BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bermartabat. Sebagai makhluk yang

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bermartabat. Sebagai makhluk yang bermartabat, manusia memiliki di dalam dirinya akal budi, rasa, hati dan kehendak. Manusia menggunakan akal budi untuk mencari kebenaran. Manusia menggunakan perasaan untuk menilai kebaikan. Manusia menggunakan hatinya untuk memutuskan apa yang baik. Dan manusia menggunakan kehendak untuk memilih kebaikan. Antara akal budi, rasa, hati dan kehendak ada penyatuan mutlak bagi manusia dalam mencapai kebaikan umum, yaitu nilai-nilai keutamaan hidup yang berlaku bagi semua orang.

Nilai-nilai keutamaan yang menjamin martabat manusia pada umumnya adalah kejujuran, keadilan, kebenaran, kebijaksanaan, keberanian dan kedamaian.1 Oleh karena itu, hanya dengan melaksanakan semua nilai keutamaan ini, seseorang akan dinilai baik, bermoral dan bermartabat.

Namun hal itu tak semuda membalikkan telapak tangan, setiap manusia tentu memiliki keinginan. Ada sebuah tesis terkenal Nietszche seperti yang ditegaskan Leonardus Mali dalam lumen veritas yang mengatakan, “keinginan terbesar manusia adalah keinginan untuk berkuasa.”2

Walaupun tesis ini menjadi acuan Nietszche untuk melihat manusia, tetapi masih banyak persoalan tidak bisa diterima begitu saja. Terlepas dari semuanya itu, patut diakui bahwa dengan antropologinya, Nietszche mengingatkan kembali dunia, tentang betapa kuatnya keinginan manusia untuk memperlakukan kekuasaan sebagai salah satu target untuk memperkaya dirinya,

1 Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo MSF, Moral dan Masalahnya, (Yogyakarta: Kanisius,1990), hlm. 21. 2 Leonardus Mali, Melawan “Banalisasi” Korupsi: Melampaui “Yang Biasa”, dalam Lumen Veritatis,

(2)

karena keinginan terbesar manusia adalah rasa ingin akan sesuatu hal atau barang. Keinginan ini dipicu kecenderungan dasariah manusia: berada dalam hidup bahagia, nyaman dan nikmat.

Untuk menggapai hasrat tersebut, harta kekayaan dalam wujud apa pun dialami dan diyakini sebagai sarana untuk bisa hidup bahagia. Tentu harta kekayaan yang ditekankan di sini, adalah harta materiil. Dengan hasrat itu, manusia bercita-cita: hidup di tengah kegelimangan harta. Penulis membilang cita-cita itu sebagai cita-cita banyak manusia zaman ini. Cita-cita ini mendorong manusia untuk mencari, mengejar, dan berjuang mati-matian guna mendapatkan harta kekayaan. Tentu upaya untuk mendapatkan harta kekayaan ini adalah agar bisa menggapai cita-cita di atas.

Sejauh sebagai bagian dari usaha untuk bahagia di tengah kekayaan tidak menjadi soal. Hanya ketika manusia memainkan cara-cara untuk mendapatkan harta itulah muncul aneka persoalan. Prinsip tujuan (mau menjadi kaya agar bisa bahagia) menghalalkan segala cara, termasuk korupsi demi mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya menjadi momok besar bagi banyak orang, juga tentunya diri sendiri.

Lebih jauh tentang korupsi yang selama ini dipakai sebagai salah satu cara termudah agar cepat kaya sehingga bisa hidup bahagia dilihat sebagai sesuatu yang tidak baik. Tindakan korupsi yang selalu berjuang pada kenyataan: memperkaya diri sendiri dengan mengambil uang orang lain (dalam konteks negara korupsi berarti mengambil uang rakyat untuk kepentingan diri dan kelompok) tidak baik. Dengan mengutamakan kepentingan pribadi ini, maka pribadi yang bersangkutan dinyatakan bersalah, karena hal ini sangat bertentangan dengan hati nurani. Rasa bersalah yang didasarkan kesadaran moral dapat menjadikan manusia lebih cermat, baik hati, bekerja keras, kreatif serta memungkinkan manusia untuk kembali kepada kebaikan, kesetiaan,

(3)

kebenaran dan kebertanggungjawaban yang adalah nilai moral bagi manusia untuk lebih hidup secara manusiawi.

Banyak orang tidak suka, kalau dikatakan bahwa korupsi sudah membudaya, khususnya di negara kita yang tercinta ini. Barangkali korupsi memang bukan kebudayaan, namun merajalelanya korupsi itu didasari oleh kebudayaan tertentu. Mengingat term kebudayaan dapat juga dipahami sebagai cara berpikir kita yang bersifat kolektif, maka korupsi dapat disebut sebagai satu “kebudayaan”.

Sebagai suatu “kebudayaan” ia dihidupi dan dihayati sekelompok orang dalam hidup. Bila kita menyimak sejarah kehidupan manusia, maka di sana kita menemukan bagaimana korupsi itu hidup dan berkembang. Usianya sudah setua usia manusia. Tindakan ini walaupun berhakekat buruk – rusak, ia terus diwarisi, karena terbukti dapat mengamankan kepentingan pribadi sekaligus kelompok sekitar orang yang melakukan tindakan korupsi itu sendiri.

Dengan pemahaman yang demikian, korupsi menjadi terbiasa untuk mereka yang berkesempatan (dalam bidang pemerintahan). Mereka yang biasa mengurusi kepentingan orang banyak (baca: rakyat) terbiasa melakukannya tanpa adanya sikap rasa malu dan rasa bersalah. Tentunya ungkapan rasa bersalah dan rasa malu ini terkait erat dengan hati nurani. Umumnya mereka yang melakukan korupsi adalah mereka yang berhati nurani tumpul, kalau tidak mau dibilang mati total, sehingga tidak ada perasaan malu dan bersalah. Dan hal itu disebabkan karena tingkatan perasaan malu dan bersalahnya sangat rendah atau tipis, bahkan tidak ada sama sekali (sudah mati). Dengan adanya perasaan malu dan bersalah yang sangat rendah maka sudah tentu tingkatan perkembangan korupsi juga akan semakin tinggi. Begitupun sebaliknya, bila tingkatan nilai rasa malu dan bersalah semakin tinggi, maka tindakan korupsi makin rendah, bahkan tidak mungkin terjadi.

(4)

Dengan ini maka jelas bahwa mereka yang menghidupi korupsi sebagai satu habitusnya (budayanya) mesti merasa bersalah dan malu. Karena korupsi itu bertentangan dengan hati nurani yang adalah sumber sara malu dan bersalah. Hakekat korupsi adalah keburukan. Korupsi adalah wujud paling nyata dari dekadensi moral hidup manusia.3 Sehingga, bagaimanapun juga orang yang berhati nurani (aktif) harusnya merasa bersalah dan malu ketika melakukan satu tindakan koruptif.

Di sini, kita boleh melihat dunia riil. Dalam spasi (ruang) dan tempus (waktu) NKRI, kita dapat melihat bagaimana korupsi berkembang. Seperti cendawan yang tumbuh di musim hujan pertumbuhan korupsi di tanah air tercinta. Fenomen ini perlu dikaji. Penulis terpanggil untuk mengkajinya secara ilmiah dengan berfokus pada dampak dari rasa malu dan bersalah yang bersumber pada hati nurani itu terkait tindakan korupsi. Penulis berupaya menelaah korupsi dari sudut pandang moral dalam menelusuri sisi internal, yang bersumber pada hati nurani, yang menjadi inti kedalaman kepribadian seseorang dan menilai konteks eksternal yang dapat menjadi stimulasi bagi seseorang untuk melakukan tindakan korupsi. Sungguhkah rasa malu dan bersalah itu efektif dalam menekan kuantitas dan kualitas korupsi? Penulis mencermati pokok-pokok persoalan ini di bawah judul: RASA MALU DAN RASA BERSALAH SEORANG KORUPTOR SERTA DAMPAKNYA BAGI TINDAKAN KORUPSI

1.2 Perumusan Masalah

Dari uraian di atas penulis dapat mengidentifikasi beberapa masalah. Ada pun masalah-masalah itu:

1). Apa itu rasa malu dan rasa bersalah dan bagaimana perkembanganya dalam diri manusia?

3 Darius Dabut. Menuju Masyarakat Anti Korupsi Perspektif Kristiani (Jakarta: Depertemen Komunikasi

(5)

2). Apa itu korupsi, dan bagaimana rasa malu dan rasa bersalah berdampak pada tindakan korupsi?

3). Bagaimana cara rasa malu dan rasa bersalah dihadapi untuk melawan tindakan korupsi?. 1.3 Tujuan Penulisan

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai di sini yakni:

Pertama, untuk mengetahui arti, sebab-sebab lain, dan dampak dari sebuah tindakan korupsi Kedua, untuk mengetahui maksud yang benar dari rasa bersalah dan rasa malu.

Ketiga, untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kurangnya rasa bersalah dan rasa malu

pada manusia dan bagaimana cara mengatasinya.

Keempat, dampak rasa bersalah dan rasa malu bagi tindakan koruptif

1.4 Kegunaan Penulisan

1.4.1 Bagi Civitas Akademika Fakultas Filsafat Agama

Fakultas Filsafat Agama merupakan wadah pendidikan para calon imam yang pada suatu saat akan berpastoral bersama umat, mewartakan kerajaan Allah. Karena itu sebagai suatu bentuk sumbangan dalam berpastoral, peneliti mempersembahkan tulisan ini bagi segenap civitas akademika Fakultas Filsafat Agama.

1.4.2 Bagi Masyarakat

Tulisan ini diharapkan memberi sumbangan bagi pemahaman akan sebuah tindakan korupsi. Korupsi dinilai sebagai sebuah tindakan tak bermoral dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, karena perasaan bersalah dan perasaan malu tidak sesungguhnya bekerja secara efektif. Dan hal ini sangat dirasakan atau dialami langsung oleh para pelaku korupsi, sehingga

(6)

dengan tulisan ini masyarakat disadarkan kembali akan pentingnya suara hati dalam menilai suatu perbuatan.

1.4.3 Bagi Peneliti sendiri

Dengan penelitian ini penulis dapat lebih mengerti dan memahami bahwa korupsi itu merupakan tindakan yang menunjukan bahwa orang tidak lagi berhati nurani. Dengan tulisan ini, penulis dibantu untuk menyadari betapa pentingnya rasa bersalah dan rasa malu dalam mencegah dan mengatasi diri agar tidak tidak terjerumus dalam korupsi.

1.5 Metode Penulisan

Medote yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Penulis menggumuli keseluruhan materi yang berhubungan dengan Rasa Malu dan Rasa bersalah yang berdampak pada tindakan Korupsi. Bahan yang tersedia dipirkan, dipahami, direfleksikan ulang dalam menghasilkan tulisan ini.

1.5.1 Interpretasi

Penulis akan berusaha menyelami, meramu dan mendalami sejauh mungkin Rasa Malu dan Rasa Bersalah yang berdampak pada tindakan Korupsi. Kemudian penulis akan mengkaji dan menjelaskan dengan berpijak pada Hati Nurani. Tentunya peran interpretatif atau penafsiran atas materi pun digunakan untuk menemukan kebenaran yang meyakinkan.

1.5.2 Induksi- Deduksi

Dari informasi dan data-data yang dikumpulkan, penulis akan coba memilah dan menelaah dengan berpolakan metode induksi-deduksi, sehingga akhirnya dapat direkat satu sintesis yang dapat dipergunakan dalam pengembangan tulisan ini selanjutnya.

(7)

1.5.3 Koherensi Internal

Untuk menginterpretasikan secara tepat dan jeli, Rasa Malu dan Rasa bersalah serta dampaknya bagi tindakan korupsi, maka penulis akan memperhatikan pula konsep-konsep yang terkait dengannya, sehingga penulis akan menentukan upaya pembinaan atau kerja dari Hati Nurani yang objektif sehingga orang dapat memahami mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan.

1.5.4 Holistika

Agar penulisan ini dapat dipahami dengan saksama, maka penulis akan berusaha menyelami secara keseluruhan tanpa meninggalkan keutuhan dan kesinambungan satu dengan yang lain sebagai satu totalitas keselamatan yang dinamis dan integral.

1.5.5 Refleksi Pribadi

Meskipun penulisan ini mengandalkan informasi dan data kepustakaan dalam wujud refleksi- referensi tertulis, penulis akan mengolahnya secara kritis dan sistematis dengan cara refleksi, agar dengan mudah mendeskripsikan materi penelitian ini dengan bahasa sendiri.

1.6 Sistematika Penulisan

Penulisan ini akan bergerak dan disistimasikan dalam bab-bab berikut;

Bab I Pendahuluan; dalam bab ini diuraikan latar belakang penulisan, perumusan masalah, tujuan penulisan, kegunaan penulisan, metode penulisan, dan disertai dengan hipotesis singkat.

Bab II Rasa Malu dan rasa Bersalah; persoalan tentang rasa malu dan rasa bersalah ini diuraikan secara teratur dalam bab ini. Bab ini, didahului dengan pengertian rasa malu dan rasa bersalah, hingga sebab-sebab mengapa orang merasa malu dan bersalah.

(8)

Bab III Korupsi , Dalam bab ini akan diuraikan pengertian, sebab-sebab, serta macam-macam korupsi.

Bab IV Mengulas tentang Rasa Malu dan Rasa Bersalah Seorang Koruptor serta Dampaknya Bagi Tindakan Korupsi. Di sini lebih diuraikan tentang bagaimana dampak rasa malu dan rasa bersalah seorang koruptor yang melakukan tindakan Korupsi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :