Volume : III No. 2 Agustus 2015 62
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIFTIPE TGT BERBANTUAN ALAT PERAGA PADA MATAPELAJARAN MATEMATIKA
DI KELAS VI SD METHODIST-12 MEDAN T.A 2015 Patri Janson Silaban
(Staf Pengajar FKIP Universitas Katolik St. Thomas)
ABSTRACT
The purpose of this study is (1) increasing the students' motivation, (2) improve the ability of students' mathematical understanding, (3) determine students' response to learning, and (4) determine the effectiveness of the student. Formulation of the problem in this study, namely: (1) how to increase student motivation ?, (2) how to increase the ability of students' mathematical understanding ?, (3) how the student's response? (4) how the effectiveness of the student? Type of research is action research through cooperative learning TGT aided props as the main target. Where this study seeks to describe the use of cooperative learning TGT props aided in increasing the motivation and ability of students' mathematical understanding through cooperative learning TGT props aided in mathematics in Class VI Elementary School Methodist-12 of Medan. The subjects were students of class VI was 50 of which were 26 men and 24 women in Elementary School Methodist-12 of Medan. Determination of this class is taken based on the observation of the class that will be examined and advice from the principal. Formal object through cooperative learning TGT aided props. The results of the research on students' motivation has increased from an average grade 68.22% in the cycle I to 71.89% in the cycle II and become 82.29% in the cycle III. Understanding of mathematical ability of students has increased from an average grade 64.33% in the cycle I to 77.67% in the cycle II and become 88.67% in the cycle III. The response of students towards learning has increased an average grade of 70.40% at 85.11 on the cycle I to the cycle II and become 92.00% in the cycle III. Learning effectiveness of students has increased from an average grade 62.48% at the cycle I to 76.04% in the cycle II and become 88.29% in the cycle III. Thus, it can be concluded that through cooperative learning TGT aided props can increase motivation and understanding of students' mathematical abilities in cognitive, affective and psychomotor widely on the subject of flat wake in Class VI Elementary School Methodist-12 of Medan.
Keywords: Classroom Action Research, Motivation, Ability Mathematical Understanding Through, Cooperative learning TGT Viewer Tool In Mathematics.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Proses belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya, proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah dengan adanya perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Dalam hal ini, matematika
Volume : III No. 2 Agustus 2015 63 juga perlu dipelajari karena dapat menambah tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap terhadap belajar siswa.
Matematika merupakan salah satu materi ajar yang berkaitan dengan mempelajari ide-ide atau konsep yang bersifat abstrak. Hal ini membuat peserta didik beranggapan bahwa matematika merupakan materi ajar yang sulit. Pada kenyataannya banyak peserta didik juga kurang memiliki motivasi dan kemampuan pemahaman matematis terhadap matematika. Hal ini akan berdampak pada kurangnya penguasaan terhadap konsep-konsep dalam matematika. Selain pemahaman konsep dalam matematika, kemampuan pemahaman matematis yang benar juga sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran matematika. Jika kemampuan pemahaman matematis yang diterima peserta didik salah maka sukar memperbaiki kembali terutama jika sudah diterapkan dalam penyelesaian suatu permasalahan matematis, sehingga penting sekali untuk membuat peserta didik memahami suatu konsep. Aspek-aspek pembelajaran matematika mencakup proses belajar mengajar dan pemikiran yang kreatif. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, sering dijumpai berbagai permasalahan. Kesalahan yang dilakukan siswa tidak hanya bersumber pada kemampuan pemahaman matematis siswa yang kurang, tetapi ada faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan siswa dalam belajar matematika, salah satu diantaranya adalah metode pembelajaran yang dipilih guru sebagai pengajar.Matematika merupakan suatu syarat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Karena dengan belajar matematika, siswa akan belajar bernalar secara kritis, kreatif, dan aktif. Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol itu.
Pada usia sekolah dasar (7-8 tahun hingga 12-13 tahun), menurut teori Piaget termasuk pada tahap operasional konkret. Berdasarkan perkembangan kognitif ini, maka anak usia sekolah dasar pada umumnya mengalami kesulitan dalam memahami matematika relatif tidak mudah untuk dipahami oleh siswa sekolah dasar pada umumnya. Bidang studi matematika merupakan salah satu komponen pendidikan dasar dalam bidang-bidang pengajaran. Bidang studi Matematika ini diperlukan untuk proses perhitungan dan proses berpikir yang sangat dibutuhkan orang dalam menyelesaikan berbagai masalah. Dalam kurikulum 2004 disebutkan bahwa standar kompetensi matematika di sekolah dasar yang harus dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran bukanlah penguasaan matematika, namun yang diperlukan ialah dapat dipahami dunia sekitar, mampu bersaing, dan berhasil dalam kehidupan.Standar kompetensi yang dirumuskan dalam kurikulum ini mencakup pemahaman konsep matematika.
Pada kenyataan di lapangan proses pembelajaran matematika yang dilaksanakan pada saat ini belum memenuhi harapan para guru sebagai pengembangan strategi pembelajaran di kelas. Siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika, khususnya dalam menyelesaikan soal yang berhubungan dengan kemampuan pemahaman matematis siswa. Kesulitan yang dialami siswa paling banyak terjadi pada tahap melaksanakan perhitungan dan memeriksa hasil perhitungan. Dengan demikian, kemampuan pemahaman matematis merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif siswa dan mempengaruhi motivasi belajar matematika siswa. Hal ini terlihat dari jawaban siswa tentang soal yang mengukur kemampuan pemahaman matematis siswa mengenai materi luas bangun datar di kelas VI SD Methodist-12
Volume : III No. 2 Agustus 2015 64 Medan tahun ajaran 2014/2015 sebagai berikut: Sebuah persegi panjang memiliki keliling 100 cm dengan panjang 20 cm. Hitunglah berapa cm2 kah luas persegi panjang tersebut? Pada kenyataannya, siswa tidak menyelesaikan soal tersebut, dimana siswa menjawab pertanyaan tersebut dengan mengalikan langsung angka yang ada pada soal cerita tersebut. Padahal dalam menyelesaikannya harus terlebih dahulu mencari lebar persegi panjang tersebut, setelah itu mengalikan panjang dengan lebar. Maka dengan hal tersebut, luas persegi panjang tersebut dapat diketahui hasilnya. Kasus lain misalnya, Hitunglah luas sebuah lingkaran jika diketahui panjang diameternya 20 cm!
Berdasarkan soal tersebut banyak siswa langsung memasukkan ke dalam rumus angka yang ada dalam soal tanpa mencari terlebih dahulu panjang jari-jari lingkaran tersebut. Kasus yang lain, Andi membuat empat layangan dengan panjang diagonal pertama 14 cm dan diagonal kedua 26 cm. Hitunglah berapa luas plastik yang dibutuhkan untuk membuat layangan tersebut! Dalam beberapa kasus di atas ada 15 siswa dari 49 siswa yang kesulitan dalam membuat model matematika dari masalah yang diberikan. Dengan kata lain, siswa belum mampu untuk menerjemahkan data yang ada kedalam satu atau beberapa persamaan yang kemudian penyelesaiannya dari persamaan digunakan untuk menentukan pemecahan masalah matematis. Berdasarkan pengamatan terhadap 50 siswa kelas VI SD Methodist-12 Medan tahun ajaran 2014/2015 dilaksanakan tes tertulis tentang bangun datar, dengan banyak butir tes 10, maka diperoleh hasil tes skor tertinggi 9 dan skor terendah adalah 3, jumlah skor 231 dan rata-rata skor 5,5. Hasil tes ini menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman matematis mencari luas bangun datar di kelas VI SD Methodist-12 masih rendah.Sehingga nilai rata-rata siswa tidak mencapai nilai ketuntasan yang diharapkan.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam diri siswa dan luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa salah satunya adalah motivasi siswa. Dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap positif siswa terhadap matematika. Sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan karena berkorelasi positif dengan prestasi belajar matematika.Siswa yang menyukai matematika, prestasinya cenderung tinggi dan sebaliknya siswa yang tidak menyukai matematika prestasinya cenderung rendah.Motivasi merupakan salah satu komponen dari asfek afektif, yang merupakan kecenderungan seseorang untuk merespon secara positif atau negatif suatu objek, situasi, konsep, atau kelompok individu.
Setelah melakukan pengamatan di kelas VI SD Methodist 12 Medan, peneliti mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi faktor tidak tuntasnya pembelajaran matematika. Adapun yang menjadi faktor tidak tuntasnya pembelajaran matematika pada pokok bahasan luas bangun datar adalah dalam proses belajar mengajar didalam kelas, guru menggunakan pendekatan yang berpusat pada guru yang dominasi ekspositori/ceramah, tumbuhnya budaya menghafal rumus melalui buku tanpa penjelasan, pembelajaran yang berpusat pada buku, minimnya media/metode/stategi pembelajaran, pembelajaran dominan terhadap kognitif (pengetahuan). Sehingga siswa tidak memahami penjelasan dari guru karena merasa jenuh, bosan, dan mengantuk didalam kelas sehingga tidak termotivasi dan tidak memiliki kemampuan pemahaman matematis dalam belajar matematika. Maka pada pertemuan selanjutnya, siswa kurang termotivasi mengikuti pelajaran disebabkan dengan cara yang digunakan dalam penyampaian pesan dalam pembelajaran. Dengan demikian, hasil belajar siswa pada saat ulangan kurang maksimal (belum mencapai nilai ketuntasan). Didalam proses belajar
Volume : III No. 2 Agustus 2015 65 mengajar guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan pemahaman matematis siswa. Kemampuan pemahaman matematis merupakan suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran yang dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran dapat tercapai. Tujuan pendidikan adalah untuk mendidik peserta didik menjadi tenaga yang siap pakai.
Berdasarkan fenomena di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pelajaran matematika belum memuaskan karena masih banyak hasil ujian siswa yang tidak meningkat. Pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru membuat respon siswa menjadi kurang baik terhadap pembelajaran matematika yang mengakibatkan siswa kurang termotivasi terhadap pelajaran matematika dan membuat siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Untuk menyikapi permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran matematika, perlu dicari solusi pendekatan pembelajaran yang dapat mengakomodasi meningkatkan motivasi dan kemampuan pemahaman matematis siswa terhadap pelajaran matematika. Menyarankan perubahan dalam pembelajaran matematika ke paradigma baru dengan menciptakan suasana siswa yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang akan mencegah kebosananan ketika belajar.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ”Meningkatkan Motivasi dan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa MelaluiPembelajaran KooperatifTipeTGT Berbantuan Alat Peraga Pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas VI SD Methodist-12 Medan Tahun Ajaran 2015”.
1.2 Identifikasi Masalah
Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Guru menggunakanpendekatan yang berpusat pada guru yang dominasi ekspositori/ceramah.
2. Tumbuhnya budaya menghafal rumus melalui buku tanpa penjelasansebelumnya. 3. Pembelajaran yang berpusat pada buku.
4. Minimnya metode/media/stategi pembelajaran.
5. Pembelajaran dominan terhadap kognitif (pengetahuan). 6. Siswa tidak termotivasi dalam pembelajaran matematika.
7. Kurangnya kemampuan pemahaman matematis siswa terhadap materi pelajaran matematika
1.3 Batasan Masalah
Mengingat luasnya cakupan masalah yang teridentifikasi dibandingkan waktu dan kemampuan yang dimiliki, maka peneliti perlu membatasi masalah yang akan dikaji agar analisis hasil penelitian dapat dilakukan dengan lebih mendalam, cermat dan terarah. Oleh karena itu penelitian ini terbatas pada:
1. Peningkatan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran kooperatiftipeTGT berbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana..
2. Peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa melalui pembelajaran
kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada
Volume : III No. 2 Agustus 2015 66 3. Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana.
4. Efektivitas siswa melalui pembelajaran kooperatif tipeTGT berbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana.
1.4 Rumusan Masalah
Sesuai dengan batasan masalah diatas, maka peneliti dapat memberikan rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran
kooperatiftipeTGT berbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada
kompetensi dasar luas bangun datar sederhana?
2. Bagaimana peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa melalui pembelajaran kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana?
3. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana?
4. Bagaimana efektivitas siswa melalui pembelajaran kooperatif tipeTGT berbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana?
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran kooperatiftipeTGT berbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana.
2. Meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa melalui pembelajaran
kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada
kompetensi dasar luas bangun datar sederhana.
3. Mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana.
4. Mengetahui efektivitas siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga di kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar sederhana.
1.6 Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa, pembelajaran kooperatiftipeTGT berbantuan alat peraga merupakan salah satu pembelajaran yang memberi kesempatan untuk memperkaya pengalaman belajar anak yang berpusat pada siswa. Dengan demikian, diharapkan siswa tidak lagi menghafal, mendengar, dan sekedar menyelesaikan tugas yang diberikan tetapi berubah menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, kritis, dan menemukan sendiri ilmu yang dipelajari. Penerapan pembelajaran kooperatiftipeTGT berbantuan alat
Volume : III No. 2 Agustus 2015 67 peraga suatu alternatif pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan pemahaman matematis siswa.
2. Bagi guru, penerapan pembelajaran kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga dapat mengembangkan/meningkatkan kemampuan guru dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran pada mata pelajaran Matematika. Penerapan pembelajaran
kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga merupakan salah satu alternatif
pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan pemahaman matematis siswa.
3. Bagi sekolah atau kelembagaan, penerapan pembelajaran
kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga diharapkan dapat mengembangkan/meningkatkan prestasi sekolah melalui peningkatan motivasi dan kemampuan pemahaman matematis siswa.
4. Bagi peneliti, menjadi suatu kesempatan memperoleh tambahan wawasan mengenai penerapan pembelajaran kooperatiftipeTGTberbantuan alat peraga dalam penyajian Matematika.
2. METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian
Jenis pelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (classroomactionresearch). Tujuan penelitian ini untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika terkait dengan meningkatkan motivasi belajar siswa, kemampuan pemahaman matematis siswa, dan respon siswa dengan pembelajaran
kooperatiftipe TGT berbantuan alat peraga.
Teknik Analisa Data Analisa Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, maka segera dilakukan analisa data.Teknik analisa data yang hendak dilakukan oleh peneliti adalah secara kualitatif dan kuantitatif berdasarkan tes hasil belajar matematika, data angket respon siswa, dan data hasil observasi oleh pengamat. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisa data penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran dilihat dari pengamatan terhadap aktivitas guru dalam melaksanakan metode TGT berbantuan alat peraga. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menentukan persentase skor rata-rata aktivitas guru, dan kemudian ditentukan kriteria keberhasilannya.
Skor aktivitas guru dihitung dengan menggunakan rumus:
Persentase skor rata-rata (SR) = x 100% (Tamrin, 2003:66) Interpretasi skor rata-rata sebagai berikut:
90% ≤ SR ≤ 100% : Sangat Baik 80% ≤ SR < 90% : Baik
70% ≤ SR < 80% : Cukup 60% ≤ SR < 70% : Kurang
Volume : III No. 2 Agustus 2015 68 Proses pembelajaran dikatakan berlangsung baik dilihat dari pengamatan tentang aktivitas guru dalam melakukan proses pembelajaran, Kriteria keberhasilan tindakan untuk aspek aktivitas guru tercapai bila SR ≥ 80% (Tamrin,2003:169).
Angket Motivasi Siswa
Angket motivasi siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT berbantuan alat peraga dengan materi luas bangun datar diukur dari jawaban siswa terhadap angket yang diberikan. Setiap jawaban sangat termotivasi (ST) dberi skor 4 (empat), jawaban termotivasi (T) diberi skor 3 (tiga), jawaban tidak termotivasi (TT) diberi skor 2 (dua), dan jawaban sangat tidak termotivasi (STT) diberi skor 1 (satu).
Dari seluruh jawaban siswa selanjutnya ditabulasi dalam daftar untuk dihitung rata-ratanya. Dari rata-rata yang diperoleh ditentukan kriteria motivasi siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan metode TGT berbantuan alat peraga.
Adapun kriteria respon siswa sebagai berikut (Tamrin,2003:90). 3,5 < skor rata-rata ≤ 4 = Sangat Termotivasi
2,5 ≤ skor rata-rata ≤ 3,5 = Termotivasi 1 ≤ skor rata-rata ≤ 2,5 = Tidak Termotivasi
Kriteria ketuntasan belajar perorangan untuk aspek motivasi siswa terhadap pembelajaran tercapai bila SR ≥ 65% (Tamrin,2003:174). Kriteria ketuntasan belajar secara klasikal tercapai bila P ≥ 85% (Kriteria ketuntasan di SD Methodist-12 Medan).
Aktivitas Belajar Siswa
Aktivitas belajar siswa diobservasi pada saat pelaksanaan tindakan. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menentukan persentase skor rata-rata aktivitas siswa, dan kemudian ditentukan kriteria keberhasilannya.
Skor aktivitas belajar siswa dihitung dengan menggunakan rumus: Persentase skor rata-rata (SR) = x 100% (Tamrin, 2003:66) Interpretasi skor rata-rata sebagai berikut:
90% ≤ SR ≤ 100% : Sangat Baik 80% ≤ SR < 90% : Baik
70% ≤ SR < 80% : Cukup 60% ≤ SR < 70% : Kurang
00% ≤ SR < 60% : Sangat Kurang
Kriteria keberhasilan tindakan untuk aspek aktivitas siswa tercapai bila SR ≥ 80% (Tamrin,2003:174).
Angket Respon Siswa
Angket respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT berbantuan alat peraga dengan materi luas bangun datar diukur dari jawaban siswa terhadap angket yang diberikan. Setiap jawaban sangat setuju (SS) dberi skor 4 (empat), jawaban setuju (S) diberi skor 3 (tiga), jawaban tidak setuju (TS) diberi skor 2 (dua), dan jawaban sangat tidak setuju (STS) diberi skor 1 (satu).
Volume : III No. 2 Agustus 2015 69 Dari seluruh jawaban siswa selanjutnya ditabulasi dalam daftar untuk dihitung rata-ratanya. Dari rata-rata yang diperoleh ditentukan kriteria respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan metode TGT berbantuan alat peraga.
Adapun kriteria respon siswa sebagai berikut (Tamrin,2003:90). 3,5 < skor rata-rata ≤ 4 = Sangat positif
2,5 ≤ skor rata-rata ≤ 3,5 = Positif 1 ≤ skor rata-rata ≤ 2,5 = Negatif
Kriteria keberhasilan tindakan untuk aspek respon siswa terhadap pembelajaran tercapai bila SR ≥ 80% (Tamrin,2003:174).
Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa
Kemampuan pemahaman matematis siswa dilihat dari skor yang diperoleh siswa dari tes yang diberikan. Dari skor tersebut dihitung persentase ketuntasan belajar siswa perorangan dan klasikal.
Persentase ketuntasan belajar perorangan dihitung dengan rumus: P = x 100%
Dimana:
P = Persentase ketuntasan belajar siswa
Si = Jumlah skor yang dicapai siswa terhadap seluruh butir soal St = Jumlah skor total seluruh soal
Kriteria ketuntasan belajar perorangan tercapai bila P ≥ 65% (Kriteria ketuntasan di SD Methodist-12 Medan).
Sedang kan untuk menghitung persentase ketuntasan belajar klasikal digunakan rumus:
P = x 100% (Aqib dkk, 2008:41).
Kriteria ketuntasan belajar secara klasikal tercapai bila P ≥ 85% (Kriteria ketuntasan di SD Methodist-12 Medan).
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data hasil penelitian diperoleh selama tindakan berlangsung dan temuan-temuan dilapangan setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga. Hasil pengamatan selama tindakan berlangsung, ditemukan bahwa proses pembelajaran adalah efektif. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil pengamatan aktivitas siswa dan guru telah memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan.Keberhasilan indikator tersebut dibahas sebagai berikut.
Aktivitas Siswa selama pembelajaran
Peningaktan aktivitas siswa dengan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga. Temuan ini memberikan jawaban terhadap tindakan yang dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan kemampuan pemahaman matematis siswa dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada materi luas bangun datar.
Peningkatan aktiviatas siswa dalam kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga sejalan dengan teori belajar konstruktivisme. Dalam
Volume : III No. 2 Agustus 2015 70 pelaksanaannya dilakukan tindakan pada siswa berupa belajar kelompok secara berpasangan. Dengan bekerja secara berpasangan setiap siswa dapat aktifnberperan dalam mengajukan pendapat dalam menyelesaikan masalah dan lebih terbuka dalam berpendapat maupun bertanya. Pada kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa bekerja dengan bantuan LAS dan alat peraga. LAS yang diberikan berisi soal-soal yang berkaitan dengan masalah sehari-hari.
Aktivitas siswa selama pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga pada siklus II menunjukkan kategori efektif denga rata-rata persentase keaktifan sebesar 76.04%.Siswa terlihat sudah terbiasa dengan situasi pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga.Diskusi dalam kelompok kecil sudah berjalan lancar, siswa yang pintar tidak lagi menyelesaikan sendiri masalah yang diberikan guru.Namun, siswa masih sungkan dalam mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan serta memberikan tanggapan kepada teman atau guru pada saat orientasi dan presentasi hasil diskusi.Hal ini disebabkan oleh rendahnya keberanian dan partisipasi siswa dalam menyampaikan dan menjawab pertanyaan atau pendapat dari teman atau guru.Siswa juga masih malu tampil untuk memberikan pendapat dan menjawab pertanyaan dari teman dan guru.Siswa sudah lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban baik dalam diskusi kelompok maupun pada saat presentasi hasil diskusi dan pada saat Time Game Tournamnet.Pada siklus III, aktivitas belajar siswa lebih baik dari dua siklus sebelumnya.Secara umum, menunjukkan kategori sangat efektif dengan rata-rata persentase klasikal aktivitas siswa mencapai 88.29%.
Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran
Temuan yang diperoleh yaitu pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga pada pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas guru. Temuan ini memberikan jawaban terhadap tindakan yang dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga dapat meningkatkan aktivitas guru dalam proses pembelajaran khususnya materi luas bangun datar.
Keberhasilan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga yang dilakukan dapat dilihat dari aktivitas guru sejalan dengan teori-teori yang mendukung dan hasil beberapa penelitian. Aktivitas yang dilakukan guru berupa beberapa penyampaian keterkaitan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, memberi stimulus pada siswa, membimbing siswa dalam kegiatan kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga, dan menyediakan alat peraga pembelajaran yang menarik merupakan tindakan guru yang efektif. Menurut Fauzi (2007:10) pengembangan kemampuan mengajukan soal sangat sesuai dengan tujuan pembelaajran di sekoleh dan diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Peranan guru pada pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga sebagai fasilitator dan memberikan bimbingan dalam memecahkan masalah dapat membuat pembelajaran lebih baik dan efektif, sebagaimana dikemukakan oleh Abbas dkk (2007:22).
Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran pada siklus I belum menunjukkan kategori efektif.Rat-rata persentase kelas adalah 70.40% dengan kategori cukup.Belum efektifnya pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru karena guru terlihat tidak disiplin dengan waktu yang tertera pada
Volume : III No. 2 Agustus 2015 71 RPP.Guru juga lebih banyak menyampaikan penjelasan kepada siswa, sehingga penggunaan waktu tidak efektif.
Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga pada siklus II menunjukkan kategori efektif dengan rata-rata persentase kemampuan pengelolaan sebesar 85.11%.Setiap tahapan pembelajaran telah dikelolah dengan baik.Kemampuan guru yang sangat baik terlihat pada aspek membimbing penyelidikan individu dan kelompok.Dimana, semua tahapan atau aspek kegiatan pengelolaan pembelajaran yang perlu ditingkatkan supaya lebih efektif dalam pembelajaran.Skor terendah untuk tahapan orientasi siswa terhadap masalah adalah pada aspek menjelaskan tujuan pembelajaran.Selanjutnya, kemampuan guru mengelola pembelajaran pada siklus III menunjukkan kategori efektif.Rata-rata persentase pengelolaan mencapai 92.00%.Keberhasilan ini diperoleh karena pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru selama tindakan berlangsung mencapai kategori sangat efektif. Guru terlihat lebih efektif dalam membimbing diskusi kelompok dan presentasi kerja siswa. Masalah-masalah yang disajikan baik pada LAS dan tes kemampuan pemahaman matematis lebih menarik dan mudah dipahami siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Amir (2010:26) yang mengatakan jika pembelajaran diterapkan dengan memenuhi berbagai persyaratan, aturan main, dan keterampilan guru dan siswa maka berbagai manfaat akan diperoleh diantaranya meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa akan materi ajar. Menurut Kieren dalam Tim MKPBM (2001:71) bahwa rancangan pembelajaran matematika oleh guru berupa tantangan masalah, kerja dalam kelompok kecil, dan diskusi kelas akan membantu siswa belajar secara bermakna.
Respon Siswa Terhadap Pembelajaran
Berdasarkan analisis data angket respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga dari siklus I sampai siklus III menunjukkan respon positif. Dari hasil tersebut, respon siswa terhadap materi pelajaran, LAS, suasana belajar, dan cara guru mengajar adalah menyenangkan dan sesuatu yang baru bagi siswa. Siswa memahami bahasa pada lembar aktivitas siswa (LAS) dan tertarik dengan tampilannya.Siswa menunjukkan motivasi yang tinggi untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga sebesar 96.88%.Dimana, terdapat hal yang unik seperti terdapat siswa yang memberikan respon positif dalam angket respon tetapi pada kenyataannya siswa tersebut tidak menunjukkan sikap positif.Siswa menyatakan engan dengan pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga tetapi dalam kelompoknya tidak ikut aktif berdiskusi. Dalyono (2010:11) mengatakan kelemahan angket adalah kerap kali jawaban tidak diberikan dengan kesungguhan hati.
Secara umum, respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga menunjukkan kategori sangat positif. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Amir (2010:26) yang mengatakan jika PBM diterapkan dengan memenuhi berbagai persyaratan, aturan main dan keterampilan guru dan siswa maka berbagai manfaat akan diperoleh diantaranya meningkatkan motivasi siswa. Dengan meningkatnya motivasi maka siswa akan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dialami dan dikerjakan. Menurut Fachrurozi (2011) dalam penelitiannya tentang “Pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan kemampuan matematis dan
Volume : III No. 2 Agustus 2015 72 kemampuan berpikir kritis siswa SD” menyatakan data angket memperlihatkan bahwa respon siswa yang belajar melalui PBM sebagian besar bersikap positif terhadap pembelajaran matematika.
Motivasi Belajar Siswa
Berdasarkan analisis data angket motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga adalah kategori termotivasi.Dimana setiap siklus ada peningkatan yang secara signifikan. Pada siklus I rata-rat motivasi siswa sebesar 68.22%, pada siklus II dengan rata-rata sebesar 71.89%, sedangkan pada siklus III dengan rata-rata sebesar 82.29%. Dari data tersebut, bahwa peningkatan motivasi siswa pada setiap siklus menunjukkan siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.
Dengan peningkatan motivasi belajar siswa, kemampuan pemahaman matematis siswa juga meningkat dengan meningkatnya motivasi belajar siswa.Dalam motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan kerjasama dalam menyelesaikan Lembar Aktivitas Siswa (LAS), dan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament.
Kemampuan Pemahaman Matematis
Berdasarkan analisis data hasil tes, kemampuan pemahaman matematis siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Persentase ketuntasan kelas pada siklus I mencapai 64% atau 30 siswa dengan rata-rata kelas 64.33 poin.Siklus II menunjukkan peningkatan dengan persentase ketuntasan mencapai 78.00% atau 39 siswa dengan perolehan rata-rata kelas 77.67 poin.Siklus III menunjukkan hasil lebih baik dari siklus I dan II dengan persentase ketuntasan kelas mencapai 90% atau 45 siswa dan rata-rata kelas sebesar 88.67.Jika diperhatikan lebih lanjut, diperoleh ketuntasan kelas meningkat 13.67% dari 64.00% menjadi 77.67%. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Arends (2008:43) bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan pembelajaran yang bertujuan merangsang terjadinya proses berpikir tingkat tinggi dalam situasi yang berorientasi masalah. Kemampuan pemahaman matematis siswa yang diberikan melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraa lebih baik dari yang memperoleh pembelajaran konvensional.
Kemampuan pemahaman matematis siswa pada siklus III mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu siklus I dan II. Persentase ketuntasan kelas mencapai 90.00%, rata-rata kelas sebesar 88.67 poin. Pencapaian tersebut telah memenuhi indikator keberhasilan yang diharapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa menyelesaikan masalah pada siklus III adalah tuntas dan tindakan dihentikan. Siswa sudah mampu melakukan eksplorasi, generalisasi, dan klarifikasi dengan tepat. Secara umum kemampuan eksplorasi mencapai kategori sangat tinggi, kemampuan generalisasi mencapai kategori sangat tinggi dan kemampuan mengklarifikasi dengan kategori sangat tinggi.Keberhasilan ini diperoleh karena pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas siswa selama tindakan berlangsung mencapai kategori sangat efektif.Hasil pengamatan aktivitas siswa menunjukkan kerjasama kelompok berjalan dengan lancar dan setiap siswa sudah ikut terlibat di dalamnya.Jumlah siswa dalam kelompok lebih sedikit dan setiap siswa sudah ikut terlibat di dalamnya.Jumlah siswa dalam kelompok lebih sedikit dan setiap siswa merasa nyaman dengan teman kelompoknya. Guru terlihat lebih baik dalam mengelola setiap langkah pembelajaran mulai tahap orientasi siswa
Volume : III No. 2 Agustus 2015 73 terhadap masalah sampai kepada evaluasi dan analisis proses penyelesaian masalah. Guru juga terlihat lebih efektif dalam membimbing diskusi kelompok dan presentasi kerja siswa. Masalah-masalah yang disajikan baik pada LAS dan tes kemampuan pemahaman matematis lebih menarik dan mudah dipahami siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Amir (2010:26) yang mengatakann jika pembelajaran kooperatig tipe TGT berbantuan alt peraga diterapkan dengan berbagai persyaratan, aturan main dan keterampilan guru dan siswa maka berbagai manfaat akan diperoleh diantaranya meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa.
4. PENUTUP 4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitan, dikemukakan beberapa kesimpulan berikut. 1. Pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar. Rata-rata kelas untuk motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari 68.22% pada siklus I menjadi 71.89% pada siklus II dan menjadi 82.29% pada siklus III.
2. Pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga dapat meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa kelas VI SD Methodist-12 Medan pada kompetensi dasar luas bangun datar. Rata-rata kelas untuk kemampuan pemahaman matematis siswa mengalami peningkatan dari 64.33% pada siklus I menjadi 77.67% pada siklus II dan 88.67% pada siklus III. Sedangkan ketuntasan kelas mengalami peningkatan dari 64.00% pada siklus I menjadi 78.00% pada siklus II dan 90.00% pada siklus III.
3. Respon siswa kelas VI SD Methodist-12 Medan terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga pada kompotensi dasar luas bangun datar adalah positif. Hasil angket menunjukkan siswa senang dan menganggap baru komponen pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga sehingga motivasi belajar siswa untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya sangat tinggi, serta memahami dan tertarik dengan lembar aktivitas siswa (LAS) yang diberikan. Rata-rata kelas untuk efektivitas pembelajaran siswa mengalami peningkatan dari 70.40% pada siklus I menjadi 85.11% pada siklus II dan 92.00% pada siklus III
4. Efektivitas siswa kelas VI SD Methodist-12 Medan terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga pada kompetensi dasar bangun datar adalah sangat efektif. Rata-rata kelas untuk efektivitas pembelajaran siswa mengalami peningkatan dari 62.48% pada siklus I menjadi 76.04% pada siklus II dan 88.29% pada siklus III.
4.2 Rekomendasi
Sejalan dengan simpulan penelitian ini, dikemukakan beberapa rekomendasi berikut: 1. Pembelajaran kooperati tipe TGT berbantuan alat peraga merupakan
pembelajaran yang dirancang untuk merangsang motivasi belajar siswa dan kemampuan pemahaman matematis melalui penyajian masalah-masalah kontekstual. Oleh karena itu, guru yang mengajarkan matematika harus menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga untuk meningkatkan motivasi belajr siswa dan kemampuan pemahaman matematis
Volume : III No. 2 Agustus 2015 74 sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa.
2. Kekuatan pembalajran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga terletak pada masalah-masalah yang disajikan. Oleh karena itu, jika guru akan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga maka harus mampu merancang masalah-masalah yang kontekstual dan menantang bagi siswa untuk menyelesaikannya.
3. Pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga akan berhasil jika siswa mampu bekerjasama dalam kelompoknya untuk melakukan penyelidikan atau diskusi dengan efektif. Oleh karena itu, guru harus memotivasi siswa untuk bekerjasama dalam kelompoknya termasuk keberanian untuk mengemukakan pendapat, mengajukan dan menjawab pertanyaan.
4. Bagi guru yang akan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga harus melakukan persiapan yang matang agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik diantaranya merancang rencana pembelajaran dengan pengelolaan waktu yang efektif pada setiap pertemuan pembelajaran dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk mendukung suksesnya pembelajaran. 5. Bagi siswa agar menunjukkan partisipasi aktif dan respon yang positif pada
setiap pembelajaran termasuk pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga, karena melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan alat peraga akan membentuk individu yang mandiri, terbuka, bertanggungjawab, berpikir kritis, dan mampu menyelesaikan segala masalah yang akan dihadapi dalam kehidupannya.
6. Bagi kepala sekolah atau lembaga agar memfasilitasi dan mendorong para guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe TGT berbatnuan alat peraga sebagai suatu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa untuk meningkatkan prestasi sekolah secara keseluruhan dan dapat menghasilkan generasi bangsa dan negara yang tangguh dalam menghadapi segala permasalahan dalam kehidupannya yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono.1999. Pendidikan Bagi Anak Yang Berkesulitan
Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Anderson, L.W &Khatwrohl (2001) A Taxonomy for Learning, Teaching and Assessing: A revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives: Complete Edition, New York: Longman
Anitah. 2008.Alat Peraga. Surakarta: Sebelas Maret university Press
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arisandi, Deni .2008. Model-Pembelajaran-Kooperatif-Learning-Tipe-Teams-
Games- Tournament- Tgt/, dalam ((http://pkab.wordpress.com, diakses tanggal 03 Februari 2014).
Armanto, Dian. 2008. Evaluasi Pembelajaran Tematik. Makalah Disajikan pada Seminar dan Worksop Pembelajaran Tematik. Prodi Pendidikan Dasar Pascasarjarna Unimed, Medan 26 Agustus
Volume : III No. 2 Agustus 2015 75 Aqib, Zainal.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya
Crow, Lester D. 1956. Human Development an Learning. New York :American Book Company.
Dalyono. 2010. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta
Depdiknas.2009. /Jurnal/45/Perdykarur, (http://pkab.wordpress.com, diakses tanggal 03Februari 2014
Dewi, Rosmala. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Medan: Pascasarjana Unimed. Djamarah, Syaiful Bahri.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineka cipta Fauzi, Kms. Muhammad Amin dan Baskar, Lucy Karyati, 2007. Strategi
Pembelajaran Model PISK untuk Mengembangkan Pembealjaran Bermakna dengan Bantuan Pengajuan Masalah pada Topik Pembagian Bilangan di MIN Tembung Medan. Laporan penelitian tidak diterbitkan.
Medan: UNIMED
George. 2002. Presentasi Bisnis. Yogyakarta: Andi
Hamalik, Oemar.1993. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Heri.2009. Promosi Kesehatan. Bandung: Buku Kedokteran
Hiebert & Wearne.1993.Long term effect of conceptually-based instruction in mathematics. National Science Foundation Grant (No.8855627), September 1 Ibrahim, M dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya:UNESA-Pers
Universitas
Iskandar, Agung. 2010.Meningkatkan Kreativitas Pembelajaran Bagi Guru. Jakarta: Bestari Buana Murni
Ismail, P. 2003. Model-Model Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNESA - PersUniversitas
Karim, dkk. 1997. Pendidikan Matematika. Jakarta: DEPDIKNAS Minium, Edward W, dkk. 1993. Statistical Reasoning in Psychology and
Education 3rd Edition. New York: John Wiley & Sons. Inc.
Restika.2009. Aplikasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Dapat
Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 2 Surakarta. Tesis.Jakarta: UPI