Makotek sebagai Pelestarian Budaya dan Daya Tarik Pariwisata Budaya di Desa Munggu, Mengwi, Badung.

Teks penuh

(1)

104

Makotek

sebagai Pelestarian Budaya dan

Daya Tarik Pariwisata Budaya

di Desa Munggu, Mengwi, Badung.

Rai Suastini1, Made Novita Dwi Lestari2

1Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, rsuastini70@gmail.com 2STAH Negeri Mpu Kuturan,novitadwilestari1186@gmail.com

Abstract

The purpose of this research is to examine historical sources, cultural preservation, meaning, and the potential of the Makotek tradition to be developed as cultural tourism. The method used in this research is qualitative method. Primary data were obtained from interviews with several informants who were selected by purposive sampling, while secondary data were obtained from online publications. This study provides recommendations for culture-based tourism to be a very potential option to be developed in Munggu village, Badung regency. The potential for implementing the Makotek tradition as a cultural tourism destination can be seen from its cultural attractions and is supported by adequate accessibility, supporting facilities and good tourism institutions or organizations.

Keywords: Makotek, Cultural Preservation, Cultural Tourism 1. Pendahuluan

Pariwisata adalah bidang yang saat ini banyak dibicarakan oleh banyak pihak. Undang-undang tentang kepariwisataan mendefinisikan pariwisata sebagai berbagai macam hal yang berhubungan dengan kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan/jasa yang disediakan oleh pihak-pihak terkait seperti masyarakat, pengusaha, pemerintah maupun pemerintah daerah. Keberadaan potensi pariwisata yang unik dan menarik di suatu daerah seharusnya dapat dimanfaatkan melalui pengembangan pariwisata yang baik.

Pulau Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata, menawarkan banyak hal untuk bisa dinikmati tidak hanya alamnya yang cantik dan menawan saja, tetapi juga wisata budaya berbasis budaya di Bali, menjadi hal penting untuk diketahui dan dinikmati wisatawan, seperti menyangkut unsur seni, agama, tempat peninggalan sejarah, bahasa daerah, kerajinan tangan, pakaian adat, arsitektur bangunan dan

hal-hal tradisional yang menjadi ciri khas Bali menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke Bali.

Mengenal istilah objek dan daya tarik wisata lebih dikenal dengan istilah "tourist attraction" (Yoeti, 1982). la menjelaskan "tourist attraction" atau atraksi wisata sebagai segala sesuatu yang menjadi daya tarik seseorang atau sekelompok orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu. Dalam hal ini, kita dikenalkan istilah "produk" industri pariwisata dan atraksi wisata. Atraksi wisata itu merupakan bagian dari produk industri wisata, yang meliputi semua bentuk dan jenis pelayanan yang diberikan pada wisatawan untuk dinikmati dan dirasakannya sejak dari meninggalkan tempat (daerah) asal, menuju dan selama berada di daerah tujuan wisata, serta sampai mereka kembali lagi ke tempat asalnya (Paramita, 2020).

Kepariwisataan Budaya Bali adalah suatu jenis kepariwisataan untuk menunjukkan satu identitas pariwisata dengan memanfaatkan budaya sebagai

(2)

105 daya tarik wisatawan, seperti yang

dikembangkan di Bali. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali menyebutkan bahwa Kepariwisataan Budaya Bali adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan kepada Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran Agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya, sehingga terwujud hubungan timbal-balik yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat keduanya berkembang secara sinergis, harmonis dan berkelanjutan untuk dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kelestarian budaya dan lingkungan (Paramita, 2020).

Pariwisata budaya merupakan jenis kegiatan pariwisata yang dikembangkan di suatu daerah atau sub-daerah tujuan wisata yang mengandalkan kekayaan wisata berupa objek dan daya tarik wisata budaya. Pariwisata budaya menggambarkan perjalanan wisata berdasarkan keinginan menambah wawasan dan pengalaman hidup dengan mengunjungi objek dan daya tarik wisata yang khas dan unik. Sementara itu wisatawan lain mempunyai alasan untuk mengetahui dan mempelajari pola perilaku sosial warga masyarakat, adat istiadat, kebiasaan, dan warisan seni budaya lainnya (Pendit, 1994: 41).

Kemudian, Soekadijo (1996 54) mengemukakan bahwa kebudayaan adalah semua jenis kesenian, pola dan indonosta tata kehidupan masyarakat, adat-istiadat dan sebagainya. Kesenian sebagai satu bentuk kegiatan sosial yang kehadirannya mencerminkan ekspresi kolektif dari masyarakat pendukungnya. Ia sebagai sarana rekreasi dan hiburan yang estetik serta berupa media komunikasi yang menyampaikan pesan-pesan dengan nilai moral, filosofi,

agama, Pendidikan ilmu pengetahuan yang menguatkan ikatan solidaritas social (Paramita & dkk, 2020).

Makotek menjadi salah satu warisan budaya yang terjaga dengan baik sampai saat ini, dan menjadi hal menarik untuk dinikmati oleh para turis yang sedang liburan di pulau Dewata Bali. Memang daya tarik pulau Bali tidak tidak hanya sekedar tempat rekreasi dan objek wisatanya saja, tetapi juga berbagai budaya dan tradisi unik yang merupakan warisan Bali kuno dari jaman tempo dulu masih dijaga lestari sampai sekarang ini dan menjadi atraksi wisata yang diminati oleh wisatawan (Paramita, 2020).

Tradisi warisan Bali kuno ini dikenal juga dengan Gerebeg Mekotek, digelar setiap 6 bulan sekali dalam kalender Hindu atau setiap 210 hari sekali, tepatnya saat perayaan hari raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan. Tradisi Mekotek di desa Munggu – Badung ini digelar dengan tujuan atau sebagai prosesi tolak Bala, melindungi dari serangan penyakit dan memohon keselamatan. Warisan turun temurun dari leluhur warga desa Munggu khususnya umat Hindu, prosesinya selalu rutin dilakukan secara turun-temurun oleh generasi penerusnya atau warga setiap 210 hari sekali. Tradisi mekotek cukup menarik bisa mendongkrak pariwisata Bali, sebagai atraksi wisata dengan budaya lokal yang unik dan menarik (Paramita, 2020).

Pariwisata budaya merupakan jenis obyek daya tarik wisata yang berbasis pada karya cipta manusia baik yang berupa peninggalan budaya atau berbagai bentuk nilai-nilai budaya yang dijaga dan dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya (Sunaryo, 2013). Berdasarkan atas pengertian tersebut, Makotek di Desa Munggu dapat dikategorikan sebagai warisan budaya masyarakat Desa Munggu yang telah

(3)

106 mewarisi tradisinya sejak bergenerasi.

Sehingga hal ini berpotensi memiliki daya jual sebagai destinasi wisata. Karena itu, sudah selayaknya dilakukan kajian untuk mengetahui peluang pemanfaatan potensi Mekotek sebagai daya tarik wisata budaya.

Tujuan diadakannya mini research terhadap tradisi Makotek adalah untuk mengkaji aspek kesejarahan, pelestarian budaya makotek, makna dari tradisi Makotek, serta untuk mengkaji potensi Makotek sebagai sebuah daya Tarik pariwisata budaya yang ada di desa Munggu kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

2. Metodelogi

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan data primer dan sekunder sebagai sumber data. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara dengan pemuka desa, dan beberapa masyarakat yang dianggap memahami tradisi Mekotek di desa Munggu, kabupaten Badung, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku-buku atau literatur atau artikel ilmiah yang ada kaitannya dengan permasalahan yang teliti. Objek penelitian ini adalah Tradisi Mekotek sebagai pengembangan pariwisata budaya, sedangkan subyek penelitiannya adalah masyarakat di desa Munggu Kabupaten Badung. Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi melalui pengamatan langsung di lokasi penelitian serta wawancara dengan narasumber di lapangan. Informan yang dilibatkan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling untuk penentuannya diantaranya tokoh-tokoh desa Munggu. Karena penelitian ini bersifat kualitatif, artinya data yang disajikan berbentuk kalimat atau kata-kata maka untuk menganalisis data tersebut digunakan analisis deskriptif yaitu dengan mengadakan suatu telaah terhadap suatu gejala yang bersifat obyektif (sesuai dengan data pustaka

dan lapangan) yang menjadi obyek penelitian. Analisis deskritif, ialah cara pengolahan data yang dilakukan dengan cara menyusun secara sistematis sehingga diperoleh suatu kesimpulan (Koentjaraningrat, 1981:74). Teknik yang digunakan dalam menganalisis data data ialah yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan atau verifikasi. Dipergunakan metode analisis deskriptif ini karena tujuan penelitian ini hanya untuk mendiskripsikan mengenai potensi tradisi Makotek yang layak dikembangkan sebagai wisata budaya di desa Munggu Kabupaten Badung.

Penelitian ini mempergunakan teori sosiologi pariwisata, dalam mengkaji masyarakat dan fenomena pariwisata, untuk selanjutnya berusaha mengembangkan abstraksi- abstraksi yang mengarah kepada pengembangan teori (Pitana & Gayatri, 2005). Sosiologi pariwisata, objek studi utamanya sosiologi, yaitu struktur masyarakat, kelompok sosial, lembaga sosial, hubungan-hubungan timbal balik individu, peranan dan sebagainya seperti telah disebutkan sebelumnya. Kegiatan kepariwisataan melibatkan orang, sekelompok orang, lembaga, dan dinamika interaksi sosial yang dilakukannya untuk mencapai atau memenuhi kepentingan kegiatan kepariwisataan.

Pendekatan terhadap rangkaian

tradisi Makotek sebagai daya tarik

wisata

dilakukan

dengan

menggunakan Teori 4A (attraction,

accessibility, amenity, and anciliary)

yang dikemukakan oleh Cooper, dkk

(1995:85). Pandangan Cooper ini

menjadikan empat komponen utama

dalam

usaha

mengembangkan

sebuah destinasi menjadi tujuan

wisata yang baik dan berkelanjutan.

(4)

107 3. Pembahasan

3.1 Sejarah Tradisi Mekotek

Dalam Wiryani (2011), 2 (9). p. 1 Sejarah dari tradisi makotek di desa Munggu di Desa Munggu Kabupaten Badung ini masih dalam ketidakjelasan. Sementara, yang berkembang di masyarakat ada dua versi yakni versi dari Ida Pedande Gede Sidemen Pemaron dan versi yang bersumber dari Bendesa Adat Munggu I Ketut Kormi. Informasi ini dimuat jelas di Koran Nusa Bali terbitan hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2010.

3.1.1 Versi Ida Pedanda Gede Sidemen Pemaron

Sejarah Tari Mekotekan berdasarkan Versi Ida Pedanda Gede Sidemen Pemaron Sejarah tari Mekotekan ini berawal dari keberadaan, Raja IV Cokorda Nyoman Munggu pada Keraton Puri Agung Munggu. Beliau adalah seorang raja yang sangat arif dan bijaksana serta dicintai dan disegani oleh rakyat Mengwiraja dan sekitarnya, khususnya masyarakat di Munggu. Beliau memiliki kebun yang sangat luas yang sekarang disebut “Uma Kebon” serta memiliki peternakan yang disebut “Uma Bada”. Beliau ingin meneruskan cita-cita pendahulunya, yaitu Raja I Gusti Agung Putu Agung yang mebiseka Cokorda Sakti Blambangan.

Beliau membentuk pasukan berani mati di Desa Munggu, yang dibina oleh Bhagawantha raja dari Ida Brahmana di Munggu, dengan sebutan pasukan “Guak Selem Munggu”. Pada suatu hari, sungai Yeh Penet yang melingkari ujung utara sampai tepi bagian barat Desa Munggu, airnya terus mengalir menuju ke laut selatan, dan meluap sehingga menimbulkan banjir bandang. Air sungai yang sangat deras itu menghanyutkan sebuah pelinggih yang terapung-apung di permukaan air

kemudian tersangkut pada akar pohon kamboja besar (pohon jepun sudamala).

Atas kejadian itu masyarakat Munggu berduyun-duyun untuk melihatnya. Masyarakat Munggu yang tinggal di dauh rurung kemudian melaporkan hal tersebut ke hadapan Ida Bhagawantha Brahmana Pemaron Munggu yang berlanjut kehadapan Raja Cokorda Nyoman Munggu, yang pada saat itu raja kebetulan berada di keraton puri Agung Munggu Pura di Mengwiraja. Beliau menitahkan masyarakat Munggu untuk mengangkat dan melestarikan pelinggih itu di tempat yang aman.

Pada saat itu pula ada salah seorang penduduk di Munggu kesurupan (kerauhan) dan mengaku sebagai utusan dari Ida Betari Ulun Danu Bratan, atas permohonan Ida Betara di Pura Puncak Mangu, yang memohon kepada Raja Bhagawantha untuk menyelamatkan pelinggih itu serta membangun sebuah pura yang merupakan stana Ida Betara Luhur Sapuh Jagat, untuk menjaga keselamatan rakyat Mengwiraja sebagai kahyangan jagat.

Atas petunjuk orang yang kesurupan itu, diyakini bahwa pada waktu akan mulai meletakkan batu pertama (nasarin) Pura Luhur Sapuh Jagat akan menemukan segumpalan besi dan batu-batu yang berbentuk senjata. Gumpalan besi itu agar diamankan dijadikan senjata-senjata kerajaan Mengwipura, sedangkan batu-batu itu agar dilestarikan di tempat pembangunan pura tersebut.

Raja Cokorda Nyoman Munggu beserta Ida Bhagawantha Brahmana Munggu tidak begitu cepat percaya dengan ucapan-ucapan orang kesurupan itu, beliau ingin membuktikan lagi. Untuk meyakinkan, akhirnya orang yang kesurupan yang mengaku utusan Ida Betara Ulun Danu menjadi sangat jengkel dan berlari

(5)

108 menuju pura Puseh Munggu, serta

mengambil sebuah tedung yang panjangnya kurang lebih 5 meter dan menancapkan pada halaman pura Puseh, serta meloncat-loncat ke atas tedung. Di atas tedung itulah orang yang kesurupan itu menari-nari sambil menantang Rajabhagawantha dengan kata-kata yang sangat meyakinkan, bahwa ia benar-benar utusan Ida Betara Ulun Danu Bratan.

Dalam suasana hujan lebat serta angin puyuh, Raja beserta Ida Bhagawantha Brahmana Munggu, bersama-sama seluruh masyarakat Munggu menyaksikan hal itu. Setelah itu barulah beliau sadar serta berjanji memenuhi semua apa yang menjadi petunjuk yang diucapkan oleh orang kesurupan itu, yang merupakan pawisik Ida Bhatara (Sang Hyang Widi Wasa) sehingga orang itu langsung disucikan dijadikan pemangku Pura Puseh.

Diputuskanlah oleh Ida Bhagawantha Brahmana Munggu, bahwa hari Rabu Kliwon Ugu mulai diadakan pembangunan atau nasarin Pura Luhur Sapuh Jagat di Desa Munggu Kabupaten Badung. Benar-benar suatu keajaiban pada jagat Bali. Setelah penggalian pembangunan pura seperti petunjuk yang diucapkan pemangku itu, terdapatlah gumpalan batu-batu. Ada yang berbentuk tamiang, besi-besi tua yang berbentuk senjata tajam. Setelah disaksikan oleh Ida Bhagawantha Brahmana Munggu dan seluruh masyarakat Munggu, akhirnya benda-benda tersebut diangkat dan ditempatkan pada bangunan suci untuk diamankan dan dilestarikan.

Sesuai dengan pawisik yang telah didapatkan sebelumnya, maka dipanggillah seorang wiku pande besi Desa Munggu oleh Cokorda Munggu untuk menjadikan besi tua itu senjata keris dan tombak, sehingga

menghasilkan 5 buah senjata tajam yang terdiri dari keris dan tombak yang diserahkan kembali ke hadapan Cokorda Munggu. Kemudian diadakan upacara pasupati senjata oleh Ida Bhagawantha Brahmana Pemaron Munggu dan seluruh rakyat Munggu diperintahkan untuk membuat tempat pemujaan berupa panggung setinggi 6 m di perempatan Banjar Munggu untuk kegiatan upacara pasupati senjata-senjata tersebut.

Keris dan tombak tersebut disucikan terlebih dahulu dengan mempergunakan air bungkak kelapa gading, setelah itu dipercikan air suci dan sarana banten, lalu keris dan tombak langsung dihias dengan bunga pucuk merah yaitu pucuk rejuna dan busana kain serba merah. Keris-keris dan tombak pada saat dipasupati Ida Pedanda ditempatkan pada sebuah singgasana khusus dan selanjutnya keris-keris dikemit selama 3 bulan di panggung upacara tersebut secara silih berganti oleh warga desa Munggu yang mekemit untuk mohon keselamatan, keamanan, serta kenyamanan.

Selama tiga bulan mekemit Ida Pedanda mendapat wahyu agar keris-keris dan tombak itu masing-masing diberi nama : Sebuah keris runcing luk 11 (sebelas) diberi nama I Raksasa Bedek Sebuah keris runcing luk 7 (tujuh) diberi nama I Sekar Sungsang Sebuah keris runcing luk 5 (lima) bernama I Jimat Sebuah keris runcing bernama I Sapuh Jagat Sebuah tombak bernama I Bangun Oleg (Olog).

Setelah senjata-senjata yang didapatkan melalui pawisik gaib dipasupati dan dikemit selama tiga bulan, maka pada hari Sabtu Kliwon Kuningan pada Tumpek Kuningan, mulai diperagakan mengadakan perang-perangan yang diikuti oleh para laki-laki dewasa yang berasal dari seluruh Desa Munggu, kecuali bagi yang sedang cuntaka. Tari-tarian inilah

(6)

109

yang kemudian dalam

perkembangannya dikenal dengan tari Mekotekan.

3.1.2 Versi Bendesa Adat Munggu Dalam surat kabar harian Nusa Bali terbitan hari Minggu, 25 Oktober 2010, I Ketut Kormi mengatakan tradisi Mekotek yang telah digelar warga Munggu secara turun temurun terkait dengan sejarah Raja Munggu, yang pergi ke Blambangan untuk melakukan perluasan wilayah. Pada peperangan itu Raja Munggu menang dan kembali ke Munggu bersama seluruh bala tentaranya. Rasa gembira bala tentara tersebut mengangkat tombak berjalan ke desa. Bahkan hingga mengenai bala tentara sendiri yang menyebabkan luka.

Melihat kejadian tersebut, raja bertapa di Wesasa dan mendapatkan petunjuk bahwa luka itu bisa cepat sembuh dan kemudian menggelar ritual Mekotek. Selain itu, raja juga mengatakan jika ritual ini tidak digelar maka bisa terkena gerubug atau wabah petir. Hal ini membuat masyarakat Munggu tetap menggelar ritual Mekotek hingga sekarang ini.

Munculnya kata Mekotekan ini berasal dari kata ”kotek” yang berarti suara atau bunyi yang ditimbulkan dari persentuhan antara batang-batang kayu yang dilakukan pada saat prosesi upacara Ngerebeg berlangsung. Sedangkan kata Ngerebeg berasal dari kata ”rebeg” yang berarti perang. Sehingga tari Makotekan dalam rangkaian upacara Ngerebeg ini ciri khasnya adalah penggunaan properti batang kayu seperti tombak yang dibawa oleh prajurit jaman dahulu menuju medan perang, kayu ini kemudian disatukan ujung atasnya sehingga menimbulkan suara gesekan batang kayu tersebut.

Dalam pementasan tari Makotekan ini, masalah faktor keindahan adalah sekunder, karena tari Makotekan ini

penekanannya lebih kepada upacara keagamaan, yang dipersembahkan kepada Tuhan. Pementasan tari Makotekan dipercaya dapat memberikan pengaruh positif bagi kehidupan manusia itu sendiri. Kehendak jiwa manusia itu sendiri dimanifestasikan menjadi bentuk-bentuk gerak tari yang bersifat magis, dengan peniruan-peniruan gerak-gerak alam, sehingga mencapai situasi di bawah alam sadar dan para penarinya mengalami trance (tidak sadar).

Pemuka masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat Desa Munggu mengatakan bahwa tari Mekotekan merupakan tarian anugrah dari Ida sang Hyang Widhi Wasa. Kemunculan tari Makotekan diawali melalui seorang pemangku yang kerawuhan (trance), melakukan gerakan yang diambil dari ilustrasi sebuah keris, ditancapkan pada tugu Pura Luhur Sapuh Jagat Munggu, yang berarti kemenangan.

3.2 Pelaksanaan Tradisi Makotek sebagai Sebuah Pelestarian Budaya

Tradisi Makotek yang telah turun-temurun dilaksanakan pernah ditiadakan pelaksanaannya. Hal itu terjadi sekitar tahun 1920-an ketika Belanda menguasai daerah Bali. Karena alasan politik, pemerintah Belanda melarang pelaksanaan tradisi tersebut. Namun, tidak berselang lama, masyarakat Desa Munggu merasa resah. Hal itu disebabkan oleh ada sekitar empat sampai dengan enam orang warga meninggal secara mendadak tanpa sebab yang pasti. Mereka meyakini bahwa kejadian tersebut ada kaitannya dengan tidak dilaksanakannya tradisi Makotek. Masyarakat Desa Munggu berkeyakinan bahwa hanya dengan melaksanakan tradisi ritual Makotek, bencana wabah penyakit tersebut dapat diatasi. Mereka pun memohon kebijakan kepada pemerintah Belanda agar diperkenankan melaksanakan kembali

(7)

110 ritual tersebut. Dengan mengganti

properti tombak menggunakan kayu pulet, masyarakat Desa Munggu akhirnya diperkenankan kembali melaksanakan ritual tolak bala tersebut. Sejak saat itu, agar bisa melangsungkan ritual Makotek, warga Desa Munggu memutuskan untuk selalu menggunakan kayu pulet dalam pelaksanaan tradisi tersebut.

Tradisi Makotek yang dilaksanakan secara rutin setiap 6 bulan sekali (210 hari sesuai kalender Hindu) tepatnya 10 hari setelah Hari Raya Kuningan. Prosesi ini terjadi di Desa Munggu, Mengwi, Badung. Dikenal juga dengan istilah Ngerebek, dan tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah untuk memohon keselamatan. Tradisi Makotek juga dimaknai sebagai tradisi tolak bala bagi masyarakat di Desa Munggu. Tradisi Makotek dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat Desa Adat Munggu yang terdiri atas tiga belas banjar dan diikuti kurang lebih 2000-an orang peserta. Pada sore harinya, setelah melakukan persembahyangan bersama menyambut hari raya Kuningan mereka beramai-ramai ke luar rumah. Masyarakat yang laki-laki membawa kayu pulet, sementara yang perempuan membawa sesaji. Semua warga mengenakan pakaian adat madya, busana adat tingkat menengah. Busana warga yang laki-laki terdiri atas kain, dililitkan dengan ujungnya dilepas berbentuk kancut, disertai udeng sebagai ikat kepala mereka. Sementara, warga yang perempuan menggunakan busana baju kebaya, kain yang dililitkan dengan selendang sebagai ikat pinggang. Setiap warga laki-laki yang membawa kayu pulet berukuran kurang lebih dua meter

Foto 1. Masyarakat sedang membawa kayu pulet yang merupakan salah satu

sarana dalam tradisi makotek Sumber: Dokumentasi Pribadi Mereka kemudian beramai-ramai berjalan mengelilingi wilayah Desa Munggu diiringi gamelan baleganjur dan nyanyian-nyanyian kidung. Setiap melintasi persimpangan jalan dan pura, mereka berkumpul dan berputar-putar mengadupadankan kayunya hingga berbentuk kerucut menyerupai piramida. Benturan antar kayu pulet inilah yang menimbulkan suara “tek..tek..tek..…tek..tek..tek” dan membuat tradisi tersebut diberikan nama Makotek oleh masyarakat di Desa Munggu. Dengan diiringi riuhnya gamelan balaganjur yang semakin meninggi, mereka berputar-putar semakin kencang dan histeris. Suasana tersebut mendidihkan jiwa patriotik para peserta prosesi Makotek. Hingga kemudian diantara mereka ada yang naik memanjat ujung piramida. Setelah tiba di atas piramida, mereka menari-nari diiringi sorak-sorai dan riuhnya gamelan baleganjur. Hal itu menciptakan suasana kemeriahan yang sangat religius. Setelah melaksanakan tradisi ritual tolak bala tersebut, mereka pun kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan lega.

(8)

111 Foto 2. Seorang Warga Berada di

Puncak Susunan Kayu Pulet yang Dibentuk Seperti Piramid Sumber: Dokumentasi Pribadi Dikatakan bahwa dahulu para leluhur masyarakat di desa tersebut berhasil menanggulangi wabah penyakit

yang sempat meresahkan

kehidupannya. Keberhasilan mereka menanggulangi permasalahan hidup tentang wabah penyakit yang timbul akibat bencana alam berupa air bah karena meluapnya Sungai Penet tersebut kemudian diwariskan para tetua desa secara tradisi lisan hingga kini.

3.3 Makna tradisi Makotek

Tradisi Makotek yang secara rutin digelar masyarakat Desa Munggu ini terbilang unik. Bahkan, sudah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Keunikannya terletak pada proses tradisi yang diawali dengan warga desa bersembanyang bersama. Usai sembahyang, warga berjalan kaki mengelilingi seluruh desa dengan membawa tongkat.

Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat desa Munggu yang bernama Made Sujana, selain unik, ada juga makna dari Tradisi Mekotek. Terdapat tiga makna yang tersirat dari pelaksanaan tradisi ini. Pertama, penghormatan kepada jasa para pahlawan karena merupakan peringatan kemenangan perang

Kerajaan Mengwi dalam hal memperluas wilayah kekuasaan kerajaan saat itu. Oleh karena itu, hingga saat ini, Tradisi Mekotek dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau tepatnya setiap Hari Raya Kuningan. Kenapa dilaksanakan pada hari raya Kuningan, karena saat itu Raja Mengwi melakukan Semedi untuk mengadakan perlawanan tepat pada hari Kuningan

Makna kedua Tradisi Mekotek adalah sebagai penolak bala atau diyakini akan memberikan keselamatan dan kesuburan atau kemakmuran dalam sektor pertanian di Desa Munggu. Ia melanjutkan, kepercayaan yang sangat tinggi terhadap tradisi itu untuk memberikan keselamatan dan kemakmuran dibuktikan oleh sempatnya dilakukan pelarangan melaksanakan mekotek oleh penjajah waktu itu, yakni Belanda. Pada saat itu, penjajah takut karena yang digunakan sebagai media atau alat tradisi itu bukan kayu, melainkan tombak. Belanda pun akhirnya melarang tradisi itu karena takut warga akan melakukan pemberontakan atau perlawanan terhadap mereka. Pelarangan tradisi yang dilakukan sekitar 5 kali tersebut membuat warga desa banyak yang jatuh sakit atau grubug, bahkan ada yang meninggal dunia. Sejak kejadian tersebut, para tokoh adat Munggu kemudian melakukan negosiasi dengan pihak penjajah hingga akhirnya tradisi Mekotek kembali dilaksanakan. Sejak itulah, tradisi Makotek diyakini memberikan kemakmuran dalam sektor pertanian, begitu pula menangkal penyakit yang masuk ke warganya.

Makna ketiga, tradisi ini merupakan alat pemersatu warga, terutama para pemuda. Dengan melaksanakan tradisi ini, pemuda akan berkegiatan positif dan menjauhi segala macam kegiatan negatif, seperti

(9)

112 narkoba, minuman keras, dan

ugal-ugalan.

3.4 Makotek sebagai Daya Tarik Wisata Budaya

3.4.1 Attraction dalam tradisi Makotek Menurut Suwena (2010: 88), atraksi atau obyek daya 112ragm wisata (ODTW) merupakan komponen yang signifikan dalam menarik kedatangan wisatawan. Hal yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata disebut dengan modal atau sumber kepariwisataan (tourism resources). Modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan ada tiga, yaitu 1) Natural Resources (alami) seperti gunung, danau, pantai dan bukit; 2) atraksi wisata budaya seperti arsitektur rumah tradisional di desa, situs arkeologi, seni dan kerajinan, ritual, festival, kehidupan

masyarakat sehari-hari,

keramahtamahan, makanan; dan 3) atraksi buatan seperti acara olahraga.

Atraksi yang dapat disaksikan oleh wisatawan yang berkunjung ke desa Munggu kabupaten Badung diantaranya adalah fragmentari Makotek. Desa Munggu telah ditetapkan sebagai Desa Wisata sesuai dengan Peraturan Bupati Badung No. 47 tahun 2010, dengan dasar tersebut masyarakat desa Munggu mengemas tradisi Mekotek menjadi bentuk fragmentari yang disuguhkan selama wisatawan fragmentari maupun mancanegara yang menginap di wilayah Desa Wisata Munggu, Gagasan untuk mengemas garapan fragmentari Mekotek diawali oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat sebagai sumber daya manusia penggerak Desa Wisata Munggu. Selain sebagai atraksi bagi wisatawan, garapan fragmentari dari tradisi Makotek tersebut diharapkan dapat melestarikan dan meningkatkan budaya yang ada di desa Munggu. Dengan digelarnya tradisi ini secara rutin selain sebagai pelestarian budaya juga mengarahkan para pemuda untuk

melakukan kegiatan positif yang juga dapat meningkatkan perekonomian di Desa Munggu.

Foto 3. Fragmentari Makotek yang diadakan di Pura Dalem Wisesa

Desa Munggu Sumber: Tatkala.co

Foto 4. Puncak Pementasan Fragmentari Makotek

Sumber: Baliexpress.jawapos.com 3.4.2 Accessibility Menuju Tradisi Makotek

Menurut Sunaryo (2013: 173), aksesibilitas pariwisata dimaksudkan sebagai segenap sarana yang memberikan kemudahan kepada wisatawanuntuk mencapai suatu destinasi maupun tujuan destinasi terkait. Menurut French dalam Sunaryo (2013: 173) menyebutkan 112actor-faktor yang penting dan terkait dengan aspek aksesibilitas wisata meliputi petunjuk arah, bandara, terminal, waktu yang dibutuhkan, biaya perjalanan, frekuensi transportasi menuju lokasi wisata dan perangkat lainnya.

Desa Munggu memiliki infrastruktur jalan yang sangat memadai

(10)

113 dan bisa diakses dengan berbagai macam

kendaraan bermotor seperti bus, mobil ataupun sepeda motor. Hal ini dikarenakan jalur yang melalui Desa Munggu adalah jalur pariwisata Tibubeneng-Canggu-Pererenan-Tanah Lot sehingga kualitas jalannya baik. 3.4.3 Amenity pada Tradisi Makotek

Sugiana (2011) menjelaskan bahwa amenitas meliputi "serangkaian fasilitas untuk memenuhi kebutuhan akomodasi (tempat penginapan), penyediaan makanan dan minuman, tempat hiburan (entertainment), tempat-tempat perbelanjaan (retailing) dan lainnya" French dalam Sunaryo (2013: 173)

memberikan batasan bahwa amenitas bukan merupakan daya tarik bagi wisatawan, namun dengan kurangnya amenitas akan menjadikan wisatawan menghindari destinasi tertentu.

Fasilitas pendukung (amenities) untuk kegiatan pariwisata yang dapat ditemukan di Desa Wisata Munggu antara lain: villa, restoran, ATM, mini market money changer dan laundry. Kepemilikan terhadap fasilitas pendukung tersebut tidak sepenuhnya masyarakat lokal, sehingga masyarakat Desa Munggu belum mendapatkan hasil yang maksimal dalam pengembangan pariwisata budaya di desa mereka.

3.4.4 Anciliary pada Tradisi Makotek Sugiama (2011) menjelaskan bahwa ancillary service mencakup keberadaan berbagai organisasi untuk memfasilitasi dan mendorong pengembangan serta pemasaran kepariwisataan destinasi bersangkutan. Jasa pendukung sangat berkaitan dengan ketersediaan badan, organisasi, atau orang-orang yang mengelola destinasi. Jasa pendukung ini menjadi sangat penting perannya untuk melakukan manajemen terhadap destinasi wisata.

Kelembagaan/organisasi yang terdapat di Desa Wisata Munggu adalah adanya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan seluruh kepala lingkungan se-desa Munggu. Peran pemerintah juga sudah baik dengan dijadikannya Munggu sebagai desa wisata berdasarkan Peraturan Bupati No. 47 Tahun 2010 Tentang Penetapan Desa Wisata di Kabupaten Badung. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pariwisata sangat siap mempromosikan tradisi Makotek dalam kalender even kabupaten Badung.

4. Simpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal berkaitan dengan pelaksanaan tradisi makotek di desa Munggu, diantaranya: dasar pelaksanaan tradisi makotek yang berlangsung secara turun temurun bersumber dari 2 versi yakni dari Ida Pedanda Gede Sidemen Pemaron dan Bendesa Adat Munggu. Pelaksanaan tradisi Makotek yang berlangsung secara rutin setiap 6 bulan sekali adalah sebuah pelestarian budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Munggu. Makna tradisi Makotek diantaranya bentuk penghormatan masyarakat desa Munggu terhadap sikap kepahlawanan kerajaan Mengwi dalam memperluas wilayah, sebagai penolak bala, dan sebagai alat memperkuat rasa persaudaraan dan pemersatu. Tradisi makotek juga merupakan sebuah daya Tarik wisata budaya yang ada di desa Munggu karena dari keempat elemen daya Tarik wisata sudah terpenuhi oleh desa Munggu dengan tradisi makoteknya.

(11)

114 Daftar Pustaka

Cooper, Fketcher, J., Gilbert, D., & Wanhill, S. (1995). Tourism, Principles and Prantice. London: Logman.

moleong J, Lexy. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 2 Tahun 2012 Tentang Kepariwisataan Budaya Bali. Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012. Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 2.

Peraturan Bupati Badung No. 47 Tahun 2010 Tentang Penetapan Kawasan Desa Wisata Di Kabupaten Badung. Berita Daerah Kabupaten Badung Nomor 44 Tahun 2010

Paramita, I. B. (2020). Kontemplasi: Komunikasi, Etika Dan

Pengetahuan Dalam Bahasa Bali. Communicare, 191-200.

Paramita, I. B. (2020). New Normal Bagi Pariwisata Bali Di Masa Pandemi Covid 19. Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama Dan Budaya, 57-65.

Paramita, I. B. (2020). Pendidikan Etika Dan Gender Dalam Teks Satua I Tuung Kuning. Jurnal Inovasi Penelitian, 91-98.

Paramita, I. B. (2020). Women's Bali In Teks Satua I Tuung Kuning. Maha Widya Duta, 44-47.

Paramita, I. B., & Dkk. (2020). Stereotip Etnis Tionghoa Di Banjar Sandakan, Desa Sulangai,

Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Maha Widya Duta, 81-89.

Pitana, I Gd. 2005. Sosiologi Pariwisata, Kajian Sosiologi terhadap Struktur, Sistem dan Dampak-Dampak Pariwisata. Yogyakarta: Andi.

Purwaningsih, Ni Putu Enik dan I Gusti Agung Oka Mahagangga. 2018. Hambatan Desa Munggu sebagai Desa Wisata di Kabupaten Badung. Jurnal Destinasi Pariwisata Vol. 5 No. 2.

Pradana, Gede Yoga Kharisma. 2016. Tradisi Makotek di Desa Munggu, Badung pada Era Global. Disertasi Program Studi Kajian Budaya Pascasarjana Universitas Udayana

Sugiama, A Gima. 2011. Ecotourism : Pengembangan Pariwisata berbasis konservasi alam. Bandung : Guardaya Intimarta. Sunaryo, Bambang. 2013. Kebijakan

Pembangunan Destinasi Pariwisata Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta : Gava Media. Suwena, I Ketut & Widyatmaja, I Gst

Ngr. 2010. Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata. Bali : Udayana University Press.

Wiryani, Ni Made. 2011. Tari Makotekan. Repository ISI Denpasar

Yoeti, O. A. (1996). Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung : Angkasa.

Figur

Foto 1. Masyarakat sedang membawa  kayu pulet yang merupakan salah satu

Foto 1.

Masyarakat sedang membawa kayu pulet yang merupakan salah satu p.7
Foto 4. Puncak Pementasan Fragmentari  Makotek

Foto 4.

Puncak Pementasan Fragmentari Makotek p.9
Foto 3. Fragmentari Makotek yang  diadakan di Pura Dalem Wisesa

Foto 3.

Fragmentari Makotek yang diadakan di Pura Dalem Wisesa p.9

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :