DASAR-DASAR
HINDU DHARMA
DALAM PERSPEKTIF BHAKTI MARGA
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 1 1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pidana Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf I untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan / atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan / atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan / atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan / atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Udayana UnIveRSIty PReSS 2019
Wayan Widyantara (VIDURA DAS. AD)
DASAR-DASAR
HINDU DHARMA
DALAM PERSPEKTIF BHAKTI MARGA
v
Hak Cipta pada Penulis. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang :
dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Penulis: Wayan Widyantara (vIdURa daS. ad) Editor: Jiwa atmaja
Cover & Ilustrasi:
Repro
Design & Lay Out:
I Wayan Madita Diterbitkan oleh: Udayana University Press Kampus Universitas Udayana denpasar Jl. P.B. Sudirman, denpasar - Bali telp. (0361) 255128 [email protected] http://penerbit.unud.ac.id Bekerjasama dengan: yayasan darma duta Indonesia Cetakan Pertama: 2019, xii + 204 hlm, 15 x 23 cm ISBN: 978-602-294-360-0
DASAR-DASAR
HINDU DHARMA
DALAM PERSPEKTIF BHAKTI MARGAGuru Spiritualku dan Mereka
yang Tulus Melaksakan Agama
dengan Rasa Bhakti
v
PRAWACANA
“Om namo narayana ya”
“Vande’ham sri guroh sri-gita padakamala ya”
Hidup sejahtera di dunia material ini, tergantung dari kemurnian pelaksanaan Agama, yang bersandar pada personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu di dunia material ini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa mulai dari planet tertinggi sampai planet yang terrendah. Tuhan memelihara alam material ini melalui perbanyakan paripurnaNya, dan agen-agen materialnya. Kemurnian pelaksaan agama (Agama Hindu) sangat tergantung kepada pengetahuan terhadap kitab suci (kitab suci Veda).
Pada jaman sekarang, jaman Kali Yuga, yang telah dimulai 5000 tahun yang lalu, mayoritas generasi muda Hindu dimanapun ia berada, tidak banyak mengetahui dan belum mengerti inti sari Veda, yang merupakan kitab suci agamanya (Agama Hindu). Mereka melaksanakan agama dominan sesuai dengan budaya setempat (desa), yang merupakan kebiasaan-kebisaan dari para pendahulunya. Oleh karena itu penulis setelah lima tahun mengajar mata kuliah Agama Hindu di Fakultas Pertanian, Universitas Udayana memandang perlu untuk menyampaikan dasar agama dalam persepektif bhakti marga.
Penulis berusaha menyusun buku ini sebagai jalan pembuka masuk untuk memulai belajar agama sesuai dengan filsafat kitab sucinya. Buku ini disusun berdasarkan uraian yang tercantum dalam kitab suci Veda, khususnya Bhagavadgita dan Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana). Bhagavadgita merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa, dan Srimad Bhagavatam merupakan uraian tentang kegiatan Tuhan Yang Maha Esa.
Tulisan ini juga dilengkapi dengan bukti-bukti otentik berupa sloka-sloka atau ayat-ayat suci yang disesuaikan dengan topik bahasan. Setelah membaca buku ini, diharapkan kepada para pembaca termotivasi
untuk mulai belajar agama sesuai penjelasan Veda, dan penjelasan para Rsi–Acarya. Demikian pula agar para pembaca pemula semakin tumbuh saddhana dan sradhanya terhadap agamanya. Buku ini lebih menekankan kepada filsafat Hindu Dharma (Agama Hindu), dan etika, bukan pada tatanan upacara.
Buku ini, yang merupakan revisi dari buku Pengantar Agama Hindu Untuk Sisya Pemula, menyajikan bahasan pokok dalam perspektif bhakti sebagai bahan pelajaran dasar, untuk memberikan semangat usaha bhakti kepada umat Hindu Dharma agar dapat melaksanakan
bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kitab Suci Veda membahas permasalah yang sangat-sangat luas dan komplek, meliputi karma kanda (kuwajiban), jnana kanda (pengetahuan) dan upasana kanda (bhakti marga). Kitab Suci Veda menjelaskan pengetahuan rohani– pengetahuan di luar jangkauan indra-indra dan pikiran, dan juga di luar pengetahuan material yaitu pengetahuan untuk memenuhi kepuasan indria, baik yang bersifat satvam, rajas maupun tamas.
Bhakti yang murni mempunyai energi yang sangat kuat untuk dapat mengatasi segala permasalahan hidup secara efektif. Dengan hanya membaca-mempelajari kitab Bhagavadgita, Bhagavata Purana (Srimad bhagavatam), Caitanya Caritamrta, Upadesamrta, dan Lautan Manisnya Rasa Bhakti, diharapkan telah dapat mengerti bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan kalau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tujuan beragama (Agama Hindu) yaitu ketidak terikatan (mukti/moksa) dapat segera tercapai dalam hidup ini.
Berdasarkan bahan bacaan yang disajikan, diharapkan para pembaca minimal :
1. Mempunyai pengetahuan dan keyakinan yang teguh tentang
Agama Hindu, yang sumbernya Kitab Suci Veda.
2. Mengenal bagian-bagian Kitab Suci Veda.
3. Dapat mulai belajar membaca sloka-sloka Veda, khususnya
Bhagavadgita
4. Dapat memilih alternatif jalan hidup minimal, untuk dapat melakukan perubahan terhadap karmanya, dan memungkinkan untuk malakukan karma yang lebih baik.
v
5. Dengan harapan yang lebih tinggi, supaya pembaca mulai
melaksanakan penebusan dosa dalam hidup ini, sehingga tujuan hidup sebagai manusia tercapai.
Bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin menjadi penganut/ pengikut Veda (agamawan/spiritual), disarankan melanjutkan belajar Veda dengan tekun secara utuh dan lengkap di Pasraman–Pasraman Hindu, agar memperoleh bimbingan dari Guru Kerohanian yang bonafid, dan pergaulan para sadhu.
Om santhi santhi santhi, Hari Om Om tat sat Denpasar, Juli (Shayani Ekadasi), 2019
DAFTAR ISI
Prawacana ... v
Daftar Isi ... vii
Bab I Pendahuluan ... 1
1. Menghormati Kitab Suci Weda ... 1
2. Tujuan Pembelajaran Hindu Dharma ... 4
Bab II Hindu Dharma (Agama Hindu) ... 7
1. Definisi Agama ... 7
2. Tujuan Beragama (Hindu Dharma) ... 13
3. Macam Agama ... 16
4. Asal Mula Agama Hindu ... 20
Bab III Veda Pengetahuan Spiritual ... 24
1. Tujuan Belajar Veda ... 24
2. Pembagian Veda ... 25
3. Pondasi Hindu Dharma - Agama Hindu ... 28
4. istem Pembelajaran Veda ... 34
Bab IV Keagungan Kitab Suci Bhagavadgita ... 39
1. Maksud Bhagavadgita Disabdakan ... 39
2. Keuntungan Membaca Bhagavadgita ... 40
3. Keagungan Bhagavadgita ... 42
4. Tujuan Belajar Bhagavadgita ... 45
5. Syarat Belajar Bhagavadgita ... 45
Bab V Personalitas Tuhan Yang Maha Esa ... 47
1. Definisi Tuhan Yang Maha Esa ... 47
x
3. Diskripsi Tuhan Yang Maha Esa Berdasarkan Veda ... 54
4. Para Deva - Pengendali Unsur Alam Material ... 58
5. Avatara Tuhan Yang Maha Esa ... 62
6. Metoda Mencapai Tuhan ... 65
Bab VI Atma – Sang Jiwa (Roh) ... 69
1. Diri Kita Bukan Badan Jasmani ... 69
2. Tanda-tanda Kematian ... 73
3 .Nitya Siddha dan Nitya Baddha ... 74
4. Mujurnya Badan Manusia ... 76
Bab VII Prakrti – Alam Semesta ... 79
1. Alam Material ... 79
2. Tiga Sifat Alam (Tri Guna) yang Mengikat ... 81
3. Cara Mengatasi Tiga Sifat Alam (Tri Guna) ... 86
4. Susunan Alam Semesta ... 88
Bab VIII Karma dan Reinkarnasi ... 90
1. Perinsip Hukum Karma ... 90
2. Macam Karma ... 93
3. Samsara, Reinkarnasi ... 96
4. Proses Penghancuran Karma ... 99
5. Kehidupan Masa Depan Mahluk Hidup ... 103
Bab IX Kala – Waktu yang Kekal ... 107
1. Sifat Waktu ... 107
2. Perjalanan Waktu ... 109
3. Kala dan Kegiatan Manusia ... 112
4. Interaksi Antar Planet Hari Kelahiran ... 115
Bab X I n d r y a – I n d r i a ... 117
1. Hawa Nafsu Musuh Besar ... 117
2. Macam Indria dan Objek Indria ... 118
3. Para Dewa Pengendali Indria ... 119
Bab XI Warnaasrama Dharma ... 123
1. Tertib Sosial Masyarakat Hindu ... 123
2. Catur Warna (Tertib Sosial Profesi) ... 124
3. Catur Asrama (Tertib Sosial Spiritual) ... 127
4. PerananPasraman ... 130
5. Orang Hindu yang Ideal ... 131
6. Wanita Hindu yang Ideal ... 132
XII. Puja – Sembahhyang ... 135
1. Objek Sembahyang ... 135
2. Sri Vigraha – Gala Graha ... 138
3. Persembahan (Bhoga Puja) ... 140
Bab XIII Samskara – Samsekara ... 143
1. Makna Yajna ... 143
2. Sifat Yajna ... 146
3. Samskara ... 147
4. Bahan Yajna dan Samskara ... 149
5. Tujuan Yajna ... 150
Bab XIV Kemujuran dan Kesialan Jaman Kali ... 152
1. Dewasa ini Jaman Kali (Kali Yuga) ... 152
2. Bhakti Yoga - Bhakti Marga (Jalan Bhakti) ... 155
3. Yajna Jaman Kali– Penangkal Pengaruh Buruk Kali Yuga 159 Bab XV Guru Spiritual dan Diksa ... 163
1. Kebutuhan Dasar Umat Manusia ... 163
2. Definisi Guru Kerohanian ... 167
3. Macam – Macam Guru ... 169
4. Definisi Diksa ... 169
5. Maksud Diksa ... 170
x
Bab XVI Svarga, Bilva Svarga dan Pitra Loka ... 174
1 .Planet di Bagian Atas ... 175
2. Planet Pertengahan ... 176
3. Planet Bagian Bawah ... 176
4. Pitra Loka ... 177
Bab XVII Naraka – Neraka ... 179
1. Diskripsi Naraka ... 179
2. Macam Naraka dan Hukumannya ... 180
Bab XVIII Sapi Hewan Tersuci ... 189
1. Asal-Usul Sapi ... 189
2. Sapi dalam Pandangan Kitab Suci Weda ... 189
3. Manfaat Produk Sapi ... 194
4. Pertanian/Pedesaan dan Lingkungan ... 197
Bab XIX Vastu Sastra – Seni Konstuksi ... 198
1. Elemen Vastu ... 198
2. Tata Letak Tanah Tempat Tinggal ... 199
3. Dewa Penguasa di Masing-masing Blok ... 200
4. Tempat Fasilitas Pelengkap Rumah Tangga ... 200
5. Pintu Masuk Gapura dan Pintu Utama ... 201
BAB I
PENDAHULUAN
1. Menghormati Kitab Suci–Veda
Dalam Panca Sila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengisyaratkan bahwa seluruh warga Negara Indonesia diwajibkan bertaqua kepada Tuhan Yang Mahaesa. Bertaqua kepada Tuhan Yang Maha Esa (TYM) merupakan kewajiban utama bagi semua warga Negara Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Dengan penuh taqua, artinya bhakti kepada TYM, kita akan dapat menghormati dan menghargai semua warga negara dunia, semua suku bangsa, ras, agama, dan mahluk lainnya sehingga kita bisa hidup tentram, rukun, damai aman, sentosa, hidup dengan cinta kasih di bumi nusantara ini antar sesama. Bertaqua kepada Tuhan hanya dapat dilakukan oleh warga negara yang beragama dengan baik. Beragama artinya, utamanya berbhakti kepada TYM, yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang memahami agamanya dengan baik.
ajnas ca asraddadhana ca, samsayatma vinasyati nayam loko’sti na paro, na sukham samsayatmanah
“Orang yang bodoh dan tidak percaya, dan yang ragu-ragu tentang kitab-kitab suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa, melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang” (Bhagavadgita .4.40).
Beragama dengan baik dapat dilakukan jika mengikuti aturan dan peraturan kitab suci, dalam hal ini adalah kitab suci Veda. Sebaliknya jika kita tidak mengikuti aturan kitab suci, tidak akan ada makna beragama
Hindu. Veda adalah sumber pengetahuan bagi umat manusia. Ketika orang iri kepada para Dewa, Veda, Sapi, para Brahmana, Vaisnawa dan prinsip-prinsip keagamaan dan terutama kepadaKU (TYM), dia dan peradabannya akan dimusnahkan tanpa ditunda (Srimad Bhagavatam). Kitab suci harus mendapat apresiasi, penghormatan, penghargaan yang tinggi, dan seminimal mungkin mesti dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai budaya spiritual. Jika kita berpaling dari kitab suci, hidup kita akan bagaikan dibawah hukum rimba, siapa kuat dia menang, yang kuat menghabisi yang lemah, sehingga hidup di alam ini tidak harmonis, hidup di dunia tidak akan nyaman. Masyarakat akan terserap kepada paham: Ini milikku, itu milikmu bagaikan kucing dengan anjing. Sehingga tujuan hidup yang dinasehatkan dalam agama sulit tercapai.
Menurut kitab suci Veda, bumi ini diciptakan oleh TYM bukan untuk satu golongan orang, suku, atau suku bangsa, tetapi bumi diciptakan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia dan termasuk penduduk yang lainnya seperti binatang, tanaman, dan lainnya. Bagaimana sikap dan prilaku manusia hidup di dunia ini dijelaskan dengan detail di dalam kitab suci. Pengetahuan tentang TYM diperoleh dengan mempelajari kitab-kitab suci, dari petunjuk kitab-kitab suci kita akan mempunyai kesempatan untuk dapat memahami Tuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya memungkinkan kita dapat berbhakti–melakukan pelayanan suci kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Buku Dasar-Dasar Hindu Dharma Dalam Perspektif Bhakti Marga (bisa dibaca Bhakti saja) ini, akan membahas Hindu Dharma berdasarkan filosofi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kitab Suci Veda, khususnya kitab-kitab Vaisnava, sebagaimana mestinya, tidak ditafsirkan. Sudah umum diketahui bahwa Kitab Suci agama Hindu adalah Veda, yang merupakan sumber pengetahuan agama Hindu. Oleh karena itu orang Hindu tidak baik, jika berpaling dari ajaran Veda. Veda disusun oleh Rsi Vyasa yang merupakan Nabi Besar umat Hindu.
Melaksanakan agama Hindu harus berdasarkan kitab Veda, bukan kitab yang lain atau beragama berdasarkan pendapat para sarjana sekolahan atau berdasarkan kesepakatan-kesepakatan (Manu
smrti.12.94-96). Dengan bahan-bahan yang ada dalam buku ini, generasi muda atau para pemula, diharapkan mampu memahami secara bertahap agamanya, dan dapat memahami hakekat dirinya sebagai orang Hindu, serta akhirnya mengambil keputusan untuk berbhakti kepada TYM, sesuai petunjuk ketentuan dalam sastra Veda. Selanjutnya bagi para pemula dapat beragama Hindu berdasarkan filsafat Veda. Memulai memahami Veda mesti dimulai dari cara mendengar sabdha para Rsi,
sabdha Tuhan yang telah tercatum dalam Kitab suci.
Ada hal penting yang disarankan untuk dilakukan oleh sisya
pemula sebelum membuka kitab suci, atau sebelum pembelajaran dimulai, yaitu sebaiknya berdoa dulu dengan maksud agar lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa dan para penguasa Veda, dengan mengucapkan mantra berikut. Semoga Tuhan dan para Rsi memberikan kemudahan-kemudahan kepada para pembaca.
Om namo bhagavate vasudeva ya (3x) narayanam namaskrtya naram caiva narottamam
devim sarasvatim vyasam tatho jayam udyrayet
“Dengan mengucapkan mantra ini, kita mohon ijin kepada para kepribadian suci agar dikaruniai oleh Tuhan Vasudeva, Sri Narayana, Rsi Nara Narayana, Dewi Saraswati (Dewi ilmu pengetahuan dan kebudayaan), serta nasihat, tuntunan dan bimbingan dari Rsi Vyasa– penyusun Veda”. (Srimadbhagavatam Purana).
Om apavitrah pavitrova sarvavastham gato’pi va yah smaret pundarikaksam sa bahyaabhyantara suci
“Dalam keadaan suci atau tidak suci, atau keadaan apapun yang dialami dalam kehidupan material, jika seseorang dapat mengingat Tuhan Pundarikaksa (Sri Visnu), dia menjadi bersih luar dan dalam”. (Garuda Purana).
2. Tujuan Pembelajaran Hindu Dharma
Ada perbedaan yang mendasar antara masyarakat manusia dan binatang, dimana manusia mempunyai kewajiban untuk insaf akan dirinya, sedangkan binatang tidak, karena binatang masih dalam evolusi menuju manusia. Manusia sudah diberikan kecerdasan untuk berpikir, memilih jalan hidup sebagai kewajibannya. Badan manusia merupakan badan yang diibaratkan sebagai perahu yang sangat baik untuk dapat menyeberangkan jiwa dari dunia material menuju dunia rohani yang kekal. Katha Upanisad 1.3.14 mengatakan,
uttistha jagrata prapya varan nibodhat ksurasya dhara nisita duratyaya durgam pathas tatakavayo vadanti
“Bangkitlah dan berusahalah untuk mengerti anugrah yang sekarang engkau miliki dalam bentuk kehidupan sebagai manusia ini. Jalan keinsafan spiritual sangatlah sulit, jalan tersebut tajam seperti silet. Demikianlah pendapat para cendikiawan rohani yang terpelajar”.
Begitu memperoleh badan manusia, kitab sucilah menuntun kita untuk beragama dengan baik, sehingga insaf akan dharma kita sebagai manusia. Sedangkan binatang tidak diwajibkan untuk keinsafan diri, karena belum mampu untuk keinsafan diri–masih dalam proses evolusi. Inilah tanggung jawab yang harus dipikul sebagai manusia. Sloka Sb. 7.6.1 lebih jelas mengatakan,
kaumara acaret prajno dharman bhagavatan iha durlabham manusam janma tad api adhruvam arthadam “Seorang yang cukup cerdas hendaknya memanfaatkan bentuk kehidupannya sebagai manusia dari sejak awal hidupnya (sejak masa kanak-kanak) untuk mempraktekkan kegiatan bhakti, dan meninggalkan segala kegiatan lain. Badan manusia sangatlah jarang diperoleh, dan meskipun bersifat sementara seperti badan-badan yang lain, ia sangat berarti karena dalam kehidupan sebagai manusia seseorang dapat
melakukan bhakti. Bahkan sedikit saja pelaksanaan bhakti yang tulus mampu mengantarkan seseorang untuk meraih kesempurnaan yang lengkap”.
Tujuan agama jelas telah diuraikan dalam kitab suci, kitab suci sebagai otorita. Kita tidak diperbolehkan membuat tujuan tersendiri, karena agama itu merupakan uraian dharma (tugas kewajiban yang telah ditapkan), yang ditetapkan oleh Tuhan (Tuhan sebagai otoritas tertinggi). Didalam kitab suci khususnya Srimad Bhagavatam (Sb.) dijelaskan tujuan agama yang dianut oleh manusia, seperti apa yang disampaikan oleh Suta Gosvami kepada para Rsi, di Naimisaranya, Sb. 1.2,9-10.
dharmasya hy apavargyasya, nartho ‘rthayopakalpate narthasya dharmaikantasya, kamo labhaya hi smrtah
“Segala jenis dharma dimaksudkan untuk mencapai pembebasan (mukti) tertinggi. Pelaksanaan dharma bukan dimaksudkan untuk keutungan material. Orang yang melakukan pelayanan tertinggi hendaknya tetap teguh mengabaikan keuntungan material yang memungkinkan dapat berkembangnya keinginan untuk memuaskan indria”. Kemudian Sb. 1.2.10 menyatakan bagaimana mengendalikan indria dari hal yang bersifat material ke hal yang rohani,
kamasya nendriya-pritir, labho jiveta yavata jivasya tattva jijnasa, narthoyas ceha karmabih
“Keinginan-keinginan dalam hidup ini hendaknya tidak diarahkan kepada kesenangan-kesenangan badani. Sebaiknya hanya kepada kehidupan sehat dan perlindungan sang diri yang dicari seseorang, sebab pencarian manusia dimaksudkan untuk mengarah kepada kebenaran mutlak (Tuhan Yang Maha Esa). Seharusnya tiada hal lain yang menjadi tujuan keinginan kita”. Jadi dari sloka-sloka diatas dapat dipahami bahwa dharma adalah kewajiban bagi umat Hindu untuk melaksanakan kewajiban, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam kitab suci, yaitu berbhakti. Hindu Dharma berarti orang
Hindu yang melaksanakan tugas kewajiban untuk berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apa yang diuraikan dalam Catur Purusharta (dharma, arta, kama dan moksa) ditolak oleh dua sloka ini. Kama yang diartikan sebagai pengembangan indria material tidak dibenarkan oleh sloka ini. Secara tegas dikatakan tujuan dharma adalah moksa–mukti (tidak terikat secara material), bukan yang lain.
Catur Purusharta atau Tri Vargika ini disenangi oleh orang-orang yang berspekulasi bahwa dengan mengembangkan nafsu, moksa akan dicapai. Hal ini dibantah oleh para Rsi. Para Rsi telah mengalami bagaimana mukti yang hanya dapat dicapai dengan tidak mengembangkan keinginan-keinginan material (nafsu).
Adapun tujuan pembelajaran Hindu Dharma, adalah :
a. Setelah membaca buku ini, sisya (pembaca yang tulus) dapat memahami agamanya sesuai dengan kitab suci Veda.
b. Sisya mampu mengenal dirinya, sebagai abdi–bagian dari personalitas TYM, yang bersifat kekal.
c. Sisya mengetahui dengan benar hukum-hukum Tuhan.
d. Sisya dapat mengembangkan cinta kasih (etika) kepada sesama dan seisi alam lingkungan melalui proses bhakti marga.
e. Atas karunia TYM, sisya diharapakan: dapat bertemu dengan guru kerohanian yang bonafid, mempunyai ahlak mulya, berbudi pekerti yang luhur, dan mampu melaksanakan dharmanya dalam pergaulan sehari-hari.
BAB II
HINDU DHARMA (AGAMA HINDU)
1. Definisi Agama
Banyak para ahli agama telah memberikan batasan atau definisi tentang agama sesuai dengan keahliannya. Definisi agama tidak begitu penting, yang lebih penting adalah bagaimana pemeluknya mampu melaksanakan agamanya sesuai petunjuk kitab sucinya, bukan sebaliknya. Banyak definisi yang dikemukan oleh para ahli, tetapi disini akan disajikan tiga definisi saja, yaitu : (1) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa agama didefinisikan sebagai suatu sistem yang mengatur tata keimanan atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (TYM), serta kaedah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia lainnya. (2) menurut Drikarya, agama didefinisikan sebagai keyakinan manusia, adanya suatu kekuatan supernatural yang mengatur dan menciptakan alam dan isinya. Dan (3) menurut Encyclopedia Britannica (dalam Suryanto,2007), agama adalah fenomena mental atau spiritual yang didalamnya ajaran-ajaran suci atau bersifat gaib memainkan peranan penting.
Telah diketahui secara umum bahwa kitab suci agama Hindu adalah Veda. Dengan melaksanakan prinsip-prinsip Veda, berarti sudah menganut Hindu. Agama dibuat/disusun oleh TYM. Agama yang sejati (sanatana dharma) bersumber dari TYM atau utusan dari TYM. Kata dharma dalam bahasa Sansekerta diterjemahkan menjadi agama dalam bahasa Indonesia, dan disebut religion dalam bahasa Ingris. Sri Ramakrisna Paramahamsa, mengemukan arti dharma yang diambil dari Sruti : dharma vishvasya jagataha pratistha–dharma adalah fondasi seluruh alam semesta. Sruti juga menyatakan : dharma melindungi mereka yang melindungi dharma. Dari Atarvaveda : pritivimdharmana dhritam–stabilitas alam semesta dilestarikan oleh dharma.
Asal kata dharma adalah dhr yang berarti tugas kewajiban (tertinggi). Akar kata dari dharma adalah “yang memelihara kehidupan seseorang” atau sifat yang melekat pada dirinya (AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada,1998). Dharma juga berarti: memelihara, mengasuh, memegang, hukum, etika. Misalnya tebu dharmanya manis, demikian juga api dharmanya panas, lebah menghasikan madu, sapi menghasilkan susu, matahari mengeluarkan radiasi sinar matahari, sungai mengalirkan air, cabai dharmanya pedas, dan manusia dharmanya apa?, yaitu, melakukan pelayanan dalam budaya cinta kasih kepada Tuhan sebagai dharma tertinggi bagi mahluk hidup. Mahluk hidup bisa hidup nyaman adalah dengan mengkoordinasikan aktivitasnya dalam hubungan kekal dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Kata dharma dalam kitab suci mempunyai banyak arti, antara lain: religi yang mengatur prilaku manusia, hukum alam, moral, kewajiban religi, cara hidup yang benar, etika, agama, jalan kejujuran. Sedangkan Adharma yang merupakan lawan dari dharma, antara lain berarti: tidak bermoral, tidak beretika, menentang hukum alam, kesalahan, tidak sesuai dengan hukum, menyanggah kitab suci.
Menurut kitab suci Srimad-bhagavatam (Sb) 1.2.6. agama didefisikan sebagai berukut :
sa vai pumsam parodharmo, yato bhaktir adhoksaje ahaituky apratihata, yayatma suprasidati
“Kuwajiban tertinggi (dharma) bagi seluruh umat manusia, adalah dharma yang memungkinkan manusia dapat mencapai pelayanan suci (bhakti) kepada TYM. Bhakti seperti itu tanpa motif, bebas dari tujuan material, dan langgeng guna memuaskan sang diri secara sempurna”. Disebut Sanatana dharma karena kewajiban manusia bersifat kekal, tidak terputus yang diturunkan atau digariskan oleh TYM.
Kemudian Prema Rasa dasa dan Sandipani Muni dasa dalam bukunya The Book of Samskara (1977) mengatakan Agama berarti tradisi, yaitu tradisi yang disabdakan oleh TYM sebagai pemegang
otoritas tertinggi, untuk terus menerus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari oleh para pengikutnya.Yamaraja (dewa kematian) mengatakan dalam Veda “dharma tu saksad bhagavat-pranitam”–prinsip-prinsip dharma terdiri atas aturan-aturan dan hukum-hukum pemberian Tuhan (the Low of God).
Bhaktivedanta Swami Prabhupada, mengatakan dharma artinya “yang menopang kehidupan seseorang” (the foundation of life) atau juga disebut the way of life. Dia juga mengatakan bahwa, agama adalah hukum Tuhan, yang datangnya dari Tuhan, bukan buatan atau hasil karangan seorang atau sekelompok manusia. Bagi agamawan atau rohaniwan, hukum itu mengikat hidupnya, sedangkan bagi atheis hukum itu menghukum dirinya. Selanjutnya, dalam Kitab Pauskara-samhita dikatakan agama adalah sastra yang merekomendasikan agar para brahmana bersembahyang (arcanam) kepada personalitas TYM yang berlengan empat (Sri Narayana atau Laksmi Narayana).
Jadi Agama dapat didefinisakan sebagai pengatahuan rohani (datang dari dunia rohani) yang menjelaskan tentang Tuhan, dan menjelaskan hubungan kekal diri manusia dengan personalitas TYM, serta cara melakukan pelayanan (sebagai tugas kewajiban) kepada Beliau. Pengetahuan tentang Tuhan artinya pengetahuan mengenai wujud/rupa Tuhan, nama-nama Tuhan, sifat rohani Tuhan, Avatara Tuhan, atau hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan (bhagavata), kegiatan rohani Tuhan, pengikut/penyembah Tuhan, dan lainnya.
Kalau ada pengetahuan yang tidak dapat menjembatani diri kita dengan Tuhan, dan orang tidak bisa melakukan pelayanan suci kepada Tuhan, itu bukan agama. Pengetahuan itu tidak dapat menyebabkan orang berketuhanan. Pengetahuan yang demikian adalah pengetahuan material. Tanpa pengetahuan tentang Tuhan, sistem keagamaan tidak ada artinya.
Agama juga berarti mencari Tuhan, mengerti tentang Tuhan dan melakukan hubungan–berbakti kepada Tuhan. Kata-kata atau kalimat-kalimat yang tidak menguraikan tentang keagungan Tuhan, satu-satunya personalitas yang menyucikan suasana seluruh alam
0
semesta, dikatakan sebagai tempat persinggahan burung gagak oleh orang suci. Oleh karena insan-insan yang sudah sempurna (orang suci=Rsi) itu bertempat tinggal di tempat rohani, mereka tidak menemukan kesenangan apapun di tempat persinggahan buruk gagak (Sb.1-.5.10). Sebaliknya sastra-sastra yang penuh dengan uraian mengenai keagungan rohani, menyangkut nama, kemasyuran, wujud, kegiatan, dsb. Tuhan Yang Maha Esa yang tanpa batas, yang dipenuhi oleh kata-kata suci yang bertujuan membuat perubahan dalam kehidupan dari yang tidak saleh/suci menjadi saleh/suci. Walaupun susunan kata-katannya kurang sempurna, didengar, diterima dan dinyanyikan oleh orang suci yang jujur sepenuhnya (Sb.1.5.11).
Sekalipun yang namanya pengetahuan dengan kata-kata, kalimat yang sempurna, tetap tidak bermanfaat jika tidak mengandung pengertian tetang Yang Maha Kuasa, dan tidak berpijak pada pelayanan bhakti kepada Tuhan. Sastra yang demikian bukan sastra tetapi asat
sastra atau sastra yang tidak ada manfaat rohaninya. Pengetahuan yang demikian tidak akan dapat menyelamatkan diri kita.
Tuhan Yang Maha Kuasa disebutkan didalam Srimad Bhagavatam sebagai : janmady asya yato’nvayad itaratas ca (sumber segala sesuatu adalah Brahman Yang Paling Utama). Hal-hal yang harus diketahui tentang Tuhan agar dapat melakukan hubungan sebagai mestinya, dijelaskan oleh sloka berukut,
sambhutin ca vinasam ca, yas tad vedobhayam saha vinasena mrtyum tirtva, sambhutyamrtam asnute
“Hendaknya seseorang mengetahui secara sempurna tentang Personalitas Tuhan Yang Maha Esa dan Nama rohani, wujud-rupa, sifat dan kegiatan-kegiatanNya, demikian pula ciptaan material yang besifat sementara, beserta dewa–dewa, manusia, dan binatang yang bersifat sementara. Apabila seseorang tersebut mengetahui tentang hal-hal tersebut, maka dia mengatasi kematian dan manifestasi alam semesta yang bersifat sementara ini, dan dia menikmati kehidupan
kekal penuh kebahagiaan, dan pengetahuan di kerajaan kekal Tuhan” (Isopanisad. Mantra 14). Menurut sloka ini, kita harus mempunyai pengetahuan yang mendalam-lengkap tentang Tuhan. Bukan hanya mengetahui kata Tuhan, tetapi mempunyai pengetahuan yang lebih luas: yaitu mengetahui namaNya, sifatNya, wujud rohaniNya, kegiatanNya (lilaNya), hukumNya, dan macam-macam ciptaanNYa. Kita dapat mengetahui semua ini kalau mempelajari kitab suci dengan tekun. Pelaksanaan agama tanpa didasari kitab suci, itu bukan agama. Agama semacam ini tidak lebih dari sejenis moralitas-kebudayaan.
Menurut Jayarama, agama merupakan kewajiban suci yang merupakan pondasi kehidupan. Jayarama juga mengatakan ada empat tipe agama (dari sudut pandang yang berbeda), yaitu :
1. Agama adalah hukum Universal (rta), regulasi energi alam yang
muncul dalam bentuk sebagai hukum phisika. Hindu percaya bahwa manusia merupakan bahagian dari alam, dan berusaha agar hidupnya selaras–harmoni bersama alam (dharma).
2. Dharma sosial (varna dharma), yaitu berbagai kewajiban,
pekerjaan, dan tanggungjawab orang untuk memenuhi keperluan keluarga, masyakat, negara, dan komunitas. Hal ini merupakan aspek penting religi dan moral.
3. Dharma sebagai hukum manusia (asrama dharma), adalah ekpresi
alami dan evolusi badan, pikiran, perasaan, dan jiwa melalui tingkatan hidup spiritual yang meliputi: kejujuran, kekayaan, kebahagiaan, dan pembebasan.
4. Svadharma, yaitu dharma pada diri sendiri, yang terakumulasi
dalam wujud “karma” didalam kehidupan seseorang, misalnya: tendensi personal, keinginan, pengalaman, representasi dari perjalanan seseorang, perjalanan hidup seseorang berbeda dengan perjalan hidup orang lain.
5. Cakra dharma, yaitu simbul/lambang Dharma (Paul Horsh)
6. Hindu dharma, adalah kewajiban religius/moralitas/kewajiban
Tugas kuwajiban yang dijelaskan dalam sastra, adalah kuwajiban yang tidak bisa ditolak. Seperti sewa yang harus dibayar untuk bisa tinggal dan hidup di dunia milik Tuhan ini. Hidup di dunia ini mempunyai dua pilihan. Pertama, dibayar sebagai kewajiban dalam bentuk “karma”. Dan kedua, semua kegiatan dipersembahkan kepada Tuhan dan tidak meminta kompensasi apapun dariNya. Pilihan pertama akan menyebabkan masuk kedalam siklus kelahiran kematian berulang kali (punarbhava). Pilihan kedua di jelaskan dalam Upanisada-upanisada dan Bhagavadgita (Bg) sebagai jalan keluar dari kelahiran kematian atau pembebasan.
Dalam Dharma Sastra (Manu Smrti) disebutkan ada dua kewajiban bagi mahluk hidup, pravrttimarga jalan kenikmatan indria, dan nivrttimarga jalan pembebasan. Hal ini banyak dibahas dalam bagian-bagian dari Purushartha (dharma, artha, kama, moksa) dalam Kitab Dharma Sastra (The laws of Manu). Dengan melaksanakan nivrtimarga hasil dari paravrtrimarga juga akan didapatkan.
Dalam agama Hindu yang bersumber pada Veda, terdapat sepuluh keyakinan (sradha) yang mesti dimiliki oleh pemeluknya. Sepuluh keyakinan itu adalah :
1. Yakin kepada Tuhan (Sri Narayana, sesuai Dharma Sastra)
2. Yakin bahwa Tuhan sumber segala sesuatu (sumber Prakrti = ciptaan)
3. Yakin kepada Dewa dan Dewi, sebagai pengelola alam semesta
(ada 330 juta dewa, 33 dewa utama, 3 dewa tertinggi)
4. Yakin kepada para Dewa yang mempunyai fungsi tugas masing-
masing
5. Yakin kepada kelahiran kembali (reinkarnasi)
6. Yakin kepada hukum karma (perbuatan)
7. Yakin adanya maya (energi material)
8. Yakin adanya mukti (pembebasan = tidak diikat oleh karma)
9. Yakin bahwa yoga sebagai sarana mencapai pembebasan
10. Yakin bahwa ketidakterikatan, keinsafan diri, dan brahmacari sebagai jalan menuju pembebasan. Kitab Bhagavadgita mengajarkan bahwa pembebasan hanya dapat dicapai dengan jalan bhakti.
Umat Hindu di Indonesia, telah diajarkan lima (5) keyakinan, yang disebut Panca sradha yaitu percaya dengan : (1) Brahman (Tuhan), (2) Atman (Sanghyang Atma), (3) Karma (Karma pala), (4) Samsara (kelahiran kembali), dan (5) Moksa (bersatu dengan Tuhan).Tidak ada penjelasan yang berkelanjutan yang jelas, tentang kelima bagian ini. Tatapi di dalam Bhagavadgita dan Srimad bhagavatam kelima bagian-bagian itu sangat mudah ditemui dengan penjelasannya yang sangat gambelang (clear).
2. Tujuan Ber-Agama (HINDU DHARMA)
Pendalaman tentang ajaran agama berdasarkan kitab suci amatlah penting, karena kemurnian pelaksanaan agama khususnya bagi umatnya akan membawa kedamaian, ketenteraman bagi dirinya dan keluarganya. Sebelum pembicaraan dilanjutkan mengenai tujuan beragama, sebaiknya diketahui dulu fungsi agama dan semua fungsi itu perlu mendapat perenungan. Menurut Anon (2016), agama mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Sebagai sumber pedoman hidup bagi individu dan klompok.
2. Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia
dengan mahluk hidup lainnya.
3. Merupakan prinsip-prinsip benar dan salah.
4. Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan.
5. Pedoman keyakinan.
6. Pedoman keberadaan.
7. Pengungkapan keindahan.
8. Pedoman rekreasi dan keindahan.
9. Memberikan identitas kepada manusia sebagi umat dari suatu agama. Kesembilan fungsi ini merupakan pandangan lahiriah, buka pandangan spiritual.
Suatu agama, akan mempunyai unsur-unsur pokok. Menurut Leight, dkk, (dalam Anon, 2016), agama mempunyai unsur pokok yaitu:
1. Kepercayaan agama sesuai kitab sucinya.
3. Praktek keagamaan.
4. Pengalaman keagamaan.
5. Ada umat/penganutnya.
Praktek keagamaan, dilakukan dengan bagaimana cara beragama. Cara beragama dapat dilakukan dengan :
1. Tradisional, dilakukan berdasarkan tradisi yang turun temurun.
2. Formal, cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya. Cara ini biasanya mengikuti cara-cara beragama orang-orang yang berkedudukan tinggi atau orang yang berpengaruh.
3. Rasional, beragama dengan menggunakan rasio sebisanya, sesuai
dengan refrensi yang dia alami atau dimilikinya.
4. Metode Pendahulu, beragama berdasarkan penggunaan akal dan
perasaan dibawah wahyu. Mereka selalu berusaha memahami dan menghayati agamanya dengan ilmu, pengalaman, penyebaran. Mereka selalu mencari orang yang dianggap ahli agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh UtusanNya, misalnya Nabi, Rsi, Rasul, dan lain lain.
Menurut Kitab Srimad bagavatam.1.2.9 dinyatakan, tujuan agama adalah :
dharmasya hi apavargyasya, nartho ’rthayopakalpate narthasya dharmaikantasya, kamo labhaya hi smrtah
“Semua dharma (agama) dimaksudkan untuk mencapai pembebasan tertinggi, Beragama itu hendaknya tidak pernah dilakukan demi keuntungan duniawi. Lagi pula para Rsi, orang yang sibuk dalam pekerjaan tertinggi hendaknya tidak pernah memakai keuntungan duniawi untuk mengembangkan kepuasan indria/nafsu”.
Dari sloka ini ada dua hal penting yang diungkapkan, yaitu :
1. Tujuan beragama sebenarnya agar orang mencapai pembebasan
dari kelahiran kematian (mukti), atau mengetahui bahwa dirinya adalah abdi Tuhan, dan mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Bukan kepada yang lain. Kalau tidak mengabdi kepada Tuhan, berarti kita mengabdi kepada maya.
2. Agama sebagai sarana untuk memperoleh kedamaian hidup dan kasih sayang (welas asih). Hidup harmonis di dunia ini.
3. Para agamawan dianjurkan agar jangan sekali-kali menggunakan
dharma (mengatasnamakan agama) untuk keuntungan duniawi atau untuk mengembangkan kepuasan indria. Indria mesti dapat dikendalikan.
Duniawi artinya bekerja keras untuk memenuhi nafsu-indria, frustrasi karena pekerjaan terlalu berat, kemudian diikuti oleh bhaya (takut) akan apa yang akan terjadi, lalu kematian–karena bekerja keras siang dan malam kemudian segera badan menjadi lemah dan selanjutnya mengalami kematian. Ingin memuaskan keinginan indria kita disebut kama (nafsu), dan keinginan untuk memuaskan indria Sri Krsna disebut prema (cinta bhakti yang murni). Kama menyebabkan kita terikat di dunia ini, sedangkan prema menyebabkan kita pergi ke dunia rohani-Vaikunthaloka tempat TYM, bebas dari ikatan dunia material. Orang yang mengembangkan nafsu akan semakin terikat di dunia ini, dengan kata lain mengalami punarbawa. Dengan demikian kendalikan indria untuk melaksanakan bhakti.
Maya terdiri dari kata Ma = tidak, dan Ya = itu. Maya berarti bukan itu, Maya juga berarti illusi atau hayalan-bukan yang sebenarnya-yang bersifat sementara. Atau hal-hal sebenarnya-yang bersifat material. Maya juga berarti pengaruh duniawi. Melayanai nenek maya atau terikat dalam kehidupan material akan membahayakan diri kita. Maya penyebab degradasi–penderitaan, merosot ke kehidupan yang lebih rendah. Oleh karena itu lepaskanlah atau jauhkan diri kita dari ikatan paham duniawi.
3. Macam Agama
Setiap orang atau klompok bebas melakukan pengelompokan agama sesuai dengan pemahaman dan kepentingannya. Dulu, pada jaman prasejarah, agama di muka bumi ini hanya ada satu agama yaitu agama Hindu, sehingga agama Hindu disebut sebagai agama tertua. Kemudian dengan berjalannya waktu dimana kualitas manusia semakin merosot, TYM menurunkan paham paham ‘agama baru’ di belah bumi
lain, yang disesuaikan dengan kualitas dan kemampuan manusia untuk menerima dan melaksanakannya.
Ada beberapa contoh pengelompokkan agama, (Suryanto, 2007) yaitu :
1. Agama Langit dan Agama Bumi. Yaitu agama yang diwahyukan
Tuhan dan agama hasil dari renungan (buatan) manusia. Agama langit termasuk agama Abrahamik (Islam, Kriten, Yahudi). Kemudian kelompok yang kedua adalah : Hindu, Buddha, Thao, Confucius, Sintho, Sikh, Jain, Druse, dll)
2. Agama Hukum dan Agama Pelepasan. Kelompok pertama adalah
Islam dan Yahudi, dan klompok kedua adalah Hindu, Buddha dan Kristen.
3. Agama rumpun Yahudi : Kristen, Islam , Yahudi, Sering disebut
agama Barat dan Agama agama timur : Hindhu, Buddha, Kongfuchu, Thao dan Shinto.
Menurut Manu Samhita, ada dua macam jalan dharma, yaitu: 1. Dharma yang digunakan untuk memuaskan hawa nafsu/indria (dharma, artha, kama). Jalan ini disebut pravrti marga. Orang yang berada dijalan ini disebut sebagai orang karmi, yaitu bekerja demi kepuasan indria.
Dalam Bg. 2.42-44 diuraikan sbb:
“Orang yang kurang pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala, agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan, dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatupun yang lebih tinggi dari pemuasan nafsu. Ketetapan hati yang mantap untuk berbhakti kepada TYM tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indria dan kekayaan material”.
Juga didalam Pustaka Suci Srimad-bhagavatam (Sb) skanda 7, bab. 15, sloka 46 dikatakan :
Pravrttam ca nivrttam ca dvi-vidham karma vaidikam Avartate pravrttena nivrttenasnute mrtam
“Menurut veda ada dua jenis kegiatan–pravrttti dan nivrtti. Kegiatan pravrtti meliputi upaya untuk mengangkat diri seseorang dari kondisi kehidupan materialistik yang lebih rendah menuju kondisi matrialistik yang lebih tinggi atau lebih baik, sedangkan nivrtti berarti terhentinya keinginan material. Kegiatan pravrtti terlibat dalam belenggu material, sedangkan kegiatan nivrtti menyucikan seseorang dan masuk ke tataran spirirtual, menjadikannya pantas untuk menikmati kehidupan kekal yang penuh kebahagiaan”. Pravrti dan niverti juga disampaikan oleh Manu dalam Manu Smrti.12.89 (the law of manu).
Secara umum orang lebih tertarik dan terikat kepada kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala. Kegiatan untuk memuaskan indria dianjurkan didalam bagian Veda-karma kanda. Dalam karma kanda banyak korban suci diajurkan untuk naik tingkat ke planet-planet surga, khususnya korban jyotistoma.
Orang yang di jalan karma kanda ini, sangat sulit untuk melakukan bhakti kepada TYM. Dia lebih tertarik untuk naik ke surga untuk mendapatkan minuman soma rasa yang berlimpah ruah dan menyehatkan dan membuat badan menjadi kuat. Ingin menikmati hubungan suami istri dengan para wanita sorga yang sangat cantik seperti : bidadari, gandarva, setelah itu dia kembali kebumi menjadi tumbuhan merambat, menjadi palawija, sayuran dimakan oleh berbagai jenis mahluk hidup dan berubah menjadi air mani. Air mani itu kemudian masuk kedalam badan-badan perempuan, untuk mengalami kelahiran berulang kali (punar-bhava). (Sb.7.15.47).
2. Dharma yang digunakan untuk mencapai mukti/pembebasan (dharma, artha, moksa dan bhakti). Jalan ini disebut nivrti marga. Melaksanakan tugas kewajiban sesuai prinsip kitab suci dalam hidup ini, sambil mengendalikan indria, dan berbhakti kepada Tuhan untuk mencapai mukti. Dharma yang kedua merupakan tujuan tertinggi. Manu Samhita mengatakan,
Pravrtir esa buthanam nivrttis tu maha-pala
“Setiap orang dalam kehidupan material, terpikat untuk terus melanjutkan jalan ikatan (pravrtti marga), namun harta karun terbesar juga dapat diraih dengan mengikuti jalan pelepasan ikatan (nivrtti marga)”.
Sejak sebelum sejarah setiap mahluk hidup mengumpulkan berbagai reaksi dosa, sebagai akibat dari kebodohannya, tidak mengerti tentang kedudukan dasarnya yang sejati. Kebodohan seseorang dapat dihilangkan dengan belajar Veda khususnya Bhagavadgita (Bg). Kitab Bg. mengajarkan orang untuk berbhakti kepada Tuhan-Krsna dalam segala hal, dan dengan demikian mencapai pembebasan dari dosa-dosa masa lampau, dan akan bebas dari dosa dalam banyak penjelmaan yang akan datang. Bagi mereka yang berada dijalan nivrtti hasil akhirnya adalah mencapai kedudukan yang transedental (Sb.7.15.54). Tanpa sentuhan pelayanan atau sikap bhakti–pelayanan yang bersifat suci, maka tidak ada prinsip-prinsip yang layak disebut dharma. Prinsip prinsip dharma haruslah terfokus kepada Tuhan. Dewasa ini prinsip- prinsip yang bergulir di dunia ini, yang mengatas namakan agama/dharma hampir tidak ada yang mengandung unsur semangat bhakti. Jadi mempelajari veda menjadi sangat penting dan urgen, agar kita dapat melakukan dharma kita yaitu berbhakti kepada Tuhan. Jikalau kita tidak berada di jalan bhakti, atau dharma marga. Kita tentu berada di jalan adharma, sehingga sangat sulit untuk keluar dari penderitaan.
Srimad bhagavatam 7.11.8-12 mencantumkan 30 prinsip-prinsip yang umum, harus dilakukan oleh umat manusia, untuk cukup memuaskan Tuhan Yang Maha Esa (disampaikan oleh Sukadeva goswami kepada Raja Pariksit), yang mana prinsip ini merupakan prinsip agama pada jaman kali, yaitu : kejujuran, karunia (cinta
kasih), pertapaan (melakukan puasa pada hari hari tertentu setiap bulannya), mandi dua kali sehari, toleransi, tegas membedakan benar
dan salah, mengendalikan pikiran, mengendalikan indria-indria, anti kekerasan, selebasi, kedermawanan, membaca kitab suci, sederhana, berpuas hati, melayani misi-misi orang suci, berangsur-angsur meninggalkan kesibukan-kesibukan yang tidak perlu, mengamati
kesia-siaan kegiatan yang tidak perlu dilakukan oleh masya-rakat
manusia, tenang dan serius serta menghindari pembicaraan yang
tak perlu, mempertimbangkan apakah jati dirinya adalah badan
atau roh/jiwa, adil dalam hal pembagian makanan kepada setiap
mahluk hidup (manusia maupun binatang) sebagai bagian dari Tuhan,
mendengarkan kegiatan-kegiatan dan ajaran ajaran yang di berikan
oleh Personalitas TYM (yang merupakan naungan orang orang suci),
mengucapkan/mengagungkan kegiatan dan ajaran tersebut, selalu mengingat kegiatan dan ajaran-ajaran tersebut, berusaha untuk aktif melayani kegiatan persembahyangan, memuja, bersujud, bersikap sebagai pelayan/abdi, berkawan, lalu sepenuhnya berserah diri.
Kemudian Bg. 18.66 menguraikan tingkatan tertinggi dalam pemahaman terhadap prinsip-prinsip keagamaan-sarva dharman parityajya mam ekam sa-ranam vraja- menjadi sadar dan menyerahkan diri kepada Sri Krisna–Personalitas Tuhan Yang Mahaesa.
Pada sisi lain, ada lima hal yang bertentangan dengan dharma, yang kemudian dikenal dengan: (1) ketidak beragamaan (vidharma), (2) prinsip prinsip keagamaan yang tidak layak bagi seseorang (para dharma), (3) keagamaan yang kepura-puraan (abhasa), (4) mirip dengan keagamaan (upadharma), kemudian (5) keagamaan yang menipu (chala dharma) (baca Srimad bhagavatam.7.15.12-13).
3.Vidharma adalah prinsip prinsip keagamaan yang menghalangi orang untuk menjalani agamanya sendiri. Prinsip keagamaan yang diperkenalkan oleh orang lain disebut para-dharma. Jenis agama baru yang diciptakan oleh orang yang menyombongkan dirinya secara palsu dan menentang prinsip-prinsip Veda, disebut upadharma. Kemudian penafsiran seseorang melalui permainan kata-kata adalah chala dharma.
4. Asal Mula Agama Hindu
Ada tiga cara yang lazim digunakan untuk mengetahui sesuatu kebenaran yaitu :
a. Praktyaksa pramana : melalui pengalaman langsung/empiris b. Anumana pramana : melalui perenungan, spekulasi, imajinasi,
0
c. Agama pramana : melalui sabda (penjelasan) dari para Rsi. Ilmu pengetahuan biasa, lebih menekankan kepada cara pertama dan kedua, sedangkan pengetahuan agama lebih menekankan pada cara yang ke tiga yaitu mendengar dari para Rsi secara turun temurun (sabda pramana).
Dalam kazanah veda, tidak ditemukan istilah Hindu. Istilah Hindu dikemukan oleh orang Barat ketika masuk ke India melihat orang Indus memperaktekkan Veda didalam hidupnya sehari hari. Orang India yang hidup disekitar sungai Indus memperaktekkan sistem Veda–varna asrama dharma dalam masyarakatnya. Orang India dikatakan beragama Hindu, karena hidup disekitar sungai Sindhu. Manurut Bahktivedanta Swami Prabhupada kata Hindu berasal dari bahasa Persia (Arab).
Agama Hindu yang kitab sucinya Veda. Ketika membicarakan perkembangan agama Hindu, tidak bisa lepas dari sejarah turunnya Kitab Suci Veda ke Bumi ini. Oleh karena itu agama Hindu disebut agama yang paling tua di dunia, karena bersumber dari Veda (pengetahuan rohani) dan veda keluar dari sabda TYM–dharmam tu saksad bhagavat pranitam-Prisnip prinsip riil agama dibuat oleh Sri Bhagavan-TYM (Sb. 6.3.19). Veda lahir dan berkembang sejak dunia material ini diciptakan oleh TYM, melalui sang pencipta kedua–Dewa Brahma, pencipta berbagai alam semesta.
Perkembangan Veda di beberapa belahan bumi ini mendapat sentuhan budaya setempat (desa, kala, patra), sehingga nampaknya ada perbedaan Hindu di daerah tertentu dengan Hindu di daerah lainnya. Seperti Hindu di Jawa mendapat pengaruh budaya Jawa menjadi Hindu Jawa, di Kalimantan mendapat budaya Kalimantan menjadi Hindu Kaharingan. Demikian pula di Bali, mendapat budaya Bali menjadi Hindu Bali, filosfisnya sama, sumbernya juga sama. Namun belakangan karena umatnya malas, kurang perhatian (tidak melakukan kewajibannya), kurang belajar Veda, sumber aslinya, lalu agama asli disimpangkan, disesuaikan dengan adat-kebudayaan setempat. Akibat selanjutnya adalah ketika generasi berikutnya mendiskusikan agama, diskusinya tidak berdasarkan Veda, sehingga diskusinya menghasilkan keputusan bersama yang kerap kali menyimpang dari penjelasan Veda.
Sanatana dharma (agama Hindu yang kekal), disampaikan melalui proses berikut: Veda pertama kali disampaikan oleh TYM (Sri Narayana) kepada Dewa Brahma mahluk pertama di alam semesta material. Dewa Brahma yang lahir dari bunga padma yang muncul dari pusarNya Garbhodakasayi Visnhu. Brahma pertama kali tidak melihat apapun di sekelilingnya, kemudian dia mendengar suara tapa,
tapa, tapa, dari angkasa. Kemudian Dewa Brahma bertapa, dan dalam pertapaan atas bantuan Dewi Mahasaraswati (Laksmi) Dewa Brahma dapat menerima/memahami wahyu dari TYM. Lalu Dewa Brahma menciptakan 14 susunan planit alam semesta, disertai dengan 8.400.000 jenis mahluk hidup untuk menempati ke 14 susunan planit itu.
Ke 14 susunan palanit, antara lain :
1. Satyaloka/Brahmaloka : tempat Dewa Brahma melakukan
aktivitas
2. Tapaloka : Vaybhrajas, Rsi vairagis yang selama hidupnya
melalukan vairagya (pelepasan ikatan), berbadan rohani
3. Jannaloka : tempat 4 kumara (anaknya Brahma), Bhrigu, badan
rohani
4. Mahaloka : tempat para Rsi Agung, Agamawan seperti Markandya
rsi
5. Svahloka (Surga) : Indra deva, para mahluk surgawi (dewa,
dewi, vidyadara, gandarava, kimpurusa, kinara, Yaksa, dll)
6. Bhuahloka : tempat para hantu, jin, setan, raksasa, dll
7. Bhurhloka (bumi) : tempat para manusia hidup beraktivitas.
8. Sapta patala (7 patala): terdapat 7 planit dibawah Bumi. Mulai
dari Attala sampai ke Pitraloka dan Naraka ( Naraka sebagai tempat penyucian mahluk yang berdosa).
Semua penduduk di masing-masing planet itu diberikan pelajaran Veda melalui sistem parampara (garis perguruan) oleh Rsi Narada (putra dewa Brahma), kemudian disebarkan kepada penduduk di planet-planet yang lain. Disamping proses ini, TYM sendiri bisa langsung mengajarkan agama kepada umat manusia melalui expansi paripurnaNya yaitu dalam wujud Avatara pada setiap zaman, untuk memelihara keutuhan dari ajaran suci tersebut.
Peroses pengembangannya melalui sistem parampara–garis perguruan :
A. Melalui sitem parampara (garis perguruan). Garis perguruan artinya prinsip-prinsip agama (pengetahuan Veda) ditransfer dari guru ke murid,- ke murid,- ke murid dan seterusnya. Hal ini dimakasudkan agar pengetahuan itu utuh dapat diterima oleh para murid (sisya). Dalam kazanah Veda terdapat 4 (empat macam
parampara/sampradaya), yaitu:
1. Brahma samparadaya, mulai dari Personalitas Tuhan
Krisna Veda disampaikan kepada Dewa Brahma, ke Rsi Narada, ke Rsi Vyasa, ke Madhva sampai ke Bhakti Vedanta Swami Prabhupada. Sampai sekarang sampradaya ini yang masih utuh, yang menekankan pada bhakti marga.
2. Ludra sampradaya, menekankan pada aspek siddhi
3. Kumara sampradaya, menekankan pada aspek
yoga-meditasi
4. Lakmi sampardaya, menekan pada aspek
kemak-muran.
B. Secara Langsung/lewat Avatara TYM. Ketika pada suatu
saat terjadi degradasi kualitas pelaksanaan agama, maka TYM turun menyampaikan ulang lagi prinsip prinsip agama. TYM menyampaikan agama mulai kepada Vivaswan (Dewa Matahari), lalu dewa Matahari menyampaikan ke Manu (leluhur manusia), dan selanjutnya disampaikan kepada Iksvaku. Untuk selanjutnya disampaikan kepada umat manusia lainnya. Hal ini dinyatakan secara tegas di dalam Bhagavadgita (Bg) sebagai Veda ke lima (Pancama Veda).
Bg. 4.7-8.
yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srjamy aham
paritranaya sadhunam vinasaya ca duskrtam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge-yuge
“Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela – pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma, wahai putra keluarga Bharata. Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku Sendiri muncul pada setiap jaman”. Pada umumnya orang menganggap bahwa Tuhan hanya berada di surga saja, tetapi sloka ini mengatakan Tuhan sewaktu-waktu bisa turun ke Bumi untuk menyelamatkan umat manusia. Jika Tuhan menganggap di Bumi ini terjadi gangguan bagi orang sadhu, beliau sendiri datang turun ke Bumi ini untuk melindungi orang sadhu dan menghancurkan orang jahat. Jika orang sadhu hidup nyaman maka agama akan berjalan dengan sempurna, berkembang dengan baik. Ketika Tuhan turun ke dunia material, Tuhan disebut ber-avatara, dengan mengambil berbagai macam rupa.
BAB III
VEDA – PENGETAHUAN SPIRITUAL
1. Tujuan Belajar Veda
Karena sumber agama Hindu adalah Veda, maka tujuan belajar agama Hindu, dijelaskan dalam Veda. Artinya secara filosofis, tujuan belajar agama Hindu sama dengan tujuan belajar Veda. Swami Prakashananda Saraswati (2014), dalam bukunya The True History
and The Religion of India, menyatakan bahwa Veda diturunkan oleh
TYM pada 155,52 triliun tahun yang lalu. Beliau mengatakan, Veda mempunyai 3 makna, yaitu :
(a) Veda ada secara abadi,
(b) Veda adalah pengetahuan tentang Tuhan dan kita mengetahui Tuhan melalui Veda, dan
(c) Veda memberikan hal-hal utama yaitu kebahagian rohani bagi kita semua.
Veda merupakan pengetahuan rohani yang abadi diajarkan oleh Tuhan pertama kali kepada Dewa Brahma dan Brahma mengajarkan kepada Guru Kerohanian di planet Universal (brahmananda), kemudian mengajarkan kepada manusia pada umumnya di planet bumi ini. Milenium tahun berjalan kemudian Rsi Vyasa (avatara Tuhan) menulis ulang Veda ini sebelum th 3.102 SM. Rsi Vyasa lahir th. 3309 bce.
Di dalam Pustaka Suci Bhagavadgita (Bg.15.15) disebutkan bahwa tujuan belajar Veda, adalah untuk mengerti tentang TYM – Krishna. Ini pernyataan Bg.15.15.
sarvasya caham hrdi sannivisto, mattah smrtir jnanam apohanam ca vedais ca sarvair aham eva ca, vedanta-krd veda-vid eva caham
“Aku bersemayam di dalam hati setiap mahluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan bersasal dari-KU. Akulah yang harus diketahui dari segala veda; memang Akulah yang menyusun Veda, dan Akulah yang mengetahui Veda”. Srimad bagavatam mengatakan Vasudeva para Veda–tujuan belajar Veda adalah mengenal Vaasudeva (Krishna).
Dalam sloka diatas sangat jelas dapat dipahami bahwa, mahluk hidup menjadi pintar dan bodoh disebabkan oleh karunia TYM. Veda disusun dan berasal dari TYM–Personalitas Tuhan Yang Maha Esa– Sri Krishna. Demikian pula tujuan belajar agama Hindu yang pada puncaknya, harus dapat mengetahui Tuhan Yang Maha Esa. Veda sendiri mengatakan bahwa DIRINYA bersifat kekal abadi. Telah diterima secara terbuka, bahwa Rsi Vyasa (avatara Krishna) menulis kembali pustaka suci ini dalam periode kemunculan Sri Krishna di bumi ini.
2. Pembagian Kitab Suci Veda
Veda berasal dari kata Vid yang artinya pengetahuan. Arti lain dari Veda adalah “buku ilmu pengetahuan”. Veda dibagi menjadi tiga bahasan umum, yaitu karma kanda, jnana kanda, dan upasana kanda. Ada banyak buku ilmu pengetahuan. Di India kitab-kitab pengetahuan disebut Veda. Di Negara Barat kitab pengetahuan disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Islam mengakui Al Qur’an sebagai kitab suci. Maksud dari kitab-kitab tersebut adalah melatih kita manusia, agar kita mengerti kedudukan asli (yang sebenarnya/sesungguhnya), kita sebagai roh-roh suci, sebagai abdi Tuhan.
Dalam Veda, pengetahuan didefinisikan sebagai: ksetra-ksetrajnayor jna-nam–pengetahuan berarti mengerti badan ini, dan dia yang mengetahui badan ini (BG.13.3). Dalam memahami badan ini dan dia yang mengetahui badan, kita menemukan tiga kata kunci yaitu :
(a). Tuhan Yang Maha Esa (yang mengetahui semua badan) (b). Mahluk hidup, dan
Ada dua roh dalam setiap lapangan kegiatan/dalam setiap badan yaitu roh individual dan Roh Yang Utama (RYU). RYU adalah penjelmaan yang berkuasa penuh dari TYM yang berada dalam setiap badan mahluk hidup. RYU ini disebut juga Paramatma (yang mengetahyui semua badan). Sedangkan alam (prakrti) adalah tempat kegiatan mahluk hidup. Roh individual mengetahui badannya sendiri, dan tidak mengetahui badan individu yang lain. Tetapi Paramatma yang bersemayam didalam setiap badan mengetahui segala sesuatu pada semua badan mahluk hidup, pada semua macam kehidupan. Roh individual dan Paramatma adalah bersifat kekal, sedangkan alam tidak kekal atau sementara. Jadi veda merupakan kitab suci yang cakupannya sangat luas, menjelaskan situasi dan kondisi alam rohani (alam kekal abadi) dan alam material (yang sifatnya sementara) beserta berbagai kegiatan Tuhan dan mahluk hidup di kedua alam itu.
Aturan mungkin berbeda antar satu negara dengan negara lainnya, atau diantara salah satu kitab suci dengan kitab suci lainnya, itu tidak menjadi soal, sebab peraturan–peraturan itu dibuat sesuai dengan jaman, keadaan, dan mental–kesadaran rakyat di suatu daerah (desa,
kala, patra). Tetapi prinsipnya sama yaitu pengendalian diri secara teratur.
Tidak mungkin ada kemajuan dalam pemerintahan atau dalam peradaban tanpa ada peraturan–peraturan. Di dalam Veda, Sri Krshna memberitahukan kepada Arjuna bahwa aturan-aturan didalam Veda adalah dimaksudkan untuk mengendalikan tiga sifat alam (sattva, rajas dan tamas). Sampai saat ini belum ada kitab suci yang menguraikan alam rohani Vaikuntha. Secara umum uraiannya hanya sebatas Surga dan Naraka saja.
Jumlah sloka (ayat) yang terkandung dalam setiap bagian pustaka suci Veda dapat dilihat seperti dibawah ini.
No. Bagian Veda Jumlah
sloka/ayat Keterangan: 1 Catur veda : Reg veda Yayur veda Sama veda Atharva veda 10.552 1.925 1.875 5.982 Menjelaskan pemujaan kpd para dewa, guna memper- oleh kesejahtraan di dunia. Total 20.334 sloka/ayat 2 Itiasa : Ramayana Mahabratha 24.000 100.000
Menjelaskan lilla / kegiatan TYM di Bumi. Jumlah 124.000 sloka 3 Purana : Bhagavata purana Visnu purana Naradiya purana Padma purana Garuda purana Varaha purana Brahmanda purana Brahma vaivarta purana Markandeya purana Vaman purana Brahma purana Bhavisya purana Matsya purana Kurma purana Linga purana Siva purana Skanda purana Agni purana 18.000 23.000 25.000 55.000 25.000 24.000 12.000 18.000 9.000 10.000 10.000 14.500 14.000 17.000 10.000 24.000 81.000 15.400
Menjelaskan kegiatan TYM di Alam Semesta
Upaveda* : Arthaveda, Dhanurveda, Gandharvaveda, Ayurveda Vedangga*:Nirukta, V y a k a r a n a , S h i k c h a , Chandha, Jyotisha, KalpaSutra. 700
Menguraikan sabda Tuhan Menguraikan tentang Brah-man
Menguraikan tata tertib / etika manusia
Tentang perkembangan eko nomi, ilmu perang, seni/ budaya, pengobatan herbal.
Sumber: Halladara Das Ad. 2014. * Swami Prakashananda Saraswati,2014)
3. Pondasi Hindu Dharma-Agama Hindu
Supaya agama Hindu tetap eksis/ajeg sebagai mana yang tercamtum dalam Veda, jika empat (4) tiang penyangganya masih kokoh utuh. Jika kaki agama itu tidak utuh, maka penganut Hindu akan terdegradasi–dimana moralnya akan merosot. Oleh karena itulah umat Hindu mesti mampu menjaga empat tiang ini. Di dalam Srimad Bhagavatam.1.17.24. tercantum empat tiang penyangga kesejahtraan (kerta) itu adalah:
tapah saucam daya satyam iti padah krte krtah
a. tapa = kesederhanaan/disiplin, dimana tapa ini dapat dilakukan dengan tidak makan berlebihan (hanya makan sesuai dengan kebutuhan minimal), dan tidak mabuk terhadap kekayaan maupun makanan dan minuman yang memabukkan. Aturan makan menurut Veda adalah mengkonsumsi makanan yang bersifat
satvam dan makan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan terlebih dahulu. Lambung hanya setengahnya (0,50) diisi
dengan makanan padat, 0,25 nya air dan 0,25 nya lagi udara. Pagi hari makanan lembut, siang hari makanan padat dan sore hari kembali makanan lembut. Juga dibarengi dengan tidak minum minuman yang memabukkan.
b. saucam = kesucian/kebersihan. Kebersihan berarti berhubungan
dengan badan. Ada tiga pangkal kesucian yaitu : badan (kaya), perkataan (vak), dan pikiran (manah). Tiga hal ini dikenal dengan Tri Kaya Parisudha. Untuk membersihkan badan orang disarankan mandi tiga kali sehari pakai sabun, sedangkan kesucian menyangkut kebersihan pikiran. Pikiran dapat disucikan dengan mantra. Mantra terdiri dari dua kata yaitu : manah-pikiran dan tra–pembebasan. Artinya membebaskan manah-pikiran dari hal-hal yang bersifat material. Mantra juga sebagai alat sarana berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Kesucian lahir batin dilakukan dengan tidak melakukan hubungan suami istri yang tidak sah atau berselingkuh. Menyucikan perkataan atau lidah dilakukan dengan mendiskusikan kitab suci, atau berjapa (memuji nama Tuhan berulan-ulang). Dapat juga dilakukan dengan tidak/pantang memakan makanan yang tidak atau belum dipersembahakan kepada Tuhan.
c. daya=berkarunia/cinta kasih/welas asih. Sifat ini dapat
dimunculkan dengan menjadi teman bagi semua mahluk (suhridam
sarva bhutanam) atau tidak bermusuhan kepada makhluk apapun, atau lebih tegas lagi tidak menyakiti atau melakukan pembunuhan terhadap makhluk lain (ahimsa). Khususnya kepada hewan sapi, Weda memberi nasehat agar tidak menyakiti atau membunuh sapi, dan juga jangan makan daging sapi. Budha mengatakan
ahimsa paro dharma (tidak membunuh/menyakiti merupakan dharma tertinggi umat manusia). Dalam Manu Smrti (hukum Manu.5.51), Manu sebagai leluhur manusia mengajarkan kepada keturunannya tidak menyakiti makhluk lain. Ada delapan orang/ kelompok yang bertanggung jawab dalam pembunuhan binatang, yaitu : 1. Orang yang membunuh, 2. Orang yang mengijinkan/ memerintahkan untuk membunuh, 3. Orang yang memasak, 4.
0
Orang yang mendistribusikan (membagi-bagikan), 5. membeli dan menjual (pedagang), 6. Orang yang memakan, 7. Orang yang menghidangkan, dan 8. Orang yang mempersembahkan.
Kedelapan orang/kelompok ini akan dihukum oleh Ibu Durga ditempatkan di neraka, lewat Penguasa Neraka, Dewa Yama. Selama kurun waktu (tahun) sama dengan jumlah bulu binatang yang dibunuh. Berkaitan dengan pembunuhan, bagaimana nasib si pembunuh, dijelaskan dalam Upanisad mantra 2, sebagai berikut.
asurya nama te loka andhena tamasarvrtah tams te pretyabhigacchanti ye ke catma-hano janah
“Siapapun yang menjadi pembunuh jiwa, setelah meninggal harus masuk planet-planet yang disebut dunia orang tidak beriman, penuh kegelapan dan kebodohan”.
Paling tidak terdapat tiga macam hukum yang disediakan atau menanti di naraka (baca neraka). (Baca Veda-Manu Smrti dan
Parasara Smrti tentang hukum memotong hewan). Dalam Kitab Srimad Bhagavatam 1.2.37-38, membunuh bintang tidak diperkenankan. Demikian pula pada bagian lain dari Kitab Srimad Bhagavatam yaitu tentang naraka. Naraka letaknya di sebelah selatan planet bumi, sedikit di bawah Pitraloka (tempat para leluhur), di atas lautan Garbho, kurang lebih berjarak 600.000 yojana dari bumi kita ini.
Orang yang berdosa, termasuk yang mempersembahkan daging akan dihukum di naraka. Di naraka ada 28 provinsi dengan berbagai macam hukuman (Visnu Purana dan Sb. jilid 8). Perjalanan sang roh dari bumi menuju naraka kurang lebih ditempuh selama 100 hari perjalanan sang roh. Bagian naraka tempat menghukum orang yang mempersembahkan daging sebagai bahan upacara disebut Visashana. Dalam tatanan yang lebih halus kegiatan membunuh termasuk mengumpat, berkata-kata kasar, memfitnah, irihati terhadap makhluk lain.
Dalam peradaban Veda usaha pemotongan hewan sangat dibatasi. Usaha mengembangkan memotongan hewan akan mengakibatkan:
bahaya kelaparan, suasana akan perang, merajalelanya penyakit menular, banyak musibah dan malapetaka lainnya yang tidak diinginkan (Penjelasan Srila Prabhupada, SB. 1.7.37). Sifat daya (cinta kasih) dapat terealisasi dengan baik, bila pola makan mengkonsumsi makanan yang satwik (vegetarian). Menurut Veda Smrti,5.18-21, menyebutkan, orang yang hidupnya tidak bisa tanpa makan daging, dia harus berpuasa selama satu bulan tujuh hari (42 hari), dalam setahun agar reaksi dari makan daging ternetralisir. Jika tidak, maka reaksi dari kegiatan pemotongan hewan harus dipertanggung jawabkan di neraka Raurava.
Manu menesahati keturunannya dalam penggunaan daging sangat terbatas. Hanya diperkenankan makan daging sebulan sekali. Pemotongan dilakukan pada hari tilem, malam hari, sekali tebas langsung mati, agar hewan tidak merasa sakit.Binatang yang boleh dipotong untuk dikonsumsi sangat terbatas, antara lain : kelinci, terenggiling, landak, biawak, badak, dan kura-kura. Ketika memotongpun ada perjanjian yang harus diucapkan dengan mantra, yang artinya : sekarang saya bunuh kamu, kemudian pada masa kehidupan yang akan datang kamu boleh membunuh saya (Manu Samhita 5.55). Utang pati dibayar pati. Reaksi dari pembunuhan hewan dapat dinetralisir dengan melakukan puasa selama 1 bulan 7 hari. Selanjutnya Hukum Manu 5.48. menyebutkan daging tidak akan bisa didapat tanpa menyakiti mahluk
lain, dan penganiayaan terhadap mahluk hidup adalah suatu halangan/ pantangan dalam mencapai kebahagian suci, oleh karena itu seseorang hendaknya menghindari mengkonsumsi daging. Pada jaman dahulu (jaman Veda), masyarakat dibolehkan makan daging, tetapi daging yang sudah diperciki air suci oleh Brahmana yang bonafid. Sekarang, dewasa ini tidak ada Brahmana yang berkualifisai bonafid karena pengaruh jaman kali (Kali Yuga). Pada Kali Yuga dinyatakan oleh sastra semua penduduk adalah sudra (kali sudra sambhawaha), penduduk yang tidak mengikuti aturan kitab suci dalam hidupnya.
d. satyam=jujur atau setia dengan kebenaran. Kejujuran dapat
dipupuk dengan tidak melakukan spekulasi/tafsir, dan tidak berjudi (no gambling). Jujur berarti mengatakan kebenaran apa adanya, tidak menambahkan atau tidak mengurangi. Dalam penyusunan