• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rektor Mewisuda 2018 Lulusan Universitas Airlangga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rektor Mewisuda 2018 Lulusan Universitas Airlangga"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Rektor Mewisuda 2018 Lulusan

Universitas Airlangga

WARTA UNAIR – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad

Nasih, SE., MT., Ak., CMA., selama dua hari ini, Sabtu (11/3) dan Minggu (12/3) akan mewisuda 2018 lulusan Universitas Airlangga dari berbagai jenjang dan fakultas di UNAIR. Wisuda ini dilaksanakan di gedung Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya.

Pada wisuda hari pertama di tahun 2017 ini, Rektor akan mengukuhkan 1.008 wisudawan. Sedangkan sisanya yang 1.010 orang, akan diwisuda pada hari Minggu (12/3), di tempat yang sama.

Diantara wisudawan tersebut terdapat 28 yang dikukuhkan sebagai Wisudawan Terbaik dari masing-masing jenjang. Selain itu juga terdapat 12 Wisudawan Berprestasi dari masing-masing fakultas. Untuk itu Rektor memberinya Piagam Penghargaan kepada mereka. Kemudian dalam upacara wisuda kali ini juga terdapat penghargaan kepada wisudawan yang memiliki skor jurnal tertinggi.

Wisudawan Terbaik di UNAIR adalah mereka yang meraih nilai tertinggi diantara lulusan cumlaude, yaitu nilai diatas 3,50. Sedangkan wisudawan berpretasi adalah peraih komposisi tertinggi antara nilai IPK dan nilai tertinggi SKP (Satuan Kredit Prestasi) di masing-masing fakultas.

Dari Direktorat Pendidikan UNAIR diperoleh informasi bahwa peserta terbesar wisuda perdana tahun 2017, kali ini dari Fakultas Kedokteran (FK). FK mengirim 286 orang baik lulusan S1 hingga S-3 (Doktor). Terbanyak nomor dua dikirim dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 260 wisudawan. Kemudian terbesar ketiga dari Fakultas Hukum (FH) 255 orang. Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE.,

(2)

MT., Ak., CMA., dalam amanatnya sebagaimana disampaikan pada wisuda sebelumnya, berharap seluruh wisudawan selalu peduli kepada masyarakat di sekitarnya. Sikap peduli kepada sesama ini sesungguhnya telah menjadi komitmen kita.

”Lihatlah janji itu dalam Hymne Airlangga. Dengan nada syahdu kita pernah berikrar: Bagimu almamater, Kuberjanji setia,

Berdharma bakti suci, Berjasa mulia, Belajar untuk nusa, Indonesia yang kucinta…” kata Rektor. Dalam kapasitas yang

sama, harapan itu juga disampaikan untuk para wisudawan UNAIR hari ini.

Penekanan sambutan Rektor itu disampaikan karena pendidikan itu harus berlangsung seumur hidup. Karenanya, perbarui dan tambahlah terus ilmu kita, termasuk dari “Universitas Kehidupan” ini. Kemudian perhatikanlah sekitar kita, dan cermatilah lingkungan kita.

“Ilmu itu bisa berasal dari berbagai masalah yang timbul di masyarakat. Bersegeralah untuk ikut menyelesaikan masalah-masalah itu, dan yakinlah bahwa ilmu yang dibekali oleh almamater cukup memadai untuk turut menemukan solusinya,” kata Prof. Moh Nasih.

Dikatakan, dalam kehidupan ini selalu ada pasangan antara “tantangan dan jawaban”. Artinya, tantangan atau masalah itu tidak boleh kita hindari. Tapi kita harus yakin bahwa semua wisudawan akan bisa menghadapi berbagai tantangan yang ada, sebab almamater yang memiliki semangat “Excellence with

Morality” ini insya-Allah telah memberikan bekal yang cukup.

”Dengan percaya diri, ubahlah tantangan yang ada menjadi peluang. Di sekitar kita banyak kisah sukses dari orang-orang yang tidak saja mampu keluar dari masalah yang menindihnya, tetapi bahkan keluar sebagai sang pemenang,” tandas Rektor. (*)

(3)

Mahasiswa FK Dipercaya IFMSA

Jadi Ketua Level Asia Pasifik

UNAIR NEWS – Pengalaman berorganisasi ternyata membawa nilai

lebih bagi Satria Nur Sya’ban. Setelah dipercaya menjadi ketua

Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA)

yang merupakan organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional, baru-baru ini mahasiswa yang akrab disapa Satria, dipercaya menjadi ketua regional International Federation of

Medical Students’ Association (IFMSA) wilayah Asia Pasifik.

Proses pemilihan ketua regional IFMSA wilayah Asia Pasifik ini berlangsung melalui musyawarah dan pengambilan suara dari berbagai negara anggota federasi yang hadir dalam acara pertemuan di kota Puebla, Mexico. Usai dilantik menjadi Direktur Regional Asia-Pacific, Satria pun mengagendakan sejumlah kegiatan yang akan diikuti sepanjang tahun 2017. “Ya kegiatan untuk tahun ini antara lain seperti acara

Regional Committee for the Western Pacific, WHO Regional Committee for Southeast Asia,” terangnya.

Bagi mahasiswa FK UNAIR angkatan 2012 ini, menjadi ketua IFMSA w i l a y a h A s i a P a s i f i k m e r u p a k a n k e s e m p a t a n u n t u k mengadvokasikan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan, menyampaikan aspirasi anggota IFMSA dalam forum tingkat internasional, sekaligus membangun relasi untuk IFMSA dan beberapa negara organisasi anggotanya.

“Untuk anggota IFMSA wilayah Asia Pasifik terdiri dari Indonesia, Australia, Fiji, Jepang, Singapura, Uzbekistan, Mongolia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Bangladesh, Kazakhstan, Nepal, Taiwan, Korea Selatan, China, dan Hong Kong,” imbuhnya.

(4)

Sebagai pemegang kendali atas wilayah regional Asia Pasifik, Satria dipercaya untuk mengkoordinasikan dan memfasilitasi aktivitas dan perkembangan dari organisasi tingkat nasional di regio Asia-Pasifik yang tergabung di dalam IFMSA. Termasuk memastikan berbagai organisasi nasional ini agar dapat memanfaatkan secara maksimal berbagai kesempatan yang disalurkan oleh IFMSA.

Tak hanya itu, pria kelahiran 16 Januari ini juga menjadi

focal person untuk representasi eksternal dari IFMSA dalam

acara dan pertemuan yang terjadi di darah Asia-Pacific, yang jika dikonversi menjadi pembagian regional yang digunakan oleh

World Health Organization (WHO), mencakup Southeast Asia dan

Regio Western Pacific.

Mendapat pengalaman perdana ini, Satria mengaku khawatir mengemban tanggung jawabnya hingga September 2017 mendatang. Walau begitu, baginya pengalaman adalah keuntungan utama dengan mengikuti organisasi IFMSA. Pengalaman mengunjungi belasan negara dalam satu tahun , bertemu sejawat dokter yang sudah professional, serta berkumpul bersama sejawat yang memiliki passion yang sama untuk meningkatkan kesehatan dunia. “Ada senang , ada takutnya juga. Senang karena usaha dan pengalaman saya akhirnya mengantarkan saya pada kesempatan yang luar biasa ini. Khawatirnya karena kemampuan saya belum mumpuni. Namun saya tetap optimis, segala persiapan dan pengalaman menjadi Presiden CIMSA dapat membantu saya menjalankan tugas saya sekarang,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak ada kriteria spesifik seperti apa bakal calon yang dipercaya mengemban posisinya tersebut , hanya saja diperlukan kemampuan berorganisasi, berkomunikasi dan berdiplomasi yang baik. Serta membuat sebuah rencana kerja yang jelas dan konkret untuk membawa Asia-Pasifik ke arah yang lebih baik.

(5)

Indonesia maupun luar negeri, agar memiliki basis, kemampuan, dan rasa kepedulian yang kuat terhadap berbagai isu dan kelemahan sistem kesehatan maupun masalah-masalah kemanusiaan yang ada di sekitar kita,” ungkapnya.

Penulis: Sefya Hayu Editor: Nuri Hermawan

Resign dari GM, Alumni UNAIR

Kembangkan Bisnis Kopi Luwak

Cikole

UNAIR NEWS – Lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas

Airlangga pada tahun 1988, Sugeng Pujiono kini lebih dikenal sebagai pengusaha “Kopi Luwak Cikole”. Pria berusia 53 tahun lalu tersebut, resign dari jabatannya sebagi General Manager PT. Sanbe Farma dan PT. Caprifarmindo Labs di tahun 2013 demi fokus dalam usaha kopi luwak yang ia rintis sejak tahun 2012. Usaha Sugeng boleh dikata tidak berjalan mulus. Awalnya, ia memulai usaha tersebut dengan budidaya 10 ekor luwak. Untuk bisa mendapatkan biji kopi luwak berkualitas, Sugeng melakukan banyak eksperimen dengan mengatur pola makanan juga pola hidup luwak yang dibudidayakannya. Menurut Sugeng, hal tersebut mempengaruhi metabolisme dalam tubuh luwak dalam menghasilkan biji kopi luwak yang berkualitas.

Dalam menjalankan bisnisnya, tidak jarang Sugeng menjumpai banyak penolakan terhadap produk kopi luwak miliknya. Terutama, harga kopi luwak yang memang melambung tinggi. Namun dengan terus memperbaiki kualitas kopi luwak miliknya, Sugeng

(6)

mulai meraih banyak kepercayaan dari penikmat kopi.

“Masih jarangnya studi mengenai hewan luwak, membuat saya tertantang untuk terus mempelajari hewan asli Indonesia tersebut. Di samping itu, sedikitnya produsen kopi luwak dan penikmat kopi luwak di Indonesia membuat saya termotivasi mengembangkan usaha ini,” ujar usai mengisi Seminar di FKH Unair pada Kamis (14/7).

Kerja keras yang diawali Sugeng dengan 10 ekor luwak tersebut, kini berkembang dengan jumlah sekitar 250 ekor luwak. Di atas lahan di kampung Babakan, Desa Cikole, Lembang Bandung, Sugeng kini memiliki pusat penangkaran dan rumah produksi kopi luwak yang satu-satunya diakui oleh pemerintah Indonesia.

Di Desa Cikole tersebut, disamping menjual produk kopi luwak, pengunjung bisa menikmati secara langsung suasana pegunungan disana. Selain itu, ada pula breeding farm luwak yang bisa menjadi sarana edukasi bagi pengunjung. Adanya paket tour and

destination semakin memanjakan pengunjung yang justru banyak

berdatangan dari mancanegara. Tercatat, lebih dari 55 negara yang pernah datang ke kedai, workshop, dan penangkaran luwak milik Sugeng.

“Kendala yang bermunculan seperti keluarnya protes keras tentang tuduhan eksploitasi terhadap luwak,” ujar Sugeng.

Sugeng dengan tegas menolak tuduhan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa usahanya tidak menyiksa luwak. Sugeng memperhatikan pola makanan dan menjaga pola hidup luwak-luwak miliknya. Namun seiring berjalannya waktu, protes itupun terbantahkan.

Keputusan Sugeng untuk resign dari posisi general manager dan mengelola kopi luwak adalah langkah besar yang dibuatnya untuk menantang dirinya sendiri dalam berpikir berbeda dan berani mengambil resiko.

(7)

menjadi pribadi yang memiliki nilai berbeda. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan saya menghadapi tantangan dalam memperoleh peluang dan menerima resiko,” kata Sugeng.

Tidak puas dengan bisnis kopi luwak, Sugeng kini merambah dunia kuliner dengan membangun sebuah kafe dan resto bernama “Kangen Lembur Cikole” yang masih satu lokasi dengan pusat penangkaran luwak miliknya.

“Saya berharap seluruh civitas akademika UNAIR memiliki jiwa entrepreneurship. Karena hal ini akan membuat mereka berani untuk menjadi seseorang yang berbeda, dan terbiasa menciptakan peluang dan berpikir inovatif. Yang terpenting adalah jangan hanya menunggu peluang, jadilah orang yang menciptakan peluang,” kata Sugeng.

Selain itu, Sugeng juga mengembangkan bisnis dalam bidang produk kesehatan hewan, yakni PT. ISSU Medika Veterindo yang dimulainya sejak tahun 2013. Menurutnya, PT.ISSU tidak hanya sekedar rumah produksi melainkan sebagai sarana edukasi. Hingga saat ini, tidak sedikit para akademisi yang datang untuk melihat proses produksi di PT.ISSU. (*)

Penulis : Okky Putri

Editor : Binti Q. Masruroh

Kaji Sastra Feminis, Alberta

Jadi Wisudawan Terbaik FIB

UNAIR NEWS – Alberta Natasia Adji rupanya memiliki minat khusus terhadap kajian sastra feminis. Lihat saja skripsinya

“The Sensible Sister Goresees Everything: A Hypertextual Study in Grimm Brother’s The Worn-Out Dancing Shoes and Juliet

(8)

Marillier’s Wildwood Dancing”, ikut menunjang prestasinya

meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,84. Penelitian alumni Sastra Inggris ini mengambil kajian perbandingan antara salah satu dongeng Grimm Bersaudara dan novel Juliet

Marillier.

Sensibilitas perempuan menjadi sorotan utamanya, karena itu terbukti menjadi kualitas yang penting bagi kaum wanita, terutama dalam menghadapi dunia pratriarkal. Sensibilitas atau kebijaksanaan mendorong wanita untuk senantiasa berkepala dingin, rasional, dan kuat dalam menghadapi apapun alih-alih mengandalkan emosi semata.

Lulus lebih cepat dengan waktu 3,5 tahun merupakan prestasi bagi perempuan yang akrab disapa Tasia ini. Saat ini Tasia berstatus sebagai mahasiswa fast track jenjang S2 pada Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya UNAIR. Ia mengaku menyelesaikan penelitian skripsinya hanya dalam waktu dua hari, karena sebelumnya bahan-bahan skripsi itu memang telah matang.

Selain berprestasi di bidang akademik, Tasia juga punya prestasi pada non-akademik. Dua novelnya telah terbit, yakni

Dante dan Youth Adagio. Karir menulisnya dimulai ketika masih

di bangku SMA, bahkan pernah dimuat pada Jawa Pos dengan dua cerita pendeknya: Delman Pak Kusno dan Jangan Semudah itu

Menyerah.

“Saya hobi menulis sejak kecil. Tapi baru serius waktu di SMA,” paparnya.

Ia menggemari karya-karya Jonathan Stroud, George R.R. Martin, J.K. Rowling, Ronald Dahl, Leila S. Chudori, Windry Ramadhina, Judy Blume, Simone Elkeles, Shannon Hale, Suzanne Collins, Anthony Doerr, Juliet Marillier, dan C.S. Lewis. Selain cerita-cerita fantasi, Tasia juga senang membaca karya sastra feminis. Kini, perempuan penghoby membaca, browsing, dan nonton film ini, juga disibukkan dengan mengajar les privat

(9)

TOEFL.

“In the end of the day, you will walk and suffer alone for the

sake of your dreams. So, make everything count,” pungkas

Tasia. (*)

Penulis : Lovita Marta Fabella Editor : Binti Quryatul Masruroh

Drainase di Lingkungan Kampus

C UNAIR Mulai Dibersihkan

UNAIR NEWS – Program pembersihan dan normalisasi drainase di

lingkungan kampus C Universitas Airlangga (UNAIR) sudah dimulai pada 22 Februari 2016 lalu. Memang belum semua, dan baru pada drainase di tepi jalan antara Asrama Mahasiswa putera hingga Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Tetapi langkah awal ini akan berlanjut hingga semua drainase terkeruk lumpur dan kotorannya. Bahkan dimungkinkan juga membuat normalisasi-normalisasi dengan membuat sudetan agar laju air menjadi lancar.

Agus Sutiyono, S.Sos., Kasi Lingkungan, Subdit Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Direktorat Sarana dan Prasarana UNAIR, menjelaskan bahwa pengerukan dan normalisasi drainase ini dilaksanakan bersama Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (PUBMP) Pemkot Surabaya.

Pembersihan drainase ini terinspirasi dari pekerjaan serupa di kampus B yang dilakukan oleh RSU Dr. Soetomo. Selanjutnya Direktorat Sarpras mengajukan permohonan via surat kepada Dinas PUBMP per 1 Februari 2016. Dilakukan survey oleh petugas PUBMP pada 15 Februari dan pembersihan pertama menggunakan

(10)

alat berat (beko) pada 22 Februari 2016. Karena hujan lebat dan banjir di berbagai tempat di Kota Surabaya, oleh Pemkot beko sementara dialihkfungsikan sementara ke Jl. Ngaglik untuk mengatasi sumbatan drainase disana, kemudian digeser lagi ke Jl. Darma Husada untuk pekerjaan serupa.

”Jadi pembersihan lanjutan pada drainase lainnya di kampus C, kita menunggu instruksi lebih lanjut dari Pemkot selaku yang punya alat berat,” kata Agus Sutiyono kepada UNAIR News.

Pekerjaan pengerukan sungai yang paling besar dan lebih berat diperkirakan Agus adalah drainase yang menghubungkan antara Asrama Puteri hingga terusannya hingga samping kanan gedung Student Center (SC) dan yang membelah antara kampus FKM dan FST. Karena kondisi drainase lebih lebar diperkirakan nanti juga diperlukan ponton agar pengerukan bisa maksimal, bahkan jika diperlukan juga bisa dibuat sudetan-sudetan dan normalisasi untuk memperlancar lajunya air.

“Mengapa dinormalsiasi, karena saluran yang melewati sawah-sawah itu juga banyak di kanan-kirinya yang ruwet karena rumput dan tanaman lain yang tak teratur, karena kondisi juga belum diplengseng,” tambah Agus seraya optimis bila semua drainase sudah dibersihkan maka laju jalannya air hujan itu akan lancar. (*)

Penulis: Bambang Bes

Ustadz Taufik Harapkan Masjid

Ulul ‘Azmi UNAIR sebagai

(11)

Pusat Kajian Islam

UNAIR NEWS – Salat Jumat pada tanggal 27 Mei 2016 merupakan salat Jumat pertama di masjid “Ulul ‘Azmi” di Kampus C Universitas Airlangga, setelah masjid sumbangan alumni UNAIR itu diresmikan penggunaannya pada Jumat (27/5) pagi harinya. Bertindak sebagai khatib dan imam dalam salat tersebut adalah Ustadz Drs. M Taufik AB.

Masjid tiga lantai tersebut dipenuhi oleh jamaah. Yang dipergunakan untuk salat hanya lantai II dan lantai III

(bervoid). Diantara jamaah salat Jumat perdana di Masjid “Ulul

‘Azmi” UNAIR ini adalah Ketua Mahkamah Agung (MA) RI yang juga Ketua IKA UNAIR Prof. Dr. M. Hatta Ali, Gubernur Jawa Timur Dr. Soekarwo, SH., M.Hum, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh Nasih, Pimpinan proyek Drs. Haryanto Basyuni, para pengurus IKA UNAIR, alumni, donatur, mahasiswa dan karyawan UNAIR.

Dalam khutbahnya, Ustadz Taufik mengajak untuk menjadikan masjid yang dibangun dengan dana Rp 17 miliar ini selain sebagai tempat ibadah, juga menjadi pusat kajian dan kegiatan intelektual muslim. Hasil dari kajian-kajian oleh intelektual muslim yang memiliki kecerdasan dan ketaqwaan, kedepan diharapkan menjadi “penerang” bagi perkembangan peradaban manusia.

(12)

Jamaah salat Jumat pertama kali di Masjid “Ulul ‘Azmi” selesai diresmikan pada Jumat 27 Mei 2016. (Foto: Bambang Bes)

Masjid sebagai pusat kegiatan kaum muslim, lanjut Ustadz Taufik mencontoh, bukan hal baru. Hal ini sudah diawali dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah. Pertama kali yang dibangun oleh Rasulullah bukan rumah, melainkan masjid, yaitu Masjid Kuba dan Masjid Nabawi. Dari sinilah peradaban Islam mulai dibangun dan dikembangkan. “Dengan adanya masjid Ulul ’Azmi di tengah masyarakat kampus Universitas Airlangga ini semoga nantinya akan melahirkan sarjana-sarjana yang tidak sekedar cerdas, tetapi juga mempunyai ketaqwaan yang tinggi,” katanya.

Bagi mahasiswa, yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan, sangat penting kepadanya ditanamkan kekuatan iman dan taqwa. Satu hal yang kita harapkan dengan dinamika seperti itu adalah agar kecerdasannya tidak diarahkan kepada hal-hal yang kurang bermanfaat dan hal-hal yang buruk misalnya memunculkan faham Islam liberal dsb. Sehingga kelak kecerdasannya diharapkan pada terbangunnya pemikiran-pemikiran yang

(13)

bermanfaat bagi perkembangan umat.

Ia memberi masukan agar menghimpun mahasiswa sebanyak-banyaknya, kelompokkan sesuai kemampuannya. Bagi yang belum bisa membaca Alquran, ajari mereka. Bagi yang sudah bisa membaca tetapi belum fasih, tingkatkan kemampuannya. Bagi yang menggemari kajian-kajian, ajarkan maknanya sesuai yang digariskan dalam Alquran, niscaya mereka akan lahir intelektual-intelektual muslim yang positif dan bermanfaat bagi kemajuan kehidupan di masyarakat, kata Ustadz M. Taufik AB. (*)

Penulis : Bambang Bes

2531 Mahasiswa UNAIR KKN di

235 Desa, 17 Mahasiswa Asing

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga melepas 2.531

mahasiswa yang akan berangkat melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) dan KKN Tematik Cipta Karya. Dari 2.531 orang tersebut, 17 diantaranya mahasiswa asing. Pelepasan mahasiswa KKN tersebut dilaksanakan di gedung Airlangga Convention Center (ACC), kampus C UNAIR, Senin (16/1).

Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., dalam sambutannya mengatakan, dengan KKN ini diharapkan menjadi wahana mahasiswa untuk mengintegrasikan ilmu yang telah diperoleh selama proses perkuliahan. Sehingga, aplikasi keilmuan mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang dapat diterapkan dalam program KKN ini.

(14)

Agar memanfaatkan momentum KKN sebagai wahana untuk mengasah diri, peka terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat, berusaha mengamalkan ilmu dan pengetahuan yang ia peroleh selama di bangku perkuliahan,” ujar Prof. Nasih.

Sebelum ini pelaksanaan KKN Tematik hanya dilaksanakan di Kota Surabaya. Namun pada KKN Tematik tahun ini, wilayahnya bertambah hingga menjangkau Kabupaten Probolinggo.

”KKN Tematik Cipta Karya ini meliputi tiga bidang yaitu sanitasi, penyediaan air minum bersih, dan pemukiman. Itu jelas berbeda cara pengukurannya. Pelaksanaannya juga berbeda,” ujar Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat (LP4M) Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, M.Com.

Pada pelaksanaan KKN kali ini, sebanyak 2.531 mahasiswa akan dibimbing oleh 124 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Seluruh mahasiswa tersebar di lima wilayah, yaitu Kabupaten Bojonegoro, Probolinggo, Nganjuk, Sampang, dan Kota Surabaya. Mereka akan terhampar di 25 kecamatan dan 235 desa. Masing-masing desa akan ditempati oleh satu kelompok terdiri 10-12 mahasiswa.

Saat ini, LP4M tengah menyiapkan lima wilayah baru sebagai sasaran KKN-BBM para periode yang akan datang. Kelima wilayah tersebut yaitu Gresik, Lamongan, Kediri, Jember, dan Banyuwangi. Jusuf mengatakan, rencana penambahan lokasi tersebut sejalan dengan visi UNAIR untuk memberikan pelayanan dan dampak positif terhadap perubahan di masyarakat.

(15)

RIBUAN mahasiswa UNAIR, 17 diantaranya mahasiswa Brunei Darusalam, siap terjun KKN ke 235 desa di Jawa Timur. (Foto: Binti Q Masruroh)

“Harus dipersiapkan matang-matang agar KKN ini betul-betul berdampak posifif. Kita desain KKN UNAIR ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sesuai pula dengan kompetensi anak-anak, dan ini proses persiapannya sudah memakan waktu lama. Mudah-mudahan semester depan bisa jadi 10 lokasi,” ujar Guru Besar FISIP itu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, KKN ini juga diikuti oleh mahasiswa asing. Diantara 2.531 mahasiswa yang diterjunkan, sejumlah 17 diantaranya adalah mahasiswa dari Universitas Brunei Darussalam. Ke-17 mahasiswa tersebut akan diterjunkan di wilayah Nganjuk, dengan persebaran desa yang berbeda.

“Ada mahasiswa dari Universitas Brunai Darussalam. Supaya tidak shock, kita tempatkan di Kabupaten Nganjuk. Mereka disebar ke desa yang berbeda. Masing-masing desa ada dua mahasiswa Brunai,” ujarnya.

Ke-17 mahasiswa tersebut secara khusus mengikuti program KKN-BBM di UNAIR untuk menambah pengetahuan dan softskill mereka.

(16)

“Saya berharap bisa mendapatkan pengalam berharga dalam mengikuti KKN-BBM ini. Saya ingin tahu budaya di sini, bisa mempelajari sesuatu yang baru, pengalaman baru, dan mendalami budaya di sini. Saya rasa senang di sini,” Ujar Haldiyah, salah satu peserta KKN-BBM asal Brunei Darussalam. (*)

Penulis: Binti Quryatul Masruroh Editor: Bambang Bes

Video terkait :

FKG Kenalkan Kesehatan Gigi

pada Anak-Anak

UNAIR NEWS – Penyakit gigi dan mulut selalu menjadi ancaman

bagi setiap orang. Termasuk, anak-anak. Terlebih, persoalan karies yang masih memiliki prevalensi tinggi pada para bocah. Maka itu, penanggulangan penyakit dan perawatan gigi harus rutin dilaksanakan. Tujuannya, menjadikan anak Indonesia lebih sehat.

Sehubungan dengan hal itu, Departemen Kedokteran Gigi Anak mengadakan serangkaian kegiatan. Bertempat di klinik spesialis kedokteran gigi anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) pada bulan Januari hingga maret lalu. Adapun poin-poin acaranya adalah penyuluhan dan pemeriksaan gigi gratis.

Acara tersebut memiliki semangat untuk mengenalkan tentang kesehatan gigi pada anak-anak. Tak kurang dari 100 siswa TK dan SD dari berbagai wilayah di Surabaya hadir. Apa yang dilakukan itu tak lepas dari bentuk pengabdian masyarakat.

(17)

siap melayani semua sekolah di wilayah Surabaya,” ujar Koordinator Acara Mega Moeharyono Putri, drg., Sp.KGA., Ph.D. Penulis: Humas FKG

Editor: Rio F. Rachman

Belajar dari Jepang, Perawat

Terjun Langsung ke Daerah

Bencana

UNAIR NEWS – Perawat harus jemput bola ke daerah-daerah yang

terkena dampak bencana. Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Mariko Ohara dalam seminar penanganan bencana bertajuk “Disaster Management Intra and Extra Hospital” pada Senin (28/3)di Hall Lantai 8 Rumah Sakit Universitas Airlangga. “Indonesia dan Jepang memiliki banyak kesamaan terkait dengan frekuensi bencana yang terjadi,” ujar Prof. Ohara selaku profesor di The Japanese Red Cross College of Nursing mengawali uraiannya.

Menurutnya, hal tersebut membawa implikasi pentingnya keperawatan bencana untuk diperhatikan. Keberadaan perawat di tengah kondisi bencana menurutnya amat diperlukan dalam upaya memberikan perawatan yang memadai kepada para korban bencana. Perawat, lanjut Prof. Ohara, harus melakukan jemput bola ke daerah-daerah yang terkena dampak bencana tersebut. Para perawat juga disiapkan dengan berbagai kemampuan tanggap bencana melalui berbagai simulasi jenis bencana seperti gempa bumi, kecelakaan pesawat, dan lainnya.

(18)

para perawat yang disiapkan untuk menghadapi bencana yang diinisiasi oleh Japan Nursing Association (Asosiasi Perawat Jepang).

“Ada daftar para perawat yang disiapkan untuk menghadapi bencana di setiap prefektur (provinsi). Misalkan terjadi bencana yang cukup besar di sebuah prefektur, perawat tanggap bencana dari prefektur lain juga dapat dilibatkan untuk membantu,” tandasnya. Berbagai hal tersebut telah diatur dalam

Disaster Relief Act, regulasi yang khusus mengenai penanganan

bencana yang terjadi di Jepang.

Di akhir pemaparannya, Prof. Ohara mengingatkan bahwa para perawat di tengah bencana harus saling bahu-membahu membantu para korban. Meskipun di tengah berbagai keterbatasan yang ada, tidak boleh para perawat saling menyalahkan.

“Yang tidak kalah penting, setiap daerah punya adat dan kebiasaan. Para perawat juga harus memperhatikan tersebut ketika ditugaskan di daerah bencana,” pungkas perempuan yang pernah menjadi sukarelawan di Aceh ketika terjadi gempa dan tsunami lebih dari satu dekade lalu ini. (*)

Penulis : Yeano Andhika

Editor : Defrina Sukma Satiti

Teater Gapus Siap Songsong

Ajang Lomba Seni Peksiminas

2016

UNAIR NEWS – Salah satu komunitas teater kebanggaan UNAIR,

(19)

2016. Seperti yang terlihat pada Rabu malam (20/4). Para anggota tampak antusias melakukan peran dan tugas masing-masing.

Dalam Peksiminas 2016 di Kendari, Sulawesi Tenggara, ada 15 tangkai seni yang diperlombakan. Antara lain, seni tari, baca puisi, monolog, seni lukis, desain poster, fotografi, penulisan cerpen, penulisan lakon, penulisan puisi, komik strip, vocal grup, nyanyi pop, nyanyi dangdut, dan lain-lain. Rencananya, Teater Gapus akan ikut di sejumlah tangkai lomba. Misalnya, dalam lomba monolog. Ada 2 tim yang diterjunkan guna mengikuti seleksi di internal Universitas. Tiap tim memiliki keunikan dan tata keutuhan panggung yang berbeda. Masing-masing aktor juga memiliki kemampuan yang tak sama. Maka itu, juri dituntut jeli ketika memberikan penilaian. Dua naskah yang dipakai oleh Teater Gapus kali ini disutradarai oleh Kholid Aji Purnomo dan Edy Purwanto.

Ajang Pembelajaran

Selain tangkai monolog, Teater Gapus juga ikut berpartisipasi di lomba lain. Antara lain, baca puisi, penulisan lakon, penulisan puisi, nyanyi dangdut dan nyanyi pop. Diharapkan, delegasi UNAIR ini sukses membawa piala dari Kendari.

Selain untuk tujuan tersebut, momen ini juga bisa menjadi ajang pembelajaran. Khususnya, dari segi sastra. Karena, teater ini tidak hanya berkutat pada seni lakon. Penulisan dan pembacaan karya sastra seperti puisi, juga masuk ke agenda komunitas yang punya jadwal latihan saban Selasa dan Kamis ini.

Terdapat satu pentas utuh bertajuk Pentas LAB yang akan diadakan dalam waktu dekat. Ini merupakan “pemanasan” untuk PEKSIMINAS. Pentas ini dilaksanakan untuk anggota baru. Proses panjang yang dilakukan oleh Teater Gapus untuk melaksanakan pentas ini akan berujung pada bulan Juni awal puasa Ramadhan.

(20)

Mengapa pilihan pentas ini jatuh di bulan Ramadhan? Dari pihak Teater Gapus sendiri menginginkan acara pentas berlangsung dengan buka puasa bersama. Jadi, akan lebih berkesan untuk para penikmat seni yang datang.

Sebenarnya. Ada masih banyak kegiatan Teater Gapus dalam tahun ini. Seperti Festamasio, Fesspa, dan pentas-pentas dadakan lainnya. Harapannya, seluruh rangkaian kegiatan dalam tahun 2016 ini dapat berjalan sesuai rencana. (*)

Penulis: April dan Anzila, Teater Gapus Editor: Rio F. Rachman

Referensi

Dokumen terkait

UNAIR NEWS – Berhasil meraih gelar Wisudawan Terbaik periode Juni 2021 dengan IPK sempurna 4.00, menjadi momen yang tidak pernah disangka oleh Amirotul Azhimah, drh.,

Akibat besarnya penurunan jumlah penduduk yang terjadi pada bencana Tsunami, kepadatan penduduk di Kota Banda Aceh juga mengalami penurunan dari 43 jiwa/ha menjadi hanya 31

UNAIR NEWS – Berhasil meraih gelar Wisudawan Terbaik periode September 2021 dengan IPK cumlaude 3.85 menjadi momen yang istimewa untuk Dewi Santoso Yuniarti, S.H.,

Keadaan Darurat (Emergency), diartikan sebagai keadaan dimana terjadi kebakaran, ledakan peralatan, bencana alam (letusan gunung berapi, gempa bumi), tumpahan

xv aliran tsunami rata-rata berkisar 11,12 m/s dengan masing-masing massa puing serta kekakuannya, daerah yang paling rawan dari urutan terbesar ke terkecil jika terjadi bencana tsunami