimal untuk memahami tindakan, reaksi dan konstruk yang ada di sekitar Puri Brata.

Status saya yang dididik sejak kecil dalam tradisi Gereja Katolik menjadikan saya menempatkan diri sebagai native ethnographer karena dua hal. Pertama, saya adalah orang Jawa Katolik yang dalam beberapa hal kerap mengadakan peziarahan di berbagai tempat. Kedua, saya adalah seseorang yang pegawai di lingkungan Bimas Katolik. Dengan alasan tersebut, saya merasa perlu menjaga subjektivitas supaya tetap menjadi “orang luar yang berada di dalam” atau “the outsider within”. Dalam setiap perjumpaan dengan responden pun, saya mencoba “menyembunyikan” identitas sebagai sosok yang aktif dalam karya kegerejaan dan berkarya di lingkungan lembaga kekatolikan. Saya memosisikan

(39)

24 demikian supaya wawancara tidak jatuh pada hierarkis kegerejaan dan terseret pada wilayah teologis.32

Subjek dalam penelitian ini adalah Puri Brata, suatu tempat ziarah atau tetirah yang relatif baru. Puri Brata dikelola oleh trah keluarga dan terletak di daerah Gadingharjo, Kecamatan Sanden. Dalam perkembangan tradisi ziaarah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Puri Brata juga menjadi salah satu rute ziarah yang dikunjungi oleh umat Katolik ketika mereka melakukan perjalanan dari Sendangsono ke Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Mereka datang ke Puri Brata untuk mengikuti Perayaan Ekaristi dan ritual penyembuhan. Sebagai tempat ziarah, Puri Brata menempatkan simbol air dalam sebagai bagian dari ritus ziarahnya dan perolehan berkat, antara lain kesembuhan, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi bagi umat beragama lain.

I. Skema Penulisan

Dalam penelitian ini penulis mengkonstruksi pembahasan ke dalam 5 (lima) bab yang terdiri dari;

Bab I: Pendahuluan.

Bab I menyajikan latar belakang dan beberapa informasi tentang fenomena tempat ziarah Puri Brata, Sanden. Dalam bab ini juga ada beberapa sub bab yang akan mengantarkan pada serangkaian alur rencana penelititan seperti rumusan masalah, tujuan penelitian, pentingnya penelitian, tinjauan pustaka dan kerangka teoritis,

32

Bdk. Saukko, Paula., 2003, Doing Research in Cultural Studies: An Introduction to Classical and New Methodological Approaches.” London, Thousand Oaks and New Delhi: Sage Publications, hlm. 57.

(40)

25 metode penelitian (sumber data dan pengumpulan), pengolahan data, dan skema penulisan.

Bab II: Ziarah dalam Tradisi Agama-Agama

Bab ini akan memaparkan fenomena ziarah dalam berbagai tradisi agama-agama. Paparan akan difokuskan pada tiga aspek dalam ziarah, yakni ruang, ritus dan pelaku. Kajian aspek-aspek ini menjadi bingkai umum untuk menempatkan simbol-simbol yang muncul dalam ziarah Puri Brata. Dari pendekatan dalam bab II akan mengarah pada simbol dalam ritus ziarah di Puri Brata. Bab II menjadi bagian untuk menunjukkan ruang pertama dan ruang kedua sebagai bagian dari oposisi biner.

Bab III: Pembentukan dan Pengembangan Ziarah Puri Brata

Bab ini akan memaparkan pembentukan dan pengembangan ziarah Puri Brata. Bagian pertama ingin memberikan gambaran situasi geografis, sistem bahasa, agama dan mitos yang hidup di wilayah Puri Brata. Bagian kedua mengulas tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan menjadi tonggak awal dan perkembangan ziarah Puri Brata. Bagian ketiga akan bicara tentang ruang, ritus dan pelaku sebagai unsur pembentuk dan pengembang dalam ziarah Puri Brata. Ketiga bagian ini akan diolah penulis dengan cara observasi, pengamatan, maupun wawancara. Melalui cara tersebut diharapkan mendapatkan data deskriptif dari subjek penelitian.

(41)

26 Bab ini akan menyajikan analisa atas terbentuknya Puri Brata sebagai tempat ziarah yang hibrid. Kajian akan memusat pada upaya untuk melihat dan menemukan bagaimana realitas hibrid muncul di Puri Brata, terutama pada ruang, ritus dan pelaku. Dengan demikian, gagasan-gagasan yang ada pada bab-bab sebelumnya menjadi pegangan dan pendasaran. Bab ini secara khusus juga akan menyampaikan hibriditas Puri Brata sebagai temuan strategis untuk mempertahankan keberadaannya sebagai tempat ziarah sekaligus sebagai persilangan budaya.

Bab V: Penutup

Bab ini berisi ringkasan masing-masing bab dan kesimpulan. Bagian kesimpulan akan memuat antara lain tentang pentingnya penelitian ini bagi penulis dan pengembangan kajian religi dan budaya, secara khusus dalam menyorot fenomena ziarah. Dalam bab ini pula, pemikiran Bhabha tentang hibriditas dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk menerobos wilayah agama dan masuk dalam wilayah yang lebih luas, dalam konteks lintas ilmu.

(42)

27 BAB II

Ziarah dalam Tradisi Agama-agama

Kau tak perlu mendaki gunung untuk tahu tingginya33

A. Pengantar

Fenomena ziarah religius terjadi pada semua agama.34 Hal ini dapat

dibuktikan dengan melihat setiap agama mempunyai tempat-tempat ziarah. Meskipun demikian, setiap tempat ziarah mempunyai afiliasi formal dengan tradisi agama tertentu, dalam banyak kasus tempat ziarah tersebut seringkali tidak hanya diziarahi oleh umat dari satu agama saja tapi juga dari umat beragama lainnya.35

Bab ini akan memusat pada isu-isu dasar tentang ziarah dalam tradisi agama-agama. Sebagai data umum, bagian ini diharapkan akan membingkai ziarah Puri Brata. Bab ini akan dibagi menjadi 3 bahasan. Pada bagian pertama penulis akan menguraikan tentang ziarah. Bagian kedua akan membahas praktek ziarah dalam agama-agama. Bagian ketiga akan mengulas unsur-unsur yang muncul, yaitu ruang, ritus dan pelaku dalam tiap ziarah agama-agama.

B. Ziarah: Praktek yang Tak Pernah Selesai

Tidak ada definisi yang ketat untuk ziarah, yang bisa diterapkan secara umum. Hal ini tidak mengherankan karena ziarah mencakup aktivitas manusia

33

Paulo Coelho, 2013, The Pilgrimage, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, hlm. 31.

34

Ziarah yang objek tujuannya bukan tempat-tempat keagamaan dan intinya merupakan penghormatan kepada seorang pribadi yang pernah mempunyai hubungan personal dengan yang bersangkutan atau kebetulan juga menjadi tokoh-tokoh panutan.

35

Kees de Jong, “Ziarah Menyentuh Yang Adi Kodrati”, dalam Lima Titik Temu Agama-Agama, Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 2000, hlm. 267.

(43)

28 yang kompleks. Sebutan ziarah sendiri berakar dari bahasa latin, peregrinus atau pilgrim dalam bahasa Inggris. Ungkapan itu menunjuk pada seseorang atau kelompok yang kris-kras, silang-menyilang melintasi ladang dan daerah.36

Melalui pemahaman mengenai apa yang dilakukan oleh peziarah, maka dapat diketahui bahwa seorang atau sekelompok peziarah pada awalnya melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain untuk memenuhi hasratnya. Makna lain yang terkandung dalam kosa kata tentang ziarah adalah kunjungan ke makam seseorang yang telah meninggal dunia. Makna lain lagi menunjuk pada kunjungan ke tempat suci, entah karena di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa yang disucikan atau entah karena ada tokoh suci yang dimakamkan.37

Definisi lain yang bisa disampaikan tentang ziarah adalah perjalanan ke tempat suci sebagai tindakan kesalehan dalam agama.38 Ziarah melibatkan tiga

faktor: tempat suci; perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok menuju tempat tertentu untuk mendapatkan kekuatan rohani atau peneguhan39, aksi pribadi atau orang banyak ke tempat ini; tujuan yang spesifik, yaitu, untuk mendapatkan kekuatan rohani atau keteguhan manfaat.

Turner menyebut ziarah sebagai extroverted mysticism,40 ketika seseorang

mulai meninggalkan situasi duniawi, membedakan diri dengan orang biasa lain, dan dalam usaha mengasingkan diri pada akhirnya akan menjadi penyalur berkat.

36

Bernhard Kieser, Berjiwa Ziarah Asli, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, 2007, hlm. 11.

37

Heru Prakosa, Jiwa yang Gelisah: Ziarah Pengenangan dan Permenungan, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, hlm. 20.

38

Sykes, J. B. 1982. The Concise Oxford Dictionary of Current English, 7th ed. Oxford: Clarendon Press, hlm. 776.

39

Brandon, S. G. F., gen. ed. 1970. A Dictionary of Comparative Religion. London: Weidenfeld and Nicolson, hlm. 501.

40 Victor Turner and Edith Turner. 1978. Image and Pilgrimage in Christian Culture:

(44)

29 Definisi tentang ziarah mengalami perkembangan. Peter Jan Margry, seorang etnolog dan Direktur Departemen of Ethnology di Meertens Institute, pusat penelitian Seni dan Ilmu Pengetahuan di Amsterdam menyebut ziarah sebagai perjalanan berdasarkan agama atau inspirasi rohani, dilakukan secara individu atau kelompok, ke tempat yang dianggap lebih sakral atau menyehatkan dari lingkungan kehidupan sehari-hari untuk bertemu dengan yang transendental dan memperoleh peneguhan rohani, penyembuhan emosional atau fisik.41

Melihat beberapa perkembangan pemahaman tentang definisi ziarah, poin-poin yang dapat dicatat adalah tindakan ziarah menunjuk pada kegiatan yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk meninggalkan kehidupannya sehari-hari, pekerjaan, keluarga, teman-temannya, keamanan dan―kerinduan untuk pembaruan relasi baru dengan Allah―dimulai pada perjalanannya ke tempat-tempat dan orang-orang suci, sehingga membantunya dalam pengalaman baru dengan Allah. Meskipun dasar dan motif utama dari setiap ziarah adalah kerinduan kepada Allah, meninggalkan kehidupan sehari-hari dan membuka diri kepada Allah, pasti ada alasan sekunder untuk ziarah modern. Dari beberapa definisi ziarah tersebut, faktor yang paling mendasar adalah terjadinya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.

C. Ziarah: Praktek Semua Agama

Brenda Shoshanna, seorang psikolog dan spiritualis, menyatakan bahwa ketika seseorang melakukan ziarah, ia melepaskankan dirinya dari kegiatan rutin

41 Peter Jan Margry, 2008. Secular Pilgrimage: A Contradiction in Terms? Dalam

Shrines and Pilgrimage in the Modern World New Itineraries into the Sacred, Amsterdam University Press, hlm. 17.

(45)

30 harian dan sekaligus mengadakan perjalanan untuk mencari Tuhan, Sang Khalik yang Kekal.42 Ungkapan Brenda tersebut seolah menegaskan kebutuhan manusia untuk berdialog dengan dirinya sendiri dan Tuhan ditengah-tengah pergumulan hidup yang ditandai perubahan terus-menerus dan membuat manusia mengalami kemandegan, keletihan dan kenestapaan. Dengan demikian, ziarah menjadi cara bagi manusia untuk jeda sejenak supaya dapat memaknai kembali dinamika kehidupannya. Hasrat dan perjalanan dalam peziarahan menunjukkan pada kondisi manusia yang di satu sisi menghadapi pergulatan hidup yang dialami. Di sisi yang lain, manusia mengalami keterarahan kepada Yang Kudus. Tarik menarik antara dua sisi tersebut menuntut manusia untuk terus menerus mencari makna, memperoleh peneguhan atau bahkan jawaban atas yang dialaminya.

Menurut Sudiarja, guru besar bidang etika, alam pikiran hindu, dan filsafat manusia, tinjauan reflektif tentang ziarah ini sangat perlu dalam dunia yang ambigu. Kalau mereka salah melangkah bisa terpeleset jatuh dan terseret arus sekuler, tetapi kalau berhenti dan tidak memberi makna, maka sia-sialah seluruh arti kehidupan mereka.43 Bagian ini menampilkan peran ziarah dalam hidup manusia, terutama berkaitan dengan diri dan pemenuhan harapan serta pembentukan relasi antar pribadi yang berlanjut dengan munculnya komunitas pada peziarah, kelompok orang yang melakukan ziarah atas dasar kesamaan harapan.

D. Praktik Ziarah dalam Tradisi Agama-Agama

42 Brenda Shoshanna, Phd., Zen Wisdom., 2007, Jakarta, Bhuana Ilmu Populer, hlm.

187-188.

(46)

31 Praktik ziarah ialah kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau suci. Kunjungan tersebut bukan kunjungan biasa melainkan suatu ritus perjalanan seseorang dengan tujuan khusus yang dapat berlainan sesuai kekhasan masing-masing tempat ziarah. Orang dapat berziarah, misalnya untuk menghormati orang suci, memohon suatu anugerah, bertobat atau bertapa, terkabulnya suatu janji, memohon kesembuhan dan menebalkan iman. Praktik ziarah semacam itu diselenggarakan pada tempat, dan waktu yang khusus, dan berbagai peralatan ritus lain yang bersifat sakral dengan tujuan untuk membawa umat pada penghayatan iman (pelaku).

1. Ruang, Ritus dan Pelaku 1.1. Ruang

Ruang suci biasanya ditemukan dalam semua agama-agama di dunia. Beberapa tempat dipersembahkan bagi Tuhan dan oleh karena itu dipisahkan dari kegiatan-kegiatan biasa dan profan. Ruang itu adalah tempat suci, tempat-tempat di mana manusia religius bertingkah laku secara berbeda daripada kalau ia berada di tempat-tempat profan. Apa yang membuat suatu tempat menjadi suci? Apa artinya Tuhan atau yang Ilahi tinggal di sana? Hubungan khusus apa yang ada diantara Tuhan dengan tempat tinggalnya? Untuk lebih menjelaskan tentang ruang suci, berikut ini akan dipaparkan menurut tradisi dalam agama-agama.

Arti religius dan kosmis dari kuil Hindu sungguh tampak jelas. Bentuk kuil Hindu berhubungan sangat erat dengan petunjuk: Kediaman Tuhan (Devalaya) karena kuil itu tidak pertama-tama dibangun untuk memberi tempat bagi rombongan para pemuja untuk doa-doa dan ritual-ritual masyarakat tetapi

(47)

semata-32 mata untuk menempatkan patung dewa dalam bagian yang paling dalam dari kuil utama, Sanctum Sanctorum. Kalau sebuah kuil Hindu menyediakan ruangan untuk para pemuja, ruangan-ruangan itu dibangun terpisah, berbeda bentuk dan artinya, meskipun berdampingan dengan kuil utama. Teks Silpa Prakasa menyebutkan kuil utama itu diibaratkan dengan Pengantin Pria dan ruangan untuk para pemuja sebagai Pengantin Wanita. Jadi, keilahian dimengerti sebagai aspek pengantin lelaki surgawi yang dicintai dan dihormati seumur hidup oleh jiwa pemuja. Itulah simbolisme yang terkenal dalam pemujaan bhakti di India. Di samping itu, kuil adalah sebuah struktur hierarkis menyerupai kosmos yang dalam mitologi Hindu, terdiri dari bumi, udara atau eter dan surga.

Dalam tradisi ziarah agama Hindu, ziarah dilakukan terutama di 7 sungai. Salah satu adalah sungai Gangga. Sungai Gangga adalah sungai suci teristimewa karena membelah India dan sumber airnya di pegunungan Himalaya.

Salah satu ziarah termegah bagi umat Hindu adalah Kumbha Mela.44 Ziarah yang diadakan di tepi Sungai Gangga ini diadakan setiap dua belas tahun di Allahabad. Istilah Kumba Mela berasal dari bahasa Sansekerta, kumba berarti panci, guci atau kendi, dan mela berarti perayaan.

Perayaan Kumbha Mela dilatarbelakangi kisah tentang pencarian dan perebutan sari bunga abadi (amrta) antara para dewa dan para setan. Pada awal penciptaan, para dewa mendapatkan kutukan yang membuat mereka lemah. Dewa Brahma sebagai pencipta menyarankan agar mereka mengaduk lautan untuk mencari sari bunga abadi. Para dewa meminta bantuan dari setan, dan mereka mengaduk-aduk lautan untuk menemukan sari bunga abadi. Namun ketika sari

44 Jack B. Hebner dan David B. Osborn, 1990, Kumbha Mela – The World’s Largest for

(48)

33 bunga itu berhasil ditemukan dan dikumpulkan dalam kumbha, para setan membawanya lari. Para dewa mengejar mereka. Pertempuran untuk memperebutkan sari bunga abadi berlangsung selama dua belas hari dan malam. Pada akhirnya, sari bunga abadi tumpah ke bumi, dan tercecer di empat lokasi Prayag (Allahabad), Haridwar, Ujjain, dan Nashik. Keempat tempat itu diyakini memiliki kekuatan mistis. Prayag dianggap sebagai tempat yang paling suci karena menjadi pertemuan tiga sungai suci, yaitu Gangga, Yamuna dan Saraswati. Sungai Gangga dan sungai Yamuna mengalir dari Pegunungan Himalaya, sedangkan Saraswati merupakan sungai mistis. Para peziarah meyakini, bila mereka mandi di salah satu tempat di mana sari bunga abadi itu tercecer, maka mereka akan mendapatkan pemurnian diri.

Pemahaman tradisi ziarah Buddhis menuntun untuk mengetahui lebih lanjut peran tempat-tempat yang disebut sebagai Sang Buddha. Tempat-tempat utama dalam tradisi ziarah Buddha tersebut adalah Lumbini, Bodhgaya, Sarnath, dan Kusinara. Lumbini adalah tempat Buddha dilahirkan. Daerah ini terletak di Nepal, dekat kota perbatasan India Sonauli. Sebagai tempat ziarah, Lumbini ditandai dengan arsitektur. Arsitektur memiliki kemampuan untuk menciptakan ruang spiritual. Tata bangunan mampu merangsang untuk membawa seseorang masuk kedalam pengalaman spiritual. Pengalaman dalam ruang spiritual membantu seorang peziarah untuk fokus. Ruang arsitektur yang baik memiliki kualitas tertentu dan mengerakkan sense manusia untuk berinteraksi.

Ruang arsitektur mempunyai kekuatan untuk mensetting manusia dalam sebuah ruang untuk menciptakan memori dan pengalaman yang bermakna ketika ia bergerak merasakan dan mengalaminya. Tata bangunan merupakan

Referensi

Dokumen terkait