• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STAD DAN ARCS BAGI SISWA

KELAS VII SMP NEGERI 7 SALATIGASEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

JURNAL

Disusun guna memenuhi sebagai syarat mencapai gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh

ULYA ALFIANTI 202012033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

6

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STAD DAN ARCS BAGI SISWA

KELAS VII SMP NEGERI 7 SALATIGA SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Ulya Alfianti1, Tri Nova Hasti Yunianta2, Novisita Ratu3

Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana JL. Diponegoro 52-56 Salatiga 50711

1

Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UKSW, email: [email protected]

2

Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, email: [email protected]

3

Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, email: [email protected] Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar matematika yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran ARCS bagi siswa kelas VII SMP Negeri 7 Salatiga Semester II tahun Pelajaran 2015/2016. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 7 Salatiga Semester genap Tahun Pelajaran 2015/2016 sebanyak 222 siswa yang terbagi dalam 8 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster random sampling dan diperoleh siswa kelas VIIC sebagai kelas kontrol (STAD) dan kelas VIID sebagai kelas eksperimen (ARCS) dengan jumlah siswa masing-masing kelas sebanyak 29 siswa. desain penelitian yang digunakan adalah The Randomize Control Group Pretest-Posttest. Berdasarkan hasil uji independent sample t-test kemampuan awal siswa diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,650 > 0,05 yang berarti bahwa kondisi awal kedua kelas seimbang. Uji independent sample t-test kemampuan akhir siswa menghasilkan nilai signifikan 0,000 < 0,05 yang dapat berarti bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang signifikan. Hal ini tampak dari nilai rerata kelas eksperimen sebesar 77,69 lebih tinggi dibandingkan nilai rerata kelas kontrol yang hanya 71,03. Hal ini berarti pembelajaran model ARCS sebagai kelas eksperimen lebih baik dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai kelas kontrol.

Kata Kunci: Perbedaan, hasil belajar, stad, arcs PENDAHULUAN

Matematika merupakan suatu pedoman terpenting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia, karena pentingnya pembelajaran matematika itulah alasan kenapa matematika diajarkan kepada siswa mulai dari sekolah dasar sampai jenjang perguruan tinggi (Anisa, 2014). Menurut Menurut Hudojo dalam Mahmudi (2014), matematika adalah suatu ilmu yang berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur, dan hubungannya yang diatur dengan konsep-konsep abstrak. Salah satu tujuan pembelajaran matematika di jenjang SD, SMP, maupun SMA adalah mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan atas dasar pemikiran

(7)

7

secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisien, dan efektif, oleh karena itu matematika perlu diajarkan sejak dini (Depdiknas, 2008).

Pembelajaran matematika di sekolah menengah pertama (SMP) sampai saat ini dinilai cenderung text book oriented. Matematika kurang terkait dalam kehidupan sehari-hari dan belum sesuai dengan harapan masyarakat. Pembelajaran sistem ini cenderung abstrak sehingga konsep sulit dipahami serta hasilnya belum sesuai dengan harapan. Guru dalam mengajar matematika kerap kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Guru tidak melakukan pengajaran bermakna dengan model pembelajaran yang kurang variatif dan terkesan membosankan (Kompas, 2011). Kenyataan menunjukkan bahwa hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa masih belum optimal dan menjadi masalah utama dalam proses pembelajaran (Suhendra, dkk., 2007).

Hal tersebut didukung dengan hasil survei Trend in Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2011 yang menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 38 dari 42 negara dalam hal prestasi matematika yang dicapai oleh siswa SMP. Indonesia juga berada pada peringkat 64 dari 65 negara dalam hal kemampuan matematika siswa, data tersebut diperoleh dari hasil studi Programme for International

Student Assessment (PISA) pada tahun 2012

Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan suatu pengetahuan yang telah dicapai oleh siswa dengan mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan menurut Soedijarto dalam Tahar (2007). Hasil Belajar sangat erat kaitannya dengan belajar atau proses belajar sehingga dijadikan salah satu objek penilaian dalam proses pembelajaran. Hasil belajar dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal (dalam diri siswa) dan eksternal. Faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat menurut Slameto dalam Ratifi (2012).

Permendikbud Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses menyebutkan bahwa guru hendaknya memberi fasilitas kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif serta memberi ruang yang cukup untuk menyalurkan kreativitas sesuai bakat dan minatnya di dalam pembelajaran. proses tersebut dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan belajar peserta didik untuk belajar secara berkelompok. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif.

Cooperatif Learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak

(8)

8

student oriented, terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam

mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain, model pembelajaran ini telah terbukti dapat dipergunakan dalam berbagai mata pelajaran, dan berbagai usia (Isjoni, 2013: 16). Pembelajaran kooperatif terdapat beberapa variasi model yang diterapkan, yaitu diantaranya: 1) Student Team Achievement Devision (STAD); 2) Jigsaw; 3) Group

Investigation (GI); 4) Rotating Trio Exchange; dan 5) Group Resume (Isjoni, 2013:

50-51).

Model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Devision ) merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Menurut Suprijono (2013) langkah-langkah pembelajaran model pembelajaran STAD yaitu: 1) membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain); 2) guru menyajikan pelajaran; 3) guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya dalam satu kelompok; 4) guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh siswa pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu; 5) memberi evaluasi; 6) kesimpulan. Kelebihan dari model pembelajaran STAD Menurut Imansyah dalam Zulhartati (2007) yaitu: 1) siswa dapat belajar dari siswa lain yang telah mengerti, sehingga rasa malu untuk bertanya terhadap materi yang belum dimengerti siswa dapat berkurang; 2) Siswa dapat saling aktif dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru; 3) Siswa menjadi harus merasa siap karena akan mendapatkan tes secara acak oleh guru bidang studi; 4) Di dalam penilaian, guru dapat melihat kemampuan dari masing-masing individu siswa terhadap pemahaman materi.

Hal ini juga didukung oleh beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, diantaranya penelitian Wardani (2013), dengan model pembelajaran STAD hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan kriteria sedang pada hasil individu maupun pada hasil kelompok. Sependapat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsih, dkk (2012) juga meyatakan bahwa model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika.

(9)

9

Selain model pembelajaran kooperatif tipe STAD ada juga model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran ARCS. Model pembelajaran ARCS dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan expectancy value theory yang mengandung dua komponen yaitu nilai value dari tujuan yang akan dicapai dan harapan

expectancy agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller

dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS. Pembelajaran berbasis ARCS merupakan suatu bentuk pendekatan pemecahan masalah untuk merancang aspek motivasi serta lingkugan belajar dalam mendorong dan mempertahankan motivasi siswa untuk belajar. Model pembelajaran ini berkaitan erat dengan motivasi siswa terutama motivasi untuk memperoleh pengetahuan baru Keller dalam Vyonella (2013).

Langkah-langkah model pembelajaran ARCS menurut (Sulistiyani, 2011) antara lain; 1) mengingatkan kembali siswa pada konsep yang telah dipelajari (Attention), guru menarik perhatian siswa dengan cara mengulang pelajaran dan mengaitkan materi tersebut dengan materi yang akan dipelajari; 2) menyampaikan tujuan, manfaat, dan menyampaikan materi (Relevance); 3) menggunakan contoh-contoh yang konkrit

(Attention & Relevance); (4) memberi bimbingan belajar (Relevance); 5) memberi

kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran (Confidence

& Sastisfaction); 6) memberi umpan balik (Sastisfaction), pada langkah ini guru

memberi umpan balik yang tentunya dapat merangsang pola berpikir siswa; 7) menyimpulkan setiap materi yang telah disampaikan diakhir pembelajaran

(Sastisfaction). Kelebihan model pembelajaran ARCS yaitu memberikan petunjuk (aktif

dan memberi arahan tentang apa yang harus dlakukan siswa), cara penyajian materinya menarik, motivasi yang diperkuat dalam bentuk pembelajaran yang berpusat pada siswa, penerapan model ARCS meningkatkan motivasi untuk mengulang kembali materi lain yang kurang menarik, penilaian meyeluruh terhadap kemampuan-kemampuan yang lebih dari karakteristik siswa-siswa agar strategi pembelajaran lebih efektif Awoniyi dalam Mahmud (2013).

Beberapa penelitian mengenai model pembelajaran ARCS, diantaranya penelitian Maya (2014), melalui model pembelajaran ARCS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, berbeda dengan penelitian yang dilakukan Maya. Penelitian menurut

(10)

10

Nurohmani, dkk (2013) menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran ARCS dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar dan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran ARCS. Diharapkan penelitian ini dapat melatih siswa untuk bekerja secara kelompok dan mampu membangkitkan semangat belajar siswa dengan memotivasi diri siswa mengenai model pembelajaran ARCS dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD serta memberi gambaran tentang penerapan kedua model tersebut pada pembelajaran matematika dalam materi Aritmatika Sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran STAD dan ARCS bagi siswa kelas VII SMP Negeri 7 Salatiga.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Quasi Experimental

Research) karena peliti tidak memungkinkan untuk memanipulasi data atau

mengendalikan semua variabel yang relevan (Budiyono, 2003: 79). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 7 Salatiga yang berjumlah 222 siswa terbagi dalam 8 kelas. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

Cluster Random Sampling dan diperoleh kelas VII C yang terdiri dari 29 siswa untuk

kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan VII D yang terdiri dari 29 siswa untuk kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran ARCS. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari dua model yaitu model pembelajaran ARCS dan STAD. Adapun varibel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian The

Randomized Control Group Design Pretest-Posttest dengan menggunakan dua kelas

yang dipilih secara acak (Sugiyono, 2012: 114), kemudian untuk mengetahui kondisi awal hasil belajar siswa data diambil dengan memberikan tes materi aritmatika sosial dengan tingkat kesulitan lebih rendah adakah perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol selanjutnya diberi posttest untuk mengetahui perbedaan hasil belajar dari penerapan model setelah diberikan perlakuan.

(11)

11

Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi untuk mendapat data nama siswa beserta nilai ulangan pelajaran matematika, dan metode tes untuk mengukur hasil belajar matematika siswa setelah diberi perlakuan. Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar Pretest dan Posttest. Instrumen tes hasil belajar pretest dan posttest berupa 5 soal uraian yang disusun berdasarkan SK, KD, dan indikator materi. Kisi-kisi instrumen pretest dan posttest dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. Kisi-Kisi Soal pretest dan Posttest Kisi-kisi Soal Pretest

Materi Kompetensi Dasar Indikator Soal Nomor Soal Aritmatika sosial Menggunakan konsep aljabar dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial sederhana

1. Menghitung harga satuan dan banyaknya barang yang dibeli 2. Menentukan harga pembelian

dan penjualan serta keuntungan dan kerugian

3. Menentukan persentase rugi 4. Menghitung harga diskon dari

suatu barang

5. Menentukan netto dari suatu barang. 1 2 3 4 5 Kisi-kisi Soal Posttest

Materi Kompetensi Dasar Indikator Soall Nomor Soal Aritmatika Sosial Menggunakan konsep aljabar dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosial sederhana

1. Menghitung besar keuntungan 2. Menghitung harga jual jika

diketahui rugi

3. Menghitung besar harga pembelian jika diketahui persentase keuntungan 4. Menghitung harga beli jika

diketahui diskon

5. Menghitung keuntungan jika diketaui netto, bruto, harga jual dan harga beli

1 2 3

4 5

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif yang bertujuan untuk memberi gambaran (deskripsi) mengenai subjek yang diteliti dan analisis hasil tes yang meliputi (1) uji normalitas (Shapiro-Wilk) karena jumlah sampel kelas kontrol dan kelas eksperimen masing-masing kurang dari sama dengan 50 (Sembiring, 2003); (2) uji homogenitas (Levene’s Test for Equality of Variances); dan (3) uji beda rerata

(Independent Sample t-test). Keseluruhan uji ini dilihat pada taraf signifikansi 0,05

(12)

12 HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Awal Hasil Belajar Matematika Siswa

Kemampuan awal hasil belajar siswa diukur menggunakan data hasil murni Ulangan matematika siswa sebelum diberi perlakuan. Kondisi awal hasil belajar siswa digunakan untuk mendeskripsikan data hasil belajar awal siswa kelas VII C sebagai kelas kontrol dan kelas VII D sebagai kelas eksperimen sehingga memperoleh kemampuan awal kedua kelas. Hasil deskripsi nilai pretest dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2. Descriptive Statistics Kemampuan Awal Hasil Belajar

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Eksperimen (arcs) 29 38 68 53.24 8.576

Kontrol (stad) 29 40 70 51.86 8.297

Valid N (listwise) 29

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat nilai maksimum dan nilai rata-rata pada 29 siswa yang masuk ke dalam kelas eksperimen lebih unggul daripada 29 siswa pada kelas kontrol. Hal ini terlihat bahwa nilai maximum untuk kelas kontrol adalah 70 lebih tinggi dari nilai maksimum kelas eksperimen yang hanya 68, sedangkan nilai rata-rata untuk kelas ekperimen 53,24 lebih tinggi daripada kelas kontrol 51,86. Adapun nilai minimum untuk kelas kontrol 40 lebih tinggi daripada kelas eksperimen 38, sedangkan standar deviasi dari kelas eksperimen 8,567 lebih baik daripada standar deviasi kelas kontrol 8,297. Uji normalitas dilakukan untuk menentukan apakah kedua kelas berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Uji Normalitas Kondisi Awal Sebelum Perlakuan

Kelas

Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig.

Nilai Eksperimen (arcs) .970 29 .553

Kontrol (stad) .929 29 .052

Berdasarkan Tabel 3 perhitungan uji normalitas kemampuan awal siswa diatas maka diperoleh hasil bahwa kelas eksperimen memiliki taraf signifikan 0,553 dan kelas kontrol memiliki taraf signifikan 0,052. Kedua kelas memiliki taraf signifikan lebih dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelas berasal dari populasi

(13)

13

yang berdistribusi normal. Setelah dilakukan uji normalitas, maka dapat dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dapat dilakukan bersama-sama dengan uji beda rerata. Berikut ini hasil uji homogenitas dan uji beda rerata kondisi awal hasil belajar siswa pada Tabel 4

Tabel 4. Uji Homogenitas dan Independent Sample T-Test Kemampuan Awal Siswa

Levene's Test

for Equality

of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Equal variances assumed .524 .472 .457 56 .650 .966 2.113 -3.268 5.199 Equal variances not assumed .457 55.550 .650 .966 2.113 -3.269 5.200

Berdasarkan Tabel 4 hasil uji homogenitas menggunakanuji Levene’s Test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,472 > 0,05 yang berarti kedua kelas berasal dari populasi yang memiliki variansi sama (homogen). Data nilai pretest untuk kedua kelas berdistribusi normal dan homogen sehingga untuk mendukungnya dilanjutkan uji beda rerata yaitu Independent Sample t-test yang diperoleh nilai signifikansinya pada kolom t-test for Equality of Means bahwa Sig.(2-tailed) diperoleh nilai signifikansi 0,650 > 0,05. Hal ini berarti pada kondisi awal (sebelum diberi perlakuan) kedua sampel memiliki kemampuan awal matematika yang seimbang.

B. Kondisi Akhir Hasil Belajar Matematika Siswa

Hasil analisis kondisi akhir hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 5 Tabel 5. Deskripsi Kondisi Akhir Siswa Sesudah Perlakuan

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Eksperimen (arcs) 29 64 90 77.69 6.007

Kontrol (stad) 29 52 84 71.03 7.322

(14)

14

Berdasarkan Tabel 5 diperoleh hasil bahwa nilai minimum, maximum dan rerata di kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini bermakna bahwa nilai hasil belajar matematika pada kelas eksperimen meningkat setelah diberi perlakuan (model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran ARCS), Nilai rata-rata posttest kelas eksperimen yaitu 77,83 lebih tinggi daripada kelas kontrol yaitu 71,31. Nilai minimum kelas kontrol yaitu 50 lebih rendah dibanding dengan kelas eksperimen yaitu 60, nilai maximum untuk kelas eksperimen yaitu 90 dan kontrol yaitu 84. Standar deviasi untuk kelas kontrol 7,640 lebih baik daripada standar deviasi kelas eksperimen 6,580. Hal ini berarti keberagaman nilai kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Setelah dilakukan analisis deskriptif maka dilakukan uji normalitas untuk mengukur kondisi akhir hasil belajar siswa. Hasil perhitungan uji normalitas kondisi akhir hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 6

Tabel 6. Uji Normalitas Kondisi Akhir Sesudah Perlakuan

kelas

Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig.

Nilai Eksperimen (arcs) .969 29 .545

Kontrol (stad) .954 29 .232

Berdasarkan Tabel 6 pada kolom Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa nilai signifikansi kelas eksperimen 0,545 dan nilai signifikansi kelas kontrol 0,232. Kedua nilai signifikansi lebih dari 0,05 berarti masing-masing kelas berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Oleh karena itu maka dapat dilakukan uji homogenitas yang dapat dilakukan bersama-sama dengan uji beda rerata. Berikut hasil uji homogenitas dan uji beda rerata kondisi awal hasil belajar siswa pada Tabel 7

(15)

15

Tabel 7. Uji Homogenitas dan Independent Sample t-Test Kondisi Akhir Sesudah Perlakuan

Levene's Test

for Equality

of Variances t-test for Equality of Means F Sig. T df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Equal variances assumed .737 .394 3.784 56 .000 6.655 1.759 3.132 10.178 Equal variances not assumed 3.784 53.94 0 .000 6.655 1.759 3.129 10.181

Berdasarkan Tabel 7 hasil uji homogenitas menggunakan uji Levene’s Test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,394 > 0,05 yang berarti kedua kelas berasal dari populasi variansi yang sama atau homogen. Hasil uji Independent

Samples T-test menghasilkan nilai signifikansi pada kolom Sig. (2-tailed) sebesar

0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang di ajar dengan model pembelajaraSTAD dan ARCS di SMP Negeri 7 Salatiga.

C. Pembahasan

Pembelajaran yang dilakukan pada kelas eksperimen dengan memberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran ARCS pada kelas VII D dilaksanakan selama 3 kali pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran. Berdasarkan pengamatan pada saat diberikan perlakuan, pada kelas eksperimen guru membentuk kelompok yang terdiri dari 2 siswa. Selama proses pembelajaran berlangsung langkah pertama adalah aspek attention (perhatian), pembelajaran siswa dengan diberi perlakuan model ARCS pada materi aritmatika sosial. Pertemuan pertama, kedua, dan ketiga berada dalam kategori baik dan di setiap pertemuan mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan guru dapat menarik perhatian siswa dengan cara menggunakan media powerpoint, guru mengajukan beberapa pertanyaan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Materi yang diajarkanpun singkat sehingga mudah dimengerti siswa, dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) siswa lebih

(16)

16

memahami materi yang diajarkan. Langkah ke-2 yaitu Aspek relevance (relevansi/keterkaitan), guru mengkaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa pada materi aritmatika sosial. Pertemuan pertama, kedua, dan ketiga berada dalam kategori baik namun di setiap pertemuan mengalami penurunan dan peningkatan. Penyebabnya kemampuan siswa yang berbeda-beda dalam menyerap setiap materi pelajaran yang diajarkan. Langkah ke-3 yaitu Aspek confidence (percaya diri), setiap pertemuan siswa berada dalam kategori baik namun mengalami penurunan dan peningkatan. Pembelajaran pada pertemuan pertama siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk belajar, hal ini ditunjukkan dengan antusias siswa saat mengerjakan ataupun menjawab soal yang diberikan, tidak mudah menyerah ketika siswa diberi soal yang baru dan yakin dapat menjawab soal yang diberikan dan siswa terlihat fokus menerima materi pelajaran yang diberikan guru, berbeda halnya dengan persentase aspek confidence (percaya diri) pada pertemuan kedua yang mengalami penurunan dibandingkan dengan pertemuan pertama. Peneliti mengamati pada pertemuan kedua, siswa mudah menyerah ketika diberi soal dan siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan dan siswa terlihat tidak fokus saat menerima pelajaran yang diberikan guru dikarenakan siswa merasa kesulitan serta tidak yakin dapat menjawab soal yang diberikan. Namun, pada pertemuan ketiga rasa percaya diri siswa untuk belajar dan yakin dapat sukses kembali. Kepercayaan diri mereka timbul karena mereka antusias untuk mengikuti pembelajaran. Langkah terakhir yaitu Aspek satisfaction (kepuasan), setiap pertemuan mengalami penurunan dan peningkatan serta berada dalam kategori baik. Penurunan persentase pada pertemuan kedua disebabkan karena siswa merasa tidak puas ketika tidak berhasil menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan tepat, sedangkan peningkatan persentase terjadi pada pertemuan ketiga. Peneliti sering kali mengajak siswa untuk mengulang materi yang disampaikan, siswa mengaku senang mengikuti setiap pelajaran yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran ARCS, karena materi pelajarannya mudah diterima siswa, menarik dengan menggunakan media

powerpoint.

Pembelajaran yang dilakukan pada kelas kontrol dengan memberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kelas VII

(17)

17

C dilaksanakan selama 3 kali pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran. Berdasarkan pengamatan pada saat diberikan perlakuan, pada kelas kontrol langkah pertama guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari 4-5 siswa, langkah ke-2 guru menyajikan materi dengan menggunakan media

powerpoint disini antusias siswa untuk mendengarkan dan memahami materi

kurang, terlihat dari siswa yang masih bicara sendiri dengan teman sebangku. langkah ke-3 siswa diberi LKS untuk dikerjakan secara kelompok, disini bagi siswa yang sudah paham, wajib membantu siswa lain dalam satu kelompok dalam memahami soal yang ada di LKS, pada langkah ini banyak siswa yang masih merasa bingung tetapi pada saat satu kelompok dapat berdiskusi dengan baik kerja kelompok dapat berjalan dengan baik. Langkah ke-4 pemberian quis yang diberikan guru untuk dikerjakan secara individu, pada tahap ini siswa yang terlihat pandai siswa itu memang bisa mengerjakan, beda dengan siswa dengan kemampuan sedang disitu siswa merasa kebingungan dalam mengerjakan. Langkah ke-5 memberikan evaluasi disini guru bertanya kepada siswa tentang materi yang diajarkan siswa apakah sudah paham dengan materi pembelajaran yang berlangsung.

Hasil temuan mengindikasi bahwa dengan model pembelajaran ARCS pada tahap diskusi dapat berlangsung baik karena masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab yang penuh terhadap diri sendiri dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri setiap siswa (Astra, 2013), karena dalam proses pembelajaran secara kelompok peran guru sangat berpengaruh karena guru membimbing siswa yang kurang dalam kemampuannya, berbeda dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa cenderung berpangku tangan pada kelompoknya, sehingga banyak siswa yang mengandalkan beberapa teman dalam kelompok yang mempunyai prestasi akademik selain itu, apabila siswa yang pandai kurang percaya diri dalam menjelaskan pada anggota kelompoknya maka hasil belajar kelompoknya menjadi kurang baik dan juga dapat mempengaruhi hasil belajar secara individu (Ayu, 2012).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan model pembelajaran ARCS menunjukkan hasil belajar lebih baik dibanding hasil belajar dari siswa kelas

(18)

18

kontrol yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran STAD. Hal ini terlihat pada saat proses belajar mengajar, siswa tidak malu bertanya, aktif mengemukakan pendapat dan yang mengalami kesulitan menyelesaikan soal tidak segan-segan untuk meminta bimbingan kepada guru dan bertanya.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran ARCS dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai posttest (77,69) kelas eksperimen yang diajar dengan model pembelajaran ARCS lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata posttest (71,03) kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hal ini ditunjukkan dari hasil olah data uji beda rerata yang diperoleh nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05. Selain itu penelitian ini berimplikasi terhadap interaksi siswa dengan siswa dan interaksi siswa dengan guru menjadi lebih aktif dan siswa berani bertanya jika mengalami kesulitan, sehingga berdampak siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Anisa,Yanti Rahmi, dkk. 2014. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Teams Games

Tournament Terhadap Hasil Belajar Matematika Di Kelas VIII SMP N 2 Bukittinggi Tahun Pelajaran 2013/2014. Dalam Jurnal Pendidikan

Matematika.

Astra, I Made Winaya, dkk. 2013. Pengaruh Model ARCS Terhadap Hasil Belajar

Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPS Di Kelas IV SD CHIS Denpasar. dalam Jurnal Program Pascasarjana Universitas

Pendidikan Ganesha.

Ayu, Evlana Nugroho. 2011. Perbedaan Hasil Belajar Antara Model Pembelajaran

NHT Dengan STAD Pada Konsep Laju Reaksi. Dalam Skripsi

Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: Sebelas Maret

University Press.

Depdiknas. 2008. Analisis SI dan SKL Mate Pelajaran Matematika SMP/MTs

Untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika. Yogyakarta:

Depdiknas

Isjoni. 2013. Cooperatif Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar

Berkelompok. Alfabeta: Bandung

Kompas. 2011. Matematika dan Guru Yang Membosankan.

http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/06/17533529/Matematika.dan.Gu

(19)

19

Mahmud, Al Hudhori. 2013. Pengaruh Penggunaan Model ARCS Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Konsep Dinamika Rotasi Dan Keseimbangan Benda Tegar. Skripsi.

Mahmudi. Ali. 2014. Pengembangan Pembelajaran Matematika. Dalam Jurnal Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY.

Maya, Stefany. 2014. Pengaruh Strategi ARCS Terhadap Motivasi dan Hasil

Belajar TIK Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Negara.

Marsih, dkk. 2012. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk

Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Tentang Soal Cerita Pecahan Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar.

Nurohmani, dkk. 2013. Pembelajaran Motivasional Model ARCS Ditinjau Dari

Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Mekanika Tanah Mahasiswa di Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, JPTK, FKIP, UNS

Permendikbud No 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Pendidikan

Rafiti, Dana Suwardi. 2012. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Siswa Kompetensi Dasar Ayat Jurnal Penyesuaian Mata Pelajaran Akutansi Kelas XI IPS Di SMA Negeri 1 Bae Kudus. Dalam Economic Education Analysis Journal

Sembiring. R. K. 2003. Analisis Regresi. Bandung: ITB

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan Kombinasi (Mixed

Methods) Alfabeta: Bandung

Suhendra. 2007. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sulistiyani, 2011. Efektivitas Pembelajaran Arcs (Attention,Relevance, Confidence, Satisfaction) Berbantuan Alat Peraga Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Pada Pokok Bahasan Segiempat.

Skripsi

Suprijono, agus. 2012. Cooperatif learning. Yogyakarta:pustaka pelajar.

Tahar. 2007. Hubungan Kemandirian Belajar Dengan Hasil Belajar Pada

Pendidikan Jarak Jauh. Dalam jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak

Jauh.

Vyonella, Cinietta, dkk. 2013. Penerapan Model Pembelajaran ARCS dan Alat

Peraga Komponen Bangunan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X TGB A SMA Negeri 2 Sukoharjo.

Wardani, kusuma, dkk. 2013. Kualitas Kerjasama dan Hasil Belajar Menggunakan

Model Student Teams Achievement Divisions (STAD).

Zulhartati, Sri. 2007. Pembelajaran Kooperatif Model STAD Pada Mata Pelajaran

Gambar

Tabel 1.  Kisi-Kisi Soal pretest dan Posttest  Kisi-kisi Soal Pretest
Tabel 2. Descriptive Statistics Kemampuan Awal Hasil Belajar
Tabel 4. Uji Homogenitas dan Independent Sample T-Test Kemampuan  Awal Siswa
Tabel 6. Uji Normalitas Kondisi Akhir Sesudah Perlakuan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika siswa antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan model pembelajaran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar matematika dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan TGT pada siswa kelas X

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang melalui PMRI bagi siswa kelas 4 SDN Karangduren 4 Kecamatan

Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu ada perbedaan hasil belajar matematika pada siswa kelas III pokok bahasan keliling dan luas persegi dan persegi panjang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping

Jenis penelitian yang dila- kukan adalah penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui signifikansi perbedaan prestasi belajar IPA di antara siswa yang diajar dengan